• Tidak ada hasil yang ditemukan

N. HASlL DAN PEMBAHASAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "N. HASlL DAN PEMBAHASAN"

Copied!
46
0
0

Teks penuh

(1)

N.

HASlL DAN PEMBAHASAN

4.1. Hasil Penelitian

4.1 .I. Alat Tangkap Pukat Cincin Mini

Dimensi kapal yang umumnya digunakan untuk mengoperasikan pukat cincin mini di daerah Juwana adalah sebagai berikut:

Panjang kapal (LOA) : 15 meter Lebar kapal : 4,8 meter Ketinggian kapal : 1,25 meter Jenis mesin : diesel Kekuatan mesin : 25 PK

Pukat cincin mini di daerah Juwana memiliki panjang jaring 350 meter dengan kedalaman 52 meter. Spesifikasi pukat cincin mini secara lengkap dapat dilihat pada Table 5.

Pelampung yang digunakan berbentuk oval yaitu dari tipe Y-50 dengan bahan rubber sponge, jumlah 600 buah dan pelampung lainnya berbentuk bulat 0 30 cm dari plastik sebanyak 9 buah. Pelampung bendera berjumlah 1 buah, terbuat dari bahan plastik, berbentuk bulat.

Pemberat terbuat dari bahan timah hitam (Pb), masing-masing memiliki berat 200 gram, sejumlah 750 buah. Cincin (ring), yang digunakan sebanyak 60 buah dengan berat tiap cincinnya 400 gram terbuat dari bahan kuningan. Kili-kili (swivel) yang digunakan berjumlah 4 buah berukuran kecil. Gambar desain pukat cincin mini (mini purse seine) dapat di lihat pada Figure 17.

(2)

Table 5. Technical spesification of mini purse seine in Juwana, Central Java Length No Net:

-

Wing Body Upper bunt Down bunt

Upper and down of selvedge Side of selvedge

Parts of mini purse seine

350 meter 350 meter 350 meter 370 meter 370 meter 370 meter 1,80 meter 400 meter 30 meter 100 meter 52 meter 52 meter Material I. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 1 1. 12. Twine and rope specification 210 Dl6 210 Dl6 210 Dl12 210 Dl9 380 Dl12 380 Dl12 10 mm 8 mm 6 mm 10 mm 8 mm 6 mm 6 mm 22 mm 8 mm 10 mm 8 mm 6 mm Line:

-

Floatline Upper float line Upper hanging line Leadline

Down float line Down hanging line Ring line

Purse line Flag of floatline Warp line Side of ris line Side of hanging line

Mesh size 1" 1" 9/4)) 1" 1 %" 1 % PE : polyethylene PA : polyamide

(3)

n PL dia. 30 mm v ~ ~ d i a 8 m m PL dia. 30 cm PF. *

-

din ---. 10 m m

- -

*<---- PE dia. 8 mm PE dia. 6 mm PE dia. 6 mm PE dia. 8 mm PE dia. 10 mm Ir

-

PE dia. 6 mm Pb (200 gr) f\ PE dia. 22 mm

5

V ~ i n g (400 gr) Figure 17. Design of mini purse seine in Juwana, Central Java

(4)

Pengoperasian alat tangkap pukat cincin tersebut dilakukan pada waktu siang hari saja. Operasi penangkapan dilakukan dalam satu hari trip penangkapan (one day fishing trip) tanpa dilengkapi dengan alat bantu lainnya (seperti: rumpon dan fish finder). Penurunan jaring membutuhkan waktu 5 menit, sedangkan pengangkatan jaring (hauling) membutuhkan waktu satu jam pengoperasian. Sistem pelingkaran jaring saat shooting berdasarkan kebiasaan dari masing-masing nelayan, yaitu searah jarum jam.

4.1.2. Ketajaman Penglihatan (Visual Acuity)

4.1.2.1. lkan JuwiIC hacunda gizzard* had (Anodontostoma chacunda)

Hasil analisis histologi dari retina mata ikan juwi (Anodontostoma chacunda) menunjukkan bahwa susunan sel reseptor yang ada hanya terdiri dari sel kon ganda (twine cone cell) saja yang membentuk susunan mozaik (Figure 18).

Kepadatan sel kon tertinggi terletak di daerah temporal, yaitu sebesar 145 sel/O,Ol mm2 untuk ikan dengan panjang tubuh 120 mm dan 110 sel/O,Ol mm2 untuk ikan dengan panjang tubuh 150 mm. Kepadatan sel kon akan semakin menurun secara linier dengan bertambahnya ukuran panjang tubuh ikan (Figure 20).

Nilai sudut pembeda terkecil untuk seluruh ukuran panjang tubuh ikan juwi mempunyai kisaran 20,37

-

20,09 (Figure 21). Hubungan antara ketajaman penglihatan dengan panjang tubuh mempunyai kisaran nilai 0,05 (Figure 22). Pada Table 6 memperlihatkan ukuran panjang tubuh, kepadatan sel kon, diameter dan jarak titik fokus lensa mata, dan sudut pembeda terkecil (minimum separable angle) serta ketajaman penglihatan dari ikan juwi (Anodontostoma chacunda).

(5)

Figure 18. Photomiaograph ofcone cell of Ambntmbm chawnda

4.2.2.2. l h n #krlMgeye (Sdrrc~-w)

Hasil anallsk W l o g i dad retina

mate

Hmn

sew ( W r CNmenophthehnus) manunjulQran bahwa susunan

eal

reseptar terdii

deri

sel

kon tungeel cone

cM,

sel kon ganda

(MM

cone cell) dengan podai rmtu MI kon tunawl dikelillngi empat

buah

sel kon

m

a

yang

mmbentuk

sueunan rnozaik (Flgun 23).

