• Tidak ada hasil yang ditemukan

PEMERIKSAAN KLINIS harus dipadukan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PEMERIKSAAN KLINIS harus dipadukan"

Copied!
106
0
0

Teks penuh

(1)

PEMERIKSAAN KLINIS

A N D R A V I D Y A R I N I T I M P E N G A J A R P E N I L A I A N S TAT U S G I Z I P R O D I I L M U G I Z I

F I K E S U H A M K A

(2)

QS. Al-Maidah: 88

“Dan makanlah dari apa yang telah diberikan Allah kepada kalian sebagai rezeki yang halal dan baik, dan bertakwalah kamu kepada Allah yang kamu

beriman kepada-Nya.”

(3)

PEMERIKSAAN KLINIS

Pemeriksaan klinis → Penilaian status gizi langsung

Pemeriksaan klinis → pemeriksaan yang dilakukan untuk mengetahui ada atau tidaknya gangguan Kesehatan, termasuk gangguan gizi, yang dialami seseorang

Pemeriksaan klinis harus dipadukan dengan pemeriksaan lain

(antropometri, biokimia/laboratorium dan survey konsumsi) → hasil lebih tepat dan lebih baik

(4)

PEMERIKSAAN KLINIS

Kelainan/gangguan pada kulit, rambut, mata, membrane mukosa, dan bag tubuh lain → petunjuk ada tidaknya masalah gizi

Tanda klinis masalah gizi dapat tidak spesifik → beberapa gejala sama tapi penyebab beda

Tanda gizi kurang tidak spesifik → bukan karna KEP tapi hygiene sanitasi buruk

(5)

PEMERIKSAAN KLINIS

Anamnesis Observasi Palpasi Perkusi Auskultasi

(6)

Anamnesis adalah kegiatan wawancara antara pasien dengan nakes untuk memperoleh keterangan tentang keluhan dan riwayat penyakit atau gangguan kesehatan yang dialami seseorang dari awal sampai munculnya gejala yang dirasakan.

Ada 2 jenis anamnesis :

a. Auto-anamnesis yaitu kegiatan wawancara langsung kepada pasien karena pasien dianggap mampu tanya jawab.

b. Allo-anamnesis yaitu kegiatan wawancara secara tidak langsung atau dilakukan wawancara /tanya jawab pada keluarga pasien atau orang yang mengetahui tentang pasien. Allo-anamnesis dilakukan karena pasien belum dewasa (anak-anak yang belum dapat mengemukakan pendapat terhadap apa yang dirasakan), pasien dalam keadaan tidak sadar karena berbagai hal,

pasien tidak dapat berkomunikasi atau pasien yang mengalami gangguan jiwa.

P E M E R I K S A A N K L I N I S

Anamnesis

(7)

. Observasi/pengamatan adalah kegiatan yang

dilakukan dengan cara melakukan pengamatan pada bagian tubuh tertentu untuk mengetahui adanya

gangguan kekurangan gizi. Misalnya mengamati bagian putih mata untuk mengetahui anemi, orang yang

menderita anemi bagian putih matanya akan terlihat putih tanpa terlihat arteri yang sedikit kemerahan.

Observasi

P E M E R I K S A A N K L I N I S

(8)

Palpasi adalah kegiatan perabaan pada bagian tubuh tertentu untuk mengetahui adanya kelainan karena kekurangan gizi.

Misalnya melakukan palpasi dengan menggunakan kedua ibu jari pada kelenjar tyroid anak untuk mengetahui adanya

pemerbesaran gondok karena kekurangan iodium.

Palpasi

P E M E R I K S A A N K L I N I S

(9)

Perkusi adalah melakukan mengetukkan pada bagian tubuh tertentu untuk mengetahui reaksi yang terjadi atau suara yang keluar dari bagian tubuh yang diketuk.

Auskultasi adalah mendengarkan suara yang muncul dari bagian tubuh untuk mengetahui ada tidaknya

kelainan tubuh.

Perkusi

P E M E R I K S A A N K L I N I S

Auskultasi

(10)

1. Pemeriksaan mudah dilakukan

2. Waktunya cepat

3. Tidak memerlukan peralatan rumit

4. Dapat dilakukan dimana saja

5. Hasil cukup akurat

1. Memerlukan pelatihan khusus

2. Ketepatan berssifat subjektif

3. Diperlukan data pendukung lain (data lab)

4. Pemeriksaan dipengaruhi lingkungan

5. Tingkat defisiensi

cenderung tingkat berat

P E M E R I K S A A N K L I N I S

(11)

PEMERIKSAAN KLINIS

Pemeriksaan klinis secara umum terbagi menjadi dua bagian :

a. Medical History/Riwayat Medis → catatan mengenai perkembangan penyakit

b. Pemeriksaan fisik → melihat dan mengamati gejala gangguan gizi baik sign (gejala yang dapat diamati) dan symptom (gejala yang tidak dapat diamati tapi dapat dirasakan oleh penderita gangguan gizi)

(12)

Dalam riwayat medis mencatat semua

kejadian-kejadian yang berhubungan dengan gejala yang timbul pada penderita beserta

faktor yang mempengaruhi timbulnya penyakit tersebut

Data dikumpulkan → wawancara pada pasien dan keluarga (anamnesa) atau observasi pada rumah dan lingkungan penderita

Pengumpulan data → mengetahui penyebab masalah gizi → primer (konsumsi makanan) atau sebab lain (penyakit penyerta, konsumsi obat dan genetik)

