• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengaruh Penyuluhan Bahaya Lingkungan Kerja Panas Terhadap Pengetahuan Dan Sikap Pekerja Penggoreng Kerupuk Industri Kecil Di Wilayah Kecamatan Medan Selayang Tahun 2015

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Pengaruh Penyuluhan Bahaya Lingkungan Kerja Panas Terhadap Pengetahuan Dan Sikap Pekerja Penggoreng Kerupuk Industri Kecil Di Wilayah Kecamatan Medan Selayang Tahun 2015"

Copied!
33
0
0

Teks penuh

(1)

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Promosi Kesehatan Kerja

Promosi kesehatan pekerja didefnisikan sebagai upaya untuk mengubah perilaku yang merugikan kesehatan populasi pekerja (ontologi), agar didapat kesehatan dan kapasitas kerja yang optimal (aksiologi) dengan acara mengkombinasikan dukungan pendidikan, organisasi kerja, lingkungan dan keluarga (epistemiologi) (Kurnawidjaja, 2008).

Promosi kesehatan di tempat kerja merupakan komponen kegiatan pelayanan pemeliharaan/perlindungan kesehatan pekerja dari suatu pelayanan kesehatan kerja. Promosi kesehatan kerja didefinisikan sebagai proses yang memungkinkan pekerja untuk meningkatkan kontrol terhadap kesehatannya. Jika dilihat dalam konteks yang lebih luas, promosi kesehatan di tempat kerja adalah rangkaian kesatuan kegiatan yang mencakup manajemen dan pencegahan penyakit baik penyakit umum maupun penyakit yang berhubungan dengan perilaku serta peningkatan kesehatan pekerja secara optimal (Maulana, 2009).

2.1.1 Program Promosi Kesehatan Pekerja

(2)

Berikut ini adalah tahapan dalam penerapan promosi kesehatan yaitu:

1. Build Health Public Policy untuk memastikan bahwa pengembangan kebijakan dilakukan oleh semua sektor terkait yang berkontribusi terhadap kesinambungan penerapan promosi kesehatan.

2. Create Supportive Environment (fisik, sosial, ekonomi, budaya, dan spiritual) yang mendeteksi secara cepat perubahan di masyarakat, khususnya dalam bidang teknologi dan organisasi di tempat kerja, dan memastikan bahwa terdapat kontribusi yang positif terhadap kesehatan masyarakat.

3. Strengthen Community Action sehingga komunitas memiliki kapasitas untuk mengatur prioritas dan membuat keputusan untuk masalah-masalah yang berhubungan dengan kesehatan mereka.

4. Develop Personal Skills untuk mengajarkan skill dan pengetahuan kepada masyarakat agar dapat mengatasi perubahan dalam komunitas mereka.

5. Reorient Health Services untuk menciptakan sistem yang berfokus pada kebutuhan setiap orang dan merangkul partner sejati di antara provider dan user pelayanan kesehatan (WHO, 1986).

2.2 Penyuluhan

(3)

memperhitungkan faktor sosial, ekonomi, dan budaya setempat. Penyuluhan kesehatan pada dasarnya adalah suatu proses mendidik individu/masyarakat supaya mereka dapat memecahkan masalah-masalah kesehatan yang dihadapi. Seperti halnya proses pendidikan lainnya, pendidikan kesehatan mempunyai unsur masukan-masukan yang setelah diolah dengan teknik-teknik tertentu akan menghasilkan keluaran yang sesuai dengan harapan atau tujuan kegiatan tersebut. Tidak dapat disangkal, pendidikan bukanlah satu-satunya cara mengubah perilaku, tetapi pendidikan juga mempunyai peranan yang cukup penting dalam perubahan pengetahuan setiap individu (Sarwono, 2004).

Penyuluhan kesehatan adalah gabungan berbagai kegiatan dan kesempatan yang berlandaskan prinsip-prinsip belajar untuk mencapai suatu keadaan, dimana individu, keluarga, kelompok atau masyarakat secara keseluruhan ingin hidup sehat, tahu bagaimana caranya dan melakukan apa yang bisa dilakukan, secara perseorangan maupun secara kelompok dengan meminta pertolongan (Effendy, 2003).

(4)

2.2.1 Metode Penyuluhan

Menurut Notoatmodjo (2012), metode penyuluhan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi tercapainya suatu hasil penyuluhan secara optimal. Metode yang dikemukakan antara lain :

1. Metode penyuluhan perorangan (individual)

Dalam penyuluhan kesehatan metode ini digunakan untuk membina perilaku baru atau seseorang yang telah mulai tertarik pada suatu perubahan perilaku atau inovasi. Dasar digunakan pendekatan individual ini karena setiap orang mempunyai masalah atau alasan yang berbeda-beda sehubungan dengan penerimaan atau perilaku baru tersebut. Bentuk dari pendekatan ini antara lain:

a. Bimbingan dan penyuluhan

Dengan cara ini kontak antara klien dengan petugas lebih intensif. Setiap masalah yang dihadapi oleh klien dapat dikoreksi dan dibantu penyelesaiannya. Akhirnya klien akan dengan sukarela, berdasarkan kesadaran dan penuh pengertian akan menerima perilaku tersebut.

b. Wawancara

(5)

2. Metode penyuluhan kelompok

Dalam memilih metode penyuluhan kelompok harus mengingat besarnya kelompok sasaran serta tingkat pendidikan formal pada sasaran. Untuk kelompok yang besar, metodenya akan berbeda dengan kelompok kecil. Efektifitas suatu metode akan tergantung pula pada besarnya sasaran penyuluhan. Metode ini mencakup :

a. Kelompok besar, yaitu apabila peserta penyuluhan lebih dari 15 orang. Metode baik untuk kelompok ini adalah ceramah dan seminar.

