• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hukum Hak Asasi Manusia dan Demokrasi da

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Hukum Hak Asasi Manusia dan Demokrasi da"

Copied!
33
0
0

Teks penuh

(1)

PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

HUKUM, HAM, DAN DEMOKRASI DALAM ISLAM

DOSEN PEMBIMBING :

M.Asroruddin Al Jumhari, S.Pd. M.Si.

KELAS SNT 11

KELOMPOK 3 (TIGA)

ANGGOTA : 1.Shoya Lestha Dewi

2. Dwi Puji Astuti

3. Lalu Jefri Haryadi

4. Haris Munandar

(2)

HALAMAN PENGESAHAN

Makalah yang berjudul “HUKUM, HAK ASASI MANUSIA, DAN DEMOKRASI DALAM ISLAM.” ini telah disahkan pada :

TANGGAL :

BULAN : SEPTEMBER

TAHUN : 2016

Mengetahui,

Dosen Pembimbing

(3)

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat kehendaknya kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “HUKUM, HAK ASASI MANUSIA, DAN DEMOKRASI DALAM ISLAM.”

Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata pelajaran PENDIDIKAN AGAMA ISLAM.

Makalah ini tidak akan terwujud tanpa bantuan berbagai pihak, oleh karena itu pada kesempatan ini disampaikan rasa terima kasih yang sedalam–dalamnya kepada :

1. M.Asroruddin Al Jumhari, S.Pd. M.Si. yang memberikan dan mengajarkan mata pelajaran kurikulum ini.

2. Rekan–rekan dan semua pihak yang tidak mungkin disebutkan satu persatu, yang telah banyak memberikan dorongan sehingga terwujud makalah ini.

Kami menyadari bahwa makalah ini jauh dari sempurna, oleh karena itu saran dan kritik yang membangun sangat diharapkan untuk perbaikan dan penyempurnaan makalah lebih lanjut.

Akhir kata, semoga apa yang telah kami kerjakan ini dapat bermanfaat bagi siapa saja yang memerlukan.

(4)

DAFTAR ISI

COVER...i

HALAMAN PENGESAHAN...ii

KATA PENGANTAR...iii

DAFTAR ISI...iv

BAB I...5

PENDAHULUAN...5

Latar Belakang...5

Tujuan...5

BAB II...6

PEMBAHASAN...6

Konsep Hukum,Hak Asasi Manusia dan Demokrasi...6

Pengertian Sumber Hukum Islam...12

Fungsi Hukum Islam dalam Kehidupan Bermasyarakat...21

Kontribusi Umat Islam dalam Perumusan dan Penegakan Hukum Indonesia...24

BAB III...29

PENUTUP...29

KESIMPULAN...29

DAFTAR PERTANYAAN...30

DAFTAR TANGGAPAN...31

(5)
(6)

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Manusia, pada hakikatnya, secara kodrati di anugrahi hak-hak pokok yang sama oleh Tuhan yang Maha Esa. Hak-hak pokok ini di sebut dengan hak asasi manusia (HAM). Hak asasi manusia adalah sebagai anugrah Yang Maha Esa, yang melekat pada diri manusia, bersifat kodrati, universal, dan abadi, selain itu perlu juga di telaah mengenai konsep HAM dalam islam. Dari sini diharapkan akan terkuak mengenai HAM dalam pandangan universal maupun dalam pandangan Islam. Selain itu, Demokrasi dalam Islam sangat berkaitan dengan HAM, karna adanya ketergantungan diantara keduanya.

Di Indonesia, sudah tidak asing lagi kita mendengar kata DEMOKRASI. Demokrasi biasa di artikan dengan pemerintahan dari rakyat,oleh rakyat dan untuk rakyat. tetapi pada dasarnya ditetapkan oleh Allah swt melalui wahyu-Nya yang kini terdapat dalam al-Qur’an dan dijelaskan oleh Nabi Muhammad SAW sebagai Rasul-Nya melalui sunnah beliau yang kini terhimpun dengan baik dalam kitab-kitab hadist. Ulasan lebih lanjut tentang hukum, hak asasi manusia dan demokrasi dalam Islam akan dilanjutkan pada BAB Pembahasan pada makalah ini.

B. Tujuan

1. Untuk mengetahui bagaimana system demokrsi dalam Islam,serta untuk lebih mengenal Hak Asasi Manusia dalam pandangan islam, melalui sumber-sumber hukum Islam.

(7)

BAB II PEMBAHASAN

A. Konsep Hukum,Hak Asasi Manusia dan Demokrasi  Konsepsi Hukum Islam

Hukum Islam adalah hukum yang bersumber dan menjadi bagian dari agama Islam. Konsepsi hukum Islam memiliki dasar kerangka yang ditetapkan oleh Allah swt. Hukum itu tidak hanya mengatur hubungan manusia dengan manusia lain dan benda dalam masyarakat,tetapi juga hubungan manusia dengan Tuhan,hubungan manusia dengan dirinya sendiri, hubungan manusia dengan manusia lain dalam masyarakat dan hubungan manusia dengan benda serta alam sekitarnya.

