PENERAPAN METODE INKUIRI TERHADAP PENGUA

11  Download (0)

Teks penuh

(1)

PROSIDING ISSN:

Makalah dipresentasikan dalam Seminar Nasional Matematika dan Statistika dengan tema Penguatan Peran Matematika dan Statistika Dalam Percepatan Pembangunan Nasional " pada tanggal 27 Februari 2014 di Jurusan Matematika FMIPA Universitas Tanjungpura.

PENERAPAN METODE INKUIRI TERHADAP PENGUASAN

KONSEP DITINJAU DARI SIKAP ILMIAH MAHASISWA

PADA MATERI OPTIKA FISIS

Wahyudi1, Lia Angraeni

Prodi Pendidikan Fisika STKIP-PGRI Pontianak

1

Email: wahyudi.kakap@gmail.com

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk menerapkan metode pembelajaran inkuiri pada materi optika fisis ditinjau dari sikap ilmiah mahasiswa. Metode yang digunakan adalah metode eksperimen semu dengan desain faktorial 2x2. Sampel penelitian berjumlah dua kelas yang dipilih dari populasi yang berjumlah tiga kelas dengan teknik cluster random sampling. Alat pengumpul data terdiri dari soal tes penguasaan konsep optika fisis dan angket sikap ilmiah mahasiswa. Analisis data

post test penguasaan konsep optika fisis diawali dengan uji prasyarat analisis berupa uji normalitas menggunakan uji Kolmogorov-Smirnov dan uji homogenitas data menggunakan uji Levene. Uji perbedaan dua rerata yang digunakan adalah uji

Kruskal Wallis k-independent sampel berbantu Program SPSS versi 16.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa penguasaan konsep mahasiswa yang memperoleh pembelajaran dengan metode inkuiri lebih tinggi secara signifikan dibandingkan penguasaan konsep mahasiswa yang memperoleh pembelajaran konvensional. Penguasaan konsep mahasiswa yang memiliki sikap ilmiah tinggi lebih baik daipada penguasaan konsep mahasiswa yang memiliki sikap ilmiah yang rendah namun, penguasaan konsep berdasarkan sikap ilmiah tinggi dan rendah tidak berbeda secara signifikan. Terdapat interaksi antara penerapan metode pembelajaran dengan sikap ilmiah mahasiswa.

Kata Kunci: Metode Inkuiri, Penguasaan Konsep, Sikap Ilmiah, Optika Fisis

PENDAHULUAN

Sebagai salah satu cabang sains, fisika merupakan ilmu dasar yang mempelajari struktur materi dan interaksinya untuk memahami sistem alam dan sistem buatan/rekayasa. Fisika sebagai ilmu dasar dimanfaatkan untuk memahami ilmu terapan sebagai landasan

pengembangan teknologi Subrata (2007) menyatakan bahwa “Tujuan belajar fisika adalah untuk

memberikan pengetahuan dan pemahaman terhadap penerapan konsep-konsep fisika dan metode ilmiah yang melibatkan keterampilan proses untuk memecahkan berbagai permasalahan dalam kehidupan sehari-hari”. Dengan kata lain, tujuan belajar adalah untuk memberikan pengetahuan dan pemahaman terhadap konsep-konsep fisika, menerapkannya untuk memecahkan berbagai permasalahan dalam kehidupan sehari-hari serta dapat mengkomunikasikannya dengan baik di masyarakat dan dunia kerja.

(2)

PROSIDING ISSN:

Seminar Nasional Matematika dan Statistika FMIPA UNTAN Pontianak, 27 Februari 2014

2

diterapkan masih didasarkan pada asumsi bahwa pengetahuan dapat dipindahkan secara utuh dari pikiran dosen ke pikiran mahasiswa; (3) dalam sistem evaluasi, dosen hanya terpaku pada penilaian dari hasil Ujian Tengah Semester (UTS), hasil Ujian Akhir Semester (UAS), dan nilai tugas, masing-masing dengan bobot sesuai dengan yang telah disepakati; (4) kuis dengan feedback terstruktur belum pernah dilaksanakan dalam perkuliahan fisika; (5) mahasiswa yang mengikuti perkuliahan Fisika keadaannya sangat heterogen. Mereka berbeda dalam hal bakat, kemampuan awal, kecerdasan, motivasi, kecepatan belajar dan dalam hal lainnya.

