• Tidak ada hasil yang ditemukan

Teori Pengetahuan Dan Teori Nilai

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Teori Pengetahuan Dan Teori Nilai"

Copied!
38
0
0

Teks penuh

(1)

TEORI PENGETAHUAN

(

Antara Al-Quran dan Filsafat

)

Disusun Guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah Filsafat Ilmu

Dosen Pengampu: Prof. Dr. Abdul Munir Mulkhan, SU.

Disusun Oleh: ACHMAD (1520411054)

KONSENTRASI PENDIDIKAN BAHASA ARAB

PRODI PENDIDIKAN ISLAM

FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ( UIN )

(2)

I. Pendahuluan.

Penerjemahan adalah kegiatan memahami teks dalam satu bahasa, yang lazim disebut sebagai “bahasa sumber”, dan mengungkapkan pemahaman tentang bacaan tersebut ke dalam bahasa lain, yang disebut sebagai bahasa sasaran. Hasil dari kegiatan tersebut yang dilakukan oleh seorang yang disebut penerjemah adalah terjemahan atau “teks sasaran” yang sepadan dengan “teks sumbernya”. Secara sederhana menerjemahkan adalah usaha-usaha untuk mengubah suatu bentuk bahasa ke dalam bahasa lain (bahasa sasaran) dengan tetap mempertahankan aspek kesepadanan semua unsur yang ada di dalamnya, yakni frase, klausa, paragraf, dan lain-lain, baik secara lisan maupun tulisan. Dengan kata lain, penerjemahan adalah sebuah usaha untuk menyampaikan pesan yang terdapat dalam “teks sumbernya” ke dalam “teks sasaran” secara sepadan.

Masalah-masalah yang dihadapi dalam penerjemahan salah satunya adalah adanya perbedaan budaya antara bahasa sumber dengan bahasa sasaran, misalnya perbedaan pola pikir dan perasaan, atau perbedaan budaya material. Menurut Newmark, penerjemahan yang paling sulit adalah penerjemahan karya sastra dan penerjemahan pendapat seseorang karena arti satu kata sama pentingnya dengan arti keseluruhan kalimatnya. Selain itu dalam usaha membuat suatu kalimat sesuai dengan teksnya, diperlukan kompromi atau penyesuaian berulang-ulang dan penyusunan kembali. Dalam mencari kesepadanan yang sempurna, seorang penerjemah harus membaca sebuah “teks sumbernya” dan memahami pesan yang terkandung di dalamnya untuk kemudian menyampaikan pesan yang sama ke dalam “teks sasaran”. Kesepadanan yang sempurna dalam “teks sasaran” tidak mungkin dapat diberikan oleh penerjemah kepada para pembacanya karena setiap penerjemah pasti memiliki strategi masing-masing dalam memahami dan mengungkapkan pesan.

(3)

II. Pembahasan berdasarkan realitas dan kemungkinan mengakui validitas kebenaran. pembuktian ketidak benaran sesuatu harus berdasarkan kompatibilitas pemikiran dan ide-ide utama. Maka ukuran pengetahuan ini dapat menjadi suatu tingkatan pengetahuan, sebagaimana para ahli menyebutnya standar yang mengikat, hal ini bermakna

sesuatu dikatakan benar apabila ia sesuai dengan fakta empiris atau dengan pengetahuan kita secara keseluruhan, cara terbaik untuk menunjukkan korelasi ini adalah melalui pembuktian rasional , yang berarti bahwa ada suatu bentuk keyakinan dan kebenaran mutlak terhadap suatu objek dan tidak ditemukan pada objek lain. Semua yang kita ketahui harus didukung dengan pembuktian rasional. Faki membedakan antara kebenaran dan bukan kebenaran, kebenaran harus sesuai dengan hukum pemikiran dan hal-hal pokok dari pemikiran kita, hal yang dimaksud adalah gagasan tentang kebenaran yang digunakan pada penalaran .

(4)

َنوَََُطنَفَأ َدَََْنِع ُةَقِدا ّ

َََصلا ُةََََفِرْعَمْلاَف

3

ىَلَع ُمِئاََََقْلا ُمْلِعْلا ىه َنَثَم

ِةَمِئاّدلا ِةَيِهاَمْلا ُهُعوُضْوَم ىذلا , ىلقعلا ِريِسْفّتلاِب َبوُحْصَمْلا ْو

َأ ِناَهْرُبْلا

.ِلْثِمْلا ُمَلاَع ْوَأ

Menurut Plato4 pengetahuan sejati adalah pengetahuan yang diperoleh dari

pembuktian logis (burhan)5 atau interpretasi rasional yang terdiri dari esensi yang

tidak berubah (eternal) atau alam ide-ide (metafisik).

اََ كاَرْدِإ ٍةََكِرْدُم اَهِنْوَك ىَلِإ ُةَقِداّصلا ُةّقَحْلا ُةَرْكِفْلا ّدُرَي ًكِلَذَك تراكيدو

4 Plato (427-347 SM) merupakan murid dari Sokrates yang merupakan filsuf kenamaan

era yunani kuno dan sekaligus peletak dasar aliran pemikran Idealisme dalam filsafat. Ia berpendapat , dunia keindrawian bukanlah realitas puncak, ia hanyalah dunai bayang-bayang dan pengandaian tentang dunia nyata (sebuah dunia murni ide-gagasan yang melampaui dunia indrawiah). Untuk sampai pada kebenaran-kebenaran universal maka harus melampaui dunia sensori (dunia pengalaman indrawi) yang senantiasa berubah menuju ke dunia ide-ide yang tidak berubah.

5 Dalam pandangan al-Ashfahâni, burhân artinya menjelaskan suatu argumen. Asal

(5)

Descartes8 juga menyepakati konsep berfikir yang benar tentang alam untuk

mengetahui hakekat segalanya, ia mengatakan : “Segala sesuatu yang kita ketahui dengan jelas adalah benar, kejelasan ini menghilangkan keraguan atas hal yang sebelumnya kita ragukan. Hasilnya adalah pengetahuan yang diberikan Allah Swt. kepada kita yang kita sebut dengan fitrah lahiriyah, kita tidak pernah menyadari esensi sesungguhnya kecuali melalui jalan kesadaran. Hal ini bermakna bahwa pengetahuan yang benar dapat di peroleh melalui penjelasan dan pembedaan, adapun pengetahuan yang mutlak dan relatif menurutnya adalah : “pengetahuan mutlak yang berada alam pikiran sadar dan pengetahuan relatif adalah

Descartes memberikan konsep pemikiran yang lebih luas untuk mengetahui lebih jelas semua objek pemikiran, maka tidaklah berdosa jika kita berasumsi pada sesuatu yang tidak kita pahami, akan tetapi sering kali kita menilai sesuatu tanpa pengetahuan yang luas dan akurat. Inilah kesalahan utama kita. Selain itu, kesadaran pikiran yang juga berkaitan dengan hal-hal sebelumnya. Pengetahuan yang kita miliki sangatlah terbatas, sementara kehendak kita tidak terbatas jumlahnya. Kita dapat memahami sesuatu yang menjadi subyek bagi orang lain,

8Rene Deskretes dilahirkan di Prancis pada 1596. Ia mendapatkan pendidikan terbaik di

tangan para Yesuit dalam bidang filsafat dan matematika. Deskretes yang diberi gelar Bapak Filsafat Modern pada mulanya ingin mencari titik tolak yang pasti bagi kebenaran. Ia mempromosikan suatu metode yang dikenal sebagai “metode Keraguan”, metode ini dimulai dengan meragukan segala yang ada, hingga sampai pada hal yang tidak dapat diragukan lagi. Hal yang paling tidak meragukan adalah, saya yang sedang meragukan segala hal, saya ragu karena saya berfikir. Jadi, “saya berfikir maka saya ada” (cogito ergo sum). Lihat dalam Bryan Magee,

The Story of Philosophy (Yogyakarta: Kanisius, 2008), hlm. 85. Dan Aceng Rahmat, Filsafat Ilmu Lanjutan (Jakarta: Kencana Prenada Media Grup, 2011), hlm. 168.

(6)

dan ini adalah penyebab mengapa kita sering menahan mereka untuk menyelidiki objek tersebut secara lebih jelas, dan tidak heran jika hal ini menjadi penyebab sering terjadinya distorsi pemikiran.

َعَََم َقََُفاَوّتلا ْو

َأ ِقُباَََطّتلا ِرو ََُص ْنِم ٌةَرو ََُص » ْتَناَك « َدْنِع ُةَقيِقَحْلاَو

ءىََشلا فرعنل اَنّنَ ِل , ِعِقاَوْلاَو ِرْكِفْلا َنْيَب ُقُباَطّتلا َسْيَلَو , ِرْكِفْلا ِنيِناَوَق

ُه ََّصاَوَخ َوََُه هََْنَع ُهََُفُرْعَن اَََم ّلََُ كَو , َقُباَََطّتلا ًكََِلَذ ىَعْدُن ىّتَح هتاذ ىف

ِكِرْدُمْلا ِنْهِذ ىَلِإ ُعِجْرَت ىتلاو ِةَرِهالظلا

10

Menurut Kant11 hakikat pengetahuan adalah kesesuaian dan kompatibilitas

antara bentuk dan hukum pemikiran (teori), bukan kesesuaian antara pikiran dan realitas, karena kita tidak dapat mengetahui suatu sampai adanya korespondensi antara keduanya, dan semua yang kita tahu tentang fenomena dan sifat-sifatnya adalah kembali ke sifat asalnya.

