PENDAHULUAN
Laporan keuangan merupakan instrumen perusahaan yang sangat penting dan salah satu media penyampaian informasi dan bentuk pertanggungjawaban kinerja perusahaan kepada publik. Selain itu, laporan keuangan yang disiapkan oleh perusahaan juga memainkan peranan yang sangat penting dalam menjaga efisiensi pasar modal. Laporan keuangan menyajikan pengungkapan-pengungkapan yang memilki arti penting mengenai bagaimana perusahaan sebelumnya, bagaimana perusahaan saat ini dan bagaimana arah perusahaan selajutnya. Laporan keuangan harusnya dipersiapkan dengan penuh integritas dan menyajikan representasu posisi keuangan secara wajar dari entitas yang menerbitkan laporan keuangan tersebut. Akan tetapi, laporan keuangan terkadang dengan sengaja salah disajikan oleh pihak-pihak yang mempunyai kepentingan. Salah saji tersebut bisa jadi merupakan akibat dari adanya tindakan manipulasi, pemalsuan, atau melakukan perubahan dalam catatan akuntansi. Sebagai akibat kecurangan laporan keuangan tersebut, dapat menimbulkan kerugian besar bagi para investor, kurangnya kepercayaan pada pasar dan sistem akuntansi yang ada, hingga proses peradilan juga rasa malu yang harus ditanggung oleh individu atau organisasi yang terlibat dalam kecurangan laporan keuangan tersebut.
Masalah-masalah mengenai laporan keuangan tersebut timbul bukan tanpa alasan. Alasan seseorang melakukan kecurangan lainnya juga berlaku pada kecurangan laporan keuangan. Segitiga kecurangan menunjukkan alasan-alasan seseorang dapat melakukan kecurangan, yakni:
1. Tekanan yang dirasakan, seperti kegagalan memenuhi ekspektasi, kerugian finansial, atau ketidakmampuan bersaing dengan perusahaan lain.
2. Peluang/kesempatan yang dimiliki, hal seperti itu dapat tercipta dikarenakan lemahnya keberadaan pengendalian
internal yang memadai dan kemampuan untuk menyembunyikan kecurangan tersebut.
3. Rasionalisasi, yakni pemikiran yang dapat ‘membenarkan’ praktik kecurangan.
Dengan tiga elemen kecurangan di atas, sangat memungkinkan seseorang melakukan sebuah kecurangan dalam lingkungan tempat mereka bekerja. Akan tetapi, kecurangan yang lebih ‘dahsyat’ atau Albrecht,dkk menyebutnya dengan ‘perfect fraud storm’ bisa saja terjadi, apabila didukung dengan beberapa faktor. Kembali disebutkan oleh Albrehct dkk, ada sembilan faktor yang menyebabkan ‘perfect fraud storm’ tersebut.
Faktor 1: Ledakan Ekonomi
Ledakan ekonomi merupakan suatu kondisi dimana ekonomi suatu wilayah atau negara mengalami pertumbuhan yang cukup pesat yang ditandai dengan kesuksesan dalam bidang ekonomi. Menurut Albrehct, dkk ledakan ekonomi juga disebabkan oleh para eksekutif yang percaya bahwa perusahaan mereka akan mengalami kesuksesan melebihi pencapaian yang sebenarnya dan bahwa kesuksesan perusahaan tersebut terutama dikarenakan pengelolaan manjemen yang baik. Selama terjadinya ledakan ekonomi, idealnya banyak bisnis yang menghasilkan keuntungan yang sangat tinggi, termasuk berbagai perusahaan baru. Namun, kondisi tersebut hanya terlihat seperti itu, sedangkan dibalik semua itu banyak perilaku-perilaku kecurangan yang disembunyikan. Kondisi ledakan ekonomi-lah yang memberikan kesempatan pada pelaku kecurangan untuk menyembunyikan aktivitas mereka.
