SISTEM PEMERINTAHAN DAERAH DI INDONESIA
Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Sistem Pemerintahan Indonesia Dosen Pengampu: Suwondo,DRS.MS.
Hanna Syabrina (125030607111005)
UNIVERSITAS BRAWIJAYA FAKULTAS ILMU ADMINISTRASI JURUSAN ADMINISTRASI PUBLIK
PROGRAM STUDI PERENCANAAN PEMBANGUNAN MALANG
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Negara Indonesia merupakan negara kesatuan yang terdiri dari banyak pulau yang dihuni oleh berbagai suku bangsa, golongan ,dan lapisan sosial. Dalam pelaksanaan pemerintahannya dibagi atas daerah-daerah provinsi dan daerah provinsi tersebut dibagi atas kabupaten dan kota. Dan tiap-tiap propinsi, kabupaten serta kota mempunyai pemerintah daerah untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan menurut asas otonomi dan tugas pembantuan. Maka, pemerintahan daerah dapat didefinisikan sebagai suatu penyelenggaraan urusan pemerintahan oleh Pemerintah daerah dan DPRD menurut asas otonomi dan tugas pembantuan dengan prinsip otonomi seluas-luasnya dalam sistem dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagaimana dimaksud dalam UUD 1945 . Sedangkan pemerintah sendiri adalah sebuah perangkat Negara Kesatuan Republik Indonesia yang terdiri dari Presiden beserta para menteri. Pemerintah Daerah adalah Kepala Daerah beserta perangkat daerah otonom yang lain sebagai badan eksekutif daerah.
Sistem penyelenggaraan pemerintahan di Indonesia berdasarkan pendekatan kesisteman dibagi menjadi dua, yaitu sistem pemerintah pusat (pemerintah) dan sistem pemerintahan daerah seperti yang telah kita ketahui diatas. Praktik penyelenggaraan pemerintah dalam hubungan antarpemerintah dikenal dengan konsep sentralisasi dan desentralisasi. Konsep sentralisasi menunjukkan karakteristik bahwa semua kekuasaan dan kewenangan penyelenggaraan pemerintahan berada di tangan pemerintahan pusat, sedangkan dalam sistem desentralisasi sebagian kewenangan urusan pemerintahan yang menjadi kewajiban pemerintah, diberikan kepada pemerintah daerah.
Jika kita membicarakan tentang sistem desentralisasi dalam pemerintahan daerah, maka tidak akan terlepas dari kata otonomi daerah. Otonomi daerah yang didefinisikan sebagai suatu wewenang atau kekuasaan pada suatu wilayah atau daerah yang mengatur dan mengelola untuk kepentingan wilayah atau daerah masyarakat itu sendiri. Penyelenggaraan pemerintahan daerah ini telah dirumuskan dalam UU No.5 Tahun 1974 kemudian
2. Bagaimana konsep desentralisasi dalam penyelenggara pemerintahan?
3. Bagaimana hubungan antara otonomi daerah dengan sistem pemerintahan daerah ? 1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui dengan jelas definisi tentang pemerintahan daerah
2. Untuk mengetahui konsep desentralisasi dalam penyelenggara pemerintahan
3. Untuk mengetahui hubungan antara otonomi daerah dengan sistem pemerintahan daerah.
BAB II
PEMBAHASAN
Negara Indonesia merupakan negara yang wilayahnya terbagi atas daerah-daerah Provinsi. Di dalam daerah Provinsi, terbagi lagi menjadi daerah Kabupaten dan Kota. Setiap daerah tersebut, terdapat sebuah sistem pemerintahan daerah yang diatur oleh undang undang. Pengertian dari Pemerintahan Daerah sendiri adalah penyelenggaraan urusan pemerintahan oleh Pemerintah Daerah dan DPRD menurut asas otonomi dan tugas pembantuan dengan prinsip otonomi seluas-luasnya dalam sistem dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagaimana dimaksud dalam UUD 1945 (UU No 32 Tahun 2004 tentang pemerintahan daerah pasal 1 ayat 2). Melihat definisi pemerintahan daerah seperti yang telah dikemukakan diatas,maka yang dimaksud pemerintahan daerah disini adalah penyelenggaraan daerah otonom oleh pemerintah daerah dan DPRD menurut asas desentralisasi dan unsur penyelenggara pemerintah daerah adalah Gubernur, Bupati atau Walikota dan perangkat daerah.
2.2 Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah
Dalam penyelenggaraan Pemerintahan Daerah Kepala Daerah dibantu oleh Perangkat Daerah yang terdiri dari :
Unsur staf yang membantu penyusunan kebijakan dan koordinasi, diwadahi dalam Sekretariat;
Unsur pengawas yang diwadahi dalam bentuk Inspektorat;
Unsur perencana yang diwadahi dalam bentuk Badan;
Unsur pendukung tugas Kepala daerah dalam penyusunan dan pelaksanaan kebijakan daerah yang bersifat spesifik, diwadahi dalam Lembaga Teknis Daerah; serta
Unsur pelaksana urusan daerah yang diwadahi dalam Dinas Daerah.
pemerintahan kabupaten atau kota yang bersifat pilihan meliputi urusan pemerintahan yang secara nyata ada dan berpotensi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat sesuai dengan kondisi, kekhasan, dan potensi unggulan daerah yang bersangkutan.
