TIM ADVOKASI
PARTAI AMANAT NASIONAL
Jakarta, 12 Mei 2009
Kepada Yth.
Mahkamah Konstitusi RI.
Di Gedung Mahkamah Konstitusi RI Jalan Medan Merdeka Barat Nomor 6 Jakarta 10110
Melalui Kepaniteraan Mahkamah Konstitusi RI
Perihal :
Permohonan keberatan dan pembatalan Keputusan Komisi Pemilihan Umum Nomor 255/Kpts/KPU/Tahun 2009 tanggal 9 Mei 2009 tentang Penetapan dan Pengumuman Hasil Pemilihan Umum Anggota DPR RI, DPD dan DPRD Provinsi/Kabupaten/Kota tahun 2009 secara nasional yang diumumkan pada hari Sabtu tanggal 9 Mei 2009.
Dengan hormat
dan atas nama Soetrisno Bachir dan Zulkifli Hasan, masing-masing selaku Ketua Umum dan Sekretaris Jendral DPP PARTAI AMANAT NASIONAL, dari dan oleh karena itu bertindak untuk dan atas nama PARTAI AMANAT NASIONAL yang beralamat di Rumah PAN, jalan Warung Buncit Raya Nomor 17 Jakarta Selatan, Indonesia. Bahwa berdasarkan Penetapan Komisi Pemilihan Umum (KPU) tentang Pemberitahuan Partai Amanat Nasional telah memenuhi syarat sebagai Partai Politik peserta Pemilihan Umum Tahun 2009, untuk selanjutnya disebut sebagai PEMOHON ;
Bahwa PEMOHON sangat keberatan dengan Keputusan Komisi Pemilihan Umum (KPU) Nomor 255 tanggal 9 Mei 2009 tentang Penetapan dan Pengumuman Hasil Pemilihan Umum Anggota DPR RI, DPD dan DPRD Provinsi/Kabupaten/Kota tahun 2009 secara nasional yang diumumkan pada hari Sabtu tanggal 9 Mei 2009 karena Keputusan Komisi Pemilihan Umum a quo telah merugikan PEMOHON karena tidak diperolehnya kursi legislatif yang semestinya menjadi HAK PEMOHON pada Daerah pemilihan (DAPIL) yang tersebut sebagaimana di bawah ini.
Bahwa dapat pula Kami jelaskan selain perkara sengketa dengan partai lain, PEMOHON juga mempunyai kasus-kasus sengketa internal. PEMOHON mengalami kesulitan dalam menyelesaikan secara internal mengingat waktu yang sangat singkat dan sementara sebagian kader mendesak untuk mendapatkan keadilan melalui Mahkamah Konstitusi.
Bahwa agar PEMOHON bisa berlaku adil atas sengketa internal calegnya, maka Pemohon juga akan menyampaikan jawaban/tanggapan dari Caleg yang berstatus sebagai Pihak terkait .
Bahwa selanjutnya permohonan sengketa eksternal dan internal yang terjadi dapat Kami uraikan sebagaimana di bawah ini :
1. Provinsi DKI Jakarta ; Dapil 1 DKI Jakarta (DPR RI) ; 2. Provinsi Banten, Dapil Banten 2 (DPR RI) ;
3. Provinsi Kalimantan Selatan ; Dapil I (DPR RI) ; 4. Provinsi Nusa Tenggara Timur; Dapil NTT 1 (DPR RI); 5. Provinsi Kalimantan Timur ; Dapil Kaltim (DPR RI) ; 6. Provinsi Riau; Dapil 2 (DPR RI);
7. Provinsi Bengkulu; Dapil Bengkulu (DPR RI); 8. Provinsi Sulawesi Tengah (DPR RI)
9. Provinsi Sulawesi Selatan;Internal
10.Provinsi Jawa Barat; Dapil 6 (DPR-RI) – Internal; 11.Provinsi Jawa Barat; Dapil 7 (DPR-RI)
12.Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam ; Dapil 6 (DPRD Provinsi) 13.Provinsi Maluku ; Dapil 6 (DPRD Provinsi) ;
14.Provinsi Kalimantan Timur ; Dapil 2 (DPRD Provinsi) ;
15.Provinsi Jawa Barat (Dapil Kab. Kuningan, Kab. Ciamis, Kota Banjar) (DPRD Provinsi) ;
16.Provinsi Sulawesi Selatan ; Dapil 6 (DPRD Provinsi) ; - Internal 17.Provinsi Sulawesi Selatan ; Dapil 4 (DPRD Provinsi) ;- Internal 18.Provinsi Gorontalo Daerah Pemilihan 2 (DPRD Provinsi) -Internal
19.Propinsi Sumatera Barat Daerah Pemilihan II (DPRD Provinsi);- Internal 20. PROVINSI SUMATERA UTARA (DPRD Provinsi) DAERAH PEMILIHAN 1 KOTA
MEDAN
21. Provinsi Sumatera Selatan; Dapil VII (DPRD Provinsi)
25.Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) ; Sumatera Selatan (DPRD Kabupaten) Daerah Pemilihan 4 ;
26.Kabupaten Mamasa, Dapil 3 Mamasa ; Sulawesi Barat (DPRD Kabupaten) ; -Internal
27.Kabupaten Lampung Tengah ; (Lampung) ( DPRD Kabupaten) Daerah Pemilihan 4 ;
28.Kabupaten Pidie ; Dapil 2/NAD (DPRD Kabupaten) ; 29.Kabupaten Ogan ilir; Dapil 6/Sumsel (DPRD Kabupaten) ; 30.Kabupaten Purbalingga, Dapil/Jateng (DPRD Kabupaten) ; 31.Kota Serang ; Dapil 2/Banten (DPRD Kota) ;
32.Kabupaten Kampar ; Dapil 1/Riau (DPRD Kabupaten) ; 33.Kabupaten Grobogan, Dapil 1/Jateng (DPRD Kabupaten) ;
34.Kabupaten Bombana, Dapil 1 Bombana Sulawesi Tenggara (DPRD Kabupaten);
35.Kabupaten Sanggau, DAPIL 1 Sanggau Kalimantan Barat (DPRD Kabupaten) ;
36.Kabupaten Banjar, Dapil 2 Kalimantan Selatan (DPRD Kabupaten) 37. Kabupaten Kerinci jambi Daerah Pemilihan 4 ; (Kursi DPRD Kabupaten);