T a l e 7 mempdhatkan ukum pan- tubuh, kepedstMl w l kon, diameter dan jerek

taik

fokus lense rnata,

dan

audut pembeda te~I(edl serta

(6)

Table 6. Length of fish sample, cone cell density, diameter and focal distance of lens, and minimum separable angle and visual acuity of Anodontostoma chacunda Note: Total length (TL) (mm) 120 130 -~ 135 140 144 148 - 150

Minimum separable angle (minute)* =

x [ ( ~ ) x 6 0 ] F Visual acuity ** = Visual acuity** 0.05 0.05 0.05 0.05 0.05 0.05 0.05 Body length (BL) (mm) 110 120 -- Cone density (n) (0.01 mm2) 145 130 Focal length (mm) 3.51 3.83 -- -Diameter of lens (mm) 2.75 3.00

Minimum separable angle (minute)* 20.37 19.72 - - - 3.95 3.99 3.99 4.02 4.08 3.10 3.13 3.13 3.15 3.20 123 130 134 137 143 19.45- 19.67 19.84 20.14 20.09 125 120 118 113 110

(7)

Figure 19. Relationship between lens diameter and body length of Anodontostoma chacunda

-

-

Fig

Boq/

length

(mm)

lure 20. Relationship between cone density and body length c

(8)

0.055 A 0.05 a w 4 %

=

R~ = 0.001

3

0.045 m

-

m

I 3 0.04; V)

5

0.035 0.03 w w w w 1 w 1 w w J 100 110 120 130 140 150

Body

length

(mm)

Figure 22. Relationship between visual acuity and body length of Anodontostoma chacunda

(9)

KepaUalan

eel

kon

tertinggi terietek dl

daerah

temporal,

yel14 dmsaf243 a e ~ , O l

mm2

unhrk

lkan

wanpan Jan^ lubuh lg0

mm

dan

111 seWPI

d

untuk i h n dengan pedsng luEuh 220 mm. Kepadatm Jwhh sel

kon ekan

semaldn menufunsecrem Hnierdeng6n m u k n r c n p n l a n a t u b u h k e n

(Ffgum 26).

-.

-- =

-

-.cz;c

.-

-<--.2

Nil wdut pembeda

terksdl

unbdt

perdeno.tuklhilcan

mempunyai

ldsannr

10,-

-

12,08 antam ke46jatnan

panoliturten d m n peniaw tubuh

a-

nwai dad lmmman

~ : $ ~ ~ g ~ ~ ~

>.

penOUhgtan D e ~ n 0 , O Q

-

0,08 (F@"&m

M ewnr cr

Figure

23.

P t W W m ~ ~ h a

of

single cone d o and blvlna cone celIs of Sder ~lllm-*L4a

4.1.21

lkan

kyangilayang

scad

[O.a,plWus mrctrwonrr)

H ~a d k k I

hlwoal dad

miha mafa

lkan

irryew (DeciWms

rnemsome) tmrmjmm bahwa

swunan

&el remptor y a n ~ ada hanya Mlri dari aal kon genda (hulne cons cell) saje yang mcrmben(uk LIUsunan nwZak

(noun

a).

~ u m h ed kon menyebar mama di

beOlan

rstlna mete, berbeda

flk

(10)

Table 7. Length of fish sample, cone cell density, diameter and focal distance of lens, and minimum separable angle and visual acuity of

Selar crumenophthalmus

Note:

Total length (TL) (mm)

Minimum separable angle (minute)* =

F

]

[(?I

601 Visual acuity ** = Body length (BL) (mm) Cone density (n) (0.01 mm2) Diameter of lens (mm)

Focal length (mm) Minimum separable angle (minute)*

(11)

Figure 24. Relationship between lens diameter and body length of Selar cnrmenophthalmus

(12)

Figure 26. Relationship between minimum separable angle and body length of Selar crumenophthalmus

Figure 27. Relationship between visual acuity and body length of

(13)

51 d[bandlnglcan dengan A m h b s b m a

dr-

dan

SdK C I U I W J @ J U I ~ U ~

Fiiure 28. ~ ~ ~ ~ i c l a g f e p h

of

cone oellar offhtwkws

-

m

J ~ ~ i k a n l e l y s n g p n g ~ ~ i h a n y a a e b e n y r * d u s

~,mhelddlkarenslcenpedassatpengumplrlenQcensampeluslam~

an~rn

barst

8-w

rn

ww

d mmengOItnelran k ~ a n apulr~

[@na) delam

jumlah

sadhit den ulwen panjang

lkan

~akbervailesi.

T . b l r 8 ~ u S a r a n ~ ~ , k B p B d B b V ( s e I m k Q n , diamstsr dan Jarak Wk f o b s lensa me$,

dan

rwdut

p e w Mcdl

aerts

-mar

penglhatan dad Ucen leyang.

PmWtmgm jumlah sel kon seteleh meleki analisis histdogi,

didapatkan

jrcmleh

sel

kon

hpadat

tdeW

dl

Wmh

termlaal.

WJ

&anyak 268 W O , O l

mm2m1uk

ikan d e n w panjeng t u M ~

230

mn

den

251

mbU,Ol

rnd

untuk

Ran

dsngen penjeng tubuh 250 mm. mleh

bneltsnsemekinmeningketdan~an-*etubuhm (FWm MI.

(14)

Note:

Table 8. Length of fish sample, cone cell density, diameter and focal distance of lens, and minimum separable angle and visual acuity of Decapterus macrosoma

Minimum separable angle (minute)* = Total length (TL) (mm) - 260 280 Visual acuity ** =

Body length (EL) (mm) 230 250 Cone density (n) 0.01 mm2 268 25 1 Diameter of lens (mm) 7.25 6.0 Focal length (mm) 9.24 8.79

Minimum separable angle (menit)* 5.68 6.17 Visual acuity** 0.18 0.16

(15)

Figure 29. Relationship between lens diameter and body length

of Decaptems macrosoma

Figure 30. Relationship between cane density and body length of

(16)

Figure 31. Relationship between minimum separable angle and body length of Decaptenrs macrosoma

Figure 32. Relationship between visual acuity and body length of

(17)

5 5 Nilai sudut pembeda terkecil untuk seluruh ukuran panjang tubuh ikan mempunyai kisaran 5,68

-

6,17 (Figure 31). Nilai ketajaman penglihatan mempunyai kisaran nilai 0,16

-

0,18 (Figure 32).