Pemerintah daerah dalam menyelenggarakan urusan pemerintah ini menjalankan dengan otonomi seluas-luasnya untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahannya berdasarkan asas otonomi dan tugas pembantuan.Pemerintahan daerah dalam menyelenggarakan urusan pemerintahan memiliki hubungan dengan pemerintah pusat dan dengan pemerintahan daerah lainnya. Hubungan tersebut meliputi hubungan wewenang, keuangan, pelayanan umum, pemanfaatan sumber daya alam, dan sumber daya lainnya. Hubungan keuangan, pelayanan umum, pemanfaatan sumber daya alam, dan sumber daya lainnya dilaksanakan secara adil dan selaras. Hubungan wewenang, keuangan, pelayanan umum, pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya lainnya menimbulkan hubungan administrasi dan kewilayahan antarsusunan pemerintahan.
Untuk menyelenggaraan pemerintahan daerah tersebut, maka terdapat asas-asas pemerintahan daerah yang terbagi menjadi empat, yaitu Sentralisasi, Desentralisasi, Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan.
Sentralisasi
Pengertian sentralisasi adalah suatu sistem pemerintahan di mana segala kekuasaan dipusatkan di pemerintah pusat. Menurut J. In het Veld, kelebihan sentralisasi adalah menjadi landasan kesatuan kebijakan lembaga atau masyarakat dapat mencegah keinginan untuk memisahkan diri dari negara dan dapat meningkatkan rasa persatuan meningkatkan rasa persamaan dalam perundang-undangan, pemerintahan dan pengadilan sepanjang meliputi kepentingan seluruh wilayah dan lebih mengutamakan umum daripada kepentingan daerah nya sendiri, golongan atau perorangan, masalah keperluan umum menjadi beban merata dari seluruh pihak tenaga yang lemah dapat dihimpun menjadi suatu kekuatan yang besar meningkatkan daya guna dan hasil guna dalam penyelenggaraan pemerintahan meskipun hal tersebut belum merupakan suatu kepastian tenaga yang lemah dapat dihimpun menjadi suatu kekuatan yang besar.
Pengertian desentralisasi adalah penyerahan wewenang pemerintahan oleh pemerintah kepada daerah otonom untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintahan dalam sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia. Desentralisasi dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah didasarkan pada :dilihat dari sudut politik, desentralisasi dimaksudkan untuk mencegah penumpukan kekuasaan pada satu pihak saja yang apda akhirnya dapat menimbulkan tirani. Penyelenggaraan desentralisasi dianggap sebagai pendemokrasian, untuk menarik rakyat ikut serta dalam pemerintahan dan melatih diri dalam menggunakan hak-hak demokrasi dari sudut teknis organisatoris pemerintahan, desentralisasi adalah untuk mencapai suatu pemerintahan yang efesien. Pembahasan tentang desentralisasi akan dibahas secara rinci pada sub bab berikutnya.
Dekonsentrasi
Pengertian dekonsentrasi adalah pelimpahan wewenang pemerintahan oleh pemerintah kepada gubernur sebagai wakil pemerintah dan/atau kepada instansi vertikal di wilayah tertentu. Oleh karena itu, di daerah terdapat suatu wilayah yang merupakan wilayah kerja pejabat yang menerima sebagian wewenang dari pejabat pusat. Wilayah kerja pejabat untuk pejabat pusat yang berada di daerah tersebut disebut wilayah administrasi. Wilayah administrasi terbentuk akibat diterapkannya asas dekonsentrasi. Pejabat pusat akan membuat kantor-kantor beserta kelengkapannya di wilayah administrasi yang merupakan cabang dari kantor pusat. Kantor-kantor cabang yang berada diwilayah administrasi inilah yang disebut dengan instansi vertikal. Disebut vertikal karena berada di bawah kontrol langsung kantor pusat.
Dekonsentrasi memungkinkan terjadinya kontak secara langsung antara pemerintah dengan yang diperintah/rakyat kehadiran perangkat dekonsentrasi di daerah dapat mengamankan pelaksanaan kebijakan pemerintah pusat atau kebijakan nasional di bidang politik, ekonomi, dan administrasi dapat menjadi alat yang efektif untuk menjamin persatuan dan kesatuan nasional.
Tugas Pembantuan
Pengertian dari Tugas Pembantuan adalah penugasan dari pemerintah kepada daerah dan/atau desa, dari pemerintah propinsi kepada kabupaten/kota dan/atau desa, dari pemerintah kabupaten/kota kepada desa untuk melaksanakan tugas tertentu. Tujuan diberikannya Tugas Pembantuan adalah karena untuk lebih meningkatkan efektivitas dan efesiensi penyelenggaraan pembangunan serta pelayanan umum kepada masyarakat. Tujuan lainnya adalah untuk memperlancar pelaksanaan tugas dan penyelesaian permasalahan serta membantu mengembangkan pembangunan daerah dan desa sesuai dengan potensi dan karakteristiknya.
