PENGARUH SISTEM PENDIDIKAN PONDOK
PESANTREN TERHADAP PEMBELAJARAN
MATEMATIKA DI SMP ANNUR
Mata Kuliah Problematika Diampu oleh Prof. Dr. Sunardi, M.Pd
Disusunoleh :
SITI NUR AZIZAH
NIM : 160220101019
PROGRAM MAGISTER PENDIDIKAN MATEMATIKA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ... i
DAFTAR ISI ... ii
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pemilihan Judul ... 1
1.2 Rumus masalah... 3
1.3 Tujuan Penulisan ... 3
1.4 Manfaat Penulisan ... 3
BAB II PEMBAHASAN 2.1 Sistem pendidikan pondok pesantren ... 4
2.2 pembelajaran matematika ... 5
2.3 Sistem pendidikan pondok pesantren terhadap pembelajaran matematika 6
2.4 Solusi ... 9
BAB III PENUTUP
Kesimpulan ...
16
Saran ...
17
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
Belajar merupakan suatu proses yang mengakibatkan adanya perubahan perilaku baik potensial maupun aktual dan bersifat relatif permanen sebagai akibat dari latihan dan pengalaman. Sedangkan kegiatan pembelajaran adalah kegiatan interaksi antara peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Dalam kegiatan pembelajaran siswa dituntut keaktifannya. Aktif yang dimaksud adalah siswa aktif bertanya, mempertanyakan, mengemukakan gagasan dan terlibat aktif dalam kegiatan pembelajaran, karena belajar memang merupakan suatu proses aktif dari siswa dalam membangun pengetahuannya.
Dalam pembelajaran matematika seringkali siswa merasa kesulitan dalam belajar, selain itu belajar siswa belum bermakna, sehingga pengertian siswa tentang konsep salah. Rendahnya prestasi disebabkan oleh faktor siswa yaitu mengalami masalah secara komprehensip atau secara parsial. Sedangkan guru yang bertugas sebagai pengelola pembelajaran seringkali belum mampu menyampaikan materi pelajaran kepada siswa secara bermakna, serta penyampaiannya juga terkesan monoton tanpa memperhatikan potensi dan kreativitas siswa sehingga siswa merasa bosan karena siswa hanya dianggap sebagai botol kosong yang siap diisi dengan materi pelajaran.
Pondok Pesantren pada dasarnya adalah sebuah asrama pendidikan Islam tradisional dimana para siswanya tinggal bersama dan belajar ilmu-ilmu keagamaan di bawah bimbingan guru yang lebih dikenal dengan sebutan Kiyai dan ustad/ustadah.
1.2. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah yang diangkat dalam penulisan makalah ini adalah sebagai berikut.
1. Adakah pengaruh sistem pendidikan pondok pesantren terhadap pembelajaran matematika?
2. Bagaimana alternatif solusi untuk mengatasi masalah yang dihadapi?
1.3. Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:
1) Menginformasikan masalah yang ditemui di sekolah yang berbasis pondok pesantren dalam pembelajaran matematika.
2) Untuk mengetahui alternatif solusi untuk mengatasi problematika yang dihadapi.
1.4. Manfaat Penulisan
BAB II PEMBAHASAN
2.1. Sistem Pendidikan Pondok Pesantren
Sistem pendidikan pondok pesantren dapat diartikan serangkaian komponen pendidikan dan pengajaran yang saling berkaitan yang menunjang pencapaian tujuan yang telah ditetapkan oleh pondok pesantren. Pondok pesantren tidak mempunyai rumusan yang baku tentang sistem pendidikan yang dapat dijadikan sebagai acuan bagi semua pendidikan di pondok pesantren. Hal ini disebabkan karakteristik pondok pesantren sangat bersifat personal dan sangat tergantung pada Kiai pendiri. Pondok pesantren mempunyai tujuan keagamaan, sesuai dengan pribadi dari Kiai pendiri. Sedangkan metode mengajar dan kitab yang diajarkan kepada santri ditentukan sejauh mana kualitas ilmu pengetahuan Kiai dan dipraktekkan sehari-hari dalam kehidupan. Kebiasaan mendirikan pondok pesantren dipengaruhi oleh pengalaman pribadi Kiai semasa belajar di pondok pesantren. Amin Rais, mengemukakan bahwa dalam mekanisme kerjanya, sistem yang ditampilkan pondok pesantren mempunyai keunikan dibandingkan dengan sistem yang diterapkan dalam pendidikan pada umumnya, yaitu:
1. Memakai sistem tradisional yang mempunyai kebebasan penuh dibandingkan dengan sekolah modern, sehingga terjadi hubungan dua arah antara santri dan Kiai.
