ANALISIS KINERJA KEUANGAN PT. BPRS HAJI MISKIN PANDAI SIKEK KECAMATAN X KOTO KABUPATEN TANAH DATAR
PERIODE
(2012-2017) DILIHAT DARI RASIO PROFITABILITAS
SKRIPSI
Diajukan Kepada Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam Jurusan Perbankan Syariah
Sebagai Syarat Mencapai Gelar Sarjana
Oleh:
NOFRI HIDAYAT NIM.15301100099
JURUSAN PERBANKAN SYARIAH FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS ISLAM INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)
BATUSANGKAR 1440 H / 2019 M
i ABSTRAK
NOFRI HIDAYAT, 15301100099 Judul Skripsi “ANALISIS KINERJA KEUANGAN PT. BPRS HAJI MISKIN PANDAI SIKEK KECAMATAN X KOTO KABUPATEN TANAH DATAR PERIODE (2012-2017) DILIHAT DARI RASIO PROFITABILITAS” Jurusan Perbankan Syariah Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam, Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Batusangkar, 2019.
Permasalahan dalam penelitian ini adalah bagaimana kinerja keuangan PT. BPRS Haji Miskin Pandai Sikek dengan rasio profitabilitas periode (2012-2017) yaitu dengan Net Profit Margin (NPM), Return on Invesment (ROI), Return on Asset (ROA), Return on Equity (ROE) dan Beban Operasional/Pendapatan Operasional (BOPO). Dengan tujuan untuk melihat bagaimana kinerja keuangan dari PT. BPRS Haji Miskin Pandai Sikek.
Jenis penelitian yang dipakai dalam penelitian adalah penelitian lapangan dengan pendekatan deskriptif kuantitatif. Dengan sumber data sekunder yang penulis gunakan berupa dokumentasi yang telah dipublikasikan oleh PT. BPRS Haji Miskin Pandai Sikek melalui laporan keuangan PT. BPRS Haji Miskin Pandai Sikek periode 2012-2017.
Hasil dari penelitian ini adalah kinerja keuangan PT. BPRS Haji Miskin Pandai Sikek yang diukur dengan rasio profitabilitas ini menunjukkan nilai Gross Profit Margin (GPM) dari tahun ke tahun menunjukkan kinerja yang semakin meningkat, walaupun dari segi persentase mengalami fluktuatif. Net Profit Margin (NPM) dari tahun ke tahun menunjukkan kinerja yang semakin meningkat. Rasio Return on Invesment (ROI) yang menunjukkan kinerja yang semakin meningkat dari tahun ke tahun. Rasio Return on Asset (ROA) yang menunjukan kinerja yang sangat baik berdasarkan standar atau ketentuan yang telah ditetapkan oleh Bank Indonesia. Rasio Return on Equity (ROE) yang menunjukkan kinerja keuangan yang sangat baik berdasarkan ketentuan yang telah ditetapkan Bank Indonesia. Rasio Beban Operasional/Pendapatan Operasional (BOPO) yang menunjukkan kinerja keuangan yang sangat baik menurut ketentuan Bank Indonesia. Secara keseluruhan kinerja keuangan PT. BPRS Haji Miskin Pandai Sikek Kecamatan X Koto Kabupaten Tanah Datar meningkat dari tahun ke tahun.
ii DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL
LEMBAR KEASLIAN DATA
HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING HALAMAN PENGESAHAN PENGUJI
ABSTRAK ... i
DAFTAR ISI ... ii
DAFTAR TABEL... iv
DAFTAR GAMBAR ... v
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Identifikasi Masalah ... 9
C. Batasan Masalah ... 9
D. Rumusan Masalah ... 10
E. Tujuan Penelitian ... 10
F. Manfaat dan Luaran Penelitian ... 10
G. Definisi Operasional ... 11
BAB II KAJIAN TEORI ... 13
A. Landasan Teori... 13
1. Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS) ... 13
2. Kinerja Keuangan ... 15
3. Laporan Keuangan ... 20
4. Analisis Laporan Keuangan ... 29
5. Analisis Rasio Keuangan ... 32
6. Profitabilitas ... 35
B. Kajian Penelitian yang Relavan ... 39
C. Kerangka Berpikir ... 41
BAB III METODE PENELITIAN ... 42
A. Jenis Penelitian... 42
B. Tempat dan Waktu Penelitian ... 42
iii
D. Teknik Pengumpulan Data ... 43
E. Teknik Analisis Data... 43
BAB IV HASIL PENELITIAN ... 47
A. Gambaran Umum PT. BPRS Haji Miskin Pandai Sikek ... 47
1. Sejarah Berdirinya PT. BPRS Haji Miskin Pandai Sikek ... 47
2. Visi, Misi dan Tujuan PT. BPRS Haji Miskin Pandai Sikek ... 49
3. Profil Perusahaan PT. BPRS Haji Miskin Pandai Sikek ... 50
4. Produk- Produk PT.BPRS Haji Miskin Pandai Sikek ... 52
B. Pembahasan dan Hasil Penelitian PT. BPRS Haji Miskin ... 54
1. Pembahasan ... 54
2. Analisis Rasio Profitabilitas PT. BPRS Haji Miskin Pandai Sikek periode 2012-2017... 55
BAB V PENUTUP ... 65
A. Kesimpulan ... 65
B. Saran ... 66 DAFTAR KEPUSTAKAAN
iv
DAFTAR TABEL
Tabel 1. 1 Tabel Data Mengenai Total Aset, Total DPK PT. BPRS Haji Miskin Pandai Sikek ... 5 Tabel 1. 2 Tabel Data Mengenai Total Modal dan Laba Bersih PT. BPRS Haji
Miskin Pandai Sikek ... 6 Tabel 3. 1 Rancangan waktu penelitian ... 42 Tabel 4. 1 Profil PT. BPRS Haji Miskin ... 50 Tabel 4. 2 Return on Asset PT. BPRS Haji Miskin Pandai Sikek Periode
2012-2017 ... 56 Tabel 4. 3 Return on Equity (ROE) PT. BPRS Haji Miskin ... 59 Tabel 4. 4 Beban Operasional / Pandapatan Operasional PT. BPRS Haji Miskin 62
v
DAFTAR GAMBAR
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
Dalam dunia perbankan di Indonesia saat ini, perbankan syariah sudah tidak lagi dianggap sebagai tamu asing. Hal ini disebabkan kinerja dan kontribusi perbankan syariah terhadap perkembangan industri perbankan di Indonesia selama sepuluh tahun terakhir. Kinerja ini semakin nyata ketika badai kritis ekonomi melanda Indonesia. Ketika perbankan konvensional banyak yang terpuruk, perbankan syariah relatif dapat bertahan bahkan menunjukkan perkembangan. Ini membuktikan secara konseptual, perbankan syariah memang sesuia dengan tuntutan perkembangan zaman serta sudah menjadi kewajiban sejarahya untuk lahir dan berkembang menjadi sistem perbankan alternatif yang sesuia dengan fitrah hidup manusia.
Menurut pasal 1 Undang-Undang No. 21 Tahun 2008 tentang bank syariah, bank adalah badan usaha yang menghimpun dana masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkan kepada masyarakatdalam bentuk kredit/pembiayaan dan/atau bentuk-bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat banyak. Dengan telah diberlakukannya Undang-Undang No 21 tahun 2008, yang kemudian ditindak lanjuti dengan berbagai regulasi Bank Indonesia, perbankan syariah mempunyai ketentuan khusus (Lex Spesialis), sehingga kehadirannya mengharuskan kita untuk memahami berbagai aspek hukum berkenaan dengan perbankan syariah (Usman, 2014: xiv). Dengan kata lain,bank dalam menjalankan aktivitasnya berfungsi sebagai lembaga (finencial intermediary) yaitu lembaga keuangan yang berfungsi sebagai perantara pihak yang mempunyai dana lebih dengan pihak yang kekurangan dana (Ismail, 2011: 8-9).
Kemampuan perusahaan dalam mempertahankan eksistensinya ditengah persaingan sangat ditentukan dengan kinerja keuangan perusahaan, dengan melihat kinerja perusahaan, dapat diketahui efektifitas
dan efisiensi perusahaan dalam mengelola sumber daya yang dimilki untuk mencapai tujuan yang ditetapkan demi menghasilkan laba yang optimal. Kinerja keuangan merupakan hal penting yang harus diketahui oleh setiap perusahaan untuk menunjang tumbuh kembangnya perusahaan. penilaian kinerja keuangan perusahaan sangat penting dilakukan oleh perusahaan, karena dengan mengetahui kinerja keuangan perusahaan maka dapat dijadikan oleh pihak manajemen dalam pengambilan keputusan keuangan. Selain itu, kinerja keuangan juga dibutuhkan oleh pihak luar perusahaan seperti kreditur dan investor. Kreditur menggunakannya sebagai bahan pertimbangan untuk memberi dan menolak permintaan kredit atau pembiayaan dari suatu perusahaan, sedangkan investor menggunakannya sebagai penentuan kebijakan penanaman modal.
Analisis laporan keuangan merupakan salah satu cara untuk mengetahui kinerja perusahaan dalam suatu periode. Oleh karena itu, sebelum menganalisis laporan keuangan, maka terlebih dahulu harus memahami hal-hal yang berkaitan dengan laporan keuangan (Kasmir, 2010 : 66).