Menurut Santyasa (2007), “Untuk meningkatkan kualitas proses dan hasil belajar, para

ahli pembelajaran telah menyarankan penggunaan paradigma pembelajaran konstruktivistik untuk kegiatan belajar-mengajar di kelas”. Dengan perubahan paradigma belajar tersebut terjadi perubahan pusat (fokus) pembelajaran dari belajar berpusat pada dosen kepada belajar berpusat pada mahasiswa. Dengan kata lain, ketika mengajar di kelas, dosen harus berupaya menciptakan kondisi lingkungan belajar yang dapat membelajarkan mahasiswa, dapat mendorong mahasiswa belajar, atau memberi kesempatan kepada mahasiswa untuk berperan aktif mengkonstruksi konsep-konsep yang dipelajarinya. Kondisi belajar yang membuat mahasiswa hanya menerima materi dari pengajar, mencatat, dan menghafalkannya harus diubah menjadi sharing pengetahuan, mencari (inkuiri), menemukan pengetahuan secara aktif sehingga terjadi peningkatan pemahaman bukan ingatan.

Ada beberapa model pembelajaran yang berlandaskan paradigma konstruktivisme, di antaranya model PBL (Problem Based Learning), CTL (Contextual Teaching And Learning), model inquiry training, model pembelajaran perubahan konseptual, dan model group investigation. “Namun model pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik materi dan kondisi atau karakter mahasiswa di kelas-lah yang akan memberikan sumbangan lebih besar pada

perkembangan belajar mahasiswa” (Santyasa, 2007). Oleh karena materi optik bersifat konkrit

dan berkaitan erat dengan kehidupan sehari-hari mahasiswa, serta keadaan mahasiswa yang heterogen, maka dalam penelitian ini menggunakan model pembelajaran berbasis masalah dengan pendekatan inkuiri.

Pendekatan inkuiri yang digunakan dalam penelitian yang akan dilakukan ini diharapkan dapat membantu mahasiswa meningkatkan penguasaan konsep fisikanya. Selain itu, pendekatan inkuiri juga diharapkan dapat mengembangkan keterampilan berpikir intelektual dan keterampilan lainnya seperti mengajukan pertanyaan dan keterampilan menemukan jawaban yang berawal dari keingintahuan mereka. Dengan demikian mereka akan terbiasa seperti ilmuwan sains yang teliti, tekun, objektif, menghormati pendapat orang lain dan kreatif (Joyce, B.et.al, 2000).

Metode inkuiri merupakan metode yang mengutamakan keterlibatan peserta didik secara aktif dan kreatif dalam mencari, memerikasa, merumuskan konsep dan prinsip fisika serta mendorong siswa mengembangkan intelektual dan ketramapilan dalam memecahkan masalah. Di dalam metode inkuiri pembelajaran terpusat pada peserta didik, sehingga peserta didik diharapkan aktif mengikuti proses pembelajaran. Menurut Sanjaya (2009:197), tujuan utama dari strategi inkuiri adalah pengembangan kemampuan berfikir yang berorientasi pada proses belajar. Kriteria keberhasilan dari proses pembelajaran dengan menggunakan metode inkuiri bukan ditentukan oleh penguasaan materi tapi sejauh mana peserta didik berktivitas mencari dan menemukan sesuatu. Metode inkuiri menekankan pada pengembangan aspek kognitif, afektif dan psikomotorik secara seimbang sehingga melalui metode ini pembelajaran lebih bermakna. Dalam kitannya dengan perkuliahan optik, mahasiswa diarahkan untuk merumuskan suatu hipotesis, melakukan percobaan yang berkaitan dengan materi optika serta membuat kesimpulan untuk menjawab hipotesis tersebut.

(3)

PROSIDING ISSN:

Seminar Nasional Matematika dan Statistika FMIPA UNTAN Pontianak, 27 Februari 2014

3

sikap ilmiah yang tinggi akan memiliki kelancaran dalam berfikir sehingga mereka akan termotivasi untuk selalu berprestasi dan memiliki komitmen yang kuat untuk mencapai keberhasilan dalam belajar. Dalam mempelajari materi optika yang disajikan dengan menggunakan metode inkuiri, sikap ilmiah sangat berpengaruh dalam proses pembelajaran tersebut. Hal ini berkenaan bagaimana mahasiswa melakukan ekperimen atau percobaan dengan prosedur ilmiah dan menuntut sikap ilmiah mahasiswa tersebut. Kasus yang sering terjadi pada saat mahasiswa melakukan percobaan adalah adanya beberapa mahsiswa yang masih cenderung ketergantungan terhadap asisten, kurangnya sikap kritis mahasiswa dan adanya manipulasi data percobaan. Tentu sikap-sikap seperti ini tidak diharapkan timbul dalam pembelajaran di laboratorium. Sehingga dalam menyajikan pembelajaran sikap ilmiah perlu menjadi sebuah tinjauan.