َميوْقَتَو دقَن

َكاَرْدِ ْلا ْدَرََُت ىتََلا , ُةّيِلاَثِمْلا ُبِهاَذَََمْلا ىف اَح ََِضاَو وُدْبَيِل َروُصُقْلا ّنِإ

ىف ًةَََميِق ِعََِقاَوْلِل ُلَََعْجُت َلَو , ِلََْقَعْلا ىَلِإ ْو

َأ , ِتاَرّو َََصّتلا ىَلِإ َب ََْسَحَف

. اَهَلي ََِصْحَتَو اَهَري ََِسْفَت ىف َلاّعَف اَرْوَد ِسا َََسْحِ ْلِل َلَو , ِةَََفِرْعَمْلا ُليِك ََْشَت

ْنِم َفّل

َأَََتَي اََملثم , ٍةَدوُجْوَم ِءاَزْجَأ ْنِم ُفّلَأَتَي َعِقاَوْلا ّنَأ « ِرْمَْلا ُةَقيِقَحَو

ْذِإ , َدوُجُوْلاَو ِةَفِرْعَمْلا ِرْمَأ ْنِم ٍةَنّيَب ىَلَع نوكنل ُنْحَنَو .» ٍتاّيّلُكَو ٍتاَيِهاَم

اََََنُميوْقَتَو . ُهاّطَخَتَن ْنَأ اَنَع ْ

َََسُو ىف َسْيَل ْذِإ , ىَََسحلا َكاَرْدِ ْلا اََََنْلِفْغُأ

ْو

َأ ِنْيّيّسِحْلا ّنَأ َكِلَذ , اَهَدْقَنَو اَهَل نيسحلا ٍميوْقَت ْنَع ُفِلَتْخَي اَنُه ِةّيِلاَثِمْلِل

, ًب ْ

َََسَحَف ىَََسحلا ِكاَرْدِ ْلا ُراّيَت ىف َةََََفِرْعَمْلا َنوَََُلَعْجَي َنيّيِعِقاَوَََْلا

ًةّنَجَو ْمُهَدََْنِع ُسا َََسْحِ ْلاَو

12

ُةّيِلَمَع ْمُهَدََْنِع َرّو َََصّتلا ّنَأ ىلنعمِب , ْرَََهْقَي َل

ُذََُخْأَن ُنْحَن اََمَنْيَب . ّطََقَف ًةَدَعا َََسُم ىه اَََمّنِإَو ِةاَيَحْلِل ٌةَمِزَل ْتَسْيَل ٌةّيِوَناَث

ىف ّسِحْلا ُراَدََْهإَو ىجراََخلا ِعِقاَوْلاِب ِفارِتْعِ ْلا ِنَع اَهَتَلْفَغ ِةّيِلاَثِمْلا ىَلَع

ىَلِإَو ِرََْكِفْلا ىَلِإ هّلُك َدوََُجُوْلاَو ْلَََب اّيِئاَهِن ِةَفِرْعَمْلا ّدَرَو , ِةَفِرْعَمْلا ُليِك ْشَت

ُدّرَََجُم ىلقعلا ِكاَرْدِ ْلا ُراََبِتْعِا حََصيل هّن

َأ اََضيأ ُرّرَََقُنَو . ُهّدَََحَو ِرََْكِفْلا

نكميل هّنِإ : ًلوََُقُن ّنَأ َباَو ََّصلا ّنَأ ْلَََب - َنوّي ََّسِحْلا ىري اَمَك – ٌدِعاَسُم

اََََناَك ّنِإَو . ىلقعلا ِكاَرْدِ ْلا ُماََََقَم َموَََُقَي ْنَأ اًَََعَطِق ىَََسحلا ِكاَرْدِ ْلِل

ُةّي ََّسِحْلا ُةَََفِرْعَمْلاَو , ِةَداَه ََّشلا ِمَلاَََعِل ِةَََفِرْعَمْلا ُةّيِلَمَع ىف اَعَم ّناَعِمَتْجَي

10 ص :ةيلاثملا داور نيمأ نامثع .د . 69

ص تناك :ميهاربإ ايركز.د و 8

.

11Ia adalah Immanuel Kant (1724-1804) kerap dipandang sebagai tokoh paling menonjol

dalam bidang filsafat setelah era Yunani kuno. Ia lahir Konisberg ibukota Prusia Timur Negara Jerman. Kan adalah tokoh filsafat yang berhasir memadukan antara Rasionalisme dan Empirisme, menurutnya pengalaman yang berada dalam bentuk-bentuk yang dapat ditentukan oleh panca indra. Maka hanya dalam bentuk itulah dapat digambarkan eksistensi segala hal. Lihat dalam Bryan Magee, The Story of Philosophy (Yogyakarta: Kanisius, 2008), hlm. 132.

(7)

َنِم ُهََُمَهْفَن اَََم اَذَََهَو ىلقع ٍكاَرْدِإ ىَلِإ ُلّوَؤََُت اَََهّن

َأ َعَََم ىّتَح اَََهِب ًفَرَتْعُم

ْمُكَل َلَََعَجَو ْمُك

َأ َََشَنَأ ىذََلا َوََُه ّلَََق : هَناَحْبُس ُهَلْوَق ىف ىنآرقلا ِريِبْعّتلا

﴿

َنوُرُك ْشَت اَم ًنيِلَق ََةَدِئْفَ ْلاَو َراصْبَ ْلاَو َعْمّسلا

Kritik dan Koreksi

Doktrin idealsme yang terfokus pada ide-ide atau pikiran sangat terlihat pada pembahasan ini, Hal ini tidak membuat realitas nilai dalam bentuk pengetahuan, dan tidak pula melibatkan pengetahuan indrawi dalam interpretasi mereka. Hakekat nya adalah « realitas terdiri dari bagian-bagian yang ada dan merupakan esensi mutlak.» Lancon dan kami menyadari dengan jelas bagaimana pengetahuan dan hakekat ada dalam persepsi indrawi, karena hal ini bukan kapasitas kita untuk menyangkalnya. Kritik kami pada idealisme di sini berbeda dengan kritik yang dilontarkan oleh Al- Husain, Karena Ia dan para tokoh aliran realisme menjadikan pikiran sebagai satu-satunya sumber pengetahuan. Bagi mereka indra dan hati nurani adalah hal yang tidak diperlukan, dalam arti bahwa persepsi tersebut merupakan proses sekunder yang tidak diperlukan untuk kehidupan, melainkan hanya sekedar pendukung pengetahuan. Meskipun idealisme memiliki banyak kelebihan akan tetapi tidak berarti terbebas dari kelemahan, aliran ini cenderung melalaikan pengetahuan realitas eksternal dan akal sehat dalam pembentukan pengetahuan, hingga akhirnya hanya menanggapi eksistensi seluruh pengetahuan yang berada dalam pikiran. Kami tidak membenarkan anggapan bahwa pemikiran rasional-lah sumber mutlak pengetahuan, seperti yang telah diutarakan Al-Husain. Akan tetapi yang lebih tepat adalah, “Hakekat pengetahuan tidak mungkin diketahui jika hanya menggunakan persepsi sensorik kecuali mengintegrasikannya dengan persepsi rasional.”13 Bahkan keduanya dapat

digabungkan dalam proses epistemology pengatahuan dunia fisik, meskipun demikian mereka menyadari bahwa pengetahuan indrawi merupakan titik awal dari pengetahuan rasional, sebagaimana yang kita pahami dari ayat Al-Quran berikut ini: “Katakanlah Dia-lah yang menciptakan kamu dan menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati". (tetapi) Amat sedikit kamu bersyukur.”

اًمَلاَع ِناسْنِ ْلا َنِم ُلَعْجَي , َبِهاَذَمْلا ىف تاذلا َلْوَح َزُكْرَمّتلا ّنِإ

ِبا َََسِح ىَلَع ًةلاََغُم اَََهيِف ٍةّيِدوُجُو َةَََمّيَقَو َةَََناَكَم ِهََيِطْعُيَو , ءىََش ّلُكِب

.ِعِقاَوْلا

13Kalimat ini di cetak tebal bertujuan untuk menegaskan tanggapan penulis (Rajih Abdul

(8)

Sesungguhnya doktrin egosentrisme14 menjadiakan manusia mengetahui

segala hal , dan memberinya status dan nilai eksistensi manusia di dalamnya.

. ُهَرََِكْنُي ْنَأ هََنكميل هّنِإَف , ِعََِقاَوْلا ِداَرََْف

َأ ُدَحأ َوُه َناَك ّنِإَو ُناسْنِْلاَو

ْنِم َلَََعْجَي ْن

َأ هََلوخيل , َضْرْلا ىف فنختََسلا ًرَوََْحِم ِناََسْنِْلا ُنْوَََكَو

اَذِإ َدوََُجُوْلا هََْنَع ىَفْنُيَو , ِهََِكاَرْدِإ ىَلِإ هّلُك ُدوُجُوْلا ّدُرَي اًهَلإ ُهَلِقُع ْوَأ ِهِرْكِف

ْنَع ُهََُجِرْخُي ُةّيِلاَثِمْلا ُةَرو ََّصلا ٍهِذَََهِب ُناََسْنِ ْلا َلَََعَفَو . ِهََِكاَرْدِإ ْنَع ٍزََْجَع

ِةَََفِرْعَمْلا َري ََِسْفَت ّن

َأ اَمَك . َةاَيَحْلا ىف ُهَرْوَدَو ِةَقوُلْخَمْلا ِةّيِناسْنِْلا ِهِتَعيِبَط

ٌطَََمَن , َدوََُجُوْلا ىف ُدََيِحَوْلا ُمِكاََحْلا َوُه ِلْقَعْلا ُرابِتْعِاَو , ًبْسَحَف ِلْقَعْلاِب

ِناََسْنِ ْلا ُةَل ََِصَو , ِةّيِقِلاخْلا ُةَديِقَع هيِف ْحِضّتَت ْمَل ىتلا , ِةّيِنَثَوْلا ِطاَمْن

َأ ْنِم

ُهَدّرَََفُي ْن

َأ هََيَلِإ ِبلطَو ِهََِمْلِعَو ُهَقْلَخ ىذلا ِقِلاَخْلا ِهّبَرِب ِمّلَعُمْلا ِقوُلْخَمْلا

ّنَأ وُدََْعَت َل ُةّيِلاَثِمْلا ُةَرََْ كِفْلاَو . ءىََش ّلََُك ىف ُهَدّحَوُي ْن

َأَو ُةّيِقِلاخْلا ىَلَف

ِدوََُجُوِب ِراَرََْق ْلا َعَََم ىّتَحَو . ِرو ََّصلا َنِم ٌةَرو ََُص ىف ِةّيِر َشَبْلِل اَهيِل

ْأَت ًنّوَكَت

ٍةّيِلْقَع ِةَرََْكِف ْنِم ُرَثْك

َأ َنوُكَت ّنَأ وُدْعَت َل ِةّيِهوُلُ ْلا ِهِذَه ُلْثِم ّنِإَف , ِةّيِهوُلُْلا

ِقوََُلْخَمْلا ُةَل ََِص َرََِبَتْعَي ىذََلا ىنآرقلا ِرّوَصّتلِل ٌفِلاَخُم اَذَهَو , اَهَل حوضول

ىّتَحَو . َةَََقِلاَخْلا تاذََلاب َةَََقوُلْخَمْلا تاذلا , تاذلاب تاذلا ًةَلِص ِقِلاَخْلاِب

َنّوَََ كَت ّن

َأ وُدََْعَي َنَف , ٍلََِجيِه َدََْنِع اََمَك ِةّيِهوُلُْلاِب ىعقاوََلا ِفارََِتْعِْلا َعََم

ْنِم ٌفارََِحْنِا اَذَََه ىَفَو ِةّيِعِقاَوْلا ِتاَدوََُجْوَمْلِل انطابم اّيِنْوَك َنْقَع ِةّيِهوُل

