• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pendidikan Anak – Anak Nelayan Di Desa Pauh Jalan Jala X Terjun Medan (1960 – 1982)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Pendidikan Anak – Anak Nelayan Di Desa Pauh Jalan Jala X Terjun Medan (1960 – 1982)"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1Latar Belakang Masalah

Pentingnya pendidikan dapat dirasakan setiap orang dengan memberikan harapan

dan kemungkinan yang lebih baik pada masa yang akan datang. Dengan kata lain,

pendidikan sebagai upaya dalam meningkatkan kualitas hidup manusia,

meningkatkan sumber daya manusia (SDM), mengubah cara perilaku dan cara

berfikir manusia ke arah yang lebih baik sesuai dengan perkembangan dan

pertumbuhan jiwanya. Pendidikan dapat diperoleh dari sekolah (pendidikan formal)

dan dapat juga diperoleh dari keluarga (pendidikan informal) serta dari masyarakat

(pendidikan nonformal). Pendidikan itu akan berlangsung terus menerus selama

manusia masih hidup, sehingga akan berkembang dari masa ke masa sesuai dengan

tuntutan zaman.

Pendidikan sangat diperlukan oleh setiap anak, karena merupakan tempat dimana

mereka akan mengembangkan potensi dirinya. Akan tetapi di satu sisi pendidikan

formal memerlukan biaya yang tidak sedikit. Biaya yang tinggi menjadi salah satu

faktor penghambat memenuhi kebutuhan tersebut.

Dengan tingginya biaya pendidikan, perekenomian keluarga sangat berpengaruh

dalam hal ini, terutama bagi perekenomian keluarga yang masih rendah. Dalam

(2)

khususnya masyarakat di desa dengan masyarakat di kota. Kondisi seperti ini

cenderung merujuk pada keadaan ekonomi dan sosial seseorang dalam kaitannya

dengan status dan peranan yang dimiliki individu di dalam masyarakat.1

Tingkat perkenomian di desa dengan di kota sangat jauh berbeda. Di desa tingkat

perekonomian masyarakatnya masih bisa dikatakan rendah. Hal ini dikarenakan

faktor dari pekerjaan dan penghasilan yang masih kurang dari cukup, seperti halnya

bagi para nelayan. Nelayan merupakan salah satu pekerjaan yang memiliki

penghasilan yang tidak menetap tergantung kepada hasil yang didapat dari melaut.

Dilihat dari segi pemilikan alat tangkap ikan, nelayan dapat dibedakan menjadi tiga

kelompok, yaitu nelayan buruh, nelayan juragan, dan nelayan perorangan.2

Bagi Pemerintah fungsi utama sekolah desa adalah menyiapkan murid untuk bisa

hidup lebih baik di desa.3 Mereka sangat diharapkan untuk bisa melanjutkan

pendidikan ke jenjang yang setinggi – tingginya, tetapi keinginan tersebut sering tidak terpenuhi karena faktor ekonomi keluarga yang hanya bekerja sebagai nelayan.

Hal ini sangat disayangkan terhadap anak – anak yang ingin melanjutkan pendidikan mereka. Situasi dan kondisi seperti ini dapat dilihat di beberapa daerah khususnya di

Kota Medan. Kota medan merupakan Ibukota dari Provinsi Sumatera Utara.Kota

1

Dalam kamus besar Bahasa Indonesia, sosial adalah sesuatu yang berhubungan dengan masyarakat, dan ekonomi adalah kegiatan manusia untuk memenuhi kebutuhannya.

2

Nelayan buruh adalah nelayan yang bekerja dengan alat tangkap milik orang lain. Nelayan juragan adalah nelayan yang memiliki alat tangkap yang dioperasikan oleh orang lain. Dan nelayan perorangan adalah nelayan yang memiliki peralatan tangkap sendiri, dan dalam pengoperasiannya tidak melibatkan orang lain. Lihat tulisan dari Mulyadi S, Ekonomi Kelautan, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2005, hal 7.

3

(3)

Medan memiliki banyak Kecamatan, salah satunya yaitu Kecamatan Medan Labuhan.

Di Kecamatan Medan Labuhan terdapat salah satu Desa yang tingkat pendidikannya

masih rendah karena tingkat perekonomian keluarga yang belum mencukupi. Desa itu

lebih dikenal dengan nama Desa Pauh, akan tetapi nama asli desa itu adalah Desa

Terjun Jalan Jala Terjun Medan. Dengan demikian orang – orang luar lebih banyak menyebutkan daerah ini dengan nama Desa Pauh. Desa ini bisa ditempuh dari pusat

Kota Medan dengan waktu perjalanan ± 1½ jam.