RIWAYAT MEDIS

P E M E R I K S A A N K L I N I S

(13)

Catatan dalam Riwayat medis :

a. Identitas penderita : umur, JK, Pendidikan, pekerjaan, suku dsb

b. Lingkungan fisik dan sosial budaya berkaitan dengan timbulnya penyakit (kondisi geografis, kandungan mineral tanah, adat istiadat,

kebiasaan, kepercayaan dll)

c. Sejarah timbulnya penyakit (kapan bb mulai turun, gejala muntah, gejala lain ada atau tidak)

d. Data tambahan (penyakit lainnya → anemia,

radang usus, opersi, penyakit infeksi atau kronis)

RIWAYAT MEDIS

P E M E R I K S A A N K L I N I S

(14)

Pengamatan terhadap perubahan fisik yang berkaitan dengan kekurangan gizi

Pemeriksaan fisik merupakan bagian dari pemeriksaan klinis karena :

1. Dapat mengungkapkan bukti ada defisiensi gizi yang tidak dapat dideteksi dengan survey konsumsi atau pemeriksaan laboratorium

2. Memberikan tanda yang dapat digunakan untuk menunjukkan masalah gizi

3. Mengungkapkan tanda penyakit, diagnosis dan pengobatannya → digunakan untuk penanganan selanjutnya

Perubahan fisik dapat dilihat pada jaringan epitel, yaitu rambut, mata wajah, mulut, lidah, gigi dan juga kelenjar tiroid

Pemeriksaan Fisik

P E M E R I K S A A N K L I N I S

(15)

Komisi ahli WHO dalam Jeliffe (1966) dan Jeliffe (1989), mengelompokkan tanda klinis menjadi 3 kelompok besar :

1. Kelompok 1

Tanda yang memang berhubungan dengan kurang gizi yang mungkin disebabkan oleh kekurangan salah satu zat gizi atau lebih yang dibutuhkan tubuh

2. Kelompok 2

Tanda yang membutuhkan investigasi (penyelidikan)lebih lanjut.

Tanda ini mungkin disebabkan oleh malnutrisi atau mungkin oleh faktor lain seperti kemiskinan, buta huruf, hygiene sanitasi, air bersih dll

3. Kelompok 3

Tanda yang tidak berkaitan dengan malnutrisi walau hampir mirip.

Dalam diagnosis, tanda ini sulit untuk dibedakan sehingga memerlukan keahlian khusus

Pemeriksaan Fisik

P E M E R I K S A A N K L I N I S

(16)

Gambaran dan

Pengelompokan Tanda Klinis

(17)
(18)
(19)
(20)

Kelompok 1

Rambut kurang bercahaya, kusam dan kering

Rambut tipis dan jarang

Rambut kurang kuat dan mudah patah

Kekurangan pigmen rambut (dyspigmentation) rambut berkilau terang berwarna terang pada ujung atau mengalami perubahan warna

Terdapat tanda bendera pada rambut (flag sign) pita selang – seling dari terang/gelapnya warna

rambut dan mencerminkan kondisi KEP dan pengobatan yang telah diberikan

RAMBUT

P E M E R I K S A A N K L I N I S

(21)

Kelompok 1

Penurunan pigmentasi (defuse pigmentation) tersebat secara berlebihan terutama disertai anemia

Moon face, wajah menonjol keluar dan lipatan naso-labial

Pengeringan selaput mata (conjunctival xerosis) → Kode XIA terjadi pada bagian mata ilateral ditandai dengan kekringan. Kekurangan cahaya dan transparansi bulbal conjunctiva

Bintik Bitot (Bitot’s Spot) → kode XLB (gumpalan kecil putih pada mata)

Pengeringan kornea (cornea xerosis) Kelompok 2

Perisanal veins → suatu keadaan yang disebabkan konsumsi alcohol berlebih

WAJAH

P E M E R I K S A A N K L I N I S

(22)

Kelompok 1:

Selaput mata pucat, dengan tanda berupa muka pucat.

Keratomalasia, keadaan permukaan halus/

lembut dari keseluruhan bagian tebal atau keseluruhan kornea. Jika kondisinya buruk, kornea berwarna putih buram.

Angular palpebritis, dengan tanda berupa celahan/rekahan di sebelah sisi mata dan kadang sangat erat kaitannya dengan angular stomatitis.

MATA

P E M E R I K S A A N K L I N I S

(23)

Kelompok 2:

Corneal vasculrization : disebabkan oleh penyempitan pleksus timbal normal dan dapat mengakibatkan peradangan yang mempengaruhi kornea.

Conjungtival infection and circumcorneal : infeksi pada konjungtiva.

Corneal scars : keadaan kornea yang sifatnya tebal, dalam.

Disebabkan oleh kekurangan vitamin A atau penyakit infeksi.

P E M E R I K S A A N K L I N I S

(24)

Kelompok 3:

Pterygium : luka yang disebabkan oleh sesuatu berbentuk sayap yang dihasilkan oleh lipatan-lipatan ganda yang berdaging dari konjungtiva. Biasanya menyerang kornea bagian lateral dan kemungkinan diakibatkan oleh iritasi yang berlangsung lama, terutama karena sinar matahari dan angin.

P E M E R I K S A A N K L I N I S

(25)

Kelompok 1:

Angular stomatis : celah pada sudut-sudut mulut.

