• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tantangan Lembaga Pendidikan Kejuruan da

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Tantangan Lembaga Pendidikan Kejuruan da"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

TANTANGAN LEMBAGA PENDIDIKAN KEJURUAN DALAM PENGEMBANGAN INDUSTRI KREATIF

Oleh: Hadi Wasito

Abstrak: Berlakunya pakta perdagangan ACFTA 2010 membawa dampak melemahnya daya saing produk kerajinan dalam negeri. Produk kerajinan dalam negeri kalah bersaing dengan produk impor dalam harga dan kualitas. Untuk meningkatkan daya saing produk diperlukan upaya perbaikan kinerja melalui peningkatan keahlian dan kualitas produk. UKM yang memiliki kelemahan kinerja dan keunggulan dalam penyediaan lapangan pekerjaan memerlukan pembinaan yang terarah dan tepat sasaran. Lembaga pendidikan kejuruan dapat

menfasilitasi program pembinaan melalui peran pendidikan, pelatihan, advokasi, dan pendampingan kemitraan, serta pengadaan fasilitas kerjasamayang saling menguntungkan.

Kata kunci: industri kreatif, kualitas produk, karakteristik ukm, pembinaan.

Membanjirnya produk kerajinan impor berlabel “made in China” dalam berbagai bentuk dan ukuran telah mendorong tumbuhnya pelaku usaha baru dalam bidang “pernak-pernik”. Hampir pada setiap lorong pasar kelontong, supermarket, serta mall dapat diketemukan mini counter (bedak-bedak kecil) yang menjajakan asesori wanita dan souvenir cantik. Gemerlapnya aneka produk kerajinan dari

negeri “tirai bambu” tidak saja menarik minat para pemodal untuk berinvestasi dalam bidang perdagangan pada sektor kerajinan, tetapi telah pula menarik minat para konsumen untuk berpindah dari konsumsi produk kerajinan lokal (dalam negeri) ke konsumsi produk kerajinan impor (luar negeri) asal Cina.

(2)

Tekanan-tekanan terhadap produk kerajinan lokal mulai dirasakan oleh para pelaku usaha dalam bidang kerajinan, baik oleh para pedagang maupun oleh produsen.

Masuknya produk dagang China yang memunculkan kekawatiran terhadap terdesaknya produk dalam negeri karena kalah bersaing dalam harga (Triyadi, 2010); ancaman terhadap penurunan omzet penjualan karena beralihnya

konsumen(surya online, 2010; Muttaqin, 2010); dan terhadap pemutusan hubungan kerja yang diakibatkan melemahnya pasar dan pengurangan produksi (Setiyaning, 2010), telah menjadi kenyataan. Sekalipun disadari bahwa ACFTA kurang

menguntungkan bagi pertumbuhan ekonomi dalam negeri saat ini, khususnya bagi pertumbuhan usaha kecil dan menengah (UKM), namun dalam hal ini pemerintah tidak dapat menunda pelaksanaannya (Muttaqin, 2010).

UKM yang telah dipercayai mampu untuk menyediakan lapangan pekerjaan (The World Bank, 2005; Reuvid, 2007), dan mampu bertahan terhadap guncangan krisis ekonomi (Wijana, 2005; Yohana, 2009) yang seringkali menerpa negara-negara berkembang, menghadapi tantangan baru dan tekanan-tekanan persaingan dagang dengan China yang bebas melakukan investasi di Indonesia dibawah

perlindungan ACFTA (ACFTA Investment Agreement: p 6).

(3)

PERMASALAHAN

Dampak nyata dari rendahnya daya saing produk kerajinan dalam negeri adalah turunnya permintaan pasar. UKM yang dikenal memiliki ketahanan terhadap gelombang krisis moneter karena tiga hal, yaitu; pemberdayaan produk lokal; menggunakan Sumber Daya Manusia (SDM) lokal, dan ; pemasaran dalam negeri (Yohana, 2009), menjadi rapuh karena salah satu penopangnya (pasar dalam negeri) mulai digeser dengan hadirnya produk impor yang dilindungi ACFTA.

