• Tidak ada hasil yang ditemukan

[KLAS 3] PTK LIA ANJARSARI MTK KLS 3.rar

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "[KLAS 3] PTK LIA ANJARSARI MTK KLS 3.rar"

Copied!
21
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Matematika merupakan salah satu ilmu dasar yang harus dikuasai oleh siswa karena tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia sehari-hari. Sejarah menunjukkan bahwa matematika dibutuhkan oleh manusia. Sungguh tidak bisa dibayangkan, bagaimana keadaan dunia ini sekarang seandainya tidak ada matematika. Manusia tidak akan pernah bisa mendengarkan radio, melihat televisi, menaiki kereta api, mobil atau pesawat terbang bahkan tidak bisa berkomunikasi melalui telepon atau handphone. Dunia akan semakin kacau seandainya manusia tidak bisa berhitung secara sederhana, tidak bisa memahami ruang di mana dia tinggal, tidak bisa memahami harga suatu barang di pasar, dan sebagainya. Apa yang terjadi seandainya orang di Salatiga mengatakan 7 + 5 = 12, sedangkan orang di Jakarta berpendapat 7 + 5 = 75, atau kejadian-kejadian yang lain.

Ilustrasi di atas menunjukkan bahwa mata pelajaran matematika perlu diberikan kepada anak sejak usia sekolah dasar. Tujuannya adalah untuk membekali siswa dalam meningkatkan kemampuan berpikir logis, analitis, sistematis, kritis, kreatif serta kemampuan bekerjasama yang baik, yang nantinya dapat digunakan dalam mengelola dan memanfaatkan informasi untuk bertahan hidup pada keadaan yang selalu berubah, tidak pasti dan kompetitif pada era globalisasi sekarang ini.

(2)

Salah satu karakteristik matematika adalah mempunyai objek yang bersifat abstrak. Sifat abstrak inilah yang membuat banyak siswa mengalami kesulitan dalam belajar matematika. Oleh karena itu, hendaknya guru mampu menyajikan suatu pembelajaran matematika sekonkrit mungkin agar siswa lebih memahami materi yang disajikan.

Dalam pembelajaran matematika, khususnya di kelas III SDN 1 Genengadal, tentang nilai tempat masih ada gejala-gejala dalam kegiatan belajar mengajar yang disebut dengan gejala problematis yaitu kurangnya minat siswa terhadap pembelajaran matematika, khususnya dalam penyampaian materi ajar. Oleh karena itu, guru perlu melakulan inovasi pembelajaran, khususnya dalam penyampaian materi ajar yaitu dengan menggunakan metode pembelajaran yang menarik perhatian siswa.

B. Identifikasi Masalah

Dalam pembelajaran matematika kelas III semester I pada Kompetensi Dasar (KD) melakukan operasi hitung bilangan sampai tiga angka, ditemukan fakta bahwa penguasaan materi pelajaran oleh siswa masih sangat rendah. Dari 36 siswa, hanya 29% siswa yang memenuhi KKM. Fakta ini medorong guru untuk melaksanakan PTK, guna memperbaiki pembelajaran untuk meningkatkan penguasaan materi pelajaran oleh siswa. Dalam hal ini guru berperan sebagai peneliti. Selama melaksanakan penelitian, peneliti dibantu oleh teman sejawat dan dibimbing oleh supervisor. Langkah pertama peneliti melakukan refleksi terhadap kondisi pembelajaran saat itu. Dengan berdiskusi dengan teman sejawat dan bantuan dari supervisor, teridentifikasi masalah pembelajaran sebagai berikut :

a. Penguasaan siswa terhadap materi pelajaran kurang. b. Penjelasan guru kurang bisa diterima siswa.

c. Siswa tidak terlibat langsung dalam kegiatan pembelajaran.

(3)

Beberapa kondisi tersebut mencerminkan bahwa pembelajaran kurang berhasil. Penguasaan materi pembelajaran oleh siswa masih rendah.

C. Analisis masalah

Selanjutnya peneliti menganalisis pembelajaran dari awal. Ada beberapa faktor yang menjadi penyebab rendahnya penguasaan materi oleh siswa, yaitu :

a. Penggunaan metode pembelajaran yang tidak melibatkan siswa langsung dalam kegiatan pembelajaran

b. Penggunaan media pembelajaran yang kurang tepat.

