TALAGO (TAMPON LACTOBACILLUS GLIKOGEN) SEBAGAI UPAYA PREVENTIF TERJADINYA KANKER SERVIKS
DisusunOleh:
Carlo Prawira Azali 1310312094/2013 Suci Syukrina Fahmi 1310312109/2013 Lintang Sekar Sari 1410312070/2014
UNIVERSITAS ANDALAS PADANG
iii ABSTRAK
TALAGO (TAMPON LACTOBACILLUS GLIKOGEN) SEBAGAI
UPAYA PREVENTIF TERJADINYA KANKER SERVIKS
Azali CA, Fahmi SS, Sari LS
Kanker serviks adalah jenis kanker yang sangat berbahaya dan merupakan salah satu kanker dengan prevalensi sangat tinggi. Lebih dari 70% kanker serviks diakibatkan oleh HPV (Human Papillomavirus). HPV dapat menghambat kerja dari p53 dan Rb. Hal tersebut menyebabkan sel tidak dapat melakukan apoptosis, terus berproliferasi, dan menjadi sel kanker pada mukosa vagina. Cara HPV menginfeksi mukosa vagina yaitu dengan berkompetisi dengan flora normal di vagina. Jika flora normal vagina adekuat maka HPV tidak dapat menginfeksi mukosa vagina. Flora normal pada vagina bermacam-macam, dengan yang paling stabil adalah Lactobacillus. Lactobacillus akan memetabolisme glikogen sehingga tercipta suasana asam pada vagina. Pertengahan siklus menstruasi, flora normal menjadi sedikit karena rendahnya kadar estrogen. Hal tersebut dapat menjadi kesempatan HPV untuk melakukan adhesi di mukosa vagina. Hal tersebut yang menjadi dasar dari penulisan karya tulis ilmiah ini, dengan menggunakan prinsip flora normal dan glikogen yang diinduksikan ke dalam sebuah alat, yang bernama tampon. Hal tersebut menyebabkan flora normal pada vagina tercukupi dan HPV tidak bisa menginfeksinya. Metode penulisan Karya Tulis Ilmiah ini menggunakan metode studi pustaka dengan teknik analisis, deskriptif dan argumentatif. Dengan tulisan yang menggambarkan tentang Tampon Lactobacillus Glikogen, diharapkan dapat mencegah kanker serviks pada orang yang memiliki faktor resiko tinggi terhadap kanker serviks. Prinsip flora normal ini dapat mengurangi kanker serviks dan sebagai upaya preventif terhadap kanker serviks.
iv KATA PENGANTAR
Puji syukur, penulis ucapkan ke Tuhan YME yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah – Nya kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah Gagasan Tertulis yang berjudul “TaLaGo (Tampon Lactobacillus Glikogen) Sebagai Upaya Preventif Terjadinya Kanker Serviks” dengan baik dan lancar. Karya Tulis Ilmiah Gagasan Tertulis ini disusun untuk dilombakan pada event SPORA 2015 di Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya Palembang. Penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan bantuan, dukungan, serta motivasi baik moril maupun materil dalam penyusunan Karya Tulis Ilmiah Gagasan Tertulis, diantaranya kepada :
1. Dr. dr. Masrul. M.Sc, SpGK, selaku Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Andalas.
2. dr. M. Hidayat, SpM(K), selaku Wakil Dekan III Fakultas Kedokteran Universitas Andalas.
3. dr. Roslaili Rasyid M. Biomed. Selaku dosen pembimbing. Terima kasih atas kesediaannya meluangkan waktu untuk berdiskusi, membimbing penulis, sehingga karya tulis ini dapat diselesaikan.
4. Orang tua yang sangat penulis cintai, Ayah dan Ibu, tiada kata yang dapat mewakili ucapan terima kasih dan syukur atas semua yang telah diberikan. 5. Kepada teman-teman yang tidak bisa disebutkan satu per satu, terima kasih
atas dukungan teman-teman selama ini.
Dalam penulisan Karya Tulis Ilmiah Gagasan Tertulis ini, penulis menyadari masih banyak kekurangan, oleh karena itu kritik dan saran yang membangun sangat penulis harapkan untuk bekal dimasa yang akan datang. Akhir kata, semoga karya tulis ini dapat bermanfaat bagi semua pihak dan dapat menambah khasanah ilmu pengetahuan.
Padang, 2 Juni 2015
v DAFTAR ISI
Lembar Pengesahan i
Abstrak ii
Kata Pengantar iii
BAB I: Pendahuluan
1.1.Latar Belakang 1
1.2.Rumusan Masalah 3
1.3. Tujuan Penulisan 4
1.4. Manfaat Penelitian 4
BAB II: Tinjauan Pustaka 2.1. Kanker Serviks
2.1.1. Definisi 5
2.1.2. Epidemiologi 5
2.1.3. Etiologi dan Faktor Risiko 6
2.1.4. Manifestasi Klinik 7
2.1.5. Diagnosis 8
2.1.6. Klasifikasi Histopatologi 8
2.1.7. Stadium 9
2.1.8. Pengobatan 10
2.1.9. Prognosis dan Preventif 11
2.2. Human Papillomavirus
2.2.1. Struktur HPV 11
2.2.2. Protein E6 dan E7 12
2.2.3. Infeksi HPV 13
2.3. Lactobacillus 14
vi
BAB III: Metode Penulisan 17
BAB IV: Analisis dan Sintesis
4.1. Peran Lactobacillus Sebagai Flora Normal 18 4.2. Penanaman Lactobacillus dan Glikogen di Tampon 19 4.3. Tampon Lactobacillus Giloken (TaLaGo) 21 BAB V: Kesimpulan dan Saran
5.1. Kesimpulan 24
5.2. Saran 24
Daftar Kepustakaan 25
vii DAFTAR TABEL
Tabel 1.Klasifikasi Histopatologi Kanker Serviks WHO 1994 WHO 1994 8
Tabel 2. FIGO 2009 Cervical Cancer Staging 9
1 BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Pendahuluan
Kanker serviks merupakan jenis kanker yang berbahaya di dunia, yang menempati urutan kedua setelah kanker payudara.1 International Agency for Research on Cancer (IARC) melaporkan pada tahun 2012, kanker serviks menempati urutan ke 4 dunia sebagai kanker yang terbanyak pada wanita. Selain itu, terdapat penambahan kasus baru kanker serviks sebanyak 528.000 dan angka kematianya mencapai 266.000. Hal ini menunjukkan lebih dari 50% penderita kanker serviks berujung pada kematian.2
