• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS INDUSTRI DAN PERUSAHAAN pada

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "ANALISIS INDUSTRI DAN PERUSAHAAN pada "

Copied!
26
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISIS INDUSTRI DAN PERUSAHAAN

Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah Manajemen Investasi Oleh Dosen Pengampu Drs. Topo Wijono. M.Si

Disusun oleh :

Manajemen Investasi Kelas C

Nadya Ulfa Widjaya 145030200111038

Stevanie Asdelina 155030201111052

Pratiwi Ivany Amalia 155030200111057 Nadiny Salwaa Alamsah 155030207111041 Annisha Rahma Anggraeni 155030207111013

FAKULTAS ILMU ADMINISTRASI UNIVERSITAS BRAWIJAYA

(2)

ANALISIS INDUSTRI

1. Pengertian Industri

Istilah industri berasal dari bahasa latin, yaitu industria yang artinya buruh atau tenaga kerja. Istilah industri sering digunakan secara umum dan luas, yaitu semua kegiatan manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dalam rangka mencapai kesejahteraan. Definisi Industri menurut Sukirno adalah perusahaan yang menjalankan kegiatan ekonomi yang tergolong dalam sektor sekunder. Kegiatan itu antara lain adalah pabrik tekstil, pabrik perakitan dan pabrik pembuatan rokok. Industri merupakan suatu kegiatan ekonomi yang mengolah barang mentah, bahan baku, barang setengah jadi atau barang jadi untuk dijadikan barang yang lebih tinggi kegunaannya (Sukirno Sadono, 1995).

Sementara itu, Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1984 tentang Perindustrian

mengatakan bahwa industri adalah kegiatan ekonomi yang mengolah bahan mentah, bahan baku, barang setengah jadi, dan atau barang jadi menjadi barang dengan nilai yang lebih tinggi untuk penggunaannya, termasuk kegiatan rancang bangun dan perekayasaan industri.

2. Klasifikasi Industri di Indonesia

(3)

3. Analisis Industri

Analisis Industri merupakan salah satu bagian dalam analisis fundamental. Analisis industri biasanya dilakukan setelah kita melakukan analisis ekonomi, disini investor mencoba membandingkan kinerja dari berbagai industri untuk mengetahui jenis industri apa saja yang memberikan prospek paling menjanjikan ataupun sebaliknya. Saat ini sering terjadi masalah pengelompokan industri karena perusahaan yang mempunyai sekian banyak ragam lini bisnis.

Terlepas dari permasalahan yang dihadapi, diperlukan cara pengklasifikasian industri. Cara yang sering dipergunakan adalah dengan mendasarkan diri pada International Standart Industrial Classification (ISIC) system. System ini menggunakan kode dengan jumlah digit tertentu. Jumlah digit yang sedikit menunjukkan klasifikasi dengan dasar yang lebih luas, dan makin banyak digitnya makin terinci klasifikasi yang dilakukan.

Sebelum melakukan analisis industri sektor tertentu, perlu melihat perkembangan atau kinerja industry sektor tersebut. Sehingga pengamatan perlu dilakukan untuk periode yang cukup panjang sehingga dapat dideteksi pola perkembangannya atau pengaruh akibat kondisi ekonomi. Suatu industri yang mempunyai kepekaan lebih tinggi dari pasar

(4)

Analisis industri merupakan tahap penting yang perlu dilakukan investor baik untuk meminimalkan risiko maupun untuk mengidentifikasi industri yang mempunyai prospek yang menguntungkan.

Analisis industri perlu diikuti analisis perusahaan agar investor dapat menentukan saham perusahaan mana saja dalam suatu kelompok industri yang mempunyai kombinasi return-risiko yang terbaik.

Beberapa penelitian yang terkait dengan analisis industri menghasilkan kesimpulan:

a. Studi mengenai kinerja tahunan industry, menunjukkan bahwa industri yang berbeda mempunyai tingkat return yang berbeda pula. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa analisis industri itu penting dan perlu dilakukan untuk mengetahui perbedaan kinerja antar industri, sehingga akan membantu investor dan para analis untuk mengidentifikasi peluang-peluang yang menguntungkan dan yang tidak menguntungkan.

b. Tingkat return masing-masing industri berbeda di setiap tahunnya.

Dengan demikian, return industry di masa yang akan dating tidak bias diestimasi dengan hanya menggunakan data return industri di masa lalu. OLeh karena itu analis dan investor juga perlu menambahkan dengan beberapa data lain yang relevan untuk mengestimasi return industry di masa yang akan datang.

c. Tingkat return perusahaan-perusahaan di suatu industri yang sama, terlihat cukup beragam. Hal ini menunjukkan bahwa analisis industry juga perlu diikuti dengan analisis perusahaan.

d. Tingkat risiko berbagai industri juga beragam, sehingga analis dan investor perlu mempelajari dan mengestimasi factor-faktor risiko yang relevan untuk suatu industry tertentu seperti halnya estimasi return.

e. Tingkat risiko suatu industri relatif stabil sepanjang waktu, sehingga analisis resiko berdasarkan data historis dapat digunakan untuk mengestimasi risiko industry di masa yang akan datang.