Berdasarkan uraian yang dikemukakan di atas, penelitian dengan menerapakan metode inkuiri yang dapat meningkatkan penguasaan konsep mahasiswa menjadi rasional untuk dilakukan dengan memperhatikan sikap ilmiah mahasiswa sehingga prestasi belajar siswa dalam kuliah optik menjadi lebih baik. Permasalahan utama dalam penelitian ini adalah apakah penggunaan metode pembelajaran inkuiri dapat lebih meningkatkan penguasaan konsep mahasiswa dibandingkan penggunaan model pembelajaran konvensional ditinjau dari sikap ilmiah mahasiswa. Tujuan penelitian untuk mengetahui perbandingan penguasaan konsep mahasiswa yang diberi pembelajaran dengan metode inkuiri dan konvensional, mengetahui penguasaan konsep mahasiswa yang memiliki sikap ilmiah tinggi dan rendah serta mengetahui interaksi antara penerapan metode pembelajaran dengan sikap ilmiah mahasiswa.

METODE

Penelitian ini termasuk penelitian eksperimen semu dengan desain faktorial 2x2. Analisis data dilakukan untuk mendapatkan gambaran peningkatan penguasaaan konsep ditinjau dari sikap ilmiah. Dalam penelitian ini subjek diberikan perlakukan selanjutnya diukur akibat dari perlakukan tersebut. Dalam metode eksperimen, peneliti bebas menentukan rancangan eksperimennya (Arikunto, 2006). Penelitian ini menggunakan desain faktorial seperti pada Tabel 1 berikut ini.

Tabel 1. Desain Faktorial Penelitian

Metode Pembelajaran

Metode Inkuiri (A1) Konvensional (A2) Sikap Ilmiah Tinggi (B1) A1B1 A2B1

Rendah (B2) A1B2 A2B2

Tabel 1 merupakan desain faktorial penelitian untuk melihat pengaruh dan interaksi metode pembelajaran, sikap ilmiah terhadap penguasaan konsep mahasiswa pada materi optika fisis. Metode pembelajaran yang dibandingkan yakni metode inkuiri (A1) dan konvensional (A2). Sikap ilmiah mahasiswa dikategorikan menjadi tinggi (B1) dan rendah (B2).

Sampel penelitian ini adalah mahasiswa Program Studi Pendidikan Fisika STKIP PGRI Pontianak yang sedang mengikuti perkuliahan optika. Sampel dipilih 2 kelas dari populasi tiga kelas dengan teknik cluster random sampling (Suparno, 2007). Jumlah sampel yang dilibatkan dalam penelitian ini adalah 65 orang yang terdiri atas 31 orang kelas eksperimen dan 34 orang kelas kontrol.

Terdapat dua jenis instrumen yang digunakan untuk mengambil data penelitian yaitu; 1) tes penguasaan konsep optika fisis berbentuk multiple choice (pilihan ganda) berjumlah 20 soal yang dilaksanakan pada tes akhir, dan 2) angket sikap ilmiah yang berjumlah 35 soal untuk mengkategorikan mahasiswa yang memiliki sikap ilmiah tinggi dan rendah.

(4)

PROSIDING ISSN:

Seminar Nasional Matematika dan Statistika FMIPA UNTAN Pontianak, 27 Februari 2014

4

daya pembeda, dan reliabilitas instrumen. Uji validitas soal penelitian dilakukan dengan menggunakan rumus korelasi product moment (Arifin, 2009). Tingkat kesukaran, daya pembeda dan reliabilitas soal dianalisis menggunakan persamaan yang dikemukakan oleh Arikunto (2006). Soal yang digunakan dalam penelitian memiliki kriteria valid dengan reliabilitas yang tinggi.

Sebelum mengetahui perbedaan hasil belajar mahasiswa yang diberi pembelajaran dengan metode inkuiri dan metode pembelajaran konvensional, terlebih dahulu dilakukan uji kemampuan awal mahasiswa pada kelas eksperimen dan kelas kontrol. Jika kemampuan awal mahasiswa di kedua kelas sama, maka rancangan penelitian tidak menggunakan desain pretest-posttes namun cukup menggunakan desain posttest-only. Kemampuan awal yang sama juga berdampak pada hasil perlakuan yang menggambarkan adanya perbedaan hasil belajar hanya disebabkan adanya perbedaan perlakuan dalam menerapkan metode pembelajaran. Data kemampuan awal diambil dari ujian kompetensi matakuliah optika sebelum materi optika fisis yang menjadi bahan dalam penelitian ini. Hasil uji kemampuan awal mahasiswa pada kelas eksperimen dan kelas kontrol dapat dilihat pada Tabel 2 di bawah ini.

Tabel 2. Hasil Uji Kemampuan Awal Mahasiswa

Statistics Value

df 54,000

T stat 0,2253 P(T<=t) two tail 0,8226 T critical two tail 2,0049

Berdasarkan Tabel 2, diketahui bahwa nilai p-value sebesar 0,8226 dan lebih besar dari taraf signifikansi penelitian yakni 0,05. Hal tersebut menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan rata-rata kemampuan awal mahasiswa antara kelas eksperimen dan kelas kontrol sebelum diberikan perlakuan pada kedua kelas. Dengan demikian, rancangan penelitian yang digunakan untuk melihat efek penerapan metode pembelajaran terhadap penguasaan konsep dalam penelitian ini menggunakan posttest-only control design.

