• Tidak ada hasil yang ditemukan

MAKALAH TEORI TEORI PERKEMBANGAN DOSEN P

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "MAKALAH TEORI TEORI PERKEMBANGAN DOSEN P"

Copied!
36
0
0

Teks penuh

(1)

MAKALAH

“TEORI-TEORI PERKEMBANGAN”

DOSEN PEMBIMBING

Rohmat Febrianto, M.pd

DISUSUN OLEH:

1. Tika Hertanti

1787205012

2. Nining Pratiwi

1787205009

3. Sigit Sumarsono 1787205017

STKIP PGRI TRENGGALEK

(2)

Kata Pengantar

Puji syukur kehadirat Allah SWT, akhirnya kami dapat menyelesaikan makalah Psikologi Perkembangan Peserta Didik yang berjudul Teori-teori

perkembangan. Di dalam makalah ini kami memapar teori-teori perkembangan yang berdasarkan atas teori biologis, lingkungan dan suasana serta interaksi. Dalam penyelesaian makalah ini, tidak terlepas dari kerja sama tim kelompok kami yang menuangkan pikiran serta dari beberapa buku refrensi serta dari berbagai sumber. Dari makalah ini kami merasa masih banyak kekurangan baik dari segi tulisan maupun paparan dari isi. Tegur sapa dari para arif bijaksana, sangat kami harapkan untuk perbaikan makalah selanjutnya, dan sebelumnya kami ucapkan banyak terima kasih. Kepada Allah SWT kami mohon taufiq dan hidayah-Nya,semoga dalam penyelesaian makalah ini senantiasa dalam keridhaan-Nya dan bermanfaat bagi kita semua.Amien.

Trenggalek, 5 Februari 2018 Tim Penyusun

(3)

Daftar Isi

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah……….1 B. Rumusan masalah………....2 C. Tujuan Makalah………...2 BAB II PEMBAHASAN

(4)

E. Teori Behavior………....29

1. Pengertian Teori Behavior………..….29

2. Tahap Perkembangan Teori Behavior………...29

3. Teori Perkembangan Behavior Dalam Aplikasi Pembelajaran...31

BAB III PENUTUP A. Kesimpulan……….33

(5)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Perkembangan merupakan suatu proses yang pasti dialami oleh setiap individu, perkembangan ini adalah proses yang bersifat kualitatif dan berhubungan dengan kematangan seorang individu yang ditinjau dari perubahan yang bersifat progresif serta sistematis di dalam diri manusia.

Berbagai perubahan dalam perkembangan bertujuan untuk memungkinkan orang menyesuaikan diri dengan lingkungan dimana ia hidup. Untuk mencapai tujuan ini, maka realisasi diri atau yang biasanya disebut “akulturasi-diri” adalah sangat penting. Namun tujuan ini tidak pernah statis. Tujuan dapat dianggap sebagai suatu dorongan untuk melakukan sesuatu yang tepat untuk dilakukan, untuk menjadi manusia seperti yang diinginkan baik secara fisik maupun psikologis. Seiring dengan berkembangnya zaman dan dari bertambahnya masalah diri manusia itu sendiri muncul lah berbagai teori mengenai studi perkembangan sehingga memunculkan pemahaman-pemahaman baru mengenai perkembangan manusia.

Perkembangn pemikiran dan kajian empirik dikalangan para ahli tentang perkembangan manusia telah melahirkan berbagai teori yang beragam sesuai dengan perspektif pemikiran dan pengalaman pribadi para ahli yang membangun teori tersebut. Teori-teori yang muncul biasanya merupkan kritik dari teori-teori

(6)

menjelaskan, memprediksi, dan mengontrol tetang kenyataan tersebut. Teori juga dapat diartikan sebagai sekumpulan atau seperangkat asumsi yang relevan dan secara sistematis saling berkaitan. Dari begitu banyaknya teori yang berusaha menjelaskan bagaimana perkembangan manusia, ada beberapa teori yang sangat besar

pengaruhnya terhadap perkembangan manusia, kami akan membahasbeberapa diantaranya yaitu teori kognitif, teori psikososial,teori psikoanalitik, teori moral & teori behavioral. Setiap teori inimemberikan pandangan yang berbeda tentang perkembangan manusia.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka masalah yang akan dibahas dalam makalah ini adalah :

1. Bagaimana perkembangan manusia menurut teori kognitif? 2. Bagaimana perkembangan manusia menurut teori psikososial? 3. Bagaimana perkembangan manusia menurut teori psikoanalitik? 3. Bagaimaan perkembangan manusia menurut teori moral?

4. Bagaimana perkembangan manusia menurut teori behavior?

C. Tujuan Makalah

Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan dari makalah ini adalah : 1. Untuk mengetahui perkembangan manusia menurut teori kognitif.

2. Untuk mengetahui perkembangan manusia menurut teori psikososial. 3. Untuk mengetahui perkembangan manusia menurut teori psikoanalitik. 3. Untuk mengetahui perkembangan manusia menurut teori moral.

(7)

BAB II PEMBAHASAN

A. Teori Kognitif

Teori kognitif dikembangkan oleh Jean Piaget, seorang psikolog Swiss yang hidup tahun 1896-1980. Teorinya memberikan banyak konsep utama dalam

lapangan psikologi perkembangan dan berpengaruh terhadap perkembangan konsep kecerdasan, yang bagi Piaget berarti kemampuan untuk secara lebih tepat merepresentasikan dunia dan melakukan operasi logis dalam representasi konsep yang berdasar pada kenyataan. Teori ini membahas munculnya dan diperolehnya schemata (skema tentang bagaimana seseorang mempersepsi lingkungannya) dalam tahapan-tahapan perkembangan, saat seseorang memperoleh cara baru dalam merepresentasikan informasi secara mental. Teori ini digolongkan ke dalam konstruktivisme, yang berarti, tidak seperti teori nativisme (yang menggambarkan perkembangan kognitif sebagai pemunculan pengetahuan dan kemampuan

bawaan), teori ini berpendapat bahwa kita membangun kemampuan kognitif kita melalui tindakan yang termotivasi dengan sendirinya terhadap lingkungan. Untuk pengembangan teori ini, Piaget memperoleh Erasmus Prize.