(5)

dapat menentukan saham-saham dari perusahaan mana saja dalam suatu kelompok industri yang mempunyai kombinasi return-risiko yang terbaik

4. Estimasi Earning Per-Share Industri

Menurut Indriyo Gitosudarmo dan Basri (2002: 7) me-maksimalkan kekayaan

pemegang saham dapat diukur dari pendapatan per lembar saham (Earning per Share/ EPS) sehingga dalam hal ini EPS akan mempengaruhi kepercayaan investor pada perusahaan. Selain itu menurut Brigham dan Houston (2006: 33-34) terdapat korelasi yang tinggi antara Earning per Share, arus kas dan harga saham. Earning per Share merupakan salah satu indi-kator keberhasilan yang telah dicapai perusahaan dalam menciptakan keuntungan bagi pemegang sahamnya. Menurut Widoatmodjo (1996: 96) dalam Robin Wiguna dan Anastasia Sri Mendari (2008) dalam perdagangan saham EPS sangat berpengaruh terhadap harga saham. Semakain tinggi EPS maka akan semakin mahal suatu saham dan sebaliknya, karena EPS merupakan salah satu bentuk rasio keuangan untuk menilai kinerja perusahaan. Ada tiga teknik yang dapat digunakan untuk mengestimasikan tingkat penjualan melalui EPS di suatu industri, yaitu:

a. Daur hidup industri (industry life cycle). b. Analisis input-output.

c. Hubungan antara industri dengan ekonomi secara keseluruhan.

Ketiga teknik ini, saling melengkapi sehingga investor dapat mengkombinasikan ketiga teknik tersebut untuk mendapatkan gambaran lengkap mengenai posisi dan prospek industri dalam berbagai skenario.

5. Daur Hidup industri (Industri Life Cycle)

(6)

1. Tahap permulaan (introduction).

a. Tahap permulaan merupakan masa-masa awal perkembangan sebuah industri.

b. Pada tahap ini, pertumbuhan penjualan sangat kecil dan profit yang dihasilkan kemungkinan akan menunjukkan angka negatif karena perusahaan harus mengeluarkan dana yang cukup besar untuk menutupi biaya promosi dan pengembangan produk di awal-awal pertumbuhan industri.

2. Tahap pertumbuhan (growth).

a. Pada tahap pertumbuhan, penjualan tumbuh sangat cepat.

b. Permintaan semakin meningkat sedangkan persaingan belum begitu ketat sehingga profit pada tahap pertumbuhan akan tumbuh tinggi.

c. Pertumbuhan industri pada tahap ini akan cenderung lebih besar dari pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan.

3. Tahap kedewasaan (mature).

a. Pada tahap ini, pertumbuhan penjualan mulai menurun, karena banyaknya pesaing yang mulai masuk dan permintaan yang sudah relatif stabil.

b. Oleh karena itu, profit pada tahap mature akan mengalami pertumbuhan yang mulai menurun dan menuju tingkat keuntungan yang normal.

c. Pertumbuhan industri pada tahap ini sedikit lebih besar dari pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan.

4. Tahap stabil.

a. Tahap stabil mungkin merupakan tahap yang paling panjang dalam daur hidup industri.

(7)

c. Meskipun penjualan terkait erat dengan kondisi ekonomi, tetapi besarnya pertumbuhan penjualan masing-masing perusahaan secara individual dalam suatu industri akan berbeda-beda satu dengan yang lain, tergantung dari kemampuan manajerial dari masing-masing perusahaan.

5. Tahap penurunan.

a. Pada tahap penurunan, tingkat penjualan dan profit industri semakin menurun.

b. Pada tahap ini ada perusahaan yang mulai keluar dari industri dan investor pun mulai berpikir untuk mencari alternatif industri lain yang lebih menguntungkan.

c. Pertumbuhan industri pada tahap ini akan jauh di bawah pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan.

6. Analisis Input-Output

Analisis input-output adalah suatu cara alternatif untuk mengetahui gambaran prospek penjualan suatu industri di masa yang akan datang dengan cara mengidentifikasi pemasok (supplier) dan konsumen dari suatu industri. Dengan melakukan analisis tersebut, kita dapat mengestimasi permintaan konsumen di masa datang, serta kemampuan pemasok untuk menyediakan barang dan jasa yang diperlukan dalam suatu industri. Informasi tersebut nantinya dapat digunakan untuk memperkirakan tingkat penjualan dan keuntungan suatu industri di masa depan.

7. Hubungan Industri dan Ekonomi

(8)

8. Persaingan dan Return Industri yang di Harapkan

Faktor penting lain yang mempengaruhi besarnya profit yang bisa diperoleh suatu industri adalah intensitas persaingan dalam industri tersebut. Intensitas persaingan dalam suatu industri akan menentukan kemampuan industri untuk tetap memperoleh tingkat return di atas rata-rata. Lima faktor yang menentukan intensitas persaingan dalam suatu industri tersebut adalah:

a. Ancaman adanya pemain baru,

b. Daya tawar (bargaining power) pembeli, c. Persaingan diantara pemain yang ada,

d. Ancaman adanya barang atau jasa substitusi, e. Daya tawar (bargaining power) pemasok.

Lima kekuatan persaingan akan menentukan profitabilitas industri karena lima faktor tersebut mempunyai pengaruh terhadap komponen return on investment (ROI) dalam suatu industri.

