BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Metodologi Penelitian
Metodologi yang digunakan dalam penelitian Skripsi ini antara lain adalah:
1. Studi literatur, yaitu dengan cara menelaah, menggali, serta mengkaji
teorema-teorema yang mendukung dalam pemecahan masalah yang diteliti.
Teorema-teorema tersebut didapat baik dari jurnal ilmiah, hasil penelitian
sebelumnya, maupun dari buku-buku referensi yang mendukung penelitian ini
antara lain buku Gelombang Berjalan dan Proteksi Surja karya Hutauruk.
Selain itu, studi literatur dilakukan untuk mendapatkan data-data yang
diinginkan.
2. Observasi, yaitu mengumpulkan data-data yang diperlukan untuk penelitian
yang didapatkan dari lapangan. Data-data tersebut didapat dari hasil survey
yang dilakukan oleh PT. PLN (Persero) APP Bandung.
3. Diskusi, yaitu melakukan konsultasi dan bimbingan dengan dosen,
pembimbing di PT. PLN (Persero) APP Bandung, dan pihak-pihak lain yang
dapat membantu terlaksananya penelitian ini.
3.2Tahapan Penelitian
Langkah - langkah yang sistematis dalam penelitian harus diperhatikan. Hal
tersebut berguna untuk memberikan arahan yang untuk mempermudah
pemahaman tujuan yang ingin dicapai dalam proses penelitian. Langkah-langkah
30
32
Diagram alir tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Menghitung tinggi rata-rata kawat tanah dan kawat fasa di atas tanah
2. Menghitung tegangan lompatan api dan isolator pada 6µdetik sebagai acuan perhitungan radius amplop korona
3. Menghitung radius amplop korona untuk kegagalan perisaian (Shielding Failure)
4. Menghitung radius ekivalen kawat tunggal dari kawat berkas tanpa korona sebagai acuan perhitungan radius korona dari konduktor berkas
5. Menghitung nilai radius korona dari konduktor berkas
6. Menghitung impedansi surja kawat fasa
7. Menghitung arus kilat minimum yang mengakibatnya lompatan api karena kegagalan perisaian
8. Menghitung jarak sambaran minimum dari arus kilat. Jarak sambaran
minimum merupakan nilai jarak terkecil yang menjadi salah satu faktor untuk menhitung lebar daerah tidak terlindung
9. Menghitung daerah tidak terlindung (Xs) dari sambaran petir. Lebar daerah tidak terlindung ideal adalah Xs=0, yang artinya tidak menyisakan celah pada kawat yang menjadi kemungkinan tersambarnya petir
10.Menghitung sambaran maksimum. Sambaran maksimum adalah nilai
sambaran yang berada diatas nilai Critical Flashover Rate
11.Menghitung probabilitas arus sama atau melebihi Imin dan Imaks. Apabila arus melebihi batas Imaks , maka perlu adanya penanganan lebih jauh karena arus yang dapat ditahan oleh isolator wajar nya mempunyai nilai dibawah dari nilai Basic Insulation
12.Menghitung gangguan kilat karena kegagalan perisaian melaui IKL
34
Diagram alir dari flow chart Backflashover tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut :
1. Menghitung jumlah kemungkinan lompatan api kritis (Critical Flashover Rate) sebagai batas acuan tegangan yang masih dapat ditahan sehingga tidak terjadi backflashover
2. Menghitung impedansi surja kawat tanah dan faktor gandengan
3. Menghitung impedansi surja menara
4. Menghitung koefisien terusan a pada puncak menara dan pantulan b yang datang dari dasar menara
5. Menghitung tegangan puncak menara, hal ini diperlukan apabila ada petir yang menyambar pada ujung menara
6. Menghitung koefisien pantualan d pada dasar menara
7. Menghitung tegangan pada isolator
8. Menghitung daerah yang dilindungi oleh kawat tanah
9. Menghitung jumlah sambaran kilat (NL) yang dinyatakan dalam jumlah
sambaran/100km/tahun
3.3 Data Penelitian
Gambar 3.4 Konfigurasi SUTT 150 kV
A. Menara
Jarak antara kawat tanah 1 & 2 (a12) 5,561 m Jarak vertikal anatara kawat tanah dengan kawat fasa (htp) 2,9 m
Tinggi menara (rata-rata) 35,3 m
B. Kawat Tanah
Material Galvanized Steel Wire
Jumlah 2 buah
Diameter 9,6 mm
Ukuran 55 mm2
Andongan (Sag) 4,567 m
C. Konduktor
Material ACSR (Allumunium Conductor Steel Reinforced
Berkas 2 buah
Ukuran 428 mm2
Diameter 28,62 mm2
Jarak antar subkonduktor
0,4 m = 0,004 mm Jarak antar fasa 4,7 m
36
D. Isolator
Material Keramik
Berkas 12 buah
Panjang 1,6425 m