PERATURAN MENTERI PERTANIAN NOMOR : 25/Permentan/OT.140/2/2010

Teks penuh

(1)
(2)

PERATURAN MENTERI PERTANIAN NOMOR : 25/Permentan/OT.140/2/2010

TENTANG PEDOMAN UMUM

PROGRAM PEMBANGUNAN KETAHANAN PANGAN LINGKUP BADAN KETAHANAN PANGAN TAHUN 2010

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PERTANIAN,

Menimbang : a. bahwa program ketahanan pangan merupakan salah satu prioritas pembangunan nasional dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat;

b. bahwa atas dasar hal tersebut diatas, dipandang perlu menetapkan peraturan Menteri Pertanian tentang Pedoman Umum Program Pembangunan Ketahanan Pangan Lingkup Badan Ketahanan Pangan Tahun Anggaran 2010;

Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1996 Tentang Pangan (Lembaran Negara Tahun 1996 Nomor 99, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3656);

2. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 Tentang Keuangan Negara (Lembaran Negara Tahun 2003 Nomor 47, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4286);

3. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 Tentang Perbendaharaan Negara (Lembaran Negara Tahun 2004 Nomor 5, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4355);

4. Peraturan Pemerintah Nomor 68 Tahun 2002 Tentang Ketahanan Pangan (Lembaran Negara Tahun 2002 Nomor 142, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4254);

(3)

5. Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 Tentang Pembagian Urusan Pemerintah antara Pemerintah, Pemerintah Daerah Provinsi, dan Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota (Lembaran Negara Tahun 2007 Nomor 82, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4737);

6. Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2007 Tentang Organisasi Perangkat Daerah (Lembaran Negara Tahun 2007 Nomor 89, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4741);

7. Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 2008 Tentang Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 20, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4816);

8. Peraturan Presiden Nomor 83 Tahun 2006 Tentang Dewan Ketahanan Pangan;

9. Peraturan Presiden Nomor 22 Tahun 2009 Tentang Kebijakan Percepatan Penganekaragaman Konsumsi Pangan Berbasis Sumber Daya Lokal;

10.Keputusan Presiden Nomor 42 Tahun 2002 Tentang Pedoman Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (Lembaran Negara Tahun 2002 Nomor 73, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4214) juncto Keputusan Presiden Nomor 72 Tahun 2004 (Lembaran Negara Tahun 2004 Nomor 92, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4418);

11.Keputusan Presiden Nomor 80 Tahun 2003 Tentang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (Lembaran Negara Tahun 2003 Nomor 120, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4330) juncto Peraturan Presiden Nomor 70 Tahun 2005; 12.Peraturan Menteri Pertanian Nomor 341/Kpts/OT.140/7/2005 Tentang Kelengkapan Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Pertanian;

13.Peraturan Menteri Pertanian Nomor

58/Permentan/KU.410/12/2009 Tentang Pelimpahan Kepada Gubernur Dalam Pengelolaan Kegiatan dan Tanggung Jawab Dana Dekonsentrasi Provinsi Tahun Anggaran 2010;

14.Peraturan Menteri Pertanian Nomor

59/Permentan/KU.410/12/2009 Tentang Penugasan Kepada Gubernur Dalam Pengelolaan Kegiatan dan Tanggung Jawab Dana Tugas Pembantuan Provinsi Tahun Anggaran 2010;

15.Peraturan Menteri Pertanian Nomor

60/Permentan/KU.410/12/2009 Tentang Penugasan Kepada Bupati/Walikota Dalam Pengelolaan Kegiatan dan Tanggung Jawab Dana Tugas Pembantuan Kabupaten/Kota Tahun Anggaran 2010;

16.Peraturan Menteri Pertanian Nomor

14/Permentan/OT.140/1/2010 Tentang Pedoman Pengelolaan Dana Bantuan Sosial untuk Pertanian Tahun Anggaran 2010;

17.Peraturan Menteri Pertanian Nomor

15/Permentan/RC.110/1/2010 Tentang Rencana Strategis Kementerian Pertanian Tahun 2010-2014.

(4)

MEMUTUSKAN : Menetapkan :

KESATU : Pedoman Umum Program Pembangunan Ketahanan Pangan Lingkup Badan Ketahanan Pangan Tahun 2010.

KEDUA : Pedoman Umum Program Pembangunan Ketahanan Pangan Lingkup Badan Ketahanan Pangan Tahun 2010, terdiri dari:

a. Pedoman Umum Program Aksi Desa Mandiri Pangan Menuju Gerakan Kemandirian Pangan (Lampiran I).

b. Pedoman Umum Penguatan Lembaga Distribusi Pangan Masyarakat (Lampiran II).

c. Pedoman Umum Gerakan Percepatan Penganekaragaman Konsumsi Pangan (Lampiran III).

KETIGA : Pedoman Umum sebagaimana dimaksud dalam peraturan ini, merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan dari peraturan ini. KEEMPAT : Pedoman ini digunakan sebagai acuan bagi Pemerintah, Pemerintah

Provinsi dan Pemerintah Kabupaten/Kota dalam mewujudkan Ketahanan Pangan.

KELIMA : Pedoman yang bersifat Teknis, akan diatur lebih lanjut dalam bentuk Pedoman Teknis yang ditetapkan oleh Kepala Badan Ketahanan Pangan.

KEENAM : Peraturan ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan, apabila di kemudian hari terdapat kekeliruan akan dirubah sebagaimana mestinya.

Ditetapkan di : Jakarta

Pada tanggal : Februari 2010 MENTERI PERTANIAN,

SUSWONO

SALINAN Peraturan ini disampaikan Kepada Yth:

1. Presiden Republik Indonesia; 2. Wakil Presiden Republik Indonesia; 3. Ketua Badan Pemeriksa Keuangan;

4. Menteri Koordinator Perekonomian Repubilk Indonesia; 5. Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat Republik Indonesia; 6. Menteri Keuangan Republik Indonesia;

(5)

8. Menteri Kesehatan Republik Indonesia;

9. Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia;

10.Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas; 11.Menteri Perindustrian Republik Indonesia;

12.Menteri Perdagangan Republik Indonesia; 13.Menteri Kehutanan Republik Indonesia;

14.Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia; 15.Menteri Pekerjaan Umum Republik Indonesia; 16.Menteri Sosial Republik Indonesia;

17.Menteri Koperasi dan Pengusaha Kecil Menengah Republik Indonesia; 18.Menteri Pemberdayaan Perempuan Republik Indonesia;

19.Menteri Pembangunan Daerah Tertingal Republik Indonesia; 20.Menteri Sekretaris Negara Republik Indonesia;

21.Para Gubernur/Ketua Dewan Ketahanan Pangan Provinsi di seluruh Indonesia; 22.Para Bupati/Walikota/Ketua Dewan Ketahanan Pangan Kabupaten/Kota di seluruh

Indonesia;

23.Para Pemimpin Unit Kerja Eselon I Lingkup Kementerian Pertanian;

24.Kepala Badan/Kantor/Dinas/Unit Kerja yang menangani Ketahanan Pangan Provinsi seluruh Indonesia;

25.Kepala Badan/Kantor/Dinas/Unit Kerja yang menangani Ketahanan Pangan Kabupaten/Kota seluruh Indonesia.

(6)

LAMPIRAN III

PERATURAN MENTERI PERTANIAN NOMOR : 25/Permentan/OT.140/2/2010 TANGGAL :

PEDOMAN UMUM

GERAKAN PERCEPATAN

PENGANEKARAGAMAN KONSUMSI PANGAN

KEMENTERIAN PERTANIAN

JAKARTA, 2010

(7)

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI ...vii

DAFTAR LAMPIRAN. ...viii

DAFTAR GAMBAR ...ix

I. PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang ... 1

B. Ruang Lingkup... 3

C. Dasar Hukum ... 5

D. Pengertian ... 5

II. TUJUAN, SASARAN DAN INDIKATOR KEBERHASILAN... 8

A. Tujuan... 8

B. Sasaran... 8

C. Indikator Keberhasilan ... 9

III.KERANGKA PIKIR ... 10

A. Justifikasi... 10

B. Rancangan Program ... 11

C. Pendekatan... 12

D. Strategi ... 13

IV.GERAKAN PERCEPATAN PENGANEKARAGAMAN KONSUMSI PANGAN ... 15

V. ORGANISASI DAN TATA KERJA ... 19

A. Organisasi ... 19

B Tata Kerja ... 21

VI.PEMBIAYAAN... 23

VII. PEMANTAUAN DAN EVALUASI, PENGENDALIAN DAN PENGAWASAN, SERTA PELAPORAN PEMBIAYAAN ... 25

A. Pemantauan dan Evaluasi ... 25

B. Pengendalian dan Pengawasan ... 25

C. Pelaporan ... 26

(8)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 : Laporan Calon Penerima Calon Lokasi Kegiatan P2KP Tahun 2010 ... Lampiran 2 : Surat Keputusan Kepala Badan/instansi Ketahanan Pangan

Kabupaten/Kota tentang Penetapan Penerima Manfaat ... 39

Lampiran 3 : Surat Perjanjian Kerja sama ... 41

Lampiran 4 : Surat Permintaan Pembayaran Langsung (SPP LS) ... 45

Lampiran 5 : Rekapitulasi RKKA ... 46

(9)

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1: Skema Pelaksanaan Program P2KP ... 12 Gambar 2 : Organisasi Gerakan P2KP... 20 Gambar 3 : Arus Pelaporan Program P2KP ... 27

(10)

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Keberhasilan pembangunan suatu bangsa ditentukan oleh ketersediaan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas, yaitu memiliki fisik yang tangguh, mental yang kuat, kesehatan yang prima, serta cerdas. Bukti empiris menunjukkan bahwa kualitas SDM sangat ditentukan oleh status gizi yang baik, yang secara langsung ditentukan oleh faktor konsumsi pangan dan daya tahan tubuh terhadap penyakit infeksi. Secara tidak langsung, status gizi dipengaruhi pula oleh pola asuh, ketersediaan pangan, faktor sosial ekonomi, budaya dan politik.

