(No. 1)
SEMBAHLAH ALLAH YANG MAHA MULIA (O Worship the King =L.S. No.4)
Pengarang Naskah : Sir Robert G rant, 1779-1838 Penggubahan Lagu: J, Muchael Haydn, 1737-1806
Mazmur 47:7,8 Bermazmurlah bagi Allah, bermazmurlah, bermazmurlah bagi Raja kita, bermazmurlah! Sebab Allah adalah Raja seluruh bumi, bermazmurlah dengan nyanyian pengajaran!
Kata “sembah” atau “puja” berasal dari kata “Worship” sebagai ekspresi susunan bahasa Inggris “Woerth-scipe” yang berarti memberi pujaan dengan rasa hormat kepada oknum yang lebih tinggi dan berkuasa. Pujaan yang benar ialah suatu tindakan seseorang yang telah ditebus, yaitu tindakan seorang ciptaan terhadap Pencipta, di mana keinginan, intelek dan emosinya menyambut dengan rasa syukur akan kasih karunia Allah melalui pekerjaan penebusan dari Yesus Kristus, sementara Roh Kudus menerangkan Firman ke dalam hatinya.
Hymne ini untuk pertama kali di karang dan dipublikasikan di tahun 1833 dalam sebuah buku lagu berjudul Christian psalmody, merupakan salah satu lagu terbaik di Era Romantik permulaan abad XIX. Seringkali disebut sebuah teladan Hymne perbaktian, lagu ini melaui lirik-liriknya di tujukan bagi kemuliaan Yang Mahabesar Tuhan. Masing-masing epitata diaplikasikan kepada Allah Raja, Pelindung, Pembela, Yang Tidak Berkesudahan Hari, Pencipta, Juruselamat dan Sahabat. Referensi lagi ini ditujukan bagi lambang kekuasaan, kekuatan, kasih karunia, kepedulian dan kasih, diungkapkan dalam kefasikan bahasa dan kehangatan rohaniah mengenai keagungan dan kelayakan Allah untuk menerima puja dan puji.
Pengarang naskah lagu, Sir Rober Grant, lahir di Bengal, India tahun 1779 yang menjelaskan tentang dirinya sebagai “anak-anak debu yang lemah”, walaupun dia sendiri termasuk salah seorang anggota keluarga politik tersohor di Inggris. Ayahnya, Charles, adalah seorang pemimpin India dan Sirektur East India Company. Robert sendiri juga anggota Parlemen Inggris asal Skotlandia dan untuk beberapa waktu menjadi Gubernur Bombay, india tahau 1834. meskipun terlibat dalam bidang politik, Rober Grant adalah seorang Kristen setia yang mendukung sepenuhnya jangkauan keluar penginjilan gerejanya dan membuktikan kasihnya kepada rakyat India oleh mendirikan sebuah perguruan tinggi kedokteran di Bombay.
Tahun 1839, setahun setelah kematinnya di India, saudaranya yang bernama Charles mencetak 12 syair karangan Robert dengan name Sacred Poems. Meskipun sebagai dari syair pujian rohani ini diterima, hanya satu saja yang terus digunakan dalam lagu pujian kita sekarang. Nada untuk syair “Lions”, pertama muncul dalam jilid 2 “Sacred Melodies”nya William Gardiner di London tahun 1815 yang dipersembahan kepada J. Michael Haydn pengguba lagunya. Tahun 1818 di Amerika untuk pertama kali lagi ini dinyatakan dalam koleksi Sacred
Melodies oleh Oliver Shaw.
Statistik membuktikan bahwa gereja adalah tempat teraman:
20% dari semua kecelakaan fatal diakibatkan karena kecelakaan mobil; 17% karena kecelakaan di rumah;
14% karena yang terjadi bagi pejalan kaki di jalan;
16% kecelakaan dalam perjalan di udara, laut dan kereta api.
Namun dari sejuah kecelakaan yang mengakibatkan kematian, dilaporkan hanya 0,001% terjadi di gereja saat kebaktian berlangsung. Tempat teraman ialah tempat di mana terdapat para pemuja yang sementera berbakti memuji Tuhan. Executive Speechwriter Newsletter, Vol. 8, No. 1.
Yohanes 4:23 Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembahan-pemyembahan benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa menghendaki pemyembahan-peyembahan demikian. Yohanes 4:24 Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran.”
Bacaan tambahan: Mazmur 22:28-31; 104; 145: 1-13; I Timotius 6:15,16.
(No 2)
PERHUBUNGAN KITA
(Blest be the Tie that Binds = L.S. No. 7) Pengaran Naskah : John Fawcett, 1740-1817
Pengubah Lagu : Hans G. Naegeli, 1773-1836
1 petrus 3:8 Dan akhirnya, hendaklah kamu semua seia sakat, seperasaan,mengasihi saudara-saudara, penyayang dan rendah hati,
John Rawcett lahir dari keluarga miskin di Lidget Green,Yorkshire, Inggris. Ia bertobat pada usia 16 tahun melalui pelayanan George Whitrfiekd. Di usia 26 tahun ia diurapi menjadi pendeta Baptis dan mendapat panggilan melayani sebuah gereja kecil di Wainsgate, Inggris Utara. Setelah beberap tahun melayani dengan gaji kecil sedangkan anggota keluarganya semakin bertambah, John mendapat panggilan untuk menjadi pendeta jemaat Baptist Carter’s Lane di London menggantikan Dr Gill ysng tersohor itu.
Mendapat berita panggilan ini John segera menjawabnya dan bersiap-siap untuk berangkat ke jemaat dengan gaji yang lebih besar di London. Sebaliknya anggota jemaat Wainsgate yang telah begitu mencintai pendeta John Fawcett sekeluaraga merasakan suatu kehilangan besar. Setelah semua barang dan perabot rumah tangga dinaikan keatas kereta dan semua anggota berkumpul dengan wajah sedih, Ny. Fawcett menarik tangan suaminya dan berkata: “John, apakah benar-benar engkau telah mengambil keputusan untuk berangkat?” : Tentu”, jawab suaminya. Isterinya kembali berkata: “Saya tidak sanggup tinggalkan jemaat ini dengan anggotanya yang sudah sangat mengasihi kita dan pekerjaan Tuhan.” John berkata: “Saya pun demikian. Saya telah bersalah kepada Allah karena terlalu tergesa-gesa menjawab panggilan tersebut sebelum berdoa. Segera perintahkan anggota-anggota membongkar lagi muatan itu dan saya akan mengirim berita ke London, meminta agar kita tetap saja melayani di Wainsgate.
Dalam salah satu khotbahnya dengan ayat tema Lukas 12:15 “Jangan takut, hai puteri Sion, lihatlah, Rajamu datang, duduk diatas seekor anak keledai.” John Fawcett membagikan syair lagu ini kepada anggota jemaat. Tahun 1782 syairnya dicetak pertama kali dengan judul “Kasih Persaudaraan” bersama dengan koleksi 166 syair-syair lainnya. John Fawcett melayani jemaat Wainsgate lebih dari 50 tahun dengan gaji hanya sekitar $200 setahun. Tidak lama kemudian ia menjadi terkenal sebagai seorang pendeta dan sarjana. Pada tahun 1777 ia memulaikan sebuah sekolah bagi pendeta-pendeta muda. Tahun 1793 ia diundang untuk menjadi kepala sekolah Babtist Academy di Bristol, Inggris tetapi ia menolak panggilan tersebut.
Ia menulis sejumlah buku dengan berbagai aspek ke Kristenan praktis yang tersebar luas. Untuk pengakuan terhadap pelayanan dan apa yang telah ia capai,
Brown University di Amerika Serikat menganugerahkan kepadanya gelar Doctor of Divinity di tahun 1811, juga ia mendapat penghargaan dari Raja George III. Dia tetap melayani jemaat kecilnya di Wainsgate selama 54 tahun sampai penyakit stroke menyerangnya dan ia meninggal dunia 25 Juli 1817. Kehidupan John Fawcett dapat diceritakan sebagai sebuah teladan seorang pemimpin rohani dia mengorbankan ambisi dan keuntungan pribadi demi pelayanan bagi Kristus.
Penggubah lagu ini adalah Hans G. Naegeli yang lahir 26 Mei 1773 dekat Zurich, Swiss. Ia seorang penerbit musik dan lagu dan ketua Asosiasi Pengolah Musik Swiss. Dia terkenal sebagai seorang pionir bidang musik. Metode pengajarannya sangat berkesan dan berpengaruh kepada Lowell Mason, yang disebut papa atau pendiri sekolah umum dan musik gerejani di Amerika Serikat. Nada lagu “Dennis” yang bermula dari Swiss dibeli oleh Lowell Mason tahun 1837 ketika ia belajar di Eropa. Lagu ini mucul pertama kali dalam “The Psaltery” yang diedit oleh Mason dan George J. Webb dengan catatan: “Gubahan dari H. G. Naegeli”.
Besama Tennyson Ulysses kita dapat berkata: “Aku adalah bagian dari semua yang tinggi, pertumbuhan, pemenuhan dan berkat. Hidup kita diberkati dengan limpah oleh kasih dan dorongan orang lain. Sebagai anak-anak dari Bapa Surgawi, kita diberkati oleh “persekutuan yang mengikat hati dalam kasih keKristenan”. Di ikat dengan tali kasih, kita mendapatkan kekuatan untuk berdiri teguh menghadapi ujian hidup.
Bacaan tambahan : 2 Korintus 8:4; Galatia 2:9; Pilipi 3:10; 2 Tesalonika 2:13-17; 1 Yohanes 1:3,6,7.
