PEMERIKSAAN KLINIS
A N D R A V I D Y A R I N I T I M P E N G A J A R P E N I L A I A N S TAT U S G I Z I P R O D I I L M U G I Z I
F I K E S U H A M K A
QS. Al-Maidah: 88
“Dan makanlah dari apa yang telah diberikan Allah kepada kalian sebagai rezeki yang halal dan baik, dan bertakwalah kamu kepada Allah yang kamu
beriman kepada-Nya.”
PEMERIKSAAN KLINIS
• Pemeriksaan klinis → Penilaian status gizi langsung
• Pemeriksaan klinis → pemeriksaan yang dilakukan untuk mengetahui ada atau tidaknya gangguan Kesehatan, termasuk gangguan gizi, yang dialami seseorang
• Pemeriksaan klinis harus dipadukan dengan pemeriksaan lain
(antropometri, biokimia/laboratorium dan survey konsumsi) → hasil lebih tepat dan lebih baik
PEMERIKSAAN KLINIS
• Kelainan/gangguan pada kulit, rambut, mata, membrane mukosa, dan bag tubuh lain → petunjuk ada tidaknya masalah gizi
• Tanda klinis masalah gizi dapat tidak spesifik → beberapa gejala sama tapi penyebab beda
• Tanda gizi kurang tidak spesifik → bukan karna KEP tapi hygiene sanitasi buruk
PEMERIKSAAN KLINIS
Anamnesis Observasi Palpasi Perkusi Auskultasi
• Anamnesis adalah kegiatan wawancara antara pasien dengan nakes untuk memperoleh keterangan tentang keluhan dan riwayat penyakit atau gangguan kesehatan yang dialami seseorang dari awal sampai munculnya gejala yang dirasakan.
• Ada 2 jenis anamnesis :
a. Auto-anamnesis yaitu kegiatan wawancara langsung kepada pasien karena pasien dianggap mampu tanya jawab.
b. Allo-anamnesis yaitu kegiatan wawancara secara tidak langsung atau dilakukan wawancara /tanya jawab pada keluarga pasien atau orang yang mengetahui tentang pasien. Allo-anamnesis dilakukan karena pasien belum dewasa (anak-anak yang belum dapat mengemukakan pendapat terhadap apa yang dirasakan), pasien dalam keadaan tidak sadar karena berbagai hal,
pasien tidak dapat berkomunikasi atau pasien yang mengalami gangguan jiwa.
P E M E R I K S A A N K L I N I S
Anamnesis
. Observasi/pengamatan adalah kegiatan yang
dilakukan dengan cara melakukan pengamatan pada bagian tubuh tertentu untuk mengetahui adanya
gangguan kekurangan gizi. Misalnya mengamati bagian putih mata untuk mengetahui anemi, orang yang
menderita anemi bagian putih matanya akan terlihat putih tanpa terlihat arteri yang sedikit kemerahan.
Observasi
P E M E R I K S A A N K L I N I S
• Palpasi adalah kegiatan perabaan pada bagian tubuh tertentu untuk mengetahui adanya kelainan karena kekurangan gizi.
• Misalnya melakukan palpasi dengan menggunakan kedua ibu jari pada kelenjar tyroid anak untuk mengetahui adanya
pemerbesaran gondok karena kekurangan iodium.
Palpasi
P E M E R I K S A A N K L I N I S
Perkusi adalah melakukan mengetukkan pada bagian tubuh tertentu untuk mengetahui reaksi yang terjadi atau suara yang keluar dari bagian tubuh yang diketuk.
Auskultasi adalah mendengarkan suara yang muncul dari bagian tubuh untuk mengetahui ada tidaknya
kelainan tubuh.