-Internal
38. Kota Cirebon, Jawa Barat, Daerah Pemilihan 2 (DPRD Kota); -Internal 39. Kabupaten Muko-Muko, Bengkulu, Dapil 1 (DPRD Kabupaten); -Internal
40. Kabupaten Semarang, Jawa Tengah) Daerah Pemilihan 3I(DPRD Kabupaten); -Internal
41.Kabupaten Madiun-Jawa Timur, Daerah Pemilihan V (DPRD Kabupaten); 42.Kabupaten Sumedang; Dapil 2 (DPRD Kabupaten) ;
43.Kabupaten Kapuas-Kalimantan Tengah, Dapil 1(DPRD kabupaten) ; 44.Kota Tanjung Pinang – Kep. Riau (DPRD Kota) –Internal
45.Kabupaten Bengkalis, Dapil II, Provinsi Riau (Fauzi Hasan Caleg PAN No 2);Internal
46.Dapil 2 Kota Solok Sumatera Barat (DPRD Kota) ;Internal 47.Dapil IV DPRD Kabupaten Batu Bara, Tanjung Tiram Talawi ;
48.Daerah Pemilihan Tingkat Kabupaten/Kota Jeneponto (Dapil 1) ;Internal 49.Dapil III DPRD Kabupaten Simalungun ;
Bahwa secara berurutan berikut ini Kami uraikan duduk perkara masing-masing Daerah Pemilihan yang sudah tersebut diatas :
1. PROVINSI DKI JAKARTA 1 (DPR RI) DAPIL 1
a. Bahwa PEMOHON sangat berkeberatan dengan SK KPU Pusat hasil rapat Pleno KPU No. 255/Kpts/KPU/TAHUN 2009 tanggal 9 Mei 2009 tentang Penetapan Hasil Pemilu Anggota DPR, DPD, DPRD Provinsi dan DPRD Kabupaten/Kota dalam PEMILU Tahun 2009 serta Berita Acara Rekapitulasi Hasil Penghitungan Suara (Bukti P-1a) Jo. Berita Acara Rekapitulasi Provinsi DKI Jakarta dan Sertifikat Rekapitulasi, pada tanggal 2 Mei 2009(Bukti P-1b);
b. Bahwa PEMOHON adalah Caleg PAN untuk DPR RI Nomor urut 1 Daerah Pemilihan (DAPIL) I DKI Jakarta (meliputi wilayah Jakarta Timur) atas namaH. Andi Anzhar Cakra Wijaya;
c. Bahwa Keputusan KPU No. 255/Kpts/KPU/TAHUN 2009 Tanggal 9 Mei 2009 telah menetapkan sisa suara DAPIL 1 DKI Jakarta (Jakarta Timur) sebanyak 2 kursi dibagikan atau diberikan kepada Partai Demokrat dan Partai Golkar, masing-masing dapat 1 kursi;
“Apabila masih terdapat sisa kursi yang belum terbagi atau sisa suara masing-masing Partai Politik peserta Pemilu Anggota DPR tidak mencapai angka BPP DPR yang baru, maka penetapan perolehan kursi Partai Politik peserta Pemilu Anggota DPR dilakukan dengan cara membagikan sisa kursi kepada Partai Politik peserta Pemilu Anggota DPR di provinsi satu demi satu berturut-turut sampai semua sisa kursi habis terbagi berdasarkan sisa suara terbanyak yang dimiliki oleh tiap Partai Politik secara berurutan.”
e. Bahwa Hasil Rapat Pleno KPUD DKI Jakarta pada penghitungan Tahap Ketiga terdapat sisa 2 (dua) kursi yang belum habis terbagi, dimana rincian perolehan suara partai politik yang memenuhi ketentuan ambang batas perolehan suara Pemilu DPR (Parliamentary Threshold)adalah sebagai berikut(Bukti P-2):
DAPIL I JAKARTA TIMUR
1 1 hanura 23.376 23.376 23.376
2 5 gerindra 57.845 57.845 57.845
3 8 PKS 214.541 1 47.689 47.689
4 9 PAN 50.870 50.870 50.870
5 13 PKB 16.765 16.765 16.765
6 23 P. Golkar 73.181 73.181 73.181
7 24 PPP 51.751 51.751 51.751
8 28 PDIP 105.439 1
9 31 Demokrat 407.344 2 73.637 73.637
1.001.112 4
sisa 2 kursi
II BPP : 195.620
KURSI 1
SISA
SUARA 50 % : 97.810 TAHAP 3
1 1 hanura 34.001 34.001 34.001
2 5 gerindra 83.386 83.386 83.386
3 8 PKS 265.889 1 70.270 70.270
4 9 PAN 57.025 57.025 57.025
5 13 PKB 25.022 25.022 25.022
6 23 P. Golkar 127.342 127.342 1
7 24 PPP 98.016 98.016 1
8 28 PDIP 165.547 165.547 1
9 31 Demokrat 513.111 2 121.873 1
1.369.339 3 4
sisa 0 kursi
DAPIL III JAKARTA BARAT DAN UTARA JUMLAH KURSI 8
1 1 hanura 35.174 35.174 35.174
2 5 gerindra 80.971 80.971 1
3 8 PKS 245.926 1 88.886 1
4 9 PAN 41.337 41.337 41.337
5 13 PKB 23.916 23.916 23.916
6 23 P. Golkar 90.691 90.691 1
7 24 PPP 46.362 43.362 43.362
8 28 PDIP 192.415 1 35.375 35.375
9 31 Demokrat 499.526 3 28.406 28.406
1.256.318 5 3
sisa 0 kursi
PERHITUNGAN TAHAP KE-3
partai/dapil 1 2 3 RANKING
1 1 hanura 23.376 34.001 35.174 92.551 5
2 5 gerindra 57.845 83.386 141.231 2
3 8 PKS 47.689 70.270 117.959 3
4 9 PAN 50.870 57.025 41.337 149.232 1
5 13 PKB 16.765 25.022 23.916 65.703 8
73.181
7 24 PPP 51.751 46.362 98.113 6
8 28 PDIP 35.375 35.375 9
9 31 Demokrat 73.637 28.406 102.043 4
Jumlah 875.388
BPP: 324.468
f. Bahwa berdasarkan Pasal 25 ayat (3) huruf e Peraturan KPU Nomor 15 Tahun 2009, maka: “Bagi Partai Politik yang tidak memperoleh kursi pada penghitungan Tahap Pertama dan Tahap Kedua, suara sah yang diperoleh Partai Politik tersebut dikategorikan sebagai SISA SUARA.”
