PERAN PEMERINTAH DALAM UPAYA PENEGENTASAN
KEMISKINAN DI INDONESIA
Diajukan sebagai Ujian Akhir Semester Matakuliah Ilmu Sosial Budaya Dasar
Kelas SBD.02
Oleh :
Nurlita
NIM : 130810201221
KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum wr. Wb.
Puji syukur saya panjatkan kehadirat Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rahmat serta hidayah-Nya sehingga penyusunan makalah ini dapat diselesaikan sesuai waktu yang telah ditetapkan.
Makalah ini saya susun sebagai tugas dari mata kuliah Ilmu Sosial Budaya Dasar dengan judul “Peran Pemerintah Dalam Upaya Pengentasan Kemiskinan Di Indonesia ”.
Dalam makalah ini, saya akan membahas tentang kemiskinan dan karakteristik-karakteristiknya serta penyebab timbulnya kemiskinan serta upaya pemerintah dalam usaha pengentasan kemiskinan tersebut.
Akhir kata, saya mengucapakan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada pihak-pihak yang turut membantu dalam penyusunan makalah ini.
Wassalamu’alaikum wr.wb.
Jember, 10 Mei 2014
DAFTAR ISI
Halaman Judul……… i
Kata pengantar………... ii
Identitas pribadi………. iii
Daftar Isi……… iv
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang masalah……….…. 1
1.2 Rumusan masalah……….…2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian kemiskinan…………..……….. 3
2.2 Penyebab kemiskinan………..….4
2.3 Kriteria kemiskinan……….5
2.4 Ukuran kemiskinan……….6
BAB III PEMBAHASAN 3.1 Potret kemiskinan di Indonesia…….………...10
3.2 Karakteristik kemiskinan di Indonesia……….…..12
3.3 Dampak kemiskinan………16
3.4 Peran pemerintah dalam usaha pengentasan kemiskinan ……..….17
BAB IV PENUTUP 4.1 Kesimpulan……….………...24
4.2 Saran………..…24
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Sebagaimana diketahui, kehidupan yang menjadi dambaan masyarakat adalah kondisi sejahtera. Dengan demikian, kondisi yang menunjukkan taraf hidup yang rendah merupakan sasaran utama usaha perbaikan dalam rangka perwujudan kondisi yang sejahtera tersebut. Kondisi kemiskinan dengan berbagai dimensi dan implikasinya, merupakan salah satu bentuk masalah sosial yang menggambarkan kondisi kesejahteraan yang rendah. Oleh sebab itu wajar apabila kemiskinan dapat menjadi inspirasi bagi tindakan perubahan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Untuk dapat melakukan serangkaian aktivitas perubahan dan perbaikan di dalam masyarakat yang mengalami masalah sosial tersebut perlu dipahami berbagai hal yang berkaitan dengan seluk beluk permasalahannya. Bagi masalah kemiskinan yang akan ditampilkan sebagai contoh kasus, semestinya perlu dipahami paling tidak kondisi, intensitas dan komplikasi yang terjadi disamping tentu saja faktor-faktor yang melatarbelakangi masalah tersebut.
Tidak ada satupun Negara di dunia ini yang kebal dengan masalah kemiskinan. Bukan hanya Negara-negara berkembang saja yang menghadapi masalah sosial tersebut, Negara-negara maju seperti Amerika serikat, Inggris dan lain-lainnya juga menghadapi masalah yang serupa. Dan mereka mengakui bahwa masalah kemiskinan itu memang sulit untuk dicabut sampai ke akar-akarnya. Untuk itu diperlukan upaya yang lebih serius dalam menangani permasalahan tersebut dari semua kalangan.
1.2 Rumusan masalah
1. Bagaimana potret kemiskinan di Indonesia?
2. Apa saja karakteristik kemiskinan di Indonesia?
3. Apa saja dampak dari masalah kemiskinan tersebut?
4. Bagaimana peran pemerintah dalam menangani masalah kemiskinan di Indonesia dan apa saja program-program kerjanya?
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pengertian kemiskinan
Kemiskinan pada hakikatnya menunjuk pada situasi kesengsaraan dan ketidakberdayaan yang dialami seseorang, baik akibat ketidakmampuan memenuhi kebutuhan hidup, maupun akibat ketidakmampuan Negara atau masyarakat memberikan perlindungan sosial kepada warganya.
Dalam The End of Poverty (2005), Jeffrey D, Sach mengklasifikasikan kaum miskin kedalam tiga bagian. Pertama, mereka yang hidup dalam extreme poverty,
yang satuan rumah tangganya tidak dapat memenuhi kebutuhan dasar, kelaparan, tidak mempunyai akses atas layanan kesehatan, tidak mendapt air bersih dan sanitasi, tidak dapat mengusahakan pendidikan bagi anak-anaknya, tidak mempunyai fasilitas tempat tinggal yang sederhana dan tidak mempunyai kelengkapan harian. Situasi ini banyak terjadi di Negara berkembang.