Perkusi
P E M E R I K S A A N K L I N I S
Auskultasi
1. Pemeriksaan mudah dilakukan
2. Waktunya cepat
3. Tidak memerlukan peralatan rumit
4. Dapat dilakukan dimana saja
5. Hasil cukup akurat
1. Memerlukan pelatihan khusus
2. Ketepatan berssifat subjektif
3. Diperlukan data pendukung lain (data lab)
4. Pemeriksaan dipengaruhi lingkungan
5. Tingkat defisiensi
cenderung tingkat berat
P E M E R I K S A A N K L I N I S
PEMERIKSAAN KLINIS
• Pemeriksaan klinis secara umum terbagi menjadi dua bagian :
a. Medical History/Riwayat Medis → catatan mengenai perkembangan penyakit
b. Pemeriksaan fisik → melihat dan mengamati gejala gangguan gizi baik sign (gejala yang dapat diamati) dan symptom (gejala yang tidak dapat diamati tapi dapat dirasakan oleh penderita gangguan gizi)
• Dalam riwayat medis → mencatat semua
kejadian-kejadian yang berhubungan dengan gejala yang timbul pada penderita beserta
faktor yang mempengaruhi timbulnya penyakit tersebut
• Data dikumpulkan → wawancara pada pasien dan keluarga (anamnesa) atau observasi pada rumah dan lingkungan penderita
• Pengumpulan data → mengetahui penyebab masalah gizi → primer (konsumsi makanan) atau sebab lain (penyakit penyerta, konsumsi obat dan genetik)
RIWAYAT MEDIS
P E M E R I K S A A N K L I N I S
• Catatan dalam Riwayat medis :
a. Identitas penderita : umur, JK, Pendidikan, pekerjaan, suku dsb
b. Lingkungan fisik dan sosial budaya berkaitan dengan timbulnya penyakit (kondisi geografis, kandungan mineral tanah, adat istiadat,
kebiasaan, kepercayaan dll)
c. Sejarah timbulnya penyakit (kapan bb mulai turun, gejala muntah, gejala lain ada atau tidak)
d. Data tambahan (penyakit lainnya → anemia,
radang usus, opersi, penyakit infeksi atau kronis)
RIWAYAT MEDIS
P E M E R I K S A A N K L I N I S
• Pengamatan terhadap perubahan fisik yang berkaitan dengan kekurangan gizi
• Pemeriksaan fisik merupakan bagian dari pemeriksaan klinis karena :
1. Dapat mengungkapkan bukti ada defisiensi gizi yang tidak dapat dideteksi dengan survey konsumsi atau pemeriksaan laboratorium
2. Memberikan tanda yang dapat digunakan untuk menunjukkan masalah gizi
3. Mengungkapkan tanda penyakit, diagnosis dan pengobatannya → digunakan untuk penanganan selanjutnya
• Perubahan fisik dapat dilihat pada jaringan epitel, yaitu rambut, mata wajah, mulut, lidah, gigi dan juga kelenjar tiroid
Pemeriksaan Fisik
P E M E R I K S A A N K L I N I S
• Komisi ahli WHO dalam Jeliffe (1966) dan Jeliffe (1989), mengelompokkan tanda klinis menjadi 3 kelompok besar :
1. Kelompok 1
Tanda yang memang berhubungan dengan kurang gizi yang mungkin disebabkan oleh kekurangan salah satu zat gizi atau lebih yang dibutuhkan tubuh
2. Kelompok 2
Tanda yang membutuhkan investigasi (penyelidikan)lebih lanjut.
Tanda ini mungkin disebabkan oleh malnutrisi atau mungkin oleh faktor lain seperti kemiskinan, buta huruf, hygiene sanitasi, air bersih dll
3. Kelompok 3
Tanda yang tidak berkaitan dengan malnutrisi walau hampir mirip.
Dalam diagnosis, tanda ini sulit untuk dibedakan sehingga memerlukan keahlian khusus
Pemeriksaan Fisik
P E M E R I K S A A N K L I N I S
Gambaran dan
Pengelompokan Tanda Klinis
Kelompok 1
• Rambut kurang bercahaya, kusam dan kering
• Rambut tipis dan jarang
• Rambut kurang kuat dan mudah patah
• Kekurangan pigmen rambut (dyspigmentation) → rambut berkilau terang berwarna terang pada ujung atau mengalami perubahan warna
• Terdapat tanda bendera pada rambut (flag sign) → pita selang – seling dari terang/gelapnya warna
rambut dan mencerminkan kondisi KEP dan pengobatan yang telah diberikan
RAMBUT
P E M E R I K S A A N K L I N I S
Kelompok 1
• Penurunan pigmentasi (defuse pigmentation) tersebat secara berlebihan terutama disertai anemia
• Moon face, wajah menonjol keluar dan lipatan naso-labial
• Pengeringan selaput mata (conjunctival xerosis) → Kode XIA terjadi pada bagian mata ilateral ditandai dengan kekringan. Kekurangan cahaya dan transparansi bulbal conjunctiva
• Bintik Bitot (Bitot’s Spot) → kode XLB (gumpalan kecil putih pada mata)
• Pengeringan kornea (cornea xerosis) Kelompok 2
• Perisanal veins → suatu keadaan yang disebabkan konsumsi alcohol berlebih
WAJAH
P E M E R I K S A A N K L I N I S
Kelompok 1:
Selaput mata pucat, dengan tanda berupa muka pucat.
Keratomalasia, keadaan permukaan halus/
lembut dari keseluruhan bagian tebal atau keseluruhan kornea. Jika kondisinya buruk, kornea berwarna putih buram.
Angular palpebritis, dengan tanda berupa celahan/rekahan di sebelah sisi mata dan kadang sangat erat kaitannya dengan angular stomatitis.
MATA
P E M E R I K S A A N K L I N I S
Kelompok 2:
Corneal vasculrization : disebabkan oleh penyempitan pleksus timbal normal dan dapat mengakibatkan peradangan yang mempengaruhi kornea.
Conjungtival infection and circumcorneal : infeksi pada konjungtiva.
Corneal scars : keadaan kornea yang sifatnya tebal, dalam.
Disebabkan oleh kekurangan vitamin A atau penyakit infeksi.
P E M E R I K S A A N K L I N I S
Kelompok 3:
• Pterygium : luka yang disebabkan oleh sesuatu berbentuk sayap yang dihasilkan oleh lipatan-lipatan ganda yang berdaging dari konjungtiva. Biasanya menyerang kornea bagian lateral dan kemungkinan diakibatkan oleh iritasi yang berlangsung lama, terutama karena sinar matahari dan angin.