g. Bahwa dari rekapitulasi tersebut di atas, akumulasi jumlah sisa suara dari DAPIL I,II, dan III DKI Jakarta menunjukkan bahwa Partai Amanat Nasional menempati peringkat pertama jumlah (sisa) suara setelah semua sisa suara ditarik ke tingkat provinsi (akumulasi dari tiga DAPIL DKI Jakarta) yaitu sebesar 149,232(seratus empat puluh sembilan ribu dua ratus tiga puluh dua) suara, dan disusul oleh Partai Gerindra di peringkat ke dua (141,231 suara);
dengan BPP DPR yang baru sebagaimana dimaksud dalam Pasal 205, penetapan perolehan kursi Partai Politik Peserta Pemilu dilakukan dengan cara membagikan sisa kursi kepada Partai Politik Peserta Pemilu di Provinsi satu demi satu berturut-turut sampai semua sisa kursi habis terbagi berdasarkan sisa suara terbanyak.” Dengan demikian maka sudah seharusnya sisa kursi (sebanyak dua kursi) untuk DAPIL Provinsi DKI Jakarta diberikan kepada Partai Amanat Nasional (PAN) sebagai pengumpul sisa suara terbanyak urutan pertama, dan Partai Gerindra (pengumpul sisa suara terbanyak urutan kedua);
i. Bahwa oleh karena 2(dua) sisa kursi terdapat di DAPIL Jakarta I (Jakarta Timur), maka 1 (satu) sisa kursi sudah seharusnya didapat oleh Caleg PAN Nomor urut 1 DAPIL Jakarta I atas nama H. Andi Anzhar Cakra Wijaya, sebagai Caleg PAN DAPIL Jakarta I yang memperoleh suara terbanyak(Bukti P-3);
RINCIAN PEROLEHAN SUARA PARTAI POLITIK DAN CALON ANGGOTA DPR DAN SUARA TIDAK SAH DI KPU PROVINSI DKI JAKARTA
(Diisi berdasarkan formulir LAMPIRAN DB-DPR)
NAMA PARTAI, NOMOR DAN NAMA CALON ANGGOTA DPR PROVINSI DKI JAKARTA
KOTA JUMLAH
AKHIR KOTA ADMINISTRASI JAKARTA TIMUR
A 9 PARTAI AMANAT NASIONAL 10.757 10.757
B 1 H. Andi Anzhar Cakra Wijaya 18.294 18.294
H. Mandra YS 16.673 16.673
Henidar Amru 1.695 1.695
Dr. Djainal Abidin 1.015 1.015
Dra. Suhartati Suharso 1.120 1.120
Drs. H. Suryadharma Nasution 578 578
H.M. Mughni Machmud, Lc. 738 738
...
JUMLAH ( A + B ) 50.870 50.870
salah satu sisa kursi harus diberikan kepada Caleg PAN Nomor urut 1 DAPIL Jakarta I atas nama H. Andi Anzhar Cakra Wijaya;
k. Bahwa sesuai dengan fakta-fakta tersebut di atas, maka PEMOHON sangat berkeberatan dengan Keputusan KPU yang menetapkan sisa kursi DAPIL I Jakarta diberikan kepada Partai Golkar dan Partai Demokrat, karena secara tegas penempatan atau pembagian tersebut tanpa dasar hukum dan bertentangan dengan Pasal 205 jo Pasal 206 Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2008, dan secara substansial berlawanan dengan Peraturan yang dibuat oleh KPU Sendiri, yaitu Pasal 24 angka 8 Peraturan KPU Nomor 15 Tahun 2009, maka oleh karenanya harus dibatalkan.
Bahwa untuk memperkuat dalil-dalilnya, maka PEMOHON mengajukan bukti-bukti tertulis sebagai berikut :
Bukti P-1a : SK KPU Pusat tanggal 9 Mei 2009 ;
Bukti P-1b : Berita Acara Rekapitulasi Provinsi DKI Jakarta dan Sertifikat Rekapitulasi tanggal 2 Mei 2009;
Bukti P-2 : Lembar Rekapitulasi Penghitungan TAHAP KE-3;
Bukti P-3 : Lampiran Model DC-1 DPR Provinsi DKI Jakarta DAPIL I (Kota Administrasi Jakarta Timur);
Berdasarkan fakta hukum dan alasan-alasan tersebut di atas, PEMOHON mohon kepada Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia untuk menjatuhkan Putusan sebagai berikut :
1. Mengabulkan Permohonan PEMOHON ;
Berita Acara Rekapitulasi Provinsi DKI Jakarta dan Sertifikat Rekapitulasi, pada tanggal 2 Mei 2009;
3. Menyatakan membatalkan SK KPU No. 255/Kpts/KPU/TAHUN 2009 yang menempatkan Caleg Golkar untuk DPR RI Nomor urut 1 Daerah Pemilihan (DAPIL) Jakarta I, dan Caleg Partai Demokrat DPR RI Nomor urut 1 Daerah Pemilihan (DAPIL) Jakarta I yang diberikan jatah sisa kursi sesuai dengan SK KPU tersebut;
4. Menetapkan perolehan salah satu sisa kursi DPR RI Daerah Pemilihan (DAPIL) Jakarta I untuk Caleg PAN Nomor urut 1 DAPIL Jakarta I atas nama H. Andi Anzhar Cakra Wijaya; 5. Memerintahkan KPU untuk melaksanakan putusan ini ;
2. PROVINSI BANTEN (DPR RI) DAPIL 2
a. Bahwa PEMOHON sangat berkeberatan dengan SK KPU Pusat hasil rapat Pleno KPU tanggal 9 Mei 2009 tentang Penetapan Hasil Pemilu Anggota DPR, DPD, DPRD Provinsi dan DPRD Kabupaten/Kota dalam PEMILU Tahun 2009 serta Berita Acara Rekapitulasi Hasil Penghitungan Suara (Bukti P-1a) Jo. Berita Acara Rekapitulasi Provinsi Banten dan Sertifikat Rekapitulasi, pada tanggal 2 April 2009 (Bukti P-1b) jo Berita Acara Rekapitulasi Kabupaten Serang dan Sertifikat Rekapitulasi(Bukti P-1c) jo Berita Acara Rekapitulasi Kabupaten Cilegon dan Sertifikat Rekapitulasi (Bukti P-1d) jo Berita Acara Rekapitulasi Kota Serang(Bukti P-1e);
c. Seharusnya kursi tersebut diberikan kepada PEMOHON karena dalam penghitungan penentuan kursi terakhir ini yang dipakai adalah ketentuan Pasal 205 UU No/2008 tentang Pemilu Jo Pasal 25 Peraturan KPU Nomor 15/2009 tentang Pedoman teknis penetapan dan pengumuman hasil Pemilu ;
