KAJIAN KARAKTERISTIK DAERAH ALIRAN SUNGA (1)

11 

Teks penuh

(1)

KAJIAN KARAKTERISTIK DAERAH ALIRAN SUNGAI

BERDASARKAN ANALISIS MORFOMETRI

(Suatu Tinjauan Terhadap Aplikasi Softcopy Photogrametry dan Sistem Informasi Geografi Dalam Kajian Fenomena Lingkungan)

Bowo Susilo 1), Danar Guruh Pratomo 2)

1)

Staf Pengajar Jurusan Kartografi dan Penginderaan Jauh Fakultas Geografi - UGM e-mail : bowosusilo@ugm.ac.id

2)

Staf Pengajar Jurusan Teknik Geomatika Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan - ITS e-mail : danar_guruh@geodesy.its.ac.id

Abstrak

Kajian tentang fenomena lingkungan mencakup kegiatan analisis yang umumnya dilakukan dengan menggunakan model tertentu. Penggunaan model dalam kajian suatu fenomena memerlukan data masukan dan unit tertentu sebagai unit analisis. Daerah Aliran Sungai (DAS) merupakan unit yang fundamental dalam kajian proses-proses alamiah khsususnya proses fluvial. Analisis morfometri menggunakan DAS sebagai unit analisis dapat digunakan sebagai model untuk kajian karakteristik DAS sebagai bagian dari kajian fenomena lingkungan. Foto udara merupakan sumber data yang telah banyak digunakan dalam survei dan pemetaan sumberdaya alam. Berkembangnya teknik dan metode perolehan data dari foto udara yang dikenal dengan softcopy fotogrametri memungkinkan penyediaan data dapat dilakukan secara cepat dengan hasil yang akurat. Sistem Informasi Geografi (SIG) telah dikenal sebagai sistem yang handal dalam pemodelan spasial. Integrasi antara softcopy photogrametry dengan SIG sangat potensial diterapkan dalam pembuatan suatu model guna mengkaji berbagai fenomena lingkungan secara keruangan.

Kata kunci : DAS, Morfometri, Softcopy Photogrametry, SIG

PENDAHULUAN

Kajian tentang fenomena lingkungan mencakup kegiatan analisis yang umumnya dilakukan dengan menggunakan model tertentu. Model merupakan penyederhanaan dari suatu realita atau kondisi sesungguhnya di real world [Thomas dan Hugget, 1980]. Penggunaan model dimaksudkan agar kajian tentang suatu fenomena dapat dilakukan dengan cara yang lebih sederhana, biaya yang relatif lebih murah dan dalam waktu yang relatif singkat. Penggunaan model dalam kajian suatu fenomena

memerlukan data masukan dan suatu unit tertentu sebagai unit analisis. Daerah aliran sungai (DAS) merupakan unit analisis yang fundamental untuk kajian proses-proses fluvial [Ritter, 2003]. DAS sebagai unit analisis dan beberapa data masukan dapat diintegrasikan dalam suatu model untuk mengkaji fenomena lingkungan yang terkait dengan proses fluvial.

(2)

dapat diperoleh dari foto udara dengan

menggunakan teknik-teknik fotogrametri. Data yang terkait dengan

aspek tematik seperti penutup lahan (land cover) dapat diperoleh dari foto udara melalui kegiatan interpretasi.

Dewasa ini telah banyak dibahas mengenai apa yang disebut dengan softcopy photogrametry atau di Eropa lebih dikenal dengan sebutan digital photogrametry [Leberl, 1996]. Foto udara konvensional hasil perekaman dengan kamera metrik berketelitian tinggi dapat dikonversi menjadi format digital dengan menggunakan scanner photogrametry. Foto udara digital (digital aerial photograph) yang dihasilkan selanjutnya dapat diproses dengan menerapkan teknik-teknik fotogrametri analitik. Pemrosesan dilakukan menggunakan komputer dengan perangkat lunak tertentu untuk menghasilkan data dalam waktu yang relatif singkat .

Sistem informasi geografis (SIG) merupakan suatu sistem yang mengintegrasikan hardware, software

dan brainware untuk pengumpulan,

pengolahan dan penyajian data yang bereferensi keruangan. Kemampuan

untuk mengintegrasikan data dari berbagai sumber, mengolah dan menganalisis serta menyajikan hasil dalam waktu yang relatif singkat merupakan kelebihan dari SIG sehingga banyak diaplikasikan dalam berbagai pemodelan sumberdaya secara keruangan.