4.1.3. Sumbu Penglihatan (Visual Axis)

Ketiga spesies ikan smpel pada penelitian ini, ikan juwi (Anodontostoma chacunda), ikan selar (Selar cnrmenophthalmus) dan ikan layang (Decapterus macrosoma), memiliki kontur kepadatan set kon yang terbesar terletak di bagian temporal (Figure 33, Figure 34 dan Figure 35). Dengan menarik garis lurus melalui lensa mata maka terlihat bahwa sumbu penglihatan dari ketiga spesies ikan tersebut adalah lurus ke depan (Figure 36, Figure 37 dan Figure 38), yang berarti bahwa sudut dari sumbu penglihatan adalah 0' ( posisi pandangan secara horisontal).

4.1.4. Jarak Pandang Maksimum (Maximum Sighting Distance)

4.1.4.1. ikan juwilchacunda gizzard+ had (Anodontostoma chacunda) Pada Figure 39 dan Tabel 9 memperlihatkan jarak pandang maksimum Anodontostoma chacunda dengan panjang total ikan (120

-

150) mm relatif sama saat melihat obyek. Obyek yang dilihat meliputi bagian tali-temali maupun bagian jaring pukat cincin mini. Jarak pandang maksimum untuk masing-masing panjang total ikan semakin meningkat dengan semakin besamya ukuran obyek benda yang dilihatnya.

Diameter tali 22 mm, nilai jarak pandang maksimum Anodontostoma chacunda berkisar 3,72

-

3,89 meter; diameter tali 10 mm mempunyai nilai jarak pandang maksimum berkisar 1,69

-

I ,77 meter; diameter tali 8 mm mempunyai

(18)

nilai jarak pandang maksimum berkisar 1,35

-

1,41 meter; dan diameter tali 6 mm mempunyai nilai jarak pandang maksimum berkisar 1,01

-

1,06 meter. Table 9. Maximum sighting distance of chacunda gizzatd-shad toward the visual

object of mini purse seine

Wing and body of net 1.6

Under bunt of net 1.9

Upper bunt, upper and down selvedge, side

selvedge

.

2.6

Upper, down and side of hanging line, ring

line

.

6

Upper and down Float line, flag for float line. 8 Lead line, float line and warp line. 10

Purse line. 22

No Parts of mini purse seine Diameter Maximum sighting

Pada diameter benang jaring berukuran 2,6 mm, jarak pandang maksimum yang dimiliki Anodontostoma chacunda adalah berkisar 0,44

-

0,46 meter; 0,32

-

0,34 meter pada diameter benang l,9 mm; dan 0,20

-

0,21 meter pada diameter benang 1,2 mm

4.1.4.2. l kan selarlbigeye (Sdar crumenophthalmus)

Figure 40 mempedihatkan untuk panjang total Selar cnrmenophthalmus (205

-

260) mm, kemampuan jarak pandang maksimum dalam melihat obyek benda akan semakin meningkat. Selain itu semakin besar ukuran obyek yang dilihat Selar cnrmenophthalmus maka a kan semakin besar pula kemampuan jarak pandang maksimum yang dimilikinya.

Hal tersebut terlihat dengan kisaran nilai untuk bahan dari tali dengan diameter benang 10 mm sebesar 2,66

-

3,56 meter; diameter tali 8 mm

(19)

57 kemampuan jarak pandang maksimum berkisar 2,13

-

2,85 meter; diameter tali 6 mm kemampuan jarak pandang maksimumnya berkisar 1,60

-

2,14 meter dan diameter tali 22 mm kemampuan jarak pandang maksimum berkisar 5,85

-

7,84 meter.

Benang jaring dengan diameter 2,6 mm, jarak pandang maksimum berkisar 0,82

-

0,93 meter; diameter benang jaring 1,9 mm jarak pandang maksimum berkisar(0,50

-

0,68 meter dan diameter benang jaring 1,2 mm kemampuan jarak pandang maksimum berkisar 0,32

-

0,43 meter.

4.1.4.3. l kan layangllayang scad (Decaptenrs macrosoma)

Kemampuan jarak pandang rnaksimum Decaptenrs macmsoma sama seperti yang dimiliki Selar cnrmenophthalmus, yaitu dengan total panjang ikan yang semakin besar maka kemampuan jarak pandang maksimum akan semakin meningkat seiring dengan semakin besamya ukuran obyek benda yang dilihat (Figure 41).

Kisaran nilai 5,58

-

6,05 meter untuk jarak pandang maksimum dengan diameter tali 10 mm; diameter tali 8 mm jarak pandang maksimum berkisar 4,47

-

4,84 meter; diameter tali 6 rnm jarak pandang maksimum berkisar 3,35

-

3,63 meter dan diameter tali 22 mm jarak pandang maksimum berkisar sebesamya(l2,27

-

13,32 meter.

Diameter benang jaring 2,6 mm, jarak pandang maksimum berkisar (1,45

-

1,57) meter; diameter benang jaring 1,9 mm jarak pandang maksimum berkisar (1,06

-

1,15) meter; dan diameter benang jaring 1,2 mm, jarak pandang maksimum berkisar (0,67

-

0,73) meter.

(20)

58

4.1.5. Model Pelolosan lkan dari Pukat Cincin Mini

Model lolosnya ikan dari pukat cincin mini yang sedang dioperasikan melalui perhitungan yang telah didapatkan berdasarkan asumsi lolosnya ikan ketika pengoperasian pukat cincin mini.