d. Bahwa jika merujuk kepada kedua peraturan tersebut maka untuk kasus pada Dapil 2 Provinsi Banten maka cara akhir penghitungan suara memakai ketentuan tersebut, dan sisa suara PEMOHON adalah 130539, sedangkan suara akhir akumulasi dari Dapil 1, Dapil 2 dan Dapil 3 Provinsi Banten bagi PPP adalah sebesar 109236 ;
e. Dengan demikian maka suara akhir yang merupakan sisa suara yang diakumilasikan pada penghitungan tahap ke 3 maka hak kursi terakhri untuk DPR RI ata Provinsi Banten haruslah diberikan kepada PEMOHON, yaitu atas nama Drs. Rusli Ridwan,MSi yakni Caleg PEMOHON DPR RI Nomor urut 1 Daerah Pemilihan (DAPIL) 2, untuk lebih jelasnya PEMOHON uraikan dalam tabel dibawah ;
PENGHITUNGAN KURSI DPR RI DAPIL BANTEN I
KAB. PANDEGLANG DAN LEBAK
DEMOKRAT 219.696 1 73.917 1 2 959
1 KURSI
PPP 207.334 1 61.555 1 61.555
PENGHITUNGAN KURSI DPR RI DAPIL BANTEN II
KOTA SERANG, KAB. SERANG DAN KOTA CILEGON
6 KURSI
GOLKAR 226.599 1 106.634 1 2 46.652
1 KURSI
DEMOKRAT 137.740 1 18.106 1 18.106
Halaman 14 dari 208
PENGHITUNGAN KURSI DPR RI DAPIL BANTEN III
KAB TANGERANG DAN KOTA TANGERANG
DEMOKRAT 546.454 3 47.092 - 3 47.092
-PKS 265.020 1 98.566 1 2 15.339
GOLKAR 231.917 1 65.463 - 1 65.463
PDIP 215.641 1 49.187 - 1 49.187
PENGHITUNGAN KURSI TAHAP III
AKUMULASI PROPINSI DARI DAPIL BANTEN I, II DAN III
SISA KURSI 2
PARTAI YANG LOLOS PT
SISA SUARA DAPIL I
SISA SUARA DAPIL II
SISA SUARA
DAPIL III JUMLAH BPP BARU
PEROLEHAN KURSI TAHAP III
KETERANGAN
DEMOKRAT HABIS TAHAP II 18.106 47.092 65.198
372.518 PKS 69.677 HABIS TAHAP II HABIS TAHAP II 69.677
GOLKAR HABIS TAHAP II HABIS TAHAP II 65.463 65.463 PDIP HABIS TAHAP II HABIS TAHAP II 49.187 49.187
GERINDRA 36.849 39.573 HABIS TAHAP II 76.422
HANURA 41.938 34.093 HABIS TAHAP II 76.031
PPP 61.555 47.681 HABIS TAHAP II 109.236 1 (Ranking 2)
PAN 22.080 41.534 66.925 130.539 1 (Ranking 1)
PKB 40.616 19.075 43.591 103.282
JUMLAH 745.035
Bahwa untuk memperkuat dalil-dalilnya, maka PEMOHON mengajukan bukti-bukti tertulis sebagai berikut :
Bukti P-1a : SK KPU Pusat Nomor 255tanggal 2009;
Bukti P-1b : Berita Acara Rekapitulasi Provinsi Banten dan Sertifikat Rekapitulasi tanggal 25 April 2009;
Bukti P-1b : Berita Acara Rekapitulasi Kabupaten Cilegon dan
Sertifikat Rekapitulasi ;
Bukti P-1d :Berita Acara Rekapitulasi Kota Serang dan Sertifikat
Rekapitulasi ;
Bukti P-2 : Lembar Rekapitulasi Penghitungan TAHAP KE-3;
Bukti P-3 : Lampiran Model DC-1 DPR Provinsi DKI Jakarta DAPIL I
(Kota Administrasi Jakarta Timur);
Berdasarkan fakta hukum dan alasan-alasan tersebut di atas, PEMOHON mohon
kepada Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia untuk menjatuhkan Putusan
sebagai berikut :
1. Mengabulkan Permohonan PEMOHON ;
2. Menyatakan membatalkan SK KPU Pusat hasil rapat pleno KPU
tanggal 9 Mei tentang Penetapan Hasil Pemilu Anggota DPR, DPD,
DPRD Provinsi dan DPRD Kabupaten/Kota dalam PEMILU Tahun
2009 serta Berita Acara Rekapitulasi Hasil Penghitungan Suara Jo.
Berita Acara Rekapitulasi Provinsi Banten dan Sertifikat
Rekapitulasi Jo. Berita Acara Rekapitulasi Kabupaten Serang dan
Sertifikat Rekapitulasi Jo. Berita Acara Rekapitulasi Kabupaten
Cilegon dan Sertifikat Rekapitulasi Jo. Berita Acara Rekapitulasi
Kota Serang dan Sertifikat Rekapitulasi ;
3. Menyatakan membatalkan SK KPU yang menempatkan Caleg PPP
untuk DPR RI Nomor urut 1 Daerah Pemilihan (DAPIL) Jakarta I
atas nama Drs.H.Endin AJ Soefihara MMA untuk Daerah Pemilihan
(DAPIL) Banten 2 yang diberikan jatah sisa kursi sesuai dengan SK
KPU tersebut;
4. Menetapkan perolehan salah satu sisa kursi DPR RI Daerah
Pemilihan (DAPIL) Banten 2 untuk Caleg PAN Nomor urut 1 DAPIL
Banten atas nama H.Drs.Rusli Ridwan Msi ;
3. PROVINSI KALIMANTAN SELATAN (DPR RI) DAPIL I
a. Bahwa PEMOHON sangat berkeberatan dengan SK KPU Pusat hasil
rapat Pleno KPU tanggal 9 Mei 2009 tentang Penetapan Hasil Pemilu
Anggota DPR, DPD, DPRD Provinsi dan DPRD Kabupaten/Kota dalam
PEMILU Tahun 2009 serta Berita Acara Rekapitulasi Hasil
Penghitungan Suara (Bukti P-1a) Jo. Berita Acara Rekapitulasi
Provinsi Kalimantan Selatan dan Sertifikat Rekapitulasi, pada
tanggal 27 April 2009(Bukti P-1b);
b. Bahwa PEMOHON adalah Caleg PAN untuk DPR RI Nomor urut 2
Daerah Pemilihan (DAPIL) Kalimantan Selatan I(satu) (meliputi
wilayah Kabupaten Banjar, Kabupaten Tapin, Kabupaten Hulu
Sungai Selatan, Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Kabupaten Hulu
Sungai Utara, Kabupaten Tabalong, Kabupaten Balangan, Kabupaten
Batola) atas nama Prof DR.Ismet Ahmad.;
c. Bahwa berdasarkan UU nomor 10 tahun 2008 Penetapan kursi
didasarkan jumlah suara sebagai berikut :
- Tahap I(pertama) : Penetapan Kursi didasarkan BPP suara syah
partai-partai yang lolos Parliamentary Threshhold adalah Dapil I =
104.948 dan Dapil II =10.930 suara, sehingga perolehan kursi
partai yang melebihi BPP adalah :
Dapil I : Golkar dengan jumlah suara sebesar 143.482 (1 kursi)
Dapil II : tidak ada.