Kedua, moderate poverty, mereka yang dapat memenuhi kebutuhan dasarnya (seperti dijelaskan pada bagian pertama), tetapi sangat minim dan tidak selalu mampu. Ketiga, relative poverty, mereka yang dapat memenuhi kebutuhan dasarnya, tetapi berada dibawah rata-rata cara hidup di Negara yang bersangkutan.
Kemiskinan dapat juga dibedakan menjadi tiga pengertian, yaitu kemiskinan absolut, relatif, dan kultural. Seseorang termasuk golongan miskin absolut apabila pendapatannya berada dibawah garis kemiskinan. Mereka tidak mampu memenuhi kebutuhan hidup minimum, seperti pangan, sandang, kesehatan, papan dan pendidikan.
2.2 Penyebab kemiskinan
1. Penyebab individual, atau patologis, yang melihat kemiskinan sebagai akibat dari perilaku, pilihan, atau kemampuan dari si miskin.
2. Penyebab keluarga, yang menghubungkan kemiskinan dengan pendidikan keluarga.
3. Penyebab sub-budaya (subcultural), yang menghubungkan kemiskinan dengan kehidupan sehari-hari, dipelajari atau dijalankan dalam lingkungan sekitar.
4. Penyebab agensi, yang melihat kemiskinan sebagai akibat dari aksi orang lain, termasuk perang, pemerintah, dan ekonomi.
5. Penyebab struktural, yang memberikan alasan bahwa kemiskinan merupakan hasil dari struktur sosial.
Dengan menggunakan persepektif yang lebih luas lagi, David Cox (2004:1-6) membagi kemiskinan kedalam beberapa dimensi (lihat Suharto, 2008b):
1. Kemiskinan yang diakibatkan globalisasi. Globalisasi melahirkan Negara pemenang dan Negara kalah. Pemenang umumnya adalah Negara-negara maju. Sedangkan Negara-negara berkembang seringkali semakin terpinggirkan oleh persaingan dan pasar bebas yang merupakan prasyarat globalisasi.
2. Kemiskinan yang berkaitan dengan pembangunan. Kemiskinan subsisten (kemiskinan akibat rendahnya pembangunan), kemiskinan perdesaan (kemiskinan akibat peminggiran perdesaan dalam proses pembangunan), kemiskinan perkotaan (kemiskinan yang disebabkan oleh hakekat dan kecepatan pertumbuhan perkotaan).
3. Kemiskinan sosial. Kemiskinan yang dialami oleh perempuan, anak-anak dan kelompok minoritas akibat kondisi sosial yang tidak menguntungkan mereka, seperti bias jender, diskriminasi atau eksploitasi ekonomi.
Kemiskinan konskuensial. Kemiskinan yang terjadi akibat kejadian-kejadian lain atau faktor-faktor eksternal diluar si miskin, seperti konflik, bencana alam, kerusakan lingkungan dan tingginya jumlah penduduk.
Berdasarkan studi SMERU, Suharto (2006:132) menunjukkan Sembilan kriteria yang menandai kemiskinan :
1. Ketidakmampuan memenuhi kebutuhan konsumsi dasar (pangan, sandang, papan;
2. Ketidakmampuan untuk berusaha karena cacat fisik maupun mental; 3. Ketidakmampuan dan ketidakberuntungan sosial (anak terlantar, wanita
korban tindak kekerasan rumah tangga, janda miskin, kelompok marjinal dan terpencil);
4. Rendahnya kualitas sumberdaya manusia (buta huruf, rendahnya pendidikan dan keterampilan, sakit-sakitan) dan keterbatasan sumberdaya alam (tanah tidak subur, lokasi terpencil, ketiadaan infrastruktur jalan, listrik, air);
5. Kerentanan terhadap goncangan yang bersifat individual (rendahnya pendapatan dan asset), maupun missal (rendahnya modal sosial, ketiadaan fasilitas umum);
Tinggi rendahnya tingkat kemiskinan di suatu negara tergantung pada 2 (dua) faktor utama yaitu
(1) Tingkat pendapatan nasional rata-rata dan
(2) Lebar sempitnya kesenjangan dalam distribusi pendapatan. Setinggi apapun tingkat pendapatan nasional perkapita yang dicapai oleh suatu negara, selama distribusi pendapatan yang tidak merata maka tingkat kemiskinan di negara tersebut pasti akan tetap parah (Daulay, 2009).
2.4 Ukuran kemiskinan
Kemiskinan agregat menunjukkan proporsi dan jumlah penduduk miskin yang hidup dibawah garis kemiskinan. Angka kemiskinan agregat atau yang sering disebut angka kemiskinan makro digunakan untuk mengukur kemajuan pembangunan suatu bangsa.