Cheilosis : luka dicirikan dengan celah vertikal, yang lebih lanjut terkomplikasi menjadi merah, bengkak.

BIBIR

P E M E R I K S A A N K L I N I S

(26)

Kelompok 2:

Depigmentasi kronis pada bibir bawah.

(27)

Gejala pada lidah bisa di akibatkan oleh makanan pedas, gigi palsu dan kekurangan gizi.

Gejala lidah kelompok 1:

1. Edema dari lidah

2. Lidah mentah atau scarlet, ditandai dengan lidah berwarna merah cerah perlahan-lahan mengalami pengulitan dan nyeri.

3. Lidah magenta, ditandai dengan warna lidah keunguan.

4. Artofil papila, papila filiform yang telah hilang membuat lidah terlihat tampak halus

LIDAH

P E M E R I K S A A N K L I N I S

(28)

Kelompok 2:

1. Papila hperamic, lidah bergranula.

2. fissures, pecah-pecah pada permukaan lidah tanpa papila pada pinggiran atau bawahnya.

Kelompok 3:

1. Geographic tongue, yaitu keadaan lidah dengan daerah bintik yang tersebar tidak teratur dari denudasi dan atrophy epitelium.

Menimbulkan rasa sakit dan nyeri

2. Pigmented tongue, berbintik dengan pigmentasi berlendir hitam.

Biasanya terjadi pada bayi baru lahir

(29)

1. Molted enamel, bintik putih dan kecoklatan.

2. Karies gigi, gigi yang rusak tunggal dan terganti. Kekurangan zat gizi pada wanita hamil menyebabkan karies gigi.

3. Pengikisan, terjadi pada tepi gigi seri dan taring.

4. Hipoplasi email, formasi tidak sempurna pada gigi.

5. Erosi email, tempat email gigi yang telah tererosi dengan area yang sangat teratas.

GIGI

P E M E R I K S A A N K L I N I S

(30)

Kelompok 1:

Spongy bleeding gums, sangat kurangnya vitamin C.

Kelompok 2:

Recession of gum, kerusakan dan atrofi gusi yang menampakan akar gigi.

KELOMPOK 3:

Pyorrhoea, infeksi tepi gusi yang meyebabkan kemerahan pada gusi dan gusi mudah berdarah.

GUSI

P E M E R I K S A A N K L I N I S

(31)
(32)

Kelompok 1:

1. Pembesaran tiroid : ditandai dengan pembesaran kelenjar tiroid jika dilihat dan diraba (pembesaran dapat bersifat difus atau

modular)

2. Pembesaran parotid : Kelenjarnya keras tidak lunak dan tidak

nyeri. Bengkak tampak pada belahan telinga dan tersembunyi saat dilihat dari depan.

KELENJAR

P E M E R I K S A A N K L I N I S

(33)

Kelompok 2:

Gynaecomastia, pembesaran bilateral, terlihat dan teraba pada putting dan glandural subaeropal pada laki-laki.

(34)

Kelompok 1:

1. Xerosis, kulit kering tanpa mengandung air.

2. Follicular hyperkeratosis

3. Petechiae, bintik pada kulit atau membran berlendir yang sulit diihat pada kulit gelap

4. Pellagrous rash atau dermatitis : lesi kulit pellagra yang khas (simetris), memiliki batas jelas, berpigmen lebih dengan atau tanpa exfoliasi

5. Flaky paint rash : perluasannya sering berbintik/belang. Sering mirip luka bakar pada tahap 2

6. Scrotal dan vulval dermatosis : lesi pada kulit skrotum atau vulva, terasa gatal

KULIT

P E M E R I K S A A N K L I N I S

KULIT

P E M E R I K S A A N K L I N I S

(35)

Kelompok 2:

1. Mosaic dermation : plaque mosaic lebar tipis, sering

terdapat ditengah cenderung mengelupas di sekelilingnya

2. Thickening and pigmentation of pressure point, penebalan dengan pigmentasi pada lutut, siku dan depan mata kaki.

(36)

Kelompok 1

Koilonychia : keadaan kuku berbentuk sendok pada orang dewasa akibat anemia

Kelompok 2

Transverse ridging or grooving nails : keadaan kuku yang memiliki lebih dari satu keadaan yang ekstrem

KUKU

P E M E R I K S A A N K L I N I S

(37)

Kelompok 1

Bilateral edema : biasanya terlihat pada kaki dan mata kaki, kemudian meluas pada daerah lain

Lemak bawah kulit

JARINGAN BAWAH KULIT

P E M E R I K S A A N K L I N I S

(38)

Kelompok 1

Muscular wasting

Craniotabes

Frontal and pariental bossing

Persistently open anterior fontanell

Epiphyseal enlargement

Beading of the ribs

Knock knees

Bow legs

Widespread or local pelvicskeletal deformitis

Muskuloskeletal haemorrhages

Subsperiosteal haemorrhage

SISTEM TULANG DAN OTOT

P E M E R I K S A A N K L I N I S

(39)

Kelompok 1

Sistem gastrointestinal hepatomegaly

Sistem saraf

Tes system saraf pusat

Sistem kardiovaskuler : pembesaran jantung

Sistem kardiovaskuler : takikardia

SISTEM INTERNAL

P E M E R I K S A A N K L I N I S

(40)

Kelompok 2

Sistem kardiovaskuler : tekanan darah

(41)
(42)

Kekurangan energi protein adalah keadaan kurang gizi yang disebabkan oleh rendahnya konsumsi energy dan protein dalam makanan sehari-hari sehingga

tidak memenuhi Angka Kecukupan Gizi (AKG) (Depkes, 1999). Malnutrisi energi protein adalah seseorang yang kekurangan gizi yang disebabkan oleh konsumsi

energi protein dalam makanan sehari-hari atau gangguan penyakit tertentu.