Faktor 2: Kemerosotan Nilai-Nilai Moral
Semakin berkembangnya zaman, bukan semakin baik namun yang ditemukan oleh para peneliti adalah justru kemerosotan moral, salah satunya adalah ketidakjujuran. Albrecht, dkk menyebutkan bahwa banyak peneliti menemukan aktivitas
mencontek di sekolah, ini merupakan salah satu ukuran ketidakjujuran. Meskipun aktivitas mencontek tidak secara langsung berhubungan dengan kecurangan manajemen, hal tersebut memberikan gambaran kemerosotan moral di lingkungan masyarakat secara luas dan merupakan titik awal dari ketidakjujuran dalam lingkungan manajemen nantinya. Faktor 3: Kesalahan Alokasi Insentif
Salah satu insentif yang ‘menggoda’ bagi para eksekutif adalah pemberian opsi saham, dimana keuntungan dari insentif jenis ini bisa mencapai jutaan dolar. Alih-alih memberikan semangat untuk melakukan kinerja yang baik, Albrecht, dkk menyebutkan bahwa opsi saham ternyata memberikan tekanan yang luar biasa kepada pihak manajemen untuk tetap menjaga kenaikan harga saham, bahkan membebankannya pada pelaporan hasil kinerja keuangan yang akurat. Insentif ini mengalihkan perhatian banyak CEO dari aktivitas mengelola perusahan menjadi aktivitas mengelola harga saham, yang sering kali berujung pada laporan keuangan yang mengandung unsur kecurangan.
Faktor 4: Tingginya Ekspektasi Analis
Analis seringkali memberikan peramalan yang tinggi terhadap laba per saham yang akan dihasilkan dari saham suatu perusahaan. Para eksekutif sudah cukup tertekan dengan adanya opsi saham seperti yang telah disebutkan sebelumnya, ditambah lagi dengan ekspektasi analis yang harus dipenuhi oleh para eksekutif. Mengapa hal ini bisa menjadi tekanan? Karena eksekutif mengetahui bahwa ada sanksi atas kegagalan dalam memenuhi perkiraan analis yang tinggi tersebut. tentu saja akibat yang ditimbulkan adalah terjadinya kecurangan demin kecurangan dalam perusahaan.
Dalam Albrecht, dkk, faktor kelima dari perfect fraud storm adalah tingginya tingkat utang yang dimiliki maisng-masing perusahaan yang melakukan kecurangan. Utang tersebut memberikan tekanan besar bagi para eksekutif untuk menghasilkan laba yang tinggi guna menutupi beban bunga yang tinggi dan untuk memenuhi prasyarat dari perjanjian utang dan persyaratan dari pemberi pinjaman lainnya. Tidak ada perusahaan yang menginginkan laporan keuangannya ‘dihiasi’ dengan jumlah liabilitas yang tinggi, hal inilah yang memotivasi manajemen untuk melakukan kecurangan.
Faktor 6: Fokus pada Aturan daripada Prinsip Akuntansi Albrecht, dkk menyatakan bahwa akuntansi di Amerika Serikat lebih mendasarkan pada atutan, dengan kata lain standar berbasis aturan, bukan prinsip akuntansi berlaku umum. Akibat dari standar yang seperti ini adalah jika klien dapat menemukan celah dalam aturan dan mencatat transaksi dengan cara yabg tidak secara khusus dilarang oleh PABU, maka auditor akan sulit untuk melarang klien tersebut untuk menggunakan metode akuntansi tersebut. Hasilnya adalah aturan khusus yang dimanfaatkan untuk pengaturan-pengaturan keuangan yang baru dan lebih kompleks sebagai pembenaran untuk memutuskan praktik akuntansi apa yang bisa diterima dan apa yang tidak bisa diterima.
Faktor 7: Kurangnya Independensi Auditor
Faktor ketujuh yakni perilaku oportinistis dari beberapa KAP. Perilaku yang selalu ingin memanfaatkan kesempatan dengan sebaik-baiknya untuk keuntungan diri sendiri ini sangat mengurangi independensi auditor. KAP menggunakan audit sebagai upaya mengganti kerugian demi membangun hubungan dengan perusahaan agar mereka dapat menawarkan pengadaan jasa-jasa konsultasi yang lebih menguntungkan. Hingga pada akhirnya, jasa-jasa alternatif tersebut membuat
para auditor kehilangan fkus dan lebih memilih menjadi penasihat dalam kegiatan bisnis daripada menjadi auditor.