Hukum dalam bahasa arab artinya norma atau kaidah, yakni ukuran, patokan, pedoman yang dipergunakan untuk menilai tingkah laku atau perbuatan manusia dan benda

Berbeda dengan sistem hukum yang lain, hukum islam tidak hanya merupakam hasil pemikiran yang dipengaruhi oleh kebudayaan manusia di suatu tempat pada suatu masa, tetapi pada dasarnya ditetapkan oleh Allah swt melalui wahyu-Nya yang kini terdapat dalam al-Qur’an dan dijelaskan oleh Nabi Muhammad SAW sebagai Rasul-Nya melalui sunnah beliau yang kini terhimpun dengan baik dalam kitab-kitab hadist.

(8)

 Konsep Hak Asasi Manusia Dalam Islam dan Demokrasi

Menurut Jan Materson dari Komisi Hak Asasi Manusia PBB, Hak Asasi Manusia adalah hak-hak yang melekat pada manusia, yang tanpa dengannya manusia mustahil dapat hidup sebagai manusia. Kalimat mustahil diartikan mustahil dapat hidup sebagai manusia yang bertanggung jawab. Hak Asasi Manusia adalah hak-hak yang diberikan langsung oleh Tuhan Yang Maha Pencipta (hak-hak yang bersifat kodrati). Oleh karena itu, tidak ada kekuasaan apapun didunia ini yang dapat mencabutnya. Meskipun demikian, bukan berarti manusia dapat beratindak semaunya,sebab bila seseorang melakukan sesuatu yang pertanggung jawabannya dimuka hukum. Dari sinilah lahir dokrin raja yang tidak kebal terhadap hukum lagi dan mulai bertanggung jawab kepada hukum. Dengan demikian kekuasaan raja mulai dibatasi dan kondisi ini merupakan embrio bagi lahirnya monarkhi konstitusional yang berintikan kekuasaan raja hanya sebagai simbol.

(9)

yang ada dalam berbagai instrument HAM tersebut kemudian dijadikan dasar pemikiran untuk melahirkan rumusan HAM yang bersifat Universal yang kemudian dikenal dengan The Universal Declaration Of Human Rights yang disyahkan dengan PBB pada tahun 1948.

 Perbedaan Prinsip Antara Konsep HAM dalam Islam dan Barat

Ada beberapa perbedaan antara hak-hak asasi manusia dilihat dari sudut pandang Barat dan Islam. Hak asasi manusia menurut pemikiran Barat semata-mata bersifat antroposentris, artinya segala sesuatu berpusat pada manusia. Sebaliknya, hakasasi manusia menurut sudut pandang Islam bersifat teosentris, artinya segala sesuatu berpusat pada Tuhan.

Pemikiran Barat menempatkan manusia pada posisi bahwa manusialah yang menjadi tolok ukur segala sesuatu, sedangkan dalam Islam Allah-lah yang menjadi tolok ukur segala sesuatu, sedangkan manusia adalah ciptaan Allah untuk mengabdi kepada-Nya. Namun, menurut ajaran islam, manusia mengakui hak-hak dari manusia lain,karena hal ini merupakan sebuah kewajiban yang disebabkan oleh hukum agama untuk mematuhi Allah swt. Oleh karena itu, hak asasi manusia dalam Islam tidak semata-mata menekankan kepada hak asasi manusia saja, akan tetapi hak-hak itu dilandasi kewajiban asasi manusia untuk mengabdi kepada Allah sebagai penciptanya. Sebagaimana dinyatakan secara tegas dalam QS.51 : al-Dzariyat : 56.

امموم تتققلمخم ننمججلقا سمنلجاوم لإج نودتبتعقيملج

Artinya : “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melaikan supaya mereka menyembahku.”

Oleh karena itu manusia mempunyai kewajiban untuk mengikuti ketentuan-ketentuan yang diciptakan oleh Allah SWT.