Laporan keuangan merupakan alat penguji dari pekerjaan bagian pembukuan yang digunakan sebagai alat untuk menentukan atau menilai posisi keuangan lembaga keuangan atau perusahaan. Dari laporan keuangan, dapat diketahui posisi keuangan serta hal-hal yang harus dicapai perusahaan. Laporan keuangan juga merupakansummary proses perhitungan setiap tutup pembukuan yang digunakan untuk menilai perkembangan serta kinerja lembaga keuangan atau perusahaan (Mulyawan, 2015, p.83).
Untuk dapat memperoleh gambaran tentang perkembangan financial suatu perusahaan, kita perlu mengadakan suatu analisis terhadap data financial dari suatu perusahaan, dimana data financial tercermin dari laporan keuangan. Ukuran yang sering digunakan dalam analisis financial adalah analisis rasio keuangan. Analisis rasio merupakan salah satu alat analisis yang populer dan paling banyak digunakan. Subuah rasio akan
3
menyatakan hubungan matematis antara dua kuatitas, agar bermakna sebuah rasio harus mangacu pada hubungan ekonomis yang penting. Rasio merupakan alat untuk menyediakan pandangan terhadap kondisi yang mendasar (Subramanyam, 2008: 42). Pengunaan alat analisis berupa rasio ini akan dapat menjelaskan dan memberi gambaran tentang baik atau buruknya keadaan posisi keuangan perusahaan, terutama apabila angka rasio tersebut dibandingkan dengan angka rasio pembanding yang digunakan sebagai alat untuk menilai kinerja keuangan.
Dengan menggunakan alat analisis laporan keuangan, terutama bagi pemilik usaha dan manajemen, dapat diketahui berbagai hal yang berkaitan dengan keuangan dan kemajuan perusahaan. Pemilik usaha dapat mengetahui kondisi keuangan perusahaan dan menilai kinerja manajemen sekarang, apakah mencapai target yang telah ditetapkan atau tidak. Bagi pihak manajemen, laporan keuangan merupakan cerminan kinerja mereka selama ini (Kasmir, 2011 : 4).
Laporan keuangan suatu perusahaan setelah dianalisis dapat diketahui kondisi dan posisi keuangan perusahaan. Disamping itu, juga diketahui letak kelemahan dan kekuatan perusahaan. Laporan keuangan akan menentukan langkah apa yang akan dilakukan perusahaan sekarang dan kedapan dengan melihat berbagai persoalan yang ada, baik kelemahan maupun yang dimilikinya. Disamping itu juga untuk memanfaatkan peluang yang ada dan menghadapi atau menghindari ancaman yang mungkin timbul sekarang dan masa yang akan datang (Kasmir, 2010 : 66). Rasio keuangan merupakan alat analisis yang acapkali diguankan dalam melihat permasalahan tersebut.
Rasio keuangan adalah angka yang diperoleh dari hasil perbandingan dari satu pos laporan keuangan dengan pos lainnya yang mempunyai hubungan yang relevan dan signifikan. Misalnya antara utang dengan modal, antara kas dan total aset, antara harga pokok produksi dengan penjualan. Rasio keuangan sangat penting dalam melakukan analisis terhadap kondisi keuangan perusahaan (Harahap, 2011 : 297).
Salah satunya adalah rasio profitabilitas, yang berhubungan dengan laba atau keuntungan yang diperoleh dalam periode tertentu.
Rasio profitabilitas merupakan salah satu rasio yang paling banyak digunakan untuk melihat kinerja perusahaan, yang mana rasio profitabilitas merupakan rasio untuk melihat dan menilai kemampuan perusahaan dalam mencari keuntungan. Rasio ini juga memberikan ukuran tingkat efektivitas manajemen suatu perusahaan. Hal ini ditunjukkan oleh laba yang dihasilkan dari penjualan dan pendapatan investasi. Intinya adalah rasio ini menujukkan efisiensi perusahaan. Penggunaan rasio profitabilitas dapat dilakukan dengan menggunakan perbandingan antara berbagai komponen yang ada dilaporan keuangan, terutama laporan keuangan neraca (laporan posisi keuangan) dan laporan laba rugi. Tujuannya adalah agar telihat perkembangan perusahaan dalam rentang waktu tertentu, baik penurunan atau kenaikan, sekaligus mencari penyebab perubahan tersebut (Kasmir, 2011: 196).Rasio ini digunakan untuk melihat kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba, baik untuk setiap rupiah penjualan yang telah dilakukan maupun terhadap penggunaan modal sendiri, rasio ini juga untuk mengukur tingkat efisiensi dari penggunaan sumber daya keuangan dalam menghasilkan laba (Nofrivul, 2008 : 22).Dengan mengetahui kinerjanya, PT. Bank Pembiayaan Rakyat Syariah Haji Miskin akan dapat melakukan perkiraan keputusan apa yang akan diambil guna mencapai tujuannya.
Pada penelitian ini lembaga keuangan yang akan penulis teliti adalah PT. BPRS Haji Miskin Pandai Sikek yang merupakan sebuah bank yang dalam perkembangannya dikenal oleh masyarakat sebagai tempat menyalurkan dana baik dalam bentuk simpanan, pembiayaan bagi hasil dan juga dalam bentuk kegiatan lazim yang dilakukan menurut ketentuan Bank Indonesia. Untuk dapat memperoleh gambaran tentang perkembangan financial lembaga keuangan yang bersangkutan, maka perlu rasanya mengetahui bagaimana perkembangan aset, dana pihak
5
ketiga, modal dan laba atau rugi yang diperoleh oleh PT. BPRS Haji Miskin Pandai Sikek dari tahun 2012 sampai tahun 2017.
Tabel 1. 1
Tabel Data Mengenai Total Aset, Total DPK PT. BPRS Haji Miskin Pandai Sikek
(dalam ribuan)
Tahun Total Aset Kenaikan % DPK Kenaikan %
2012 26.648.051 - - 10.371.709 - - 2013 27.474.980 826.929 3,10 10.065.554 -306.155 -2,95 2014 29.179.221 1.704.241 6,20 11.805.026 1.739.472 17,28 2015 35.146.032 5.966.811 20,44 16.692.550 4.887.524 41,40 2016 35.761.284 615.252 1,75 18.448.997 1.756.447 10,52 2017 37.246.016 1.484.732 4,15 23.369.118 4.920.121 26,67
Sumber: Laporan Keuangan PT. BPRS Haji Miskin Pandai Sikek
Dari data di atas telihat bahwa total aset PT.BPRS Haji Miskin Pandai Sikek pada tahun 2012 sebesar Rp. 26.648.051.000, pada tahun 2013 sebesar Rp. 27.474.980.000, terjadi peningkatan sebesar 3,10% yaitu sebesar Rp. 826.929.000 dari tahun 2012-2013. Pada tahun 2014 aebesar Rp. 29.179.221.000, terjadi peningkatan persentase sebesar 6,20% atau sebesar Rp. 1.704.241.000 dari tahun 2013-2014. Pada tahun 2015 sebesar Rp. 35.146.032.000, terjadi peningkatan sebesar 20,44% yaitu sebesar Rp. 5.966.811.000 dari tahun 2014-2015. Pada tahun 2016 dengan aset Rp. 35.761.284.000 mengalami peningkatan sebesar 1,75% atau sebesar Rp. 615.252.000 dari tahun 2015-2016. Sedangkan pada tahun 2017 dengan aset sebesar Rp. 37.246.016.000 mengalami peningkatan persentase sebesar 4,15% atau sebesar Rp. 1.484.732.000 dari tahun 2016-2017. Jadi, dapat disimpulkan bahwa total aset PT. BPRS Haji Miskin Pandai Sikek pada tahun 2012-2017 mengalami peningkatan dari segi nominalnya setiap tahun, sedangkan dari segi persentase kenaikan mengalami fluktuasi.
Berdasarkan tabel total DPK di atas pada tahun 2012 sebesar Rp. 10.371.709.000, dan pada tahun 2013 sebesar Rp. 10.065.554.000 mengalami penurunan sebesar 2,95% atau sebesar Rp. 306.155.000 dari tahun 2012-2013. Pada tahun 2014 sebesar Rp. 10.805.026.000 mengalami peningkatan persentase sebesar 17,28% atau sebesar Rp. 1.739.472.000 dari tahun 2013-2014. Pada tahun 2015 dengan total DPK sebesar Rp. 16.692.550.000 mengalami peningkatan persentase sebesar 41,40% atau sebesar Rp. 4.8877.524.000 dari tahun 2014-2015. Pada tahun 2016 sebesar Rp. 18.448.997.000 mengalami peningkatan persentase sebesar 10,52% atau sebesar Rp. 1.756.447.000 dari tahun 2015-2016. Sedangkan pada tahun 2017 sebesar Rp. 23.369.118.000 mengalami peningkatan persentase sebesar 26,67% atau sebesar Rp. 4.920.121.000 dari tahun 2016-2017. Jadi, dapat disimpulkan bahwa total DPK yang dimiliki PT.BPRS Haji Miskin Pandai Sikek dari tahun 2012-2013 mengalami penurunan, dan pada tahun 2013-2017 mengalami peningkatan secara nominalnya, namun pada persentase mengalami fluktuasi.