Perhitungan kemiskinan yang digunakan adalah pendekatan kemampuan untuk memenuhi kebutuhan dasar (basic needs approach). Dengan pendekatan ini, kemiskinan dipandang sebagai ketidakmampuan dari sisi ekonomi untuk memenuhi kebutuhan dasar makanan dan bukan makanan. Dalam implementasinya dihitunglah garis kemiskinan berdasarkan kebutuhan makanan dan bukan makanan. Penduduk yang memiliki rata-rata penegeluaran/pendapatan per kapita per bulan di bawah garis kemiskinan disebut penduduk miskin
Angka jumlah penduduk miskin seperti yang dijelaskan di atas, disebut juga sebagai Poverty Headcount Index atau P0. Jumlah penduduk yang memiliki
tingkat konsumsi di bawah garis kemiskinan ini sering disebut juga sebagai
Poverty Incidence. Mengapa digunakan konsumsi dalam menghitung jumlah penduduk miskin? Setidaknya ada 3 (tiga) alasan utama : pertama, dalam pelaksanaan survey, terutama bagi masyarakat miskin yang mempunyai pendapatan tidak tetap, lebih mudah menanyakan jenis barang (termasuk makanan) dan jasa yang telah dikonsumsi atau dibelanjakannya. Kedua, dengan diketahuinya jenis makanan yang dikonsumsi maka akan menjadi jauh lebih mudah untuk mengkonversinya menjadi tingkat kalori yang dikonsumsi. Informasi mengenai tingkat kalori yang dikonsumsi menjadi penting karena tingkat kemiskinan dihubungkan dengan seberapa besar kalori yang dikonsumsi. Untuk memenuhi kebutuhan dasar makanan ditetapkan 2100 kilo kalori per orang per hari sebagai batas kemiskinan. Ketiga, dalam kenyataannya, terutama bagi penduduk miskin yang tidak mempunyai tabungan, dalam jangka menengah tingkat pendapatan akan sama sengan tingkat konsumsi (belanja).
Data kemiskinan agregat hanya menggambarkan persentase dan jumlah penduduk miskin. Walaupun sangat berguna untuk mengetahui kemajuan pembangunan suatu bangsa, namun tidak dapat digunakan sebagai penetapan sasaran program penanggulangan kemiskinan. Program penanggulangan kemiskinan seperti Program Keluarga Harapan (PKH), Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas), dan Program Bantuan Pendidikan membutuhkan informasi tentang siapa dan dimana penduduk miskin itu berada (by name and by address).
Penyaluran program penanggulangan kemiskinan memerlukan nama dan alamat rumah tangga sasaran. Data rumah tangga sasaran (RTS) ini sering disebut data kemiskinan mikro. Pengumpulan datanya harus dilakukan secara sensus. Pengumpulan data rumah tangga sasaran didasarkan pada ciri-ciri rumah tangga miskin yang diperoleh dari survei kemiskinan agregat.
Table 1. Ciri-ciri Rumah Tangga Sasaran (RTS) N
o Variabel Kriteria
1 Luas lantai per anggota rumah tangga/ keluarga < 8 m2
2 Jenis lantai rumah Tanah/papan/kualitas rendah
3 Jenis dinding rumah Bambu, papan kualitas rendah
4 Fasilitas tempat buang air besar (jamban) Tidak punya
5 Sumber air minum Bukan air bersih
6 Penerangan yang digunakan Bukan listrik
7 Bahan bakar yang digunkan Kayu/arang
8 Frekuensi makan dalam sehari Kurang dari 2 kali sehari
9 Kemampuan membeli daging/ayam/susu dalam seminggu Tidak
10 Kemampuan membeli pakaian baru bagi setiap ART Tidak
11 Kemampuan berobat ke puskesmas/poliklinik Tidak
12 Lapangan pekerjaan kepala rumah tangga Petani gurem, nelayan,
pekebun
13 Pendidikan kepala rumah tangga Tidak ada
14 Kepemilikan asset/barang berharga minimal Rp.500.000 Sumber : BPS, 2010
3. Ukuran kemiskinan lain
Ukuran kemiskinan lain yang sering digunakan adalah Poverty Gap Index atau P1.
selisih sama dengan 0 (nol) bagi penduduk yang berada di atas garis kemiskinan. Indeks ini menggambarkan kedalaman kemiskinan (the depth of poverty).
Ukuran kemiskinan lain adalah Poverty Severity Index atau P2. Indeks keparahan
kemiskinan ini adalah jumlah dari kuadrat selisih (dalam persen terhadap garis kemiskinan) rata-rata antara pengeluaran penduduk miskin dengan garis kemiskinan. Jumlah seluruh populasi digunakan untuk menghitung rata-rata dengan mengganggap selisih sama dengan 0 (nol) bagi penduduk yang berada di atas kemiskinan. Dengan melakukan pengkuadratan, indeks ini memberi bobot yang lebih besar bagi penduduk miskin yang memiliki pengeluaran jauh di bawah garis kemiskinan.