1. Pengertian Kognitif

Kognitif adalah salah satu ranah dalam taksonomi pendidikan. Secara umum kognitif diartikan potensi intelektual yang terdiri dari tahapan : pengetahuan

(knowledge), pemahaman (comprehention), penerapan (aplication), analisa

(analysis), sintesa (sinthesis), dan evaluasi (evaluation). Kognitif berarti persoalan yang menyangkut kemampuan untuk mengembangkan kemampuan rasional(akal). Teori kognitif lebih menekankan bagaimana proses atau upaya untuk

(8)

sebab itu kognitif berbeda dengan teori behavioristik, yang lebih menekankan pada aspek kemampuan perilaku yang diwujudkan dengan cara kemampuan merespons terhadap stimulus yang datang kepada dirinya.

Dalam kehidupan sehari-hari kita sering mendengar kata kognitif. Dari aspek tenaga pendidik misalnya, seorang guru diharuskan memiliki kompetensi bidang kognitif. Artinya seorang guru harus memiliki kemampuan intelektual, seperti penguasaan materi pelajaran, pengetahuan mengenai cara mengajar, pengetahuan cara menilai siswa dan sebagainya.

2. Tahap perkembangan kognitif

Pertumbuhan atau perkembangan kognitif terjadi melalui tiga proses yang saling berhubungan, yaitu:

a) Organisasi

Merupakan istilah yang digunakan Piaget untuk mengintegrasikan pengetahuan kedalam sistem-sistem. Dengan kata lain, organisasi adalah sistem pengetahuan atau cara berfikir yang disertai dengan pencitraan realitas yang semakin akurat. Contoh: anak laki-laki yang baru berumur 4 bulan mampu untuk menatap dan menggenggam objek. Setelah itu dia berusaha mengkombinasikan dua kegiatan ini (menatap dan menggenggam) dengan menggenggam objek-objek yang dilihatnya.

(9)

b) Adaptasi

Merupakan cara anak untuk memperlakukan informasi baru dengan mempertimbangkan apa yang telah mereka ketahui. Adaptasi ini dilakukan dengan 3 langkah, yaitu:

1) Asimilasi

Merupakan istilah yang digunakan Piaget untuk merujuk pada peleburan informasi baru kedalam struktur kognitif yang sudah ada. Seorang individu dikatakan melakukan proses adaptasi melalui asimilasi, jika individu tersebut menggabungkan informasi baru yang dia terima ke dalam pengetahuan mereka yang telah ada.

Contoh asimilasi kognitif : seorang anak yang diperlihatkan segi tiga sama sisi, kemudian setelah itu diperlihatkan segitiga yang lain yaitu siku-siku. Asimilasi terjadi jika si anak menjawab bahwa segitiga sikusiku yang diperlihatkan adalah segitiga sama sisi.

2) Akomodasi

Merupakan istilah yang digunakan Piaget untuk merujuk pada perubahan yang terjadi pada sebuah struktur kognitif dalam rangka menampung informasi baru. Jadi, dikatakan akomodasi jika individu menyesuaikan diri dengan informasi baru. Melalui akomodasi ini, struktur kognitif yang sudah ada dalam diri seseorang mengalami perubahan sesuai dengan rangsangan-rangsangan dari objeknya. Contoh : anak bisa menjawab segitiga siku-siku pada segitiga yang diperlihatkan kedua.

3) Ekuilibrasi

(10)

sebagai kemampuan yang mengatur dalam diri individu agar ia mampu mempertahankan keseimbangan dan menyesuaikan diri terhadap lingkungannya. Agar terjadi ekuilibrasi antara diri dengan lingkungan, maka peristiwa asimilasi dan akomodasi harus terjadi secara terpadu, bersama-sama dan komplementer.

Contoh : bayi yang biasanya mendapat susu dari payudara ibu ataupun botol, kemudian diberi susu dengan gelas tertutup (untuk latihan minum dari gelas). Ketika bayi menemukan bahwa menyedot air gelas

membutuhkan gerakan mulut dan lidah yang berbeda dari yang biasa dilakukannya saat menyusu dari ibunya, maka si bayi akan

(11)

3. Teori Perkembangan Kognitif Dalam Aplikasi Pembelajaran

Dalam hail ini, peran seorang pendidik sangatlah vital. Beberapa implementasi yang harus diketahui dan diterapkan adalah sebagai berikut:

a) Memfokuskan pada proses berfikir atau proses mental anak tidak sekadar pada produknya. Di samping kebenaran jawaban siswa, guru harus

memahami proses yang digunakan anak sehingga sampai pada jawaban tersebut.

b) Pengenalan dan pengakuan atas peranan anak-anak yang penting sekali dalam inisiatif diri dan keterlibatan aktif dalam pembelajaran. Dalam kelas Piaget penyajian materi jadi (ready made) tidak diberi penekanan, dan anak-anak didorong untuk menemukan untuk dirinya sendiri melalui interaksi spontan dengan lingkungan.

c) Tidak menekankan pada praktek-praktek yang diarahkan untuk menjadikan anak-anak seperti orang dewasa dalam pemikirannya.

(12)

B. Teori Psikososial

1. Pengertian Teori Psikososial

Teori perkembangan psikososial ini adalah salah satu teori terbaik dalam psikologi. Seperti Sigmund Freud, Erikson percaya bahwa kepribadian berkembang dalam beberapa tingkatan. Salah satu elemen penting dari teori tingkatan psikososial Erikson adalah perkembangan persamaan Ego. Persamaan ego adalah perasaan sadar yang kita kembangkan melalui interaksi sosial. Menurut Erikson, perkembangan ego selalu berubah berdasarkan pengalaman dan informasi dari yang kita dapatkan dalam berinteraksi dengan orang lain.

2. Tahap Perkembangan Psikososial

1.) Tahap Kepercayaan dan Ketidakpercayaan (Trust vs Mistrust)

Tahap ini berlangsung pada masa kira kira terjadi pada umur 0 – 18 bulan (Bayi). Tugas yang harus dijalani pada tahap ini adalah menumbuhkan dan mengembangkan kepercayaan tanpa harus menekan kemampuan untuk hadirnya suatu ketidakpercayaan. Kepercayaan ini akan terbina dengan baik apabila dorongan pada bayi terpuaskan. Misalnya untuk tidur dengan tenang, menyantap makanan dengan tepat waktu. Oleh sebab itu peran ibu sangat penting dan dibutuhkan.

a) Indikator Positif :

Pada tahap ini bayi belajar untuk mempercayai orang lain. Pemenuhan kepuasan dari pengasuh (orang tua) tentang kebutuhan.