Berkembangnya softcopy photogrametry untuk menghasilkan data keruangan sangat potensial untuk diintegrasikan dengan SIG guna mengkaji fenomena-fenomena lingkungan. Kajian fenomena lingkungan dengan menggunakan model yang berbasis DAS sebagai unit analisisnya dapat dilakukan dengan mengintegrasikan softcopy photogrametry dan SIG.

DAERAH ALIRAN SUNGAI (DAS) DAS (watershed atau drainage basin) adalah suatu area dipermukaan bumi yang didalamnya terdapat sistem pengaliran yang terdiri dari satu sungai utama (main stream) dan beberapa anak cabangya (tributaries), yang berfungsi sebagai daerah tangkapan air dan mengalirkan air melalui satu outlet [Ritter, 2003]

(3)

Gambar 2 : Sistem Orde Aliran Menurut Horton

MORFOMETRI DAS

Morfometri didefinisikan sebagai pengukuran bentuk (measurement of the shape). Morfometri dalam kajian hidrologi pertama kali dikemukakan oleh R.E Horton dan A.E. Strahler [Pidwirny, 1999]. Tujuan utama dari kajian morfometri adalah mengetahui karakteristik aliran secara menyeluruh berdasarkan hasil pengukuran berbagai sifat aliran. Pengukuran sifat aliran yang pertama adalah susunan (hirarki) dari setiap segmen aliran menurut suatu sistem klasifikasi yang disebut dengan orde aliran. Segmen-segmen aliran disusun mulai dari alur-alur (tributaries) di bagian atas atau hulu DAS sampai dengan sungai utama di bagian bawah atau hilir DAS. Secara numeris penyusunan orde dimulai dengan pemberian nilai 1 (selanjutnya disebut dengan orde 1) untuk segmen pertama (alur-alur). Hasil penggabungan 2 segmen pertama selanjutnya disebut dengan segmen orde ke 2, demikian seterusnya seperti ditunjukkan pada Gambar 2.

Horton (1940) selanjutnya mengaplikasikan analisis morfometri terhadap berbagai sifat aliran dan dari

hasil kajiannya dihasilkan beberapa aturan (law) antara lain law of stream length dan law of basin area.

Karakteristik DAS Berdasarkan Analisis Morfometri

Beberapa karakteristik DAS yang penting dapat dikaji berdasarkan hasil analisis morfometri. Karakteristik DAS tersebut adalah:

a. Daerah Pengaliran/Drainage Area (A) Daerah pengaliran merupakan karakteristik DAS yang paling penting dalam pemodelan berbasis DAS. Daerah pengaliran mencerminkan volume air yang dapat dihasilkan dari curah hujan yang jatuh di daerah tersebut. Curah hujan yang konstan dan seragam untuk seluruh daerah pengaliran merupakan asumsi yang umum dalam pemodelan hidrologi. b. Panjang DAS/Watershed Length (L)

(4)

daerah pengaliran dan panjang DAS merupakan ukuran dari DAS tetapi keduanya mencerminkan aspek ukuran yang berbeda. Daerah pengaliran digunakan sebagai indikasi potensi hujan dalam menghasilkan sejumlah volume air, sedangkan panjang DAS biasanya digunakan dalam perhitungan waktu tempuh yang dibutuhkan oleh air untuk mengalir di dalam DAS.

c. Kemiringan DAS/Watershed Slope (S)

Banjir merupakan besaran yang mencerminkan momentum runoff dan lereng merupakan faktor penting dalam momentum tersebut. Lereng DAS mencerminkan tingkat perubahan elevasi dalam jarak tertentu sepanjang arah aliran utama. Lereng diukur berdasarkan perbedaan elevasi (∆E) antara kedua ujung sungai utama dibagi dengan panjang DAS atau dapat dituliskan dalam persamaan:

S = ∆E/L (1)

Beda elevasi (∆E) tidak selalu menjadi atau mencerminkan beda elevasi maksimum dalam DAS. Elevasi tertinggi biasanya terdapat sepanjang batas DAS dan ujung dari sungai atau aliran utama umumnya tidak mencapai batas DAS.

d. Bentuk DAS/Watershed Shape

Bentuk DAS mempunyai variasi yang tak terhingga dan bentuk ini dianggap mencerminkan bagaimana aliran air mencapai outlet. DAS yang berbentuk lingkaran akan menyebabkan air dari seluruh bagian DAS mencapai outlet dalam waktu yang relatif sama. Akibatnya puncak aliran terjadi dalam waktu yang relatif singkat. Sejumlah parameter telah

dikembangkan untuk menentukan bentuk DAS antara lain

¾ Panjang terhadap pusat DAS (Lca): Jarak (dalam satuan mil) yang diukur sepanjang sungai utama dari outlet hingga kesuatu titik di pusat DAS. ¾ Faktor bentuk /Shape Factor (Ll)