Dari kedua faktor penyebab rendahnya penguasaan materi oleh siswa tersebut dicari alternatif pemecahannya.

Penggunaan metode dalam proses pembelajaran akan sangat membantu keberhasilan pembelajaran, apabila metode tersebut mampu membuat siswa terlihat secara aktif baik secara fisik maupun secara psikis. Keterlibatan siswa dalam pembelajaran berarti siswa mengalami langsung dalam membangun pengetahuan pada dirinya. Terjadinya proses belajar pada diri siswa diperlukan sesuatu untuk mencapai tujuan tersebut. Sesuatu dimaksud adalah media. Penggunaan media konkret dalam proses pembelajaran sangat diperlukan, pada pelaksanaan perbaikan pembelajaran sebagai upaya untuk meningkatkan hasil belajar siswa.

D. Rumusan Masalah

Rumusan masalah yang akan dikaji dalam penelitian ini adalah:

”Bagaimana cara meningkatkan minat belajar siswa melalui metode diskusi,demontrasi menggunakan media relia dalam pembelajaran matematika agar dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas III semester I di SD Negeri 1 Genengadal, Kecamatan Toroh, Kabupaten Grobogan?”

(4)

Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar siswa dalam pembelajaran matematika kelas III SD N 1 Genengadal, tentang operasi hitung bilangan sampai tiga angka dengan menggunakan media relia dengan metode diskusi dan demonstrasi sehingga siswa dapat memperoleh pengetahuan, ketrampilan dan perubahan sikap yang positif.

F. Manfaat Penelitian

Manfaat dari penelitian ini adalah: 1. Bagi siswa

Penggunaan media nyata dalam pembelajaran matematika tentang operasi hitung bilangan sampai tiga angka, dapat meningkatkan hasil belajar siswa dan siswa akan lebih aktif lagi saat pembelajaran.

2. Bagi guru

Penggunaan media nyata dapat memudahkan guru dalam menyampaikan materi ajar dan menambah wawasan tentang pembelajaran yang inovatif. Dapat meningkatkan kualitas pembelajaran yang lebih baik.

3. Bagi sekolah

Penggunaan media nyata sebagai referensi dalam melaksanakan pembelajaran yang inovatif serta dapat meningkatkan mutu pendidikan sekolah dengan meningkatnya hasil belajar siswa.

BAB II KAJIAN PUSTAKA

(5)

Menurut Slameto, minat adalah suatu rasa lebih suka dan rasa keterikatan pada suatu hal atau aktivitas, tanpa ada yang menyuruh sendiri dengan sesuatu di luar diri. Semakin kuat atau dekat hubungan tersebut, semakin besar minat yang ada. Minat merupakan sumber motivasi yang mendorong orang untuk melakukan apa yang mereka inginkan jika mereka bebas memilih apa yang mereka kehendaki. Jika mereka melihat bahwa sesuatu itu menguntungkan pada dirinya maka akan timbullah minat untuk melakukannya.Minat merupakan pernyataan ekspresi seseorang yang menunjukkan kecenderungan kepada suatu objek sehingga aktivitas-aktivitas yang lebih besar porsinya ditunjukkan kepada objek tersebut daripada objek lainnya. Karena itu, minat seseorang kepada sesuatu objek akan menyebabkan ia memberi perhatian yang lebih besar pula kepada objek tersebut. Menurut Suharsimi Arikunto, minat merupakan kecenderungan seseorang untuk memilih atau menolak suatu kegiatan. Sebetulnya apa yang dicari atau ditolak bukan hanya kegiatan saja, melainkan juga benda, orang ataupun situasi. Suatu objek yang ada kaitannya dengan diri seseorang baik berupa kegiatan, benda, orang maupun situasi akan menyebabkan seseorang memusatkan perhatian untuk melanjutkan melakukan aktivitas terhadap objek. Minat adalah suatu pemusatan perhatian yang tidak sengaja terlahir dengan penuh kemauan serta tergantung dari bakat dan lingkungan (Sujanto A., 1985). Dalam belajar diperlukan suatu pemusatan perhatian agar apa yang dipelajari dapat dipahami sehingga siswa dapat melakukan sesuatu yang sebelumnya tidak dapat dilakukan. Hal ini berarti telah terjadi perubahan tingkah laku yang meliputi keseluruhan pribadi siswa, baik dari segi kognitif, psikomotorik maupun afektif.

