BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG
Sebagai individu, manusia tidak dapat mencapai segala sesuatu yang
diinginkannya dengan mudah.1Setiap manusia mempunyai
kepentingan.Kepentingan adalah tuntutan perorangan atau kelompok yang
diharapkan untuk dipenuhi.Setiap manusia adalah mendukung atau penyandang
kepentingan.Manusia menginginkan agar kepentingan-kepentingannya terlindungi
dari bahaya yang mengancamnya. Untuk itu ia memerlukan bantuan manusia lain.
Dengan kerjasama dengan manusia lain akan lebih mudahlah keinginannya
tercapai atau kepentingannya terlindungi.2
Saling membutuhkan antara bangsa-bangsa di berbagai lapangan
kehidupan yang mengakibatkan timbulnya hubungan yang tetap dan terus
menerus antara bangsa-bangsa, mengakibatkan pula timbulnya kepentingan untuk
memelihara dan mengatur hubungan demikian.
Kebutuhan manusia pun terus meningkat sehingga sumber daya yang
terdapat di dalam wilayah negaranya sendiri menjadi tidak mencukupi.Hal ini
mendorong manusia untuk mencari pemenuhan kebutuhannya di luar wilayah
negaranya sendiri.Karena itu, dimulai adanya pergaulan manusia antar negara, di
mana terbentuk suatu komunitas internasional.
3
1
C.S.T. Kansil, Pengantar Ilmu Hukum dan Tata Hukum Indonesia, Cet. Keduabelas, (Jakarta: BALAI PUSTAKA, 2002), hlm. 29.
2
Sudikno Mertokusumo, Mengenal Hukum Suatu Pengantar (Edisi Revisi), (Yogyakarta: Cahaya Atma Pustaka, 2010), hlm. 1.
3
Mochtar Kusumaatmadja dan Etty R. Agoes, Pengantar Hukum Internasional, (Bandung: PT Alumni, 2003), hlm. 13.
Untuk mengaturnya agar
membutuhkan pembentukan wadah, yaitu organisasi internasional.4Organisasi internasional ini hanya memiliki hak-hak dan kewajiban selama ketentuannya
ditegaskan dalam traktat atau konvensi internasional.5
Selama negara-negara di dunia menjadi saling bergantungan dalam bidang
satu sama lain, mereka membutuhkan peraturan untuk mengatur hubungan
ekonomi internasional, yaitu perjanjian multilateral dan organisasi internasional.
Sejak abad XIX, pemerintah telah bekerjasama untuk menciptakan organisasi
internasional yang mengatur peningkatan hubungan ekonomi
antarnegara.6
Terlebih dalam era liberalisasi perdagangan yang semakin global, peran
organisasi atau institusi internasional semakin signifikan peranannya bahkan tidak
jarang mengintervensi urusan dalam negeri suatu negara.
Pemerintah dalam hal ini adalah pemerintah-pemerintah
negara-negara di dunia.
7
Dalam dua dekade terakhir ini, percepatan proses globalisasi secara
fundamental telah mengubah struktur dan pola hubungan perdagangan dan
keuangan internasional. Hal ini menjadi fenomena penting dan sekaligus
merupakan suatu era baru yang ditandai dengan adanya pertumbuhan perdagangan
internasional yang tinggi, semakin besarnya perkembangan pasar modal
internasional, penyebaran investasi secara langsung, dan tingginya mobilitas
pemasukan modal portofolio swasta antara negara-negara maju dan berkembang.8
4
Sri Setianingsih Suwardi, Pengantar Hukum Organisasi Internasional, (Jakarta: UI Press, 2004), hlm. 3.
5
Ade Maman Suherman, Organisasi Internasional & Integrasi Ekonomi Regional Dalam Perspektif Hukum dan Globalisasi, (Jakarta: Ghalia Indonesia, 2003), hlm. 23.
6
T. May Rudy, Administrasi & Organisasi Internasional, (Bandung: PT Refika Aditama, 2005), hlm. 75.
7
Ade Maman Suherman, loc.cit.