Tabel 1. 2
Tabel Data Mengenai Total Modal dan Laba Bersih PT. BPRS Haji Miskin Pandai Sikek
(dalam ribuan)
Tahun Modal Kenaikan % Laba/Rugi Kenaikan %
2012 2.645.004 - - 572.103 - - 2013 3.095.056 450.052 17,01 605.357 33.254 5,81 2014 3.407.556 312.500 10,10 671.210 65.859 10,87 2015 3.474.692 67.136 1,97 613.470 -57.740 -8,60 2016 3.474.692 0 0 713.894 100.424 16,37 2017 3.603.442 128.750 3,70 828.822 114.928 16,10 Sumber: Laporan Keuangan PT. BPRS Haji Miskin Pandai Sikek
Dari tabel di atas mengenai modal PT.BPRS Haji Miskin Pandai Sikek pada tahun 2012 sebesar Rp. 2.645.004.000, dan pada tahun 2013 sebesar Rp. 3.095.056.000, mengalami peningkatan sebesar 17,01% atau
7
sebesar Rp. 450.052.000 dari tahun 2012-2013. Pada tahun 2014 sebesar Rp. 3.407.556.000 mengalami peningkatan sebesar 10,10% atau sebesar Rp. 312.500.000 dari tahun 2013-2014. Pada tahun 2015 sebesar 3.474.692.000 mengalami peningkatan sebesar 1,97% ata sebesar Rp. 67.136.000 dari tahun 2014-2015. Pada tahun 2016 tota modal tidak mengalami peningkatan ataupun penurunan baik nominal ataupun persentasenya. Sedangkan pada tahun 2017 sebesar Rp. 3.603.442.000 mengalami peningkatan persentase 3,70% atau sebesar Rp. 128.750.000 dari tahun 2016-2017. Jadi, dapat disimpulkan bahwa modal yang dimiliki PT.BPRS Haji Miskin Pandai Sikek pada tahun 2012-2017 mengalami peningkatan secara nominalnya, sedangkan untuk persentase mengalami fluktuasi walaupun pada tahun 2016 tidak mengalami peningkatan ataupun penuruna dari tahun sebelumnya.
Berdasarkan data di atas dapat dilihat bagaimana laba bersih yang dihasilkan oleh PT.BPRS Haji Miskin Pandai Sikek dari tahun 2012 mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya sebesar Rp. 104.607.000 atau sebesar 22,37%, dan pada tahun 2013 juga mengalami peningkatan sebesar Rp. 33.254.000 atau sebesar 5,81%, tidak berbeda dengan tahun sebelumnya pada tahun 2014 mengalami peningkatan sebesar Rp. 65.859.000 atau sebesar 10,87%. Namun, pada tahun 2015 PT. BPRS Haji Miskin Pandai Sikek mengalami penurunan laba atau rugi sebesar Rp. -57.746.000 atau sebesar -8,60%, kemudian pada tahun 2016 mengalami peningkatan sebesar Rp.100.424.000 atau sebesar 16,37%, dan pada tahun 2017 PT.BPRS Haji Miskin pandai Sikek kembali mengalami kenaikan sebesar Rp.114.928.000 atau sebesar 16,10%. Jadi, dapat disimpulkan bahwa laba yang diperoleh PT.BPRS Haji Miskin Pandai Sikek dari tahun 2012-2017 mengalami kenaikan dari segi nominal walaupun pada tahun 2015 mengalami sedikit penurunan dan dari segi persentase kenaikan mengalami fluktuasi.
Berdasarkan penjelasan di atas bisa kita lihat pada tahun 2013 saat jumlah aset naik sebesar Rp. 826.929.000 atau sebesar 3,10% dari tahun sebelumnya, DPK mengalami penurunan Rp. 306.155.000 atau sebesar 2,95%, sedangkan untuk jumlah modal mengalami peningkatanRp. 450.052.000 atau sebesar 17,01% tetapi labanya tetap mengalami kenaikan Rp. 33.254.000 atau sebesar 5,81%. Sedangkan pada tahun 2015 saat aset naik Rp. 5.966.811.000 atau sebesar 20,44% dan DPK naik sebesar Rp. 4.887.524.000 atau sekitar 41,40%, jumlah modal naik sebesar Rp. 67.136.000 atau sekitar 1.97%, laba mengalami penurunan sebesar Rp. 57.740.000 atau sekitar 8,60%.
Dari penjelasan tentang kondisi keuangan bank di atas maka penulis tertarik untuk menganalisis kinerja keuangan PT. BPRS Haji Miskin Pandai Sikek dari tahun 2012 sampai pada tahun 2017 yang dilihat dari rasio profitabilitas.Dengan menggunakan rasio profitabilitas yang digunakan sebagai alat analisis dalam kinerja keuangan PT. BPRS Haji Miskin Pandai Sikek, antara lain adalah Net Profit Margin (NPM) yang menunjukkan kemampuan laba bersih yang diperoleh dari setiap penjualan yang dilakukan.Return On Total Asset (ROA) yang menunjukkan penggunaan aktiva perusahaan atau lembaga keuangan.Return On
Invesment (ROI) menunjukkan kemampuan perusahaan dalam
meghasilkan laba bersih terhadap investasi yang dilakukan. Return On Equity (ROE) untuk mengambarkan laba bersih yang diperoleh dari setiap pengunaan modal sendiri, dan Biaya Operasional/Pendapatan Operasional (BO/PO) yang merupakan rasio yang digunakan untuk melihat perbandingan biaya operasional dengan pendapatan operasional yang diperoleh oleh bank.
Alasan menggunakan rasio profitabiltas kerena ingin melihat kondisi laba lembaga keuangan atau perusahaan, karena tujuan utama dari lembaga keuangan ataupun perusahaan adalah mencari keuntungan atau laba, dan dari laba masyarakat yang tidak mengerti dengan cara melihat laporan keuangan dapat dengan mudah untuk mengetahui apakah kondisi
9
lembaga keuangan atau perusahaan berada pada kondisi baik atau buruk. Dari latar belakang di atas yang telah penulis paparkan maka judul penelitian penulis adalah “ Analisis Kinerja Keuangan PT. BPRS Haji Miskin Pandai Sikek Dilihat dari Rasio Profitabilitas (Periode 2012-2017)”.
B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka dapat diidentifikasi masalah sebagai berikut:
1. Pengaruh DPK terhadap laba PT. BPRS Haji Miskin Pandai Sikek. 2. Pengaruh aset terhadap laba PT. BPRS Haji Miskin Pandai Sikek. 3. Kinerja keuanganPT. BPRS Haji Miskin Pandai Sikek dilihat dari rasio
NPM.
4. Kinerja keuangan PT. BPRS Haji Miskin Pandai Sikek dilihat dari rasio ROI.
5. Kinerja keuangan PT. BPRS Haji Miskin Pandai Sikek dilihat dari rasio ROA.
6. Kinerja keuangan PT. BPRS Haji Miskin Pandai Sikek dilihat dari rasio ROE.
7. Kinerja keuangan PT. BPRS Haji Miskin Pandai Sikek dilihat dari rasio BOPO.
C. Batasan Masalah
Dari identifikasi masalah di atas, maka penulis membatasi masalah yang akan diteliti, yaitu:
1. Bagaimana kinerja keuangan PT. BPRS Haji Miskin Pandai Sikek dilihat dari rasio NPM.
2. Bagaimana kinerja keuangan PT. BPRS Haji Miskin Pandai Sikek dilihat dari rasio ROI.
3. Bagaimana kinerja keuangan PT. BPRS Haji Miskin Pandai Sikek dilihat dari rasio ROA.
4. Bagaimana kinerja keuangan PT. BPRS Haji Miskin Pandai Sikek dilihat dari rasio ROE.
5. Bagaimana kinerja keuangan PT. BPRS Haji Miskin Pandai Sikek dilihat dari rasio BOPO.
D. Rumusan Masalah
Dari batasan masalah di atas, maka penulis merumuskan masalah yang akan diteliti, yaitu bagaimana kinerja keuangan PT. BPRS Haji Miskin Pandai Sikek dilihat dari rasio profitabilitas?
E. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah:
1. Untuk menganalisis kinerja keuangan PT. BPRS Haji Miskin Pandai Sikek dilihat dari rasio NPM.
2. Untuk menganalisis kinerja keuangan PT. BPRS Haji Miskin Pandai Sikek dilihat dari rasio ROI.
3. Untuk menganalisis kinerja keuangan PT. BPRS Haji Miskin Pandai Sikek dilihat dari rasio ROA.
4. Untuk menganalisis kinerja keuangan PT. BPRS Haji Miskin Pandai Sikek dilihat dari rasio ROE.
5. Untuk menganalisis kinerja keuangan PT. BPRS Haji Miskin Pandai Sikek dilihat dari rasio BOPO.
F. Manfaat dan Luaran Penelitian 1. Manfaat penelitian sebagai berikut:
a. Bagi penulis
1) Sebagai syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada Jurusan Perbankan Syariah Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam Negeri (IAIN) Batusangkar.
2) Dapat menambah wawasan dan pengetahuan mengenai analisis profitabilitas untuk menilai kinerja keuangan perbankan.
11
b. Bagi pihak akademik
1) Sebagai perkembangan ilmu pengetahuan serta bermanfaat sebagai dasar penelitian selanjutnya.
2) Sebagai tambahan referensi karya ilmiah di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Batusangkar.
c. Bagi pihak bank
Sebagai pertimbangan bagi pihak internal apabila perusahaan dan lembaga keuangan berada pada kondisi yang kurang baik dilihat dari laba yang dihasilkan untuk segera mengambil tindakan yang tepat untuk melakukan perbaikan.
