• Tidak ada hasil yang ditemukan

makalah tentang dan gula aren

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "makalah tentang dan gula aren"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

Analisis Usaha Pembuatan Dan Pemasaran Gula Aren (Arenga Pinata) Di Desa Danau Liang Kecamatan Lebong Tengah Kabupaten Lebong

Analysis of Business Development and Marketing Palm Sugar (Arenga Pinnata) In the village of Lake Liang Kecamatan Middle Lebong Districk Lebong

Abstract

The purpose of this research is to Knowing the production process of making palm sugar, Calculate the amount of business income palm sugar and Analyzing forms of marketing channels, distribution, marketing margin and marketing efficiency palm sugar in the village of Liang Lake District of Central Lebong Lebong. The determination of the area of research done in a purposive, In the village of Liang Lake District of Central Lebong Lebong. The sampling method is the method of census. The number of respondents as many as 20 processors palm sugar and 4 as its marketing agency. The analytical method used is Descriptive Analysis, income analysis, business efficiency analysis, analysis of marketing margins and marketing efficiency analysis of palm sugar. From the result, it can be concluded that Average production of palm sugar produced palm sugar processing in the Village of Lake Liang was 35.0 kg per week. the average reception processing of palm sugar is Rp. 455 390 per week. Based on the calculation of the reception and processing costs palm sugar in the Village of Lake Liang, obtained values of R / C ratio palm sugar processing business with an average of 1.20. This means that if the processing of palm sugar using the input Rp 100. it will obtain revenue of Rp. 120, so it can be concluded that the palm sugar processing business in the Village of Lake Liang already profitable.

Keywords: Palm Sugar, income, efficiency of marketing.

I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Salah satu sub sektor pertanian yang cukup penting keberadaannya dalam pembangunan nasional adalah sub sektor perkebunan. Komoditi perkebunan yang banyak dilestarikan dan diolah oleh industri kecil adalah Tanaman aren (Arenga pinata). Ditinjau dari segi pembuatannya dan bentuk hasilnya maka usaha pengolahan gula aren termasuk dalam food-processor, yaitu mengolah hasil pertanian menjadi bahan konsumsi. Pada kenyataannya, gula merah yang berasal dari nira aren lebih unggul dari gula merah yang berasal dari nira kelapa. Gula aren (Arenga pinata) memiliki cita rasa yang jauh lebih manis dan tajam. Oleh karena itu industri pangan yang menggunakan gula merah lebih senang gula aren. Pada umumnya harga gula aren dipasaran lebih mahal dari pada gula kelapa (Safari, 1995).

Aren (Arenga pinata) termasuk suku Arecaceae (pinang-pinangan), merupakan tumbuhan biji tertutup (Angiospermae) yaitu biji buahnya terbungkus oleh daging buah. Tanaman atau pohon aren hampir mirip dengan pohon kelapa (Cocus nuticera). Namun pohon kelapa dan pohon aren mempunyai perbedaan pada batangnya. Pohon kelapa memiliki batang pohon yang bersih, yaitu pelapah daun dan kapasnya mudah di ambil sedangkan pohon aren memiliki batang yang sangat kotor karena batangnya terbalut ijuk yang warnanya hitam dan sangat kuat sehingga pelapah daun yang sudah tua pun sangat sulit untuk diambil atau dilepas dari batangnya. Karena kondisi tersebut maka batang pohon aren ditumbuhi banyak tanaman jenis paku-pakuan (Sunanto, 1993).

Kabupaten Lebong khususnya di Kecamatan Lebong tengah Desa Danau Liang, telah banyak bermunculan industri-industri yang bergerak diberbagai bidang usaha, diantaranya adalah industri kecil rumah tangga yang bergerak dalam bidang usaha produksi pengolahan gula aren. Keberadaan tanaman aren di desa Danau Liang tidak dibudidayakan melainkan tanaman aren hanya tumbuh di sekitar perkebunan

