• Tidak ada hasil yang ditemukan

Mitos Mbah Bajing dalam Sastra Lisan Mas

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Mitos Mbah Bajing dalam Sastra Lisan Mas"

Copied!
32
0
0

Teks penuh

(1)

MITOS MBAH BAJING DALAM SASTRA LISAN MASYARAKAT DUSUN KECOPOKAN KECAMATAN SUMBERPUCUNG

KABUPATEN MALANG

SKRIPSI

OLEH

EGGY FAJAR ANDALAS NIM 309212416829

(2)

MITOS MBAH BAJING DALAM SASTRA LISAN MASYARAKAT DUSUN KECOPOKAN KECAMATAN SUMBERPUCUNG

KABUPATEN MALANG

SKRIPSI

Diajukan kepada Universitas Negeri Malang untuk memenuhi salah satu persyaratan

dalam menyelesaikan program Sarjana

Oleh Eggy Fajar Andalas NIM 309212416829

UNIVERSITAS NEGERI MALANG FAKULTAS SASTRA

JURUSAN SASTRA INDONESIA

(3)
(4)
(5)
(6)

ABSTRAK

Andalas, Eggy Fajar. 2014. Mitos Mbah Bajing Dalam Sastra Lisan Masyarakat Dusun Kecopokan Kecamatan Sumberpucung Kabupaten Malang. Skripsi, Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Roekhan, M.Pd, (II) Dwi Sulistyorini, S.S, M.Hum

Kata kunci: sastra lisan, mitos Mbah Bajing, strukturalisme Claude Levi Strauss. Mitos Mbah Bajing merupakan sastra lisan milik masyarakat Dusun Kecopokan, Kecamatan Sumberpucung, Kabupaten Malang. Keberadaan mitos Mbah Bajing dalam masyarakat Dusun Kecopokan telah menjadi bagian dalam kehidupan spiritual masyarakat di sana. Mbah Bajing dipercaya masyarakat Dusun Kecopokan sebagai orang sakti dari Keraton Mataram yang mendirikan Dusun Kecopokan. Dalam mitologi masyarakat Dusun Kecopokan diyakini bahwa makam Mbah Bajing yang berada di Dusun Kecopokan dapat digunakan sebagai media dalam meminta keberkahan dan safaat. Hal tersebut tidak lepas dari keberadaan cerita mengenai asal-usul Mbah Bajing yang ada di kalangan masyarakat Dusun Kecopokan. Cerita asal-usul Mbah Bajing berkisah mengenai perjalanan Mbah Bajing menuju wilayah Malang Selatan hingga babat alas di Dusun Kecopokan. Berdasarkan isi cerita dan pengakuan masyarakat terlihat adanya bentuk hubungan antara sastra lisan masyarakat Dusun Kecopokan mengenai Mbah Bajing dengan sastra lisan masyarakat Desa Wonosari, Gunung Kawi, mengenai Mbah Djoego. Untuk melihat konstruksi yang membangun cerita dan makna simbolis dari cerita masyarakat Dusun Kecopokan digunakan teori Struktural Antropologi Claude Levi Strauss. Dengan digunakannya teori Struktural Antropologi Claude Levi Strauss akan dapat mengungkapkan konstruksi yang membangun cerita dan makna simbolis dari konflik-konflik batiniah masyarakat Dusun Kecopokan dalam menjelaskan mitos mengenai Mbah Bajing yang hidup di Dusun Kecopokan yang tertuang lewat cerita Mbah Bajing. Penelitian ini secara rinci bertujuan untuk mendeskripsikan struktur permukaan cerita Mbah Bajing, dan mendeskripsikan struktur dalam cerita Mbah Bajing.

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Penelitian ini termasuk dalam jenis penelitian etnografi. Data penelitian ini berupa hasil wawancara yang diperoleh dari informan pewaris kebudayaan lisan dan hasil jawaban angket yang telah disebarkan kepada masyarakat Dusun Kecopokan. Pengumpulan data menggunakan teknik observasi, wawancara, dokumentasi, dan angket. Untuk mengecek keabsahan data digunakan triangulasi dan diskusi analitik yang dilakukan kepada rekan sejawat dan dosen pembimbing.

(7)

simbolisasi yang ada dalam cerita. Simbolisasi yang terdapat dalam cerita sebagai berikut.

Pertama, episode pertama dalam cerita Mbah Bajng melukiskan mengenai asal-usul Mbah Bajing serta peristiwa kedatangannya menuju wilayah Malang Selatan bersama tokoh lain yang bernama Mbah Djoego. Episode ini merupakan bentuk penjelasan simbolik masyarakat Dusun Kecopokan dalam menjelaskan hubungan historis antara Mbah Djogoe dan Mbah Bajing serta asal-usul garis keturunan para tokoh sehingga menjadi seseorang yang patut dianut dan dianggap memiliki kekuatan supranatural dalam mengabulkan hajat dan keselarasan yang ada di Dusun Kecopokan.

Kedua, pada episode dua terdapat bentuk simbolisasi yang ingin diungkapkan lewat cerita, yaitu bentuk simbolisasi dari jasa para tokoh dalam mendirikan desa atau dusun di kelima tempat dalam cerita dan bentuk penjelasan masyarakat Dusun Kecopokan dalam menjelaskan keberadaan dan asal-usul dusun mereka. Hal tersebut digunakan sebagai alasan yang mampu menjelaskan tokoh mitologis dalam cerita yang dianggap memiliki kekuatan supranatural, sehingga perlu dihormati dengan cara tertentu.