- Tahap II(kedua) : Penetapan kursi didasarkan perolehan suara di
atas 50% BPP adalah Dapil I = 52.474 dan Dapil II = 50.965 suara,
Dapil I(satu): Partai Demokrat 1(satu) kursi,Partai PKS 1(satu)kursi, PPP 1(satu) kursi, dan PKB 1(satu)
Kursi
Dapil II Partai Golkar 1 kursi, P.Demokrat 1 kursi,PKS 1
kursi, PPP 1 kursi dan PDIP 1 kursi.
- Tahap III(tiga) : Penetapan kursi didasarkan sisa gabungan
suara Dapil I dan dapil II digabung Ke Provinsi.
Gabungan suara Dapil I dan Dapil II PAN
memperoleh 78.278 suara, dan Gerindra
memperoleh 65.754 suara dan Hanura
memperoleh 34.449 suara. Sehingga suara sisa
tertinggi dimiliki PAN , dengan demikian PAN
yang berhak mendapatkan 1 Kursi di Dapil I .
Tahap I Dapil I(satu) Dapil II(dua)
Golkar
Tahap II Demokrat Golkar
PKS Demokrat
PPP PKS
PKB PPP
PDIP
Tahap III PAN
-d. Bahwa Pasal 24 angka 8 Peraturan KPU No.15 Tahun 2009 tentang
Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi, dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah, secara tegas mengatur:
“Apabila masih terdapat sisa kursi yang belum terbagi atau sisa
suara masing-masing Partai Politik peserta Pemilu Anggota DPR
tidak mencapai angka BPP DPR yang baru, maka penetapan
perolehan kursi Partai Politik peserta Pemilu Anggota DPR
dilakukan dengan cara membagikan sisa kursi kepada Partai
Politik peserta Pemilu Anggota DPR di provinsi satu demi satu
berturut-turut sampai semua sisa kursi habis terbagi berdasarkan
sisa suara terbanyak yang dimiliki oleh tiap Partai Politik secara
berurutan.”
e. Bahwa Hasil Rapat Pleno KPUD Provinsi Kalimantan Selatan pada
penghitungan Tahap Ketiga terdapat sisa 1(satu) kursi yang belum
habis terbagi, dimana rincian perolehan suara partai politik adalah
sebagaiberikut:
HASIL PEMILU DI KALIMANTAN SELATAN
JUMLAH PEROLEHAN SUARA DAN PERKIRAAN KURSI
No. Partai Jumlah Suara Jumlah Suara Total Perolehan Kursi Perolehan Kursi
Dapil I Dapil II Dapil I Dapil II
1 Golkar 143.462 102.096 245.558 1 1
2 Demokrat 108.714 119.241 227.955 1 1
3 PKS 94.392 61.970 156.362 1 1
4 PPP 98.003 53.469 151.472 1 0
5 PDI-P 42.523 60.369 102.892 0 1
6 PAN 39.671 38.607 78.278 1 0
7 PKB 61.972 14.644 76.616 1 0
8 Gerindra 35.036 30.718 65.754 0 1
9 Hanura 5.913 28.536 34.449 0 0
f. Bahwa berdasarkan Pasal 25 ayat (3) huruf e Peraturan KPU Nomor 15
Tahun 2009, maka: “Bagi Partai Politik yang tidak memperoleh kursi
pada penghitungan Tahap Pertama dan Tahap Kedua, suara sah yang
diperoleh Partai Politik tersebut dikategorikan sebagai sisa suara.”
g. Bahwa dari rekapitulasi tersebut di atas, akumulasi jumlah sisa suara
dari DAPIL I dan II Provinsi Kalimantan Selatan menunjukkan bahwa
Partai Amanat Nasional menempati peringkat pertama jumlah (sisa)
suara setelah semua sisa suara ditarik ke tingkat provinsi (akumulasi
dari dua DAPIL Kalimantan Selatan) yaitu sebesar 78.278 (Tujuhpuluh
delapan ribu dua ratus tujuhpuluh delapan) suara, dan disusul oleh PKB
memperoleh 76.616 suara.
h. Bahwa berdasarkan perolehan akumulasi sisa suara tersebut, sesuai
dengan Pasal 24 angka 8 Peraturan KPU Nomor 15 Tahun 2009, yang
tegas mengatur bahwa: “penetapan perolehan kursi Partai Politik
peserta Pemilu Anggota DPR dilakukan dengan cara membagikan sisa
kursi kepada Partai Politik peserta Pemilu Anggota DPR di provinsi
satu demi satu berturut-turut sampai semua sisa kursi habis terbagi
berdasarkan sisa suara terbanyak yang dimiliki oleh tiap Partai
Politik secara berurutan.” Keadaan mana juga sesuai dengan Pasal
206 Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2008 yang mengatur: “Dalam hal
masih terdapat sisa kursi yang belum terbagi dengan BPP DPR yang
baru sebagaimana dimaksud dalam Pasal 205, penetapan perolehan
kursi Partai Politik Peserta Pemilu dilakukan dengan cara membagikan
sisa kursi kepada Partai Politik Peserta Pemilu di Provinsi satu demi
satu berturut-turut sampai semua sisa kursi habis terbagi berdasarkan
sisa suara terbanyak.” Dengan demikian maka sudah seharusnya sisa
Selatan diberikan kepada Partai Amanat Nasional (PAN) sebagai
pengumpul sisa suara terbanyak urutan pertama.;
i. Bahwa oleh karena sisa kursi terdapat di DAPIL I dan Dapil II Provinsi
Kalimantan Selatan, maka 1 (satu) sisa kursi sudah seharusnya didapat
oleh Caleg PAN Nomor urut 1 DAPIL I atas nama Prof DR. Ismet Ahmad,
sebagai Caleg PAN DAPIL I Kalimantan Selatan yang memperoleh suara
terbanyak (Bukti P-3);
j. Bahwa berdasarkan Pasal 205 jo Pasal 206 Undang-Undang Nomor 10
Tahun 2008 jo Pasal 24 Peraturan KPU Nomor 15 Tahun 2009, maka
salah satu sisa kursi harus diberikan kepada Caleg PAN Nomor urut 1
DAPIL I Provinsi Kalimantan Selatan atas nama Prof DR. Ismet Ahmad;
k. Bahwa sesuai dengan fakta-fakta tersebut di atas, maka PEMOHON
sangat berkeberatan dengan Keputusan KPU yang menetapkan sisa
kursi DAPIL I Provinsi Kalimantan Selatan diberikan kepada Partai lain
karena harusnya menjadi hak Partai PAN, karena secara tegas
penempatan atau pembagian tersebut ber dasar hukum dan sesuai
dengan Pasal 205 jo Pasal 206 Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2008.