1) Ceramah

Metode ini baik untuk sasaran yang berpendidikan tinggi maupun rendah. 2) Seminar

Metode ini hanya cocok untuk sasaran kelompok besar dengan pendidikan menengah ke atas. Seminar adalah suatu penyajian dari seseorang ahli atau beberapa orang ahli tentang suatu topik yang dianggap penting dan dianggap hangat di masyarakat.

b. Kelompok kecil, yaitu apabila peserta penyuluhan kurang dari 15 orang. Metode yang cocok untuk kelompok ini adalah diskusi kelompok, curah pendapat, bola salju, memainkan peranan, permainan simulasi.

3. Metode penyuluhan massa

(6)

pendidikan dan sebagainya, maka pesan kesehatan yang akan disampaikan harus dirancang sedemikian rupa sehingga dapat ditangkap oleh massa tersebut. Pada umumnya bentuk pendekatan masa ini tidak langsung, biasanya menggunakan media massa. Beberapa contoh dari metode ini adalah ceramah umum, pidato melalui media massa, simulasi, dialog antara pasien dan petugas kesehatan, sinetron, tulisan di majalah atau koran, bill board yang dipasang di pinggir jalan, spanduk, poster dan sebagainya

2.2.2 Media Penyuluhan

Menurut Notoatmodjo (2012), penyuluhan tidak dapat lepas dari media karena melalui media pesan disampaikan dengan mudah untuk dipahami. Media dapat menghindari kesalahan persepsi, memperjelas informasi, dan mempermudah pengertian. Media promosi kesehatan pada hakikatnya adalah alat bantu promosi kesehatan. Dengan demikian, sasaran dapat mempelajari pesan-pesan kesehatan dan mampu memutuskan mengadopsi perilaku sesuai dengan pesan yang disampaikan. Berdasarkan fungsinya sebagai penyaluran pesan-pesan kesehatan, media dibagi menjadi 3 (tiga) (Notoatmodjo, 2012) yakni:

1. Media cetak sebagai alat untuk menyampaikan pesan-pesan kesehatan yaitu:

a. Flip chart (lembar balik) ialah media penyampaian pesan kesehatan dalam bentuk lembar balik, dimana tiap lembar berisi gambar peragaan dan dibaliknya berisi informasi yang berkaitan dengan gambar tersebut.

(7)

c. Poster ialah lembaran kertas dengan kata-kata dan gambar atau simbol untuk menyampaikan pesan/ informasi kesehatan.

d. Leaflet ialah penyampaian informasi kesehatan dalam bentuk kalimat, gambar ataupun kombinasi melalui lembaran yang dilipat.

e. Flyer (selebaran) seperti leaflet tapi tidak dalam bentuk lipatan.

f. Rubrik atau tulisan pada surat kabar atau majalah mengenai bahasan suatu masalah kesehatan.

g. Foto yang mengungkapkan informasi-informasi kesehatan

2. Media elektronik sebagai saluran untuk menyampaikan pesan-pesan kesehatan memiliki jenis yang berbeda, antara lain:

a. Televisi: penyampaian informasi kesehatan dapat dalam bentuk sandiwara, diskusi, kuis, cerdas cermat seputar masalah kesehatan.

b. Radio: penyampaian pesan-pesan kesehatan dalam bentuk tanya jawab, sandiwara radio, ceramah tentang kesehatan.

c. Video: penyampaian informasi kesehatan dengan pemutaran video yang berhubungan dengan kesehatan.

d. Slide dan Film strip

(8)

2.2.3 Proses Adopsi dalam Penyuluhan

Berbicara tentang penyuluhan tidak terlepas dari bagaimana agar sasaran penyuluhan dapat mengerti, memahami, tertarik dan mengikuti apa yang kita suluhkan dengan baik dan benar atas kesadarannya sendiri berusaha untuk menerapkan ide-ide baru tersebut dalam kehidupannya. Menurut penelitian Rogers (1974), indikasi yang dapat dilihat pada diri seseorang pada setiap tahapan adopsi dalam penyuluhan adalah sebagai berikut :

1. Tahap sadar (awarness), pada tahap ini seseorang sudah mengetahui sesuatu yang baru karena hasil dari berkomunikasi dengan pihak lain.

2. Tahap minat (interest), pada tahap ini seseorang mulai ingin mengetahui lebih banyak tentang hal-hal baru yang sudah diketahuinya dengan jalan mencari keterangan atau informasi yang lebih terperinci.

3. Tahap menilai (evaluation), pada tahap ini seseorang mulai menilai atau menimbang-nimbang serta menghubungkan dengan keadaan atau kemampuan diri, misalnya kesanggupan serta resiko yang akan ditanggung, baik dari segi sosial maupun ekonomis.

4. Tahap mencoba (trial), pada tahap ini seseorang mulai menerapkan atau mencoba dalam skala kecil sebagai upaya mencoba untuk meyakinkan apakah dapat dilanjutkan.