Ketiga, pada episode 3 terdapat bentuk simbolisasi terkait bentuk

pengulangan untuk mempertegas asal-asul mengenai Mbah Bajing dan keberadaan tokoh Dyah Ayu Compo yang dipercaya sebagai istri Mbah Bajing merupakan bentuk simbolisasi atas Dusun Kecopokan. Bentuk simbolisasi yang dimaksud adalah bentuk pengukuhan mengenai keyakinan pada Mbah Bajing sebagai tokoh yang babat alas dan mendirikan Dusun Kecopokan. Selain itu, peristiwa yang ada dalam episode 2 dan 3—penjelasan mengenai peristiwa babat alas yang dilakukan tokoh, tempat babat alas, dan latar belakang tokoh Mbah Bajing—difungsikan sebagai bentuk simbolisasi penguat mengenai mitos yang berkembang di masyarakat Dusun Kecopokan.

Jadi, secara keseluruhan cerita mengenai Mbah Bajing yang ada di kalangan masyarakat Dusun Kecopokan merupakan alat legitimasi masyarakat Dusun

Kecopokan dalam menjelaskan mitos mengenai Mbah Bajing yang hidup di Dusun Kecopokan. Lewat cerita Mbah Bajing, masyarakat ingin menunjukkan alasan logis yang ada dalam pikiran orang Jawa dalam memandang realitas kehidupan

berdasarkan kepercayaan masyarakat Jawa yang masih mengakar kuat dalam kehidupan masyarakat Dusun Kecopokan.

Berdasarkan pengungkapan struktur cerita Mbah Bajing diharapkan

terutama bagi masyarakat Dusun Kecopokan agar dapat lebih memaknai sastra lisan yang dimilikinya, dengan begitu masyarakat akan menjaga dan melestarikan

(8)

ABSTRACT

Andalas, Eggy Fajar. 2014. Mbah Bajing Myth in Oral Literature of Kecopokan Villagers in Sumberpucung Subdistrict of Malang. Thesis, Indonesian Literature Program, Faculty of Letter, The Learning University of Malang. Advisor: (I) Dr. Roekhan, M.Pd, (II) Dwi Sulistyorini, S.S, M.Hum

Key words: oral literature, Mbah Bajing myth, Claude Levi Straus structuralism Mbah Bajing Myth is an oral literature of Kecopokan villagers which is located in Sumberpucung, the subdistrict of Malang. The existence of Mbah Bajing myth has taken a part in their spiritual lives. The people believe that Mbah Bajing is a sacred person from Mataram Kingdom who has erected Kecopokan village. Based on Kecopokan villagers mythology, people believe that Mbah Bajing's tomb can be used as a media ask for bless. This is related to the story of Mbah Bajing's Origin at Kecopokan village which tells us about Mbah Bajing's journey to the southern Malang and his forest exploration in erecting Kecopokan village. Based on the story and the people's confession, the researcher found that there is a correlation between the oral literature of Kecopokan villagers about Mbah Bajing, and the oral literature of Wonosari villagers about Mbah Djoego. To find the story building construction and the symbolic meaning of the story about Mbah Bajing myth at Kecopokan, the researcher uses Claude Levi Straus theory on Structural

Anthropology. This theory is used to explain the story building construction and the symbolic meaning of people's spiritual conflict in explaining the Mbah Bajing myth who lived at Kecopokan based on the story of Mbah Bajing. The purpose of this research are to describe : the surface structure of Mbah Bajing story, and the deep structure of Mbah Bajing Story

This research uses descriptive method of qualitative approach. This research is included in ethnography research. The data of this research is in the form of oral interview result with a cultural heir informant and the result of questionnaire by Kecopokan villagers. The data collection uses observation technique , interview, documentation, and questionnaire. To validate the data, the researcher uses triangulation and analytic discussion which is done with friends and advisor.

The result of the research shows that the surface structure of Mbah Bajing story is built on 18 miteme and 9 ceriteme which build 3 episodes. Based on the three episodes which are gained from the outer structure of the story and the

ethnography data of Kecopokan villagers, the structure in the story especially about the symbolism in the story can be found. The symbolization are as followed.

First, the first episodes of Mbah Bajing story presents about Mbah Bajing origin and also his arrival event at the southern Malang with another figure named Mbah Djogoe. This episode represents the symbolical explanation of Kecopokan villagers in explaining the historic correlation between Mbah Djogoe and Mbah Bajing as well as their inherit line origins, till they can be sacred people with supranatural power to grant the wish and to harmonize Kecopokan village.

Second, there are two forms of symbolization represented in the second episode of the story, symbolization form of the figures' merit in erected the villages in the five places which are seen in the story, and the explanation form of

(9)

in the story who is believed with his supranatural power, thus is needed to be honored in special way.

Third, in the third episode, there are symbolization about the repeating form which clarifies Mbah Bajing's origin, and the existence of Dyah Ayu Compo as Mbah Bajing's wife is the symbolization form of Kecopokan village. In this matter, the symbolization form means the strengthening form of the belief in Mbah Bajing as the figure who explores the forest and erects Kecopokan village. Besides that, the events in second and third episode—the explanation about the forest exploration event which is done by Mbah Bajing, the explored place, and the background of Mbah Bajing—are functioned as the strengthener symbolization form about the myth in Kecopokan villagers.

So, over all the story of Mbah Bajing at Kecopokan village is the legitimation media of Kecopokan villagers in explaining Mbah Bajing myth. Through this story, the people want to show the logical reason of Javanese to see the reality of life based on the Javanese belief in Kecopokan villagers' life.

(10)

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT yang telah melimpahkan

rahmat, taufik, serta hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi

ini. Skripsi dengan judul Mitos Mbah Bajing Dalam Sastra Lisan Masyarakat Dusun Kecopokan Kecamatan Sumberpucung Kabupaten Malang ini diajukan untuk melengkapi salah satu persyaratan kelulusan program studi S1 Bahasa dan

Sastra Indonesia Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang.

Selain untuk melengkapi salah satu persyaratan kelulusan, penulisan

skripsi ini banyak memberikan manfaat kepada penulis baik dari segi akademik

maupun pengalaman secara pribadi dalam proses penelitian yang dilakukan di

lapangan.