ُ ْلا

ِراََبِتْعِا ُةَََيِحاَنَو , ِقَََلْطُمْلا اَهاّم َََس َهِرََُ كَف ِةّيِهوُل

ُ ْلا ِرابِتْعِا ُةَيِحاَن : ٍنْيَتَيِحاَن

ْنَع ءىََشان ٍفارََِحْنِا َنِم هََيِف اّمَع . ًن ََْضَف اّيّداَم اّيِعِقاَو اَراََبِتْعِا ِةّيِهوُل

ُ ْلا

« ًكِلَذَََ ك ًةلاََغُم هََيِفَو , ُةَََقِراَفُمْلا ُةّيِهوُلُ ْلا ىَفَنَو , ِدوََُجُوْلا ِةَدْحَو ِرّوَصَت

ِةَرو ََّصلا ِماَقَم ىَلِإ ِدوُجُوْلِل ِةَنِكْمُمْلا ِروّصلا ىَدْحإ ىه ىتلا ِةَعيِبّطلا ِعْفَرِب

»اّيِروُر َ

ََََض ُنِكْمُمْلا َبِلْقَي ْنَأ َناَََََك اَََََم ٍجَهْنِمِل ىّن

َأَو . ِةّيِروُر ّ

ََََضلا

15

– ىكيتكيلايدََلا ِهََِجَهْنِم ِهََِبَهْذَم ُرََيِرْبَت ىف ُهََُعَفْنَي َلَو . اًنِكْمُم ىرورضلاو

. ِضُقاَنّتلا ِةَرْكِف ىَلَع ُمِئاَقْلا – ىلدجلا

Tidak dapat dipungkiri manusia adalah makhluk yang hidup di alam materi. Fakta membuktikan bahwa manusia berada dan hidup pada dunia fisik, maka tidaklah bententangan jika mereka membuat gagasan untuk memahami keberadaan Tuhan, dan tidak menafikkan penyelidikan akan eksistensi-Nya dikarenan kelemahan kita untuk mengetahuinya. Manusia dapat memperoleh gambaran ini secara sempurna dari sifat penciptaan manusia dan perannya dalam kehidupan. Penafsiran pengetahuan tidak hanya melalui pikiran dengan menganggap pikiran sebagai satu-satunya penguasa yang ada, hal ini merupakan salah satu pola dari berbagai pola penafsiran, yang tidak menjelaskan tentang

14Sifat dan kelakuan yang selalu menjadikan diri sendiri sebagai pusat segala hal, KBBI

Elektronik.

15 ص :ةثيدحلا ةفسلفلا خيرات :مرك فسوي . 287

(9)

akidah penciptaan. Maka disinilah letak hubungan antara ciptaan dan Dzat yang menciptakan, mengajari dan memrintahkan untuk meng-esa-kannya dari semua makhluknya. Konsep idealisme tidak hanya berguna untuk mengetahui manusia seutuhnya. Bahkan untuk membuktikan eksistensi Tuhan, akan tetapi pemikiran ketuhanan tersebut tidak lebih dari sebuah ide dari mentalitas, bahkan hal ini sangat rentan terjadi penyimpangan, sebagaimana yang dilontarkan oleh Hegel tentang realitas keilahian. Ada dua penyimpangan yang terjadi pada aliran realism ini, pertama; adalah pendapat yang menganggap pemikiran tentang ketuhanan adalah hal yang mutlak, kedua; pemikran ketuhanan dianggap sebagai realista fisik. Adapun persepsi yang timbul dari penyimpangan ini adalah konsep penyatuan diri dengan Dzat keilahian (wahdatul wujud),16 tentu saja hal ini

sangatlah berlebihan dan bertentangan dengan persepsi Al- Qur'an yang merupakan jalan bagi makluk yang di ciptakan untuk mengetahui Dzat yang menciptakan, karena penghilangan sifat yang merupakan salah satu kemungkinan adanya bentuk diinginkan. Ini adalah pendekatan saya untuk membatalkan kemungkinan dalam persepsi ini adalah perlu dan mungkin pendapat ini tidak mendukung pembenaran doktrin metode dialektis17 berdasarkan pemikiran

kontradiktif18.

ىأ , َعََِقاَوْلا ىف ٌضوُفْرَم َوُه اَمَك َلْقَعْلا ىف ًضوُفْرَم َضُقاَنّتلا ّنِإ ْذِإ

ّرَََم

َأ ُدوََُجُوْلاَو ِةَََفِرْعَمْلا َنْيَب ُةَََقِرْفّتلاَو . َدوََُجُوْلاَو َةَفِرْعَمْلا ىف ًضوُفْرَم

, َةَََفِرْعَمْلاَو ِدوُجُوْلا َنْيَب ُةّيِئانّثلا ُدّكَؤُي ُنآْرُقْلاَو « ُهُزِواَجُتَو ُهُلُهاَجَت نكميل

ُةّيِهوُلُ ْلا ْذِإ , َدوََُجُوْلا ىف ِهََِتَديِقَعِل ا ًََساَس

َأ اَََهُلَعْجَيَو ُةّيِئانّثلا َدّكَؤُي هّنَأ اَمَك

ًنوُطنَفَأ ٌلْثِم ىه ْتَسْيَلَو , َةَقَراَفُمْلا تاذلا ىَلَع ُموُقَت ِنآْرُقْلا ُرَظَن ىف

ىّتَح ٍتاَوُذ اَََهُرابِتْعِا ُليِحَت ََْسَي ْذِإ , ٍةّيِلْقَع ِةَرََْكِف َنّوَكَت ّنَأ وُدْعَت َل , ىتلا

ىّلَجَتَت ُهّبَرَو ِناََسْنِ ْلا َنْيَب ُةَََمِئاَقْلا ُةَََقّنَعْلاَو . هُسْفَن ًنوُطنَفَأ ٍجَهْنِم ىَلَع

ُزِجاََعْلا , اًمَدََع َناََ ك ىذَلا ِقوُلْخَمْلا ُتاَذ ًةَقّنَع ىه ْذِإ َةّيِئانّثلا ٍهِذَه اَهيِف

ِةّيِلَزَ ْلاَو ِمَدَََقْلاِب ُزّيَمَتَت , ٍتاَف ََْصَو اَََتاذ هَناَحْب ََُس ِقِلاَََخْلاِب ُلِهاَجْلا ُصِقاّنلا

َقََِلُخ ◌ ًقََْلَخ ىذََلا َكّبَر َم ََِساَب

ْأَرََْقِا هَناَحْب ََُس ًلاَََق خلا .... َلاَََمَكْلاَو

﴿

َمِلَع ◌ ِمَلَقْلاََِب ًمْلِع ىذََلا ِمَرََْ ك ْلا َكَََبْرَو

ْأَرََْقِا ◌ َقََِلَع ْنِم ُناََسْنِْلا

16 Di Indonesia konsep ini hampir sama dengan konsep yang dianut sebuah aliran

kepercayaan tempo doeloe, yang meyakini akan penyatuan dzat ketuhanan dalam diri manusia. Di Negara kita konsep ini popular dengan istilah Manunggaling Kaula Gusti yang di prakarsai oleh Syekh Siti Jenar.

17 Keterampilan untuk mengajukan pertanyaan atau berargumen, dan dapat juga

bermakna sebagai suatu iltilah teknis yang digunakan oleh pengikut Hegel atau Marx mengenai gagasan bahwa setiap pernyataan entah dalam kata-kata maupum tindakan, akan memunculkan pertentangan hingga akhirnya teradamaikan dengan suatu sintesis yang memuat unsure unsure dari keduanya. Lihat dalam Bryan Magee, The Story of Philosophy,…hlm. 228.

18 Dua pernyataan disebut kontradiktif bila salah satu dari pertanyaan itu pasti benar dan

(10)

ُنِطابْلاَو ُرِهالظلاَو ُرِخ ْلاَو ُلّو

َ ْلا َوُه : هَناَحْبُس َلاَق . ُمَلْعُي ْمَل اَم ُناسْنِْلا

﴿

realitas, ini bermakna alur pemikiran ini tertolak pada tataran pengetahuan dan kenyataan. Perbedaan antara pengetahuan dan realitas tidak dapat diabaikan dan dilewati «Al-Qur'an menegaskan hubungan sinergi antara realitas dan pengetahuan, juga menegaskan bilateral keduanya dan menjadikannya sebagai dasar keimanan , seperti konsep keilahian persfektif Al-Quran yang berdasarkan pada pengetahuan mutlak. Hal yang berbeda dikemukakan oleh Plato yang hanya menawarkan pemikiran logis. Hubungan antara manusia dan Tuhannya diwujudkan dalam hubungan bilateral , berbeda dengan hubungan antar sesama makhluk yang tidak kekal, lemah. Allah Swt. Berfirman dalam Al-Quran: “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah, yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam, Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. )Al-Alaq 1-5) kemudian pada ayat, “Dialah yang Awal dan yang akhir yang Zhahir dan yang Bathin dan Dia Maha mengetahui segala sesuatu.” (Hud, ayat 3) dan pada ayat, ... Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha mendengar dan melihat.” ( As-Syura ayat 11).

ًةَََفِراَع تاذََلا ٌنْوَكَو , ىَدام َل اَم ّلَعَف اَهّن

َأ ىَلَع ِةَفِرْعَمْلا َريِسْفَت ّنِإ

pengetahuan yang bijaksana adalah apa yang anda sebut dengan idealisme , akan tetapi terdapat kesalahan pada aliran ini dalam konteks asimilasi konsep keyakinan (dalam hal ini pengetahuan membutuhkan obyek ekternal. Esensi Pengetahuan tidaklah menolak pengaruh dari dunia luar . karena pengetahuan tindaklah berdiri sendiri, mereka membutuhkan sesuatu yang lain.)