(9)

2.3 Pengetahuan

Pengetahuan adalah hasil penginderaan manusia, atau hasil tahu seseorang terhadap objek melalui indera yang dimilikinya (mata, hidung, telinga, dan sebagainya). Dengan sendirinya, pada waktu penginderaan sampai menghasilkan pengetahuan tersebut sangat dipengaruhi intensitas perhatian dan persepsi terhadap objek. Sebagian besar pengetahuan seseorang diperoleh melalui indera pendengaran (telinga), dan indera penglihatan (mata) (Notoatmodjo, 2012).

Pengetahuan itu sendiri dipengaruhi oleh faktor pendidikan formal. Pengetahuan sangat erat hubungannya dengan pendidikan, dimana diharapkan bahwa dengan pendidikan yang tinggi maka orang tersebut akan semakin luas pula pengetahuannya. Akan tetapi perlu ditekankan, bukan berarti seseorang yang berpendidikan rendah mutlak berpengetahuan rendah pula. Pengetahuan seseorang tentang suatu objek mengandung dua aspek, yaitu aspek positif dan negatif. Kedua aspek ini yang akan menentukan sikap seseorang semakin banyak aspek positif dan objek yang diketahui, maka akan menimbulkan sikap makin positif terhadap objek tertentu (Dewi dan Wawan, 2010)

(10)

1. Tahu (know)

Tahu diartikan sebagai mengingat sesuatu yang telah dipelajari sebelumnya, termasuk ke dalam pengetahuan tingkat ini adalah kembali (recall) terhadap suatu yang spesifik dari seluruh badan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima.

2. Memahami (Comprehension)

Memahami diartikan sebagai suatu untuk menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui dan dapat menginterpretasikan materi tersebut secara benar. Orang yang telah paham terhadap objek atau materi dan dapat menjelaskan, menyebutkan contoh, menyimpulkan, meramalkan terhadap objek yang dipelajari.

3. Aplikasi (Application)

Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi dan kondisi yang sebenarnya. Aplikasi disini dapat diartikan sebagai aplikasi atau penggunaan buku-buku, rumus, metode, prinsip dan sebagainya dalam konteks atau situasi yang lain.

4. Analisa (Analysis)

(11)

5. Sintesa (Synthesis)

Sintesa menunjukkan kepada suatu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu keseluruhan yang baru atau kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari formulasi yang telah ada.

6. Evaluasi (Evaluation)

Kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau objek.

2.4 Sikap

(12)

1. Menerima (Receiving), diartikan bahwa orang (subjek) mau dan memperhatikan stimulus yang diberikan (objek).

2. Merespon (Responding), memberikan jawaban apabila ditanya, mengerjakan dan menyelesaikan tugas yang diberikan adalah suatu indikasi dari sikap.

3. Menghargai (Valuing), mengajak orang lain untuk mengerjakan atau mendiskusikan dengan orang lain terhadap suatu masalah adalah suatu indikasi sikap tingkat tiga.

4. Bertanggung jawab (Responsible), bertanggung jawab atas segala sesuatu yang telah dipilihnya dengan segala resiko adalah merupakan sikap yang paling tinggi.

2.5 Keselamatan dan Kesehatan Kerja

Keselamatan dan kesehatan kerja merupakan instrumen yang memproteksi pekerja, perusahaan, lingkungan hidup, dan masyarakat sekitar dari bahaya akibat kecelakaan kerja. Perlindungan tersebut merupakan hak asasi yang wajib dipenuhi oleh perusahaan. K3 bertujuan mencegah, mengurangi, bahkan menihilkan risiko kecelakaan (zero accident). Penerapan konsep ini tidak boleh dianggap sebagai upaya pencegahan kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja yang menghabiskan banyak biaya (cost) perusahaan, melainkan harus dianggap sebagai bentuk investasi jangka panjang yang memberi keuntungan yang berlimpah pada masa yang akan datang (Prasetyo, 2009).

(13)

kesempurnaan baik jasmani maupun rohani tenaga kerja pada khususnya dan manusia pada umumnya, hasil karya dan budayanya menuju masyarakat makmur dan sejahtera. Sedangkan pengertian secara keilmuan adalah suatu ilmu pengetahuan dan penerapannya dalam usaha mencegah kemungkinan terjadinya kecelakaan dan penyakit akibat kerja. Keselamatan dan kesehatan kerja tidak dapat dipisahkan dengan proses produksi baik jasa maupun industri.

Budiono (2003), Keselamatan dan Kesehatan Kerja adalah suatu ilmu multidisiplin yang menerapkan upaya pemeliharaan dan peningkatan kondisi lingkungan kerja, keselamatan dan kesehatan tenaga kerja serta melindungi tenaga kerja terhadap risiko bahaya dalam melakukan pekerjaannya serta mencegah terjadinya kerugian akibat kecelakaan kerja, penyakit akibat kerja, kebakaran, peledakan, dam pencemaran lingkungan.

Menurut Mangkunegara (2002) bahwa tujuan dari keselamatan dan kesehatan kerja adalah sebagai berikut:

1. Agar setiap pegawai/tenaga kerja mendapat jaminan keselamatan dan kesehatan kerja baik secara fisik, sosial, dan psikologis.

2. Agar setiap perlengkapan dan peralatan kerja digunakan sebaik-baiknya, selektif mungkin.

3. Agar semua hasil produksi dipelihara keamanannya

4. Agar adanya jaminan atas pemeliharaan dan peningkatan kesehatan gizi pegawai/tenaga kerja.

(14)

6. Agar terhindar dari gangguan kesehatan yang disebabkan oleh lingkungan atau kondisi kerja.

7. Agar setiap pegawai/tenaga kerja merasa aman dan terlindungi dalam bekerja.

2.6 Bahaya Pekerjaan

The International Labour Organizational (1986), mendefinisikan bahaya kerja (work hazard) adalah suatu sumber potensi kerugian atau suatu situasi yang berhubungan dengan pekerja, pekerjaan dan lingkungan kerja yang berpotensi menyebabkan kerugian/gangguan.