(Suparno, 2000).

(43)

Faktor penyebab yang dapat

menimbulkan KEP (Nazirudin 1998) yaitu:

a. Sosial ekonomi yang rendah.

b. Sukar atau mahalnya makanan yang baik.

c. Kurangnya pengertian orang tua mengenai gizi.

d. Kurangnya faktor infeksi pada anak (misal: diare).

e. Kepercayaan dan kebiasaan yang salah terhadap makanan (missal: tidak makan daging atau telur disaat luka).

Kekurangan energi protein akan memberikan gambaran klinis berupa:

➢ Pertumbuhan terganggu meliputi berat badan dan tinggi badan.

➢ Perubahan mental berupa cengeng dan apatis.

➢ Adanya oedem/edema ringan atau berat karena penurunan protein plasma.

➢ Jaringan lemak dibawah kulit menghilang, kulit keriput dan tonus otot menurun.

➢ Kulit bersisik

➢ Anemia

➢ Crazy pavemen permatosisis (bercak-bercak putih dan merah muda dengan tepi hitam).

➢ Pembesaran hati

(44)

Orang yang mengidap gejala klinis KEP ringan dan sedang pada pemeriksaan

hanya nampak kurus. Namun demikian,gejala klinis KEP berat secara garis besar dapat dibedakan menjadi tiga yaitu kwashiorkor, marasmus, marasmus-

kwashiorkor.

1. Marasmus

• Anak tampak sangat kurus, tampak seperti tulang terbungkus kulit (Observasi)

• Wajah seperti orang tua (observasi)

• Cengeng, rewel (Allo-anamnesis)

• Kulit keriput, jaringan lemak subkutan sangat sedikit, bahkan sampai tidak ada (palpasi)

• Sering disertai diare krnis atau

kontipasi/susah buang air, serta penyakit kronis. (Anamnesis,biokimia)

• Tekanan darah,detak jantung,dan pernapasan berkurang(Auskultasi)

(45)

2. Kwashiorkor

• Edema,umumnya terdapat diseluruh tubuh dan terutama pada kaki (dorsum pedis) (perkusi,palpasi)

• Wajah membulat dan sembab (Observasi,palpasi)

• Otot-otot mengecil,lebih nyata apabila diperiksa pda posisi berdiri daripada duduk,anak berbaring terus- menerus. (Palpasi)

• Perubahan status mental cengeng,rewel,kadang apatis (allo anamnesis)

• Anak sering menolak segala jenis makanan (anoreksia) (anamnesis)

• Pembesaran hati (perkusi,biokimia)

• Sering disertai infeksi,anemia,dan diare(biokimia)

• Rambut warnak merah kusam dan mudah dicabut (observasi)

• Gangguan kuli berupa bercak merah yang meluas dan berubah menjadi hitam terkelupas (observasi,palpasi)

• Pandangan mata anak nampak sayu(observasi)

(46)

3. Marasmus-khwasiorkor

Tanda-tanda marasmus-khwasiorkor adalah gabungan dari tanda-tanda yang ada pada marasmus dan khwasiorkor(Depkes RI,1999).

(47)

Metode Penentuan

Untuk mendeteksi KEP,perlu dilakukan pemeriksaan (inspeksi) terhadap target organ yang meliputi:

1. Kulit seluruh tubuh terutama wajah,tangan,dan kaki

2. Otot-otot

3. Rambut

4. Mata

5. Hati

6. Gerakan motorik

Interpretasi

Apabila dalam pemeriksaan fisik pada target organ anak banyak mengalami perubahan sesai dengan tanda-tanda klinis KEP,ada petunjuk bahwa anak tersebut kemungkinan besar menderita KEP. Meskipun

demikian,perlu dicermati bahwa peniaian KEP masih memerlukan pengamatan lebih lanjut apakah termasuk marasmus ,kwasiorkor, atau marasmic-kwasiorkor sesuai dengan tanda-tanda yang lebih spesifik.

(48)

Penilaian status gizi

Anamnesis

Pemeriksaan jasmani

Antropometri

Pemeriksaan laboratorium

(49)

ANEMIA

Anemia merupakan suatu keadaan dimana terjadi penurunan jumlah sel darah merah

Menurut WHO, anemia didefinisikan sebagai Hb (hemoglobin) kurang 13 g/dl untuk laki-laki dan kurang 12 g/dl untuk wanita

Definisi anemia sangat tergantung pada usia dan jenis kelamin

Definisi yang paling sering dipakai adalah definisi anemia menurut WHO dan CDC (Centers for Disease Control and Prevention)

(50)
(51)

PENYEBAB ANEMIA

Gangguan Eritrosit

Pendarahan Hemolisis

(52)

Klasifikasi Anemia

1. Anemia Normositik Normokrom (sel normal) : <20-100 FL.

2. Anemia Makrositik Hiperkrom (sel lebih besar) : >100 FL

3. Anemia Mikrositik Hipokrom (sel lebih kecil): <80 FL

(53)

