PELAKSANAAN PRAPERADILAN DI PENGADILAN NEGERI BANDA ACEH
THE APPLYING OF PREJUSTICE PROCESS AT THE FIRST INSTANCE COURT OF BANDA ACEH
Oleh: Mahfud *) ABSTRACT
Article 1 point 10 of the Indonesian Crininal Procedure states that the First Instance Court has an authority to check and decide regardong the validity of the arrest, detention, investigation stop and prosecution stop and remedy or rehabilitation for some one which the case stopped in the level of investigation and prosecution. However, in the hjurisdiction of the court the process of pretrials are dismissed by the court. This research aims at identifying the process and the reason for bringging it by the defendants.
Keywords: Prejustice Process, Instance Court.
A. PENDAHULUAN
Sistem peradilan pidana merupakan salah satu sarana dalam penanggulangan kejahatan dengan tujuan untuk :
a. Mencegah masyarakat menjadi korban kejahatan.
b. Menyelesaikan kasus kejahatan yang terjadi sehingga masyarakat puas bahwa keadilan telah ditegakkan dan yang bersalah dipidana.
c. Mengusahakan agar mereka yang pernah melakukan kejahatan tidak mengulangi lagi kejahatannya.1
Peradilan pidana dilakukan melalui prosedur yang diikat oleh aturan-aturan ketat tentang pembuktian yang mencakup semua batas-batas konstitusional dan berakhir pada proses pemeriksaan di pengadilan.2 Dalam hal pemeriksaan perkara pidana umumnya berlangsung lama, berbelit-belit dan rumit, tidak sederhana seperti disebutkan aturan-aturan normatif/formal (KUHAP).3
Pasal 1 butir 10 KUHAP menentukan bahwa :
Praperadilan adalah wewenang Pengadilan Negeri untuk memeriksa dan memutus menurut cara yang diatur dalam undang-undang ini tentang:
*)
Mahfud,S.H.,LL.M. adalah Dosen Tetap Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh. 1
R. Abdussalam dan DPM Sitompul, Sistem Peradilan Pidana, Restu Agung, Jakarta, 2007, hlm. 3 2
Anthon F. Susanto, Wajah Peradilan Kita, Refika Aditama, Bandung, 2004, hlm.1 3
(1) Sah atau tidaknya suatu penangkapan dan atau penahanan atas permintaan tersangka atau keluarganya atau pihak lain atas kuasa tersangka;
(2) Sah atau tidaknya penghentian penyidikan atau penghentian penuntutan atas permintaan demi tegaknya hukum dan keadilan;
(3) Permintaan ganti kerugian atau rehabilitasi oleh tersangka atau keluarganya atau pihak lain atas kuasanya yang perkaranya tidak diajukan ke pengadilan. Pasal 77 KUHAP menentukan bahwa :
Pengadilan negeri berwenang untuk memeriksa dan memutus, sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam undang-undang ini tentang :
a. sah atau tidaknya penangkapan, penahanan, penghentian penyidikan atau penghentian penuntutan;
b. ganti kerugian dan atau rehabilitasi bagi seorang yang perkara pidananya dihentikan pada tingkat penyidikan atau penuntutan.
Berdasarkan ketentuan tersebut, terdakwa yang mengalami tindakan penangkapan dan penahanan secara tidak sah dapat mengajukan upaya praperadilan untuk menghentikan dilakukannya penyidikan dan penahanan. Berdasarkan hasil penelitian di Wilayah Hukum Pengadilan Banda Aceh pihak tersangka yang mengalami tindakan sewenang-wenang dari aparat penyidik maupun penuntut enggan untuk mengajukan pra peradilan, karena pra peradilan yang diajukan tidak pernah dipenuhi oleh hakim. Hal ini sebagaimana diketahui dari data Tahun 2009 sampai dengan 2011 hanya terdapat 3 kasus penetapan pra peradi lan masing-masing yang kesemuanya ditolak oleh hakim.