Pada model ini, diasumsikan Anodontostoma chacunda termasuk kelompok clupeidae (ikan sardin). Kecepatan kapal saat pengoperasian alat untuk penurunan jaring sampai penarikan jaring adalah 2,3 knot. Apabila kawanan ikan diasumsikan pada posisi tepat ditengah radius pelingkaran alat maka jarak antar kawanan ikan dengan jarak kapal sejauh 55,73 meter. Pada jarak tersebut diasumsikan pula bahwa kawanan ikan tersebut memiliki diameter kawanan yang sama dengan jenis sardin sebesar 50 meter dan kecepatan renangnya pada keadaan sustained speed sebesar 1 ,I mldetik. Sehingga waktu yang ditempuh ikan tersebut untuk mencapai jarak 55,73 meter dengan asumsi bahwa kawanan ikan akan mendekati posisi kapal dengan pandangan lurus kedepan pada jarak pandang maksimum 0,33 meter saat melihat kantong bagian bawah adalah 99,20 detik (pada sudut 10') (Table 9). Apabila kecepatan renang Anodontostoma chacunda pada keadaan pmlonged speed sebesar 1,3 mldetik maka waktu yang dibutuhkan ikan tersebut menempuh jarak 55,73 meter adalah 99,19 detik (Table 10). Sedangkan untuk kecepatan renang saat burst speed sebesar 1,5 mldetik adalah 72,75 detik (Table 11).

Pada Table 13 memperlihatkan panjang jaring saat kawanan ikan bergerak 15' dari posisi awal tepat ditengah radius pelingkaran jaring maka panjang jaring yang telah dilingkarkan adalah sepanjang 14,58 meter dengan waktu yang dibutuhkan 12,46 detik.

Perhitungan jarak penghindaran kawanan ikan saat posisi kapal sejauh 87,5 meter dari jarak awal dimulainya penurunan jaring sedangkan posisi awal

(21)

59 kawanan ikan terletak tepat ditengah pelingkaran jaring maka arah penghindaran terhadap kapal saat melihat posisi jaring bagian kantong bawah dapat dibedakan dalam berbagai sudut. Perbedaan sudut tersebut antara lain 1

o',

30' dan 45'. Kondisi renang dari Anodontostoma chacunda dibedakan menjadi tiga macam, yaitu sustained speed, prolonged speed dan burst speed. Saat kondisi renang sustainaed speed pada sudut penghindaran 1

oO,

jarak yang ditempuh kawanan untuk meloloskan diri sejauh 109,12 meter dalam waktu 99,20 detik. Sudut penghindaran 30°, jarak yang ditempuh kawanan ikan untuk meloloskan diri sejauh 95,97 meter dalam waktu 87,25 detik; sedangkan pada 45', jarak yang ditempuh kawanan ikan untuk meloloskan diri sejauh 78,38 meter dalam waktu 71,25 detik. (Table 14). Kecepatan renang Anodontostoma chacunda dalam keadaan pmlonged speed pada sudut penghindaran

lo0,

jarak yang ditempuh kawanan ikan untuk meloloskan diri sejauh 109,12 meter dalam waktu 83,94 detik. Sudut penghindaran 30°, jarak yang ditempuh kawanan ikan untuk meloloskan diri sejauh 95,97 meter dalam waktu 73,82 detik; sedangkan pada 45', jarak yang ditempuh kawanan ikan untuk meloloskan diri sejauh 78,38 meter dalam waktu 60,29 detik (Table 15). Saat kondisi renang dalam keadaan burst speed maka jarak yang ditempuh kawanan Anodontostoma chacunda dengan sudut penghindaran 10' untuk meloloskan diri sejauh 109,12 meter, dalam waktu 72,75 detik. Sudut penghindaran 30°, jarak yang ditempuh kawanan ikan untuk meloloskan diri sejauh 95,97 meter dalam waktu 63,98 detik; sedangkan pada sudut 45', jarak yang ditempuh kawanan ikan untuk meloloskan diri sejauh 78,38 meter dalam waktu 52,25 detik (Table 16).

Perhitungan pada Table 12 memperlihatkan bahwa waktu yang dibutu h kan tali pem berat/leadline (TI) keti ka kedalaman perairan 20 meter adalah 4025 detik, kedalaman perairan 30 meter adalah 73,94 detik, kedalaman

(22)

60

perairan 40 meter adalah 113,84 detik, dan saat kM@man 52 meter adalah 168,74 detik. Dengan kata lain bahwa total waktu yang dibutuhkan tali pemberat sampai pada kdslaman jaring (52 meter) sebesar 168,74 detik.

Kecepatan tenggelamnya tali pemberat (V,) saat kedalaman perairan 20 meter mengalamai *nurunan kecepatan sebesar 0,0082 mldetik; saat kedalaman 30 ~ q t e r adalah 0,0045 mldetik; saat kedalaman 40 meter adalah 0,0029 mldetik; keqatarnan 50 meter adalah 0,0021 dan saat kedalaman 52 meter adalah 0,001 9 mldetik.

(23)

Table

10.

Calculate escaping fish school from setting mini purse seine (sustained speed:

1.1

mls) - - - - - - --

Degrees of escaping fish 1 0

10

15

20

25

30

35

40

45

50

55

60

65

-

70

75

80

85

Distance of escaping fish school1Sf

(m)

109.12

107.03

104.12

100.43

95.97

- -

-

--

90.78

84.90

78.38

71.26

63.60

55.45

46.88

37.96

28.75

19.32

9.74

Time of escapingfish school1Tf (second)

99.20

97.30

94.66

91.30

87.25

82.53

77.18

71.25

64.78

57.81

50.41

42.62

34.51

26.13

17.85

8.85

(24)

Table

1 1 .

Calculate escaping fish school from setting mini purse seine (prolonged speed:

1.3

mls) Degrees of escaping fish I 8

10

15

20

25

30

35

40

45

50

55

60

65

70

75

80

85

Distance of escaping fish schoolISf (m)

109.12

107.03

104.12

100.43

95.97

90.78

84.90

78.38

71.26

63.60

55.45

46.88

37.96

28.75

19.32

9.74

Time of escapingfish schoollTf (second)

83.94

82.33

80.10

77.25

73.82

69.83

65.31

60.29

54.81

48.92

42.65

36.06

29.20

22.1

1

14.86

7.49

(25)

Table

12.