Dalam proses penyelesaian skripsi ini, penulis banyak menemui halangan

dan rintangan, tetapi dengan banyaknya bantuan dan dukungan yang telah penulis

peroleh dari berbagai pihak maka skripsi ini dapat terselesaikan. Oleh karena itu,

dalam kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada:

1. Dr. Roekhan, M.Pd, dosen pembimbing I, yang telah memberikan pengarahan

dan bimbingan kepada penulis baik dalam pelaksanaan penelitian maupun

penulisan skripsi ini.

2. Dwi Sulistyorini. S.S, M.Hum, dosen pembimbing II, yang telah banyak

memberikan saran dan waktu dalam penulisan skripsi ini.

3. Prof. Dr. Dawud , M.Pd, Dekan Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang,

yang telah memberikan persetujuannya kepada penulis untuk melaksanakan

(11)

4. Prof. Dr.Suyono, M.Pd, Ketua Jurusan Sastra Indonesia, yang telah

memberikan persetujuannya kepada penulis untuk melaksanakan skripsi ini.

5. Bapak Nyoto, keturunan Mbah Bajing, yang telah memberikan informasi

mengenai data-data yang diperlukan dalam penelitian ini.

6. Bapak Abdul Saleh, sesepuh Dusun Kecopokan, yang telah memberikan

informasi mengenai data-data yang diperlukan dalam penelitian ini.

7. Kedua orang tua tercinta, Bapak Ir. Widyo Leksono dan Ibu Hartiningsih,

S.Pd yang selalu memberikan motivasi, doa, kasih sayang, dan dukungan

moril maupun materiil.

8. Kakak tercinta, Yudhistira Adi Prasetya, S.S dan Aditya Hendra Leksana, dan

adik tercinta drh. Radhian Fadiar Sahistya yang telah memberikan inspirasi,

motivasi, dukungan, dan semangat kepada penulis dalam menyelesaikan

skripsi ini.

9. Berbagai pihak yang tidak dapat disebutkan satu per satu.

Penulis menyadari skripsi ini masih jauh dari kata sempurna. Untuk itu,

kritik dan saran yang membangun sangat diharapkan oleh penulis. Semoga skripsi

ini membawa manfaat bagi semua.

Malang, 3 Mei 2014

(12)

DAFTAR ISI

BAB II METODE PENELITIAN 2.1 Pendekatan dan Jenis Penelitian ... 18

BAB III PAPARAN DATA DAN TEMUAN PENELITIAN 3.1 Ragam Versi Cerita Mbah Bajing ... 32

3.2 Struktur Permukaan Cerita Mbah Bajing ... 39

(13)

DAFTAR TABEL

Tabel Halaman

2.1 Instrumen Panduan Analisis Data ... 24

(14)

DAFTAR GAMBAR

Halaman

1.1 Struktur Sastra Lisan ... 7

3.1 Gapura Dusun Kecopokan ... 29

3.2 Makam Mbah Bajing atau Mbah Wonodipo ... 30

4.1 Jalinan Cerita Episode I ... 65

4.2 Jalinan Cerita Episode II ... 70

(15)

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman

1. Cerita Asal-Usul Mbah Bajing ... 93

2. Mitos Mbah Bajing Dalam Masyarakat Dusun Kecopokan ... 97

3. Daftar Pertanyaan Angket ... 99

4. Panduan Wawancara ... 105

5. Kodifikasi Data Penelitian ... 106

(16)

BAB I PENDAHULUAN

Pada bagian ini berturut-turut dipaparkan megenai (1) latar belakang, (2)

rumusan masalah, (3) landasan teori, dan (4) manfaat penelitian.

1.1 Latar Belakang

Bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar dengan keragaman

kebudayaan yang dimilikinya. Beragam suku, bahasa, dan kebudayaan yang ada

di setiap daerah menjadi ekspresi estetik tersendiri dan menjadi ciri pada setiap

kebudayaan masyarakat yang mengusungnya. Beragam jenis kebudayaan

diwariskan secara turun-temurun mulai zaman tradisi lisan—belum mengenal

tulisan—hingga masa tradisi tulis saat ini. Salah satu kebudayaan yang masih

mengakar dalam masyarakat Indonesia hingga kini yaitu sastra lisan mengenai

mitos orang-orang sakti pada zaman dahulu yang dianggap berjasa terhadap

kehidupan masyarakat pemiliknya.

Sastra lisan adalah kesusastraan yang mencakup ekspresi kesusastraan

warga suatu kebudayaan yang disebarkan dan diturunkan secara lisan (Hutomo,

1991:1). Sastra lisan merupakan salah satu bagian dari tradisi lisan. Salah satu

bentuk sastra lisan yaitu mite atau mitos. Mitos (mite) berasal dari bahasa Yunani

(17)

2

dipuja-puja (Hutomo, 1991:63). Mitos dianggap sebagai sebuah kisah yang

menceritakan orang suci di dalamnya. Sependapat dengan Hutomo, Bascom

mengungkapkan mitos sebagai cerita prosa rakyat yang dianggap benar-benar

terjadi serta dianggap suci oleh yang empunya cerita (Danandjaja, 2002:50).

Mitos ditokohi oleh seorang dewa atau setengah dewa.

Mitos di Indonesia dapat dibagi menjadi dua macam berdasarkan tempat

asalnya, yakni asli Indonesia dan yang berasal dari luar negeri, terutama dari

India, Arab, dan negara sekitar Laut Tengah (Danandjaja, 2002:51). Mitos di

Indonesia biasanya menceritakan terjadinya alam semesta (kosmogeni), yaitu

terjadinya susunan para dewa, terjadinya manusia pertama, tokoh pembawa

kebudayaan, dan lain sebagainya. Keberadaan mitos di Indonesia telah menjadi

bagian dalam kehidupan masyarakat kolektif pemilik mitos. Mitos menjadi

kepercayaan tersendiri yang diyakini kebenarannya oleh masyarakat pemiliknya.