Latar Belakang perlunya daerah dan desa diberikan tugas pembantuan, yaitu :
- Adanya peraturan perundang-undangan yang membuka peluang dilakukannya pemberian tugas pembantuan dari pemerintah kepada daerah dan desa dan dari pemerintah daerah kepada desa (Pasal 18A UUD 1945 sampai pada UU pelaksananya : UU Nomor 32 Tahun 2004 dan UU Nomor 33 Tahun 2004).
- Adanya political will atau kemauan politik untuk memberikan pelayanan yang lebih baik kepada seluruh lapisan masyarkat dengan prinsip lebih murah, lebih cepat, lebih mudah dan lebih akurat.
- Adanya keinginan politik untuk menyelenggarakan pemerintahan, pembangunan dan pemberian pelayanan kepada masyarakat secara lebih ekonomis, lebih efesien dan efektif, lebih transparan dan akuntabel.
- Citra masyarakat akan lebih mudah diukur oleh masyarakat melalui maju atau mundurnya suatu desa atau daerah.
Sedangkan dasar pertimbangan pelaksanaan asas tugas pembantuan antara lain karena keterbatasan kemampuan pemerintah dan atau pemerintah daerah, sifat sesuatu urusan yang sulit dilaksanakan dengan baik tanpa mengikutsertakan pemerintah daerah.dan perkembangan serta kebutuhan masyarakat, sehingga sesuatu urusan pemerintahan akan lebih berdaya guna dan berhasil guna apabila ditugaskan kepada pemerintah daerah.
2.3 Pemerintah dan Perangkat Daerah
Pelaksana dari penyelenggaraan pemerintahan daerah adalah seorang pemerintah daerah. Setiap daerah dipimpin oleh kepala pemerintah daerah yang disebut kepala daerah. Kepala daerah untuk provinsi disebut gubernur, untuk kabupaten disebut bupati dan untuk kota adalah wali kota. Kepala daerah dibantu oleh satu orang wakil kepala daerah, untuk provinsi disebut wakil Gubernur, untuk kabupaten disebut wakil bupati dan untuk kota disebut wakil wali kota. Kepala dan wakil kepala daerah memiliki tugas, wewenang dan kewajiban. Kepala daerah juga mempunyai kewajiban untuk memberikan laporan penyelenggaraan pemerintahan daerah kepada Pemerintah, dan memberikan laporan keterangan pertanggungjawaban kepada DPRD, serta menginformasikan laporan penyelenggaraan pemerintahan daerah kepada masyarakat.Tugas dan wewenang dari kepala daerah sendiri , yaitu: (1) memimpin penyelenggaraan pemerintahan daerah berdasarkan kebijakan yang ditetapkan bersama DPRD; (2) mengajukan rancangan Peraturan Daerah; (3) menetapkan Peraturan daerah yang telah mendapat persetujuan bersama DPRD; (4) menyusun dan mengajukan rancangan Peraturan daerah tentang APBD kepada DPRD untuk dibahas dan ditetapkan bersama; (5) mengupayakan terlaksananya kewajiban daerah; (6) mewakili daerahnya di dalam dan di luar pengadilan, dan dapat menunjuk kuasa hukum untuk mewakilinya sesuai dengan peraturan perundangundangan; dan (7) melaksanakan tugas dan wewenang lain sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
daerah, lembaga teknis daerah, kecamatan dan kelurahan. Susunan organisasi perangkat daerah ditetapkan dalam Perda dengan memperhatikan faktor-faktor tertentu dan berpedoman pada Peraturan Pemerintah.
Sekretariat daerah dipimpin oleh Sekretaris Daerah. Sekretaris daerah mempunyai tugas dan kewajiban membantu kepala daerah dalam menyusun kebijakan dan mengkoordinasikan dinas daerah dan lembaga teknis daerah. Sekretariat DPRD dipimpin oleh Sekretaris DPRD. Sekretaris DPRD mempunyai tugas: (a). menyelenggarakan administrasi kesekretariatan DPRD; (b). menyelenggarakan administrasi keuangan DPRD; (c). mendukung pelaksanaan tugas dan fungsi DPRD; dan (d). menyediakan dan mengkoordinasi tenaga ahli yang diperlukan oleh DPRD dalam melaksanakan fungsinya sesuai dengan kemampuan keuangan daerah.
Dinas daerah merupakan unsur pelaksana otonomi daerah. Kepala dinas daerah bertanggung jawab kepada kepala daerah melalui Sekretaris Daerah. Lembaga teknis daerah merupakan unsur pendukung tugas kepala daerah dalam penyusunan dan pelaksanaan kebijakan daerah yang bersifat spesifik berbentuk badan, kantor, atau rumah sakit umum daerah. Kepala badan, kantor, atau rumah sakit umum daerah tersebut bertanggung jawab kepada kepala daerah melalui Sekretaris Daerah.