Ll = (LLca)0.3

L adalah panjang DAS (mil) ¾ Circularity ratio (Fc):

Fc = P/(4πA)0.5

P adalah keliling DAS (ft) dan A adalah luas DAS (ft2)

¾ Circularity ration (Rc):

Rc = A/A0

A0 adalah luas suatu lingkaran yang mempunyai keliling sama dengan keliling DAS.

¾ Elongation Ration (Re):

Re = 2/Lm(A/π)0.5

Lm adalah panjang maksimum DAS (ft) yang sejajar dengan sungai utama.

e. Kerapatan aliran/Drainage density (Dd)

Kerapatan aliran merupakan pengukuran terhadap panjang aliran (stream length) per unit daerah pengaliran (drainage area atau basin area). Kerapatan aliran dapat dituliskan menggunakan persamaan :

Dd = panjang aliran / luasDAS

(5)

FOTO UDARA SEBAGAI SUMBER DATA

Foto udara dihasilkan dari proses perekaman obyek (permukaan bumi) menggunakan kamera sebagai sensor dan film sebagai detektor. Perekaman obyek dilakukan dari udara (umumnya dengan menggunakan wahana pesawat) sehingga foto udara menggambarkan area yang relatif luas dibandingkan dengan pengamatan di lapangan (terestris). Kenampakan obyek yang tergambar pada foto udara umumnya memiliki kesamaan dengan kenampakan sebenarnya dilapangan sehingga identifikasi obyek dapat dilakukan secara mudah [Sutanto, 1983].

Metode untuk ekstraksi data dari foto udara dapat dibedakan menjadi dua yaitu : [1] kuantitatif dan [2] kualitatif. Data yang diperoleh dari metode kuantitatif antara lain : ukuran (size), panjang atau jarak (length), bentuk (shape), tinggi (height) dan luas (area). Data ini disebut juga dengan data metrik. Sedangkan data yang diperoleh dari metode ekstraksi kualitatif antara lain: vegetasi, geologi, kondisi drainase dan penggunaan lahan. Data ini disebut juga dengan data tematik.

Data yang diperlukan dalam analisis morfometri DAS adalah data yang berkaitan dengan ukuran. Data tersebut antara lain: panjang setiap orde sungai, luas DAS, keliling DAS, elevasi dan kemiringan (slope). Aspek lain yang penting dalam mengkaji karakteristik DAS sebagai bagian dari kajian terhadap fenomena lingkungan

adalah penggunaan lahan. Foto udara dapat digunakan sebagai sumber data dalam kajian tentang karakteristik DAS. Data yang terkait dengan aspek metrik maupun tematik, keduanya dapat diperoleh dari foto udara dengan menggunakan metode ekstraksi data yang sesuai. Teknik fotogrametri digunakan untuk perolehan data metrik, sedangkan teknik interpretasi digunakan untuk perolehan data tematik.

SOFTCOPY PHOTOGRAMETRY Fotogrametri adalah suatu disiplin ilmu yang berkaitan dengan perolehan data yang terpercaya dari foto. Pengertian ini dapat dipahami dari definisi fotogrametri yang dikemukakan oleh Wolf, 1985.

Photogrammetry is the art, science, and technology of obtaining reliable quantitative information about physical objects and the environment through the process of recording, measuring, and interpreting photographic images and patterns of radiant imagery derived from sensor system [Wolf, 1985]

(6)

Pada tahun 1900 hingga tahun 1970 metode dan instrumen yang digunakan dalam fotogrametri dikenal dengan sebutan fotogrametri analog. Setelah tahun 1970 hingga tahun 1990 dikenal sebagai periode fotogrametri analitik. Setelah tahun 1990 fotogrametri mengalami perkembangan dengan apa yang disebut sebagai softcopy photogrammetry [Leberl, 1991].