2. Kehidupan di pesantren menampakkan semangat demokrasi karena mereka praktis bekerja sama mengatasi problema nonkurikuler mereka. 3. Sistem pondok pesantren mengutamakan kesederhanaan, idealisme,
persaudaraan, persamaan, rasa percaya diri dan keberanian diri.
4. Independen alumni pondok pesantren mulai ada pergeseran, karena mulai banyak alumni pondok pesantren yang menduduki jabatan publik.
2.2. Pembelajaran Matematika
Berbagai pendapat muncul mengenai definisi matematika, dipandang dari pengetahuan dan pengalaman masing- masing yang berbeda. Ada yang mengatakan bahwa matematika itu bahasa simbol; matematika adalah bahasa numerik; matematika adalah bahasa yang dapat menghilangkan sifat kabur, majemuk dan emosional, dan masih banyak lagi yang lainnya.
Banyak jawaban yang muncul terhadap pertanyaan "what is matematics?, diantaranya ada yang mendefinisikan" mathematics is power dan " mathematics is a tool ". Mathematics is power , Ruseffendi ET (1980 : 148) mengemukakan bahwa matematika terbentuk sebagai hasil pemikiran manusia yang berhubungan dengan ide, proses, dan penalaran. Simbol ataau notasi dalam matematika mempunyai peranan penting dalam mengkomunikasikan ide-ide dalam membangun matemaiika. Terbentuknya suatu konsep matematika melalui proses berikut, adanya simbol-simbol dari ide-ide dengan mengkomunikasikan simbol-simbol akan membangun konsep-konsep matematika sebagai kekuatan. Kline (1973) dalam bukunya mengatakan matematika bukanlah pengetahuan yang menyendiri yang dapat sempurna karena dirinya sendiri, tetapi adanya matematika itu terutama untuk membantu manusia dalam memahami dan dan menguasai persoalan sosial, ekonomi dan alam. Matematika tumbuh dan berkembang karena proses berpikir, dikatakan sebagai alat karena matematika dapat membantu mengembangkan ilmu yang lain memecahkan masalah kehidupan serta mengembangkan ilmu untuk dirinya sendiri dan dikkembangkan untuk kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Karakteristik pembelajaran matematika diantaranya: pembelajaran matematika adalah berjenjang, pembelajaran matematika mengikuti metoda spiral, pengajaran matematika menekankan pola berfikir deduktif, pembelajaran matematika menganut kebenaran konsistensi.
bahwa objek tidak langsung dari mempelajari matematika adalah agar siswa memiliki kemampuan memecahkan masalah. Dari pendapat Gagne dan tujuan Kurikulum Matematika, dapat ditarik kesimpulan bahwa untuk dapat memecahkan suatu masalah, para siswa perlu memiliki kemampuan bernalar yang dapat diperoleh melalui pembelajaran matematika.
2.3. Sistem pendidikan pondok pesantren terhadap pembelajaran matematika
Berdasarkan Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional (UU Sisdiknas) No. 20 tahun 2003, pendidikan diartikan sebagai usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif dapat mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepriba- dian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat. Pendidikan berfungsi untuk mengembangkan kemampuan serta meningkatkan mutu kehidupan dan martabat manusia. Secara psikologi, tujuan pendidikan adalah pembentukan karakter yang terwujud dalam kesatuan esensial si subyek dengan perilaku dan sikap hidup yang dimilikinya. Istilah karakter mempunyai beberapa pengertian. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mengartikan karakter sebagai tabiat, watak, sifat-sifat kejiwaan, akhlak, atau budi pekerti yang membedakan seseorang daripada yang lain (Pusat Bahasa, 2005, h. 1270).
sistem pendidikan formal formal di sekolah dan pondok pesantren ini, karena secara umum sekolah dan pondok pesantren merupakan dua lembaga pendidikan yang masing–masing memiliki keunggulan yang berbeda satu sama lain. Apabila keunggulan dari kedua lembaga pendidikan itu dipadukan, maka akan tercipta sebuah kekuatan pendidikan yang kuat dan berpotensi mampu menghasilkan generasi muda Indonesia yang unggul, handal, dan berkarakter.