Kecamatan dibentuk di wilayah kabupaten/kota dengan Perda berpedoman pada Peraturan Pemerintah. Kecamatan dipimpin oleh camat yang dalam pelaksanaan tugasnya memperoleh pelimpahan sebagian wewenang bupati atau wali kota untuk menangani sebagian urusan otonomi daerah. Kelurahan dibentuk di wilayah kecamatan dengan Perda berpedoman pada Peraturan Pemerintah. Kelurahan dipimpin oleh lurah yang dalam pelaksanaan tugasnya memperoleh pelimpahan dari Bupati/Walikota.
2.4 Pengertian Desentralisasi
judikatif, atau administratif. Sedangkan menurut Hoogerwerf (1978), Desentralisasi adalah pengakuan atau penyerahan wewenang oleh badan-badan umum yang lebih rendah untuk secara mandiri dan berdasarkan pertimbangan kepentingan sendiri mengambil keputusan pengaturan pemerintahan, serta struktur wewenang yang terjadi dari hal itu. Pendapat lain dijabarkan oleh Koswara (1996) yang mengatakan bahwa desentralisasi pada dasarnya mempunyai makna yaitu melalui proses desentralisasi urusan-urusan pemerintahan yang semula termasuk wewenang dan tanggung jawab pemerintah pusat sebagian diserahkan kepada pemerintah daerah agar menjadi urusan rumah tangganya sehingga urusan tersebut beralih kepada dan menjadi wewenang dan tanggung jawab pemerintah daerah. Maddick (1963) mengemukakan bahwa desentralisasi adalah suatu cara untuk meningkatkan kemampuan aparat pemerintah dan memperoleh informasi yang lebih baik mengenai keadaan daerah, untuk menyusun program-program daerah secara lebih responsif dan untuk mengantisipasi secara cepat manakala persoalan-persoalan timbul dalam pelaksanaan.
Lebih lanjut Soejito (1990) menjelaskan bahwa desentralisasi sebagai suatu sistem dipakai dalam bidang pemerintahan merupakan kebalikan dari sentralisasi , dimana sebagian kewenangan pemerintah pusat dilimpahkan kepada pihak lain untuk dilaksanakan.
2.5 Tujuan Desentralisasi
Desentralisasi menurut smith(1985) tujuan utama desentralisasi dibagi menjadi 2 yaitu “political and economic goals”,lalu smith mencoba mengupas secara tujuan dari desentralisasi secara lebih rinci membedakan tujuan desentralisasi bila dilihat dari sudut pandang kepentingan pemerintah pusat dengan pemerintah daerah. Untuk kepentingan pemerintah pusat , smith menegaskan sedikitnya ada 3 tujuan desentralisasi yaitu: “political education,,training in political leadership,and for political stability”. Untuk kepentingan pemerintah daerah, menurut smith ada 3 tujuan desentralisasi yaitu : “political equality,local accountability,and local responsiveness”. Sedangkan tujuan umum
dari Desentralisasi adalah :
- mencegah pemusatan keuangan
- sebagai usaha pendemokrasian Pemerintah Daerah untuk mengikutsertakan rakyat
bertanggung jawab terhadap penyelenggaraan pemerintahan.
2.6 Bentuk Desentralisasi
Bentuk desentralisasi dibagi menjadi empat, yaitu :
- Dekonsentrasi: Desentralisasi dekosentrasi pada prinsipnya merupakan bentuk desentralisasi nir ekstensif (kurang luas) lebih kepada pergeseran beban kerja dari kantor-kantor pusat departemen pemerintah kepada pejabat staff yang berkantor-kantor di luar ibukota negara. Terbuka kemungkinan tidak diberinya wewenangan memutuskan bagaimana fungsi-fungsi yang diemban atau dibebankan kepadanya seharusnya dilaksanakan. Namun juga dimungkinkan pelaksanaan dekosentrasi secara lebih ekstensif melalui pembentukan sistem “Field administration” dengan pemberian kebebasan kepada staff atau pejabat setempat membuat keputusan rutin serta menyuarakan implementasi kebijakan sesuai dengan kondisi lokal. Dalam hal ini sedikit banyak pemerintah pusat masih memberi kerangka pedoman pelaksanaan.
- Delegasi: Melimpahkan kewenangan manajerial dan pembuatan keputusan, khususnya dalam menjalankan fungsi-fungsi publik khusus atau tertentu pada organisasi-organisasi tertentu yang hanya dikontrol secara tidak langsung oleh departemen pusat. Tidak jarang, dalam menjalankan fungsi-fungsi yang dibebankan kepadanya ternyata organisasi mempunyai tingkatan yang lebih independen. Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Badan Perencanaan Pembangunan Daerah merupakan contoh desentralisasi pada tingkatan delegasi. Dalam praktek sistem pemerintahan seringkali dikenal sebagai tugas pembantuan atau Medebewind, dimana pemerintah pusat membuat kebijakan dan menyediakan anggarannya. Untuk pelaksanaan kegiatan diserahkan sepenuhnya kepada aparat dan staff pemerintah daerah mempertanggungjawabkan keberhasilannya kepada pemerintah pusat dan mendelegasikan kekuasaan pelaksanaan program tersebut kepada daerah.
menyediakan pelayanan optimal dapat bermanfaat, serta sebagai satuan pemerintahan yang masyarakatnya mempunyai hak untuk mempengaruhi keputusan-keputusannya. Namun sayangnya bentuk desentralisasi devolusi ini jarang dipraktekkan di Indonesia, juga di negara-negara berkembang.
