PENGRAJIN MANIK-MANIK KACA UNTUK PROSES PENGOLAHAN BAHAN SETENGAH JADI MENJADI MANIK-MANIK

Teks penuh

(1)

DESAIN WORKSTATION PENGRAJIN MANIK-MANIK KACA UNTUK PROSES PENGOLAHAN BAHAN SETENGAH JADI MENJADI MANIK-MANIK

(Kasus : Pengrajin Manik-Manik Kaca Jombang) Lia Puji Lestari

Pembimbing : Drs. Taufik Hidayat, MT

Jurusan Desain Produk Industri, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Jl. Arif Rahman Hakim, Surabaya 60111 E-mail : lia_chew29@yahoo.co.id

Abstrak - Manik-manik kaca merupakan salah satu komoditas bisnis yang cukup menjanjikan di indus-tri kreatif Indonesia. Dalam setahun para pengrajin manik-manik kaca yang terpusat di Jombang bisa menghasilkan omset sampai ratusan juta rupiah.

Proses pembuatan manik-manik kaca terbagi dalam dua proses besar, yaitu proses mengolah bahan baku (kaca) menjadi bahan setengah jadi (batangan kaca) sebagai proses pertama, dan mengolah batangan kaca menjadi manik-manik sebagai proses kedua. Proses kedua merupakan proses yang paling sering dilakukan dan dikerjakan setiap hari oleh pengrajin.

Desain workstation tentunya mempengaruhi ting-kat kenyamanan pengrajin dalam bekerja. Meskipun demikian pada workstation pengrajin manik-manik kaca faktor kenyamanan atau ergonomi kurang diperhatikan. Workstation dibuat sederhana tanpa memperhatikan faktor kelelahan dan risiko kecelakaan akibat syarat ergonomi dan safety tidak dipenuhi. Selain itu kon-figurasi yang kurang baik juga menjadi faktor tersendiri dalam lambannya pengrajin dalam bekerja.

Permasalahan pada eksisting workstation inilah yang diselesaikan dengan cara re-design, sehingga muncullah desain workstation dengan konsep nyaman, safety, dan sesuai dengan budaya Indonesia. Konsep nyaman berarti workstation ini nyaman digunakan oleh pengrajin dan mampu menekan faktor kelelahan yang terjadi. Konsep safety berarti workstation ini aman dari risiko kecelakaan kerja saat digunakan. Sedangkan konsep sesuai dengan budaya Indonesia berarti workstation ini didesain tanpa meninggalkan kultur yang sudah melekat di lingkungan pengrajin dalam bekerja. Kata kunci :

Desain workstation, pengrajin manik-manik kaca I. PENDAHULUAN

Latar Belakang

Kota Jombang merupakan salah satu kota di Jawa Timur yang menjadi pusat pengrajin manik-manik kaca. Para pengrajin manik-manik kaca ini terkumpul dalam satu kawasan (Desa Plumbon Gambang, Kec. Gudo) dan melakukan aktifitas memproduksi manik-manik kaca sejak puluhan tahun silam.

Manik-manik kaca produksi Jombang sangat digemari, baik oleh konsumen dalam negeri maupun konsumen luar negeri. Dalam sebulan omset yang dicapai pengrajin

manik-manik kaca bisa mencapai puluhan hingga ratusan juta rupiah.

Meskipun demikian, pengrajin manik-manik kaca di Jombang masih bekerja dengan workstation yang sederhana tanpa memenuhi syarat ergonomi, safety, dan jauh dari kesan menarik (estetis). Ini tentu saja mempengaruhi kinerja pengrajin itu sendiri. Karena setiap hari harus bekerja dengan kondisi workstation yang tidak layak, maka performa pengrajin menjadi menurun. Hal ini tentunya berpengaruh pada produksi manik-manik kaca sendiri. Pengrajin seharusnya bekerja dengan kondisi yang nyaman, sehingga konsentrasi pengrajin bisa terjaga sehingga mampu memproduksi manik-manik yang berkualitas. Namun kenyataannya adalah pengrajin harus bekerja dengan workstation yang tidak nyaman, di mana pengrajin harus bekerja dalam kondisi duduk yang terlalu rendah dan mudah menyebabkan lelah pada persendian. Tak hanya itu gangguan kenyamanan akibat panas yang ditimbulkan saat bekerja menjadi masalah tersendiri. Resiko kecelakaan kerja yang ditimbulkan juga tinggi karena konfigurasi workstation tidak membuat pengrajin bekerja dalam kondisi yang aman, terlebih lagi karena letak tabung LPG pada eksisting workstation sangat mengganggu gerak pengrajin dan menyebabkan rawan terjadi kecelakaan.