Sekolah berbasis pesantren merupakan lembaga pendidikan formal tingkat menengah pertama yang dipadukan dengan sistem pendidikan pesantren, dimana kurikulum pelajaran pesantren dimasukan kedalam kurikulum sekolah. Perpaduan kedua bentuk institusi pendidikan pesantren dan sekolah umum sebagaimana dikatakan oleh Nurcholis Madjid bahwa akan melahirkan sistem pendidikan Islam yang komprehensif, tidak saja menekankan terhadap khasanah keilmuan Islam klasik tetapi juga mempunyai integritas keilmuan modern.
Peraturan Menteri (Permen) nomor 23 tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan secara jelas menyiratkan bahwa kompetensi yang harus dimiliki oleh peserta didik setelah mempelajari matematika yaitu kemampuan pemecahan masalah yang meliputi kemampuan untuk memahami masalah, merancang model matematika, menyelesaikan model dan menafsirkan solusi yang diperoleh. Kompetensi lain yang diharapkan dimiliki oleh peserta didik yaitu memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan, yaitu memiliki rasa ingin tahu, perhatian, dan minat dalam mempelajari matematika, serta sikap ulet dan percaya diri dalam pemecahan masalah.
Namun, dari hasil observasi proses belajar mengajar di kelas VIII SMP ANNUR Pondok Pesantren Annur AL Fadhol Srono serta diskusi dengan guru mata pelajaran Matematika yang lain, terindikasi beberapa permasalahan dalam proses belajar mengajar, diantaranya:
a) Kemampuan siswa, khususnya dalam pemecahan masalah matematika masih memerlukan perhatian khusus.
c) Siswa lebih berorientasi untuk memecahkan soal-soal yang dapat diselesaikan dengan prosedur rutin dan kurang memperhatikan bahwa kompetensi yang dituntut adalah kemampuan dalam pemecahan masalah d) Siswa kurang terbiasa untuk memecahkan masalah. Ini yang merupakan
indikasi minimnya kesempatan berlatih dalam proses belajar mengajar di kelas.
e) Sebagian besar siswa belum mampu mengkomunikasikan gagasannya dengan menggunakan simbol-simbol matematika, tabel dan grafik
f) Terdapat kesalahan prosedur (algoritma) dalam proses penyelesaian masalah
g) Masih terdapat kecendrungan terjadi kesalahan penulisan notasi ataupun langkah dalam pemecahan masalah.
Selain permasalahan diatas adapun permasalahan dari kurikulum pondok dan sekolahan, sehingga berdampak pada pembelajaran siswa:
1. Siswa kurang belajar karena Kegiatan siswa yang terus menerus mulai jam 03.00 pagi sampai jam 11.00 malam.
2. siswa akan lebih berkonsentrasi pada pembelajaran diniyah daripada pembelajaran skolah ormal terutama pembelajaran matematika, karena waktu lebih kepembelajaran diniyah
3. ketika sekolah formal siswa akan membawa sejumlah tugas dari pembelajaran diniyah, contoh ketika pembelajaran matematika siswa membaca kitab yang harus dihafal.
4. Dan berbagai aktifitas, sehingga siswa ketika diberi waktu senggang/ untuk belajar siswa justru akan istirahat.
sebagainya), pembelajaran kontekstual, inkuiri, dicovery learning , problem based learning, project based learning, problem possing, dan masih banyak pendekatan lainnya. Namun, dengan memperhatikan muara dari pembelajaran matematika serta karakteristik masalah yang dialami oleh siswa kelas VIII SMP ANNUR Srono, pendekatan Problem-Based Learning merupakan salah satu pendekatan yang relevan.
