• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB II LANDASAN TEORI"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

10 BAB II

LANDASAN TEORI

Berikut dikemukakan landasan teori tentang pelaksanaan program bimbingan dan konseling di sekolah dasar.

2.1 Pengertian Program Bimbingan

Menurut pendapat Hotch dan Costor (dalam Gibson dan Mitchell, 1981) program bimbingan dan konseling adalah suatu program yang memberikan layanan khusus yang dimaksudkan untuk membentu individu dalam mengadakan penyesuaian diri.

Program bimbingan dan konseling berarti sederatan kegiatan yang akan dilakukan untuk untuk mencapai tujuan (Ridwan, 2008).

a) Program Bimbingan dan Konseling di Sekolah Dasar

Program bimbingan dan konseling merupakan suatu rangkaian kegiatan bimbingan dan konseling yang terencana, terorganisasi, dan terkoordinasi selama periode tertentu. (Winkel dan Sri Hartuti, 2006). Sedangkan menurut (Purwoko, 2008) Program bimbingan dan konseling disekolah ialah sejumlah kegiatan bimbingan dan konseling yang direncanakan oleh sekolah, dan dilaksanakan dalam jangka waktu tertentu.

Di samping itu, program bimbingan dan konseling hendaknya mengacu pada tujuan umum di SD yaitu memiliki sifat-sifat dasar sebagai warga Negara yang baik, menikmati kesehatan jasmani dan rohani, memiliki

(2)

11 pengetahuan,keterampilan, dan sikap dasar yang dilakukan untuk melanjutkan pelajaran, bekerja di masyarakat, mengembangkan diri sesuai dengan asas pendidikan seumur hidup (Hera Heru, 2002)

Gibson dan Mitchell (1981) mengemukakan beberapa faktor yang harus dipertimbangkan, seperti :

a) Menekankan pada aktivitas-aktivitas belajar b) Masih menggunakan sistem guru kelas

c) Kecenderungan anak bergantung pada teman sebayanya d) Minat orang tua dominan mempengaruhi nilai kehidupan anak e) Masalah-masalah yang timbul di SD tidak terlalu kompleks.

Dalam melaksanakan bimbingan dan konseling di sekolah perlu dilibatkan semua tenaga pendidik yang ada, terutama dalam hal pembentukan sikap. Layanan bantuan yang lebih banyak menggunakan jenis bimbingan kelompok, dan tenaga yang memegang kunci dalam kegiatan bimbingan itu adalah guru kelas.

2.2 Pelaksanaan Program BK di SD

Menurut Permendikbud No. 81A tahun 2013 tentang Implementasi Kurikulum Pedoman Umum Pembelajaran, program pelayanan bimbingan dan konseling pada masing-masing satuan pendidikan dikelola oleh guru bimbingan dan konseling atau konselor dengan memperhatikan keseimbangan dan kesi-nambungan program antarkelas dan antarjenjang kelas, dan mensinkronisasikan program pelayanan bimbingan dan konseling dengan kegiatan pembelajaran mata

(3)

12 pelajaran dan kegiatan ekstra kurikuler dengan mengefektifkan dan mengefisienkan penggunaan fasilitas satuan pendidikan.

Secara formal kedudukan bimbingan dalam Sistem Pendidikan di Indonesia telah ada di dalam menurut undang-undang No.20 tahun 2003 pasal 1 butir 6 Pendidikan adalah tenaga kependidikan yang berkualifikasi sebagai guru, dosen, konselor, pamong belajar, widyaswara, tutor, instruktur, fasilitator, dan sebutan lainnya yang sesuai dengan kekhususannya serta berpartisipasi dalam penyelenggaraan pendidikan.

A.Muri Yusuf (2008), konselor (guru BK) sebagai pelaksanaan Bimbingan konseling harus menyadari beberapa komponen organisasi yang perlu dikelola yaitu (1) Manusia (Man), (2) Uang (Money), (3) bahan (materials), (4) Mesin (Machine), (5) Pasar (Market), dan (6) Waktu (Time). Keenam komponen tersebut perlu difungsionalkan dalam menata dan mengelola perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan dan pengawasan/pengendalian kegiatan-kegiatan pelayanan konseling di sekolah.

