MITOS AIR "NYAI ANDAN SARI DAN KYAI GURU SOKA"
(CERITA RAKYAT KABUPATEN GUNUNGKIDUL)-)
Dhanu PriYo Prabowo
Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta
Pos-el
:
dhanupriy op r ab ow o@y qhoo' co'i dInti Sari
Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan mitos "Nyai Andan sari darlKyai Guru Soka" ' Mitos
itu
berasalarri
firU"paten Gun"un{tidrt,
Provinsi baerah Istimewa,Yogyaka.rta' Mitos itumengandung makna slmbol proyeksipikiran manusia tentang air' Di daldm mitos ini dikemukan bahwa di Gunungkidott"rauput'al sendang (mata air). simbol air di dalam mitos memiliki makna yang tersembunyi di tengah kebudayaan misyarakat pendukungnya. Air menjadi simbol manusia (Dawung, Play"ru crourigtidul) untuk
m.*p*t
ult i t"adaan hidupnya supaya lepas dari himpitan kemiskinan.y*g Jip"rgtilrt
ur, ai aulam penelitian ini adalah strukturalisme Levi-Strauss' Teori ini didasarkan atas asumsi-asumsi bahwa miios "Nyai Andan Sari dan Kyai Guru_Soka" mengandung maknatertentu da,.,selagui fenomenaber-akna, mitos "Nyai AndanSari danKyaiGuruSoka" baru dapat dipahami makna?an pesannya jika di dalamnya-diketahui struktur dan makna berbagai elemennya. SerruiJ".rgun teorl yang difakai, penetitian ini mempergunakan metode struktur' Kata kunci: miskin, perubahary air, mitos,proyekslpikiran
'1Abstract
Tltisstudy aims toreoealthemythof "NyaiAndnnsni nndl(yniGuru sokn" 'ThemythisfromGunungkidul' Daerahlstim*ovogyilroitoirorinrr.in ttismythicnl.itis iatud thatinGunungkidttl there nre 3'LThemyth implies projection symbol meaning of the human mind on the water springs' Nater symbol in the mythical symbol has hiddenkraning in cuitiral.community of sup-porters'.Jtte theory used in this researdr is Lwi-
strauss,s structuralism.Thiswaterharbrroi, orykiot
ojir*on
@awung, Playen, Gunung) toimproae the state of lrislife in o,r:der to escnpe tlrc crushi7p*irty Tioi
theory isbased on tlrc assumption that the myth"Andan Nyai Sari and Kyai Guru Soka"
ihni"
iertnin meaniig, nnd ns a menningful phenomenon' The meaning andthr*rrsig,i
AndanNyai S-ai andKyniGur.u Sokcr".myth can onlybe understoodif the structure andmeaningof theaar-ious elements areknown.li nccordanceuithilrc tlrcory in this research, this study uses structuremethod.Keyw ords: pooerty, change, watet, my th, mind-proj ectio rr
1. Pendahuluan karena kearifan lokai
mengandung,'masalah
Khazanah cerita rakyat di Indonesia meru-
dan solusi yang berkaitan dengan kehidupan
pakan produk budaya yang menyimpan nilai-
manusia yang selaras dengan lingkungannya'
nilai budaya kelokalan. Nilai-nilai b"d;;;;- Koei!-laningrat
(1980:204) menjelaskan bah-
kalan itu berkaitan
dengankearlfarll;;, wa sistem niiai budaya merupakan tingkat I
Makalah ini telah dipresentasikan pada kegiatan Diskusi Ilmiah Kebahasaan dan Kesastraan, tanggal 29 september-
1 Oktober 201,4 di Hotel Arjuna, Yogyakarta'
1
Naskah masuk tanggal 3 Oktober ZO'i+. Saitor, Dr' Restu Sukesti, M'Hum' Editi 27-30 Oktober 2014'Mitos Air ,,Nyai Andan Sari dan Kyai Guru Soka" (Cerita Rakyat Kabupaten Gunungkidul) 153
yang paling tinggi dan paling abstrak dari adat- istiadat. Hal itu merupakan konsep-konsep me- ngenai apa yang hidup dalam alam pikiran se-
bagian besar
dari warga
suatu masyarakat.Nilai-nilai
budaya terwujuddi
dalam berbagai konsep tentang apa yang mereka anggap berni-lai,
berharga, danpenting
dalamhidup,
se- hingga dapat berfungsi sebagai suatu pedoman yang memberi arah dan orientasi kepada ke-hidupan
para warga masyarakat tadi.Ahimsa-Putra (2008:2) menyatakan bah-
wa
kearifanlokal perlu
mendapat perhatian yanglebih
besardipicu,
antaralain, oleh
(1)wacana global tentang kegagalan pembangun-
an di
negara-negaradunia
ketiga, (2) mero- sotnya kualitas lingkungan alam, (3) semakin cepatnya kepunahan pengetahuan-pengetahu- an yang menjadi basis adaptasi berbagai ko- munitas lokal, dan (4) romantisme budaya dan kebutuhan akan adanyajatidiri di
tengah arus globalisasi. Keempat kenyataan yang memicu munculnya perhatian terhadap kearifan lokalitu
menunjukkan bahwa perubahan yang ter-jadi di
tengah masyarakat, terutamadi
dunia ketiga, tidak dapat diabaikan. Oleh karena itu, cerita rakyat sebagai salah satu produk budaya yang menyimpan khazanah kearifan lokal pen- tinguntuk
diperhatikan danditeliti.
Berdasar- kan pernyataan itu, cerita rakyat yang ditemu- kandi
daerah-daerah tertentu di Indonesia di- asumsikan memiliki kekhasan yang dapat me-nunjukkan jatidiri
dan fenomena yangunik,
yang mungkin tidak ditemukan di daerah lain.Cerita rakyat
di
Daerah Istimewa Yogya- karta, khususnya yang terdapatdi
Kabupaten Gunungkidul, perluuntuk diteliti
karena ber- dasarkan cerita-ceritayang dipakai
sebagai sampel penelitianini
bercerita mengenai alamlingkungan
dan adat-istiadat masyarakatnya, Cerita rakyat yangdipilih itu
mengungkapkan bawah sadar masyarakat pendukungnya me- ngenai air. Kekuranganair di
Kabupaten Gu- nungkidul menjadi sebuah permasalahan yangmuncul
sejak dahulu. Oleh karenaitu,
kebu-tuhan terhadap air selalu menjadi perbin-
cangan di tengah kehidupan masyarakat di ka- bupaten tersebut. Cerita-cerita rakyat yang ber-
hubungan
denganair jumlahnya cukup
ba- nyak. Memang,tidak
semua daerahdi
Kabu- paten Gunungkidul mengalami masalah keku- rangan air, misalnya kecamatan Ponjong, Ka- rangmaja, Playen.Walaupun
daerah-daerahitu termasuk surplus air, tetapi
kisah-kisah yang berkaitan dengan air tetap menjaditopik
utama cerita rakyat di sana. Kenyataan itu tam- paknya sangat berkaitan secara umum dengan daerah-daerah
di Kabupaten Gunungkidul yang kekurangan air pada
zarnat:.dahulu.
