LOMBA KARYA TULIS ILMIAH NASIONAL NAWASENA VOL.2 Tingkat S1 & Vokasi Sederajat Se-Indonesia
“TRANSFORMASI DIGITAL UMKM DI KOTA BANJARMASIN MELALUI BORNEO ECOHUB: MENINGKATKAN KEMANDIRIAN EKONOMI YANG BERDAYA SAING GLOBAL DALAM KERANGKA
HUKUM NASIONAL”
“Pembangunan”
Disusun Oleh : Hening Putri Maharani
Yusrida Eka Safitri Halyza Azhara
(2310211320056) (2310211320038) (2410211220036)
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT KOTA BANJARMASIN
2025
1.
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat dan hidayah-Nya yang telah melimpahkan berkat sehingga kami dapat menyelesaikan karya ilmiah ini dengan judul "Transformasi Digital UMKM di Kota Banjarmasin Melalui Borneo EcoHub: Meningkatkan Kemandirian Ekonomi yang Berdaya Saing Global dalam Kerangka Hukum Nasional." Karya ini merupakan hasil pemikiran dan kajian mendalam tentang solusi berbasis kearifan lokal Kalimantan Selatan dalam mendukung Sustainable Development Goals (SDGs) dengan kepastian hukum yang mendukung ekonomi berkelanjutan.
Kami juga ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Bapak Muhammad Yusman, S.H., M.H. yang telah memberikan bimbingan dan dukungan dalam proses penulisan karya ini. Tidak lupa kami juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan kontribusi baik secara langsung maupun tidak langsung dalam penyelesaian karya ilmiah ini.
Dalam penulisan ini, kami menggambarkan upaya transformatif untuk mengintegrasikan kearifan lokal Kalimantan Selatan ke dalam platform ekonomi berkelanjutan yang memanfaatkan teknologi digital, dengan tetap menjunjung tinggi aspek hukum sebagai landasan yang kokoh. Borneo EcoHub hadir sebagai solusi komprehensif yang memadukan fitur EcoMarketplace, EcoSourcing Connect, Digital Banua Academy, EcoTourism Connect, dan Legal Support Hub untuk memperkuat posisi UMKM lokal sambil menjaga kelestarian lingkungan dan budaya Kalimantan Selatan.
Semoga karya ilmiah ini dapat memberikan pemahaman yang lebih mendalam tentang penguatan ekonomi lokal dengan basis hukum yang jelas, serta menjadi kontribusi positif bagi pengembangan ekonomi berkelanjutan dan pencapaian SDGs di Kalimantan Selatan khususnya dan Indonesia umumnya.
Banjarmasin. 24 Maret 2025
Penulis
DAFTAR ISI DAFTAR TABEL DAFTAR GAMBAR
Transformasi Digital UMKM di Kota Banjarmasin Melalui Borneo EcoHub: Meningkatkan Kemandirian Ekonomi
yang Berdaya Saing Global dalam Kerangka Hukum Nasional
Oleh:
Hening Putri Maharani, Fakhriyani, Muhammad Ikbal
ABSTRAK
Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Kota Banjarmasin memiliki peran strategis dalam perekonomian lokal, terutama dalam menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD). Namun, UMKM masih menghadapi berbagai tantangan, seperti keterbatasan akses pasar, rendahnya literasi digital, serta dampak lingkungan akibat produksi yang kurang berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implementasi Borneo EcoHub sebagai platform digital yang dapat membantu transformasi UMKM menuju ekonomi yang lebih inklusif dan berkelanjutan.
Metode penelitian yang digunakan meliputi studi literatur, observasi langsung, dan wawancara mendalam dengan pelaku UMKM serta pemangku kepentingan terkait, seperti Dinas Koperasi dan Dinas Perdagangan Kota Banjarmasin. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Borneo EcoHub dapat menjadi solusi untuk meningkatkan daya saing UMKM melalui integrasi teknologi digital, pemasaran berbasis e-commerce, serta penerapan prinsip ekonomi hijau. Melalui fitur seperti EcoMarketplace dan Digital Banua Academy, UMKM memperoleh akses ke pasar yang lebih luas, bimbingan hukum terkait Hak Kekayaan Intelektual (HKI), serta pendampingan dalam menerapkan produksi yang lebih ramah lingkungan.
Kesimpulan penelitian ini menekankan bahwa transformasi digital dan keberlanjutan merupakan faktor utama dalam memperkuat daya saing UMKM. Oleh karena itu, kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dan sektor swasta sangat diperlukan untuk mengoptimalkan Borneo EcoHub sebagai model inovatif dalam mendukung UMKM yang berdaya saing global dan berbasis kearifan lokal.
Kata Kunci: Transformasi Digital, Keberlanjutan, Borneo EcoHub,
Pemasaran global
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
Gambar 1. Perkembangan Jumlah UMKM di Kota Banjarmasin Tahun 2019-2022
(Sumber: Olahan Penulis)
Kota Banjarmasin dikenal sebagai pusat perdagangan dan jasa di Kalimantan Selatan dengan sektor UMKM yang menjadi tulang punggung perekonomian. Berdasarkan data dari Dinas Koperasi, Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Kota Banjarmasin, jumlah UMKM di kota ini mengalami pertumbuhan yang signifikan dari tahun ke tahun. UMKM menjadi sektor ekonomi yang sangat penting karena tidak hanya menciptakan peluang usaha bagi masyarakat lokal, tetapi juga berperan dalam meningkatkan daya saing ekonomi daerah. Berdasarkan grafik di atas menunjukkan peningkatan jumlah unit usaha yang beroperasi di Banjarmasin dalam beberapa tahun terakhir. Pada tahun 2019, jumlah UMKM tercatat sebanyak 36.329 unit usaha, meningkat menjadi 40.594 unit usaha pada tahun 2020. Namun, pada tahun 2021 dan 2022, jumlah UMKM sedikit menurun dan stabil di angka 37.214 unit usaha (Pemprov Kalsel, 2025).
Peningkatan jumlah UMKM ini berdampak langsung terhadap penyerapan tenaga kerja di Kota Banjarmasin. UMKM merupakan sektor yang paling banyak menyerap tenaga kerja dibandingkan sektor industri besar. Data dari Dinas Koperasi dan UMKM mencatat bahwa rata-rata setiap unit usaha kecil dan mikro di Banjarmasin mampu menyerap dua hingga lima tenaga kerja, sementara usaha
menengah dapat menyerap hingga belasan tenaga kerja tergantung pada skala produksi (Utami, 2021). Dengan jumlah UMKM yang mencapai puluhan ribu, maka total tenaga kerja yang terserap di sektor ini menjadi signifikan dalam mengurangi tingkat pengangguran di kota tersebut. UMKM berperan signifikan dalam meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kota Banjarmasin melalui berbagai pajak dan retribusi daerah. Pada tahun 2021, realisasi PAD Kota Banjarmasin mencapai Rp198.878.947.380 dari pajak daerah dan Rp33.470.957.447 dari retribusi daerah (Utami, 2021).
Dikenal luas dengan "Kota Seribu Sungai", Banjarmasin memiliki kondisi geografis yang khas, yang telah membentuk pola ekonomi masyarakatnya sejak berabad-abad lalu. Keberadaan sungai-sungai besar tidak hanya menjadi sarana transportasi utama bagi penduduk setempat, tetapi juga mendukung pertumbuhan sektor perdagangan dan jasa. Salah satu bukti nyata dari pengaruh geografis terhadap ekonomi masyarakat adalah aktivitas Pasar Terapung Lok Baintan dan Muara Kuin, yang telah lama menjadi pusat perdagangan tradisional di kota ini.
Pasar terapung tidak hanya berfungsi sebagai tempat jual beli hasil pertanian, perikanan, dan barang kebutuhan sehari-hari, tetapi juga menjadi daya tarik wisata utama yang memperkuat sektor ekonomi kreatif berbasis pariwisata. Keunikan budaya dagang di atas air ini mencerminkan bagaimana masyarakat Banjarmasin telah lama mengadaptasi kehidupan mereka dengan kondisi geografis yang didominasi oleh perairan.
Selain sektor perdagangan tradisional, industri kreatif berbasis kearifan lokal juga menunjukkan pertumbuhan yang signifikan. Berbagai produk khas Banjarmasin, seperti kerajinan anyaman purun, ukiran kayu, serta industri tekstil Sasirangan, telah menjadi bagian dari identitas ekonomi daerah. Kerajinan purun, yang berasal dari tanaman rawa, banyak dimanfaatkan untuk pembuatan tas, tikar, dan produk dekoratif lainnya yang memiliki nilai jual tinggi. Demikian pula, ukiran kayu khas Kalimantan yang mengandung motif-motif etnik Dayak semakin diminati sebagai produk seni dan suvenir khas daerah. Sementara itu, kain Sasirangan yang merupakan warisan budaya suku Banjar, terus mengalami inovasi dalam desain dan pemasaran, sehingga mampu bersaing di pasar yang lebih luas, termasuk nasional dan internasional.
Lebih lanjut, perkembangan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Kota Banjarmasin mengalami pertumbuhan pesat seiring dengan meningkatnya persaingan pasar dari tahun ke tahun. Dinamika kompetisi bisnis yang semakin ketat, baik di tingkat lokal maupun nasional, mendorong para pelaku UMKM untuk terus berinovasi dalam produk dan strategi pemasaran mereka. Di sisi lain, tingginya minat masyarakat dalam menjalankan bisnis mandiri juga menjadi faktor utama yang mendorong perkembangan sektor UMKM. Semangat kewirausahaan yang tumbuh di kalangan masyarakat Banjarmasin ini berdampak
positif terhadap perekonomian daerah, baik dari segi peningkatan pendapatan masyarakat maupun pemberdayaan ekonomi lokal secara lebih luas (Rio, 2019).
Dengan adanya dukungan pemerintah melalui berbagai program pelatihan, permodalan, dan digitalisasi usaha, UMKM di Banjarmasin diperkirakan akan terus berkembang dan memberikan kontribusi yang semakin besar bagi perekonomian daerah.
Seiring dengan pertumbuhan pesat sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Indonesia, termasuk di Kota Banjarmasin, dampak lingkungan akibat peningkatan aktivitas produksi juga menjadi perhatian yang semakin mendesak. Kontribusi UMKM terhadap perekonomian lokal memang sangat signifikan, baik dalam penciptaan lapangan kerja maupun peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD). Namun, di balik dampak positifnya, lonjakan produksi UMKM turut berdampak pada peningkatan volume limbah industri, yang dapat menjadi ancaman serius bagi kelestarian lingkungan apabila tidak dikelola dengan baik. Berbagai sektor UMKM, seperti industri makanan, kerajinan tangan, dan fashion, menghasilkan limbah yang bervariasi, mulai dari limbah organik hingga limbah non-organik yang mengandung bahan kimia.
Limbah industri makanan, misalnya, berpotensi mencemari tanah dan air jika tidak diolah dengan benar, sementara limbah dari sektor fashion dan kerajinan, seperti sisa kain dan pewarna tekstil, dapat menambah tingkat pencemaran lingkungan, terutama jika dibuang langsung ke perairan tanpa pengolahan yang memadai.
Salah satu sektor UMKM yang memiliki tantangan besar dalam pengelolaan limbah adalah industri kain Sasirangan, yang merupakan produk khas Banjarmasin. Pewarna kimia yang digunakan dalam proses produksi kain Sasirangan menjadi salah satu sumber pencemaran sungai di kota ini, terutama karena sebagian besar produsen masih menggunakan metode pembuangan limbah langsung ke perairan tanpa melalui proses pengolahan (Zainuddin, 2022). Data dari Dinas Lingkungan Hidup Kota Banjarmasin mencatat bahwa industri skala kecil, termasuk Sasirangan, menyumbang persentase yang signifikan terhadap total limbah cair kota, meskipun angka pastinya masih dalam tahap kajian lebih lanjut. Dampak dari pencemaran ini tidak hanya berisiko menurunkan kualitas air sungai yang menjadi sumber kehidupan masyarakat, tetapi juga dapat mengancam ekosistem perairan serta kesehatan penduduk yang bergantung pada sumber daya air tersebut.
Menanggapi situasi ini, Pemerintah Kota Banjarmasin bersama Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Banjarmasin saat ini tengah mengintensifkan pembahasan Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) terkait pengelolaan dan perlindungan lingkungan hidup. Salah satu isu utama yang menjadi fokus dalam regulasi ini adalah penanganan limbah cair dari industri
rumah tangga kain Sasirangan, yang telah lama menjadi permasalahan lingkungan di kota ini. Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Banjarmasin, Alive Yoesfah Love, mengungkapkan bahwa mayoritas pelaku industri kain Sasirangan di Banjarmasin masih beroperasi dalam skala mikro dan kecil, sehingga belum memiliki sarana pengolahan limbah yang memadai. Akibatnya, limbah pewarna tekstil langsung dibuang ke sungai tanpa melalui tahapan pengolahan, sehingga memperburuk kondisi lingkungan perairan kota. Fenomena pencemaran ini telah berlangsung selama bertahun-tahun, sehingga menarik perhatian serius dari DPRD Kota Banjarmasin yang kini sedang mengkaji regulasi yang lebih ketat dalam pengelolaan limbah industri skala kecil. Meski demikian, pemerintah daerah menyadari bahwa perlindungan lingkungan harus berjalan seiring dengan keberlanjutan ekonomi masyarakat.
Di era globalisasi dan ekonomi digital, UMKM dituntut untuk beradaptasi dengan teknologi agar tetap kompetitif di pasar global. Namun, banyak pelaku UMKM di Banjarmasin menghadapi hambatan seperti keterbatasan akses terhadap platform digital, rendahnya literasi teknologi, dan kesulitan memasarkan produk secara global. Selain itu, praktik produksi yang tidak ramah lingkungan dapat menjadi hambatan dalam menembus pasar internasional yang semakin peduli terhadap keberlanjutan.
Di tengah pesatnya perkembangan ekonomi digital dan globalisasi, Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di berbagai daerah, termasuk di Kota Banjarmasin, menghadapi tantangan besar untuk tetap relevan dan kompetitif.
Pemanfaatan teknologi digital kini menjadi faktor kunci dalam mendukung pertumbuhan UMKM, baik dalam meningkatkan efisiensi operasional, memperluas pasar, maupun memperkuat daya saing di tingkat nasional dan global.
Namun, adaptasi terhadap teknologi ini masih menghadapi berbagai kendala, terutama bagi UMKM yang belum memiliki akses memadai terhadap infrastruktur digital, literasi teknologi, serta strategi pemasaran berbasis digital. Selain itu, dalam menghadapi tantangan globalisasi, UMKM juga harus mulai mengadaptasi prinsip keberlanjutan yang sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi) dan SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur), guna memastikan pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berbasis teknologi.
Banyak pelaku UMKM di Banjarmasin menghadapi tantangan utama berupa keterbatasan akses terhadap platform digital serta rendahnya pemahaman dan literasi teknologi. Masih banyak juga pelaku usaha kecil masih mengandalkan metode pemasaran konvensional, seperti penjualan langsung dan promosi dari mulut ke mulut, yang memiliki keterbatasan dalam menjangkau konsumen di luar wilayah lokal. Kurangnya pemahaman mengenai pemanfaatan e-commerce, media sosial, serta pembayaran digital menjadi tantangan yang menghambat perluasan
pasar UMKM ke skala yang lebih luas. Selain itu, keterbatasan infrastruktur digital, seperti akses internet yang belum merata serta biaya investasi dalam teknologi yang relatif tinggi, juga menjadi faktor yang menyulitkan pelaku UMKM dalam mengadopsi transformasi digital secara optimal. SDG 9 menekankan pentingnya akses terhadap infrastruktur dan inovasi teknologi bagi sektor industri dan UMKM, sehingga pemerintah daerah dan pemangku kepentingan lainnya perlu lebih aktif.
Selain tantangan dalam aspek digitalisasi, persyaratan pasar global yang semakin ketat terhadap standar keberlanjutan juga menjadi hambatan bagi UMKM yang ingin menembus pasar internasional. Banyak negara dan perusahaan besar kini menerapkan kebijakan perdagangan yang mengutamakan prinsip keberlanjutan, termasuk penggunaan bahan ramah lingkungan, praktik produksi yang bertanggung jawab, serta transparansi dalam rantai pasok. Bagi UMKM di Banjarmasin yang masih menerapkan metode produksi tradisional dan belum mengadopsi standar keberlanjutan, hal ini menjadi tantangan tersendiri dalam meningkatkan daya saing di pasar global. Misalnya, industri Sasirangan yang merupakan salah satu sektor unggulan UMKM Banjarmasin masih menghadapi persoalan limbah pewarna tekstil yang belum sepenuhnya ramah lingkungan, sehingga dapat menjadi kendala dalam memenuhi standar ekspor ke negara- negara dengan regulasi ketat terkait keberlanjutan. SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab) menekankan pentingnya penggunaan sumber daya yang berkelanjutan dalam industri, sehingga UMKM perlu didorong untuk menerapkan teknologi ramah lingkungan serta sertifikasi keberlanjutan guna meningkatkan daya saing produk mereka. Dengan mendorong digitalisasi dan penerapan prinsip SDGs dalam sektor UMKM, Kota Banjarmasin dapat menciptakan ekosistem bisnis yang lebih tangguh, berdaya saing, dan berkelanjutan di era globalisasi. Integrasi antara ekonomi digital dan prinsip keberlanjutan akan memungkinkan UMKM tidak hanya berkembang secara lokal, tetapi juga memasuki pasar internasional dengan lebih percaya diri.
Dalam menghadapi tantangan globalisasi dan digitalisasi, Borneo EcoHub hadir sebagai solusi inovatif yang menghubungkan UMKM lokal dengan pasar global melalui aplikasi digital berbasis keberlanjutan. Borneo EcoHub bukan sekadar marketplace digital, tetapi juga sebuah ekosistem bisnis yang mendorong penerapan praktik usaha ramah lingkungan. Melalui pemanfaatan teknologi, aplikasi ini tidak hanya membantu UMKM memperluas jangkauan pasar mereka tetapi juga memastikan bahwa proses produksi yang digunakan tetap berkelanjutan, bertanggung jawab, dan selaras dengan prinsip-prinsip lingkungan.
Salah satu keunggulan utama Borneo EcoHub adalah kemampuannya dalam mendorong penggunaan bahan baku berkelanjutan serta pengelolaan limbah industri yang lebih baik. Banyak UMKM di Banjarmasin yang bergerak di
sektor kerajinan, tekstil, dan kuliner masih menghadapi kendala dalam memperoleh bahan baku ramah lingkungan serta mengelola limbah hasil produksi mereka. Melalui aplikasi ini, para pelaku UMKM dapat mengakses informasi dan pelatihan terkait praktik bisnis berkelanjutan, seperti penggunaan pewarna alami dalam industri Sasirangan, pemanfaatan limbah organik untuk produk kreatif, serta strategi daur ulang untuk mengurangi dampak pencemaran. Selain aspek keberlanjutan, Borneo EcoHub juga berperan sebagai katalisator transformasi ekonomi digital bagi UMKM. Dengan menyediakan fitur pemasaran berbasis teknologi, sistem pembayaran digital, serta dukungan ekspor bagi produk lokal, platform ini membantu UMKM meningkatkan daya saing mereka di pasar global.
Hal ini sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi), SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur), serta SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab), yang mendorong praktik ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.
Keunikan Borneo EcoHub juga terletak pada pendekatannya yang memadukan kearifan lokal dengan teknologi modern. Dengan mengangkat nilai budaya dan tradisi lokal sebagai daya tarik utama produk UMKM, aplikasi ini mampu memberikan nilai tambah bagi produk-produk khas Banjarmasin.
Pendekatan ini memungkinkan UMKM untuk bersaing di pasar internasional tanpa kehilangan identitas lokal mereka, sekaligus menjawab meningkatnya permintaan global terhadap produk yang memiliki nilai keberlanjutan dan aspek etis dalam produksinya. Dalam jangka panjang, kehadiran Borneo EcoHub diharapkan dapat menjadi model inovasi bisnis berkelanjutan yang dapat diadopsi oleh daerah lain di Indonesia. Dukungan pemerintah, akademisi, dan sektor swasta sangat dibutuhkan untuk mengoptimalkan dampak positif aplikasi ini, baik dalam hal peningkatan daya saing UMKM maupun dalam mewujudkan ekonomi yang lebih hijau dan berkelanjutan
1.2 Rumusan Masalah
Didasarkan pemaparan diatas, maka masalah yang diisukan peneliti ialah:
1.2.1 Bagaimana peran Borneo EcoHub dalam mentransformasi potensi di Kota Banjarmasin untuk meningkatkan kemandirian ekonomi yang berdaya saing global?
1.2.1 Bagaimana ketentuan hukum dalam mendukung pengembangan UMKM di Kota Banjarmasin melalui aplikasi Borneo EcoHub agar mampu bertransformasi digital dan berdaya saing di pasar global?
1.3 Tujuan Penelitian
Karya ini bertujuan untuk menganalisis peran Borneo EcoHub dalam meningkatkan ekonomi berkelanjutan yang memanfaatkan kekayaan alam dan budaya lokal Kota Banjarmasin untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekaligus melestarikan lingkungan. Adapun tujuan khususnya ialah:
1.3.1 Menganalisis peran Borneo EcoHub dalam memberdayakan UMKM Kota Banjarmasin guna meningkatkan daya saung global dengan mengintegrasikan kearifan lokal dan teknologi digital.
1.3.2 Mengkaji regulasi berkekuatan hukum yang mendukung transformasi digital UMKM melalui aplikasi Borneo EcoHub, khususnya dalam hal pemanfaatan platform digital dan pengelolaan limbah industri.
1.4 Manfaat Penelitian
Penelitian bermanfaat guna:
1.4.1 Manfaat bagi UMKM
Penelitian ditargetkan dapat memberikan wawasan mengenai penggunaan teknologi digital dalam memperluas akses ke pasar global serta pentingnya penerapan praktik bisnis yang ramah lingkungan sebagai nilai tambah dalam meningkatkan daya saing.
1.4.2 Manfaat bagi Pemerintah Daerah
Penelitian ditargetkan dapat memberikan rekomendasi kebijakan yang mendukung ekosistem ekonomi digital berkelanjutan dengan memperhatikan pengelolaan limbah industri UMKM. Hasil penelitian dapat menjadi dasar acuan bagi regulasi yang mendorong penggunaan platform digital seperti Borneo EcoHub guna memperkuat daya saing.
1.4.3 Manfaat bagi Akademisi
Penelitian ditargetkan berkontribusi dalam sumber referensi untuk penelitian selanjutnya di bidang transformasi digital, pemberdayaan ekonomi lokal, dan keberlanjutan lingkungan, khususnya terkait peran platform digital dalam meningkatkan daya saing UMKM berbasis kearifan lokal.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Landasan Teori
2.1.1 Konsep Kemandirian Ekonomi Berdaya Saing Global
Kemandirian ekonomi, terdiri dari dua kata yang setidaknya harus dipahami terlebih dahulu. Yakni kata kemandirian, dan kata ekonomi. . Kata “kemandirian” bisa dimaknai sebagai kemampuan seseorang dalam berpikir, merasakan, dan bertindak secara mandiri. Kemudian kata
“ekonomi”, Adam Smith mendefinisikan ekonomi sebagai studi yang berfokus pada penyebab terbentuknya kekayaan suatu negara serta sebagai ilmu yang mengkaji perilaku manusia dalam mengelola sumber daya demi mencapai tujuan tertentu (Tifani, 2023).
Menurut Barnadib, kemandirian adalah kondisi individu yang mampu menentukan dan memutuskan tujuan diri sendiri meliputi perilaku, penanganan problem permasalahan, mempunyai rasa percaya diri, dan mampu melakuan suatu hal secara mandiri tanpa perlu bantuan tangan orang lain (Syafaruddin, 2012). Abraham Maslow, sebagai seorang ilmuwan dalam bidang ekonomi, berpendapat bahwa ekonomi merupakan disiplin ilmu yang berkontribusi besar terhadap kehidupan manusia. Ilmu ini membantu menyelesaikan berbagai permasalahan kehidupan dengan memanfaatkan seluruh sumber daya ekonomi yang tersedia berdasarkan teori dan prinsip yang mendukung terciptanya sistem ekonomi yang efektif dan efisien (Tindangen et al., 2020).
Sehingga dapat kita tarik kesimpulan bahwa, kemandirian ekonomi dapat diartikan sebagai kemampuan suatu entitas, baik individu, kelompok, maupun negara, untuk mengelola sumber daya secara mandiri guna memenuhi kebutuhan dan mencapai tujuan ekonomi tanpa bergantung pada bantuan eksternal. Konsep ini mencakup kemampuan untuk mengambil keputusan, mengelola sumber daya, dan menyelesaikan masalah ekonomi secara independen. Kemandirian ekonomi tidak hanya sekadar mampu memenuhi kebutuhan dasar, tetapi juga menciptakan sistem yang berkelanjutan dan efisien berdasarkan prinsip-prinsip ekonomi yang efektif.
Dengan demikian, kemandirian ekonomi menekankan pada penguatan kapasitas internal untuk menghadapi tantangan ekonomi secara mandiri dan berdaya saing. Kemandirian ekonomi tidak hanya berkaitan dengan aspek finansial, tetapi juga melibatkan aspek mental dan perilaku,
seperti rasa percaya diri, kreativitas, dan inovasi dalam menghadapi tantangan ekonomi. Dengan demikian, kemandirian ekonomi menjadi fondasi penting bagi pembangunan yang berkelanjutan dan kesejahteraan masyarakat.
Menurut Benny Susetyo dalam karyanya, seseorang dianggap telah mencapai kemandirian ekonomi jika memenuhi aspek-aspek berikut (Susetyo, 2006):
1) Bebas hutang konsumtif
Hutang dapat dikategorikan menjadi dua jenis berdasarkan fungsi dan kegunaannya. Pertama, ada hutang produktif, yaitu hutang yang digunakan untuk kegiatan yang bersifat produktif atau dapat meningkatkan penghasilan. Misalnya, seseorang yang berhutang untuk memulai bisnis atau berinvestasi dalam properti seperti tanah. Kedua, ada hutang konsumtif, yaitu hutang yang digunakan untuk keperluan yang tidak produktif atau tidak menghasilkan tambahan penghasilan. Contohnya, berhutang untuk membeli ponsel atau mobil demi mengikuti gaya hidup yang tidak esensial.
2) Memiliki keyakinan dalam bisnis
Orang-orang yang yang memiliki kepercayaan kuat dalam bisnis tidak akan mudah goyah atau memiliki perasaan untuk berubah haluan saat menghadapi masa-masa sulit. Sebaliknya, ia akan berusaha menemukan akar masalah dan mengatasinya, seperti pepatah "menimbun jurang untuk membangun bukit." DIa akan tetap konsisten memantau dan mempelajari hal-hal baru terkait bisnisnya, sehingga dapat menghindari keputusan yang kurang tepat, seperti membeli barang yang kurang diminati.
3) Memiliki investasi
Investasi dilakukan dengan tujuan memperoleh keuntungan di masa mendatang melalui peningkatan nilai aset yang diinvestasikan. Contoh investasi meliputi emas, properti, hotel, dan berbagai jenis aset lainnya. Seseorang yang memilih untuk berinvestasi dianggap memiliki visi yang jauh ke depan, karena meskipun mengalami kegagalan, kegagalan tersebut tetap dianggap memiliki dampak positif, seperti membuat investor lebih waspada dan terampil dalam menganalisis untuk investasi berikutnya. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa tidak ada kerugian mutlak dalam dunia investasi.
4) Mampu mengelola arus kas uang (cash flow)
Cash Flow, atau yang dikenal sebagai arus kas, merujuk pada pergerakan uang masuk dan keluar. Istilah "arus masuk dana"
menggambarkan uang yang masuk, sementara "arus keluar dana"
merujuk pada uang yang keluar. Arus kas dianggap positif apabila pendapatan lebih besar dari biaya, sehingga terdapat surplus yang dapat disimpan atau diinvestasikan. Sebaliknya, arus kas dianggap buruk jika biaya melebihi pendapatan, sehingga seseorang perlu meminjam uang atau menjual aset untuk menutupi pengeluarannya.
5) Siap mental terhadap gangguan finansial
Seorang pelaku usaha bisnis tentu membutuhkan aset fisik seperti modal, pengalaman, tabungan, atau asuransi, yang semuanya merupakan faktor penting. Namun, ada satu hal yang lebih mendesak dan harus dimiliki oleh seorang pengusaha, yaitu kesiapan mental. Tidak dapat disangkal bahwa aspek mental merupakan faktor yang paling dominan dalam menentukan kesuksesan seseorang dalam membangun kemandirian ekonominya. Dalam perjalanan berusaha, jatuh bangun adalah hal yang pasti terjadi. Mereka yang memiliki mental yang kuat dan sehat akan mampu bangkit dari kegagalan dan terus belajar, sehingga lebih cepat mencapai keberhasilan dan kesuksesan dalam usaha.
Oleh karena itu, konsep kemandirian ekonomi memiliki relevansi yang tinggi bagi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) karena UMKM berperan sebagai penopang utama perekonomian di berbagai negara, termasuk Indonesia. Dengan mengadopsi prinsip kemandirian ekonomi, UMKM dapat mengembangkan kemampuan untuk mengelola sumber daya secara mandiri, meningkatkan produktivitas, dan mengurangi ketergantungan pada bantuan eksternal. Sehingga akan memperkuat daya saing UMKM di pasar global. Selain itu, kemandirian ekonomi mendorong UMKM untuk berinovasi, mengoptimalkan potensi lokal, dan menciptakan sistem bisnis yang berkelanjutan. Dengan demikian, kemandirian ekonomi tidak hanya berperan dalam mendukung ketahanan UMKM menghadapi berbagai tantangan, tetapi juga menjadi elemen penting dalam memperkuat pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan inklusif.
Mempertahankan dan meningkatkan posisi di pasar, baik di tingkat lokal maupun global, merupakan kemampuan yang dimiliki oleh suatu negara, perusahaan, industri, atau entitas, yang dikenal sebagai daya saing.
Berdasarkan World Economic Forum (WEF), daya saing menggambarkan kemampuan suatu entitas dalam menciptakan nilai tambah dan melakukan inovasi guna mencapai pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan (Amin, 2025). Beberapa faktor kunci yang memengaruhi daya saing global antara lain, yaitu:
1) Inovasi
Inovasi adalah salah satu faktor utama yang mendorong daya saing global. Kemampuan untuk menciptakan produk, layanan, atau proses baru yang lebih baik dan efisien dapat memberikan keunggulan kompetitif. Inovasi berfungsi tidak hanya untuk membantu UMKM bertahan menghadapi beragam tantangan, tetapi juga menjadi faktor krusial dalam mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan serta bersifat inklusif.
Negara atau perusahaan yang terus berinvestasi dalam penelitian dan pengembangan (R&D) serta mendorong budaya kreativitas cenderung lebih mampu bersaing di pasar global. Inovasi juga membantu dalam memenuhi kebutuhan pasar yang terus berubah dan meningkatkan nilai tambah produk.
Indonesia masih dihadapkan pada berbagai tantangan dalam meningkatkan daya saing di tingkat internasional. Menurut laporan Global Competitiveness Index 2021 yang dirilis oleh World Economic Forum, Indonesia menempati urutan ke-56 dari 140 negara dalam aspek daya saing ekonomi. Meskipun posisi ini lebih baik dibandingkan peringkat ke-62 pada tahun sebelumnya, masih terdapat peluang bagi Indonesia untuk terus memperkuat daya saingnya di pasar global. Salah satu aspek penting yang dapat mendorong peningkatan daya saing tersebut adalah inovasi (Aidhi et al., 2023).
Untuk dapat meningkatkan daya saing ekonomi, Indonesia harus memperkuat peranan inovasi dalam mendorong pengembangan ekonomi nasional. (Aidhi et al., 2023). Inovasi merupakan salah satu elemen penting yang berperan dalam meningkatkan daya saing global. Oleh karena itu, salah satu strategi inovasi yang dapat diimplementasikan adalah dengan mendorong pengembangan sumber daya manusia unggul di bidang teknologi dan inovasi. Untuk memperkuat kemampuan Indonesia dalam menciptakan produk dan layanan yang lebih efisien serta inovatif maka dibutuhkan kualitas sumber daya manusia (SDM) yang terampil dan berpengetahuan luas dalam teknologi. Selain itu, penguasaan teknologi yang tinggi akan mendukung perkembangan
industri digital, meningkatkan produktivitas, dan membuka peluang pasar nasional dan internasional.
2) Akses Pasar
Akses pasar adalah salah satu faktor penting yang memengaruhi daya saing global karena memungkinkan negara atau perusahaan untuk memperluas jangkauan dan mengakses peluang ekonomi di pasar internasional. Secara sederhana, akses pasar merujuk pada kemampuan untuk memasuki dan memanfaatkan pasar domestik maupun internasional dalam menjual produk atau jasa. Dalam konteks daya saing global, akses pasar berkaitan dengan kemampuan untuk menjual produk dan layanan di luar pasar domestik, yang pada gilirannya dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan memperkuat posisi negara di pasar dunia.
Akses pasar yang luas akan membuat perusahaan atau negara untuk menjual produknya ke berbagai wilayah dan negara, sehingga mengurangi ketergantungan pada satu pasar tertentu.
Diversifikasi pasar ini membantu mengurangi risiko ekonomi, seperti fluktuasi permintaan atau krisis di satu wilayah. Misalnya, perusahaan yang mampu mengekspor produknya ke banyak negara cenderung lebih stabil secara finansial karena pendapatannya tidak hanya bergantung pada satu pasar. Menurut Schumpeter yang dikutip dalam buku Sukirno (2018:251-252), pembangunan ekonomi terjadi atas inisiatif dari para pengusaha yang memiliki sifat inovatif, di mana pembaruan dilakukan dalam perekonomian.
Salah satu bentuk pembaruan tersebut adalah dengan memperluas pasar suatu produk ke wilayah-wilayah baru (Sukirno, 2018).
Akses pasar yang kuat tidak hanya meningkatkan volume penjualan tetapi juga memperkuat posisi kompetitif suatu negara atau perusahaan di kancah global. Dengan akses pasar yang luas, perusahaan dapat meningkatkan skala ekonomi (economies of scale), menurunkan biaya produksi, dan menawarkan harga yang lebih kompetitif. Selain itu, akses pasar yang baik juga mendorong inovasi karena perusahaan harus terus beradaptasi dengan kebutuhan dan tren pasar global. Oleh karena itu, akses pasar yang efektif menjadi salah satu pilar utama dalam membangun daya saing global yang berkelanjutan.
3) Efisiensi Produksi
Efisiensi dalam proses produksi adalah faktor penting yang menentukan kesuksesan perusahaan untuk mencapai tingkat produktivitas terbaik dan mempertahankan daya saingnya di pasar global. Efisiensi produksi dapat didefinisikan sebagai kemampuan untuk menghasilkan output maksimal dengan input minimal atau kemampuan untuk meminimalkan biaya produksi tanpa mengurangi kualitas atau kuantitas produk yang dihasilkan. Hal ini dicapai melalui optimalisasi penggunaan sumber daya, penerapan teknologi canggih, dan pengelolaan rantai pasok yang efektif.
Efisiensi dalam manajemen jaringan distribusi memegang peranan krusial dalam mendukung peningkatan kinerja produksi secara keseluruhan. Kerja sama yang terkoordinasi dengan baik antara pemasok, produsen, distributor, dan pengecer dapat menekan biaya terkait penyimpanan, transportasi, serta waktu tunggu. Hal ini tidak hanya menurunkan biaya operasional, tetapi juga memperkuat kemampuan untuk merespons fluktuasi permintaan pasar dengan lebih cepat. Di sisi lain, efisiensi produksi juga mencakup upaya mengurangi limbah, memaksimalkan pemanfaatan sumber daya, serta mengelola rantai pasok secara efektif. Semua faktor ini berperan dalam mendorong peningkatan produktivitas secara keseluruhan dalam proses produksi (Sudamaji, 2024).
Dalam konteks global, efisiensi produksi memungkinkan perusahaan untuk menawarkan produk dengan harga yang kompetitif, sehingga meningkatkan daya tarik di pasar internasional. Selain itu, efisiensi produksi juga berkaitan dengan pengurangan limbah, pemanfaatan energi yang berkelanjutan, dan adaptasi terhadap fluktuasi permintaan pasar, yang semuanya berkontribusi pada keberlanjutan bisnis.
Dalam beberapa tahun terakhir, ekonomi digital Indonesia tumbuh dengan cepat. Pemanfaatan teknologi digital semakin meluas, mencakup hampir seluruh wilayah di tanah air.
Berdasarkan hasil survei APJII (2023), tingkat penetrasi internet di Indonesia pada tahun 2023 tercatat mencapai 78,19 persen.
Artinya, dari setiap 100 orang Indonesia, sekitar 78 di antaranya sudah terhubung ke internet di tahun tersebut. Dibandingkan dengan data tahun 2018, angka ini mengalami peningkatan sebesar 13,39 persen dalam kurun waktu lima tahun terakhir (INDEF,
2024). Kondisi ini mencerminkan pesatnya perkembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK), yang berperan penting dalam mendorong terciptanya ekonomi berkelanjutan di masa mendatang.
Pemanfaatan teknologi digital berperan penting dalam mendorong peningkatan daya saing Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di era globalisasi. Di era globalisasi yang ditandai dengan integrasi ekonomi yang semakin dalam, UMKM yang mengadopsi teknologi digital memiliki peluang untuk berkembang melampaui batasan geografis tradisional dan memasuki pasar yang sebelumnya sulit dijangkau. Oleh karena itu digitalisasi berperan penting dalam mendukung UMKM agar mampu menjangkau pasar yang lebih besar, baik dalam lingkup nasional maupun global. Untuk mencapai tujuan tersebut, diperlukan upaya transformasi serta penguatan ekosistem digital yang harus diterapkan secara menyeluruh di berbagai wilayah Indonesia.
Percepatan digitalisasi dari wilayah perkotaan hingga pedesaan menjadi faktor penting dalam mendorong pemulihan ekonomi serta meningkatkan daya saing nasional, khususnya untuk mendukung produktivitas dan kinerja UMKM (Abrori, 2022). Platform e-commerce dan marketplace online telah merevolusi akses pasar bagi UMKM dengan membantu mereka memasarkan produk secara global tanpa memerlukan investasi besar dalam infrastruktur fisik. Kehadiran digital memfasilitasi ekspansi pasar yang cost-effective, membuka peluang ekspor yang sebelumnya hanya dapat diakses oleh perusahaan besar. Melalui platform digital, UMKM kini dapat memamerkan produk mereka kepada konsumen global tanpa batas waktu dan geografis.
Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) menjadi pilar utama dalam mendukung perekonomian Indonesia, dengan sebagian besar tenaga kerja nasional bergantung pada sektor ini.
Dari sisi jumlah, UMKM telah mencapai sekitar 65,4 juta unit usaha, yang mencakup 99% dari total unit usaha di seluruh Indonesia. Selain memberikan kontribusi signifikan terhadap kegiatan ekonomi masyarakat, UMKM juga memainkan peran penting dalam mendongkrak pertumbuhan ekonomi nasional. Pada tahun 2022, UMKM menyumbangkan sekitar 61% terhadap
Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia (K. K. dan UMKM, 2022). Secara keseluruhan, sektor ini mampu menciptakan lapangan kerja bagi sekitar 97% tenaga kerja nasional, berkontribusi 60,30% terhadap PDB, dan menyokong 14,40%
ekspor nasional (Batang, 2024).
Salah satu jenis Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang berperan dalam mendorong pertumbuhan ekonomi di Kota Banjarmasin adalah UMKM Sasirangan. Sasirangan merupakan produk unggulan yang cukup terkenal di Kalimantan Selatan, sehingga patut mendapatkan perhatian dan pengembangan lebih lanjut. Menurut data yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik pada tahun 2021, terdapat sekitar 66 usaha pengrajin sasirangan yang beroperasi di Kota Banjarmasin (Permana & Maulina, 2023).
Menurut data Kementerian Perdagangan pada tahun 2023, sekitar 22 juta Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) telah terintegrasi ke dalam ekonomi digital. Hal ini setara dengan 33,6%
dari total jumlah UMKM. Pemerintah Indonesia menargetkan adanya 30 juta UMKM yang bertransformasi ke ranah digital pada tahun 2024. (Kementerian Koperasi dan UKM, 2022). Hal ini mengindikasikan bahwa pelaku UMKM memiliki kesempatan dan potensi yang signifikan untuk turut berperan dalam pengembangan industri ekonomi digital di masa depan (INDEF, 2024).
Berdasarkan laporan Bappenas (2014), Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) berperan signifikan dalam meningkatkan penyerapan tenaga kerja, membentuk Produk Domestik Bruto (PDB), serta menyediakan perlindungan sosial, khususnya bagi masyarakat yang terdampak krisis ekonomi dan keuangan. Dengan demikian, UMKM merupakan salah satu sektor yang memberikan kontribusi penting terhadap perekonomian suatu negara.
2.1.2 Transformasi Digital dalam Pemberdayaan UMKM
Transformasi digital adalah proses mendasar yang mencakup penerapan teknologi digital ke berbagai aspek operasional suatu bisnis, yang secara signifikan mengubah metode kerja serta meningkatkan nilai yang ditawarkan kepada pelanggan. Bagi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), konsep ini mencakup lebih dari sekadar adopsi teknologi baru karena merepresentasikan pergeseran paradigma dalam model bisnis, kultur organisasi, dan proposisi nilai.
Transformasi digital kini berperan sebagai kekuatan utama yang mendorong perekonomian global, membawa perubahan signifikan pada dunia bisnis dan membuka beragam peluang baru untuk mendukung pertumbuhan (Oktaviani et al., 2023). Transformasi digital mengacu pada proses penerapan teknologi digital yang terintegrasi ke dalam berbagai aspek bisnis, sehingga mengubah metode operasional perusahaan dan cara mereka menciptakan nilai bagi pelanggan. Transformasi digital memberikan peluang besar bagi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) untuk meningkatkan efisiensi operasional, memperluas jangkauan pasar, serta memperkuat daya saing mereka. Dengan memanfaatkan teknologi seperti e-commerce, platform digital, media sosial, dan alat analisis data, UMKM dapat mengoptimalkan operasional bisnis, mengurangi biaya, dan menjangkau konsumen yang lebih luas.
Selain itu, penggunaan media sosial sebagai alat pemasaran memungkinkan UMKM berinteraksi langsung dengan pelanggan, membangun brand awareness, dan meningkatkan loyalitas pelanggan.
UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) telah menyumbang 60,5% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), sementara sisanya berasal dari usaha skala besar. Selain itu, UMKM menyerap sekitar 96,9% dari total tenaga kerja nasional dan berkontribusi sebesar 60,4% terhadap total investasi di Indonesia (Limanseto, 2022). Dengan demikian, UMKM diharapkan dapat melakukan transformasi guna meningkatkan daya saing dan memperluas jangkauan pasar, terutama dalam menghadapi tantangan di era digital.
Perubahan akibat transformasi digital memberikan dampak yang signifikan pada perkembangan UMKM. Pertama, transformasi digital akan menyebabkan peningkatan produktivitas dan efisiensi dalam kegiatan usaha melalui otomatisasi berbagai proses usaha, seperti pengelolaan inventaris, akuntansi, dan pemasaran. Kedua, dengan memanfaatkan platform digital, UMKM dapat memperluas jangkauan pasar dan mengatasi batasan geografis, sehingga lebih mudah menjangkau konsumen di berbagai wilayah. Ketiga, transformasi digital turut mendorong inovasi dalam produk maupun layanan, sebab UMKM mampu mengakses dan menganalisis data guna memahami preferensi serta perilaku konsumen.
Meskipun demikian, sejumlah tantangan masih menghambat implementasinya, antara lain minimnya literasi digital, terbatasnya infrastruktur, serta biaya teknologi yang cukup tinggi. Oleh karena itu, dukungan dari pemerintah, sektor industri, dan lembaga pendidikan
menjadi krusial agar UMKM dapat memaksimalkan potensi transformasi digital secara berkelanjutan.
Pada era society 5.0, usaha mikro, kecil, dan menengah perlu mampu beradaptasi dengan kemajuan industri 4.0 dan perubahan masyarakat menuju society 5.0 agar tetap dapat bertahan (Salihah, 2021).
Kesulitan utama yang dihadapi UMKM dalam proses digitalisasi adalah keterbatasan pengetahuan dan keterampilan digital. Sejumlah pelaku UMKM masih menghadapi keterbatasan pemahaman mengenai teknologi digital, cara penggunaannya, serta manfaat yang bisa diperoleh dari digitalisasi. Mereka sering kesulitan memahami berbagai istilah teknis dan konsep dasar teknologi informasi yang diperlukan untuk mengadopsi solusi digital bagi bisnis mereka.
Pada era digitalisasi society 5.0, sumber daya manusia (human capital) menjadi kunci utama dalam menghadapi tantangan bisnis dan memanfaatkan peluang yang tersedia. Salah satu tantangan utama bagi UMKM adalah keterampilan digital yang terbatas pada karyawan mereka (Naufalin, 2020). Banyak pekerja di sektor UMKM yang masih kurang terampil dalam memanfaatkan teknologi dan aplikasi digital. Karena itu, UMKM perlu memastikan bahwa mereka menyediakan pelatihan dan pengembangan keterampilan yang dibutuhkan agar karyawan dapat bekerja secara efektif di era digital.
Keterbatasan akses infrastruktur dan platform digital juga menjadi hambatan serius. Di banyak daerah, terutama di kawasan tertinggal dan terpencil, koneksi internet yang stabil dan terjangkau masih menjadi masalah. Biaya perangkat digital, langganan internet, serta biaya untuk bergabung dengan marketplace atau platform e-commerce sering kali terlalu tinggi bagi UMKM dengan modal terbatas. Ketimpangan akses ini menciptakan kesenjangan digital yang semakin mempersulit UMKM kecil untuk bersaing dengan bisnis yang sudah terdigitalisasi.
UMKM dihadapkan juga pada kendala dalam menyelaraskan teknologi digital dengan model bisnis yang telah mereka jalankan. Banyak pelaku UMKM merasa kewalahan dengan beragam pilihan teknologi dan platform yang tersedia, serta kesulitan menentukan mana yang paling sesuai dengan kebutuhan bisnis mereka. Proses adaptasi dan transformasi bisnis dari konvensional ke digital membutuhkan waktu, sumber daya, dan perubahan pola pikir yang tidak selalu mudah dilakukan, terutama bagi bisnis yang sudah lama beroperasi dengan cara tradisional.
Transformasi digital UMKM terbukti berperan penting dalam meningkatkan perkembangan ekonomi digital di Indonesia. Pada tahun
2022, pendapatan sektor ini tercatat mencapai US$77 miliar, mengalami pertumbuhan sebesar 22% dibandingkan dengan tahun sebelumnya (Gusmiarti, 2024). Sektor e-commerce menjadi penyumbang utama bagi pendapatan tersebut. Berdasarkan data dari Asosiasi E-Commerce Indonesia (idEa), jumlah UMKM yang telah beralih ke platform digital mencapai 21,8 juta pada tahun 2022.
PT Sayurbox merupakan contoh nyata UMKM di Indonesia yang sukses dalam proses digitalisasi. Sayurbox berfungsi sebagai platform yang secara langsung menghubungkan petani lokal dengan konsumen.
Dengan memanfaatkan layanan e-commerce, Sayurbox mampu memperluas jangkauan pelanggan hingga ke berbagai wilayah di Indonesia (Lahitani, 2024). Dengan memanfaatkan platform yang dimilikinya, Sayurbox berhasil meningkatkan efisiensi dalam rantai pasokan dari petani hingga konsumen akhir. Mereka menggunakan sistem manajemen inventaris dan logistik yang terintegrasi untuk memastikan ketersediaan produk segar dan pengiriman yang tepat waktu. Bukan hanya itu, Sayurbox juga memberikan informasi detail mengenai asal-usul produk dan metode pertanian yang digunakan. Sayurbox memulai dengan menyediakan layanan pengantaran sayuran dan produk segar langsung dari petani ke konsumen melalui platform digital. Dengan fokus pada kemudahan akses, kualitas produk yang baik, serta sistem pengantaran yang efisien, Sayurbox berhasil menarik minat banyak konsumen di kota- kota besar. Sayurbox telah memberikan kontribusi positif juga bagi masyarakat dan lingkungan dengan cara mendukung petani lokal, meminimalkan limbah makanan, serta meningkatkan kesadaran konsumen mengenai pentingnya pertanian berkelanjutan.
Keberhasilan Sayurbox menunjukkan bagaimana UMKM di Indonesia dapat memanfaatkan teknologi yang ada dengan tujuan untuk meningkatkan pengoptimalan kegiatan operasional serta memperluas akses pasar, dan bersaing dengan perusahaan besar. Selain itu, mereka juga mampu memberikan dampak positif terhadap sektor pertanian dengan membantu petani lokal menjual produk mereka secara lebih langsung ke konsumen. Transformasi digital seperti yang dilakukan Sayurbox menjadi contoh inspiratif bagi UMKM lainnya untuk memanfaatkan potensi digital dalam mengembangkan bisnis mereka.
Malaysia, sebagai negara tetangga memiliki lebih dari 900.000 UMKM, yang memberikan kontribusi sekitar 40% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) negara tersebut (Nugrahani, 2024). Sebagian besar, yaitu lebih dari 40%, UMKM di Malaysia telah memanfaatkan teknologi digital dengan dukungan aktif dari pemerintah melalui berbagai program
transformasi digital. Banyak pelaku UMKM di sana yang memanfaatkan e-commerce, media sosial, dan layanan fintech untuk memperluas usaha mereka. Dikutip dari CNBC Indonesia, ekspor UMKM Malaysia menunjukkan pertumbuhan sebesar 17,3%, melampaui pertumbuhan ekspor UMKM di Indonesia yang hanya mencapai 15,65%. Hal ini cukup ironis, mengingat jumlah UMKM di Indonesia jauh lebih besar, yaitu sekitar 65,47 juta unit, sedangkan Malaysia hanya memiliki sekitar 1,23 juta UMKM (Katadata, 2021) (Murwanti, 2024).
Beberapa inisiatif seperti eUsahawan dan SME Digitalisation Grant adalah contoh konkret dari upaya pemerintah Malaysia untuk mendorong adopsi teknologi oleh UMKM. Program-program ini tidak hanya memberikan pelatihan dan pengetahuan tentang digitalisasi, tapi juga menyediakan dana atau insentif untuk membantu UMKM dalam memanfaatkan e-commerce, media sosial, dan fintech untuk memperluas pasar dan meningkatkan efisiensi operasional mereka. Kolaborasi pemerintah dengan platform e-commerce besar seperti Lazada dan Shopee juga sangat mendukung digitalisasi UMKM, memungkinkan mereka untuk menjangkau konsumen lebih luas, bahkan di luar negeri, dengan lebih mudah.
Meskipun perkembangan teknologi semakin pesat, beberapa tantangan tetap harus diatasi, terutama terkait keterbatasan akses internet di wilayah pedesaan yang belum merata dan rendahnya tingkat literasi digital. Banyak pelaku UMKM skala kecil masih menghadapi hambatan dalam memahami pemanfaatan teknologi secara maksimal. Oleh karena itu, kolaborasi antara pemerintah dan sektor swasta menjadi krusial untuk menyediakan pelatihan serta sarana pendukung yang dapat memudahkan UMKM di daerah terpencil dalam mengakses dan mengadopsi teknologi digital dengan lebih efektif.
Secara keseluruhan, meskipun tantangan masih ada, Malaysia menunjukkan contoh yang bagus mengenai bagaimana UMKM dapat berkembang dengan bantuan digitalisasi, dan hal ini bisa menjadi contoh bagi negara lain, termasuk salah satunya Indonesia, untuk mempercepat adopsi teknologi di kalangan pelaku UMKM.
2.1.3 Praktik Bisnis Berkelanjutan dan Pengelolaan Limbah Industri Bisnis berkelanjutan adalah jenis usaha yang tidak hanya berfokus pada manfaat jangka pendek, tetapi juga mampu bertahan dalam jangka panjang. Dengan demikian, perusahaan dan pelaku usaha tidak hanya menciptakan dampak ekonomi, melainkan juga menghasilkan nilai sosial yang lebih signifikan (Windariana, 2023). Bisnis Berkelanjutan
(Sustainable Business) merupakan konsep yang menggabungkan prinsip- prinsip ekonomi dan lingkungan untuk menciptakan nilai jangka panjang dengan mempertimbangkan dampak sosial, ekonomi, dan lingkungan dari aktivitas bisnis. Konsep ini bertujuan untuk memastikan bahwa suatu bisnis tidak hanya mengutamakan keuntungan finansial, tetapi juga memberikan dampak positif bagi masyarakat dan menjaga kelestarian lingkungan.
Konsep bisnis berkelanjutan merujuk pada pendekatan bisnis yang bertujuan menciptakan nilai ekonomi, sosial, dan lingkungan secara berkelanjutan dalam jangka panjang. Konsep ini menggabungkan elemen sosial, lingkungan, dan ekonomi ke dalam struktur bisnis agar mampu menghasilkan manfaat berkelanjutan bagi seluruh pemangku kepentingan (Panda, 2023). Dalam aspek ekonomi bisnis berkelanjutan harus mampu menghasilkan keuntungan yang konsisten dan nilai jangka panjang bagi pemangku kepentingan. Hal ini melibatkan pengelolaan sumber daya secara efisien untuk memaksimalkan profitabilitas tanpa mengorbankan keberlanjutan lingkungan dan sosial. Dan dalam aspek lingkungan bisnis berkelanjutan mengacu pada praktik bisnis yang dirancang untuk mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan dan mempromosikan keberlanjutan sumber daya alam. Dalam hal ini, perusahaan berfokus pada upaya untuk menjaga keseimbangan ekosistem, mengurangi polusi, serta meminimalkan pemakaian sumber daya terbatas dengan cara yang efektif dan ramah lingkungan.
Dari sudut pandang ekologi, konsep keberlanjutan diartikan sebagai upaya mempertahankan proses alami yang mandiri (self- organizing process), yang menjadi dasar bagi lingkungan dalam mendukung aktivitas kehidupan manusia (Bantacut, 2012). Pertumbuhan Ekonomi Hijau merupakan pertumbuhan ekonomi tangguh dengan mengedepankan pembangunan rendah karbon serta inklusif secara sosial bukan mengesampingkan permasalahan lingkungan (Palupi, 2022). Teori ini menekankan bahwa pertumbuhan ekonomi dapat dicapai tanpa merusak lingkungan dengan penggunaan sumber daya yang sesuai serta tidak berlebihan dan penggunaan teknologi ramah lingkungan. Bisnis berkelanjutan dalam konteks ini fokus pada efisiensi sumber daya dengan mengurangi limbah dan memaksimalkan penggunaannya, kemudian inovasi teknologi dengan mengembangkan produk dan proses yang ramah lingkungan, dan ekonomi sirkular dengan menerapkan model bisnis yang mendaur ulang dan menggunakan kembali bahan baku.
Aktivitas industri menjadi salah satu komponen penting dalam mendukung pertumbuhan ekonomi karena dapat mendorong produktivitas, menyediakan lapangan pekerjaan, dan berkontribusi terhadap kemajuan teknologi dan inovasi. Namun, meskipun industri memainkan peran
krusial dalam mendorong pertumbuhan ekonomi, kegiatan industri juga memiliki sisi negatif, terutama dalam hal dampak lingkungan dan kesehatan masyarakat sekitar.
Dampak konkret dari aktivitas industri adalah munculnya pencemaran yang disebabkan oleh limbah. Limbah industri merupakan residu atau produk samping dari proses produksi yang sudah kehilangan nilai ekonomi dan berpotensi merusak lingkungan. Limbah tersebut dapat berwujud padat, cair, atau gas, serta mengandung berbagai zat, baik organik maupun anorganik, yang berisiko membahayakan kesehatan manusia dan ekosistem(Azka, 2023). Limbah industri, seperti limbah cair, gas, dan padat, seringkali mengandung bahan berbahaya yang dapat mencemari udara, air, dan tanah.
Sungai-sungai di Banjarmasin, termasuk Sungai Martapura, kerap dijadikan lokasi pembuangan sampah rumah tangga dan limbah pabrik.
Hal ini menimbulkan dampak buruk terhadap lingkungan, seperti menurunnya kualitas air yang membahayakan kesehatan warga dan mengganggu ekosistem perairan. Dampak lainnya adalah semakin berkurangnya jumlah ikan, yang sebenarnya merupakan sumber penghasilan bagi sebagian besar penduduk setempat (DPRD Banjarmasin, 2025).
Kerusakan lingkungan akibat polusi berdampak buruk pada keseimbangan ekosistem, menurunkan mutu sumber daya alam, serta mengganggu keberlangsungan hidup manusia. Buruknya pengelolaan limbah industri dapat mencemari aliran sungai, lahan pertanian, hingga sumber air bersih yang dikonsumsi masyarakat. Pembuangan limbah industri secara sembarangan dapat mengancam kelestarian ekosistem.
Misalnya, pembuangan limbah ke sungai dapat menyebabkan kematian massal ikan dan berbagai makhluk hidup di dalam air (Geosindo, 2023).
Selain itu, limbah dapat mencemari tanah dan mempengaruhi pertumbuhan tanaman, yang pada gilirannya dapat mengganggu rantai makanan dan habitat hewan.
Bunyi Pasal 28 H ayat (1) UUD 1945 “setiap orang berhak sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal dan mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat serta memperoleh pelayanan kesehatan”. Oleh karena itu, jika industri mencemari lingkungan dengan limbah yang tidak terkelola, maka akan berpotensi melanggar hak warga negara untuk hidup dalam lingkungan yang sehat. Akibatnya pencemaran yang terjadi akan mengancam kualitas lingkungan dan kesehatan, sehingga
bertentangan dengan ketentuan konstitusional yang menjamin hak atas lingkungan yang baik.
Pada hakikatnya limbah cair yang dialirkan ke sungai atau laut berpotensi mengandung zat kimia berbahaya seperti logam berat, pestisida, atau zat kimia lainnya yang merusak ekosistem perairan. Kondisi ini tidak hanya menyebabkan kematian biota laut, tetapi juga mencemari sumber air bersih yang dimanfaatkan oleh masyarakat dalam memenuhi kebutuhan hidup. Selain itu, limbah padat yang dibuang sembarangan dapat mencemari tanah, mengurangi kesuburan tanah, dan bahkan masuk ke dalam rantai makanan melalui tanaman atau hewan yang terpapar.
Dampak limbah industri terhadap kesehatan masyarakat sekitar juga sangat berpengaruh. Paparan limbah beracun dapat menyebabkan berbagai penyakit, mulai dari gangguan pernapasan akibat polusi udara, penyakit kulit akibat kontak dengan air tercemar, hingga penyakit kronis seperti kanker akibat akumulasi zat kimia berbahaya dalam tubuh. Anak- anak dan kelompok rentan lainnya sering kali menjadi korban utama karena sistem kekebalan tubuh mereka yang belum sepenuhnya berkembang. Selain itu, bau tidak sedap dari limbah industri dapat menurunkan kualitas hidup masyarakat sekitar, menyebabkan stres, dan mengganggu aktivitas sehari-hari.
Dilansir dari situs web Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), ekonomi sirkular merupakan sebuah model ekonomi yang bertujuan mendorong pertumbuhan ekonomi dengan menjaga agar nilai produk, material, dan sumber daya tetap berada dalam sistem ekonomi selama mungkin (KLHK, 2022). Pendekatan ini menitikberatkan pada pemanfaatan sumber daya secara optimal, meminimalkan limbah, serta mengintegrasikan kembali material ke dalam proses produksi.
Konsep ini hadir sebagai upaya untuk menghadapi keterbatasan sumber daya alam, mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan, dan mendukung keberlanjutan ekonomi jangka panjang.
Ekonomi sirkular memiliki beberapa prinsip utama, yaitu:
1. Mengurangi limbah dan polusi Ekonomi sirkular bertujuan untuk mengurangi atau bahkan menghilangkan sampah dan polusi.
2. Mempertahankan produk dan material selama mungkin Produk dan material dijaga agar tetap digunakan dalam jangka waktu yang lama.
3. Memperbaiki sistem alam Ekonomi sirkular berupaya untuk memperbarui dan meregenerasi sistem alam.
4. Produk dikembangkan dengan memperhatikan seluruh tahapan siklus hidupnya, mulai dari pemilihan bahan baku ramah lingkungan, peningkatan daya tahan produk, hingga kemudahan dalam proses daur ulangnya.
5. Optimalisasi pemanfaatan sumber daya dilakukan dengan menekan limbah melalui langkah-langkah seperti perbaikan produk, penggunaan ulang, serta berbagi produk.
6. Material dari produk yang sudah tidak digunakan diolah kembali atau dipulihkan agar dapat masuk kembali ke dalam sistem ekonomi melalui proses daur ulang.
7. Penerapan ekonomi sirkular membutuhkan kerja sama antara berbagai pihak, termasuk pemerintah, sektor bisnis, konsumen, serta lembaga lainnya..
Kementerian Perindustrian Republik Indonesia (Kemenperin) menjabarkan prinsip ekonomi sirkular dalam 5R, yaitu Reduce (mengurangi), Reuse (menggunakan kembali), Recycle (mendaur ulang), Recovery (memulihkan), dan Repair (memperbaiki) (Kemenperin, 2021a).
Dalam bisnis skala kecil, prinsip ekonomi sirkular dapat diterapkan dengan beberapa cara. Pertama, bisnis tersebut dapat menentukan bahan baku yang bersifat ramah lingkungan serta memiliki sifat daur ulang, sehingga mampu meminimalkan efek negatif terhadap lingkungan. Kedua, produk dapat dirancang melalui konsep modular, sehingga komponen yang rusak diganti tanpa harus membuang seluruh produk. Ketiga, bisnis dapat mengadopsi sistem pengembalian produk bekas untuk didaur ulang atau diperbaiki, menciptakan nilai tambah dari limbah. Selain itu, kolaborasi dengan pemasok dan pelanggan untuk menciptakan rantai pasok yang lebih berkelanjutan juga menjadi kunci.
Dengan menerapkan prinsip ekonomi sirkular, bisnis skala kecil bukan hanya mampu berperan dalam menjaga kelestarian lingkungan, tetapi juga mampu mengurangi biaya operasional, meningkatkan efisiensi, serta membentuk citra yang baik di mata konsumen untuk semakin memiliki kesadaran tinggi terhadap keberlanjutan.
2.2 Konsep dan Peran Borneo EcoHub 2.2.1 Profil Borneo EcoHub
Pendirian Borneo EcoHub dilatarbelakangi oleh kebutuhan mendesak untuk mengembangkan ekonomi berkelanjutan di Kalimantan Selatan, dengan memanfaatkan potensi sumber daya alam dan budaya lokal yang kaya. Borneo EcoHub hadir sebagai respons terhadap tantangan pembangunan berkelanjutan di Kalimantan Selatan, khususnya dalam
memanfaatkan potensi sumber daya alam dan budaya lokal secara optimal tanpa mengorbankan kelestarian lingkungan. Kalimantan Selatan memiliki beragam produk lokal unggulan seperti Sasirangan, anyaman purun, kerajinan rotan, dan kopi Dullah, yang belum sepenuhnya mendapatkan perhatian yang layak dalam pasar global.
Di sisi lain, tantangan lingkungan dan perubahan iklim semakin mendesak untuk mencari solusi ekonomi yang ramah lingkungan. Oleh karena itu, Borneo EcoHub hadir sebagai platform yang memadukan kearifan lokal dengan prinsip ekonomi hijau dan teknologi digital untuk menciptakan ekosistem bisnis yang berdaya saing. Borneo EcoHub berupaya memberdayakan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) lokal untuk berkembang, memperluas akses pasar, serta meningkatkan kualitas produk lokal agar memenuhi standar internasional, sambil menjaga kelestarian lingkungan dan mendorong pembangunan yang berkelanjutan. Dengan memanfaatkan teknologi digital, platform ini bertujuan memperluas akses pasar produk lokal ke tingkat nasional dan global, sekaligus memastikan bahwa produksi dan distribusi dilakukan secara ramah lingkungan. Selain itu, Borneo EcoHub juga dirancang untuk memperkuat aspek hukum, seperti perlindungan hak kekayaan intelektual (HKI) dan kepastian investasi, sehingga memberikan landasan yang kokoh bagi pertumbuhan ekonomi lokal yang mandiri dan berkelanjutan.
Borneo EcoHub hadir dengan visi dan misi yang nyata. Visi nya menjadi pusat inovasi ekonomi berkelanjutan berbasis kearifan lokal Kalimantan Selatan yang mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) melalui pemberdayaan UMKM, pelestarian lingkungan, dan transformasi digital.
Adapun misi Borneo EcoHub, yaitu:
1. Mengembangkan UMKM Lokal: Mendorong pertumbuhan UMKM berbasis produk lokal seperti Sasirangan, anyaman purun, kerajinan rotan, dan kopi Dullah melalui pemanfaatan teknologi hijau dan digital.
2. Menerapkan Prinsip Ekonomi Hijau: Mendorong praktik produksi ramah lingkungan dan penggunaan energi terbarukan untuk mengurangi jejak karbon dan mendukung konsumsi serta produksi yang bertanggung jawab.
3. Memperluas Akses Pasar: Membangun platform e-commerce yang memfasilitasi pemasaran produk lokal ke pasar nasional dan
global, sekaligus memastikan transparansi dan keberlanjutan rantai pasok.
4. Memperkuat Aspek Hukum: Memberikan kepastian hukum bagi pelaku UMKM melalui pendaftaran hak kekayaan intelektual, perizinan usaha, dan perlindungan konsumen, sehingga menciptakan iklim bisnis yang adil dan berintegritas.
5. Membangun Kolaborasi: Menjalin kemitraan strategis antara pemerintah, universitas, sektor swasta, dan masyarakat lokal untuk memperkuat ekosistem ekonomi berkelanjutan.
6. Meningkatkan Kapasitas Sumber Daya Manusia: Memberikan pelatihan dan pendidikan bagi generasi muda dan perempuan dalam bidang kewirausahaan berkelanjutan, keterampilan digital, dan pemasaran global.
7. Mempromosikan Ekowisata: Mengembangkan destinasi ekowisata berbasis kearifan lokal yang berkelanjutan, mendukung pelestarian alam, dan meningkatkan partisipasi masyarakat lokal dalam industri pariwisata.
Dengan visi dan misi tersebut, Borneo EcoHub tidak hanya bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi masyarakat Kalimantan Selatan, tetapi juga berkontribusi pada pembangunan berkelanjutan yang sejalan dengan prinsip-prinsip SDGs. Melalui integrasi kearifan lokal, teknologi modern, dan kerangka hukum yang kuat, Borneo EcoHub diharapkan dapat menjadi model transformasi ekonomi yang mandiri, berdaya saing, dan ramah lingkungan.
Borneo EcoHub adalah platform ekonomi berkelanjutan yang dirancang untuk memberdayakan masyarakat lokal Kalimantan Selatan dengan memadukan kearifan lokal, teknologi hijau, dan transformasi digital. Fitur utama aplikasi ini mencakup berbagai aspek yang mendukung pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) berbasis produk lokal, seperti Sasirangan, anyaman purun, kerajinan rotan, dan kopi Dullah, sambil memastikan keberlanjutan lingkungan dan kepatuhan terhadap prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan (SDGs).
Salah satu fitur utama Borneo EcoHub adalah EcoMarketplace, sebuah platform e-commerce yang memfasilitasi pemasaran digital produk lokal berbasis kearifan lokal. Platform ini tidak hanya memperluas akses pasar bagi UMKM lokal ke tingkat nasional dan global, tetapi juga memastikan bahwa produk yang dipasarkan memenuhi standar ramah lingkungan dan etika kerja yang baik. Fitur green labeling pada
EcoMarketplace memungkinkan konsumen untuk mengidentifikasi produk yang telah melalui proses sertifikasi ramah lingkungan, sehingga mendorong konsumsi yang bertanggung jawab. Selain itu, sistem ulasan berkelanjutan pada platform ini memantau praktik produksi dan transparansi rantai pasok, memastikan bahwa setiap produk yang dijual mematuhi prinsip-prinsip keberlanjutan
Fitur lain yang tak kalah penting adalah EcoSourcing Connect, yang mendukung UMKM lokal dalam mengoptimalkan pengelolaan limbah dan bahan baku berkelanjutan. Program ini memfasilitasi kolaborasi antara pelaku usaha dan masyarakat umum untuk mengumpulkan bahan baku yang dapat didaur ulang, yang kemudian diolah menjadi produk bernilai ekonomis. Melalui fitur ini, UMKM yang berpartisipasi dalam program ini dapat memperoleh diskon khusus, sementara masyarakat yang menjadi pemasok bahan baku juga mendapatkan insentif. EcoSourcing Connect juga membuka akses ke jaringan pemasok dan retailer, memperluas peluang kolaborasi dan meningkatkan efisiensi rantai pasok.
Selain itu, Borneo EcoHub menawarkan Digital Banua Academy, sebuah platform pendidikan online yang dirancang untuk meningkatkan keterampilan digital dan kewirausahaan berkelanjutan bagi masyarakat lokal, terutama generasi muda dan perempuan. Melalui pelatihan yang disediakan, peserta dapat mempelajari strategi pemasaran digital, manajemen keuangan, branding produk lokal, dan penggunaan platform e- commerce. Setelah menyelesaikan kursus, peserta akan mendapatkan sertifikasi digital yang dapat meningkatkan kredibilitas mereka di pasar nasional dan internasional. Fitur ini juga menyediakan akses ke jaringan mentor, investor, dan komunitas bisnis hijau, sehingga memperluas peluang bisnis dan kolaborasi antar pelaku usaha.
Untuk mendukung pariwisata berkelanjutan, Borneo EcoHub menyediakan EcoTourism Connect, sebuah platform yang menghubungkan pelaku ekowisata lokal dengan wisatawan domestik dan internasional. Fitur ini mempromosikan destinasi wisata berbasis kearifan lokal dan aktivitas ekowisata yang berkelanjutan, sambil memastikan bahwa setiap layanan wisata yang dipromosikan mematuhi prinsip-prinsip pelestarian alam dan penghormatan terhadap budaya lokal. Dengan demikian, EcoTourism Connect tidak hanya meningkatkan pendapatan masyarakat lokal, tetapi juga menjaga kelestarian lingkungan dan budaya Kalimantan Selatan.