9. Porter’s Five Forces ( 5 kekuatan menurut porter)

Analisis kompetitif dengan menggunakan model Lima Kekuatan Porter adalah pendekatan yang dipakai untuk mengembangkan strategi dibanyak perusahaan. Persaingan itu, menurut Porter adalah sebagai berikut :

1. Persaingan antar perusahaan pesaing 2. Potensi masuknya pesaing baru

3. Potensi pengembangan produk pengganti 4. Daya tawar pemasok

(9)

1. Persaingan antar Perusahaan Pesaing

Merupakan kekuatan terbesar dari lima kekuatan kompetitif lainnya. Strategi yang dijalankan oleh suatu perusahaan dapat berhasil hanya jika perusahaan memberikan keunggulan kompetitif dibandingkan dengan perusahaan pesaing..Seperti penurunan harga, peningkatan kualitas, penambahan fitur, penyedia layanan, perpanjangan garansi, dan pengintensifan iklan.

2. Potensi Masuknya Pesaing Baru

(10)

3. Potensi Pengembangan Produk Pengganti

Di banyak industri, perusahaan berkompetinsi ketat dengan produsen produk- produk pengganti. Dimana akan sangat berpengaruh apabila produk pengganti tersebut memiliki harga yang lebih murah dan biaya peralihan konsumen juga turun.

4. Daya Tawar Pemasok

Daya tawar pemasok mempengaruhi intensitas persaingan di suatu industry khususnya ketika terdapat sejumlah besar pemasok, atau ketika hanya terdapat sedikit bahan mentah pengganti yang bagus, atau ketika biaya peralihan ke bahan mentah lain sangat tinggi.

Di dalam banyak industry, perusahaan membentuk kemitraan strategis dengan memilih pemasok dalam upaya mengurangi persediaan biaya logistic, mempercepat ketersediaan komponen generasi berikutnya, meningkatkan kualitas suku cadang dan komponen yang disediakan dan mengurangi tingkat cacat, dan yang terakhir yaitu penghematan biaya yang penting bagi perusahaan dan juga pemasok mereka.

5. Daya Tawar Konsumen

Daya tawar pelanggan merupakan kekuatan utama yang mempengaruhi intensitas persaingan dalam suatu industry ketika kelompok pembeli terpusat atau membeli dengan volume yang besar, ketika produk yang dibeli standar atau tidak teridentifikasi, ketika switching costyang dikeluarkan pelanggan kecil, ketika pelanggan menjadi sangat penting bagi pembeli, dan ketika pelanggan mengetahui informasi yang lengkap mengenai pembeli (produk, harga, biaya).

10. Estimasi Earning Multiplier Suatu Industri

Setelah melakukan analisis faktor yang mempengaruhi intensitas persaingan industri, Selanjutnya, investor perlu melakukan estimasi earning multiplier industri dengan menggunakan 2 teknik yaitu:

(11)

Analisis makro dilakukan untuk mempelajari hubungan antara earning multiplier untuk industri dengan earning multiplier pasar. Analisis makro mengasumsikan adanya hubungan antara perubahan dalam tingkat return yang diisyaratkan dalam industri (k) dengan tingkat pertumbuhan earning dan dividen industri yang diharapkan (g) untuk industri tertentu dalam pasar secara keseluruhan. Asumsi ini sama halnya dengan hubungan antara perubahan dalam price earning ratio (P/E) industry, dengan price earning ratio (P/E) pasar. Dalam melakukan analisis ini, investor terlebih dahulu perlu mengevaluasi kualitas hubungan antara rasio P/E industri yang akan dianalisis dengan P/E pasar. Penyebabnya, hubungan antara industri dengan pasar tidak sama untuk setiap industri. Mungkin saja, suatu industri tertentu hubungan tersebut tidak signifikan. Oleh karena, investor perlu menggunakan makro untuk mengestimasi earning multiplier untuk industri.

Selain menggunakan analisis makro, investor juga perlu melakukan analisis mikro untuk estimasi earning multiplier dengan cara mengamati variabel-variabel yang mempengaruhi earning multiplier industri seperti: dividen-payout ratio (DPR), tingkat return yang diisyaratkan dalam industri (k), dan tingkat pertumbuhan earning dan dividen industri yang diharapkan. Investor perlu membandingkan ketiga variabel tersebut dengan price earning ratio pasar. Dari analisis tersebut, akan diketahui apakah earning multiplier industri akan berada di atas atau di bawah atau sama dengan earning multiplier. Informasi tersebut akan berguna untuk membantu membuat keputusan, sehingga investor dapat melanjutkan kepada analisis berikutnya.

Analisis Perusahaan/Sekuritas

1. Pengertian Analisis Sekuritas

Analisis Sekuritas adalah cara untuk mendeteksi sekuritas mana yang nampaknya mispriced. Bisa dilakukan dengan analisis teknikal dan analisis fundamental. Analisis teknikal menggunakan data (perubahan) harga pada masa lalu sebagai upaya untuk memperkirakan harga sekuritas di masa yang akan datang. Analisis fundamental berupaya mengidentifikasi prospek perusahaan (lewat analisis terhadap faktor-faktor yang mempengaruhinya) untuk dapat memperkirakan harga saham di masa yang akan datang.