B. Pengertian Hasil Belajar

Hasil belajar dapat didefinisikan sebagai sesuatu yang telah dicapai seseorang setelah ia mengalami proses belajar, dengan terlebih dahulu

(6)

Penilaian hasil belajar perlu dilakukan oleh guru untuk mengetahui sejauh mana tujuan untuk instruksional yang telah diajarkan dalam kegiatan

pembelajaran yang telah dikuasai siswa. Hal ini sejalan dengan Syaiful Bahri Djamarah (2002:142) yang menyatakan bahwa : “Ada beberapa faktor yang mempengaruhi proses dan hasil belajar yaitu :

(1) faktor lingkungan : lingkungan alami dan lingkungan budaya; (2) faktor instrumental : kurikulum, program, sarana, fasilitas, dan guru; (3) kondisi fisiologis : kondisi fisiologis, kondisi panca indra;

(4) kondisi psikologis : minat, kecerdasan, bakat, motivasi, kemampuan kognitif.

Keberhasilan dalam belajar perlu dinilai, hal ini sesuai dengan

pendapat Nana Sudjana dan Hetwijis Vera Visana (2001 : 7) yang menyatakan bahwa : “penilaian hasil belajar adalah proses pemberian nilai terhadap hasil-hasil belajar yang dicapai siswa dengan kriteria tertentu”. Suharsini Arikunto (1997:282) ia menyatakan bahwa : “Bagi seorang siswa nilai merupakan cermin dari keberhasilan belajar. Namun bukan hanya siswa sendiri yang memerlukan cermin keberhasilan belajar, guru dan orang lainpun

memerlukannya”. Berdasarkan pendapat para ahli tersebut ditinjau dari sudut peristiwa yang terjadi pada sitem psichophisis seseorang yang melakukan belajar berarti suatu proses bekerjanya sistem urat saraf dimana berbagai perubahan terjadi didalamnya. Ditinjau dari sikap individu dalam menghadapi objek yang dipelajari, belajar dalah suatu kegiatan menyusun dan mengatur lingkungn dengan sebaik-baiknya, sehingga lingkungan tersebut terserap oleh individu yang bersangkutan. Jika ditinjau dari segi kegiatannya, belajar adalah suatu kegiatan untuk memmperoleh kebiasaan-kebiasaan, pegetahuan dan pengembangan tertentu dari sikap-sikap bagi orang yang melakukannya.

C. Belajar

(7)

Dalam hal ini, belajar berarti usaha mengubah tingkah laku. Belajar akan membawa perubahan pada individu yang belajar. Perubahan itu tidak hanya berkaitan dengan penambahan ilmu pengetahuan, tetapi juga berbentuk kecakapan, keterampilan, sikap, harga diri, kepribadian serta penyesuaian diri.

Dari ketiga definisi belajar, penulis menyimpulkan bahwa belajar adalah proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh perubahan perilaku yang relatif permanen dalam aspek kognitif, afektif, maupun psikomotorik, yang diperoleh melalui interaksi individu dengan lingkungannya, dilakukan secara sadar serta mempunyai tujuan terarah pada kemajuan yang progresif.

D. Media Pembelajaran

Kata media dalam “media pembelajaran” secara harfiah berarti perantara atau pengantar, sedangkan kata pembelajaran diartikan sebagai suatu kondisi yang diciptakan untuk membuat seseorang melakukan suatu kegiatan belajar. Dengan demikian, media pembelajaran memberikan penekanan pada posisi media sebagai wahana penyalur pesan atau informasi belajar guna mengondisikan seseorang untuk belajar. Dengan kata lain, pada saat kegiatan belajar berlangsung, bahan belajar (learning matterial) yang diterima siswa diperoleh melalui media. Hal ini sesuai dengan pendapat Lesle J. Briggs (1979) yang menyatakan bahwa media pembelajaran sebagai ”the physical means of conveying instructional content …book, films, videotapes, etc.” lebih jauh lagi Briggs menyatakan media adalah alat untuk memberi perangsang bagi siswa supaya terjdi proses belajar. Sedangkan mengenai efektifitas, Brown (1970) menggaris bawahi bahwa media yang digunakan guru atau siswa dengan baik dapat memepengaruhi efektifitas proses belajar dan mengajar.