(11)

اَذَََه ٍفا َََشِتْكِ ِل ُهَرودََُب ِناََسْنِ ْلا ِةَكَرا َََشُم ُةَََقّنَع , ِعََِقاَوْلا اَذَهَو ِناسْنِ ْلا

ِناََسْنِ ْلِل ٌةّي ََّسِح ُتاَََيِطْعُم ُلّك َََشُي ُعََِقاَوْلا اَذَََهَو . هَََعَم َلُماَعّتلاَو ِعِقاَوْلا

ىَلِإ ًدوََُع ىه اَََمّنِإ ِعََِقاَوْلِل َةَََفِرْعَمْلا ّنِإَََف ّمُث ْنِمَو . ِهََِتَفِرْعَم ْنِم ُهََُنِكْمُت

ٍةّيِمْلِع ِةَفِرْعَم ّلُك ىَلَع ُةَقِباّسلا ُةّيِلّوَ ْلا ُةَفِرْعَمْلا ًكْلِت ىَلِإ ًعوُجُرَو ِءاَي ْشَ ْلا

هّنَأِب ٌفارََِتْعِا َوََُه اَََمَك , ىجراََخلا ِمِلاَََعْلاَو ِعََِقاَوْلا ِدوََُجُوِب ًفارِتْعِا ىأ ,

َلاَََجَمْلا ْوَأ ىعيبََطلا َطَسَوْلا اضيأ هّنَأ للإ , اَنِتَفِرْعَم ِعيِضاَوَم ْنِم ٌعوُضْوَم

ًفََْيَك اّمَأ . اَََنِتاَكاَرْدِإ ُهََُقاَطِن ىف ُقّقَحَتَتَو اَََنُراَكْف

َأ هيِف ىّلَجَتَت ىذلا َلّوَْلا

َرََْيَغ َوََُهَو ُهَََل ٌرِياَََغُم ُنْهّذََلاَو ىَدام ءىشلا ّن

َأ َعَم ّنُهّذَلِل ءىشلا ءىجي

َوََُه اَمّنِإ , اّيّداَم َناَك ّنِإَو ءىشلا ّن

َأ « ًكِلَذ ٌلْهَس هيَلَع ُباَوَجْلاَف . ىَدام

ُةََ كَرَح َةََفِراَعْلا تاذَلا ىف ُهُريِث

ْأََتَف , ُهََتَيِهاَمَو هاَنعمب ىأ ِهِتَرو َُصِب ٌرَْكِف

اَََنّنَأِب ٌةَََعِطاَق ُةَحيِر َََص ِناَدْجِوْلا َةَداَه َش ّنِإ . ىنعم وَأ ًةَروُص ُلِمْحَت ُةّيّداَم

ىَلَع اَن ََِساكِعْنِاِب َكاَرْدِ ْلا اَذَََه َكِرْدََُن ّمُث هََتاذ ءىََشلا ُكِرْدََُن ِرََْمَ ْلا ُلّوَأ

» اَنُكِرْدُأ اَم هّنَأ َل اَنَكاَرْدِإ ِهِب ىذلا ُلْعِفْلا هّنَأ ُمَلْعَنَف , اَنِسُفْنَأ

22

.

Harus diakui bahwa realitas tidak akan menunggu untuk kita melakukan pembuktian empirisnya. Melainkan hanya menghubungkan antara manusia dan dunia fisiknya, hubungan partisipasi manusia pada gilirannya akan menemukan fakta yang berkaitan dengannya. realitas merupakan data indrawi yang dapat diketahui manusia. Dengan demikian, pengetahuan tentang realitas hanya merujuk pada semua pengetahuan ilmiah awal yang sudah diketahui sebelumnya, tidak ada pengakuan keberadaan realitas dan dunia luar, seperti pengakuan tentang pengetahuan kita, tetapi juga pusat domain alam atau objek pertama yang mencerminkan pikiran dalam lingkup persepsi kita. Hal yang akan datang memiliki material yang berbeda dengan pikiran fisik. Jawabannya adalah mudah saja, sesuatu meskipun secara fisik hanyalah berupa isi dan bentuknya tetapi sangat mempengaruhi objek sebuah pengetahuan. Kesaksian hati nurani yang meyakinkan secara eksplisit bahwa kita pada awalnya menyadari hal yang sama dan kemudian menyadari realisasi secara beragam pada diri kita sendiri, kita mengetahui bahwa hal tersebut berasal dari kesadaran kita.

ِناََسْنِ ْلا ىَلَع ىََسيئرلا اَََهَزيِكْرَت ىف ِةّيِلاَثِمْلا ُقََفاون َل اَََنّن

َأ اَََمَك

ّنَأ َكََِلَذ , ًب ََْسَحَف اَََنِتَفِرْعَم ُعو ََُضْوَم ىه اَََهّن

َأَو تاذََلا ىَلَع ْوَأ ىنطابلا

اَذَََه َلَََخاَد للإ ه ََُسْفَن ْفُرََْعَي َل َوََُهَو , َمَلاَعْلا ىف ًدوُجْوَم هُسْفَن َناسْنِ ْلا

اَََهِنْوَك ْنِم اَََهَدّرَجُي ْنَأ عيطتسيل , هتاذ ىَلِإ ُناسْنِ ْلا َرَظَن اَمْهَمَو . ُمِلاَعْلا

ىَلَع ِهِزيِكْرَت َعَم َنآْرُقْلا ّنِإَف اَذِلَو . ىعقاو ًمَلاَع ىف ُشيِعَت ُةّيِناسْنِإَو اًتاذ

هّنَأ للإ , تاذََلاب ىناََسنلا ىَعَوََْلا ىَلِإ ِهََِتْوَعَدَو , هُسْفَنِل ِناسْنِ ْلا ِةَفِرْعَم

ٍتاَّزَََهَو ٍةَََلِثْم

َأ ِلَنِخ ْنِم اَهِريكْذَََتِب ًكِلَذََِل ُةّيِناََسْنِْلا ُةَرََْطِفْلا َريََِثُي َناَََك

(12)

, َسْفّنلا ىف ِرَََظّنلا ىَلِإ ٍةَوََْعَد ْنِم , ٌةّيِعِقاَو اَََهّلُك ٌتا ََََضْبَنَو ٍتاَََهيِجْوَتَو

َتْحَت ُعََقَي اََمَو , ٍةّباَد ْنِم هَناَحْب ََُس ِهََللا ُقْلَخ اَم ىَلِإَو َقاف ْلا ىف ُرَظّنلاَو

ُةَرََْطِفْلا اَََهَعَم ُلَََعاَفَتَتِل ِه ََّساوَح ُرِئا َََسَو ُهُر َََصَبَو ُناََسْنِ ْلا اَذَََه ٍعْم َََس

, ٌعافِتْنِاَو ٍريِخْسَت ْنِم ٍلُماَعَت َةَقّنَع اَهُعَبْتَت ُةَقّنَع اَهَعَم ءىشنتو , ُةّيِناسْنِ ْلا

َنِم َلَََعَج ْلَََب , َةّيِتالذلا ىف ٍفّرَطَت ُمَدَعَو , َةّيّداَمْلا ىف ٍساَكِتْرِا ِمَدَع َعَم

ٍةّيِسيِئَر اَياَضَق ىَهَو , هتافص ًرِئاَسَو ٍةّيِناَدْحَوَو ِهللا ِدوُجُو ىَلَع َةلدأ ِعِقاَوْلا

ُةّيِناََسْنِ ْلا تاذََلا ىَنْبُي ًكِلَذِب ُنآْرُقْلاَو , ِلَمَعْلا َلْبَق َناَمي ْلاَو َداقِتْعِ ْلا ىف

َةّيِناََسْنِ ْلا َةََنونيكلا ىف ُريََِثُي َوََُهَف , َةّيَحْلا ْو

َأ , ُةّماَعْلا ُةَََفِراَعْلا ُةّيِعِقاَوْلا

َتْقَوََْلا ىف , ِعََِقاَوْلا ىَلِإ ةََسكترملا ُةّيّداَمْلا ُةّيِناََسْنِ ْلا ُبِراَََحُيَو ُةاَََيَحْلا

ًريدََْقَت ىف َفّرَََطّتلا ْو

َأ , ُةّيِلاَيَخْلا ُةّيِلاَثِمْلا ْوَأ َةّيِتالذلا هََيِف ُبِراَََحُي ىذََلا

. َةَفِراَعْلا تاذلا

Kami tidak menyetujui idealisme yang hanya terfokus pada jiwa manusia atau ide-ide yang dijadikan sebagai satu-satunya subjek pengetahuan kita, karena pada hakekatnya jiwa manusia itu berada di alam dunia, dan ia tidak akan mengetahui dirinya sendiri kecuali masuk dalam dunia nyata. Apapun pandangan manusia terhadap dirinya sendiri, tetap saja ia tidak bisa menghilangkan aspek kemanusiaannya dari dunia nyata. Oleh karena itu, Al-Quran dengan fokus pada pengetahuan manusia akan dirinya, dan seruan akan kesadaran kemanusiaan, walaupun demikian, hal tersebut menjadikan pengetahuan tentang naluri kemanusiaan melalui pengambaran yang realistis. Melalui seruan untuk melihat kedalam diri manausia, dan mempertimbangkan ciptaan-ciptaan Allah swt.. Dan apa berada di bawah pendengaran, penglihatan dan indra lain manusia untuk berinteraksi dengan naluri manusia, dan membangun hubungan, kesepakatan hubungan pemanfaatan, dengan tidak ada reaksi dalam materi, dan jangan berlebihan dalam pengotobiografiannya, tetapi membuatnya benar-benar menjadi bukti keber-ada-an Allah dengan ke-esaan-Nya dan segala kesempurnaan-Nya, Hal ini merupakan hal pokok yang menjadi dasar utama dalam keimanan. Bekaitan dengan hal ini Al-Quran yang dibangun atas perspektif kemanusiaan dan realisme universal. Keadaan ini berdampak dalam kehidupan manusia berupa gejolak antara kemanusian dengan kenyataan, atau ekstremisme estimasi pengetahuan

ْدَََق هّنَ ِل , ِهََِب ْعَدََْخَن َل ّنَأ ىغبني َةَََفِرْعَمْلا ىف ىلاََثملا َهاَََجّتِ ْلا ّنِإ

هّنَأَو , ىحور هّنَأ ٍمْكُحِب ىمنََسلا اَنُرو ََُصَتِل اًََقِفاَوُم ُهّنُظَنَو اَََنيَلَع َهِبَت ََْشَي

(13)

َةّيِحوُر َوُدََْعَت َل اََمَنْيَب . ِقََْلَخْلا ِةَََمْعِن َدْعَب ِناسْنِ ْلا ىَلَع ىَلاَعُت َهللا اَهُمَعْنَي

ُلََِباَقُت ُةّيِرو ََُصَو , ىَدامْلا ِهاَجّتِ ْنِل َنِباَق اَطَمَن ًنّوَكَت ّنَأ , ىلاثملا ِموُهْفَمْلا

, اَََهِتّيِعِقاَو ِراََكْنِإ َعَََم ِراَََكْفَ ْلا ىَلِإ ِةَََفِرْعَمْلِل اّدَرَو ِءاَي ََْشَ ْلا َةّيِعو ََُضْوَم

ٍري ََِسْفَت ُةَََلَباَقُم ىف ِلََْقَعْلا ىَلِإ ُءاَي ََْش

َ ْلا ّدُرَََي , ِةَََفِرْعَمْلِل اّيِلْقَع اَري ََِسْفَتَو

ُةَهْب ََُشَف ُسو ََُسْحَمْلا ىَدامْلا ِعِقاَوْلِل اًساكِعْنِا هُسْفَن َلْقَعْلا ُلَعْجَي , ىعقاو

ىف ىنآرََقلا ِهاَََجّتِ ْلا َنْيَبَو اَََهُتّيِلْقَعَو اَََهُتّيِحوُر ىف ِةّيِلاَثِمْلا َنْيَب ِهُبا َََشّتلا