Di Jawa Timur, khususnya Kabupaten Malang terdapat beragam mitos yang masih

hidup dalam masyarakat, salah satunya yaitu adanya kepercayaan masyarakat

Dusun Kecopokan mengenai orang sakti yang telah mendirikan Dusun

Kecopokan. Kepercayaan masyarakat tersebut didukung dengan adanya bukti

makam seseorang yang dikenal masyarakat dengan nama Mbah Bajing.

Berdasarkan pengamatan peneliti di lapangan, terdapat beberapa versi cerita yang

mengaitkan Mbah Bajing dengan Eyang Djoegoe (seorang ulama terkenal dari

keraton Surakarta dan juga merupakan pasukan Pangeran Dipenegoro) yang

dimakamkan di Pesarean Gunung Kawi, Desa Wonosari, Kabupaten Malang. Hal

(18)

3

Secara administratif, Dusun Kecopokan berada di bawah wilayah Desa

Senggreng, Kecamatan Sumberpucung, Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur.

Dusun Kecopokan berjarak ±40 km dari kota Malang. Sebelah Utara, Dusun

Kecopokan berbatasan dengan Desa Senggreng, sebelah Selatan berbatasan

dengan Desa Telogorejo, sebelah Barat berbatasan dengan Desa Sambi Gedhe,

dan sebelah Timur berbatasan dengan Dusun Rancah. Dusun Kecopokan terletak

di daerah terpencil yang masih jarang tersentuh oleh teknologi, sehingga

keberadaan sastra lisan yang ada masih utuh dan murni. Hal ini sesuai dengan

pernyataan Endraswara (2004:251), sastra lisan yang dikaji sebaiknya yang di

daerah terpencil karena di daerah yang demikian keberadaan sastra lisan relatif

utuh dan murni, sebab fasilitas teknologi dan mobilitas masyarakat pendukungnya

terbatas.

Atas dasar uraian di atas, akan sangat menarik untuk dikaji sastra lisan

masyarakat Dusun Kecopokan mengenai mitos Mbah Bajing yang hidup dalam

kehidupan masyarakat di sana. Hal tersebut diperkuat dengan belum pernah

dilakukannya penelitian atau pendokumentasian mengenai keberadaan mitos

Mbah Bajing. Teori yang sesuai untuk mengkaji mitos Mbah Bajing yaitu teori

Struktural Antropologi Claude Levi Strauss. Dengan digunakannya teori

Struktural Antropologi Claude Levi Strauss akan didapatkan struktur pembentuk

cerita dan relasi antarunsur pembentuknya untuk mengungkapan makna simbolis

dari konflik-konflik batiniah yang ada dalam masyarakat Dusun Kecopokan. Hal

tersebut sesuai dengan pendapat Levi Strauss yang menyatakan bahwa sebuah

dongeng seringkali juga merupakan sebuah ungkapan simbolis dari

(19)

4

mengelakkan, memindahkan, dan mengatasi kontradiksi-kontradiksi empiris yang

tak terpecahkan (Putra, 2006:186).

Penelitian yang relevan dengan penelitian ini, yaitu (1) penelitian Putra

(2006:183—249) mengenai kisah Pitoto’Si Muhamma’: Sebuah Dongeng Bajo, dan (2) penelitian yang dilakukan mahasiswa Universitas Negeri Malang,

Mustafidah (2013) . Pertama, penelitian Putra (2006:183—249) mengenai kisah

Pitoto’Si Muhamma’: Sebuah Dongeng Bajo dicetak dalam bentuk buku. Penelitian tersebut memaparkan langkah analisis struktural model Levi Strauss

terhadap mitos. Pada penelitian tersebut, Putra menerapkan cara analisis Levis

Strauss untuk mengungkapkan makna dari sebuah kisah yang berasal dari

kalangan orang Bajo. Lewat analisis yang dilakukan, Putra memperlihatkan

bahwa analisis struktural Levi Strauss dapat membantu menghadirkan makna dari

sebuah cerita dengan lebih baik. Kedua, penelitian yang dilakukan mahasiswa Universitas Negeri Malang, Mustafidah (2013). Penelitian berupa Skripsi tersebut

berjudul Legenda Sanggring di Desa Gumeno, Kecamatan Manyar, Kabupaten Gresik. Penelitian tersebut menggunakan teori struktural Levi Strauss untuk memaparkan tentang struktur narasi legenda Sanggring dan realitas (1) ekologis,

(2) ekonomi, (3) sosial-budaya, dan (4) mitos yang dipercaya masyarakat Desa

Gumeno. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, pengungkapan makna

mengenai ungkapan simbolisasi konflik batiniah masyarakat yang tertuang dalam

cerita belum dilakukan. Penelitian hanya pada pada tahap pengungkapan realitas

yang tersimpan dalam cerita tradisi Sanggring.

(20)

5

Tujuan penelitian diharapkan mampu mengungkapkan konstruksi yang

membangun cerita dan makna simbolis dari konflik-konflik batiniah masyarakat

Dusun Kecopokan dalam menjelaskan mitos mengenai Mbah Bajing yang hidup

di Dusun Kecopokan yang tertuang lewat cerita Mbah Bajing. Selain hal tersebut,

melalui pengungkapan hal itu diharapkan keberadaan cerita dapat dipertahankan

dan digunakan sebagai landasan dalam pengembangan kearifan lokal yang ada di

Indonesia.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat dirumuskan masalah

sebagai berikut.