BAB III PEMBAHASAN
3.1 Fenomena kemiskinan di Indonesia
miskin pada periode 1996-1998, meningkat dengan tajam dari 22,5 juta jiwa (11,3%) menjadi 49,5 juta jiwa (24,2%) atau bertambah sebanyak 27,0 juta jiwa (BPS,1999). Sementara itu, International Labour Organization (ILO) memperkirakan jumlah orang miskin di Indonesia pada akhir tahun 1999 mencapai 129,6 juta jiwa atau sekitar 66,3% dari seluruh jumlah penduduk (BPS, 1999).
Data dari BPS (1999) juga memperlihatkan bahwa selama periode 1996-1998 telah terjadi peningkatan jumlah penduduk miskin hampir sama di wilayah pedesaan dan perkotaan. Di wilayah pedesaan angka kemiskinan meningkat menjadi 67,72%, sementara di perkotaan meningkat menjadi 61,1%. Secara agregat, persentase peningkatan penduduk miskin terhadap total populasi memang lebih besar di wilayah pedesaan (7,78%) dibandingkan dengan perkotaan (4,72%). Akan tetapi, selama dua tahun terakhir ini secara absolut jumlah orang miskin meningkat sekitar 140% atau 10,4 juta jiwa di wilayah perkotaan, sedangkan di pedesaan sekitar 105% atau 16,6 juta jiwa (lihat Remi dan Tjiptoherijanto, 2002).
Data di atas mengindikasikan bahwa krisis telah membuat penderitaan penduduk perkotaan lebih parah daripada penduduk pedesaan. Menurut Thorbecke (1999), setidaknya ada dua penjelasan atas hal ini. Pertama, krisis cenderung memberi pengaruh lebih buruk pada beberapa sektor ekonomi utama di perkotaan, seperti perdagangan, perbankan dan konstruksi. Sektor-sektor ini membawa dampak negatif dan memperparah pengangguran di perkotaan. Kedua, pertambahan harga bahan makanan kurang berpengaruh terhadap penduduk pedesaan karena mereka masih dapat memenuhi kebutuhan dasarnya melalui sistem produksi subsistem yang dihasilkan dan dikonsumsi sendiri. Hal ini tidak terjadi pada masyarakat perkotaan yang sistem produksi subsistemnya khususnya yang terkait dengan pemenuhan kebutuhan makanan tidak terlalu dominan pada masyarakat perkotaan.
pengemis, anak jalanan, yatim piatu, jompo terlantar, dan penyandang cacat yang tidak memiliki pekerjaan atau memiliki pekerjaan tetapi tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Secara umum kondisi PMKS lebih memprihatinkan daripada orang miskin. Selain memiliki kekurangan pangan, sandang dan papan, kelompok rentan (vulnerable group) ini mengalami ketelantaran psikologis, sosial dan politik terutama menghinggapi para pemuda di negeri ini.
Selain kelompok di atas, krisis ekonomi yang terjadi meningkatkan jumlah orang yang bekerja di sektor informal. Merosotnya pertumbuhan ekonomi, dilikuidasinya sejumlah kantor swasta dan pemerintah, serta dirampingkannya struktur industri formal yang lebih fleksibel. Studi ILO (1998) memperkirakan bahwa selama periode krisis antara tahun 1997 dan 1998, pemutusan hubungan kerja terhdap 5,4 juta pekerja pada sektor industri modern menurunkan jumlah pekerja formal (terutama para pemuda) dari 35% menjadi 30%.
Menurut Tambunan (2000), sedikitnya setengahnya dari penganggur baru tersebut diserap oleh sektor informal serta industri kecil dan rumah tangga lainnya. Pada sektor informal perkotaan khususnya pedagang kaki lima mengalami peningkatan yang sangat dramatis. Misalnya di Jakarta dan Bandung pada periode akhir tahun 1996-1999 pertumbuhan pedagang kaki lima mencapai 300% (Kompas, 1998). Dilihat dari jumlah dan potensinya, pekerja sektor informal ini sangat besar. Namun demikian, seperti halnya dua kelompok masyarakat di atas, kondisi sosial ekonomi pekerja sektor informal masih berada dalam keadaan miskin dan rentan.
pekerjaan amal begitu saja, melainkan profesi pertolongan kemanusiaan yang memiliki dasar-dasar keilmuan (body knowledge), nilai-nilai (body value), dan keterampilan (body of skills) professional yang umumnya diperoleh melalui pendidikan tinggi pekerjaan sosial (S1, S2, dan S3).
3.2 Karakteristik kemiskinan di Indonesia
Kemiskinan adalah persoalan yang dihadapi oleh seluruh Negara di dunia akan tetapi karakteristik kemiskinan pada masing-masing Negara berbeda. Menurut Kemal A. Stamboel, sedikitnya terdapat tujuh karakteristik kemiskinan di Indonesia, yaitu :
1. Mayoritas rumah tangga miskin menggantungkan hidupnya di sektor pertanian.
Secara sektoral, jumlah penduduk miskin Indonesia terkonsentrasi di sektor pertanian. Menurut data BPS (2010), sekitar 63% rumah tangga miskin yang bekerja di sektor pertanian merupakan buruh tani, sekitar 6% bekerja di sektor industri, sekitar 10% belum atau tidak memiliki pekerjaan dan sisanya 21% bekerja di sektor-sektor lainnya. Besarnya ketergantungan masyarakat miskin terhadap sektor pertanian menjadikan sektor ini penting untuk mendapatkan prioritas dalam upaya pengentasan kemiskinan.
