• Tidak ada hasil yang ditemukan

melaksanakan pembangunan bidang Cipta Karya,

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "melaksanakan pembangunan bidang Cipta Karya,"

Copied!
21
0
0

Teks penuh

(1)

LAPORAN AKHIR V-1 Sesuai PP no. 38 tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan antara Pemerintah, Pemerintahan Daerah Provinsi, dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota, diamanatkan bahwa kewenangan pembangunan bidang Cipta Karya merupakan tanggung jawab Pemerintah Kabupaten/Kota. Oleh karena itu, Pemerintah Kabupaten/ Kota terus didorong untuk meningkatkan belanja pembangunan prasarana Cipta Karya agar kualitas lingkungan permukiman di daerah meningkat. Disamping membangun prasarana baru, pemerintah daerah perlu juga perlu mengalokasikan anggaran belanja untuk pengoperasian, pemeliharaan dan rehabilitasi prasarana yang telah terbangun.

Namun, seringkali pemerintah daerah memiliki keterbatasan fiskal dalam mendanai pembangunan infrastruktur permukiman. Pemerintah daerah cenderung meminta dukungan pendanaan pemerintah pusat, namun perlu dipahami bahwa pembangunan yang dilaksanakan Ditjen Cipta Karya dilakukan sebagai stimulan dan pemenuhan standar pelayanan minimal. Oleh karena itu, alternatif pembiayaan dari masyarakat dan sektor swasta perlu dikembangkan untuk mendukung pembangunan bidang Cipta Karya yang dilakukan pemerintah daerah. Dengan adanya pemahaman mengenai keuangan daerah, diharapkan dapat disusun langkah-langkah peningkatan investasi pembangunan bidang Cipta Karya di daerah.

Pembahasan aspek pembiayaan dalam RPIJM bidang Cipta Karya pada dasarnya bertujuan untuk:

a. Mengidentifikasi kapasitas belanja pemerintah daerah dalam

melaksanakan pembangunan bidang Cipta Karya,

b. Mengidentifikasi alternatif sumber pembiayaan antara lain dari masyarakat

dan sektor swasta untuk mendukung pembangunan bidang Cipta Karya,

(2)

LAPORAN AKHIR V-2

5.1 POTENSI PENDAAN APBD

Pembiayaan pembangunan bidang Cipta Karya perlu memperhatikan arahan dalam peraturan dan perundangan terkait, antara lain:

1. Undang-Undang No. 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintah Daerah: Pemerintah

daerah diberikan hak otonomi daerah, yaitu hak, wewenang, dan kewajiban daerah otonom untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat sesuai dengan peraturan perundangundangan. Dalam hal ini, Pemerintah Daerah menyelenggarakan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangannya, kecuali urusan pemerintahan yang menjadi urusan Pemerintah Pusat yaitu politik luar negeri, pertahanan, keamanan, yustisi, moneter dan fiskal nasional, serta agama.

2. Undang-Undang No. 33 Tahun 2004 Tentang Perimbangan Keuangan Antara

Pemerintah Pusat dan Daerah: untuk mendukung penyelenggaraan otonomi daerah, pemerintah daerah didukung sumber-sumber pendanaan meliputi Pendapatan Asli Daerah, Dana Perimbangan, Pendapatan Lain yang Sah, serta Penerimaan Pembiayaan. Penerimaan daerah ini akan digunakan untuk mendanai pengeluaran daerah yang dituangkan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) yang ditetapkan melalui Peraturan Daerah.

3. Peraturan Pemerintah No. 55 Tahun 2005 Tentang Dana Perimbangan: Dana

Perimbangan terdiri dari Dana Alokasi Umum, Dana Bagi Hasil, dan Dana Alokasi Khusus. Pembagian DAU dan DBH ditentukan melalui rumus yang ditentukan Kementerian Keuangan. Sedangkan DAK digunakan untuk mendanai kegiatan khusus yang ditentukan Pemerintah atas dasar prioritas nasional. Penentuan lokasi dan besaran DAK dilakukan berdasarkan kriteria umum, kriteria khusus, dan kriteria teknis.

4. Peraturan Pemerintah No. 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan

Pemerintahan Antara Pemerintah, Pemerintahan Daerah Provinsi, Dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota: Urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan pemerintahan daerah, terdiri atas urusan wajib dan urusan pilihan. Urusan wajib yang menjadi kewenangan pemerintahan daerah untuk kabupaten/kota merupakan urusan yang berskala kabupaten/kota meliputi 26

(3)

LAPORAN AKHIR V-3 urusan, termasuk bidang pekerjaan umum. Penyelenggaraan urusan pemerintahan yang bersifat wajib yang berpedoman pada standar pelayanan minimal dilaksanakan secara bertahap dan ditetapkan oleh Pemerintah. Urusan wajib pemerintahan yang merupakan urusan bersama diserahkan kepada daerah disertai dengan sumber pendanaan, pengalihan sarana dan prasarana, serta kepegawaian sesuai dengan urusan yang didesentralisasikan.

5. Peraturan Pemerintah No. 30 Tahun 2011 tentang Pinjaman Daerah: Sumber

pinjaman daerah meliputi Pemerintah, Pemerintah Daerah Lainnya, Lembaga Keuangan Bank dan Non-Bank, serta Masyarakat. Pemerintah Daerah tidak dapat melakukan pinjaman langsung kepada pihak luar negeri, tetapi diteruskan melalui pemerintah pusat. Dalam melakukan pinjaman daerah Pemda wajib memenuhi persyaratan:

a. total jumlah pinjaman pemerintah daerah tidak lebih dari 75% penerimaan

APBD tahun sebelumnya;

b. memenuhi ketentuan rasio kemampuan keuangan daerah untuk

mengembalikan pinjaman yang ditetapkan pemerintah paling sedikit 2,5;

c. persyaratan lain yang ditetapkan calon pemberi pinjaman;

d. tidak mempunyai tunggakan atas pengembalian pinjaman yang bersumber dari

pemerintah;

e. pinjaman jangka menengah dan jangka panjang wajib mendapatkan

persetujuan DPRD.

6. Peraturan Presiden No. 67 Tahun 2005 Tentang Kerjasama Pemerintah dengan

Badan Usaha dalam Penyediaan Infrastruktur (dengan perubahan Perpres 13/2010 & Perpres 56/2010): Menteri atau Kepala Daerah dapat bekerjasama dengan badan usaha dalam penyediaan infrastruktur. Jenis infrastruktur permukiman yang dapat dikerjasamakan dengan badan usaha adalah infrastruktur air minum, infrastruktur air limbah permukiman dan prasarana persampahan.

7. Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 13 Tahun 2006 Tentang Pedoman

Pengelolaan Keuangan Daerah (dengan perubahan Permendagri 59/2007 dan Permendagri 21/2011): Struktur APBD terdiri dari:

(4)

LAPORAN AKHIR V-4

a. Pendapatan daerah yang meliputi: Pendapatan Asli Daerah, Dana Perimbangan,

dan Pendapatan Lain yang Sah.

b. Belanja Daerah meliputi: Belanja Langsung dan Belanja Tidak Langsung.

c. Pembiayaan Daerah meliputi: Pembiayaan Penerimaan dan Pembiayaan

Pengeluaran.