Contoh : Pengasuh (orang tua) memberi makan pada bayinya b) Indikator Negatif :

(13)

2.) Tahap Otonomi dan Perasaan Malu dan Ragu-ragu (Otonomy vs Shame and Duobt)

Pada tahap kedua atau masa ini biasanya disebut masa balita yang berlangsung mulai dari usia 18 bulan sampai 3 tahun (Toodler). Pada masa ini, kemandirian diperlukan untuk memperkecil perasaan malu dan ragu – ragu. Apabila dalam menjalin suatu hubungan antara anak dan orang tuanya terhadap suatu sikap atau tindakan yang baik, maka dapat menghasilkan suatu kemandirian, namun sebaliknya, jika orang tua salah dalam mengasuh anaknya ketika bersikap salah maka anak dalam perkembangannya akan mengalami sikap malu dan ragu – ragu.

a) Indikator Positif :

Pada tahap ini anak mulai mengembangkan kemandirian pada saat peningkatan kontrol fungsi tubuh terhadap kegiatan.

Contoh : Membuka dan memakai baju sendiri, pemilihan makanan, dan mainan yang disukai

b) Indikator Negatif :

Jika anak di buat merasa buruk saat melakukan kesalahan, anak akan menjadi malu, kurang kemauan, dan ketidakpatuhan, serta jika anak tidak berhasil melakukanya akan merasa tidak cukup dan ragu – ragu terhadap diri sendiri.

3.) Tahap Prakarsa dan Rasa Bersalah (Initiative vs Guilt)

(14)

a) Indikator Positif :

Pada tahap ini anak mengembangkan inisiatif pada saat merencanakan dan mencoba hal – hal baru seperti berimajinatif. Mampu menunjukkan kekuatan dan kontrolnya akan dunia melalui permainan langsung dan interaksi sosial lainnya. Jika berhasil, merasa mampu dan kompeten dalam memimpin orang lain. Adanya peningkatan rasa tanggung jawab dan prakarsa.

Contoh : Berimajinasi (menghayal) jika benar nanti ingin menjadi seorang presiden

b) Indikator Negatif :

Anak merasa kurang percaya diri,pesimis, takut membuat kesalahan, perasaan

bersalah,perasaan ragu – ragu, dan kurang inisiatif. Kendali dan pembatasan aktivitas diri berlebihan.

4.) Tahap Kerajinan dan Rasa Redah Diri (Industry vs Inferiority)

Tahap ke empat adalah tahap leten yang terjadi pada usia dasar antara umur 6 – 12 tahun (Sekolah) tahun. Salah satu tugas yang diperlukan dalam tahap ini adalah dengan mengambangkan kemampuan kerja keras dan menghindari perasaan rasa rendah diri. Semua aspek memiliki peran, misalnya orang tua harus selalu

mendorong, guru harus memberi perhatian, teman harus menerima kehadirannya, dan lain sebagainya.

a) Indikator Positif :

Pada tahap ini anak mulai untuk menciptakan mengembangkan sesuatu yang baru. Melalui interaksi sosial, anak mulai mengembangkan perasaan bangga terhadap keberhasilan dan kemampuan mereka yang didukung dan di arahkan oleh orang tua dan guru membangun perasaan kompeten dan percaya dengan keterampilan yang dimilikinya.

Contoh :

(15)

Indikator Negatif :

Anak yang sedikit atau tidak sama sekali dukungan dari orang tua,guru, atau teman sebaya akan merasa ragu akan kemampuanya untuk berhasil,merasa diri biasa – biasa saja, menarik diri dari sekolah dan teman sebaya, putus harapan.

5.) Tahap Identitas dan Kekacauan Identitas (Identity vs Identity Confusion)

Tahap kelima merupakan tahapan Adolsen ( remaja ), yang dimulai pada saat masa puber dari usia 12 – 20 tahun, menurut Erikson masa ini merupakan masa yang mempunyai peranan penting, karena melalui tahap ini seseorang dituntut harus mencapai tingkat identitas ego. Dalam pengertiannya identitas pribadi berarti

mengetahui siapa dirinya dan bagaimana cara seseorang terjun ke tengah masyarakat. Lingkungan dalam tahap ini semakin luas, tidak hanya area keluarga atau sekolah, namun dengan masyarakat yang ada dalam lingkungannya.

a) Indikator Positif :

Sadar akan diri sendiri, bermaksud untuk mengaktualisasi kemampuan diri

Contoh :Seseorang anak (teman) baru yang ikut bergabung dengan teman yang lain disekolah barunya. Seorang mahasiswa yang berprestasi mendapat beasiswa S2 di luar negeri.

b) Indikator Negatif :

Bagi mereka yang tidak yakin terhadap kepercayaan diri dan hasratnya, akan muncul rasa tidak aman dan bingung terhaap diri dan masa depanya, tidak mampu membuat keputusan sendiri, dan mungkin terdapat perilaku antisosial.

6.) Tahap Keintiman dan Isolasi (Intimacy vs Isolation)

(16)

menghindari dari sikap menyendiri. Periode ini diperhatikan dengan adanya hubungan spesial dengan orang lain, yaitu antara lawan jenis yang biasa disebut pacaran.

a) Indikator Positif :

Memiliki hubungan yang intim dengan orang lain. Memiliki komitmen terhadap pekerjaan dan hubungan.

Contoh : Memiliki hubungan yang intim dengan lawan jenis b) Indikator Negatif :

Hubungan impersonal, menghidari komitmen dalam hubungan, karier atau gaya hidup. Seseorang yang tidak bersedia atau tidak mampu untuk berbagi mengenai diri sendiri akan merasa sendiri.

7.) Tahap Generativitas dan Stagnasi (Generativity vs Stagnation)

Pada tahap ini seseorang akan memasuki tahap mengabdikan diri guna

menjaga keseimbangan antara sifat melahirkan sesuatu ( Generativitas ) dengan tidak berbuat apa – apa ( Stagnasi ) dan tahap ini dimuali dari usia 40 – 50 tahun (dewasa tengah). Pada masa ini seseorang yang merasa harus bisa menyelesaikan masalah masalah yang dihadapinya dengan tepat dan teratur.

a) Indikator Positif :

Generativitas adalah keinginan untuk merawat dan membimbing orang lain. Mereka membangun hidupnya berfokus terhadap karir dan keluarga. Mengekspresikan kepedulian pada dunia di masa yang akan datang.