Pembimbing Utama

Ir. Sriyoto, MS. 195904091986091001

Pembimbing Pendamping

(2)

milik mereka, dengan begitu para penduduk memanfaatkan tanaman aren karena aren merupakan tumbuhan serbaguna, dimana setiap bagian pohon aren tersebut dapat diambil manfaatnya, mulai dari akar untuk obat tradisional, batang untuk berbagai macam peralatan dan bangunan, daun muda/janur untuk pembungkus kertas rokok. Hasil produksinya juga dapat dimanfaatkan, misalnya buah aren muda diolah menjadi kolang-kaling, air nira untuk bahan pembuatan gula merah/cuka dan pati/tepung dalam batang untuk bahan pembuatan berbagai macam makanan. Tetapi disini para penduduk desa Danau Liang hanya lebih banyak memanfaatkan air niranya saja kemudian mengolah menjadi gula aren. Dalam melakukan usahanya masyarakat belum begitu memahami masalah menghitung berapa besar pendapatan, pengeluaran dan keuntungan dari usaha pengolahan gula aren tersebut. Usaha industri kecil pengolahan gula aren yang dilaksanakan oleh masyarakat setempat masih menggunakan peralatan yang sederhana dan usaha ini berkembang hingga sekarang, disamping itu penggunaan gula aren sebagai bahan baku industri pangan sehari-hari banyak dipakai oleh berbagai lapisan masyarakat, baik di kota maupun di desa, hal ini tentunya memberikan peluang untuk mengembangkan industri pengolahan gula aren secara lebih meluas.

Gula aren (Arenga pinata) yang dihasilkan oleh pengrajin tidak seluruhnya digunakan untuk memenuhi kebutuhan keluarga, namun sebagian langsung dijual ke pasar. Pengrajin menjual gula aren hasil olahannya,memanfaatkan pasar, lembaga pemasaran yang datang ke desa mereka. Lembaga ini lah yang membawanya sampai ke konsumen baik yang berada di sekitar kabupaten lebong. Pemasaran gula aren (Arenga pinata) ke sekitar kabupaten mencakup wilayah pasar Muara Aman berpengaruhnya gula aren (Arenga pinata) dari pengrajin ke pasar konsumen ini telah memberikan nilai tambah dari gula aren itu sendiri. Saluran pemasaran gula aren mengakibatkan harga gula aren yang diterima oleh konsumen akhirnya berbeda – beda, karena setiap lembaga pemasaran mengeluarkan biaya yang berbeda dalam pembelian sampai penjualan ke konsumen dan menginginkan keuntungan. Jadi harga pada tingkat petani akan lebih rendah dari pada harga ditingkat pedagang perantara dan harga perantara juga akan lebih rendah dan begitu juga seterusnya hingga tingkat harga pada konsumen.

Berdasarkan latar belakang tersebut maka penulis ingin mengetahui apakah usaha gula aren di desa Danau Liang Kecamatan Lebong Tengah ini sudah efisien untuk diusahakan, sehingga para pengelola memilih untuk terus mempertahankan bahkan mengembangkan usaha ini secara kontiyu, serta penulis ingin melihat seberapa efisienkah usaha ini apabila dilihat dari pemasarannya. Maka dari itu penulis melakukan penelitian dengan judul “Analisis Usaha Pembuatan dan Pemasaran Gula Aren (Arenga pinata) di Desa Danau Liang Kecamatan Lebong Tengah Kabupaten Lebong”. Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan penelitian ini yaitu : Mengetahui proses produksi pembuatan gula aren, Menghitung besarnya pendapatan usaha gula aren dan Menganalisis bentuk saluran pemasaran, distribusi, margin pemasaran dan efisiensi pemasaran gula aren di Desa Danau Liang Kecamatan Lebong Tengah Kabupaten Lebong.

II METODOLOGI PENELITIAN Metode Penentuan Lokasi penelitian

Lokasi penelitian dilakukan secara sengaja (purposive sampling) Di Desa Danau Liang Kecamatan Lebong Tengah Kabupaten Lebong. Dalam penelitian ini usaha pengrajin gula aren di Desa Danau Liang Kecamatan Lebong Tengah Kabupaten Lebong di tentukan menggunakan metode sensus, dimana seluruh populasi diselidiki tanpa terkecuali, dimana responden diambil berdasarkan saran dari kepala desa Danau Liang Bapak Thomas Agustian, dimana pengrajin gula aren tersebut terdapat dua kelompok masing-masing kelompok terdapat 10 orang, sehingga jumlah responden sebanyak 20 orang pengolah gula aren dan 4 orang sebagai lembaga pemasarannya.