8
Trend globalisasi ekonomi dan perdagangan bebas ini9 diawali dengan era keterbukaan pasar di mana negara maju sepakat memperbaiki perekonomian dunia
dengan dimulainya perundingan di Bretton Woods, Amerika Serikat.Konferensi
tersebut mengambil tempat di Hotel Mount Washington, Bretton Woods, New
Hampshire, Amerika Serikat, sehingga dikenal dengan sebutan Konferensi
Bretton Woods.10
Berawal dari krisis ekonomi global yang tengah melanda dunia, negara
besar seperti Amerika pun tengah dilanda resesi besar-besaran.Pasar modal dunia
tergoncang.Tidak hanya negara besar yang terkena imbasnya,
negara di belahan dunia lainnya juga terkena dampaknya.Terutama bagi
negara-negara berkembang dan perekonomian yang kurang kuat, tentu hal ini menjadi
momok yang menakutkan.Krisis ekonomi sering terjadi di mana-mana melanda
hampir semua negara yang menerapkan sistem kapitalisme.11Krisis demi krisis ekonomi terus berulang tiada henti bahkan sampai saat ini krisis semakin
mengkhawatirkan dengan munculnya krisis finansial di Amerika Serikat.12
Naiknya Amerika Serikat sebagai pihak yang menjadi penentu dunia dan
tindakan memanipulasi mekanisme multilateral untuk meraih hegemoninya,
merupakan sumber penting munculnya krisis legitimasi yang mulai terjadi di
dunia pada akhir tahun 90-an. Akan tetapi, pada saat yang sama juga terjadi erosi
9
Ibid, hlm. 28.
10
Sutiarnoto, Hukum Penyelesaian Sengketa Perdagangan Internasional, (Medan: USU Press, 2016), hlm. 3.
11
Kapitalisme adalah sistem ekonomi di mana perdagangan, industri dan alat-alat produksi dikendalikan oleh pemilik swasta dengan tujuan membuat keuntungan dalam ekonomi pasar.Pemilik modal bisa melakukan usahanya untuk meraih keuntungan sebesar-besarnya.Demi prinsip tersebut, maka pemerintah tidak dapat melakukan intervensi pasar guna keuntungan bersama, tetapi intervensi pemerintah dilakukan secara besar-besaran untuk kepentingan-kepentingan pribadi.
12
multilateralisme sebagai sumber delegitimasi yang sangat nyata, bahwa rezim
neo-liberal global yang bertumpu pada pasar bebas dan perdagangan bebas
ternyata tidak mampu lagi memenuhi janjinya. Bahwa sistem tersebut tidak dapat
menciptakan kesejahteraan masyarakat tetapi hanya ilusi semata yang sudah bisa
diterka.13
Selama berlangsungya krisis ekonomi global, secara umum kawasan Asia
menunjukkan ketahanan yang lebih baik.Beberapa negara berkembang di kawasan
ini bahkan tetap dapat mempertahankan tingkat pertumbuhan ekonomi pada
tingkat moderat yang kemudian menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi
global.14
Indonesia sebagai negara berkembang juga tidak bisa luput dari pengaruh
krisis AS tersebut walaupun secara fundamental perekonomian Indonesia bisa
diindikasikan cukup baik.Efek dari krisis ini pun lambat laun semakin bisa
dirasakan, mulai dari melemahnya nilai rupiah terhadap dollar AS, berkurangnya
volume ekspor, menurunnya harga-harga komoditi yang biasa diekspor dan
naiknya harga komoditi impor serta terancam di PHK ribuan karyawan/buruh
perusahaan.15
Sejarah mencatat bahwa serangkaian krisis keuangan yang dialami
berbagai negara secara destruktif telah merusak sendi-sendi perekonomian
negara-negara tersebut. Sebagai contoh, sejak pertengahan tahun 1990-an hingga tahun
2001 telah terjadi krisis keuangan di sejumlah negara dalam tenggang waktu yang
13
Walden Bello, De-Globalisasi Gagasan-Gagasan Ekonomi Dunia Baru, (Bantul: Pondok Edukasi, 2004), hlm. 6.