Berdasarkan pengertian media di atas, Kemp dan Dayton (1985) mengemukakan manfaat penggunaan media dalam pembelajaran yakni:

1. Penyampaian materi dapat diseragamkan;

(8)

3. Proses pembelajaran menjadi lebih interaktif; 4. Efisiensi waktu dan tenaga;

5. Meningkatkan kualitas hasil belajar siswa;

6. Media memungkinkan proses belajar dapat dilakukan dimana saja dan kapan saja;

7. Media dapat menumbuhkan sikap positif siswa terhadap materi dan proses belajar; dan

8. Mengubah peran guru kearah yang lebih positif dan produktif.

Menurut Briggs (1979), media pembelajaran adalah alat untuk memberi rangsangan bagi siswa agar terjadi proses belajar. Lebih rinci Anderson (1997) mengelompokkan media sebagai berikut:

a. Audio : pita

audio, radio

b. Cetak : buku

teks

c. Audio cetak : buku

latihan dengan kaset

d. Proyek visual diam : film

bingkai

e. Proyek visual diam dengan audio : film rangkai suara

f. Visual gerak : film

bisu

g. Visual gerak dengan audio : film

suara

h. Benda (realia) : benda

nyata

i. Komputer : media

berbasis komputer

(9)

C. Kerangka Berpikir

Pemilihan media pembelajaran harus didasarkan pada tingkat perkembangan kognitif siswa agar pembelajaran lebih bermakna. Menurut Piaget (1988) ada empat tahap perkembangan kognitif siswa yaitu tahap

sensorimotor (0-2 tahun), pra-operasional (2-5 tahun), operasional konkret

(7-12 tahun) dan tahap operasional formal (12 tahun – dewasa).

Berdasarkan tahapan di atas, tingkat perkembangan kognitif siswa kelas I SD termasuk dalam tahap operasional konkret. Ciri-ciri tahap operasional konkret adalah:

1. Anak sudah bisa melakukan berbagai macam tugas mengkonservasi angka melalui tiga macam proses operasi yaitu:

a. negasi sebagai kemampuan anak dalam mengerti proses yang terjadi di antara kegiatan dan memahami hubungan antara keduanya

b. resiprokasi sebagai kemampuan untuk melihat hubungan timbal balik

c. identitas dalam mengenali benda-benda yang ada.

2. Anak sudah mampu berpikir konkret dalam memahami sesuatu sebagaimana kenyataannya

3. Anak mampu mengkonservasi angka serta memahami konsep melalui pengalaman sendiri dan lebih objektif

Dengan mengetahui ciri-ciri tahap perkembangan kognitif tersebut, diharapkan guru mampu mengembangkan kemampuan kognitif anak dengan tepat sesuai usia perkembangan kognitifnya. Salah satu cara yang dapat dilakukan guru untuk mengkonkretkan suatu konsep yakni dengan menggunakan media pembelajaran yang sesuai.

(10)

usia 7-12 tahun mereka sangat menyukai permainan. Peningkatan minat ini akan berdampak positif pula pada peningkatkan hasil belajar siswa.

BAB III

PELAKSANAAN PENELITIAN PERBAIKAN PEMBELAJARAN

A. Subjek, Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan di SDN 1 Genengadal kelas III pada semester I tahun pelajaran 2012/2013 dengan jumlah siswa 36 (19 siswa perempuan dan 17 siswa laki-laki), dalam pembelajaran matematika tentang perkalian.

Jadwal pelaksanaan perbaikan pembelajaran

No Mata Pelajaran Siklus Tanggal Waktu Ket

1 Tematik(tematik) 1 13 Oktober 2012

10.00 – 10.40

2 Tematik(tematik) 2 20 Oktober 2012

10.00 – 10.40

3 Tematik(tematik) 3 27 Oktober 2012

10.00 – 10.40

A. Variabel Penelitian

Variabel dalam Penelitian Tindakan Kelas ini adalah:

1. Variabel bebas : Media realia dalam pembelajaran matematika 2. Variabel terikat : Minat dan hasil belajar siswa dalam pembelajaran

Matematika.