Metode Pengumpulan Data

Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data skunder dimana Data primer adalah data yang diperoleh langsung dari sumber pertama baik dari individu atau perseorangan, seperti hasil wawancara atau hasil pengisian kuesioner (Umar, 2000). Data sekunder merupakan data primer yang telah diolah lebih lanjut dan disajikan baik oleh pihak pengumpul data primer atau oleh pihak lain, data sekunder ini digunakan oleh peneliti untuk diproses lebih lanjut (Umar, 2000). Dalam penelitian ini, data sekunder diperoleh dari berbagai sumber bacaan, diantaranya adalah buku, jurnal, koran, Badan pusat statistik (BPS) Kota Bengkulu dan media informasi lainnya. Data sekunder berupa kutipan yang diambil dari sumber-sumber yang diperoleh.

(3)

1. Analisis Deskriftif

Untuk mengetahui proses produksi pembuatan gula aren, bertempat di Desa Danau Liang Kecamatan Lebong Tengah Kabupaten Lebong akan dilakukan dengan menggunakan analisis deskriptif. Analisis deskriptif yaitu metode yang digunakan dengan cara mewawancarai para pengolah gula aren yaitu melakukan penelusuran seperti penyediaan peralatan, bahan baku, cara pembuatan sampai produksi. Metode ini merupakan penjelasan atau pembahasan data yang diperoleh selama penelitian terhadap pengolah gula aren yang terlibat.

2. Analisis Pendapatan

Untuk melihat pendapatan petani dapat di analisis dengan menggunakan pendapatan total usaha gula aren (Soekartawi, 1995) dengan rumus :

Pd = TR – TC

Dimana : Pd = Pendapatan usaha gula aren (Rp/bulan) TR = Total Penerimaan (Rp/bulan)

TC = Biaya Total (Rp/bulan) TR=Y.Py dan TC= FC + VC Dimana : TR = Penerimaan (Rp/bulan)

Y = Jumlah penjualan (Rp/kg) Py = Harga penjualan (Rp/kg) TC = Total biaya (Rp/bulan) TFC = Total biaya tetap (Rp/bulan) TVC = Total biaya variabel (Rp/bulan)

3. Analisis Efisiensi Usaha

R/C (Cost Ratio) dikenal sebagai perbandingan antara penerimaan dan biaya (Soekartawi, 2002). Secara matematis dirumuskan sebagai berikut: Py = Harga Output (Rp/minggu) Y = Produksi (Kg/Minggu) TC = Total Biaya (Rp/minggu) VC = Biaya Variabel (Rp/minggu) FC = Biaya Tetap (Rp/minggu) Dengan ketentuan:

- Jika R/C ratio > 1, maka usaha sudah efesien dan menguntungkan.

- Jika R/C ratio < 1, maka usaha tidak efesien dan tidak menguntungkan (rugi). - Jika R/C ratio = 1, maka usaha tidak menguntungkan dan tidak merugikan. 4. Analisis Saluran Gula Aren

Dalam mengetahui bagaimana bentuk saluran dan lembaga pemasaran gula aren akan dilakukan dengan menggunakan analisis deskriftif, yaitu dengan melakukan penelusuran dari tingkat produsen/petani sampai ke konsumen akhir.

5. Analisis Marjin Pemasaran

Bila seluruh margin dari tingkat lembaga pemasaran dijumlahkan, maka akan diperoleh jumlah pemasaran yang merupakan perbedaan antara harga tingkat petani dan konsumen. Margin pemasaran pada masing-masing lembaga pemasaran dilakukan dengan cara mengurangkan harga jual dengan harga beli, dan secara matematis perhitungan besarnya margin pemasaran menurut Azzaino (1983).

Mji = Psi – Pbi

Margin dapat dihitung dengan menjumlahkan besarnya biaya pemasaran dengan keuntungan pemasaran maka secara matematis dapat dituliskan :

Mji = Ci – πi

(4)

Sehingga total margin pemasaran adalah : Mj =

i=1

i−n

Mji

Dimana :

Mj = Total margin pemasaran (Rp/Kg)

Mji = Margin pemasaran pada lembaga pemasaran ke-i(Rp/Kg) Psi = Harga jual lembaga pemasaran ke-i (Rp/Kg)

Pbi = Harga beli lembaga pemasaran ke-i (Rp/Kg)

Ci = Biaya pemasaran lembaga pemasaran ke –i (Rp/Kg) πi=¿ Keuntungan lembaga pemasaran ke-i (Rp)

i = 1,2,3,……n

6. Analisis Efisiensi Pemasaran Gula Aren

Adapun cara untuk mengetahui efisiensi pemasaran digunakan rumus (Soekartawi 2002): EP = nilai produk yang dipasarkanbiaya pemasaran x 100%

Kriteria pengambilan keputusan :

- EP sebesar 0 – 50% maka saluran pemasaran efisien.