Bahaya pekerjaan adalah faktor-faktor dalam hubungan pekerjaan yang dapat mendatangkan kecelakaan. Bahaya tersebut disebut potensial, jika faktor-faktor tersebut belum mendatangkan kecelakaan. Jika kecelakaan telah terjadi, maka bahaya tersebut sebagai bahaya nyata. Pencegahan kecelakaan berdasarkan pengetahuan tentang sebab-sebab kecelakaan. Sebab-sebab kecelakaan disuatu perusahaan diketahui dengan mengadakan analisa kecelakaan. Maka dari itu sebab-sebab dan cara analisa harus betul-betul diketahui.

(15)

Bahaya kerja diklasifikasikan dalam lima kategori, antara lain biologis, penyakit menular, kimia, lingkungan, dan bahaya psikososial. Bahaya biologis dan bahaya infeksi: agen infeksi dan biologis, seperti virus, jamur dan parasit,yang dapat ditularkan melalui kontak dengan pasien terinfeksi atau cairan tubuh kontaminasi. Penyakit menular yang menjadi perhatian besar saat ini, HIV, rubella (campak), rubella (campak jerman), herperviruses (herpes simplek), varicella (cacar air/ herpes zoster), dan cytomegalovirus (CMV), dan Mycobacterium tuberculosis (TBC). Bahaya kimia : berbagai bentuk bahan kimia yang beracun atau berpotensi mengganggu system tubuh, termasuk obat-obatan, solutions dan gas. Bahaya lingkungan dan bahaya mesin : faktor-faktor yang dihadapi dalam lingkungan kerja yang mengakibatkan atau mungkin terjadi kecelakaan, luka, strain, atau ketidaknyamanan (peralatan kurang atau mengangkat perangkat, lantai licin). Bahaya fisik : bahaya dalam lingkungan kerja seperti radiasi, listrik, suhu dan kebisingan dapat menyebabkan trauma. Bahaya psikososial: masalah antar pekerja, stress (Iftadi, 2010)

Menurut Syukri sahab (1997) dalam Suryani (2012), umumnya sumber bahaya yang ada di tempat kerja atau didalam proses produksi berasal dari:

1. Manusia

(16)

2. Mesin dan peralatan

Mesin dan peralatan sering juga menimbulkan potensi bahaya maka seluruh peralatan harus didesain, dipelihara dan digunakan dengan baik. Pengendalian potensi bahaya dapat dipengaruhi oleh bentuk peralatan, ukuran, berat ringannya peralatan, kenyamanan operator dan kekuatan yang diperlukan untuk menggunakan atau mengoperasikan peralatan kerja dan mesin – mesin.

3. Metode Kerja atau Cara Kerja

Cara kerja yang salah dapat membahayakan pekerja itu sendiri maupun orang lain disekitarnya. Cara kerja yang demikian antara lain:

a. Cara mengangkat dan mengangkut

b. Cara kerja yang mengakibatkan kecelakaan dan cedera terutama yang sering terjadi adalah pada tulang punggung.

c. Memakai Alat Pelindung Diri yang tidak semestinya dan cara pemakaiannya salah.

d. Lingkungan Kerja, Bahaya dari Lingkungan kerja dapat digolongkan atas berbagai jenis bahaya yang dapat mengaberbagai gangguan kesehatan dan penyakit akibat kerja. Bahaya tersebut antara lain berdasarkan:

1) Faktor Lingkungan Fisik

(17)

2) Faktor Lingkungan Kimia

Bahaya yang bersifat kimia berasal dari bahan – bahan yang digunakan maupun bahan yang dihasilkan selama proses produksi. Bahan ini terpapar di lingkungan kerja karena cara kerja yang salah, kerusakan atau kebocoran dari peralatan atau instalasi yang digunakan dalam proses.

3) Faktor Lingkungan Biologi

Bahaya biologi disebabkan oleh jasad renik, gangguan dari serangga maupun dari binatang lainnya yang ada di tempat kerja.

4) Faktor Ergonomi

Gangguan yang disebabkan oleh beban kerja yang terlalu berat, peralatan yang digunakan tidak serasi dengan tenaga kerja atau tidak sesuai dengan anthropometri tubuh tenaga kerja.

5) Faktor Psikologi

Gangguan jiwa yang dapat terjadi karena keadaan lingkungan sosial tempat kerja yang tidak sesuai dan menimbulkan ketegangan jiwa pada karyawan, seperti berhubungan dengan atasan dan bawahan yang tidak harmonis

2.6.1 Identifikasi Bahaya

(18)

risiko yang ada atau yang mungkin terjadi pada suatu proyek, harus diidentifikasi (Darmawi, 2008).

Identifikasi bahaya merupakan langkah penting dalam proses pengendalian risiko karena hanya setelah bahaya diketahui maka dapat dirumuskan cara mengatasinya. Identifikasi bahaya harus dimulai sejak suatu proyek dimulai yaitu pada tahap desain atau konsep dan dilanjutkan dalam bentuk yang berbeda sepanjang siklus kegiatan. Khusus untuk industri proses, identifikasi bahaya yang diterapkan terhadap suatu rancangan operasi adalah sangat penting karena :

1. Merupakan alat pemeriksa bahwa pengetahuan bidang pengendalian bahaya/risiko telah diterapkan dengan baik.

2. Laporan hasilnya akan memberikan landasan dalam pengembangan prosedur operasi yang akan dipergunakan dalam kegiatan sehari-hari.