Menurut WHO tahun 2012, Indonesia menempati urutan pertama dengan angka insidensi dan mortalitas tertinggi di Asia Tenggara, yaitu 15.050 per 100.000 penduduk.3 Menurut RS Kanker Dharmais, dari tahun 2003–2007, kanker serviks menempati urutan ke 2 setelah kanker payudara pada wanita. Diperkirakan ada sekitar 100 kasus baru kanker serviks dalam 100.000 penduduk tiap tahunnya di Indonesia. Hal ini berarti dari 237 juta penduduk Indonesia, ada sekitar 237.000 penderita kanker serviks baru di Indonesia.4 Lebih dari 70% penyebab kanker serviks adalah infeksi Human Papillomavirus (HPV). Dari banyaknya jenis HPV yang telah diidentifikasi, jenis yang paling sering menjadi kanker adalah HPV tipe 16 dan 18.1 Penyebab jenis tersebut paling sering menjadi kanker karena pengaruh dari protein E6 dan E7. Protein tersebut mampu menghambat efek dari gen pro-apoptosis, yaitu p53 dan Rb. Selain itu, HPV dapat merangsang perubahan pada setiap lapisan mukosa serviks. Hal tersebut menyebabkan sel terus berploriferasi dan dapat menjadi kanker, dengan proses yang cukup lama sekitar 5-10 tahun5,6,7,8,9,10
2 Hal ini dibuktikan dengan adanya sekitar lima puluh persen pasien baru kanker serviks yang tidak pernah melakukan pap smear, yang merupakan test spesifik untuk skrining infeksi HPV. Selain pap smear, terdapat juga jenis pemeriksaan dini untuk infeksi HPV, yaitu tes DNA HPV, biopsi kerucut, CT Scan, dan MRI. Dari semua pemeriksaan tersebut, pap smear adalah jenis pemeriksaan yang paling mudah dan murah.1
Untuk pengobatan kanker serviks, dapat dilakukan terapi pembedahan, radioterapi, kemoterapi, dan imunoterapi. Terapi pembedahan dapat dilakukan pada kanker serviks sampai stadium IIA, sehingga pembedahan dan radioterapi menjadi metode terapi utama pada kanker serviks. Pemilihan metode terapi berdasarkan pembagian stadium klinis, derajat diferensiasi patologi, dan ukuran tumor. Prognosis dari kanker serviks, survival rate 5 tahun pasien stadium I, II, III, IV masing-masing adalah 81%, 6%, 61,3%, 36,7%, dan 12,1%. Faktor yang mempengaruhi prognosis adalah stadium klinis, tipe patologi, metastasis, manipulasi operasi dan lain-lain.1,11
Agar dapat menginfeksi, HPV harus menempel di mukosa vagina. Hal ini tidak dapat terjadi pada keadaan normal karena mukosa tersebut sudah dipenuhi oleh flora normal, yang merupakan jenis pertahanan non spesifik pada vagina. Komposisi flora normal dipengaruhi beberapa faktor. Faktor tersebut adalah usia, stres, hormonal, status kesehatan secara umum, aktivitas seksual, dan kebersihan vagina. Jenis flora normal pada vagina umumnya adalah golongan Lactobacillus, Streptococcus, Staphylococcus, dan lainnya. Dari berbagai jenis flora normal tersebut, jenis yang terbanyak dan sejauh ini tidak memiliki efek negatif adalah Lactobacillus.12
3 terjadinya kanker serviks.13 Karena faktor risiko terjadinya kanker serviks cukup tinggi serta peran Lactobacillus yang dapat mencegah kanker serviks, maka penulis mencoba menggagas sebuah produk berbentuk tampon.
Tampon adalah sejenis penyumbat yang berfungsi menyerap darah atau cairan dari sebuah saluran, seperti pada vagina. Indikasi pemakaian tampon adalah pada ibu-ibu yang sudah menikah. Hal ini disebabkan tampon dipasang akan melewati selaput dara (Hymen) sehingga tidak bisa dipakai pada wanita yang masih perawan. Kelebihan dari tampon adalah mudah dibawa, fleksibel, dan daya serap yang tinggi. Kekurangan dari tampon adalah pemasangan yang cukup sulit pada pemakaian pertama kali.14
Produk yang penulis gagas berupa tampon dengan penambahan Lactobacillus dan glikogen didalamnya. Nama dari produk tersebut adalah TaLaGo (Tampon Lactobacillus Glikogen). Penggunaan awal tampon untuk menyerap darah atau cairan, diubah menjadi memasukkan Lactobacillus dan glikogen dalam vagina. Indikasi penggunaan TaLaGo adalah untuk ibu-ibu dengan faktor risiko tinggi terkena inveksi HPV yang dapat menyebabkan kanker serviks. Penambahan Lactobacillus dan glikogen pada vagina melalui tampon diharapkan dapat membentuk asam laktat, yang membuat suasana asam dalam vagina.
Berdasarkan uraian diatas, penulis menggagas perlunya suatu upaya preventif untuk mencegah terjadinya kanker serviks dengan membuat karya tulis ini yang berjudul TaLaGo (Tampon Lactobacillus Glikogen) Sebagai Upaya Preventif Terjadinya Kanker Serviks. Maksud gagasan penulis adalah dibuatnya sebuah produk berupa tampon yang didalamnya terkandung Lactobacillus dan glikogen. Penulis berharap gagasan ini tidak hanya berhenti sampai disini saja, tetapi direalisasikan menjadi suatu produk. Hal ini bertujuan supaya prevalensi kanker serviks dapat dikurangi.
1.2. Rumusan Masalah
4 serviks?
2. Apakah TaLaGo dapat dijadikan upaya preventif terjadinya kanker serviks?
1.3. Tujuan Penulisan
1. Mengkaji peran Lactobacillus sebagai flora normal di vagina dan efektivitas Lactobacillus dalam mencegah terjadinya kanker serviks. 2. Mengkaji apakah TaLaGo (Tampon Lactobacillus Glikogen) dapat
dijadikan upaya preventif terjadinya kanker serviks atau tidak. 1.4. Manfaat Penulisan
Bagi Peneliti
o Dapat dijadikan sebagai dasar teori untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang mekanisme Lactobacillus dalam mencegah kanker serviks.
o Dapat dijadikan sebagi rujukan untuk penelitian lebih lanjut mengenai hubungan Lactobacillus dengan kanker serviks.
Bagi Klinisi
Memberikan inovasi upaya preventif terbaru kepada pihak klinisi atau pihak yang melayani kesehatan reproduksi ibu-ibu.