Bahwa untuk memperkuat dalil-dalilnya, maka PEMOHON mengajukan
bukti-bukti tertulis sebagai berikut :
Bukti P-1a : SK KPU Pusat Nomor 255/Kpts/KPU/2009
Bukti P-1b : Berita Acara Rekapitulasi Provinsi Kalimantan Selatan dan
Sertifikat Rekapitulasi tanggal 27 April 2009 untuk dapil
dan tanggal 26 April 2009 untuk dapil II;
Berdasarkan fakta hukum dan alasan-alasan tersebut di atas, PEMOHON mohon
kepada Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia untuk menjatuhkan Putusan
1. Mengabulkan Permohonan PEMOHON ;
2. Menyatakan membatalkan SK KPU Pusat No. hasil rapat pleno KPU
tanggal 9 Mei 2009 tentang Penetapan Hasil Pemilu Anggota DPR,
DPD, DPRD Provinsi dan DPRD Kabupaten/Kota dalam PEMILU Tahun
2009 serta Berita Acara Rekapitulasi Hasil Penghitungan Suara Jo.
Berita Acara Rekapitulasi Provinsi Kalimantan Selatan dan Sertifikat
Rekapitulasi, pada tanggal27 April 2009 untuk dapil I dan tanggal
26 April 2009 untuk dapi II;
3. Menetapkan perolehan salah satu sisa kursi DPR RI Daerah Pemilihan
(DAPIL) I Provinsi Kalimantan Selatan untuk Caleg PAN Nomor urut 1
atas nama Prof DR. Ismet Ahmad;
4. Memerintahkan KPU untuk melaksanakan putusan ini ;
4. PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR (DPR RI) Dapil NTT 1
a. Bahwa PEMOHON sangat berkeberatan dengan SK KPU Pusat hasil
rapat Pleno KPU tanggal 9 Mei 2009 tentang Penetapan Hasil
Pemilu Anggota DPR, DPD, DPRD Provinsi dan DPRD
Kabupaten/Kota dalam PEMILU Tahun 2009 serta Berita Acara
Rekapitulasi Hasil Penghitungan Suara (Bukti P-1a) Jo. Berita
Acara Rekapitulasi Provinsi Nusa Tenggara Timur dan Sertifikat
Rekapitulasi, pada tanggal 27 April 2009 (Bukti P-1b);
b. Bahwa PEMOHON adalah Caleg PAN untuk DPR RI Nomor urut 1
Daerah Pemilihan (DAPIL) Nusa Tenggara Timur I(satu) (meliputi
wilayah Kabupaten Manggarai Barat, Manggarai, Manggarai Timur,
Ngada, Nagekeo, Ende, Sikka, Flores Timur, Lembata dan Alor )
c. Bahwa berdasarkan UU nomor 10 tahun 2008 Penetapan kursi
didasarkan jumlah suara sebagai berikut :
- Tahap I(pertama) : Penetapan Kursi didasarkan BPP suara sah
partai- partai yang lolos Parliamentary
Threshhold adalah Dapil I = 179.436
(Golkar) dan 105.925(Demokrat) dan Dapil
II = 204.102 (2 kursi demokrat),
181.982(Golkar), 142.881(PDIP)
-Tahap II(kedua) : Penetapan kursi didasarkan perolehan suara di
Atas 50% BPP adalah
Dapil I = 79.905(Golkar) dan 93.761(PDIP)
Dapil II = 82.451(Golkar), 56.419(Gerindra),
51.524
(Hanura)
- Tahap III(tiga) : Penetapan kursi didasarkan sisa gabungan
suara Dapil I dan dapil II digabung Ke Provinsi.
Gabungan suara Dapil I dan Dapil II hanya sisa
2(dua) yang didapat oleh PDIP 87.245 dan
PAN memperoleh 64.617 suara. Sehingga 2
Kursi dari Gabungan Dapil I dan Dapil II di
miliki oleh Partai PDIP dan Partai PAN
Tahap I Dapil I(satu) Dapil II(dua)
Golkar Demokrat
Mendapat 2 kursi
Tahap II Golkar Golkar
PDIP Gerindra
Hanura
Tahap III PDIP
PAN
d. Bahwa Pasal 24 angka 8 Peraturan KPU No.15 Tahun 2009
tentang Pedoman Teknis Penetapan dan Pengumuman Hasil
Pemilihan Umum, Tata Cara Penetapan Perolehan Kursi, Penetapan Calon Terpilih dan Penggantian Calon Terpilih dalam Pemilihan Umum Anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi, dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah, secara tegas mengatur:
“Apabila masih terdapat sisa kursi yang belum terbagi atau sisa
suara masing-masing Partai Politik peserta Pemilu Anggota DPR
tidak mencapai angka BPP DPR yang baru, maka penetapan
perolehan kursi Partai Politik peserta Pemilu Anggota DPR
dilakukan dengan cara membagikan sisa kursi kepada Partai
Politik peserta Pemilu Anggota DPR di provinsi satu demi satu
berturut-turut sampai semua sisa kursi habis terbagi berdasarkan
sisa suara terbanyak yang dimiliki oleh tiap Partai Politik secara
berurutan.”