1. Bagaimana struktur permukaan yang terdapat dalam cerita Mbah Bajing?

2. Bagaimana struktur-dalam yang terdapat dalam cerita Mbah Bajing?

1.3 Landasan Teori

Landasan teori yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari beberapa

macam teori. Teori-teori tersebut mencakup teori sastra lisan secara umum yang

kemudian dispesifikkan ke dalam langkah analisis mitos model struktural Levi

Strauss. Berikut landasan teori yang digunakan dalam penelitian ini.

1.3.1 Sastra Lisan

Sastra lisan merupakan warisan sastra yang diturunkan di dalam sebuah

tradisi lisan (Hutomo, 1991:16). Tradisi lisan adalah berbagai pengetahuan dan

(21)

6

hal-hal seperti cerita rakyat, mite, legenda yang menyimpan sistem kekerabatan

asli yang lengkap (Sudikan, 2001:13). Menurut Hutomo (1991:1), sastra lisan

adalah kesusastraan yang mencakup ekspresi kesusastraan warga suatu

kebudayaan yang disebarkan dan diturunkan secara lisan. Sastra lisan disebarkan

dari satu orang ke orang lain secara lisan kemudian prosesnya dilihat, didengar,

kemudian dilisankan kembali. Jadi, yang dilihat dalam tradisi lisan adalah proses

dan hasil melisankan. Menurut Hutomo (1991:3), sastra lisan memiliki ciri, yaitu

(1) penyebarannya dari mulut ke mulut, (2) lahir di dalam masyarakat yang masih

bercorak desa, masyarakat di luar kota, atau masyarakat yang belum mengenal

huruf, (3) menggambarkan ciri-ciri budaya masyarakatnya, (4) idak diketahui

pengarangnya, (5) bercorak puitis, teratur, dan berulang-ulang, (6) tidak

mementingkan fakta dan kebenaran, lebih menekankan pada aspek fantasi yang

tidak diterima masyarakat modern, (7) terdiri dari berbagai versi, dan (8)

menggunakan gaya bahasa lisan (sehari-hari), mengandung dialek, kadang-kadang

diucapkan tidak lengkap. Berdasarkan ciri di atas, Hutomo menyatakan bahwa

suatu tradisi lisan dapat dinyatakan sebagai sastra lisan apabila tradisi lisan

tersebut mengandung unsur-unsur estetik (keindahan) (Sudikan, 2001:14).

Keindahan yang dimaksud misalnya asonansi, aliterasi, perlambang, dan lain-lain

yang oleh masyarakat setempat dianggap sebagai suatu keindahan.

Menurut Hutomo (1991:60), ekspresi kesusasteraan yang terdapat dalam

sastra lisan dapat dibagi menjadi sastra lisan yang lisan (murni) dan sastra lisan

yang setengah lisan. Sastra lisan murni adalah sastra lisan yang benar-benar

(22)

7

puisi; nyanyian rakyat, tembang anak-anak, ungkapan tradisional, teka-teki, dan

lain-lain. Sastra lisan setengah lisan adalah sastra lisan yang penuturannya dibantu

oleh bentuk-bentuk seni lain (Hutomo,1991:61). Pada jenis sastra lisan ini, suatu

cerita tidak dituturkan begitu saja, tetapi dengan bantuan seni lain.

Struktur sastra lisan mempunyai gejala-gejala yang sangat kompleks.

Menurut Jason dan Segal, secara teoritis struktur sastra lisan mempunyai 4

tingkatan (Hutomo, 1991:30). Keempat tingkatan dalam struktur sastra lisan

seperti tampak pada gambar 1.1 berikut.

Gambar 1.1 Struktur Sastra Lisan

Berdasarkan gambar tersebut, dapat dijelaskan bahwa tingkat (a), yakni materi

bahasa yang erat hubungannya dengan linguistik. Tingkat (b) yakni tingkat jalinan

kata-kata yang mencakup bahasa dalam puisi, prosa, gaya sebuah genre,

kebudayaan atau aliran-aliran pencerita dan penyanyi, dan gaya yang aneh

perseorangan di dalam pertunjukan. Tingkat (c), yakni tingkat jalinan plot (alur)

cerita. Tingkat (d) yakni tingkat makna, dapat diperoleh dengan jalan dianalisis

(23)

8

sendiri. Pada tingkat (d) isi dan struktur teks dapat dibongkar dan dianalisis

maknanya, terutama di dalam keterikatannya satu sama lain.

1.3.2 Cerita Prosa Rakyat

Cerita prosa rakyat, menurut Hutomo (1991:60) termasuk ke dalam jenis

sastra lisan bergenre sastra lisan yang lisan (murni). Cerita prosa rakyat termasuk

ke dalam sastra lisan murni karena dalam proses penyampaiannya hanya melalui

kelisanan tanpa ada unsur lainnya. Dari beragam jenis sastra lisan murni, sastra

lisan berbentuk cerita prosa rakyat merupakan jenis sastra lisan yang banyak

diteliti oleh para ahli. Menurut William R. Bascom, cerita prosa rakyat dibagi ke

dalam tiga golongan besar, yaitu: (1) mite (myth), (2) legenda (legend), dan (3) dongeng (folktale) (Danandjaja, 2002:50).

Mitos. Mitos (mite) berasal dari bahasa Yunani mythos, berarti cerita, yakni tentang dewa-dewa dan pahlawan-pahlawan yang dipuja-puja (Hutomo,

1991:63). Mitos dianggap sebagai sebuah kisah yang menceritakan orang suci di

dalamnya. Sependapat dengan Hutomo, Bascom mengungkapkan mitos sebagai

cerita prosa rakyat yang dianggap benar-benar terjadi serta dianggap suci oleh

yang empunya cerita. Mitos ditokohi oleh seorang dewa atau setengah dewa

(Danandjaja, 2002:50).