Karena alasan inilah maka didesain sebuah workstation pengrajin manik-manik kaca yang ergonomi, safety, menarik, dan sesuai dengan budaya Indonesia atau pengrajin manik-manik Jombang itu sendiri.

Masalah

Hal yang menjadi permasalahan utama dari perancangan ini adalah :

a. Workstation yang digunakan tidak nyaman (ergonomi) di mana tinggi tungku peleburan dan kursi yang digunakan pengrajin terlalu rendah (tinggi tungku + 45 cm dan tinggi kursi berkisar + 20 cm) sehingga membuat duduk pengrajin terlalu rendah dan membuat kaki pengrajin terlipat dalam waktu lama saat bekerja. Selain itu workstation juga tidak memiliki arm rest yang menyangga lengan pengrajin saat bekerja. Sehingga biasanya lengan pengrajin disangga di atas lutut sehingga membuat lutut menjadi tertekan. Tak hanya itu, arah torch pada eksisting workstation yang ke atas menyebabkan panas mengenai wajah dan badan pengrajin.

b. Workstation yang digunakan tidak safety, di mana workstation tidak memiliki konfigurasi yang dapat membuat pengrajin bisa menempatkan alat dan bahan saat bekerja dengan aman dan tidak menyebabkan

(2)

kecelakaan, bisa dilihat dari peletakan tabung LPG yang tidak aman (safety).

c. Workstation tidak memiliki integrasi (konfigurasi) yang baik, tidak terdapat tempat untuk menyimpan hand tool dan alat/bahan untuk bekerja yang dapat memudahkan pengrajin mengakses alat dan bahan saat akan digunakan.

d. Tampilan workstation yang tidak memiliki nilai estetis, di mana workstation dibuat ala kadarnya (sekedar bisa digunakan untuk melebur kaca dan membentuk manik-manik saja), padahal tampilan suatu workstation bisa mempengaruhi kondisi psikologis pengrajin saat bekerja.

Gambar 1. Kondisi workstation pengrajin manik-manik kaca yang tidak ergonomi dan safety.

Batasan Masalah

Permasalahan yang akan diselesaikan pada workstation tersebut dibatasi pada :

1. Target pemasaran yang dituju :

 Target pasar = pengrajin manik-manik kaca di Jombang.

 Target pengguna = pengrajin manik-manik kaca dan pengunjung yang ingin mencoba sendiri membuat manik-manik kaca di workshop pengrajin.

Gender = pria dewasa (pengrajin)

Workstation digunakan selama + 7 jam sehari, mulai dari pukul 08.00 sampai jam 16.00.  Workstation digunakan di dalam workshop. 2. Dimensi workstation yang akan dibuat disesuaikan

dengan:

a. Dimensi antropometri penggunanya, yakni pengrajin manik-manik Indonesia yang sebagian besar adalah pria.

b. Dimensi manik-manik yang akan diproduksi, yaitu berkisar antara  1 x 1 cm (minimal) sampai  3 x 6 cm.

3. Dimensi, bentuk, dan konfigurasi workstation bergantung pada analisa aktifitas selama bekerja. 4. Desain difokuskan pada :

 Studi ergonomi (meliputi studi antropometri dan studi ergonomi suhu).

 Studi keselamatan saat bekerja (safety).  Studi konfigurasi, meliputi peletakan setiap

komponen alat dan bahan yang digunakan saat bekerja yang dapat memudahkan pengrajin mengaksesnya selama bekerja.

 Studi estetika (bentuk workstation)

5. Penentuan sistem konfigurasi workstation meliputi :

 Meja untuk meletakkan torch, hand tool, bahan-bahan pelengkap pembuatan manik-manik, dan bahan batang kaca.