Tanda Klinis Anemia

Lelah, Lesu, Lemah, Letih, Lunglai (5L): tanda klinis ini biasanya dapat dilihat dengan cara observasi/pengamatan,bagaimana

kondisi pasien tersebut tidak aktif seperti biasanya

Bibir Tampak Pucat:tanda klinis ini juga dapat dilihat dengan cara pengamatan/observasi

Napas Pendek:tanda klinis dilihat dengan cara auskultasi,pasien diperiksa dengan stetoskop dibagian dada dan tarikan nafas

pasien akan di dengar oleh ahli gizi/dokter

Lidah Licin:tanda klinis ini dapat di periksa melalui 2 metode yaitu pengamatan/observasi atau palpasi

Denyut Jantung Meningkat:tanda klinis ini menggunakan metode auskultasi

(54)

TANDA FISIK ANEMIA

Bagian dalam kelopak mata berwarna pucat

Kelelahan

Mual

Sakit kepala

Ujung jari pucat

Denyut jantuk tak beraturan

Pucat

Rambut rontok

Penurunan kekebalan tubuh

(55)

Makanan

Mengonsumsi makanan yang banyak mengandung zat besi dari bahan hewani, nabati dan sayuran berwarna hijau tua

Banyak mengonsumsi makanan sumber vitamin C

Minum satu tablet penambah darah setiap hari

(56)

GAKI

(57)

Gangguan Akibat Kekurangan Iodium(GAKI)

Secara klinis dapat di definisikan kumpulan gejala yang timbul karena tubuh kekurangan unsur Iodium secara

terus menerus dalam jangka waktu yang cukup lama.

(58)

Penyebab GAKI

Zat Gaitrogenik

Asupan iodium rendah

Lokasi Geografis

Genetik

(59)

GONDOK

Defisiensi yodium akan meguras cadangan yodium serta mengurangi produksi T4.

Penurunan kadar T4 dalam darah memicu sekresi TSH yang kemudian meningkatkan kegiatan kelenjar tiroid sehingga kelenjar tiroid membengkak.

(60)

Ciri-Ciri Gondok

Selera makan menurun dan mulai berkurang

Mulut mulai terasa tegang dan sulit menguyah

Ketika malam hari suhu tubuh menurun

Terkadang sering mengalami dengungan di telinga

(61)

Dalam Menentukan pembesaran kelenjar gondok metode yang di gunakan adalah

Inspeksi (Pengamatan)

Palpasi (Perabaan)

Ekskresi Yodium Urine (EYU)

(62)

Urutan Pemeriksaan Kelenjar Gondok

1.Orang (sample) yang di periksa berdiri tegak atau duduk menghadap pemeriksa

2.Pemeriksa melakukan pengamatan di daerah leher

3.Amati apakah ada pembesaran gondok

4.Jika bukan sampel di minta menengadah dan menelan ludah. Hal ini bertujuan untuk apakah yang di temukan adalah kelenjar gondok atau bukan. Pada

gerakan menelan kelenjar gondok anakat ikut terangkat

5.Pemeriksa berdiri di belakang sampel dan lakukan palpasi. Pemeriksa

meletakkan kedua jari telunjuk dan kedia jari tengah pada masing-masing lobus kelenjar gondok. Lalu lakukan palpasi dengan meraba

6.Tentukan (mengdiagnosis) apakah sampel menderita gondok atau tidak. Apa bila salah satu atau keduanyaa lobus kelenjar lebih kecil ruas terakhir ibu jari orang yg d periksa (sample). Ketika terjadi sebaliknya maka orang tersebut menderita gondok

(63)

Tingkat Gejala

Tingkat 0 Tidak ada pembesaran kelenjar tiroid

Tingkat Ia Pembesaran kelenjar tiroid tidak terlihat walaupun leher mendongak penuh dan hanya terasa hanya melalui palpasi (lebih besar dari ruas terakhir ibu jari penderita

Tingkat Ib Pembesaran dapat teraba lebih besar daripada grade IA dan terlihat hanya Ketika leher mendongak penuh (Ketika leher normal tidak terlihat)

Tingkat II Pembesaran terlihat dengan posisi leher normal dan Ketika palpasi lebih besar daripada grade Ib

Tingkat III Pembesaran cukup besar dan dapat terlihat pada jarak 6 meter atau lebih

(64)

Prevalensi penderita groiter/gondok

Prevalensi Total Groiter Rate (TGR) = (Grade (Ia+Ib+II+III)

banyaknya yang diperiksa X 100%

Prevalensi Visible Goiter Rate (VGR) = (Grade (Ib+II+III)

banyaknya yang diperiksa X 100%

(65)

Keterbatasan Mental

Biasanya terjadi pada Anak-anak pada masa pertumbuhan

Kekurangan yodium pada ibu hamil akan menyebabkan kretin pada bayi yang akan dilahirkannya

Selain itu juga akan disertai dengan kerusakan susunan syaraf pusat dan hipotirodisme

Secara klinis kerusakan susunan syaraf pusat akan berupa retardasi, gangguan pendengaran sampai bisu tuli

Pada ibu hamil dengan GAKY berat akan melahirkan anak cebol dengan intelektualitas yang rendah

(66)

Terjadinya retardasi mental dipengaruhi oleh berbagai faktor:

