SISTEM PAJAK PENGHASILAN FEDERAL 1. Pajak Penghasilan Perusahaan
Laba perusahaan umumnya dikenai pajak oleh pemerintah federal dengan tarif dimulai dari 15% hingga mencapai maksimal 35% untuk penghasilan kena pajak sebesar $10 juta atau lebih. Jadi, struktur pajak perusahaan adalah bersifat progresif di mana tarif yang lebih tinggi akan dikenakan untuk perusahaan-perusahaan dengan laba yang lebih tinggi. Pemerintah negara bagian juga mengenakan pajak penghasilan pada perusahaan, dengan tarif umumnya sekitar 5%.
2. Pajak Penghasilan Perorangan
Perseorangan dikenakan pajak atas penghasilan kena pajak oleh pemerintah. Beberapa negara bagian juga mengenakan pajak penghasilan, dengan tarif yang berbeda untuk tiap-tiap negara bagian. Penghasilan dari investasi yang disimpan dalam bentuk dana pensiun tidak dikenai pajak sampai dana tersebut ditarik, yang diasumsikan setelah masa pensiun. 3. Bunga yang Dibayarkan
Peminjaman harus membayar bunga untuk utang mereka. Bagi sebuah bisnis, pembayaran bunga dapat dianggap sebagai suatu pengeluaran, dan dapat dikurangkan ketika memperhitungkan penghasilan kena pajak. Individu-individe juga dapat memiliki utang daan membayarkan bunga, tetapi pada umumnya individu tidak dapat mengurangkan pembayaran bunga.
4. Bunya yang Diterima
Kebanyakan bunga yang diterima baik oleh bisnis maupun individual, adalah penghasilan kena pajak, dan karenanya menjadi subjek dari pajak penghasilan. Pengecualian penting adalah bahwa bunga dari kebanyakan utang negara bagian dan pemerintah dibebaskan dari pajak-pajak federal. Obligasi negara bagian dan lokal dikenal dengan sebutan “muni” dan individu-individu dengan rentang tarif pajak yang tinggi umumnya membeli obligasi tersbut. 5. Dividen yang Dibayarkan
Perusahaan membayarkan dividen, dan dividen yang dibayarkan umumnya tidak dapat dikurangkan untuk tujuan pajak. Jadi, perusahaan membayarkan bunga dari penghasilan sebelum pajak, tetapi membayarkan dividen dari penghasilan setelah pajak.
6. Dividen yang Diterima
Dividen yang diterima oleh seseorang akan dikenakan pajak seperti penghasilan biasa. Untuk perusahaan penerima dividen dapat mengecualikan beberapa pendapatan dari pajak penghasllannya.
7. Kerugian Pajak yang Dibebankan ke Belakang atau Dibebankan ke Depan
Laba perusahaan sering kali mengalami fluktuasi dari tahun ke tahun, sehingga di satu tahun perusahaan dapat dikenakan pajak, dan ternyata kemungkinan di tahun berikutnya mengalami kerugian besar, sehingga mengakibtakan perusahaan tidak perlu membayar pajak. Peraturan perpajakan memperbolehkan perusahaan membebankan kerugian tersebut ke belakang untuk ditutupi oleh laba yang diperoleh pada tahun-tahun sebelemunya, dan jika kerugian tersebut belum tertutupi oleh laba sebelemunya, untuk membebankan rugi ke depan untuk ditutupi oleh laba di masa mendatang yang menyebabkan pajak dari tahun ke tahun menjadi cerminan dari rata-rata laba dari tahun ke tahun.
8. Keuntungan Modal
perorangan, keuntungan modal umumnya terjadi akibat penjualan saham atau obligasi dengan nlai di atas harga pembelian dai sekuritas tersebut.
9. Depresiasi
Ketika sebuah perusahaan membelu suatu aktiva dengan usia lebih lama dari satu tahun, untuk kepentingan pelaporan ekpada pemegang saham dan internal manajemen, perusahaan ini biasanya akan menyusutkan aktiva tersebut selama waktu di mana aktiva tersebut akan digunakan. Umumnya, perusahaan akan mengestimastikan kemungkinan nilai yang diperhitungkan sebagai biaya dalam laporan laba rugi setiap tahunnya atau disebut dengan depresiasi garis lurus. Akan tetapi, Kongres memperbolehkan perusahaan menggunakan metode perhitungan depresiasi yang berbeda untuk tujuan pajak. Kongres menyetujui penggunaan tarif-tarif depresasi untuk jenis-jenis aktiva yang berbeda, dan tarif tersebut umumnya berarti bahwa beban depresiasinya akan lebih tinggi daripada yang digunakan perusahaan untuk pelaporan kepada pemegang saham.
10. Usaha-Usaha Kecil