(10)

Prinsip-prinsip HAM yang tercantum dalam Universal Declaration of Human Rights dilukiskan dalam berbagai ayat. Apabila prinsip-prinsip human rights yang terdapat dalam Universal Declaration of Human Rights dibandingkan dengan HAM yang terdapat dalam ajaran Islam, maka dalam al-Qur’an dan al-Sunnah akan dijumpai antara lain, prinsip-prinsip human rights berikut :

a. Prinsip Martabat Manusia

Prinsip-prinsip al-Qur’an yang telah menempatkan manusia pada martabat yang tinggi dan mulia dapat dibandingkan dengan prinsip-prinsip yang digariskan dalam Universal Declaration of Human Rights, seperti yang tertera dalam surah al-Isra’ : 33 yang dibandingkan dengan pasal 1 dan pasal 3 dalam human rights.

b. Prinsip Persamaan

Pada dasarnya semua manusia sama, karena semuanya adalah hamba Allah. Hanya satu criteria (ukuran) yang dapat membuat seseorang lebih tinggi derajadnya dari yang lain, yakni ketakwaanya (QS.49 : al-Hujurat : 13). Prinsip persamaan ini dalam Universal Declaration of Human Rights terdapat dalam pasal 6 dan pasal 7.

c. Prinsip Kebasan Menyatakan Pendapat

Al-Qur’an memerintahkan kepada manusia agar berani menggunakan akal pikiran mereka terutama untuk menyatakan pendapat merek ayang benar. Hak untuk menyatakan pendapat dengan bebas dinyatakan dalam Universal Declaration of Human Rights pasal 19.

d. Prinsip Kebebasan Beragama

(11)

Artinya : “ tidak ada paksaan untuk ( memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karen aitu barang siapa yang ingkar kepada Thagnut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

Prinsip ini mengandung makna bahwa manusia sepenuhnya mempunyai kebebasan untuk menganut suatu kayakinan atau kaidah agama yang disenanginya.

Dari ayat tersebut dapat disimpulkan bahwa agama Islam sangat menjunjung tinggi kebebasan beragama. Hal ini sejalan dengan pasal 18 dari Universal Declaration of Human Rights, yang berbunyi : Setiap orang berhak mempunyai kebebasan berpikir, keinsyafan batin, dan beragama.... e. Prinsip Hak Atas Jaminan Sosial

Di dalam al-Qur’an banyak dijumpai ayat-ayat yang menjamin tingkat dan kualitas hidup minimum bagi seluruh masyarakat. Ajaran tersebut antara lain adalah kehidupan fakir miskin harus diperhatikan oleh masyarakat,terutama oleh mereka yang punya kekayaan tidak boleh dinikamati dan hanya berputar diantara orang-orang kaya saja. Jaminan sosial itu harus diberikan, sekurang-kurangnya kepada mereka yang disebut dalam al-Qur’an sebagai pihak-pihak yang berhak atas jaminan sosial (QS.2 al-Baqarah:273).

Apabila jaminan sosial yang ada dalam al-Qur’an diperhatikan, jelas sesuai dengan pasal 22 dari Universal Declaration of Human Rights, yang bunyinya : “ Setiap orang sebagai anggota masyarakat mempunyai hak atas jaminan sosial...

f. Prinsip Hak Atas Harta Benda

(12)

lain, kecuali untuk kepentingan umum, menurut tata cara yang telah ditentukan terlebih dahulu. Hal ini sesuai dengan pasal 17 dari Universal Declaration of Human Rights, yang bunyinya (1) Setiap orang berhak mempunyai hak milik, baik sendiri maupun bersama dengan orang lain. (2) Tidak seorangpun hak miliknya boleh dirampas dengan swenang-wenang.

B. Pengertian Sumber Hukum Islam

Dalam pembagian usul fiqih, sumber-sumber hukum islam di sebut masdirul ahkam. Beberapa istilah lain yang diberi pengertian sama adalah addilatul ahkam (dalil-dalil hukum). Yang dimaksud dengan sumber hukum islam adalah:

‘’ sesuatu yang dipakai untuk menunjukkan sumber syara yang berkaitan dengan perbuatan manusia melalui jalan yang qat’i ataupun zanni.”

(13)

Berdasakan cara pengambilan atau perujukan hukum, sumber hukum islam dapat di bagi menjadi dua bagian. Pertama, sumber-sumber hukum yang di rujuk secara naqli, yakni berdasarkan al-quran dan hadist. Kedua, sumber-seumber hukum yang di rujujk secara aqli, yakni berdasarkan qiyas.

Sumber hukum yang disepakati dan tidak disepakati ulama

Para ulama sepakat bahwa sumber hukum islam ada 4, yaitu al-qur’an, hadist, ijma, dan qiyas. Sumber hukum yang tidak disepakati dan masih menimbulkan perdebatan para ulama antara lain, istihan,istihab,maslahah mursalah,uruf,syar’u man qablana,dan sadduz sarra’i.

1. Sumber hukum islam yang dispakati ulama  Al-qur’an

Menurut bahasa al-qur’an berasal dari qara’a,yaqra’u, qur’an yang berarti bacaan atau yang dibaca. Dari pengertian ini, para ulama memberikan batasan terhadap istilah bacaan, kumpulan dan himpunan huruf serta kata pada bagian ke bagian dalam suatu sistematika yaitu (al-jam’u wad dammul huruf wal kalima ba’duha ila ba’din fii tartibi).