- Transfer fungsi/penyerahan pemerintahan kepada Nongovernment Institution : Desentralisasi bentuk ini diberikan melalui perencanaan dan tanggungjawab administratif, fungsi-fungis publik dari pemerintah ke pada tenaga sukarela (voluntary), swasta, lembaga-lembaga non pemerintah. Dalam kasus tertentu pemerintah melakukan transfer perencanaan dan tanggungjawab administratif kepada organisasi di luar pemerintah secara paralel. Misalkan kepada industri nasional dan asosiasi perdagangan, organisasi profesional atau organisasi gerejawi, partai-partai politik, koperasi-koperasi. Hak yang diberikan dapat berupa ijin, peraturan, pengawasan anggota mereka di dalam melakukan fungsi-fungsi yang sebelumnya dikontrol oleh pemerintah. Dalam kasus lain pemerintah dapat merubah tanggungjawab menghasilkan barang-barang atau suplai pelayanan ke organisasi-organisasi private.
2.7 Pentingnya Desentralisasi
Mengapa harus dilakukan desentralisasi sistem pemerintahan? Karena pada dasarnya stabilitas politik nasional berawal dari stabilitas politik tingkat daerah. Masyarakat baik secara sendiri - sendiri maupun secara berkelompok akan ikut terlibat dalam mempengaruhi pemerintahannya untuk membuat kebijakan, terutama yang menyangkut kepentingan mereka kepentingan rakyat banyak. Dengan pelaksanaan desentralisasi sistem pemerintahan bisa memungkinkan representasi yang lebih luas dari berbagai kelompok politik, etnis, serta keagamaan di dalam perencanaan pembangunan.
Sistem pemerintahan daerah juga membuka peluang bagi masyarakat daerah untuk meningkatkan kapasitas teknik dan manajerial sehingga bisa meningkatkan pengaruh serta pengawasan atas berbagai aktivitas yang dilakukan oleh para elit lokal. Dalam sistem pemerintahan daerah juga bisa memungkinkan para pemimpin daerah untuk menetapkan pelayanan dan fasilitas secara efektif di tengah - tengah masyarakat, mengintegrasikan daerah - daerah yang terisolasi, memonitor dan melakukan evaluasi implementasi proyek pembangunan dengan lebih baik bila dibandingan pengawasan yang dilakukan oleh pejabat dari pusat.
tingkat pemerintahan, maupun masyarakat secara keseluruhan, kesiapan administrasi pemerintahan, pengembangan kelembagaan dan sumber daya manusia, mekanisme koordinasi untuk meningkatkan kinerja aparat birokrasi, perubahan sistem nilai dan perilaku birokrasi dalam memenuhi keinginan masyarakat khususnya dalam pelayanan sektor publik.
2.8 Dampak Desentralisasi
Dari segi ekonomi, banyak sekali keuntungan dari penerapan sistem desentralisasi. Diantaranya adalah dimana pemerintahan daerah akan mudah untuk mengelola sumber daya alam yang dimilikinya, dengan demikian apabila sumber daya alam yang dimiliki telah dikelola secara maksimal maka pendapatan daerah dan pendapatan masyarakat akan meningkat. Tetapi, penerapan sistem ini membuka peluang yang sebesar-besarnya bagi pejabat daerah (pejabat yang tidak benar) untuk melalukan praktek KKN.
Dari segi sosial budaya, desentralisasi akan memperkuat ikatan sosial budaya pada suatu daerah. Karena dengan diterapkannya sistem desentralisasi ini pemerintahan daerah akan dengan mudah untuk mengembangkan kebudayaan yang dimiliki oleh daerah tersebut. Bahkan kebudayaan tersebut dapat dikembangkan dan di perkenalkan kepada daerah lain. Yang nantinya merupakan salah satu potensi daerah tersebut.Sedangkan dampak negatif dari desentralisasi pada segi sosial budaya adalah masing- masing daerah berlomba-lomba untuk menonjolkan kebudayaannya masing-masing. Sehingga, secara tidak langsung ikut melunturkan kesatuan yang dimiliki oleh bangsa Indonesia itu sendiri.
Sedangkan dari segi Keamanan dan Politik,diadakannya desentralisasi merupakan suatu upaya untuk mempertahankan kesatuan Negara Indonesia. Karena dengan diterapkannya kebijaksanaan ini akan bisa meredam daerah-daerah yang ingin memisahkan diri dengan NKRI, (daerah-daerah yang merasa kurang puas dengan sistem atau apa saja yang menyangkut NKRI). Tetapi disatu sisi desentralisasi berpotensi menyulut konflik antar daerah.