2. Luaran penelitian
Luaran penelitian yang diharapkan dari penelitian ini adalah, agar dapat diterbitkan pada jurnal ilmiah dan bisa menambah khazanah perpustakaan IAIN Batusangkar.
G. Definisi Operasional
Definisi operasional diperlukan untuk menghindari terjadinya perbedaan pengertian atau penafsiran dari istilah yang dipakai. Selain itu defenisi operasional diperlukan juga untuk menjadi batasan pada proses penelitian ini. Adapaun defenisi operasional yang akan penulis jelaskan adalah sesuai dengan judul yang diangkat sebagai berikut:
Kinerja keuanganmerupakan hasil atau prestasi yang yelah dicapai oleh manajemen perusahaan dalam menjalankan fungsinya mengelola aset perusahaaan secara efektif selama periode tertentu (Rudianto, 2013: 189).
Profitabilitasadalahkemampuan manajemen untuk memperoleh laba. Laba terdiri dari laba kotor, laba operasi, dan laba bersih. Untuk memperoleh laba di atas rata-rata, manajemen harus mampu meningkatkan pendapatan dan mengurangi semua beban atas pendapatan, itu berarti manajemen harus memperluas pangsa pasar dengan tingkat harga yang
menguntungkan dan menghapuskan aktivitas yang tidak bernilai tambah (Prawironegoro, 2007: 55).
Sedangkan rasio profitabilitas yang penulis maksud adalah adalah Net Profit Margin (NPM) yang menunjukkan kemampuan laba bersih yang diperoleh dari setiap penjualan yang dilakukan. Rasio Biaya Operasional/Pendapatan Operasional (BO/PO) yang menunjukkan perbandingan antara biaya operasional dengan pendapatan operasional bank. Return On Total Asset (ROA) yang menunjukkan penggunaan aktiva perusahaan atau lembaga keuangan. Return On Invesment (ROI)yang menunjukkan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba dilihat dari investasi yang dilakukan, dan Return On Equity (ROE) untuk mengambarkan laba bersih yang diperoleh dari setiap pengunaan modal sendiri.
13 BAB II KAJIAN TEORI A. Landasan Teori
1. Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS)
a. Pengertian Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS)
Undang-Undang Perbankan Syariah No. 21 Tahun 2008 menyatakan bahwa perbankan syariah adalah segala sesuatu yang menyangkut tentang bank syariah dan unit usaha syariah, mencangkup kelembagaan, kegiatan usaha, serta cara dan proses dalam melaksanakan kegiatan usahanya. Bank syariah adalah bank yang menjalankan kegiatan usahanya berdasarkan prinsip syariah dan menurut jenisnya terdiri atas bank umum syariah dan bank pembiayaan rakyat syariah (Ismail, 2011 : 20). BPRS adalah bank syariah yang melaksanakan kegiatan usahanya dengan tidak memberikan jasa lalu lintas pembayaran.
Berdirinya BPRS di Indonesia didasari oleh tuntutan bermuamalah secara Islam yang merupakan keinginan kuat dari sebagian besar umat Islam di Indonesia, selain itu juga sebagai langkah aktif dalam rangka restrukturisari perekonomian Indonesia yang dituangkan dalam berbagai paket kebijaksanaan keuangan moneter dan perbankan secara umum. Secara khusus adalah mengisi peluang terhadap kebijaksanaan yang membebaskan bank dalam penetapan tingkat suku bunga (rate interest), yang kemudian dikenal dengan bank tanpa bunga (Sumar’in, 2012: 37).
b. Kegiatan Usaha Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS) Dalam Undang-Undang No. 21 Tahun 2008 pasal 21 dijelaskan kegiatan usaha BPRS meliputi:
1) Menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk:
a) Simpanan berupa tabungan atau dipersamakan dengan itu berdasarkan akad wadi’ah atau akad lain yang tidak bertentangan dengan prinsip syariah.
b) Investasi berupa deposito atau tabungan atau bentuk lainnya yang dipersamakan dengan itu berdasarkan akad mudharabah atau akad lain yang tidak bertentangan dengan prinsip syariah.
2) Menyalurkan dana kepada masyarakat dalam bentuk:
a) Pembiayaan bagi hasil berdasarkan akad mudharabah atau musyarakah.
b) Pembiayaan berdasarkan akad murabahah, salam dan istishna.
c) Pembiayaan berdasarkan akad qardh.
d) Pembiayaan penyewaan barang bergerak atau tidak bergerak kepada nasabah berdasarkan akad ijarah atau sewa beli dalam bentuk ijarah muntahiya bittamlik.
e) Pengambil alihan utang berdasarkan akad hawalah.
3) Menempatkan dana pada bank syariah lain dalam bentuk titipan berdasarkan akad wadi’ah atau investasi berdasarkan akad mudharabah atau akad lain yang tidak bertentangan dengan prinsip syariah.
4) Memindahkan uang, baik untuk kepentingan sendiri maupun untuk kepentingan nasabah melalui rekening Bank Pembiayaan Rakyat Syariah yang ada di Bank Umum Syariah, Bank Umum Konvensional dan UUS.
5) Menyediakan produk atau melakukan kegiatan usaha Bank Syariah lainnya yang sesuai dengan prinsip syariah berdasarkan persetujuan Bank Indonesia (UU No.21 tahun 2008 pasal 1 ayat 9).
Sedangkan larangan bagi BPRS diatur dalam UU Nomor 21 Tahun 2008 pasal 25, yaitu:
1) Melaksanakan kegiatan usaha yang bertentangan dengan prinsip syariah.
15
2) Menerima simpanan berupa giro dan ikut sera dalam lalu lintas pembayaran.
3) Melakukan kegiatan usaha dalam voluta asing, kecuali penularan uang asing dengan izin Bank Indonesia.
4) Melakukan kegiatan usaha perasuransian, kecuali sebagai agen pemasaran produk asuransi syariah.
5) Melakukan penyertaan modal, kecuali pada lembaga yang dibentuk untuk menanggulangi kesulitan likuiditas Bank Pembiayaan Rakyat Syariah.
6) Melakukan usaha lain diluar kegiatan usaha sebagaimana dimaksud dalam pasal 21 (UU No.21 Tahun 2008 pasal 1 ayat 9). 2. Kinerja Keuangan
a. Pengertian Kinerja
Kinerja adalah gambaran pencapaian pelaksanaan suatu kegiatan atau program dalam mewujudkan visi, misi dan tujuan serta sasaran dalam organisasi. Secara sederhana, kinerja dalah prestasi kerja dan dapat juga diartikan sebagai hasil kerja dari seseorang atau sekelompok orang dalam organisasi (Rudianto, 2013: 189).
Kinerja adalah hasil yang diperoleh oleh suatu organisasi baik organisasi tersebut bersifatprofit oriented dan non profit oriented yang dihasilkan dalam suatu periode waktu. Secara lebih tegas Amstron dan Baron mengatakan kinerja merupakan hasil pekerjaan yang mempunyai hubungan kuat dengan tujuan strategi organisasi, kepuasan konsumen dan memberikan kontribusi ekonomi (Fahmi, 2013: 2).
Kinerja merupakan implementasi dari rencana yang telah disusun tersebut. Implementasi kinerja dilakukan oleh sumber daya manusia yang memiliki kemampuan, kompetansi, motivasi, dan kepentingan. Bagaimana organisasi menghargai dan memperlakukan sumber daya manusia akan mempengaruhi sikap dan prilaku dalam
menjalankan kinerja. Pengukuran kinerja dilakukan untuk mengetahui apakah terdapat deviasi antara progres yang direncanakan dengan kenyataan. Apabila terdapat deviasi berupa progres yang lebih rendah dari pada rencana, perlu dilakukan langkah-langkah untuk memacu kegiatan agar tujuan yang diharapkan dapat dicapai (Wibowo, 2011: 4).
b. Kinerja keuangan Bank
kinerja keuangan bank merupakan bagian dari kinerja bank secara keseluruhan. Kinerja (performance) bank secara keseluruhan merupakan gambaran prestasi yang dicapai bank dalam operasinya, baik menyangkut aspek keuangan, pemasaran, penghimpunandan penyaluran dana, teknologi maupun sumber daya manusia.
Berdasarkan apa yang dinyatakan di atas, kinerja keuangan bank merupakan gambaran kondisi keuangan bank pada suatu periode tertentu baik menyangkut aspek penghimpunan dana maupun penyaluran dana yang biasanya diukur dengan indikator kecukupan modal, likuiditas, dan profitabilitas bank.
Kinerja keuangan adalah suatu analisis yang dilakukan untuk melihat sejauh mana perusahaan telah melaksanakan, dengan menggunakan aturan-aturan pelaksanaan keuangan secara baik dan benar. Unsur dari kinerja perusahaan sebagai berikut, yaitu unsur yang berkaitan secara langsung dengan pengukuran kinerja perusahaan disajikan pada laporan yang disebut dengan laporan laba rugi, penghasilan bersih sering kali digunakan sebagai ukuran kinerja atau sebagai dasar bagi ukuran lainnya. Unsur yang berkaitan dengan pengukuran penghasilan bersih ini adalah penghasilan (income) dan beban (expence) (Maith, 2013: 621).
Kinerja keuangan suatu perusahaan dapat dilihat dari laporan keuangan perusahaan/badan usaha yang bersangkutan dan itu tercermin dalam informasi balance sheet (neraca), income statement (laporan laba rugi), dan cash flow (laporan arus kas) serta hal-hal
17
lain yang mendukung dan penguat penilain financial performance tersebut.