Penganekaragaman konsumsi pangan merupakan upaya untuk memantapkan atau membudayakan pola konsumsi pangan yang beragam, bergizi seimbang dan aman dalam jumlah dan komposisi yang cukup guna memenuhi kebutuhan gizi untuk mendukung hidup sehat, aktif dan produktif. Indikator untuk mengukur tingkat keanekaragaman dan keseimbangan konsumsi pangan masyarakat adalah dengan skor Pola Pangan Harapan (PPH) sebesar 95 dan diharapkan dapat dicapai pada tahun 2015.

Penganekaragaman konsumsi pangan akan memberi dorongan dan insentif pada penyediaan produk pangan yang lebih beragam dan aman untuk dikonsumsi, termasuk produk pangan yang berbasis sumber daya lokal. Dari sisi aktivitas produksi, penganekaragaman konsumsi pangan akan mendorong pengembangan berbagai ragam sumber pangan, utamanya tanaman sumber karbohidrat, protein dan zat gizi mikro, serta ternak dan ikan sebagai sumber protein. Selain itu akan dapat menumbuhkan beragam usaha pengolahan pangan usaha rumah tangga, kecil, menengah, dan bahkan usaha besar. Aktivitas ekonomi pangan saat ini dapat meminimalkan risiko usaha pola monokultur, meredam gejolak harga, mengurangi gangguan kehidupan biota di suatu kawasan, meningkatkan pendapatan petani, dan menunjang pelestarian sumber daya alam. Upaya pengembangan konsumsi pangan dapat pula dijadikan salah satu momentum bagi Pemerintah Daerah untuk menstimulasi pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru di pedesaan.

Di samping itu, jika dilihat dari kepentingan kemandirian pangan maka penganekaragaman konsumsi pangan dapat mengurangi ketergantungan konsumen pada satu jenis pangan. Pada saat ini, diketahui dan selalu diperbincangkan tingginya konsumsi beras per kapita di Indonesia yaitu 139,15 kg/tahun (angka kesepakatan sejak lebih dari 5 tahun yang lalu). Sementara itu dengan menggunakan kesepakatan angka dari hasil Susenas, tingkat konsumsi beras di dalam rumah tangga (di luar untuk industri pangan) pada tahun 2004 sebesar 107,00 kg/tahun dan tahun 2008 sebesar 104,85 kg/tahun. Melalui kegiatan

(11)

penganekaragaman pangan, dampak langsung yang diharapkan adalah menurunnya konsumsi beras per kapita per tahun pada tingkat konsumsi langsung di dalam rumah tangga, walaupun disadari bahwa banyak sekali faktor ekonomi, sosial dan budaya yang mempengaruhi tingkat konsumsi suatu produk. Sementara itu, total pemanfaatan beras per kapita untuk keseluruhan (pangan, industri) dapat saja tidak banyak berubah karena meningkatnya permintaan beras dari sektor industri dan jasa restoran.

Dari kedua sisi (produksi dan konsumsi) seperti diuraikan di atas, penganekaragaman konsumsi pangan merupakan fondasi dari keberlanjutan ketahanan pangan dan memiliki dimensi pembangunan yang sangat luas, baik dari aspek sosial, ekonomi, politik maupun kelestarian lingkungan.

Selama ini upaya penganekaragaman konsumsi pangan telah dilaksanakan oleh masing-masing sektor, namun masih ditemui permasalahan. Permasalahan utama yang dihadapi dalam penganekaragaman konsumsi pangan dewasa ini adalah: (1) belum tercapainya skor keragaman dan keseimbangan konsumsi pangan dan gizi sesuai harapan yang selama ini pencapaiannya berjalan sangat lamban dan cenderung fluktuatif, (2) cukup tingginya kesenjangan mutu gizi konsumsi pangan antara masyarakat desa dan kota, (3) adanya kecenderungan penurunan proporsi konsumsi pangan berbasis sumber daya lokal, (4) lambatnya perkembangan, penyebaran, dan penyerapan teknologi pengolahan pangan lokal untuk meningkatkan kepraktisan dalam pengolahan, nilai gizi, nilai ekonomi, nilai sosial, citra dan daya terima, (5) masih belum optimalnya pemberian insentif bagi dunia usaha dan masyarakat yang mengembangkan aneka produk olahan pangan lokal, (6) kurangnya fasilitasi pemberdayaan ekonomi untuk meningkatkan aksesibilitas pangan yang beragam, bergizi seimbang dan aman.

Presiden Republik Indonesia pada tanggal 6 Juni 2009 telah mengeluarkan Peraturan Nomor 22 Tahun 2009 tentang Kebijakan Percepatan Penganekaragaman Konsumsi Pangan Berbasis Sumber Daya Lokal. Melalui kebijakan ini diharapkan mampu memberikan daya ungkit yang kuat bagi penyediaan dan permintaan aneka ragam pangan secara nyata, yang secara simultan dapat mendorong terwujudnya penyediaan aneka ragam pangan yang berbasis pada potensi sumber daya lokal. Selain itu, sebagai tindak lanjut dari Peraturan Presiden (Perpres) tersebut telah diterbitkan Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) no. 43 Tahun 2009 tentang Gerakan Percepatan Penganekaragaman Konsumsi Pangan Berbasis Sumber Daya Lokal.

Implementasi kebijakan tersebut pada tahun 2010 diwujudkan melalui Gerakan Percepatan Penganekaragaman Konsumsi Pangan (P2KP) bagi kelompok wanita terutama kelompok dasawisma PKK, siswa SD/MI dan usaha mikro kecil bidang pangan dalam pengembangan pangan lokal melalui tepung-tepungan. Dalam rangka memperlancar pelaksanaan gerakan agar mencapai hasil yang diharapkan,

(12)

diperlukan suatu rambu-rambu program dan gerakan P2KP di daerah supaya dapat bersinergi secara nasional. Sehubungan dengan itu perlu adanya Pedoman Umum Percepatan Penganekaragaman Konsumsi Pangan.

B. Ruang Lingkup

Ruang lingkup kegiatan P2KP tahun 2010 terdiri dari:

1. Pemberdayaan Kelompok Wanita melalui Optimalisasi Pemanfaatan Pekarangan Kegiatan pemberdayaan kelompok wanita melalui optimalisasi pemanfaatan pekarangan dilakukan dengan melaksanakan usahatani secara terpadu baik dari sumber pangan karbohidrat, protein, vitamin dan mineral. Pemberdayaan kelompok dilakukan melalui pendampingan oleh penyuluh pertanian untuk penguatan kelembagaan dan peningkatan kemampuan kelompok wanita dalam pengembangan pemanfaatan pekarangan dan peningkatan pengetahuan tentang konsumsi pangan beragam, bergizi seimbang dan aman, yang dilakukan dengan metode sekolah lapangan (SL) yang dikembangkan di kebun kelompok sebagai tempat demplot. Hasil pekarangan dimanfaatkan juga sebagai bahan baku untuk usaha mikro kecil bidang pangan melalui tepung-tepungan. Sasaran kegiatan ini adalah kelompok wanita yang ditetapkan berdasarkan pendekatan dasawisma PKK.

2. Pengembangan P2KP bagi Siswa SD/MI

Kegiatan pengembangan P2KP bagi siswa SD/MI berupa sosialisasi untuk peningkatan pemahaman dan kesadaran akan pentingnya konsumsi pangan beragam, bergizi seimbang dan aman berbasis pangan lokal dengan menyediakan dan mensosialisasikan KIT (alat peraga, modul dll).

3. Pengembangan Usaha Pengolahan Pangan Lokal Berbasis Tepung – tepungan Kegiatan ini untuk mendorong pengembangan usaha mikro kecil pengolahan pangan berbasis pangan lokal berbahan baku tepung-tepungan non beras dan non terigu.

4. Kerja sama dengan Perguruan Tinggi

Kerja sama dengan perguruan tinggi yang meliputi Universitas dan Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian (STPP). Kerja sama dengan universitas

(13)

diprioritaskan pada penyusunan data dasar P2KP, pengukuran capaian kegiatan dan pengembangan teknologi pengolahan pangan, sedangkan STPP berperan sebagai inkubator dalam kegiatan optimalisasi pemanfaatan pekarangan.

5. Promosi Penganekaragaman Konsumsi Pangan

Promosi penganekaragaman konsumsi pangan dimaksudkan untuk membangun kesadaran seluruh komponen masyarakat akan pentingnya penganekaragaman konsumsi pangan berbasis sumber daya lokal dan penurunan konsumsi beras per kapita di tingkat rumah tangga, yang dilaksanakan melalui media elektronik, media cetak, media luar ruang dan pameran. Kegiatan promosi penganekaragaman konsumsi pangan dilakukan di 33 provinsi dan 200 kabupaten/kota.

Kegiatan P2KP ini memerlukan keterlibatan dan sinergi kegiatan dari instansi dan stakeholder terkait, seperti Kementerian Kesehatan, Kementerian Pendidikan Nasional, Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Perindustrian, Kementerian Perdagangan, Lembaga Pendidikan (universitas/STPP), PKK, Lembaga Keagamaan, Tokoh Masyarakat, Penyuluh Pertanian, dan lainnya.

Peran pelaku usaha (swasta) dalam mendukung kegiatan percepatan penganekaragaman konsumsi pangan dapat dilakukan antara lain melalui pemanfaatan dana CSR (Corporate Social Responsibility)/ dana PKBL (Program Kemitraan dan Bina Lingkungan) untuk mendukung kegiatan Pengembangan P2KP bagi siswa SD/MI. Selain itu perlu dibangun pula kemitraan dengan pihak swasta atau pemangku kepentingan lainnya khususnya untuk mendukung kegiatan pemberdayaan kelompok wanita melalui optimalisasi pemanfaatan pekarangan dan pengembangan usaha pengolahan pangan lokal berbasis tepung-tepungan.