Berdasarkan uraian di atas, yang menjadi permasalahan dalam penelitian ini adalah :
1. Bagaimanakan pelaksanaan praperadilan di wilayah hukum Pengadilan Negeri Banda Aceh?
2. Apakah alasan hakim tidak memenuhi permohonan praperadilan oleh tersangka ?
B. TINJAUAN PUSTAKA
1) Upaya Pra Peradilan dan Hubungannya dengan Penyidikan dan Penuntut Umum
Praperadilan adalah lembaga baru yang lahir bersamaan dengan kelahiran KUHAP (UU No. 8 Tahun 1981). Praperadilan bukan lembaga peradilan yang mandiri atau berdiri sendiri terlepas dari pengadilan negeri, karena dari rumusan Pasal 1 butir 10 jo Pasal 77 KUHAP dapat diketahui bahwa praperadilan hanyalah wewenang tambahan yang diberikan kepada pengadilan negeri (hanya kepada pengadilan negeri). 4 Pengadilan Negeri sebagai peradilan umum merupakan salah satu pelaksana kekuasaan kehakiman bagi pencari keadilan mempunyai tugas dan wewenang memeriksa, memutus atau mengadili dan menyelesaikan perkara pidana dan perkara perdata ditingkat pertama (Pasal 2 jo Pasal 50 UU No. 2 Tahun 1986).
Praperadilan dalam perwujutannya tetap satu dan berada pada Pengadilan Negeri baik organisatoris maupun administratif, personal, material, dan finansial berada dalam tubuh Pengadilan Negeri yang bersangkutan. Praperadilan ini tunduk dan berada di bawah pimpinan Ketua Pengadilan Negeri setempat. Kedudukannya pun berada dan bersatu dengan pengadilan Negeri setempat.
Di Indonesia, lembaga praperadilan sebagaimana yang tercantum dalam Pasal 1 butir 10 Undang-undang No. 8 Tahun 1981, menyatakan bahwa :
Praperadilan adalah wewenang Pengadilan Negeri untuk memeriksa dan memutus menurut cara yang diatur dalam undang-undang ini tentang:
(1) Sah atau tidaknya suatu penangkapan dan atau penahanan atas permintaan tersangka atau keluarganya atau pihak lain atas kuasa tersangka;
(2) Sah atau tidaknya penghentian penyidikan atau penghentian penuntutan atas permintaan demi tegaknya hukum dan keadilan;
(3) Permintaan ganti kerugian atau rehabilitasi oleh tersangka atau keluarganya atau pihak lain atas kuasanya yang perkaranya tidak diajukan ke pengadilan. Berdasarkan Pasal 77 KUHAP menentukan bahwa :
Pengadilan Negeri berwenang untuk memeriksa dan memutus sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam undang-undang ini tentang:
(1) Sah atau tidaknya penangkapan, penahanan, penghentian penyidikan atau penghentian penuntutan;
(2) Ganti kerugian dan atau rehabilitasi bagi seorang yang perkara pidananya dihentikan pada tingkat penyidikan atau penuntutan.
Berdasarkan Pasal 78 KUHAP yang berbunyi:
(1) Yang melaksanakan wewenang Pengadilan Negeri sebagaimana dimaksud dalam Pasal 77 adalah praperadilan;
(2) Praperadilan dipimpin oleh hakim tunggal yang ditunjuk oleh Ketua Pengadilan Negeri dan dibantu oleh seorang panitera.
Dari pemaparan tersebut, dapat disimpulkan bahwa praperadilan dibentuk sebagai sarana pengontrol tindakan aparat penegak hukum dalam menjalankan tugasnya agar tidak bertindak sewenang-wenang. Dengan adanya praperadilan, aparat penegak hukum dalam melakukan upaya paksa terhadap seorang tersangka tetap berdasarkan undangundang dan tidak bertentangan dengan hukum.5 Hal inilah yang membedakan KUHAP dengan masa berlakunya HIR, di mana pada waktu itu tindakan upaya paksa yang dilakukan oleh penyidik terhadap seorang tidak terawasi dan tidak terkontrol, sehingga dapat menimbulkan tindakan sewenang-wenang dari aparat penyidik. Untuk itu dibentuk lembaga praperadilan yang berwenang melakukan koreksi, penilaian, dan pengawasan terhadap tindakan upaya paksa yang dilakukan oleh penyidik.