Dengan adanya PP tersebut maka layanan bimbingan di SD perlu dilaksanakan secara terprogram dan ditangani oleh orang yang memiliki kemampuan dalam bidang tersebut. Namun dalam pelaksanaannya program BK dilakukan oleh guru kelas. Guru SD sebagai guru kelas yang mengajarkan mata pelajaran pada dasarnya mempunyai peran sebagai pembimbing. Selain tugas utama mengajar, guru SD harus melaksanakan program bimbingan di kelas. Gurumerupakan orang pertama dalam mengidentifikasi kebutuhan siswa, penasehat utama bagi siswa dan pencipta suasana belajar.

(4)

13 Tugas pokok guru di sekolah dasar dalam melaksanakan bimbingan adalah: menyusun program bimbingan, melaksanakan program bimbingan, evaluasi pelaksanaan bimbingan, analisis hasil pelaksanaan bimbingan, dan tindak lanjut dalam program bimbingan terhadap peserta didik yang menjadi tanggung jawabnya. Sesuai dengan Rambu-rambu Penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling dalam Jalur pendidikan Formal (Depdiknas, 2008) bahwa komponen program layanan bimbingan dan konseling mencakup: (1) komponen pelayanan dasar (2) komponen pelayanan responsif (3) komponen perencanaan individual dan (4) komponen dukungan sistem (manajemen).

2.3 Penyusunan Program

Departemen Pendidikan Nasinonal (2008), penyusunan program bimbingan dan konseling di Sekolah/Madrasah dimulai dari kegiatan asesmen yang dijadikan untuk penyusunan program. Kegiatan asesmen ini meliputi 1) asesmen lingkungan dan 2) asesmen kebutuhan atau masalah peserta didik. Program di sekolah / madrasah dapat disusun melalui struktur program tugas-tugas perkembangan sebagai kompetensi yang harus dikuasai oleh peserta didik.

Berikut adalah struktur program bk di sekolah / madrasah : 1. Rasional

2. Visi dan Misi

3. Deskripsi Kebutuhan 4. Tujuan

(5)

14 6. Rencana Operasional (Action Plan)

7. Evaluasi

Didalam penyusunan program bimbingan dan konseling di sekolah / madrasah terdapat perkiraan alokasi waktu pelayanan dalam penyusunan program bimbingan dan konseling khususnya di sekolah dasar. Berikut perkiraan alokasi waktu pelayanan khususnya di sekolah dasar atau madrasah ibtidaiyah menurut Rambu-rambu bimbingan dan konseling tahun 2008.

Tabel. 2.1. Komponen Pelayanan BK di SD/MI

Komponen Pelanan Jenjang Pendidikan (SD / MI)

1. Pelayanan Dasar 45 – 55 %

2. Pelayanan Responsif 20 – 30 %

3. Pelayanan Perencanaan Individual dan Keluarga

5 – 10 %

4. Dukungan Sistem 10 – 15 %

2.4 Hasil Penelitian yang Relevan

Dari penelitian yang sebelumnya untuk membandingkan penelitian yang satu dengan yang lain, berikut adalah penelitian yang sudah di publikasikan dan terkait dengan pengembangan program bimbingan dan konseling di sekolah dasar negeri.

Menurut penelitian Puspitaningsih (2008) yang berjudul, “Pelaksanaan Program Layanan Bimbingan dan Konseling di SD Muhammadiyah se-Surabaya”,

(6)

15 menemukan bahwa tahun ajaran 2008-2009 di SD Muhammadiyah se-Surabaya pada dasarnya menggunakan program yang diadopsi dari program umum pemerintah untuk sekolah menengah yaitu pola 17 plus dalam melaksanakan program layananannya, yang terdiri dari: enam bidang bimbingan, sembilan kegiatan layanan, dan lima kegiatan pendukung. Namun dimodifikasi sedemikian rupa sesuai dengan kebutuhan anak didik.

Ada beberapa hambatan dalam membuat program bimbingan dan konseling adalah tidak membuat program secara konkrit dan tertulis hanya saja melakukan kegiatan yang menyerupai semua kegiatan layanan dalam program pada umumnya contohnya pada SD Muhammadiyah 16 Surabaya. Kemudian pelaksanaan program bimbingan dan konseling tahun ajaran 2008-2009 pada kenyataannya tidak sama di tiap sekolah dikarenakan kegiatan bimbingan dan konseling disesuaikan dengan keadaan lingkungan serta personil sekolah.