Menurut istilah al-qur’an adalah sebagai berikut

“al-qur’an adalah kalam allah yang merupakan mukjizat, yang diturunkan kepada nabi muhammad saw. Yang ditulis dalam mushab yang berbahasa arab, yang telah di nukilkan kepada kita dengan jalan muttawattir, yang dimulai dengan surah al-fatihah diakhiri dengan surah an-nas, dan yang membacanya sebagai ibadah.”

(14)

al-mufahrasy (daftar isi) dan do’a khatmil qu’an, sekalipun menempatkkannya pada bagian tersebut di benarkan .

Al-qur’an di turunkan oleh allah kepada nabi muhammad saw. Sebagai petunjuk dan menjadi pedoman hidup bagi seluruh umat manusia untuk mencapai keselamatan di dunia dan akhirat. Al-qu’an member penjelasan terhadap segala keperluan manusia. Tidak ada staupun tata aturan yang di butuhkan umat manusia yang tidak terdapat pokok-pokoknya di dalam al-qur’an.oleh karna itu,para mujtahid terlebih dahulu memperhatikan al-qur’an sebelum sumber-sumber yang lain jika hendak menetapkan suatu hukum.

Dari sudut ini, al-qur’an bias dikatakan sebagai kitab undang-undang yang mencakup (jami’), karna tak ada penyelesaian masalah hukum yang tidak di temukan rujukannya pada al-qur’an. Hal ini sebagaimana di jelaskan oleh allah dengan firmannya sebagai berikut

“tidak ada sesustu apapun yang kami luptkan di dalam kitab, kemudian kepada tuhan mereka di kumpulkan”.( al anam/6:38)

Ibnu hazam berkata:

“segala bab fiqih terdapat dasarnya dalam al-qur’an dan sunnah”.

(15)

benar untuk menarik kesimpulan (istimbat) hukum dari nash al-qur’an itu.

Diantara ayat al-qur’an, ada yang merupakan penjelas bagi ayat-ayat yang lainnya. Ada juga yang dijelaskan oleh as sunnah, sebagaiman ditunjukkan dalam firman allah swt,berikut.

“dan kami turunkan az-zikr (al-qur’an) kepadamu, agar engkau menerangkan kepada manusia apa yang telah di turunkan kepada mereka dan agar mereka memikirkan.” (qs an-nahl/16: 44)

 As-sunnah

As-sunnah menurut bahasa artinya jalan atau cara . Menurut istilah syarak,as-sunnah ialah:

“perkataan, perbuatan,dan ketetapan nabi saw.”

Berdasarkan pengertin diatas, maka as-sunnah dapat diklasifikasikan menjadi tiga , yaitu sebagai berikut.

1. Sunnah qauliyah, yaitu sunnah yang berupa perkataan nabi saw. 2. Sunnah fi’liyah, yaitu sunnah yang berupa perbuatan nabi saw.

Misalnya ketika menerangkan cara melksanakan ibadah,seperti haji, sholat dan lain-lain.

3. Sunnah taqririyah, adalah ketetapan nabi saw. Dengan cara beliau diam ketika melihat perbuatan para sahabat. Perkataan atau perbuatan yang di diamkan oleh rasulullah ini dapat menjadi hujjah bagi umat seluruhnya.

Selain tiga klasifikasi tersebut, para ulama,khususnya ulama fiqih juga menambahkan dua macam sunnah yang lainnya,yakni sebgai berikut.

(16)

menganggap bahwa puasa pada tanggal 9 muharram hukumnya sunnah.

2. Sunnah tarkiyah,adalah suatu perbuatan yang dengan jelas para sahabat menerangkan nabi saw. Meninggalkan perbuatan itu ,sperti perkataan sahabat bahwa nabi saw, tidak memnadikan para syuhada uhud dan tidak menyalatkannya.

Sebagai sumber hukum islam kedua setelah al-qur’an, ketetapan hukum as-sunnah memiliki kedudukan sebagai berikut.

1. Sebagai penguat yang mengukuhkan hukum al-qur’an

2. Sebagai penjelas yang bertujun merinci ketetapan hukum al-qur’an yang msih bersifat global.

3. Sebagai ketetapan tambahan atas ketentuan hukum al-qur’an. 4. Berdiri sendiri sebagai tasyri’ (pembentukan hukum

tesendiri ,seperti hadist yang mengharamkan menikahi (berpologami) dengan bibi istrinya.

 Ar-ra’yu

Sebagaiman dijelskan di atas bahwa sumber pokok hukum islam adalah al-qur’an dan as-sunnah. Artinya,dalam proses penetapannya,hukum islam merujuk secara ketat pada petunjuk-petunjuk nas al-qur’an dan as-sunnah.