1. Kelainan anatomis pada otak

2. Kekurangan oksigen selama di dalam kandungan atau saat proses persalinan yang lama dan susah

3. Penggunaan obat anti kejang dan alkohol selama kehamilan

4. Kekurangan yodium selama di dalam kandungan dan di awal kehidupan sehingga terjadi kekurangan hormon tiroid.

(67)

Pencegahan GAKY

o Jangka Panjang: suplementasi tidak langsung melalui fortifikasi garam konsumsi dengan iodium dimana program ini disebut

garam iodium.

o Jangka pendek: suplementasi langsung dengan Asupan makanan beriodium

(68)

pa ge

68

Kekurangan Vitamin D

Rachitis

Tandanya :

Nyeri pada tulang

Perubahan bentuk tulang

Keterlambatan pertumbuhan dan perkembangan

Osteoporosis

Tandanya :

Tulang rapuh

Tinggi berkurang

Postur yang jelek

Nyeri pada otot dan sendi

(69)

pa ge

69

Kekurangan Vitamin E

Dapat meyebabkan :

Pada ibu hamil dapat

menyebabkan keguguran.

Ataksia

Kerusakan syaraf Keguguran

• Bila janin kekurangan vitamin E dari asupan makanan ibu, kondisi ini bisa menyebabkan dirinya lahir cacat akibat nutrisi penting yang dibutuhkan tidak terpenuhi.

• Vitamin E ini penting untuk membantu organ tubuh menjalankan fungsinya dengan tepat.

Ataksia

Gejala : kegagalan dalam mengendalikan otot

Kerusakan syaraf dan otot Gejala :

Tidak bisa merasakan lengan dan kaki,

kehilangan kontrol gerak tubuh, dan sistem kekebalan tubuh yang melemah

(70)

pa ge

70

Kekurangan Vitamin K

Neonatus sangat rentan terhadap kekurangan vitamin K karena transferin asupan yang rendah

menyebabkan pendarahan tak terduga pada minggu pertama kehidupan.

Pemeriksaan Fisik :

❖ Dapat timbul sebagai ekimosis

Yaitu pendarahan dibawah kulit yang ukurannya >1cm yang ditandai dengan kulit tubuh tampak lebam/bercak ungu kehitam hitaman.

❖ Cephal hematoma

Adalah pembengkakan pada daerah kepala bayi yang disebabkan karena adanya penumpukan darah dibawah kulit kepala

bayi.

❖ Pendarahan pada hidung, pusat, usus, atau intrakranial.

(71)

pa ge

71

Vitamin B1

Didapatkan tanda awal seperti apatis, gelisah, muntah, diare. Gejala lain termasuk kegagalan jantung kongestif, takikardia, dispnea, dan sianosis.

Vitamin B2

Gejala klinis defisiensi ini dimulai 3-5 bulan setelah diet yang tidak memadai. Tahap awal ditemukan stomatitis yang bermanifestasi sebagai papul kecil di sudut mulut.

Dermatitis akibat defisiensi riboflavin melibatkan lipatan nasolabial, lubang hidung, dahi, pipi, dan aurikular posteroir.

Vitamin B3

Pada kulit didapatkan dermatitis yang eritemaous, berkembang menjadi vesikel dan bula, yang bila pecah meninggalkan erosi. Pada tangan dan kaki dapat timbul plak hiperpigmentasi.

Vitamin B6

Kekurangan vitamin B6 dapat mengakibatkan dermatitis seboroik. Tanda neurologis seperti mengantuk, neuropati perifer, parestesi, kelemahan dan kebingungan. Gejala lain seperti mual, muntah, depresi, anoreksia, dan anemia.

Kekurangan

Vitamin B

(72)

pa ge

72

Kekurangan Vitamin B

a. Vitamin B9

• Pada kulit ditemukan dermatitis seboroik, hiperpigmentasi pada lipatan palmar

• Pada mukokutan terdapat glositis dengan atrofi papila filifrom, angular cheilitis, mukosa ulserasi, serta ulserasi perirectal.

b. Vitamin B12

• Manifestasi mukokutaneous

• Glositis/peradangan pada lidah ditandai dengan lidah atrofi, merah dan nyeri dengan atrofi papila filiform, disebut sebagai glositis

hunter.

(73)

pa ge

73

Kekurangan Vitamin C

Scurvy

Tandanya :

Gusi bengkak dan berdarah, bahkan terkadang gigi tanggal

Bintik merah atau biru pada kulit

Luka susah sembuh

Nyeri sendi atau nyeri kaki

Sesak nafas

(74)

Kekurangan Vitamin A (KVA) adalah suatu kondisi dimana simpanan Vit A dalam tubuh berkurang

Hal ini dapat menyebabkan rabun senja, xeroftalmia termasuk terjadinya kelainan anatomi bola mata dan gangguan fungsi sel retina yang dapat menyebabkan kebutaan.

(75)

PENYEBAB KVA PADA ANAK

Asupan makanan kurang mengandung Vitamin A, misalkan sayur hijau gelap/kuning, buah dan kuning telur.

Anak sering menderita diare & demam

Anak tidak mendapat ASI eksklusif dan tidak diberi ASI sampai 2 tahun.

Anak tidak mendapat kapsul vit a secara teratur di posyandu pada bulan februari dan agustus

(76)
(77)

Gejala klinis KVA

Gejala klinis KVA pada mata akan timbul bila tubuh mengalami KVA yang telah berlangsung lama.