Rapuhnya UKM bidang kerajinan, yang juga dikenal sebagai UKM industri kreatif, memberikan sumbangan baru terhadap permasalahan ketenaga-kerjaan yang sudah direpotkan dengan kurangnya lapangan pekerjaan dan pengangguran. UKM yang pada mulanya dikenal sebagai sektor usaha yang mampu memberikan sumbangan yang sangat berarti dalam penyediaan lapangan pekerjaan, mulai berbalik arah menjadi salah satu penyumbang pemutusan hubungan kerja karena pengurangan kapasitas produksi. Seperti diketahui bahwa usaha sektor kerajinan menyerap banyak tenaga kerja karena proses produksi yang diandalkan adalah proses produksi manual. Dengan penurunan kapasitas produksi UKM bidang kerajinan, maka dapat diperhitungkan bahwa jumlah pengurangan tenaga kerja akan sangat besar, dan tentunya pengurangan tenaga kerja ini akan menghasilkan pengangguran baru.

Penggangguran merupakan masalah serius yang dihadapi oleh pemerintah selama ini, permasalahan ini menjadi rumit karena meningkatnya angka

pertumbuhan ternyata tidak serta merta dapat mengurangi tingkat pengangguran (Ruslan & Anwari, 2006). Jumlah persentase pengangguran terhadap angkatan kerja dari tahun-ketahun selalu bertambah, dari 1,7% pada tahun 1980, dan berturut-turut menjadi 2,1% pada tahun 1985; 3,2% pada tahun 1990; dan 7,2% pada tahun 1995 (Ahmad, 2006). Jumlah angkatan kerja terbuka pada tahun 2005 mencapai puncak tertinggi dengan persentase jumlah pengangguran adalah 11,2% dari jumlah angkatan kerja (Anonim, 2006a). Pada tahun 2008 dan 2009 prosentase pengangguran sudah mengalami penurunan (BPS, 2009), yaitu dari 8,39% pada tahun

(4)

Beban pemerintah dimasa yang akan datang akan menjadi semakin berat bilamana pemerintah tidak dapat mencarikan terobosan yang tepat untuk mengatasi masalah pengangguran. Sementara itu ancaman terhadap bertambahnya jumlah pengangguran karena menyempitnya lapangan pekerjaan di sektor Usaha Kecil dan Menengah (UKM) mulai datang.

Sesuai dengan permasalahan pengangguran yang diakibatkan oleh menurunnya penyerapan tenaga kerja dan meningkatnya pemutusan hubungan kerja oleh sektor UKM industrif kreatif kerajinan, jalan keluar yang harus dilewati adalah melakukan terobosan untuk meningkatkan kapasitas UKM melalui program revitalisasi industri (Nugroho, 2010).

KARAKTERISTIK INDUSTRI KREATIF KERAJINAN.

Industri kerajinan pada umumnya adalah industri kecil dan lebih banyak bersifat rumahan (home industri) yang mengandalkan proses produksi dengan tenaga manual (tenaga kerja manusia). Keahlian dalam melakukan pekerjaan (workmanship) menjadi ciri utamanya. Keahlian kerja yang dimiliki oleh pelaku pada dasarnya diperoleh melalui proses yang panjang lewat cara magang dan

pengalaman kerja. Dengan demikian keahlian masing-masing orang berbeda antara yang satu dengan yang lain. Dengan perbedaan keahlian dalam berkarya ini,

perkembangan dalam lingkungan industri kerajinan bagi pelakunya juga berbeda-beda. Dalam kelompok industri kerajinan dikenal tiga klasifikasi, yaitu: buruh pengrajin; pengrajin, dan; pengrajin pengusaha (Karsidi, 1999).

Pendidikan para buruh pengrajin dan pengrajin pada umumnya rendah, yaitu antara tidak tamat sekolah dasar, tamat sekolah dasar dan, setinggi-tingginya adalah tamatan sekolah lanjutan pertama. Sedangkan tingkat pendidikan pengrajin pengusaha bervariasi antara berpendidikan sekolah dasar, sekolah menengah dan bahkan ada sebagaian yang berpendidikan sarjana. Pengrajin pengusaha yang berpendidikan rendah berkembang dari pengalaman dan wawasan yang

(5)

pengusaha karena pengetahuan dan dasar pendidikan yang diperolehnya memiliki relevansi dengan bidang usaha kerajinan yang dilakukannya.

Industri kecil kerajinan, dan pada umumnya kelompok industri kecil, memiliki posisi yang sangat strategis dalam penyerapan tenaga kerja, yaitu mencapai angka 88%, yang lebih penting bahwa ketahanan indutri kecil sangat dapat diandalkan bilaman dihadapkan pada siutasi krisis, hal ini dikarenakan industri kecil sangat fleksibel dan tidak tergantuk pada sektor perbankan (Sutrisno, 2008). Hal ini terbukti telah dialami oleh banyak pelaku industri, seperti yang terjadi pada krisis ekonomi 1988. Krisis ekonomi yang dihadapi oleh UKM kerajinan alat dapur kayu yang merupakan salah satu bentuk industri kreatif mulai tumbuh dan berkembang di sentra industri kerajinan kayu kota Batu sejak tahun 1987 (BKPMD, 2000), merupakan ujian yang berat akan tetapi tidak berlangsung lama keadaan pulih kembali (Arifin, 2010).

Karakeristik yang menonjol dari industri kecil adalah kelemahannya dalam bidang manjemen keuangan. Sekalipun masalah manajemen, terutama keuangan menjadi bagian yang sangat penting dalam pengendalian usaha, manajemen keuangan jarang sekali dilakukan dengan baik oleh pelaku usaha kecil. Kelemahan dalam manajemen keuangan ini menjadi terabaikan (dalam arti standar baku) dikarenakan pelaku usaha kecil sedikit sekali mempunyai waktu untuk mengerjakan administrasi keuangan, dimana sebagaian besar waktunya dihabiskan untuk

proses produksi, pengelolaan tenaga kerja, dan pemasaran (Mandiri, 2008).

TANTANGAN LEMBAGA PENDIDIKAN KEJURUAN

Lembaga pendidikan kejuruan sebagai lembaga pelaksana yang bertujuan untuk menghasilkan tenaga trampil terdidik dalam bidang kejuruan (pendidikan menengah) dan instruktur ahli (pendidikan tinggi), memiliki tanggungjawab moral untuk turut memikirkan, serta mencari solusi yang tepat untuk membantu mengatasi permasalahan industri yang berbasis pada bidang kejuruanyang relevan.

(6)

adanya kesenjangan antara kemampuan calon pekerja dan keahlian yang

dibutuhkan. Laporan menyebutkan bahwa pengangguran lebih banyak disebabkan oleh: (1) adanya ketidakcocokan antara apa yang diperoleh dari sekolah dengan apa yang diperlukan oleh tempat kerja (Hierbert & William, 2002); (2) tidak

dimilikinya keahlian yang cukup yang dibutuhkan oleh dunia kerja (The world Bank, 2005); serta (3) tidak terserapnya angkatan kerja yang lulus pada tahun yang bersangkutan (Andini, 2008).

Terkait dengan upaya solusi terhadap permasalahan yang dihadapi oleh industri kecil kerajinan, yaitu rendahnya daya saing produk lokal terhadap produk impor, lembaga pendidikan tinggi kejuruan (perguruan tinggi) dapat memberikan perannya sebagai pusat pengembangan keilmuan dan implementasinya untuk memecahkan masalah masyarakat. Pemecahan masalah masyarakat, khususnya permasalahan industri kerajinan dan industri kreatif pada umumnya dapat

diselesaikan dengan melibatkan lembaga pendidikan kejuruan dengan

memanfaatkan kepakaran tenaga akademiknya denga keahlian yang relevan.

Mengambil kasus pengembangan industri kerajinan kayu pada sentra industri kerajinan kayu Junrejo, kehadiran perguruan tinggi telah memberikan kontribusi yang terbukti dapat diandalkan. Upaya pembinaan terhadap kegiatan usaha kerajinan kayu pada sentra industri kerajinan kayu Junrejo telah banyak dilakukan oleh berbagai kalangan yang terkait, seperti; Dinas Perindustrian, Dinas Koperasi, BUMN, serta Perguruan Tinggi. Selama ini upaya pembinaan yang telah dilakukan oleh perguruan tinggi lebih banyak difokuskan pada peningkatan

kuantitas dan kualitas produksi industri kerajinan kayu dari sisi perbaikan peralatan produksi (Wasito, 1999).

(7)

kualitas produksi yang dilakukan oleh para perajin masih belum dapat memenuhi harapan.

Hasil observasi terhadap proses produksi dan jenis produksi yang

dihasilkan oleh perajin peralatan dapur pada sentra industri kerajinan kayu Junrejo, diketemukan beberapa hal yang secara teknis operasional, dan baku standar pengolahan kayu tidak sesuai dengan teori yang selama ini dipergunakan dan menjadi acuan dalam pengolahan produk kayu, seperti; penyimpangan orientasi bentuk benda kerja terhadap sifat fisik kayu. Dengan adanya penyipangan orientasi bentuk benda kerja terhadap sifat fisik kayu, khususnya penyusutan kayu maka benda kerja yang dihasilkan akan mengalami perubahan bentuk yang mengarah pada penurunan kualitas produk.

Kasus yang terjadi pada saat terbakarnya dapur pengering kayu pada salah satu usaha kerajinan kayu di Junrejo adalah dikarenakan oleh lemahnya

pemahaman proses pengeringan kayu oleh tenaga operator yang bersangkutan. Untuk menghindari terulangnya peristiwa kebakaran dapur pengering, disain dapur pengering direvisi sesuai dengan kebutuhan untuk peningkatan keamanan

operasional dapur pengering (Wasito, 2000).

Untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas produksi industri kerajinan kayu tidaklah cukup hanya dengan meningkatkan jumlah dan jenis peralatan kerja saja, melainkan juga diperlukan peningkatan kecakapan (skills) pekerjanya.

Peningkatan kecakapan dapat dikembangkan melalui kegiatan pelatihan yang spesifik sesuai kebutuhan (Ramelan, 2005:22), yang diberikan dengan tujuan untuk menghasilkan pekerja yang lebih produktif dari segi waktu maupun hasil kerja (Singo, 2003:411).

OPSI PENGEMBANGAN INDUSTRI KREATIF OLEH LEMBAGA PENDIDIKAN KEJURUAN.

Pengembangan industri kreatif untuk menghasilkan produk yang

(8)

meningkatkan para pekerjanya. Keahlian (craftsmanship), merupakan hasil dari pelatihan, ketrampilan, serta pengetahuan yang diwujudkan dalam kinerja yang berkualitas dan kesungguhan (Williamson, 2007).

Untuk dapat berkarya dan bersaing dalam kancah global, pelaku-pelaku industri kreatif perlu mendapatkan edukasi, advokasi, dan pendampingan. Sebagai pusat pengembangan ilmu, lembaga pendidikan kejuruan memiliki sumber

pengetahuan, hasil penelitian yang perlu untuk disosialisasikan kepada audien yang membutuhkan. Pendidikan tidak harus dilakukan melalui pendidikan formal dalam kelas regular, tetapi juga kelas emerjensi yang dibutuhkan masyarakat yang relevan kepentingannya.

Pendidikan ketrampilan kerajinan batik di SMA N1 Tempeh, yang penyelenggaraannya disponsori oleh Yayasan Dana Sejahtera Mandiri

bekerjasama dengan LPM Universitas Negeri Malang dan atas dukungan Komite Sekolah SMA N1 Tempeh, merupakan salah satu bentuk pendidikan untuk

masyarakat dalam pengembangan industri kreatif. Pendidikan ketrampilan batik ini dimaksudkan untuk menghasilkan kader calon tenaga kerja dengan basis edukasi. Hal yang sama juga dilakukan di SMA Islam Karangploso dengan pelatihan

pembuatan kerajinan bunga dari bahan kulit Jagung (Wasito, 2006). Dalam pengembangan ketrampilan berkarya dalam bidang kerajinan,Bryan, (2007)

merekomendasikan pentingnya dukungan untuk pengembangan karir pengrajin dan penciptaan lingkungan yang mendukungnya.

Melaksanakan peran edukasi dan advokasi , LPM Universitas Negeri Malang memberikan pendidikan berbasis keahlian kejuruan dalam bidang manajemen keuangan terhadap UKM industri kerajinan di wilayah Batu dengan bekerjasama dengan Bank Mandiri, sekaligus untuk akses pengembangan permodalan usaha melalui program mikro banking Bank Mandiri (Wasito, 2008).

(9)

yang dipersiapkan dilingkungan lembaga pendidikan atau di lingkungan industri dalam format teaching factory merupakan satu pemikiran yang butuh realisasi.

Betapa idealnya kalau di kota Malang yang menyebut diri sebagai kota vokasi memiliki beberapa teaching factory sesuai dengan industry yang ada. Betapa idealnya kalau Universitas Negeri Malang yang memiliki Jurusan

Pendidikan Kejuruan memiliki teaching factory tidak saja dalam bidang restoran (industri boga), tetapi juga teaching factory dalam industri elektronik, industri automotif , serta industri konstruksi.

KESIMPULAN

Pada akhir bahasan artikel ini dapat ditarik kesimpulan bahwa UKM dalam bidang industri kreatif, khususnya dalam bidang kerajinan, dan pada umumnya UKM (industri kecil), memiliki permasalahan kalah bersaing dengan produk impor, dalam harga dan dalam kulitas, yang pada akhirnya berujung pada penurunan kapasitas produksi serta pemutusan hubungan kerja. Sementara UKM merupakan sektor unggulan dalam penyerapan tenaga kerja dan produk andalan yang dapat dipersaingkan dalam kancah internasional.

Kelemahan dalam pengembangan industri kreatif kerajinan dapat

dilakukan dengan berbagai tindakan pembinaan, namun demikian tidaklah cukup hanya dengan pemberian bantuan teknis dan perbaikan peralatan kerja saja, melainkan diperlukan suatu upaya pendidikan yang relevan dengan kebutuhannya.

Lembaga pendidikan kejuruan dapat mengambil peran dalam

(10)

DAFTAR PUSTAKA

Ahmad,I. 2006. Perkembangan Tingkat Pengangguran di Indonesia. Dalam Ahmad,I & Saad,I (penyunting). Kajian Implementasi Kebijakan Trilogi Pembangunan di Indonesia. Jakarta: Stekpi.

Andini. 2008. Pendidikan Kejuruan one1thousand100education.wordpress.com/ - 180k diakses tanggal 29 Maret 2009.

Anonim .2006a. Agenda Meningkatkan Kesejahteraan Rakyat.

sanyasyari.com/wp-content/uploads/2006/10/bab4-sejahtera.pdf – diakses tanggal 28 Maret 2009

Ariifin. Z. 2010. Kerajinan Junrejo Bangkit Dari Krisis.Surabaya Post (online)

(www.surabayapost.co.id/?mnu=berita&act=view&id diakses tanggal 26 Februari 2010)

BKPMD . 2000. Profil Proyek Investasi Industri Pengolahan Kayu Kebutuhan Rumah Tangga dan Aksesori di Kabupaten Daerah Tingkat II Malang. Malang: Lembaga Studi dan Pengembangan Kewirausahaan

BPS. 2009.Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Indonesia Agustus 2009 Menurun Dibandingkan TPT Februari 2009. (online) (http://www.bps.go.id/?news=733 diakses tanggal 12/02/2010).

Bryan, A. 2007. Craft Development – A scoping Study. www.

Hi-arts.co.uk/Hi-Arts%20Craft%20Development%20Scoping%20Study%202007%20. Diakses tanggal 10 February 2011.

Hiebert, B & William B, W.2002. Technical and Vocational Education and Training in the 21st Century: New Roles and Challenges for Guidance and Counselling. UNESCO (online) (http://unesdoc.unesco.org/images/0013/001310/131005e.pdf diakses tanggal 17 Februari 2010).

Karsidi,R. 1999. Mobilitas Sosial Petani Di Sentra Industri Kecil Kasus Di Surakarta (online)(www.uns.ac.id/data/0016.pdf - Mirip Diakses tanggal 2 April 2010.

Mandiri. 2008. Mentalitas Dasar Pembukuan Sederhana. Jakarta. PKBL Mandiri.

Muttaqin, H. 2010. Pengrajin pun Tergilas ACFTA .

http://jurnal-ekonomi.org/2010/04/07/pengrajin-pun-tergilas-acfta/., diakses tanggal 7 Mei 2010

Nugroho, A. 2010. Indonesia Siap Hadapi ACFTA.

http://www.antaranews.com/berita/1264175063/indonesia-siap-hadapi-acfta, diakses tanggal 7 Mei 2010.

(11)

Reuvid.J.2004. Startt Up & Run Your Own Business. 3rd Ed. London: Kogan Page Limited

Ruslan, M & Anwari. 2006. Pemberdayaan Masyarakat- Mengantar Manusia Mandiri, Demokratis dan Berbudaya. Jakarta: Khanata.

Septiyaning, I. 2010. Dampak ACFTA, 40.000 buruh di Jabar terancam kena PHK. http://www.solopos.com/2010/channel/nasional/dampak-acfta-40000-buruh-di-jabar-terancam-kena-phk-11220., diakses tanggal 7 Mei 2010.

Singo. T. 2003. Achieving Excellent Through Customer Service. Tschohl, J & Franzmeier, S, terjemahan. Jakarta: P.T. Gramedia Pustaka Utama.

Surya Online, 2010. Dampak ACFTA, Omzet Industri Mebel dan Batik Menurun. http://www.surya.co.id/2010/04/02/dampak-acfta-omzet-industri-mebel-dan-batik-menurun.html., diakses tanggal 7 Mei 2010.

The World Bank. 2005. Mendukung Usaha Kecil & Menengah. (online)

(siteresources.worldbank.org/INTINDONESIA/.../SME.pdf. diakses tanggal 4 Maret 2010).

Triyadi, B. 2010. ACFTA Kado Pahit di Awal Tahun.

http://berita.liputan6.com/mendalam/201001/258439/ACFTA.Kado.Pahit.di .Awal.Tahun. diakses tanggal 7 Mei 2010.

Wasito, H. dkk.1999. Peningkatan Kualitas dan Kuantitas Produksi Industri Kerajinan Kayu Melalui Penerapan Teknik Pengolahan Bahan Sistem Masinal – Laporan Tahunan (Tahun Ke I) Program Penerapan Ipteks Untuk Pengembangan UKM dalam Memacu Ekspor Nasional Non Migas. Malang: Lembaga Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Negeri Malang.

Wasito, H. dkk. 2000. Peningkatan Kualitas dan Kuantitas Produksi Industri Kerajinan Kayu Melalui Penerapan Teknik Pengolahan Bahan Sistem Masinal – Laporan Tahunan (Tahun Ke II) Program Penerapan Ipteks Untuk Pengembangan UKM dalam Memacu Ekspor Nasional Non Migas. Malang: Lembaga Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Negeri Malang.

Wasito, H. dkk. 2006. Pelatihan kewirausahaan siswa SMA – Menuju Manusia Indonesia yg Mandiri, Demokratis dan Berbudaya ”. Malang: Lembaga Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Negeri Malang.

Wasito, H. dkk. 2008. Pelatihan Manajemen Keuangan bagi UKM sekitar Kampus. Malang: Lembaga Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Negeri Malang.

Williamson, R.M. 2007. A World without Craftsmen(online)

(12)

Wijana, S. 2005. TTG Dalam Pengambangan UKM-Kerajinan Di Jawa Timur.

Referensi

Dokumen terkait

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi bagaimana pengaruh lembaga keuangan mikro terhadap prestasi industri kecil rumah tangga, Metode analisis yang dipakai adalah

Berdasarkan uraian data dan analisis penelitian tentang model Mind Mapping dengan media bagan pohon dapat meningkatkan hasil belajar siswa terhadap materi Lembaga

Dengan sinergi antara regulasi yang progresif, kepastian hukum bagi pelaku usaha, serta kesadaran akan keberlanjutan lingkungan, Borneo EcoHub dapat menjadi pendorong utama dalam