Bagi Masyarakat
5 BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Kanker Serviks
2.1.1 Definisi
Kanker serviks merupakan penyakit neoplastik serviks dengan perjalanan alamiah yang bersifat fatal.15 Kanker serviks berasal dari sel-sel epitel serviks yang menjadi abnormal dan mulai tumbuh tak terkendali.16
2.1.2 Epidemiologi
Kanker serviks merupakan keganasan yang sering dijumpai pada wanita dan menimbulkan kematian terbanyak akibat kanker di negara berkembang.1 Berdasarkan GLOBOCAN 2012, kanker serviks adalah kanker ke empat terbanyak pada wanita dunia dengan perkiraan kasus baru 527.625 dan kematian 265.653 pada tahun 2012.2 Di Amerika
Serikat pada tahun 2008, 12.410 wanita di diagnosis dengan kanker serviks dan 4.008 wanita meninggal karena kanker serviks. American Cancer Society memprediksikan 12.170 kasus baru kanker serviks invasif akan terdiagnosa dan sekitar 4.220 wanita akan meninggal karena kanker serviks pada tahun 2012 di Amerika Serikat.17 Berdasarkan The Cervical Cancer Crisis Card: Death Count, didapatkan banyak wanita Asia menderita dan meninggal karena kanker servik. India menempati posisi pertama dengan 26,4% atau 72.825 dari seluruh wanita dunia yang menderita dan meninggal karena kanker servik, diikuti China 33.914, Bangladesh 11.055, Nigeria 9.659 dan Indonesia di posisi ke 6 dengan 7.493 wanita yang meninggal karena kanker serviks.18
6 Indonesia antara 80-100 wanita per 100.000 penduduk wanita pertahun.3 Berdasarkan ICO HPV Information Centre tahun 2015 Indonesia memiliki populasi 89 juta wanita berusia 15 tahun keatas yang beresiko kanker serviks, dengan insidensi kanker serviks menempati posisi kedua sebagai kanker terbanyak pada wanita Indonesia dengan rentang usia 15 sampai 44 tahun.19
2.1.3 Etiologi dan Faktor Resiko
Etiologi kanker serviks sampai saat ini masih belum diketahui secara pasti, tetapi faktor resiko keganasan serviks ini telah banyak dikenal.20 Data epidemiologi serta penelitian terbaru mengungkapkan
adanya hubungan yang kuat antara infeksi Human Papillomavirus (HPV) dengan kanker serviks. HPV tergolong virus epiteliotropik, terbagi menjadi HPV kutis dan HPV genital. Sekitar 20 jenis HPV berkaitan dengan tumor organ genital, terbagi menjadi HPV resiko rendah seperti HPV 6, 11, 42, 43, 44 serta HPV resiko tinggi seperti HPV 16, 18, 31, 33, 35, 39, 45, 51, 52, 56, 58, 59, 68. HPV resiko tinggi berkaitan erat dengan karsinoma serviks dan neoplasia intraepitel serviks uteri (CIN II/III). Infeksi HPV ditularkan melalui hubungan kelamin, termasuk vagina, anal atau oral seks. Dari beberapa penelitian laboratorium terbukti bahwa 90% kondiloma serviks, semua neoplasma intraepitelial serviks dan karsinoma serviks mengandung DNA Human Papillomavirus.11,21,22
7 prepusium, vaginoservisitis kronis, merokok, dan konsumsi kontrasepsi oral.11
Wanita yang merokok lebih berisiko dua kali lipat menderita kanker serviks dibanding perempuan yang tidak merokok. Produk tembakau telah ditemukan pada mukus serviks perempuan perokok. Para peneliti mempercayai bahwa substansi ini menyebabkan kerusakan DNA dari sel serviks dan berkontribusi dalam perkembangan kanker serviks.24
Human immunodeficiency virus (HIV) dapat merusak sistem imun sehingga meningkatkan risiko infeksi HPV pada wanita. Sistem imun bertanggung jawab untuk melindungi tubuh dari penyakit termasuk sel kanker dengan cara membunuhnya atau menghambat pertumbuhan dan penyebarannya.25 Faktor risiko lain yang diketahui adalah sanitasi alat genital yang kurang baik, sehingga akan memicu terjadinya servisitis yang erat kaitannya dengan kanker serviks uteri.
2.1.4 Manifestasi Klinik
8 Nyeri umumnya terjadi pada stadium sedang, lanjut, atau apabila penyakit disertai dengan infeksi. Nyeri tersebut muncul pada daerah abdomen bawah, regio gluteal, atau sakrokoksigeal. Pada kanker serviks dengan stadium lanjut, terdapat gejala saluran urinarius seperti polakisuria, urgensi, disuria, serta gejala sistemik seperti letih lemah, demam, kurus, anemia dan udem.11,26,27,28
2.1.5 Diagnosis
Diagnosis kanker serviks ditegakkan melalui pemeriksaan klinis berupa anamnesis, pemeriksaan fisik dan ginekologik, termasuk evaluasi kelenjer getah bening, pemeriksaan panggul, serta pemeriksaan rektal.1 Anamnesis harus dilakukan dengan cermat untuk mencari faktor
risiko pada pasien. Keluhan utama yang dicurigai biasanya adalah keputihan dan perdarahan abnormal.29 Pemeriksaan histopatologi jaringan melalui biopsi serviks merupakan gold standar dalam diagnosis kanker serviks, sedangkan pemeriksaan sitologi serviks (pap smear) hanya bertujuan untuk melihat kecurigaan lesi pre-kanker.1,30 Selain itu, alat yang bisa digunakan unuk membantu menegakkan diagnosis kanker serviks uteri adalah colposcopy, punch biopsy, LEEP, endocervical curettage, dan conization.11
2.1.6 Klasifikasi Histopatologi
Klasifikasi histopatologik kanker serviks menurut WHO dibagi menjadi sebagai berikut:31
Klasifikasi Histopatologi Kanker Serviks Karsinoma sel skuamosa (85%)
Dengan pertandukan Tanpa pertandukan Tipe verukosa Tipe kondilomatosa Tipe kapiler
9
Tabel 1.Klasifikasi Histopatologi Kanker Serviks WHO 1994 WHO 1994 2.1.7 Stadium
Kesepakatan penentuan stadium kanker serviks uteri yang masih dipakai hingga saat ini adalah stadium klinik menurut The International Federation of Gynecology and Obstetrics (FIGO) yaitu: 32
Stadium Informasi
Stadium 0 Insitu Karsinoma dan Intraepitelial Karsinoma Stadium I Karsinoma yang berbatas tegas pada serviks Stadium Ia Karsinoma invasif yang hanya bisa didiagnosa
menggunakan mikroskopis, dengan kedalaman invasi kurang dari sama dengan 5 mm dan besarnya ekstensi kurang dari sama dengan 7 mm.
Stadium Ia1 Diukur stroma invasi kurang dari sama dengan 3 mm kedalamannya dan ekstensinya kurang dari sama dengan 7 mm
10 Stadium Ib Secara klinis dapat dilihat lesi yang terbatas pada
serviks uteri atau praklinis besarnya kanker lebih dari stadium
Stadium Ib1 Secara klinis dapat dilihat lesi kurang dari sama dengan 4 cm dengan dimensi yang sangat besar. Stadium Ib2 Secara klinis dapat dilihat lesi lebih besar dari 4
cm dengan dimensi yang besar.
Stadium II Karsinoma serviks menyerang dinding rahim, tetapi tidak menyerang dinding panggul dan bangian sepertiga bawah vagina. dengan 4 cm dengan dimensi yang besar.
Secara klinis terlihat lesi lebih besar dari 4 cm dengan dimensi yang besar
Stadium IIb Dengan melihat parameter invasi
Stadium III Tumor meluas ke dinding pelvis dan bagian bawah vagina serta menyebabkan hidronefrosis atau tidak berfungsinya ginjal.
Stadium IIIa Tumor meluas ke bagian sepertiga bawah vagina, tetapi mengalami ekstensi ke diding pelvis. Stadium IIIb Berekstensi ke dinding pelvis dan hidronefrosis
atau tidak berfungsinya ginjal.
Stadium IV Karsinoma telah melampaui dinding pelvis sejati. Stadium Iva Menyebar dan tumbuh ke organ berdekatan. Stadium IVb Menyebar ke organ yang jauh.