(17)

b) Indikator Negatif :

Stagnasi adalah perhatian yang berlebihan pada dirinya atau perilaku merusak tidak anaknya dan masyarakat. Mereka yang gagal melalui tahap ini, akan merasa tidak produktif dan tidak terlibat di dunia ini.

8.) Tahap Integritas dan Keputusasaan (Integrity vs Despair)

Tahap terakhir dalam teorinya Erikson disebut tahap usia senja. Yang diawali dari usia 65 tahun sampai seseorang itu tutup usia. Tahap ini merupakan tahap yang sulit dilewati menurut pandangan sebagian orang, dikarenakan mereka sudah merasa terasing dalam lingkungan kehidupannya, karena seseorang pada usia senja dianggap tidak dapat berbuat apa – apa lagi atau tidak berguna lagi. Kesulitan tersebut dapat diatasi jika di dalam diri orang tersebut bisa menerima hidup dan bisa berarti mau juga menerima akhir dari hidup itu sendiri.

a) Indikator Positif :

Cenderung melakukan cerminan diri terhadap masa lalu.penerimaan akan kematian Contoh : Pada tahap ini seseorang akan melihat cerminan diri pada individu individu lain.

b) Indikator Negatif :

Mereka yang tidak berhasil pada fase ini, akan merasa bahwa hiupnya percuma dan mengalami banyak penyesalan. Mereka kehilangan, memandang rendah orang lain.

3. Teori Perkembangan Psikososial Dalam Aplikasi Pembelajaran

(18)

model pembelajaran yang akan digunakan dalam mengajar (Hanurawan, 2007). Pada tahap ini, hendaknya guru dapat memotivasi siswanya agar dapat melalui fase ini dengan baik, sehingga siswa tidak merasa rendah diri akan kelurangan yang

dimilikinya. Menurut teori Piaget, anak pada usia 7-11 tahun akan memasuki tahap concrete operational stage, dimana anak menerapkan logika berpikir pada barang-barang yang konkrit (Slavin, 2006). Pembelajaran karakter sangat tepat diterapkan pada anak usia ini, sebab anak pada usia ini cenderung untuk meniru segala perbuatan maupun perkataan yang dilihat maupun didengar yang dilakukan oleh orang-orang yang berada di sekitarnya. Oleh sebab itu, hendaknya seorang guru mampu

memberikan contoh yang baik kepada anak usia ini dengan berperilaku dan bertutur kata yang sopan. Pembelajaran karakter ini diharapkan dapat menjadi bekal bagi siswa untuk dapat melewati fase-fase perkembangan psikososial selanjutnya dengan baik.

C. Teori Psikoanalitik

1. Pengertian Teori Psikoanalitik

Psikoanalitik adalah cabang ilmu yang dikembangan oleh Sigmund Freud dan para pengikutnya, sebagai studi fungsi dan perilaku psikologis manusia. Aliran psikoanalitik terdiri dari dua variasi yakni personal dan interpersonal, bagaimana kepribadian mempengaruhi belajar dan perilaku. Aliran personal dari teori

psikoanalitik adalah tradisi Sigmund Freud yang berpendapat bahwa orang bertindak atas dasar motif yang tak disadarinya maupun atas dasar pikiran, perasaan, dan kecenderungan yang disadari dan sebagaian tidak disadari.

(19)

bertahan hidup dengan cara apapun seperti yang disebut di atas, termasuk mempertahankan diri tentang eksistensinya dalam lingkungan.

a) Id (Das Es)

Id merupakan kodrat makhluk. Id adalah naluri makhluk hidup dalam rangka mempertahankan eksistensinya di muka bumi. Bertahan hidup dalam arti yang luas pada dasarnya merupakan segala aspek yang kita lihat di bumi ini. Id pada manusia termasuk naluri untuk berkembang biak, mempertahankan diri dari ancaman, naluri untuk bebas dari rasa lapar dan haus seperti halnya makhluk lain.

Id bagian jiwa paling liar, berpotensi jahat. Ada yang menafsirkan id sebagai nafsu manusia yang mementingkan kebutuhan perut ke bawah. Di sisi lain, id tidak mempertimbangkan akibat dari pemenuhan hasratnya. Intinya, id adalah bagian jahat dari manusia yang beresiko merugikan orang lain dan diri sendiri. Id akan didorong oleh prinsip kesenangan, yang berusaha untuk mendapatkan kepuasan segera dari semua keinginan dan kebutuhan. Jika kebutuhan ini tidak

terpenuhi, maka hasilnya adalah kecemasan atau ketegangan.

Contoh mudahnya adalah bila seorang bayi menangis karena lapar atau pun haus maka ia akan mengkomunikasikan hal tersebut kepada ibunya dengan cara menangis. Karena dengan adanya peningkatan rasa lapar atau haus yang dirasakan bayi atau anak maka ia harus menghasilkan upaya segera untuk mendapatkan makan atau minum. Id ini sangat penting pada masa awal hidup, karena itu pastikan bahwa kebutuhan bayi terpenuhi dengan baik.

Id pada manusia menghasilkan kecenderungan untuk agresif dan terfokus pada pemenuhan kebutuhan jasmani. Id seluruhnya berada pada alam bawah sadar. Id sering ditafsirkan sebagai instink seperti pada hewan. Namun instink berbeda dengan id. Oleh Freud, id disebut sebagai Triebe atau dalam arti

(20)

seseorang itu tinggi, maka kualitas orang tersebut secara keseluruhan dengan sendirinya akan tinggi. Usaha yang dilakukan oleh orang dengan Id yang tinggi lebih baik jika dibandingkan dengan usaha yang dilakukan oleh orang yang id-nya rendah. Karena orang dengan id tinggi berusaha untuk memenuhi kebutuhan hidup dalam arti luas dengan lebih baik. Begitu hebatnya id ini menurut Freud sampai-sampai Freud berkata “Man is what his sex is; Kulitas Laki-laki itu tergantung dari nafsu birahinya”.

b) Ego (Das Ich)

Ego sebenarnya tidak jauh berbeda dengan id. Ego juga ditafsirkan sebagai nafsu untuk memenuhi nafsu. Hanya saja telah ada kontrol dari manusia itu

sendiri. Sudah ada pertimbangan, dan telah memikirkan akibat dari yang telah dilakukannya. Tepatnya, ego adalah pengontrol id. Contoh nyata dari ego adalah peraturan. Semua rule yang dibuat adalah untuk mencegah manusia menjadi liar dan tak terkontrol.