Faktor 8: Keserakahan
Pada dasarnya semua manusia memiliki sifat serakah, dan hal ini tidak dapat dipungkiri ketika sifat tersebut dihadapkan dengan ‘uang’ maka akan semakin luar biasa serakah. Para eksekutif, bank investasi, bank komersial, dan investor, masing-masing mengambil keuntungan dari sistem perekonomian yang kuat, berbagai transaksi yang menguntungkan, dan laba yang tinggi dari suatu perusahaan. Sifat serakah tidak menginginkan kabar buruk, hal ini mengakibatkan pengabaian terhadap berita negatif dan akhirnya terlibat dalam transaksi yang tidak baik. Faktor 9: Kegagalan Pendidik
1. Pendidik tidak memberikan pendidikan etika yang cukup memadai pada mahasiswa
Tidak adanya penekanan pada mahasiswa untuk meihat gambaran dilema etika yang terjadi sewaktu di kelas membuat para lulusan tidak memiliki bekal yang cukup untuk menghadapi dilemma etika secara riil dalam dunia bisnis.
Misalnya dalam sebuah dugaan skema kecurangan, pelaku sebenarnya termasuk seluruh jajaran manajemen senior perusahaan, termasuk (namun tidak berbatas pada) mantan pimpinan dan CEO, mantan presiden direktur, dua orang mantan CFO dan sejumlah personel senior di bidang akuntansi dan bisnis. Secara keseluruhan, kira-kira lebih dari 20 orang terlibat dalam skema tersebuy. Besarnya jumlah pelaku tersebut menunjukkan kegagalan pedoman etika secara umum yang terdapat pada kelompok ini.
Contoh lain adalah ketika CFO memberi instruksi pada kepala akuntan untuk meningkatkan laba senilai hampir $100 juta. Kepala akuntan merasa skeptic terhadap tujuan
dari instruksi tersebut tetapi tidak berupaya menolaknya. Kepala akuntan mengikuti arahan dan diduga membuat kertas kerja yang berisi tujuh lembar ayat jurnal yang tidak sesuai-seluruhnya 105 ayat jurnal- yang dianggap penting untuk menjalankan instruksi dari CFO tersebut.
Dalam banyak kasus seperti itu, orang-orang yang terlibat tidak memiliki latar belakang pernah melakukan aktivitas tidak jujur, namun ketika mereka diminta untuk berpartisipasi dalam kecurangan akuntansi, mereka melakukannya dengan begitu tenang dan tanpa paksaan. 2. Tidak mengajarkan kepada para mahasiswa mengenai
kecurangan.
Sebagian besar lulusan sekolah bisnis tidak akan menyadari telah terjadi kecurangan. Sebagian besar mahasiswa tidak memahami faktor-faktor penyebab kecurangan, tekanan yang dirasakan, peluang atau kesempatan yang dimiliki, proses rasionalisasi, atau indikator-indikator yang mengindikasikan kemungkinan adanya perilaku tidak jujur.
3. Cara pendidik mengajar mahasiswa jurusan akuntansi dan bisnis di masa lampau.
Pendidikan akuntansi yang efektif tidak boleh berfokus pada konten pembelajaran sebagai tujuan akhir tetapi menggunakan konten sebagai konteks untuk membantu mahasiswa mengembangkan kemampuan analitis.
Seperti yang telah dijelaskan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa kecurangan laporan keuangan sangat dipengaruhi adanya tiga elemen kecurangan yakni tekanan, kesempatan, dan rasionalisasi. Namun juga didukung oleh banyak faktor diluar elemen-elemen tersebut yang dapat menghasilkan kecurangan yang mengakibatkan kerugian yang lebih besar lagi.
Kecurangan laporan keuangan mengandung unsur penipuan dan upaya penyembunyian secara disengaja. Kecurangan laporan keuangan dapat disembunyikan melalui dokumentasi fiktif, yang termasuk di dalamnya pemalsuan dokumen. Kecurangan laporan keuangan dapat disembunyikan kolusi antara manajemen, pegawai, atau pihak ketiga.