َكََِلَذ . هََيَلِإ هََبثتلا ىغبني ّرَمَأ ِلْقَعْلِل ُهَماَرِتْحِاَو ِةَفِرْعَمْلِل َةّيِناَحوّرلا ِهِتْرِظُن

ِنْوَََ ك َعَََم ىّتَح ًةَََفِلَتْخُم ِنْيَموََُهْفَمْلِل َةّيِرْكِفْلا ْو

َأ َةّيِدَقَعْلا ِتاَََقَلَطْنُمْلا ّنَأ

ِ ميِهاَََفَمِب ىنيدََلا ْمُهَموََُهْفَم ّنِكَلَو , ًنيّيِنيِد َنيّيِبْرَََغْلا َنيّيِلاَََثِمْلا ِةَرَََهْمَج

اوُناَََ ك ْمَأ , ْمُهَرَََظَن ىف َةَف َََسْلَفْلاَو ِنيّدََلا َنْيَب اوََُقّفَو

َأ ًءاو َََس ِة َََسيِنَكْلا

ِءاَرآََِب اَََهُتّيِلْقَعَو اَََهُتّيِحوُرَو , ِةَََفِرْعَمْلا ِةّيِلاَثِمِل ْمُهَتَرََِظَن ىف ًنيِعوُفْدَََم

ِنيّدََلا ِموََُهْفَمِل ةََينآرقلا اَََنَتَرْظَن َفََِلَتْخَت هّلُك َكََِلَذ َعَََم هّنِإَف , ِة َََسيِنَكْلا

ًريِسْفَت َةَفِرْعَمْلا ّنِإ . اًساَس

َأ ْمُهِموُهْفَم َعَم اَهَتَعيِبَطَو ُةَفِرْعَمْلاَو , ُهَتَعيِبَطَو

.ُمِلاَعْلا اَذَه ىف ِةَفَنِخْلِل ِتْدُعَأ ٍَةّيِصْخ َش ِهِفْصَوِب ِناسْنِ ْلِل ًةَفِصَو ِمَلاَعْلِل

Kecenderungan pemikiran idealistis pada pengetahuan tidak boleh mengaburkan persepsi kita akan hakekat kebenaran, hal itu tentu sudah dapat kita duga. Sejalan dengan konsep Islam tentang jiwa yang mengarah kepada bentuk materi sehingga semangat konsep ini sangat berbeda dari konsep kita tentang spiritual atau persepsi Al Quran akan sifat pengetahuan yang merupakan pembeda antara manusia dan makluk ciptaan yang lain. Oleh karenanya pengetahuan merupakan sifat keilahian yang ada dalam diri manusia. Ilmu adalah anugerah Allah swt. kepada manusia setelah nikmat penciptaannya. Meskipun tidak sebatas pada konsep spiritual yang ideal, menjadi pola, arah fisik, dan bentuk yang sesuai dengan hal-hal obyektif yang merupakan respon pengetahuan dari ide-ide yang menolak realitas. Interpretasi logis harus menggunakan akal dalam menginterpretasi realitas yang ada. Logika merupakan refleksi dari realitas fisik dari kesamaan dirasakan antara ide-ide dalam jiwa dan logika serta Paradima Qurani dalam teori spiritualitas pengetahuan dan tetap menggunakan akal sebagai penguatnya . Titik awal konsep intelektual ini sangat berbeda dengan pengamut idealisme keagamaan Barat, mereka memandang filsafat bertentangan dengan norma-norma gereja. Atau dengan kata lain otoritas keagaaman menutup diri dari perkembangan pengetahuan. Hal ini berbeda dalam konsep Al-Quran akan interpretasi pengetahuan tentang dunia dan manusia kemudian menjadikannya sebagai jalan untuk membentuk pribadi yang siap dan berhasil di kehidupan dunia ini.

(14)

َفْرََُعْلا ىف َةّيِحوّرلا ّنَأ َفُرََْعَن ْنَأ ُبِجَي اَََمَك ِة َََسيِنَكْلا ِة َََضَراَعُم ِم ََْسِاِب

ُلاَََجَم ىأ , ِسو ََُسْحَمْلا ىَداََمْلِل ُلََِباَقُمْلا ُلاَََجَمْلا اَََهِب ُد ََِصْقَي , ىلاثملا

هّنَأ ٍسا َََس

َأ ىَلَع , ىحور ىلاََثملا ُموُهْفَمْلاَََف . اََنلاو َكاَرْدِْلاَو ِروُع ََّشلا

ٍةَََقيِقَح ّلََُ ك ُعِجْرَيَو , ِلاَجَمْلا اَذَه ٌقاَطِن ىف ٍدوُجْوَم ّلُكَو ٍنِئاَك ّلُك َرّسَفُي

ىحور ٍلاَجَم ىَلِإ ىلاثملا َمْعّزلا ىف ُهُدرم ىَدامْلا ُلاَجَمْلاَف . هيَلِإ ٌعِقاَوَو

ُةََََقيِرَط ىهف , ُةّيِهَل ْلا ُةَدَََيِقَعْلا ْو

َأ ىهللا َموَََُهْفَمْلا ىف َةّيِحوّرلا اّمَأَو .

. ىَداََمْلا ِلاَََجَمْلِل َنِباَقُم اّصاخ ًلاَجَم َل , َةّماَع ٍةَروُصِب ِعِقاَوْلا ىَلِإ ِرَظّنلا

ُدََِقَتْعَتَو , قََمعلا ِدّرَََجُمْلا ِبَبّسلاِب ُنّمَؤُت ىمنسلا َمْهَفْلا ىف ُةّيِحوّرلاَو

– اّيّداَم ْمَأ اّيِحوُر ُناَكُأ ُءاوَس – ّماَعْلا ُلاَجَمْلا ىف ٌدوُجْوَم َوُه اَم ّلُك ًةَلَصَب

ُبِجَي ىتََلا ىه َةَل ََّصلا ِهِذَه ّن

َأ ىرُتَو – ِهللاِب ىأ – قمعلا ُبَبّسلا َكِلَذِب

ِءاَي ْشَ ْلا َهاَجُت ِناسْنِ ْلِل ىعامتجلاو ىلمعلا ِفِقْوَمْلا اَهِئْوَض ىَلَع َدّدَحُي ْنَأ

ِلاَََجَمْلا ىَلَع ُقََِبَطْنَي ُعََِقاَوْلا ْمُهَف ىف ًبول ََْس

ُأ اَنَدََْنِع ُةّيِحوّرلاَف . اًعيِمَج

ِءاوّسلا ىَلَع – ىلاثملا هانعمب – ىحورلا َلاَجَمْلاَو ىَدامْلا

23

Perumusan paradigma Qurany dalam penafsiran alam ini berbeda dengan pemahaman gereja maupun para penganut ateis yang menjadi sekte oposisi bagi gereja. Perlu kita ketahui, tujuan konsep idealis adalah untuk membedakan bidang bahan yang dirasakan, tidak ada ruang pikiran, ide-ide dan gagasan. Konsep ideal spiritual menjelaskan setiap benda dalam lingkup bagian, dan karena semua kebenaran dan realitas itu. Adapun objek fisik adalah karena mengklaim semangat sempurna. Konsep ajaran spiritual atau akidah ketuhanan adalah cara untuk melihat realitas secara umum, tidak ada ruang khusus untuk bidang fisik yang sesuai. Pemahaman spiritual Islam percaya pada alasan abstrak lebih dalam, dan berpikir tentang semua yang ada dalam ranah universal - baik secara spiritual maupun fisik - jadi tidaklah berlebihan – adalah segalanya dating dari Allah Swt. – maka merupakan suatu keharusan dalam konsep ini menentukan sikap pragmatis dan sosial kemanusiaan terhadap semua hal .konsep spiritual dalam pemahaman kita adalah realitas berlaku untuk dunia fisik maupun spiritual - yang logis.

زربََيل , هَََعَم ُلََُماَعّتلا ُلّه َََسُي , اَََنَعَم اَََمِئَنَتُم ُنْوَكْلا َنوُكَي ىكل هّنِإ

ىرََُت اَََمَك اّيِجِراَخ ّنِقَت ََْسُم اَدوََُجُو ُهَََل ّنَأ ُرََِكْنُنَو , ٍراَكْفَأ ىَلِإ ُهَلّوَحَت ًكِلَذ

ّلِقَت َْسُمْلا ُهُدوَُجُو ُهََل ةَينآرقلا َةَرْظّنلا ىف ُمِلاَعْلا اَذَه ّنَأ َكِلَذ . ِةّيِلاَثِمْلا

ْنَأ َنوُدَو ُهَََلوُحُن ّن

َأ َنوُد ُهَََفُرْعَن اَََنّنَأَو . ّلِقَت ََْسُمْلا ِفِراَََعْلا اَدوََُجُو اَََنَلَو

ٍةّينْهِذ ِةَرو ََُص ِذََْخأِب ُهََُفُرْعَن اَََنّن

َأ اَََمَك , ٌةَرِهاظ ْوَأ ِهِتَقيِقَح ْنِم اَئيِش ُهَدِقْفَن

, ُهَََتّيِجِراَخ ُهَََل ىَقْبَتَو , ُهَََعِقاَوَو ِهََِتَقيِقَح ْنَع ٌةَقِداَص َنوُكَت ّنَأ ّنُكّمَي هْنَع

اَذِإ اَمي ََِس َل , ىفرََعملاو ىنهذََلا اَنَطا َََشَنَو ِةّيِتالذلا اَنُتَيِلاَعَف اَنَل ىَقْبَت اَمَك

23 ص انتفسلف :ردصلا . 194

(15)

ِقِلاَََخِل َِةّيِقوُلْخَمْلا ُةَف ََِص ىف اَنُكِرا َََشُي ىجراََخلا َمَلاَََعْلا ّن

َأ اًفَل َََس اَنِفْرُع

هََيِف شيعنو هَََعَم ُمَءاَوَتَن ىك ُه

َأّيَهَو , اَنَل َهللا ُهَرّخُس هّنَأَو , هَناَحْبُس ٍدِحاَو

َل ََِصَفْنَي ْنَأ ْنِكْمُي َل ىذََلا اَََنَعِقاَو اَََنَل ٍةَََفِراَع ٍتاّيِصْخ َشَك اَنّنِإ ْلَب . هَعَمَو

ُةّيِعِقاَوْلا ىه , اَََم ٍعْوَََن ْنِم ٍةّيِعِقاَوِب هََْنَع ُزّيَمَتَن اّنَك ّنِإَو . ِعََِقاَوْلا اَذَه ْنَع

, َةَََقِطاّنلا َسْفّنلا ْوَأ َةَََفِراَعْلا ُحولرََلا اَََهيِف ىّلَجَتَت ىتلا ُةَفِراَعْلا ُةّيِناسْنِ ْلا

ْتَناَََ ك اَذِإَََف . ُهَتّيّصاَخَو ِناسْنِ ْلا ُةَمِس ىَهَو ىنابرلا ىولعلا ِرَدْصَمْلا ُتاَذ