Akan tetapi, saat inf'boleh dikatakan
di
kabu- paten tersebut sebagian besar sudah tercukupikebutuhan airnya. Tercukupinya
kebutuhan airitu
karena banyak sumber-sumber atau ma- ta air bawah tanah telah ditemukan dan disa- lurkan ke banyak tempat/desa dengan tekno-logi
pengoboran. Walaupun telah terjadi per- ubahan mengenai kekurangan air, kisah-kisah masalalu
mengenai persoalan air tetap diaba-dikan di
cialamcerita rakyat. Danandjaja
(1991.:L63) mengatakan suatu bentuk foklor (ce-
rita
rakyat) akan terushidup
apabila ia masih mempunyai fungsi terhadap masyarakat pen- dukugnya. Perubahandi
beberapa tempatdi Gunungkidul yang dulunya
kekurangan air menjadi kecukupan air tidak mematikan fung- si cerita rakyatdi
tengah kehidupan masyara- katdi
kabupeten tersebut.Cerita-cerita rakyat yang berkaitan dengan
air di
KabupatenGunungkidul itu,
misalnya, tampak pada sampel cerita rakyat yang diper- gunakandi
dalam penelitianini, yaitu "Nyai
Andan Sari dan Kyai Guru Soka"di
Desa Da-wung/
KecamatanPlayen, Kabupaten
Gu- nungkidul.Dilihat
dari jenisnya, cerita rakyatitu
da- pat dirumuskan sebagai mitos. Mitos tersebut diambil sebagai sampel penelitianini
(di antara cerita rakyat dari Gunungkidul lainnya), karena diasumsikan (berdasarkan pengamatan awal)memiliki
kekhasanyang
dapar menjelaskan simbol proyeksipikiran
manusia tentang airL54
Widyapanrui, Volume 42, Nomor 2, Desember 2014masyarakat
Gunungkidul, khususnya
yang beradadi
Desa Dawung, Playen. Mitos"Nyai Andan
Sari danKyai Guru
Soka"ini
berasaldari
wawancara (10Mei
201,4) dengan nara- sumber BapakNgatimin
(guru SMP), Ngunut, Playen, Gunungkidul.Sebagai cerita rakyat, mitos
"Nyai
Andan Sari danKyai
Guru Soka"memiliki ciri
khas(lihat
Danandja, 1984:3-5). Pertama, penye- barannya dan pewarisannya dilakukan secara lisan. Kedua, bersifat tradisional atau disebar- kan dalam bentuk relatif tetap atau dalam ben-tuk
standar, serta tersebardi kolektif
tertentu (Kabupaten Gunungkidul) dalamwaktu
yang cukup iama. Ketiga, keberadaannya dalam ber- bagai versi danvarian
serta bersifat anonim.Keempat,
memiliki
pola berumus (berkait de- ngan kehadiran tokoh-tokoh sejarah yangdi- hormati).
Kelima,memiliki
kegunaan dalam kehidupan bermasyarakatkolektif
tertentudi wilayah
KabupatenGunungkidul.
Keenam, bersifat tidak logis (memiliki logika tradisionalyang tidak
sesuaidengan logika
modern).Ketujuh, menjadi
milik
bersama (kolektif) darikoletif
tertentu. Kedelapan, bersifat polos danlugu
sehingga memberi kesan 'kasar', karena kespontanannya dan merupakan simbol pro- yeksi emosi/pikiran manusia yang palingjujur
manifestasinya(lihat Honko,
1984:47; Inglis, 1988:16;van
Peurs en, 197 6:36).Mitos "Nyai Andan
Sari danKyai
Guru Soka" sebagai simbol proyeksi pikiran manusia merupakan fenomena bermakna yang menarikuntuk diteliti. Air di
dalam mitos tersebut me-miliki
makna yang tersembunyidi
tengah ke- budayaan masyarakat pendukungnya.Untuk itu, permasalahan utama ialah
bagaimana makna mitosair "Nyai Andan
Sari dan KyaiGuru
Soka" sebagaisimbol
proyeksipikiran'
manusia
di
Desa Dawung, Playen, Kabupaten Gunungkidul? Dengan demikiarypenelitianini
bertujuan untuk mengungkapkan makna mitos air"Nyai
Andan Sari dan Kyai Guru Soka" se- bagai simbol proyeksi pikiran manusia di Desa Dawung, Playen, Kabupaten Gunungkidul.2. Teori
dan MetodeMenurut Levi-Strauss
(1963:209)mitos
adalah sama dengan bahasa. Bahasa adalah sebuah media, alat, saranauntuk
berkomuni- kasi; untuk menyampaikan pesan dariindividu
keindividu
lain, dari kelompok yang satu ke- pada kelompok yang lain. Oleh karena itu, mi- tos mengandung pesan-pesan yang terungkapdi
dalam penceritaan. Seperti bahasa yang me- ngandung aspek langue danparole. Bagi Levi- Strauss, mitosmemiliki
dua aspek langue dan parole. Langueadalah struktur
kebahasaan yangrelatif
tetap dantidak
terpengaruh oleh tuturan-tuturan inditr.idual. Oleh karena itu, la- ngue berada dalamwaktu yang terbalik
(re- versibletinte)
sehingga langueterlepas dari
perangkapwaktu
yang diakronis. Sebaliknya, parole sebagai bahasa yang digunakanindividu
pada saat tertentu berada dalamwaktu
yangtidak
dapatdibalik
(non-reaersible time). Mitos berada di dalam waktu tersebut: di satu sisi mi- tos menunjukkan pada peristiwa-peristiwadi
masa lampau; tetapi
di
sisi lain lain, mitos me-nampilkan pola-pila relasi yang tetap
ada sampai sekarang.Model analisis struktural Levi-Strauss dida- sarkan atas asumsi-asumsi bahwa mitos
"Nyai
Andan Sari dan Kyai Guru Soka" mengandung makna tertentu, dan (2) sebagai fenomena ber- makna, mitos "Nyai Andan Sari dan Kyai Guru Soka" baru dapat dipahami makna dan pesan- nyajika di
dalamnyadiketahui struktur
dan makna berbagai elemennya (Putra, 1995:3-4).Pada (1) mitos dipahami sebagai
"mimpi kolektif".
Sebagai"mimpi
kolektif","Nyai
An- dan Sari dan Kyai Guru Soka" perlu dianalisis agar dapat diungkapkan makna-makna kolek-tifnya.
Dengandiungkapkannya
makna ko- lektif di dalam"Nyai
Andan Sari dan Kyai Gu-tu
Soka", maka akan diketahui pula persoalan- persoalan sosialdi
dalam mitos tersebut.Pada (2) mitos
"Nyai
Andan Sari dan Kyai Guru Soka" dipahami sebagai fenomena keba- hasaan. Oleh karenaitu,
relasi antarelemendi
dalam struktur cerita-cerita rakvat tersebut ha-Mitos Air "NyaiAndan Sari dan Kyai Guru Soka" (Cerita Rakyat Kabupaten Gunungkidul) 155
rus dianalisis sebagaimana fenomena kebaha- saan.