(No. 3)
YA ALLAH KOTA YANG TEGUH (A Mighty Fortress Is Our God=L.S. No. 15) pengarang Naskah : Martin Luther, 1483-1546
Penggubah Lagu : Martin Luther, 1483-1546 Alih Bahasa : Frederick H. Hedge, 1805-1890
Mazmur 46:2,3 Allah itu bagi kita tempat perlindungan dan kekuatan, sebagai penolong dalam kesesakan sangat terbukti. Sebab itu kita tidak akan takut, sekalipun bumi berubah, sekalipun gunung-gunung goncang di dalam laut;
31 Oktober 1517 merupakan penaggalan penting dalam sejarah Protestan. Inilah harinya di mana Martin Luther, seorang biarawan Augustinian dan Profesor theologia memakukan di pintu kathedral Wittenberg, Jerman, 95 thesis (pengaduan) terhadap ajaran dan praktek gereja Roma Katholik abad pertengahan. Peristiwa ini menandai lahirnya Reformasi Protestan abad XVI.
Gerakan Reformasi Protestan ini dibangun atas 3 prisip: (1) Pembinaan kembali oleh Alkitab, (2) Menjelaskan arti keselamatan dan (3) Memulihkan nyanyian berjemaat. 95 thesis atau pengaduan itu ditujukan kepada Gereja Roma katholik, termasuk didalamnya mengenai penjualan surat pengampunan dosa yang menjanjikan kelepasan dari api neraka kekal, kalau mereka menyumbangkan uang untuk pembangunan Gereja St. Peter. Tindakan penuh keberanian ini memicu reformasi berdasarkan ajaran dari otoritas Alkitab, pembenaran oleh iman, dan keimamatan semua umat percaya. Semua ini membuat Luther dikucilkan oleh Paus.
Dalam depresinya, Luther menulis hymne-hymne, menerjemahkan Alkitab ke dalam bahasa rakyat dan memugar kembali nyanyi pujian oleh jemaat. Ia bahkan mengijinkan para wanita menyanyi di umum, suatu kesempatan yang telah dirampas dari wanita selama seribu tahun. Tanggal karangan dan gubahan lagu oleh Martin Luther ini sukar ditentukan tetapi diyakini itu ditulis dan ditujukan kepada Konvensi Spires tahun 1529 di mana kata “protestan” pertama kali digunakan. Lagu ini menjadi kekuatan besar reformasi. Luther dikucilkan oleh Paus yang membakar buku-buku karangannya. Luther juga membakar surat keputusan Paus tersebut di umum.
Kehidupan Martin Luther penuh dengan tantangan dan pergumulan. Kesusahan demi kesusahan menimpa dirinya. Tetapi ia teringat akan kata-kata Yesus ketika tergantung di salib: “Eli, Eli, lama sabakhtani?” Artinya: Allah-ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku? Dia sadar bahwa kata seruan yang pertama keluar dari bibir Yesus ialah “Allah-Ku” yaitu suatu penegasan iman. Dan Martin Luther yang telah memberikan Alkitab dalam bahasa Jerman kepada bangsanya, sekarang menciptakan lagu untuk dinyanyikan bukan hanya oleh para biduan gereja tetapi oleh seluruh anggota jemaat. Kemudian lagu tersebut diterjemahkan oleh Frederick Hedge tahun 1853.
Tahun 1529 merupaka tahun yang sukar dan gelap bagi Martin Luther. Ia diserang penyakit, keputus-asaan dan bahaya. Dalam masa itu ia berpaling ke mazmur 46 yang telah merupakan penghiburan besar baginya. Ia ulang-ulangi kata-katanya dalam ayat pertama yang daripadanya ia mendapatkan kekuatan. Dengan kata-kata lagu yang membakar jiwanya, ia bertekad terus maju. Lagu ini dinyanyikan pada upacara penguburan Martin Luther. Teguh bagaikan pengarangnya, lagu ini merupakan klasik besar iman kita. Kita mungkin saja tidak mengetahui atau mengalami tantangan seru seperti yang dialami Luther. Tetapi kita dapat mengenal Allah yang sama sebagai tempat berlindung dan kekuatan, yang bagi kita adalah “Kota Yang Teguh”.
Bacaan tambahan : Ulangan 33:27; 2 Samuel 22:2; Mazmur 46; Yesaya 26:4.
(No.4)
TUHAN SELALU PIMPIN AKU
(All The Way My Saviour Leads Me=L.S. No. 17) Pengarang Naskah : Fanny J Crosby, 1820-1915
Penggubah Lagu : Robert Lowry, 1826-1899
Mazmur 48:15 Sesungguhnya inilah Allah, Allah kitalah Dia seterusnya dan untuk selamanya! Dialah yang memimpin kita!
Seringkali kita merasa kecewa karena kita tidak melihat rencana jangka panjang Allah dalam menuntun hidup ini. Kita harus sadar bahwa Allah telah berjanji untuk menuntun setiap langkah kita dan bukan hanya setiap mil perjalanan. Mazmur 37:23 Tuhan menetapkan langkah-langkah orang yang hidupnya berkenan kepadaNya; Fanny Jane Crosby lahir dari keluarga sederhana di Southeast, New York, 24 Maret 1823. dia menjadi buta pada usia 6 minggu karena malpraktek dokter. Seumur hidupnya dia menjadi anggota setia dari gereja St. John Methodist Episcopal di kota New York. Dia belajar di New York School for the Blind. Dari tahun 1847-1858 ia menjadi guru di sekolah tersebut dan di tahun 1858 menikah dengan seorang musisi buta bernama Alexander Van Alstyne, seorang guru musik terhormat di Institusi orang buta.
Mula-mula ia menulis lirik-lirik sajak lagu sekuler. Salah satu lagu terkenalnya: “Rosalie, The Prairie Flower” yang menghasilkan royalty atau uang hak paten hampir 3.000 dollar, suatu jumlah sangat besar saat itu. Melalui
pengaruh seorang musisi gereja bernama W.B Bradbury, maka Fanny di usia 40-an mulai menulis dengan tekun lirik-lirik lagu gospel. Dikatakan bahwa Fanny Crosby tidak pernah menulis sebuah teks lagu tanpa berdoa memohon petunjuk Ilahi. Selama karirnya ia didampingi para musisi gereja terkenal seperti: Ira D. Sankey, William H Doane, John Sweney, George Stebbins, George Root, William Kirkpatrick, dll.
Lagu ini merupakan ekspresi sukurnya kepada Allah atas jawaban doa. Dilaporkan bahwa pada suatu hari Fanny Crossby sangat membutuhkan 5 dollar dan seperti biasanya dia berdoa untuk mendapatkannya. Tidak lama kemudian seorang asing muncul di rumahnya dengan membawa 5 dollar. Kata Fanny : “saya tidak dapat berbuat lain kecuali bersyukur kepada Tuhan dalam jawaban doa saya dimana Ia menggerakan hati orang baik ini untuk memberikan uangnya. Segera saya menulis liriknya dan Dr. Lowry menggubah musiknya.” Lagu ini pertama kali muncul dalam koleksi lagu-lagu sekolah minggu, Brighest and Best, yang dikompilasi William H Doane dan Robert Lowry.
Bacaan tambahan : Mazmur 32:8; Yohanes 10:3-5; Roma 8:28; I Korintus 10:4.
(No. 5)
YESUS TERINDAH
(Fairest Lord Jesus = L.S No. 19) Naskah dari : Munster Gesangbuch, 1677
Lagu dari : Schlesische Volkslieder, 1842 Digubah oleh : Richard S. Willis, 1819-1900
Kolose 1:16 karena di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu, yang ada di dalam sorga dan yang ada di bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, baik singgasana, maupun kerajaan, baik pemerintah, maupun penguasa; segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia.
Lagu indah ini menyanjung keindahan dan keagungan Kristus yang menuntun kita untuk memuja dan memuji kesucian Tuhan kita Yesus Kristus. Perbandingan yang cerah atas semua pemandangan alam dengan Yesus, yang menjadi sumber keindahan dan keharuman, membuat kita terpesona bersama rasa kagum. Dan kepada kita diingatkan bahwa Juruselamat bersinar lebih terang dari semua mahluk Tuhan termasuk malaikat. Betapa berlayaknya Dia untuk mendapatkan “kemuliaan dan hormat, puji dan puja, sekarang sampai selama-lamanya.”
Sedikit sekali diketahui tentang asal asul lagu inspirasi ini. Beberapa orang berpikir bahwa lagu ini dinyanyikan pada abad XII oleh para prajurit Perang Salip asal Jerman ketika mereka manadakan perjalanan yang melelahkan dan berbahaya ke Tahan Suci. Sumber lain mengatakan perjalanan yang melelahkan dan berbahaya ke Tanah Suci. Sumber lain mengatakan bahwa ini adalah salah satu lagu yang yang diusir keluar dari Bohemia dalam pembersihan berdarah anti-reformasi tahun 1620. Mereka memetap si Silesia, bagian dari Polandia. “Yesus Terindah” dipikirkan sabagai lagu rakyat yang berasal dari para petani Silesia. Ayat ke-empat merupakan terjemahan indah dari Joseph A, Seiss menekankan tentang dua sifat Yesus-: Anak Allah dan Anak Manusia” –sama seperti pujaan yang selama-lamanya menjadi hak-Nya.
Maskah lagi ini untuk pertama kali terbit dalam Munster Gesangbuch gereja Roma Katholik tahau 1677 ketika dicetak sebagai nomor 1 dari 3 lagu baru yang terpilih sabagai lagu-lagu terindah. Kemudian seorang yang bernama Hoffman Fallersleben mendengar para penyanyi Silesia menyanyikannya di gereja, ia mencatat kata dan musiknya dan menerbitkannya dalam Schlesische Volkslieder tahun 1842. Tidak seorang pun tahu siapa yan menerjemahkannya tetapi adaptasi ke dalam bahasa Inggris di buat oleh Richhar Storrs Willis, lahir di Boston, Mussachestts, 10 Pebruari 1819, yang menerbitkannya dalam buku lagu Church
Choralas and Choir Studies, tahun 1850.
Bacaan tambahan : Yohanes 1:1,3,14; 5:23; 20:31; Philip 2:9-11; Kolose 1:13, 15; 2:9; Ibrani 1:2,3.