14
Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia, G-20, 21 Desember 2016.
15
berbeda. Meksiko mengalami krisis pada tahun 1994 dan 1995, sementara
negara-negara di kawasan Asia termasuk Indonesia mengalami krisis yang cukup parah
pada tahun 1997 dan 1998. Pada saat hampir bersamaan, tahun 1998 Negara Rusia
juga mengalami krisis.Demikian pula yang terjadi di Brazil pada tahun 1999 yang
kemudian disusul Argentina dan Turki yang mengalami krisis keuangan pada
tahun 2001. Hal ini memunculkan sejumlah pertanyaan sekaligus kekhawatiran
bahwa krisis ini akan kembali terjadi. Namun, dimana dan kapan terjadinya serta
seberapa besar dampaknya belum diketahui secara pasti.16
Pengalaman krisis keuangan global terdahulu menunjukkan betapa
cepatnya suatu krisis dapat menular ke negara lain. Apabila suatu negara tidak
memiliki instrumen dan upaya bersama untuk mengatasi masalah, maka krisis
keuangan di negara bersangkutan dapat berpotensi menjadi krisis keuangan
global.17
Di tingkat multilateral, lahir sebuah forum kerjasama ekonomi yang
beranggotakan 20 entitas ekonomi atau disebut The Group of Twenty (G-20) di
mana Indonesia menjadi salah satu anggotanya.18
Forum G-20 yang merupakan forum pertemuan utama dan tertinggi para
pemimpin dunia untukmendesain tindakan global menangani krisis keuangan
global. Forum ini menjadi semakin penting karena munculnya beberapa krisis
seperti krisis Yunani yang berpotensi untuk menular ke negara lain.
16
Iman Sugema, Krisis Keuangan Global 2008-2009 dan Implikasinya Pada Perekonomian Indonesia, Jurnal Ilmu Pertanian (JIPI), Vol. 17, No 3, Desember 2012, hlm. 145.
17
Anggito Abimanyu, Refleksi dan Gagasan Kebijakan Fiskal, (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2011), hlm. 220.
18
Irfan Mujahid, Arti Penting Keanggotaan Indonesia Dalam G-20 Bagi Diplomasi
Ekonomi Indonesia, sebagaimana dimuat dalam
negara berkembang termasuk Indonesia akan menjadi korban apabila tidak ada
upaya global mengatasi masalah krisis di Yunani. Banyak pihak berharap dengan
adanya forum tersebut pemulihan pasca krisis global dapat berjalan dengan
baik.”19
G-20 bagaimanapun harus dilihat sebagai suatu klub baru, namun dengan
tanggungjawab yang lebih inklusif.20G-20 adalah kelompok 19 negara dengan
perekonomian besar di dunia ditambah dengan
dinamakan The Group of Twenty (G-20) Finance Ministers and Central Bank
Governors atau Kelompok Duapuluh Menteri Keuangan dan Gubernur Bank
Sentral. Kelompok ini dibentuk tahun 1999 sebagai forum yang secara sistematis
menghimpun kekuatan-kekuatan ekonomi maju dan berkembang untuk membahas
isu-isu penting perekonomian dunia.21
G-20 dibentuk pasca terjadinya krisis di Asia pada tahun 1997.Krisis
tersebut menandai lemahnya pengaturan kebijakan keuangan di tingkatan
internasional. Melihat kondisi tersebut, para Menteri Keuangan dan Gubernur
Bank Sentral yang merupakan anggota dari Group of Seven (G-7)22
19
Anggito Abimanyu, op.cit.,hlm. 215.