- EP lebih besar dari 50% maka saluran pemasaran kurang efisien. 7. Analisis Marjin Pemasaran

Bila seluruh margin dari tingkat lembaga pemasaran dijumlahkan, maka akan diperoleh jumlah pemasaran yang merupakan perbedaan antara harga tingkat petani dan konsumen. Margin pemasaran pada masing-masing lembaga pemasaran dilakukan dengan cara mengurangkan harga jual dengan harga beli, dan secara matematis perhitungan besarnya margin pemasaran menurut Azzaino (1983) dalam Aditya (2008). Mji = Psi – Pbi

Margin dapat dihitung dengan menjumlahkan besarnya biaya pemasaran dengan keuntungan pemasaran maka secara matematis dapat dituliskan :

Mji = Ci – πi

Jadi dengan mengetahui besarnya margin pemasaran dan biaya pemasaran maka dapat dihitung keuntungan pemasaran yang dirumuskan sebagai berikut :

Sehingga total margin pemasaran adalah :

Mj =

i=1

i−n

Mji

Dimana :

Mj = Total margin pemasaran (Rp/Kg)

Mji = Margin pemasaran pada lembaga pemasaran ke-i(Rp/Kg) Psi = Harga jual lembaga pemasaran ke-i (Rp/Kg)

Pbi = Harga beli lembaga pemasaran ke-i (Rp/Kg)

Ci = Biaya pemasaran lembaga pemasaran ke –i (Rp/Kg) πi=¿ Keuntungan lembaga pemasaran ke-i (Rp)

i = 1,2,3,……n

III.HASIL DAN PEMBAHASAN

Karakteristik petani pengolah gula aren yang diamati pada penelitian ini adalah meliputi umur, tingkat pendidikan, jumlah anggota keluarga, pengalaman berusaha, pekerjaan sampingan dan jumlah pohon aren yang diusahakan.

(5)

Tabel 1.karakteristik petani pengolah gula aren berdasarkan umur,anggota keluarga,pendidikan dan jumlah pohon.

Karakteristik pengolah

Umur (thn) Persentase (%) Rata-rata (thn)

Umur (tahun) ≤ 33 30

40

34 – 43 30

≥ 44 40

Tingkat pendidikan (tahun) ≤ 7 30

8-9 30 9

≥ 10 40

Anggota keluarga ≤ 3 10 4

4 55

≥ 5 35

Jumlah yang diusahakan (pohon)

≤ 5 30

6 – 7 50 6

≥ 8 20

Sumber : data primer diolah (2015)

Pada Tabel 1. Terlihat bahwa umur petani sebagian besar berkisar antara 40 – 55 sebanyak 12 orang atau 60%. Rata-rata umur responden pada penelitian ini adalah 40 tahun.

pendidikan petani pengolah gula aren sebagian besar berada pada tingkat pendidikan 10 sampai 12 tahun dengan jumlah 8 orang atau 40 % dari keseluruhan jumlah responden, pendidikan petani pengolah gula aren di Desa Danau Liang setara SMP atau telah menempuh pendidikkan selama 9 tahun, sehingga dalam mengolah gula aren tidak mempengaruhi usaha yang dilakukan petani pengolahan gula aren.

Proses Pengolahan Air Nira Menjadi Gula Aren

1. Biaya Penyusutan Alat

Tabel 2.Rata-Rata Biaya Penyusutan Alat Yang Digunakan Dalam Proses Pengolahan Gula Aren Di Desa Danau Liang.