Meski demikian, kita melihat pertumbuhan sektor pertanian terus menurun dari tahun ke tahun yang secara tidak langsung menunjukkan produktivitas yang sangat rendah. Produktivitas yang rendah ini menyebabkan nilai pendapatan per kapita sektor pertanian paling rendah jika dibandingkan sektor lainnnya. Rendahnya produktivitas ini disebabkan oleh banyak hal. Salah satu penyebab utamanya adalah rendahnya kepemilikan dan penguasaan lahan petani.
2. Mayoritas rumah tangga miskin adalah petani gurem/subsisten
sekitar 2,6% per tahunnya. Dengan demikian persentase rata-rata peningkatan jumlah petani gurem lebih tinggi 0,3% dari peningkatan rata-rata jumlah rumah tangga petani.
Kondisi gurem/subsisten ini meyebabkan petani di Indonesia memiliki produktivitas yang rendah. Produktivitas pertanian yang mereka lakukan hanya mampu untuk memenuhi kebutuhan makan namun belum mampu untuk mendapatkan keuntungan sehingga memperoleh tambahan pendapatan yang mencukupi untuk memenuhi kebutuhan non-makanan.
3. Disparitas tingkat kemiskinan yang tinggi antara kota dan desa
Secara kuantitas, jumlah penduduk miskin yang tinggal di perdesaan jauh lebih tinggi dibandingkan dengan yang tinggal di perkotaan dengan rata-rata hamper mencapai dua kali lipat. Dengan kata lain, setiap satu penduduk miskin yang ada di kota, terdapat sekitar 2 penduduk miskin yang berda di desa. Lebih dalam lagi bila kita perhatikan, keberdaan penduduk miskin di kota tak lain merupakan akibat dari proses urbanisasi yang cukup masif dari penduduk miskin desa yang pindah ke kota untuk mencari pekerjaan.
Urbanisasi menyebabkan terjadinya perpindahan tenaga kerja dari penduduk miskin perdesaan yang memiliki keterbatasan pendidikan, keterampilan, dan keahlian beralih ke kota. Proses perpindahan ini secara tidak langsung menjadi sebuah proses pemindahan penduduk miskin yang awalnya tinggal di perdesaan menjadi tinggal di daerah perkotaan. Dengan kata lain, meskipun terdapat penduduk miskin di kota, sumber kemiskinan tetap muncul dari wilayah perdesaan.
4. Disparitas tingkat kemiskinan yang sangat tinggi antar provinsi
ekonominya, maka provinsi-provinsi yang kegiatan ekonominya banyak bergerak di sektor pertanian cenderung memiliki tingkat yang jauh lebih tinggi dibandinkan provinsi-provinsi yang mengandalakan sektor perindustrian atau jasa.
5. Dominasi belanja belanja makanan terhadap garis kemiskinan
Pendekatan perhitungan kemiskinan di Indonesia yang menggunakan pengeluaran minimum kebutuhan dasar makanan dan non-makanan menyebabkan tingkat kemiskinan di Indonesia sangat elastis terhadap perubahan harga kedua jenis komoditas tersebut. Dari dua jenis komoditas, makanan dan non-makanan terhitung bahwa mayoritas pengeluaran masyarakat miskin yaitu 74% digunakan untuk pembelian komoditas makanan sedangkan komoditas non-makanan hanya menyumbang sekitar 26%. Dari total pengeluaran makanan tersebut, beras adalah penyumbang terbesar dengan proporsi sebesar 25,2% untuk rumah tangga miskin yang tinggal di perkotaan dan sekitar 34,11% untuk rumah tinggi miskin di perdesaan.
Selanjutnya, fenomena yang cukup menarik adalah pengeluaran rumah tangga miskin terhadap rokok ternyata cukup tinggi yakni sekitar 7,93% untuk rumah tangga miskin di perkotaan dan sekitar 5,9% untuk rumah tinggi miskin perdesaan. Pengeluaran untuk konsumsi rokok ini menduduki peringkat kedua terbesar setelah beras untuk jenis komoditas makanan. Lebih miris lagi, pengeluaran rumah tangga miskin untuk konsumsi rokok lebih besar daripada penegeluaran untuk biaya pendidikan anak-anak mereka.
6. Berkumpul di sekitar garis kemiskinan.
2010 yang hanya 6,1%. Dengan kata lain, laju pengurangan kemiskinan tidak sebanding dengan laju pertumbuhan ekonomi.