(No.6)
SUCI, SUCI, SUCI (Holy, Holy, Holy=L.S. No 21) Pengarang Naskah : Teginald Heber, 178301826
Penggubah Lagu : John B. Dykes, 1823-1876
Mazmur 95:6,7 Masuklan, marilah kita sujud menyembah, berlutut di hadapan TUHAN yang menjadikan kita. Sebab Dialah Allah kita, dan kitalah umat gembalaan-Nya dan kawanan domba tuntunan tangan-Nya. Pada hari ini, sekiranya kamu mendengar suara-Nya!
Reginald Heber lahir di Cheshire, Inggris, 21 April 1783, dari keluarga berpendidikan yang kaya. Pada usia 17 tahun ia mendaftar di Oxford University, di mana kesarjanaan dan kesanggupan menulisnya sangat dihargai. Setelah diurapi menjadi pendeta Gereja Anglikan, ia melayani sebuah gereja terpencil di desa Hodnet, Inggris selatan selama 16 tahun. Selama itu ia dikenal dan dihormati sebagai seorang yang berbudi halus dengan kharakter Kristiani yang agung. Ia juga terkenal dengan penulisan syair, esai dan lagu dalam beberapa majalah.
Pada tahun 1823, 3 tahun sebelum kematiannya di usia 43 tahun, Heber dikirim sebagai uskup di Kalkuta. Tekanan pekerjaan dan iklim lembab terlalu berat baginya. Pada suatu pagi hari Miggu setelah berkhotbah di lapangan terbuka kepada sejumlah besar orang India, dia menderita hantaman panas matahari, jatuh sakit dan meninggal dunia. Setahun setelah kematiannya, isterinya mengumpulkan 57 lagu pilihan karangannya dan dicetak.
Lagu ini ditulis Heber khusus untuk liturgy mengenai Trinitas. Penekanannya adalah untuk memuja Tuhan, Allah Tritunggal. Nada lagunya untuk pertama kali di sebut “Nicaea”, menurut nama Konsili di Nicaea di Asia Kecil tahun 325 AD. Di Konsili inilah doktrin Trinitas diteliti dan dan diakui sebagai doktrin penting iman Kristiani. Pada tahun 1861 nada lagu ini digubah khusus oleh salah seorang musisi Inggris terkenal, Dr.John Bacchus Dykes. Penggubah ternama ini telah menyumbang sekitar 300 nada lagu, sebagian besar masih tetap digunakan sampai sekarang.
“Perbaktian adalah menghidupkan suara hati oleh kekudusan Allah, memberi makan pikiran dengan kebenaran Allah, memurnikan angan-angan oleh keindahan Allah, membuka hati bagi kasih Allah, dan mengabdikan kuasa kehindak untuk digunakan oleh Allah.”- William Temple
“Kata ‘suci’ dibahas sebanyak 900 kali dalam Alkitab. Pertama kali itu ditemukan dalam buku Kejadian ketika Allah menciptakan semesta alam, langit dan bumi. Kata itu juga ditemukan dalam fatsal terakhir buku Wahyu ketika Allah menciptakan langit dam bumi baru. Kita mendapatkan kata “kesalehan” dan:
penyucian” dari akar kata yang sama. Semua terminologi ini menyatakan ide mengenai “menyisihkan atau mengkhususkan sesuatu.” Sama seperti spektrum semua warna warni yang bersatu menghasilkan warna putih, sedemikian pula semua sifat Allah menjadi satu dalam kesucian-Nya.”- Jim Killiom, “Set Apart.”
Bacaan tambahan : Mazmur 145:8-21; Yesaya 6:3; Wahyu 4:5-11;5:13
(No.7)
IMAN ORANG SALEH KEKAL (Faith of Our Father= L.S.No 24) Pengarang Naskah : Frederick W. Faver, 1814-1863 Penggubah Lagu : Henri F. Hemy, 1818-1888 Diadaptasi oleh : James G. Walton. 1821-1905
Yudas 1:3 Saudara –saudaraku yang kekasih, sementara aku bersungguh-sungguh berusaha menulis kepada kamu tentang keselamatan kita bersama, aku merasa terdorong untuk menulis ini kepada kamu dan menasihatkan kamu, supaya kamu tetep berjuang untuk memepertahankan iman yang telah disampaikan kepada orang-orang kudus.
Ibrani pasal 11 diberi julukan “panggung iman Kristiani yang gagah berani”, suatu riwayat menggetarkan dari mereka yang sedia memberikan segalanya demi memepertahankan iman mereka kepada Allah. Di setiap abad selalu saja terdapat mereka yang mati sahid, yang diperkirakan sejak penyalipan Kristus sudah lebih dari 50 juta orang. Bahkan dalam kultur peradaban modern inipun banyak yang
menderita dan mati karena iman dan pengakuan mereka akan Kristus sebagai Juruselamat dan Tuhan.
Lagu “Iman Orang Saleh Kekal” ini tanpa diragukan merupakan lagu mengenai para pimpinan gereja Roma Katholik yang mati shaid selama abad XVI saat pemerintahan Raja Hendri VIII. Saksi mata mengatakan bahwa raja menyembelih para martir termasuk orang terkenal, Thomas More. Pengarang naskah adalah Frederick Willian Faber, lahir 28 Juni 1814 di Calverly, Yoskshire, Inggris dan dibesarkan dengan ketat sebagai sorang Calvinis oleh si ayah yang pendeta. Setelah tamat dari Oxford University tahun 1843, ia menjadi pendeta sebuah jemaat kecil di Elten, Inggris.
Semasa muda ia menentang keras ajaran gereja Roma Katholik (RK) dan saat itu sebuah gerakan yang disebut Oxford atau Tractarian Movement sangat mempengaruhi gereja Anglikan. Dari 1833-1850 Oxford Movement ini dengan gigih memimpin keagamaan di Inggris di mana saat itu banyak pimpinan gereja Anglikan berpindah ke RK dan yang lainnya mendirikan Anglo-Catholics. Faber setelah melayani 3 tahun sebagai pendeta Anglikan berpindah ke gereaja RK dan terkenal sebagai Father Wilfrid.
Syair lagu ini di tulis Feber untuk memperingati para pemimpin gereja RK yang mati syahid selama pemerintahan raja Henry VIII saat berdirinya gereja Anglikan di Britania Raya. Naskahnya pertama kali terbit dalam koleksi Feber berjudul Jesus and Mary; atau Catholic Hymns for Singing and Reading. Nada lagunya terkanal sabagai “St, Catherine Tune”, digubah oleh seorang RK tekanal benama Henri Hemy, lahir 12 November 1818 di Castle-Upon-Tyne, Inggris. Dia seorang organis dan pengguah lagu tekenal yang di tahun 1864 menyusun buku lagu Katholik berjudual Crown of Jesus. James G. Walton mengadaptasi lagu ini dan menggunakannya dalam koleksi Plain Song Musik for the Holy Communion
Office, di cetak tahun 1874.
3 stansa yang terdapat dalam buku Lagu Sion kita menjadi sangat hidup bagi kebaktian evangelikal. Ini dapat ditafsirkan sebagai suatu tantangan bagi komitmen dan loyalitas kita kapada Injil Yesus Kristus bahwa kita tidak akan menyangkal iman bahkan “jikalau dibunun pun, sungguh mulia kematiannya”. Semoga kita tetap setia terhadap iman para leluhur dan semua yang telah tinggalkan pada kita warisan iman yang sangat berharga.
Pada tahun 1968, pesawat angkasa luar “Eagle” mendarat di bulan dan memasang Tranquility Base. Neil Armstrong mendaratkan pesawatnya dengan
bahan bakar yang habis dalam waktu 11 detik, dan ia lakukan itu dengan tenaga mesin computer yang sangat minim. NASA membuktikan prinsip Alkitab bahwa anda dapat memiliki kedamaian di tengah-tengah kekacauan. Para ahi samudera mengatakan bahwa tempat yang tenang di laut terdapat pada kedalaman di bawah 25 kaki dari permukaan air laut. Walapun tejadi topan di atas laut, selalu terdapat ketenangan di bagian yang paling dalam. Orang Kristen mendapatkan kedamaian pada kedalaman iman yang stabil. “The Innovating Man,” – Tony Evans, Innovative Church Growth Comference, 1994.
Bacaan tambahan : Mazmur 22:4,5; I Timotius 6: 13,14; 2 Timotius 4:7; Ibrani 11.
(No. 8)
JIKA KU KENANGKAN TUHAN (Jesus, the Very Thought of Thee= L.S. No 25) Pengarang Naskah : Bernard of Clairvaux, 1090-1153
Penggubah Lagu : John B. Dykes, 1823-1876 Alih Bahasa : Edward Caswall, 1814-1878
Mazmur 42:2,3 Seperti rusa yan merindukan sungai yang berair, demikianlan jiwaku merinduakan Engkau, ya Allah. Jiwaku haus kepada Allah, kepada Allah yang hidup. Bilakah aku boleh datang melihat Allah?
Syair ini muncul pada puncak Abad Pertengahan yang disebut “Abad Kegelapan” yaitu kegelapan rohani dan moral gereja. Gereja yang ditemukan Kristus 1.000 tahun sebelumnya, sekarang telah sangat merosot dan tidak murni. Standart moral beberapa pimpinan gereja terkenal telah membuat aib yang memalukan.
Benard lahir dari kelurga terhormat di Fontaine, Burgundy, Perancis. Ayahnya seorang ksatria dan ibunya seorang yang bercahaya dengan ekebaikan. Sejak muda Bernad telah menunjukan kesalehan dan kesederhanaannya meskipun kesempatan banyak dia peroleh untuk suatu kehidupan sekuler. Di usia 20-an ia menjadi biarawan di biara Citeaux. Dalam waktu 3 tahun personalita, talenta dan
kwalitas kepemimpinan sudah terlihat. Ia diminta membuka cabang biara di berbagai tempat dan selama hidupnya telah membuka 162 biara baru. Salah satu biara terdapat di Clairvaux, Perancis di mana Bernard berkediaman sampai meninggal dunia di tahun 1153.
