Melawan Lupa dan Kadaluarsa Kasus Udin
Masduki, M.Si, MA(Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Islam Indonesia dan Mantan Ketua Aliansi Jurnalis Independen Yogyakarta 2002-2004)
Setiap memasuki pertengahan Agustus, pertanyaan besar selalu membuncah di kalangan aktifis HAM dan jurnalis profesional, apakah kasus kematian jurnalis idealis Fuad Muhammad Syafruddin akan menemukan ‘kata akhir’? kata akhir itu bermakna dua. Pertama, selesai dengan dinyatakan kadaluarsa atau minimal polisi mengaku menyerah, tidak mampu menyingkap tabir pelaku dibalik kasus ini. Kedua, belum alias polisi masih menebar janji, membuka diri untuk diberi data dan bekerja, tanpa batas waktu. Meskipun berbeda kata, dalam praktek, polisi tidak pernah jelas mengambil posisi diantara keduanya.
Dalam sepuluh tahun terakhir, patut dicurigai, polisi sesungguhnya tidak melakukan apa-apa, hanya berwacana menyelidiki kasus Udin, dan wacana itu tampak klise. Namun, pilihan untuk mengaku menyerah atau menyatakan kasus Udin kadaluarsa terlalu mahal harga sosial dan politiknya bagi kepolisian. Perlawanan terhadap praktek pembiaran pelaku pembunuhan Udin (impunitas) dan kasus serupa lainnya kini tetap membara. Dua jargon yang mengemuka di usung para aktifis adalah: melawan lupa dan menolak kadaluarsa.
Impunitas Tiada Henti
Jika dicermati, kasus Udin atau kasus kekerasan terhadap jurnalis lain memiliki dua wajah kontradiktif. Pertama, wajah advokasi dan penegakan hukum. Meskipun UU 40/1999 sudah mengatur kewajiban Negara melindungi profesi jurnalis, namun pendekatan yang dianut aparat cenderung normatif. Penegakan hukum terhadap kekerasan yang dialami jurnalis dipukul rata dengan penegakan hukum terhadap tindak kriminal lainnya. Belum tampak pendekatan khusus, lex specialis dengan menempatkan kekerasan terhadap jurnalis sebagai pelanggaran HAM mengingat korbannya adalah pembawa kabar publik, mereka yang berkiprah melayani hak dasar publik atas informasi dan hak pubik untuk melakukan kontrol kekuasaan yang korup. Sejauh ini regulasi yang berlaku di Indonesia belum mengatur secara terperinci sampai kepada standar operasi minimal, bagaimana penanganan terhadap kekerasan jurnalis. Keadaan itu diperparah minimnya pemahaman UU pers dikalangan aparat penegak hukum itu sendiri. Pendek kata, wajah hukum penegakan kasus pers masih buram.
Praktek impunitas dalam kasus Udin kemudian menyuburkan praktik kekerasan terhadap jurnalis yang menjalankan profesinya, menjadi gelombang kekerasan yang tak pernah putus di Indonesia. Setiap tahun, jumlah kasus kekerasan terhadap jurnalis rata-rata 30 kasus. AJI mencatat sejak Mei 2013-April 2014 terjadi 43 kasus kekerasan di berbagai daerah. Secara global, sejak 1992, ada 1.054 jurnalis terbunuh dalam tugas. Irak negara paling berbahaya bagi jurnalis di dunia, dengan jumlah pembunuhan jurnalis yang mencapai 164 kasus, di susul Filipina (76 kasus) dan Suria (63 kasus pembunuhan jurnalis). Lebih buruk lagi, Irak dan Filipina adalah dua negara yang kerap memeti-eskan kasus jurnalis.
Selama aparat kepolisian masih berpikir normatif, tidak out of the box sebagaimana penanangan kasus terorisme dan Narkoba, maka impunitas dalam kasus pembunuhan Udin akan tetap abadi. Sikap dingin aparat selanjutnya mengancam memori publik atas kasus kekerasan jurnalisme dan melahirkan ‘kadaluarsa sosial’ bagi kasus Udin. Jika tidak dikelola dengan kreatif dan kolektif, maka stamina aktifis dan jurnalis juga terancam menurun.
Hari Anti Kekerasan
Wajah kedua dari kasus Udin adalah solidaritas sosial yang relatif masih kuat. Kasus Udin secara historis menjadi peristiwa paling menyita perhatian publik nasional dan dunia internasional terkait kekerasan terhadap jurnalis dan kasus ini identik dengan perjuangan jurnalis menegakkan agenda krusial: pemberantasan korupsi terhadap aparat Negara. Solidaritas itu mewujud dalam produksi wacana baru, tekanan opini dan aksi terbuka hingga pendekatan baru: penggunaan ritual-ritual kaum urban seperti gowes, pendakian gunung dan ritual tradisional seperti ziarah untuk menggalang new public engagement.
Dua wacana publik: menolak kasus Udin di-kadaluarsakan dan menolak lupa kasus Udin menjadi ikon baru untuk menuntut tanggungjawab Negara, lebih dari sekedar kinerja kepolisian dalam memberikan tempat yang layak bagi para jurnalis yang telah berperan dalam proses demokratisasi tetapi mengalami tekanan dan kekerasan sepanjang bertugas, khususnya Fuad Muhammad Syafruddin. Sayangnya, kedua wajah diatas saling bertolak belakang. Meningkatnya tekanan publik berbanding terbalik dengan stagnasi kinerja polisi. Kasus Udin menjadi arena pertarungan wacana semata, keluar dari substansinya: sebagai pemicu gerakan sosial melawan tindak kekerasan atas profesi jurnalis sebagai mata dan telinga publik.
Dalam situasi itu, usulan menjadikan tanggal 16 Agustus sebagai hari anti kekerasan terhadap jurnalis Indonesia menjadi ‘jalan keluar’. Penetapan tanggal tersebut menjadi bentuk pengakuan Negara atas segala peristiwa kekerasan jurnalis sebagai sejarah penting bagi publik luas yang peduli penegakan HAM di Indonesia. Pencantuman pada kalender nasional yang diperingati setiap tahun menjadi bentuk lain atas kampanye anti-kekerasan terhadap jurnalis serta momentum refleksi kinerja aparat terkait penuntasan kasus-kasusnya. Tanggal 16 Agustus dipilih karena bertepatan wafatnya Udin, puncak kekerasan yang dialami jurnalis ini setelah sekian bulan mendapat kekerasan fisik dan psikis pada saat melaksanakan tugas.