Angka ini pun belum menambahkan jumlah penduduk yang sedikit di atas garis kemiskinan atau near poor. Tahun sebelumnya jumlah near poor
mencapai 29,38 juta jiwa yang didapat dengan melihat jumlah populasi yang hidup dikisaran 1,2 kali dari garis kemiskinan. Dengan demikian, jika rata-rata garis kemiskinan pada Maret 2011 adalah Rp.233.740,-pengeluaran per kapita per bulan atau Rp.7.791,- per kapita per hari (BPS, 2011), maka ukuran untuk near poor adalah penduduk yang pengeluaran per kapita per bulannya di bawah Rp.280.488 atau Rp,9,350,- per kapita per hari. Dengan ukuran tersebut berarti jumlah penduduk yang pengeluaran di bawah Rp.10.000,- per hari masih sekitar 60 juta jiwa yang terdiri dari 30,02 juta jiwa di kategorikan miskin dan 29,38 juta jiwa yang dikategorikan hampir miskin.
7. Kemiskinan bersifat multidimensi.
Dampak dari kemiskinan terhadap masyarakat umumnya begitu banyak dan kompleks, diantaranya :
1. Pengangguran.
Dengan banyaknya pengangguran berarti banyak masyarakat tidak memiliki penghasilan karena tidak bekerja. Karena tidak bekerja dan tidak memiliki penghasilan mereka tidak mampu memenuhi kebutuhan pangannya. Secara otomatis pengangguran telah menurunkan daya saing dan beli masyarakat. Sehingga, akan memberikan dampak secara langsung terhadap tingkat pendapatan, nutrisi, dan tingkat pengeluaran rata-rata.
2. Kekerasan.
Kekerasan-kekerasan yang marak terjadi akhir-akhir ini merupakan efek dari pengangguran. Karena seseorang tidak mampu lagi mencari nafkah melalui jalan yang benar dan halal. Ketika tak ada lagi jaminan bagi seseorang dapat bertahan dan menjaga keberlangsungan hidupnya maka jalan pintas pun dilakukan. Misalnya, merampok, menodong, mencuri, atau menipu. belakangan banyak oknum-oknum yang menggunakan modus penipuan melalui sms.
3. Pendidikan
Tingkat putus sekolah yang tinggi merupakan fenomena yang terjadi dewasa ini. Mahalnya biaya pendidikan membuat masyarakat miskin tidak dapat lagi
menjangkau dunia sekolah atau pendidikan. Karena untuk makan satu kali sehari saja mereka sudah kesulitan.
4. Kesehatan
Seperti kita ketahui, biaya pengobatan sekarang sangat mahal. Hampir setiap klinik pengobatan apalagi rumah sakit swasta besar menerapkan tarif atau ongkos pengobatanyang biayanya melangit. Sehingga, biayanya tak terjangkau oleh kalangan miskin.
3.4 Peran pemerintah dalam usaha pengentasan kemiskinan
Agenda besar pembangunan Indonesia termuat dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJMN) 2010-2014 yang kemudian dijabarkan ke dalam Rencana Kerja Pemerintah (RKP) tahunan. Tema RKP 2010 adalah “Pemulihan Perekonomian Nasional dan Pemeliharaan Kesejahteraan Rakyat, sedangkan tema RKP tahun 2011 adalah “Percepatan Pertumbuhan Ekonomi yang Berkeadilan Didukung oleh Pemantapan Tata kelola dan Sinergi Pusat Daerah”. RPJMN 2010-2014 juga telah menetapkan sasaran pembangunan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan rakyat, antara lain : (1) Pertumbuhan ekonomi, dengan proyeksi 7,0-7,7% pada tahun 2014; (2) Penurunan tingkat pengangguran dengan target 5-6% pada akhir tahun 2014; (3) penurunan angka kemiskinan dengan target 8-10% pada akhir tahun 2014.
RPJMN dan RKP ini berkaitan dengan sepuluh direktif presiden yangdisampaikan pada rapat kerja dengan menteri, gubernur, serta ahli ekonomi dan tekhnologi, di istana Tampak Siring 2010, yakni : (1) Ekonomi harus tumbuh lebih tinggi; (2) Pengangguran harus menurub dengan menciptakan lapangan kerja yang lebih banyak; (3) Kemiskinan harus semakin menurun; (4) Pendapatan perkapita harus meningkat; (5) Stabilitas ekonomi harus terjaga; (6) Pembiayaan (financing)
Terkait hal tersebut, pemerintah telah menetapkan tiga jalur strategi pembangunan, yaitu (1) Pro-pertumbuhan (pro growth), untuk meningkatkan dan mempercepat pertumbuhan ekonomi melalui investasi, sehingga diperlukan perbaikan iklim investasi, melalui peningkatan kualitas pengeluaran pemerintah, melalui ekspor, dan peningkatan konsumsi; (2) Pro-Lapangan Kerja (pro-job), agar pertumbuhan ekonomi dapt menciptakan lapangan pekerjaan yang seluas-luasnya dengan menekankan pada investasi padat pekerja; (3) Pro Masyarakat Miskin (pro poor), agar pertumbuhan ekonomi dapat mengurangi jumlah penduduk miskin sebesar-besarnya dengan penyempurnaan sisitem perlindungan sosial, meningkatkan akses kepada pelayanan dasar, dan melakukan pemberdayaan masyarakat.