Desa Pauh merupakan desa yang berada di daerah Kecamatan Medan Labuhan,

lebih tepatnya berada di Jalan Jala X Lingkungan 14. Penduduk asli desa ini adalah

Etnis Melayu,4 kemudian orang – orang Melayu disini mulai menyewakan tanah ikan yang akan digunakan masyarakat yang berprofesi sebagai nelayan untuk

mendapatkan ikan yang nantinya akan dijual kembali. Maka dari itu tidak heran

apabila di desa ini banyak bermukim etnis Cina. 5

4

Wawancara, Sarbiyah, Desa Pauh Jalan Jala Terjun Medan, pada pukul 16.00 tanggal 26 Februari 2017.

5

(4)

Masyarakat yang berprofesi sebagai nelayan akan mempengaruhi tingkat

perekonomian di Desa Pauh. Perekonomian yang rendah juga akan mempengaruhi

tingkat pendidikan anak – anak mereka. Tingkat pendidikan dikategorikan menjadi pendidikan formal dan pendidikan informal. Tingkat pendidikan formal bagi anak – anak di Desa Pauh lebih tepatnya di Jalan Jala X Lingkungan 14 tahun 1960 – 1982 belum mencapai tingkat Perguruan Tinggi, hanya sampai tingkat Sekolah Menengah

Atas saja.

Sekolah yang digunakan masyarakat di Desa ini adalah sekolah yang berada

diluar Desa Pauh misalnya sekolah – sekolah yang terdapat di daerah Hamparan Perak, karena di Desa Pauh ini belum didirikan sekolah yang bisa digunakan

masyarakat setempat. Selain pendidikan formal, anak – anak di Desa Pauh juga mengikuti pendidikan informal seperti bagi anak laki - laki mereka ikut memancing

ikan dengan orang tuanya dengan tujuan agar mereka dapat membantu mencari

nafkah. Begitu juga dengan anak perempuan, mereka diajarkanuntukbisa memasak,

mengaturrumah, belajar mengaji dan membuat ambai. Hal inilah yang membuat

penulis tertarik untuk melakukan penelitian ke Desa Pauh.

Dari penjelasan di atas, maka penelitian ini diberi judul “ Pendidikan Anak –

Anak Nelayan di Desa Pauh Jalan Jala X Terjun Medan (1960-1982)“. Tahun

1960 dijadikan sebagai batasan awal penelitian dilatar belakangi karena Desa Pauh

(5)

anak mereka. Sebelum masuknya Cina , orang – orang Melayu ini tidak ada yang menyekolahkan anak mereka, melainkan hanya ikut mencari ikan dengan ayahnya.

Tahun 1982 dijadikan sebagai batasan akhir penelitian dilatar belakangi karena

tahun 1982 itu Desa Pauh ini sudah didirikan sebuah Sekolah Dasar Negeri (SDN)

yang kemudian bisa digunakan masyarakat setempat untuk mengikuti pendidikan

formal Sekolah Dasar, tetapi mereka tetap harus keluar dari daerah Desa Pauh untuk

melanjutkan sekolah Tingkat SMP dan SMA karena sekolah tingkat SMP dan SMA

belum ada di Desa ini. Keadaan Sekolah Dasar ini tidak seperti sekolah – sekolah yang sekarang, karena sekolah ini tidak memiliki banyak ruangan. Walaupun

demikian, sekolah ini sangat bermanfaat bagi masyarakat sekitar. Terutama untuk

kepentingan pendidikan dasar anak – anak penduduk yang bermukim di desa ini.

1.2Rumusan Masalah

Dalam melakukan sebuah penelitian, rumusan masalah merupakan landasan yang

sangat penting dari sebuah penelitian sebagai acuan untuk memudahkan peneliti

dalam proses pengumpulan data dan analisis data. Dari latar belakang yang telah

dipaparkan di atas, maka penelitian ini mencoba menjelaskan tentang Pendidikan

Anak – Anak Nelayan di Desa Pauh Jalan Jala XTerjun Medan. Penjabaran permasalahan yang akan dikaji dalam penelitian ini akan dipandu melalui

(6)

1. Bagaimana kondisi kehidupan nelayan di Desa Pauh Jalan Jala

XTerjun Medan tahun 1960 - 1982?