8. Peraturan Menteri PU No. 15 Tahun 2010 Tentang Petunjuk Teknis Penggunaan

Dana Alokasi Khusus Bidang Infrastruktur: Kementerian PU menyalurkan DAK untuk pencapaian sasaran nasional bidang Cipta Karya, Adapun ruang lingkup dan kriteria teknis DAK bidang Cipta Karya adalah sebagai berikut:

a. Bidang Infrastruktur Air Minum

DAK Air Minum digunakan untuk memberikan akses pelayanan sistem penyediaan air minum kepada masyarakat berpenghasilan rendah di kawasan kumuh perkotaan dan di perdesaan termasuk daerah pesisir dan permukiman nelayan. Adapun kriteria teknis alokasi DAK diutamakan untuk program percepatan pengentasan kemiskinan dan memenuhi sasaran/ target Millenium Development Goals (MDGs) yang mempertimbangkan:

- Jumlah masyarakat berpenghasilan rendah; - Tingkat kerawanan air minum.

b. Bidang Infrastruktur Sanitasi

DAK Sanitasi digunakan untuk memberikan akses pelayanan sanitasi (air limbah, persampahan, dan drainase) yang layak skala kawasan kepada masyarakat berpenghasilan rendah di perkotaan yang diselenggara-kan melalui proses pemberdayaan masyarakat. DAK Sanitasi diutamakan untuk program peningkatan derajat kesehatan masyarakat dan memenuhi sasaran/target MDGs yang dengan kriteria teknis:

- kerawanan sanitasi;

- cakupan pelayanan sanitasi.

9. Peraturan Menteri PU No. 14 Tahun 2011 tentang Pedoman Pelaksanaan Kegiatan Kementerian Pekerjaan Umum yang Merupakan Kewenanangan Pemerintah dan Dilaksanakan Sendiri: Dalam menyelenggarakan kegiatan yang dibiayai dana APBN, Kementerian PU membentuk satuan kerja berupa Satker

(5)

LAPORAN AKHIR V-5 Tetap Pusat, Satker Unit Pelaksana Teknis Pusat, dan Satuan Non Vertikal Tertentu. Rencana program dan usulan kegiatan yang diselenggarakan Satuan Kerja harus mengacu pada RPIJM bidang infrastruktur ke-PU-an yang telah

disepakati. Gubernur sebagai wakil Pemerintah mengkoordinasikan

penyelenggaraan urusan kementerian yang dilaksanakan di daerah dalam rangka keterpaduan pembangunan wilayah dan pengembangan lintas sektor.

Berdasarkan peraturan perundangan tersebut, dapat disimpulkan bahwa lingkup sumber dana kegiatan pembangunan bidang Cipta Karya yang dibahas dalam RPIJM bidang Cipta Karya meliputi:

1. Dana APBN, meliputi dana yang dilimpahkan Ditjen Cipta Karya kepada

Satuan Kerja di tingkat provinsi (dana sektoral di daerah) serta Dana Alokasi Khusus bidang Air Minum dan Sanitasi.

2. Dana APBD Provinsi, meliputi dana daerah untuk urusan bersama (DDUB)

dan dana lainnya yang dibelanjakan pemerintah provinsi untuk pembangunan infrastruktur permukiman dengan skala provinsi/regional.

3. Dana APBD Kabupaten/Kota, meliputi dana daerah untuk urusan bersama

(DDUB) dan dana lainnya yang dibelanjakan pemerintah kabupaten untuk pembangunan infrastruktur permukiman dengan skala kabupaten/kota.

4. Dana Swasta meliputi dana yang berasal dari skema kerjasama pemerintah

dan swasta (KPS), maupun skema Corporate Social Responsibility (CSR).

5. Dana Masyarakat melalui program pemberdayaan masyarakat.

6. Dana Pinjaman, meliputi pinjaman dalam negeri dan pinjaman luar negeri.

Dana-dana tersebut digunakan untuk belanja pembangunan, pengoperasian dan pemeliharaan prasarana yang telah terbangun, serta rehabilitasi dan peningkatan prasarana yang telah ada. Oleh karena itu, dana-dana tersebut perlu dikelola dan direncanakan secara terpadu sehingga optimal dan memberi manfaat yang sebesar-besarnya bagi peningkatan pelayanan bidang Cipta Karya.

 PROFIL APBD KABUPATEN BANYUWANGI

Kabupaten Banyuwangi mempunyai sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang relatif besar. Pada tahun 2011 tingkat pencapaian realisasinya sebesar 106,73 %.

(6)

LAPORAN AKHIR V-6 Berdasarkan besaran realisasi tersebut seandainya PAD targetnya dibuat lebih tinggi angkanya akan memungkinkan bisa tercapai. Hubungan PAD dengan penyelenggaraan pembangunan praktis tidak bisa dipisahkan. Apabila dukungan PAD kurang terencana dengan baik, bisa saja penyelenggaraan pembangunan akan menemui banyak hambatan. Dengan memperhatikan sumber dana penyelenggaraan pem-bangunan yang didukung Dana Alokasi Umum (DAU), bagi hasil pajak yang biasanya disebut dana perimbangan ditambah dengan penerimaan lain yang syah serta Pendapatan Asli Daerah (PAD). Khusus DAU biasanya dihitung sedemikian rupa sehingga setiap daerah kabupaten akan menerima sesuai hasil perhitungan dari Pemerintah Pusat. Sedang PAD merupakan sumber dana yang dikelola oleh pemerintah daerah

Pembangunan Kabupaten Banyuwangi pada dasarnya tergantung dari besarnya APBD setiap tahunnya. Apabila melihat stuktur anggaran, di mana pada bagian pendapatan memiliki korelasi dengan pengelolaan pendapatan asli daerah serta kekayaan daerah yang dimiliki, maka pendapatan daerah menjadi tolok ukur kemadirian suatu daerah. Kekuatan pembiayaan pembangunan disamping tergantung dari besarnya APBD juga harus dilihat kapasitas fiskal yang ada sebagai dasar penentuan dana hibah yang disalurkan oleh Pemerintah Pusat. Perkembangan Pendapatan Daerah dalam 5 Tahun Terakhir dapat dilihat pada Tabel 5.1.

Kondisi belanja daerah Kabupaten Banyuwangi mengalami pertumbuhan sebagaimana pendapatan daerah. Penerapan format anggaran surplus/defisit baik secara absolut maupun relatif menunjukan adanya suatu peningkatan sisi belanja.

Beberapa hal yang menjadi pertimbangan dalam pembiayaan belanja langsung adalah: :

1. Pemenuhan standar pelayanan publik minimal di daerah; 2. Peningkatan efisiensi pelayanan publik di daerah;

3. Pengimplementasian strategi pro growth (pro investment), pro job, dan pro poor di daerah sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat;

4. Peningkatan akuntabilitas dan transparansi anggaran serta peningkatan partisipasi masyarakat.

Komposisi belanja d aerah tahun 2011 -2015 didominasi oleh belanja tidak langsung yang relatif menurun dari tahun ke tahun. Penurunan

(7)

LAPORAN AKHIR V-7 tersebut seiring dengan kenaikan komponen belanja langsung yang didominasi oleh pengeluaran barang dan jasa serta belanja modal. Hal ini menunjukan bahwa belanja langsung khususnya modal harus menjadi prioritas belanja daerah, karena berkaitan langsung dengan investasi pemerintah yang akan mendorong pertumbuhan ekonomi. Komponen belanja tidak langsung terbesar adalah belanja pegawai dari tahun ke tahun. Hal ini mengindikasikan belanja tidak langsung tidak hanya untuk belanja pegawai, tetapi untuk komponen lainnya seperti belanja bantuan sosial, belanja bantuan keuangan, dan sebagainya. Sedangkan belanja langsung terdiri dari belanja pegawai, belanja modal, serta belanja barang dan jasa.