Menurut hasil penelitian lain, Christiani (2012) yang berjudul.“Implementasi Pelayanan Bimbingan dan Konseling di SD Swasta Kristen/Katolik se-Kecamatan Semarang Selatan”, bahwa pada tahap perencanaan yaitu penyusunan program dibuat seadanya bahkan tidak dikerjakan. Pelaksanaan tidak dalam jam khusus bimbingan dan konseling, dan hanya disisipkan dalam penyampaian materi pelajaran. Evaluasi yang dilaksanakan hanya sebatas pada evaluasi proses pada waktu pemberian materi layanan dan tidak diberikan evaluasi hasil sehingga tidak diketahui pencapaian hasil dari pemberian materi layanan bimbingan dan konseling.

(7)

16 Pada tahap perencanaan antara lain yaitu menyusun program bimbingan dan konseling, sebelum menyusun program bimbingan dan konseling, guru kelas harusnya melakukan identifikasi kebutuhan serta permasalahan siswa baik menggunakan teknik tes maupun non tes. Berdasarkan jawaban responden pada angket yang telah dikerjakan diketahui bahwa pada tahap identifikasi kebutuhan dan permasalahan siswa memiliki kriteria tinggi. Namun diketahui pula sebagian besar guru kelas di SD Swasta Kristen/Katolik se-Kecamatan Semarang Selatan hanya menggunakan wawancara serta observasi dalam mengidentifikasi permasalahan serta kebutuhan siswa. Mereka tidak menyebarkan instrumen seperti ITP (Inventori Tugas Perkembangan) maupun ATP (Analisis Tugas Perkembangan) bahkan mereka mengaku tidak mengetahui instrumen tersebut sehingga diperoleh data bahwa penggunaan angket untuk mengidentifikasi kebutuhan dan permasalahan siswa masih sangat rendah.

Berdasarkan penelitian yang sebelumnya dapat diuraikan bahwa program bimbingan dan konseling di sekolah dasar belum ada program yang sesuai dengan sekolah dasar, belum berjalan sesuai dengan yang diharapkan, dan program bimbingan dan konseling di sekolah dasar di buat dengan seadanya. Kebanyakan program yang dipakai adalah pola 17 plus dan beberapa tidak memakai pola 17 plus.

Namun sekarang ini dengan bergantinya ilmu bimbingan dan konseling yang berglobalisasi program bimbingan dan konseling dinamakan rambu-rambu bimbingan dan konseling terdiri dari 4 komponen pelayanan.

Referensi

Dokumen terkait

Sedangkan menurut Sofyan Syafri Harahap (2008 : 190) dalam Tan (2009) adalah menguraikan pos-pos laporan keuangan menjadi unit informasi yang lebih kecil dan melihat

Menurut Bafadal (2009) perpustakaan sekolah adalah suatu unit kerja dari lembaga pendidikan yang mengelola buku-buku maupun bukan berupa buku (no book material)

Merujuk pada penelitian Yayasan Semai Jiwa Amini yang dilakukan pada tahun 2008, Kekerasan yang terjadi di sekolah tidak hanya dilakukan oleh guru melainkan juga

APK umumnya digunakan untuk menyimpan sebuah aplikasi atau program yang akan dijalankan pada perangkat Android.. APK pada dasarnya seperti zip file, karena berisi dari kumpulan

14 Departemen Agama RI, Al-Qur’an Tajwid Warna dan Terjemahannya, (Jakarta: Amzah, 2009), hal. 15 Heri Jauhari Muchtar, Fikih Pendidikan, ..., hlm.. 1) Korektor, yaitu

(2009) menemukan bahwa sebuah kerangka asimetri informasi yang sederhana memiliki peran yang sangat penting dalam menjelaskan kebijakan dividen perusahaan (waktu

Proses ekstraksi biji jarak pagar sampai menjadi biodiesl ataupun minyak jarak murni atau pure plant oil (PPO), Pambudi (2008) [15] menjelaskan bahwa ekstraksi minyak jarak

Penelitian yang dilakukan oleh Sutami tahun 2009 dengan judul partisipasi masyarakat pada pembangunan prasarana lingkungan melalui Program Pemberdayaan Masyarakat