Calculate escaping fish school from setting mini purse seine (burst speed:

1.5

mls) Degrees of escaping fish I 8

10

15

20

25

30

35

40

45

50

55

60

65

70

75

80

85

Distance of escaping fish schoolISf (m)

109.12

107.03

104.12

100.43

95.97

90.78

84.90

78.38

71.26

63.60

55.45

46.88

37.96

28.75

19.32

9.74

Time of escapingfish schoollTf (second)

72.75

71.35

69.42

66.95

63.98

60.52

56.60

52.25

47.51

42.40

36.97

31.26

25.31

19.17

12.88

6.50

(26)

Table

13.

Determining the time, depth and speed of the sinking leadline The depth of water (metres)

5

10

15

20

25

30

35

40

45

50

52

The sinking force of leadline (Fs )

(kg9

4

4

The time required for leadline (TI)

(second)

5.03

14.23

4

26.14

0.01

3

Depth of leadline to sink (metres)

33.75

95.46

4

4

4

4

4

4

4

4

Sinking speed of leadline (misecond) (VI)

0.068

0.023

40.25

56.25

73.94

93.18

1

13.84

135.84

159.09

168.74

270.00

377.34

496.02

625.06

763.68

91 1.25

1067.27

1131.94

0.008

0.006

0.004

0.004

0.003

0.002

0.002

0.002

(27)

Table 14. Determining the model setting mini purse seine

Degrees of school position and net Length of net when encircling

(degree) the school (S,)

Time of school to detect the (second)

(28)

Table 15. Determining the time of escaping schooling and velocity of net setting (sustained speed: 1.1 mls) Degrees of escaping fish school (degree) 10 15 20 25 30 35 40 45 50 55 60 65 70 75 80 85 Distance of escaping fish schoolISf (meter) 109.12 107.03 104.12 100.43 95.97 90.78 84.90 78.38 74.26 63.60 55.45 46.88 37.96 28.75 19.32 9.74

Time of net setting (second) 166.18 174.49 182.80 191.1 1 199.42 207.73 216.04 224.35

-

232.66 240.97 249.28 257.59 265.90 274.20 282.51 290.82 Time of escaping fish

schoolfrf (second) 99.20 97.30 94.66 91.30 87.25 82.53 77.18 71.25 64.78 57.81 50.41 42.62 34.51 26.13 17.56 8.85 Length of net (meter) 194.44 204.16 213.88 223.60 233.32 243.04 252.77 262.49 272.21 281.93 291.65 301 -38 311.10 320.82 330.54 340.26

(29)

Table 16. Determining the time of escaping schooling and velocity of net setting (prolonged speed: 1.3 mls) Degrees of escaping fish school (degree) I 0 15 20 25 30 35 40 45 50 55 60 65 70 75 80 85

-

Distance of escaping fish schoolISf (meter) 109.12 107.03 104.12 100.43 95.97 90.78 84.90 78.38 71.26 63.60 55.45 46.88 37.96 28.75 19.32 9.74

Time of escaping fish schoolrrf (second) 83.94 82.33 80.10 77.25 73.82 69.83 65.3 1 60.30 54.8 1 48.92 42.65 36.06 29.20 22.1 1 14.86 7.49 Length of net (meter) 194.44 204.1 6 21 3.88 223.60 233.32 243.04 252.77 262.49 272.21 281 -93 291.65 301.38 311.10 320.82 330.54 340.26

Time of net setting (second) 166.18 174.49 182.80 191.11 199.42 207.73 216.04 224.35 232.66 240.97 249.28 257.59 265.90 274.20 282.5 1 290.82 1

(30)

Table 17. Determining the time of escaping schooling and velocity of net setting (burst speed: 1.5 mls) Degrees of escaping fish school (degree) 10 15 20 25 30 35 40 45 50 55 60 65 70 75 80 85 Distance of escaping fish school1Sf (meter) 109.12 107.03 104.12 100.43 95.97 90.78 84.90 78.38 71.26 63.60 55.45 46.88 37.96 28.75 19.32 9.74

Time of escaping fish schoollTf (second) 72.75 71.35 69.42 66.95 63.98 60.52 56.60 52.25 47.51 42.40 36.97 31.26 25.31 19.17 12.88 6.49 Length of net (meter) 194.44 204.16 213.88 223.60 233.32 243.04 252.77 262.49 272.2; 281.93 29 1.65 301 -38 311.10 320.82 330.54 340.26

Time of net setting (second) 166.18 174.49 182.80 191.11 199.42 207.73 216.04 224.35 232.66 240.97 249.28 257.59 265.90 274.20 282.51 290.82

(31)
(32)

DORSAL

NASAL TEMPORAL

(33)

NASAL TEMPORAL

(34)

B L : 110mrn BL : 143 mm

v

Visual axis

(35)
(36)

Visual axis

(37)

A

i

Figure 39. Relationship between maximum sighting distance and total length of AnodonioStr)ma chacunda

4.5 4 3.5 m

-

.-

:

3 0, s 2 . 5 C E l @ .s

g

2 1.5 .- X

5

1 0.5 0 - X X x X X X X +

*

*

*

I

.

I . . . A A A A A A A

8

X

I

X t i b !