Pengolahan data penelitian diawali dengan uji prasyarat analisis berupa uji normalitas dan uji homogenitas data. Uji normalitas bertujuan untuk mengetahui apakah data yang diambil berasal dari populasi yang berdistribusi normal atau tidak normal. Uji ini dilakukan dengan menggunakan program SPSS versi 16 dengan pilihan tes uji yang digunakan yaitu Kolmogorov-Smirnov. Sedangkan uji homogenitas data dilakukan untuk mengetahui apakah kedua kelompok data bersifat homogen atau tidak homogen. Uji homogenitas menggunakan uji Levene yang juga diolah menggunakan progran SPSS versi 16.

Pengujian tingkat signifikansi perbedaan rerata penguasaan konsep antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol dilakukan secara statistik. Hasil uji prasyarat analisis menunjukkan terdapat data yang tidak berdistribusi normal atau homogen sehingga statistik yang digunakan adalah statistik non-parametrik dan uji perbedaan dua rerata yang digunakan adalah uji Kruskal Wallis k-independent sampel. Uji perbedaan dua rerata dilakukan menggunakan program SPSS versi 16.

PEMBAHASAN

(5)

PROSIDING ISSN:

Seminar Nasional Matematika dan Statistika FMIPA UNTAN Pontianak, 27 Februari 2014

5 Deskripsi Penguasaan Konsep mahasiswa pada Materi Optika Fisis

Data perolehan nilai penguasaan konsep mahasiswa pada materi optika fisis pada kelas eksperimen dan kelas kontrol disajikan pada Tabel 3.

Tabel 3. Deksripsi Nilai Penguasaan Konsep Optika Fisis

Kelas Eksperimen Kelas Kontrol

Jumlah (N) 28,00 28,00 Nilai Maks 90,50 76,80 Nilai Min 70,23 52,95 Rerata Nilai 80,71 66,46 Standar Deviasi 7,11 6,71

Berdasarkan Tabel 3, dapat diketahui bahwa nilai rerata penguasaan konsep optika fisis mahasiswa pada kelas eksperimen sebesar 80,71 sementara nilai rerata penguasaan konsep optika fisis mahasiswa pada kelas kontrol sebesar 66,46. Hal ini menunjukkan bahwa nilai rerata penguasaan konsep optika fisis mahasiswa pada kelas eksperimen lebih tinggi daripada nilai rerata penguasaan konsep optika fisis mahasiswa pada kelas kontrol. Nilai maksimum penguasaan konsep optika fisis mahasiswa di kelas eksperiment (90,50) lebih tinggi daripada nilai maksimum penguasaan konsep optika fisis di kelas kontrol (76,80). Dilihat dari standar deviasi, standar deviasi data penguasaan konsep mahasiswa pada kelas eksperimen (7,11) tidak jauh berbeda daripada standar deviasi data penguasaan konsep mahasiswa pada kelas kontrol (6,71). Hal tersebut menunjukkan bahwa sebaran data penguasaan para mahasiswa di kelas eksperimen sama homogennya dengan sebaran data penguasaan konsep para mahasiswa di kelas kontrol.

Deskripsi Tingkat Sikap Ilmiah Mahasiswa

Data perolehan skor sikap ilmiah mahasiswa mahasiswa pada kelas eksperimen dan kelas kontrol diambil sebelum perlakukan diberikan. Indikator sikap ilmiah mahasiswa meliputi; teliti, jujur, disiplin, menghargai pendapat orang lain, menyampaikan pendapat/ide, sikap ingin tahu, dapat bekerja sama, kritis dan bertanggungjawab. Deskripsi data skor sikap ilmiah mahasiswa disajikan pada Tabel 4.

Tabel 4. Deksripsi Data Skor Sikap Ilmiah Mahasiswa

Kelas Eksperimen Kelas Kontrol

Jumlah (N) 28,00 28,00 Skor Maks 107,00 90,00 Skor Min 77,00 65,00 Rerata Skor 93,14 79,93 Standar Deviasi 8,28 9,11

(6)

PROSIDING ISSN:

Seminar Nasional Matematika dan Statistika FMIPA UNTAN Pontianak, 27 Februari 2014

6 Gambar 1. Jumlah Mahasiswa berdasarkan Kategori Sikap Ilmiah

Pada Gambar 1, dapat diketahui bahwa persentase mahasiswa yang memiliki sikap ilmiah tinggi pada kelas eksperimen (60,71%) lebih besar daripada persentase mahasiswa yang memiliki sikap ilmiah tinggi pada kelas kontrol (53,57%). Jumlah mahasiswa yang memiliki sikap ilmiah rendah pada kelas eksperimen sebanyak 11 (39,29%) mahasiswa dan jumlah mahasiswa yang memiliki sikap ilmiah rendah pada kelas kontrol sebanyak 13 (46,43%) mahasiswa. Terdapat 32 (57,14%) mahasiswa yang memiliki sikap ilmiah tinggi dari total seluruh mahasiswa (56) yang dijadikan sampel penelitian.