Masih menurut Darmawi (2008) proses identifikasi harus dilakukan secara cermat dan komprehensif, sehingga tidak ada risiko yang terlewatkan atau tidak teridentifikasi. Dalam pelaksanaannya, identifikasi risiko dapat dilakukan dengan beberapa teknik, antara lain:

1. Brainstorming 2. Questionnaire

3. Industry benchmarking 4. Scenario analysis

(19)

7. Auditing 8. Inspection 9. Checklist

10. HAZOP (Hazard and Operability Studies)

Hanafi (2006) setelah risiko–risiko yang mungkin terjadi diidentifikasi dan dianalisa, perusahaan akan mulai memformulasikan strategi penanganan risiko yang tepat. Strategi ini didasarkan kepada sifat dan dampak potensial/ konsekuensi dari risiko itu sendiri. Adapun tujuan dari strategi ini adalah untuk memindahkan dampak potensial risiko sebanyak mungkin dan meningkatkan kontrol terhadap risiko. Ada lima strategi alternatif untuk menangani risiko, yaitu:

1. Menghindari risiko

2. Mencegah risiko dan mengurangi kerugian 3. Meretensi risiko

4. Mentransfer risiko 5. Asuransi

2.7 Lingkungan Tempat Kerja yang Panas

Proses produksi suatu barang didalam industri sering memerlukan suhu yang tinggi, yang diperoleh dari suatu sumber panas (dapur peleburan baja, dapur peleburan gelas, dapur pembakaran keramik dan lain-lain (Soeripto, 2008).

(20)

terjadinya perbedaan panas yang besar pula. Energi panas yang berasal dari sumber (dapur, pengecoran logam, motor atau dari sumber yang lain) akan dipancarkan secara langsung atau melalui permukaan dapur dan masuk ke lingkungan tempat kerja yang bersuhu dingin dan menyebabkan suhu udara di tempat kerja naik, dengan demikian iklim atau cuaca ditempat kerja berubah dan menimbulkan tekanan panas yang akan diterima oleh tenaga kerja yang bekerja sebagai beban panas tambahan. Panas mempunyai pengaruh yang buruk terhadap tubuh. Dalam kaitan ini, ada satu hal yang sangat penting untuk diketahui dari tenaga kerja yang bekerja di lingkungan tempat kerja yang panas yaitu; tentang sumber panas (Soeripto, 2008).

Menurut Santoso (2004) tekanan panas (heat stress) adalah beban iklim kerja yang diterima oleh tubuh manusia.Tekanan panas adalah kombinasi dari suhu udara, kelembaban udara, kecepatan gerakan udara dan suhu radiasi yang dihubungkan dengan produksi panas oleh tubuh (Suma’mur, 2009).

Tekanan panas (heat stress) adalah batasan kemampuan penerimaan panas yang diterima pekerja dari kontribusi kombinasi metabolisme tubuh akibat melakukan pekerjaan dan faktor lingkungan (seperti temperatur udara, kelembaban, pergerakan udara, dan radiasi perpindahan panas) dan pakaian yang digunakan. Pada saat heat stress mendekati batas toleransi tubuh, risiko terjadinya kelainan kesehatan menyangkut panas akan meningkat (ACGIH, 2001).

2.7.1 Sumber Panas dari Lingkungan Kerja Panas

(21)

1. Panas Metabolisme.

Tubuh manusia akan selalu menghasilkan panas selama masih hidup. Proses yang menghasilkan panas di dalam tubuh ini disebut proses metabolism. Panas metabolism meningkat, apabila beban kerja (aktivitas kerja) meningkat. Dalam rangka menjaga kelangsungan hidup maka suhu tubuh harus dipelihara agar tetap konstan (370C). kenyataan bahwa tubuh hanya memiliki kemampuan yang sangat terbatas (sedikit) dalam menimbun (menyimpan) panas yang dihasilkan dari metabolism. Oleh karena itu kelebihan panas metabolisme yang terbanyak (yang dihasilkan) harus dibuang atau dikeluarkan dari dalam tubuh ke udara sekitarnya (udara lingkungan tempat kerja).

2. Panas dari luar tubuh (datang dari lingkungan tempat kerja). Hal ini sangat penting sangat penting untuk dua alasan, yaitu:

a. Panas dari lingkungan kerja secara nyata dapat menambah beban panas kepada tubuh

b. Bahwa faktor-faktor panas lingkungan tempat kerja termasuk suhu udara, kecepatan gerak udara, kelembaban udara dan panas radiasi (baik radiasi dari tubuh/dapur maupun radiasi dari matahari). Ini semua menentukan kecepatan (kemampuan) tubuh dalam mengeluarkan (melepaskan) panas ke udara lingkungan tempat kerja.