Dalam rangka mempertimbangkan belanja-belanja tersebut, maka diperlukan struktur anggaran dan pengelolaan keuangan daerah yang tepat. Struktur anggaran yang tepat merupakan syarat pokok (necessary condition) bagi pengelolaan keuangan yang baik di daerah. Untuk itu, ada beberapa hal yang bisa dilakukan.

Pertama, struktur anggaran di daerah harus secara eksplisit memisahkan pendapatan dan pembiayaan. Pembiayaan yang berasal dari utang misalnya, tidak bisa diklaim sebagai pendapatan karena suatu saat nanti dana tersebut harus dikembalikan. Demikian pula, penerimaan yang berasal dari kinerja anggaran tahun-tahun sebelumnya (seperti dana cadangan dan SILPA) ataupun dana-dana yang sifatnya temporer (seperti hasil penjualan aset daerah) tak bisa dimasukkan ke dalam komponen pendapatan daerah, karena berpotensi mengganggu perencanaan keuangan daerah.

Kedua, struktur alokasi anggaran harus disusun sesuai prioritasnya, yakni antara alokasi belanja untuk urusan yang bersifat wajib dan pilihan, serta antara alokasi belanja yang dirasakan manfaatnya secara langsung dan tidak langsung oleh masyarakat. Pengelolaan keuangan di daerah meliputi mobilisasi pendapatan, penetapan alokasi belanja daerah, dan mobilisasi pembiayaan. Untuk memenuhi syarat kecukupan (sufficient condition) bagi pengelolaan keuangan daerah yang baik, maka daerah perlu memahami dan menggali potensi/keunggulan daerah serta mengidentifikasi pokok-pokok permasalahan yang ada. Prioritas-prioritas pembangunan daerah dengan beberapa pertimbangan tersebut menjadi dasar pola alokasi belanja di Kabupaten Banyuwangi. Selengkapnya bisa dilihat pada Tabel 5.2.

(8)

LAPORAN AKHIR V-8

Tabel 5.1 Perkembangan Pendapatan Daerah dalam 5 Tahun Terakhir

Rp. % Rp. % Rp. % Rp. % Rp. %

Pendapatan Asli Daerah 91.305.508.317,00 7,54% 119.657.070.444,00 7,97% 161.975.808.883,00 9,22% 208.903.685.086,75 10,08% 249.036.994.756,00 10,40% Pajak Daerah 23.458.553.810,00 33.649.909.104,00 54.618.572.808,00 64.176.653.951,00 77.072.313.141,00

Retribusi Daerah 20.762.677.017,00 16.522.891.370,00 24.170.155.500,00 65.163.101.135,75 23.971.815.335,00 Hasil Pengelolaan Kekayaan

Daerah yang dipisahkan

13.337.736.000,00 14.964.736.000,00 17.212.736.000,00 16.353.104.000,00 15.463.701.000,00 Lain-lain Pendapatan Asli

Daerah yang sah

33.746.541.490,00 54.519.533.970,00 65.974.344.575,00 63.210.826.000,00 132.529.165.280,00

Dana Perimbangan 954.894.237.247,00 78,82% 1.170.038.124.021,00 77,89% 1.299.958.159.483,00 74,03% 1.382.244.171.286,00 66,71% 1.469.636.765.000,00 61,38% Dana bagi hasil pajak/bagi hasil

bukan pajak

57.309.987.247,00 72.164.897.021,00 68.465.228.483,00 63.694.302.286,00 129.134.985.000,00 Dana alokasi umum 815.653.050.000,00 1.030.217.037.000,00 1.154.495.171.000,00 1.254.496.229.000,00 1.288.940.680.000,00 Dana alokasi khusus 81.931.200.000,00 67.656.190.000,00 76.997.760.000,00 64.053.640.000,00 51.561.100.000,00

Lain-lain pendapatan daerah yang sah

165.264.019.421,00 13,64% 212.500.928.424,00 14,15% 293.969.015.441,00 16,74% 480.803.694.752,00 23,21% 675.729.301.733,00 28,22% Pendapatan hibah 1.000.000.000,00 73.443.059.304,00 1.132.540.000,00 302.689.746.240,00 131.226.010.989,00

Dana penyesuaian dan otonomi khusus

101.364.381.600,00 138.194.821.920,00 209.618.226.000,00 85.623.697.000,00 123.164.051.352,00 Bantuan keuangan dari Provinsi

atau pemerintah daerah lainnya

843.047.200,00 863.047.200,00 911.700.000,00 - 420.989.239.392,00

Total Pendapatan : 1.211.463.764.985,00 100,00% 1.502.196.122.889,00 100,00% 1.755.902.983.807,00 100,00% 2.071.951.551.124,75 100,00% 2.394.403.061.489,00 100,00%

(9)

LAPORAN AKHIR V-9

Tabel 5.2 Perkembangan Belanja Daerah dalam 5 Tahun Terakhir

Tabel 5.3 Perkembangan Pembiayaan Daerah dalam 5 Tahun Terakhir

Rp. % Rp. % Rp. % Rp. % Rp. %

Belanja Tidak Langsung 1.004.456.230.143,00 72,10% 1.181.087.895.771,00 68,03% 1.177.513.000.691,00 62,49% 1.290.196.469.909,00 60,33% 1.569.063.571.955,00 61,01% Belanja pegawai 833.145.364.143,00 1.001.645.235.771,00 1.002.428.016.291,00 1.116.834.104.709,00 1.303.107.840.412,00

Belanja hibah 36.281.500.000,00 60.887.580.000,00 90.755.984.400,00 86.069.345.200,00 148.774.943.151,00 Belanja bantuan sosial 78.412.000.000,00 23.271.330.000,00 10.428.000.000,00 11.224.020.000,00 12.693.822.000,00 Belanja tidak terduga 8.000.000.000,00 5.000.000.000,00 5.000.000.000,00 5.000.000.000,00 5.000.000.000,00

Belanja bagi hasil 3.168.000.000,00

Belanja bantuan keuangan 96.318.966.392,00

Belanja Langsung 388.772.959.442,00 27,90% 555.006.943.776,00 31,97% 706.739.021.665,82 37,51% 848.439.850.551,00 39,67% 1.002.848.650.562,00 38,99% Belanja pegawai 14.935.578.500,00 31.765.497.260,00 36.283.015.150,00 46.568.471.975,00 88.686.961.350,00

Belanja barang dan jasa 145.667.961.332,00 191.410.346.197,00 259.187.273.347,82 274.553.038.059,00 463.680.343.123,00 Belanja modal 228.169.419.610,00 331.831.100.319,00 411.268.733.168,00 527.318.340.517,00 450.481.346.089,00

JUMLAH BELANJA DAERAH 1.393.229.189.585,00 100,00% 1.736.094.839.547,00 100,00% 1.884.252.022.356,82 100,00% 2.138.636.320.460,00 100,00% 2.571.912.222.517,00 100,00%