20
Yulius. P. Hermawan,Peran Indonesia dalam G20: Latarbelakang, Peran dan Tujuan Keanggotaan Indonesia, (Jakarta: Friedrich-Ebert-Stiftung, 2011), hlm.1.
memandang
kurang efektifnya pertemuan itu bila tidak melibatkan kekuatan-kekuatan
ekonomi lain agar keputusan-keputusan yang mereka buat memiliki pengaruh
yang lebih besar dan mendengarkan kepentingan-kepentingan yang barangkali
tidak tercakup dalam kelompok kecil itu.
21
Wikipedia, G-20 Ekonomi Utama, sebagaimana dimuat dalam
22
Ketika ekonomi Asia terpuruk pada tahun 1997, bagaimanapun ekonomi
Neoliberal gagal.Semua pembicaraan tentang krisis moneter Asia disebabkan oleh
kapitalisme yang tidak mampu mengaburkan fakta bahwa hal itu disebabkan
adanya pembebasan modal secara spekulatif dari aturan-aturan regulasi, ini
dilakukan sebagian besar untuk menanggapi tekanan IMF, yang membawa
keterpurukan negara-negara di Asia Timur. IMF juga datang atas nama pengadaan
program-program penelitian public untuk ekonomi Asia yang sedang bangkit dari
krisis, program-program yang kelihatannya mempercepat proses ekonomi
meskipun pada kenyataannya pada waktu yang bersamaan melakukan
penyelamatan terhadap miliaran dolar bukan untuk mengatasi krisis ekonomi
tetapi untuk bank-bank luar negeri dan investor spekulatif.23
Kelompok ini menghimpun hampir 90%24, anggotanya adalahnegara-negara yang paling penting secara sistemik ekonomi dan keuangan
yang mewakili lebih dari 80% GDP global, 2/3 populasi dunia serta lebih dari
80% kepemilikan saham dariWorld Bank dan IMF, serta secara geografis
merepresentasikan seluruh belahan dunia.25
Sebagai sebuah klub, G-20 harus memberikan manfaat kepada
anggotanya karena manfaat itu pula yang akan mendorong keterlibatan
anggota-anggotanya untuk tetap aktif.26
Namun demikian, G-20 bukanlah ordinary club (klub biasa).G-20 adalah
klub dengan anggota terbatas namun memiliki tujuan ambisius yang membawa
dampak global. G-20 mengklaim bahwa mandatnya adalah: “Untuk memberi
23
Walden Bello, op. cit., hlm. 7.
24
Wikipedia, G-20 Ekonomi Utama,loc. cit.
25
Anggito Abimanyu, op.cit., hlm. 217.
26
kontribusi bagi penguatan arsitektur finansial internasional dan untuk
menciptakan peluang-peluang bagi dialog tentang kebijakan-kebijakan nasional,
kerjasama internasional dan lembaga-lembaga finansial internasional yang dapat
membantu mendukung pertumbuhan dan pembangunan di seluruh dunia.”27
G-20 berkeyakinan dapat membawa manfaat yang bukan hanya dapat
dinikmati oleh keduapuluh anggotanya, tetapi juga sekira 170 negara lain yang
tidak tergabung dalam G-20. Keyakinannya adalah kalau 19 negara plus Uni
Eropa berhasil dalam menjaga pertumbuhan ekonomi yang stabil, berkelanjutan
dan seimbang, perekonomian dunia akan menjadi kuat, berkelanjutan dan stabil.