Ketentuan tersebut di atas pada pokoknya tujuan dasar dari praperadilan adalah satu cerminan pelaksanaan dari asas presumption of innocent (praduga tidak bersalah) sehingga tiap orang yang diajukan sebagai terdakwa telah melalui proses awal yang wajar dan mendapat perlindungan harkat dan martabat manusianya.6
Lembaga praperadilan merupakan alat uji apakah seseorang itu telah melalui proses awal penangkapan dan penahanan oleh aparatur penyidik secara sah menurut undang-undang atau satu penahanan dan atau penangkapan yang mengandung cacat.
5Nyoman Serikat Putra Jaya, , Sistem Peradilan Pidana (Criminal Justice system), Bahan Kuliah, Program Megister Ilmu Hukum Universitas Diponegoro, Semarang, 2006, hlm. 31.
Subyek hukum praperadilan adalah setiap orang yang dirugikan. Objek praperadilan dalam hal untuk sah atau tidaknya penghentian penyidikan atau penuntutan dapat diajukan oleh penyidik atau penuntut umum atau pihak ketiga yang berkepentingan kepada ketua pengadilan negeri dengan menyebutkan alasannya yaitu untuk menegakkan hukum, keadilan dan kebenaran melalui sarana pengawasan secara horizontal.7
Fungsi dan peranan peradilan di dalam KUHAP (UU No. 8 Tahun 1981) merupakan ikon pembaharuan hukum acara pidana model Het Herziene Inlandsch Reglement (HIR) yang diberlakukan sejak tahun 1941-1942. HIR harus dapat memperoleh pengakuan dari tersangka mengenai peristiwa yang melibatkan dirinya, dimana pengakuan tersangka merupakan salah satu alat bukti utama dari alat bukti lainnya sehingga terbukti sering terjadi perlakuan sewenang-wenang dan penyalahgunaan wewenang pemeriksaan dalam beberapa kasus tindak pidana.8
Lembaga peradilan diharapkan menjadi tempat bagi masyarakat mendapatkan keadilan dan menaruh harapan. Namun, realitanya jauh dari harapan. Justru, pengadilan dianggap sebagai tempat yang berperan penting menjauhkan masyarakat dari keadilan. Harapan akan memperoleh kebenaran dan keadilanpun pupus ketika ditemukan adanya permainan sistematis yang diperankan oleh segerombolan orang yang bernama mafia peradilan.
Oleh karena itu, untuk memperoleh lembaga peradilan yang baik, diperlukan pendekatan terpadu (integrated justice system) dan kemandirian Mahkamah Agung sebagai peradilan 1 (satu) atap, juga mesti memperhatikan nilai-nilai yang diinginkan oleh masyarakat, seperti nilai ketuhanan, keadilan, kebersamaan, kedamaian, ketertiban,
6O.C. Kaligis, dkk, Praperadilan Dalam Kenyataan: Studi Kasus Dan Kenyataan, Djambatan, Jakarta, 1997, hlm X.
7Irma Hermawati, ”Sekilas tentang praperadilan”, http://www.profauna.org/ diakses tanggal 20 April 2011.