Tahun 2011 Tahun 2012 Tahun 2013 Tahun 2014 Tahun 2015

BELANJA DAERAH Rp. % Rp. % Rp. % Rp. % Rp. % PEMBIAYAAN 181.765.424.600,00 304.298.716.658,00 146.649.038.549,82 149.993.902.662,25 177.884.161.028,00 Penerimaan Pembiayaan Daerah 181.765.424.600,00 100,00% 269.098.716.658,00 88,43% 137.499.038.549,82 93,76% 149.993.902.662,25 100,00% 177.884.161.028,00 100,00% Sisa Lebih Perhitungan

Anggaran Tahun Anggaran

180.265.424.600,00 268.398.716.658,00 136.999.038.549,82 149.993.902.662,25 177.884.161.028,00 Penerimaan Kembali Pemberian Pinjaman 1.300.000.000,00 500.000.000,00 500.000.000,00 - -Penerimaan Piutang Daerah 200.000.000,00 200.000.000,00 - - -Pengeluaran Pembiayaan Daerah - 0,00% 35.200.000.000,00 11,57% 9.150.000.000,00 6,24% - 0,00% - 0,00% PEMBIAYAAN NETTO 181.765.424.600,00 233.898.716.658,00 128.349.038.549,82 149.993.902.662,25

Tahun 2012 Tahun 2013 Tahun 2014 Tahun 2015

(10)

LAPORAN AKHIR V-10 Struktur anggaran pembiayaan terdiri dari penerimaan pembiayaan dan pengeluaran pembiayaan sebagai berikut :

a. Penerimaan pembiayaan, mencakup :

1) Sisa Lebih Perhitungan Anggaran Sebelumnya : sisa lebih perhitungan anggaran sebelumnya dianggarkan berdasarkan estimasi dan pada perubahan APBD sesuai dengan yang ditetapkan dengan Peraturan Daerah.

2) Pencairan dana cadangan : pencairan dari dana cadangan disesuaikan dengan rencana penggunaan dana cadangan sebagaimana ditetapkan dalam Peraturan Daerah tentang Pembentukan Dana Cadangan;

3) Hasil penjualan kekayaan daerah yang dipisahkan : hasil penjualan kekayaan daerah yang dipisahkan dapat berupa hasil penjualan perusahaan milik daerah/ BUMD, penjualan aset milik pemerintah yang dikerjasamakan dengan pihak ketiga, atau hasil divestasi penyertaan modal pemerintah daerah;

4) Penerimaan pinjaman : Penerimaan pinjaman daerah dianggarkan sesuai dengan rencana penarikan pinjaman dalam tahun anggaran sesuai dengan perjanjian yang telah disetujui, termasuk penerimaan dari penerbitan obligasi daerah yang akan direalisasikan pada tahun anggaran berkenaan.

5) Penerimaan kembali pemberian pinjaman : penerimaan pokok dari pemberian pinjaman termasuk penerimaan pokok dari pemberian dana bergulir.

b. Pengeluaran Pembiayaan:

1) Pembentukan dana cadangan : Pembentukan dana cadangan dianggarkan melalui sejumlah dana cadangan yang harus disisihkan dalam tahun anggaran sesuai dengan jumlah yang ditetapkan dalam Peraturan Daerah tentang Pembentukan Dana Cadangan. Sehubungan dengan hal tersebut, Pemerintah Daerah pada dasarnya dapat membentuk dana cadangan guna membiayai kebutuhan yang tidak dapat dibebankan dalam satu tahun anggaran. Pembentukan dana cadangan sebagaimana dimaksud ditetapkan dengan Peraturan Daerah yang sekurang-kurangnya mengatur persyaratan pembentukan dana cadangan, pengelolaan dan pertanggungjawabannya;

2) Penyertaan modal Pemerintah Daerah : Penyertaan modal yang dianggarkan melalui sejumlah penyertaan modal yang ditetapkan dalam Peraturan Daerah tentang penyertaan modal. Bentuk penyertaan modal ini, misalnya melalui

(11)

LAPORAN AKHIR V-11 suntikan dana terhadap badan usaha daerah yang telah dimiliki, pembentukan usaha baru, baik secara sendiri oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Banyuwangi, bekerjasama dengan pemerintah daerah lainnya, atau Provinsi dan pemerintah pusat, maupun bekerjasama dengan sektor swasta, termasuk di dalamnya adalah investasi nirlaba Pemerintah Daerah;

3) Pembayaran pokok utang : Jatuh tempo jumlah pembayaran pokok utang yang dianggarkan sejumlah pokok pinjaman yang harus dibayarkan dalam tahun anggaran sesuai dengan perjanjian yang telah disetujui antara Pemerintah Daerah dengan pemberi pinjaman;

4) Pemberian pinjaman : Pemberian pinjaman kepada pihak ketiga termasuk dalam bentuk dana bergulir untuk meningkatkan kegiatan ekonomi masyarakat.

Perkembangan Pembiayaan Daerah dalam 5 Tahun Terakhir dapat dilihat pada Tabel 5.3.

.

 Perkembangan Investasi Pembangunan Cipta Karya Bersumber dari APBD dalam

5 Tahun Terakhir

Pemerintah Kabupaten/Kota mem iliki tugas untuk mem bangun prasarana permukiman di daerahnya. Untuk melihat upaya pemerintah daerah dalam melaksanakan pembangunan bidang Cipta Karya perlu dianalisis proporsi belanja pembangunan Cipta Karya terhadap total belanja daerah dalam 3-5 tahun terakhir. Proporsi belanja Cipta Karya meliputi pembangunan infrastruktur baru, operasional dan pemeliharaan infrastruktur yang sudah ada.

Tabel 5.4

Perkembangan Alokasi APBD untuk Pembangunan Bidang Cipta Karya dalam 5 Tahun Terakhir

Alokasi % Alokasi % Alokasi % Alokasi % Alokasi %

Bangkim 500.000,00 0,00% 1.639.320.000,00 0,09% 2.271.688.800,00 0,12% 3.485.293.450,00 0,16% 5.254.788.595,00 0,20% PBL 3.007.500.000,00 0,22% 6.772.000.000,00 0,39% 8.823.500.000,00 0,47% 4.503.798.000,00 0,21% 8.552.160.950,00 0,33% Air Minum 1.819.200.000,00 0,13% 5.938.155.000,00 0,34% 25.143.760.000,00 1,33% 49.166.940.000,00 2,30% 14.896.212.000,00 0,58% PLP- Air Limbah 0,00%- 115.000.000,00 0,01% 543.372.727,00 0,03% 693.000.000,00 0,03% 1.615.960.000,00 0,06% PLP- Persampahan 1.100.000.000,00 0,08% 6.971.000.000,00 0,40% 1.308.655.000,00 0,07% 2.450.171.800,00 0,11% 2.716.542.414,00 0,11% PLP- Drainase 1.770.000.000,00 0,13% 1.421.000.000,00 0,08% 10.725.857.000,00 0,57% 18.295.000.000,00 0,86% 12.333.900.000,00 0,48% Total Belanja APBD

Bidang Cipta Karya 7.697.200.000,00 0,55% 22.856.475.000,00 1,32% 48.816.833.527,00 2,59% 78.594.203.250,00 3,67% 45.369.563.959,00 1,76% Total Belanja APBD 1.393.229.189.585,00 1.736.094.839.547,00 1.884.252.022.356,00 2.138.636.320.460,00 2.571.912.222.517,00

Tahun 2011 Tahun 2012 Tahun 2013 Tahun 2014 Tahun2015

(12)

LAPORAN AKHIR V-12 Selain itu, pemerintah daerah juga didorong untuk mengalokasikan Dana Daerah untuk Urusan Bersama (DDUB) sebagai dana pendamping kegiatan APBN di kabupaten/kota. DDUB ini menunjukan besaran komitmen pemerintah daerah dalam melakukan pembangunan bidang Cipta Karya.