(11)

1. Siklus I

Pada siklus ini kegiatan yang dilakukan meliputi: a. Penyusunan RPP (terlampir)

b. Pelaksanaan pembelajaran yang sesuai dengan RPP

c. Melaksanakan evaluasi hasil belajar sesuai kegiatan pembelajaran

d. Menganalisa nilai untuk mengetahui peningkatan hasil belajar siswa.

e. Indikator keberhasilan

Indikator keberhasilan pada siklus ini yaitu dikatakan berhasil jika: - Nilai rata-rata tes formatif ≥ 50

- Minat siswa mencapai kategori berminat (≥ 21) bila menggunakan skala sebagai berikut:

1 - 20 : tidak berminat 21 - 40 : kurang berminat 41 - 60 : berminat

61 - 80 : sangat berminat

Hasil refleksi pada siklus I dijadikan masukan pada siklus II.

C. Teknik Pengumpulan Data

Pengumpulan data diperoleh melalui:

1. Instrumen pengumpulan data tentang minat belajar siswa menggunakan angket

2. Instrumen pengumpulan data tentang hasil belajar siswa dengan menggunakan lembar evaluasi siswa

D. Teknik Analisis Data

Teknis analisis data yang digunakan oleh peneliti dalam PTK ini adalah:

(12)

Mendeskripsikan data setiap variabel penelitian, dilihat dari skor tertinggi, terendah, rata-rata, standar deviasi/simpangan baku, frekuensi, interval.

2. Statistik

a. Uji-T

Menguji beda hasil belajar siswa antara siklus I dan siklus II

b. Korelasi antara minat dan hasil belajar siswa

(13)

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Dalam pengumpulan data, peneliti menggunakan instrumen berupa angket dan lembar evaluasi siswa (tes). Kedua instrumen tersebut kemudian diolah, sehingga diperoleh hasil data yang dapat digunakan untuk mengetahui keberhasilan penelitian.

A. Hasil Siklus I dan Siklus II

1. Hasil belajar siswa

[image:13.595.151.536.564.732.2]

Pada tanggal 10 Februari 2011 dilaksanakan siklus I, sedangkan siklus II dilaksanakan pada tanggal 12 Februari 2011. Pembelajaran pada siklus ini dilakukan dengan menggunakan media realia, serta memberikan evaluasi kepada siswa. Hasil dari siklus I dan siklus II sebagai berikut: Tabel frekuensi

No. Rentang Nilai

Frekuensi Siklus I

Prosentase Siklus I

Frekuensi Siklus II

Prosentase Siklus II

1 0-25 3 12.5 % 2 8.3 %

2 26-50 12 50 % 7 29,2 %

3 51-75 5 20.8 % 2 8,3 %

4 76-100 4 16.7 % 13 54,2 %

(14)

Berdasarkan tabel di atas, dapat diketahui skor tertinggi, skor terendah, mean dan standar deviasi dari hasil belajar siswa. Mean merupakan hasil pembagian jumlah nilai dengan jumlah siswa sehingga didapat mean nilai siklus I 50 dan mean nilai siklus II 69,58, skor tertinggi pada siklus I = 90 dan pada siklus II = 100, skor terendah pada siklus I = 0 dan pada siklus II = 10, serta standar deviasi pada siklus I = 25,64 dan pada siklus II = 30,72.

Prosentase rentang nilai siklus I 0-25 adalah 12,5%, prosentase rentang nilai 26-50 adalah 50%, prosentase rentang nilai 51-75 adalah 20,8%, prosentase rentang nilai 76-100 16,7%, sehingga dapat dilihat bahwa siswa yang mendapat nilai di bawah 50 sebanyak 72,5% atau sejumlah 15 anak.

Prosentase rentang nilai siklus II 0-25 adalah 8,3%, prosentase rentang nilai 26-50 adalah 29,2%, prosentase rentang nilai 51-75 adalah 8,3%, prosentase rentang nilai 76-100 adalah 54,2%, sehingga dapat dilihat bahwa siswa yang mendapat nilai di bawah 50 sebanyak 37,5 % atau sejumlah 9 anak.