kemodernan, musyawarah, perlindungan hak asasi dan sebagainya. Sehingga lembaga peradilan tersebut dapat sesuai dengan cita hukum bangsa Indonesia.9
Realitas yang demikian dapat dilihat antara lain terhadap tiga orang dokter yang mempraperadilankan Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara (Kejatisu) terkait penahanan ketiganya atas tuduhan dugaan korupsi pengadaan alat-alat kesehatan di Rumah Sakit Umum Kabanjahe. Adapun yang mendasari sah tidaknya penahanan ketiganya yaitu Pertama, bahwa tidak didasari bukti yang cukup karena Kejaksaan melakukan penahanan tanggal 16 November 2009, Sedangkan pihak kejaksaan baru mendapatkan bukti yang cukup untuk dijadikan dasar penahanan tanggal 2 Desember 2009 sesuai berita acara penyitaan tanggal 2 Desember 2009. Kedua, bahwa selain penahanan dinilai tidak sah, juga penyitaan pada tanggal 2 Desember 2009 yang dilakukan Kejaksaan merupakan pelanggaran terhadap KUHAP, Sebab termohon mengajukan persetujuan penyitaan kepada ketua PN Kabanjahe tanggal 24 November 2009 sebelum penyitaan dilakukan.10
Lembaga praperadilan walaupun berfungsi melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan upaya paksa, namun fungsi pengawasan lembaga yang diberikan undang-undang ini tidak dapat berjalan dengan baik. Hal ini dapat disebabkan karena adanya hambatan-hambatan yang muncul karena maksud dan tujuan pemberlakuan praperadilan itu tidak tercapai dengan baik dan benar, sehingga hak-hak tersangka untuk memperoleh perlindungan hukum masih terabaikan. Adapun hambatan yang timbul seperti bolak-baliknya perkara pidana dari penyidik Polri ke Jaksa sehingga hak tersangka untuk memperoleh kepastian hukum terabaikan; bahkan perkara pidana dilatarbelakangi oleh kepentingan pribadi/kelompok/politik.
8Romli Atmasasmita, Seminar Nasional: Analisis Atas RUU KUHAP 2009, Peradilan Semu USU, Tanggal 02 Maret 2010.
9
Ediwarman, Pidato Ilmiah: Kritik Tajam Terhadap Dunia Hukum Kita, Kisaran, Tanggal 4 Februari 2006, halaman 2.
Masyarakat yang mengajukan praperadilan atas sah tidaknya suatu penahanan atau penangkapan, penghentian penyidikan atau penuntutan oleh aparat penegak hukum jarang sekali menang atau bahkan sampai ke pengadilan sehingga menyebabkan tidak adanya kepastian hukum terhadap masyarakat pencari keadilan.
Praperadilan berdasarkan penjelasan di atas, hanyalah menguji dan menilai tentang kebenaran dan ketepatan tindakan upaya paksa yang dilakukan penyidik dan penuntut umum dalam hal menyangkut ketepatan penangkapan, penahanan, penghentian penyidikan dan penuntutan serta ganti kerugian dan rehabilitasi. Praperadilan merupakan tiruan dari Rechter Commisaris di Negeri Belanda.11 Lembaga Rechter Commisaris (hakim yang memimpin pemeriksaan pendahuluan), muncul sebagai wujud dari peran serta keaktifan Hakim, yang di Eropa Tengah memberikan peranan ”Rechter Commisaris” suatu posisi yang mempunyai kewenangan untuk menangani upaya paksa (dwang middelen), penahanan, penyitaan, penggeledahan badan, rumah, pemeriksaan surat-surat.12
Dasar terwujudnya praperadilan menurut Pedoman Pelaksanaan KUHAP adalah sebagai berikut:
Mengingat bahwa demi kepentingan pemeriksaan perkara diperlukan adanya pengurangan-pengurangan dari hak-hak asasi tersangka, namun bagaimanapun hendaknya selalu berdasar ketentuan yang diatur dalam undang-undang, maka untuk kepentingan pengawasan terhadap perlindungan hak-hak asasi tersangka atau terdakwa diadakan suatu lembaga yang dimanakan praperadilan.13
Praperadilan merupakan bagian dari pengadilan negeri yang melakukan fungsi pengawasan terutama dalam hal dilakukan upaya paksa terhadap tersangka oleh penyidik atau penuntut umum. Pengawasan yang dimaksud adalah pengawasan bagaimana seorang aparat penegak hukum melaksanakan wewenang yang ada padanya
10
Tiga Tersangka Kasus Korupsi Pengadaan Alkes RSU Kabanjahe Praperadilankan Kejatisu di PN Medan, Sinar Indonesia Baru, Rabu, 20 Januari 2010, hlm. 1.