2.9 Pengertian Otonomi Daerah
Istilah otonomi berasal dari bahasa Yunani autos yang berarti sendiri dan namos yang berarti Undang-undang atau aturan. Dengan demikian otonomi dapat diartikan sebagai kewenangan untuk mengatur dan mengurus rumah tangga sendiri (Bayu Suryaninrat; 1985). Menurut undang – undang no. 5 tahun 1974, otonomi daerah adalah hak, wewenang dan kewajiban daerah untuk mengatur dan mengurus urusan rumah tangganya sendiri sesuai dengan peraturan perundang – undangan yang berlaku. Beberapa pendapat ahli yang dikutip Abdulrahman (1997) mengemukakan bahwa :
1. F. Sugeng Istianto, mengartikan otonomi daerah sebagai hak dan wewenang untuk mengatur dan mengurus rumah tangga daerah.
2. Ateng Syarifuddin, mengemukakan bahwa otonomi mempunyai makna kebebasan atau kemandirian tetapi bukan kemerdekaan. Kebebasan yang terbatas atau kemandirian itu terwujud pemberian kesempatan yang harus dipertanggungjawabkan.
3. Syarif Saleh, berpendapat bahwa otonomi daerah adalah hak mengatur dan memerintah daerah sendiri. Hak mana diperoleh dari pemerintah pusat.
Pendapat lain dikemukakan oleh Benyamin Hoesein (1993) bahwa otonomi daerah adalah pemerintahan oleh dan untuk rakyat di bagian wilayah nasional suatu Negara secara informal berada di luar pemerintah pusat. Sedangkan Philip Mahwood (1983)
mengemukakan bahwa otonomi daerah adalah suatu pemerintah daerah yang mempunyai kewenangan sendiri yang keberadaannya terpisah dengan otoritas yang diserahkan oleh pemerintah guna mengalokasikan sumber sumber material yang substansial tentang fungsi-fungsi yang berbeda. Dengan otonomi daerah tersebut, menurut Mariun (1979) bahwa dengan kebebasan yang dimiliki pemerintah daerah memungkinkan untuk membuat inisiatif sendiri, mengelola dan mengoptimalkan sumber daya daerah. Adanya kebebasan untuk berinisiatif merupakan suatu dasar pemberian otonomi daerah, karena dasar pemberian otonomi daerah adalah dapat berbuat sesuai dengan kebutuhan setempat. Kebebasan yang terbatas atau kemandirian tersebut adalah wujud kesempatan pemberian yang harus
Pendapat tentang otonomi di atas, juga sejalan dengan yang dikemukakan Vincent Lemius (1986) bahwa otonomi daerah merupakan kebebasan untuk mengambil keputusan politik maupun administrasi, dengan tetap menghormati peraturan perundang-undangan. Meskipun dalam otonomi daerah ada kebebasan untuk menentukan apa yang menjadi
kebutuhan daerah, tetapi dalam kebutuhan daerah senantiasa disesuaikan dengan kepentingan nasional, ditetapkan dalam peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. Terlepas dari itu pendapat beberapa ahli yang telah dikemukakan di atas, dalam Undang-undang Nomor 32 tahun 2004 dinyatakan bahwa otonomi daerah adalah kewenangan daerah untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat dalam ikatan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
2.10 Hakekat Otonomi Daerah
Otonomi daerah merupakan salah satu wujud upaya desentralisasi. Pelaksanaan otonomi daerah pada hakekatnya adalah upaya untuk meningkatkan kesejahteraan
masyarakat dengan melaksanakan kegiatan-kegiatan pembangunan sesuai dengan kehendak dan kepentingan masyarakat. Berkaiatan dengan hakekat otonomi daerah tersebut yang berkenaan dengan pelimpahan wewenang pengambilan keputusan kebijakan, pengelolaan dana publik dan pengaturan kegiatan dalam penyelenggaraan pemerintah dan pelayanan masyarakat maka peranan data keuangan daerah sangat dibututuhkan untuk mengidentifikasi sumber-sumber pembiayaan daerah serta jenis dan besar belanja yang harus dikeluarkan agar perencanaan keuangan dapat dilaksanakan secara efektif dan efisien. Data keuangan daerah yang memberikan gambaran statistik perkembangan anggaran dan realisasi, baik penerimaan maupun pengeluaran dan analisa terhadapnya merupakan informasi yang penting terutama untuk membuat kebijakan dalam pengelolaan keuangan daerah untuk meliahat kemampuan/ kemandirian daerah (Yuliati, 2001:22).
2.11 Tujuan Otonomi Daerah
Meningkatkan kualitas dan kuantitas pelayanan publik dan kesejahteraan masyarakat.
Menciptakan efisiensi dan efektivitas pengelolaan sumber daya daerah.
Memberdayakan dan menciptakan ruang bagi masyarakat (publik) untuk berpartisipasi dalam proses pembangunan.
Selanjutnya tujuan otonomi daerah menurut penjelasan Undang-undang No 32 tahun 2004 pada dasarnya adalah sama yaitu otonomi daerah diarahkan untuk memacu pemerataan pembangunan dan hasil-hasilnya, meningkatkan kesejahteraan rakyat, menggalakkan prakarsa dan peran serta aktif masyarakat secara nyata, dinamis, dan bertanggung jawab sehingga memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa, mengurangi beban pemerintah pusat dan campur tangan di daerah yang akan memberikan peluang untuk koordinasi tingkat lokal.