2. Bagaimanapendidikan anak – anak nelayan di Desa Pauh Jalan Jala XTerjun Medantahun 1960 - 1982 ?

1.3Tujuan dan Manfaat Penelitian

Penelitian merupakan cara yang digunakan untuk menjawab masalah yang kita

rumuskan. Penelitian ini memiliki tujuan dan manfaat yang penting tentunya, bukan

hanya bagi peneliti tetapi juga bagi masyarakat umum. Tujuan dari penelitian ini

adalah sebagai berikut:

1. Untuk mengetahui kondisi kehidupan nelayan di Desa Pauh Jalan Jala

X Terjun Medantahun 1960 - 1982.

2. Untuk mengetahui pendidikan anak – anak nelayan di Desa Pauh Jalan Jala X Terjun Medantahun 1960 – 1982.

Adapun manfaat dalam penelitian adalah sebagai berikut :

1. Bagi Ilmu Sejarah, yaitu dapat menambah referensi terhadap sejarah

pendidikan.

2. Bagi masyarakat, yaitu dapat memberikan informasi mengenai sistem

sosial masyarakat di pedesaan dan perekonomian yang berpengaruh

terhadap pendidikan anak – anak di desa tersebut.

3. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi mengenai salah

(7)

pendidikan anak – anaknya. Selain itu penelitian ini juga memberikan informasi mengenai perkembangan yang terjadi di desa tersebut.

1.4Tinjauan Pustaka

Mulyadi S dalam Ekonomi Kelautan (2005), menjelaskan mengenai tentang

gambaran umum dari nelayan dan wilayah pesisir. Selain itu buku ini juga

menjelaskan mengenai beberapa masalah yang sering dihadapi oleh para nelayan dan

cara mengantisipasi masalah tersebut. Dengan demikian buku ini akan membantu

peneliti untuk mengetahui cara – cara yang dapat diupayakan dalam mengantisipasi suatu masalah didalam kelautan.

Abu Ahmadi, dkk dalam Ilmu Sosial Dasar (1991), di dalamnya menceritakan

tentang pengertian dari ilmu sosial yang mencakup mengenai penduduk, masyarakat

dan kebudayaan. Selain itu di dalam buku ini juga menceritakan mengenai perbedaan

antara masyarakat perkotaan dengan masyarakat pedesaan. Maka dari itu buku ini

dapat membantu penulis dalam mengetahui masyarakat di desa.

Mubyarto dalam Nelayan dam Kemiskinan: Studi Ekonomi Antropologi di Dua

Desa Pantai (1984), menjelaskan mengenai masalah ekonomi pada nelayan. Selain

itu juga buku ini menjelaskan mengenai analisa masalah pembangunan di dua desa

nelayan. Oleh karena itu buku ini dapat dijadikan penulis sebagai pembanding

(8)

Karya dari Masjkuri dan Sutrisno Kutoyo dalam bukunya yang berjudul Sejarah

Pendidikan Daerah Sumatera Utara (1981). Di dalam buku ini menceritakan tentang

bagaimana awal mulanya sejarah pendidikan di Sumatera Utara. Selain itu juga buku

ini menjelaskan tentang kedatangan bangsa Belanda ke Sumatera Utara dalam

menguasai daerah Sumatera Timur dan Tapanuli Utara. Buku ini dapat menambah

referensi penulis untuk menceritakan tentang pendidikan Pemerintah Hindia Belanda

di Sumatera Timur.

Karya dari Kadir Abdul dalam bukunya yang berjudul Analisis Profil Rumah

Tangga Nelayan di Sumatera Utara 1992 (1993). Dalam buku ini menjelaskan

mengenai kondisi para nelayan di Sumatera Utara pada tahun 1992 selain itu buku ini

juga menjelaskan mengenai analisis di beberapa daerah tentang nelayan, dengan

demikian buku ini dapat menjadi referensi pembanding penulis untuk

(9)

1.5Metode Penelitian

Metode penelitian sejarah lazim juga disebut metode sejarah, metode itu sendiri

berarti cara, jalan, atau petunjuk pelaksanaan atau petunjuk teknis. Oleh karena itu,

metode sejarah dalam pengertiannya yang umum adalah penyelidikan atas suatu

masalah dengan mengaplikasikan jalan pemecahannya dari perspektif sejarah.6Setiap

melakukan penelitian, metode penelitian wajib digunakan sebagai pedoman untuk

tahap – tahap melakukan sebuah penelitian.