Deskripsi Penguasaan Konsep Optika Fisis Berdasarkan Sikap Ilmiah

Data penguasaan konsep mahasiswa ditinjau dari kategori sikap ilmiah mahasiswa tinggi dan rendah disajikan pada Tabel 5.

Tabel 5. Deksripsi Penguasaan Konsep Berdasarkan Sikap Ilmiah

Sikap Ilmiah Tinggi Sikap Ilmiah Rendah

Jumlah (N) 32 24

Skor Maks 90,50 76,87 Skor Min 52,92 55,06 Rerata Skor 74,79 71,97 Standar Deviasi 0,12 4,60

(7)

PROSIDING ISSN:

Seminar Nasional Matematika dan Statistika FMIPA UNTAN Pontianak, 27 Februari 2014

7 Hasil Uji Prasyarat Analisis

Uji prasyarat analisis terdiri dari uji normalitas dan uji homogenitas data. Uji prasyarat analisis dilakukan untuk menentukan jenis statistik uji komparatif yang akan digunakan. Statistik parametrik digunakan dalam uji komparatif jika data berdistribusi normal dan homogen, namun jika data tidak berdistribusi normal atau tidak homogen maka statistik yang digunakan dalam uji komparatif adalah statistik non parametrik. Data yang akan diuji secara statistik adalah data penguasaan konsep mahasiswa ditinjau dari sikap ilmiah pada kelas kontrol dan kelas eksperimen.

Uji normalitas dilakukan untuk mengetahui apakah sampel berasal dari populasi yang berdistribusi normal atau tidak berdistribusi normal. Uji normalitas data yang digunakan dalam penelitian ini adalah uji Kolmogorof-Smirnov dengan menggunakan program SPSS versi 16. Data variabel terikat yakni data penguasaan konsep dimasukkan ke dalam dependen list

kemudian data variabel bebas (metode pembelajaran) dan variabel moderator (sikap ilmiah) dimasukkan ke dalam factor list. Jika nilai probabilitas atau nilai signifikansi data perhitungan lebih besar dari 0,05 (Sig.>0,05) maka data-data tersebut berasal dari populasi yang berdistribusi normal, sebaliknya nilai probabilitas atau nilai signifikansi data perhitungan jika lebih kecil dari 0,05 (Sig.<0,05) maka data-data tersebut berasal dari populasi yang tidak berdistribusi normal. Rangkuman hasil uji normalitas data penguasaan konsep berdasarkan metode pembelajaran dan sikap ilmiah yang hitung dengan uji Kolmogorov-Smirnov disajikan pada Tabel 6 dan Tabel 7.

Tabel 6. Hasil Uji Normalitas Data Penelitian Berdasarkan Kelas Penelitian

Variabel Terikat Kelas Penelitian Kolmogorov-Smirnov

Statistic df Sig.

Penguasaan Konsep Eksperimen 0,205 28 0,004 Kontrol 0,266 28 0,000 Catatan: Taraf signifikansi penelitian () = 5% (0,05)

Tabel 7. Hasil Uji Normalitas Data Penelitian Berdasarkan Sikap Ilmiah

Variabel Terikat Sikap Ilmiah Kolmogorov-Smirnov

Statistic df Sig.

Penguasaan Konsep Tinggi 0,168 32 0,023 Rendah 0,243 24 0,001 Catatan: Taraf signifikansi penelitian () = 5% (0,05)

Berdasarkan hasil uji normalitas data (uji Kolmogorov-Smirnov) menggunakan SPSS versi 16 yang terlihat pada Tabel 6 dan Tabel 7, dapat diketahui bahwa nilai signifikansi data menunjukkan semua kelompok data tidak terdistribusi normal. Hal ini dapat diketahui dari nilai signifikansi (sig) hasil perhitungan pada tabel. Signifikansi perhitungan seluruh kelompok data baik berdasarkan pengelompokan kelas penelitian (Tabel 6) dan berdasarkan sikap ilmiah (Tabel 7) semuanya kurang dari taraf signifiknasi 5% (sig.< 0,05). Hal tersebut menunjukkan bahwa data tidak berdistribusi normal.

(8)

PROSIDING ISSN:

Seminar Nasional Matematika dan Statistika FMIPA UNTAN Pontianak, 27 Februari 2014

8

(Sig.<0,05) maka data tidak homogen. Rangkuman hasil uji normalitas data dengan Levene test disajikan pada Tabel 8.