Untuk meningkatkan koordinasi penanggulangan kemiskinan, pemerintah menerbitkan Peraturan Presiden Nomor 15 Tahun 2010, tentang Percepatan Penenggulangan Kemiskinan yang merupakan penyempurnaan dar Peraturan Pemerintah Nomor 13 taun 2009 tentang Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan. Dalam Perpres tersebut diamanatkan untuk membentuk Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K) di tingkat pusat yang keanggotaannya terdiri dari unsur pemerintah, masyarakat, dunia usaha, dan pemangku kepentingan lainnya. Sedangkan di provinsi dan kabupaten/kota dibentuk Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan (TKPK) Provinsi dan Kabupaten/Kota.
Selain tiga instrumen utama penanggulangan kemiskinan di atas, pemerintah menerbitkan Keputusan Presiden Nomor 10 Tahun 2011 Temtang Tim Koordinasi Peningkatan Perluasan program Pro Rakyat. Upaya peningkatan dan perluasan program Pro Rakyat (Kluster IV) dilakukan melalui :
1. Program Rumah Sangat Murah
2. Program Kendaraan Angkatan Umum Murah 3. Program Air Bersih Untuk Rakyat
4. Program Listrik Murah dan Hemat
5. Program Peningkatan Kehidupan Nelayan
1. Program Keluarga Harapan (PKH)
PKH adalah program perlindungan sosial yang memberikan bantuan tunai kepada Rumah Tangga Sangat Miskin (RTSM) dan bagi anggota keluarga RTS diwajibkan melaksakan persyaratan dan ketentuan yang telah ditetapkan. Program ini, dalam jangka pendek bertujuan mengurangi beban RTSM dan dalam jangka panjang diharapkan dapat memutus mata rantai kemiskinan antar generasi, sehingga generasi berikutnya dapat keluar dari perangkap kemiskinan.
Pelaksanaan PKH juga mendukung upaya pencapaian Tujuan Pembagunan Milenium. Lima komponen tujuan MDG’s yang akan terbantu oleh PKH yaitu: pengurangan penduduk miskin dan kelaparan; pendidikan dasar; kesetaraan gender; pengurangan angka kematian bayi dan balita; pengurangan kematian ibu melahirkan.
2. Bantuan Operasional Sekolah (BOS)
BOS adalah program pemerintah untuk peneyediaan pendanaan biaya non personalia bagi satuan pendidikan dasar dan menengah pertama sebagai wujud pelaksanaan program wajib belajar 9 tahun. BOS diprioritaskan untuk biaya operasional nonpersonal, meskipun dimungkinkan untuk membiayai beberapa kegiatan lain yang tergolong dalam biaya personil dan biaya investasi. Tujuan umum program BOS untuk meringkan beban masyarakat terhadap pembiayaan pendidikan dalam rangka wajib belajar Sembilan tahun yang bermutu. Sasaran program BOS adalah semua siswa (peserta didik) di jenjang Sekolah Dasar (SD)/Madrasah Ibtidaiyah (MI) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP)/Madrasah Tsanawiyah (MTs), termasuk Sekolah Menengah Terbuka (SMPT) dan Pusat Kegiataan Belajar Mandiri (PKBM) yang diselenggarakan masyarakat, baik negeri maupun swasta di seluruh provinsi di Indonesia.
3. Program Bantuan Siswa Miskin (BSM)
Kebijakan Bantuan Siswa Miskin (BSM) bertujuan agar siswa dari kalangan tidak mampu dapat terus melanjutkan pendidikan sekolah. Program ini bersifat bantuan bukan beasiswa, karena jika beasiswa bukan berdasrkan kemiskinan melainkan prestasi.
Dana sebesar Rp.360.000 per tahun diberikan kepada siswa tingkat SD, dipergunakan untuk keperluan sekolah, seperti pembelian buku pelajaran, seragam sekolah, alat-alat olahraga dan keterampilan, pembayaran transportasi ke sekolah, serta keperluan lain yang berkaitan dengan proses pembelajaran di sekolah.
4. Program Jaminan Kesehatan Masyarakat (JAMKESMAS)
Jamkesmas adalah program bantuan sosial untuk pelayanan kesehatan bagi masyarakat miskin dan hampir miskin. Tujuan Jamkesmas adalah meningkatkan akses terhadap masyarakat miskin dan hampir miskin agar dapat memperoleh pelayanan kesehatan. Pada saat ini Jamkesmas melayani 76,4 juta jiwa.