Penilaian aspek profitabilitas guna mengetahui kemampuan dalam menciptakan laba (profit), yang sudah tentu penting bagi para pemilik. Dengan kinerja bank yang baik pada akhirnya akan berdampak baik pada intern maupun bagi ekstern bank.
Berkaitan dengan analisis kinerja keuangan bank mengandung beberapa tujuan:
1) Untuk mengetahui keberhasilan pengelolaan keuangan bank terutama kondisi likuiditas, kecukupan modal dan profitabilitas yang dicapai dalam tahun berjalan maupun tahun sebelumnya. 2) Untuk mengetahui kemampuan bank dalam mendayagunakan
semua aset yang dimiliki dalam menghasilkan profit secara efisien (Jumingan, 2011: 239).
Kinerja keuangan bagi setiap perusahaan sangatlah penting kerena dengan adanya kinerja keuangan para investor akan mengetahui tentang kondisi keuangan suatu perusahaan sebelum pihak ketiga tersebut menginvestasikan dananya. Berdasarkan pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa penilaian kinerja keuangan bagi perusahaan dapat digunakan sebagai tolak ukur dalam memperbaiki kinerja keuangan dan digunakan untuk mengetahui gambaran perusahaan seberapa jauh tingkat keberhasilan dalam mencapai tujuan perusahaan.
c. Tahap-Tahap Menganalisis Kinerja Keuangan
Ada 5 (lima) tahap dalam menganalisis kinerja keuangan suatu perusahaan atau lembaga keuangan secara umum:
1) Melakukan review terhadap data laporan keuangan
Review disini dilakukan dengan tujuan agar laporan yang sudah dibuat tersebut sesuai dengan penerapan kaedah-kaedah yang berlaku umum di dunia akuntansi, sehingga dengan
demikian hasil laporan keuangan tersebut dapat dipertanggung jawabkan.
2) Melakukan perhitungan
Penerapan metode perhitungan disini adalah disesuaikan dengan kondisi dan permasalahan yang sedang dilakukan sehingga hasil dari perhitungan tersebut akan memberikan sesuatu kesimpulan sesuai dengan analisis yang diinginkan.
3) Melakukan perbandingan terhadap hasil hitungan yang telah diperoleh
Dari hasil hitungan yang sudah diperoleh tersebut kemudian dilakukan perbandingan dengan hasil hitungan dari berbagai perusahaan atau lembaga keuangan lain.
4) Melakukan penafsiran terhadap berbagai permasalahan yang ditemukan.
5) Mencari dan memberikan pemecahan masalah terhadap berbagai permasalahan yang ditemukan (Fahmi, 2013: 143).
d. Kinerja dalam Islam
Ajaran Islam harus menjadi landasan yang kokoh dalam menetapkan hati nurani umat Islam bahwa apa yang dikerjakan secara moral dari segi keimanan adalah benar, dalam motivasi kerja dan sumber inspirasi untuk melahirkan prakarsa dan kreativitas dalam semua usaha untuk mencapai kebahagian dunia dan akhirat, menjadi kendali dalam membangun dan menjalankan bisnis, menetapkan target-target bisnis yang ingin dicapai, seperti:
1) Hasil (profit) baik materi dan non materi (manfaat), ending dari setiap usaha adalah:
a) Mencari profit dalam bentuk materi yang sebanyak-banyaknya dengan cara yang halalbukan dengan cara yang haram dan bukan pula dengan menghalalkan segala cara.
b) Mencari manfaat non meteri baik internal maupun eksternal seperti persaudaraan, silaturrahmi, kepedulian sosial islam
19
yaitu membuka kesempatan kerja, dan bersedekah, yang kesemuanya dapat menjadi sarana secara bersama-sama untuk mendekatkan diri kepada Allah.
2) Pertumbuhan (growth), bisnis yang baik adalah bisnis yang secara terus-menerus dapat meningkat dari tahun ke tahun, caranya meningkatkan kualitas produksi dan pelayanan, investasi syariah, seperti setelah mengeluarkan zakat dilanjutkan dengan sedekah dan infak.
3) Keberlangsungan (sustainable), orientasi bisnis yang benar adalah adanya keberlangsungan jangka panjang di dunia dan di akhirat. Sesuai dengan syariat islam, maka bisnis yang dijalankan tidak pernah rugi apalagi bangkrut.
4) Keberkahan adalah faktor penting dalam bisnis syariah, karena dengan adanya keberkahan dari harta yang kita milik akan mendatangkan banyak manfaat seperti memberikan ketenangan batin, keluarga sakinah, terhindar dari penyakit, dan lain sebagainya (Hasan, 2009: 6-7).
Allah berfirman dalam Quran Surat Al-An’am ayat 132:
( َنوُلَمْعَ ي اَّمَع ٍلِفاَغِب َكُّبَر اَمَو اوُلِمَع اَِّمِ ٌتاَجَرَد ٍّلُكِلَو
٢٣١
)
Artinya:
“Dan masing-masing orang memperoleh derajat-derajat (seimbang) dengan apa yang dikerjakannya. dan Tuhanmu tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan”. (QS. Al-An’am: 132)
Penjelasan dari ayat di atas adalah dalam menaati Allah atau mendurkai-Nya, ada beberapa tingkat dan martabat. Mereka menerima pembalasan menurut kadar amalan atau perbuatannya. Semua amalan mereka diketahui oleh Allah. Tidak ada yang luput dari ilmu-Nya, dan semua amalan akan diberi pembalasan. Ayat ini memberikan pengertian bahwa kebahagiaan dan kecelakaan (kedudukan, kesedihan) bergantung pada usaha manusia sendiri. Dengan kata lain kerja adalah satu-satunya krikteria di atas landasan
iman dimana manusia bisa dinilai untuk mendapatkan penghargaan dan ganjaran dari apa yangg dilakukan.
3. Laporan Keuangan
a. Pengertian Laporan Keuangan
Laporan keuangan adalah sebuah laporan yang disusun sebagai bentuk pertanggungjawaban manajemen terhadap pihak-pihak yang berkepentingan dengan kinerja perusahaan yang dicapai selama periode tertentu terkait masalah keuangan. Laporan keuangan juga menunjukkan apa yang telah dilakukan manajemen, atau pertanggungjawaban manajemen atau sumber daya yang dipercayakaan kepadanya. Laporan keuangan juga melaporkan prestasi historis dari suatu perusahaan dan memberikan dasar, bersama dengan analisis bisnis dan ekonomi untuk membuat proyeksi dan peramalan untuk masa depan (Pasrizal, 2014: 1).
Sedangkan menurut PSAK 101 tentang penyajian laporan keuangan syariah, laporan keuangan adalah suatu bentuk penyajian terstuktur dari posisi keuangan dan kinerja keuangan suatu entitas syariah. Tujuan laporan keuangan adalah untuk memberikan informasi mengenai posisi keuangan, kinerja keuangan dan arus kas entitas syariah yang bermanfaaat bagi sebagian besar pengguna laporan keuangan dalam membuat keputusan ekonomik. Laporan keuangan juga menunjukkan hasil dari pertanggungjawaban manajemen atas penggunaan sumber daya yang dipercaya kepada mereka (PSAK No 101, 2014: 4.4).
b. Pemakai dan Kebutuhan Informasi Laporan Keuangan
Para pemakai laporan keuangan ini mengunakan laporan keuangan untuk memenuhi kebutuhan informasi yang berbeda, yang meliputi:
21
Para investor berkepentingan terhadap risiko yang melekat dan hasil pengembangan dari investasi yang dilakukan. Investor ini membutuhkan informasi untuk membantu menentukan apakah harus membeli, menahan atau menjual investasi tersebut. selain itu, mereka juga tertarik pada informasi yang memungkinkan melakukan penilaian terhadap kemampuan dalam membayar deviden.
2) Kreditur
Para kreditur tertarik dengan informasi keuangan yang memungkinkan mereka untuk memutuskan apakah pinjaman serta bunganya dapat dibayar pada saat jatuh tempo.
3) Pemasok dan Kreditur usaha lainnya
Pemasok dan kreditur usaha lainnya tertarik dengan informasi yang memungkinkan mereka untuk memutuskan apakah jumlah yang terutang akan dibayar saat jatuh tempo.
4) Pemegang Saham
Para pemegang saham berkepentingan dengan informasi mengenai kemajuan perusahaan, pembagian keuntungan yang akan diperoleh dari penanaman modal.
5) Pelanggan
Para pelanggan berkepentingan dengan informasi mengenai kelangsungan hidup perusahaan, terutama kalau mereka terlibat dalam perjanjian jangka panjang atau bergantung dengan perusahaan.
6) Pemerintah
Pemerintah dan berbagai lembaga yang berada dibawah kekuasaanya berkepentingan dengan alokasi sumber daya dan oleh karenanya berkepentingan dengan aktivitas perusahaan. Selain itu juga membutuhkan informasi untuk mengatur aktivitas perusahaan, menetapkan kebijakan-kebijakan pajak dan sebagai
dasar untuk menyusun statistik pendapatan nasional dan statistik lainnya.
7) Karyawan
Karyawan dan kelompok-kelompok yang mewakilinya tertarik pada informasi mengenai stabilitas dan profitabilitas perusahaan. Mereka juga tertarik pada informasi yang memungkinkan mereka melakukan penilaian atas kemampuan perusahaan dalam memberikan balas jasa, manfaaat pensiun dan kesempatan kerja.