2.4. Solusi
Suatu masalah dalam matematika sering diidentikkan dengan soal matematika. Sehingga apabila seseorang dihadapkan pada suatu masalah dalam hal ini soal matematika, maka akan ada beberapa kemungkinan yang mungkin terjadi di dalam proses pemecahan masalah. Salah satu diantaranya adalah ia tidak mempunyai gambaran tentang penyelesaiannya tetapi berkeinginan untuk menyelesaikannya, maka dapat dikatakan orang tersebut berhadapan dengan suatu masalah. Sutawidjaja (1998: 2) mengatakan bahwa “ suatu soal merupakan suatu masalah bagi seseorang apabila diprlukan dua syarat: (1) orang itu tidak mempunyai gambaran tentang jawaban soal itu, dan (2) orang itu berkeinginan atau berkemauan untuk menyelesaikan soal tersebut’.Ini berhati suatu soal mepuakan masalah atau tidak bagi seseorang sangat relaitf bagi orang tersebut. Suparno (1997:6) menyatakan bahwa “mengajar bukanlah suatu kegiatan memindahkan pengetahuan dari guru ke siswa, melainkan suatu kegiatan yang memungkinkan siswa membangun sendiri pengetahuannya”. Dalam pembelajaran matematika terutama dalam belajar dan mengajar pemecahan masalah seorang guru memposisikan dirinya sebagai fasilitator bagi siswa. Dalam peranannya sebagai fasilitator seperti yang dijelaskan oleh Munandar (1992: 45) seorang guru seharusnya:
1. Mendorong belajar mandiri sebanyak mungking 2. Dapat menerima gagasan- gagasan dari semua siswa
3. memupuk siswa untuk memberi kritik secara konstuktif dan untuk memberikan penilaian diri sendiri
5. dapat menerima perbedaan menurut waktu dan kecepatan antar siswa dalam kemampuan berpikir.
6. Mengatur waktu belajar dan istirahat siswa berdasarkan kesepakatan pihak pondok pesantren
7. Memotivasi untuk bersungguh-sungguh dalam belajar agama dan pembelajaran sekolah
Untuk dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam memecahkan masalah sangatlah diperlukan suatu strategi khusus. Perry dan Conroy (dalam Sutawidjaja, 1998: 9) mengemukakan mengenai strategi yang dapat digunakan untuk meningkatkan kemampuan memecahkan masalah yaitu: 1. strategi untuk meningkatkan kemampuan untuk memecahkan masalah
yang berkaitam dengan siswa;
a. Siswa harus diberanikan untuk menerima ketidaktahuan dan merasa senang untuk mencari tahu.
b. Setiap siswa dalam kelompok harus diberanikan untuk membuat soal atau pertanyaan
c. Siswa diperbolehka memilih masalah-masalah dari sejumlah masalah yang diberikan
d. Siswa harus diberanikan untuk mengambil resiko atau mencari alternatif
2. Strategi untuk meningkatkan kemampuan memecahkan masalah yang berkaitan dengan guru;
a. Guru harus sadar akan sikap positif dan cara-cara yang mengembangkan hal ini
b. Guru harus berani mencari dan mengembangkan keterampilan siswa dalam memecahkan masalah
c. Guru harus mencari masalah yang menarik yang sering muncul secara spontan
e. Guru harus mau membiarkan pemecahan suatu masalah menurut persepsi siswa walaupun mungkin mempunyai arah yang berbeda dengan yang direncanakan.
f. Masalah tidak harus selalu diselesaikan oleh siswa. Masalah dapat dilontarkan sebagai awal dari penyajian materi baru.
Berkaitan dengan pendekatan Problem-Based Learning yang merupakan pendekatan yang relevan sebagai salah satu alternatif solusi dari masalah pendidikan matematika yang ditemui di tingkat sekolah khususnya di SMP ANNUR, ada beberapa hal yang sudah sepatutnya diperhatikan untuk masalah yang ditemui.