(12)

Analisis fundamental adalah analisis sekuritas yang menggunakan data-data fundamental dan faktor-faktor eksternal yang berhubungan dengan perusahaan/ badan usaha tersebut. Data fundamental yang dimaksud adalah data keuangan, data pangsa pasar, siklus bisnis, dan sejenisnya. Sementara data faktor eksternal yang berhubungan dengan badan usaha adalah kebijakan pemerintah, tingkat suku bunga, inflasi, dan sejenisnya. Dengan mempertimbangkan data-data seperti tersebut diatas, analisis fundamental menghasilkan berupa analisis penilaian badan usaha dengan kesimpulan apakah perusahaan tersebut sahamnya layak dibeli atau tidak. Jika nilainya mahal atau overvalued, saham tersebut dianggap nilainya lebih tinggi berdasarkan analisis fundamental melalui perbandingan harga yang berlaku di pasar. Dengan kata lain harganya sudah terlalu mahal jadi lebih baik tidak dibeli atau dijual jika memiliki sahamnya. Sementara jika yang terjadi sebaliknya, saham itu layak untuk dibeli dengan alasan harganya murah.

Analisis ini memiliki horizon jangka panjang, karena selain menggunakan data historis (berupa laporan keuangan perusahaan) analisis ini juga menggunakan data masa depan berupa estimasi pertumbuhan perusahaan, estimasi perubahaan ekonomi di masa mendatang, dan berbagai jenis estimasi lainnya yang dianggap dapat mempengaruhi kinerja dan kelangsungan usaha.

Analisis ini biasa digunakan untuk jangka panjang, tetapi permasalahannya yang seringkali dihadapi oleh investor adalah timing dan informasi. Karena tidak semua

investor mendapatkan informasi yang lengkap sehingga jika hanya mengandalkan analisis fundamental, dapat terjadi kesalahan investasi akibat kurangnya informasi atau kesalahan timing sehingga bisa jadi saham yang dibeli harganya sudah mahal. Untuk mengatasi masalah timing tersebut dapat dilihat dari pergerakan bursa atau pergerakan saham tersebut melalui analisis teknikal untuk menentukan sinyal transaksi (sinyal beli/sinyal jual). Dengan menggunakan/menggabung kedua analisis tersebut secara tepat, bertujuan untuk

menghasilkan capital gain yang optimum. Pada dasarnya analisa fundamental dapat dikelompokan menjadi empat kategori besar, yaitu:

1. Faktor Ekonomi 2. Faktor Politik

(13)

3. Faktor Ekonomi

Dalam menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi kondisi fundamental perekonomian suatu negara, indikator ekonomi merupakan salah satu faktor yang tidak dapat dipisahkan dan menjadi bagian penting dari keseluruhan faktor fundamental itu sendiri. Seiring kemajuan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, untuk mendapatkan sumber informasi terkini seorang trader juga sering menggunakan informasi yang berasal dari monitor komputer, misalnya melaui Dow Jones Telerate, Reuters, Knight Rider maupun Bloomberg. Indikator-indikator ekonomi yang sering digunakan dalam Analisis Fundamental diantaranya:

a. Domestic Product

Merupakan jumlah seluruh barang dan jasa yang diproduksi oleh suatu negara baik oleh perusahaan dalam negeri maupun oleh perusahaan asing yang beroperasi di dalam negara tersebut pada suatu periode tertentu.

b. Inflasi

Penggunaan tingkat inflasi sebagai salah satu indikator fundamental ekonomi adalah untuk mencerminkan tingkat GDP dan GNP ke dalam nilai sebenarnya. Nilai GDP dan GNP merupakan indikator yang sangat penting bagi seorang Trader dalam membandingkan peluang dan resiko investasinya di luar negeri.

c. Balance of Payment

Merupakan suatu neraca yang terdiri dari keseluruhan aktivitas transaksi perekonomian internasional suatu negara, baik yang bersifat komersial maupun finansial, dengan negara lain pada suatu periode tertentu. Balance of Payment ini mencerminkan seluruh transaksi antara penduduk, pemerintah dan pengusaha dalam negeri dan pihak luar negeri, seperti transaksi ekspor dan impor, investasi portofolio, transaksi antar Bank Sentral dan lain-lain. Indikator umum yang sering digunakan adalah neraca perdagangan / current account. Faktor lain yang mempengaruhi neraca pembayaran adalah adanya aliran investasi asing yang masuk ke dalam negeri dalam bentuk Foreign Direct Investment maupun Portofolio Investment.

d. Employment

(14)

dapat dijadikan sebagai alat untuk menganalisis sehat / tidaknya perekonomian suatu negara. Apabila perekonomian berada dalam keadaan full capacity/kapasitas penuh maka akan tercapai full employment. Jika keadaan sebaliknya, maka tingkat pengangguran pun akan meningkat. Tingkat employment adalah indikator ekonomi yang sangat penting bagi pasar keuangan pada umumnya dan pasar valuta asing khususnya.