P E M E R I K S A A N K L I N I S
Kelompok 1:
Angular stomatis : celah pada sudut-sudut mulut.
Cheilosis : luka dicirikan dengan celah vertikal, yang lebih lanjut terkomplikasi menjadi merah, bengkak.
BIBIR
P E M E R I K S A A N K L I N I S
Kelompok 2:
Depigmentasi kronis pada bibir bawah.
Gejala pada lidah bisa di akibatkan oleh makanan pedas, gigi palsu dan kekurangan gizi.
Gejala lidah kelompok 1:
1. Edema dari lidah
2. Lidah mentah atau scarlet, ditandai dengan lidah berwarna merah cerah perlahan-lahan mengalami pengulitan dan nyeri.
3. Lidah magenta, ditandai dengan warna lidah keunguan.
4. Artofil papila, papila filiform yang telah hilang membuat lidah terlihat tampak halus
LIDAH
P E M E R I K S A A N K L I N I S
Kelompok 2:
1. Papila hperamic, lidah bergranula.
2. fissures, pecah-pecah pada permukaan lidah tanpa papila pada pinggiran atau bawahnya.
Kelompok 3:
1. Geographic tongue, yaitu keadaan lidah dengan daerah bintik yang tersebar tidak teratur dari denudasi dan atrophy epitelium.
Menimbulkan rasa sakit dan nyeri
2. Pigmented tongue, berbintik dengan pigmentasi berlendir hitam.
Biasanya terjadi pada bayi baru lahir
1. Molted enamel, bintik putih dan kecoklatan.
2. Karies gigi, gigi yang rusak tunggal dan terganti. Kekurangan zat gizi pada wanita hamil menyebabkan karies gigi.
3. Pengikisan, terjadi pada tepi gigi seri dan taring.
4. Hipoplasi email, formasi tidak sempurna pada gigi.
5. Erosi email, tempat email gigi yang telah tererosi dengan area yang sangat teratas.
GIGI
P E M E R I K S A A N K L I N I S
Kelompok 1:
Spongy bleeding gums, sangat kurangnya vitamin C.
Kelompok 2:
Recession of gum, kerusakan dan atrofi gusi yang menampakan akar gigi.
KELOMPOK 3:
Pyorrhoea, infeksi tepi gusi yang meyebabkan kemerahan pada gusi dan gusi mudah berdarah.
GUSI
P E M E R I K S A A N K L I N I S
Kelompok 1:
1. Pembesaran tiroid : ditandai dengan pembesaran kelenjar tiroid jika dilihat dan diraba (pembesaran dapat bersifat difus atau
modular)
2. Pembesaran parotid : Kelenjarnya keras tidak lunak dan tidak
nyeri. Bengkak tampak pada belahan telinga dan tersembunyi saat dilihat dari depan.
KELENJAR
P E M E R I K S A A N K L I N I S
Kelompok 2:
Gynaecomastia, pembesaran bilateral, terlihat dan teraba pada putting dan glandural subaeropal pada laki-laki.
Kelompok 1:
1. Xerosis, kulit kering tanpa mengandung air.
2. Follicular hyperkeratosis
3. Petechiae, bintik pada kulit atau membran berlendir yang sulit diihat pada kulit gelap
4. Pellagrous rash atau dermatitis : lesi kulit pellagra yang khas (simetris), memiliki batas jelas, berpigmen lebih dengan atau tanpa exfoliasi
5. Flaky paint rash : perluasannya sering berbintik/belang. Sering mirip luka bakar pada tahap 2
6. Scrotal dan vulval dermatosis : lesi pada kulit skrotum atau vulva, terasa gatal
KULIT
P E M E R I K S A A N K L I N I S
KULIT
P E M E R I K S A A N K L I N I S
Kelompok 2:
1. Mosaic dermation : plaque mosaic lebar tipis, sering
terdapat ditengah cenderung mengelupas di sekelilingnya
2. Thickening and pigmentation of pressure point, penebalan dengan pigmentasi pada lutut, siku dan depan mata kaki.
Kelompok 1
• Koilonychia : keadaan kuku berbentuk sendok pada orang dewasa akibat anemia
Kelompok 2
• Transverse ridging or grooving nails : keadaan kuku yang memiliki lebih dari satu keadaan yang ekstrem
KUKU
P E M E R I K S A A N K L I N I S
Kelompok 1
• Bilateral edema : biasanya terlihat pada kaki dan mata kaki, kemudian meluas pada daerah lain
• Lemak bawah kulit
JARINGAN BAWAH KULIT
P E M E R I K S A A N K L I N I S
Kelompok 1
• Muscular wasting
• Craniotabes
• Frontal and pariental bossing
• Persistently open anterior fontanell
• Epiphyseal enlargement
• Beading of the ribs
• Knock knees
• Bow legs
• Widespread or local pelvicskeletal deformitis
• Muskuloskeletal haemorrhages
• Subsperiosteal haemorrhage
SISTEM TULANG DAN OTOT
P E M E R I K S A A N K L I N I S
Kelompok 1
• Sistem gastrointestinal hepatomegaly
• Sistem saraf
• Tes system saraf pusat
• Sistem kardiovaskuler : pembesaran jantung
• Sistem kardiovaskuler : takikardia
SISTEM INTERNAL
P E M E R I K S A A N K L I N I S
Kelompok 2
• Sistem kardiovaskuler : tekanan darah
Kekurangan energi protein adalah keadaan kurang gizi yang disebabkan oleh rendahnya konsumsi energy dan protein dalam makanan sehari-hari sehingga
tidak memenuhi Angka Kecukupan Gizi (AKG) (Depkes, 1999). Malnutrisi energi protein adalah seseorang yang kekurangan gizi yang disebabkan oleh konsumsi
energi protein dalam makanan sehari-hari atau gangguan penyakit tertentu.