 Dudukan mandrel yang akan dipakai.

 Tempat sekam untuk mendinginkan manik-manik yang masih panas.

 Tempat penyimpanan tabung LPG.  Kursi untuk duduk pengrajin.

 Bentuk dan peletakan tungku peleburan bahan kaca (torch).

6. Material yang digunakan berupa material yang tidak mudah terbakar (panas) namun mudah dibersihkan dari debu dan abu yang menempel. 7. Output dari penelitian ini adalah model workstation

pengrajin manik-manik kaca dengan skala 1:1. Tujuan

Tujuan dari riset/penelitian ini adalah mendesain workstation baru bagi pengrajin manik-manik kaca yang nyaman (ergonomis), aman (safety), dan memiliki tampilan yang menarik. Sehingga selain mampu membuat pekerjaan pengrajin menjadi lebih aman dan nyaman, workstation juga didesain agar mampu menjaga keadaan psikologis pengrajin manik-manik.

Workstation yang didesain tentunya tidak meninggalkan teknologi madya yang dapat diterapkan pada proses pembuatan manik-manik kaca. Sehingga pengrajin dapat membuat manik-manik dengan teknologi yang memadai namun dapat dijangkau sesuai de-ngan kondisi ekonomi pengrajin. Dengan demikian, pengrajin tidak akan tertinggal dengan pengrajin lain di luar negeri. Workstation yang didesain tentunya juga harus mampu merangsang pengrajin untuk berkreati-fitas menciptakan inovasi manik yang baru sehingga mampu bersaing dengan manik-manik dari luar negeri.

II. METODE PENELITIAN

Dalam proses penelitian dan desain, diberlakukan metode sebagai berikut :

a. Penentuan latar belakang, yaitu masalah yang menjadi fenomena yang bisa diselesaikan melalui pendekatan desain.

b. Pencarian data pendukung dan studi pustaka. Studi pustaka dapat diperoleh dari literatur berupa buku yang relevan, riset terdahulu, studi eksisting, maupun lewat artikel di internet.

c. Penyelesaian masalah melalui analisa-analisa. Beberapa analisa dilakukan untuk menemukan desain workstation untuk menyelesaikan masalah yang ada, mulai dari analisa ergonomi hingga analisa warna.

d. Penentuan konsep. Setelah analisa dilakukan maka dapat ditarik kesimpulan berupa konsep desain yang akan diterapkan.

e. Brain storming ide untuk mendapatkan bentuk dan desain workstation.

f. Design development untuk menyempurnakan desain. g. Final design.

(3)

Gambar 2. Diagram metode penelitian III. PEMBAHASAN

Analisa Ergonomi a. Analisa Antropometri

Workstation pengrajin manik-manik kaca ini digunakan oleh pengrajin pria. Ukuran tubuh pria yang digunakan adalah 50 percentile pria dewasa. Untuk mengatasi masalah ergonomi pada eksisting workstation tersebut diperlukan analisa me-ngenai antropometri pengguna workstation, sehingga didapat ukuran workstation yang tepat. Pembahasan antropometri yang dida-pat dari acuan ukuran tubuh manusia dewa-sa pria 50 %tile adalah sebagai berikut :

Gambar 3. Ukuran workstation yang didapat dari studi antropometri b. Analisa ergonomi suhu

Analisa ini bertujuan untuk mengetahui berapa OC suhu yang ditimbulkan dan diterima pengrajin saat bekerja. Dengan mengetahui ukuran suhu saat bekerja, dapat diketahui daerah mana yang panasnya melebihi panas yang diijinkan untuk bekerja. Dengan demikian pada area-area yang panas dapat didesain ulang letak dan model torch atau tungku agar panasnya tidak mengenai pengrajin. Berikut didapat tiga macam alternatif torch beserta analisa-nya.

Gambar 2. Alternatif peletakan torch (pelebur kaca) Tabel 1. Perbandingan tiap alternatif.