Adillatul ahkam yang lain setelah dalil naqli atau di sebut juga denan ar-ra’yu (pemikiran atau pendapat). Dalil aqli atau ar-ra’yu adalah pertimbangan akal sebagai dasar dalam prose pembentukkan atau pnetapan hukum islam dengan tetap berpijak pada dalil naqli.

 Qiyas

(17)

tinggi badan yang sama. Qiyaas memiliki arti terminologi yakni:

“ qiyas adalah menghbungkan suatu kejadian yang tidak ada nasnya tentang hukum dengan kejadian yang sudah ad nas hukumnya, mengenai hukum yang ada pada nas itu karena ada persamaan ilat hukum dua kejadian tersebut. “

Definisi diatas menunjkkan bahwa syarat yang harus dipenuhi untuk terciptannya qiyas adalah sebagai berikut. a. Al-asl (pokok), yaitu masalah atau kejadian yang telah

ditetapkan hukumnya berdsarkan nas al-qur’an.

b. Al-far’u (cbang), yaitu suatu peristiwa yang elum di tetapkan hukumnya karna tidak ada nas yang dapat djadikan sebagai dasar hukum.

c. Hukum asl (hukum asal), yaitu hukum dari asal yang telah ditetapkan berdasarkan nas dan hkum itu pula yang akan ditetapkan pada far’u seandainya ada persamaan ‘illat.

d. Illtaul hukum (motif hukum), yaitu alasan yang menghubungkan antara hukum asal dan hukum cabang.  Sebab-sebab dilakukan qiyas

a. Karna adanya persoalan-pesolan yang harus di tentukan kejelasan hkumnya, sementara didalam nas al-qur’n dan as-sunnah tidak ditemukan hukumnya dan belum ada ijma’ b. Karena dalil nas, baik berupa al-qur’an maupun as-sunnah

tidak menyebutkan secara rinci

c. Karna adanya persamaan ‘illat antara peristiwa yang belum ada hukumnya dengan peristiwa yang hukumnya sudah di tentukan oleh nas.

2. Sumber hukum islam yang tidak disepakati ulama a. Istishan

(18)

suatu kejadian berdasarkan dalil syarak, menuju hukum lain yang lebih kuat dari kejadian itu juga,karna ada suatu dalil syarak yang mengharuskanuntuk mennggalkannya. Dalil yang terakhir di sebut sandaran istishan. Macam-macam istishan :

 Pindah dari jali kepada qiyas khafi,karna ada dalil yang mengharuskan pemindahan itu.

 Pindah dari hukum kulli kepada hukum juz’i,karna adanya dalil yang mengharuskannya. Istishan macam ini oleh sahabi hanafi disebut istishan darurat,karna penyimpangan tu dilakukan atas dasar kepentingan atau karna darurat.

b. Istishab

Secara bahasa istishab berarti mencari hubungan yang otoritas atau bukti tertentu, bebas dari kewjiban, misalnya sesuatu itu diakui sampai dipastikan adanya pertentangan.

Sedangkan menurut istilah, istishab adalah

“ menetapkan hukum yang berlaku pada mas lalu untuk keberlakuan masa sekarang, karna tidak adanya pengetahuan yang merubahnya.”

Contoh istishab :

 Orang yang sudah berwudhu,kemudian ia ragu apakah maih tetap suci ataukah sudah batal. Maka berdasarkan dalil istishab ia masih dalam keadaan suci.

 Semua binatag laut, darat, dan udara halal dimakan, sehingga datang kejelasan tentang keharamannya seperti halnya penharaman babi.

c. Maslahah mursalah

(19)

dalam nas al-qur’an maupun as-sunnah atas petrtimbangan mewujudkan kemaslahatan dan menolak kemudoratan.

Mursalah dalam hukum islam dibagi menjadi dua,yaitu sebagai berikut :

Contoh maslahah mursalah diantara contoh maslahah mursalah ialah usaha abu bakar dal mengupulkan al-qur’an yang terkenal dengan jam’ul al-qur’an.

d. ‘urf

Menurut bahasa ‘urf berarti sudah dikenal, atau kebiasaan,bahkan adat dan tradisi. Al-gazali menyebutkan bahwa ‘urf adalah sebagai berikut.

“ adat da ‘uruf adalah sesuatu yang telajh menjadi mantap atau mapan didalam jiwa dari segi akal dan telah dapat diterima oleh watak-watak yang sha dan baik.”

e. Syar’u man qoblana

Syar’u man qoblana berarti syariat umat sebelum kita. Menurut istilah, syar’u man qoblana adlah syariat umat-umat sebelum nabi muhammad saw. Yang dikisahkan dalam al-qur’an ataupun hadist shahih.

f. Syadduz zara’i

(20)

“ masalah yang tampakknya diperbolehkan, tetapi medatangkan perbuatan haram dan masalah itu membawa kerusakan.”