Pada abad 16 Marthin Luther menulis mengenai Bernard bahwa “ia adalah biarawan terbaik yang pernah hidup, yang saya sangat hormati melebihi gabungan sumua biarawan.” Pengaruhnya terasa di seluruh Eropa dan ia dapat mengatur raja, kaisar dan uskup untuk menurut. Ia menuliskan banyak buku berhubungan dengan gerejani, kebiaraan, dan topik-topik gerejani lainnya. Ia juga menulis 196 baris syair berjudul “Delcis Jesu Memorial” (“Joyful Rhytm on the Name of Jesus”).
Dari syair tersebut Edward Caswall di abad XIX menerjemahkannya untuk lagu ini. Edward Caswall tekenal sebagai penerjemah lagu-lagu purba. Ia lahir di Yately, Hampshire, Inggris pada 15 juli 1847. ia menjadi pastor gereja Anglikan dan turut terlibat dalam Oxford Movement. Tahun 1847 ia meninggalkan gereja Anglikan dan bergabung dengan gereja RK ia telah menyalin lebih dari 197 lagu Latin. Nada lagu ini, “St. Agnes” digubah oleh John B. Dykes yang juga telah menggubah 300 nada lagu lainya.
Walaupun kita tidak lagi hidup di abad kegelapan, sekarang kita berada di antara kekacau-balauan dunia. Namun di tengah-tengah kekacauan dan kebingungan ini kita perlu merenungkan kekudusan, kasih dan keindahan Yesus agar hidup kita diisi dengan keharuman dan sukacita kehadiranNya. Beberapa abad lalu seorang bijaksana menulis: “Sebab seperti orang yang membuat
perhitungan dalam dirinya sendiri demikianlah ia.”Amsal 232:7. Biarlah kita
bermeditasi dan memikirkan lebih banyak mengenai Kristus dan menjadi semakin hari semakin seperti Dia.
Bacaan tambahan : Mazmur 66:2; 130:7; Yeremia 17:7; Efesus 3:19.
(No.9)
BRIKANLAH, YA TUHAN
(Break Thou the Breat of life= L.S. No 29) Pengarang Naskah : Mary Ann Lathbury, 1841-1913
Yohanes 6:35 Kata Yesus kepada mereka: “Akulah roti hidup; barangsiapa datang Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi.
Sebagai orang Kristen, kegiatan terbesar kita adalah selalu bersama dengan Kristus-bukan hanya dengan jemaat kita. Denominasi atau sistem keagamaan kita. Menyelidik Alkitab dan menggunakan waktu untuk berdoa sangat vital bagi kekuatan rohani. Walaupun lagu ini sering digunakan dalam pelayanan perjamuan kudus, inti ajarannya ialah bahwa Firman Allah merupakan Roti Hidup, harus memupuk kehidupan rohani kita dan membawa kita semakin erat dalam hubungan dengan Tuhan kita.
Nn. Lathbury dalam kemampuannya bertugas sebagai editoral membantu pendeta John H. Vincent, Sekretaris Uni Sekolah Minggu gereja Methodist. William F. Sherwin, directur musik dan pembantunya George Stebbins tidak pernah bermimpi bahwa perkemahan musim panas tahun 1877 itu merupakan salah satu perkemahan yang sangat mengesankan dalam kehidupan mereka. Atas permohonan pendeta Vincent, Nm. Lathbury menulis kata-kata sebuah lagu indah berjudul “Matahari Terbenam” yang dengan cepat lagunya digubah oleh Sherwin.
Karena mereka juga mensponsori sebuah kelas studi Alkitab, maka kembali Nn. Lathbury pembantu dalam perkumpulan Chautauqua, sebuah perkemahan Methodist terletak di danau Chautauqua yang indah di New York diminta unuk menulis kata-kata lagu baru untuk digunakan sebagai lagu thema Konferensi Studi Alkitab. Musiknya di gubah oleh direktur musik bertalenta, William F. Shrwin. Sejak itu lagu “Brikanlah Ya Tuhan” digunakan seterusnya di perkemahan-perkamahan, sebagaimana oleh orang Kristen lainnya di seluruh dunia.
Meskipun lagu ini banyak kali digunakan dalam upacara Perjamuan Kudus, itu tetap berada dalam kolom “Kitab Kudus”. Dan sampai sekarang menjadi lagu favorit jutaan orang yang mengasihi dan mempelajari Alkitab.
Bacaan tambahan : Mazmur 63:1; 119:45; Yeremia 15:16; Matius 14:13-21.
(No.10)
RAJA KEKAL, PIMPINLAH (Lead on, O King Eternal= L.S No. 30)
Pengarang Naskah : Ernest W. Shurtleff, 1862-1917 Penggubah Lagu : Henry Smart, 1813-1879
2 Timotius 4:7,8 Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku teleh memelihara iman. Sekarang telah tersedia bagiku mahkota kebenaran yang akan dikaruniakan kepadaku oleh Tuhan, Hakim yang adil, pada hari-Nya; tetapi bukan hanya kepadaku, melainkan juga kepada semua orang yang merindukan kedatangan-Nya.
53 tahun setelah Henry Smart memberi nada sebuah lagu di Inggis, seorang tamatan Seminari Theologia di Amerika menulis syair bagi lagu tersbut. Keduanya telah menulis bertahun tahun, tinggal dalam jarak bemil-mil, tetapi dapat mengawinkan syair dan nada sebuah lagu gereja yang militan. Henry Smart adalah seorang pemain organ, penggubah lagu dan penyetel organ di gereja Parish, Blackburn, Lancashire, Inggris tahun 1813-1836. ia menulis sebuah syair untuk di nyanyikan pada Reformasi Inggis yang jatuh pada tanggal 4 Oktober 1835. judul syairnya “Lancashire”.
Karena kekuatan daya ingat musiknya ia tetap menjadi pemain organ di gereja St. Pancras, London sampai kematiannya. Pada tahun 1888, kelas tamatan Seminari Theologia Andover, Amerika mempersiapakan diri untuk upacara penamatan. Ernest W. Shurtleff adalah salah seorang dari para tamatan. Juga seorang penulis syair lagu pujian.
Teman-teman para tamatan mendesak dia untuk menulis sebuah syair untuk dinyanyikan pada upacara penamatan mereka. Calon pendeta berumur 26 tahun ini bertanya syair yang bagaimana, sebab ia juga selalu menulis syair dalam buletin seminari mereka. Mereka katakan haruslah sebuah syair yang hidup-hidup penuh semangat, yang militan dengan gaya mares. Ernest Shurtleff menyanggupi dan lahirlah naskah lagu ini.
Setelah para tamatan ini berkumpul dan mencari lagu yang tepat untuk syair Shurtleff, mereka memilih nada “Lancashire”-nya Henry Smart. Beberapa hari kemudian. Mereka melagukan nyanyian ini untuk pertama kalinya dalam upacara penamatan mereka. Para pendeta muda ini dengan penuh semangat melagukan: “Raja kekal pimpinlah, Kami sedia berperang. Oleh kuasa Allah, Kami pasti menang. Kami skarang besedia, Brikanlah kekauatan, Raja kekal pimpinlah, pada kemenangan.”
Dengan semangat lagu ini, para pendeta muda tersebut tinggalkan ruangan penamatan dengan tekad bulat keluat bersama Tuhan untuk berperang melawan kuasa kegelapan dan berjanji akan sedia sampai mati. Setelah melayani bebagai jemaat di Amerika, Ernest W. Shurtleff berangkat keluar negeri. Pada tahun 1895 ia mendirikan gereja Amerika di Fankfurt, Jerman dan sejak 1906 sampai kematiannya di tahun 1917 ia bekerja besama-sama mahasiswa di Paris. Bagi dia dan sama seperti bagi semua pemuda: “Mahkota disediakan bagi orang yang
menang.”
Baccan tambahan: Mazmur 25:4,9, 10; Yesaya 48:17; I Korintus 16:13; Philip 1:27-30.
(No. 11)
KASIH SURGA YANG TERINDAH (Love divine, all love excelling = LS No. 31) Pengarang naskah : Charles Wesley, 1707-1778
Penggubah lagu : John Zundel, 1815-1882
I Yoh 4:9, Dalam hal inilah kasih Allah dinyatakan ditengah-tengah kita, yaitu bahwa Allah telah mengutus AnakNya yang tunggal kedalam dunia, supaya kita hidup olehNya.
Jangan pernah kita menaksir rendah kuasa kasih sayang dalam hubungan bersama sesama kita-apakah itu pernikahan, keluarga, rekan pengusaha, ataupun persahabatan. Kasih Ilahi kepada manusia jauh melebihi semua bentuk cinta kasih. “Kasih surga” merupakan salah satu dari lebih 6.500 naskah lagu karangan Charles Wesley, penyair tekenal gereja Methodist. Naskah yang di tulis tahun 1747 ini menyentuh berbagai elemen doktrin Kristen. Itu meninggikan kasih Tuhan sebagaimana yang diekpresikan dalam inkarnasi Kristus. Kemudian mengacu kepada Konsep Wesley mengenai pengudusan sejuruhnya-bahwa setiap umat percaya dapat hidup tanpa berbuat dosa secara sadar, sehingga dengan demikian mendapatkan “Perhatian” sebagaimana yang dijanjikan Ibrani 4:9. Jadi
masih tersedia satu hari perhentian, hari ketujuh, bagi umat Allah.
“Alpha dan Omega” (huruf pertama dan terakhir dari alphabet Grika) yaitu “Yang Awal dan Yang Akhir” dalam ayat 2 juga memantulkan ajaran
Wesly bahwa pengalaman pertobatan dan pengudusan adalah “Permulaaan” dan “akhir” iman. Ayat ketiga mengemukakan kebenaran bahwa roh Allah tinggal dalam kaabah tubuh setiap umat percaya, sementara ayat ke-empat mengantisipasi kulminasi kemuliaan iman ketika kita menghamparkan mahkota kita di kaki Yesus, penuh kekaguman, kasih dan puja.