Gejala xeroftalmia terbagi dua, yaitu :

1) Keadaan yang reversibel, yaitu yang dapat sembuh - Rabun senja (hemerolopia)

- Xerosis conjunctiva - Xerosis kornea

- Bercak bitot

2) Keadaan yang irreversibel, yaitu yang agak sulit sembuh - Ulserasi kornea

- Keratomalasia

(78)

Pemeriksaan Klinis pada KVA

Pemeriksaan klinis yang dilakukan adalah menggunakan metode anamnesis/kegiatan wawancara

Metode pemeriksaan yang kedua adalah dengan pemeriksaan

observasi/pengalamatan, bagaimana keadaan mata pada kondisi tersebut berdasarkan tanda dan gejala yang terlihat dari

masing-masing penyakit.

(79)
(80)
(81)

Klasifikasi Kekurangan Vitamin A

Kode Gejala Klinis

XN Rabun senja

X1A Konjungtiva mengering (conjungtiva xerosis), yaitu terdapatnya satu atau lebih bintik konjungtiva kering dan tidak bisa dibasahi.

Munculnya segelundungan pasir pada air pasang yang Kembali surut X1B Bercak Bitot (Bitot’s Spot) dan konjungtiva xerosis adalah suatu

kelainan berwarna abu – abu kekuningan yang bentuknya seperti busa sabun yaitu keadaan bergelembung yang terdiri dari sel

konjungtiva yang mengeras dan bersisik melapisi Sebagian atau seluruh permukaan yang kering

X2 Cornea Xerosis (kornea mengering), keadaan defisiensi semakin parah, bitnik luka bertambah padat dan tersebar dan mungkin

meliputi seluruh kornea. Kornea kering berkabut jika di sinar dengan senter

(82)

Klasifikasi Kekurangan Vitamin A

Kode Gejala Klinis

X3A Ulserasi Kornea + kornea mengering. Ulkus kornea biasanya

ditandai dengan bintik atau area putih yang berada di bagian hitam mata. Ulkus kornea < 1/3 kornea

X3B Keratomalasia. Ulkus kornea > 1/3. kondisi defisiensi Vitamin A tingkat berat dimana seluruh kornea dan konjungtiva ,emjadi satu dan menebal sehingga kornea menjadi rusak. Terjadi pelunakan di limbus kornea dan. Biasanya terjadi dengan gabungan defisiensi vitamin A dan protein

XS Cornea Scars akibat sembuh dari luka

XF Xeropthalmia fundus. Terjadinya noda putih yang tersebar di fundus

(83)

BUTA SENJA (XN)

Buta senja terjadi akibat gangguan pada sel batang retina

Pada keadaan ringan, sel batang retina sulit beradaptasi di ruang yang remang-remang setelah lama berada di cahaya yang terang

Penglihatan menurun pada senja hari, dimana penderita tidak dapat melihat lingkungan yang kurang cahaya.

Pemeriksaan klinis dengan anamnesis dan observasi → Metode gelap-terang pada suatu ruangan, kemudian melakukan observasi/pengamatan.

(84)

XN

o “Night/evening blindness”

o Inability to see in dark/poorly lighted situations

o WHO classification:

XN

(85)

CONJUNGTIVA XEROSIS (X1A)

Selaput lendir mata tampak kurang mengkilat atau terlihat sedikit kering, berkeriput, dan berpigmentasi dengan permukaan kasar dan kusam.

mencerminkan kekeringan konjungtiva yang parah.

tanda kekurangan vitamin A (VAD) yang berlangsung lama.

Pada kasus lanjut, seluruh konjungtiva mungkin tampak kering, kasar, menebal dan bergelombang, dan terkadang seperti kulit.

Keluhan : mata anak tampak kering atau berubah warna kecoklatan

WHO classification:

X1A

(86)

Tanda-tanda:

a. Selaput lendir bola mata tampak kurang mengkilat atau terlihat sedikit kering, berkeriput, dan berpigmentasi dengan permukaan kasar dan kusam

b. Orang tua sering mengeluh mata anak tampak kering atau berubah warna kecoklatan

(87)

Dryness of conjunctiva

Wrinkle and hyperpigmentation

CONJUNGTIVA XEROSIS

(X1A)

(88)

BITOT’S SPOT (X1B)

Bercak putih seperti busa sabun atau keju terutama celah mata sisi luar.

Bercak ini merupakan penumpukan kreatin dan sel epitel yang merupakan tanda khas pada penderita xeroftalmia.

Dalam keadaan berat, tampak kekeringan meliputi seluruh permukaan

konjunctiva, konjunctiva tampak menebal, berlipat dan berkerut. Keluhan : mata anak tampak bersisik.

WHO classification: X1B

(89)

Tanda-tanda:

a. Tanda-tanda xerosis konjunctiva (X1A) ditambah bercak bitot yaitu bercak putih seperti busa sabun atau keju terutama di daerah celah mata sisi luar.

b. Bercak ini merupakan penumpukan keratin dan sel epitel yang merupakan tanda khas pada penderita xeroftalmia, sehingga dipakai sebagai kriteria penentuan prevalensi kurang vitamin A dalam masyarakat

Dalam Keadaan Berat:

a. Tampak kekeringan meliputi seluruh permukaan konjunctiva

b. Konjungtiva tampak menebal, berlipat-lipat dan berkerut

c. Orang tua mengeluh mata anaknya tampak bersisik

(90)

‘Foam-like’ substance

Hyperpigmentation & wrinkle (X-1)

BITOT’S SPOT

(X1B)

(91)

XEROSIS KORNEA (X2)

Kekeringan pada konjunctiva berlanjut sampai kornea → kornea tampak suram dan kering dengan permukaan tampak kasar.