Menurut Troubestkoy
(Levi-Strauss, 1963:33) analisis struktur dalamlinguistik
(ke- bahasaan)mengikuti empat langkah
dasar,yaitu
(1)linguistik
strukturaltidak
lagi mem- pelajari gejala bahasa pada tingkat yang disa- dari (concious linguistic phenomena), tetapi ber- pindah ke infrastruktur yang beradadi
bawah sadar (unconcious infrastructure); (2) cara ana- lisis strukturaltidak
lagi memperlakukan isti-lah-istilah
(terms) sebagai satu-satuan yangberdiri
sendiri, tetapi memandangnya dalamhubungan-hubungan
dengan satuan-satuanyang lain,
dan hubunganantaristilah inilah yang dijadikan titik pangkal
analisis; (3)Ii-
nguistik struktural menggunakan konsep sistem karena dalam ilmu fonemik moderry fonem-fo- nem tidak hanya dianggap sebagian dari suatu sistem saja, bahkanilmu
tersebut mampu me-nunjukkan
sistemfonemik yang nyata
dan membentangkanstrukturnya;
(4)linguistik
struktural juga bertujuan mengungkapkan da-lil-dalil
umum/ baik melaluiinduksi
maupun deduksi logis, dan dari sana dalil-dalil tersebut akan memperoleh sifat absolutnya.Hubungan antarunsur tadi juga
tidak
da- pat dipisahkan dari konsep mengenai struktur sosial, yang merupakan salah satu konsep po- koknya yang harus diketahui jika ingin mema- hami analisis-analisisnya. Selanjutnya diterang- kan, bagi Levi-Strauss, struktur sosial tidak ada hubungannya sama sekali dengan kenyataan empiris. Struktural adalah model-model yang dibuat berdasarkan atas kenyataan yangdili-
hatnya, yaitu hubungan-hubungan sosial yang tampak, yang dapat diamati."Nyai Andan
Sari danKyai Guru
Soka"merupakan
sebagaimedia untuk
mengem- bangkan suatu argumenlogis
dalam bentuk preposisi-preposisi. Lewat cara ini, mitos terse-but
dapat dipakai sebagai mediauntuk
mem- bantu memecahkan kontradiksi yang dihadapi oleh orang/kelompok/masyarakat. Kontradik-si ini "dirasakan"
oleh suatu kelompok atausuatu masyarakat pada
tingkat
nirsadar. Da-lam kaitan ini, mitos "Nyai Andan
Sari danKyai Guru
Soka" dipandang sebagai sebuah perwujudandari
upayakognitif
orang-orang di Kabupaten Gunungkidul pada tingkat nirsa-dar, untuk
memecahkan dan memindahkan kontradiksi yang tidak dapat mereka pecahkan pada satu bidang (empiris) ke bidang yang lain(kognitif),
sehingga kontradiksi tersebut tam- pak dapat diantarai, yang pada gilirannya da- pat dipecahkan. Oleh karena itu, mitos dari Ka- bupaten Gunungkidul("Nyai
Andan Sari danKyai Guru
Soka") tersebut dapat dipandang sebagai "jendela"uptuk
melihat kondisi batin orang-orang di di Dejsa Dawung, Playery Kabu- patenGunungkidul
(Ahimsa-Putra, 1995:4-5).Sesuai dengan
teori
yang dipergunakary penelitianini
mempergunakan metode struk- tur. Metode penelitian adalah cara untuk mem- peroleh pengetahuan mengenai objek yang ko- drat keberadaannya dinyatakan oleh teori (Fa- ntk,2012:5p). Oleh karenaitu,
metode analisis struktural Levi-Strauss dalam penelitian mitos"Nyai
Andan Sari dan Kyai Guru Soka", yaitu(1) memperhatikan keseluruhan episode dalam cerita
untuk
menafsirkan mitos; (2) berusaha menemukanunit-unit
yang ada dalam cerita (ceritheme); (3) menyusun cerithemeitu
meng-ikuti
sumbu sintagmatis dan paradigmatis; (4) dengan mengikuti sumbu sintagmatis dan pa-radigmatis akan ditemukan relasi
antarce- ritheme, baik yang sama maupuntidak
sama;dan (5) interpretasi atas makna cerita bergan-
tung
pada keseluruhan relasi antarceritheme yang berhasil diperoletu serta makna referensial dan konstekstual dari elemen-elemen yang ada dalam ceritheme tersebut.3.
Data dan SampelData penelitian cerita rakyat di Kabupaten
Gunungkidul
adalah"Nyai Andan
Sari dan Kyai Guru Soka" di Desa Dawung, Kecamatan Playen, Kabupaten Gunungkidul.156 Widyapanri,
volume 42, Nomor 2, Desember 20144,
Pembahasan4.L Gambaran Alam Kabupaten Gunungkidul Tipologi wilayah Kabupaten Gunungkidul berbukit-bukit dan dikenal pula dengan sebutan Pegunungan Seribu. Pegunungan Seribu meru- pakan kawasan perbukitan batu gamping dan bentang karst tandus dan kurang air di permu- kaan tanah.
Di
bagian tengah kabupatenitu
merupakan cekungan Wonosari yang terben-tuk
menjadi Plato Wonosari.Wilayah
pegu- nunganini
memiliki luas kurang 1ebih1,.656,25 km2 dengan ketinggian 150-700m1. Suhu udara rata-rata siang harian 27,7o C, sedangkan suhuminimum
23,2o C, suhu maksimum 32,4o C.Kelembaban nisbi berkisar antara 80-85%. Ke- lembaban
nisbi di
KabupatenGunungkidul
tidak dipengaruhi oleh tinggi tempat, tetapi le- bih dipengaruhi oleh musim. Kelembaban ter-tinggi terjadi
pada Bulan Januari-Maret, se- dangkan terendah pada Bulan September (Ra-hayu,
2008:76).Rahayu (2008:76-77) menjelaskan bahwa kondisi lahan
di
Kabupaten Gunungkidul ku- rang menguntungkan, karena sebagian besarwilayahnya
mengalami kekuranganair
padamusim kemarau. Masyarakat memerlukan
biaya yang mahal untuk memenuhi kebutuhan air bersih setiap harinya2. Bagi masyarakat Ka- bupaten Gunungkidul sendiri, kekurangan air bukanlah suatu masalahbaru, sehingga mereka sudah mempersiapkan segala sesuatunya bila musim kemarau datang. Sebagian besar warga
Gunungkidul
mengusahakan PenampungAir Hujan (PAH), meskipun
saat kemarau pan- jang, atu tadah hujandi
sejumlahPAH milik
warga dipastikan habis. Padahal air tadah hu-jan itu menjadi
andalanwarga untuk
men- cukupi kebutuhanair
sehari-hari. Bahkan, ba- nyakdi
antara mereka menjual hewan peliha- raannyauntuk
mencukupi kebutuhan air. Ke- camatanyang
mengalamikekeringan
seba- nyak2\8.264 jiwa yang tersebar di empat belaskecamatan dari delapan belas kecamatan yang ada.