(22)

Tabel 2.1 Nilai Ambang Batas Pajanan Panas yang Diperkenankan (dalam 0C) Peraturan Kerja dan Istirahat

(Work Rest Regimen)

Beban Kerja

Ringan Sedang Berat

Beban kerja terus menerus

75% Kerja – 25% Istirahat (setiap jam) 50% Kerja – 50% Istirahat (setiap jam) 25% Kerja – 25% Istirahat (setiap jam)

30,0 2.7.2 Cara-Cara Tubuh Kehilangan Panas

Panas terutama dapat dipancarkan (dihamburkan) dari tubuh ke sekitarnya dengan cara konduksi, konveksi dan penguapan keringat serta radiasi. Dalam hal ini darah memainkan peranan yag sangat penting, yaitu: darah membawa panas dari dalam tubuh ke kulit, di mana panas dapat dihamburkan ke sekitarnya. Kecepatan panas yang dihamburkan (dipindahkan) ini tergantung kepada keadaan lingkungan. Panas dapat dipindahkan dari lingkungan ke tempat kerja dengan cara:

a. Konduksi yaitu perpindahan panas dari partikel yang satu ke partikel yang lain yang saling berhubungan dalam keadaan tetap (tidak bergerak), misalnya perpindahan panas dari kulit ke udara. Dalam kondisi sebagaimana disebutkan, agar perpindahan panas dapat berlangsung (terjadi), maka suhu udara harus lebih dingin dari suhu kulit.

(23)

konduksi/konveksi. Gerakan udara (kecepatan gerakan udara) yang lebih cepat mempunyai pengaruh mendinginkan yang lebih besar.

c. Penguapan yaitu cara pendinginan tubuh yang dilakukan dengan menguapkan keringat yang di permukaan kulit. Kecepatan penguapan untuk mendinginkan tubuh ini umumnya menjadi lebih besar oleh karena dipercepat dengan konveksi atau cepat gerak udara yang melintasi kulit.

d. Radiasi yaitu perpindahan panas dari benda yang panas ke suatu benda yang lebih dingin yang ada disekitarnya dalam suatu lingkungan tempat kerja (perpindahan panas dengan cara radiasi umumnya tidak memerlukan media). Panas dipindahkan melalui suatu ruang, sedang benda-benda tidak saling menyentuh antara yang satu dengan yang lain. Sebagai contoh panas dari suatu ketel uap atau dari matahari akan dipindahkan ke benda-benda yang ada disekitarnya. Dengan cara yang sama bila sekitarnya lebih dingin dari suhu tubuh, maka suhu tubuh akan dipindahkan ke ligkungan sekitarnya. Apabila suhu lingkungan sekitar tubuh lebih tinggi dari suhu tubuh, maka tubuh akan menyerap panas dari lingkungan.

(24)

2.7.3 Akibat Tekanan Panas

Sebagai akibat masuknya energi panas ke lingkungan tempat kerja, maka dapat menimbulkan perubahan iklim di dalam lingkungan tempat kerja tersebut. Perubahan iklim/cuaca ini telah menyebabkan terjadinya tekanan panas (heat stress) yang akan di terima oleh tenaga kerja yang bekerja di lingkungan tempat kerja tersebut sebagai beban panas tambahan (di samping beban panas yang di hasilkan tubuh sebagai akibat pelaksanaan kerja), yang dapat mengakibatkan banyak pengararuh negatif kepada tenaga kerja baik yang berupa gangguan pekerjaan (pelaksanaan kerja) maupun gangguan kesehatan. Yang berupa gangguan pekerjaan termasuk: kepala pusing, mata berkunang-kunang, perut mual, berkeringat, dan cepat lelah. Keadaan seperti ini jelas akan mengakibatkan banyak waktu kerja yang hilang dan lebih lanjut akan menurunkan produktivitas tenaga kerja. Perlu diketahui bahwa reaksi tubuh dari setiap orang terhadap kondisi panas suatu lingkungan tempat kerja adalah tidak sama (berbeda-beda), namun akan tergantung dari aktivitas seseorang dan kondisi panas lingkungan tempat kerja saat itu (Soeripto, 2008).

Kelainan atau gangguan yang tampak secara klinis akibat tekanan panas, dibagi menjadi empat kategori dasar yaitu: malaria rubra, heat cramps, heat exhaustion, heat stroke, dan supersaturasi urin dan kristalisasi urin.

1. Millaria Rubra

(25)

kelenjar keringat dan terjadi retensi keringat disertai reaksi peradangan. Kelainan ini dapat mengganggu tidur sehingga efisiensi fisiologis menurun dan meningkatkan kelelahan kumulatif. Keadaan ini merupakan faktor predisposisi untuk terjadinya faktor yang lebih serius. Adanya kelainan kulit menyebabkan proses berkeringat dan evaporasi terhambat, sehingga proses pendinginan tubuh terganggu.

2. Heat Cramps

Heat cramps dapat terjadi sebagai kelainan tersendiri atau bersama dengan kelelahan panas (heat exhaustion). Kejang otot timbul secara mendadak, terjadi setempat atau menyeluruh, terutama otot ekstremitas dan abdomen. Penyebab utamanya karena defisiensi garam. Kejang otot yang berat dalam udara panas menyebabkan keringat diproduksi banyak. Bersama dengan keluarnya keringat maka tubuh juga kehilangan elektrolit.

3. Heat Exhaustion (kelelahan panas)

(26)

4. Heat Stroke (sengatan panas)

Heat stroke adalah suatu keadaan darurat medik dengan angka kematian yang tinggi. Pada kelelahan panas, mekanisme pengatur suhu bekerja berlebihan tetapi masih berfungsi, sedangkan pada heat stroke ini mekanisme pengatur suhu tidak berfungsi disertai dengan terhambatnya proses evaporasi secara total. Tekanan panas yang berlebihan merupakan beban tambahan yang harus diperhatikan dan diperhitungkan. Beban tambahan berupa paparan panas dapat menyebabkan beban fisiologis seperti kerja jantung menjadi bertambah. Tekanan panas yang berlebih juga dapat mengakibatkan perubahan fungsional pada organ yang bersesuaian pada tubuh manusia serta dapat rasa letih dan kantuk, mengurangi kestabilan dan meningkatkatnya jumlah angka kesalahan kerja sehingga dapat menurunkan efisiensi kerja.