11
Andi Hamzah, Hukum Acara Pidana, Jakarta, Sinar Grafika, 2002, hlm. 183. 12
sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang ada, sehingga aparat penegak hukum tidak sewenang-wenang dalam melaksanakan tugasnya. Sementara itu, bagi tersangka, atau keluarganya sebagai akibat dari tindakan meyimpang yang dilakukan oleh aparat penegak hukum dalam melaksanakan tugasnya, ia berhak mendapat ganti kerugian dan rehabilitasi.14
2) Para Pihak yang Dapat Mengajukan Upaya Pra Peradilan
Pihak-pihak yang berhak mengajukan permohonan praperadilan adalah: a) Tersangka, keluarganya, atau kuasanya
Berdasarkan ketentuan Pasal 79 KUHAP, pihak Tersangka, keluarganya, atau kuasanya (orang yang diberi kuasa oleh tersangka) berhak mengajukan permintaan pemeriksaan tentang sah atau tidaknya suatu penangkapan atau penahanan.
b) Penuntut umum atau pihak ketiga yang berkepentingan
Pasal 80 KUHAP memberikan hak kepada penuntut umum dan pihak ketiga yang berkepentingan untuk mengajukan pemeriksaan kepada praperadilan mengenai sah atau tidaknya penghentian penyidikan yang dilakukan oleh penyidik.15
c) Penyidik atau pihak ketiga yang berkepentingan
Penyidik atau pihak ketiga yang berkepentingan, berdasarkan Pasal 80 KUHAP dapat mengajukan permintaan pemeriksaan sah atau tidaknya penghentian penuntutan yang dilakukan oleh penuntut umum. penuntut umum.
d) Tersangka, ahli warisnya atau kuasanya
13
Departemen Kehakiman, Keputusan Menteri Kehakiman tentang Pedoman Pelaksanaan Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana, Kepmen Kehakiman No. M.01.07.03 TH. 1982.
14Ratna Nurul Alfiah, Praperadilan dan Ruang Lingkupnya, Akademika Presindo, Jakarta, 1986, hlm. 75
15
Pasal 95 ayat (2) KUHAP menyebutkan bahwa tersangka, ahli warisnya atau kuasanya dapat mengajukan tuntutan ganti kerugian kepada praperadilan atas alasan: 1) Penangkapan atau penahanan tidak sah;
2) Penggeladahan atau penyitaan tanpa alasan yang sah;
3) Karena kekeliruan mengenai orang atau hukum yang diterapkan, yang perkaranya tidak diajukan ke pengadilan.
e) Tersangka atau pihak ketiga yang berkepentingan
Berdasarkan ketentuan Pasal 95 ayat (2) KUHAP, tersangka atau pihak ketiga yang berkepentingan dapat mengajukan tuntutan ganti kerugian dan rehabilitasi karena sahnya penghentian penuntutan yang dilakukan oleh penuntut umum.
f) Tersangka
Pasal 97 ayat (3) KUHAP memberikan hak kepada tersangka untuk mengajukan rehabilitasi kepada praperadilan atas alasan sebagai berikut:
1) Penangkapan atau penahanan tanpa alasan yang berdasarkan undang-undang; 2) Kekeliruan mengenai orang atau badan hukum yang diterapkan yang perkaranya
tidak diteruskan ke pengadilan.