Ini misalnya ditegaskan oleh perwakilan salah satu negara anggota G-20: “kalau
perekonomian Indonesia bertumbuh dengan stabil dan baik, negara-negara
tetangganya di Asia Tenggara juga akan menikmati pertumbuhan ini”. Daya beli
masyarakat Indonesia akan meningkat dan dengan demikian akan menjadi
pembeli produk-produk impor yang masuk ke Indonesia dari negara-negara
tetangga.28
Keikutsertaan Indonesia dalam G-20 merupakan contoh langkah aktif
pemerintah Indonesia untuk ikut berkontribusi dalam penciptaan pasar keuangan
global yang lebih stabil serta untuk menciptakan kebijakan ekonomi yang efektif
dan bentuk partisipasi langsung pemerintah dalam organisasi antar-negara.Sebagai
bagian dari organisasi, Indonesia diharuskan mengikuti hasil dari berbagai
pertemuan yang dilakukan setiap tahunnya termasuk dalam penciptaan dan
27
G-20 Research Group, The Group of Twenty: A History, sebagaimana dimuat dalam
28
pengaplikasian rezim internasional yang didukung oleh G-20 termasuk rezim
liberalisasi finansial.29
Bagi Indonesia forum ini merupakan arena bergengsi tinggi dimana
Indonesia dapat mencapai kepentingan-kepentingan nasionalnya. Keanggotaan
Indonesia dalam G-20 telah membuka berbagai peluang baru untuk ikut
mempengaruhi proses dan perkembangan dunia internasional. Indonesia kini
berupaya untuk menjadi juru bicara negara-negara ASEAN dan sekaligus
memposisikan diri sebagai wakil para negara berkembang di dalam kelompok
G-20.30
G-20 memberikan fokus yang sangat besar terhadap isu investasi dan
finansial jangka panjang.31 Belakangan ini, G-20 tidak hanya membahas isu keuangan namun forum G-20 sekarang telah melebarkan sayapnya ke isu yang
terkait dengan penyelesaian putaran doha, masalah perdagangan, pembiayaan
perubahan iklim, transparansi dan pengurangan subsidi energi sehingga kehadiran
Menteri Keuangan nantinya juga akan mewakili pemerintah di masing-masing
negara terhadap isu-isu terkait tersebut.32
B. RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang penulisan yang telah diuraikan diatas maka
dapat dirumuskan beberapa permasalahan yang akan dibahas di dalam skripsi ini
yaitu:
29
Liberalisasi finansial adalah pergerakan untuk menjadikan finansial atau sektor keuangan sebagai bagian dari komoditas yang dapat diperdagangkan. Bentuknya bisa berupa alat tukar maupun surat berharga.
30
Winfried Weck, Indonesia dalam Perspektif Regional dan Global, sebagaimana dimuat
dala
21 Desember 2016.
31
Staff of The International Monetary Fund, Investment and its Financing: A Macro Perspective, 2013, hlm. 2.
32
1. Bagaimanakah aspek historis dan yuridis dari keberadaan G-20 sebagai
organisasi internasional?
2. Bagimanakah kedudukan Indonesia dalam G-20?
3. Bagaimanakah peranan Indonesia dalam forum kerjasama G-20?
C. TUJUAN DAN MANFAAT PENULISAN
Adapun tujuan yang ingin dicapai dari penulisan dari skripsi ini adalah
sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui kedudukan G-20 sebagai organisasi internasional
menurut hukum internasional yang berlaku.
2. Untuk memberi uraian dan penjelasan tentang kedudukan Indonesia dalam
forum G-20.
3. Untuk mengetahui apa saja peran Indonesia dalam G-20.
Penulis berharap bahwa kegiatan penulisan ini akan bermanfaat bagi
penulis sendiri maupun orang lain. Adapun manfaat yang dapat diperoleh dari
penulisan hukum ini antara lain:
1. Manfaat Teoritis
Penelitian ini diharapkan dapat memberi masukan secara umum bagi
perkembangan ilmu pengetahuan dan secara khusus bagi ilmu hukum itu
sendiri.Selain itu, bertujuan untuk mengisi kesenjangan dan minimnya
literatur serta bahan pustaka yang membahas mengenai peran Indonesia
dalam forum kerjasama G-20.
Melalui penelitian ini, kiranya dapat memberi pemahaman mendalam dan
masukan bagi pemerintah Republik Indonesia, berkenaan dengan apa yang
menjadi peran Indonesia dalam G-20.