ىَلَع ّناَدََِمَتْعَي اَََمُهّنَ ِل ًلوََُقْعَم اَََمُه َنِك َناََسْنِ ْلاَو َنْوَكْلا ّنَأ ىرُت ُةّيِلاَثِمْلا

َرّرَََبُت ىّتَح ىساسلا اَهَبيِكْرَت ىف ًةَلِغْلَغَتُم َةّيِلوُقْعَمْلا ّن

َأَو , ىنوكلا ِلْقَعْلا

َةَدََِعاَقْلا ّنِإَف َةَلِقاَعْلا ْو

َأ َةَفِراَعْلا تاذلا ىَلِإ ىعقاولا ِدوُجُوْلا ِدْرُب اَهَتّيِلاَثِم

ّمُث ْنِمَو , ىَلاَََعُت ُهََِلِل ًقوََُلْخَم اَََمُه َنِك َناََسْنِ ْلاَو َنْوَكْلا ّن

َأ ىرُت ةينآرقلا

ْو

َأ ِةّيِقِلاخْلا اَََهُرَوْحِمَو ةََينآرقلا ِةَرََْظّنلا ُساَسَأَف . اَمُهَنْيَب ميهافتلا ُلّهَسُي

ُناََسْنِ ْلاَو ُهََِلِل ٍناَََقوُلْخَم َنْوَََكْلاَو ُناََسْنِ ْلا ْذِإ , اَهِرو ََُص ِلُم ْش

َأِب َةّيِناّبّرلا

ُةَرََْظَن ىف هْنَع ُفِلَتْخَي ِريِكْفّتلا َرَوْحِم ّنِإَف ّمُث ْنِمَو . ُهَل ِهللا ِميِلْعَتِب ٌمّلَعُم

َوََُه ةََينآرقلا ِةَرََْظّنلا َرَوََْحِم ّنِإ ْذِإ َةّيِبَرُغْلا ِةّيِلاَثِمْلا ِةَرََْظّنلا ِنَع ِنآْرََُقْلا

.ُةّيِننْقَعْلا َوُه ِةّيِلاَثِمْلا ِةَرْظّنلا ِرَوْحِم امَنْيَب , َةّيِقِلاخْلاَو ُةّيِناّبّرلا

Paradigma Qurany bertujuan menyelaraskan kehidupan antara manusia dan alam sekitar, meskipun hal ini tidak mencerminkan sebuah transformasi pemikiran, dan menyangkal pemikiran Idealistis tentang eksistensi eksternal yang berdiri sendiri. Teori Quraniyah memandang eksistensi dunia dan eksistensi pengetahuan adalah berdiri sendiri. Kita dapat mengetahuinya tanpa mengubahnya meskipun kita kehilangan sedikit realitas atau fenomena tersebut, sebagaimana kita ketahui untuk menemukam bentuk gagasan dari sebuah fenomena harus dilandasi dengan kejujuran ilmiah. Dengan menekankan efektivitas dan aktivitas mental, terutama jika sebelumnya kita mengetahui bahwa dunia luar merupakan penghubung antara makluk dan Sang pencipta. Sesungguhnya kita mengetahui bahwa sifat kemanusian tidak dapat dipisahkan dari realitas ini, kecendrungan kepada pemikiran realisme adalah semangat kemanusiaan yang bersumber dari Dzat Yang Maha Tinggi. Idealisme memandang bahwa alam semesta dan akal manusia bergantung pada pikiran kosmis24. Rasionalitas meresap hingga kedasar

dan membenarkan idealisme akan eksistensi realistis dalam sifat keberpengetahuan, dalam pandangan kaidah Qurany, alam semesta dan manusia adalah merupakan ciptakan Allah Swt., untuk memudahkan pemahaman antara keduanya. Landasan paradigma Qurany merupakan solusi paling komprehensif untuk mengetahui hubungan antara ciptaan dan penciptanya. Manusia dan alam semesta merupakan ciptaan Allah Swt. dan segala pengetahuan yang dimiliki manusia berasal dari Allah Swt.. Oleh karena itu, Paradigma Qurany menyajikan fokus pemikiran yang berbeda dengan idealisme Barat. Jika idealisme barat

(16)

menjadikan logika sebagai fokus pemikirannya, maka Paradima Qurany mejadikan ketuhanan sebagai titik tolak segalanya.

6

َدوََُجُوْلاَو ِرََْكِفْلا ِدََيِحْوَت َنْيَب َحَواَرَََتَت ىتََلا ِةّيِلاَثِمْلا ِت َلَواَحُمْلا ّنِإ .

ُةَداََعِإَو ٍميِيْقَت ىَلِإ ُجاَتْحَت , ِدوُجُوْلِل اًساَس

َأ َةَفِرْعَمْلا ِلْعَج َنْيَبَو اَمُهَنيِناَوَقَو

ُةَََقيِقَحَو . ِةّيِك ّشلا ِتاَهاَجّتِ ْنِل ِلْعِفْلا ُةدرب ُةَعوُفْدَم ْتَناَك اَهّنَأ َكِلَذ , ٍرَظَن

ْنِمَو . َدوُجُوْلا ىف ّك ّشلِل اَريِرْبَت ْتَناَك اَمّنِإ َةَفِرْعَمْلا ىف َةّيِك ّشلا ّن

َأ ِرْمَْلا

اَذِإَو . ِةَََفِرْعَمْلا ِةَلّك َََشُم ّلََِح َقِبْسَي اَهْنَع ِعافلدلاَو ِدوُجُوْلا ِةّيِضَق ِلْحَف ّمَث

ّح ََِصَي َنَف َةَََفِرْعَمْلا ىف ّك ََّشلاِب َدوُجُوْلا ىف ْمُهّك َش َنوُرّرَبُي كاكشلا َناَك

ِةَداعِت ََْسِ ِل ُميِل ََّسلا ُقََيِرّطلا ْذِإ . ُةّي ََِضَقْلا َسِكُعَو َجَهْنِمْلا ىف ْمُهُتاَراَََجُم

ِةَميِلّسلا ِةَرْطِفْلا ىَلِإ ْمُهُعاَجْرِإَو , ِدوُجُوْلاِب ِفارِتْعِ ْلاِب مهمازلا َوُه ِنيِقَيْلا

َلاغ ََِشْنِ ْلا ّنَ ِل , ًكِلَذَََك اّيِهيدَََب َفُرََْعَت اَََهّن

َأِبَو اّيِهيدَََب ِدوُجُوْلاََِب ُنّمَؤُت ىتلا

ىَلْعَأَََف . ىَلْو ْلا ِعاَفّدََلا ِطوََُطُخ ْنَع اَََنُجِرْخُي ِةَََفِرْعَمْلا ُةّيِضَق ىف ْمُهَعَم

َلََْبَق ٌدوُجْوَم ءىشلاف , ُهَدوُجُو ءىشلا ىَطْعُي َل ىلقعلا ِلَلْدِتْسِ ْلا ُعاَوْنَأ

ِ ماَََحْفِ ِل ًقََيِرَط َلَلْدِتْسِ ْلا اَذَه ّن

َأ َكِلاَنُه اَم ٌةَياَغ . هَعَمَو هيَلَع ِلَلْدِتْسِْلا

اَهَليِوْعَت ىف َةّيِلاَثِمْلا ّلَعَلَو . ءىشلا ٍدوُجُوِب ِنيِقَيْلا ِةَدايِزِل ًقيِرَطَو ِمْصَخْلا

ىف ٌءاو َََس , ىلقعلا ِكاَرْدِ ْلاََِب َك َََسَمَتْلِاَو ىََسحلا ِكاَرْدِ ْلا ِحْرَََط ىَلَع

ىف ْوَأ . ٌلََِجيِه ىَدَََل َثيدَََحْلا ىلدََجلا ْوَأ , ىنوََطنفلا ىلدََجلا َجَهْنِمْلا

ْتَناَََ ك « َدََْنِع ىدقنلا َجَهْنِمْلا ىف ْو

َأ , تراكيد َدْنِع ىفرعملا ّكّشلا ُجَهْنِم

ّن

َأََِب َلِئاَقْلا ىأرََلل ِلََْعِفْلا ِةّدَرََِل ًةَََجيِتَن ُنوََُكَي ْنَأ للإ َكِلَذ ّلُك َوُدْعَي َل ,»

ُنِكْمُي ّمُث ْنِمَو , ىََسحلا ِكاَرْدِ ْلا ىَو ََِس َرََِخآ اَئي ََِش ْت َََسْيَل َةَََفِرْعَمْلا

ِلَنِخ ْنِم ُهوُرََِكْنُيَو َدوََُجُوْلا اوََُنُعْطَيَف ُةَدََِعاَقْلا ٍهِذَه اوّلِغَتْسَي ْن

َأ كاكشلل

ِنَع اًََعاَفِد ِةَََفِرْعَمْلا ِةّيِرَظَن ْنَع ُعاَفّدََلا َناَََ ك ّمُث ْنِمَو , ِةَََفِرْعَمْلا ِةّيِرَظَن

َنِم اَََعِباَن ُدوََُجُوْلا َرِبَتْعَي ْن

َأ ىَلِإ ُلِصَي َل هّنِكَلَو , ٌحيِحَص اَذَه ْمَعَن , ِدوُجُوْلا

ُدوََُجْوَم ُدوََُجُوْلا ْذِإ . اًََفوُرْعَم ْو

َأ اَكِرْدُم َناَك اَمِل للإ ٌدوُجُو َل هّنَأَو ِةَفِرْعَمْلا

ِتاَََقّنَعْلا َنِم ٌعْوَََن ِةَََفِرْعَمْلا ُةّيِلَمَعَو . ُهْكِرْدُن ْمَل ْم

َأ ُهاَنْكَرْدَأ ٍءاوَس ُتِباَثَو

اَمِب ِدوُجُوْلا َنْيَبَو , ِدوُجُوْلا َنِم ٌرُصْنُع َوُهَو ِفِراَعْلا ِناسْنِ ْلا َنْيَب ِةّيِدوُجُوْلا

. ٍتاَدوُجْوَم ْنِم هيِف

(17)

mewajibkan mereka untuk mengenali keber-ada-an untuk kemudian dianalisis dengan akal sehat, hal ini menjadikan mereka mengetahui eksistensi secara jelas. Kecendrungan mereka dalam pengetahuan telah mengeluarkan kita dari konsep utama kita. karena penalaran logis yang tertinggi-pun tidak memberikan eksistensi suatu hal, sebelum hal tersebut disimpulkan. Hal ini bertujuan meningkatkan kefahaman dan kepastian eksistensi sutau hal. Sangat memungkinkan jika idealisme disinergikan dengan persepsi sensorik dan persepsi mental, baik dalam pendekatan dialektis Platonis, dialektis Hegel25, metode skeptisism Descartes26,

ataupun mengunkan metode kritisism Kant27, semua itu tidak lebih adalah reaksi

dari pandangan bahwa pengetahuan bukanlah sebuah persepsi ahir. Oleh karena itu skeptisisme dapat memanfaatkan aturan ini menolaknya menggunakan teori pengetahuan untuk kemudian harus mempertahankan teori pengetahuan untuk membuktikan seatu keber-ada-an. “Ya” ini benar, akan tetapi hal ini tidak menghantarkan pada eksistensi pengetahuan sesungguhnya, akan tetapi disadari atau tidak, sesuatu itu ada dan merupakan objek dari sebuah keber-ada-an. dan proses pencarian pengetahuan merupakan bagian dari eksistensi manuasia.