1. Pengajuan masalah atau pertanyaan
Pengajaran berbasis masalah bukan hanya mengorganisasikan prinsip- prinsip atau ketrampilan akademik tertentu, pembelajaran berdasarkan masalah mengorganisasikan pengajaran di sekitar pertanyaan dan masalah yang kedua-duanya secara sosial penting dan secara pribadi bermakna untuk siswa. Mereka dihadapkan situasi kehidupan nyata yang autentik , menghindari jawaban sederhana, dan memungkinkan adanya berbagai macam solusi untuk situasi itu. Menurut Arends (dalam Abbas, 2000:13), pertanyaan dan masalah yang diajukan haruslah memenuhi kriteria sebagai berikut.
a. Autentik
Yaitu masalah harus lebih berakar pada kehidupan dunia nyata siswa dari pada berakar pada prinsip-prinsip disiplin ilmu tertentu.
b. Jelas
Yaitu masalah dirumuskan dengan jelas, dalam arti tidak menimbulkan masalah baru bagi siswa yang pada akhirnya menyulitkan penyelesaian siswa.
c. Mudah dipahami
d. Luas dan sesuai dengan tujuan pembelajaran
Yaitu masalah yang disusun dan dirumuskan hendaknya bersifat luas, artinya masalah tersebut mencakup seluruh materi pelajaran yang akan diajarkan sesuai dengan waktu, ruang dan sumber yang tersedia. Selain itu, masalah yang telah disusun tersebut harus didasarkan pada tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan.
e. Bermanfaat.
Yaitu masalah yang telah disusun dan dirumuskan haruslah bermanfaat, baik siswa sebagai pemecah masalah maupun guru sebagai pembuat masalah. Masalah yang bermanfaat adalah masalah yang dapat meningkatkan kemampuan berfikir memecahkan masalah siswa, serta membangkitkan motivasi belajar siswa.
2. P e n y e l i d i k a n a u t e n t i k
Pengajaran berbasis masalah siswa melakukan penyelidikan autentik untuk mencari penyelesaian nyata terhadap masalah nyata. Mereka harus menganalisis dan mendefinisikan masalah, mengembangkan hipotesis dan membuat ramalan, mengumpulkan dan menganalisis informasi, melakukan eksperimen (jika diperlukan), membuat inferensi dan merumuskan kesimpulan. Metode penyelidikan yang digunakan bergantung pada masalah yang sedang dipelajari.
3. M e n g h a s i l k a n p r o d u k / k a r y a d a n m e m a m e r k a n n y a
Pengajaran berbasis masalah menuntut siswa untuk menghasilkan produk tertentu dalam bentuk karya nyata atau artefak dan peragaan yang menjelaskan atau mewakili bentuk penyelesaian masalah yang mereka temukan. Produk itu dapat berupa transkip debat, laporan, model fisik, video atau program komputer (Ibrahim & Nur, 2000:5-7 dalam Nurhadi, 2003:56)
4. Kerjasama.
Bekerjasama memberikan motivasi untuk secara berkelanjutan terlibat dalam tugas-tugas kompleks dan memperbanyak peluang untuk berbagi inkuiri dan dialog dan untuk mengembangkan keterampilan sosial dan keterampilan berpikir.
Adapun prosedur-prosedur PBL yang penulis sarankan dalam pembelajaran di kelas sesuai dengan fase/ tahapan pelaksanaan PBL sebagai berikut.
Fase Aktivitas guru
Fase 1: Mengorientasikan siswa pada masalah
Pembelajaran dimulai dengan menjelaskan tujuan pembelajaran dan aktivitas-aktivitas yang akan dilakukan. Dalam penggunaan PBL, tahapan ini sangat penting dimana guru/dosen harus menjelaskan dengan rinci apa yang harus dilakukan oleh siswa/siswa dan juga oleh dosen. Disamping proses yang akan berlangsung, sangat penting juga dijelaskan bagaimana guru/dosen akan mengevaluasi proses pembelajaran. Hal ini sangat penting untuk memberikan motivasi agar siswa dapat engage dalam pembelajaran yang akan dilakukan.