D. TINJAUAN KEPUSTAKAAN
Di dalam membentuk organisasi internasional, negara-negara anggotanya
melalui organisasi tersebut akan berusaha mencapai tujuan bersama dalam
berbagai aspek kehidupan internasional dan bukan untuk mencapai tujuan
masing-masing negara ataupun suatu tujuan yang tidak dapat disepakati bersama. Guna
mencapai tujuan tersebut sebagai suatu kesatuan, organisasi internasional harus
mempunyai kemampuan untuk melaksanakannya atas nama semua negara
anggotanya. Tindakan yang dilakukan oleh organisasi internasional semacam itu
pada hakikatnya merupakan hak yang dijamin oleh hukum internasional.33
Organisasi Internasional merupakan konsep yang dibawa oleh perspektif
liberalisme.Perspektif liberalisme, yang memandang bahwa hakikat dari manusia
adalah baik dan percaya bahwa perdamaian abadi (perpetual peace) dapat
diwujudkan melalui kerjasama.Perspektif ini menganggap bahwa
masalah-masalah di dunia internasional dapat diatasi dengan membentuk suatu kerjasama
dan dengan mendirikan organisasi internasional.Evans dan Newnham (1998)
mendefinisikan organisasi internasional sebagai suatu institusi formal yang
dibentuk dari adanya perjanjian antar aktor-aktor di dalam hubungan
internasional.Perjanjian yang mendasari terbentuknya suatu organisasi
internasional pada umumnya berbentuk multilateral, karena anggota organisasi
33
internasional pada umumnya lebih dari dua negara (Bowertt t.t., dalam Poerwanto
t.t.).34
Pada umumnya, jika berbicara tentang organisasi internasional, yang kita
maksudkan adalah organisasi antarpemerintah (intergovernmental
organization).Walaupun harus diakui bahwa disamping organisasi
antarpemerintah, masih dikenal pula organisasi non-pemerintah (
non-governmental organization [NGO]).35
Pasal 102 ayat (1) Piagam PBB menguraikan bahwa Hukum Organisasi
Internasional ialah cabang dari Hukum Internasional yang dipersatukan oleh
badan PBB36
Organisasi-organisasi internasional tumbuh karena adanya kebutuhan dan
kepentingan masyarakat antar-bangsa untuk adanya wadah serta alat untuk
melaksanakan kerjasama internasional.
dan yang semata-mata menyangkut organisasi internasional publik
serta terdiri dari perangkat-perangkat norma-norma hukum yang berhubungan
dengan organisasi internasional termasuk badan di bawah naungannya dan pejabat
sipil internasional.
37
Sebagai forum ekonomi, G-20 lebih banyak menjadi ajang konsultasi dan
kerjasama hal-hal yang berkaitan dengan sistem moneter internasional.Terdapat,
pertemuan yang teratur untuk mengkaji, meninjau dan mendorong diskusi diantara
negara industri maju dan sedang berkembang yang terkemuka mengenai
kebijakan-kebijakan yang mengarah pada stabilitas keuangan internasional dan
34
Citra Hennida, Rezim dan Organisasi Internasional, (Malang: Intrans Publishing, 2015), hlm. 7.
35
Wiwin Yulianingsih dan Moch. Firdaus Sholihin, Hukum Organisasi Internasional, (Yogyakarta: CV. ANDI OFFSET, 2014), hlm. 1.
36
Pasal 102(1) Piagam PBB.
37
mencari upaya-upaya pemecahan masalah yang tidak dapat diselesaikan oleh satu
negara tertentu saja.Indonesia telah menjadi anggota G-20 sejak forum
intergovernmental ini di bentuk tahun 1999.
Anggota G-20 adalah Afrika Selatan, Amerika Serikat, Arab Saudi,
Argentina, Australia, Brasil, India, Indonesia, Inggris, Italia, Jepang, Jerman,
Kanada, Korea Selatan, Meksiko, Perancis, Republik Rakyat Tiongkok (RRT),
Rusia, Turki, dan Uni Eropa.38
E. KEASLIAN PENULISAN
Di dalam penulisan skripsi yang berjudul “Peran Indonesia dalam Organisasi Internasional G-20 (The Group Of Twenty)” dapat dijamin orisinalitasnya. Berdasarkan pemerikasaan dan penelusuran kepustakaan Fakultas
Hukum Universitas Sumatera Utara pada tanggal 07 Desember 2016, judul yang
diangkat menjadi judul skripsi ini belum pernah ditulis sebelumnya di Fakultas
Hukum Universitas Sumatera Utara.Penulis menyusun skripsi ini melalui
referensi buku-buku, artikel, media cetak, dan media elektronik serta bantuan dari
berbagai pihak.