4. Faktor Politik

Faktor Politik merupakan salah satu indikator untuk memprediksi pergerakan nilai tukar, sangat sulit untuk diketahui timing / waktu terjadinya secara pasti dan untuk ditentukan dampaknya terhadap fluktuasi nilai tukar. Ada kalanya suatu perkembangan politik berdampak pada pergerakan nilai tukar, namun ada kalanya tidak membawa dampak apapun terhadap pergerakan nilai tukar.

5. Faktor Keuangan & Moneter

Peranan Faktor Keuangan sangat penting dalam melakukan Analisis Fundamental. Adanya perubahan dalam kebijaksanaan moneter dan fiskal yang diterapkan oleh pemerintah, terutama dalam hal kebijakan yang menyangkut perubahan tingkat suku bunga, akan membawa dampak signifikan terhadap perubahan dalam fundamental ekonomi. Perubahan kebijakan ini juga akan mempengaruhi nilai tukar mata uang. Para pengamat pasar valuta asing menyatakan bahwa tingkat suku bunga adalah penentu utama nilai tukar suatu mata uang, selain indikator keuangan lainnya, seperti jumlah uang yang beredar. Aturan umum mengenai kebijakan tingkat suku bunga ini adalah: semakin tinggi tingkat suku bunga maka semakin kuat juga nilai tukar suatu mata uang.Tingkat suku bunga yang dimaksudkan disini adalah tingkat suku bunga riil bukan yang nominal. Seorang Trader akan bereaksi terhadap perubahan selisih tingkat suku bunga, bukan pada perubahan tingkat suku bunga secara individual.

6. FAKTOR EKSTERNAL

(15)

sangat mencermati perubahan ekonomi, bukan hanya dalam lingkup satu negara, melainkan juga meluas hingga ke dalam lingkup satu kawasan / regional tertentu.

ANALISIS TEKNIKAL

Analisa Teknikal adalah salah satu analisis atau metode pendekatan yang mengevaluasi pergerakan suatu harga saham, valas, kontrak berjangka (future contract), indeks dan beberapa instrumen keuangan lainnya. Analisis teknikal merupakan analisis terhadap pola pergerakan harga di masa lampau dengan tujuan untuk meramalkan pergerakan harga di masa yang akan datang. Analisis teknikal ini sering juga disebut dengan chartist karena para analisisnya melakukan studi dengan menggunakan grafik (chart), dimana mereka berharap dapat menemukan suatu pola pergerakan harga sehingga mereka dapat mengeksploitasinya untuk mendapatkan keuntungan.

(16)

Ada tiga prinsip yang digunakan sebagai dasar dalam melakukan analisis teknikal, yaitu:

a. Market Price Discounts Everything yaitu segala kejadian-kejadian yang dapat mengakibatkan gejolak pada bursa valas secara keseluruhan atau harga mata uang suatu negara seperti faktor ekonomi, politik fundamental dan termasuk juga kejadian-kejadian yang tidak dapat diprediksi sebelumnya seperti adanya peperangan, gempa bumi dan lain sebagainya akan tercermin pada harga pasar.

b. Price Moves in Trend Yaitu harga valuta asing akan tetap bergerak dalam satu trend. Harga mulai bergerak ke satu arah, turun atau naik. Trend ini akan berkelanjutan sampai pergerakan harga melambat dan memberikan peringatan sebelum berbalik dan bergerak ke arah yang berlawanan.

c. History Repeats It Self, karena analisis teknikal juga menggambarkan faktor psikologis para pelaku pasar, maka pergerakan historis dapat dijadikan acuan untuk memprediksi pergerakan harga di masa yang akan datang. Pola historis ini dapat terlihat dari waktu ke waktu di grafik. Pola-pola ini mempunyai makna yang dapat diinterprestasikan untuk memprediksi pergerakan harga.

2. Indikator yang digunakan dalam Analisa Teknikal

1. Support & Resistance Adalah tingkat ketahanan harga yang bergerak antara bullish (uptrend) dan bearish (downtrend). Bullish mendorong harga-harga naik, dan bearish menurunkannya. Penunjuk harga pada dasarnya bergerak menunjukkan sampai seberapa jauh harga bergerak naik atau turun.

2. Support and Resistance Levels Support adalah tingkat tahanan harga dibawah harga pasar saat itu, dimana buying interest seharusnya bisa menguasai tekanan penjualan dan mempertahankan harga agar tidak jatuh.

3. Resistance adalah tingkat tahanan harga diatas harga pasar saat itu, dimana tekanan penjualan seharusnya cukup kuat untuk menguasai tekanan pembelian dan mempertahankan agar tdak terlalu tinggi.Ketika investor mengharapkan perubahan, seringkali mereka lakukan dengan tiba-tiba. Catatan: breakout diatas level resistance disertai dengan peningkatan yang signifikan di volume tersebut.