Softcopy merupakan istilah yang merujuk pada suatu bentuk penyajian dari teks, gambar, simbol dan data lainnya dalam format yang dapat dibaca oleh komputer. Penyajian diatas kertas atau film disebut dengan istilah hardcopy. Softcopy photogrammetry adalah aplikasi teknologi fotogrametri pada citra dengan bantuan komputer. Meskipun demikian, dalam fotogrametri tidak dikenal adanya konsep hardcopy photogrammetry. Penggunaan citra berbasis film dalam fotogrametri dikenal dengan istilah analog photogrammetry dan analytical photogrammetry [Leberl, 1991]

Softcopy photogrammetry di Eropa lebih dikenal dengan istilah digital photogrammetry pada awalnya merupakan bagian dari program yang dikembangkan oleh militer sejak tahun 1980-an [Leberl, 1996]. Istilah softcopy photogrametry digunakan untuk menjelaskan aplikasi teknik-teknik fotogrametri analitik pada foto udara format digital dengan bantuan komputer dan perangkat lunak tertentu. Foto udara digital diperoleh dari hasil penyiaman (scanning) film dengan menggunakan scanner fotogrametri. Kebutuhan akan citra (image) dalam

format digital meningkat dengan cepat sejalan dengan meningkatnya aplikasi komputer untuk pemetaan dan SIG [Welch,1996].

Aplikasi Softcopy Photogrametry untuk Perolehan Data Morfometri DAS

DAS merupakan area dipermukaan bumi dimana didalamnya terdapat sistem aliran yang terdiri dari satu aliran utama dan cabang-cabangnya yang berfungsi menampung air hujan dan mengalirkannya melalui suatu outlet tunggal. Karakteristik DAS sebagai suatu sistem yang berisi jaringan aliran (stream network) dapat dikaji melalui suatu analisis yang melibatkan pengukuran-pengukuran berkaitan dengan sifat-sifat aliran.

Softcopy photogrammetry dapat

diaplikasikan untuk perolehan data yang penting dalam mengkaji karakteristik DAS tersebut.

Perolehan data dari foto udara dengan teknik atau metode fotogrametri terdiri dari empat elemen penting yaitu: triangulasi udara, perolehan DEM (Digital Elevation Model), pembuatan ortofoto dan pengumpulan data secara stereoskopis [Leberl,1996]. Data yang dibutuhkan untuk mengkaji karakteristik DAS pada dasarnya tercakup dalam keempat elemen tersebut.

Gambar 3 : Perkembangan Fotogrametri dari Analog ke Softcopy [Leberl, 1991]

(7)

digital (hasil scanning film) dan komputer berikut perangkat lunaknya sebagai instrumen.

PROSES AKUISISI DATA

Proses akuisisi data dalam softcopy photogrammetry umumnya terdiri dari beberapa tahapan yaitu: scanning film, triangulasi udara, restitusi foto dan ekstrkasi data. Melalui proses restitusi foto stereo yang terdiri dari tiga tahapan yaitu

orientasi dalam (inner orientation), orientasi relativ (relative orientation) dan orientasi absolut (absolute orientation) maka akan diperoleh model tiga dimensi (3D) dari daerah yang digambarkan pada foto. Ektraksi data yang diperlukan dapat dilakukan secara stereoskopis pada model 3D tersebut. Proses perolehan data karakteristik DAS dalam softcopy photogrammetry dapat digambarkan dalam bentuk diagram alir seperti ditunjukkan pada gambar berikut.

Gambar 4 : Tahapan Softcopy Photogrammetry untuk Perolehan Data Morfometri DAS

(8)

Data yang diperoleh dari aplikasi softcopy photogrammetry dalam kajian karakteritik DAS relatif lengkap dan dapat diuraikan sebagai berikut :

a. Kenampakan Aliran

Sungai utama dan anak sungai dapat dikenali dengan mudah dari foto udara karena ukurannya yang relatif besar. Kelebihan dari foto udara (dibandingkan sumber data lain, misal peta topografi) justru pada identifikasi dan delineasi dari jaringan alur (tributaries). Jaringan alur pada umumnya merupakan bentukan hasil erosi, yang akan terisi air sekaligus berfungsi mengalirkan air pada saat turun hujan. Pada peta topografi, alur dapat diidentifikasi berdasarkan pola kontur, sehingga tingkat kerinciannya tergantung dari kerincian data konturnya. Contoh Kenampakan alur pada foto udara ditunjukkan pada Gambar 5.

b. Batas Daerah Aliran Sungai (DAS) Suatu DAS umumnya dibatas oleh bentukan topografi tertentu yang biasanya berupa igir (punggung) perbukitan atau pegunungan. Batas DAS dapat diidentifikasi dan didelineasi dengan mudah dari foto udara melalui pengamatan secara tiga dimensi (stereoskopis). Delineasi batas DAS diawali dengan menentukan suatu titik yang dianggap sebagai ujung (mouth) dari sungai utama (main

stream) kemudian merunut anak

sungai yang merupakan cabang dari sungai utama tersebut dan jaringan alurnya.