8) Masyarakat
Perusahaan mempengaruhi anggota masyarakat dalam berbagai cara seperti pemberian kontribusi pada perekonomian nasional, termasuk jumlah orang yang diperkerjakan dan perlindungan kepada para penaman modal domestik. Laporan keuangan dapat membantu masyarakat dengan menyediakan informasi kecendrungan (trend) dan perkembangan terahkir kemakmuran perusahaan serta rangkaian aktivitas (Harahap, 2011: 127).
c. Tujuan Laporan Keuangan
Tujuan laporan keuangan menurut PSAK 1 (revisi 2009) adalah memberikan informasi mengenai posisi keuangan, kinerja keuangan dan arus kas entitas yang bermanfaat bagi sebagian besar kalangan penguna laporan keuangan dalam pembuatan keputusan ekonomi. Laporan keuangan juga menunjukkan hasil penanggung jawaban manajemen atas penguna sumber daya yang dipercayakan kepada mereka. Secara umum tujuan laporan keuangan adalah: 1) Memberikan informasi yang menyangkut posisi keuangan,
kinerja serta perubahan posisi keuangan serta entitas yang bermanfaat bagi sejumlah besar pemakai dalam mengambil keputusan ekonomi.
23
2) Menunjukan apa yang telah dilakukan manajemen dan pertanggung jawaban sumber daya yang dipercaya kepadanya. 3) Memenuhi kebutuhan bersama sebagian besar pemakai.
4) Menyediakan pengaruh keuangan dari kejadian dimasa lalu (Martani, 2012: 9).
d. Karakteristik dan Kegunaan Laporan Keuangan
Karekteristik laporan keuangan perusahaan adalah sebagai berikut:
1) Dapat dipahami oleh pemakai informasi mengenai laporan keuangan perusahaan.
2) Relaven, yaitu adanya kesesuaian antara pemasukan dan pengeluaran perusahaan untuk periode tertentu sebagaimana yang tertuang pada laporan.
3) Netralitas, yaitu semua yang diinformasikan harus diarahkan pada kebutuhan umum pemakai bukan tunduk pada pesan sponsor. 4) Dapat dibandingkan, yaitu membandingkan laporan keuangan
perusahaan antar periode untuk mengidentifikasi kecendrungan (trend) posisi dan kinerja keuangan.
Berdasarkan konsep keuangan laporan keuangan sangat diperlukan untuk mengukur hasil usaha dan perkembangan perusahaan dari waktu ke waktu dan untuk mengetahui sudah sejauh mana perusahaan mencapai tujuannya. Bahwa laporan keuangan pada dasarnya merupakan hasil proses akuntansi yang dapat digunakan sebagai alat untuk berkomunikasi antara data keuangan atau aktivitas suatu perusahaan dengan pihak-pihak yang berkepentingan dengan data atau aktivitas perusahaan tersebut. sehingga laporan keuangan memegang peranan yang luas yang mempunyai suatu posisi yang mempengaruhi dalam pengambilan keputusan (Fahmi, 2013: 155).
e. Jenis-Jenis Laporan Keuangan
1) Laporan posisi keuangan
Laporan posisi keuangan menunjukkan salah satu cara bagaimana entitas syariah dapat menyajikan laporan posisi keuangan dengan membedakan pos aset lancar dan tidak lancar dan liabilitas jangka pendek dan jangka panjang. Laporan posisi keuangan minimal mencangkup penyajian jumlah pos-pos berikut:
a) Aset (1) Kas
(2) Penempatan pada Bank Indonesia (3) Penempatan pada bank lain (4) Investasi pada surat berharga (5) Piutang:
(a) Piutang murabahah (b) Piutang istishna’
(c) Piutang pendapatan ijarah (6) Pembiayaan
(a) Pembiayaan mudharabah (b) Pembiayaan musyarakah (7) Tagihan dan liabiitas akseptasi
(8) Persediaan (aset yang dibeli untuk dijual kembali) (9) Aset yang diperoleh untuk ijarah
(10) Aset istishna’ dalam penyelesaian (setelah dikurangi dengan termin istishna’.
(11) Piutang salam
(12) Investasi yang dicatat dengan metode ekuitas (13) Aset tetap (PSAK No.101, 2014: 4.41). b) Liabilitas:
(1) Liabilitas segera
(2) Bagi hasil yang belum dibagikan (3) Simpanan:
25
(a) Giro wadi’ah (b) Tabungan wadi’ah (4) Simpanan bank lain:
(a) Giro wadi’ah (b) Tabungan wadi’ah (5) Utang salam
(6) Utang istihna’
(7) Liabilitas kepada bank lain (8) Pembiayaan yang diterima (9) Utang pajak
(10) Pinjaman yang diterima (11) Pinjaman subordinasi c) Dana syirkah temporer
(1) Syirkah temporer dari bukan bank (a) Tabungan mudharabah (b) Deposito mudharabah (2) Syirkah temporer dari bank
(a) Tabungan mudharabah (b) Deposito mudharabah (3) Musyarakah
d) Ekuitas
(1) Modal disetor
(2) Tambahan modal disetor (3) Penghasilan komprehensif lain (4) Saldo laba
(5) Kepentingan non pengendali (PSAK No.101, 2014: 4.42). 2) Laporan laba rugi komprehensif lain
Laba rugi komprehensif lain adalah perubahan ekuitas selama satu periode yang dihasilkan dari transaksi dan peristiwa lainnya, selain perubahan yang dihasilkan dari transaksi dengan pemilik dalam kapasitasnya sebagai pemilik. Laporan laba rugi
komprehensif lain, sekurang-kurangnya mencangkup penyajian jumlah pos-pos berikut selama suatu periode:
a) Pendapatan pengelolahan dana oleh bank sebagai mudharib: (1) Pendapatan dari jual beli:
(a) Pendapatan margin mudharabah (b) Pendapatan neto salam paralel (c) Pendapatan neto istishna’ parelel (2) Pendapatan dari sewa
(3) Pendapatan dari bagi hasil
(a) Pendapatan bagi hasil mudharabah (b) Pendapatan bagi hasil musyarakah (4) Pendapatan usaha utama
b) Hak pihak ketiga atas bagi hasil dana syirkah temporer c) Pendapatan usaha lain:
(1) Pendapatan imbalan jasa perbankan (2) Pendapatan imbalan investasi terikat d) Beban usaha
e) Pendapatan non usaha f) Beben pajak penghasilan g) Laba neto
h) Penghasilan komprehensif lain i) Total penghasilan komprehensif
j) Total laba rugi komprehensif (PSAK No.101, 2014: 4.44). 3) Laporan perubahan ekuitas
Laporan perubahan ekuitas menunjukkan laba rugi komprehensif selama suatu periode yang secara terpisah jumlah total yang dapat didistribusikan kepada pemilik entitas induk dan kepada kepentingan non pengendali (PSAK No.101, 2014: 4.29). 4) Laporan arus kas
Informasi arus kas memberikan dasar bagi pengguna laporan keuangan untuk menilai kemampuan entitas syariah
27
dalam menghasilkan kas dan setara dengan kas dan kebutuhan entitas-entitas syariah dalam menggunakan arus kas tersebut (PSAK No.101, 2014: 4.30).
Laporan ini mengambarkan perputaran kas dan bank selama periode tertentu, misalnya bulanan atau tahunan. Laporan arus kas terdiri dari: (Sumarsan, 2013: 23-24)
a) Sumber atau penggunaan kas dalam bentuk kegiatan operasional (operational activities). Arus kas dari kegiatan operasional menunjukkan nilai kas bersih yang diperoleh dari hasil penjualan barang ataupun jasa perusahaan setelah dikurangi kas yang harus dikeluarkan untuk memproduksi dan menjual produk ataupun jasa itu. Perubahan didalam arus kas operasional biasanya memberikan tanda bahwa akan ada perubahan dalam laba bersih perusahaan dimasa yang akan datang. Semakin tinggi tingkat peningkatan arus kas bersinya, maka akan semakin bagus.
b) Sumber atas penggunaan kas dari atau untuk kegiatan investasi (investment activities). Sumber atau penggunaan kas dari kegiatan investasi menunjukkan jumlah kas yang dikeluarkan perusahaan untuk membeli barang ekuitas seperti peralatan baru, mobil, komputer, dan mesin baru. Kegiatan investasi juga mencangkup akuisisi bisnis lainnya atau investasi dalam berbagai instrumen investasi, misalnya pembelian saham atau obligasi perusahaan lain jangka waktu yang lebih dari 1 tahun (12 bulan) atau pada saat ini adalah perusahaan memasukkan kas ke dalam reksadana.
c) Sumber atau penngunaan kas dari atau untuk kegiatan pendanaan (financing activities). Arus akas dari kegiatan pendanaan menggambarkan pergerakan kas akibat adanya pendanaan atau pengambalian dana dari atau kepada pemegang saham atau calon pemegang saham atau dar pihak
kreditur. Arus kas masuk pada kegiatan pendanaan biasanya terdiri dari hasil penjualan saham, obligasi, atau pinjaman bank. sedangkan arus kas keluar pada kegiatan pendanaan adalah pembayaran angsuran hutang, pembayaran beban bunga, pembalian kembali saham perusahaan, dan pembayaran deviden.