5. Program Beras Untuk Keluarga Miskin (RASKIN)
Raskin merupakan subsisdi pangan yang diperuntukkan bagi ke;uarga miskin sebagai upaya dari pemerintah untuk meningkatkan ketahanan pangan dan memberikan perlindungan pada keluarga miskin. Pendistribusian beras ini diharapkan mampu menjangkau keluarga miskin dimana masing-masing keluarga akan menerima beras minimal 10 kg/KK tiap bulan dan maksimal 20 kg/KK tiap bulan dengan harga bersih Rp.1000/kg di titik-titik distribusi. Keberhasilan program Raskin diukur berdasarkan tingkat pencapaian indikator 6T, yaitu : tepat sasaran, tepat jumlah, tepat harga, tepat waktu, tepat kualitas dan tepat administrasi.
b. Program-program penanggulangan kemiskinan kluster II
1. Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM)
Program penanggulangan kemiskinan yang berbasis pemberdayaan masyarakat dapat dikategorikan menjadi dua yakni : (1) PNPM-inti terdiri dari program/proyek pemberdayaan masyarakat berbasis kewilayahan, yang mencakup PNPM Mandiri Perdesaan, PNPM Mandiri Perkotaan, Program Pengembangan Infrastruktur Sosial Ekonomi Wilayah (PISEW), dan Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal dan Khusus (P2DTK). (2) PNPM-Penguatan terdiri dari program-program pemberdayaan masyarakat berbasis sektor untuk mendukung penanggulangan kemiskina yang pelaksanaannya terkait pencapaian target sektor tertentu. Pelaksanaan program-program ini di tingkat komunitas mengacu pada kerangka kebijakan PNPM Mandiri.
c. Program-program penanggulangan kemiskinan Kluster III
1. Kredit Usaha Rakyat (KUR)
Kredit Usaha Rakyat (KUR) adalah dana pinjaman dalam bentuk Kredit Modal Kerja (KMK) dan atau Kredit Investasi (KI) dengan plafon kredit dari Rp.5 juta sampai dengan Rp.500 juta. Agunan pokok KUR adalah proyek/usaha yang dibiayai, namun pemerintah membantu menanggung melaui program penjaminan hingga maksimal 70% dari plafon kredit.
Bantuan berupa fasilitas pinjaman modal ini ada;ah untuk meningkatkan akses pembiayaan perbankan yang sebelumnya hanya terbtas pada usaha berskala besar dan kurang menjangkau pelaku usaha mikro kecil dan menengah seperti usaha rumah tangga dan jenis usaha miko lain yang bersifat informal, mempercepat pengembangan sektor riil dan pemberdayan UMKM.
2. Kredit Usaha Bersama (KUBE)
anggota KUBE dalam menampilkan peran-peranan sosialnya, baik dalam keluarga maupun lingkungan sosialnya.
Sasaran program KUBE adalah keluarga miskin produktif yaitu orang yang sama sekali tidak mempunyai sumber mata pencaharian dan tidak mempunyai kemampuan memenuhi kebutuhab pokok yang layak bagi kemanusiaan atau orang yang mempunyai sumber mata pencaharian, tetapi tidak dapat memnuhi kebutuhan pokokyang layak bagi kemanusiaan; keluarga miskin yang mengalami penurunan pendapatan dan kesejahteraannya atau mengalami penghentian penghasilan.
4.1 Kesimpulan
Kemiskinan pada hakikatnya menunjuk pada situasi kesengsaraan dan ketidakberdayaan yang dialami seseorang, baik akibat ketidakmampuan memenuhi kebutuhan hidup, maupun akibat ketidakmampuan Negara atau masyarakat memberikan perlindungan sosial kepada warganya.
Sebagai upaya pengentasan kemiskinan, pemerintah Indonesia dalam hal ini pemerintahan Kabinet Indonesia Bersatu jilid dua telah menetapkan beberapa program-progam yang diharapkan dapat menanggulangi masalah kemiskinan tersebut yang terdiri dari Program penanggulangan kemiskinan kluster I sampai dengan kluster IV. Hal itu merupakan bentuk dari keseriusan pemerintah Indonesia untuk menanggulangi masalah kemiskinan dan sebagai warganegara yang baik kita berkewajiban untuk mengawal pelaksanaan program-program tersebut agar program-program ini berjalan sesuai dengan yang diharapkan.
4.2 Saran
Dalam upaya penanggulangan kemiskinan di Indonesia masih diperlukan upaya yang serius dan matang. Upaya dari pemerintah melalui program-programnya tersebut memang sudah cukup bagus akan tetapi diperlukan pengawasan yang lebih ketat dalam pelaksanaannya. Juga, diharapkan partisipasi dari semua kalangan untuk turut serta membantu pelaksanaan program tersebut agar program ini berjalan dengan tepat sasaran.
A Stamboel, Kemal. 2012. Panggilan keberpihakan : Strategi mengakhiri kemiskinan di Indonesia. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama.
Kementrian Komunikasi Dan Informatika RI. 2011. Program Penanggulangan Kemiskinan Kabinet Indonesia Bersatu. Jakarta : Kominfo
Soetomo. 2010. Masalah Sosial dan Upaya Pemecahannnya. Yogyakarta : Pustaka Pelajar
Syaifullah, Chavchay. 2008. Generasi Muda Menolak Kemiskinan. Klaten : Cempaka Putih