Tanpa adanya pengakuan, dokumen yang benar-benar terlihat fiktif, atau sejumlah tindakan kecurangan yang sama dan dilakukan berulang-ulang (sehingga dapat disimpulkan terjadi kecurangan dari polanya), menuduh seseorang melakukan kecurangan laporan keuangan dapat menjadi sangat sulit. Karena adanya kesulitan dalam mendeteksi dan membutikan kecurangan, investigator harus sangat berhati-hati dalam melakukan pemeriksaan kecurangan, menghitung jumlah kecurangan, atau melakukan berbagai macam perikatan kerja terkait dengan kecurangan.
Statistik mengenai Kecurangan Laporan Keuangan
Salah satu cara untuk mengukur seberapa sering kecurangan laporan keuangan terjadi digunakan Accounting and Auditing Enforcement Releases (AAERs) yang dikeluarkan oleh SEC. Beberapa studi telah melakukan kajian terhadap AAERs. Salah satu pembahasan yang pertama dan paling komprehensif adalah Report of the Nation Commision on Fraudulent Financial Reporting yang dikeluarkan oleh National Commision on Fraudulent Financial Reporting (Treadway Commision). Laporan Treadway Commision menemukan bahwa walaupun kecurangan laporan keuangan tidak terlalu sering terjadi, kecurangan tersebut tetap sangat merugikan. Treadway Commision melakukan studi terhadap kecurangan yang terjadi selama sepuluh tahun yang berakhir pada tahun 1987. Studi ini mengkaji 119 tindakan hukum yang dilakukan oleh SEC pada periode tahun 1981-1986.
Pada tahun 1999, Committee of Sponsoring Organization (COSO) merilis studi yang mereka sponsori terkait kecurangan laporan keuangan yang diinvestigasi oleh SEC yang terjadi selama
tahun 1987-1997. Studi ini menemukan bahwa ada sekitar 300 kecurangan laporan keuangan yang menjadi subjek dari peraturan SEC selama periode tersebut. Ada 204 sampel acak dari kecurangan laporan keuangan tersebut mengungkapkan:
1. Rata-rata kecurangan yang terjadi akhir-akhir ini berlangsung selama dua tahun.
2. Pengakuan pendapatan yang tidak sesuai, perhitungan aset yang lebih saji, dan perhitungan biaya yang kurang saji merupakan metode kecurangan yang sangat umum digunakan. 3. Besarnya rata-rata kecurangan secara kumulatif adalah $25
juta (nilai median $4,1 juta).
4. Sebanyak 72% kasus kecurangan laporan keuangan dilakukan oleh CEO.
5. Rata-rata nilai aset dari perusahaan yang melakukan kecurangan adalah $532 juta (nilai median $16 juta) dan rata-rata pendapatan $232 juta (nilai median $13 juta).
6. Perusahaan yang melakukan kecurangan laporan keuangan biasanya menanggung konsekuensi berat.
Contohnya, 36% perusahaan yang mengajukan pernyataan kebangkrutan dideskripsikan sebagai perusahaan yang mati atau ditutup pada AAERs, atau diambil alih pengelolaannya oleh regulator Negara bagian atau regulator federal setelah kecurangan terjadi.
7. Kebanyakan perusahaan ini tidak memiliki komite audit atau hanya bertemu satu kali dalam satu tahun dengan komite audit mereka. Posisi dewan direksi pada perusahaan mereka sering diisi oleh “orang dalam”, bukannya direksi yang independen. 8. Dewan direksi yang didominasi oleh “orang dalam” dan direksi
dari luar yang memiliki hubungan khusus dengan manajemen atau perushaan, dengan kepemilikan ekuitas besar dan terlihat memiliki sedikit pengalaman sebagai direksi pada perusahaan lain. Hubungan keluarga antara direksi dengan pegawai merupakan sesuatu yang biasa terjadi, seperti halnya individu yang memiliki kekuasaan besar.
9. Beberapa perusahaan yang melakukan kecurangan laporan keuangan menderita kerugian bersih atau mendekati titik impas pada periode sebelum kehancuran terjadi.