F a s e 2 : M e n g o rg a n i s a s i k a n s i s w a u n t u k b e l a j a r
Disamping mengembangkan ketrampilan memecahkan masalah, pembelajaran PBL juga mendorong siswa/siswa belajar berkolaborasi. Pemecahan suatu masalah sangat membutuhkan ker jasama dan sharing antar anggota. Oleh sebab itu, guru/dosen dapat memulai kegiatan pembelajaran dengan membentuk kelompok-kelompok siswa dimana masing-masing kelompok akan memilih dan memecahkan masalah yang berbeda. Prinsip-prinsip pengelompokan siswa dalam pembelajaran kooperatif dapat digunakan dalam konteks ini seperti: kelompok harus heterogen, pentingnya interaksi antar anggota, komunikasi yang efektif, adanya tutor sebaya, dan sebagainya.
dalam sejumlah kegiatan penyelidikan dan hasil-hasil penyelidikan ini dapat menghasilkan penyelesaian terhadap permasalahan tersebut.
F a s e 3 : M e m b a n t u p e n y e l i d i k a n m a n d i r i d a n k e l o m p o k Penyelidikan adalah inti dari PBL. Meskipun setiap situasi permasalahan memerlukan teknik penyelidikan yang berbeda, namun pada umumnya tentu melibatkan karakter yang identik, yakni pengumpulan data dan eksperimen, berhipotesis dan penjelasan, dan memberikan pemecahan. Pengumpulan data dan eksperimentasi merupakan aspek yang sangat penting. Pada tahap ini, guru harus mendorong siswa untuk mengumpulkan data dan melaksanakan eksperimen (mental maupun aktual) sampai mereka betul-betul memahami dimensi situasi permasalahan. Tujuannya adalah agar siswa mengumpulkan cukup informasi untuk menciptakan dan membangun ide mereka sendiri. Pada fase ini seharusnya lebih dari sekedar membaca tentang masalah-masalah dalam buku-buku. Guru membantu siswa untuk mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya dari berbagai sumber, dan ia seharusnya mengajukan pertanyaan pada siswa untuk berifikir tentang masalah dan ragam informasi yang dibutuhkan untuk sampai pada pemecahan masalah yang dapat dipertahankan.
F a s e 4 : M e n g e m b a n g k a n d a n m e n y a j i k a n a r t i f a k ( h a s i l k a r y a ) d a n mempamerkannya
BAB III PENUTUP
3.1 Simpulan
Berdasarkan pembahasan yang telah dipaparkan pada bab sebelumnya, dapat disimpulkan dua hal sebagai berikut.
1. Terdapat beberapa masalah dalam pembelajaran matematika di sekolah khususnya di SMP ANNUR yang memerlukan penangan secara cepat dan inovatif tentu oleh guru sebagai fasilitator dan mediator pembelajaran di kelas. Terdapat indikasi bahwa kesenjangan yang terjadi disebabkan karena implementasi pendekatan pembelajaran yang belum mendukung secara maksimal kesempatan siswa untuk berlatih memecahkan masalah. 2. PBL adalah suatu pendekatan yang menggunakan masalah dunia nyata
sebagai suatu konteks bagi siswa untuk belajar tentang cara berpikir kritis dan keterampilan pemecahan masalah, serta untuk memperoleh pengetahuan yang esensial dari materi pelajaran. Pembelajaran berbasis masalah dirancang untuk merangsang berpikir tingkat tinggi dalam situasi berorientasi pada masalah.
3.2. Saran
DAFTAR PUSTAKA
Erman , Suherman. 2003. Strategi Pembelajaran Matematika Konterporer. Jakarta: IMSTEP Universitas Pendidikan Indonesia.
National Council of Teachers of Mathematics. (1989). Curriculum and evaluation standards for school mathematics. Reston, VA: Author.
Roh & Kyeong Ha. 2003). Problem-Based Learning in Mathematics. ERIC Digest. ERIC Clearinghouse for Science Mathematics and Environmental Education Columbus OH.
Shadiq, Fajar. 2004. Pemecahan Masalah, Penalaran dan Komunikasi. Makalah disajikan dalam diklat instruktur/Pengembang Matematika SMA Jenjang Dasar di PPPG Matematika Yogyakarta.