Gambaran umum kondisi alam Kabupaten Gunungkidul seperti
itu
(kesulitan air), dalam alam bawah sadar, kemudianterlukiskan di
dalam kisah-kisah rakyat. Cerita rakyat yang dipakai di dalam penelitianini
diambil sebagaibukti
adanya relasi antarafakta
(kenyataan) dengandunia
bawah sadar (unconcious infra- structure) manusia di Kabupaten Gunungkidul.Alam
bawah sadardari
masyarakat penutur cerita rakyat termanifestasikan dalam bentuk cerita-ceritayang bqrkaitan
denganair. Air
menjadi sebuah perrlyataan (simbolisasi) dari makna terhadap air, baik secara
fisik
maupun secara rohani.Cerita rakyat
"Nyai
Andan Sari dan Kyai Guru Soka" diasumsikan mengandung makna tertentu dan makna/pesanitu
dapat dipahami karenastrukturnya
dan elemen-elemen/unit-unit
cerita/cerithemenya dapat dapat diung- kapkan. Oleh karena itu, terlebih dahulu disaji- kan ceritanyauntuk
dapat memberikan "jen-dela"
dalam melihat makna simbolisasiair di
dalam cerita rakyat"Nyai
Andan Sari dan KyaiGuru
Soka".Unit-unit
ceritadi
dalam cerita rakyatini dibagi/diurutkan
dalam bentuk ang-ka
(dalam tanda kurung).4.2Mitos "Nyai Andan
Sari danKyai
Guru Soka"(1)
Di
daerah GunungKidul,
tepatnya di wilayah Dawung, Kecamatan Playen ter- dapat dua buah sendang yang cukup ter- kenal,yaitu
Sendang Beji dan Sendang Mole. Sampai sekarang pendudukdi
seki-tar
sekali dalam setahury bertepatan de- nganhari
Jumat Legi, bulan Sura, selalu menyelenggarakan selamatan yang disebut dengan nyadrandi
kedua tempat tersebut.(2) Konon,
di
Desa Jepitu daerah Tepus, GunungKidul
tinggallah sebuah keluarga yang sangat miskin. Keluargaitu, terdiri t
http://dinkes.gunungkidulkab.go.id/aboutf , diunduh pada tanggal 4 Agustus 20142
Rahayu (2008:76) menegaskan bahwa pemenuhan kebutuhan air bersih masyarakat menjadi saiah satu prioritas utama pemerintah kabupaten, karena masalah kekeringan menjadi masalah yang menjadi rutinitas setiap tahunnya.Mitos Air "Nyai Andan Sari dan Kyai Guru Soka" (Cerita Rakyat Kabupaten Gunungkidul) L57
atas suami, isteri, dan dua orang anaknya (laki-laki dan perempuan). Suami-isteri itu, bernama Kyai dan Nyai Goa Sok4 sedang- kan anakny a, yar.g laki-laki bernama Guru Soka dan yang perempuan bernama Andan Sari.
(3) Kemiskinan yang
dialami
oleh ke- luarga Kyai dan Nyai Goa Soka ini, terjadi setelah keduanya menikah. Apalagi sete-lah kedua anaknya
lahir,
kehidupan me- reka semakin susah. Lama-kelamaan, ka- rena sudahtidak
tahan menderita lebih lama lagi, Kyai Goa Soka memutuskan un-tuk
bertapa selama beberapa bulan. Tu- juannya, mencari wahyu agar kehidupan rumah tangganya lebih baik.(4) Selama
itu
pula, keluarganya tidak pernah mendengar kabar beritanya. Halini,
membuat anak-isterinya merasa ce- mas. Tiap hari Guru Soka dan Andan Sari selalu menangis dan mengajak ibunya un-tuk
mencari ayahnya.(5) Mendengar kedua anaknya yang se-
lalu merengek, Nyai Goa Soka tidak tahan dan mengajak mereka untuk mencari Kyai Goa Soka. Mereka
belum tahu di
manaKyai Goa Soka berada. Nyai Goa Soka dan kedua anaknya terus berjalan menuruti ke-
mauan hatinya.
Setelah beberapahari,
mereka pun berhasil menemukan tempat pertapaan Kyai Goa Soka. Tempat semedi Kyai Goa Soka terletak di Sendang Sureng.(6) Pertemuan ini, sangat menggembira- kan mereka berempat. Beberapa
hari
ke- mudian, setelah pertemuanitu
dirasa cu- kup, Nyai Goa Soka bersama kedua anak- nyalalu
pulang ke Jepitu.Adapun
Kyai Goa Soka tetap meneruskan semedinya.Lebih dari satu tahun kemudiary ternyata
Kyai
Goa Soka belum juga kembali dari semedinya. Selamaitu
pula, keluarganya selalu menunggu denganhati
cemas. Se- lanjutnya,Nyai
Goa Soka bersama kedua anaknya kembali menyusul ke Sendang Sureng untuk melihat keadaan suaminya.(7) Sampai
di
Sendang Sureng, mereka merasa heran karena Kyai Goa Soka tidak ada di situ. Di dalam keheranan dan kebi- ngunganitu,
tiba-tiba mereka mendengar suara Kyai Goa Soka, tetapi tidak melihatorangnya. Kata Kyai Goa Soka, "Sudahlah jangan cemaskan aku.
Mulai hari ini,
ka-lian tetaplah menunggu di tempat ini.
Akulah
yang akan mencari sandhang danpangan untuk kedua anak kita serta untuk- mu juga, Nyai."
(8) Setelah suara
itu
menghilang, Nyai Goa Soka dan kedua anaknya tiba-tiba me-lihat ujud Kyai
Goa Soka. Selanjutnya,Kyai
Goa Sokalalu
membawaisteri
dan anak-anaknya menghilang ke suatu tem- pat. Sejakitu
penduduk Desa Jepitu tidak dapat melihat lagi Kyai Goa Soka sekeluar- ga. Mereka menganggap bahwa Kyai Goa Soka sekeluarga.telahmenjadi
galb (ka- jiman).(9) Pada suatu hari, Kyai Goa Soka me- nyuruh kedua anaknya agar mereka men- jelajahi serta menghitung semua sendang yang ada di daerah Gunung Kidul. Jika te- lah diketahui jumlahnya, keduanya harus tinggal di sendang pada hitungan terakhir dan satu hitungan sebelum sendang ter- akhir.