Kasih ialah:
Berdiam diri ketika disakit Menjadi sabar ketika dikasati
Belagak tuli ketika skandal, fitnah dan gosip dibeberkan Memperhatikan dan peduli akan kesulitan sesama
Kepatuhan dan kesiapan tepat waktu bila tugas memanggil
Keberanian menghadapi nasib buruk. (Roy B. Zuck, The Speaker’s
quote Book p. 236)
(No. 12)
HAI PUJILAH NAMA YESUS (All Hail the Power=L. S. No. 33) Pengarang Naskah : Edward Perronet, 1726-1792 Penggubah Lagu : John Rippon, 1751-1836 Nada “Coronation” : Oliver Holden, 1765-1844 Nada “Miles Lane” : William Shrubsole, 1760-1806
Wahyu 4:11 “Ya Tuhan dan Allah kami, Engkau layak menerima puji-pujian dan hormat dan kuasa; sebab Engkau telah menciptakan segala sesuatu; dan oleh karena kehendak-Mu semuanya itu ada dan diciptakan.”
Lagu ini banyak kali disebut sebagai “Lagu Kebangsaan Kristiani”. Merupakan salah satu lagu perbaktian yang besar dan pertama kali muncul dalam
Gospel Magazine, November 1779 di-edit oleh Augustus Toplady, pengarang lagu
“Rock of Ages”. Syairnya telah diterjemahkan ke hampir setiap bahasa di mana ke-Kristenan dikenal dan kapanpun lagu ini dinyanyikan, itu mengkomunikasikan kebutuhan rohani bagi hati manusia.
Edward Perronet lahir di Sundridge, kent, Inggris tahun 1726. ia keturunan khas keluarga Huguenot Perancis yang melarikan diri ke Swiss dan kemudian ke Inggris karena penganiayaan di Perancis. Ayah Edward adalah seorang pendeta gereja negara di Inggris dan bersimpati dengan gerakan evangelisasi oleh keluarga Wesley dan George Whitefield. Edward juga menjadi pendeta gereja anglikan tetapi selalu mengritik cara perbaktian mereka. Ia kemudian ditinggalkan gereja
dan bergabung dengan John dan Charles Wesley selama 1740-an sampai 1750-an. Saat itulah Wesley dan para pengikutnya menderita banyak aniaya dan kekerasan dari orang-orang yang tidak setuju dengan pelayanan mereka.
Walaupun Perronet menulis banyak lirik lagu dan syair, tetapi inilah satu-satunya hasil pekerjaannya yang bertahan. Keberhasilan teks lagu ini ditunjang oleh 3 nada indah yaitu “Coronation” gubahan Oliver Holden, seorang tukang kayu dari Massachusetts, musisi yang belajar sendiri dan guru nyanyi di sekolah. “Miles lane” oleh William Shrubsole, teman dekat Perronet, sangat terkenal di Britania Raya. Sedangkan nada pesta dari “Diadem” digubah pada tahun 1838 oleh James Ellor, seorang anggota biasa, yang menggunakan lagu ini sebagai salah satu nomor biduan gereja.
Salah satu cerita menarik dari E. P. Scott, seorang misionari pionir ke India. Pada suatu hari ia dicegat oleh sekelompok penjahat yang menggunakan tombak. Secara naluri ia mengambil biola dari tasnya dan mulai memainkan sekaligus menyanyikan lagu ini. Ketika ia tiba pada bait ke 3 yang mengatakan: “Hai segala kaum dan bangsa, Di dalam dunia. Puji Dia yang mulia, Dan rajakan Yesus.” Ia dan sebagian mereka mencucurkan air mata. Scott menghabiskan sisa hidupnya untuk berkhotba dan melayani mereka dengan kasih dan penebusan Kristus.
Bacaan tambahan : Pilipi 2:9-11; Kolose 1:15-19; Ibrani 2:7,8
(No. 13)
KU PUJI TUHAN YANG JADIKAN (I Sing the Mighty Power of God=L.S. No. 34) Pengarang Naskah : Isaac Watts, 1674-1748
Lagu Dari : Gesangbuch der Herzigl, Wurttemberg, 1784
Mazmur 72:8 Kiranya ia memerintah dari laut ke laut, dari sungai Efrat sampat ke ujung bumi!
` Issac Watts, bapa lagu pujian Inggris, adalah seorang yang lemah dan tidak sehat sepanjang hidupnya. Selama 30 tahun akhir hidupnya ia menjadi seorang invalid di rumah sahabatnya, Sir Thomas Abney, di mana Watts mendapatkan ketenangan untuk menulis lagu-lagu yang sampai sekarang masih digunakan. Meskipun kurus dan tidak sehat, Watts terkenal dengan kejeniusannya dalam
berbagai bidang. Ia menulis esai, psikhologi, 3 jilid khotbah, katekismus, 29 buku ulasan mengenai theologia, buku teks tentang logika, dan berbagai topik lainnya.
Walaupun ia tidak menikah, ia senantiasa mencintai anak-anak dan menulis banyak buat mereka. Pada tahun 1715 ia menulis sebuah buku lagu anak-anak barjudul Divine Songs for Children, yang baru-baru ini dicetak ulang oleh Oxford University Press. Buku nyanyi ini adalah buku nyanyi khusus pertama yang pernah ditulis untuk anak-anak. Kecintaannya kepada anak-anak diperingati dengan sebuah patungnya di Southampton, Inggris.
Sangat menarik untuk menyadari bahwa apakah kita seorang dewasa atau seorang anak kecil, kita harus memuji kuasa kebesaran Allah, Pencipta kita. Lagu ini juga mengajarkan kita bahwa kita harus nyanyikan kebaikan dan kebijaksanaan Tuhan sama seperti ke-MahadiranNya. Umat Tuhan memiliki banyak hal yang patut dinyanyikan.
Bacaan tambahan : 1 Tawarikh 29:11-13; Mazmur 95:3-5; 107:8; Yesaya 40:26,28; Wahyu 4:11
(No. 14)
ADA TEMPAT DIAM TEDUH (Near to the Heart of God=L.S. No. 35) Syair dan Lagu : Clelang B. McAfee, 1866-1944
Mazmur 94:19 Apabila bertambah banyak pikiran dalam batinku, penghiburanMu menyenangkan jiwaku.
Kehidupan ini penuh dengan masalah dan krisis yang datang tanpa diduga. Kegelisahan dan keputusasaan akan mengelapkan bahkan orang saleh yang paling kuat sekalipun. Ingat Ayub dalam Ayub 5:7...”melainkan manusia menimbulkan kesusahan bagi dirinya, seperti bunga api berjolak tinggi.” Namun orang kristen, karena perlindungan yang didapatkan dalam kristus, harus mampu berjuang mempertahankan ketenangan dan stabilitas walaupun tertekan dan berbeban berat. Kita tidak dapat melepasklan diri dari tekanan dan bayang-bayang gelap kehidupan, tetapi harus dihadapi dengan kekuatan rohani yang disediakan Tuhan kita. Ketika kita didekap erat dan aman “dekat di hati Tuhan”, ktia mendapatkan ketenangan, penghiburan, sukacita dan kedamaian yang hanya
Yesus, Juruselamat kita akan berikan. Untuk itulah kita dapat hidup setiap hari dengan kedamaian hati dan keberanian.
Inilah pekabaran yang Clelang McAfee expresikan dalam lagu penghiburan ini saat dia sendiri dipenuhi dukacita. Ketika ia melayani sebagai pendeta di gereja First Presbyterian, Chicago, Dr. McAfee terkejut mendengar berita kematian 2 orang kemanakannya karena penyakit Diptheria. Menghadap Tuhan dan Alkitab, McAfee segera mendapatkan nada dan lirik lagu ini yang mengalir dari hatinya yang berduka. Pada hari penguburan ke 2 kemanakannya ini ia berdiri di luar rumah saudaranya Howard yang sudah dikarantina tersebut sambil menemukan lagu dan liriknya disela-sela airmatanya. Hari minggu berikut lagu ini dinyanyikan oleh paduan suara di gereja McAfee. Segera lagunya menjadi terkenal luas dan sejak itu telah menghibur dan menyembuhkan banyak umat Tuhan disaat yang diperlukan. Jaminan dan doa lagu ini dapat kita miliki dimasa sukar dan saat teruji.
Bacaan tambahan : Maz 34:18; 73:28; Pkh 5:1; Mat 11:28-30; Ibrani 4:16. (No. 15)
APABILA DAMAI PERJALANANKU (It is well with my soul=L.S. No. 37) Pengarang Naskah : Horatio G. Spafford, 1828-1888 Penggubah Lagu : Philip P. Bliss 1838-1876
Maz 46:2 Allah itu bagi kita tempat perlindungan dan kekuatan, sebagai penolong dalam kesesakan sangat terbukti.
Kedamaian hati melalui kepercayaan mutlak dalam kasih Allah merupakan bukti nyata iman seorang Kristen dewasa. Hanya dengan jenis keyakinan demikian kepada Bapanya yang di Surga ini sajalah maka Horatio Spafford setelah dilanda tragedi demi tragedi dapat berkata: “Baiklah, baiklah, bagiku”.
Spafford pernah mengalami kedamaian dan keberhasilan dihari-hari penuh sukacita sebagai seorang pengacara sukses di Chicago. Ia adalah Ayah dari 4 orang anak perempuan, anggota aktif gereja Presbyterian, juga teman serta pendukung setia D. L. Moody dan para evangelis lainnya. Kemudian datanglah malapetaka demi malapetaka yang dimulai dengan kebakaran besar di Chicago pada tahun 1871 yang mengahabiskan investasi besar keluarga Spafford. Ketika pendeta Moody dan pembantu musiknya, Ira Sankey berangkat ke Inggris untuk
evangelisasi, Spafford memutuskan untuk menyenangkan keluarganya dengan mengambil cuti bersama-sama keluarga di Inggris sekaligus membantu dalam evangelisasi Moody.
