Kolom Opini, Koran Fajar Makassar, 7-11-2014
POTENSI PASAR PRODUK HALAL DUNIA
Ali Rama
Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Saat ini Indonesia sudah memiliki Undang-Undang tentang Jaminan Produk Halal (JPH). Artinya, setelah UU ini efektif berlaku maka semua produk yang masuk, beredar, dan diperdagangkan di wilayah Indonesia wajib bersertifikasi halal. Jenis produk yang dimaksud adalah terkait dengan makanan, minuman, obat, kosmetik, produk kimiawi, produk biologi, produk rekayasa genetik serta barang gunaan yang dipakai, digunakan, atau dimanfaatkan oleh masyarakat.
Kehadiran UU JPH ini sangat penting bagi masyarakat Indonesia yang mayoritas berpenduduk Muslim dalam konteks perlindungan konsumen. Masyarakat akan mendapatkan kepastian hukum dan jaminan halal atas produk yang beredar di tengah-tengah mereka. Apalagi Indonesia pada tahun 2015 akan memasuki Masyarakat Ekonomi ASEAN di mana produk bisa masuk dengan mudah ke Indonesia. Oleh karenanya, UU JPH menjadi langkah antisipasi terhadap barang-barang non halal yang masuk ke Indonesia.
UU JPH tidak hanya memberikan perlindungan bagi konsumen tetapi juga menjadi nilai tambah bagi pelaku usaha untuk memproduksi dan mendistribusikan produk-produk halal. Potensi pasar produk halal dalam negeri sangat besar. Apalagi saat ini industri berbasisi syariah termasuk di dalamnya produk halal mengalami perkembangan pesat di tengah kecenderungan keagamaan masyarakat Indonesia yang semakin meningkat. Akibatnya, demand produk halal juga akan semakin meningkat di pasar domestik di masa mendatang.
Potensi Produk Halal Dunia
Populasi Muslim dunia yang tersebar di berbagai negara merupakan potensi pasar yang sangat menjanjikan. Jumlah populasi Muslim diperkirakan mencapai 1,6 miliar dari total populasi dunia. Laporan Thomson Reutors tahun 2013 melaporkan bahwa jumlah konsumsi makanan penduduk Muslim dunia mencapai sekitar USD 1.088 miliar pada tahun 2012, atau sekitar 16,6 persen dari keseluruhan konsumsi global. Konsumsi Muslim global ini diperkirakan tumbuh menjadi USD 1.626 miliar pada tahun 2018 atau sekitar 17,4 persen dari total konsumsi dunia. Dari segi volume tersebut, Indonesia menempati posisi negara Muslim terbesar dengan jumlah USD 197 miliar. Urutan terbesar selanjutnya adalah Turkey (USD 100 miliar), Pakistan (USD 93 miliar) dan Mesir (USD 88 miliar).
Saat ini, banyak perusahaan besar dunia telah melakukan sertifikasi halal atas produk-produk mereka. Beberapa contoh misalnya, pada industri makanan terdapat sekitar 150 dari 468 pabrik Nestle seluruh dunia telah bersertifikasi halal. Pabrik tersebut telah memproduksi lebih dari 300 makanan dan minuman halal yang tersebar di lebih dari 50 negara. Carrefour, Tesco dan perusahaan retail global lainnya juga mengalami peningkatan penawaran produk halal di banyak pasar.
Kolom Opini, Koran Fajar Makassar, 7-11-2014
Wardah, Ivy dan Onepure. Produk kosmentik halal tersebut semakin gencar melakukan iklan di berbagai media dengan taglinekhusus ‘halal untuk perawatan kecantikan’.
Potensi produk halal global tersebut memberikan berbagai tantangan dan peluang. Lembaga sertifikasi halal saat ini ada di berbagai negara, namun belum terbentuk lembaga halal global yang diakui secara bersama yang berfungsi untuk mengembangkan infrastruktur halal yang komprehensif yang tidak hanya menyediakan standar halal tetapi juga akreditasi, sertifikasi, fasilitasi perdagangan dan pelembagaan hukum dan peraturan. Kehadiran pusat lembaga halal juga dibutuhkan sebagai lembaga yang menyediakan infrastruktur berupa pendidikan, penelitian, jaringan profesional, training dan sharing pengalaman tentang produk-produk halal. Selain itu dibutuhkan sumber daya manusia yang berkompoten untuk mendukung kelangsungan pertumbuhan industri ini.
Dengan pasar konsumen Muslim yang mencapai sekitar seperempat dari seluruh penduduk dunia, ternyata saat ini belum terdapat merek produk makanan atau konsep ritel yang benar-benar bersertifikasi halal. Hal ini tentunya sangat menyedihkan dikarenakan selama ini pasar dunia Muslim selama ini hanya menjadi pasar bagi perusahaan-perusaaan merek ternama dunia. Sudah sepatutnya mereka mengembangkan suatu merek produk halal yang diakui secara global. Di sisi lain, pengembangan industri halal akan berperan penting dalam menghilangkan persepsi negatif di sebagian negara khususnya negara-negara Barat terkait dengan makanan halal. Di sebagian negara Eropa seperti Belanda dan Polandia melakukan pembatasan bahkan pelarangan terhadap daging halal dengan berbagai alasan yang kurang masuk akal.
Potensi produk halal pada hakekatnya tidak hanya untuk negara-negara Muslim saja atau penduduk Muslim saja tetapi juga bagi para konsumen yang memiliki preferensi terhadap makanan yang sehat dan berkualitas. Makanan halal otomatis sehat dan berkualitas. Sebalinya makanan yang berkualitas belum tentu halal. Dengan demikian, preferensi produk halal tidak lagi dibatasi oleh agama tertentu tetapi berlaku bagi setiap konsumen yang peduli pada aspek kualitas dan proses dari suatu produk.
Saat ini, terjadi fenomena pergeseran preferensi konsumen dalam keputusan konsumsi suatu produk dengan lebih mempertimbangkan aspek etika, sosial dan lingkungan. Dampaknya, demand terhadap jenis produk tersebut akan semakin diminati di masa-masa mendatang.