5. Supersaturasi urin dan Kristalisasi urin

(27)

Menurut Tarwaka, dkk (2004) secara lebih rinci gangguan kesehatan akibat pemaparan suhu lingkungan panas yang berlebihan dapat dijelaskan sebagai berikut : 1. Gangguan perilaku dan performasi kerja seperti, terjadinya kelelahan, sering

melakukan istirahat curian.

2. Dehidrasi adalah suatu kehilangan cairan tubuh yang berlebihan yang disebabkan baik oleh penggantian cairan yang tidak cukup maupun karena gangguan kesehatan. Pada kehilangan cairan tubuh < 1,5 % gejalanya tidak nampak, kelelahan muncul lebih awal dan mulut mulai kering.

3. Heat Rush adalah keadaan seperti biang keringat buntat, gatal kulit akibat kondisi kulit terus dasah. Pada kondisi demikian pekerja perlu beristirahat pada tempat yang lebih sejuk dan menggunakan bedak penghilang keringat.

4. Heat Cramps adalah kejang-kejang otot tubuh (tangan dan kaki) akibatnya keluarnya keringat yang menyebabkan hilangnya garam natrium dari dalam tubuh yang kemungkinan besar disebabkan karena minum terlalu banyak dengan sedikit garam natrium.

5. Heat Syncope atau fainting. Keadaan ini disebabkan karena aliran darah ke otak tidak cukup karena sebagian besar aliran darah dibawa kepermukaan kulit atau perifer yang disebabkan karena pemaparan suhu tinggi.

2.7.4 Pencegahan dan Pengendalian Panas

(28)

tindakan-tindakan yang diambil perorangan untuk mengurangi risiko penyakit yang disebabkan oleh panas. Adapun pengendalian tekanan panas melalui penerapan hygiene adalah: 1. Penggantian cairan

Kehilangan air yang sangat banyak dari tubuh dalam bentuk keringat adalah untuk tujuan pendinginan dengan penguapan. Kehilangan dapat mencapai 6 liter air dalam 1 hari, air yang hilang ini harus diganti dengan minum air dingin atau minuman yang berasa seperti es the encer, atau dengan rasa jeruk. Air minum harus disediakan bagi pekerja yang bekerja dilingkungan tempat kerja panas, dengan cara seperti itu mereka didorong untuk minum dengan jumlah sedikit sedikit tetapi sering dilakukan.tenaga kerja yang hanya minum bila haus saja tidak akan memberikan hasil yang memuaskan. NIOSH menyarankan agar tenaga kerja minum sebanyak 150-200 CC setiap 15-20 menit.

2. Aklimatisasi

Penyesuaian fisiologis terhadap pajanan panas secara bertahap bagi pekerja, dengan beraklimatisasi maka tubuh daoat meningkatkan kemampuannya untuk berkeringat dan dapat mengeluarkan garam melalui keringat.

3. Self Determination

(29)

4. Diet

Diet makanan seimbang dan mempunyai nilai gizi yang baik adalah sangat penting untuk mempertahankan kesehatan yang prima.

5. Gaya hidup dan status kesehatan

Tenaga kerja harus tidur cukup dan berolahraga, tidak mempunyai kebiasaan meminum minuman yang mengandung alkohol dan obat-obatan terlarang. Tenaga kerja sebaiknya tidak mempunyai penyakit kronis seperti jantung, paru-paru, ginjal dan hati. Karena tenaga kerja yang memiliki penyakit tersebut mempunyai toleransi yang sangat rendah terhadap tekanan panas.

6. Pakaian Kerja

Pakaian kerja sebaiknya dari bahan yang mudah menyerap keringat seperti bahan yang terbuat dari katun, sehingga penguapan mudah terjadi.

Menurut Soeripto (2008), pengendalian panas secara teknis dapat dilakukan sebagai berikut:

1. Mengurangi beban kerja, menurunkan beban kerja dari berat ke ringan dapat menurunkan tingkat tekanan panas.

2. Menurunkan suhu udara, dengan memasang ventilasi dengan pendinginan secara aktif.

3. Menurunkan kelembaban udara

4. Menurunkan panas radiasi, memasang perisai pada dapur panas. 5. Meningkatkan gerakan udara.

(30)

2.7.5 Pencegahan dan Pengendalian Lingkungan Kerja Panas Penggorengan Kerupuk

Pada penyuluhan kesehatan yang akan dilakukan ini, ada beberapa tindakan yang dapat dilakukan untuk pencegahan dan pengendalian lingkungan kerja panas pada penggoreng kerupuk yaitu:

a. Kepada pekerja diharuskan banyak minum air putih. Air diperlukan untuk mencegah terjadinya dehidrasi akibat berkeringat dan pengeluaran urine.

b. Adanya waktu istirahat yang disediakan, cara ini bermanfaat untuk menghindari terjadinya efek kelehan yang berlebih.

c. Pakaian yang digunakan pekerja sebaiknya berbahan katun dan menyerap keringat, longgar agar aliran udara dapat masuk.

d. Pada saat pekerja melakukan kegiatan penggorengan, cara berdiri pekerja harus diperhatikan, pekerja berdiri jangan melawan arah angin agar panas dari tungku tidak langsung terpapar kepada pekerja.

e. Pada lingkungan kerja, khususnya pada tungku penggorengan dibuat pembatas yang terbuat dari plat alumunium agar tidak mudah terbakar, pembatas ini dibuat agar dapat membatasi pemaparan seseorang terhadap panas.

f. Adanya ventilasi yang dibuat pada tempat dapur, ini berguna untuk mengalirkan udara ke sekitar pekerja dengan tujuan meggantikan udara yang panas dengan udara yang sejuk dan dialirkan dengan kecepatan tinggi.