November 1873 Spafford begitu sibuk dengan pekerjaannya sehingga ia tidak dapat berangkat bersama istri dan 4 orang anak perempuannya: Magie, Tanetta, Annie, dan Bessie bersama kapal S. S. Ville du Havre. Namun ia berjanji akan segera menyusul mereka ke London. Pada jam 2.00 subuh tanggal 22 November 1873, kapal Perancis yang mewah ini ditabrak hampir putus menjadi 2 oleh kapal besi Inggris, Lochearn. Hanya dalam waktu 12 menit Ville du Havre tenggelam dengan korban 226 jiwa termasuk empat anak perempuan keluarga Spafford. Dalam kekacauan para penumpang Ny. Spafford menyaksikan keempat anaknya tenggelam. Ia sendiri tertimpa salah satu tiang kapal dan pingsan namun sadar kembali dan diselamatkan. Sembilan hari kemudian setelah semua orang selamat tiba di Cardiff, Wales, Ny. Spafford mengirim telegram kepada suaminya berbunyi: “Sendiri selamat”.
Segera Spafford berangkat menyusul istrinya ke London dengan kapal berikut. Dalam pelayaran dibulan Desember itu, ia diundang oleh kapten kapal ke kabinnya. Kapten berkata: “saya yakin betul bahwa ditempat inilah Ville du Havre tenggelam”. Malam itu Spafford tidak dapat tidur. Berjam-jam lamanya ia merenungkan dan mengingat akan anak-anaknya dan di tengah samudera Atlantik itu, dari dalam hatinya yang hancur, Spafford menulis lima bait lagu ini. Ketika ia bertemu dengan istrinya, Ny. Spafford berkata: “Saya tidak kehilangan anak-anak saya. Kita hanya berpisah untuk sementara.”
Tuan Spafford dan Philip Paul Bliss, seorang pemimpin biduan dan penggubahan lagu, adalah sahabat lama. Keduanya menjadi pembantu utama Moody dan Sankey. Atas permintaan Spafford, Bliss bersedia menggubah lagu untuk syairnya. Pada hari Jumat, November 1876 di Farwell Hall, Chicago, Bliss memeperkenalkan lagu: “It is Well with My Soul” sebagai lagu solo rohani di hadapan lebih dari 1.000 pendeta.
Sebulan kemudian, di bulan Desember, sementara tinta nada-nada lagu ini belum sempat kering, Tn. dan Ny. Bliss menitipkan 2 anak mereka kepada ibu Tn. Bliss. Mereka menumpang kereta api dari Buffalom New York menuju Chicago untuk mengatur jadwal suatu seri evangelisasi setelah Tahun Baru nanti. Mereka tinggalkan Bufalo pada Jumat,29 Desember 1876 sore. Pada jam 8 malam itu ketika mendekati Ashtubula, Ohio, sebuah jembatan yang menyeberangi sebuah jurang ambruk sehingga 7 gerbong kereta api yang ditumpangi Bliss suami istri
bersama seluruh penumpang uatuk ke dalam jurang penuh air yang sementara membeku. Api dari mesin mulai membakar badan gerbong yang sementara tergantung di pinggir jurang. Mereka yang selamat dari tenggelam, tidak dapat luput dari amukan api.
Dari 160 penumpang, hanya 14 orang yang selamat sedangkan mayat yang ditemukan hanya berjumlah 59 orang. Saksi mata menceritakan bahwa Tn. Bliss sebenarnya selamat dari amukan api, tetapi ketika ia melihat isterinya terjepit di antara rerutuhan gerbong dan api mulai menjilat gerbong itu, Philip Bliss, yang saat itu berusia 38 tahun memeluk isterinya dan keduanya disambar api. Untuk 3 hari lamanya sahabat-sahabat Bliss mencari mayat Bliss dan isterinya tetapi tidak ada yang di temukan karena kereta dan penumpang yang lain sudah menjadi abu.
Walaupun jenazah semua mereka ini, 4 anak Spafford, Philip Bliss dan isterinya, tidak di temukan dan kuburan merekapun tidak dapat di kenal, namun lagu mereka yang telah melewati tragedi demi tragedi, tetap hidup di hati umat Kristiani di seluruh dunia. Mereka bersyukur karena keluarga Spafford dan Bliss dengan setia dan dengan kemenangan dapat berkata: “Baiklah, Baiklah, Bagiku”. Sebuah lagu penuh kekuatan, kedamaian dan pengharapan.
Bacaan tambahan : Mazmur 31:14; 142:3; Galatia 2:20; 1 Petrus 4:19. Petrus 4:19.
(No. 16)
TIADA LAIN PELINGUNG SEPERTI YESUS (No One Ever Cared for Me Like Jesus=L. S. No. 40) Pengarang Nakah : Charles F. Weigle, 1871-1966
Penggubah Lagu : Charles F. Weigle, 1871-1966
Ayat 35:10...tetapi orang tidak bertanya: Di manakan Allah, yang membuah kita, dan yang memberi nyanyian pujian di waktu malam;
Lagu Charles Weigle “No One Ever Cared for Me Like Jesus” ini merupakan hasil produksi dari salah satu masa tergelap dalam kehidupannya. Weigle menggunakan sebagian besar waktunya untuk evangelisasi dan menulis lagu. Pada suatu malam setelah kembali dari kebaktian evangelisasinya, ia dapati sepucuk surat dai isterinya. Catatan dalam surat itu mengatakan bahwa isterinya
sudah tidak tahan lagi hidup dengan seorang evangelist seperti itu dan sekarang meninggalkan dia.
Weigle mengatakan bahwa dia begitu putus asa selama beberapa tahun terakhir sampai berencana untuk bunuh diri. Tidak ada seorang pun yang peduli dan memperhatikannya. Tetapi lama kelamaan imannya mulai pulih dan ia kembali aktif dalam pelayanan penarikan jiwa. Segera ia merasa harus menulis syair dan menggubah sebuah lagu sehubungan dengan pengalaman tragisnya. Dari hati yang hancur lahirlah kata-kata yang Allah berikan kepada Weigle.
Tidak sulit untuk bernyanyi bila semuanya menjadi hancur. Namun sering Allah memberikan sebuah lagu istimewa kepada salah seorang anak-Nya yang tersakiti dan terluka hati selama malam-malam kegelapan dalam hidupnya. Umat percaya akan temukan kebahagiaan baru di dalam kesusahan dan keputus asaan, dan mereka mendapatkan kedekatan yang erat dengan Tuhan mereka. Rasul Yohanes menulis buku Wahyu sementara berada di pulau Patmos yang kering. John Bunyan menyelesaikan cerita klasik Pilgrim’s Progress ketika dalam keadaan tuli berat. Dan Fanny Crosby pernah brekata : “ Sekiranya saya tidak buta, saya tidak akan pernah mengarang semua lagu pujian ini yang Tuhan telah berikan bagi saya.
Dewasa ini banyak orang mengalami sakitnya kehancuran pernikanan, keretakan keluarga dan putus asa di tengah hubungan lembut kehidupan. Marilah kita menyatakan jaminan kebenaran bahwa Allah kita peduli dan mengerti serta sedia memancarkan terang dalam kegelapan hidup kita. Kita harus menambahkan catatan pada hymne ini, undangan Rasul Petrus dalam I Petrus 5:7 “Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu.”
Bacaan tambahan: Maz 144:3,4; Yer 31:2,3; Ef 3:18,19; I Yoh 3:1.
(No17)
YESUS SPERTINYA GEMBALA ( Savior, Like a Shepherd lesd Us= L.S. No 41)
Pengarang Naskah : Dorothy A. Thrupp, 1779-1847 Penggubah Lagu : William B. Bradbury, 1816-1868
Mazmur 32:8 Aku hendah mengajar dan menunjukkan kepadamu jalan yang harus kautempuh; Aku hendak memberi nasihat, mata-Ku tertuju kepadamu.
Pengarang syair lagu terkenal ini, Dorothy Thrupp, lahir dan tinggal di London, Inggris. Dia adalah penulis lagu yang berhasil, kususnya lagu anak-anak. Sebagian besar syair lagunya tidak ia tanda tangani karena hanya menggunakan nama samaran. Dengan demikian orang berpikir bahwa lagu ini bukan karangannya. Pada tahun 1836, syair lagu ini pertama kali muncul tanpa tanda tangannya, tetapi kitemukan di antara koleksi naskah-naskah lainnya.
Bimbingan Tuhan adalah pokok iman Kristiani. Iman yang di imbangi dengan penyelidikan akan Kitab Suci bahwa tuntunan Toh Kudus, membuat “semua orang, yang dipimpin Roh Allah, adalah anak Allah”. (Roma 8:14). Dan sama seperti anak-anak yang seringkali memberontak terhadap otoritas orangtua, sedemikian pula kita seringkali mengabaikan bimbingan Allah dalam hidupnya, bahkan berusaha menjalani jalan kita sendiri. Jika demikian, pimpinan Allah tidak akan tejadi. Haruslah ada kerinduan dan kemauan yang serius untuk pimpinan oleh Allah. Dengan iman yang teguh kita harus menyadari bahwa Allah mempunyai rencana bagi setiap anak-Nya dan kita harus rindu mengikuti jalan itu ke manapun dipimpin.
Yeremia 29:11 Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang apa pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtere dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.
Bacaan tambahan : Mazmur 23; Amsal 16:1,3,6,9; Yes 40:11; Yohanes 10:14-16,27.