Peran kelembagaan non formal dalam hal ini PKK dan kader pangannya serta lembaga keagamaan (seperti kelompok pengajian) sangat diperlukan sebagai ujung tombak pelaksanaan kegiatan di tingkat masyarakat. Kerja sama dengan PKK telah diperkuat dengan adanya kesepakatan (MoU) No. 06/KPTS/OT.160/K/01/2010 dan No. SKEP PKK: 01/SKEP/PKK.PST/I/2010 tanggal 30 Januari 2010 antara Ketua Umum Tim Penggerak PKK dengan Kepala Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian di Mataram untuk pelaksanaan kegiatan P2KP. Kelembagaan ini berperan sebagai motor penggerak kegiatan, berdampingan selaras dengan penyuluh pertanian pendamping yang berperan sebagai fasilitator dan penyedia input intelektual. Selain itu, peranan tokoh masyarakat sebagai sosok panutan juga memegang peranan penting dalam mendukung sosialisasi P2KP.

(14)

C. Dasar Hukum

Dasar hukum pelaksanaan kegiatan penganekaragaman pangan adalah: 1. Undang-Undang Nomor 7 tahun 1996 tentang Pangan, Pasal 46 yang berbunyi

“Pemerintah menetapkan dan menyelenggarakan kebijakan mutu pangan nasional dan penganekaragaman pangan”;

2. Peraturan Pemerintah Nomor 68 tahun 2002, tentang Ketahanan Pangan, Pasal 9: (1) Penganekaragaman pangan diselenggarakan untuk meningkatkan ketahanan pangan dengan memperhatikan sumberdaya, kelembagaan dan budaya lokal; (2) Penganekaragaman pangan sebagaimana dimaksud dalam ayat

(1) dilakukan dengan: a. Meningkatkan keanekaragaman pangan, b. Mengembangkan teknologi pengolahan dan produk pangan, c. Meningkatkan

kesadaran masyarakat untuk mengkonsumsi anekaragam pangan dengan prinsip gizi seimbang;

3. Peraturan Presiden Nomor 22 tahun 2009 tentang Kebijakan Percepatan Penganekaragaman Konsumsi Pangan Berbasis Sumber Daya Lokal;

4. Peraturan Menteri Pertanian Nomor 43 tahun 2009 tentang Gerakan Percepatan Penganekaragaman Pangan Berbasis Sumber Daya Lokal.

D. Pengertian

Ketahanan Pangan adalah suatu kondisi terpenuhinya pangan bagi rumah tangga yang tercermin dari tersedianya pangan secara cukup, baik jumlah maupun mutu, aman, merata dan terjangkau.

Penganekaragaman Konsumsi Pangan adalah proses pemilihan pangan yang dikonsumsi dengan tidak tergantung kepada satu jenis pangan, tetapi terhadap bermacam-macam bahan pangan.

Pola Konsumsi adalah susunan makanan yang mencakup jenis dan jumlah bahan makanan rata-rata per orang per hari yang umum dikonsumsi/dimakan penduduk dalam jangka waktu tertentu.

Pangan Beragam, Bergizi Seimbang dan Aman adalah aneka ragam bahan pangan, baik sumber karbohidrat, protein, maupun vitamin dan mineral, yang bila dikonsumsi dalam jumlah berimbang dapat memenuhi kecukupan gizi yang dianjurkan.

Pola Pangan Harapan (PPH) adalah susunan beragam pangan yang didasarkan pada sumbangan energi dari kelompok pangan utama (baik secara absolut maupun dari suatu pola ketersediaan dan atau konsumsi pangan)

Pangan Lokal adalah pangan baik sumber karbohidrat, protein, vitamin dan mineral yang diproduksi dan dikembangkan sesuai dengan potensi sumber daya wilayah dan budaya setempat.

(15)

Pekarangan menurut G.J.A. Terra (ahli pertanian Belanda) adalah sebidang tanah darat (mencakup kolam) yang terletak langsung di sekeliling rumah, dengan batas-batas yang jelas (boleh berpagar, boleh tidak berpagar) ditanami dengan berbagai jenis tanaman. Oleh Mahfoedi (ahli pertanian Indonesia) definisi ditambah dengan “masih mempunyai hubungan pemilikan/fungsional dengan penghuninya. Menurut Prof. Otto Sumarwoto, pekarangan merupakan suatu ekosistem yang ditanami dengan berbagai tanaman yang masih mempunyai hubungan fungsional, sosial budaya, ekonomi dan biofisik.

Sosialisasi pangan beragam, bergizi seimbang dan aman adalah menginformasikan (transfer kebiasaan) pola konsumsi pangan beragam, bergizi seimbang dan aman kepada anak didik dan masyarakat, agar pengetahuan dan pemahamannya tentang penganekaragaman konsumsi pangan meningkat. Desa atau yang disebut dalam UU No. 32/2004 diartikan sebagai kesatuan

masyarakat hukum yang memiliki batas-batas wilayah, berwewenang untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat, berdasarkan asal-usul dan adat istiadat setempat yang diakui dan dihormati dalam sistem pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Desa Pelaksana P2KP adalah desa yang melaksanakan kegiatan Percepatan Penganekaragaman Konsumsi Pangan (P2KP) yang berlokasi di Desa PUAP, Desa Mandiri Pangan tahun ke-3, 4 (desa mapan tahun 2007 – 2008), Desa PIDRA, P4K, PRIMA TANI, serta P4MI dan desa lainnya pada 200 kabupaten/kota di 33 provinsi.

Desa Mandiri Pangan adalah desa yang masyarakatnya mempunyai kemampuan untuk mewujudkan ketahanan pangan dan gizi melalui pengembangan subsistem ketersediaan, subsistem distribusi, dan subsistem konsumsi pangan dengan memanfaatkan sumberdaya lokal secara berkelanjutan.

Desa PUAP adalah desa pelaksana pengembangan agribisnis pedesaan sesuai dengan potensi pertanian desa sasaran melalui bantuan modal usaha.

Desa P4K adalah desa pelaksana gerakan penanggulangan kemiskinan melalui pembinaan dan pendidikan untuk memberdayakan Petani Nelayan Kecil (PNK) beserta keluarganya yang hidup di bawah garis kemiskinan, yaitu 320 kg setara beras per kapita per tahun.

Desa P4MI adalah desa pelaksana program peningkatan pendapatan petani melalui inovasi yang dananya bersumber dari ADB (Asian Development Bank).

Desa PIDRA (Participatory Integrated Development in Rainfed Areas) adalah desa pelaksana program pemberdayaan masyarakat di lahan kering yang bertujuan untuk meningkatkan taraf hidup keluarga miskin di pedesaan.

SPFS (Special Programme For Food Security) adalah program peningkatan ketahanan pangan, revitalisasi ekonomi pedesaan dan pemberantasan

(16)

kemiskinan yang bertujuan untuk peningkatan pendapatan dan perbaikan status gizi.

PRIMA TANI adalah suatu program rintisan dan akselerasi diseminasi inovasi teknologi dalam pembangunan pertanian dan pedesaan yang dilaksanakan bersifat integrative secara vertikal dan horizontal, diharapkan dapat menghasilkan keluaran yang bermuara pada ketahanan pangan, daya saing melalui peningkatan nilai tambah dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Dasa Wisma adalah kelompok yang terdiri atas 10 – 20 kepala keluarga di satu

Rukun Tetangga (RT) dan dapat disesuaikan dengan situasi dan kondisi setempat.

Sekolah Lapangan (SL) adalah suatu model pelatihan yang dilaksanakan secara bertahap dan berkesinambungan untuk mempercepat proses peningkatan kompetensi sasaran, di mana proses berlatih melatih dilaksanakan melalui kegiatan belajar sambil mengerjakan dan belajar untuk menemukan atau memecahkan masalah sendiri, dengan berasas kemitraan antara pelatih dan peserta.

Corporate Social Responsibility (CSR) atau Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL) adalah suatu tindakan atau konsep yang dilakukan oleh perusahaan (sesuai kemampuan perusahaan tersebut) sebagai bentuk tanggung jawab perusahaan terhadap sosial/lingkungan sekitar tempat perusahaan tersebut berada. Bentuk tanggung jawab bermacam-macam mulai dari melakukan kegiatan yang dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan perbaikan lingkungan, pemberian beasiswa untuk anak tidak mampu, pemberian dana untuk pemeliharaan fasilitas umum, sumbangan yang bersifat sosial dan berguna bagi masyarakat banyak.

(17)

BAB II

TUJUAN, SASARAN DAN INDIKATOR KEBERHASILAN A. Tujuan

1. Tujuan Umum:

Meningkatkan pengetahuan, pemahaman, keterampilan, dan kesadaran masyarakat untuk mengubah perilaku dalam mengkonsumsi pangan ke arah yang semakin beragam, bergizi seimbang dan aman berbasis sumber daya lokal. 2. Tujuan Khusus

a. Meningkatkan pengetahuan, pemahaman dan kemampuan aparat pemerintah, penyuluh pertanian dan tokoh/pimpinan kelembagaan petani dalam upaya pengembangan dan pendampingan percepatan penganekaragaman konsumsi pangan.

b. Meningkatkan motivasi, partisipasi, dan aktivitas masyarakat dalam penganekaragaman konsumsi pangan melalui penguatan kelembagaan dan pemberdayaan masyarakat.

c. Memberdayakan pemanfaatan pangan lokal dan produk olahannya untuk penganekaragaman konsumsi pangan.