(Suparno, 2000).
Faktor penyebab yang dapat
menimbulkan KEP (Nazirudin 1998) yaitu:
a. Sosial ekonomi yang rendah.
b. Sukar atau mahalnya makanan yang baik.
c. Kurangnya pengertian orang tua mengenai gizi.
d. Kurangnya faktor infeksi pada anak (misal: diare).
e. Kepercayaan dan kebiasaan yang salah terhadap makanan (missal: tidak makan daging atau telur disaat luka).
Kekurangan energi protein akan memberikan gambaran klinis berupa:
➢ Pertumbuhan terganggu meliputi berat badan dan tinggi badan.
➢ Perubahan mental berupa cengeng dan apatis.
➢ Adanya oedem/edema ringan atau berat karena penurunan protein plasma.
➢ Jaringan lemak dibawah kulit menghilang, kulit keriput dan tonus otot menurun.
➢ Kulit bersisik
➢ Anemia
➢ Crazy pavemen permatosisis (bercak-bercak putih dan merah muda dengan tepi hitam).
➢ Pembesaran hati
Orang yang mengidap gejala klinis KEP ringan dan sedang pada pemeriksaan
hanya nampak kurus. Namun demikian,gejala klinis KEP berat secara garis besar dapat dibedakan menjadi tiga yaitu kwashiorkor, marasmus, marasmus-
kwashiorkor.
1. Marasmus
• Anak tampak sangat kurus, tampak seperti tulang terbungkus kulit (Observasi)
• Wajah seperti orang tua (observasi)
• Cengeng, rewel (Allo-anamnesis)
• Kulit keriput, jaringan lemak subkutan sangat sedikit, bahkan sampai tidak ada (palpasi)
• Sering disertai diare krnis atau
kontipasi/susah buang air, serta penyakit kronis. (Anamnesis,biokimia)
• Tekanan darah,detak jantung,dan pernapasan berkurang(Auskultasi)
2. Kwashiorkor
• Edema,umumnya terdapat diseluruh tubuh dan terutama pada kaki (dorsum pedis) (perkusi,palpasi)
• Wajah membulat dan sembab (Observasi,palpasi)
• Otot-otot mengecil,lebih nyata apabila diperiksa pda posisi berdiri daripada duduk,anak berbaring terus- menerus. (Palpasi)
• Perubahan status mental cengeng,rewel,kadang apatis (allo anamnesis)
• Anak sering menolak segala jenis makanan (anoreksia) (anamnesis)
• Pembesaran hati (perkusi,biokimia)
• Sering disertai infeksi,anemia,dan diare(biokimia)
• Rambut warnak merah kusam dan mudah dicabut (observasi)
• Gangguan kuli berupa bercak merah yang meluas dan berubah menjadi hitam terkelupas (observasi,palpasi)
• Pandangan mata anak nampak sayu(observasi)
3. Marasmus-khwasiorkor
Tanda-tanda marasmus-khwasiorkor adalah gabungan dari tanda-tanda yang ada pada marasmus dan khwasiorkor(Depkes RI,1999).
Metode Penentuan
Untuk mendeteksi KEP,perlu dilakukan pemeriksaan (inspeksi) terhadap target organ yang meliputi:
1. Kulit seluruh tubuh terutama wajah,tangan,dan kaki
2. Otot-otot
3. Rambut
4. Mata
5. Hati
6. Gerakan motorik
Interpretasi
Apabila dalam pemeriksaan fisik pada target organ anak banyak mengalami perubahan sesai dengan tanda-tanda klinis KEP,ada petunjuk bahwa anak tersebut kemungkinan besar menderita KEP. Meskipun
demikian,perlu dicermati bahwa peniaian KEP masih memerlukan pengamatan lebih lanjut apakah termasuk marasmus ,kwasiorkor, atau marasmic-kwasiorkor sesuai dengan tanda-tanda yang lebih spesifik.