(No. 18)
RAHMAT TUHAN
(Grace Greater than Our Sin= L.S. No. 44) Pengarang Naskah : Julia H. Johnston, 1849-1919
Roma 5:20,21 Tetapi hukum Taurat ditambahkan, supaya pelanggaran menjadi semakin banyak; dan di mana dosa bertambah banyak, di sana kasih karunia menjadi belimpah-limpah, supaya, sama sepaerti dosa berkuasa dalam alam maut, demikian kasih karunia akan berkuasa oleh kebenaran untuk hidup yang kekal, oleh Yesus Kristus, Tuhan Kita.
Bertahun tahun Julia Hohnston bekerja dan sibuk melayani Sekolah Minggu di gereja First Presbyterian Peoria, Illinois. Dia juga adalah penulis buku pelajaran anak anak unuk David C. Cook Publising Company. Selain itu dia juga menulis sekitar 500 naskah lagu adalah Daniel B. Tooner, seorang direktur departemen musik dari Moody Belble Insitute. Lagu ini pertama kali muncul dalam kompilasi Tooner, Hymns Tried and True, tahun 1911.
Rahmat Tuhan bukan sekedar suatu rahmat yang berkecukupan, tetapi lebih dari itu, yaitu rahmat yang berkelimpahan. 2 korintus 9:8 Dan Allah sanggup melimpahkan segala kasih karunia kepada kamu, supaya kamu senantiasa berkecukupan di dalam segala sesuatu dan malah berkelebihan di dalam pelbagai kebajikan. Rahmat-Nya menyediakan keselamatan kekal bagi kita dan juga menyanggupkan kita mengerti akan hidup ini dengan limpahnya. Itu dipersiapkan bagi kita untuk menghadapi setiap masaalah dan kebutuhan.
Seringkali diargumentasikan bahwa karena rahmat Allah itu menutup semua dosa maka kita bebas melakukan apa saja sesuka hati kita. Memang rahmat Allah disediakan bagi kebebasan kita, yaitu kebebasan dari perbudakan dosa, cinta diri, sifat alami dosa, agar sesudah dibebaskan, kita akan mengejar “pelbagai kebajikan”, dan mejadi seperti yang Allah inginkan dari kita.
Bacaan tambahan: Roma 3:24-26; 1Korintus 15:10; 2 Korintus 8:9; Efesus 1:6-8; Titus 2:11.
(No.19)
SALIB DI BUKIT GOLGOTHA (The Old Rugged Cross= L.S. No 45) Pengarang Naskah : George Bennard, 1873-1958
I Petus 2:24 Ia sendiri telah memikul dosa kita di dalam tubuh-Nya di kayu salib, supaya kita, yang telah mati tehadap dosa, hidup untuk kebenaran. Oleh bilur-bilurNya kamu telah di sembuhkan.
Lagu “Salib Di Bukit Golgotha” merupakan lagu yang sering dipromosikan dan dinyanyikan. Para editor buku lagu sepakat bahwa lagu ini sangat populer melebihi lagu-lagu lainnya. Selama 30 tahun sejak di publikasikan di tahun 1913, telah terjual sebanyak lebih dari 20 juta salinan, melebihi komposisi musik manapun. “Salib Di Bukit Golgotha” mengungkapkan kata-kata sederhana namun mulia mengenai pusat kebenaran Injil yang berbicara tentang kebutuhan setiap umat percaya.
Bila seorang pemimpin lagu meminta anggota gereja memilih lagu kecintaan mereka untuk dinyanyikan bersama, senantiasa lagu ini diusulkan dan jarang di lewatkan. Selalu saja ada permohonan untuk menyanyikan lagu “Salib di Bukit Golgotha”. Lagu Injil yang sentimentil ini telah menjadi favorit orang Kristen dan non-Kristen sejak ditulis George Bennard pada tahun 1913 dan terkenal sebagai lagu terpopuler dari semua lagu abad XX.
George Bennard lahir di Youngstown, Ohio, tapi orangtuanya segera pindah ke Albia, Iowa dan kemudian berpindah lagi ke kota Lucas di negara bagian yang sama. Ketika ayahnya meninggal dunia, George Bennard baru berusia 16 tahun dan harus menjadi tumpuan harapan keluatga bersama ibu dan ke-empat adik perempunnya. Ia masuk menjadi anggota Salvation Army dan bersama isteri pertamanya menjadi pimpinan di organisasi gereja tersebut. Namun kemudian dia diurapi menjadi pendeta gereja Methodist Episcopal di mana pelayanannya sangat di hargai.
Bennard sangat sibuk dengan peninjilan dan pelayanan peningkatan kerohaian jemaat di negara bagian Michigan dan New York. Pada suatu ketika saat pulang ke Michigan ia mengalami suatu peristiwa yang membuatnya bepikir keras mengenai salib dan apa yang di maksud Rasul Paulus ketika ia berbicara mengenai “Persukutuan dengan salib Kristus”. Sementara Bennard memusatkan pikiran kepada kebenaran ini ia dapati bahwa salib itu bukan sekedar suatu simbol keagamaan, tetapi adalah inti dari Injil. Pada tahun 1913 ia mulai menulis naskah dan lagu “The Old Rugged Cross”. Menurut Bennard, “Kata-kata lagu ini telah menyentuh hati saya sebagai jawaban bagi semua pertanyaan.”
Saat itu ia tinggal bersama keluarga Methodist tekenal di Pokagon, Michigan ketika melayani kebaktian peningkatan kerohain di sana. Dengan ditemanai
seguah gitar, Bennard menyanyikan lagu ini di hadapan tuan rumah, Pendeta dan Ny. L.O. Bostwick. Di dapur keluarga inilah lagu tersebut diperdengarkan yang kemudian mendapat tanggapan dari Pendeta Bostwick: “Tuhan telah memberikan lagu indah kepadamu. Itu akan bertahan terus karena telah menyentuh hati kami melebihi lagu lagu lainnya”. Pada tanggal 7 Juni 1913 malam, Pendeta Bostwick memperkanalkan lagu tersebut kepada anggota jemaat dan 5 penyanyi jemaat menyanyikannya dari catatan pinsil. Ke 5 anggota tarsebut adalah: Frank Virgin, Olive Mars, Clara Virgil, William Thaldorf dan Florence Jones.
Segera lagunya tekenal dan diperkenalkan di hadapan peserta konvensi di Chicago. Kemasyhurannya tersebar cepat di dunia Kristen. John Bowring setelah terinspirasi dengan kata-kata lagu tersebut, menulis “In the Cross of Our Christ I Glory”. Bennard melanjutkan pelayanannya sebagai pendeta evangelist 40 tahun lagi setelah menulis dan menggubah lagu di atas. Pada tanggal 9 Oktober 1958, di usia 85 tahun, Bennard meninggal dunia. Salibnya ditukar dengan makhota. Ia telah menerima Kristus dari salib itu. Semoga kita dapat mengenal keselamatan dan kehidupan kekal yang diterima oleh iman di dalam Dia yang telah mengadakan korban agung “di atas salib di bukit Golgota.”
Bacaan tambahan : Galatia 6:12,14; Efesus 2:16;Pilipi 2:8; Kolose 1:20.
(No. 20)
SUCIKAN HATIMU
(Take Time to Be Holy= L.S. No. 46) Pengarang Naskah : William D. Longstaff, 1822-1894 Penggubah Lagu : George C. Stubbins, 1846-1945
I Petrus 1:15,16 tetapi hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memenggil kamu, sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus.
William Longstaff, anak seorang pemilik kapal di Inggrs, meskipun kaya adalah seorang yang rendah hati dan anggota gereja yang setia. Ia juga merupakan
sahabat dari Pendera Dwight L. Moody dan penyanyi Ira D. Sankey dalam evangelisasi di Inggris. Evangelisasi mereka mengguncangkan Inggris di akhir abad XIX. Setelah mendengar khotbah mengenai I Petrus 1:16 yang diambil referensinya dari buku Imamat, maka William mulai membuat pencapaian kesucian sebagai tujuan utama hidupnya. Meskipun ini hanya sebuah lagu, kata-katanya telah mempengaruhi umat yang setia di mana-mana agar setia menghidupkan kehidupan ke Kristenan yang benar.
Nilai berharga untuk hidup Kudus menurut petunjuk yang diberikan lagu ini begitu berkaitan dengan umat percaya dewasa ini sama dengan jaman William Longstaff ketika menulis lagu tesebut lebih se-abad lalu. Allah tetap masih menuntut sebuah gaya hidup suci bagi umatNya. Kadangkala kita bingung membedakan kesucian dan kesetiaan hanya merupakan sifat pura-pura melalui kebaikan yang menutup nutupi kemunafikan dan kenajisan. Suatu kehidupan yang benar-benar kudus dan berperilaku seperti Kristus menyatakan: “Justru karena itu kamu harus dengan sungguh-sungguh berusaha untuk menambahkan kepada imannya kebajikan, dan kepada kebajikan pengetahuan, dan kepada pengetahuan pengusaan diri, kepada penguasaan diri ketekunan, dan kepada ketetekunan kesalehan,” 2 Petrus 1:5,6.
Dewasa ini kita di kelilingi dengan begitu banyak kepura-puraan dan ketidak tulusan hati yang mana kita sendiri tanpa sadar telah terpengaruh dengan keadaan tersebut. Untuk mempertahankan kwalitas hidup yang di tuntut Allah. Kita harus menyediakan waktu untuk mengembangkan suatu kehidupan yang benar dan konsisten, bahkan kudus dalam segala bidang.
Bacaan tambahan : Im 20L7,8; II Kor 7:1; Ef 4:23,24; I Tim 4:8; Ibr 12:14. (No. 21)
KU DENGAR SUARA ALMASIH (I Heard the Voice of Jesus Say= L.S. No 47) Pengarang Naskah : Horatius Bonar, 1808-1889
Penggubah Lagu : John B. Dykes, 1823-1876
Yesaya 55:1 Ayo, hai semua orang yang haus, marilah dan minumlah air, dan hai orang yang tidak mempunyai uang, marilah! Terimalah gandum tanpa uang pembeli dan makanlan, juga anggur dan susu tanpa bayaran!