10. Hanya lebih dari 25% dari perisahaan mengganti auditor mereka selama periode kecurangan tersebut.
Kemudian terdapat studi lainnya yang dilakukan oleh SEC yang didasarkan pada Section 704 Sarbanes-Oxley Act. Ketentuannya adalah SEC melakukan studi terhadap semua tindakan hukum yang diajukan selama periode 31 Juli 1997-30 Juli 2002 yang didasarkan pada pelaporan keuangan yang tidak sesuai, kecurangan, kegagalan audit, atau pelanggaran terhadap independensi auditor. Pada periode studi tersebut, SEC mengajukan 515 tindakan hukum atas pelanggaran pengungkapan dan pelaporan keuangan yang melibatkan 164 entitas yang berbeda.
Studi ini menemukan bahwa:
1. SEC paling banyak melakukan tindakan seperti pengakuan pendapatan yang tidak sesuai, pengakuan biaya yang tidak sesuai, perhitungan akuntansi yang tidak tepat terkait kombinasi kegiatan bisnis, pengungkapan Management’s discussion and analysis yang tidak memadai, penggunaan yang tidak tepat dari transaksi-transaksi lain yang tidak tercantum dalam neraca.
2. CEO, presiden direktur, dan CFO merupakan jajaran manajemen yang paling sering terlibat kemudian diikuti oleh pimpinan dewan, pejabat bagian operasional, pejabat bagian akuntansi, dan wakil presiden bagian keuangan.
Studi terbaru dilakukan oleh COSO yang mencakup periode tahun 1998-2007. Temuan besar yang dilaporkan dalam studi ini adalah sebagai berikut:
1. Kecurangan yang diinvestigasikan oleh SEC selama periode 10 tahun terakhir sekitar 18% lebih banyak jika dibandingkan dengan periode 10 tahun sebelumnya, dengan rata-rata nilai kecurangan meningkat secara drastic dari $25 juta menjadi sekitar $400 juta.
2. Median asset perusahaan-perusahaan yang ada dalam studi ini meningkat dari $16 juta menjadi hampir $100 juta.
3. CFO dan atau CEO yang disebut lebih dari 89% dalam kasus, sekitar 20% didakwa selama dua tahun proses investigasi yang dilakukan oleh SEC.
4. Pengakuan pendapatan yang tidak tepat terus menjadi metode kecurangan yang sangat umum dan dihitung untuk lebih dari 60% kasus yang terjadi.
5. Berbeda dengan penelitian sebelumnya, karakteristik dewan direksi perusahaan-perusahaan ini tidak jauh berbeda dengan karakteristik perusahaan sejenis yang tidak didakwa melakukan kecurangan.
6. 26% perusahaan yang melakukan pergantian auditor selama waktu terjadinya kecurangan; 60% diantaranya melakukan pergantian pada saat kecurangan sedang terjadi dan 40% melakukan pergantian sebelum kecurangan terjadi.
7. Liputan pers terhadap perusahaan yang diduga melakukan kecurangan menyebabkan terjadinya penurunan abnormal pada harga saham perusahaan sebesar 16,7% dan berita mengenai investigasi yang dilakukan pemerintah terhadap kecurangan tersebut mendorong penurunan harga saham abnormal sebesar 7,3%.
Selain penurunan harga saham yang dramatis tersebut, kedua studi yang dilakukan oleh COSO tersebut menunjukkan bahwa perusahaan yang terlibat dalam tindakan kecurangan menanggung konsekuensi yang negative yang sangat serius dalam jangka panjang segera setelah kecurangan yang dilakukannya tersebut terungkap, termasuk kebangkrutan dan penghapusan pencacatan saham (delisting) dari bursa saham. Walaupun persentase laporan keuangan yang mengandung unsur kecurangan yang berhasil terungkap relative kecil namun kerugian yang ditimbulkan seringkali sangat bernilai tinggi bagi para pegawai, pemegang saham, auditor, bankir, dan seluruh rekan bisnis.