Tabel 5.5 Perkembangan DDUB dalam 5 Tahun Terakhir

5.2 POTENSI PENDANAAN APBN

Setelah APBD secara umum dibahas, maka perlu dikaji berapa besar investasi pembangunan khusus bidang Cipta Karya di daerah tersebut selama 3-5 tahun terakhir yang bersumber dari APBN, APBD, perusahaan daerah dan masyarakat/swasta.

 Perkembangan Investasi Pembangunan Cipta Karya Bersumber Dari APBN

dalam 5 Tahun Terakhir

Meskipun pembangunan infratruktur perm ukiman merupakan tanggung jawab Pemda, Ditjen Cipta Karya juga turut melakukan pembangunan infrastruktur sebagai stimulan kepada daerah agar dapat memenuhi SPM. Setiap sektor yang ada di lingkungan Ditjen Cipta Karya menyalurkan dana ke daerah melalui Satuan Kerja Non Vertikal (SNVT) sesuai dengan peraturan yang berlaku (PermenPU No. 14 Tahun 2011). Data dana yang dialokasikan pada suatu kabupaten/kota perlu dianalisis untuk melihat trend alokasi anggaran Ditjen Cipta Karya dan realisasinya di daerah tersebut. Selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 5.6.

Alokasi APBN DDUB Alokasi APBN DDUB Alokasi APBN DDUB Alokasi APBN DDUB Alokasi APBN DDUB Bangkim 7.466.200.000 6.260.000.000 648.000.000 900.000.000

Penataan Bangunan &

Lingkungan (PBL) 521.250.000 Air Minum 8.675.698.000 1.901.710.000 8.053.596.000 Penyehatan Lingkungan Permukiman (PLP) 495.675.000 800.000.000 30.000.000 600.000.000 55.000.000 1.700.000.000 100.000.000 Total 495.675.000 7.466.200.000 15.735.698.000 3.670.960.000 9.500.002.015 Tahun 2015 Sektor

(13)

LAPORAN AKHIR V-13 Tabel 5.6 Tabel APBN Cipta Karya di Kabupaten Banyuwangi dalam 5 Tahun Terakhir

Di samping APBN yang disalurkan Ditjen Cipta Karya kepada SNVT di daerah, untuk mendukung pendanaan pembangunan infrastruktur permukiman juga dilakukan melalui penganggaran Dana Alokasi Khusus. DAK merupakan dana APBN yang dialokasikan ke daerah tertentu dengan tujuan mendanai kegiatan khusus yang merupakan urusan daerah sesuai prioritas nasional.

Prioritas nasional yang terkait dengan bidang Cipta Karya adalah pembangunan air minum dan sanitasi. DAK Air Minum digunakan untuk memberikan akses pelayanan sistem penyediaan air minum kepada masyarakat berpenghasilan rendah di kawasan kumuh perkotaan dan di perdesaan termasuk daerah pesisir dan permukiman nelayan. Sedangkan DAK Sanitasi digunakan untuk memberikan akses pelayanan sanitasi (air limbah, persampahan, dan drainase) yang layak skala kawasan kepada masyarakat berpenghasilan rendah di perkotaan yang diselenggarakan melalui proses pemberdayaan masyarakat. Besar DAK ditentukan oleh Kementerian Keuangan berdasarkan Kriteria Umum, Kriteria Khusus dan Kriteria Teknis. Dana DAK ini perlu dilihat alokasi dalam 5 tahun terakhir sehingga bisa dianalisis perkembangannya.

Tabel 5.7

Perkembangan DAK Infrastruktur Cipta Karya di Kabupaten Banyuwangi dalam 5 Tahun Terakhir

Sektor 2011 2012 2013 2014 2015

Bangkim 7.466.200.000 6.260.000.000 648.000.000 900.000.000 Penataan Bangunan &

Lingkungan (PBL) 521.250.000 Air Minum 8.675.698.000 1.901.710.000 8.053.596.000 Penyehatan Lingkungan Permukiman (PLP) 495.675.000 800.000.000 600.000.000 1.700.000.000 Total 495.675.000 7.466.200.000 15.735.698.000 3.670.960.000 10.653.598.015 Jenis DAK 2011 2012 2013 2014 2015

DAK Air Minum &

Sanitasi 967.400.000 2.709.410.000 1.267.560.000 2.992.040.000 5.118.530.000 DAK Bangkim - - 6.137.050.000 - -

(14)

LAPORAN AKHIR V-14

5.3. ALTERNATIF SUMBER PENDANAAN

5.3.1. Perkembangan Investasi Perusahaan Daerah Bidang Cipta Karya dalam 5 Tahun Terakhir

Perusahaan daerah yang dibentuk pemerintah daerah memiliki dua fungsi, yaitu untuk menyediakan pelayanan umum bagi kesejahteraan sosial (social oriented) sekaligus untuk menghasilkan laba bagi perusahaan maupun sebagai sumber pendapatan pemerintah daerah (profit oriented). Ada beberapa perusahaan daerah yang bergerak dalam bidang pelayanan bidang Cipta Karya, seperti di sektor air minum, persampahan dan air limbah. Kinerja keuangan dan investasi perusahaan daerah perlu dipahami untuk melihat kemampuan perusahaan daerah dalam meningkatkan cakupan dan kualitas pelayanan secara berkelanjutan. Pembiayaan dari perusahaan daerah dapat menjadi salah satu alternatif dalam mengembangkan infrastruktur Cipta Karya.

Dalam bagian ini disajikan kinerja perusahaan daerah yang bergerak di bidang Cipta Karya berdasarkan aspek keuangan, aspek pelayanan, aspek operasi dan aspek sumber daya manusia. Khusus untuk PDAM, indikator tersebut telah ditetapkan BPP-SPAM untuk diketahui apakah perusahaan daerah memiliki status sehat, kurang sehat atau sakit.

5.3.2. Perkembangan Investasi Pembangunan Cipta Karya Bersumber dari Swasta dalam 5 Tahun Terakhir

Sehubungan dengan terbatasnya kemampuan pendanaan yang dimiliki pemerintah, maka dunia usaha perlu dilibatkan secara aktif dalam pembangunan infrastruktur Cipta Karya melalui skema Kerjasama Pemerintah dan Swasta (KPS) untuk kegiatan yang berpotensi cost- recovery atau Corporate Social Responsibility (CSR) untuk kegiatan non-cost recovery. Dasar hukum pembiayaan dengan skema KPS adalah Perpres No. 67 Tahun 2005 Tentang Kerjasama Pemerintah Dengan Badan Usaha Dalam Penyediaan Infrastruktur serta Permen PPN No. 3 Tahun 2012 Tentang Panduan Umum Pelaksanaan Kerjasama Pemerintah dengan Badan Usaha dalam Penyediaan Infrastruktur. Sedangkan landasan hukum untuk pelaksanaan CSR tercantum dalam UU No. 40 tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas (PT) dan UU No. 25 tahun 2007 tentang Penanaman Modal. Peraturan Daerah Nomor 3 Tahun 2014 Tentang Tanggung Jawab Sosial Perusahaan yang merupakan landasan hukum kegiatan CSR di Kabupaten Banyuwangi. Perkembangan KPS Bidang CK dalam 5 Tahun Terakhir dapat dilihat pada Tabel 5.8.

