1 ABSTRAK
Penelitian ini mengangkat tentang eksistensi Gereja Masehi Injili di
Halmahera (GMIH) yang sedang mengalami perpecahan, karena konflik
kepengurusan ganda. Konflik kepengurusan di tingkat sinode ini, turut serta
mempengaruhi dan melibatkan kedidupan di jemaat-jemaat.Terjadi pro-kontra di
jemaat-jemaat GMIH. Ada jemaat yang memilih tetap setia dengan pengurusan
lama, maupun ada jemaat yang memilih ikut dengan pengurusan yang baru,
sampai saat ini belum ada perdamaian, dengan alasan, jika kepengurusan sinode
GMIH dan GMIH Pembaharuan sudah berdamai, barulah mereka bergabung dan
berdamai dari antara kedua belah pihak. Tujuan penelitian ini adalah
mendeskripsikan terjadinya perpecahan GMIH, berdasarkan teori Galtung.
Kehadiran gereja di tengah-tengah dunia ini tidak terlepas dari konteks di mana ia
berada. Tentu kehadiran eksistensi yang sangat dipengaruhi dunia sekitarnya.
Ketepurukan disebabkan oleh para pemimpin gereja yang telah kehilangan
integritas dan komitmen pelayanannya. Akibat lain adalah terjadinya
penyelewengan keuangan (dana pensiun) gereja, kondisi seperti itulah,
sekelompok warga GMIH lain yang mengharuskan GMIH dibaharui. Meskipun
ada yang harus menjadi korban karena tindakan kekerasan, penganiyaan,
pengusiran, cacimaki dan hujatan dari sesame warga GMIH.Tentu saja dengan
tindakan seperti yang terjadi di salah satu jemaat Imanuel Mamuya, yang di
harapkan para pemimpin gereja sadar dan berubah, agar “perahu” yang bernama
GMIH itu tidak tenggelam.