Kasus-kasus kecurangan laporan keuangan sering kali memiliki faktor-faktor sebagai berikut:
1. Perusahaan terlihat memiliki kinerja yang lebih baik daripada perusahaan lain dalam industry tersebut.
2. Investor, analis, dan pemilik memiliki ekspektasi bahwa perusahaan akan memiliki kinerja yang sangat baik. Karena perusahaan tidak dapat memenuhi ekspektasi tersebut, memberikan tekanan kepada perusahaan agar ekpekstasi tersebut dapat dipenuhi.
Awal tindakan pelanggaran sering kali hanya berupa pelanggaran kecil bila dibandingkan dengankecurangan yang akhirnya terdeteksi.
MOTIVASI KECURANGAN LAPORAN KEUANGAN
1. Terkadang motivasinya adalah untuk memberikan dukungan agar harga saham tetap tinggi dan atau untuk dukungan terhadap penawaran obligasi dan saham.
2. Untuk meningkatkan harga saham perusahaan dan atau untuk memaksimalkan bonus bagi manajemen.
Kasus Phar Mor Inc
Phar-Mor.Inc membuka toko pertamanya pada tahun 1982 oleh Michael Monus. Sampai dengan tahun 1992 telah dibuka sebanyak 310 toko di 32 negara bagian, menhasilkan penjualan dengan nilai lebih dari $3 miliar. Phar-Mor menjual berbagai jenis produk rumah tangga dan obat-obatan dengan resep dokter dengan harga sangat murah. Sebenarnya harga produk Phar-Mor sangat rendah di bawah dari toko-toko sejenisnya yang juga memberikan diskon. Dengan harga sangat murah tersebut membuat barang-barang yang dijual oleh Phar-Mor terjual dibawah harga perolehannya, yang pada akhirnya menghasilkan kerugian untuk setiap penjualan yang terjadi. Strategi ini membantu Phar-Mor mendapatkan pelanggan baru dan membuka banyak toko baru setiap tahunnya. Namun strategi ini mengakibatkan kerugian bagi perusahaan, dan daripada mengakui perusahaannya telah mengalami kerugian, Monus menyembunyikan kerugian tersebut dan membuat Phar-Mor terlihat menguntungkan dengan melakukan
perhitungan akuntansi kreatif. Pemeriksa kecurangan dari pemerintah federal baru mengetahui hal ini lima than kemudian bahwa pendapatan sebelum pajak tahun pajak 1989 mengalami lebih saji sebesar $350.000 dan bahwa pada tahun 1987 adalah tahun terakhir Phar-Mor menghasilkan keuntungan.
Untuk menyembunyikan masalah arus kas Phar-Mor, menarik para investor dan membuat perusahaan terlihat menguntungkan, Michael Monus dan bawahannya, Patrick Finn, mengubah akun persediaan untuk memperkecil harga pokok pendapatan dan memperbesar nilai pendapatan. Monus dan Finn menggunakan tiga metode yang berbeda yaitu:
1. Memanipulasi akun;
2. Melakukan perhitungan persediaan yang lebih saji; dan 3. Memanipulasi aturan akuntansi.
Pada tahun 1985 dan 1986, sebelum kecurangan besar itu terjadi, Monus telah meminta Finn untuk:
1. Memperkecil nilai biaya tertentu yang melebihi anggaran dan memperbesar nilai biaya-biaya yang kurang dari anggaran dengan tujuan untuk membuat kegiatan operasional terlihat efisien.
2. Menaikkan marjin laba kotor dari 14,2% menjadi 16,5% dengan cara menggelembungkan akun persediaan.
3. Harga pokok penjualan dibuat kurang saji, sehingga seolah-olah Phar-Mar telah menjual barang pada tingkat marjin yang lebih tinggi. Karena biaya penjualan dibuat kurang saji maka nilai laba bersih menjadi lebih saji.
4. Memberikan tekanan kepada para penjual untuk melakukan pembayaran di muka dalam jumlah besar yang digunakan untuk pembayaran kepada pemasok dan mengakui semua pendapatan ini diawal
Akibat praktik ini Phar-Mar mampu melaporkan hasil yang mengesankan dalam jangka pendek.