C. PEMBAHASAN
1. Pelaksanaan Praperadilan di Wilayah Hukum Pengadilan Negeri Banda Aceh Adanya perlakuan atau tindakan penyidik dalam upaya penyelidikan dan penyidikan disertai penangkapan khususnya terhadap tersangka yang harus dilakukan penangkapan dan penahanan dapat saja dilakukan tanpa tatacara yang tidak sah. Oleh karena itu, tersangka dapat mengajukan u paya tuntutan melalui lembaga praperadilan. Upaya praperadilan ini dapat dilakukan tersangka yang
mengalami tindakan penangkapan dan penahanan secara tidak sah yaitu dengan mengajukan upaya praperadilan untuk menghentikan dilakukannya penyidikan dan penahanan.16
Namun demikian berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa terhadap upaya praperadilan yang dilakukan oleh tersangka baik yang dilakukan sendiri atau melalui penasehat hukumnya jarang yang mendapat putusan sesuai dengan yang dikehendaki terdakwa, yaitu seperti dihentikan penyidikan atau ditangguhkan penahanan. Hal ini disebabkan pihak pihak penyidik dapat memanfaatkan celah hukum yang ada untuk melakukan bantahan atau tuntutan praperadilan ditolak pengadilan.17
Pendapat ini juga dibenarkan oleh Salmiati yang dalam proses peradilan pidana terhadap dirinya telah mengalami tindakan yang melanggar hukum, dimana ia ditangkap dan disekap 3 orang yang berpakaian preman, pada salah satu ruangan di Kantor Legiun Veteran Blok Bengkel Kota Sigli. Padahal tindakan penahanan dan penyekapan yang dilakukan tanpa menunjukkan Surat Penangkapan dan Penahanan/Penyekapan yang dilakukan pihak penyidik ini telah melanggar ketentuan undang-undang yang berlaku.18
Kondisi seperti ini terjadi hampir pada semua perkara pra peradilan yang diajukan baik oleh tersangka secara perorangan maupun yang dilakukan oleh atau melalui penasehat hukumnya. Hal ini menunjukkan bahwa walaupun penegakan hukum atau law enforcement yang merupakan suatu rangkaian kegiatan dalam usaha pelaksanaan ketentuan-ketentuan hukum yang berlaku baik yang bersifat penindakan maupun pencegahan mencakup keseluruhan kegiatan baik teknis maupun administratif yang dilaksanakan oleh aparat penegak hukum, sehingga
16
Mukhzan, Kasi Pidum dan Jaksa Penuntut Umum Kejaksaan Negeri Banda Aceh, Wawancara Tanggal 13 Maret 2012.
17
dapat melahirkan suasana aman, damai dan tertib demi pemantapan kepastian hukum dalam masyarakat. Namun dalam pelaksanaan tidak sebagaimana yang diharapkan seperti halnya di Wilayah Hukum Pengadilan Negeri Banda Aceh.
Berdasarkan hasil penelitian di Wilayah Hukum Pengadilan Negeri Banda Aceh diketahui bahwa dalam periode Tahun 2009 sampai dengan 2011 hanya terdapat 3 kasus penetapan pra peradilan masing-masing yang kesemuanya ditolak oleh hakim. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat padatabel berikut :
TABEL
JUMLAH PENETAPAN PRA PERADILAN PADA PENGADILAN NEGERI BANDA ACEH TAHUN 2009 - 2011
Tahun Jumlah Nomor
Penetapan Pemohon Penetapan
2009 1 No.1/Pid.Pra/2009/ PN BNA
Wahidin Bin Abu Bakar
Permohonan tidak dapat diterima karena Pengadilan tidak wenang
mengadili 2010 - - 2011 2 No.1/Pid.Pra/2011/ PN BNA Dra Salmiati Bin M. Saman Permohonan ditolak karena penangkapan dan
penahanan yang dilakukan sah No.2/Pra.Pid/2011/ PN BNA Boy Hermansyah Permohonan ditolak karena penyitaan yang
dilakukan sah
Jumlah 3
Sumber : Pengadilan Negeri Banda Aceh, Februari 2012
Tabel di atas menunjukkan bahwa dalam hal pelaksanaan upaya pra peradilan di Wilayah Hukum Pengadilan Negeri Banda Aceh dalam tiga tahun terakhir hanya ada tiga kasus penetapan pengadilan tentang upaya pra peradilan dan tidak ada yang dipenuhi oleh hakim. Kondisi ini tentunya menyebabkan minimnya tersangka memanfaatkan lembaga pra peradilan sebagai salah satu bentuk upaya hukum untuk melindungi kepentingan tersangka dalam proses peradilan pidana. Berdasarkan hasil
penelitian khususnya dari penelaahan pada tiga penetapan praperadilan oleh hakim di Wilayah Hukum Pengadilan Negeri Banda Aceh yang seluruhnya menolak atau permohonan dinyatakan ditolak.