Contoh syaddu zara’i adalah misalnya kewjiban melaksanakan sholat yang lima waktu,seseorang baru dapat mengerjakan sholat itu apabila telah belajar salat terdahulu. g. Mazab sahabi

Mazb sahabi adalah fatwa-fatwa para sahabat tentang masalah-maslah hukum yang ditetapkan setelah wafatnya rasulullah saw.

Contoh mazab sahabi :

 Pembagian harta waris kepada nenek sebanyak seperenam

 Ibn mas’ud yang meriwatkan tentang waktu minimal masa haid bagi wanita dan keteranagan aisyah tentang waktu kehamilan yang tidak lebih dari 2 tahun.

C. Fungsi Hukum Islam dalam Kehidupan Bermasyarakat

Hukum islam memiliki ruang lingkup yang sangatlah luas,hukum islam mengatur antara manusia dengan tuhannya,manusia dengan dirinya sendiri,manusia dengan manusia lainnya,serta manusia dengan lingkungannya.

(21)

Hadits. Peranan hukum Islam dalam kehidupan bermasyarakat sebenarnya cukup banyak,namun sekarang kebanyakan orang dalam negara yang non islam namun mayoritas masyarakatnya islam seperti negara kita Indonesia, beranggapan bahwa hukum islam terlalu keras atau bahkan tidak ada keringanannya,tentunya disini yang dimaksud terutama adalah hukum Qishash.

Hukum qishash mengacu pada dalil al-Quran surat al-Baqarah ayat 178. “Wahai orang-orang yang beriman, qishash diwajibkan atasmu berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh”.

Al-Quran tidak menyebut hukum yang dijatuhkan atas pembunuh dengan nama hukum mati atau hukum gantung, atau hukum bunuh. Namun menyebutnya dengan hukum yang sebanding atau setimpal dengan perbuatan (qishash).hal itu telah diperjelas oleh Allah dalam Al Quran,yaitu pada surah Al baqarah ayat 179,yang berbunyi:

“Dan dalam qishas itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagimu, wahai orang-orang yang berakal, supaya kamu bertakwa.” (QS. al-Baqarah: 179).

Karena sangat penting arti hidup ini bagi manusia,Allah memandang bahwa melenyapkan hidup seseorang tanpa hak sama artinya melenyapkan semua manusia,karena orang itu adalah anggota masyarakat dan karena membunuh seseorang itu berarti membunuh keturunannya.sebaliknya menyelamatkan kehidupan seseorang manusia berarti telah menyelamatkan semua kehidupan manusia.

Qishas tidaklah selalu berujung kematian dalam penerapannya,hal itu perlu diperjelas,karena anggapan sebagian orang bahwa qishash itu adalah hukuman mati saja, itu tentunya karena kurangnya pengetahuan dan rasa ingin tahu kita dalam hukum islam dan hanya ikut-ikutan (taqlid) tanpa tahu dasar dan tujuan penerapannya,namun hanya mengikuti anggapan orang yang didengarnya.Qishash bukan berujung kematian saja,hal itu telah dikatakan dalam sebuah hadits:

(22)

Berdasarkan contoh lain dalam pemanfaatan hukum islam adalah a. Amar Ma’ruf Nahi Munkar

Hukum Islam sebagai hukum yang ditunjukkan untuk mengatur hidup dan kehidupan umat manusia, jelas dalam praktik akan selalu bersentuhan dengan masyarakat. Sebagai contoh, proses pengharaman riba dan khamar, jelas menunjukkan adanya keterkaitan penetapan hukum Allah dengan subyek dan obyek hukum. Penetap hukum tidak pernah mengubah atau memberikan toleransi dalam hal proses pengharamannya. Riba atau khamar tidak diharamkan sekaligus, tetapi secara bertahap agar bisa cepat diterima dan dipatuhi berdasarkan hati nurani atau kesadaran penuh.

Ketika suatu hukum lahir, yang terpenting adalah bagaimana agar hukum tersebut dipatuhi dan dilaksanakan dengan kesadaran penuh. Penetap hukum sangat mengetahui situasi dan manfaat kalau riba dan khamar diharamkan sekaligus bagi masyarakat pecandu riba dan khamar. Dari sini kita bisa tahu bahwa hukum Islam berfungsi sebagai salah satu sarana pengendali sosial.

Hukum Islam juga memperhatikan kondisi masyarakat agar hukum tidak dilecehkan dan tali kendali terlepas sehingga terlihat jelas perbedaan manusia dengan binatang yang tak memiliki hukum.