Keluhan : keadaan umum anak biasanya (gizi buruk dan menderita penyakit infeksi dan sistemik lainnya.

WHO classification:

X2

(92)

Dryness of cornea

Wrinkle and hyperpigmentation

XEROSIS KORNEA

(X2)

(93)

ULSERASI KORNEA (X3A)

Ulserasi yaitu kehilangan frank epithelial dan ulserasi stroma dengan ketebalan sebagian atau seluruhnya.

Gejala ulkus kornea adalah bintik putih pada kornea. Bintik putih tersebut dapat mudah terlihat bila ukuran luka cukup besar.

WHO classification:

X3A

(94)

Corneal ulcer <

1/3

Conjunctival & ciliary injection

ULSERASI KORNEA

(X3A)

(95)

KERATOMALASIA (X3B)

Keratomalasia dan luka pada kornea yang dapat berakhir dengan

perforasi dan prolaps jaringan isi bola mata dan membentuk cacat tetap yang dapat menyebabkan kebutaan.

Keratomalacia adalah suatu kondisi mata di mana kornea, bagian depan mata yang bening, menjadi keruh dan melembut.

Penyakit mata ini sering bermula sebagai xerophthalmia, yaitu kekeringan parah pada kornea dan konjungtiva.

Keratomalacia biasanya menyerang kedua mata dan paling sering ditemukan di negara berkembang

WHO classification: X3B

(96)

Ulkus kornea >

1/3

Keratomalacea

KERATOMALASIA

(X3B)

(97)

CORNEA SCARS (XS)

Gejala sisa dari ulkus kornea dan keratomalacia termasuk pembentukan bekas luka kornea atau leukoma.Kornea tampak menjadi putih atau bola mata tampak mengecil.

Bila luka pada kornea telah sembuh akan meninggalkan bekas berupa sikatrik atau jaringan parut.

Penderita akan menjadi buta yang sudah tidak dapat disembuhkan walaupun dengan operasi cangkok kornea.

WHO classification: XS

(98)

XS

Corneal scar

(99)

Corneal Scarring

(100)
(101)

XEROFTALMIA FUNDUS (XF)

Fundus Xerophthalmic (fundus xerophthalmicus) adalah suatu kondisi yang ditandai dengan kekeruhan seperti titik, oval, atau linier berwarna putih halus, berwarna krem, atau keabu-abuan di retina.

Dengan Ophalmoscope pada fundus tampak gambar seperti cendol

Biasanya terjadi pada individu dengan rabun senja, xerosis konjungtiva dan / atau bintik Bitot.

Defisiensi beratVitamin A

WHO classification: XF

(102)

XEROFTALMIA FUNDUS

(XF)

(103)

TERIMA KASIH

(104)

Zat gizi rambut muka mata kulit Mulut

dan gigi kelenjar Otot dan tulang

Vitamin E -

Vitamin C - - - - -

Vitamin A - - - - -

protein -

(105)

Sign/Gejala Defisiensi/Kelebihan Defisiensi

maramus Defisiensi protein

Buta senja Defisiensi vitamin a

scurvy Defisiensi vitamin c

Peteki/pulpura Defisiensi vitamin C

Kelebihan

Molted enamel Kelebihan floride

(106)

Kelompok 1 Kelompok 2 Kelompok 3

Rambut Kusam

Kering

Rambut tipis

- alopecia

kulit Xerosis

Folicular hyperxerosis Peteki

dermatitis

Mosaic dermatitis -

gigi Bleeding gums Recession of gums Pyorrhoea

Referensi

Dokumen terkait

- ASEAN menjalankan peran sebagai Organisasi Regional memfasilitasi komunikasi antar pemerintah dengan ASEAN terkait MRA sebagai kebijakan yang kuat dibandingkan bilateral

Untuk setiap kata kunci dalam variabel array $wordmap akan di query pada tabel Keyword, jika kata kunci sudah ada maka record baru Keyid dan Contentid akan

Penelitian ini bertujuan untuk: 1)Tujuan penelitian ini menghasilkan LKS fisika berbasis Discovry untuk meningkatkan keterampilan proses sains siswa, 2) Mengembangkan

1- Eğer sana bir kez “hayır” dediyse ve sen üzerine ısrar etmeyip bunun yerine onunla “ona aşık olan bir dost olmak” yoluna gittiysen, ona “Ben de fark ettim ki ben

Berdasarkan hasil uji validitas dan reliabilitas tersebut menunjukkan bahwa setiap item pada instrumen penilaian kinerja siswa pada praktikum struktur dan fungsi

Komponen yang di letakkan pada bagian kedua yaitu bagian kantor perawat, yang difungsikan sebagai pemberitahuan dari tombol push button yang di pasang di kamar pasien

 Pengawasan tenaga nuklir untuk melindungi para pekerja, pasien dan masyarakat serta lingkungan hidup dari bahaya radiasi yang dilakukan terhadap fasilitas kesehatan

Hal ini mungkin disebabkan contoh dalam penelitian memiliki status gizi berdasarkan IMT/U dan daya tahan paru-jantung yang cenderung homogen serta jumlah contoh yang