B. Sasaran

1. Sasaran Program

Mengacu pada tujuan tersebut di atas, maka sasaran P2KP adalah:

a. Meningkatnya pengetahuan dan pemahaman berbagai pemangku kepentingan (stakeholder) tentang penganekaragaman konsumsi pangan. Kelompok sasaran antara lain aparat pemerintah, penyuluh pertanian, guru, kelompok wanita, siswa SD/MI, pengusaha pangan lokal dan kelompok masyarakat lainnya.

b. Mendorong terwujudnya pola konsumsi pangan yang semakin beragam, bergizi seimbang, dan aman yang dicerminkan oleh tercapainya skor PPH rata-rata nasional sekurang-kurangnya 86,4 pada tahun 2010 dan 95 pada tahun 2015; dan menurunnya tingkat konsumsi beras di dalam rumah tangga per kapita sekitar 1,5 % per tahun.

2. Sasaran Kegiatan dan Lokasi

Kegiatan P2KP tahun 2010 yang berupa pembinaan langsung pemberdayaan masyarakat tersebar di 200 Kabupaten/Kota di 33 Provinsi dengan sasaran kegiatan sebagai berikut:

a. 2000 Kelompok Wanita terutama dasawisma PKK, b. Siswa SD/MI di 2000 sekolah,

(18)

c. 2000 Kelompok Usaha Kecil Bidang Pangan.

Lokasi kegiatan P2KP tersebut di atas dilaksanakan di satu desa (Desa Pelaksana P2KP) yang terdapat di Desa PUAP, Desa Mandiri Pangan tahun ke- 3, 4 (Desa Mapan tahun 2007 – 2008), Desa PIDRA, SPFS, P4K, PRIMA TANI, serta P4MI dan desa lainnya pada 200 kabupaten/kota di 33 provinsi. Sasaran kegiatan P2KP lainnya adalah masyarakat luas untuk membangun kesadaran akan manfaat konsumsi pangan beragam, bergizi seimbang dan aman, serta perlunya penurunan konsumsi beras 1.5 persen per kapita per tahun. C. Indikator Keberhasilan

Keberhasilan penganekaragaman konsumsi pangan akan tercermin dari 7 (tujuh) indikator yaitu : (1) makin beragam dan seimbangnya pangan sumber karbohidrat, protein, vitamin dan mineral dalam menu makanan sehari-hari; (2) menurunnya konsumsi beras 1.5 % per kapita per tahun di dalam rumah tangga; (3) meningkatnya citra pangan lokal di masyarakat; (4) makin banyak yang memanfaatkan pekarangan sebagai sumber pangan keluarga; (5) makin tingginya minat masyarakat, dunia usaha terutama usaha mikro, kecil dan menengah untuk memanfaatkan pangan lokal dalam pengembangan bisnis pangan (off farm); (6) makin meningkatnya partisipasi masyarakat dalam bisnis pangan termasuk penciptaan menu makanan yang beragam, bergizi seimbang dan aman melalui pengembangan teknologi kuliner sesuai dengan kearifan dan budaya lokal; (7) semakin berperannya Perguruan Tinggi (universitas dan STPP) dalam mendukung gerakan percepatan penganekaragaman konsumsi pangan berbasis sumber daya lokal.

(19)

BAB III KERANGKA PIKIR A. Justifikasi

Tingkat konsumsi pangan rata-rata orang Indonesia diukur dari konsumsi energi pada tahun 2008 sebesar 2.038 kkal/kap/hari sudah melebihi anjuran WNPG (Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi) VIII tahun 2004 sebesar 2.000 kkal/kap/hari. Begitu pula dengan rata-rata konsumsi protein sebesar 57.49 gram/kapita/hari, telah melebihi angka anjuran sebesar 52 gram/kapita/hari. Meskipun demikian, pencapaian tersebut belum diiringi dengan pemenuhan kualitas konsumsi pangan penduduk yang ditandai dengan skor keragaman konsumsi pangan sebesar 81,9 pada tahun 2008 dari target skor Pola Pangan Harapan (PPH) senilai 95.

Analisis terhadap data SUSENAS tahun 2008 juga menunjukkan bahwa pola konsumsi pangan penduduk Indonesia hingga tahun 2008 masih terdapat ketimpangan, karena (1) masih tingginya konsumsi padi-padian; (2) masih kurangnya konsumsi pangan hewani; dan (3) masih rendahnya konsumsi umbi-umbian, sayur dan buah, serta kacang-kacangan. Data tersebut menunjukkan bahwa ketergantungan konsumsi pada padi-padian terutama beras sebagai pangan pokok masih sangat tinggi, sedangkan pemanfaatan sumber–sumber pangan lokal seperti umbi, jagung, dan sagu masih rendah. Hal ini didukung oleh kajian para pakar gizi yang menyatakan bahwa sejak tahun 2005 mayoritas masyarakat Indonesia baik di perkotaan atau pedesaan dan pada berbagai golongan pendapatan, hanya memiliki satu pola pangan pokok yaitu beras dan mie (terigu).

Melihat kondisi tersebut, maka upaya perbaikan konsumsi pangan dan gizi mutlak dilakukan, melalui 3 (tiga) pendekatan yaitu 1) dimensi fisik berupa penyediaan pangan sumber karbohidrat non beras, protein, vitamin dan mineral; 2) dimensi ekonomi berupa peningkatan kemampuan masyarakat untuk mengakses pangan; dan 3) dimensi kesadaran gizi berupa aspek edukasi/ pendidikan/promosi gizi khususnya sejak usia dini.

Mengingat bahwa paradigma yang digunakan dalam pelaksanaan program perbaikan konsumsi pangan dan gizi selama ini cenderung berorientasi pada “sekedar” pemberian makanan tambahan dan mengesampingkan pentingnya sisi “edukasi”. Target utama dalam unsur edukasi adalah kelompok wanita melalui pendidikan non formal dan anak – anak usia dini melalui pendidikan formal. Penekanan ini dikarenakan wanita memiliki peranan vital dalam mengatur pola konsumsi pangan keluarga sehari – hari dan anak – anak merupakan agen perubahan.

(20)

Perwujudan dimensi fisik dapat dilakukan melalui optimalisasi pemanfaatan pekarangan sesuai dengan 5 (lima) fungsi pokok pekarangan yaitu sebagai 1) lumbung hidup, 2) warung hidup, 3) bank hidup, 4) apotek hidup; dan 5) estetika. Pengembangan pekarangan secara terpadu akan mengarah pada pemenuhan kebutuhan gizi dan pendapatan keluarga.

Penganekaragaman konsumsi pangan ke depan akan memberi dorongan dan insentif pada penyediaan produk pangan yang lebih beragam dan aman untuk dikonsumsi termasuk produk pangan yang berbasis sumber daya lokal. Hal ini akan meningkatkan sisi permintaan terhadap bahan pangan lokal dan aneka olahannya. Untuk itu perlu diimbangi dengan pemantapan ketersediaan bahan pangan lokal. Mengingat keterbatasan daya simpan pangan lokal secara umum, maka perlu dikembangkan bisnis pangan lokal melalui tepung – tepungan.

B. Rancangan Program

Percepatan Penganekaragaman Konsumsi Pangan (P2KP) dalam pelaksanaannya dilakukan untuk meningkatkan pengetahuan, pemahaman, dan kesadaran masyarakat khususnya kelompok wanita dan siswa SD/MI tentang pola konsumsi pangan beragam, bergizi seimbang dan aman (melalui penyuluhan), penurunan konsumsi beras per kapita di rumah tangga, dan perbaikan ekonomi masyarakat (pengembangan agribisnis). Kedua pendekatan ini harus dilaksanakan secara simultan sehingga tujuan dari P2KP dapat terwujud sesuai dengan target yang telah ditetapkan.

Merujuk pada Perpres No 22 Tahun 2009, maka dalam pelaksanaan Program P2KP melibatkan instansi dan pemangku kepentingan (stakeholder) terkait, seperti Kementerian Kesehatan, Kementerian Pendidikan Nasional, Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Perindustrian, Kementerian Perdagangan, lembaga pendidikan (universitas/STPP), PKK, lembaga keagamaan, tokoh masyarakat, penyuluh pertanian, dan lainnya.

Program P2KP terdiri dari 5 (lima) kegiatan, yaitu pemberdayaan kelompok wanita melalui optimalisasi pemanfaatan pekarangan, pengembangan P2KP bagi siswa SD/MI, pengembangan usaha pengolahan pangan lokal berbasis tepung-tepungan, kerja sama dengan perguruan tinggi dan promosi penganekaragaman konsumsi pangan. Optimalisasi pemanfaatan pekarangan, pengembangan P2KP bagi siswa SD/MI, dan pengembangan usaha pengolahan pangan lokal berbasis tepung-tepungan, sedapat mungkin terintegrasi dalam satu desa (Desa Pelaksana P2KP) yang berlokasi di Desa PUAP, Desa Mandiri Pangan tahun ke- 3, 4 (desa mapan tahun 2007 – 2008), Desa PIDRA, SPFS, P4K, PRIMA TANI, serta P4MI dan desa lainnya pada 200 kabupaten/kota di 33 provinsi.

(21)

Pada satu desa pelaksana P2KP, ditetapkan satu kelompok wanita melalui pendekatan Dasa Wisma yang telah eksis kelembagaannya, satu SD/MI dan satu kelompok usaha pengolahan pangan lokal berbasis tepung-tepungan. Proses pelaksanaan P2KP tahun 2010 disajikan pada Gambar 1 berikut :

Gambar 1. Skema Pelaksanaan Program P2KP C. Pendekatan

Pendekatan yang digunakan dalam pelaksanaan program P2KP, yaitu melalui : 1. Komunikasi, informasi, edukasi (KIE) dan promosi

Pendekatan ini diarahkan untuk meningkatkan pengetahuan, kesadaran dan kebiasaan untuk mengkonsumsi aneka ragam pangan ke arah konsumsi pangan yang beragam, bergizi seimbang dan aman. Pendekatan yang digunakan adalah melalui pendidikan formal dan non formal/penyuluhan.

Promosi penganekaragaman konsumsi pangan diarahkan dengan mengoptimalkan keterlibatan media massa, LSM, lembaga profesi dalam mensosialisasikan dan mempromosikan berbagai kegiatan percepatan penganekaragaman konsumsi pangan berbasis sumber daya lokal dan promosi penurunan konsumsi beras per kapita.