e. Bahwa Hasil Rapat Pleno KPUD Provinsi Nusa Tenggara Timur pada
penghitungan Tahap Ketiga terdapat sisa 2(dua) kursi yang belum
habis terbagi, dimana rincian perolehan suara partai politik
HASIL PEMILU DI NUSA TENGGARA TIMUR
JUMLAH PEROLEHAN SUARA DAN PERKIRAAN KURSI
No. Partai Jumlah Suara Jumlah Suara Total Perolehan Kursi Perolehan Kursi
Dapil I Dapil II Dapil I Dapil II
1 GOLKAR 179.436 181.982 361.418 2 2
2 DEMOKRAT 105.925 204.102 310.027 1 2
3 PDIP 93.761 142.881 236.642 1 1
4 GERINDRA 49.344 56.419 105.763 0 1
5 HANURA 47.206 51.524 98.730 0 1
6 PAN 28.514 36.103 64.617 0 0
7 PKB 25.858 29.061 54.919 0 0
8 PKS 25.331 10.666 35.997 0 0
9 PPP 19.494 6.299 25.793 0 0
Total 574.869 719.037 1.293.906 4 7
f. Bahwa berdasarkan Pasal 25 ayat (3) huruf e Peraturan KPU
Nomor 15 Tahun 2009, maka: “Bagi Partai Politik yang tidak
memperoleh kursi pada penghitungan Tahap Pertama dan Tahap
Kedua, suara sah yang diperoleh Partai Politik tersebut
dikategorikan sebagai sisa suara.”
g. Bahwa dari rekapitulasi tersebut di atas, akumulasi jumlah sisa
suara dari DAPIL I dan II Provinsi Nusa Tenggara Timur
menunjukkan bahwa Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan
(PDIP)menempati peringkat pertama dengan total suara gabungan
berjumlah 87.345 suara dan Partai Amanat Nasional (PAN)
menempati peringkat kedua dengan total suara gabungan
berjumlah 64.617 suara.
h. Bahwa berdasarkan perolehan akumulasi sisa suara tersebut,
sesuai dengan Pasal 24 angka 8 Peraturan KPU Nomor 15 Tahun
2009, yang tegas mengatur bahwa: “penetapan perolehan kursi
membagikan sisa kursi kepada Partai Politik peserta Pemilu
Anggota DPR di provinsi satu demi satu berturut-turut sampai
semua sisa kursi habis terbagi berdasarkan sisa suara
terbanyak yang dimiliki oleh tiap Partai Politik secara
berurutan.” Keadaan mana juga sesuai dengan Pasal 206
Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2008 yang mengatur: “Dalam hal masih
terdapat sisa kursi yang belum terbagi dengan BPP DPR yang baru
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 205, penetapan perolehan
kursi Partai Politik Peserta Pemilu dilakukan dengan cara
membagikan sisa kursi kepada Partai Politik Peserta Pemilu di
Provinsi satu demi satu berturut-turut sampai semua sisa kursi
habis terbagi berdasarkan sisa suara terbanyak.” Dengan
demikian maka sudah seharusnya sisa kursi (sebanyak dua kursi)
untuk DAPIL I dan II Provinsi Nusa Tenggara Timur diberikan
kepada Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) dan Partai
Amanat Nasional (PAN) sebagai pengumpul sisa suara terbanyak
urutan pertama dan kedua.;
i. Bahwa oleh karena sisa kursi terdapat di DAPIL I dan Dapil II
Provinsi Nusa Tenggara Timur, maka 2 (dua) sisa kursi sudah
seharusnya didapat oleh Caleg PAN Nomor urut 1 DAPIL I atas
nama Laurens Bahang Dama, sebagai Caleg PAN DAPIL I Nusa Tenggara Timur yang memperoleh suara 64.617 sebagai urutan
kedua dalam memperoleh sisa kursi. (Bukti P-3);
j. Bahwa berdasarkan Pasal 205 jo Pasal 206 Undang-Undang Nomor
10 Tahun 2008 jo Pasal 24 Peraturan KPU Nomor 15 Tahun 2009,
maka salah satu sisa kursi harus diberikan kepada Caleg PAN
Nomor urut 1 DAPIL I Provinsi Nusa Tenggara Timur atas nama
k. Bahwa sesuai dengan fakta-fakta tersebut di atas, maka PEMOHON
sangat berkeberatan dengan Keputusan KPU yang menetapkan sisa
kursi DAPIL I Provinsi Nusa Tenggara Timur diberikan kepada
Partai Gerindra dan Hanura, karena secara tegas penempatan
atau pembagian tersebut berdasarkan hukum dan sesuai dengan
Pasal 205 jo Pasal 206 Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2008.
Bahwa untuk memperkuat dalil-dalilnya, maka PEMOHON mengajukan
bukti-bukti tertulis sebagai berikut :
Bukti P-1a : SK KPU Pusat Nomor 255/Kpts/KPU/2009
Bukti P-1b : Berita Acara Rekapitulasi Provinsi Nusa Tenggara Timur
dan Sertifikat Rekapitulasi tanggal 6 Mei 2009 untuk dapil
I dan tanggal 7 Mei 2009 untuk dapil II;
Berdasarkan fakta hukum dan alasan-alasan tersebut di atas, PEMOHON mohon
kepada Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia untuk menjatuhkan Putusan
sebagai b2erikut :
1. Mengabulkan Permohonan PEMOHON ;
2. Menyatakan membatalkan SK KPU Pusat No. hasil rapat pleno KPU
tanggal 9 Mei 2009 tentang Penetapan Hasil Pemilu Anggota DPR,
DPD, DPRD Provinsi dan DPRD Kabupaten/Kota dalam PEMILU Tahun
2009 serta Berita Acara Rekapitulasi Hasil Penghitungan Suara Jo.
Berita Acara Rekapitulasi Provinsi Nusa Tenggara Timur dan
Sertifikat Rekapitulasi, pada tanggal 6 Mei 2009 untuk dapil I dan
tanggal 7 Mei 2009 untuk dapil II;
3. Menetapkan perolehan salah satu sisa kursi DPR RI Daerah Pemilihan
(DAPIL) I Provinsi Nusa Tenggara Timur untuk Caleg PAN Nomor urut
1 atas namaLaurens Bahang Dama;
5. PROVINSI KALIMANTAN TIMUR (DPR RI) DAERAH PEMILIHAN KALIMANTAN TIMUR
a. Bahwa PEMOHON sangat berkeberatan dengan SK KPU Pusat hasil rapat
Pleno KPU No. 252/KPTS/KPU/V/2009 tertanggal 9 Mei 2009 tentang
Penetapan Hasil Pemilu Anggota DPR, DPD, DPRD Provinsi dan DPRD
Kabupaten/Kota dalam PEMILU Tahun 2009 serta Berita Acara
Rekapitulasi Hasil Penghitungan Suara (Bukti P-1a) Jo. Lampiran
Formulir Model DC-1 DPR RI KPU Provinsi Kalimantan Timur pada
tanggal 1 Mei 2009 (Bukti P-1b) jo Berita Acara Rekapitulasi Kota
Samarinda, Sertifikat Rekapitulasi dan Lampiran Model DB-1 pada
tanggal 3 Mei 2009(Bukti P-1c);
b. Bahwa terdapat kesalahan dalam Penghitungan suara Daerah Pimilihan
Propvinsi Kalimantan Timur untuk Kursi DPR RI. Bahwa telah terjadi
kecurangan-kecurangan yang merugikan PEMOHON dan Partai Politik
peserta Pemilihan Umum lainnya. Bahwa kasus ini terjadi di tingkat
Kecamatan Samarinda Ulu, Samarinda Seberang dan Palaran Kota
Samarinda yang termuat dalam sertifikat Rekapitulasi PPK Kecamatan
dalam Formulir Model DA - 1(Bukti P-2);
c. Bahwa Pemohon cq. Saksi DPW PAN telah berupaya untuk mendapatkan
seluruh dokumen dan/atau data formulir C-1, DA-1, DA-B dengan cara
meminta langsung kepada Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK). Akan
tetapi permintaan tersebut tidak dipenuhi, dan untuk itu saksi PAN cq.