Tabel 2. Stadium Kanker Serviks FIGO 2009 2.1.8. Pengobatan
11 2.1.9. Prognosis dan Preventif
Berdasarkan FIGO dari laporan gabungan hasil terapi di 137 lembaga, survival rate 5 tahun pasien stadium I, II, III, IV masing-masing adalah 81%, 6%, 61,3%, 36,7%, dan 12,1%. Faktor yang mempengaruhi prognosis adalah stadium klinis, tipe patologi, metastasis, manipulasi operasi dan lain-lain.1,11
Penelitian terbaru mengenai preventif kanker serviks sampai saat ini hanya dengan vaksin HPV yang berhubungan dengan kanker serviks. Vaksin yang tersedia adalah imunitas yang diproduksi untuk HPV tipe 16 dan 18 sehingga wanita yang terpapar virus ini tidak berkembang menjadi kanker serviks. Penelitian sedang dilakukan untuk melihat efektivitas vaksin ini dalam menurunkan risiko kanker serviks. Selain vaksin HPV, vaksin yang memproduksi reaksi imun terhadap partikel virus seperti protein E6 dan E7 juga sedang diteliti. Diharapkan dengan imunitas tersebut dapat membunuh kanker atau menghambat pertumbuhannya.33,34
2.2. Human Papillomavirus
2.2.1. Struktur HPV
12 HPV terdiri dari Early protein dan Late protein. Early protein terdiri dari delapan jenis, yaitu: E1, E2, E3, E4, E5, E6, E7, dan E8. Dari semua jenis Early protein tersebut, E6 dan E7 adalah dua protein yang dianggap penting dalam mempengaruhi patogenitas dari HPV. Late protein teridiri dari L1 dan L2 dengan fungsi untuk membentuk kapsid, yang berfungsi sebagai pelindung terluar HPV.5,6,7,8,9,10
2.2.2. Protein E6 dan E7
Protein E6 dibentuk oleh 150 asam amino, yang mempunyai kemampuan untuk mengikat dan mendegradasi salah satu Tumor Suppressor Gene (TSG), yaitu p53. Mekanisme penghambatan dan pendegradasian p53 yaitu dengan cara E6 membentuk susunan kompleks dengan regulator p53 seluler ubiquitin ligase / E6AP, yang akan meningkatkan degradasi p53. E6 juga menurunkan aktifitas p53 melalui CBP/p300, co-activator p53.5,6,10
Efek lain yang dapat ditmbulkan oleh protein E6 adalah pengaktifan ekspresi dari telomerase. Mekanismenya adalah dengan memperpanjang telomer melalui aktifitas katalitik sub unit telomerase, human reverse transcriptase (hTERT). Protein E6 membuat komplek dengan Myc/Mac protein dan Sp-1 yang akan mengikat enzim hTERT di regio promotor dan menyebabkan peningkatan aktifitas telomerase sel. Hasil akhirnya adalah sel terus berproliferasi atau menjadi immortal. Selain efek penghambatan p53 dan pengaktifan ekspresi telomerase, protein E6 dapat menghindar dari sistem imun dan membuat virus menjadi resisten.5,10
13 sel akan menghilang sehingga proliferasi sel tidak terkendali. Selain itu, protein E7 mampu mendegradasi gen Rb, meningkatkan aktivitas dari CDK 2 (Cyclin Dependent Kinase 2), induksi toleransi perifer dari sel limfosit T sitotoksik, serta berkontribusi terhadap penghindaran respon imun.5,10
2.2.3. Infeksi HPV
Infeksi oleh HPV tipe high risk dapat terjadi di beberapa jenis epitel, tetapi lebih sering terjadi di daerah perbatasan serviks dan uterus, yaitu perbatasan antara epitel skuamosa ektoserviks dan epitel kolumnar endoserviks. Penyebab seringnya terjadi di daerah tersebut karena hanya memiliki sedikit lapisan daripada daerah lainnya. Selain itu, pengaruh dari hormon estrogen dan progesteron yang mengatur perubahan serviks selama menstruasi dan persalinan dapat membantu infeksi HPV dan perkembangannya menjadi kanker.5
Permulaan infeksi dimulai dari masuknya virus kedalam sel melalui mikroabrasi jaringan permukaan epitel. Hal ini membuat sel masuk kedalam sel basal. Sel basal terutama sel punca terus membelah, bermigrasi mengisi sel bagian atas, berdiferensiasi dan mensintesis keratin. Protein virus pada infeksi HPV mengambil alih perkembangan siklus sel dan mengikuti diferensiasi sel. Secara in vivo dan in vitro, protein kapsid dari protein L1 berisi komponen utama yang diperlukan supaya virus dapat menempel ke reseptor permukaan, heparan sulfat proteoglycans (HSPGs). Selain itu, laminin-5 juga berkontriusi dalam pengikatan kapsid virus ke matriks ekstraselular sel epitel.5
14 kapsid L2, yang dibelah oleh furin atau dengan protein convertase 5 dan 6. Cara masuknya HPV masuk adalah melalui klatrin yang dimediasi oleh endositosis. Selain itu, menurut beberapa studi menunjukkan bahwa cara HPV masuk adalah melalui jalur kaveola, yang akhirnya mencapai retikulum endoplasma. Setelah itu, endosom virus dikeluarkan, yang diatur oleh protein L2. Secara normal, transportasi sitoplasma dan mikrotubulus dimediasi oleh kompleks protein. Pada keadaan infeksi HPV, protein L2 berinteraksi dengan mikrotubulus melalui motor protein dynein, sehingga genom virus dapat masuk ke dalam nukleus.5,10
2.3. Lactobacillus
Lactobacillus merupakan salah satu dari jenis bakteri Gram positif yang memiliki lapisan proteoglikan yang tebal dan membran sel. Lactobacillus ini digolongkan dalam bakteri Gram positif karena reaksinya terhadap reaksi Gram. Lactobacillus merupakan flora normal yang hidup di vagina. Lactobacillus muncul di sekitar vagina, segera setelah lahir dan menetap di vagina selama pH-nya dalam keadaan asam.12
Lactobacillus tidak bersifat patogen terhadap vagina, berfungsi melindungi vagina dengan cara berkompetisi dengan patogen dan membuat antibiotik agar patogen tersebut tidak bisa hidup didalamnya. Selain itu, Lactobacillus merupakan bakteri anaerob fakultatif sehingga mampu memproduksi asam laktat dengan menggunakan H2O2. Lactobacillus hidup di vagina dengan
bantuan glikogen yang dihasilkan oleh kelenjar bartholini.12 Glikogen akan
dirubah menjadi asam laktat oleh Lactobacillus. Sebelum pubertas dan setelah menopause, tepatnya ketika kadar estrogen rendah, Lactobacillus sangat sedikit sehingga pH vagina tinggi. Hal ini disebabkan kelenjar bartholini sedikit sekali memproduksi glikogen akibat pengaruh estrogen yang rendah.35,36
15 yang mengalami infeksi pada saluran genitalianya, akan memiliki bakteri yang beragam pada vaginanya. Lactobacillus memiliki berbagai macam species, seperti L. gasseri, L. jensei, L. cripastus, L. salivaturius dan L. inners. Menurut penelitian yang dilakukan oleh RJ Henkey dkk, setiap wanita memiliki jenis Lactobacillus yang berbeda dan memiliki suatu pola tertentu menurut fase menstruasinya. Contohnya, pada fase mesntruasi, bakteri L. cripastus akan mendominasi vagina lalu akan menurun beberapa hari setelah menstruasi.37,38
Semua jenis Lactobacillus memiliki efek yang sama terhadap vagina, yaitu menghasilkan lingkungan asam, probiotik, dan bakteriasid. Dari semua jenis Lactobacillus, ada yang bersifat stabil dan bersifat labil. L. cripastus merupakan salah satu dari jenis Lactobacillus yang paling stabil dan eksklusif. Wanita yang memiliki L. cripastus pada vaginanya memiliki resiko rendah terhadap infeksi yang menyerang saluran genitalia. Penelitian yang dilakukan oleh Joana Castro menyatakan bahwa rata-rata terdapat 2 L. cripastus per satu sel epitel mukosa vagina.39
2.4 Tampon
Tampon adalah sejenis penyumbat dengan daya serap yang dimasukkan ke dalam rongga tubuh atau luka untuk menghentikan atau menyerap cairan. Dalam kasus menstruasi wanita, tampon dimasukkan ke dalam vagina untuk menyerap darah menstruasi.14
Tampon yang berbentuk silinder dan biasanya dengan string terhubung (supaya mudah dilepas) dan kadang-kadang dengan aplikator. Bahan dari tampon biasanya dari katun. Kegunaan dari aplikator untuk memasukkan tampon ke dalam vagina dengan lebih mudah.14
Tampon memiliki kelebihan dan kekurangan. Kekurangan yang dimiliki oleh tampon adalah kesulitan dalam penggunaan pertama kali, sedangkan untuk pemakaian selanjutnya tidak ada kesulitan dalam pemakaiannya. Kelebihan yang dimiliki oleh tampon adalah: 14
16 o Memudahkan aktivitas, seperti olahraga atau berenang
o Lebih fleksibel, dapat mengikuti gerak tubuh dan tidak mengganggu saat berpakaian
Di Amerika Serikat, aplikator tampon terbuat dari plastik atau kardus. Desain aplikator mirip dengan jarum suntik dengan tabung kecil terbuka ke dalam tabung yang lebih besar (dimana tampon berada), dan mendorong tampon ke dalam vagina. Di Amerika Serikat, terdapat empat jenis utama tampon yang dijual, yaitu:14
o Aplikator kardus merupakan tampon aplikator yang paling sederhana dan paling murah.