2. Peran kepemimpinan formal dan non formal dalamPemberdayaan masyarakat Pemberdayaan masyarakat diarahkan untuk mengembangkan pemanfaatan pekarangan sebagai sumber penyedia pangan yang beragam, bergizi seimbang dan aman bagi keluarga melalui pemberdayaan kelompok wanita.

Peran pimpinan formal mulai dari gubernur sampai dengan kepala desa dan pimpinan non formal tokoh masyarakat serta ulama sebagai tokoh panutan sangat mendukung dalam gerakan percepatan penganekaragaman konsumsi pangan berbasis pangan lokal dan promosi penurunan konsumsi beras per kapita

(22)

di dalam rumah tangga.Selain itu, peran kelembagaan non formal, antara lain PKK, lembaga keagamaan (kelompok pengajian) sangat diperlukan sebagai ujung tombak pelaksanaan kegiatan di tingkat masyarakat. Kelembagaan ini berperan sebagai motor penggerak kegiatan, berdampingan dengan penyuluh pertanian yang berperan sebagai fasilitator dan penyedia input intelektual.

3. Peningkatan ekonomi pedesaan

Peningkatan ekonomi pedesaan dilaksanakan melalui pengembangan usaha pengolahan berbasis pangan lokal melalui tepung-tepungan diarahkan untuk mendorong dan menstimulasi pengembangan bisnis (usaha mikro kecil bidang pangan) yang mengolah pangan lokal menjadi produk antara (intermediate product).

4. Kemitraan dengan dunia usaha dan Perguruan Tinggi (Universitas dan STPP). Untuk mendukung kegiatan sosialisasi pengembangan P2KP bagi siswa SD/MI, kegiatan optimalisasi pemanfaatan pekarangan dan pengembangan usaha pengolahan berbasis pangan lokal melalui tepung-tepungan perlu dilakukan kerja sama dengan dunia usaha untuk memanfaatkan dana CSR/PKBL terkait dengan penganekaragaman konsumsi pangan.

Keterlibatan universitas diarahkan untuk penyusunan data dasar dan mengukur capaian kegiatan, mengembangkan teknologi tepat guna sebagai upaya mendorong pengembangan pangan lokal menjadi produk antara, sedangkan peran STPP adalah sebagai inkubator pada pelaksanaan optimalisasi pemanfaatan pekarangan. Selain itu perlu dibangun pula kemitraan dengan pihak swasta khususnya untuk mendukung Promosi Penganekaragaman Konsumsi Pangan.

D. Strategi

Strategi percepatan penganekaragaman konsumsi pangan dilakukan melalui 2 (dua) strategi yaitu:

1. Internalisasi Penganekaragaman Konsumsi Pangan

Salah satu faktor penting yang menyebabkan belum maksimalnya pencapaian program penganekaragaman konsumsi pangan adalah masih terbatasnya kebijakan dan program yang berhubungan dengan proses internalisasi pola konsumsi pangan beragam, bergizi seimbang dan aman pada tingkat rumah tangga. Pengetahuan tentang penganekaragaman konsumsi pangan yang dimiliki oleh setiap individu, terutama wanita sangat penting dalam membentuk pola konsumsi pangan yang memenuhi kaidah gizi seimbang.

(23)

Proses internalisasi penganekaragaman konsumsi pangan dilakukan melalui 2 (dua) cara yaitu :

a. Advokasi, kampanye, promosi, dan sosialisasi tentang konsumsi pangan yang beragam, bergizi seimbang dan aman kepada aparat pada berbagai tingkatan dan masyarakat.

b. Pendidikan konsumsi pangan yang beragam, bergizi seimbang dan aman melalui jalur pendidikan formal dan non-formal / penyuluhan.

2. Pengembangan Bisnis dan Industri Pangan Lokal

Keberhasilan percepatan penganekaragaman konsumsi pangan ditentukan oleh ketersediaan aneka ragam pangan dan perilaku konsumen dalam mengkonsumsi aneka ragam pangan. Efektivitas percepatan penganekaragaman konsumsi pangan akan tercapai apabila upaya internalisasi didukung dan berjalan seiring dengan pengembangan bisnis pangan dan industri pangan lokal. Oleh karena itu program penganekaragaman konsumsi pangan nasional dan daerah perlu diselaraskan, khususnya dalam pengembangan pertanian, perikanan dan industri pengolahan pangan guna memajukan perekonomian wilayah. Kondisi ini menuntut komitmen yang tinggi dari berbagai pihak serta memerlukan rencana bisnis dan industri aneka ragam pangan yang komprehensif. Untuk itu rencana bisnis dan industri aneka ragam pangan tersebut perlu dikembangkan untuk membangun sistem inovasi nasional dan daerah guna merangsang pemantapan pelaksanaan penganekaragaman konsumsi pangan di berbagai daerah. Dalam rencana tersebut, perlu dinyatakan tentang peranan industri swasta nasional dan daerah khususnya dalam program pengembangan industri aneka ragam pangan.

Pengembangan bisnis dan industri pangan lokal dilakukan melalui 2 (dua) cara yaitu :

a. Fasilitasi kepada usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) untuk pengembangan bisnis pangan segar, industri bahan baku, industri pangan olahan dan pangan siap saji yang aman berbasis sumber daya lokal yang berkoordinasi secara sinergis dengan dinas/pihak terkait untuk mendukung terlaksananya kegiatan dimaksud .

b. Advokasi, sosialisasi dan penerapan standar keamanan pangan bagi pelaku usaha pangan, terutama kepada usaha rumah tangga dan UMKM.

(24)

BAB IV

GERAKAN PERCEPATAN PENGANEKARAGAMAN KONSUMSI PANGAN

Upaya untuk mewujudkan ketujuh indikator tersebut di atas antara lain melalui kegiatan-kegiatan sebagai berikut:

1. Pemberdayaan Kelompok Wanita melalui Optimalisasi Pemanfaatan Pekarangan

Kegiatan Pemberdayaan Kelompok Wanita melalui optimalisasi pemanfaatan pekarangan bertujuan untuk:

a. meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan kesadaran serta motivasi kelompok wanita untuk memanfaatkan lahan pekarangan sebagai sumber pangan dan pendapatan keluarga;

b. meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan kemampuan kelompok wanita dalam menyiapkan, mengolah, menyajikan dan mengkonsumsi pangan yang beragam, bergizi seimbang dan aman melalui optimalisasi pemanfaatan pekarangan;

Sasaran penerima manfaat adalah kelompok wanita yang sudah eksis di 2.000 desa pelaksana P2KP pada 200 kabupaten/kota di 33 provinsi. Lokasi desa penerima manfaat diharapkan berada pada lokasi yang sama dengan pelaksana kegiatan P2KP bagi siswa SD/MI dan pengembangan usaha pengolahan pangan lokal berbasis tepung-tepungan dan ditetapkan dengan surat keputusan Kepala Badan/Dinas yang menangani ketahanan pangan kabupaten/kota tentang penetapan kelompok penerima manfaat kegiatan P2KP 2010 (contoh SK terdapat pada lampiran 2). Penetapan anggota kelompok dilakukan melalui pendekatan konsep dasawisma PKK. Penetapan dasawisma PKK sebagai sasaran kegiatan merupakan tindak lanjut kesepakatan (MoU) antara Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian dengan Ketua Tim Penggerak PKK Pusat yang ditandatangani pada tanggal 30 Januari 2010 di Nusa Tenggara Barat.

Kegiatan yang dilakukan dalam rangka pemberdayaan kelompok wanita melalui optimalisasi pemanfaatan pekarangan yaitu:

a. Sosialisasi konsumsi pangan yang beragam, bergizi seimbang dan aman serta optimalisasi pemanfaatan pekarangan kepada kelompok penerima manfaat yang dilakukan dengan metode sekolah lapangan.

b. Pemanfaatan pekarangan

Setiap anggota kelompok wanita penerima manfaat yang diseleksi, memiliki lahan pekarangan untuk dapat dimanfaatkan sebagai sumber pangan dan pendapatan keluarga.

(25)

2. Pengembangan P2KP bagi siswa SD/MI P2KP bagi siswa SD/MI bertujuan untuk:

a. meningkatkan pengetahuan siswa SD/MI tentang aneka pangan lokal sumber karbohidrat non beras dan non terigu;

b. meningkatkan pengetahuan siswa SD/MI tentang manfaat mengkonsumsi pangan yang beragam, bergizi seimbang dan aman yang berasal dari pangan lokal.

Sasaran penerima manfaat adalah seluruh siswa SD/MI pada 2000 sekolah di 2.000 desa pelaksana kegiatan P2KP.

P2KP bagi siswa SD/MI yang dilakukan adalah kegiatan :

a. Sosialisasi pangan beragam, bergizi seimbang dan aman dilaksanakan oleh para guru SD/MI atau penyuluh pertanian dengan menggunakan KIT (alat peraga, modul dll). Melalui kegiatan sosialisasi, diharapkan dapat mendorong siswa berperan aktif dalam menerapkan sendiri materi yang telah disampaikan di lingkungan keluarga masing-masing.

b. Kerja sama dengan dunia usaha (stakeholder terkait) yang akan berpartisipasi dalam P2KP dengan memanfaatkan dana Corporate Social Responsibility (CSR)/Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL).

3. Pengembangan Usaha Pengolahan Pangan Lokal Berbasis Tepung - tepungan Bisnis pangan lokal melalui tepung-tepungan ditujukan untuk:

a. mengoptimalkan pemanfaatan sumber pangan lokal melalui peranan usaha kecil bidang pangan dalam menyediakan bahan baku pangan olahan,

b. meningkatkan penyediaan bahan pangan lokal dari tepung-tepungan sebagai produk antara (intermediate product) dan

c. meningkatkan produksi, produktivitas, mutu, dan keanekaragaman produk pangan lokal yang dihasilkan oleh usaha mikro kecil bidang pangan;

Sasaran pengembangan usaha pengolahan pangan lokal berbasis tepung-tepungan pada 2.000 usaha mikro kecil bidang pangan di 2000 desa pelaksana P2KP.