c. Digital Elevation Model (DEM)

DEM merupakan suatu model permukaan digital yang dibentuk dari nilai ketinggian yang terdapat pada titik-titik koordinat. DEM merupakan salah satu data yang dapat diperoleh dari suatu aplikasi

fotogrametri, baik analitik maupun softcopy. Ackerman, 1996, menyatakan bahwa perolehan DEM dari aplikasi fotogrametri dihasilkan dari dua tahapan yaitu: [1] observasi atau pengukuran dari model stereo dan [2] interpolasi hasil pengukuran.

DEM bukan merupakan karakteristik DAS, tetapi beberapa data mengenai karakteristik penting suatu DAS dapat diperoleh dari analisis DEM. Data yang dapat diturunkan atau diperoleh dari analisis DEM antara lain: kemiringan DAS ataupun kemiringan aliran, ketinggian (elevasi) rata-rata DAS dan data kontur untuk DAS tersebut.

d. Penggunaan Lahan

Penggunaan lahan pada suatu DAS memang tidak termasuk dalam kategori morfometri DAS, namun data ini merupakan salah satu data masukan yang penting dalam kajian karakteristik DAS. Pemodelan DAS untuk mengkaji fenomena banjir yang terjadi pada DAs tersebut memerlukan data penggunaan lahan sebagai salah satu inputnya. Data penggunaan lahan dalam aplikasi fotogrametri dapat diperoleh melalui proses interpretasi. Aplikasi softcopy photogrammetry memungkinkan data yang dihasilkan sudah dalam format digital sehingga mudah untuk diintegrasikan dengan SIG untuk keperluan suatu pemodelan.

SISTEM INFORMASI GEOGRAFI (SIG) DAN PEMODELAN

(9)

optimal apabila dilakukan dengan menggunakan model tertentu. Berdasarkan model, suatu fenomena lingkungan yang berkaitan dengan karakteristik DAS seperti fenomena banjir ataupun degradasi lahan dapat dikaji secara lebih mendetail.

Pemodelan menggunakan data keruangan (data spasial) memerlukan suatu sistem yang dapat menyimpan, mengolah dan menyajikan data keruangan. Sistem Informasi Geografis (SIG) merupakan sistem yang telah banyak diaplikasikan dalam pengolahan maupun pemodelan data keruangan (spatial modelling). Definisi mengenai SIG atau GIS (Geographical Information System) sendiri telah banyak diberikan oleh para pakar yang berkompeten. Berikut ini adalah definisi SIG yang dikemukakan oleh Burrough, 1986, dan Aronof, 1989 :

"GIS is a powerful set of tools for collecting, storing, retrieving at will, transforming and displaying spatial data from the real world" [Burrough, 1986]

"GIS is a manual or

computer-based set procedures used to store and

manipulate geographically referenced data" [Aronoff, 1989]

Pemodelan berbasis DAS dengan menggunakan SIG telah banyak dilakukan untuk mengkaji masalah yang terkait dengan fenomena lingkungan. De Roo, 1998, menguraikan tentang salah satu aplikasi SIG untuk pemodelan banjir yang disebut dengan LISFLOOD. Pemodelan ini dimaksudkan untuk mengkaji masalah banjir dengan memperhitungkan faktor-faktor penyebab banjir yang berinteraksi dalam unit DAS. Model lain yang telah

diaplikasikan dengan adalah LISEM yaitu pemodelan erosi dalam unit DAS.

INTEGRASI SIG DAN SOFTCOPY PHOTOGRAMETRY

SIG sebagai suatu sistem terdiri dari beberapa komponen atau elemen yang saling terkait.. Salah satu dari kelima elemen dalam SIG adalah elemen pengumpulan data (data acqusition) atau merujuk pada definisi SIG menurut Burrough, 1986, elemen tersebut adalah elemen data collection. Data dalam SIG dapat diperoleh dari berbagai sumber. Salah satu sumber yang dapat digunakan untuk perolehan data dalam SIG adalah fotogrametri.

SIG bekerja dengan bantuan komputer meskipun dari definisi yang diberikan oleh Aronoff, 1989, SIG juga dapat diterapkan secara manual. Perkembangan komputer, besarnya volume data yang dikumpulkan, kecepatan proses yang diharapkan merupakan beberapa faktor yang menyebabkan SIG secara langsung ataupun tidak langsung diassosiasikan dengan penggunaan komputer dalam penerapannya.

