• Tidak ada hasil yang ditemukan

Laporan Kimia - Menentukan kadar NaClO dalam pemutih

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Laporan Kimia - Menentukan kadar NaClO dalam pemutih"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA

MENENTUKAN KADAR NaClO PADA PEMUTIH

Disusun oleh :

Latifah Suryaningrum

(24 / XII IPA 1)

SMA Negeri 1 Klaten

Jl. Merbabu No. 13 Klaten

(2)

A. Tujuan

Menentukan kadar NaClO dalam cairan pemutih (misalnya So Klin).

B. Tempat dan Waktu Praktikum

1. Tempat : Laboratorium Kimia SMA Negeri 1 Klaten 2. Waktu : Kamis 20 September 2012 pukul 06.45 WIB

C. Dasar Teori

Iodometri adalah titrasi (penetapan) kadar suatu zat berdasarkan reaksi redoks antara iod dan natrium tiosulfat, Na2S2O3.

Reduksi : I2(aq) + 2 e–  2 I–(aq)

Oksidasi : 2 S2O32–(aq) S4O62–(aq) + 2 e–

Redoks : I2(aq) + 2 S2O32–(aq) 2 I–(aq) + S4O62–(aq)

Reaksi rumusnya: I2(aq) + 2 Na2S2O3(aq) 2 NaI(aq) + Na2S4O6(aq)

Titik ekivalen ditunjukkan dengan indikator amilum yang memberi warna biru dengan iod.

I2 + amilum  iod amilum (biru)

Cairan pemutih (pengelantang) untuk pemutih pakaian (mencuci) banyak di jual di pasaran dengan berbagai merk dagang, misalnya Bayclean, Sunclean, So Klin dan lain-lainnya. Di dalam cairan pemutih tersebut terdapat bahan aktif NaClO yang umumya mempunyai kadar 5,25% (menurut label). Kadar NaClO tersebut dapat ditentukan melalui titrasi volumetrik dengan Na2S2O3 sebagai larutan standar.

Ion hipoklorit dalam cairan pemutih dapat mengoksidasi iodida menjadi I2. Banyaknya I2 yang dihasilkan ditentukan dengan menitrasi larutan tersebut

menggunakan larutan standar Na2S2O3. Pada titrasi ini digunakan indikator amilum

yang akan berwarna biru dalam larutan I2. Titik akhir titrasi ditandai dengan hilangnya

(3)

D. Alat dan Bahan

No. Alat / Bahan Ukuran Jumlah

1 Buret 25 cm3 / 50 cm3 1

2 Pipet tetes - 1

3 Corong Kecil 1

4 Statif dan klem - 1 / 1

5 Pipet volumetrik 10 cm3 1 6 Pipet gondok 10 cm3 1 7 Labu takar 50 cm3 1 8 Labu erlenmeyer 100 cm3 2 10 Gelas ukur 50 cm3 2 11 So Klin - 100 cm3 11 Larutan KI 1 M 50 cm3 12 Larutan Na2S2O3 0,1 M 100 cm3 13 Larutan H2SO4 4 M 5 cm3 14 Indikator amilum 5% 10 cm3 15 Auqades - 200 cm3 E. Langkah Kerja

1. Menyiapkan alat dan bahan yang digunakan untuk percobaan.

2. Menghitung massa jenis cairan pemutih (So Klin) dengan langkah-langkah sebagai berikut :

a. Menimbang massa labu takar.

b. Mengisi labu takar dengan cairan pemutih (So Klin) sebanyak 100 mL (batas ukur pada labu takar).

c. Menimbang massa labur takar yang telah terisi cairan pemutih. d. Menghitung massa jenis 100 mL cairan pemutih.

3. Melakukan pengenceran cairan pemutih (So Klin) dengan langkah-langkah sebagai berikut :

a. Mengisi labu takar dengan So Klin sebanyak 5 mL menggunakan pipet volumetrik.