Pelaksanaan kegiatan pengembangan usaha pengolahan pangan lokal berbasis tepung-tepungan dilakukan melalui penyaluran bantuan peralatan sederhana kepada usaha mikro kecil bidang pangan terpilih. Untuk mengadakan peralatan sederhana dapat dilakukan kerja sama dengan perguruan tinggi, BPTP (Balai Pengkajian Teknologi Pertanian), Balai Besar Alsintan untuk merancang jenis alat sesuai dengan kebutuhan calon penerima manfaat.

(26)

4. Kerja sama dengan Perguruan Tinggi (Universitas dan Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian (STPP))

Kerja sama dengan Perguruan Tinggi bertujuan untuk:

a. menyusun data dasar kegiatan P2KP dan mengukur capaian kinerja tahunannya, b. memantapkan pelaksanaan program percepatan penganekaragaman konsumsi

pangan melalui pengkajian dan pengembangan program,

c. menjalin kemitraan dengan perguruan tinggi sebagai salah satu motor penggerak utama program P2KP, melalui diseminasi hasil-hasil penelitian, pelatihan, penyusunan modeling penyuluhan, demonstrasi/ percontohan dalam peningkatan citra dan pengembangan teknologi pengolahan pangan lokal dan d. bersama – sama dengan Badan Ketahanan Pangan Daerah dan Dinas/ Instansi

terkait, serta Tim Penggerak PKK untuk ikut serta dalam membina, memantau dan mengevaluasi program percepatan tersebut.

Kerja sama dengan perguruan tinggi dapat diimplementasikan dalam Tim Pemberdayaan Perbaikan Ekonomi dan Gizi Keluarga, yang dikuatkan dengan surat keputusan Kepala Badan/Dinas yang menangani Ketahanan Pangan Provinsi, dengan keanggotaan antara lain dari akademisi, sosiolog, budayawan, dan dinas terkait.

Kegiatan yang akan dilakukan dalam kerja sama dengan Universitas dan STPP antara lain:

1) kajian dan penyusunan data dasar kegiatan P2KP 2) seminar dan sarasehan,

3) promosi penganekaragaman konsumsi pangan di lingkungan kampus, 4) pengembangan teknologi pengolahan pangan lokal,

5) pengembangan menu pangan beragam, bergizi seimbang dan aman berbasis pangan lokal.

6) pemberdayaan masyarakat sekitar kampus,

7) pelatihan (inkubator) pengembangan pekarangan (khusus untuk STPP),

8) berpartisipasi aktif dalam pertemuan koordinasi dan evaluasi Tim Pemberdayaan Perbaikan Ekonomi dan Gizi Keluarga pada tingkat nasional maupun wilayah 9) pemantauan, pembinaan dan Monev pelaksanaan.

5. Promosi Penganekaragaman Konsumsi Pangan

Kegiatan Promosi Penganekaragaman Konsumsi Pangan bertujuan untuk: a. memberikan informasi dalam mengetahui percepatan penganekaragaman

(27)

b. memasyarakatkan tentang pentingnya mengkonsumsi pangan yang beragam, bergizi seimbang dan aman, serta pentingnya menurunkan konsumsi beras 1.5 persen per kapita per tahun.

Sasaran dari kegiatan promosi penganekaragaman konsumsi pangan adalah aparat di provinsi, kabupaten/kota, kecamatan, desa dan masyarakat umum. Kegiatan promosi penganekaragaman konsumsi pangan dilakukan di 33 provinsi, dan 200 kabupaten/kota.

Pelaksanaan kegiatan yang dilakukan dalam promosi penganekaragaman konsumsi pangan antara lain (a) promosi melalui media elektronik seperti pembuatan iklan layanan masyarakat di radio dan televisi, (b) promosi melalui media cetak seperti leaflet, booklet, poster, (c) promosi media luar ruang seperti baliho dan (d) pameran.

(28)

BAB V

ORGANISASI DAN TATA KERJA A. Organisasi

Gerakan Percepatan Penganekaragaman Konsumsi Pangan (P2KP) merupakan amanah dari Peraturan Presiden Nomor 22 Tahun 2009 dan dijabarkan secara lebih rinci dalam Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) Nomor 43 tahun 2009. Pada tingkat nasional, Menteri Pertanian selaku Ketua Harian Dewan Ketahanan Pangan membentuk Tim Teknis yang terdiri dari instansi terkait, unsur swasta, industri pangan dan stakeholder terkait yang relevan dan dikoordinasikan oleh Badan Ketahanan Pangan selaku Sekretariat Dewan Ketahanan Pangan. Ketua Harian Dewan Ketahanan Pangan sebagai koordinator pelaksana program dibantu oleh Sekretaris Dewan Ketahanan Pangan yaitu Kepala Badan Ketahanan Pangan.

Mekanisme kerja dan tata hubungan antar instansi pada Gerakan P2KP sebagaimana diatur dalam Permentan Nomor 43 tahun 2009 menunjukkan bahwa pada tingkat daerah (provinsi atau kabupaten/kota), pelaksanaan dikoordinasikan oleh Dewan Ketahanan Pangan daerah yang diketuai oleh Gubernur atau Bupati/Walikota selaku Ketua Harian Dewan Ketahanan Pangan di masing-masing daerah. Penanggung jawab kegiatan adalah Badan/Dinas/instansi yang menangani ketahanan pangan daerah dengan melibatkan instansi lingkup pertanian dan dinas terkait seperti Dinas Kesehatan, Dinas Pendidikan, Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura, Dinas Peternakan, Dinas Perikanan, TP-PKK, dan organisasi kemasyarakatan lainnya.

Pelaksanaan kegiatan P2KP merupakan tugas bersama antara pemerintah pusat, pemerintah daerah dan masyarakat. Sesuai dengan semangat dan paradigma baru pembangunan, peran dan partisipasi masyarakat dalam kegiatan P2KP harus dikedepankan sebagai pelaku utama penentu keberhasilan program. Peranan pemerintah terbatas pada fungsi pelayanan, penunjang, fasilitasi dan motivasi. Partisipasi masyarakat, swasta, organisasi non-pemerintah/ LSM, organisasi profesi maupun perguruan tinggi sangat dibutuhkan untuk mendukung pelaksanaan gerakan penganekaragaman konsumsi pangan. Organisasi Gerakan P2KP dapat dilihat pada Gambar 2.

(29)

Keterangan:

: Hubungan koordinasi program : Hubungan dukungan program : Hubungan fungsional

: Hubungan komando

Gambar 2. Organisasi Gerakan P2KP

BKP Pusat

Badan/Kantor/Dinas/ Unit Kerja yang menangani Ketahanan Pangan Provinsi DKP Pusat (Menteri Pertanian) DKP Provinsi (Gubernur) DKP Kab/ Kota (Bupati/Wlkota Penanggung

Jawab kegiatan Koordinator

Camat Kantor Kecamatan

Badan/Kantor/Dinas/ Unit Kerja yang menangani Ketahanan Pangan Kab/Kota DESA/KELURAHAN Penyuluh Pertanian/ Pendamping P2KP Pelaksana Tim Teknis P2KP Tim Teknis P2KP Provinsi Tim Teknis P2KP Kabupaten PENERIMA MANFAAT Kelompok Wanita / Siswa SD/MI

Kelompok Usaha Kecil Bidang Pangan

Kepala Desa/Lurah Tim Penyuluh BPP BKP Pusat Badan/Kantor/Dinas/ Unit Kerja yang menangani Ketahanan Pangan Provinsi DKP Pusat (Menteri Pertanian) DKP Provinsi (Gubernur) DKP Kab/ Kota (Bupati/Wlkota Penanggung

Jawab kegiatan Koordinator

Camat Kantor Kecamatan

Badan/Kantor/Dinas/ Unit Kerja yang menangani Ketahanan Pangan Kab/Kota DESA/KELURAHAN Penyuluh Pertanian/ Pendamping P2KP Pelaksana Tim Teknis P2KP Tim Teknis P2KP Provinsi Tim Teknis P2KP Kabupaten PENERIMA MANFAAT Kelompok Wanita / Siswa SD/MI

Kelompok Usaha Kecil Bidang Pangan

Kepala Desa/Lurah Tim Penyuluh

(30)

B. Tata Kerja

Program P2KP dirumuskan oleh Tim Teknis yang berfungsi sebagai simpul koordinasi untuk memperlancar pelaksanaan program P2KP secara berjenjang di tingkat desa, kabupaten/kota, provinsi dan pusat.

1. Tingkat Desa

Kepala Desa/ Lurah sebagai penanggung jawab P2KP di tingkat desa/kelurahan, bersama – sama dengan penyuluh pertanian, guru, kelompok wanita, sekolah SD/MI dan kelompok usaha kecil bidang pangan melakukan koordinasi dalam melaksanakan setiap kegiatan P2KP. Kepala Desa/ Lurah berperan sebagai penghubung antara masyarakat dengan aparat pemerintah. Penyuluh pertanian dalam memfasilitasi dan membina serta mendampingi penerima manfaat dalam pelaksanaan kegiatan P2KP bertanggungjawab untuk :

a. Mengenali situasi, kondisi, potensi, dan masalah konsumsi pangan dan gizi serta pengembangan pemanfaatan pekarangan.

b. Menyusun data dasar kualitas konsumsi masyarakat desa.

c. Melakukan bimbingan/pendampingan melalui pertemuan kelompok secara berkala dalam pelaksanaan dan pengembangan pemanfaatan pekarangan untuk penyediaan bahan pangan konsumsi keluarga.

d. Menjalankan fungsi pelaporan perkembangan pelaksanaan P2KP. 2. Tingkat Kecamatan

Tugas dan fungsi Camat yaitu (a) mengkoordinasikan dan mendorong pelaksanaan P2KP di wilayahnya, (b) mengkoordinasikan Kepala Desa dalam menggerakkan pelaksanaan P2KP di wilayahnya, (c) memberikan pertimbangan kepada Tim Teknis Kabupaten dalam pemilihan calon penerima dan calon lokasi (CPCL).