, ِةَََفِرْعَمْلا ىَلِإ ِدوُجُوْلا ّدَرَت نَأ َةّيِلاَثِمْلا ِتْلَواَح اَمْهَم هّنَأ طحننل اَنّنِإَو

ُموََُقَي ِرْكِفْلا َنِم ُقِبْس

َأ َعِقاَوْلا ّنَِل ; َرُعْشَت ْنَأ َنوُد ِدوُجُوْلا َنِم َأَدْبَت اَهّنِإَف

َجِرْخَت ََْسَي َوََُهَو تراََكيد ّن

َأ َكََِلاَنُه اَََم ٌةَََياَغ . ٌدوََُجْوَم ُرّكَفُمْلاَو , ٍرّكَفُمِب

ُدوََُجْوَم َرََْيَغِب ْنّوَََ كُي َل َسْدَََحْلا اَذَََه ُسْفَن , ٍسْدَََحِب ِهِرََْكِف ْنِم ُهُدوََُجُو

اََنَأ ْنَذِإََف ًرَْكِف

َأ اََنَأ « ُهَََتَدِعاَق ُزّيَمُتَو ِحوُضُوِل ُنِماّضلا َسْيَلَأ ّمُث . ُسُدْحَي

ًةَروََُطْفَم ْوَأ ُهَََنْهِذ ىف ٌةَََمِئاَق ُةَرََُكَف , هَناَحْب ََُس ِهََللا ُدوُجُو َوُه » ٌدوُجْوَم

ىَلَع ا ًََساَسَأ اًََمِئاَق ِةَََفِرْعَمْلِل ىلدََجلا ًنوََُطنَفَأ ٌجَهْنِم َسْيَلَأ ّمُث ؟ هََيِف

25 Dialektika menurut Hegel adalah dua hal yang dipertentangkan lalu didamaikan, atau

biasa dikenal dengan tesis (pengiyaan), antitesis (pengingkaran)dan sintesis (kesatuan kontradiksi). Pengiyaan harus berupa konsep pengertian yang empiris indrawi. Pengertian yang terkandung di dalamnya berasal dari kata-kata sehari-hari, spontan, bukan reflektif, sehingga terkesan abstrak, umum, statis, dan konseptual. https://id.wikipedia.org/wiki/Georg_Wilhelm_Friedrich_Hegel dilihat pada 07 Desember 2015.

26 Sikap skeptis adalah sebuah pendirian di dalam epistemologi (filsafat pengetahuan)

yang menyangsikan kenyataan yang diketahui baik ciri-cirinya maupun eksistensinya. Para skeptikus sudah ada sejak zaman yunani kuno, tetapi di dalam filsafat modern, René Descartes adalah perintis sikap ini dalam metode ilmiah. Kesangsian descartes dalam metode kesangsiannya adalah sebuah sikap skeptis, tetapi skeptis-isme macam itu bersifat metodis, karena tujuan akhirnya adalah untuk mendapatkan kepastian yang tak tergoyangkan, yaitu: cogito atau subjectum sebagai onstansi akhir pengetahuan manusia.https://id.wikipedia.org/wiki/Skeptisisme, dilihat pada 07 Desember 2015.

27 Pelopor kritisisme adalah Immanuel Kant. Immanuel Kant (1724 – 1804) mengkritisi

(18)

اًيِواَسُم َةَفِرْعَمْلا ىف َجَهْنِمْلا اَذَه َلَعَج هّنَأ َكِلاَنُه اَم ّلُك ؟ ِدوُجُوْلِل ِهِتَرْظَن

اًََمامَت ٍةَََقَراَفُم ُةّيِلاَثِم ْوَأ ًةّيِلْقَع ِةَفِرْعَمْلا ُةَعيِبَط َلَعَج ىأ , َدوُجُوْلا ىف ُهَل

اَهّر ََِصُت ىتََلا َلََْثِمْلا ىف ٌةَكِرا َََشُم ُةَََفِرْعَمْلاَف «؟ ِلََْثِمْلا ِمَلاَََع ِةَََعيِبَطَك

» ًةّقَح ةنونيك

28

.

Kami mencatat bahwa dalam idealisme eksistensi segala sesuatu selalu bertolak pada pengetahuan, karena sebuah eksistensi tidak beawal dari perasaan; berbeda dengan Realisme merupakan dasar yang digunakan oleh banyak pemikir. Descartes adalah tokoh yang sangat berpengaruh yang meletakkan dasar-dasar ini, ia ingin mencari titik tolak yang lebih pasti bagi kebenaran. Yaitu dimulai dengan meragukan segala yang ada hingga sampai pada kesimpulan Aku Berfikir Maka Aku Ada29 hal ini merupakan bukti ke-Maha-ada-an Allah Swt., Pemikiran yang

berlandaskan pada batin atau fitrah manusia ? Kemudian bukankah pendekatan dialektis Plato pada pengetahuan didasarkan pada persepsi eksistensinya? Semua hal itu untuk membuat metode pengetahuan sama dengan eksistensinya dan membuat sifat pengetahuan rasional atau idealsme benar-benar berbeda dengan sifat dunia ideal? Pengetahuan yang berpartisipasi dalam ide-ide yang merupakn entitas yang benar.

ُةَََقِرْفَت َلَََعَج ِةَََفِرْعَمْلا ِنَع ُهََُتّيِرَظَن َعَضَي َوُهَو هُسْفَن ) ْتَناَك ( ّنِإ ّمُث

ىتلاو , اهتاذ ىف ِءاَي ْشَ ْلا َنْيَبَو اَهُفُرْعَنَو اَنَل ُرَهْظَت اَمَك ِءاَي ْشَ ْلا َنْيَب ٌةَحِضاَو

ُةّيِرَظَن ىه ِةَفِرْعَمْلِل ُةّيِرَظّنلا ِهِذَه ْتَسْيَل

َأ . اَهَفُرْعَن ْنَأ اَنوُرّدَقُم ىف َسْيَل

ِلامْعِت َْسِا َلَْبَق هّن

َأ َكَِلاَنُه اََم ّلُك ؟ عقاةلا ْوَأ ِدوُجُوْلِل ٍةّيِرَظَن ْنَع ٌةَرِداَص

ُكِرْدََُيَف – ُلََْقَعْلا – َةّيِفِرْعَمْلا ُةاَد ْلا ِهِذَََه ىَرْدََُي ْنَأ ىغبني ُهَََلَقَعِل ِءْرَََمْلا

ُعيِطَت ََْسَن اَََنّنِإَو . ه ََُسْفَن َعِقاَوْلا ْلَج

َأ ْنِم اَهُراَيْعِمَو اَهَتَمّيَقَو ِةَفِرْعَمْلا ُدودُح

ِنَع اَََنِنيِهاَرَب ْنِم ٍناَََهْرُب ّلََُ ك ّنِإ : ُلوُقَي ْذِإ » ْتَناَك « ٍءاَعّدِا ىَلَع ّدُرَن ْن

َأ

ّصاََخ ِناَهْرُب ّلُك ّنِإ «: ِلْوَقْلاِب , ِةَفِرْعَمْلاِب ٍةّصاَخ ُنيِهاَرَب ُنّمَضَتَي ِعِقاَوْلا

َكِئَلوُأ ّنَأ ُدََيِحَوْلا ُفَنِتْخِ ْلاَو . ِعِقاَوْلاََِب ا ََّصاخ اَََناَهْرُب ُنّم َََضَتَي ِةَََفِرْعَمْلاِب

َلَوَأ , ْمُهُتاَمِل ََْسُم ُةَحاَر َََص نوركذََيل ِةَََفِرْعَمْلا ِتاَََيَرْظَن َنوُسَرْدُي ًنيِذّلا

اًدّيَج َنوََُفَرْعُي ْمُهّنِإَََف ِعِقاَوْلا َةّيِرَظَن َنوُسَرْدُي ًنيِذّلا اّم

َأ , اّماَت اًيْعَو اَهَنوُعَي

وُدْبَيَو . ْمُهِت َنّم

َأَت ُقايِس ىف ًةَنّمَضَتُم ِجَهْنِمْلاِب َةّصاَخْلا ِتاَمِلْسُمْلا ُضْعَب ّنَأ

ىَلِإ ِرَََظّنلا ىَلِإ ِهََِتَعيِبَطِب ُعِزََْنَي ىناََسنلا َلََْقَعْلا ّنَأ – ًكََِلَذ ْنَع ّنَضَف –

ىكل ِةَََلِئاَمْلا ِةَيْؤّرلا َنِم ٍعْوَن ِريِث

ْأَتِب ِعِقاَوْلا ِنَع اَنَهابِتْنِا َدُعْبَن اَنّنِإَو .. ِعِقاَوْلا

»ِعِقاَوْلِل اَنِتَيْؤُر ِةَقيِرَط ىَلَع ُزّكَرُن

30

.

28 ص :فوسليفلا قيرط :لاف ناج . 67

.

29 Dalam dunia filsafat istilah ini dikenal dengan sebutan “Cogito Ergo Sum

30 ص :فوسليفلا قيرط :لاف ناج . 230

(19)

Kant merumuskan teori pengetahuan agar dapat membedakan dengan jelas antara berbagai hal seperti yang ia kemukakan kepada kita. Kita dapat mengetahui berbagai hal yang ada, hal ini tidak berati bahwa pengetahuan kita tidak ada batasannya, banyak hal diluar sana yang tidak bisa di jangkau oleh kapasitas pengetahuan kita. Bukankah teori ini adalah teori pengetahuan yang berasal teori eksistensialisme31 atau realitasme? Semua tentang itu sebelum menggunakan

pikiran seseorang harus mengetahui objek pengetahuan - pikiran - ia menyadari batas-batas pengetahuan serta nilai dan kriteria untuk realitas itu sendiri. Dan kita dapat menanggapi klaim bahwa mereka « Kant» mengatakan: Bukti dari semua pembuktian kita tentang realitas termasuk pembuktian khusus melalui pengetahuan, ia mengatakan: «Bukti dari semua pengetahuan khusus mencakup bukti khusus realitas. Satu-satunya hal yang membedakannya ialah karena mereka mempelajari teori-teori pengetahuan dengan tidak secara eksplistit menyebutkan ke-Islamannya, pertama mereka menyadari sepenuhnya, Bahkan, mereka tahu betul bahwa ada beberapa orang Muslim khusus membahas metode ini dalam konteks refleksi.32 Tampaknya, akal kemanusiaan kita cenderung pada realitas ini

dan kami berusaha menjauhkan perhatian kita pada realitas ini dengan memfokuskan pada padangan utama kita tentang realitas sesungguhnya .