(10) Gi.rru Soka dan Andan Sari kemu-
dian
berangkat melaksanakanperintah
ayahnyauntuk
menghitungjumlah
selu- ruh sendang di Gunung Kidul. Setelah se- mua sendang yang ada selesai dikunjungi, maka diketahuilah bahwa jumlahnya se- banyak 31. Pada waktu itu, untuk menye- but angka 31 dipakai istilah bejiyangbev
asal dari katabehji. Sendang
itu
oleh Guru Soka kemudian dinamakan Sendang Beji.Dan, di
Sendang Bejiinilah Guru
Soka akan menetapuntuk
selamanya, seperti yang diperintahkan oleh ayahnya.(11) Setelah berada
di
sendang terakhir (Sendang Beji) ini, Andan Sari mengatakan bahwa ia akan mulih (pulang) ke sendang yang telah diperuntukkan baginya,yaitu
sendang yang berada satu hitungan sebe-
lum sendang terakhir. Dari perkataanmu- lih ittt, sendang tempat Andan Sari mene- tap kemudian dinamakan Sendang Mole,
yang letaknya
berdekatan dengan Sen- dang Beji.(12) Beberapa
lama kemudian, Guru
Soka menetap di Sendang Beji dan Andan Sari
di
Sendang Mole. Kyai Goa Soka danL58
Widyapanua, Volume 42, Nomor 2, Desember 2014Nyai Goa Soka bermaksud mencari kedua anaknya. Kedua
suami-isteri itu
segera mencari anak-anaknya di seluruh sendang yang adadi
wilayah GunungKidul.
Me- reka menemukanGuru
Soka dan Andan Saridi
Sendang Beji dan Sendang Mole.Melihat
sendangyang ditempati
kedua anaknya itu, Kyai dan Nyai Goa Soka me- rasa senang.Kyai
Goa Sokalalu
berkata kepada kedua anaknya.(13) "Tempatmu
ini
kelak akan banyakdikunjungi
orang.Di
antara orang-orangitu
tentu ada yang datang meminta agar dikabulkan permohonannya dan ada pula yang bertindaktidak
senonoh. Merekati-
dak mematuhi aturan-aturan yang berlaku
di
tempatini.
Nah, dari mereka itulah ka-lian
akan memperoleh sandhang dan pa- ngan. Berbuatlahjail
pada orang-orang yangtidak
senonohitu."
(14)
"Maksudnya
bagaimana?" tanya kedua anaknya.(15) "Seandainya di tempatmu
ada orang berbuat tidak senonoh dan tidak so- pary atau pun kurang menghormati tem- patmuini,
ganggulah dia. Tetapi, jangan sampai mati! Sebab kalau sampai mati me-reka tidak dapat memberimu
sandhnng atat pangan. Ganggu sajalah mereka sam-pai
mengadakan ruzaatan atau syukuran.Syukuran juga akan dilakukan bagi orang- orang yang merasa permohonannya dika-
bulkan. Nah, dari situlah kalian
dapat memperoleh sandang serta pangan,"kata
Kyai Goa Soka.(16) Bertahun-tahun kemudiary setelah
wilayah Gunung Kidul menjadi
ramai, Sendang Mole dan Sendang Bejipun
ba-nyak dikunjungi
orang.Melihat hal ini,
Guru Soka memberi wangsit pada seorang penduduk yang bertempattinggal
dekat SendangMole
dan Sendang Beji. Orangitu
bernamaKi
Serah. Dalam wangsit itu, Ki Serah diberi kepercayaan untuk menja- ga kedua sendang dan melayani segala ke-hendak atau permintaan orang-orang
yang datang.(17) Sejak saat itu, Ki Serah lalu menjadi
jurukunci di
kedua sendang tersebut. Ka- lau ada orang datang minta berkah makaKi
Serah yang menjadi perantaranya de- ngan membakar kemenyan sambil menye- but namaKi
Guru Soka danNyai
Andan Sari. Setelah terkabul keinginannya, me- reka akan mengadakan syukuran dengan menyembelih kambingdi
kedua sendang tersebut. Syukuranitu
waktunya biasanya bersamaan dengan nyadrnn,yaitu
Jumat Legi pada bulan Suro.(18) Setelah
Ki
Serah meninggal dunia,juru
kunci digantikan oleh anaknya yang bernamaKi
Krama Menggala. Pada masa Krama Menggalaini
upacara nyadrandi-
laksanakan dengan selamatan sederhana, yaitu menyembelil,t kambing untuk kemu- dian dimakan bers'hma dengan penduduk setempat. Sebelum upacara nyadran dilak- sanakary teriebih dahulu Sendang Beji dan Sendang Mole harus dikuras.(19) Sendang
Mole
dan Sendang Beji memiliki mata air yang sangat deras. Kare- na besarnya mata airdi
sana maka dikha- watirkan pada saat musim hujan akan me-nimbulkan
bencana banjir bagi wargadi
sekitar serda.rg tersebut.Untut
menjinak- kan agar airnya jangan sampai meluap di-perlukan
seorang pawang. Satu-satunyaorang yang dianggap mampu
menjadi pawangdi
tempatitu
hanyalah Wonota- runo/ adik Kromo Manggala. Wonotaruno menyarankan agar mataair
tersebutdi-
sumbat denganijuk.
Ternyata setelah di- sumbat denganijuk, air itu
tetap melim-pah.
Karenatidak berhasil
menyumbat mata airdi
kedua sendang itu, maka pen- duduk yang beradadi
sekitarnya menjadi resah.(20) Melihat keresahan penduduk terse- but,
Kyai
Guru Soka kemudian memberi wangsit kepada salah seorang penduduk untuk menyediakan sesaji berupa gamelan komplit dengan wayangnyat agar sendang tidak terlampau melimpah airnya. Pendu-duk kemudian
bergotong-royonguntuk menyediakan sesaji berupa
gamelankomplit
dilengkapi dengan wayangnya.(21) Seketika itu juga, gamelan dan wa- yang hilang. Sebenarnya gamelan dan wa- yang
itu tidak
hilang, tetapi hanyatidak
dapat terlihat oleh pandangan mata biasa.Mitos Air "Nyai Andan Sari dan Kyai Guru Soka" (Cerita Rakyat Kabupaten Gunungkidul) L59
Pendapat
ini
dibuktikan dengan selalu ter- dengarnya bunyi gamelan yang datangnya dari arah sendang pada tiap malam Jumat.(22) Pada suatu malam, ada salah se- orang penduduk yang menerima wangsit yang mengatakan bahwa apabila ada orang
yang membutuhkan
gamelan serta wa- yangrmaka Kyai Guru
Sokadan Nyai Andan
Sari bersedia meminjamkan. De- ngan catatary setelah selesai gamelan un- tuk segera dikembalikan. Sejak saat itu, ba-nyak penduduk
yang akan punya hajad selalu meminjam gamelan dan wayang ke sana. Tetapi sayang sekali, pada suatu wak-tu
ada seorangpenduduk
yang berbuat khilaf, dengan tidak mengembalikan salah satu perangkat gamelan (kempul).Mulai
saat
itu
penduduk sudah tidak dapat lagi meminjam gamelarydi
sampingitu
suara yang sering terdengar menghilang sama sekali. Sedangkan/ orang yanglupa
me- ngembalikan kempulitu
lalu menanggung akibat yangcukup
berat. Anaknya mati semua, juga ternak peliharaannya. SaatKi
Krama Manggala meninggaldunia
kedu- dukannya sebagaijuru
kunci diganti olehKi
Panca Manggala. SelanjutnyaKi
Panca Manggala digantikan olehKi