(4)

b. Mengencerkan dengan cara menambahkan aquades hingga volume mencapai 100 mL (batas ukur pada labu).

c. Mengambil 10 mL dari cairan pemutih yang telah dicampur dengan aquades tadi menggunakan pipet gondok lalu mengencerkan kembali menggunakan aquades hingga batas ukur 100mL pada labu takar.

4. Memasang buret pada statif.

5. Mengisi larutan Na2S2O3 0,1 M pada buret yang telah dipasang pada statif.

6. Memasukkan 10 mL cairan pemutih (So Klin) yang telah diencerkan ke dalam labu erlenmeyer menggunakan pipet volumetrik.

7. Memasukkan 5 mL larutan H2SO4 dan 10 mL larutan KI dalam cairan pemutih

pada labu erlenmeyer.

8. Menutup mulut labu erlenmeyer yang telah diberi tambahan larutan kemudian dikocok.

9. Menitrasi campuran sampai warna kuning yang dihasilkan mulai pudar. 10. Menambahkan 2 tetes indikator amilum.

11. Melanjutkan titrasi hingga warna biru pada larutan tepat hilang. 12. Mengulangi langkah kerja 10 hingga 15 sebanyak 2 kali.

13. Mencatat hasil percobaan titrasi tersebut.

F. Hasil Percobaan

Massa labu takar

kosong (gr)

Massa labu takar berisi

cairan pemutih 100 mL (gr)

Massa cairan pemutih

100 mL (gr)

33,6 142 142 – 33,6 = 108,4 No Sebelum di tetesi KI + H2SO4 Sesudah di tetesi KI + H2SO4 Setelah di titrasi Volume Na2S2O3 terpakai (mL) 1. Bening Kuning kecoklatan Kuning 2,2

2. Bening Kuning Kecoklatan Kuning -

(5)

G. Pembahasan

Untuk penghitungan massa jenis cairan pemutih

𝝆

𝒑𝒆𝒎𝒖𝒕𝒊𝒉 = 𝒎 𝒗

=

108,4 𝑔𝑟

100 𝑚𝐿

= 1,084 𝑔𝑟/𝑚𝐿

Reaksi-reaksi yang terjadi dalam percobaan adalah sebagai berikut: NaClO + 2KI + H2SO4 → NaCl + K2SO4 + I2 + H2O

I2 + 2Na2S2O3 → 2NaI + Na2S2O6

Pada pencampuran antara titrasi pemutih (So Klin) dengan KI dan H2SO4

dihasilkan warna kuning kecoklatan menandakan bahwa terbentuk I2. Setelah

campuran dititrasi dengan menggunakan Na2S2O3 kemudian ditetesi amilum

warnanya berubah menjadi biru-ungu hal ini karena ada pada titik ekivalen, satu tetes saja kelebihan I2 akan memberi warna biru-ungu. Setelah itu dititrasi lagi dengan

Na2S2O3 sampai warna berubah menjadi bening. Warna bening menunjukkan bahwa

I2 sudah habis. Dengan adannya perubahan volume pada Na2S2O3 1M yang

digunakan untuk titrasi maka dapat dicari kadar NaClO.

Pada tercobaan pertama, larutan pemutih setelah ditetesi amilum dan dititrasi lagi menggunakan Na2S2O3, setelah warnanya menjadi tidak berwarna terdapat sedikit

endapan, hal ini dikarenakan saat titrasi peneliti kurang tepat saat menutup keran pada buret, sehingga ada Na2S2O3 yang menetes lagi jadi data yang dihasilkan kurang

akurat (valid).

Pada saat mencampurkan larutan pemutih dengan KI dan H2SO4 tidak dihasilkan

warna kuning kecokelatan karena larutan KI sebelum dicampurkan dibiarkan terlalu lama terbuka oleh peneliti serta kurangnya suasana asam sehingga reaksi tidak terjadi, karena reaksi dalam pencampuran tersebut hanya dapat berlangsung dalam suasana asam.