(4)

Konfigurasi Workstation

Gambar 3. Konfigurasi workstation Analisa Peletakan LPG yang Safety

Masalah safety pada workstation terletak pada peletakan LPG. Pada kondisi eksisting tidak ada tempat untuk menyimpan LPG, sehingga pengrajin meletakkan LPG sembarangan dan rawan tersandung kaki orang yang lewat. Untuk mengatasi masalah tersebut, dibuat analisa sebagai berikut :

Gambar 4. Alternatif peletakan LPG Tabel 2. Analisa alternatif peletakan LPG yang safety.

Tolok ukur Alternatif 1 Alternatif 2 Alternatif 3

Kemudahan jangkauan Keamanan Kenyamanan Kepraktisan 5 2 4 3 2 3 2 2 5 4 4 4 Total 14 9 17

Keterangan : 1 = buruk sekali, 4 = buruk, 3 = sedang, 4 = baik, 5 = baik sekali

Kesimpulan : Alternatif terpilih adalah alternatif 3. Analisa Material

a. Material top table

Tabel 3. Analisa material top table

Keterangan : 1 = buruk sekali, 4 = buruk, 3 = sedang, 4 = baik, 5 = baik sekali

Kesimpulan : Material top table menggunakan kalsi board. b. Material struktur

Tabel 4. Analisa material struktur

Keterangan : 1 = buruk sekali, 4 = buruk, 3 = sedang, 4 = baik, 5 = baik sekali

Kesimpulan : Material struktur workstation menggunakan besi.

Analisa Sosial Budaya Pengrajin Manik-Manik Kaca Jombang

Sebagai bagian dari masyarakat Indonesia tentunya budaya sederhana yang melekat pada diri sebagian besar masyarakat Indonesia juga melekat pada diri pengrajin manik-manik Jombang. Kesederhanaan masyarakat ini terlihat dari perabot yang digunakan merupakan perabot yang hemat materi dan tidak terlalu banyak menghabiskan uang.

Sebagai pengrajin manik-manik kaca Jombang, penghasilan pengrajin tidak selalu mencapai hasil yang besar. Ada kalanya pengrajin harus hidup sederhana (ala kadarnya). Kesederhanaan ini membuat diri pengrajin menjadi semakin cermat dalam menggunakan suatu produk. Produk yang bagus namun harganya mahal tentu tidak akan dibeli dengan pertimbangan ekonomi.

Woktstation pengrajin manik-manik kaca merepresentasikan budaya ini ke dalam workstation yang sudah ada. Workstation dibuat rendah dan duduk di bawah. Ini sesusai dengan kondisi sosial budaya pengrajin sejak pertama kali mengenal manik-manik.

Kondisi seperti ini tetap dilakukan oleh pengrajin setiap hari. Bahkan di saat ada kunjungan formal dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pun para pengrajin tetap melakukan demo membuat manik-manik dengan workstation yang ada dan pengrajin tetap duduk di bawah.

Selain itu kondisi seperti inilah yang mampu menjadi ciri khas dari pengrajin ma-nik-manik kaca Jombang.

(5)

Kondisi membuat manik-manik kaca dengan cara duduk rendah (di bawah) akan membedakan pengrajin ma-nik-manik kaca di negara maju lain dan tentunya akan menjadikan pengrajin manik-manik kaca Jombang ini unik dan memiliki ciri khas.

Kesimpulan :

Dari analisa di atas dapat diambil kesimpulan bahwa desain workstation manik-manik kaca yang sesuai dengan kondisi sosial budaya masyarakat penggunanya adalah desain worksation yang memposisikan duduk pengrajin tetap berada di bawah (menyerupai kondisi eksisting). Analisa sistem peng-adjust ketinggian workstation

Setiap pengrajin manik-manik kaca memiliki dimensi tubuh yang berbeda-beda. Meskipun pada analisa antropometri diguna-kan antropometri pria dewasa Indonesia rata-rata (50%tile), tidak menutup kemungkinan ada pengrajin dengan ukuran tubuh lebih kecil (5%tile) atau lebih besar dari rata-rata (95%tile). Meskipun jumlahnya tidak banyak, tapi pengrajin dengan ukuran tubuh yang termasuk dalam golongan 5%tile atau 95%tile tetap harus diperhatikan agar dapat mengguna-kan workstation dengan nyaman. Untuk mengatasi masalah ini diberi peng-adjust ketinggian workstation.