Mangun Ta- runo. Orang inilah yang sampai sekarang biasa melakukan upacara nyadrandi
Sen- dang Mole dan Sendang Beji.4.3
Mitos Air di
dalam"Nyai Andan
Sari danKyai Guru
Soka"Berdasarkan teks yang disajikan
di
atas, analisis struktural atas mitos "Nyai Andan Sari dan Kyai Guru Soka" didasarkan pada episode- episodeyang
disusun oleh penulis.Adapun
analisis
itu
sebagai berikut.Episode
I
(nomor 1-4) diceritakan latar be- lakang keluarga Kyai dan Nyai Goa Soka. Ke- luargaitu
mempunyai dua orang anak berna- ma Guru Soka dan Andasari. Kemiskinan ke-luarga
Kyai
danNyai
Goa Soka semakin ber- tambah setelah kedua anaknya lahir. Oleh ka- rena kesulitanhidupnya
semakin bertambah, keluargaitu
merasatidak
tahan iagi. Sebagai kepala keluarga, Kyai Goa Soka memutuskanuntuk
bertapa gunamencari "wahyu3." Wood-ward
(2011,:174) menyatakan orang Jawa me-ngerti wahyu
sebagai seberkas cahaya yang menganugerahkanjanji ilahi
padaindividu
menugaskan
dia
tugas tertentu.Ia
berharap,jika
memperolehwahyu,
maka keluarganya akan memperoleh kehidupan yang lebih baik.Oleh karena
itu,
struktur permukaan (mis-kin)
dan struktur dqlam (putus asa)Kyai
Goa Soka terdapat kesejajaran/keseimbangan. Ke-miskin menimbulkan
keputus-asaan.Untuk
menghalau keputus-asaanitu, Kyai
Goa Soka mencariwahyu
supaya apa upayanya meng-ubah kemiskinannya dapat diberikan
jalan.Wahyu merupakan sebuah pengesahan (atas apa yang diinginkan) secara menyakinkan bagi orang Jawa (Moertono, 1985:66). Kemiskinan secara
fisik
(keduniaan) harus diatasi supaya kesulitan hidupnya tidak berkepanjangan me-lalui
bertapa (diatasi dengan secara rohani).Kontradiksi
antara persoalan keduniaan dan rohani ini menimbulkan keinginan untuk men- capai sebuah pemahaman bahwa pertentang- an bukan sebagai sesuatu yang baik. Perten- tanganitu
harus dicarikan jalan keluar melalui kesimbangan. Konsep keseimbanganitu
mela-hirkan
harmoni/keselarasan supaya manusia tidak terjebak ke dalam perbuatan yang negatif.Keseimbangan,
dalam konsep orang
Jawa, adalah sesuatu yang sangatdibutuhkan
dan menjadi dasar dalam kehidupan. Dalamkehi
dupantidak
diseyogyakanuntuk
ekstrim me-milih
satu sisi tetapi harus seimbang dengan sisi yang lain. Hal ini digambarkan dengan con-3
Menurut Beatty (20M:191) wahyu adalah ilham ilahi. Dalam kebudayaan ]awa, orang-orang yang ingin mencapai cita- citanya (apa yang diinginkannya) terlebih dahulu harus menjalani prihatin 'lnku pifutin'. Dengan demikian, ia akan dimudahkan untuk mencapai keinginannya itu. Hasil darilaku pihatin itu, menurut kepercayaan orang Jawa, berupa sebuah'wahyu'. Sampai sekarang harapan untuk memperoleh wahyu itu tetap hidup di tengah benak orang ]awa.Oleh karena itu, dalam kegiatan pemilihan lurah atau kepala desa, sering para kandidat kepala desa menjalani laku prihatin, utamanya pada malam pencoblosary supaya mendapat wahyu. Calon kepala desa yang merasa mendapat 'wahyu' percaya bahwa dia akan terpilih. Namun, kebenaran dari hal tersebut sulit dibuktikan secara empirik.
160 Widyaparua,
Volume 42, Nomor 2, Desember 2014toh: ada siang tentu ada malam, ada baik tentu ada
buruk, dan
sebagainya (bandingkan de I ong, 197 6:24). Keseimbangan itu pada akhirnya akan menimbulkan keselarasan. Keselarasan merupakan pusat etika Jawa (Suseno, 1984:196).Dengan adanya keselarasan
itulah
manusia (Jawa) akan memperoleh kenteraman batiniah (kedamaian dan ketenangan hati) dan dengan keselarasanitulah
semua kegiatan manusia berawal/ diarahkan untuk menata dunia (Moer- tono, 1985:4). Dalam konteks inilah, Kyai Goa Sokaingin
mengubah kemiskinan (dunia) de- ngan cara spritual. OIeh karenaitu,
episodeI
dapat diinterpretasikan sebagai simbolisasi orang
]awa untuk
memperbaiki keadaanhidupnya
yang miskin.
Episode
II
(nomor 4-8) dikisahkan bahwaNyai
Goa Soka (dan kedua anaknya) cemas/karena suaminya (Kyai Goa Soka) belum kem-
bali dari
bertapanya selama beberapa bulan.Mereka kemudian mencari dan akhirnya mene- mukan Kyai Goa Soka sedang bertapa
di
Sen-dang Sureng. Namun,
Kyai
Goa Soka belum selesai bertapa dan menyuruh isteri dan kedua anaknyauntuk
pulang lebih dahulu ke Jepitu.Ia meneruskan pertapaanya. Setelah lebih dari setahun belum juga pulang, kembali Nyai Goa Soka dan kedua anaknya menemui suaminya
di
Sendang Sureng. Tetapi, Nyai Goa Soka su- dahtidak
dapat menemukan suaminya. Sejak saatitu,
mereka berempattidak
diketahui ke- beradaannya(hilang/menjadi
gaib / kajiman).Berubah menjadi gaib atau menjadi kajiman
iru
secara simbolik diinterpretasikan bahwa upaya Kyai Goa Soka dan keluarganya
untuk
mem- perbaiki kehidupannyatidak
berhasil (meng- alami kegagalan) secara keduniaan.Hilang secara fisik (menjadikaliman) dapat ditafsirkan sebagai sebuah kematian. Oleh ka- rena upayanya (Kyai Goa Soka) untuk memper-
oleh raahyu
tidak
berhasil, berarti cita-citanya memperbaiki keadaanny a y angmiskin sudah ti- dak memperoleh harapan. Harapan yang sudah terpenuhi itu, akhirnya diakhiri dengan kemati- an. Di dalam teks, kata kematian itu disimbolisa- sikan dengan ungkapan "menjadi kajiman".Episode
III
(nomor 9-22) diceritakan Kyai Goa Soka menyuruh kedua anaknya (Guru So- ka dan Andansari) menghitung semuasendang yang terdapat di seluruh Gunungkidul. Kedua-nya diperintah untuk tinggal/menempati di
sendang pada hitunganterakhir
dan satu hi- tungan sebelum send4ng berakhir. Setelah dihi- tung oleh keduanya, d.itemukanlah 31 sendangdi
seluruh Gunungkidul. Sesuai dengan pesan ayahnya,Guru
Soka akhirnyatinggal di
sen- dang sebelumhitung terakhir
(Sendang Beji) dan Andansari tinggal di sendang hitungan ter- akhir (Sendang Mole). Di kedua sendang itulah memperoleh sandang dan pangan (dalam ben- tuk syukuran) karena banyak orang datang ber- ziarahketika keinginannya dikabulkan. Syukur- anitu
dibersamakan dengan upacara nyadran.Sendang Beji dan Sendang Mole berair de- ras
dan dikhawatirkan
menimbulkan banjir.Oleh karena itu, keduanya harus disumbat de- ngan
ijuk.