Secara langsung, akibat buruk riba dan khamar memang hanya menimpa pelakunya. Namun secara tidak langsung, lingkungannya ikut terancam bahaya tersebut. Oleh karena itu, kita dapat memahami, fungsi kontrol yang dilakukan lewat tahapan pengharaman riba dan khamar. Fungsi ini dapat disebut amar ma’ruf nahi munkar. Dari fungsi inilah dapat dicapai tujuan hukum Islam, yakni mendatangkan kemaslahatan dan menghindarkan kemudharatan, baik di dunia lebih-lebih di akhirat nantinya.

b. Fungsi Ibadah

(23)

manusia, dan kepatuhannya merupakan ibadah yang sekaligus juga merupakan indikasi keimanan seseorang

(24)

D. Kontribusi Umat Islam dalam Perumusan dan Penegakan Hukum Indonesia

Beberapa kontribusi umat Islam dalam perumusan dan penegakan hukum indonesia,yaitu:

1. Lahirnya`UUD`1945

Peranan Umat Islam dalam Mempersiapkan dan Meletakkan Dasar-dasar Indonesia Merdeka.Dalam upaya mempersiapkan kemerdekaan Indonesia, tidak disangsikan lagi peran kaum muslimin terutama para ulama. Mereka berkiprah dalam BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia) yang dibentuk tanggal 1 maret 1945. Lebih jelas lagi ketika Badan ini membentuk panitia kecil yang bertugas merumuskan tujuan dan maksud didirikannya negara Indonesia.

Panitia terdiri dari 9 orang yang semuanya adalah muslim atau para ulama kecuali satu orang beragama Kristen. Meski dalam persidangan-persidangan merumuskan dasar negara Indonesia terjadi banyak pertentangan antar (mengutip istilah Endang Saefudin Ansori dalam bukunya Piagam Jakarta) kelompok nasionalis Islamis dan kelompok nasionalis sekuler. Kelompok Nasionalis Islamis antara lain KH. Abdul Kahar Muzakir, H. Agus Salim, KH.Wahid Hasyim, Ki Bagus dan Abi Kusno menginginkan agar Islam dijadikan dasar negara Indonesia.

(25)

kedua kelompok sehingga melahirkan sebuah rumusan yang dikenal dengan Piagam Jakarta tanggal 22 Juni 1945, yang berbunyi :

1. Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syareat Islam bagi pemeluk-pemeluknya

2. Kemanusiaan yang adil dan beradab 3. Persatuan Indonesia

4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan

5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia

2. Lahirnya Perkawinan

(26)

yang terjadi dalam perkawinan di kalangan umat Islam. Hal tersebut juga pernah dibicarakan pada dewan rakyat (volksraad).

Umat Islam waktu itu mendesak DPR agar secepatnya mengundangkan RUU tentang Pokok-Pokok Perkawinan bagi umat Islam, namun usaha tersebut menurut Arso Sosroatmodjo tidak berhasil.Simposium Ikatan Sarjana Wanita Indonesia (ISWI) pada tanggal 1972 menyarankan agar supaya PP ISWI memperjuangkan tentang Undang-Undang Perkawinan. Selanjutnya organisasi Mahasiswa yang ikut ambil bagian dalam perjuangan RUU Perkawinan Umat Islam yaitu Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) yang telah mengadakan diskusi panel pada tanggal 11 Februari 1973.

Akhirnya setelah bekerja keras, pemerintah dapat menyiapkan sebuah RUU baru. Tanggal 31 Juli 1973 pemerintah menyampaikan RUU tentang Perkawinan yang baru kepada DPR, yang terdiri dari 15 (lima belas) bab dan 73 (tujuh puluh tiga) pasal. RUU ini mempunyai tiga tujuan, yaitu memberikan kepastian hukum bagi masalah-masalah perkawinan sebab sebelum adanya undang-undang maka perkawinan hanya bersifat judge made law, untuk melindungi hak-hak kaum wanita sekaligus memenuhi keinginan dan harapan kaum wanita serta menciptakan Undang-undang yang sesuai dengan tuntutan zaman.

Secara bersamaan, untuk memecahkan kebuntuan antara pemerintah dan DPR diadakan lobi-lobi antara fraksi-fraksi dengan pemerintah. Antara fraksi ABRI dan Fraksi PPP dicapai suatu kesepakatanantara lain:

(27)

2. Sebagai konsekuensi dari poin pertama itu, maka hal-hal yang telah ada dalam undang Nomor 22 Tahun 1964 dan Undang-undang Nomor 14 Tahun 1970 tetap dijamin kelangsungannya dan tidak akan diadakan perubahan.

3. Lahirnya Peradilan Agama

Peradilan Islam di Indonesia yang kemudian dikenal dengan istilah Peradilan Agama telah ada dan dikenal jauh sebelum Indonesia merdeka. Peradilan Agama ada dan seiring dengan perkembangan kelompok masyarakat di kala itu, yang kemudian memperoleh bentuk-bentuk ketatanegaraan yang sempurna dalam kerajaan Islam. Hal ini diperoleh karena masyarakat Islam sebagai salah satu komponen anggota masyarakat adalah orang yang paling taat hukum, baik secara perorangan maupun secara kelompok.Perjalanan lembaga Peradilan.