(15)

LAPORAN AKHIR V-15

Tabel 5.8 Perkembangan KPS Bidang CK dalam 5 Tahun Terakhir

Keterangan

Rp Barang

1

- Pondok Pesantren Nurul Hidayah Desa Ketapang 25 Agustus 2014 PT.ASDP Indonesia Ferry (persero) Cabang Ketapang

Rehab Musollah 15.000.000

- SDLB MOJOPANGGUNG Kelurahan Mojopanggung 25 Agustus 2014 PT.ASDP Indonesia Ferry (persero) Cabang Ketapang

Rehab Ruang Kelas 6.000.000

- Kantor Desa Ketapang 25 Agustus 2014 PT.ASDP Indonesia Ferry

(persero) Cabang Ketapang

Pengadaan Komputer 18.000.000

- Mushollah Al Muhsinin 25 Agustus 2014 PT.ASDP Indonesia Ferry

(persero) Cabang Ketapang

Rehab Mushollah 15.000.000

- Yayasan Ponpes Sunan Ampel Desa Kedayunan 25 Agustus 2014 PT.ASDP Indonesia Ferry (persero) Cabang Ketapang

Renovasi Gedung 20.000.000

- Paguyuban Pedagang Asongan Desa Ketapang 03 Oktober 2014 PT.ASDP Indonesia Ferry (persero) Cabang Ketapang

Pengadaan Rombong 28.000.000

2

- Beasiswa Bulan Mei 2014 Kab.Banyuwangi Anak Pekerjaan (Peserta BPJS

Ketenagakerjaan)

250.000.000

3

- Bantuan Rutin Juli-September 2014 Desa Tamansari - Licin Ketua Himpunan Penyantun

Anak Yatim

3.000.000

- Pemberian Zakat Fitrah Juli-September 2014 Dusun Krajan desa Tamansari Para Fakir Miskin 4.000.000

- Lomba-Lomba HUT RI ke-69 Juli-September 2014 Kantor Kecamatan Licin Masyarakat kecamatan Licin 1.000.000

- Perbaikan Jalan Dusun Juli-September 2014 Dusun ampelgading desa

Tamansari

Masyarakat dusun Ampelgading 1.000.000

- Bantuan dana rutin santunan anak yatim Oktober-Nopember 2014 Desa Tamansari - Licin Ketua Himpunan Penyantunan Anak Yatim

3.000.000

- Bantuan dana untuk Club sepak bola PS ARBA Blambangan Ampel Gading Tamansari Tournament Ijen Cup 2014

Desember 2014 Lapangan Perkebunan Lidjen Club sepak bola PS ARBA Blambangan Ampel Gading Tamansari

750.000

- Bantuan dana untuk Club sepak bola PS OSAKA Krajan Tamansari Desember 2015 Lapangan Perkebunan Lidjen Club sepak bola PS OSAKA Krajan Tamansari

750.000

- Pengadaan keranjang tempat sampah Nopember-Desember 2014 Paltuding - Kawah Ijen Ditempatkan ditempat wisata kawah ijen - Paltuding

20 Buah

- Pembersihan rumput kanan kiri jalan dan pengecatan plengsengan

Desember 2014 Perbatasan Desa Kenjo sampai Scawan - Licin

1.000.000

Sasaran Anggaran

BPJS KETENAGAKERJAAN KAB. BANYUWANGI CANDI NGRIMBI

PT. ASDP INDONESIA FERRY (PERSERO) CABANG KETAPANG

(16)

LAPORAN AKHIR V-16

Keterangan

Rp Barang

4

- CSR DINAS KEBERSIHAN DAN PERTAMANAN KABUPATEN BANYUWANGI

15 Oktober 2014 KANTOR DINAS KEBERSIHAN DAN PERTAMANAN

FASILITAS SARANAN DAN PRASARANA PERTAMANAN Taman Sritanjung

10 Unit

- CSR DINAS KEBERSIHAN DAN PERTAMANAN KABUPATEN BANYUWANGI

15 Oktober 2014 KANTOR DINAS KEBERSIHAN DAN PERTAMANAN

FASILITAS SARANAN DAN PRASARANA PERTAMANAN Taman Blambangan

10 Unit

- CSR DINAS KEBERSIHAN DAN PERTAMANAN KABUPATEN BANYUWANGI

15 Oktober 2014 KANTOR DINAS KEBERSIHAN DAN PERTAMANAN

FASILITAS SARANAN DAN PRASARANA PERTAMANAN Taman TMP

10 Unit

- CSR DINAS KEBERSIHAN DAN PERTAMANAN KABUPATEN BANYUWANGI

15 Oktober 2014 KANTOR DINAS KEBERSIHAN DAN PERTAMANAN

FASILITAS SARANAN DAN PRASARANA PERTAMANAN Titik pantau Adipura

30 Unit

5

- Donasi Kegiatan Donor Darah 12 September 2013 BCA KCU Banyuwangi Jl.Ahmad

Yani 24-26

- Membina Hubungan baik

- Peresmian Gedung Baru BCA KCU Banyuwangi

- Sponsor Banyuwangi Beach Jazz Festival 2013 Bulan November 2013 Pantai Boom Banyuwangi - Membina Hubungan Baik 100.000.000 Sponsor banyuwangi beach jazz festifal 2013

- Sponsor Banyuwangi Beach Jazz Festival 2014 06 Desember 2014 Pantai Boom Banyuwangi - Membina Hubungan Baik 300.000.000 Sponsor banyuwangi beach jazz festifal 2014

6

- Bantuan Peralatan sekolah Tahun 2013 22 April 2013 SDN Impres Baung Desa Barurejo Sekolah yang berada di wilayah sekitar hutan KPH.Banyuwangi Selatan

5.000.000

Peralatan Sekolah - Penyaluran Dana Pinjaman PKBL berupa Modal Usaha 2013 28 Mei 2013 KPH.Banyuwangi Selatan Pengusaha Kecil Wilayah sekitar

hutan

130.000.000

- Bantuan Perangkat Komputer Tahun 2014 29 Maret 2014 TK Tunas Rimba Benculuk Sekolah yang berada di wilayah sekitar hutan KPH.Banyuwangi Selatan

7.500.000

Komputer

- Penyaluran Dana Pinjaman PKBL berupa Modal Usaha 2014 24 Oktober 2014 KPH.Banyuwangi Selatan Pengusaha Kecil Wilayah sekitar hutan

240.000.000

PERUM. PERHUTANI KABUPATEN BANYUWANGI

Peserta masyarakat sekitar BCA

Sasaran Anggaran

PT. BANK CENTRAL ASIA CABANG BANYUWANGI

26.747.945

BANK BTN KAB. BANYUWANGI

(17)