Ego merupakan inti dari kesatuan manusia, dan bila terjadi ancaman terhadap ego hal ini merupakan ancaman terhadap eksistensi manusia. Sehingga kegagalan/ kekecewaan terhadap pencapaian hal tersebut, atau terusiknya ego manusia, salah satunya diungkapkan dengan marah.

Selain sebagai bentuk ekspresi emosi, marah juga merupakan satu bentuk komunikasi. Adakalanya orang lain baru mengerti maksud yang ingin kita sampaikan ketika kita marah. Tanpa marah, orang lain malah menganggap kita main-main atau tidak serius. Dalam hal ini, tentunya juga berkaitan dengan masalah budaya. Dalam budaya masyarakat tertentu, suatu bentuk ekspresi

(21)

bersitegang, sikap yang ditunjukkan para pemain Eropa akan berbeda dengan sikap yang diperlihatkan para pemain Indonesia. Dalam kebanyakan pertandingan Liga Eropa yang kita saksikan di televisi, apabila pemain saling bersitegang, mereka beradu mulut dan bahkan saling berhadapan. Mata melotot dan urat-urat leher pun tampak menjadi tegang. Namun, setelah melampiaskan kekesalan dan amarah masing-masing, mereka pun bisa segera melanjutkan pertandingan dengan baik. Adapun di Indonesia, tak jarang kita menyaksikan bersitegang antara dua pemain, namun merembet pada pemain lain sehingga menyebabkan perkelahian massal antarpemain.

Prinsip kepribadian jenis ego ini adalah seputar mengenai hal yang

berhubungan dengan realitas serta kenyataan yang ada. Ego ini juga dimulai serta dibawa sejaklahir, tetapi berkembang bersamaan dengan hubungan individu dengan lingkungan sekitarnya. Untuk bisa bertahan dalam suatu kehidupan, maka individu tersebut tidak bisa hanya semata-mata bertindak sekadar mengikuti impuls-impuls atau dorongan-dorongan, individu harus belajar menghadapi realitas yang ada. Dan ini lebih kompleks dari sekedar id saja. Contoh mudahnya adalah bila seorang anak merasakan lapar maka ia akan berusaha untuk

mendapatkan makanan untuk mengatasi rasa laparnya. Hanya saja sekarang ia akan berusaha melihat kenyataan bagaimana cara mendapatkan makanan dengan baik tanpa ada yang merasa disalahkan atau pun ia salah dalam melakukan tindakan mendapatkan makanan karena didorong oleh rasa laparnya tersebut. Menurut Freud, ego adalah struktur kepribadian yang berurusan dengan

(22)

berguna untuk menyaring dorongan-dorongan yang ingin dipuaskan oleh id berdasarkan kenyataan yang ada.

c) Super Ego (Das Uber Ich)

Superego atau yang lebih sering disebut dengan “hati nurani”. Pembentukan dan perkembangan superego sangat ditentukan oleh pengarahan atau bimbingan lingkungan sejak usia dini. Bila seseorang di asuh dalam lingkungan yang serba cuek dan mau menang sendiri, bisa dipastikan, superego atau nuraninya tumpul. Dorongan dari id, menjadi tidak dapat diterima oleh seseorang bukan saja ketika ego-nya mengantisipasi ketidak mungkinan sementara karena kondisi dan keadaan, tapi juga secara lebih permanen. Hal itu disebabkan karena sistem ketiga dari pikiran manusia yang disebut superego. Superego merupakan pengendali dari ego dan id yang bukan berasal dari dalam diri tetapi dari penyerapan standar aturan dan pranata dari pendidikan orangtua.

Superego merupakan bagian kepribadian yang berhubungan dengan etika, standar moral dan aturan. Superego berkembang selama 5 tahun pertama

kehidupan sebagai respon dari pendidikan orang tua. Perkembangan superego menyerap tradisi dari keluarga dan lingkungan sekitar. Superego berfungsi sebagai pengendali perilaku atau penyaring rangsangan sosial yang tidak memenuhi standar perilaku.

Dalam bahasa sederhana, superego sering diterjemahkan sebagai conscience atau suara hati. Pelanggaran terhadap suara hati atau standar superego

menghasilkan perasaan bersalah, kegelisahan dan rasa khawatir. Superego terus berkembang seiring dengan pertumbuhan dan pengetahuan pribadi seseorang dimana ia menemukan sosok, sistem aturan atau pikiran-pikiran yang

diketahuinya dari pergaulan dalam masyarakat yang lebih luas.

(23)

hal yang berhubungan dengan baik-buruk). Superego lebih merupakan

kesempurnaan daripada kesenangan, karena itu superego dapat dianggap sebagai aspek moral daripada kepribadian itu sendiri. Juga merupakan aspek kepribadian yang menampung semua standar internalisasi moral dan cita-cita yang kita peroleh dari kedua orangtua serta masyarakat. Superego memberikan pedoman untuk membuat sebuah penilaian.

Fungsi manfaat superego adalah sebagai pengendali dorongan-dorongan atau impuls-impuls naluri id agar impuls-impuls teresbut disalurkan dengan cara atau bentuk yang dapat diterima oleh masyarakat. Mengarahkan ego pada tujuan-tujuan yang sesuai dengan moral daripada dengan kenyataan. Mendorong individu kepada kesempurnaan.

Bersama-sama dengan ego, superego mengatur dan mengarahkan tingkah laku manusia yang bermaksud untuk memuaskan dorongan-dorongan dari id, yaitu melalui aturan-aturan dalam masyarakat, agama, atau keyakinan-keyakinan tertentu mengenai perilaku yang baik dan buruk. Freud berpendapat manusia sebagai suatu sistem yang kompleks memakai energi untuk berbagai tujuan seperti halnya bernafas, bergerak, mengamati, dan mengingat. Kegiatan psikologi juga membutuhkan energi, yang disebutnya energi psikis yaitu energi yang ditransform dari energi fisik melalui id beserta instink-instinknya. Ini sesuai dengan kaidah fisika, bahwasannya energi tidak dapat hilang, tetapi dapat pindah dan berubah bentuk.