Lagu ini dengan cara yang sangat berarti mempersembahkan 3 undangan pribadi Allah kita kepada manusia. Yang diikuti dengan sambutan manusia dan hasil kerohaniannya.
Bait pertama: Matius 11:28 Marilah kepad-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberikan kelegaan kepadamu. Aku datang, aku mendapatkan kelegaan dan sukacita.
Bait kedua: Yohanes 4:10 Jawab Yesus kepadany: “Jikalau engkau tahu tentang karunia Allah dan siapakah Dia yang berkata kepadamu: Berilah Aku minum! Niscaya engkau telah meminta kepadaNya dan Ia telah memberikan kepadamu air hidup.” Yohanes 4:13 Jawab Yesus kepadanya: “Barangsiapa minum air ini, ia akan haus lagi, Yohanes 4:14, tetapi barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal.” Aku datang, aku minum dan hidupku di segarkan.
Bait ketiga: Yohenes 8:12 Maka Yesus berkata pula kepada orang banyak, kata-Nya: “Akulah terang dunia; barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup.” Aku memandang, dan untuk selanjutnya berjalan dalam terang.
Musik untuk naskah lagu yang indah ini di tulis pada tahun 1868 oleh John B. Dykes, seorang musisi Inggris terkenal di abad XIX. Ia menghubungkan undangan Tuhan yang penuh rahmat itu dalam kunci minor, sedangkan jawabannya diberi simbol sistem tangga nada mayor. Sama seperti lagu-lagu indah gubahan Dykes, maka musik ini di tandai oleh romantika khas lagu-lagu lain gubahan John B. Dykes adalah “Suci, Suci, Suci”, “Jika Ku Kenangkan Tuhan”, dll
Horatius Bonar diakui sebagai salah seorang yang bertalenta, pendeta Injil yang bersemangat dan penggubah lagu terkenal dari Skotlandia. Ia lahir 19 Desember 1808 di Edinburd, Skotlandia. Ketika terjaadi perpecahan di gereja Skotlandia, Bonar aktif mempromosikan Free Church Movement. Sepanjang pelayanannya, ia tekenal sebagai seseorang dengan kekuatan dan kesanggupan tanpa batas. Selain menjadi pendeta Presbyterian, penarik jiwa yang sungguh-sungguh, pelajar Alkitab yang keranjingan, Bonar juga menggubah sekitar 600 lagu, 100 daripadanya masih di gunakan dewasa ini. Lagu “Ku Dengar Suara Almasih” merupakan lagu terbaik dari semau lagu gubahannya. Pertama kali muncul dalam koleksinya, Hymns, Original and Selescted tahun 1846 dan
kemudian dalam Hymns of Faith and Hope tahun 1862. Bonar menulis lagu ini sementara ia menggembalakan jemaat Presbyterian di Kelso, Skotlandia. Sebagaimana lagu-lagu lainnya, ia menulis lagu ini sambil memikirkan kerohanian anak-anak.
Bacaan tambahan : Yes 55:1-3; Mat 11:28; Yoh 4:14; 8:12; Why 3:20’22:17.
(No.22)
YA YESUS KU TELAH JANJI (O Jesus, I Have Promided= L.S.No. 51) Pengarang Naskah : John E. Bode, 1816-1874
Penggubah lagu : Arthur H. Mann. 1850-1929
Ibrani 6:10,11 Sebab Allah bukan tidak adil, sehingga Ia lupa akan pekerjaanmu dan kasihnya yang kamu tunjukkan tehadap namaNya oleh pelayanan kamu kepada orang-orang kudus, yang masih kamu lakukan sampai sekarang. Tetapi kami ingin, supaya kamu masing-masing menunjukkan kesungguhan yang sama untuk menjadikan pengharapannya suatu yang pasti, sampai pada akhirnya,
Dengan dimulainya tahun baru, tibalah saatnya untuk mengedakan evaluasi dan merefleksi hidup kita sama juga seperti meletakkan tujuan-tujuan masa depan. Tugas dan rencana sepanjang tahun menanti kita. Dan agar kita tidak terjebak dengan rutinitas tugas harian, maka hari dan peristiwa menjadi penting dalam kehidupan. Kita perlu menyoroti hal ini demi pertumbuhan dan perkembangan pelayanan.
Lagu ini ditulis oleh seorang pendeta Inggris, John Bode, pada satu hari istimewa bagi konfirmasi suatu pelayanan seorang anak wanita dan dua anak laki-lakinya. Ketika itu ketiga anak ini mengambil keputusan dan membuat komitmen bagi Allah dan pelayanan bagiNya. Ia berkata kepada anak-anakny: “Saya telah menulis sebuah lagu yang mengundang semua kebenaran penting yang saya mau kamu mengingatnya saat kamu mempersiapkan diri sepenuhnya bagi pekerjaan Allah.” Tanpa ragu anak-anak John Bode tidak pernah melupakan konfirmasi pelayanan mereka dan perhatian ayah mereka ketika mereka menyanyikan lagu tersebut seumur hidup mereka.
(No.23)
YESUS, KEMUDIAKANLAH (Jesus, Saviour, Pilot Me =L.S.No. 55) Pengarang Naskah : Edward Hopper, 1818-18888
Penggubah Lagu : John E.Gould, 1822-1875
Mazmur 16:11 Engkau memberitahukan kepadaku jalan kehidupan; di hadapan-Mu ada sukacita berlimpah-limpah, di tangan kanan-Mu ada nikmat senantiasa.
“Tuhan selamatkan kami, kami binasa,” demikianlah teriakan para murid, maka segera Kristus bangun dan menghardik angin ribut itu dan laut pun tenang. Lagu kita hari ini mengekspresikan bahasa pelaut abad XIX, yaitu bahasa universal mengenai kebutuhan manusia akan pertolongan Ilahi.
Edward Hopper seorang yang lemah lembut dan rendah hati menjadi pendeta gereja Presbyterian dengan gelar Doctor of Divinity. Pelayananya yang sangat berhasil ialah berada bersama pata pelaut di salah satu gereja kecil di pelabuhan New York. Di sana ia melayani sampai meninggal dunia. Hopper menulis naskah lagu ini demi kebutuhan rohani para pelaut yang datang dari seluruh bagian dunia.Lagu ini juga menjadi lagu kesukaan para pelaut tersebut.
Lagu “Yesus, kemudikanlah” memiliki 6 bait tetapi hangya 3 yang digynakan. Salah satu dari yang tidak digunakan itu berbunyi sebagai berikut: “Walaupun laut menjadi licin dan tenang, berkilauan dengan cahaya bintang di malam hari, dan jalur pelayaranku terang bagaikan hari siang, aku tetap mengingat dan membutuhkan Engkau ya Yesus, kemudikanlah”.
Edward Hopper meninggal dunia di usia 70 tahun. Ia ditemukan sementara memegang pinsil di meja kerjanya menulis syair baru mengenai surga. Di pekuburannya, syair baru itu dibacakan: “Yesus, dengan suara-Nya yang merdi membisikkan, “Jangan takut, Aku akan mengemudikan perahumu.”
Bacaan tambahan :Maz 89:9; 107:28-30; Mat 8:23-27;Yak 1:6. (No.24)
TUHAN PELIHARAKAN
pengarang Naskah: Civilla D. Martin, 1869-1948 Pengubah lagu : W. Stillman Martin, 1862-1935
Mazmur 55:23 serahkanlah kuatirmu kepada Tuhan, maka Ia akan memelihara emgkau! Tidak untuk selama-lamanya dibiarkan-Nya orang benar itu goyah.
Civilla Martin menulis naskah lagu ini ketika ia sendiri perlu belajar bersandar pada pemeliharaan Allah. Suaminya, pendeta W. Stillman Martin adalah seorang evangelisrt terkenal dari gereja Babtist. Pada suatu hari Minggu tahun 1904, Ny. Martin sakit keras sehingga tidak sanggup menemani suaminya melayani jemaat yang agak jauh dari rumah mereka. Ketika pendeta Martin merencanakan untuk menunda perjalana ke jemaat tersebut, anak bugsunya berkata: “Ayah, coba pikirkan baik-baik. Kalau Allah sudah tentukan ahwa ayah harus melayani umat-Nya, tidakkah ayah percaya bahwa Tuhan juga akan memelihara ibu sementara ayah berada jauh dari ibu yang sakit?”
Ungkapan ini sangant menyentuh hatinya. Ia segera berangkat dan melayani jemaat tersebut sepanjang hari. Sekembalinya ke tumah malam itu ia dapati bahwa isterinya dalam keadaan semakin membaik dan sibuk menulis bait demi bait lagu ini sesuai apa yang diungkapkan anak mereka tadi kepada pendeta Martin. Ketika ia menunjukkan naskahnya, pendeta Martin menggubah lagunya yang kemudian menjadi populer dalam mempersiapkan umat-umat Tuhan untuk mengatasi hati yang terluka.
Lagu terkenal ini di sejajarkan dengan ilustrasi mengenai seseorang yang di ijinkan Tuhan untuk jaqlan hidupnya dalam sebuah mimpi ketika ia melihat dua pasang jejak kaki sepanjang pantai berpasir putih. Itulah jejak-jejak kakinya dan kaki Tuhanya. Tetapi ketika ia memperhatikan dengan teliti, ia dapati bahwa saat-saat hidup menjadi kasar, berbatu, penuh dukacita, dan penderitaan hanya terlihat sepasang jejak kaki.
Ia berkata kepada Tuhan: “engkau telah berjanji bahwa jika aku mengikuti maka Engkau akan senantiasa berjalan bersamaku. Tetapi aku memperhatikan bahwa di periode hidup penuh ujian hanya telihat sepansang jejak kaki. Dan mengapa Engkau tidak bersamakku ketika aku sangt memerlukanMu?” Tuhan menjawas: “AnakKu, Aku tidak pernak meinggalkan engkau. Saat engkau berada dalam bahaya, ketika suasana kehidupan sangat berat untuk di pikul, Aku