Penyumbatantidak
berhasil. Kyai Goa Soka (ayah Guru Soka) memberikanroang- slf (petunjuk gaib) kepada salah seorang pendu-duk.
Daiam wangsitnyaitu,
supaya penyum- batan kedua sendang itu berhasil, Kyai Goa So- ka meminta sesaji gamelan dan wayang. Sesajiberhasil
diwujudkan,
tetapi kemudian hilang dari pandangan masyarakat. Secarafisik
tidak kelihatary tetapi secara non-fisik masih terde- ngar oleh masyarakatdi
desa itu.Episode ini dapat diinterpretasikan bahwa
air merupakan
sebuahsimbolisasi
tentang sumber kehidupan yang utama manusia. (di daerah Gunungkidul)4. Pertapaan Kyai Goa So-a
Diterangkan oleh Rahayu (2008:44) bahwa dalam rangka pemenuhan kebutuhan air bersih bagi masyarakat beberapa titik sumber air bawah tanah mulai dieksploitasi dengan dukungan dari pemerintah pusat bahkan luar negeri. Diantaranya dilaksanakan kegiatan Bendung Sungai Bawah Tanah (BSBT) yang dikenal dengan nama Goa Bribin, yang berlokasi di Desa Sindon, Kecamatan Semanu. Kegiatan tersebut adalah yang ke-4 setelah Ngobarary Baron dan Seropan. Dana APBN/D sebesar Rp 38.000.000.000 (tiga puluh delapan milyar) untuk merampungkanMitos Air "Nyai Andan Sari dan Kyai Guru Soka" (Cerita Rakyat Kabupaten Gunungkidul) L61
ka mencari wahyu dan bertempatnya
Goa Soka dan Andansaridi
Sendang Beji dan Sen- dang Mole identik dengan apa yang terjadi pa- dadiri
Bima (Wrekudara) di dalam kisah Dewa Ruci.Di
dalam cerita tersebut, Bima diperin- tahkan oleh Dhurna untuk mencari air hidups.Dalam Dewa Ruci, air
hidup
dinamakan Trita- perwita atau seringjuga
disebut Tirtaamerta6.Diterangkan Sastroamidjojo (1967:10)
air hi- dup itu
bermakna"air untuk
menyucikan ba- dan dan suksma". Setelahjiwa
dan raga bersih atau suci (karena air itu), orang lalu dapat me- nyadari sajatining gesang"hakikat hidup
atauhidup
yang wajar, yang sejati". Dalam keada- an sepertiitu,
orang yang memperoleh air ke-hidupan
akan dapat mengetahui sangkan pa- raning dumadi " asal. Tujuan, dan arahhidup
manusia pada umumnya". Dibayangkan oleh Dhurna, bahwa orang yang memiliki air hidupT akan mencapai tingkat hidup yang serba sem- purna, hidup yang suci. Oleh karena itu, orangyang
mencapaiair tersebut akan memiliki
"ilmu
kebebasanjiwa".
Dalam hubunganini,
Dhurna bermakna sebagai simbol angan-angan ataubudi
yang menguasai dan menggiatkan perasaan AKU, yang diperlambangkan dengan tokoh Bima8.Untuk
memperolehair hidup
tersebutti-
dak mudah karena Bima harus masuk ke dalam
" gragaib" yangberbentuksumur gumuling (ku-
dus, dahsyat). Tempat
itu
terletakdi
Gunung Candramuka atau Reksamuka. MenurutMul-
yono (1982:33) perjalanan Bima untuk mencari air hidup sebenarnya merupakan suatu perwu- judan bersatunyadirinya
dengan Hyang Oti-pati
(Mahasuci) dan disebut " suluk" atau mis- tikismee. Dalammistik
Jawa, kata jumbuhing kawula Gusti "bercatunya hamba dan Tuhan"melukiskan tujuan tertinggi dalam
hidup
ma- nusia,yaitu
tercapainya "kesatuan" yang se-sungguhnya (manunggal) dengan Tuhan
(Moertono, 1985:18).Dilihat
dari hupungan antar episode(I-
II), mitos
"Nyai
Andan Sari dan Kyai Guru So-ka"
dapat diinterpretasi sesuai dengan relasi antar episode(I-ru)
bahwa perintah Kyai Goa Soka kepada Goa Soka dan Andansariuntuk
menghitung seluruh sendang (31 buah) yang adadi Gunungkidul
merupakanbukti
yang menunjukkan bahwa air merupakan fokus uta- ma (sentral) upaya mereka untuk memperbaiki kehidupan- Dengan adanya air, sandang danpangan (kebutuhan hidup) manusia
dapat dicukupi.Air
bukan hanya sebagai pernyataan yang bersifat kebendaary tetapi air juga bersifat sim- bolis. Makna secara simbolik dari air ditunjuk-kan melalui
perintahKyai
Goa Soka kepadaGuru
Soka dan Andansariuntuk
menempati salah satu sendang yang mereka temukan (Sen- proyek ini hanya digunakan untuk pekerjaan konstruksinya. Adapun teknologi, peralatan bor dan turbin, serta pompa-pompa berasal dari bantuan murni @rant) dari Pemerintah Jerman. Sebelumnya telah dilakukan interkoneksi sumber air Ngobaran dengan debit air 120 liter/detik dengan Baron yang memiliki debit 4000 liter/detik. Dengan eksploitasi secara maksimal Gunungkidul menjadi surplus air dan dapat dijual ke daerah lain. Kegiatan itu adalah bantuan dari JICA Jepang, sehingga dalam hal ini, diperlukan biaya yang tinggi dalam upaya pemenuhan air bersih bagi masyarakat.Air hidup di dalam cerita Dewa Rucl adalah suatu jenis air yang dapat membuat orang menjadi sakti-jika
memilikinya. Oleh karena memiliki air hidup tersebut, ia tidak dapat mati. Orang itu dapat menghidupan kembali orang yang sudah mali (Sastroamidjojo, 1967:9)
Yang berarti tan kenging ing pejah (tidak dapat mati), gesang lnnggeng (hidup abadi) (Sastroamidjojo, 1967:10).
Menurut Mulyono (1982:31), air hidup adalah simbol dari tujuan mistik, yaitu ruanrmggaling karuula lan Gusti
"bersatunya manusia dan Tuhan".
Yen rering rangu badhe mboten sumerep sarta dumugi telenging kmonh kastmyatnn "apabila bersikap ragu-ragu, maka orang pasti akan dapat mengetahui dan tidak sampai pada inti ilmu kesempurnaan hidup" (Sastroamidjoj o,1967:14).