Penilaian status gizi
Anamnesis
Pemeriksaan jasmani
Antropometri
Pemeriksaan laboratorium
ANEMIA
• Anemia merupakan suatu keadaan dimana terjadi penurunan jumlah sel darah merah
• Menurut WHO, anemia didefinisikan sebagai Hb (hemoglobin) kurang 13 g/dl untuk laki-laki dan kurang 12 g/dl untuk wanita
• Definisi anemia sangat tergantung pada usia dan jenis kelamin
• Definisi yang paling sering dipakai adalah definisi anemia menurut WHO dan CDC (Centers for Disease Control and Prevention)
PENYEBAB ANEMIA
Gangguan Eritrosit
Pendarahan Hemolisis
Klasifikasi Anemia
1. Anemia Normositik Normokrom (sel normal) : <20-100 FL.
2. Anemia Makrositik Hiperkrom (sel lebih besar) : >100 FL
3. Anemia Mikrositik Hipokrom (sel lebih kecil): <80 FL
Tanda Klinis Anemia
Lelah, Lesu, Lemah, Letih, Lunglai (5L): tanda klinis ini biasanya dapat dilihat dengan cara observasi/pengamatan,bagaimana
kondisi pasien tersebut tidak aktif seperti biasanya
Bibir Tampak Pucat:tanda klinis ini juga dapat dilihat dengan cara pengamatan/observasi
Napas Pendek:tanda klinis dilihat dengan cara auskultasi,pasien diperiksa dengan stetoskop dibagian dada dan tarikan nafas
pasien akan di dengar oleh ahli gizi/dokter
Lidah Licin:tanda klinis ini dapat di periksa melalui 2 metode yaitu pengamatan/observasi atau palpasi
Denyut Jantung Meningkat:tanda klinis ini menggunakan metode auskultasi
TANDA FISIK ANEMIA
• Bagian dalam kelopak mata berwarna pucat
• Kelelahan
• Mual
• Sakit kepala
• Ujung jari pucat
• Denyut jantuk tak beraturan
• Pucat
• Rambut rontok
• Penurunan kekebalan tubuh
Makanan
• Mengonsumsi makanan yang banyak mengandung zat besi dari bahan hewani, nabati dan sayuran berwarna hijau tua
• Banyak mengonsumsi makanan sumber vitamin C
• Minum satu tablet penambah darah setiap hari
GAKI
Gangguan Akibat Kekurangan Iodium(GAKI)
Secara klinis dapat di definisikan kumpulan gejala yang timbul karena tubuh kekurangan unsur Iodium secara
terus menerus dalam jangka waktu yang cukup lama.
Penyebab GAKI
• Zat Gaitrogenik
• Asupan iodium rendah
• Lokasi Geografis
• Genetik
GONDOK
Defisiensi yodium akan meguras cadangan yodium serta mengurangi produksi T4.
Penurunan kadar T4 dalam darah memicu sekresi TSH yang kemudian meningkatkan kegiatan kelenjar tiroid sehingga kelenjar tiroid membengkak.
Ciri-Ciri Gondok
• Selera makan menurun dan mulai berkurang
• Mulut mulai terasa tegang dan sulit menguyah
• Ketika malam hari suhu tubuh menurun
• Terkadang sering mengalami dengungan di telinga
Dalam Menentukan pembesaran kelenjar gondok metode yang di gunakan adalah
• Inspeksi (Pengamatan)
• Palpasi (Perabaan)
• Ekskresi Yodium Urine (EYU)
Urutan Pemeriksaan Kelenjar Gondok
1.Orang (sample) yang di periksa berdiri tegak atau duduk menghadap pemeriksa
2.Pemeriksa melakukan pengamatan di daerah leher
3.Amati apakah ada pembesaran gondok
4.Jika bukan sampel di minta menengadah dan menelan ludah. Hal ini bertujuan untuk apakah yang di temukan adalah kelenjar gondok atau bukan. Pada
gerakan menelan kelenjar gondok anakat ikut terangkat
5.Pemeriksa berdiri di belakang sampel dan lakukan palpasi. Pemeriksa
meletakkan kedua jari telunjuk dan kedia jari tengah pada masing-masing lobus kelenjar gondok. Lalu lakukan palpasi dengan meraba
6.Tentukan (mengdiagnosis) apakah sampel menderita gondok atau tidak. Apa bila salah satu atau keduanyaa lobus kelenjar lebih kecil ruas terakhir ibu jari orang yg d periksa (sample). Ketika terjadi sebaliknya maka orang tersebut menderita gondok
Tingkat Gejala
Tingkat 0 Tidak ada pembesaran kelenjar tiroid
Tingkat Ia Pembesaran kelenjar tiroid tidak terlihat walaupun leher mendongak penuh dan hanya terasa hanya melalui palpasi (lebih besar dari ruas terakhir ibu jari penderita
Tingkat Ib Pembesaran dapat teraba lebih besar daripada grade IA dan terlihat hanya Ketika leher mendongak penuh (Ketika leher normal tidak terlihat)
Tingkat II Pembesaran terlihat dengan posisi leher normal dan Ketika palpasi lebih besar daripada grade Ib
Tingkat III Pembesaran cukup besar dan dapat terlihat pada jarak 6 meter atau lebih
Prevalensi penderita groiter/gondok
• Prevalensi Total Groiter Rate (TGR) = (Grade (Ia+Ib+II+III)
banyaknya yang diperiksa X 100%
• Prevalensi Visible Goiter Rate (VGR) = (Grade (Ib+II+III)
banyaknya yang diperiksa X 100%
Keterbatasan Mental
• Biasanya terjadi pada Anak-anak pada masa pertumbuhan
• Kekurangan yodium pada ibu hamil akan menyebabkan kretin pada bayi yang akan dilahirkannya
• Selain itu juga akan disertai dengan kerusakan susunan syaraf pusat dan hipotirodisme
• Secara klinis kerusakan susunan syaraf pusat akan berupa retardasi, gangguan pendengaran sampai bisu tuli
• Pada ibu hamil dengan GAKY berat akan melahirkan anak cebol dengan intelektualitas yang rendah
Terjadinya retardasi mental dipengaruhi oleh berbagai faktor:
1. Kelainan anatomis pada otak
2. Kekurangan oksigen selama di dalam kandungan atau saat proses persalinan yang lama dan susah
3. Penggunaan obat anti kejang dan alkohol selama kehamilan
4. Kekurangan yodium selama di dalam kandungan dan di awal kehidupan sehingga terjadi kekurangan hormon tiroid.
Pencegahan GAKY
o Jangka Panjang: suplementasi tidak langsung melalui fortifikasi garam konsumsi dengan iodium dimana program ini disebut
garam iodium.
o Jangka pendek: suplementasi langsung dengan Asupan makanan beriodium
pa ge
68
Kekurangan Vitamin D
Rachitis
Tandanya :
▪ Nyeri pada tulang
▪ Perubahan bentuk tulang
▪ Keterlambatan pertumbuhan dan perkembangan
Osteoporosis
Tandanya :
• Tulang rapuh
• Tinggi berkurang
• Postur yang jelek
• Nyeri pada otot dan sendi
pa ge
69
Kekurangan Vitamin E
Dapat meyebabkan :
Pada ibu hamil dapat
menyebabkan keguguran.
Ataksia
Kerusakan syaraf Keguguran
• Bila janin kekurangan vitamin E dari asupan makanan ibu, kondisi ini bisa menyebabkan dirinya lahir cacat akibat nutrisi penting yang dibutuhkan tidak terpenuhi.
• Vitamin E ini penting untuk membantu organ tubuh menjalankan fungsinya dengan tepat.
Ataksia
Gejala : kegagalan dalam mengendalikan otot
Kerusakan syaraf dan otot Gejala :
Tidak bisa merasakan lengan dan kaki,
kehilangan kontrol gerak tubuh, dan sistem kekebalan tubuh yang melemah
pa ge
70
Kekurangan Vitamin K
Neonatus sangat rentan terhadap kekurangan vitamin K karena transferin asupan yang rendah
menyebabkan pendarahan tak terduga pada minggu pertama kehidupan.
Pemeriksaan Fisik :
❖ Dapat timbul sebagai ekimosis
Yaitu pendarahan dibawah kulit yang ukurannya >1cm yang ditandai dengan kulit tubuh tampak lebam/bercak ungu kehitam hitaman.
❖ Cephal hematoma
Adalah pembengkakan pada daerah kepala bayi yang disebabkan karena adanya penumpukan darah dibawah kulit kepala
bayi.
❖ Pendarahan pada hidung, pusat, usus, atau intrakranial.
pa ge
71
Vitamin B1
Didapatkan tanda awal seperti apatis, gelisah, muntah, diare. Gejala lain termasuk kegagalan jantung kongestif, takikardia, dispnea, dan sianosis.
Vitamin B2
Gejala klinis defisiensi ini dimulai 3-5 bulan setelah diet yang tidak memadai. Tahap awal ditemukan stomatitis yang bermanifestasi sebagai papul kecil di sudut mulut.
Dermatitis akibat defisiensi riboflavin melibatkan lipatan nasolabial, lubang hidung, dahi, pipi, dan aurikular posteroir.
Vitamin B3
Pada kulit didapatkan dermatitis yang eritemaous, berkembang menjadi vesikel dan bula, yang bila pecah meninggalkan erosi. Pada tangan dan kaki dapat timbul plak hiperpigmentasi.
Vitamin B6
Kekurangan vitamin B6 dapat mengakibatkan dermatitis seboroik. Tanda neurologis seperti mengantuk, neuropati perifer, parestesi, kelemahan dan kebingungan. Gejala lain seperti mual, muntah, depresi, anoreksia, dan anemia.
Kekurangan
Vitamin B
pa ge
72
Kekurangan Vitamin B
a. Vitamin B9
• Pada kulit ditemukan dermatitis seboroik, hiperpigmentasi pada lipatan palmar
• Pada mukokutan terdapat glositis dengan atrofi papila filifrom, angular cheilitis, mukosa ulserasi, serta ulserasi perirectal.
b. Vitamin B12
• Manifestasi mukokutaneous
• Glositis/peradangan pada lidah ditandai dengan lidah atrofi, merah dan nyeri dengan atrofi papila filiform, disebut sebagai glositis
hunter.
pa ge
73
Kekurangan Vitamin C
Scurvy
Tandanya :
• Gusi bengkak dan berdarah, bahkan terkadang gigi tanggal
• Bintik merah atau biru pada kulit
• Luka susah sembuh
• Nyeri sendi atau nyeri kaki
• Sesak nafas
• Kekurangan Vitamin A (KVA) adalah suatu kondisi dimana simpanan Vit A dalam tubuh berkurang
• Hal ini dapat menyebabkan rabun senja, xeroftalmia termasuk terjadinya kelainan anatomi bola mata dan gangguan fungsi sel retina yang dapat menyebabkan kebutaan.