Berdasarkan uraian data di atas, dapat disimpulkan bahwa nilai siswa kelas I dalam pembelajaran matematika pada siklus I dan siklus II sudah memenuhi standar pencapaian 50. Hal ini dapat dibuktikan dari prosentase 54,2 % pada siklus II yakni sebanyak 13 siswa, mendapat nilai antara 76-100 serta rata-rata nilai pada siklus II 69.58. Meskipun demikian, masih ada beberapa siswa yang nilainya masih di bawah standar pencapaian yakni sebanyak 37,5 % atau sebanyak 9 siswa.

2. Minat siswa

Pengukuran minat siswa terhadap pembelajaran matematika menggunakan angket dengan ketentuan sebagai berikut:

1 = Selalu

Siklus I Siklus II

Skor tertinggi 90 100

Skor terendah 0 10

Rata-Rata 50 69.58

(15)

2 = Sering 3 = Jarang 4 = Tidak

Jumlah item pada angket sebanyak 20 item. Hasil angket merupakan jumlah dari keseluruhan item. Angket diisi tanpa menggunakan nama untuk menghindari subjektifitas penulis.

Untuk mengetahui tingkat minat siswa dalam mengikuti pembelajaran, peneliti mencari rata-rata dari hasil angket. Rata-rata didapatkan dari hasil pembagian jumlah hasil angket dengan jumlah responden (siswa). Jumlah hasil angket pada siklus 2 didapat rata-rata nilai angket yaitu 66,13.

Hasil rata-rata minat siswa dicocokkan dengan kriteria minat yang sudah ditentukan sebelumnya. Kriteria tersebut menggunakan rentang nilai angket minat. Rentang nilai tersebut yaitu:

0 – 20 = Tidak berminat 21 – 40 = Kurang berminat 41 – 60 = Berminat

61 - 80 = Sangat berminat

Rata-rata minat dari angket pada siklus 2 yaitu 66,13 jadi rata-rata angket tersebut masuk dalam rentang 81-100 dengan kriteria siswa sangat berminat.

B. Analisis Korelasi dan Uji Beda

1. Analisis korelasi antara minat dan hasil belajar siswa

(16)

Untuk menguji ketepatan hipotesis diatas maka peneliti menggunakan program pengolah data SPSS. Dengan correlations coefficient Pearson dan test of significanceone tailed.

Data yang diolah sebagai berikut: No Rentang

minat

Kete-rangan

Frekuensi siswa dalam

minat

Rentang Nilai

Frekuensi siswa dalam postest

Prosentase

Posttes

0-20 Tidak

berminat

- 0-25 2 8.3 %

21-40 Kurang brminat

1 26-50 7 29,2 %

41-60 beminat 6 51-75 2 8,3 %

60-80 Sangat berminat

17 76-100 13 54,2 %

Jumlah Siswa 24 24 100%

Descriptive Statistics

66.13 9.777 24

67.92 29.485 24

SKOR_MINT Nil_siswa

(17)

Correlations

SKOR_MINT Nil_siswa SKOR_MINT Pearson Correlation 1 .711(**)

Sig. (1-tailed) .000

Sum of Squares and

Cross-products 2198.625 4716.250

Covariance 95.592 205.054

N 24 24

Nil_siswa Pearson Correlation .711(**) 1

Sig. (1-tailed) .000

Sum of Squares and

Cross-products 4716.250 19995.833

Covariance 205.054 869.384

(18)

** Correlation is significant at the 0.01 level (1-tailed).

Dari data diatas dapat diartikan bahwa ada korelasi yang positif

antara minat belajar sebesar 0,711, dengan tingkat kepercayaan berkisar 0.000. Jadi dapat diartikan bahwa minat siswa mempengaruhi hasil belajar. Semakin tinggi minat siswa semakin tinggi juga hasil belajar siswa. Begitu juga jika minat siswa rendah maka hasil belajar siswa juga rendah.

2. Analisis uji beda antara hasil siklus II dan siklus I

Pada analisis ini akan dibandingkan antara hasil nilai siklus I dan hasil nilai siklus II. Pengolahan data dengan menggunakan program SPSS sehingga dapat dilihat kenaikan nilai siklus II yang lebih besar dari siklus I secara valid. Dengan tingginya nilai siklus II dari nilai siklus I dapat dikatakan bahwa penelitian ini berhasil.