9

8

C '3 8 C cn .- u 7 6

PC-

-

5 5

-

.P

;

4 V), x 1.2 mrn

5

3 1.9 mm E .- X 2

+

2.6 mm j

9

1 0 200 220 240 260 Total kmgth (mm) x 2 2 mm x 1.2 mm 2.6 mm

+

1.9 mm

Figure 40. Relationship between maximum sighting distance and total length of Selar crumenophthalmus

115 125 135 145 155

Total length (mm)

(38)

14 12 m C .- 10

PC

8 .- 0 5

-

." 6

"',

x 1.2 mrn

5

4 2.6 rnm E . - X 2

3

0 255 260 265 270 275 280 285 Total length (rnrn)

Figure 41. Relationship between maximum sighting distance and total length of Decaptems macrosoma

(39)

4.2. Pembahasan

4.2.1. lkan juwilchacunda gizzard-shad (Anodontostoma chacunda)

Pada penelitian ini, untuk sampel ikan juwi (Anodontostoma chacunda) yang dianalisis mengalami penambahan ukuran diameter lensa dengan bertambahnya ukuran panjang tubuh. Hal ini disebabkan dengan bertambahnya u kuran panjang tubuh mengakibatkan~ penambahan ukuran anggota tubuh lainnya termasuk diameter lensa mata secara proporsional sebagaimana beberapa peneliti terdahulu juga menyatakan ha1 serupa (Shiobara ef a/., 1998; Purbayanto, 1999).

Anodontostoma chacunda termasuk kelompok ikan teleostei karena memiliki reseptar penglihatan sel kon, seperti yang dikemukakan oleh Wunder dan Takatsuzi vide Tamura (1957) bahwa salah satu ciri ikan yang terrnasuk dalam kelompok teleostei adalah memiliki sel kon ganda (double cone cell) dan sel kon tunggal (single cone cell). Dalani penelitian ini, jumlah sel kon yang ada pada bagian retina mengalami penurunan yang artinya bahwa terjadi perbesaran ukuran sel kon pada mata dengan semakin bertambahnya ukuran panjang tubuh karena pada dasarnya kepadatan sel koti pada ikan akan tetap selama hidupnya (Tamura, 1957).

Sumbu penglihatan (visual axis) yang dimiliki oleh Anodontostoma chacunda mengarah lurus ke depan. Menurut Tamura vide Blaxter (1980) apabila sumbu penglihatan lurus kedepan yang berarti sudut pandangnya sebesar 0' dari bidang horinsontal maka artinya bidang pandangnya secara horisontal pula.

Ketajaman penglihatan ikan juwi tidak mengalami perubahan secara signifikan dengan semakin bertambahriya panjang tubuh. Dengan kata lain, tidak ada perbedaan ketajaman penglihatan untuk ukuran panjang tubuh ikan 110

-

143 mm. Perbedaan kemungkinan besar terjadi antara ikan

(40)

78

juvenilllarva dengan ikan dewasa. Hasil yang demikian disebabkan ukuran Anodontostoma chacunda yang menjacji sampel termasuk kelompok ikan yang memiliki pertumbuhan azymtot. Pertumbuhan azymtot ini berpengaruh juga terhadap ketajaman matanya. Ketajaman penglihatan Anodontostoma chacunda tergolong sangat rendah yaitu be~kisar antara 0,0491 hingga 0,0513 dibandingkan dengan spesies ikan lainnya, seperti misalnya Japanese whiting yang berkisar 0,09

-

0,12 (Purbayanto, 1999), yellowfin tuna (0,491); bigeye tuna (0,44); albacore (0,49); black marlin (0,:37) dan bluefin tuna (0,28) (Kawamura et al., 1981). Hal ini disebabkan karena Anodontostoma chacunda termasuk spesies ikan pelagik yang sumber makanannya adalah detritus (FAO, 1974), dimana menurut Nybakken (1 988) organisme yang sumber makanannya detritus dikategorikan sebagai organisme filter feeder (menyaring makanan). Kondisi ini menyebabkan bahwa indera penglihatan pada ikan jenis ini kurang begitu penting.

Tamura (1957) menjelaskan bahwa sel kon memiliki kemampuan dalam kepekaan (sensitivitas) terhadap cahaya dan ketajaman penglihatan, akan tetapi sel kon ganda (twine cone cells) mempunyai kemampuan lebih sensitiflpeka terhadap cahaya dibandingkan dengari sel kon tunggal. Reseptor penglihatan yang ada pada Anodontostoma chacunda yang hanya terdiri dari sel kon ganda saja, dapat dikatakan bahwa spesies ikan tersebut lebih menggunakan penglihatannya untuk adaptasi terhadap cahaya daripada mencari makanan. Dengan kata lain bahwa indera penglihatan bukan merupakan alat yang vital untuk mencari makanan bagi Anodonto:stoma chacunda.

Jarak pandang maksimum yang dimiliki Anodontostoma chacunda semakin meningkat dengan semakin besar diameter obyek benda yang dilihat. Akan tetapi dengan bertambahnya ukuran panjang tubuh maka jarak pandang

(41)

79 maksimum yang dimiliki dalam melihat suatu obyek benda dengan diameter yang sama tidak begitu memberikan pertledaan nilai yang mencolok. Hal ini disebabkan pada dasamya ketajaman penglihatan yang dimiliki Anodonfosfoma chacunda nilainya tidak begitu berbeda jauh dengan perbedaan panjang tubuh yang kecil dari ikan sampel yang diteliti. Kondisi ini mengakibatkan jarak pandang maksimum dari ikan sampel juga tidak berbeda jauh.

4.2.2. lkan selarlbigeye (Selar cnrmenophthalmus).

Sampel Selar cmmenophthalmus yang telah dianalisis mengalami penambahan ukuran diameter lensa dengan bertambahnya ukuran panjang tubuh. Seperti halnya dengan Anodo~~tosfoma chacunda, ha1 ini disebabkan bertam bahnya ukuran panjang tubuh mengakibatkan penambahan ukuran anggota tubuh yang lainnya termasuk diameter lensa mata secara proporsional.

Sel reseptor pada retina mata Selar cmmenophfhalmus terdiri dari sel kon tunggal (single cone cells), dan sel kori ganda (double cone cells) membentuk susunan mosaik dengan konfigurasi satu sel kon tunggal dikelilingi empat sel kon ganda.