Mitos di Indonesia dapat dibagi menjadi dua macam berdasarkan tempat

asalnya, yakni asli Indonesia dan yang berasal dari luar negeri, terutama dari

India, Arab, dan negara sekitar Laut Tengah (Danandjaja, 2002:51). Cerita yang

(24)

9

Indonesia biasanya menceritakan terjadinya alam semesta (kosmogeni), yaitu

terjadinya susunan para dewa, terjadinya manusia pertama, tokoh pembawa

kebudayaan, dan lain sebagainya.

Pengertian mitos dalam pandangan strukturalisme Levi-Strauss tidak sama

dengan pengertian yang digunakan dalam kajian mitologi. Mitos dalam

pandangan Levi-Strauss tidak harus dipertentangkan dengan sejarah atau

kenyataan, karena perbedaan makna dari dua konsep ini semakin sulit

dipertahankan dewasa ini (Putra, 2006:77). Perbedaan pandangan mengenai

kebenaran suatu cerita yang ada pada suatu kelompok belum tentu dipandang

sama oleh kelompok lain. Mitos juga bukan merupakan kisah suci, karena sebuah

cerita yang dianggap suci dalam suatu kelompok belum tentu dianggap suci juga

oleh kelompok lain. Oleh karena itu, menurut Putra (2006:77) mitos dalam

konteks strukturalisme Levi-Strauss tidak lain adalah dongeng.

Mitos atau dongeng merupakan sebuah kisah hasil imajinasi manusia yang

terkadang berasal dari apa yang ada dalam kehidupan manusia. Oleh karena itu,

sebuah mitos atau dongeng seringkali tidak hanya merupakan sebuah dongeng

tanpa arti, tetapi lebih dari itu. Menurut pandangan Levi-Strauss, mitos merupakan

ekspresi atau perwujudan dari unconscious wishes, keinginan-keinginan yang tak disadari, yang sedikit banyak tidak konsisten, tidak sesuai, tidak klop dengan kenyataan sehari-hari. Mitos berada dalam dua waktu sekaligus, yaitu waktu yang

bisa berbalik dan waktu yang tidak bisa berbalik. Pola-pola tertentu yang

diungkapkan dalam mitos bersifat timeless, tidak terikat oleh waktu. Pola yang terdapat dalam mitos dapat menjelaskan apa yang sedang terjadi sekarang dan apa

(25)

10

Mitos yang berkembang dalam suatu masyarakat memiliki ciri yang

berbeda dengan mitos yang ada dalam kalangan masyarakat lainnya. Ciri mitos

yang muncul dalam suatu masyarakat akan menyesuaikan bentuknya sesuai

dengan kebudayaan tempat mitos itu hidup. Ciri mitos yang berkembang dalam

kehidupan orang Jawa menurut Endraswara (2010: 193—194) adalah (1) mitos

sering memiliki sifat suci atau sakral, karenanya sering dikaitkan dengan tokoh

yang sering dipuja, (2) mitos hanya dapat dijumpai dalam dunia mistis dan bukan

dalam dunia kehidupan sehari-hari atau pada masa lampau yang nyata, (3) banyak

mitos di Jawa yang menunjuk pada kejadian-kejadian penting, dan (4) kebenaran

mitos tidak penting, sebab cakrawala dan zaman mitos tidak terikat pada

kemungkinan-kemungkinan dan batas-batas dunia nyata ini.

Pada masyarakat Jawa, mitos juga kadang-kadang merupakan bagian dari

tadisi yang dapat mengungkap asal-usul dunia atau suatu kosmis tertentu. Ragam

mitos di Jawa menurut Endraswara (2010:194—195) ada empat, yaitu (1) gugon

tuhon, yaitu larangan-larangan tertentu jika dilanggar akan menerima akibatnya,

(2) bayangan asosiatif, mitos ini muncul dalam dunia mimpi, (3) mitos berupa

dongeng, legenda, dan cerita-cerita, dan (4) mitos berupa sirikan (harus dihindari).

Legenda. Menurut Hutomo (1991:64) dan Danandjaja (2002:66), legenda adalah cerita-cerita yang oleh masyarakat yang mempunyai cerita-cerita tersebut

dianggap sebagai peristiwa sejarah. Perbedaan legenda dengan mitos adalah

legenda terjadi pada masa yang belum begitu lampau, bersifat keduniawian, dan

bertempat di dunia yang kita kenal. Legenda sering disamakan dengan sejarah

(26)

11

aslinya (Danandjaja, 2002:66). Legenda mirip dengan mitos, dianggap

benar-benar terjadi, tetapi tidak dianggap suci.

Legenda bersifat migratoris, yakni dapat berpindah-pindah, sehingga

dikenal luas di daerah-daerah yang berbeda (Danandjaja, 2002:66). Sebuah

legenda yang ada pada suatu daerah dapat tersebar ke berbagai daerah dan

acapkali tersebar dalam bentuk sekelompok cerita yang berkisar pada suatu tokoh

atau kejadian yang hampir sama. Jan Harold Brunvard, menggolongkan legenda

menjadi empat kelompok, yaitu (1) legenda keagamaan, (2) legenda alam gaib, (3)

legenda perseorangan, dan (4) legenda setempat (Danandjaja, 2002:67).

Pertama, legenda keagamaan berkisah mengenai orang-orang suci. Di Jawa, cerita legenda keagamaan yang masih dikenal hingga saat ini seperti cerita

mengenai Wali Songo, ataupun legenda mengenai penyebar agama di tanah Jawa lainnya. Kedua, legenda alam gaib berkisah mengenai suatu kejadian yang dianggap benar-benar terjadi dan pernah dialami oleh seseorang. Cerita-cerita

mengenai pengalaman seseorang dengan makhluk gaib, seperti hantu, siluman,

dan lain-lain merupakan jenis cerita yang termasuk ke dalam legenda alam gaib.