Pada dasarnya apabila dilihat dari alasan diajukannya pra peradilan oleh pemohon pra peradilan dapat diketahui bahwa pemohon pra peradilan dalam proses penangkapan dan penahanan yang dialami tersangka telah melanggar hak -hak tersangka dan juga hak asasi manusia. Hasil penelaahan pada ketiga penetapan tersebut diketahui pengajuan permohonan pra peradilan dilakukan dengan alasan sebagai berikut.
1) Penangkapan tersangka oleh penyidik tanpa alasan yang jelas dan tanpa surat perintah
2) Penahanan dan penyekapan tanpa alasan dan pemanggilan terlebih dahulu 3) Penetapan tersangka tidak sesuai dengan ketentuan hukum Acara pidana
2. Alasan Hakim Tidak Memenuhi Permohonan Praperadilan Oleh Tersangka
Hasil penelaahan yang dilakukan terhadap ketiga permohonan praperadilan yang telah memperoleh penetapan hakim tersebut seluruhnya menolak atau permohonan dinyatakan gugur. Keadaan ini menunjukkan belum adanya perlindungan hukum tersangka yang semula yang mengalami tindakan penangkapan dan penahanan secara tidak sah dan melanggar hak asasi manusia sehingga ketentuan mengenai praperadilan belum bermanfaat ba gi tersangka atau terdakwa suatu tindak pidana.
Ramli Husein juga membenarkan bahwa apabila dilihat dari penetapan hakim yang kesemuanya menolak permohonan praperadilan yang diajukan tersangka, terlihat bahwa hakim yang memeriksa perkara sama sekali t idak mempertimbangkan kondisi tersangka yang telah mendapat perlakuan yang
melanggar hukum dari penegak hukum bahkan ada yang sampai meninggal dunia. Hal ini menggambarkan perlindungan hukum bagi tersangka yang mengalami tindakan penangkapan dan penahanan secara tidak sah dan melanggar hak asasi manusia belum berjalan sebagaimana yang dikehendaki dalam ketentuan KUHAP maupun UU Kekuasaan Kehakiman.19
Adapun mengenai pertimbangan hakim dalam penetapan permohonan praperadilan pada keempat kasus di Wilayah Hukum Pengadilan Negeri Banda Aceh dapat dilihat pada uraian berikut.
1. Permohonan tidak dapat diterima karena Pengadilan tidak wenang Mengadili Mengenai alasan ini dapat dilihat pada uraian penetapan Nomor 01/Pid.Pra/2009/PN. BNA. Terhadap permohonan yang diajukan oleh Wahidin Bin Abu Bakar yang dikuasakan kepada kuasa hukumnya atas karena tersangka ditangkap tanpa surat perintah penangkapan.20
2. Permohonan ditolak karena penangkapan dan penahanan yang dilakukan sah Adanya alasan penolakan permohonan pra peradilan ini ditunjukkan dalam penetapan Nomor 01/Pid.Pra/2011/PN.BNA yang diajukan oleh Salmiati Binti Muhammad Saman yang diwakili oleh kuasa hukumnya M. Zuhri Hasibuan sebagai penasehat hukumnya.