Hal ini mengidintifikasikan bahwa Selar cmmenophthalmus adalah ikan yang aktii pada siang hari (diurnal) dan~ memiliki sensitivitas dan adaptasi yang lebih terhadap cahaya, sebagaimana dijelaskan oleh Tamura (1957) bahwa sel kon ganda lebih sensiti terhadap cahaya dibandingkan dengan sel kon tunggal. Menu rut Hibiya (1 982) sel kon berfung!d untu k mengetahui perbedaan panjang gelombang cahaya (misalnya warna cahaya). Dalam penelitian ini, jumlah sel kon yang ada pada bagian retina mengalanii penurunan yang artinya bahwa terjadi perbesaran ukuran sel kon pada mata dengan semakin bertambahnya ukuran

(42)

80 panjang tubuh karena pada dasarnya kepadatan kon pada ikan akan tetap selama hidupnya (Tamura, 1957).

Sumbu penglihatan yang dimiliki oleh Selar crumenophthalmus mengarah lurus ke depan dengan pengkonsentrasian kepadatan sel kon terbesar pada bagian temporal retina. Adapun makansln Selar cnrmenophthalmus adalah jenis udang-udangan dan ikan-ikan yang memiliki panjang badan lebih kecil dari Selar cnrmenophthalmus. Hal tersebut menurljukkan bahwa Selar crumenophthalmus termasuk ikan yang aktif memburu mangsanya. Seperti dijelaskan oleh Gunarso (1985), bahwa arah pandang atau surnbu penglihatan dari ikan menunjukkan pola makan dan pola hidup dari ikan tersebut. Lebih lanjut dijelaskan pula bahwa jenis-jenis ikan pelagis yang besar mauplun kecil, yang memperoleh makanannya dengan terlebih dahulu harus memburu mangsanya, maka pada umumnya mereka mempunyai pengkonsentrasian sel kon pada bagian temporal ataupun ventm-temporal retinan ya.

Ketajaman penglihatan yang dirniliki Selar cnrmenophthalmus semakin meningkat secara linier dengan semakin bertambahnya ukuran panjang tubuh, yang ditandai pula dengan semakin be!sarnya diameter lensa mata. Demikian halnya dikemukakan oleh Muntz vide Blaxter (1980) bahwa dengan diameter bola mata yang semakin besar maka datangnya gambar suatu obyek benda melalui lensa mata menuju ke retina aka~n semakin cepat karena sudut pembeda terkecil yang dimiliki semakin kecil.

Ketajaman penglihatan Selar cmmenophthalmus memiliki kisaran angka yang lebih rendah dibandingkan dengan ketajaman penglihatan Trachurus japonicus. (Zhang vide Purbayanto, 1999). Hal ini menunjukkan bahwa meskipun kedua jenis ikan tersebut termasuk dalsrm spesies ikan laut teleostei, mackerel

(43)

8 1 dengan kisaran panjang tubuh yang sarma tetapi memiliki ketajaman penglihatan yang berbeda.

Jarak pandang maksimum yang dimiliki oleh Selar cmmenophthalmus akan semakin meningkat dengan semakin besar diameter obyek benda yang dilihat serta semakin meningkat pula dengan besarnya ukuran panjang tubuh. Artinya bahwa dengan ukuran panjang tubuh yang semakin besar maka kemam puan Selar cnrmenophthalmus wtuk dapat mendeteksi adanya benda yang ada di hadapannya akan semakin jauh.

4.2.3. lkan layangllayang scad (Decapferus macrosoma)

Sampel Decaptems macrosoma setelah dianalisis mengalami penambahan ukuran diameter lensa dengan bertambahnya panjang tubuh. Hal ini disebabkan bertambahnya ukuran panjang tubuh mengakibatkan penambahan ukuran anggota tubuh yarig lainnya termasuk diameter lensa mata secara proporsional, seperti halnya dengan Anodontostoma chacunda dan Selar cmmenophthalmus.

Sel reseptor Decaptems macrosoma hanya terdiri dari sel kon ganda (double cone cells) saja yang membentuk susunan mosaik, dimana

perbandingan jumlah sel kon ganda pada bagian retina menyebar merata. Menurut Gunarso (1985) bahwa salah satu ciri khusus dari kelompok spesies predator yang memburu mangsanya terlebih dahulu untuk dimakan, salah satunya adalah memiliki jumlah sel kon ganda yang merata dibagian retina. Mengingat makanan dari Decapttbms macrosoma adalah invertebrata kecil (FAO, 1974) maka Decaptenrs macrosoma tergolong kelompok spesies tersebut.

Sel kon ganda yang dimiliki Deaiptems macrosoma menunjukkan bahwa ikan tersebut adalah ikan yang aktii pada siang hari (diurnal) dan memiliki

(44)

82 sensitivitas dan adaptasi yang lebih baik terhadap cahaya. Menurut Tamura (1957) dan Hibiya (1982) bahwa sel korl ganda lebih sensitif terhadap cahaya dibandingkan dengan sel kon tunggal. D,alam penelitian ini, jumlah sel kon yang ada pada bagian retina mengalami penurunan yang artinya bahwa terjadi perbesaran ukuran sel kon pada mata tiengan semakin bertambahnya ukuran panjang tubuh karena pada dasamya kepadatan kon pada ikan akan tetap selama hidupnya (Tamura, 1957).

Sumbu penglihatan yang dimiliki oleh Decapterus macrosoma mengarah lurus ke depan dengan pengkonsentrasian kepadatan sel kon terbesar pada bagian temporal retina. Jenis makanan Decaptenrs macrosoma adalah jenis plankton hewani atau jenis invertebrata kecil, ha1 ini menunjukkan bahwa dengan jenis makanan tersebut ketajaman penglihatan Decaptenrs macrosoma sangat

berperan dalam mencari makanan.

Ketajaman penglihatan yang dimiliki Decaptenrs macrosoma meningkat dengan bertambahnya ukuran panjang tubuh, yang ditandai pula dengan semakin besarnya diameter lensa mata. Hal ini disebabkan diameter bola mata yang semakin besar maka datangnya giambar suatu obyek melalui lensa mata menuju ke retina akan semakin cepat karena sudut pembeda terkecil yang dimiliki semakin kecil (Muntz vide Blaxter, 1980). Dengan sudut pembeda terkecil yang kecil akan mempertajam penglihatan ketika melihat obyek.