(31)

lamanya kerja dan istirahat harus disesuaikan dengan tingkat tekanan panas yang dihadapi oleh pekerja.

2.8 Landasan Teori

Notoatmodjo (2012) mengatakan bahwa pengetahuan adalah merupakan hasil “TAHU” dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca indera manusia, yakni: indra penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga. Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang.

Skiner (1938) dalam Notoadmodjo tahun 2012, seorang ahli psikologi, merumuskan bahwa perilaku merupakan respons atau reaksi seseorang terhadap stimulus (rangsangan dari luar). Dengan demikian, perilaku manusia terjadi melalui proses: StimulusOrganismeRespons, sehingga teori skiner ini disebut teori ”S-O-R” (stimulus-organisme-respons).

TEORI S-O-R

Gambar 2.1 Landasan Teori

STIMULUS ORGANISME

RESPONS TERTUTUP Pengetehuan Sikap

(32)

Selanjutnya, teori Skiner menjelaskan adanya dua jenis respons, yaitu :

a. Respondent respons atau refleksif, yakni respons yang ditimbulkan oleh rangsangan-rangsangan (stimulus) tertentu yang disebut elicting stimuli. Karena menimbulkan respons-respons yang relatif tetap.

b. Operant respons atau instrumental respons, yakni respons yang timbul dan berkembang dan kemudian diikuti oleh stimulus atau rangsangan yang lain. Perangsang yang terakhir ini disebut reinforcing stimuli atau reinforcer, karena berfungsi untuk memperkuat respons.

Berdasarkan teori ”S-O-R” tersebut, maka perilaku manusia dapat dikelompokkan menjadi dua , yaitu :

a. Perilaku tertutup (Cover vehavior)

Perilaku tertutup terjadi bila respons terhadap stimulus tersebut masih belum dapat dinikmati orang lain (dari luar) secara jelas. Respons seseorang masih terbatas dalam bentuk perhatian, perasaan, perse persepsi, pengetahuan dan sikap terhadap stimulus yang bersangkutan. Bentuk ”unobservable behavior” atau ”covert behavior” yang dapat diukur adalah pengetahuan dan sikap.

b. Perilaku terbuka (Overt behavior)

(33)

2.9 Kerangka Konsep

Adapun kerangka konsep dalam penelitian ini menggambarkan bahwa yang akan diteliti adalah pengetahuan dan sikap pekerja, namun untuk mengetahui ada tidaknya peningkatan pengetahuan dan sikap maka sebelum dilakukan intervensi dilakukan pre-test dan untuk melihat sejauh mana perubahan pengetahuan dan sikap setelah diberikan penyuluhan dilakukan post-test. Kerangka konsep dapat dilihat pada gambar dibawah ini:

PrPpppppp

Gambar 2.2 Kerangka Konsep Penelitian

Sebelum Intervensi Pengetahuan dan Sikap Pekerja tentang bahaya lingkungan kerja panas

Sesudah Intervensi Pengetahuan dan Sikap Pekerja tentang bahaya lingkungan kerja panas

Intervensi Penyuluhan tentang Bahaya Lingkungan Kerja Panas

Gambar

Tabel 2.1 Nilai Ambang Batas Pajanan Panas yang Diperkenankan (dalam 0C)
Gambar 2.1 Landasan Teori
Gambar 2.2 Kerangka Konsep Penelitian

Referensi

Dokumen terkait

Pada saat menjalankan latihan, pelatih memiliki beberapa metode yang digunakan untuk menunjang program latihan yang telah dibuat. Salah satu metode yang digunakan

Neskak eskolan doituago daudela erakusten duten ebidentziak izan badira: errendimendua, integrazioa, kide eta irakasleekiko harremana eta itxaropen akademikoak (Antonio-Agirre et

menggunakan pendekatan kualitatif, yang dilakukan terhadap variabel mandiri yaitu tanpa membuat perbandingan dengan variabel yang lain. Peneliti tidak memberikan

Tipe administratif kepemimpinan ini mampu menyelengarakan tugas-tugas administrasi secara efektif. Pimpinannya biasanya terdiri dari teknokrat dan

klinis antara lain, (1) beberapa guru kadangkala kurang siap disupervisi dengan berbagai alasan, (2) guru kurang percaya diri ketika mengajar, (3) kesibukan

Responden pada penelitian ini adalah mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Katolik Soegijapranata Semarang, dengan ciri-ciri telah mengambil mata kuliah pilihan.. Alat ukur

Hasil pengujian seluruh sistem menggunakan kontroler logika fuzzy dengan menggunakan 5 himpunan fuzzy pada error berupa nilai suhu dan 5 himpunan fuzzy pada ΔError berupa

Puji syukur peneliti panjatkan kepada Tuhan Yesus Kristus atas segala berkat, karunia dan kekuatan yang Dia berikan dalam penyelesaian skripsi ini yang