2. Tahap Perkembangan Psikoanalitik

(24)

Berikut 5 tahapan perkembangan menurut Sigmund Freud :

a) Tahap Oral (Oral Stage)

Ialah tahapan pertama kepribadian Freud, yang berlangsung selama 18 bulan pertama kehidupan. Kenikmatan seorang bayi berpusat di sekitar mulut. contohnya mengunyah, menghisap, dan menggigit adalah sumber utama kenikmatan. Tindakan-tindakan ini mengurangi tekanan dan ketegangan pada bayi.

b) Tahap Anal (Anal Stage)

Ialah tahapan kedua kepribadian Freud, yang berlangsung antara usia 1,5

samai 3 tahun, dalam kenikmatan terbesar anak meliputi lubang anus atau fungsi pengeluaran atau pembersihan. Dalam sudut pandang Freud latihan otot - otot lubang dubur mengurangi tekanan atau ketegangan.

c) Tahap Falik (Phallic Stage)

Ialah tahapan ketiga kepribadian Freud, yang berlangsung antara usia 3

sampai 6 tahun, phallic berasal dari kata Latin Phallus yang berarti alat kelamin laki - laki (penis). Selama tahap Phallic kenikmatan berfokus pada alat kelamin, karena anak menemukan bahwa manipulasi diri (self manipulation) dapat memberi kenikmatan tersendiri.

d) Tahap Latensi (Laten Stage)

Ialah tahap keempat kepribadian Freud yang berlangsung antara kira - kira usia 6 tahun dan masa pubertas, anak menekan semua minat terhadap seks dan mengembangkan keterampilan sosial dan intelektual. Kegiatan ini menyalurkan sebagian terbesar energi anak ke hal yang secara emosional “aman”, dan

membantu anak melupakan konflik pada tahap phallic yang sangat menekan.

e) Tahap Genital (Genital Stage)

(25)

kembali dorongan seksual, sumber kesenangan seksual sekarang adalah orang yang berada diluar keluarga. Freud yakin bahwa konflik yang terjadi yang mungkin tidak dapat teratasi dengan orangtua terjadi kembali selama masa remaja atau pubertas. Bila teratasi dengan baik, individu mampu mengembangkan suatu hubungan cinta yang dewasa dan berfungsi secara mandiri sebagai seorang yang dewasa.

3. Teori Perkembangan Psikososial Dalam Aplikasi Pembelajaran

Apabila menyimak konsep kunci dari teori kepribadian Sigmund Freud, maka ada beberapa teorinya yang dapat aplikasikan dalam bimbingan, yaitu:

Pertama, konsep kunci bahwa ”manusia adalah makhluk yang memiliki kebutuhan dan keinginan”. Konsep ini dapat dikembangkan dalam proses bimbingan, dengan melihat hakikatnya manusia itu memiliki kebutuhan-kebutuhan dan keinginan-keinginan dasar. Dengan demikian konselor dalam memberikan bimbingan harus selalu berpedoman kepada apa yang dibutuhkan dan yang diinginkan oleh konseli, sehingga bimbingan yang dilakukan benar-benar efektif. Hal ini sesuai dengan fungsi bimbingan itu sendiri.

Kedua, konsep kunci tentang “kecemasan” yang dimiliki manusia dapat digunakan sebagai wahana pencapaian tujuan bimbingan, yakni membantu individu supaya mengerti dirinya dan lingkungannya; mampu memilih, memutuskan dan

merencanakan hidup secara bijaksana; mampu mengembangkan kemampuan dan kesanggupan, memecahkan masalah yang dihadapi dalam kehidupannya; mampu mengelola aktivitasnya sehari-hari dengan baik dan bijaksana; mampu memahami dan bertindak sesuai dengan norma agama, social dalam masyarakatnya.

(26)

Islam menganjurkan agar keluarga dapat melatih dan membiasakan anak-anaknya agar dapat tumbuh berkembang sesuai dengan norma agama dan sosial. Norma-norma ini tidak bisa datang sendiri, akan tetapi melalui proses interaksi yang panjang dari dalam lingkungannya. Bila sebuah keluarga mampu memberikan bimbingan yang baik, maka kelak anak itu diharapkan akan tumbuh menjadi manusia yang baik.

Keempat, teori Freud tentang “tahapan perkembangan kepribadian individu” dapat digunakan dalam proses bimbingan, baik sebagai materi maupun pendekatan. Konsep ini memberi arti bahwa materi, metode dan pola bimbingan harus disesuaikan dengan tahapan perkembangan kepribadian individu, karena pada setiap tahapan itu memiliki karakter dan sifat yang berbeda. Oleh karena itukonselor yang melakukan bimbingan haruslah selalu melihat tahapan-tahapan perkembangan ini, bila ingin bimbingannya menjadi efektif.

(27)

D. Teori Moral

1. Pengertian Teori Moral

Menurut teori Kohlberg telah menekankan bahwa perkembangan moral didasarkan terutama pada penalaran moral dan berkembang secara bertahap. Dalam Teori Kohlberg mendasarkan teori perkembangan moral pada prinsip-prinsip dasar hasil temuan Piaget. Perkembangan moral merupakan proses perkembangan

kepribadian siswa selaku anggota masyarakat dalam berhubungan dengan orang lain, sebab prilaku moral pada umumnya merupakan unsur fundamental dalam

bertingkahlaku social.

2. Tahap Perkembangan Teori Moral

Teori Perkembangan moral dalam psikologi umum menurut Kohlberg terdapat 3 tingkat dan 6 tahap pada masing-masing tingkat terdapat 2 tahap diantaranya sebagai berikut :

A. Tingkat Satu : Moralitas Prakonvensional (Preconventional Morality). adalah : tingkat yang paling rendah dalam teori perkembangan moral Kohlberg. Pada tingkat ini, anak tidak memperlihatkan internalisasi ( penghayatan/proses) nilai-nilai moral- penalaran moral dikendalikan oleh imbalan (hadiah) dan hukuman eksternal. Dengan kata lain aturan dikontrol oleh orang lain (eksternal) dan tingkah laku yang baik akan mendapat hadiah dan tingkah laku yang buruk mendapatkan hukuman.

1. Tahap I. Orientasi hukuman dan ketaatan (Punishment and obedience orientation). pada tahap ini penalaran moral didasarkan atas hukuman, Tahap ini disebut

(28)

2. Tahap II. tujuan instrumental, individualisme dan pertukaran (kebutuhan dan keinginan (Individualism, instrumental purpose, and exchange)

Pada tahap ini penalaran moral didasarkan atas imbalan (hadiah)dan kepentingan sendiri. Kebutuhan pribadi dan kebutuhan orang lain merupakan pertimbangan utama penalaran pada tingkat ini.