o Aplikator plastik merupakan tampon dengan aplikator plastik cenderung sedikit lebih mahal, tetapi banyak wanita menemukan aplikator plastik lebih mudah meluncur ke dalam vagina dan lebih nyaman untuk disisipkan.
o Aplikator diperpanjang adalah aplikator baru dan masih cukup jarang ditemukan. Untuk menggunakan aplikator, Tabung kecil harus diperpanjang dengan menariknya keluar.
17 BAB III
METODE PENULISAN
Uraian metode penulisan yang disajikan merupakan metode studi pustaka, bukan uraian tentang metode penelitian. Penulisan dilakukan mengikuti metode yang benar dengan penguraian secara cermat melalui pendekatan berikut:
1. Perumusan masalah
Ide perumusan masalah dilatarbelakangi oleh tingginya prevalensi kanker serviks yang diakibatkan oleh HPV dan belum ada upaya preventif yang signifikan.
2. Pengumpulan data dan informasi
Pengumpulan data dan informasi didapatkan melalui buku dan jurnal-jurnal ilmiah hasil penelitian.
3. Pengolahan data dan informasi
Dalam karya tulis ini, data dan informasi yang diverifikasikan lebih lanjut terbatas pada bukti yang menunjukkan mekanisme infeksi HPV sehingga menjadi kanker serviks dan peran Lactobacillus sebagai flora norma
4. Analisis dan sintesis
Setelah semua data yang dibutuhkan terkumpul, dilakukan pengelolaan data dengan menyusun secara sistematis dan logis. Teknik analis data yang digunakan adalah analisis deskriptif argumentasi. Metode pengutipan kepustakaan yang digunakan adalah teknik Vancouver.
5. Penarikan kesimpulan
Kesimpulan diambil berdasarkan pembahasan yang telah dipaparkan dan menjawab rumusan permasalahan.
18 BAB IV
ANALISIS DAN SINTESIS
5.1. Peran Lactobacillus Sebagai Flora Normal
Hal-hal mengenai Lactobacillus telah dijelaskan pada bab sebelumnya, Lactobacillus merupakan bakteri anaerob fakultatif yang mampu melindungi vagina dari invasi patogen. Mekanisme perlindungan tersebut dilakukan dengan cara memproduksi asam laktat. Glikogen yang dihasilkan oleh Kelenjar Bartholini vagina akan difermentasi menjadi asam laktat. Hal tersebut menyebabkan terbentuk suasana asam pada mukosa vagina yang menghalangi invasi organisme patogen.40,41
Lactobacillus memfermentasi glikogen mengunakan dua cara. Pertama, Embden-Mayerhof Parnas Pathway (glikolisis) yang ditandai dengan adanya formasi 1,6-diphosphate (FDP). FDP dengan bantuan enzim aldolase akan berubah menjadi dihidroxyaceton phosphate (DHAT) dan gliseraldehid 3 phosphate (GAP). GAP akan dikonversikan ke dalam bentuk piruvat sesuai dengan urutan metabolitnya. Hasilnya adalah 1 molekul glikogen akan menghasilkan 2 molekul asam laktat dan 2 molekul energi. Pada jalur ini fermentasinya menggunakan homoferementative Lactobacillus. Jalur yang kedua adalah pentosa phosphate patway. Jalur ini menggunakan enzim phosphoketolase untuk membagi xylulosa-5 phosphate menjadi gliseraldehid 3-phosphate dan acetyl phosphate. GAP akan dikonversikan menjadi laktat, sedangkan acetyl phosphate akan menjadi asetat dan etanol. Jalur ini menggunakan heterofermentative yang menghasilkan 1 mol asam laktat, etanol, CO2, dan 1 ATP untuk setiap 1 mol glikogen.41
19 memberi sinyal kepada Antigen Presenting Cell (APC). APC akan memberi sinyal untuk mengaktifkan reseptor permukaan dan menyekresikan sitokin.
42,43
Mekanisme sinyal yang diyakini adalah dengan adanya reseptor seperti
Tool-like reseptor, nucleotide oligomerization domain-like receptor dan C-type lectin receptor. Sinyal dari reseptor tersebut akan mengaktivasi APC sehingga menyekresikan sikotin dan kemokin. Secara in vitro dan in vivo didapatkan adanya beberapa faktor di Lactobacillus yang berpengaruh terhadap timbulnya respon imun tersebut, seperti karbohidrat pada permukaan sel dan enzim untuk metabolisme lipoteichoic acid dan metabolitnya.43,44
Lactobacillus akan menginduksi sinyal dan mengaktifkan T efektor serta akan mengaktifkan barrier reseptor, mengaktifkan sistem imun humoral, dan interaksi sel dendrit dan makrofag. Selain itu Lactobacillus memiliki endoktoksik yang terdiri atas liposakarida, proteoglikan, dan lipotheicoic acid yang berfungsi sebagai immunomodulator. Hal tersebut menyebabkan mikroba lain yang ingin menempati vagina akan terhalangi oleh Lactobacillus.13,45
5.2. Penanaman Lactobacillus dan Glikogen di Tampon
20 Collections of Microorganisms) yaitu L. gasseri, L. casei, L. fermenlum, L. cripastus dan L. acidophilus.47
Penambahan glikogen digunakan karena dengan adanya glikogen akan meningkatkan angka pertumbuhan dari species Lactobacillus tersebut. Glikogen dan glukosa dilaporkan ada pada lingkungan dengan konsentrasi 1.5 dan 0.62 g%. Kedua karbohidrat tersebut akan digunakan dalam lingkungan vagina terutama oleh species Lactobacillus.48 Berdasarkan hal tersebut, didapatkan kelebihan dari TaLaGo, yaitu Lactobacillus dapat bertahan lama di vagina karena adanya glikogen tambahan. Selain itu penggunaan tampon yang cukup praktis dan efektivitasnya sebagai pertahanan tambahan pada vagina merupakan kelebihan dari TaLaGo lainnya.