EARNING PER SHARE (EPS)

(17)

Laba per Saham atau dalam bahasa Inggris disebut dengan Earning per Share yang disingkat dengan EPS adalah bagian dari laba perusahaan yang

dialokasikan ke setiap saham yang beredar. Laba per saham atau Earning per Share ini merupakan indikator yang paling banyak digunakan untuk menilai profitabilitas suatu perusahaan. Laba per saham adalah ukuran profitabilitas yang sangat berguna dan apabila dibandingkan dengan Laba per Saham pada perusahaan sejenisnya, Laba per Saham ini akan memberikan suatu gambaran yang sangat jelas tentang kekuatan profitabilitas antara perusahaan yang bersangkutan dengan perusahaan

pembandingnya. Perlu diketahui bahwa perusahaan pembandingnya harus merupakan perusahaan yang bergerak di jenis industri yang sama. Earning per Share atau EPS ini apabila dihitung selama beberapa tahun, maka akan menunjukan apakah profitabilitas perusahaan tersebut semakin membaik atau malah semakin memburuk. Investor biasanya akan menginvestasikan dananya pada perusahaan yang Laba per Sahamnya yang terus meningkat.

Laba per Saham(EPS) = (Laba Bersih setelah Pajak – Dividen) / Jumlah Saham yang Beredar

LAPORAN KEUANGAN 1. Pengertian Laporan Keuangan

Laporan Keuangan merupakan instrumen yang sangat penting bagi pemegang saham dan investor untuk mengetahui kemajuan dan pencapaian perusahaan dalam mengelola keuangannya selama periode tertentu. Laporan keuangan ini juga dihitung dalam jangka waktu yang ditentukan oleh perusahaan. Menurut Sutrisno (2012:9), laporan keuangan adalah hasil akhir dari proses akuntansi yang meliputi dua laporan utama yakni neraca dan laporan laba-rugi. Pada dasarnya, laporan keuangan

(18)

Karyawan. Jadi, melalui laporan keuangan akan dapat dinilai kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban – kewajibannya jangka pendek struktur modal

perusahaan, distribusi daripada aktivanya, keefektifan penggunaan aktiva, hasil usaha/pendapatan yang telah dicapai, beban-beban tetap yang harus dibayar, serta nilai – nilai tiap lembar saham dari Perusahaan.

2. Tujuan Laporan Keuangan

Tujuan laporan keuangan menurut Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 1 (2015:3) adalah memberikan informasi mengenai posisi keuangan, kinerja keuangan dan arus kas entitas yang bermanfaat bagi sebagian besar kalangan pengguna laporan dalam pembuatan keputusan ekonomi.

Laporan keuangan juga menunjukkan hasil pertanggungjawaban manajemen atas penggunaan sumber daya yang dipercayakan kepada mereka. Dalam rangka mencapai tujuan laporan keuangan menyajikan informasi mengenai entitas yang meliputi: “asset, liabilitas ekuitas, pendapatan dan beban termasuk keuntungan dan kerugian, kontribusi dari dan distribusi kepada pemilik dalam kapasitasnya sebagai pemilik dan arus kas”.

3. Jenis Laporan Keuangan a. Laporan Laba Rugi

Sesuai dengan namanya, jenis laporan keuangan ini berfungsi untuk membantu Anda mengetahui apakah bisnis berada dalam posisi laba atau rugi. Apabila pendapatan perusahaan lebih besar daripada beban atau biayanya, maka bisnis memperoleh laba. Sebaliknya, jika pendapatan cenderung lebih kecil dari beban atau biayanya, maka kemungkinan besar bisnis mengalami kerugian. Pada umumnya, ada dua cara yang digunakan untuk menyusun laporan laba rugi, yaitu single step (cara langsung) dan multiple step (cara bertahap). Metode single step relatif lebih mudah dibandingkan multiple step, Anda hanya perlu menjumlahkan seluruh pendapatan dari atas sampai bawah menjadi satu kelompok, kemudian menguranginya dengan total beban atau biaya dalam periode yang berlaku.

(19)

dan pendapatan non operasional (yang berasal dari luar kegiatan pokok) perusahaan. Pembagian kategori tersebut juga berlaku pada beban atau biaya.

b. Laporan Perubahan Modal

Dalam menjalankan operasional perusahaan, tentunya modal awal yang ditanam akan mengalami perubahan. Perubahan ini terjadi karena modal harus digunakan dalam menjalankan roda perusahaan, juga karena adanya penambahan dari laba yang didapat, penggunaan modal untuk kepentingan pemilik perusahaan, atau hal lainnya. Laporan perubahan modal atau yang biasa disebut Capital Statement dalam istilah akuntansi merupakan jenis laporan keuangan yang memberikan informasi mengenai perubahan modal atau ekuitas perusahaan dalam periode tertentu. Laporan perubahan modal ini berfungsi untuk menunjukkan seberapa besar perubahan modal yang terjadi dan apa yang menyebabkan perubahan tersebut terjadi.

c. Neraca (Balance Sheet)

Neraca adalah jenis laporan keuangan ini menyajikan akun-akun aktiva, kewajiban, dan modal dalam satu periode. Neraca biasanya terdiri dari dua bentuk, yaitu bentuk skontro/horizontal (account form) dan bentuk vertikal/stafel (report form). Nilai modal pada neraca merupakan nilai yang tercatat pada Laporan Perubahan Modal. Keseimbangan pada neraca dapat tercapai karena pada Laporan Perubahan Modal sudah terdiri dari pendapatan dan biaya yang tercatat pada Laporan Laba-Rugi.

a. Aktiva, merupakan harta yang dimiliki perusahaan dengan nilai manfaat di masa depan (future economic benefit). Aktiva terdiri dari Aktiva Lancar (Current Assets) dan Aktiva Tetap Berwujud (Tangiable Fixed Assets)

b. Kewajiban, terdiri dari Utang Lancar (Current Liabilities) dan Utang Jangka Panjang (Long Term Liabilities).

c. Modal, adalah harta kekayaan perusahaan yang dimiliki oleh pemilik perusahaan. Modal akan bertambah jika pemilik perusahaan menambahkan investasinya ke dalam perusahaan dan jika perusahaan memperoleh keuntungan.

d. Laporan Arus Kas

(20)

berapa banyak beban biaya yang dikeluarkan perusahaan, baik untuk kegiatan operasional atau investasi pada bisnis lain.