Menurut Danandjaja (2002:71), fungsi legenda ini adalah untuk meneguhkan

kebenaran tahayul atau kepercayaan masyarakat. Ketiga, legenda perseorangan adalah cerita mengenai tokoh tertentu yang dianggap pernah terjadi. Cerita yang

termasuk dalam legenda perseorangan misalnya cerita mengenai Patih Gajah Mada, legenda Jayaprana dari Bali, dan lain-lain. Keempat, legenda setempat adalah cerita yang mengisahkan mengenai suatu tempat, nama tempat, dan bentuk

(27)

12

dijumpai di Indonesia, seperti kisah Tangkuban Perahu, Tengger di Bromo, dan lain-lain.

Dongeng. Dongeng adalah cerita pendek kolektif kesusastraan lisan yang dianggap tidak benar-benar terjadi (Danandjaja, 2002:83). Dongeng biasanya

difungsikan sebagai hiburan, meskipun ada beberapa yang menceritakan

kebenaran maupun pelajaran moral. Seperti halnya mitos dan legenda, dongeng

juga mempunyai unsur-unsur cerita yang terdapat di daerah-daerah lain yang

letaknya berjauhan. Anti Aarne dan Stith Thompson membagi jenis dongeng

dalam empat golongan besar, yaitu (1) dongeng binatang, (2) dongeng biasa, (3)

lelucon dan anekdot, dan (4) dongeng berumus (Danandjaja, 2002:86).

Pertama, dongeng binatang adalah dongeng yang ditokohi oleh seekor binatang. Jenis cerita ini biasa disebut dengan fabel. Binatang-binatang dalam

cerita biasanya digambarkan bertingkah laku seperti manusia, dapat berbicara,

bertindak, dan berakal. Kedua, dongeng biasa adalah jenis dongeng yang ditokohi oleh manusia. Kisah yang disajikan biasanya berisi kisah suka duka seseorang.

Seperti halnya dalam legenda, banyak ditemukan dongeng-dongeng yang mirip di

sejumlah negara, seperti motif yang terdapat dalam dongeng Cinderela dan Ande-Ande Lumut yang ada di Indonesia (Danandjaja, 2002:100). Ketiga, dongeng lelucon atau anekdot adalah dongeng-dongeng yang menimbulkan rasa

menggelikan hati, sehingga menimbulkan tawa bagi yang mendengarnya maupun

yang menceritakannya (Danandjaja, 2002:117). Anekdot dapat dikatakan sebagai

bagian dari riwayat hidup fiktif pribadi tertentu yang diceritakan, sedangkan

(28)

13

pengulangan. Dongeng berumus memiliki beberapa sub-bentuk, yakni dongeng

bertimbun banyak, dongeng mempermainkan orang, dan dongeng yang tidak

mempunyai akhir (Danandjaja, 2002:139).

Cerita prosa rakyat merupakan salah satu jenis sastra lisan. Sebagai bentuk

sastra lisan, cerita prosa rakyat memiliki fungsi tertentu. Menurut William R

Bascom, fungsi sastra lisan yaitu, (1) sebagai sebuah bentuk hiburan, (2) sebagai

alat pengesahan pranata-pranata dan lembaga kebudayaan, (3) sebagai alat

pendidikan anak, dan (4) sebagai alat pemaksa dan pengawas agar norma-norma

masyarakat selalui dipatuhi anggota kolektifnya (Sudikan, 2001:109).

1.3.3 Strukturalisme Claude Levi-Strauss

Menurut Levi Strauss, analisis mitos haruslah berlangsung seperti pada

analisis bahasa, karena dalam sebuah mitos tidaklah terkandung sebuah arti seperti

halnya dalam bahasa, namun arti tersebut baru akan muncul bila unsur-unsur

tersebut bergabung membentuk suatu unsur. Mite mengandung semacam amanat

yang dikodekan dan tugas penganalisis ialah menemukan dan mengurai kode itu

serta menyingkapkan amanatnya (Sudikan, 2001:31). Pada stukturalisme Levi

Strauss, proses penganalisisan dilakukan pada tingkat “makna” (Hutomo,

1991:29). Bila merujuk pada tingkatan struktur sastra lisan, proses analisis pada

tingkat makna merupakan tingkatan tertinggi dalam proses analisis struktur

sebuah sastra lisan.

Terdapat beberapa landasan yang digunakan Levi Strauss dalam

menganalisis suatu mitos. Landasan analisis struktural Levi Strauss (Putra,

(29)

14

Jika mitos dipandang sebagai sesuatu yang bermakna, maka makna ini tidaklah terdapat pada unsur-unsurnya yang berdiri sendiri, terpisah satu dengan yang lain, namun unsur tersebut dikombinasikan satu dengan yang lain. Cara mengkombinasikan unsur mitos inilah yang menjadi tempat bersemayamnya makna. Walaupun mitos termasuk dalam kategori ‘bahasa’, namun mitos bukanlah sekadar bahasa. Bahasa mitos memperlihatkan ciri-ciri tertentu yang lain lagi. Ciri-ciri tersebut dapat ditemukan bukan pada tingkat bahasa, melainkan di atasnya. Ciri ini lebih kompleks dan rumit dari ciri bahasa ataupun ciri pada wujud kebahasaannya.

Jadi, dalam pandangan Levi Strauss mitos merupakan gejala kebahasaan

yang berbeda dengan gejala kebahasaan dalam linguistik. Mitos memiliki tata

bahasanya sendiri. Untuk mengungkapkan tata bahasa tersebut, metode yang

digunakan dalam analisis struktural Levi Strauss yaitu dengan menganalisis unsur

terkecil dari bahasa mitos, yaitu miteme (mytheme) kemudian menyusun miteme tersebut secara sintagmatis dan paradigmatis.