No

Nama Alat penggunaan∑ Harga (Rp) Nilai penyusutan (Rp/Minggu) Persentase(%)

1 Kuali 1 261.750 874 26,04

2 Saringan 1 4.000 154 4,59

3 Ember 1 15.000 146 4,35

4 Gayung 1 5.000 160 4,77

5 Cetakan 10 500 199 5,93

6 Timbangan 1 150.000 310 9,24

7 Beronang 1 70.750 1248 37,19

8 Sutil 1 14.200 96 2,86

9 Tungku/anglo 1 30.000 169 5,04

Jumlah 18 551.200 3356 100

Sumber : data primer diolah (2015)

Penyeleksian bahan Pengambilan nira Penyaringan nira

Pembuatan gula aren Pendinginan gula

Pencetakan

(6)

Dari Tabel diatas juga Dapat diketahui bahwa total biaya penyusutan alat-alat pada usaha pengolahan gula aren adalah sebesar Rp. 3356 per minggu. Nilai penyusustan yang paling besar terdapat pada bronang yaitu Rp 1248 perminggu atau 37,19 persen dari keseluruhan biaya penyusutan alat. Hal ini disebabkan karena bronang digunakan setiap hari dan karena umur ekonomis bronang lebih singkat dari umur ekonomis peralatan yang lain yang hanya berumur 1,5 tahun. nilai penyusutan yang paling kecil terdapat pada sutil dengan jumlah penyusutan Rp 96 perminggu atau 2,86 persen dari keseluruhan jumlah penyusutan alat. sutil/pengaduk yang digunakan digunakan oleh pengolah gula aren pada umumnya tidak dibeli, tetapi dibuat sendiri dari kayu yang diambil dari hutan sehingga harganya relatif murah.

Tabel 3.Penggunaan Faktor Produksi Pengolahan Gula Aren Di Desa Danau Liang

No Faktor produksi ∑ penggunaan Satuan Harga

1 Air nira 3381 liter 750/liter

2 Tenaga Kerja

- Pria 40 Orang 40.000/hari

- Wanita 40 Orang 35.000/hari

3 Minyak goreng 4 Kg 12.000/kg

4 Kayu bakar 256 ikat 7.500/ikat

Sumber : data primer diolah (2015)

Dari tabel diatas dapat dilihat penggunaan faktor produksi pengolahan gula aren. Dimana total penggunaan air nira sebagai bahan baku adalah sebanyak 3381 liter/minggu. Sementara penggunaan total tenaga kerja berjumlah 80 orang dimana masing-masing pria dan wanita adalah 40 orang. Tenaga kerja pria menerima upah sebesar Rp. 40.000 perhari sementara tenaga kerja wanita menerima upah sebesar Rp. 35.000 perhari.

Bahan penolong yang digunakan yaitu minyak goreng dengan jumlah 4 kg per minggu, dengan harga Rp. 12.000/kg. Terakhir penggunaan kayu bakar, dalam waktu 1 minggu proses produksi pengolahan gula aren menghabiskan 256 ikat kayu bakar, dengan harga Rp.7.500/ikat.

Tabel 4.Rata-Rata Total Variabel Yang Digunakan Dalam Proses Pengolahan Gula Aren Di Desa Danau Liang.

Biaya variabel Jumlah (Rp/Minggu) Persentase (%)

Biaya Tenaga Kerja 93.187,5 29,25

Bahan baku 126.773 39,80

Bahan penolong 2.595 0,81

Biaya bahan bakar 96.000 30,14

Jumlah 318.555,5 100

Sumber : data primer diolah (2015)

Dari tabel 4. Terlihat bahwa rata-rata biaya tenaga kerja yang dikeluarkan oleh petani pengolah gula aren adalah sebesar Rp. 148312,5 perminggu. Kegiatan pemasakan merupakan kegiatan yang memerlukan biaya paling besar yaitu 21,35 JOK perminggu dengan upah Rp. 5000 per JOK, maka biaya yang dikeluarkan sebesar Rp 80062,5 perminggu atau 53,98 persen dari keseluruhan jumlah biaya tenaga kerja yang dikeluarkan oleh pengolah gula aren, hal ini disebabkan karena lamanya waktu yang dibutuhkan dalam kegiatan ini.

Tabel 5.Rata-Rata Biaya Tenaga Kerja Yang Digunakan Dalam Proses Pengolahan Gula Aren Didesa Danau Liang.