Data yang digunakan sebagai input dalam SIG tidak selalu telah tersedia dalam format yang dapat dibaca oleh komputer (digital). Data ini biasa disebut dengan data analog. Data analog perlu di konversi menjadi data digital agar dapat disimpan, diproses dan ditayangkan dengan menggunakan komputer. Proses konversi data analog menjadi data digital, pada umumnya merupakan salah satu proses dalam SIG yang memerlukan waktu relatif lama.

(10)

photogrammetry dapat langsung digunakan sebagai layer dalam SIG [Leberl,1991]. Integrasi antara softcopy photogrammetry sebagai sumber data spasial dengan SIG sebagai penyimpan, pengolah dan penayangan data spasial merupakan kombinasi yang potensial dalam berbagai analisis dan kajian.

PENUTUP

Daerah aliran sungai merupakan unit yang fundamental dalam berbagai kajian fenomena lingkungan khususnya yang terkait dengan proses-proses fluvial. Kajian terhadap karakteristik DAS berdasarkan analisis morfometri merupakan salah satu bentuk kajian fenomena lingkungan dengan menggunakan DAS sebagai unit analisisnya. Penggunaan model berbasis DAS antara lain dapat digunakan dalam kajian fenomena banjir maupun degradasi lahan akibat proses erosi.

SIG merupakan sistem yang telah banyak diaplikasikan dalam berbagai pemodelan khususnya pemodelan yang bersifat keruangan. Pemodelan menggunakan SIG memerlukan sejumlah input data yang dapat diperoleh dari berbagai macam sumber. Foto udara merupakan salah satu sumber data yang dapat digunakan sebagai input dalam SIG. Aplikasi softcopy photogrametry menghasilkan data dalam format digital sehingga langsung dapat digunakan sebagai input dalam SIG tanpa harus melalui proses konversi data (analog ke digital) yang membutuhkan waktu lama. Integrasi antara softcopy photogrametry dengan SIG sangat potensial diterapkan untuk mengkaji karakteristik DAS sebagai bagian dari kajian terhadap fenomena lingkungan.

REFERENSI

Aronoff. S. 1989, Geographic Information System – A Management Perspective. WDL Publication. Ottawa Canada.

Ackerman,Friedrich. 1996, Technique and Strategies for DEM Generation, dalam Digital Photogrammetry: An Addendum to the Manual of Photogrammetry, ASPRS Bethesda Maryland

Burrough, P.A. 1986. Principles of Geographic Information System for Land Resources Assessment .Clarendon Oxford, UK

De Roo, A.P.J. et all, 1998, Physically-based River Basin Modelling Within a GIS: The LISFLOOD Model. Akses Internet diperoleh

dari : http://divcom.otago.ac.nz/SIRC

Leberl, Franz.W.1996, Practical Concern in Softcopy Photogrametry Processing System,

dalam Digital Photogrammetry: An Addendum to the Manual of Photogrammetry, ASPRS Bethesda Maryland.

Leberl, Franz. W. 1991. Digital Photogrammetric System, Wichmann, Karlsruhe.

Pidwirny, M., 1999, Fundamental of Physical Geography, University of British Colombia-Okanagan. Akses internet diperoleh dari : www. PhysicalGeography.Net

Ritter, Michael, 2003, The Physical Environment, Akses Internet diperoleh dari: http://www.uwsp.edu/geo/faculty/ri tter

Sutanto, 1984, Penginderaan Jauh Dasar, Gadjah Mada Press, Yogyakarta.

(11)

NJ: Barnes and Noble Books, p. 3-10.

Welch, R. dan T.R. Jordan, 1996. Using Scanned Air Photographs. dalam Raster Imagery in Geographic

Information Systems, (Editor S. Morain and S.L. Baros, eds), Onward Press

Figur

Gambar 1 : Daerah Aliran Sungai ( Watersheds/Drainage Basin)
Gambar 1 Daerah Aliran Sungai Watersheds Drainage Basin . View in document p.2
Gambar 2 : Sistem Orde Aliran Menurut Horton
Gambar 2 Sistem Orde Aliran Menurut Horton . View in document p.3
Gambar 4 : Tahapan Softcopy Photogrammetry untuk Perolehan Data Morfometri DAS
Gambar 4 Tahapan Softcopy Photogrammetry untuk Perolehan Data Morfometri DAS . View in document p.7

Referensi

Memperbarui...