LAPORAN AKHIR V-17

Keterangan

Rp Barang

7

- Sumini 04 Januari 2013 Jl.Ciliwung No.13 Panderejo Bantuan Permodalan 50.000.000 PKBL(Dagang Kaca Mata)

- Hikmah 26 Februari 2013 Jl.KH.Harun No.46 Tukangkayu Bantuan Permodalan 50.000.000 PKBL(Dagang Sembako)

- Dwi Rosana Yuniarti 24 April 2013 Desa Prejengan RT.02/RW.02

Kec.Rogojampi

Bantuan Permodalan 30.000.000 PKBL(Warung Makan)

- Wahyudi Gumelar I 02 April 2013 Kel.Kampung Ujung

Kec.Banyuwangi

Bantuan Permodalan 40.000.000 PKBL(Dagang Kaca Mata)

- Karnoto 21 Mei 2013 Dsn Tampak Bayan RT.01/RW.02

Desa Balak

Bantuan Permodalan 30.000.000 PKBL(Dagang Sembako)

- Moh Ihsan 12 Februari 2013 Desa Sawahan Kec.Genteng Bantuan Permodalan 12.000.000 PKBL(Menjahit)

- Irsadul Ibid 12 Februari 2013 Desa Licin Kec.Licin Bantuan Permodalan 25.000.000 PKBL(Dagang Ayam)

- Ahmad Fauzi 21 Maret 2013 Desa Bulurejo Kec.Songgon Bantuan Permodalan 30.000.000 PKBL(Peternakan Kambing)

- Suhairi 21 Maret 2013 Desa Bulurejo Kec.Songgon Bantuan Permodalan 30.000.000 PKBL(Peternakan Kerbau)

- Fitriyani 21 Maret 2013 Dsn Pekiringan desa Sumbersari

Kec.Srono

Bantuan Permodalan 45.000.000 PKBL(Dagang Sembako)

- Yatini 02 Mei 2013 Dsn Rimpis Desa Sumbersari

Kec.Srono

Bantuan Permodalan 25.000.000 PKBL(Ternak Ayam)

- Nur Rohim 21 Mei 2013 Desa Songgon Kec.Songgon Bantuan Permodalan 50.000.000 PKBL(Ternak Kambing)

- Pengobatan Gratis 16-17 Desember 2013 Kantor BRI Banyuwangi Masy.Kurang Mampu 25.000.000

- Dadang Dwi Wahono 08 April 2014 Dsn Pandan Desa Kembiritan

Kec.Genteng

Bantuan Permodalan 30.000.000 PKBL(Ternak Kambing)

- Lani 08 April 2014 Kelurahan Giri Kec.Giri

Kab.Banyuwangi

Bantuan Permodalan 50.000.000 PKBL(Ternak Kambing)

- Achmad Sumarlan 11 April 2014 Desa Pasewaran Kec.Wongsorejo Bantuan Permodalan 25.000.000 PKBL(Ternak Kambing)

- Sukarno 30 Oktober 2014 Desa Kalirejo Kec.Banyuwangi Bantuan Permodalan 30.000.000 PKBL(Ternak Sapi)

- Bantuan Sarana Belajar 28 Oktober 2014 SDN 2 Kemiren Anak Kurang Mampu 168 Buku

Pelajaran

Sasaran Anggaran

PT. BANK RAKYAT INDONESIA (Persero) KANCAB. BANYUWANGI

(18)

LAPORAN AKHIR V-18

5.4 STRATEGI PENINGKATAN INVESTASI BIDANG CIPTA KARYA

Untuk melihat kemampuan keuangan daerah dalam melaksanakan pembangunan bidang Cipta Karya dalam lima tahun ke depan (sesuai jangka waktu RPIJM) maka dibutuhkan analisis proyeksi perkembangan APBD, rencana investasi perusahaan daerah, dan rencana kerjasama pemerintah dan swasta.

5.4.1 Proyeksi APBD 5 tahun ke depan

Proyeksi APBD dalam lima tahun ke depan dilakukan dengan melakukan perhitungan regresi terhadap kecenderungan APBD dalam lima tahun terakhir menggunakan asumsi atas dasar trend historis. Setelah diketahui pendapatan dan belanja maka diperkirakan alokasi APBD terhadap bidang Cipta Karya dalam lima tahun ke depan dengan asumsi proporsinya sama dengan rata-rata proporsi tahun-tahun sebelumnya. Proyeksi Pendapatan APBD dalam 5 Tahun ke Depan selengkapnya dapat dilihat pada

Tabel 5.9

Dari data proyeksi APBD tersebut, dapat dinilai kapasitas keuangan daerah dengan metode analisis Net Public Saving dan kemampuan pinjaman daerah (DSCR).

Net Public Saving

Net Public Saving atau Tabungan Pemerintah adalah sisa dari total penerimaan daerah setelah dikurangkan dengan belanja/pengeluaran yang mengikat. Dengan kata lain, NPS merupakan sejumlah dana yang tersedia untuk pembangunan. Besarnya NPS menjadi dasar dana yang dapat dialokasikan untuk bidang PU/Cipta Karya. Berdasarkan proyeksi APBD, dapat dihitung NPS dalam 3-5 tahun ke depan untuk melihat kemampuan anggaran pemerintah berinvestasi dalam bidang Cipta Karya. Adapun rumus perhitungan NPS adalah sebagai berikut:

Net Public Saving = Total Penerimaan daerah - Belanja Wajib

NPS = (PAD+DAU+DBH+DAK) - (Belanja mengikat + Kewajiban Daerah)

- Belanja mengikat adalah belanja yang harus dipenuhi/tidak bisa dihindari oleh Pemerintah Daerah dalam tahun anggaran bersangkutan seperti belanja pegawai, belanja barang, belanja bunga, belanja subsidi, belanja bagi hasil serta belanja lain yang mengikat sesuai peraturan yang berlaku.

(19)

LAPORAN AKHIR V-19 - Kewajiban daerah antara lain pembayaran pokok pinjaman, pembayaran kegiatan lanjutan, serta kewajiban daerah lain sesuai dengan peraturan daerah yang berlaku

Analisis Kemampuan Pinjaman Daerah (Debt Service Coverage Ratio/DSCR)

Pinjaman Daerah merupakan alternatif pendanaan APBD yang digunakan untuk menutup defisit APBD, pengeluaran pembiayaan atau kekurangan arus kas. Pinjaman Daerah dapat bersumber dari Pemerintah, Pemerintah Daerah lain, lembaga keuangan bank, lembaga keuangan bukan bank, dan Masyarakat (obligasi). Berdasarkan PP No. 30 Tahun 2011 Tentang Pinjaman Daerah, Pemerintah Daerah wajib memenuhi persyaratan sebagai berikut:

a. Jumlah sisa Pinjaman Daerah ditambah jumlah pinjaman yang akan ditarik

tidak melebihi 75% dari jumlah penerimaan umum APBD tahun sebelumnya;

b. Memenuhi ketentuan rasio kemampuan keuangan daerah untuk

mengembalikan pinjaman yang ditetapkan oleh Pemerintah.

c. Persyaratan lainnya yang ditetapkan oleh calon pemberi pinjaman.