2.12 Prinsip Otonomi Daerah
Menurut penjelasan Undang-Undang No. 32 tahun 2004, prinsip penyelenggaraan otonomi daerah adalah :
1. penyelenggaraan otonomi daerah dilaksanakan dengan aspek demokrasi, keadilan, pemerataan serta potensi dan keaneka ragaman daerah.
2. Pelaksanaan otonomi daerah didasarkan pada otonomi luas, nyata dan bertanggung jawab.
3. pelaksanaan otonomi daerah yang luas dan utuh diletakkan pada daerah dan daerah kota, sedangkan otonomi provinsi adalah otonomi yang terbatas.
4. Pelaksanaan otonomi harus sesuai dengan konstitusi negara sehingga tetap terjamin hubungan yang serasi antara pusat dan daerah.
5. Pelaksanaan otonomi daerah harus lebih meningkatkan kemandirian daerah kabupaten dan derah kota tidak lagi wilayah administrasi. Demikian pula di kawasan-kawasan khusus yang dibina oleh pemerintah.
6. Pelaksanaan otonomi daerah harus lebih meningkatkan peranan dan fungsi badan legislatif daerah baik sebagai fungsi legislatif, fungsi pengawasan, mempunyai fungsi anggaran atas penyelenggaraan otonomi daerah.
8. Pelaksanaan asas tugas pembantuan dimungkinkan tidak hanya di pemerintah daerah dan daerah kepada desa yang disertai pembiayaan, sarana dan pra sarana serta sumber daya manusia dengan kewajiban melaporkan pelaksanaan dan mempertanggung jawabkan kepada yang menugaskan.
2.13 Pembagian Kekuasaan antara Pusat dan Daerah Menurut UU No.22 1999
Pembagian kekuasaan antara Pusat dan daerah dilakukan berdasarkan prinsip negara kesatuan tetapi dengan semangat federalisme. Jenis kekuasaan yang ditangani Pusat hampir sama dengan yang ditangani oleh Pemerintah di negara federal, yaitu hubungan luar negeri, pertahanan dan keamanan, peradilan, moneter, dan agama, serta berbagai jenis urusan yang memang lebih efisien ditangani secara sentral oleh pemerintah pusat, seperti kebijakan makro ekonomi, standarisasi nasional, administrasi pemerintahan, badan usaha milik negara, dan pengembangan sumberdaya manusia. Semua jenis kekuasaan yang ditangani pemerintah pusat disebutkan secara spesifik dalam UU tersebut.
Selain itu, otonomi daerah yang diserahkan itu bersifat luas, nyata dan bertanggungjawab. Disebut luas karena kewenangan sisa justru berada pada pemerintah pusat (seperti pada negara federal); disebut nyata karena kewenangan yang diselenggarakan itu menyangkut yang diperlukan, tumbuh dan hidup, dan berkembang di daerah; dan disebut bertanggungjawab karena kewenangan yang diserahkan itu harus diselenggarakan demi pencapaian tujuan otonomi daerah, yaitu peningkatan pelayanan dan kesejahteraan masyarakat yang semakin baik, pengembangan kehidupan demokrasi, keadilan dan pemerataan, serta pemeliharaan hubungan yang serasi antara Pusat dan daerah dan antar daerah. Disamping itu otonomi seluas-luasnya (keleluasaan otonomi) juga mencakup kewenangan yang utuh dan bulat dalam penyelenggaraannya melalui perencanaan, pelaksanaan, pengawasan, pengendalian dan evaluasi. Kewenangan yang diserahkan kepada daerah otonom dalam rangka desentralisasi harus pula disertai penyerahan dan pengalihan pembiayaan, sarana dan prasarana, dan sumber daya manusia.
a. Kewenangan yang bersifat lintas Kabupaten dan Kota, seperti kewenangan dalam bidang pekerjaan umum, perhubungan, kehutanan, dan perkebunan;
b. Kewenangan pemerintahan lainnya, yaitu perencanaan dan pengendalian pembangunan regional secara makro, pelatihan bidang alokasi sumberdaya manusia potensial, penelitian yang mencakup wilayah Propinsi, pengelolaan pelabuhan regional, pengendalian lingkungan hidup, promosi dagang dan budaya/pariwisata, penanganan penyakit menular, dan perencanaan tata ruang propinsi;
c. Kewenangan kelautan yang meliputi eksplorasi, eksploitasi, konservasi dan pengelolaan kekayaan laut, pengaturan kepentingan administratif, pengaturan tata ruang, penegakan hukum, dan bantuan penegakan keamanan dan kedaulatan negara, dan
d. Kewenangan yang tidak atau belum dapat ditangani daerah kabupaten dan daerah kota dan diserahkan kepada propinsi dengan pernyataan dari daerah otonom kabupaten atau kota tersebut.
3.1 Kesimpulan
Pemerintahan daerah adalah penyelenggaraan daerah otonom oleh pemerintah daerah dan DPRD menurut asas desentralisasi dan unsur penyelenggara pemerintah daerah adalah Gubernur, Bupati atau Walikota dan perangkat daerah.