Jenis laporan keuangan dapat berbeda-beda tergantung dari perusahaan yang dijalankan atau dapat disesuaikan dengan kebutuhan perusahaan. Jurnal adalah software akuntansi online yang dapat menyediakan laporan keuangan secara instan, mudah, dan cepat.

KELEMAHAN PELAPORAN EPS DALAM LAPORAN KEUANGAN Beberapa kelemahan pelaporan EPS dalam laporan keuangan:

1. Permasalahan pelaporan earning yang akan menimbulkan konflik kepentingan antara investor di satu sisi sebagai pengguna laporan keuangan dan manajemen di sisi lainnya sebagai penyaji laporan keuangan.

2. Lemahnya kemampuan laporan keuangan untuk menggambarkan kondisi perusahaan yang paling terkini. Seperti yang kita ketahui bahwa laporan keuangan disusun pada akhir periode (biasanya 1 tahun) untuk menggambarkan apa yang telah terjadi pada perusahaan pada periode tertentu. Kelemahan seperti ini dikenal juga dengan istilah snapshot.

ANALISIS RASIO PROFITABILITAS PERUSAHAAN 1. Return on Equity (ROE)

Menggambarkan sejauhmana kemampuan perusahaan menghasilkan laba yang bisa diperoleh pemegang saham.

2. Return on Asset (ROA)

Menggambarkan sejauhmana kemampuan aset-aset yang dimiliki perusahaan bisa menghasilkan laba.

Perhitungan ROE & ROA

Contoh: Data laba bersih, EBIT, ekuitas, dan total aset PT Semen Gresik pada akhir Tahun 2006 dan 2007 seperti disajikan pada tabel berikut ini. Berapakah ROE dan ROA perusahaan tersebut untuk Tahun 2006 dan 2007?

ROE =Laba bersih setelah bunga dan pajak Jumlah modal sendiri

(21)

Jawab: ROE dan ROA PT Semen Gresik untuk Tahun 2006 dan 2007, adalah

ROE

Laba bersih setelah bunga dan pajak

Jumlah modal sendiri

Earning Per Share (EPS)

Earning Per Share (EPS) merupakan komponen penting pertama yang harusdiperhatikan dalam analisis perusahaan. Informasi EPS suatu perusahaanmenunjukkan besarnya laba bersih perusahaan yang siap dibagikan untuk semuapemegang saham perusahaan. EPS merupakan rasio yang menunjukkan berapabesar keuntungan(return) yang diperoleh investor atau pemegang saham per lembar saham (Tjiptono dan Hendry, 2001 : 139).

Pada umumnya manajemen perusahaan, pemegang saham biasa dan calonpemegang saham sangat tertarik pada Earning Per Share (EPS), karena hal inimenggambarkan jumlah rupiah yang diperoleh untuk setiap lembar saham biasadan menggambarkan prospekearning perusahaan. di masa depan.

Para calon pemegang saham tertarik dengan earning per share yang besar, karena hal ini merupakan salah satu indikator keberhasilan suatu perusahaan (Lukman Syamsudin, 1992 : 66). Secara singkat dapat peneliti simpulkan bahwa semakin tinggi nilai EPS tentu

(22)

saja akan menyenangkan pemegang saham, karena semakin besar laba yang disediakan

Contoh: Berdasarkan data PT Semen Gresik tahun 2006 dan 2007 sebelumnya, jika jumlah saham yang beredar di Tahun 2006 dan 2007 sama sebanyak 5,93 miliar, maka EPS dapat dihitung dengan:

EPS

Laba bersih setelah bunga dan pajak

Jumlah saham beredar

EPS2006 = Rp1.295,52 / 5,93 = Rp218

EPS2007 = 1.775,41 / 5,93 = Rp299

EPS PT Semen Gresik tersebut juga dapat dihitung dengan:

(23)

Price to Earning Ratio atau biasanya disingkat dengan singkatan PER (P/E Ratio) adalah rasio harga pasar per saham terhadap laba bersih per saham. Rasio Price to Earning ini adalah rasio valuasi harga per saham perusahaan saat ini dibandingkan dengan laba bersih per sahamnya. Price to Earning Ratio ini merupakan rasio yang sering digunakan untuk mengevaluasi investasi prospektif. Rasio ini juga digunakan untuk membantu investor dalam pengambilan keputusan apakah akan membeli saham perusahaan tertentu. Umumnya, para trader atau investor akan memperhitungkan PER atau P/E Ratio untuk memperkirakan nilai pasar pada suatu saham.