Contohnya: Anak-anak jujur bila mereka ingin jujur dan bila yang paling baik untuk kepentingan terbaik adalah jujur. Apa yang benar adalah apa yang dirasakan baik dan apa yang dianggap menghasilkan hadiah.

B. Tingkat Dua : Moralitas Konvensional (Conventional Morality)

Adalah : suatu tingkat internalisasi individual menengah dimana seseorang tersebut menaati standar (Internal)tertentu, tetapi mereka tidak menaati standar-standar orang lain (eksternal)seperti orang tua atau aturan-aturan masyarakat. 1.Tahap III. Tahap harapan, hubungan dan penyesuaian antarpribadi (Mutual interpersonal expectation, relationship, and interpersonal conformity)

Yaitu : dimana seseorang menghargai kebenaran, keperdulian dan kesetiaan kepada orang lain sebagai landasan pertimbangan-pertimbangan moral. Mengerjakan sesuatu yang benar pada tahap ini berarti memenuhi harapan orang-orang lain, loyal terhadap kelompok, dan dapat dipercaya dalam kelompok tersebut. Perhatian terhadap

kesejahteraan orang lain dianggap hal yang penting.

contoh: Seorang anak mengharapkan dihargai oleh orang tuanya sebagai yang terbaik. 2. Tahap IV. sistem sosial dan hati nurani (Social system and conscience (law and Order)

(29)

C. Tingkat Tiga : Moralitas Pascakonvensional (Postconventional Morality or Principled)

Adalah : Suatu pemikiran tingkat tinggi dimana moralitas benar-benar

diinternalisasikan dan tidak didasarkan pada standar-standar orang lain. Seseorang mengenal tindakan-tindakan moral alternatif, menjajaki pilihan-pilihan, dan kemudian memutuskan berdasarkan suatu kode.

1.Tahap V. Hak-hak masyarakat vs hak-hak individual (Social contract or utility and individual right)

Yaitu : nilai-nilai dan aturan-aturan adalah bersifat relatif dan bahwa standar dapat berbeda dari satu orang ke orang lain. Yang dianggap benar menurut tahap ini adalah yang mendukung hak-hak dan nilai-nilai dasar, serta saling menyetujui kontrak sosial. Orientasi penalaran tahap ini adalah pada upaya memaksimalkan kesejahteraan masyarakat dan menghargai kemauan golongan mayoritas, di samping menjaga hak-hak golongan minoritas. Apabila undang-undang dan aturan yang ada dianggap tidak sesuai, misalnya bertentangan dengan hak-hak kemanusiaan, maka penalar pada tahap kelima ini dapat melakukan kritik dan mengusahakan perubahan dan mempelajari cara mengatasinya.

Tahap kelima ini memiliki sifat utilitarianism rational, yakni suatu keyakinan bahwa tugas dan kewajiban harus didasarkan pada tercapainya kebahagiaan bagi sebagian besar manusia.

2. Tahap VI. Prinsip-prinsip Etis Universal (Universal ethical principles)

Yaitu : Pada tahap ini yang dianggap benar adalah bertindak sesuai dengan prinsip-prinsip pilihan sendiri yang sesuai bagi semua manusia. Prinsip-prinsip-prinsip diterima oleh orang yang berada pada tahap ini bukan disebabkan oleh persetujuan sosial, tetapi prinsip-prinsip tersebut berasal dari ide dasar keadilan, yaitu persamaan

(30)

universal. Dalam artian bila seseorang itu menghadapi konflik antara hukum dan suara hati, seseorang akan mengikuti suara hati.

Pada perkembangan moral menurut Kohlberg menekankan dan yakin bahwa dalam ketentuan diatas terjadi dalam suatu urutan berkaitan dengan usia. Pada masa usia sebelum 9 tahun anak cenderung pada prakonvensional. Pada masa awal remaja cenderung pada konvensional dan pada awal masa dewasa cenderung pada pascakonvensional. Demikian hasil teori perkembangan moral menurut kohlberg dalam psikologi umum.

3. Teori Perkembangan Moral Dalam Aplikasi Pembelajaran

Sebagai sebuah tolok ukur perbuatan manusia, perlu diupayakan pembelajaran moral. Pembelajaran moral selain dapat didekati dari aspek kognitif (penalaran moral), dapat juga dikaji dari aspek afektif (perasaan moral), sehingga dapat

mendorong terjadinya tindakan atau perilaku moral. Pembelajaran moral didekati dari aspek kognitif sebagai unsur pemahaman moral atau penalaran moral, yaitu untuk mempertimbangkan, menilai dan memutuskan suatu perbuatan, seperti baik atau buruk, etis atau tidak etis, benar atau salah berdasarkan prinsip-prinsip moral.

(31)

E. Teori Behavior

1. Pengertian Teori Behavior

Teori behaviori adalah sebuah teori yang dicetuskan oleh Gage dan Berliner tentang perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman . Teori ini lalu

berkembang menjadi aliran psikologi belajar yang berpengaruh terhadap arah pengembangan teori dan praktik pendidikan dan pembelajaran yang dikenal sebagai aliran behavioristik. Aliran ini menekankan pada terbentuknya perilaku yang tampak sebagai hasil belajar. Tokoh-tokoh aliran behavioristik di antaranya adalah

Thorndike, Watson, Clark Hull, Edwin Guthrie, dan Skinner. Berikut akan dibahas karya-karya para tokoh aliran behavioristik dan analisis serta peranannya dalam pembelajaran.

2. Tahap Perkembangan Teori Behavior

Kaum behavioris menjelaskan bahwa belajar sebagai suatu proses perubahan tingkah laku dimana reinforcement dan punishment menjadi stimulus untuk

merangsang siswa dalam berperilaku.

Pandangan teori behavioristik telah cukup lama dianut oleh para pendidik. Namun teori Skinnerlah yang paling besar pengaruhnya terhadap perkembangan teori belajar behavioristik. Program-program pembelajaran seperti Teaching Machine, Pembelajaran berprogram, modul dan program-program pembelajaran lain yang berpijak pada konsep hubungan stimulus-respons serta mementingkan faktor-faktor penguat (reinforcement), merupakan program pembelajaran yang menerapkan teori belajar yang dikemukakan Skiner.