Untuk menyelenggaraan pemerintahan daerah tersebut, maka terdapat asas-asas pemerintahan daerah yang terbagi menjadi empat, yaitu Sentralisasi, Desentralisasi, Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan
Sentralisasi adalah suatu sistem pemerintahan di mana segala kekuasaan dipusatkan di pemerintah pusat. Sedangkan Desentralisasi adalah penyerahan wewenang pemerintahan oleh pemerintah kepada daerah otonom untuk mengatur dan mengurus urusan
pemerintahan dalam sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Dekonsentrasi adalah pelimpahan wewenang pemerintahan oleh pemerintah kepada gubernur sebagai wakil pemerintah dan/atau kepada instansi vertikal di wilayah tertentu. Dan Tugas Pembantuan adalah penugasan dari pemerintah kepada daerah dan/atau desa, dari pemerintah propinsi kepada kabupaten/kota dan/atau desa, dari pemerintah
kabupaten/kota kepada desa untuk melaksanakan tugas tertentu
Setiap daerah dipimpin oleh kepala pemerintah daerah yang disebut kepala daerah. Kepala daerah untuk provinsi disebut gubernur, untuk kabupaten disebut bupati dan untuk kota adalah wali kota.
Gubernur mempunyai dua jabatan, yaitu sebagai pejabat pusat dan sebagai wakil dari orang daerah.
Tujuan umum dari desentralisasi adalah mencegah pemusatan keuangan, sebagai usaha pendemokrasian Pemerintah Daerah untuk mengikutsertakan rakyat bertanggung jawab terhadap penyelenggaraan pemerintahan dan penyusunan program-program untuk perbaikan sosial ekonomi pada tingkat local sehingga dapat lebih realistis.
Bentuk desentralisasi ada 4 yaitu delegasi, dekonsentrasi, devolusi , transfer fungsi/penyerahan pemerintahan kepada Nongovernment Institution.
Otonomi daerah diarahkan untuk memacu pemerataan pembangunan dan hasil-hasilnya, meningkatkan kesejahteraan rakyat, menggalakkan prakarsa dan peran serta aktif
masyarakat secara nyata, dinamis, dan bertanggung jawab.
Pembagian kekuasaan antara Pusat dan daerah dilakukan berdasarkan prinsip negara kesatuan tetapi dengan semangat federalisme. Semua jenis kekuasaan yang ditangani pemerintah pusat disebutkan secara spesifik dalam UU .
3.2 Saran
Desentralisasi dan Otonomi daerah merupakan implementasi dalam sistem pemerintahan daerah di Indonesia. Jika desentralisasi dan otonomi daerah bisa terlaksana dengan baik, akan menghasilkan suatu good governance. Dalam rangka membangun Good Governance di daerah, paling tidak ada beberapa prinsip dasar yang harus diterapkan oleh penyelenggara pemerintahan daerah, yaitu : prinsip kepastian hukum, transparansi, profesionalisme, akuntabilitas dan partisipasi yang harus dilakukan.
Saran bagi aparatur pemerintah khususnya sebagai pemegang kendali pemerintahan sebaiknya selalu melihat ke bawah, agar mampu menggali keunikan dan potensi dari daerahnya.Bagi masyarakat sebagai obyek dan sekaligus subyek dari pembangunan seharusnya ikut berpartisipasi lebih aktif lagi untuk memajukan daerahnya sendiri. Yang terakhir adalah bagi pembaca pada umumnya, wacana dan informasi tentang isu – isu pembangunan yang dengan begitu mudah diakses, sebaiknya dijadikan acuan agar dapat ikut aktif dalam program pemabangunan di mana pun Anda berada.
- Nuraini,A. 2011. Otonomi Daerah dan Laju Pembangunan di Kabupaten Batang. (Online) , ( http://ayangga.wordpress.com/2011/03/10/otonomi-daerah-dan-laju-pembangunan-di-kabupaten-batang/ diakses tanggal 27 maret 2013)
- Susilowati, K.Y. 2012. Pengertian Prinsip dan Tujuan Otonomi Daerah. (online), (http://karuniayeni.blogspot.com/2012/04/pengertian-prinsip-dan-tujuan-otonomi.html diakses tanggal 28 maret 2013 )
- PKBM Cibanggala. 2011. Mengenal Sistem Pemerintahan Daerah di Indonesia. (online), (http://pkbmcibanggala.blogspot.com/2011/06/mengenal-sistem-pemerintahan-di.html diakses tanggal 27 maret 2013 )
- Carapedia. Sistem Pemerintahan Daerah. (Online),
(http://carapedia.com/sistem_pemerintahan_daerah_info2340.html diakses tanggal 28 maret 2013 )
- Mega Cries. 2011. Dampak Desentralisasi. (Online),
(http://megacries.blogspot.com/2012/08/dampak-desentralisasi.html diakses tanggal 28 maret 2013 )
- Junaidi, Wawan. 2012. Pengertian Desentralisasi. (Online),
(http://wawan-junaidi.blogspot.com/2012/03/pengertian-desentralisasi.html diakses tanggal 28 Maret 2013)
- Wikipedia. Pemerintahan Daerah di Indonesia. (Online),