Tabel 8. Hasil Uji Homogenitas Data Penelitian Factor List

(Independent Variabel) Dependen List

Levene Test

Statistic df1 df2 Sig.

Kelas Penelitian Penguasaan Konsep 0,418 1 54 0,521 Sikap Ilmiah Penguasaan Konsep 34,465 1 54 0,000 Catatan: Taraf signifikansi penelitian () = 5% (0,05)

Berdasarkan hasil uji homogenitas data (uji Levene) menggunakan SPSS versi 16 yang terlihat pada Tabel 8, dapat diketahui bahwa nilai signifikansi data menunjukkan terdapat beberapa kelompok data yang homogen namun ada juga kelompok data yang tidak homogen. Hal ini dapat diketahui dari nilai signifikansi (sig) hasil perhitungan pada tabel. Kelompok data yang homogen berdasarkan Tabel 7 yaitu data penguasaan konsep berdasarkan kelompok kelas penelitian. Hal ini dapat diketahui dari nilai signifikansi data-data tersebut (data pada kolom terakhir baris ketiga) yang memiliki nilai signifikansi perhitungan (sig) lebih besar (0,521) dari taraf signifikansi penelitian () yang digunakan yaitu 0,05. Sementara berdasarkan sikap ilmiah (tinggi dan rendah), data penguasaan konsep tidak bersifat homogen. Hal tersebut dikarenakan signifikansi empiris (0,000) pada kolom terakhir baris keempat, lebih kecil dari taraf signifikansi penelitian () yang digunakan yaitu 0,05.

Ulasan Hasil Uji Komparatif (Uji Hipotesis)

Uji prasyarat analisis menunjukkan bahwa sebagian besar data penelitian tidak berdistribus normal dan homogen, sehingga uji komparatif antar kelompok data dalam penelitian ini menggunakan statistik non parametrik yaitu uji Kruskal-Wallis t-independent sampel. Uji komparatif dilakukan dengan bantuan program SPSS versi 16. Sebelum dilakukan uji komparatif, maka terleibh dahulu dipaparkan hipotesis penelitian untuk memberikan jawaban sementara dari rumusan masalah penelitian.

a. Hipotesis Pertama

H0: tidak terdapat perbedaan penguasaan konsep mahasiswa yang mendapatkan

pembelajaran dengan metode inkuiri dengan penguasaan konsep mahasiswa yang mendapatkan pembelajaran dengan model konvensional.

Ha: terdapat perbedaan penguasaan konsep mahasiswa yang mendapatkan pembelajaran

dengan metode inkuiri dengan penguasaan konsep mahasiswa yang mendapatkan pembelajaran dengan model konvensional.

b. Hipotesis Kedua

H0: tidak terdapat perbedaan penguasaan konsep mahasiswa yang memiliki sikap ilmiah

tinggi dan sikap ilmiah rendah.

Ha: terdapat perbedaan penguasaan konsep mahasiswa yang memiliki sikap ilmiah tinggi

dan sikap ilmiah rendah. c. Hipotesis Ketiga

H0: tidak terdapat interaksi antara model pembelajaran dengan sikap ilmiah mahasiswa

tehadap penguasaan konsep mahasiswa

Ha: terdapat interaksi antara model pembelajaran dengan sikap ilmiah mahasiswa tehadap

penguasaan konsep mahasiswa

Uji komparatif antar kelompok data dilakukan dengan menggunakan uji Kruskal-Wallis k-independet sampel dengan bantuan program SPSS versi 16. Hipotesisi nol (H0) diterima jika

nilai signifikansi perhitungan (sig.) lebih besar dari taraf signifikansi penelitian yang digunakan yaitu =5% (0,05). Namun, hipotesisi nol (H0) ditolak dan hipotesis alternatif (Ha) diterima jika

(9)

PROSIDING ISSN:

Seminar Nasional Matematika dan Statistika FMIPA UNTAN Pontianak, 27 Februari 2014

9

yaitu =5% (0,05). Rangkuman hasil uji hipotesis penelitian menggunakan uji Kruskal-Wallis dapat dilihat pada Tabel 9.

Tabel 9. Ringkasan Hasil Uji Komparatif (Uji Hipotesis)

Hipotesis Kruskal Wallis

Chi-Square df Asym Sig.