3. Tingkat Kabupaten/Kota

Tim Teknis tingkat kabupaten/kota diketuai oleh Kepala Badan/ instansi yang menangani ketahanan pangan di tingkat Kabupaten/Kota dengan anggota dinas-dinas yang terkait. Pada pelaksanaannya, Bupati/ Walikota/ Ketua Dewan Ketahanan Pangan Tingkat Kabupaten/ Kota berperan sebagai koordinator pelaksanaan P2KP, sedangkan penanggung jawab tingkat kabupaten/kota adalah Badan Ketahanan Pangan atau unit kerja yang menangani ketahanan pangan.

Tugas dan fungsi Tim Teknis tingkat Kabupaten/Kota :

a. Melaksanakan sosialisasi di tingkat kabupaten/kota, kecamatan dan desa. b. Melakukan koordinasi, sinkronisasi perencanaan dan pelaksanaan kegiatan

lintas sektor dalam kegiatan P2KP.

c. Melakukan identifikasi, pemantauan dan pemecahan masalah dalam pelaksanaan P2KP.

(31)

d. Mengadakan pertemuan secara berkala minimal 3 bulan sekali.

e. Menyampaikan laporan pelaksanaan kegiatan P2KP ke Provinsi dengan tembusan ke Pusat.

4. Tingkat Provinsi

Tim Teknis provinsi diketuai oleh Kepala Badan/Dinas/Kantor/Unit kerja yang menangani Ketahanan Pangan di tingkat Provinsi dengan anggota dinas-dinas terkait. Pada pelaksanaannya, Gubernur/ Ketua Dewan Ketahanan Pangan Tingkat Provinsi berperan sebagai koordinator secara keseluruhan di tingkat Provinsi.

Tugas dan fungsi Tim Teknis Tingkat Provinsi : a. Melakukan sosialisasi di provinsi dan kabupaten.

b. Melakukan koordinasi, sinkronisasi perencanaan dan pelaksanaan kegiatan lintas sektor dalam P2KP

c. Melakukan identifikasi, pemantauan dan pemecahan masalah dalam pelaksanaan P2KP.

d. Mengadakan pertemuan secara berkala.

e. Menyampaikan laporan pelaksanaan kegiatan P2KP ke Pusat 5. Tingkat Pusat

Susunan Organisasi Tim Teknis P2KP di tingkat pusat diketuai oleh Kepala Badan Ketahanan Pangan, Kementerian Pertanian yang anggotanya terdiri dari instansi terkait dengan ketahanan pangan. Tugas dan fungsi Tim Teknis tingkat Pusat :

a. Melakukan koordinasi dan integrasi kegiatan dengan instansi terkait dalam pelaksanaan P2KP

b. Membantu memecahkan masalah yang dihadapi dalam melaksanakan P2KP. c. Menyampaikan laporan pelaksanaan kegiatan P2KP kepada Ketua Harian

Dewan Ketahanan Pangan/Menteri Pertanian. d. Mengadakan pertemuan secara berkala.

(32)

BAB VI PEMBIAYAAN

Sumber-sumber pendanaan untuk membiayai kegiatan P2KP tahun 2010 berasal dari APBN, yang diharapkan mendapat dukungan dari APBD Provinsi, APBD kabu-paten/kota, swadaya masyarakat, dan pemanfaatan dana Corporate Social

Responsibility (CSR)/ Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL). Dana APBN

yang berasal dari Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian dialokasikan di tingkat pusat, provinsi (dana dekonsentrasi), dan kabupaten (dana tugas pembantuan).

Dana dekonsentrasi dialokasikan pada kegiatan pengembangan P2KP bagi siswa SD/MI, promosi penganekaragaman konsumsi pangan dan kerja sama dengan perguruan tinggi serta pengadaan KIT pada kegiatan sosialisasi optimalisasi pemanfaatan pekarangan. Dana tugas pembantuan dialokasikan untuk kegiatan Pemberdayaan Kelompok Wanita melalui optimalisasi pemanfaatan pekarangan dan kegiatan pengembangan usaha pengolahan pangan lokal berbasis tepung-tepungan.

Kegiatan P2KP yang ada di tingkat provinsi melalui dana dekonsentrasi, harus disinkronkan dengan kegiatan yang ada di tingkat kabupaten/kota melalui dana tugas pembantuan, terutama untuk penentuan calon penerima/calon lokasi, pemantauan dan evaluasi kegiatannya.

Dalam pengelolaan anggaran, KPA/PPK/Satker Badan/ Kantor/Unit Kerja yang menangani Ketahanan Pangan Kabupaten/Kota bekerja sama dengan kelompok wanita/dasawisma PKK. Dana ditransfer ke rekening kelompok, dan digunakan secara swakelola denganmekanisme pencairan langkah-langkah sebagai berikut:

1. Kelompok wanita membuat/menyusun Rencana Kegiatan dan Kebutuhan Anggaran (RKKA);

2. Kelompok wanita membuka rekening tabungan pada kantor cabang/unit BRI/Bank Pos atau bank lain terdekat dan memberitahukan kepada Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) di kabupaten /kota;

3. Kelompok wanita mengusulkan RKKA kepada PPK kabupaten/ kota setelah diverifikasi oleh Penyuluh Pertanian pendamping dan disetujui aparat kabupaten; 4. KPA membuat Surat Perjanjian Kerja Sama dengan Ketua Kelompok Wanita

seperti terlihat pada Lampiran 3;

5. PPK meneliti RKKA selanjutnya mengajukan ke Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) Kabupaten/Kota, kemudian KPA mengajukan Surat Permintaan Pembayaran Langsung (SPP-LS) seperti terlihat pada Lampiran 4 dan mengajukan kepada Pejabat Penguji dan Perintah Pembayaran (PPPP) dengan lampiran sebagai berikut;

a.Keputusan Kepala Badan/Dinas yang menangani Ketahanan Pangan tentang Penetapan Kelompok Sasaran;

(33)

b.rekapitulasi RKKA seperti pada lampiran 5 dengan mencantumkan: 1) nama kelompok;

2) nama ketua kelompok; 3) nama anggota kelompok; 4) nomor rekening a.n. kelompok;

5) nama cabang/Unit BRI/Bank Pos atau bank lain terdekat;

c. kuitansi yang ditandatangani oleh ketua kelompok dan diketahui/disetujui oleh PPK Kabupaten/Kota yang bersangkutan seperti pada lampiran 6.

d. surat perjanjian kerja sama antara PPK dengan kelompok penerima manfaat tentang pemanfaatan dana.

6. Atas dasar SPP-LS, Pejabat penguji dan Perintah Pembayaran SPM menguji dokumen SPP-LS dan menerbitkan Surat Perintah Membayar Langsung (SPM-LS) selanjutnya KPA mengajukan SPM-LS kepada KPPN setempat;

7. KPPN setempat menerbitkan Surat Perintah Pencairan Dana (SP2D) dan mentransfer dana bansos ke rekening kelompok wanita;

8. Kelompok wanita melalui ketuanya mengambil dana bansos di rekening bank dengan diketahui oleh PPK kabupaten/kota.

Dana dekonsentrasi dan dana tugas pembantuan terdiri dari 2 (dua) komponen belanja, yaitu belanja sosial dan belanja barang. Pencairan anggaran untuk belanja sosial mengacu pada Peraturan Menteri Pertanian Nomor 14/Permentan/OT.140/1/2010; Peraturan Menteri Keuangan Nomor 134/PMK.06/2005 tentang Pedoman Pembayaran dalam Pelaksanaan Pembayaran Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara, sedangkan pencairan anggaran belanja barang mengacu pada Keputusan Presiden Nomor 80 tahun 2003 tentang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah dan perubahannya (Peraturan Presiden no. 95 tahun 2007 tentang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (perubahan ke tujuh)).

(34)

BAB VII

PEMANTAUAN DAN EVALUASI, PENGENDALIAN DAN PENGAWASAN, SERTA PELAPORAN

Pemantauan dan evaluasi, pengendalian dan pengawasan, serta pelaporan harus dilakukan secara berjenjang, periodik, tepat waktu dan tepat sasaran, sehingga dapat segera diambil tindakan perbaikan, apabila ada hal – hal yang tidak sesuai dan menyimpang dalam pelaksanaan kegiatan. Pemantauan, evaluasi, pengendalian, pengawasan dan pelaporan dilaksanakan secara bertingkat, dari tingkat desa, kabupaten, provinsi dan pusat.

A. Pemantauan dan Evaluasi

Pemantauan merupakan komponen yang cukup penting dalam suatu kegiatan. Pemantauan dilakukan secara kontinu dalam jangka waktu tertentu, terhadap perkembangan setiap pelaksanaan kegiatan P2KP di pusat, provinsi, kabupaten/kota, dan desa. Hal – hal yang akan dipantau adalah kelengkapan administrasi, penggunaan dana, dokumen operasional berupa juklak, juknis, persiapan dan pelaksanaan kegiatan di kelompok penerima manfaat. Hal-hal penting yang direkam dalam pemantauan, termasuk permasalahan yang ditemukan, perlu dianalisis lebih lanjut, sebagai bahan/informasi untuk evaluasi dan tindakan perbaikan pelaksanaan P2KP.