Informasi PER (earning multiplier) mengindikasikan besarnya rupiah yang harus dibayarkan investor untuk memperoleh satu rupiah earning perusahaan.

Rumus:

Keterangan:

D1/E1 = tingkat dividend payout ratio yang diharapkan

k = tingkat return yang disyaratkan

g = tingkat pertumbuhan dividen yang diharapkan Komponen PER

1. Dividend payout ratio (DPR) merupakan perbandingan antara dividen yang dibayarkan perusahaan terhadap earning yang diperoleh perusahaan.

2. Tingkat return yang disyaratkan (k) diperoleh dengan menjumlahkan tingkat return bebas risiko (risk-free rate) dan premi risiko yang disyaratkan investor.

k = RF + RP

= tingkat return bebas risiko + premi risiko 3. Tingkat pertumbuhan dividen yang diharapkan (g),

g

-k

/E

D

(24)

merupakan fungsi dari besarnya ROE dan tingkat laba ditahan perusahaaan memanfaatkan dua komponen informasi penting dalam analisis perusahaan, yaitu EPS dan PER (earning multiplier).

Rumus:

Jika nilai intrinsik saham sudah berhasil diestimasi, langkah selanjutnya adalah membandingkan nilai intrinsik saham dengan harga pasarnya.

Analisis Perusahaan Menggunakan Ringkasan Laporan Keuangan

Informasi secara lengkap laporan keuangan perusahaan diperoleh pada laporan tahunan yang dipublikasikan perusahaan. Sumber-sumber lain umumnya menyajikan laporan keuangan perusahaan dengan format ringkasan, misalnya Indonesian Capital Market Dirctory (ICMD) yang dikeluarkan oleh Institute for Economics and Financial Research (ECFIN).

Contoh:

Pada tahun 2002, PT Kedaung Indah Can Tbk mempunyai total aktiva sebesar Rp203 milyar dan total kewajiban sebesar Rp76 milyar. Berapakah ekuitas pemegang sahamnya? Jawab:

Mengikuti identitas akuntansi, ekuitas pemegang saham Kedaung Indah Can adalah Rp203 milyar – Rp76 milyar = Rp127 milyar.

(25)

Data Per Lembar Saham dan Rasio Kinerja

Earning per Share (EPS) = Laba setelah pajak / Lembar saham beredar atau EPS = ROE x BVPS

Book Value per Share (BVPS) = Ekuitas pemegang saham / Lembar saham beredar

Dividend per Share (DPS) = Dividen / Lembar saham beredar

Price Earning Ratio (PER atau P/E) = Harga saham / EPS

Price to Book Value (PBV atau P/B) = Harga saham / BVPS

Dividend Payout = DPS / EPS

Dividend Yield = DPS / Harga saham

Net Profit Margin = Laba setelah pajak / Pendapatan

Return on Investment / Return on Asset (ROI atau ROA) = Laba setelah pajak / Total aktiva.

Return on Equity (ROE) = Laba setelah pajak / Ekuitas pemegang saham.

DAFTAR PUSTAKA

Tandelin,Eduardus. 2010. Portofolio dan Investasi Edisi Pertama. Diambil dari

https://febrineldiko.files.wordpress.com/2012/12/portofolio-investasi-bab-14-analisis-industri.ppt. (17 Februari 2018)

Periatinah,Denies & Kusuma, Prabandharu Adhe. 2012. Pengaruh Return On Invesment (ROI), Earning Per Share (EPS), Dan Dividen Per Share (DPS) Terhadap Harga Saham Perusahaan Pertambangan yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia (BEI)

Periode 2008-2010. Diambil dar

https://journal.uny.ac.id/index.php/nominal/article/viewFile/998/801. (17 Februari 2018)

(26)

Referensi

Dokumen terkait

Untuk dapat melakukan pengambilan sampel resep pediatri di apotek sampel, perlu dilakukan proses perijinan terlebih dahulu yang dimulai dengan pembuatan surat

Maksudnya adalah dimana Gambelan ini berfungsi menyajikan tabuh-tabuh petegak atau tanpa disertai tari-tarian hanya untuk kepentuingan di Pura Puseh Desa Seraya,

Status kesuburan tanah didasarkan pada PPT yang mengacu pada KTK tanah, nilai kejenuhan basa, kandungan bahan organik, P tersedia dan K tersedia, hasil analisis

8 Saya tidak harus menggunakan Blackberry Dakota karena belum tentu saya dapat memanfaatkan semua fitur yang ada.. 9 Saya merasakan betul kecanggihan

Nasionalisme warga etnis Tionghoa sebenarnya sudah terlihat sejak VOC berniat untuk mengguasai banten pada tahun 1753. sumbang sih warga etnis Tionghoa kepada perjuangan rakyat

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan hasil belajar IPA antara siswa yang mengikuti pembelajaran menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair

Recall that the problem of deciding whether an NE exists with an arbitrary number of players is NP-complete for reachability, co-Büchi, and parity games and can be solved in

Judul Skripsi : STUDI TENTANG PENYEBAB BANYAKNYA JUMLAH ANAK YANG DIMILIKI PUS SETIAP KELUARGA PRA SEJAHTERA KETURUNAN TRANSMIGRAN KOLONISASI DI DESA BAGELEN KECAMATAN