Hipotesis Pertama 34,416 1 0,000 Hipotesis Kedua 0,860 1 0,534 Hipotesis Ketiga 39,223 3 0,000 Catatan: Taraf signifikansi penelitian () = 5% (0,05)

Berdasarkan rangkuman hasil uji hipotesis pada Tabel 9, diketahui bahwa nilai signifikansi perhitungan data (Asym sig.) untuk hipotesis pertama dan ketiga lebih kecil daripada taraf signifikansi 5% (0.05), sehingga Hipotesisi nol ditolak dan hipotesisi alternatif diterima. Sedangkan pada hipotesis kedua, nilai signifikansi perhitungan data (Asym sig.) lebih besar daripada taraf signifikansi 5% (0.05), sehingga Hipotesisi nol diterima dan hipotesis alternatif ditolak. Sehingga dapat disimpilkan sebagai berikut:

a. Terdapat perbedaan secara signifikan antara penguasaan konsep mahasiswa yang mendapatkan pembelajaran dengan metode inkuiri dengan penguasaan konsep mahasiswa yang mendapatkan pembelajaran dengan model konvensional.

b. Tidak terdapat perbedaan secara signifikan antara penguasaan konsep mahasiswa yang memiliki sikap ilmiah tinggi dengan sikap ilmiah rendah.

c. Terdapat interaksi antara model pembelajaran dengan sikap ilmiah mahasiswa

Berdasarkan hasil uji komparatif, pada hipotesis pertama diketahui bahwa terdapat perbedaan penguasaan konsep mahasiswa secara signifikan yang mendapatkan pembelajaran dengan metode inkuiri dengan penguasaan konsep mahasiswa yang mendapatkan pembelajaran dengan model konvensional. Jika dilihat dari nilai rerata penguasaan konsep pada Tabel 3, maka dapat disimpulkan bahwa penguasaan konsep mahasiswa yang mendapatkan pembelajaran dengan metode inkuiri lebih baik dibandingkan dengan penguasaan konsep mahasiswa yang mendapatkan pembelajaran dengan model konvensional.

Penguasaan konsep mahasiswa lebih yang baik setelah diberikan pembelajaran dengan metode inkuiri merupakan dampak dari kelebihan-kelebihan penerapan metode inkuiri. Barlow dalam Muhibbin (2005) menyatakan bahwa pembelajaran berbasis inkuiri lebih menekankan pada proses penggunaan intelektual peserta didik dalam memperoleh pengetahuan dengan cara menemukan dan mengorganisasikan konsep-konsep dan prinsip-prinsip ke dalam sebuah tatanan penting menurut peserta didik. Jadi, dapat dikatakan dalam proses inkuiri mahasiswa berusaha menemukan pengetahuan berupa konsep dalam materi pembelajaran dengan menggunakan intelektual mereka sehingga pembelajaran lebih berkesan bagi mahasiswa dan bertahan lama dalam ingatan. Sehingga hal tersebut menjadikan mahasiswa lebih dapat memahami materi pelajaran khsusnya materi optika dan menjadikan penguasaan konsep mahasiswa pada materi optik fisis menjadi lebih baik. Hasil penelitian ini juga ditemukan oleh Nurhayati (2011), yang menunjukkan bahwa penerapan metode inkuiri dapat meningkatkan hasil belajar mahasiswa pada materi optik.

Selain penggunaan metode pembelajaran, hal lain yang bisa mempengaruhi hasil belajar mahasiswa adalah sikap ilmiah. Menurut Baharuddin dalam Ulum (2007:1), ”Sikap ilmiah pada dasarnya adalah sikap yang diperlihatkan oleh para Ilmuwan saat mereka melakukan kegiatan

sebagai seorang ilmuwan”. Dengan kata lain, sikap ilmiah merupakan kecendrungan individu

(10)

PROSIDING ISSN:

Seminar Nasional Matematika dan Statistika FMIPA UNTAN Pontianak, 27 Februari 2014

10

mahasiswa yang memiliki sikap ilmiah rendah (Tabel 5), namun hasil hasil tersebut tidak berbeda secara signifikan. Hal tersebut dapat dilihat dari uji komparatif pada Tabel 9.

Hasil penelitian ini juga menunjukkan adanya interaksi antara kelas pembelajaran (metode inkuiri dan metode konvensional) dengan sikap ilmiah mahasiswa (tinggi dan rendah) terhadap penguasaan konsep mahasiswa pada materi optik fisis. Untuk dapat memahami interaksi tersebut maka dilakukan analisis lanjutan dengan mendeskripsikan grafik pada Gambar 2.