Gambar 5. Mekanisme peng-adjust ketinggian tempat duduk workstation Analisa Warna

a. Warna rangka workstation

Gambar 6. Skema pemilihan warna untuk rangka workstation

Kesimpulan : Warna hitam dipilih sebagai warna rangka workstation, karena warnanya dapat menyamarkan sambu-ngan las yang terlihat dan tidak mudah kotor.

b. Warna top table dan kursi

Top table merupakan tempat untuk be-kerja mengolah bahan setengah jadi menjadi manik-manik. Kegiatan membu-at manik-manik merupakan kegiatan yang memerlukan semangat dan konsentrasi tinggi. Agar semangat dan konsentrasi pengrajin tidak luntur saat bekerja, penentuan warna sangat berpengaruh. Berikut analisanya :

Gambar 7. Analisa penentuan warna top table dan kursi workstation

Kesimpulan : Warna merah menjadi warna untuk top table dan kursi workstation.

IV. HASIL Konsep Desain

1. Nyaman

Desain workstation untuk pengrajin manik-manik kaca untuk proses pengolahan bahan setengah jadi (batangan kaca) menjadi manik-manik ini memiliki konsep nyaman, karena dimensi, bentuk, dan konfigurasi workstation telah memposisikan workstation menjadi nyaman untuk digunakan. Dimensi workstation, di mana tinggi duduk pengrajin tidak terlalu rendah, tidak menyebabkan kaki pengrajin terlalu terlipat, sehingga pengrajin bisa duduk dan bekerja dengan nyaman dengan resiko lelah karena kaki terlipat yang minimal. Pada workstation ini juga dilengkapi dengan arm rest untuk me-nyangga lengan sehingga tidak lelah dan penghalang panas untuk mengurangi panas yang diterima pengrajin. Pada workstation ini juga terdapat area bekerja dengan hand tool yang cukup memadai, sehingga pengrajin bisa bekerja dengan nyaman. Konfigurasi pada workstation juga sesuai dengan urutan aktifitas pengrajin dan lebih tersistematis sehingga pengrajin lebih mudah mengakses alat dan material yang akan digunakan selama bekerja.

2. Safety

Workstation ini berkonsep safety karena konfigurasinya telah menempatkan setiap komponen pada posisi yang aman digunakan untuk bekerja. Jika sebelum-nya pada eksisting workstation tidak terdapat rak untuk meletakkan LPG sehingga LPG diletakkan di tanah dan membuat selang regulator membuat kaki orang yang lewat rawan tersandung, pada workstation ini sudah terdapat rak untuk meletakkan LPG sehingga tidak menye-babkan LPG diletakkan sembarangan dan bisa mengganggu gerak orang di sekitar pengrajin (menyebabkan kecelakaan/ tersandung selang regulator).

(6)

3. Sesuai dengan kondisi budaya pengrajin manik-manik kaca Indonesia

Desain workstation pengrajin manik-manik kaca ini dikondisikan untuk mencerminkan budaya pengrajin manik-manik kaca Jombang, sehingga tidak merubah kebiasaan pengrajin yang sudah menjadi tradisi dan budaya selama bertahun-tahun. Workstation tetap me-ngondisikan pengrajin bisa bekerja membuat manik-manik dengan posisi duduk seperti yang biasa mereka lakukan tanpa mengubah kebiasaan yang sudah ada. Final Design

Gambar 8. Final design

Gambar 9. Operasional workstation

V. KESIMPULAN

Desain suatu workstation mengikuti aktifitas penggunanya. Karena itulah setiap jenis pekerjaan memiliki model workstation yang berbeda pula. Desain workstation selain harus nyaman, safety, dan menarik juga harus

disesuaikan dengan budaya penggunanya. Suatu desain yang bagus tidak akan berfungsi dengan baik atau bahkan tidak akan digunakan jika tidak sesuai dengan kondisi budaya peng-guna.

Dengan desain yang disesuaikan dengan kondisi budaya pengguna tentunya bisa menjadi suat ikon baru bagi komunitas peng-gunanya. Contohnya model workstation peng-rajin manik-manik kaca Jombang tentunya berbeda bentuk dengan pengrajin manik-manik kaca di Eropa meskipun memiliki output barang yang sama. Ini bisa menjadi ciri khas dan daya tarik tersendiri bagi pengrajin, terlebih Desa Plumbon Gambang telah ditetapkan sebagai kwasan wisata home industry yang mampu menarik banyak wisata-wan.