Evaluasi dilaksanakan secara berjenjang mulai dari tingkat desa, kabupaten/kota, provinsi, pusat, secara periodik minimal 2 (dua) kali setahun, atau sewaktu-waktu apabila terjadi permasalahan yang sangat penting. Evaluasi dimaksudkan untuk mengetahui sejauhmana peran dan tanggungjawab kelembagaan yang menangani P2KP, dan sekaligus mengevaluasi tingkat keberhasilan pelaksanaan kegiatan sesuai dengan indikator yang telah ditetapkan. B. Pengendalian dan Pengawasan

Pengendalian kegiatan dilakukan oleh PPK dan KPA baik di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota. Proses pengendalian di setiap wilayah dan di setiap tingkatan direncanakan dan diatur oleh masing-masing instansi. Pengawasan dilakukan secara internal Badan/Dinas yang menangani ketahanan pangan dan secara eksternal oleh aparat pengawas fungsional (Inspektorat Jenderal, Badan Pengawas Daerah maupun lembaga atau instansi pengawas lainnya) dan pengawasan oleh masyarakat, sehingga diperlukan penyebarluasan informasi kepada pihak terkait (penyuluh pertanian, pengurus kelompok, anggota kelompok, tokoh masyarakat, organisasi petani, LSM, aparat instansi di daerah, perangkat

(35)

pemerintahan mulai dari desa sampai kecamatan, anggota lembaga legislatif dan lembaga lainnya)

Pada tingkat lokal/desa/kelompok, pengawasan masyarakat terhadap ketepatan sasaran dilakukan oleh perangkat desa, anggota kelompok, penyuluh lapangan, maupun LSM. Laporan pengaduan penyimpangan terhadap pengelolaan dana dapat disampaikan kepada Tim Teknis Pusat, Provinsi dan Kabupaten/Kota. Pengaduan dari masyarakat segera ditanggapi secara langsung oleh pihak terkait. C. Pelaporan

Pelaporan adalah kegiatan penyampaian informasi tentang hasil monitoring dan evaluasi dari pelaksana kegiatan di tingkat bawah kepada tingkat pengambil kebijakan. Pelaporan pelaksanaan kegiatan dilakukan secara berjenjang dari tingkat desa, kecamatan, kabupaten/kota, provinsi hingga pusat secara berkala, berkelanjutan dan tepat waktu. Desa melaporkan pada kecamatan dan kabupaten/kota tentang perkembangan pelaksanaan program P2KP dengan formulir yang telah disepakati. Kecamatan berfungsi sebagai pemantau, pendamping dan sekaligus penghubung ke kabupaten/kota dan menyampaikan upaya-upaya yang telah dilakukan oleh kecamatan serta meneruskan hal-hal yang tidak dapat dilakukan oleh kecamatan dengan menggunakan form yang telah disepakati.

Kabupaten/kota memantau kegiatan lapang secara berkala dan mengevaluasi hasil pemantauan serta menyampaikan laporan desa dan kecamatan ke provinsi sesuai dengan format yang disepakati. Kabupaten memberikan feedback kepada desa dan kecamatan serta melakukan follow up terhada kondisi yang memerlukan penanganan segera atau dikoordinasikan oleh pengelola program tingkat kabupaten/kota.

Provinsi memantau kegiatan lapangan secara berkala dan mengevaluasi hasil pemantauan dan melaporkan ke pusat sesuai dengan format yang disepakati. Selanjutnya provinsi memberikan feedback kepada kabupaten/kota terhadap kegiatan yang memerlukan penanganan segera atau dikoordinasikan oleh pengelola program tingkat provinsi. Pusat sebagai penanggung jawab program melakukan pemantauan kegiatan lapang secara berkala dan mengevaluasi hasil pemantauan provinsi dan selanjutnya memberikan feedback kepada provinsi atau melakukan follow up terhadap kegiatan yang memerlukan penanganan segera atau dikoordinasikan oleh pengelola program tingkat pusat.

Pelaporan dari desa ke kecamatan dan kabupaten/kota dilaksanakan 1 (satu) bulan sekali, dari kabupaten/kota ke provinsi dilaksanakan 3 (tiga) bulan sekali, dan dari provinsi ke pusat setiap 6 (enam) bulan sekali dan membuat laporan akhir tahun. Laporan yang dibuat menggambarkan hal-hal

(36)

sebagai berikut: (a) kemajuan pelaksanaan kegiatan dan anggaran, sesuai dengan indikator yang ditetapkan; (b) permasalahan yang dihadapi dan upaya tindak lanjut.

Alur pelaporan dapat dilihat pada gambar 3 berikut ini:

Keterangan:

: Arus pelaporan : Feed back

Gambar 3. Arus Pelaporan Program P2KP BKP Pusat Badan/Instansi Ketahanan Pangan tingkat Provinsi Badan/ Instansi Ketahanan Pangan Tingkat Kab/Kota. Penyuluh Pertanian/ Pendamping P2KP Menteri Pertanian

(37)

BAB VIII PENUTUP

Dengan diterbitkannya pedoman umum P2KP Tahun 2010, diharapkan dapat menjadi acuan aparat daerah, stakeholder terkait dalam pelaksanaan P2KP di pusat dan daerah, dengan harapan operasionalisasi setiap kegiatan dapat berjalan lancar, dan pada gilirannya penerima manfaat (kelompok wanita, siswa SD/MI, dan kelompok usaha pengembangan pangan lokal berbasis tepung-tepungan) dan masyarakat sekitarnya mengkonsumsi pangan yang semakin beragam, bergizi seimbang dan aman.

Pedoman ini merupakan acuan untuk menyusun pedoman operasional di pusat, petunjuk pelaksanaan dan petunjuk teknis P2KP di tingkat provinsi/kabupaten/kota, yang disesuaikan dengan situasi dan kondisi spesifik wilayah.

MENTERI PERTANIAN,

(38)
(39)

Lampiran 2 KEPUTUSAN KEPALA BADAN/ KANTOR KETAHANAN PANGAN

KABUPATEN/KOTA ……… NOMOR :……….

TENTANG

PENETAPAN PENERIMA MANFAAT PROGRAM P2KP 2010 ”PEMBERDAYAAN KELOMPOK WANITA MELALUI OPTIMALISASI PEMANFAATAN PEKARANGAN, PENGEMBANGAN P2KP BAGI SISWA SD/MI DAN PENGEMBANGAN USAHA PENGOLAHAN PANGAN LOKAL

BERBASIS TEPUNG-TEPUNGAN ” Menimbang: a.………... b...………... Mengingat: a………. ... b ………... c ………... d ………... Memperhatikan:

Daftar Isian Penggunaan Anggaran ………. Tahun Anggaran………. MEMUTUSKAN

Menetapkan :

Pertama : Kelompok Wanita , SD/MI, Kelompok Usaha….. berkedudukan di Desa/Kelurahan ... Kecamatan ... Kabupaten/Kota ..., seperti terdapat dalam lampiran keputusan ini merupakan kelompok penerima manfaat Kegiatan P2KP 2010 ” Pemberdayaan Kelompok Wanita Melalui Optimalisasi Pemanfaatan Pekarangan, Pengembangan Bagi Siawa SD/MI Dan Pengembangan Usaha Pengolahan Pangan Lokal Berbasis Tepung _ Tepungan”

Kedua : Bertanggungjawab kepada Kepala Badan/Kantor Ketahanan Pangan dan menyampaikan laporan pelaksanaan secara berkala.

Ketiga : Segala biaya akibat dikeluarkannya Surat Keputusan ini dibebankan pada dana DIPA... Kabupaten/Kota ………... sesuai dengan yang tercantum dalam DIPA Nomor:………... tanggal……….Tahun Anggaran 2010.

(40)

Keempat : Keputusan ini berlaku sejak tanggal penetapan sampai dengan berakhirnya Tahun Anggaran 2010 dengan ketentuan akan diperbaiki sebagaimana mestinya apabila terdapat kekeliruan dalam Surat Keputusan ini.

Kelima : Surat Keputusan ini disampaikan kepada yang bersangkutan, untuk dilaksanakan sebagaimana mestinya.

DITETAPKAN DI :……… PADA TANGGAL :………..…. KEPALA BADAN …………... (………..) NIP. Tembusan :

1. Kepala Badan Ketahanan Pangan cq Pusat Konsumsi dan Keamanan Pangan, Departemen Pertanian;

2. Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan Provinsi ………;

3. Kepala Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN) ……….; 4. Bupati/Walikota *) ………;

(41)

Lampiran 3 SURAT PERJANJIAN KERJA SAMA

Nomor:... Antara

PEJABAT PEMBUAT KOMITMEN (PPK) Kabupaten/Kota...

Dengan

Ketua Kelompok Wanita... Tentang

BANTUAN SOSIAL

PERCEPATAN PENGANEKARAGAMAN KONSUMSI PANGAN (P2KP) TAHUN 2010

” PEMBERDAYAAN KELOMPOK WANITA MELALUI OPTIMALISASI PEMANFAATAN PEKARANGAN”

PROVINSI ………

Pada hari ini ... tanggal ... bulan... tahun dua ribu sepuluh bertempat di Kantor... Jalan..., kami yang bertanda tangan di bawah ini:

1. ...: Pejabat Pembuat Komitmen (PPK)... dalam hal ini bertindak untuk dan atas nama Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) ... DIPA Tahun ... No... tanggal..., yang berkedudukan di Jalan... yang untuk selanjutnya disebut PIHAK PERTAMA.

2. ...: Ketua Kelompok Wanita ... berkedudukan di Desa/Kelurahan ... Kecamatan ... Kabupaten/Kota ...dalam hal ini bertindak untuk dan atas nama jabatan tersebut dan dengan demikian untuk dan atas nama serta sah mewakili Kelompok wanita yang selanjutnya disebut PIHAK KEDUA.

Kedua belah pihak sepakat untuk mengadakan Perjanjian Kerja sama yang mengikat dalam rangka pelaksanaan kegiatan P2KP 2010 “Pemberdayaan Kelompok Wanita melalui Optimalisasi Pemanfaatan Pekarangan” dengan ketentuan sebagai berikut:

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :
Outline : Tata Kerja