Metode penelitian adalah sekumpulan prinsip dan aturan sistematis yang

dimaksudkan untuk memberikan bantuan secara efektif dalam usaha untuk

mengumpulkan bahan – bahan sejarah, kemudian menilainya secara kritis untuk selanjutnya menyajikannya dalam suatu sintesis dari hasil - hasilnya, yang biasanya

dibentuk dalam tulisan. Dalam penerapannya, metode sejarah menggunakan empat

tahapan, yaitu Heuristik, Kritik, Interpretasi dan Historiografi.

Tahap yang pertama adalah Heuristik. Heuristik yaitu proses mengumpulkan dan

menemukan data di dalam suatu penelitian. Metode yang digunakan dalam tahap

heuristik ini adalah studi pustaka dan studi lapangan. Studi pustaka ini dilakukan

untuk mengumpulkan sumber–sumber atau data–data berdasarkan buku–buku, skripsi, disertasi, tesis, jurnal dan yang lainnya. Dalam melaksanakan tahap heuristik

ini peneliti telah melakukanpenelitian kepustakaan diberbagai perpustakaan seperti di

6

Dudung Abdurrahman, Metode Penelitian Sejarah,Ciputat: PT.Logos Wacana Ilmu, 1999,

(10)

Perpustakaan Universitas Sumatera Utara, Perpustakaan Universitas Negeri Medan,

Perpustakaan Tengku Lukman Sinar, Perpustakaan Daerah Sumatera Utara, dan

Perpustakaan Kota Medan. Selain studi pustaka peneliti juga telah melakukan studi

lapanganmelalui wawancara. Wawancara ini dilakukan agar peneliti dapat

menemukan informasi dari informan yang bersangkutan dengan subjek yang diteliti,

wawancara yang dilakukan merupakan wawancara bebas.

Setelah mendapatkan sumber-sumber yang diinginkan, maka tahap yang

selanjutnya adalah kritik sumber.Pada tahap ini, sumber-sumber relevan yang telah

diperoleh diverifikasi kembali untuk mengetahui keabsahannya.7Oleh karena itu perlu

dilakukan kritik, baik kritik ekstern maupun intern.Kritik ekstern mencakup seleksi

sumber-sumber yang didapatkan.Apakah sumber-sumber tersebut perlu digunakan

atau tidak dalam penelitian. Kritik intern dilakukan terhadap sumber-sumber yang

telah diseleksi. Tujuannya adalah untuk mendapatkan kredibilitas atau kebenaran isi

dari sumber tersebut.

7

(11)

Tahap selanjutnya adalah interpretasi.Interpretasi merupakan

penafsiran-penafsiran terhadap sumber-sumber yang telah dikritik. Dalam tahap ini, peneliti

telah melakukan analisa dan sintesa. Analisa berarti menguraikan sumber-sumber

yang telah dikritik sebelumnya. Dari proses analisa penulis telah memperoleh

fakta-fakta. Kemudian fakta-fakta yang telah diperoleh disintesakan sehingga mendapat

sebuah kesimpulan.8

Tahapan yang terakhir adalah historiografi. Historiografi adalah proses

mensintesakan fakta atau proses menceritakan rangkaian fakta dalam suatu bentuk

tulisan yang kritis – analitis dan bersifat ilmiah.

8

Referensi

Dokumen terkait

bahwa berdasarkan ketentuan Pasal 63 ayat (2) Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah sebagaimana telah diubah beberapa

(3) Bagi peneliti yang ingin melakukan penelitian lebih lanjut dengan dengan tahapan penyampaian dari teori belajar Bruner untuk mendapatkan rata-rata hasil belajar

(memotong bagian tertentu produk) dengan cara yang tertentu (menggunakan.. suatu jenis pahat) adalah merupakan variabel yang penting dalam rangka. penentuan

Arsitektur Ekologi merupakan arsitektur yang berwawasan lingkungan ekologis, memperhatikan keseimbangan pembangunan antara lingkungan alam sebagai lokasi tapak

Padahal atraksi tersebut merupakan brand dari Desa Wisata Menari, seharusnya atraksi wisata ini tidak perlu dijadikan atau dimasukan ke dalam paket wisata karena akan membuat

Untuk analisis volatilitas akan digunakan Wavelet Variansi, untuk analisis pertumbuhan ekonomi yang dilihat dari suatu co-movement dari 2 negara yang berbeda akan

Berkaitan dengan kriptografi caesar cipher dan affine cipher tersebut, penulis tertarik untuk membuat program aplikasi dari komposisi kriptografi klasik dengan memperhatikan

Neuropati otonom dapat menyebabkan disfungsi ereksi (impotensi seksual) pada 25% pasien pria dan disfungsi gastrointestinal serta infeksi saluran kemih. Prevalensi