Teori behavioristik banyak dikritik karena seringkali tidak mampu

menjelaskan situasi belajar yang kompleks, sebab banyak variabel atau hal-hal yang berkaitan dengan pendidikan dan/atau belajar yang dapat diubah menjadi sekedar hubungan stimulus dan respon, teori ini juga tidak mampu menjelaskan

(32)

Teori behavioristik juga cenderung mengarahkan siswa untuk berfikir linier, konvergen, tidak kreatif dan tidak produktif. Pandangan teori ini bahwa belajar merupakan proses pembentukan atau shaping, yaitu membawa siswa menuju atau mencapai target tertentu, sehingga menjadikan peserta didik untuk tidak bebas berkreasi dan berimajinasi. Padahal banyak faktor yang berpengaruh yang

mempengaruhi proses belajar. Jadi teori belajar tidak sesederhana yang dilukiskan teori behavioristik.

Skinner dan tokoh-tokoh lain pendukung teori behavioristik memang tidak menganjurkan digunakannya hukuman dalam kegiatan pembelajaran. Namun apa yang mereka sebut dengan penguat negatif (negative reinforcement) cenderung membatasi siswa untuk berpikir dan berimajinasi. Menurut Guthrie hukuman memegang peranan penting dalam proses belajar. Namun ada beberapa alasan mengapa Skinner tidak sependapat dengan Guthrie, yaitu:

1) Pengaruh hukuman terhadap perubahan tingkah laku sangat bersifat sementara. 2) Dampak psikologis yang buruk mungkin akan terkondisi (menjadi bagian dari jiwa si terhukum) bila hukuman berlangsung lama.

3) Hukuman yang mendorong si terhukum untuk mencari cara lain (meskipun salah dan buruk) agar ia terbebas dari hukuman.

(33)

3. Teori Perkembangan Behavior Dalam Aplikasi Pembelajaran

Aplikasi teori behavioristik dalam kegiatan pembelajaran tergantung dari beberapa hal seperti: tujuan pembelajaran, sifat materi pelajaran, karakteristik pebelajar, media dan fasilitas pembelajaran yang tersedia. Pembelajaran yang dirancang dan berpijak pada teori behavioristik memandang bahwa pengetahuan adalah obyektif, pasti, tetap, tidak berubah. Pengetahuan telah terstruktur dengan rapi, sehingga belajar adalah perolehan pengetahuan, sedangkan mengajar adalah

memindahkan pengetahuan (transfer of knowledge) ke orang yang belajar atau pebelajar.

Fungsi mind atau pikiran adalah untuk menjiplak struktur pengetahuan yag sudah ada melalui proses berpikir yang dapat dianalisis dan dipilah, sehingga makna yang dihasilkan dari proses berpikir seperti ini ditentukan oleh karakteristik struktur pengetahuan tersebut. Pebelajar diharapkan akan memiliki pemahaman yang sama terhadap pengetahuan yang diajarkan. Artinya, apa yang dipahami oleh pengajar atau guru itulah yang harus dipahami oleh murid. Demikian halnya dalam pembelajaran, pebelajar dianggap sebagai objek pasif yang selalu membutuhkan motivasi dan penguatan dari pendidik. Oleh karena itu, para pendidik mengembangkan kurikulum yang terstruktur dengan menggunakan standar-standar tertentu dalam proses

pembelajaran yang harus dicapai oleh para pebelajar. Begitu juga dalam proses evaluasi belajar pebelajar diukur hanya pada hal-hal yang nyata dan dapat diamati sehingga hal-hal yang bersifat tidak teramati kurang dijangkau dalam proses evaluasi.

Implikasi dari teori behavioristik dalam proses pembelajaran dirasakan kurang memberikan ruang gerak yang bebas bagi pebelajar untuk berkreasi,

(34)

Karena teori behavioristik memandang bahwa pengetahuan telah terstruktur rapi dan teratur, maka pebelajar atau orang yang belajar harus dihadapkan pada aturan-aturan yang jelas dan ditetapkan terlebih dulu secara ketat. Pembiasaan dan disiplin menjadi sangat esensial dalam belajar, sehingga pembelajaran lebih banyak dikaitkan dengan penegakan disiplin. Kegagalan atau ketidakmampuan dalam penambahan pengetahuan dikategorikan sebagai kesalahan yang perlu dihukum dan keberhasilan belajar atau kemampuan dikategorikan sebagai bentuk perilaku yang pantas diberi hadiah, demikian juga, ketaatan pada aturan dipandang sebagai penentu keberhasilan belajar. Pebelajar atau peserta didik adalah objek yang berperilaku sesuai dengan aturan, sehingga control belajar harus dipegang oleh sistem yang berada diluar diri pebelajar. Tujuan pembelajaran menurut teori behavioristik ditekankan pada penambahan pengetahuan, sedangkan belajar sebagi aktivitas “mimetic”, yang menuntut pebelajar untuk mengungkapkan kembali pengetahuan yang sudah dipelajari dalam bentuk laporan, kuis, atau tes. Penyajian isi atau materi pelajaran menekankan pada ketrampian yang terisolasi atau akumulasi fakta

mengikuti urutan dari bagian ke keseluruhan. Pembelajaran mengikuti urutan

(35)

BAB III PENUTUP

A. KESIMPULAN

Teori perkembangan adalah teori yang memfokuskan kepada

perubahan-perubahan dan perkembangan struktur jasmani (biologis), perilaku dan fungsi mental manusia dalam berbagai tahap kehidupannya, mulai dari konsepsi hingga menjelang kematian. Teori perkembangan sangat mempengaruhi perkembangan diri seorang individu, kalau baik perkembangan baiklah individu tersebut.

Teori perkembangan meliputi : 1. Teori Kognitif

2. Teori Psikososial 3. Teori Psikoanalitik 4. Teori Moral 5. Teori Behavior

B. SARAN

(36)

Daftar Pustaka

1. https://id.m.wikipedia.org/wiki/Teori_perkembangan_kognitif 2. https://id.m.wikipedia.org/wiki/Erik_Erikson

3. https://id.m.wikipedia.org/wiki/Psikoanalisis

4. https://id.m.wikipedia.org/wiki/Tahap_perkembangan_moral_Kohlberg 5. https://id.m.wikipedia.org/wiki/Teori_Belajar_Behavioristik

Referensi

Dokumen terkait