Lactobacillus mampu memetabolisme glikogen dan mengubahnya menjadi glukosa, yang berikutnya berjalan bersama proses biokimia lainnya. Hal ini pada akhirnya menghasilkan asam laktat. Penggunaan jalur Embden Mayerhoff Metabolic akan didapatkan reaksi kimia sebagai berikut:
2C6H12O6+2ADP + 2Pi 2C3H6O3 + 2 ATP
Berdasarkan pada Hukum Kekelan Massa oleh Antonie Lavoiser, maka untuk mendapatkan perbandingan antara jumlah Lactobacillus dan glukosa yang akan diletakkan pada tampon harus dimulai dari penentuan pH. Kadar pH yang bagus untuk vagina antara 3,8-4,5. Oleh sebab itu, penulis menyarankan untuk menggunakan pH 4, karena merupakan pertengahan dari kedua rentang pH tersebut. Dengan pH 4, maka didapatkan konsentrasi dari H+-nya adalah 10-4 M. Setelah itu, yang harus dicari adalah konsentrasi asam laktat, menggunakan prinsip asam lemah. Hasilnya adalah didapatkan konsentrasi asam laktat 10-3 M dalam 1 liter volume asam laktat. 49,50
Didapatkannya kosentrasi asam laktat, maka didapatkan juga nilai mol asam laktat, yaitu 10-3 mol. Setelah itu, didapatkan nilai mol dari asam laktat, dan dimasukkan pada persamaan mol, yaitu mol sama dengan massa (g) dibagi massa molekul relatif (Mr). Hasilnya adalah didapatkan massa asam laktat senilai 9 x 10-2 gr/l. Penggunaan prinsip Kekekalan Massa, akan
21 diperhatikan adalah yang dibutuhkan dalam jumlah kecil karena akan dibandingkan pula dengan jumlah Lactobacillus. Oleh sebab itu, jika dikonversikan, maka didapatkan nilai 9 x 10-2 mg/ml. Hasil akhirnya
didapatkan jumlah normal Lactobacillus pada vagina adalah 108/ml cairan vagina. Dengan hasil tersebut, diharapkan tampon yang berisi glukosa dan Lactobacillus yang seimbang ini bisa menjadi suatu alat untuk pencegahan kanker serviks.
5.3. Tampon Lactobacillus Glikogen (TaLaGo)
TaLaGo adalah tampon dengan Lactobacillus dan glikogen yang ditanamkan dalam tampon dan dikemas dalam keadaan kedap udara. Alasan penggunaan tampon karena sifatnya yang bisa langsung dimasukkan kedalam vagina, berbeda dengan pembalut yang hanya terletak didepan labia mayora. Hal tersebut menyebabkan efek yang diharapkan akan berjalan lebih cepat. Pada TaLaGo, fungsi awal tampon untuk menyerap cairan atau darah, diubah menjadi tempat penanaman Lactobacillus dengan glikogen. Pengubahan fungsi tersebut menyebabkan kekurangan dari tampon, yaitu sebagai tempat pertumbuhan bakteri, dapat disingkirkan.
Penggunaan TaLaGo sebagai preventif tergolong aman karena penggunaan probiotik sebagai conventional terapeutic telah terbukti keamanannya, termasuk pada orang dengan immunodefisiensi seperti HIV. Tidak seperti antibiotik, Lactobacillus sebagai probiotik dapat digunakan dalam waktu lama karena mayoritas dari clinical trials melaporkan hasil yang postif terhadap penggunaan Lactobacillus dosis tinggi (sekitar 109 CFU) terhadap
efektivitas produk selain dari strain bakteri yang digunakan.51
22 ditimbulkan TaLaGo menyebabkan sperma tidak dapat bertahan di vagina dan mencapai tuba fallopi. Hal tersebut membuat TaLaGo dapat dijadikan sebagai sarana untuk menjarangkan kehamilan dan mendukung program keluarga berencana.
Lactobacillus pada vagina dipengaruhi oleh pengaruh hormon estrogen. Hal ini menyebabkan jumlah Lactobacillus pada vagina dipengaruhi oleh siklus mentruasi. Oleh sebab itu, indikasi penggunaan TaLaGo digunakan setelah menstruasi sampai 10 hari setelahnya. Hal tersebut disebabkan karena jumlah Lactobacillus dipengaruhi oleh jumlah estrogen dan pada saat menstruasi estrogen menurun serta mulai meningkat secara perlahan setelah menstruasi. Hal ini menjadi dasar pemikiran penulis untuk indikasi penggunaan TaLaGo. 45
Penggunaan TaLaGo sama dengan penggunaan tampon konvensional. Sebelumnya, cuci tangan sebelum memasukan tampon kedalam lubang vagina karena tampon harus dimasukan ke dalam vagina dalam keadaan steril. Setelah itu, mulai masukkan tampon dari bagian yang tidak terdapat benang atau tali, karena benang atau tali tersebut akan digunakan apabila tampon ditarik keluar lubang vagina. Dengan membuka labia, tampon dimasukan kedalam lubang vagina. Secara perlahan, dorong tampon sampai seluruhnya memasuki vagina dengan pastikan benang tetap berada diluar vagina. Gunakan jari telunjuk untuk mendorong tampon masuk ke dalam vagina. Penempatan yang benar, yaitu pada bagian depan serviks, membuat pengguna tidak merasakan sedang menggunakan tampon tersebut. Apabila ingin mengeluarkan tampon, tarik benang secara perlahan sampai semua tampon keluar dari vagina.45
24 BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1. Kesimpulan
1. Untuk mengatasi masalah tingginya angka prevalensi kanker serviks dapat dilakukan upaya preventif terhadap infeksi HPV, karena infeksi HPV merupakan penyebab hampir 70 % kanker serviks.
2. Salah satu upaya untuk preventif infeksi HPV dapat dilakukan dengan menjaga keseimbangan lingkungan vagina dengan menggunakan efek Lactobacillus, yaitu sebagai penghasil asam laktat dan immunomodulator. Efek tersebut dapat ditanamkn pada tampon dan diberi nama TaLaGo (Tampon Lactobacillus Glikogen) yang berguna untuk preventif infeksi HPV.
5.2. Saran
Berdasarkan pembahasan dan kesimpulan sebelumnya, maka dapat diajukan saran sebagai berikut:
1. Perlu diadakan kajian lebih lanjut khususnya terkait metode pembuatan TaLaGo (Tampon Lactobacillus Glikogen) dalam menciptakan tampon sebagai tempat perkembangbiakan lactocillus.
25 DAFTAR KEPUSTAKAAN
1. Prawihardjo S. Buku Ajar Ilmu Kandungan Edisi 3. PT Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. Jakarta; 2011.p.294
2. Ferlay J, Soerjomataram I, Ervik M, et al. GLOBOCAN Cancer Incidence and Mortality Worldwide;2012. (http://globocan.iarc.frdiakses tanggal 24 Mei 2015 )
3. WHO. IARC Globocan; 2012 (
http://www.who.int/hpvcentre/statistics/en/diakses tanggal 07 Juni 2015 )
4. Humas Ugm.Teliti Kanker Serviks, Sri Hartini Raih
Doktor;2015(http://ugm.ac.id/id/berita/9887-teliti.kanker.serviks.sri.hartini.doktordiakses 5 Juni 2015)
5. Fernandes JV, Fernandes TA. Human Papilomavirus: Biology and Pathogenesis.Brazil: University of Rio do Norte State; 2012 Januari. 6. Gomez DT, Santos JL. Human Papilloma Virus Infection and Cervical
Cancer: Pathogenesis and Epidemiology. Formatex; 2007.
7. Noviana Hera. Human Papillomavirus dan Kanker Serviks. Kalbe Genomics Laboratory. CDK-189/vol.39 no.1; 2012.
8. Center for Disease Control and Prevention Epidemiology and Prevention of Vaccine-Preventable Disease. Human Papillomavirus. 13th edition; April 2015.
9. Dwipoyono Bambang. Kanker Serviks dan Vaksin HPV. Staf Medik Fungsional Ginekologi Onkologi RS Kanker Dharmais. Indonesian Journal of Cancer; 2007.
10.Hakim Lukman. Biologi dan Patogenesis Human Papiloma Virus. Malang:FK Universitas Brawijaya; Agustus 2010.
11.Japaries W.Buku Ajar Onkologi Klinis FK UIEdisi 2. Balai Penerbit FKUI. Jakarta; 2008.p.494
26 ECG; 2013.
13.Wells, Jerry M. 2011. Immunomodulatory Mechanisms of Lactobacilli. 2011, 10 (Suppl 1): S17 Wells Microbial Cell Factories.
14.Sutter Health Palo Alto Medical Foundation. Tampons. (http://www.pamf.org/teen/health/femalehealth/periods/tampons.html diakses tanggal 20 Mei 2015)
15.Dorland hal 173
16.Cherath L, Alic M. Gale Encyclopedia of Cancer. 2002. 17.Mandal M. Cervical Cancer Epidemiology (
http://www.news-medical.net/health/Cervical-Cancer-Epidemiology.aspx diakses tanggal 07
Juni 2015 )
18.Aziz MF. Gynecological cancer in Indonesia.J Gynecol Oncol. 2009 March; 20(1): 8-10
19.Bruni L, Barrionuevo-Rosas L, Albero G, et al. Summary Report : Human Papillomavirus and Related Diseases in Indonesia ; 20 Mei 2015
20.Soehermawan D. Hubungan Penurunan Kadar Squamous Cell Carcinoma Antigen dengan Respon Radiasi Histopatologis pada Karsinoma
Epidermoid Serviks Uteri Stadium Lanjut. FK Universitas Diponegoro,Semarang; Februari 2007
21.Ault KA. Effect Of Prophylactic Human Papillomavirus L1 Virus-Like Particle Vaccine On Risk Of Cervical Intraepithelial Neoplasia Grade 2, Grade 3, And Adenocarcinoma In Situ: A Combined Analysis Of Four Randomised Clinical Trials.Lancet. 2007;369(9576):1861-1868.
22.Iwasaka T, oh-uchida M, Marsuo N, Yokoyama M, Fufuda K, Hara K, et al. Correlation Between HPV Positivity And State of The p53 Gene In Cervical Carcinoma of Cell Lines. Gynecol Oncol; 1993.p.104-9 23.Singhealth. Kanker Leher rahim (Serviks);2015 (
http://www.singhealth.com.sg/PatientCare/Overseas-
Referral/bh/Conditions/Pages/Cervical-Cancer-Cervix-Cancer.aspxdiakses
27 24.Plummer M, Herrero R, Franceschi S, et al. IARC Multi-centre Cervical
Cancer Study Group. Smoking and cervical cancer: pooled analysis of the IARC multi-centric case-control study. Cancer Causes Control.
2003;14(9):805-814.
25.Kataja V, Syrjänen S, Yliskoski M, et al. Risk factors associated with cervical human papillomavirus infections: a case-control study. Am J Epidemiol. 1993;138(9):735-745.
26.American Cancer Society. Cancer Facts and Figures. Atlanta;2015. 27.Eifel PJ, Berek JS, Markman, M.Cancer: Principles and Practice of
Oncology 9th ed.Philadelphia; 2011: 1311-1344.
28.NCCN Practice Guidelines in Oncology. Cervical Cancer Version 7;2014. ( www.nccn.org diakses tanggal 4 Juni 2015)
29.Djuwantono T. Bandung Controversies and Consensus in Obstetrics and Gynecology. Jakarta: Sagung Seto; 2011.
30. Prawirohardjo S. Onkologi Ginekologi. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo; 2006.
31.World Health Organization. Histological Classification of 2nd ed:
Histological Typing of Female Genital Tract Tumour. Geneva;1994:41-54 32.Medscape. The New FIGO Staging for Carcinoma of the Vulva, Cervix,
Endometrium, and Sarcomas. (
http://www.medscape.com/viewarticle/722721diakses tanggal 4 Juni
2015)
33.Kreimer AR, González P, Katki HA, et al. Efficacy of a bivalent HPV 16/18 vaccine against anal HPV 16/18 infection among young women: a nested analysis within the Costa RicaVaccine Trial. Lancet Oncol. 2011;12(9):862-870.
34.Saslow D, Castle PE, Cox JT, et al. American Cancer Society guideline for human papillomavirus (HPV) vaccine use to prevent cervical cancer and its precursors. CA Cancer J Clin. 2007;57:7-28.
28 36.Levinson W.Review Of Medical Microbiology and Immunology Twelth
Edition.Mc Graw Hill. San Francisco; 2012.
37.RF Lamont, JD Sobel, RA Akins, dkk..The Vaginal Microbiome: New Information About Genital Tract Flora Using Molecular Based Techniques.An International Journal of Obstetrics and Gynaecology.2011;118:533-49.
38.RJ hinkey, Z Abdo, X Zhou et all.Effects of tampons and menses on the composition and diversity of vaginal microbial communities over time.An International Journal of Obstetrics and Gynaecology.2013;120:695-706. 39.Castro J, Ana Henrique et all.Reciprocal Interferance Between
Lactobacillus Spp. and Gardenella Vaginalis on Initial Adherens to Epithelial Cells.Pubmed:2013;10(9):1193-96.
43.Wells JM. Immunomodulatory mechanisms of lactobacilli. Netherlands; September2011.
44.Oxtoby, Gihs dan Bulter.Principle of Modern Chemistry .USA.Cengane Learning.2015:479-80.
45. The Center for Young Women’s Health. Using Your First Tampon.
Boston Children’s Hospital; 2014
(http://youngwomenshealth.org/2012/09/27/tampons/ diakses tanggal10 Juni 2015 )
46.Rusch V. Vaginal Tampon And Process For Producing The Same. United State;March 2002.