Kegiatan Rata-rata JOK(Jam/Minggu) Jumlah Biaya(Rp/minggu) Persentase(%)

Pemasakan 21,35 80062,5 85,92

Pendinginan dan pengemasan 3,5 13125 14,08

Jumlah 24,85 93187,5 100

Sumber : data primer diolah (2015)

(7)

paling besar yaitu 21,35 JOK perminggu dengan upah Rp. 5000 per JOK, maka biaya yang dikeluarkan sebesar Rp 80062,5 perminggu atau 53,98 persen dari keseluruhan jumlah biaya tenaga kerja yang dikeluarkan oleh pengolah gula aren, hal ini disebabkan karena lamanya waktu yang dibutuhkan dalam kegiatan ini.

Tabel 6.Rata-Rata Produksi, Penerimaan Dan Pendapatan Pengolah Gula Aren Di Desa Danau Liang. Uraian Jumlah

Produksi (Kg/minggu) 35

Harga jual (Rp/Kg) 13.000

Penerimaan (Rp/Minggu) 455.390

Biaya produksi (Rp/minggu) 379.087,05

Pendapatan (Rp/Minggu) 76.302,95

Sumber : data primer diolah (2015)

Produksi yang diukur dalam penelitian ini adalah produksi gula aren cetak yang diukur dengan satuan kilo gram (kg). Berdasarkan tabel 6 rata-rata produksi gula aren adalah 35 kg per minggu. Pendapatan dihitung dengan mengurangi penerimaan dengan biaya produksi. Jumlah penerimaan rata-rata pengolah gula aren Rp. 455.390 per minggu, sedangkan rata-rata pendapatan gula aren dikec. Lebong tengah desa danau liang sebesar 76.302,95/minggu.

Tabel 7.Nilai R/C ratio usaha pengolahan gula aren di desa danau liang.

Uraian Jumlah

Penerimaan (Rp/Minggu) 455.390

Biaya produksi (Rp/minggu) 379.087,05

Pendapatan (Rp/Minggu) 76.302,95

R/C Ratio (Rp/Minggu) 1,20

Sumber : data primer diolah (2015)

Berdasarkan perhitungan, maka diperoleh nilai R/C ratio rata-rata untuk usaha pengolahan gula aren adalah 1,20, hal tersebut menunjukkan bahwa usaha pengolah gula aren menguntungkan atau efisien dengan kriteria R/C ratio > 1.

2. Pemasaran

Pemasaran menurut Kotler (2005) adalah proses sosial yang dengan proses itu individu dan kelompok mendapatkan apa yang mereka butuhkan dan inginkan dengan menciptakan, menawarkan dan secara bebas mempertukarkan produk dan jasa yang bernilai dengan pihak lain.

3. Karakteristik Lembaga Pemasaran

Identitas lembaga pemasaran yang terdapat pada penelitian ini meliputi umur, tingkat pendidikan, lama berdagang, pekerjaan utama, dan sampingan. Lembaga yang terlibat dalam penyaluran gula aren yang dapat ditelusuri peneliti adalah pedagang pengumpul tingkat desa dan pengecer.

Tabel 8. Karakteristik Lembaga Pemasaran Gula Aren Di Desa Danau Liang

No Karakterisitik

Lembaga pemasaran

Pedagang pengumpul Pedagang pengecer Rata-rata(umur) % Rata-rata(umur) %

1 Umur (tahun) 38 47,5

Sumber : data primer diolah (2015)

(8)

Untuk gula aren yang ada di Desa Danau Liang saluran pemasarannya hanya terdiri dari dua saluran yaitu:

Produsen → Pedagang Pengumpul Tingkat Desa → Pengecer → Konsumen Produsen → Konsumen.

Pada saluran pemasaran tersebut terlihat bahwa produsen menjual gula aren ke pedagang pengumpul tingkat desa. Dari pedagang pengumpul tingkat desa gula dijual ke pedagang pengecer, dari pedagang pengecer gula dijual kekonsumen akhir.

Pengolah Gula Aren Di Desa Danau Liang

saluran pemasaran gula aren Keterangan : = diteliti

= tidak diteliti

Pengolah gula aren di Desa Danau Liang bertindak sebagai produsen yang menyalurkan produknya ke pedagang pengumpul tingkat desa I dan II untuk kemudian produk di salurkan ke pedagang pengecer sebelum akhirnya produk sampai ke konsumen akhir. Sedangkan untuk saluran pemasaran yang kedua produsen gula aren, produsen langsung menjual produknya langsung kekonsumen akhir tanpa perantara. Tabel 9.Harga Pembelian Dan Penjualan Rata-Rata Gula Aren Oleh Pengolah Dan Lembaga Pemasaran Gula Aren Di Desa Danau Liang.

Lembaga Harga beli (Rp) Harga jual (Rp)

Pengolah gula aren 13.000

Pedagang pengumpul tingkat desa 13.000 14.500

Pedagang pengecer 14.500 17.000

Sumber : data primer diolah (2015) lihat lampiran 16

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, tidak ada produsen menjual gula mereka langsung ke pedagang pengecer padahal disisi lain harga pada pedagang pengecer lebih tinggi dibandingkan dengan harga pada pedagang tingkat desa. Hal ini disebabkan karena semua pengolah gula aren mempunyai ikatan dengan pedagang pengumpul tingkat desa dimana mereka sebelum menjual gula sudah memiliki utang uang atau barang kebutuhan rumah tangga kepada pedagang. Keseluruhan pedagang pegumpul tingkat desa tersebut juga menjual bahan kebutuhan pokok para pengolah gula aren sehingga bila pengolah gula aren membutuhkan uang atau barang bisa mendapatkanya dari pedagang pengumpul desa dengan perjanjian hasil gula aren para pengolah tersebut dijual kepada mereka.

5. Distribusi Pemasaran

Distribusi pemasaran dalam pengolahan gula aren di Desa Danau Liang Kecamatan Lebong Tengah Kabupaten Lebong yaitu dari pengrajin (produsen) ke pedagang pengumpul, lalu ke pedagang pengecer sebelum akhirnya produk sampai ke konsumen. Untuk banyaknya jumlah produk yang disalurkan dapat dilihat pada tabel dibawah ini:

Tabel 10. Saluran Distribusi Pemasaran Lembaga

pemasaran

Jumlah yang didistribusikan (kg) Jumlah produksi Pengerajin P. Pengumpul P.Pengecer Konsumen

Pengerajin 0 675 0 26 701

P. Pengumpul 0 0 671,5 0

P.Pengecer 0 0 0 670

Pedagang Pengumpul Tingkat Desa II

Pedagang Pengecer I Pedagang Pengecer II

(9)

Konsumen 0 0 0 0 Sumber : data primer diolah (2015) lihat lampiran 16

Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa jumlah produk yang dalam hal ini gula aren sebanyak 675 kg yang dibeli pedagang pengumpul dari pengrajin, untuk kemudian selanjutnya disalurkan ke pedagang pengecer dengan jumlah 671,5 kg. Jumlah produk berkurang dikarenakan mengalami penyusutan berat. Dan pada akhirnya gula aren ini sampai ketangan konsumen untuk kemudian dikonsumsi.

6. Biaya, Marjin Dan Efisiensi Pemasaran.

Tabel 11.Biaya Dan Marjin Pemasaran Gula Aren Di Desa Danau Liang.

Uraian Harga rata-rata (Rp/kg) Share (%)

Petani pengolah

- Harga jual 13.000 76,47

Pedagang pengumpul tingkat desa

- Harga beli 13.000

- Biaya karung 22 0,13

- Biaya penyusutan alat 1,09 0,01

- Biaya penyimpanan

- Biaya susut gula aren 86,5474,92 0,510,44

- Total biaya 184,55 1,09

- Harga jual 14.500 85,29

- Marjin 1500 8,82

- profit marjin 1481,45 8,71

Pedagang pengecer

- Harga beli 14500 85,29

- Biaya transportasi 104,167 0,61

- Biaya kemasan produk 19,82 0,12

- Restribusi 5,35 0,03

- Biaya penyusutan alat 0,97 0,01

- Biaya penyimpanan 211,08 1,24

- Biaya susut gula aren 37,02 0,22

- Total biaya 626,47 3,69

- Harga jual 17.000 100

- Marjin 2500 14,71

- Profit marjin 1873,53 12,10

Total biaya pemasaran 811,02 4,78

Total profit 3534,98 20,81

Total marjin 4000 23,53

Efisiensi pemasaran (Nilai produk yg dipasarkan / Biaya

pemasaran x 100%) (337,5 / 811.02 x 100%) 41,61

Sumber : data primer diolah (2015)

Saluran pemasaran gula aren di kecamatan lebong tengah desa Danau Liang telah efisien di sebabkan efisiensi pemasaran gula aren menunjukkan angka sebesar 41,61 %. Menurut kriteria efisiensi pemasaran Kriteria EP sebesar 0 – 50% maka saluran pemasaran dikatakan efisien. Dari hal tersebut saluran pemasaran gula aren di Desa Danau Liang efisien atau menguntungkan.