UCAPAN TERIMA KASIH

Ucapan terima kasih penulis tujukan kepada : 1. Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa yang telah

membimbing penulis sehingga mampu menyelesaikan tugas akhir dan jurnal sampai selesai.

2. Pembimbing Drs. Taufik Hidayat, MT, yang telah

membantu dan membimbing penulis dalam

menyelesaikan proyek Tugas Akhirnya.

3. Kedua orang tua, Ayah dan Ibu, yang telah membantu secara motivasional dan membantu dengan doa yang tidak putus.

4. Para pengrajin manik-manik kaca di desa Plumbon Gambang, Kec. Gudo, Jombang, atas kerja samanya yang baik.

5. Teman-teman dan pihak lain yang telah membantu terselesaikannya proyek Tugas Akhir hingga tuntas. DAFTAR PUSTAKA

Adhan, Muhammad Dhofir. 2009. Desain Stan Foodcourt Outdoor. Surabaya : Tugas Akhir Desain Produk Industri Anizar. 2009. Teknik Kesehatan dan Keselamatan Kerja di Industri. Jakarta : Graha Ilmu.

Nurmianto, Eko. 2008. Ergonomi Konsep Dasar dan Aplikasinya. Edisi ke-2. Surabaya : Guna Widya.

Panero, Julius dan Martin Zelnik. 2003. Dimensi Manusia dan Ruang Interior. Edisi ke-1. Jakarta : Erlangga.

Ridley, John. 2006. Kesehatan dan Keselamatan Kerja. Jakarta : Erlangga.

Ronat, Danny & Hava. 2008. Making Handmade Lampwork Beads and Glass Jewelry. Minneapolis : Creative Publishing International Inc.

Tamim, Moh. Husni. 2008. Desain Unit Kendaraan Pos Keliling. Surabaya : Tugas Akhir Desain Produk Industri Warhaftig, Jery L. 2008. Glass Beads Workshop. Edisi ke-1. New York : Lary Books.

Figur

Gambar  1.  Kondisi  workstation  pengrajin  manik-manik  kaca  yang  tidak  ergonomi dan safety

Gambar 1.

Kondisi workstation pengrajin manik-manik kaca yang tidak ergonomi dan safety p.2
Gambar 2. Diagram metode penelitian  III.  PEMBAHASAN

Gambar 2.

Diagram metode penelitian III. PEMBAHASAN p.3
Gambar 3. Konfigurasi workstation  Analisa Peletakan LPG yang Safety

Gambar 3.

Konfigurasi workstation Analisa Peletakan LPG yang Safety p.4
Gambar 4. Alternatif peletakan LPG  Tabel 2. Analisa alternatif peletakan LPG yang safety

Gambar 4.

Alternatif peletakan LPG Tabel 2. Analisa alternatif peletakan LPG yang safety p.4
Gambar 6. Skema pemilihan warna untuk rangka workstation  Kesimpulan  :  Warna  hitam  dipilih  sebagai  warna  rangka  workstation,  karena  warnanya  dapat  menyamarkan  sambu-ngan  las  yang  terlihat  dan  tidak  mudah kotor

Gambar 6.

Skema pemilihan warna untuk rangka workstation Kesimpulan : Warna hitam dipilih sebagai warna rangka workstation, karena warnanya dapat menyamarkan sambu-ngan las yang terlihat dan tidak mudah kotor p.5
Gambar  7. Analisa penentuan warna top table dan kursi workstation  Kesimpulan  :  Warna  merah  menjadi  warna  untuk  top  table

Gambar 7.

Analisa penentuan warna top table dan kursi workstation Kesimpulan : Warna merah menjadi warna untuk top table p.5
Gambar 5. Mekanisme peng-adjust ketinggian tempat duduk workstation  Analisa Warna

Gambar 5.

Mekanisme peng-adjust ketinggian tempat duduk workstation Analisa Warna p.5
Gambar 8. Final design

Gambar 8.

Final design p.6

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :