3.3.1 Data Primer
Dalam penelitian ini, data primer digunakan sebagai sumber utama untuk memahami secara mendalam implementasi digitalisasi UMKM melalui Borneo EcoHub. Menurut Husein Umar, data primer adalah data yang diperoleh langsung dari sumber pertama, baik individu maupun perseorangan, melalui wawancara atau pengisian kuesioner yang dilakukan oleh peneliti (Husein & Umar, 2013). Sementara itu, Nur Indrianto dan Bambang Supono mendefinisikan data primer sebagai data yang dikumpulkan langsung dari sumber asli tanpa perantara, yang diperoleh melalui metode seperti kuesioner, kelompok fokus, panel diskusi, atau wawancara dengan narasumber (Indriantoro & Supomo, 2013). Dalam penelitian ini, data primer diperoleh melalui wawancara mendalam dengan pemangku kepentingan utama, yang terdiri dari pejabat Dinas Koperasi, Usaha Mikro, dan Tenaga Kerja Kota Banjarmasin serta Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kota Banjarmasin, serta pelaku UMKM. Wawancara ini dilakukan untuk memperoleh wawasan yang komprehensif mengenai berbagai aspek berikut:
a. Pejabat Dinas Koperasi, Usaha Mikro, dan Tenaga Kerja Kota Banjarmasin
Wawancara dengan pejabat dari Dinas Koperasi, Usaha Mikro, dan Tenaga Kerja Kota Banjarmasin bertujuan untuk memperoleh pemahaman mendalam mengenai kebijakan serta program pemerintah yang mendukung pengembangan UMKM, khususnya dalam menghadapi era digital. Dalam diskusi ini, beberapa aspek utama yang dibahas mencakup langkah-langkah pemerintah dalam mendorong digitalisasi UMKM melalui berbagai kebijakan dan program yang telah diterapkan maupun yang sedang dirancang. Selain itu, wawancara juga menyoroti kendala yang dihadapi dalam proses digitalisasi, seperti rendahnya literasi digital di kalangan pelaku UMKM dan terbatasnya akses terhadap teknologi yang memadai. Untuk mengatasi tantangan tersebut, strategi pemberdayaan menjadi fokus utama, termasuk melalui penyediaan pelatihan, pendampingan, serta akses permodalan guna meningkatkan daya saing UMKM di pasar lokal dan global.
Pemerintah juga berupaya mengatasi keterbatasan infrastruktur teknologi dengan menggandeng berbagai pihak untuk memperluas inklusi digital, sehingga pelaku usaha kecil dan mikro dapat lebih mudah beradaptasi dengan perkembangan ekonomi digital.
b. Pejabat Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kota Banjarmasin
Wawancara dengan Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kota Banjarmasin difokuskan pada aspek perdagangan serta peningkatan daya saing produk UMKM di pasar yang lebih luas.
Salah satu poin utama yang dibahas adalah peran dinas dalam mendorong produk lokal agar lebih kompetitif di tingkat global, termasuk melalui promosi produk unggulan daerah menggunakan platform digital. Selain itu, wawancara juga mengungkap berbagai hambatan yang dihadapi UMKM dalam menembus pasar internasional, seperti kurangnya pemahaman mengenai standar ekspor dan regulasi perdagangan global. Untuk mengatasi tantangan tersebut, pemerintah berupaya memfasilitasi digitalisasi pemasaran produk UMKM dengan mengintegrasikan mereka ke dalam platform e-commerce dan marketplace. Di sisi lain, aspek keberlanjutan juga menjadi perhatian, terutama dalam pengelolaan limbah industri kecil di sektor kerajinan dan tekstil. Pemerintah mendorong penerapan strategi berkelanjutan agar produk UMKM dapat memenuhi standar keberlanjutan yang semakin diperhitungkan dalam perdagangan internasional.
c. Pelaku UMKM
Fokus wawancara mencakup ekspektasi pelaku UMKM terhadap penggunaan Borneo EcoHub dalam memperluas jangkauan pasar dan meningkatkan visibilitas produk mereka.
Selain itu, diskusi juga menyoroti potensi dampak digitalisasi terhadap pertumbuhan usaha, termasuk aspek peningkatan pendapatan, efisiensi produksi, serta pengelolaan bisnis secara lebih sistematis. Tantangan dalam mengadopsi teknologi digital turut menjadi perhatian, terutama terkait kendala infrastruktur, keterbatasan literasi digital, serta faktor finansial yang dapat memengaruhi keberlanjutan usaha berbasis teknologi. Lebih lanjut, wawancara ini juga menggali persepsi pelaku UMKM mengenai efektivitas konsep Borneo EcoHub dalam meningkatkan daya saing produk lokal dan membantu mereka beradaptasi dengan tren pasar global. Dengan demikian, wawancara ini memberikan wawasan yang berharga mengenai kebutuhan dan kesiapan UMKM dalam mengadopsi solusi digital seperti Borneo EcoHub, sehingga dapat menjadi dasar bagi pengembangan aplikasi yang lebih sesuai dengan kondisi dan tantangan nyata yang dihadapi oleh pelaku usaha kecil dan menengah.
3.3.2 Data Sekunder
Dalam penelitian ini, data sekunder mencakup berbagai dokumen kebijakan, laporan tahunan instansi terkait, serta publikasi yang membahas transformasi digital bagi UMKM. Data ini diperoleh dari Dinas Koperasi, Usaha Mikro, dan Tenaga Kerja Kota Banjarmasin, yang memiliki 15 sumber daya potensial dalam mendukung perkembangan UMKM di wilayah tersebut. Berdasarkan data yang tersedia, terdapat 37.540 UMKM yang telah merasakan dampak positif dari berbagai program dan kontribusi dinas ini dalam mendorong pertumbuhan sektor usaha mikro dan kecil.
Jenis sumber daya yang dimiliki oleh dinas ini meliputi berbagai jabatan fungsional yang berperan dalam pembinaan dan pengelolaan UMKM, mulai dari Pembina Utama Muda hingga Penata Tingkat I.
Selain itu, data sekunder juga diperoleh dari Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kota Banjarmasin, yang bertanggung jawab atas berbagai aspek pengelolaan perdagangan dan industri di kota ini. Struktur organisasi dinas ini dipimpin oleh Kepala Dinas dan didukung oleh berbagai unit kerja, termasuk sekretariat yang memiliki tiga sub bagian, yaitu Perencanaan, Keuangan, serta Umum dan Kepegawaian. Dalam bidang perdagangan, terdapat tiga seksi utama yang berfokus pada fasilitasi sarana usaha, promosi dan pengembangan perdagangan, serta monitoring dan pengendalian pendaftaran perusahaan. Sementara itu, dalam bidang kemetrologian dan standardisasi perdagangan, dinas ini memiliki seksi yang bertugas dalam pelayanan tera ulang, pembinaan, serta pengawasan standar perdagangan. Lebih lanjut, dalam bidang pembinaan sarana distribusi perdagangan dan pasar, terdapat seksi-seksi yang bertanggung jawab atas pembinaan, pemeliharaan, serta pengelolaan infrastruktur pasar dan distribusi. Di sektor industri, dinas ini juga memiliki unit yang fokus pada berbagai aspek pengembangan industri, termasuk industri logam dan mesin, hasil pertanian, tekstil, serta aspek lingkungan yang berkaitan dengan pengendalian pencemaran industri.
Selain itu, Unit Pelaksana Teknis (UPT) berada di bawah naungan dinas ini untuk menjalankan berbagai tugas teknis yang mendukung kebijakan perdagangan dan perindustrian di Kota Banjarmasin.
Dalam konteks pengembangan UMKM, data sekunder mencakup informasi mengenai berbagai pelaku usaha lokal yang berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi di Kota Banjarmasin. Beragam sektor usaha, seperti produksi makanan dan minuman, kerajinan tangan, serta tekstil tradisional, menunjukkan bagaimana inovasi dan digitalisasi membantu meningkatkan pemasaran serta memperluas jangkauan pasar.
Pemanfaatan teknologi digital dalam promosi dan distribusi produk menjadi strategi yang semakin umum digunakan oleh pelaku UMKM untuk meningkatkan daya saing mereka. Dengan adanya ekosistem usaha
yang terus berkembang, transformasi digital berperan penting dalam memperkuat keberlanjutan dan pertumbuhan sektor UMKM secara keseluruhan.