IV.KESIMPULAN DAN SARAN 1. KESIMPULAN

Rata-rata produksi gula aren yang dihasilkan pengolah gula aren di Desa Danau Liang adalah 35,0 kg per minggu. rata-rata penerimaan pengolah gula aren adalah sebesar Rp. 455.390 per minggu.

Berdasarkan perhitungan penerimaan dan biaya pengolahan gula aren di Desa Danau Liang, didapat nilai R/ C ratio usaha pengolahan gula aren dengan rata-rata sebesar 1,20. ini berarti jika pengolah gula aren menggunakan input sebesar Rp 100. maka akan diperoleh penerimaan sebesar Rp. 120, sehingga dapat disimpulkan bahwa usaha pengolahan gula aren di Desa Danau Liang sudah menguntungkan.

(10)

Karena biaya yang jumlahnya besar maka disarankan kepada pengolah gula aren untuk menambah produksi atau menambah jumlah bahan baku sehingga biaya tetap yang ditanggung tidak terlalu besar dibandingkan dengan jumlah pendapatan. Untuk pedagang pengecer diharapkan jangan terlalu besar mengambil keuntungan dari konsumen akhir.

DAFTAR PUSTAKA

Azzaino, Z. 1983 . Pengantar Tataniaga Pertanian: Diktat Kuliah Fakultas Pertanian Universitas Lampung. Bandar Lampung.

Safari, Achmad., 1995. Teknik Membuat Gula Aren. Penerbit Karya Anda, Surabaya. Sunanto, Hatta., 1993. Aren Budidaya dan Multigunanya. Penerbit Kanisius, Jogyakarta. Soekartawi, 1995. Analisa Usahatani. Penerbit Rajawali Press, Jakarta.

Soekartawi. 2002. Prinsip Dasar Manajemen Pemasaran Hasil-hasil Pertanian, Teori dan Aplikasinya. PT. Raja Grafindo Persada. Jakarta

Gambar

Tabel 1.karakteristik petani pengolah gula aren berdasarkan umur,anggota keluarga,pendidikan dan jumlahpohon.
Tabel 4.Rata-Rata Total Variabel Yang Digunakan Dalam Proses Pengolahan Gula Aren Di Desa Danau
Tabel 8. Karakteristik Lembaga Pemasaran Gula Aren Di Desa Danau Liang
Tabel 9.Harga Pembelian Dan Penjualan Rata-Rata Gula Aren Oleh Pengolah Dan Lembaga Pemasaran
+2

Referensi

Dokumen terkait

Strategi pengembangan industri gula berbasis Aren untuk menjadi suatu kebijakan barn dalam upaya swasembada gula nasional Untuk mengetahui strategi dalam pengembangan industri

Sampel pengrajin gula aren yaitu 90 pengrajin yang ditentukan dengan proporsional random sampling, sampel pedagang 36 pedagang dengan snowball sampling,

Marjin pemasaran gula aren pada setiap saluran pemasaran di Desa Wangunsari tersaji pada Tabel 3. menunjukkan bahwa di saluran nol tingkat tidak terdapat lembaga

Setelah dilakukan identifikasi terhadap faktor internal yang berpengaruh pada pengembangan usaha gula aren di Desa Rambah Tengah Barat, maka selanjutnya dilakukan

Populasi tanaman aren terkonsentrasi di 6 (enam) kecamatan yaitu: Kecamatan Cijaku, Muncang, Gunungkencana, Bojongmanik, Leuwidamar, dan Panggarangan. Sebagai

KESIMPULAN Berdasarkan monitoring yang dilakukan oleh pihak internal rata-rata masyarakat pengrajin gula aren ini sangat mengharapkan program tindak lanjut, karena mahasiswa yang telah

2019 sejalan dengan itu ekowisata gula aren desa bunuo sebagai upaya pengembangan keadaan sosial ekonomi masyarakat pertama di kabupaten bone bolango yaitu teknologi pengolahan gula

Hasil pengukuran rerata analisis kadar air kopi gambir dengan penambahan gula aren dan krimer nabati Keterangan: Kontrol = Tanpa penambahan gula aren dan krim A1B1 = Penambahan gula