Ketajaman penglihatan Decapte?nrs macrosoma pada penelitian ini memiliki kisaran angka 0,16-0,18; dima~na kisaran nilai tersebut hampir sama dengan kisaran nilai ketajaman penglihatan pada Pagnrs major (Zhang vide Purbayanto, 1999). Hal ini dikarenakan kedua spesies ikan tersebut terrnasuk dalam spesies ikan teleostei laut. Akan tetapi, kisaran nilai ketajaman pengli hatan Decaptenrs macrosoma lebi h tinggi dari Selar cnrmenophthalmus.

(45)

83 Perbedaan nilai tersebut disebabkan susunan reseptor retina mata, khususnya sel kon ganda yang dimiliki Decaptems macrosoma tersusun dalam bentuk mozaik yang teratur. Menurut Muntz vide Blaxter (1980) bahwa dengan susunan mozaik pada reseptor lebih teratur, nilai ketajaman penglihatan akan semakin besar.

Perbandingan kisaran nilai janak pandang maksimum yang dimiliki Decaptems macrosoma meningkat dengan makin besar diameter obyek yang dilihat serta semakin meningkat pula dongan besarnya ukuran panjang tubuh. Artinya bahwa dengan panjang tubuh yang semakin besar maka kemampuan Decaptems macrosoma untuk dapat mendeteksi adanya benda yang ada di hadapannya akan semakin jau h.

4.2.4. Model Pelolosan lkan dari Alat Tangkap Pukat Cincin Mini

Pukat cincin mini termasuk dalam alat tangkap tradisional. Dengan ukuran mata jaring yang kecil dapat dikatakan bahwa alat tangkap ini kurang selektii, mengingat beberapa jenis ikarl pelagis kecil seperti Anodontostoma chacunda yang membentuk kawanan dapat tertangkap dalam jumlah besar dalam berbagai ukuran.

Dari hasil perhitungan mengenai pelolosan ikan pada pukat cincin mini, didapatkan bahwa Anodontostoma chacunda mempunyai peluang besar untuk dapat meloloskan diri dari pelingkaran jiaring. Hal ini disebabkan karena waktu yang dibutuhkan jaring untuk melingka~ri kawanan Anodontostoma chacunda relatif lebih lama dibandingkan dengan vvaktu yang dibutuhkan Anodontostoma chacunda untuk dapat meloloskan diri dari jaring tersebut. Selain itu, kecepatan kapal saat melakukan penurunan jaring masih cukup rendah sehingga berpengaruh terhadap kecepatan pdtlingkaran jaring pukat cincin mini

(46)

84 dibandingkan dengan kecepatan renang kawanan Anodontostoma chacunda.

Dengan kata lain bahwa waktu yang dibutuhkan Anodontostoma chacunda untuk melarikan diri lebih cepat dibandingkan uvaktu yang dibutuhkan pukat cincin mini untuk melingkari kawanan Anodontostorna chacunda, menyebabkan semakin besar kawanan Anodontostoma chacund'a untuk dapat meloloskan diri.

Dari hasil penelitian juga diperoleh bahwa kemampuan jarak pandang maksimum Anodontostoma chacunda dengan arah pandang lurus kedepan pada penelitian ini tergolong rendah, yaitu sc~jauh 3,77 meter saat melihat tali kolor (purse line) dan jarak 0,33 meter saat melihat jaring bagian kantong bawah. Sedangkan ketika tali kolor mencapai kedalaman yang sama dengan kedalaman renang kawanan Anodontostoma chacunda (swimming layefj, men ye bab kan kawanan ikan tersebut berbalik arah untuk meloloskan diri. Karena jarak pandang maksimum Anodontostoma chacunda menyebabkan ikan tersebut akan mudah tertangkap.

Gambar

Table 5. Technical spesification  of mini purse seine in Juwana, Central Java  Length No  Net:  -  Wing  Body  Upper bunt  Down bunt
Figure 18.  Photomiaograph ofcone  cell  of  Ambntmbm  chawnda
Figure  19.  Relationship between lens diameter and body length  of  Anodontostoma chacunda
Figure 22. Relationship between visual acuity and body length of  Anodontostoma chacunda
+7

Referensi

Dokumen terkait

Kegiatan MOPD merupakan agenda rutin awal tahun tiap sekolah, dilaksanakan pada tanggal 14 Juli 2014 sampai 17 Juli 2014, yang bertujuan untuk memperkenalkan lingkungan

Dalam penelitian tersebut didapatkan hasil bahwa masyarakat yang memiliki riwayat aktivitas menyembelih hewan ternak rentan pada kelompok kasus berisiko lebih

biji sorghum pada proses pembuatan teh sorghum ( sorghum tea) secara signifikan mampu meningkatan kadar asam fenolik, total fenolik, total flavonoid dan procyanidin

Sedangkan menurut Kasmir (2006), untuk mengubah mental mahasiswa dari menjadi seorang pegawai menjadi seorang wirausaha dapat dilakukan secara bertahap, meliputi:

Urt NAMA MADRASAH KEC KODE Jenis Hari Hari Kelas Tempat. 1 Khilyatul Khoiriyah,

Blok V : Keterangan Anggota Rumah Tangga yang Berumur 10 Tahun ke Atas Tujuan dari blok ini adalah untuk mendapatkan keterangan mengenai keadaan ketenagakerjaan yang meliputi

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh praktek Manajemen Sumber Daya Manusia (MSDM) yang diterapkan sekolah terhadap kinerja Guru Penjas SD.. Jenis penelitian

Berdasarkan hasil penelitian didapatkan fakta bahwa skor rata-rata pre-menstruation syndrome pada responden di SMAN 3 Kota Kediri sesudah diberikan relaksasi nafas