PENYEBAB KVA PADA ANAK
• Asupan makanan kurang mengandung Vitamin A, misalkan sayur hijau gelap/kuning, buah dan kuning telur.
• Anak sering menderita diare & demam
• Anak tidak mendapat ASI eksklusif dan tidak diberi ASI sampai 2 tahun.
• Anak tidak mendapat kapsul vit a secara teratur di posyandu pada bulan februari dan agustus
Gejala klinis KVA
Gejala klinis KVA pada mata akan timbul bila tubuh mengalami KVA yang telah berlangsung lama.
Gejala xeroftalmia terbagi dua, yaitu :
1) Keadaan yang reversibel, yaitu yang dapat sembuh - Rabun senja (hemerolopia)
- Xerosis conjunctiva - Xerosis kornea
- Bercak bitot
2) Keadaan yang irreversibel, yaitu yang agak sulit sembuh - Ulserasi kornea
- Keratomalasia
Pemeriksaan Klinis pada KVA
• Pemeriksaan klinis yang dilakukan adalah menggunakan metode anamnesis/kegiatan wawancara
• Metode pemeriksaan yang kedua adalah dengan pemeriksaan
observasi/pengalamatan, bagaimana keadaan mata pada kondisi tersebut berdasarkan tanda dan gejala yang terlihat dari
masing-masing penyakit.
Klasifikasi Kekurangan Vitamin A
Kode Gejala Klinis
XN Rabun senja
X1A Konjungtiva mengering (conjungtiva xerosis), yaitu terdapatnya satu atau lebih bintik konjungtiva kering dan tidak bisa dibasahi.
Munculnya segelundungan pasir pada air pasang yang Kembali surut X1B Bercak Bitot (Bitot’s Spot) dan konjungtiva xerosis adalah suatu
kelainan berwarna abu – abu kekuningan yang bentuknya seperti busa sabun yaitu keadaan bergelembung yang terdiri dari sel
konjungtiva yang mengeras dan bersisik melapisi Sebagian atau seluruh permukaan yang kering
X2 Cornea Xerosis (kornea mengering), keadaan defisiensi semakin parah, bitnik luka bertambah padat dan tersebar dan mungkin
meliputi seluruh kornea. Kornea kering berkabut jika di sinar dengan senter
Klasifikasi Kekurangan Vitamin A
Kode Gejala Klinis
X3A Ulserasi Kornea + kornea mengering. Ulkus kornea biasanya
ditandai dengan bintik atau area putih yang berada di bagian hitam mata. Ulkus kornea < 1/3 kornea
X3B Keratomalasia. Ulkus kornea > 1/3. kondisi defisiensi Vitamin A tingkat berat dimana seluruh kornea dan konjungtiva ,emjadi satu dan menebal sehingga kornea menjadi rusak. Terjadi pelunakan di limbus kornea dan. Biasanya terjadi dengan gabungan defisiensi vitamin A dan protein
XS Cornea Scars akibat sembuh dari luka
XF Xeropthalmia fundus. Terjadinya noda putih yang tersebar di fundus
BUTA SENJA (XN)
• Buta senja terjadi akibat gangguan pada sel batang retina
• Pada keadaan ringan, sel batang retina sulit beradaptasi di ruang yang remang-remang setelah lama berada di cahaya yang terang
• Penglihatan menurun pada senja hari, dimana penderita tidak dapat melihat lingkungan yang kurang cahaya.
• Pemeriksaan klinis dengan anamnesis dan observasi → Metode gelap-terang pada suatu ruangan, kemudian melakukan observasi/pengamatan.
XN
o “Night/evening blindness”
o Inability to see in dark/poorly lighted situations
o WHO classification:
XN
CONJUNGTIVA XEROSIS (X1A)
• Selaput lendir mata tampak kurang mengkilat atau terlihat sedikit kering, berkeriput, dan berpigmentasi dengan permukaan kasar dan kusam.
• mencerminkan kekeringan konjungtiva yang parah.
• tanda kekurangan vitamin A (VAD) yang berlangsung lama.
• Pada kasus lanjut, seluruh konjungtiva mungkin tampak kering, kasar, menebal dan bergelombang, dan terkadang seperti kulit.
• Keluhan : mata anak tampak kering atau berubah warna kecoklatan
• WHO classification:
X1A
• Tanda-tanda:
a. Selaput lendir bola mata tampak kurang mengkilat atau terlihat sedikit kering, berkeriput, dan berpigmentasi dengan permukaan kasar dan kusam
b. Orang tua sering mengeluh mata anak tampak kering atau berubah warna kecoklatan
Dryness of conjunctiva
Wrinkle and hyperpigmentation
CONJUNGTIVA XEROSIS
(X1A)
BITOT’S SPOT (X1B)
• Bercak putih seperti busa sabun atau keju terutama celah mata sisi luar.