Gambar 2. Grafik interaksi antara kelas penelitian dengan sikap ilmiah terhadap penguasaan konsep mahasiswa pada materi optik fisis

Pada Gambar 2, dapat dilihat bahwa nilai rerata marginal penguasaan konsep optika fisis mahasiswa pada kelas eksperimen secara umum lebih tinggi daripada rerata marginal penguasaan konsep optika fisis mahasiswa pada kelas kontrol. Hal ini menunjukkan bahwa pembelajaran dengan menggunakan metode inkuiri dapat meningkatkan penguasaan konsep dibandingkan dengan metode konvensional (ceramah). Jika ditinjau dari sikap ilmiah, penguasaan konsep mahasiswa yang memiliki sikap ilmiah tinggi di kelas yang diajarkan dengan metode inkuiri lebih tinggi dibandingkan dengan penguasaan konsep mahasiswa yang memiliki sikap ilmiah yang rendah. Hal tersebut menunjukkan bahwa, dengan sikap ilmiah yang tinggi mahasiswa dapat lebih bisa mengikuti proses pembelajaran yang menggunakan metode inkuiri. Sikap ilmiah mahasiwa seperti rasa ingin tahu, teliti dan objektif sangat diperlukan dalam proses inkuiri ketika memahami materi optika fisis yang diberikan dalam bentuk kegiatan perocban-percoban untuk menemukan dan memverifikasi berdasarkan teori yang di diketahui. Mahasiswa yang memiliki sikap ilmiah yang tinggi lebih teliti dalam mengumpulkan data-data dalam porse inkuiri yang dilakukan selama mempelajari materi optika fisis.

(11)

PROSIDING ISSN:

Seminar Nasional Matematika dan Statistika FMIPA UNTAN Pontianak, 27 Februari 2014

11 KESIMPULAN

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan penguasaan konsep mahasiswa yang mendapatkan pembelajaran dengan metode inkuiri dengan penguasaan konsep mahasiswa yang mendapatkan pembelajaran dengan model konvensional. Jika dilihat dari nilai rerata, maka penguasaan konsep mahasiswa yang mendapatkan pembelajaran dengan metode inkuiri lebih baik daripada penguasaan konsep mahasiswa yang mendapatkan pembelajaran dengan model konvensional pada meteri optika fisis. Penguasaan konsep mahasiswa yang memiliki sikap ilmiah tinggi lebih baik daipada penguasaan konsep mahasiswa yang memiliki sikap ilmiah yang rendah namun, penguasaan konsep berdasarkan sikap ilmiah tinggi dan rendah tidak berbeda secara signifikan. Terdapat interaksi antara model pembelajaran dengan sikap ilmiah mahasiswa.

DAFTAR PUSTAKA

Arifin, Zaenal. 2009. Evaluasi Pembelajaran. Bandung: Remaja Rosdakarya

Arikunto, Suharsimi. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineka Cipta.

Joyce, B., Weil, M. and Calhoun, E. 2000. Models of Teaching. Boston: Allyn and Bacon.

Muhibbin, Syah. (2005). Psikologi Pendekatan dengan Pendekatan Baru. Edisi Revisi. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Nurhayati. 2011. Penggunaan Model Pembelajaran Berbasis Masalah Melalui Metode Inkuiri dan Eksperimen Ditinjau dari Kreativitas dan Sikap Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Fisika STKIP PGRI Pontianak pada Pembelajaran Optik. Tesis PPs UNS Surakarta: tidak diterbitkan.

Sanjaya, Wina. 2009. Strategi Pembelajaran, Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

Santyasa, I Wayan. 2007. Landasan Konseptual Media Pembelajaran. Universitas Pendidikan Ganesha. Makalah.

Subrata, Nyoman. 2007. Pengembangan Model Pembelajaran Kooperatif dan Strategi Pemecahan Masalah untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Kelas VII CSMP Negeri 1 Sukasada. Jurnal Penelitian dan Pengembangan, 1(2), 1-3.

Suparno, Paul. 2007. Metodologi Pembelajaran Fisika Kontruktivisme dan Menyenangkan. Yogyakarta: Kanisius.

Figur

Tabel 3. Deksripsi Nilai Penguasaan Konsep Optika Fisis

Tabel 3.

Deksripsi Nilai Penguasaan Konsep Optika Fisis p.5
Tabel 4. Deksripsi Data Skor Sikap Ilmiah Mahasiswa

Tabel 4.

Deksripsi Data Skor Sikap Ilmiah Mahasiswa p.5
Tabel 5. Deksripsi Penguasaan Konsep Berdasarkan Sikap Ilmiah

Tabel 5.

Deksripsi Penguasaan Konsep Berdasarkan Sikap Ilmiah p.6
Tabel 7. Hasil Uji Normalitas Data Penelitian Berdasarkan Sikap Ilmiah

Tabel 7.

Hasil Uji Normalitas Data Penelitian Berdasarkan Sikap Ilmiah p.7
Gambar 2. Grafik interaksi antara kelas penelitian dengan sikap ilmiah terhadap   penguasaan konsep mahasiswa pada materi optik fisis

Gambar 2.

Grafik interaksi antara kelas penelitian dengan sikap ilmiah terhadap penguasaan konsep mahasiswa pada materi optik fisis p.10

Referensi

Pindai kode QR dengan aplikasi 1PDF
untuk diunduh sekarang

Instal aplikasi 1PDF di