DPR diminta segera bahas RUU koperasi
Written by Artikel
Friday, 24 September 2010 10:10 -
BANDUNG Kementerian Koperasi dan UKM mengharapkan DPR segera membahas RUU koperasi yang baru setelah Presiden SBY menyerahkan drafnya beberapa waktu lalu. Untung Tri Basuki, Deputi Urusan Kelembagaan Kementerian Koperasi dan UKM, mengatakan
pihaknya masih menunggu informasi dari DPR tentang jadwal pembahasan perubahan UUU tentang koperasi tersebut.
"Sebelumnya RUU itu rampung dibahas di Sekretariat Negara, lalu disampaikan ke Presiden yang selanjutnya menyerahkan ke DPR untuk segera dibahas," ujarnya seusai membuka bimbingan teknis revitalisasi fungsi kelembagaan koperasi kemarin.
Menurut Untung, sesuai dengan agenda, pembahasan RUU masukprogram legislasi nasional [Proleg-nas] tahun ini. Karena prosesnya agak terlambat, dia kurang yakin jika pembahasan bisa diselesaikan hingga Desember 2007.
Dalam RUU yang baru, terdapat 125 pasal untuk dibahas, meningkat dibandingkan dengan UU Koperasi sebelumnya yakni UU No. 25/1992 yang hanya terdiri dari 67 pasal. Jumlahnya jadi 125 setelah ditambah draf baru.
Terdapat beberapa usulan dalam pasal itu yang bersifat mengembangkan perkoperasian secara nasional. Misalnya, ada struktur permodalan koperasi jadi salah satu perhatian dengan aturan baru.
"Bila seorang anggota hendak keluar, maka simpanan pokok maupun simpanan wajib tidak bisa diambil. Sebelumnya kedua jenis simpanan itu bisa diambil saat anggota keluar dari keanggotaan koperasi."
Anggota yang ingin mengakhirikeanggotaannya hanya bisa mengalihkan kepemilikan sahamnya kepada anggota koperasi yang sama. Dengan demikian, struktur permodalan koperasi tidak terganggu sebab, koperasi sebagai milik kelompok dengan badan hukum memang harus dilindungi untuk bisa berkembang.
Dengan memberikan perlindungan dari sisi hukum, Untung optimistis gerakan koperasi ke depan, benar-benar bisa menjadi soko guru bagi perekonomian nasional.
"Masih banyak draf lain yang sifatnya mendorong keberhasilan koperasi."
Perubahan lain yang telah dirumuskan adalah sebutan tentang sisa hasil usaha(SHU) yang diganti dengan surplus hasil usaha (SHU). Karena itu, dia berharap legislatif segera membahas RUU itu agar perkoperasian nasional bisa lebih berkembang.
Sumber : Bisnis Indonesia