29 Transmitted DiseasesAssociation; March 2008, Vol. 35, No. 3, p.214–225 48.Silvina M, Virginia S. Journal of Medical Microbiology: Growth and
lactic acid production by vaginal Lactobacillus acidophilus CRL 1259, and inhibition of uropathogenic Escherichia coli. University Hospital, Hannover, Germany;2003(52).p.1117-24
49.Hurley M, Chemistry Principles and Reactions.Ed.8.Boston.Cengane Learning.2015:506-47.
50.Chem M, Thcombe M et al. Acid Bse Chemical Reaction Model for Nucleation Rates in the Polluted atmosphenic Boundery Layer. America: Cross Mark.(http://www.pnas.org/content/109/46/18713.short diakses tanggal 18 September 2012)
31 RIWAYAT HIDUP DOSEN PEMBIMBING
1. Nama Lengkap :dr Roslaili Rasyid M.Biomed 2. Jabatan Fungsional : Lektor
3. NIP : 196210271990012001
4. NIDN : 0027106204
5. Tempat dan tanggal lahir : Padang, 27 Oktober 1962 6. Alamat rumah : Jl. Juanda no 15 Padang 7. Nomor Telepon : 0751 7052747
8. Nomor HP : 08126712939
9. Alamat Kantor : Fakultas Kedokteran Unand dan RSUP Dr. M.Jamil Padang
10. Nomor Telpon/Fax : 0751 31746 / 0751 32838 11. Alamat email : [email protected] 12. Mata Kuliah yang diampu : Mikrobiologi Klinik 13. Pendidikan:
Tamatan FK Unand tahun 1988
Menjadi Dosen Mikrobiologi sejak tahun 1989 sampai sekarang Tamatan S2 Biomedik FK Unand dan sekarang sedang menyelesaikan
riset disertasi S3 Biomedik Riwayat Jabatan:
1. Dosen Mikrobiologi FK Universitas Andalas sejak tahun 1990 sampai sekarang
2. Kepala SMF Mikrobiologi Klinik RS M.Jamil Padang 2003-2011 (2x periode) 3. Wakil Ketua Tim Pandalin Perjan RS Dr M Jamil Padang 2005-2009
32 Pelatihan Pengendalian Infeksi
2008
2009
2011
Pelatihan Pencegahan dan PengendalianInfeksi di Rumah Sakit, dilaksanakan Dirjen Yan Med selama 4 hari penuh di RS Adam Malik Medan Pelatihan dan studi banding Pencegahan Infeksi Nosokomial di RS Harapan Kita Jkt dan RS Sulianti Saroso Jkt
Peserta workshop Surveilans Nosokomial di Surabaya
1. Sebagai narasumber pada pelatihan Pencegahan Infeksi Rumah sakit di RS M.Jamil Padang
2. Sebagai narasumber pada pelatihan Pencegahan Infeksi Rumah sakit di RS Jiwa Ulu Gadut Padang
3. Narasumber pada “One Day Workshop” Dasar-Dasar Pengelolaan dan Sterilisasi Instrumen Medik Rumah sakit
4. Sebagai narasumber pada pelatihan Pencegahan Infeksi Rumah sakit di RS YARSI Bukittinggi
5. Sebagai narasumber pada pelatihan Pencegahan Infeksi Rumah sakit pada acara PPGD Mahasiswa FK Unand yang akan melakukan kerja praktek di RS M.Jamli Padang
6. Sebagai narasumber pada pelatihan Pencegahan Infeksi Rumah sakit pada petugas di RSUD Padang Panjang selama 1 minggu
7. Sebagai narasumber pada pelatihan Pencegahan Infeksi Rumah sakit pada acara Hari cuci tangan di Aula Poltekes Siteba Padang
33 RIWAYAT HIDUP PENULIS
Nama : Carlo Prawira Azali
NIM : 1310312094
TTL : Padang, 28 Maret 1995 Alamat : Komplek Cendana C/4 Asal Institusi : Universitas Andalas
Alamat Institusi : Jl. Perintis Kemerdekaan No. 94 No. HP : 089666362440 / 082390602120 Email : [email protected] Karya yang pernah dibuat
Diagnosa Dini pada Infeksi HIV Tipe -1 (2014)
Uji Efektifitas Acetogenin Secara Histopatologi Sebagai Terapi Melanoma Maligna (2014)
SaMS (Sidestream and Mainstream Smoke) Filter Dengan Metode Fibrous Filter Sebagai Udara Baru Bagi Seconhand Smoke (2015)
Prestasi yang pernah diraih
Juara III Lomba Inovasi Praktikum Kimia Antar SMA Se-Sumatera Barat-Riau diadakan oleh Yayasan Prayoga Padang 2012
Juara III Lomba Desain Poster “Menatap Masa Depan Pertanian di Sumatera Barat” diadakan oleh UKMF AgITC Fakultas Pertanian Universitas Andalas 2012
Finalis LKTI-GT Medical Jogja Scientific Competition (Medjonson) diadakan oleh Medical Research and Science Club (MARS) Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta 2014
Nama : Suci Syukrina Fahmi
NIM : 1310312109
34 Asal Institusi : Universitas Andalas
Alamat Institusi : Jl. Perintis Kemerdekaan No. 94
No. HP : 082383071895
Email : [email protected] Karya yang pernah dibuat
Pemuda dan Perubahan (2013)
Kajian : Apa Kabar FCTC Untuk Indonesia (2015) Artikel : Dakwah Yes Prestasi Ok (2014)
Cerpen : Senandung Langit (2015)
Cerpen : Wasiat Terakhir dan SMA 3 (2012)
Artikel : Ats- Tsawabit Wal Mutaghayyirat Dakwah (2014)
SaMS (Sidestream and Mainstream Smoke) Filter Dengan Metode Fibrous Filter Sebagai Udara Baru Bagi Seconhand Smoke (2015)
Artikel : Managemen Konflik (2013)
KTI : Hubungan Magh dan Stres pada Siswa Sekolah Menengah Atas (2012)
Prestasi yang pernah diraih
Juara 1 English Debate Competition Province Level held by Stain Tanah Datar 2012
Finalis English Debate Competition held by Dinas Pendidikan Sumatera Barat 2011
Juara 2 Lomba Fotografi Jurnalism Week Broca KM FK UNAND 2015 Finalis PPAN (pertukaran pemuda antar negara) KEMENPORA 2015 Finalis PASIAD 2007
35 Nama : Lintang Sekar Sari
NIM :1410312070
TTL : Payakumbuh, 11 Desember 1996 Alamat : Jl. Minahasa No. 9
Asal Institusi : Universitas Andalas
Alamat Institusi : Jl. Perintis Kemerdekaan No. 94
No. HP : 082285579330
Email : [email protected] Karya yang pernah dibuat
Bullying (2012)
Injeksi Pada Motor Mengurangi Polusi (2013) Prestasi yang pernah diraih
Juara III Lomba PP PMR 2008
Perwakilan Indonesia dalam Youth Camp 2010 Juara II Olimpiade Biologi GMB Se-Batam 2013 Finalis Siswa Berprestasi Se-Batam 2013
Finalis Karya Tulis Ilmiah Honda Se-Kepri 2013
Finalis Olimpiade Matematika dan Sains Tingkat Nasional IKA Universitas Brawijaya 2013