Jadi, penulisan skripsi ini adalah asli karena sesuai dengan asas-asas
keilmuan yaitu jujur, rasional, objektif, dan terbuka.Sehingga penulisan ini dapat
dipertanggungjawabkan kebenarannya secara ilmiah dan terbuka atas masukan
dan saran yang membangun sehubungan dengan penelitian ini.
38
F. METODE PENELITIAN
Adapun metode penelitian yangakan ditempuh dalam memperoleh
data-data atau bahan-bahan penelitian meliputi:
1. Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan dalam menjawab permasalahan dalam
pembahasan skripsi ini adalah penelitian hukum normatif. Penelitian hukum
normatif adalah penelitian yang dilakukan dengan cara menganalisa hukum yang
tertulis dari bahan pustaka atau data sekunder belaka yang lebih dikenal dengan
nama dan bahan acuan dalam bidang hukum atau bahan rujukan bidang
hukum.39
2. Sumber Data
Dalam penelitian ini, metode yuridis normatif yang digunakan adalah
norma-norma hukum internasional yang tertuang dalam bentuk perjanjian
internasional. Langkah pertama dilakukan penelitian normatif yaitu dengan cara
meneliti dan mengolah bahan pustaka yang merupakan data sekunder atau disebut
juga penelitian kepustakaan. Penelitian bertujuan untuk mengetahui kedudukan
G-20 sebagai organisasi internasional menurut hukum internasional yang berlaku
serta penjelasan tentang kedudukan dan peran Indonesia dalam G-20.
Adapun sumber data dari penulisan skripsi ini adalah berasal dari
penelusuran bahan pustaka (library research) yang terdiri dari:
a) Bahan Hukum Primer (primary research/ authoritative records)40 Merupakan bahan-bahan yang memiliki kekuatan hukum mengikat
masyarakat (untuk anggota G-20).Dalam penelitian ini yang ditelusuri
39
Soerjono Soekanto dan Sri Madmuji, Penelitian Hukum Normatif Suatu Tinjauan Singkat (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2007), hlm. 33.
40
adalah dokumen berupa traktat atau perjanjian internasional sebagai
anggaran dasar dari organisasi internasional.Diikuti dengan protokol
dan deklarasi. Dalam skripsi ini bahan hukum primer yang digunakan
adalah Piagam PBB, Konvensi Wina 1986 tentang Perjanjian
Internasional antara Negara dan Organisasi Internasional atau antar
Organisasi Internasional (Vienna Convention on The Law of Treaties
between States and International Organizations or between
International Organizations) dan G-20 Official Publication The Group
Of Twenty: A History.
b) Bahan Hukum Sekunder (secondary research/ not authoritative
records)41
Merupakan bahan hukum yang dapat memberi penjelasan mengenai
bahan hukum primer, dalam hal penelitian ini ialah penjajakan
literature ilmiah seperti buku, jurnal, hasil penelitian, makalah, kutipan
seminar, surat kabar, serta bahan-bahan lain yang berkaitan.
c) Bahan Hukum Tersier (tertiary research)
Merupakan bahan hukum yang dapat diberikan petunjuk guna
kejelasan dalam memahami bahan hukum primer dan sekunder,42
3. Teknik Pengumpulan Data
seperti kamus, ensiklopedia, indeks kumulatif dan sebagainya.Dalam
penelitian ini digunakan kamus Bahasa Indonesia untuk fungsi
penerjemahan.
41
Ibid.