• Bercak ini merupakan penumpukan kreatin dan sel epitel yang merupakan tanda khas pada penderita xeroftalmia.
• Dalam keadaan berat, tampak kekeringan meliputi seluruh permukaan
konjunctiva, konjunctiva tampak menebal, berlipat dan berkerut. Keluhan : mata anak tampak bersisik.
• WHO classification: X1B
• Tanda-tanda:
a. Tanda-tanda xerosis konjunctiva (X1A) ditambah bercak bitot yaitu bercak putih seperti busa sabun atau keju terutama di daerah celah mata sisi luar.
b. Bercak ini merupakan penumpukan keratin dan sel epitel yang merupakan tanda khas pada penderita xeroftalmia, sehingga dipakai sebagai kriteria penentuan prevalensi kurang vitamin A dalam masyarakat
• Dalam Keadaan Berat:
a. Tampak kekeringan meliputi seluruh permukaan konjunctiva
b. Konjungtiva tampak menebal, berlipat-lipat dan berkerut
c. Orang tua mengeluh mata anaknya tampak bersisik
‘Foam-like’ substance
Hyperpigmentation & wrinkle (X-1)
BITOT’S SPOT
(X1B)
XEROSIS KORNEA (X2)
• Kekeringan pada konjunctiva berlanjut sampai kornea → kornea tampak suram dan kering dengan permukaan tampak kasar.
• Keluhan : keadaan umum anak biasanya (gizi buruk dan menderita penyakit infeksi dan sistemik lainnya.
• WHO classification:
X2
Dryness of cornea
Wrinkle and hyperpigmentation
XEROSIS KORNEA
(X2)
ULSERASI KORNEA (X3A)
• Ulserasi yaitu kehilangan frank epithelial dan ulserasi stroma dengan ketebalan sebagian atau seluruhnya.
• Gejala ulkus kornea adalah bintik putih pada kornea. Bintik putih tersebut dapat mudah terlihat bila ukuran luka cukup besar.
• WHO classification:
X3A
Corneal ulcer <
1/3
Conjunctival & ciliary injection
ULSERASI KORNEA
(X3A)
KERATOMALASIA (X3B)
• Keratomalasia dan luka pada kornea yang dapat berakhir dengan
perforasi dan prolaps jaringan isi bola mata dan membentuk cacat tetap yang dapat menyebabkan kebutaan.
• Keratomalacia adalah suatu kondisi mata di mana kornea, bagian depan mata yang bening, menjadi keruh dan melembut.
• Penyakit mata ini sering bermula sebagai xerophthalmia, yaitu kekeringan parah pada kornea dan konjungtiva.
• Keratomalacia biasanya menyerang kedua mata dan paling sering ditemukan di negara berkembang
• WHO classification: X3B
Ulkus kornea >
1/3Keratomalacea
KERATOMALASIA
(X3B)
CORNEA SCARS (XS)
• Gejala sisa dari ulkus kornea dan keratomalacia termasuk pembentukan bekas luka kornea atau leukoma.Kornea tampak menjadi putih atau bola mata tampak mengecil.
• Bila luka pada kornea telah sembuh akan meninggalkan bekas berupa sikatrik atau jaringan parut.
• Penderita akan menjadi buta yang sudah tidak dapat disembuhkan walaupun dengan operasi cangkok kornea.
• WHO classification: XS
XS
Corneal scar
Corneal Scarring
XEROFTALMIA FUNDUS (XF)
• Fundus Xerophthalmic (fundus xerophthalmicus) adalah suatu kondisi yang ditandai dengan kekeruhan seperti titik, oval, atau linier berwarna putih halus, berwarna krem, atau keabu-abuan di retina.
• Dengan Ophalmoscope pada fundus tampak gambar seperti cendol
• Biasanya terjadi pada individu dengan rabun senja, xerosis konjungtiva dan / atau bintik Bitot.
• Defisiensi beratVitamin A
• WHO classification: XF
XEROFTALMIA FUNDUS
(XF)
TERIMA KASIH
Zat gizi rambut muka mata kulit Mulut
dan gigi kelenjar Otot dan tulang
Vitamin E √ √ - √ √
Vitamin C - - - √ √ - -
Vitamin A - - √ √ - - -
protein √ √ √ √ - √ √
Sign/Gejala Defisiensi/Kelebihan Defisiensi
maramus Defisiensi protein
Buta senja Defisiensi vitamin a
scurvy Defisiensi vitamin c
Peteki/pulpura Defisiensi vitamin C
Kelebihan
Molted enamel Kelebihan floride
Kelompok 1 Kelompok 2 Kelompok 3
Rambut Kusam
Kering
Rambut tipis
- alopecia
kulit Xerosis
Folicular hyperxerosis Peteki
dermatitis
Mosaic dermatitis -
gigi Bleeding gums Recession of gums Pyorrhoea