Laporan arus kas merupakan ringkasan dari penerimaan dan pengeluaran kas perusahaan selama periode tertentu (biasanya satu tahun buku). Laporan ini tercantum dalam pernyataan standar akuntansi keuangan (PSAK) No.2 yang dikeluarkan Ikatan Akuntan Indonesia tahun 1994. Ada 2 macam format laporan arus kas, yaitu yang dikenal sebagai metode langsung (direct method) dan metode tidak langsung (inderect method) (Rahardjo, 2013: 88-89).
5) Laporan rokonsiliasi pendapatan dan bagi hasil
Laporan rekonsiliasi pendapatan dan bagi hasil merupakan rekonsiliasi antara pendapatan yang menggunakan dasar akrual dan pendapatan yang dibagi hasilkan kepada pemilik dana yang menggunakan dasar kas (PSAK No.101, 2014: 4.46).
6) Laporan sumber dan penyaluran dana zakat
Yaitu laporan yang menyajikan sumber dan penyaluran dana zakat meliputi sumber dana, penggunaan dana selama suatu periode, serta saldo dana zakat yang menunjukkan dana zakat yang belum disalurkan pada tanggal tertentu (PSAK No.101, 2014: 4.30).
7) Laporan sumber dan penggunaan dana kebajikan
Yaitu laporan yang menyajikan sumber dan penyaluran dana kebajikan meliputi sumber dan penggunaan dana selama periode tertentu, serta saldo dana kebajikan yang menunjukkaan dana kebajikan yang belum disalurkan pada tanggal tertentu (PSAK No.101, 2014: 4.31).
29
8) Catatan atas laporan keuangan
Catatan atas laporan keuangan berisi informasi tentang dasar penyusunan laporan keuangan dan kebijakan akuntansi spesifik, informasi yang diisyaratkan oleh SAK yang tidak disajikan dibagian manapun dalam laporan keuangan, informasi yang tidak disajikan dibagian manapun dalam laporan keuangan tetapi informasi tersebutt relevan untuk memahami laporan keuangan (PSAK No.101, 2014: 4.32).
4. Analisis Laporan Keuangan
a. Pengertian Analisis Laporan keuangan
Analisis laporan keuangan juga dapat diartikan menguraikan pos-pos laporan keuangan menjadi unit informasi yang lebih kecil dan hubungannya yang bersifat signifikan atau mempunyai makna antara yang satu dengan yang lainnya, baik antara data kuantitatif dengan tujuan untuk mengetahui kondisi keuangan lebih dalam yang sangat penting dalam proses menghasilkan keputusan (Harahap, 2011: 190).
Hasil analisis laporan keuangan juga akan memberikan informasi tentang kelemahan dan kekuatan yang dimiliki perusahaan. Dengan mengetahui kelemahan ini, manajemen akan dapat memperbaiki atau menutupi kelemahan tersebut. Kemudian, kekuatan yang dimiliki perusahaan harus dipertahankan atau bahkan ditingkatkan (Kasmir, 2011: 66-67).
Analisis laporan keuangan perbankan bertujuan diantara lain untuk mengetahui tingkat pencapaian kinerja perusahaan bank, untuk mengetahui perkembangan perbankan dari suatu periode ke periode berikutnya, sebagai bahan pertimbangan bagi manajemen dalam melaksanakan kegiatan operasional dan penyusunan rencana kerja anggaran bank, untuk memonitor pelaksanaan dari suatu kebijakan
perusahaan yang telah diterapkan, sehingga dapat diadakan perbaikan/penyempurnaan di masa yang akan datang.
b. Tujuan Analisis Laporan Keuangan
Tujuan analisis laporan keuangan adalah sebagai berikut: 1) Untuk memberikan informasi yang lebih luas, lebih dalam dari
pada yang terdapat dari laporan keuangan biasa.
2) Untuk menggali informasi yang tidak tampak secara kasat mata dari suatu laporan keuangan atau yang berada dibalik laporan keuangan.
3) Untuk mengetahui kesalahan yang terkandung dalam laporan keuangan.
4) Untuk membongkar hal-hal yang bersifat tidak konsisten dalam hubungannya dengan suatu laporan keuangan baik dikaitkan dengan komponen internal laporan keuangan maupun kaitannya dengan informasi yang diperoleh dari luar perusahaan.
5) Untuk mengetahui sifat-sifat hubungan yang akhirnya dapat melahirkan model-model dan teori-teori yang terdapat dilapangan seperti untuk prediksi dan peningkatan.
6) Untuk memberikan informasi yang diinginkan oleh para pengambil keputusan. Dengan perkataan lain apa yang dimaksudkan dari suatu laporan keuangan merupakan tujuan analisis laporan keuangan juga antara lain dapat dinilai prestasi perusahaan. Perusahaan dapat menilai kondisi keuangan masa lalu dan masa sekarang. Menilai perkembangan dari waktu ke waktu malihat komposisi stuktur keuangan.
7) Untuk menentukan peringkat perusahaan menurut krikteria tertentu yang sudah dikenal dalam dunia bisnis.
8) Untuk memprediksi dan mambandingkan situasi perusahaan dengan perusahaan lain dengan periode sebelumnya atau dengan standar industri normal atau standar ideal.
31
9) Untuk memahami situasi dan kondisi keuangan yang dialami perusahaan. Baik posisi keuangan, hasil usaha, stuktur keuangan dan sebagainya.
10) Potensi apa yang mungkin dialami perusahaan di masa yang akan datang (Harahab, 2008: 195-197).
c. Keterbatasan Analisis Laporan Keuangan
1) Laporan keuangan dapat bersifat historis, merupakan laporan atas kejadian yang telah terjadi. Oleh karena itu, laporan keuangan tidak dapat dianggap sebagai laporan mengenai keadaan saat ini.
2) Laporan keuangan mengambarkan nilai harga pokok atau nilai pertukaran pada saat terjadinya transaksi, bukan harga saat ini. 3) Laporan keuangan bersifat umum, dan bukan untuk memenuhi
kebutuhan pihak tertentu. Informasi yang disajikan untuk dapat digunakan semua pihak.
4) Proses penyusunan laporan keuangan tidak luput dari pengunaan taksiran dan berbagai pertimbangan dalam memilih alternatif dari berbagai pilihan yang ada yang sama-sama dibenarkan, tetapi menimbulkan perbedaan angka laba ataupun aset.
5) Laporan keuangan bersifat konservatif dalam menghadapi ketidakpastian. Apabila terdapat kesimpulan yang tidak pasti mengenai penilaian suatu pos, dapat dipilih alternatif yang menghasilkan laba bersih atau nilai aktiva yang paling kecil. 6) Laporan keuangan disusun dengan mengunakan istilah-istilah
teknis, dan pemakai laporan diasumsikan memahami bahasa teknis akuntansi serta sifat dari informasi yang dilaporkan (Mulyawan, 2015: 97).
d. Prosedur Analisis Laporan Keuangan
Adapun langkah atau prosedur yang dilakukan dalam analisis keuangan adalah sebagai berikut (Kasmir, 2011: 69):
1) Mengumpulkan data keuangan dan data pendukung yang diperlukan selangkap mungkin, baik untuk satu periode maupun beberapa periode.
2) Melakukan pengukuran atau perhitungan dengan rumus tertentu, sesuai dengan standar yang biasa digunakan secara cermat dan teliti, sehingga hasil yang diperoleh benar-benar tepat.
3) Malakukan perhitungan dengan memasukkan angka-angka yang ada dalam laporan keuangan secara cermat.
4) Memberikan interpretasi terhadap hasil perhitungan dan pengukuran yang telah dibuat.
5) Membuat laporan tentang posisi keuangan perusahaan.
6) Memberikan rekomendasi yang dibutuhkan sehubungan dengan hasil analisis tersebut.
5. Analisis Rasio Keuangan
a. Pengertian Analisis Rasio Keuangan
Analisis rasio keuangan merupakan analisis dengan jalan membandingkan satu pos dengan pos laporan keuangan lainnya baik secara individu maupun bersama-sama guna mengetahui hubungan diantara pos tertentu, baik dalam neraca maupun dalam laporan laa rugi (Jumingan, 2011: 242).
Secara sederhana rasio(ratio) disebut sebagai perbandingan jumlah, dangan satu jumlah dengan jumlah yang lainnya. Dari jumlah itulah dilihat perbandingan dengan harapan nantinya akan ditemukan jawaban yang selanjutnya itu dijadikan sebagai bahan kajian untuk dianalisis dan diputuskan. Analisis rasio adalah alat analisis yang digunakan dalam menjelaskan hubungan dari data keuangan, yaitu dengan membandingkan antara data yang satu dengan data lainnya. Analisis rasio dapat dijadikan sebagai salah
33
satu alat untuk melihat dan menganalisis tentang kesehatan dan kinerja keuangan perusahaan (Fahmi, 2013: 170).
b. Manfaat Analisis Rasio Keuangan
Adapun manfaat yang bisa diambil dengan mengunakan rasio keuangan, yaitu:
1) Analisis rasio keuangan sangat bermanfaat sebagai alat menilai kinerja dan prestasi perusahaan.
2) Analisis rasio keuangan sangat bermanfaat bagi pihak manajemen sebagai rujukan untuk membuat perencanaan.
3) Analisis rasio keuangan dapat dijadikan sebagai alat untuk mengevaluasi kondisi suatu perusahaan dari perspektif keuangan. 4) Analisis rasio keuangan juga bermanfaat bagi para kreditor dapat digunakan untuk memperkirakan potensi risiko yang akan dihadapi dikaitkan dengan adanya jaminan kelangsungan pembayaran bunga dan pengembalian pokok pinjaman.