Diterangkan oleh Mulyono (1982:40-41) Bima diperintahkan masuk ke dalam "samodra Menangkalbu" untuk mencari air kehidupan atau Dewa Ruci, tidak ada arti lain kecuali disuruh masuk ke dalam kalbu atau hatinya sendiri. Artinya, jika Bima berhasrat untuk dapat memandang dan manunggal dengan Dewa Ruci, Bima haruS membersihkan dulu kotoran yang menutupi hatinya. Kotoran itu merupakan cadar yang menutupi antara Bima dan Dewa Ruci. Untuk dapat memandang Dewa Ruci, Bima harus membuang cadar itu. Dan cadar itu, tidak lain adatah perwujudan dari hawa nafsu.
1,62
Widyapanua, Volume 42, Nomor 2, Desember 2014dang Beji dan Sedang Mole), Perintah
itu
(un-tuk
menempati/tinggal)di
kedua sendangitu
merupakan simbol bahwa dariair
(salah satu- nya) manusiahidup
dan dapat memperbaiki keadaanhidupnya
(lepasdari
kemiskinan).Kontradiksi antara kemiskinan dan kepu- tusasaan
Kyai
Sokauntuk
mengubah kemis- kinanhidupnya
(secara material),ia lalu
ber- usaha dengan memperbaikinya lewat pencari- anwahyu. Namun, rpaya
pencarianwahyu
tidak pernah memperoleh perjuwudannya ka- rena wahyu yang diharapkannyaitu
tidak per- nah diterima oleh Kyai Goa Soka. Bahkan, Kyai Goa Soka beserta sekeluarganya menghilangdi
Sendang Sureng. Hilangnya Kyai Goa Soka se-
keluarga
itu
dapat ditafsirkan sebagai sebuah simbol bahwa merekatidak
berhasil memper-baiki
kehidupannya secaramaterial
(dunia).Oleh
karenaketidakmampuannya itu, Kyai
Goa Soka beserta seluruh keluarganya kemudi- an hanya menjadi sebuah mitos
di
tengah ma- syarakat. Kemiskinan tidak akan dapat diubah atau diperbaiki (menjadi sejahtera) kalau dila- kukan secarariil
(bekerja). Dengan bekerja, se- seorang menghasilkan sesuatu yang bergunauntuk
meningkatkan kesejahteraannya.5. Simpulan
Mitos air "Nyai Andan Sari dan Kyai Guru Soka" menunjukan adanya sebuah kontradiksi antara
keinginan materiil
dankeinginan
ro- hani.Air
merupakan masalah utama manusia, karenaair tidak
hanya bermakna sebagai se- suatu yang bersifat benda, tetapi air juga men-jadi
sebuah simbol bagi kehidupan manusia.Air
sebagai kebendaan dapat menjadi sarana manusiauntuk
memenuhi kebutuhanhidup-
nya yang utama. Tercukupinya kebutuhan air menjadikan manusiahidup
sejahtera. Kesejah-teraan dapat diwujudkan dengan
bekerja (mengolahair
menjadi berguna).Hidup
tidak akan berubah menjadi lebihbaik
kalau tidak diubah secaraariil
(menanti sesuatu yang tidak jelas dan abstrak). Akan tetapi, air secara roha-ni juga
merupakanperwujudan
simbolisasipikiran
manusia tentang kesucian.Mitos
air"Nyai
Andan Sari dan Kyai Guru Soka" meru- pakan simbol proyeksi pikiran manusia di Desa Dawung, Playen, Kabupaten Gunungkidul.DAFTAR
PUSTAKAAhimsa-Putra, Heddy Shri. 1984. "Strukturalis Levi-Strauss: Sebuah Tanggapan". Dalam Basls, No.
4-XXXI[, April.
1995. "Levi-Strauss
di
Kalangan Orang Bajo: Analisis Struktural dan Makna Cerita Orang Bajo". Dalam Kalam,No.
6.2008. "Ilmuwar\ Budaya dan Revitalisasi
Kearifan Lokal:
TantanganTeoritis
danMetodologis". Disampaikan
padarapat
Senat Terbuka Dies Natalis ke-62 Fakultas
Ilmu
Budaya Universitas gadjah Mada, 3 Maret.Beatty, Andrew.
2004. Vnrieties of JaaaneseReligion: an Anthropological
Account.Cambridge: Cambridge Univiserty Press.
Danandjaja, James. 1984. Foklore lndonesia: Ilmu Gosip, Dongeng, dan
lnin-lain. Jakarta:
Grafitipers.
"Pentingnya Penelitian Foklor Jawa bagi Pembangunan Kebudayaan
Nasional".
Dalam
Proseding Kongres Bnhass Jawa.Semarang: Pemerintah
Provinsi
Daerah TingkatI
Jawa Tengah.De Jong, 5.1976. Salah Satu Sikap Hidup Orang
I awa. Y ogyakarta: Kanisius.
Faruk.
201,2. Metode Penelitian Sastra: SebuahP enj elnj nhnn
Awal.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar.Honko, Lauri. \984. "The Problem of Defining
Myth".
Dalam Sacred Narratiae: Reading in The Theory ofWth
(ed.) Alan Dundes. Los Angeles: Berkeley University Press.Inglish, Fred. 1988. Popular Culture and Political Power.
New
York: Harvest-Wheatsheaf.Koentjaraningrat.
1,984. Kebudayaan Jawa.Jakarta: Balai Pustaka.
Mitos Air "Nyai Andan Sari dan Kyai Guru Soka" (Cerita Rakyat Kabupaten Gunungkidul) 163
Levi-Strauss, C. 1963. Structural Anthropology.
New York: The University of
ChicagoPress.
Moertono, Soermartono.
1985. Negara dan UsahaBina
Negaradi lawa
pada Masa Lampau. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.Mulyono, Sri. 1982.
Wayangdan
Filsafat Nusantara, Jakarta: Jambatan.Rahayu,
Astuti.
2008. "Kabupaten Gunungki- dul: Sebuah Kajian Wilayah Yang Kurang Berkembang". Semarang: Tesis Program PascasarjanaMagister Teknik
Pemba-ngunan Wilayah dan Kota Universitas
Diponegoro.Sastroamidjo,
A.
Seno. 1967.dengan
Arti
Eilsafatnya.Kinta.
Suseno, Franz Magnis. 1984. Etika lawa: Sebuah Analisa Falsafi tentang Kebijaksanaan Hidup I atoa. J akarta: Gramedia.
Van
Peursen, C.A. 1976. Strategi Kebudayaan.Yogyakarta - Jakarta: Kanisius - BPK
Gunung Mulia.
Woorward, Mark.
20\1,. laaa, lndonesia, andI sl am. Dordrecht-Heidelberg-London-New York: Springer.
SUMBER
DARI
INTERNET"Gambaran Kabupaten Gunungkidul".
Dalam http:/ (dinkes.gunungkidulkab.
go.id/ about/ piunduh pada tanggal
4Agustus
201,4.' Cerita Dewa RuciJakarta: Penerbit