42
Untuk melengkapi penulisan skripsi ini agar tujuan lebih dapat terarah dan
dapat dipertanggung jawabkan maka digunakan metode penelitian hukum
normatif.Dengan pengumpulan data secara studi pustaka (library research). Maka
oleh karena itu penulisan ini harus dilakukan dengan menggunakan suatu
penelitian kepustakaan (library research), yaitu dengan cara meneliti bahan
pustaka atau data sekunder yang lebih dikenal dengan nama bahan pedoman
dalam bidang hukum atau rujukan bidang hukum, yaitu penelususran buku dan
jurnal terkait baik milik perpustakaan maupun pribadi. Metode studi pustaka
adalah mempelajari sumber-sumber atau bahan-bahan tertulis yang dapat
dijadikan bahan dalam penulisan skripsi ini. Beberapa rujukan berupa buku,
wacana yang dikemukakan oleh pendapat para sarjana hukum yang sudah
mempunyai nama dibidangnya.
4. Analisis Data
Penelitian yang dilakukan dalam skripsi ini termasuk ke dalam tipe
penelitian hukum normatif. Pengolahan data yang hakikatnya merupakan kegiatan
untuk melakukan analisa terhadap permasalahan yang akan dibahas. Analisa data
dilakukan dengan:43
a. Mengumpulkan bahan-bahan hukum yang relevan dengan permasalahan yang
diteliti;
b. Memilih kaidah-kaidah hukum atau doktrin yang sesuai dengan penelitian;
c. Mengsistematisasikan kaidah-kaidah hukum, azas atau doktrin;
d. Menjelaskan hubungan-hubungan antara berbagai konsep, pasal atau doktrin
yang ada;
43
e. Menarik kesimpulan dengan pendekatan deduktif. Pendekatan deduktif, yaitu
diawali dengan mengemukakan yang bersifat umum kemudian diakhiri
dengan kesimpulan yang bersifat khusus.
G. SISTEMATIKA PENULISAN
Dalam melakukan pembahasan skripsi ini, penulis membagi dalam 5
(lima) bab yang saling berhubungan satu dengan lainnya. Adapun sistematika
penulisan skripsi ini adalah sebagai berikut:
BAB I : PENDAHULUAN, dalam bab ini akan dipaparkan hal yang menjadi latar belakang diangkatnya judul tersebut. Selain itu
dalam bab ini juga dpaparkan mengenai perumusan masalah,
tujuan dan manfaat penulisan, metode penulisan, keaslian
penulisan, tinjauan kepustakaan, dan sistematika penulisan.
BAB II : ASPEK HISTORIS DAN YURIDIS DARI
KEBERADAAN G-20 SEBAGAI ORGANISASI INTERNASIONAL. Dalam bab ini akan menguraikan tentang latar belakang pembentukan G-20, tujuan pembentukan G-20,
dan struktur kelembagaan G-20.
BAB III :INDONESIA DALAM G-20. Dalam bab ini pertama-tama akan menguraikan secara spesifik tentang latar belakang
masuknya Indonesia ke dalam G-20. Kemudian, selanjutnya
mengenai perkembangan G-20 saat ini.Selanjutnya, membahas
kepentingan Indonesia dalam G-20.Dan terakhir
BAB IV :PERANAN INDONESIA DALAM G-20. Dalam pembahasan bab ini akan membahas secara rinci tentang peran dan inisiatif
Indonesia terhadap G-20. Kemudian akan membahas tentang
peran Indonesia yang membawa kepentingan bersama ASEAN
dalam forum G-20. Dan juga membahas tentang peran Indonesia
yang mewakili negara-negara Muslim dalam G-20.
BAB V :PENUTUP. Dalam bab ini berisikan kesimpulan dan saran. Kesimpulan akan mencakup isi dari semua pembahasan dari
bab-bab sebelumnya. Dan dalam penulisan ini akan terdapat
saran yang mencakup gagasan dan usulan dari penulis terhadap
permasalahan yang dibahas pada skripsi ini berdasarkan