Dari tabel hasil percobaan pada percobaan kedua, tidak dituliskan data volume Na2S2O3 yang terpakai (mL) karena pada saat itu waktu yang dibutuhkan untuk

melakukan percobaan telah habis. Percobaan kedua ini dikatakan gagal, karena selain waktu yang telah habis juga karena peneliti kurang perhatian untuk menutup kran pada buret saat melakukan titrasi larutan dengan menggunakan Na2S2O3 pada

(6)

percobaan kedua sehingga mengakibatkan hasil titrasi yang seharusnya berwarna kuning menjadi tidak berwarna.

Peneliti hanya mendapatkan satu data percobaan sedang pada percobaan kedua dan ketiga mengalami kegagalan dikarenakan beberapa faktor, antara lain:

- Waktu yang diperlukan untuk melakukan titrasi terlalu lama - Larutan KI dibiarkan terlalu lama terbuka

- Kurangnya H2SO4 yang member suasana asam

- Alat-alat praktikum yang kurang memadai.

- Waktu yang diperlukan untuk melakukan percobaan tersita karena peneliti terlalu sibuk membagi tugas dengan sesama anggota.

- Kurangnya sikap disiplin saat melakukan percobaan.

H. Pertanyaan

1. Mengapa cairan pemutih harus diencerkan terlebih dahulu sebelum dititrasi? Jawab: Cairan pemutih harus diencerkan terlebih dahulu sebelum dititrasi dikarenakan agar perubahan-perubahan yang terjadi selama reaksi dapat teramati dengan baik. Selain itu, apabila cairan tersebut terkena tangan, tangan kita tidak gatal.

2. Apa fungsi asam sulfat dalam reaksi tersebut?

Jawab: Fungsi asam sulfat dalam reaksi tersebut untuk memberikan suasana asam, karena reaksi di atas hanya akan terjadi jika suasana asam.

3. Mengapa larutan KI yang ditambahkan harus dibuat berlebihan? Jelaskan 2 alasannya!

Jawab: Penambahan larutan KI harus dibuat berlebihan supaya hasil I2 yang

bereaksi dengan Na2S2O3 dapat bereaksi seperti yang diharapkan. Selain itu, ClO

-yang mengoksidasi I- sangat mempengaruhi kebutuhan larutan KI.

4. Mengapa titrasi harus dilakukan sedikitnya 3 kali?

Jawab: Titrasi harus dilakukan sedikitnya 3 kali agar data yang dihasilkan akurat (valid).

5. Berapa volume rata-rata Na2S2O3 yang terpakai?

Jawab: 2,2 mL (Sebenarnya bukan volume rata-rata karena datanya hanya ada satu)

(7)

6. Hitunglah kadar NaClO dalam 100 cm3 larutan pemutih tersebut! Ar: Na = 23, Cl = 35,5, dan O = 16 Jawab: Mol Na2S2O3 = M × V = 0,1 × 2,2 ml = 0,22 mmol

NaClO + 2KI + H2SO4 → NaCl + K2SO4 + I2 + H2O

0,11mmol 0,11mmol I2 + 2Na2S2O3 → 2NaI + Na2S2O6 0,11mmol 0,22mmol M NaClO = 𝑚𝑚𝑜𝑙𝑉(𝑚𝑙) = 0,115 = 0,022 M M NaClO = 10 ×𝜌 × %(𝑘𝑎𝑑𝑎𝑟) 𝑀𝑟 0,022 = 10 ×1,084 × %(𝑘𝑎𝑑𝑎𝑟)74,5 % = 0,022×74,510×1,084 % (kadar) = 0,15% I. Kesimpulan

Berdasarkan data yang diperoleh, dapat diketahui bahwa kadar NaClO dalam pemutih So Klin adalah 0,15 %. Tetapi, untuk hasil dari perhitungan kadar ini dirasa kurang akurat (valid) karena percobaan hanya dilakukan 1 kali titrasi dan hanya diperoleh 1 data volume Na2S2O3 saja.

Referensi

Dokumen terkait