Paires Samplese statistics

Paired Samples Correlations

Mean N Std. Deviation

Std. Error Mean Pair 1 NIL_S I 70.00 24 29.192 5.959

NIL_S II 50.00 24 23.774 4.853

(19)

 Ho = Siklus II lebih tinggi dari pada siklus I  Ha = Siklus II lebih tinggi dari pada siklus I  Ho = P< 0.05, Ho ditolak

 Ha = P > 0.05, Ha diterima

Dari data diatas dapat dilihat bahwa P = 0.000 < 0,05 yang artinya Ho ditolak dan Ha diterima. Ini berarti bahwa siklus II lebih tinggi dari siklus I, sehingga dapat disimpulkan bahwa penelitian ini berhasil dengan indikasi siklus II lebih tinggi daripada siklus I.

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Penelitian Tindakan Kelas dilaksanakan di kelas I SDN 2 Genengadal, menggunakan media realia. Penelitian ini dilakukan dalam 2 siklus. Setelah dianalisis, signifikansi antara siklus I dan siklus II adalah 0,0 %. Hal ini berarti ada peningkatan minat siswa terhadap mata pelajaran matematika. Peningkatan minat ini berdampak positif terhadap hasil belajar yakni semakin

Paired Samples Test

20.000 21.669 4.423 10.850 29.150 4.522 23 .000 NIL_S I- NIL_S II

Pair 1

Mean Std. Deviation

Std. Error

Mean Lower Upper 95% Confidence

Interval of the Difference Paired Differences

(20)

tinggi minat siswa terhadap pembelajaran matematika, semakin tinggi pula hasil belajar yang mereka capai.

B. Saran

Sehubungan dengan penelitian yang telah dilakukan, peneliti memberikan saran yang berkaitan dengan usaha meningkatan minat belajar siswa dalam pembelajaran matematika khususnya tentang nilai tempat, sebaiknya menggunakan media realia.

DAFTAR PUSTAKA

Muhsetyo, Gatot, dkk. 2008. Pembelajaran Matematika SD. Jakarta: Universitas Terbuka

(21)

Abimanyu, Soli, dkk. 2008. Strategi Pembelajaran. Jakarta: Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional

Muhibbin Syah. 2006. Psikologi Belajar. Jakarta: Raja Grafindo Persada

Usman, Moh. Uzer dan Lilis Setiawati. 1993. Upaya Optimalisasi Kegiatan Belajar Mengajar. Jakarta: PT. Remaja Rosdakarya

Joni, T. Raka. 1984. Strategi Belajar-Mengajar, Suatu Tinjauan Pengantar. Jakarta: P2LPTK Depdikbud

Muhsetyo, Gatot, dkk. 2008. Pembelajaran Matematika SD. Jakarta : Universitas Terbuka

Slameto. 1995. Belajar dan Faktor- Faktor Yang Mempengaruhi. Jakarta: Rineka Cipta

Gambar

Tabel frekuensi

Referensi

Dokumen terkait

Pengadaan ini dilaksanakan secara elektronik, dengan mengakses aplikasi Sistem Pengadaan Secara Elektronik ( SPSE ) pada alamat website LPSE : [url/alamat website LPSE] :

[r]

Pokja Pekerjaan Konstruksi SKPD07/PK-188 ULP pada Kabupaten Banjar akan melaksanakan Pelelangan Umum dengan pascakualifikasi (Ulang) untuk paket pekerjaan konstruksi secara

Kondisi kecil perusahaan ising iebagai perekonomian sernacarn ini menun- sumber pekerjaan sekarang memiliki jukkan kecenderungan yang bersifat aiternatii lebih banyalq

Research method which] used in this research by alliing two approach in text semiotic, there are 

f SS.aZS.SOS,- (Seratus tiga puluh tigu- juta empal ratus tujuh puluh lima ribu

[r]

Pokja Pekerjaan Konstruksi SKPD07/PK-29 ULP pada Kabupaten Banjar akan melaksanakan Pemilihan Langsung dengan pascakualifikasi (ULANG) untuk paket pekerjaan konstruksi secara