Miteme munurut Levi Strauss, yaitu unsur-unsur dalam konstruksi wacana

mistis yang juga merupakan satuan-satuan yang bersifat kosokbali, relatif, dan

negatif (Putra, 2006:94). Untuk menentukan miteme dalam sebuah mitos sebuah

cerita dipenggal menjadi segmen-segmen. Setiap segmen tersebut haruslah

memperlihatkan relasi antarindividu atau menunjuk status dari individu-individu

yang merupakan tokoh dalam persitiwa tersebut. Segmen inilah yang disebut oleh

Levi Strauss sebagai miteme. Setiap segmen atau episode umumnya berisi

deskripsi tentang tindakan atau persitiwa yang dialami oleh tokoh-tokoh dalam

cerita. Tindakan atau peristiwa yang merupakan miteme hanya dapat ditemukan

pada tingkat kalimat.

Dengan tetap berpegang pada teori strukturalisme Levi Strauss, Putra

(2006:205) menggunakan istilah cireteme dalam penentuan segmen sebuah cerita.

(30)

15

miteme hanya dapat diketahui maknanya atau pengertiannya setelah ditempatkan

dalam hubungan dengan ceriteme-ceriteme yang lain. Kumpulan ceriteme akan

membentuk episode-episode yang juga akan baru jelas maknanya setelah

dihubungkan dengan episode yang lain.

Setelah miteme atau ceriteme ditemukan, miteme atau ceriteme disusun

secara sintagmatis dan paradigmatis. Miteme yang telah ditemukan dituliskan

pada sebuah kartu indeks atau tabel yang masing-masing diberi nomor sesuai

dengan urutannya dalam cerita. Dari susunan tersebutlah akan terlihat subyek

yang melakukan fungsi tertentu, dan hal tersebutlah yang dinamakan sebagai

relasi. Unit-unit yang kemudian harus dianalisis lebih lanjut adalah kumpulan

relasi-relasi tersebut.

Meskipun begitu, menurut Putra (2006:207), berbagai oposisi antartokoh

satu dengan yang lain tidak akan begitu banyak artinya bagi pemahaman dan tafsir

kecuali jika dapat menempatkanya dalam hubungan dengan oposisi-oposisi lain

yang berasal dari data etnografis. Setelah tahapan tersebut dilakukan, maka akan

didapatkan hasil yang lebih komprehensif, utuh, dan meyeluruh. Dari hal

tersebutlah akan dapat ditarik kesimpulan mengenai posisi dan peran cerita dalam

kehidupan masyarakat pendukungnya.

1.3.4 Etnografi

Jenis penelitian yang digunakan dalam menjawab rumusan-rumusan

masalah dalam penelitian ini adalah etnografi. Etnografi berarti tulisan atau

laporan tentang suatu suku bangsa yang ditulis oleh seorang antropolog atas hasil

(31)

16

1979:vii). Etnografi berusaha untuk mendeskripsikan kebudayaan suatu suku

bangsa yang ada melalui pelukisan suku bangsa tersebut melalui metode-metode

dalam ilmu etnografi. Spradley (1979:xii) memaparkan bagaimana metode

etnografi bekerja sebagai berikut.

Dalam etnografi, bentuk sosial dan budaya masyarakat dibangun dan dideskripsikan melalui analisis dan nalar sang peneliti. Struktur sosial dan budaya yang dideskripsikan adalah struktur sosial dan budaya masyarakat tersebut menurut interpretasi sang peneliti. Tugas sang peneliti adalah mengoreknya keluar dari pikiran mereka. Cara mengoreknya dan mendeskripsikan pola yang ada dalam pikiran manusia itu adalah khas, yaitu melalui metode-metode dalam etnografi.

Pada dasarnya, etnografi menjelaskan pola-pola kelakuan seperti

adat-istiadat, perkawinan, struktur kekerabatan, sistem politik, ekonomi, agama,

cerita-cerita rakyat, kesenian dan musik, dan bagaimana perbedaan di antara pola-pola

itu dalam berbagai masyarakat pada masa kini (Ihromi, 2006:10). Adat-istiadat

atau kebudayaan dalam perspektif teori etnografi merupakan sumber yang penting

dalam memahami suatu masyarakat yang diteliti. Spradley (1979:13—18)

memaparkan tujuan seorang etnografer mengumpulkan informasi yaitu (1)

menginformasikan teori-toeri kebudayaan, (2) menemukan grounded theory, (3) memahami masyarakat yang kompleks, dan (4) memahami perilaku manusia.

Penekanan pada etnografi yaitu pada studi mengenai keseluruhan budaya.

Pendekatan etnografis secara umum menekankan pengamatan berperan serta

sebagai bagian dari penelitian lapangan (Moleong, 2014:26). Berdasarkan

pendapat para ahli tersebut dapat disimpulkan, etnografi adalah penelitian

mengenai kebudayaan suatu masyarakat yang dilakukan secara langsung di

(32)

17

1.4 Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi penentu kebijakan,

rekomendasi peneliti lain, dan pendukung sastra lisan. Adapun manfaat yang lebih

nyata yaitu (1) penentu kebijakan dalam hal ini yaitu pemerintah, khususnya

Kemendikbud dalam menata strategi kebudayaan dapat lebih memperhatikan

kebudayaan lisan daerah, khususnya sastra lisan dalam wujud adanya perhatian

lebih pada pendokumentasian dan pelestarian pada kebudayaan lisan di Indonesia,

(2) penelitian ini terfokus pada aspek kesusastraan, sehingga dimungkinkan bagi

peneliti dari disiplin ilmu lain untuk mengkaji dari aspek lain, seperti bidang

antropologi maupun sejarah, dan (3) sastra lisan yang ada di Dusun Kecopokan

merupakan bagian dari khasanah kebudayaan lisan yang ada di Indonesia yang

perlu dijaga keberadaannya, sehingga bagi masyarakat pendukungnya dapat

dipandang sebagai bentuk pelestarian terhadap kebudayaan lisan dan menambah

Gambar

Gambar 1.1 Struktur Sastra Lisan

Referensi

Dokumen terkait