3. Permohonan ditolak karena penyitaan yang dilakukan sah
Alasan penolakan ini dapat ditelaah dari Penetapan No. 02/Pra.Pid/2011/PN.BNA yang diajukan oleh Boy Hermansyah, Warga Taman Setiabudi Indah Kelurahan Asam Kumbang Medan Selayang, Kota Medan karena pemohon sebagai pihak yang dirugikan oleh tindakan para termohon yang
19
Ramli Husein, Penasehat hukum/Advokad di Banda Aceh, Wawancara tanggal 19 Maret 2012.
yang menetapkan sebagai tersangka dan melakukan penyitaan tidak sesuai dengan proses dan/atau prosedur serta mekanisme hukum acara pidana di Negara Republik Indonesia.21
D. PENUTUP
1) Kesimpulan
a. Pelaksanaan praperadilan di Wilayah Hukum Pengadilan Negeri Banda Aceh dilakukan oleh pelaku tindak pidana maupun oleh kuasa hukumnya. Adapun faktor penyebab pengajuan praperadilan adalah dengan alasan penangkapan tersangka oleh penyidik tanpa alasan yang jelas dan tanpa surat perintah, penahanan dan penyekapan tanpa alasan dan pemanggilan terlebih dahulu dan penetapan tersangka tidak sesuai dengan ketentuan hukum acara pidana.
b. Alasan hakim tidak memenuhi permohonan praperadilan oleh tersangka adalah karena permohonan tidak dapat diterima karena pengadilan tidak wenang mengadili, permohonan ditolak karena penangkapan dan penahanan yang dilakukan sah dan permohonan ditolak karena penyitaan yang dilakukan sah.
2) Saran
a. Kepada hakim yang memeriksa dan mengadili permohonan praperadilan agar dapat memberikan penetapan yang sesuai dengan asas praduga tak bersalah, kebenaran baik dari alasan hukum maupun alasan faktual, jadi tidak terbatas pada pengujian secara formil belaka.
20
Abu Hanifah, Hakim Pengadilan Negeri Banda Aceh, Wawancara Tanggal 23 Maret 2012 21
b. Kepada aparat penegak hukum agar sebelum melakukan upaya paksa pada tahap penyelidikan, penyidikan agar dapat melengkapi persyaratan guna menghindari terjadinya praperadilan dari masyarakat sehingga pihak penyidikan dan penuntut dapat lebih profesional.
DAFTAR PUSTAKA
Abdussalam, R. dan DPM Sitompul, 2007, Sistem Peradilan Pidana, Restu Agung, Jakarta.
Andi Hamzah, 2002, Hukum Acara Pidana, Jakarta, Sinar Grafika.
Anthon F. Susanto, 2004, Wajah Peradilan Kita, Refika Aditama, Bandung.
Ediwarman, Pidato Ilmiah: Kritik Tajam Terhadap Dunia Hukum Kita, Kisaran, Tanggal 4 Februari 2006.
HMA KUFFAL, 2008, Penerapan KUHAP dalam Praktik Hukum, UMM Press, Malang.
Irma Hermawati, ”Sekilas tentang praperadilan”, http://www.profauna.org/ diakses tanggal 20 April 2011.
Kaligis, O.C., dkk, 1997, Praperadilan Dalam Kenyataan: Studi Kasus Dan Kenyataan, Djambatan, Jakarta.
Kuffal, HMA, 2008, Penerapan KUHAP dalam Praktik Hukum, UMM Press, Malang. Nyoman Serikat Putra Jaya, Sistem Peradilan Pidana (Criminal Justice system), Bahan
Kuliah, Program Megister Ilmu Hukum Universitas Diponegoro, Semarang, 2006.
Ratna Nurul Alfiah, 1986, Praperadilan dan Ruang Lingkupnya, Akademika Presindo, Jakarta.
Romli Atmasasmita, 1982, “Strategi Pembinaan Pelanggaran Hukum dalam Konteks Penegakan Hukum di Indonesia”, Alumni, Bandung.
---, Seminar Nasional: Analisis Atas RUU KUHAP 2009, Peradilan Semu USU, Tanggal 02 Maret 2010.
Tiga Tersangka Kasus Korupsi Pengadaan Alkes RSU Kabanjahe Praperadilankan Kejatisu di PN Medan, Sinar Indonesia Baru, Rabu, 20 Januari 2010.
Peraturan Perundang-undangan
Undang-undang Nomor 8 tahun 1981 tentang Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana
Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2002 Tentang Kepolisian Negara Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2004 tentang Kejaksaan