5) Analisis rasio keuangan dapat dijadikan sebagai penilaian bagi pihak stakeholder organisasi (Fahmi, 2013: 173).
c. Keunggulan Analisis Rasio Keuangan
Analisis rasio ini memiliki keunggulan dibanding teknik analisis lainnya, keunggulan tersebut adalah:
1) Rasio merupakan angka-angka atau ikhtisar statistik yang lebih muda dibaca dan ditafsirkan.
2) Merupakan pengganti yang lebih sederhana dari informasi yang disajikan laporan keuangan yang sangat rinci dan rumit.
3) Mengetahui posisi perusahaan ditengah industri lain.
4) Sangat bermanfaat untuk bahan dalam mengisi model-model pengambilan keputusan dan model prediksi.
5) Menstandarisasi size perusahaan.
6) Lebih mudah memperbandingkan perusahaan dengan perusahaann lain atau melihat perkembangan perusahaan secara periodik atau time series.
7) Lebih mudah melihat tren perusahaan serta melakukan prediksi di masa yang akan datang (Fahmi, 2013: 173).
d. Jenis-jenis Rasio Keuagan
Jenis-jenis rasio keuangan yang dapat digunakan untuk menilai kinerja manajemen beragam. Pengunaan masing-masing rasio tergantung kebutuhan perusahaan, artinya terkadang tidak semua rasio digunakan. Hanya saja jika hendak melihat kondisi dan posisi perusahaan secara lengkap, maka sebaiknya semua rasio digunakan.
Dalam praktinya, terdapat beberapa macam jenis rasio keuangan yang dapat digunakan untuk mengukur kinerja suatu perusahaan. Masing-masing jenis rasio yang digunakan akan memberikan arti tertentu tentang posisi yang diinginkan. Berikut jenis-jenis rasio keuangan, yaitu;
1) Rasio Likuiditas
2) Rasio Solvabilitas (leverage) 3) Rasio Aktivitas
4) Rasio Profitabilitas 5) Rasio Pertumbuhan
6) Rasio Penilaian (Kasmir, 2010: 110).
Rasio Likuiditas (liquidity ratios), yang menunjukkan kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban jangka pendek. Rasio Solvabilitas (leverage atau solvency ratios), yang menunjukkan kemampuan perusahaan untuk memenuhi seluruh kewajibannya baik jangka pendek maupun jangka panjang. Rasio Aktivitas (activity ratios), yang menunjukkan tingkat efektivitas pengunaan aktiva atau kekayaan perusahaan. Rasio Profitabilitas atau Rentabilitas (profitability ratios), yang menunjukkan tingkat imbalan atau perolehan (keuntungan) dibanding penjualan dan aktiva (Rahardjo, 2013: 115). Rasio Pertumbuhan (growth ratio), merupakan rasio yang menggambarkan kemampuan perusahaan
35
mempertahankan posisi ekonominya di tengah pertumbuhan perekonomian dan sektor usahanya. Rasio Penilaian (voluation ratio), yaitu rasio yang memberikan ukuran kemampuan manajemen menciptakan nilai pasar usahanya di atas biaya investasi (Kasmir, 2010: 116).
6. Profitabilitas
Rasio ini mengukur efektivitas manajemen secara keseluruhan yang ditujukan oleh besar kecilnya tingkat keuntungan yang diperoleh dalam hubungannya dengan penjualan maupun investasi. Semakin besar rasio profitabilitas maka akan semakin baik menggambarkan kemampuan tingginya perolehan keuntungan perusahaan (Fahmi, 2013: 184).
Pola ini mengidentifikasikan empat sasaran: 1) Memaksimalkan laba.
2) Meminimalkan risiko.
3) Selalu mengandalikan (maintain control), maksudnya aliran dana yang masuk maupun keluar harus selalu dimonitoring untuk memastikan bahwa dimanfaatkan dan dijaga dengan baik.
4) Keluwesan atau fleksibelitas, perusahaan harus selalu siap menghadapi masa depan yang penuh ketidakpastian, keuangan diusahakan seluwes mungkin dalam menyediakan dana atau data yang dibutuhkan untuk mendukung kegiatan produksi dan pemasaran perusahaan (Rahardjo, 2013: 10-11).
Rasio ini digunakan untuk melihat kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba, baik untuk setiap rupiah penjualan yang telah dilakukan maupun terhadap penggunaan modal, baik modal secara keseluruhan (aktiva) maupun modal sendiri. Rasio ini juga mengukur tingkat efisiensi dari pengunaan sumber daya keuangan dalam menghasilkan laba.
Rasio Profitabilitas adalah rasio kemampuan perusahaan untuk memperoleh laba dalam setiap penjualan. Atau bahagian laba yang diperoleh dalam setiap penjualan. Berikut jenis-jenis rasio profitabilitas yang akan digunakan, yaitu:
1) Net Profit Margin (NPM)
Margin laba bersih (Net Profit Margin) adalah ukuran persentase dari setiap hasil penjualan sesudah dikurangi dengan semua biaya dan pengeluaran, termasuk bunga dan pajak. Rasio ini berguna untuk mengukur tingkat efektivitas perusahaan dalam menghasilkan keuntungan dengan melihat besarnya laba bersih setelah pajak dan hubungannya dengan penjualan.
Rumus:
NPM = Laba Bersihx 100%
Penjualan
Artinya, bahwa kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba bersih dari penjualan yang dilakukan (Rudiato, 2013: 192).Profit margin yang tinggi menandakan kemampuan perusahaaan menghasilkan laba yang tinggi pada tingkat penjualan tertentu. Profit marginyang rendah menandakan penjualan yang terlalu rendah untuk tingkat biaya tertentu, atau biaya yang terlalu tinggi untuk tingkat penjualan tertentu, atau kombinasi dari kedua hal tersebut.secara umum rasio yang rendah bsa menunjukkan ketidakefisienan manajemen. Rasio ini cukup bervariasi dari industri ke industri (Hanafi, Halim, 2003: 84).
2) Rate Of Return Total Asset (ROA)
Rasio ini mengambarkan kemampuan perusahaan untuk menghasilkan keuntungan dari setiap satu rupiah aset yang digunakan. Dengan mengetahui rasio ini, kita dapat menilai apakah perusahaan efisien dalam memanfaatkan asetnya dalam kegiatan
37
operasi perusahaan. Rasio ini juga memberikan ukuran yang lebih baik atas profitabilitas perusahaan karena menunjukkan efektivitas manejemen dalam menggunakan aset untuk memperoleh pendapatan (Rudiato,2013: 192).
Rumus:
ROA = Laba Operasix 100%
Aktiva Operasional
Artinya, bahwa kemampuan perusahaan dalam mengoperasikan asset untuk mendapatkan laba bersih.
3) Rate Of Return On Invesment (ROI) Net Earning Power Ratio Rasio ini mengambarkan kemampuan perusahaan menghasilkan laba bersih terhadap investasi yang dilakukan. Dengan kata lain, untuk melihat tingkat keuntungan bagi pemegang saham dan investasi.
Rumus:
ROI = Laba Bersihx 100%
Total Aktiva
Artinya, seberapa besar kemampuan investasi untuk memberikan laba bagi pemegang saham dari total aktiva. bagi investor rasio ini sangat penting untuk melihat seberapa besar tingkat keuntungan dari investasi yang bersedia mereka lakukan, yang kemudian akan diperbandingkan dengan risiko yang mungkin akan mereka hadapi.
4) Rate Of Return On Networth Rate Of Return On Equit / ROE Rasio ini mengambarkan jumah laba bersih yang diperoleh untuk setiap pengunaan modal sendiri. Dikatakan juga untuk melihat tingkat keuntungan bagi modal sendiri.
ROE = Laba Bersihx 100%
Modal Sendiri
Artinya, bahwa tingkat keuntungan modal sendiri dari jumlah modal sendiri yang digunakan (Nofrivul, 2008: 25-26). Semakin tinggi rasio ini, maka semakin baik. Artinya, posisi pemilik perusahaan semakin kuat. Sebaliknya apabila rasio ini rendah, maka semakin buruk. Artinya, posisi pemilik perusahaan lemah (Kasmir, 2011: 204). Apabila rasio perusahaan berada di atas rata-rata industri, hal ini berarti perusahaan dalam kondisi baik, sebaliknya jika rasio perusahaan berada di bawah rata-rata industri berarti kondisi perusahaaan dalam kondisi yang tidak baik (Kasmir, 2011: 209).
5) Biaya Operasional/Pendapatan Operasional (BO/PO)
Rasio ini digunakan untuk mengukur perbandingan biaya operasional atau biaya intermediasi terhadap pendapatan operasional. Rasio biaya operasional digunakan untuk mengukur tingkat efisien dan kemampuan bank dalam melakukan kegiatan opersinya. Pendapatan operasional terdiri atas semua pendapatan yang merupakan hasil langsung dari kegiatan usaha bank yang benar-benar telah diterima, sedangkan biaya opersional adalah semua biaya yang berhubungan langsung dengan kegiatan usaha bank. Adapun rumus perhitungan BOPO adalah sebagai berikut:
Rumus:
BOPO = Biaya Operasional x 100%
Pendapatan Operasional
Semakin kecil angka rasio BOPO, maka semakin baik kondisi bank tersebut (Asrina, 2015: 5-6. Vol.2 No.1).