Agama hingga era satu atap ini mengalami pasang surut dan tantangan yang sangat berat, baik secara kelembagaan maupun secara konstitusional. Lahirnya Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan memperkokoh keberadaan pengadilan agama. Di dalam undang-undang ini tidak ada ketentuan yang bertentangan dengan ajaran Islam. Pasa12 ayat (1) undang-undang ini semakin memperteguh pelaksanaan ajaran Islam (Hukum

Islam).

(28)

Dalam sejarah perkembangannya, personil peradilan agama sejak dulu selalu dipegang oleh para ulama yang disegani yang menjadi panutan masyarakat sekelilingnya. Hal itu sudah dapat dilihat sejak dari proses pertumbuhan peradilan agama sebagai-mana disebut di atas. Pada masa kerajaan-kerajaan Islam, penghulu keraton sebagai pemimpin keagamaan Islam di lingkungan keraton yang membantu tug as raja di bidang keagamaan yang bersumber dari ajaran Islam, berasal dari ulama seperti KaBjeng Penghulu Tafsir Anom IV pada Kesunanan Surakarta. Ia pemah mendapat tugas untuk membuka Madrasah Mambaul Ulum pada tahun 1905. Namun sejak tahun 1970-an, perekrutan tenaga personil di lingkungan peradilan agama khususnya untuk tenaga hakim dan kepaniteraan mulai diambil dati alumni lAIN dan perguruan tinggi agama.

Dari uraian singkat tentang sejarah perkembangan peradilan agama tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa peradilan agama bercita-cita untuk dapat memberikan pengayoman dan pelayanan hukum kepada masyarakat.

4. Pengelolaan Zakat

Undang-undang Nomor 38 Tahun 1999 tentang pengelolaan Zakat menetapkan bahwa tujuan pengelolaan Zakat adalah sebagai berikut:

(29)

2. Meningkatnya fungsi dan peranan pranata keagaman dalam upaya mewujudkan kesejahteraan masyarakat dan keadilan sosial.

3. Meningkatnya hasil guna dan daya guna Zakat. Guna untuk tercapainya tujuan yang lebih optimal bagi kesejahteraan umum untuk seluruh lapisan masyarakat, maka UU tentang Pengelolaan zakat mencakup pula tentang pengelolaan infaq, sodhaqah, hibah, wasiat, waris dan kafarat. Hanya saja sistem pengadministrasian keuangannya dilakukan secara terpisah. Terpisah antara zakat dengan Infaq, shodaqah, dan lain sebagainya.

(30)

A. KESIMPULAN

Islam adalah agama yang paling sempurna, karena dalam ajarannya tidak hanya membahas bagaimana tata cara beribadah kepada Allah swt, akan tetapi Islam juga membahas dengan sangat detail mengenai tata cara dalam

(31)

DAFTAR PERTANYAAN N

O

(32)

DAFTAR TANGGAPAN

(33)

DAFTAR PUSTAKA

Drs. DALIZAR PUTRA,”HAM” Hak Asasi Manusia Menurut Al Qur’an, Cetakan ke II, 1995, Jakarta.

http//www.bayupadhoe.wordpress.com/2014/04/26/fungsi-hukum-islam-dalam-kehidupan-bermasyarakat

Referensi

Dokumen terkait

Untuk mendapatkan lokasi dan masa yang tepat untuk melaksanakan aktiviti pencegahan dan pengawalan penyakit DD dan DDB, faktor-aktor ruangan yang berkaitan dengan pembiakan nyamuk

KARAKTERISTIK PENDERITA MALARIA DI KABUPATEN BENER MERIAH PROVINSI ACEH TAHUN

Perusahaan yang tingkat kepemilikan publiknya tinggi akan memberikan pengungkapan yang tepat waktu dan lebih luas dibandingkan dengan perusahaan yang sahamnya tidak

Kriteria inklusi dalam penelitian ini adalah Bertempat tinggal di wilayah Kelurahan Genuksari Kecamatan Genuk Kota Semarang, lansia yang berumur > 60 tahun,

Berdasar pada fenomena gap dengan mengacu pada rasio keuangan dan rata-rata pertumbuhan laba terlihat berfluktuasi tiap periode dari tahun ke tahun ditunjukkan

indikator tegangan (voltage) stabil; Pemeliharaan jaringan tapi listrik tetap nyala; indikator kWh meter diukur dengan akurat; Material pemeliharaan yang bermutu; Biaya pasang

penggunaan metode TGT dan kelas XI IIS 2 sebagai kelas dengan menggunakan metode STAD. Sampel penelitiann diambil dengan teknik multistage cluster random

Untuk mengetahui efektivitas pengelolaan persediaan dapat dilihat dari perhitungan tingkat perputaran persediaanya, karena semakin tinggi tingkat perputaran persediaan