Dalam hal Pinjaman Daerah diajukan kepada Pemerintah, Pemerintah Daerah juga wajib memenuhi persyaratan tidak mempunyai tunggakan atas pengembalian pinjaman yang bersumber dari Pemerintah.

Salah satu persyaratan dalam permohonan pinjaman adalah rasio kemampuan keuangan daerah untuk mengembalikan pinjaman atau dikenal dengan Debt Service Cost Ratio (DSCR). Berdasarkan peraturan yang berlaku, DSCR minimal adalah 2,5. DSCR ini menunjukan kemampuan pemerintah untuk membayar pinjaman, sekaligus memberikan gambaran kapasitas keuangan pemerintah.

Pada bagian ini perlu dihitung DSCR daerah dalam 3-5 tahun terakhir dengan rumus sebagai berikut:

Dimana: PAD = Pendapatan Asli Daerah

DAU = Dana Alokasi Umum DBH = Dana Bagi Hasil

(20)

LAPORAN AKHIR V-20

Tabel 5.9 Proyeksi Pendapatan APBD dalam 5 Tahun ke Depan

Tahun 2013 Tahun 2014 Tahun 2015 Tahun 2016 Tahun 2017 Tahun 2018 Tahun 2019 Tahun 2020

Pendapatan Asli Daerah 161.975.808.883,00 208.903.685.086,75 249.036.994.756,00 4,10% 259.236.557.212,55 269.436.119.669,09 279.635.682.125,64 289.835.244.582,18 300.034.807.038,73

Dana Perimbangan 1.299.958.159.483,00 1.382.244.171.286,00 1.469.636.765.000,00 1,08% 1.485.442.047.172,09 1.501.247.329.344,18 1.517.052.611.516,27 1.532.857.893.688,36 1.548.663.175.860,45

Dana bagi hasil pajak/bagi

hasil bukan pajak 68.465.228.483,00 63.694.302.286,00 129.134.985.000,00 8,14% 139.647.529.585,18 150.160.074.170,36 160.672.618.755,54 171.185.163.340,72 181.697.707.925,90 Dana alokasi umum 1.154.495.171.000,00 1.254.496.229.000,00 1.288.940.680.000,00 0,97% 1.301.438.804.631,94 1.313.936.929.263,88 1.326.435.053.895,81 1.338.933.178.527,75 1.351.431.303.159,69 DAK Air minum & Sanitasi 1.267.560.000,00 2.992.040.000,00 5.118.530.000,00 0,00% 5.118.530.000,00 5.118.530.000,00 5.118.530.000,00 5.118.530.000,00 5.118.530.000,00

Lain-lain pendapatan

daerah yang sah 293.969.015.441,00 480.803.694.752,00 675.729.301.733,00 8,85% 735.519.789.618,53 795.310.277.504,05 855.100.765.389,58 914.891.253.275,10 974.681.741.160,63 Total Pendapatan : 1.755.902.983.807,00 2.071.951.551.124,75 2.394.403.061.489,00 2.480.198.394.003,16 2.565.993.726.517,32 2.651.789.059.031,48 2.737.584.391.545,64 2.823.379.724.059,80

% pertumbuhan

Realisasi Proyeksi

(21)

LAPORAN AKHIR V-21

5.4.2 Rencana Pembiayaan Perusahaan Daerah

Beberapa kabupaten/kota memiliki perusahaan daerah yang bergerak dalam bidang pelayanan bidang Cipta Karya seperti air minum, air limbah maupun persampahan. Dalam hal ini, perusahaan daerah tersebut umumnya memiliki rencana dalam lima tahun ke depan dalam bentuk business plan.

5.4.3 Rencana Kerjasama Pemerintah dan Swasta Bidang CK

Dalam menggali sumber pendanaan dari sektor swasta, Pemerintah Daerah perlu menyusun daftar proyek potensial yang dapat dikerjakan dengan skema kerjasama pemerintah dan swasta di bidang Cipta Karya untuk ditawarkan ke pihak swasta.

Tabel 5.10 Proyek Potensial yang Dapat Dibiayai dengan KPS dalam 5 Tahun Ke Depan

Nama Kegiatan Deskripsi Kegiatan Biaya Kegiatan Kelayakan

Finansial Keterangan Penyuluhan dan kampanye mendorong

partisipasi anak usia Pendidikan Dasar Sembilan tahun untuk mengenal sanitasi yang baik

Rp. 20 juta/paket Pembangunan Sarana air bersih & CTPS permanen

di sekolah Rp. 100 juta / 4 paket

Pembangunan Sarana air bersih & CTPS permanen

di pondok pesantren Rp. 100 juta / 4 paket Penyediaan Sarana CTPS non permanen di

posyandu Rp. 45 juta / 45 paket

Pembangunan Sarana air bersih & CTPS permanen

di pasar/terminal/stasiun Rp. 100 juta / 4 paket Pelatihan Pengolahan sampah 3R bagi kader desa

dan RT/RW Rp.30 juta/paket

Promosi penggunaan produk daur ulang sampah Rp.50 juta/paket Promosi penggunaan produk daur ulang sampah Rp.50 juta/paket Proyek percontohan (pilot project) pengelolaan

sampah dengan konsep 3R Rp. 200 juta/paket Fasilitasi kerjasama dalam pengelolaan 3R Rp.50 juta/paket Lomba pengolahan sampah 3R Rp.50 juta/paket

Sektor PLP PENGADAAN SARANA CUCI TANGAN

PAKAI SABUN (CTPS)

PENGEMBANGAN KELOMPOK PENGOLAHAN SAMPAH 3R

Gambar

Tabel 5.1 Perkembangan Pendapatan Daerah dalam 5 Tahun Terakhir
Tabel 5.3 Perkembangan Pembiayaan Daerah dalam 5 Tahun Terakhir
Tabel 5.5 Perkembangan DDUB dalam 5 Tahun Terakhir
Tabel 5.8 Perkembangan KPS Bidang CK dalam 5 Tahun Terakhir
+3

Referensi

Dokumen terkait

Sifat Shalat Nabi dari Takbir Hingga Salam.. Indonesia –

Kelompok Kerja Jasa Konsultansi Unit Layanan Pengadaan Barang/Jasa Kabupaten Lamandau mengumumkan pemenang seleksi sederhana untuk Pekerjaan Belanja Jasa Konsultan

Adapun prosedur-prosedur yang dimaksud telah disiapkan meliputi: prosedur PIT (Physical Inventory Taking), penghentian sementara (cut-off) kegiatan penggunaan bahan nuklir,

1 WIDYASRAMA , Majalah Ilmiah Universitas Dwijendra Denpasar, ISSN No... 2 WIDYASRAMA , Majalah Ilmiah Universitas Dwijendra Denpasar,

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk meningkatan hasil belajar melalui strategi pembelajaran inkuiri pada mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan Kompetensi Dasar

Ketika kita cermati secara teoritis dan riil dilapangan, maka nuansa tematik dan Scientific yang diusung oleh kurikulum 2013 sangatlah mengena dalam pembelajaran

Adapun tujuan penelitian ini, yaitu (1) mendeskripsikan profil pembelajaran menulis cerpen siswa kelas VII SMPN 1 Cimahi, (2) mendeskripsikan proses pembelajaran

· Determine o posicionamento competitivo do seu negócio: Como qualquer análise, a das 5 Forças de Porter também deve ter uma conclusão, que deve estar relacionada ao