ىف ًةَنّم َََضَتُم َةَََفِرْعَمْلا ءىدابم َلَعَج – ىلاثمك – ِهِسْفَن َلِجيِه ّنِإ ْلَب

ِ مَلاَََعْلا َنِم اَءْزََُج لََصلا ىف َةَََفِراَعْلا تاذََلا َرَبَتْعِاَََف , َدوََُجُوْلا ءىدابم

ْنَع َلّيَق ّمُث ْنِمَو , ٍمْلِع ّلََُ كَو ٍرََْ كِف ّلََُك ُسا َََس

ُأ ُةَََعِقاَوْلا ُةَبِرْجّتلا َلَعَجَو

َةَتْحَبْلا ُةّيِروّصلا ُضِفْرَيَو , ُةَصِلاَخْلا ُةّيِفِرْعَمْلا ُةّيِتالذلا َضِفْرَي هّنِإ «: ٍلِجيِه

ِةّيِعِقاَوْلا ِةّيِتالذلاِب ُك ََّسَمَتَيَو , ةََيتناكلا َةَف َََسْلَفْلا ىف ِتْلّثَمَت اَََم َوْحَن ىَلَع

» ِلْعِفْلاِب ىَراجْلا ِعِقاَوْلاِب ىويحلا ِطاَبِتْرِ ْلا ىَلَع ِةّيِنْبَمْلا

33

31 Eksistensialisme adalah aliran filsafat yang pahamnya berpusat pada manusiaindividu yang

bertanggung jawab atas kemauannya yang bebas tanpa memikirkan secara mendalam mana yang benar dan mana yang tidak benar. Sebenarnya bukannya tidak mengetahui mana yang benar dan mana yang tidak benar, tetapi seorang eksistensialis sadar bahwa kebenaran bersifat relatif, dan karenanya masing-masing individu bebas menentukan sesuatu yang menurutnya benar.Eksistensialisme adalah salah satu aliran besar dalam filsafat, khususnya tradisi filsafat Barat. Eksistensialisme mempersoalkan keber-Ada-an manusia, dan keber-keber-Ada-an itu dihadirkan lewat kebebasan. Pertanyaan utama yang berhubungan dengan eksistensialisme adalah melulu soal kebebasan. Apakah kebebasan itu? Bagaimanakah manusia yang bebas itu? Sesuai dengan doktrin utamanya yaitu kebebasan, eksistensialisme menolak mentah-mentah bentuk determinasi terhadap kebebasan kecuali kebebasan itu sendiri. https://id.wikipedia.org/wiki/Eksistensialisme, dilihat pada 07 Desember 2015.

32 Gerakan atau pantulan di luar kemauan (kesadaran) sebagai jawaban suatu hal atau

kegiatan yang datang dari luar, KBBI Elektronik.

33 ص :لجيه :ىديدلا . 167

(20)

Memang, Hegel34 sendiri – sperti halnya Idealisme - ia membuat

prinsip-prinsip pengetahuan ke dalam prinsip-prinsip-prinsip-prinsip eksistensi, menurutnya pengetahuan pada aslanya merupakan bagian dari dunia, oleh karena itu pengalaman dapat dijadikan sebagi dasar setiap pola pemikiran dan pengetahuan, ada yang mengatakan: Ia (Hegel) menolak pengetahuan murni dan juga menolak untuk memperdebatkannya, sebagaimana yang terdapat dalam filsafat Kantian35, dan ia

tetap berpegang pada realisme subjektivitas yang berdasarkan perubahan realitas eksternal.

, ىجراخلا ُدوُجُوْلا ْمُهَف ْلَجَأ ْنِم َةّيِلّوَ ْلا ىناعملا ىَلِإ َةَفِرْعَمْلا ْدُر ّنِإ

ءىداََبم ٍدوُجُوِب َمّلَسُي ْنَأ َناسْنِ ْلا عيطتسيل ْذِإ ِةّيِلاَثِمْلا ىَلَع ُباَعُي َل ّرَمَأ

ِرّكَذّتلا ِةّيِرَظَن ّلَََح ّنِكَلَو . ٍةَب َ

ََسَتْكُم ِةَََفِرْعَم ّلََُك اَََهيَلِإ ُعََِجْرَت , ٌةّيِلَوَأ

ىف ةزورََغم ٌةَََقوُلْخَم اَََهّنَأ ىَلَع , اَهَتادبَو ِراَكْفَ ْلا ِهِذَه ٍةّيِلّوَ ِل َةينوطنفلا

ِتي ََِسُن ْدَََق َسْفّنلا ّنَأَو , َةَدَلِوََْلا َلََْبَقَو ِنَدَََبْلاِب اَهِلا َََصّتِا َلََْبَق َسْفّنلا

ْنِم ِرّكَذّتلا ِةّيِلَمَعِب اهعاجرتََسلاب ُدوََُعَت ّمُث , ِنَدَََبْلاِب اَهِلا َََصّتِاِب اَََهِتاَموُلْعَم

ْدَََق ُسْفّنلا ْتَناََ ك ْنِإَو هّن

َأ َكََِلَذ . ٍقّفَوُم َرََْيَغ ىََسحلا ِمَلاَعْلا ِةَيْؤُر ِلَنِخ

َل اََهّنِإَف , ِةّداََمْلا ِمَلاََعِل ٍةََفِلاَخُم ٍةّيِبّيَغ ِةََعيِبَط ْنِم ىَهَو , ِنَدَبْلاِب ِتْلَصّتِا

ىلنَعُمِب . َةَََفِرْعَمْلا ىف ِهِرْوَد ِةَسَراَمُمِل ُناسْنِ ْلا اَذَهِل ٍةّدَعُم َنّوَكَت ّنَأ وُدْعَت

ُةَََفِرْعَمْلا َكََِلْمَي هّن

َأ َل , ِةَفِرْعَمْلا ىَلَع َداَدْعِتْسِْلاَو َةّوُقْلا َناسْنِْلا ىَدَل ّنَأ

ِءاَي ََْشَ ْلاِب َل ََِصّتَي ْنَأ َلََْبَقَو , ِهََِتَدَلِو َدََْنِع ىّتَح َلَو ْلَََب َل , ِهََِتَدَلِو َلََْبَق

ُةَف ََِص ُمْلِعْلا َنوََُ كَي ْنَأ ىَلِإ ًكََِلَذ ىّد

َأ للإَو . ِهِب َطيِحُمْلا َمَلاَعْلاَو ِةّيِجِراَخْلا

ًةَهاَدَبَو اًنيِقَي ُمَلْعَن ُنْحَنَو . ِلاوْحَ ْلا َنِم ٍلاحِب هْنَع ُلِصَفْنَت َل ِناسْنِ ْلِل ٌةّيِتاذ

ْدَََقَو اَََنُتاَموُلْعَم ىف َةّيِدوُدْحَمْلاَو َناَيْسّنلاَو ُزجعْلاَو ُلْهَجْلا انتافص ْنِم ّن

َأ

ْنِم ْمُكُجِرََْخ

ُأ ُهََللاَو هَناَحْب ََُس ًلاَقَف ِةَقيِقَحْلا ِهِذَه ىَلِإ هَناَحْبُس َهللا اَنَهّبُن

﴿

34 George Wilhelm Friedrich Hegel (1770-1831) adalah filsuf Jerman yang dikenal

sebagai pendiri idealisme modern. Pokok-pokok pemikirannya sangat beragam dan mempengaruhi banyak filsuf sesudahnya, mulai dari Karl Marx hingga mazhab Frankfurt dengan tokoh utama Theodor Adorno, Max Horkheimer dan Herbert Marcuse. Filsafat Hegel sering disebut sebagai puncak idealisme Jerman. Filsafatnya banyak di inspirasikan oleh Imanuel Kant dengan filsafat ilmunya ( filsafat dualisme),Kant melakukan pengkajian terhadap kebuntuan perseteruan antara

Empirisme dan Rasionalisme, keduanya bagi Kant terlalu ekstrem dalam mengklaim sumber pengetahuan. “Revolusi Kantian” kemudian berhasil menemukan jalan keluarnya. Hegel yang pada awalnya sangat terpengaruh oleh filsafat Kant tersebut kemudian menemukan jalan keluarnya melalui kontemplasi yang terus menerus. Ketertarikan Hegel sejak awal pada metafisika, meyakinkannya bahwa ada ketidak jelasan bagian dunia, bagi Bertrand Russell pemikirannya kemudian merupakan Intelektualisasi dari wawasan metafisika. https://landnotimf.wordpress.com/filsafat/ dilihat pada 07 Desembar 2015.

35 Kantianisme adalah falsafah Immanuel Kant, Kantianisme adalah pahaman di mana

Referensi

Dokumen terkait

Setelah mengamati semua sampel, berikan penilaian dari yang paling tidak anda sukai (=1) hingga sampel yang sangat anda sukai (=3), dari segi warna pada sampel tersebut... Amati

Bila sebuah LDR dibawa dari suatu ruangan dengan level kekuatan cahaya tertentu ke dalam suatu ruangan yang gelap, maka bisa kita amati bahwa nilai

a. Jika kita perhatikan dari segi latar belakang kekeluargaan, sebenarnya Muhammadsaw itu berasal dari kalangan keluarga yang tidak mempertuhankan Allah Swt, namun karena

yang bermakna bukan, jadi kata sabil pada konteks ayat di atas bermakna yang tidak baik, yakni bukan jalan orang mukmin, pada akhir ayat dijelaskan bahwa jalan

Penelitian ini menemukan bahwa dari segi esteika nyanyain Anak Balam dalam konteks perdukunan berbeda dengan nyanyian Anak Balam dalam konteks seni pertunjukan

Seandainya kita telah menemukan masalah yang akan diteliti, maka pertama-tama kita harus menjelaskan mengapa masalah tersebut layak untuk diteliti, dilihat dari segi ilmiah dan

Menurut Peterson & Seligman 2004 Pandangan lain memandang kecintaan belajar tersebut berbeda dalam konteks apa seseorang merasa tertarik, setiap individu memiliki ketertaikan yang

Adapun sebab turunnya ayat tersebut dilihat dari segi makro, dalam konteks situasi, disaat nabi Ibrahim a.s berdoa kepada Allah SWT dengan maksud yakni menjadikan wilayah kota Mekkah