DPW PAN Kaltim telah mengajukan surat keberatan kepada Panitia
Pengawas Pemilu Provinsi Kalimantan Timur (Bukti P-3);
d. Bahwa PEMOHON sangat berkeberatan dengan hasil SK KPU Pusat
tersebut karena telah merugikan PEMOHON. Sebenarnya kursi ke 8
Balikpapan, Kabupaten Penajam Paser Utara, Kabupaten Paser,
Kabupaten Kutai Kartanegara, Kabupaten Kutai Barat, Kota Bontang,
Kabupaten Kutai Timur, Kabupaten Berau, Kot Tarakan, Kabupaten
Malinau, Kabupaten Nunukan, Kabupaten Tanah Tidung ;
e. Bahwa total suara PEMOHON seharusnya adalah 63.886 suara,
sedangkan versi KPU 61.705 suara, sedangkan Partai Gerindra menurut
versi KPU 64.390 suara, seharusnya 63.554 suara, dengan demikian
PEMOHONLAH yang mempunyai hak untuk kursi ke 8 (terakhir) pada
Dapil Kaltim tersebut dan bukan untuk caleg Gerindra (Bukti P-4) ;
f. Bahwa penggelembungan dilakukan oleh PPK Kec.Samarinda Ulu,
Kec.Samarinda Seberang, Kec.Palaran, total suara yang
digelembungkan adalah sebanyak 836 suara ;
g. Bahwa di sisi lain PPK Kec.Samarinda Ulu (Bukti P – 5), Kec.Samarinda
Seberang (Bukti P – 6), Kec.Palaran (Bukti P – 7), telah menghilangkan
suara PEMOHON sebanyak 2.181 suara, bersama ini PEMOHON uraikan
tabel-tabel untuk mengungkapkan kecurangan tersebut :
Tabel : Perolehan Suara Caleg DPR – RI PAN
KOTA KECAMATAN KELURAHAN TPS JUMLAH Suara per TPS Samarinda Samarinda Ulu Air Hitam 1 1
19 10
Jumlah Suara PAN Model C-1/TPS 461 Jumlah Suara PAN Model DA-1/Pleno PPK 158
Teluk Lerong Ilir 1 18
Jumlah Suara PAN Model C-1/TPS 535 Jumlah Suara PAN Model DA-1/Pleno PPK 232
8 13
Jumlah Suara PAN Model C-1/TPS 613 Jumlah Suara PAN Model DA-1/Pleno PPK 150
16 34
Jumlah Suara PAN Model C-1/TPS 426 Jumlah Suara PAN Model DA-1/Pleno PPK 203
Baqa 1 16
Jumlah Suara PAN Model C-1/TPS 381 Jumlah Suara PAN Model DA-1/Pleno PPK 125
17 15
Jumlah Suara PAN Model C-1/TPS 410
Jumlah Suara PAN Model DA-1/Pleno PPK 126
25 22
Jumlah Suara PAN Model C-1/TPS 541
Jumlah Suara PAN Model DA-1/Pleno PPK 192
Tabel : Perolehan Suara Caleg DPR –RI Gerindra
KOTA KECAMATAN KELURAHAN TPS JUMLAH
Suara per TPS
Samarinda Samarinda Ulu Air Hitam 1 5
2 6
Teluk Lerong Ilir 1 1
Jumlah Suara GERINDRA Model C-1/TPS 73 Jumlah Suara GERINDRA Model DA-1/Pleno PPK 151
26 1
Jumlah Suara GERINDRA Model C-1/TPS 131 Jumlah Suara GERINDRA Model DA-1/Pleno PPK 279
Rapak Dalam 1 6
Jumlah Suara GERINDRA Model C-1/TPS 114 Jumlah Suara GERINDRA Model DA-1/Pleno PPK 174
Baqa 1 7
2 5
3 4
5 9
Jumlah Suara GERINDRA Model C-1/TPS 112 Jumlah Suara GERINDRA Model DA-1/Pleno PPK 225
28 4 Jumlah Suara GERINDRA Model C-1/TPS 170
Jumlah Suara GERINDRA Model DA-1/Pleno PPK 320
Palaran Rawa Makmur 1 2
Jumlah Suara GERINDRA Model C-1/TPS 103
Oleh karenanya, PEMOHON telah dapat membuktikan adanya kecurangan
yang merugikan PEMOHON maka mohon Majelis Hakim Konstitusi dapat
memutus perkara dengan penuh keadilan ;
Berdasarkan fakta hukum dan alasan-alasan tersebut diatas, PEMOHON mohon
kepada Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia untuk menjatuhkan Putusan
sebagai berikut :
1. Mengabulkan Permohonan PEMOHON ;
2. Menyatakan membatalkan Keputusan KPU
No.255/KPTS/KPU/Tahun 2009 tanggal 9 Mei 2009 Hasil
perhitungan suara Pemilihan Umum Anggota DPR RI, DPD dan
DPRD Provinsi/Kabupaten/Kota tahun 2009 serta Berita Acara dan
Rekapitulasi Hasil Penghitungan Suara KPU Provinsi Kalimantan
Timur tanggal 3 Mei 2009 Jo Berita Acara dan Sertifikat
Rekapitulasi KPU Kota Samarinda, Kota Balikpapan, Kabupaten
Penajam Paser Utara, Kabupaten Paser, Kabupaten Kutai
Kartanegara, Kabupaten Kutai Barat, Kota Bontang, Kabupaten
Kutai Timur, Kabupaten Berau, Kot Tarakan, Kabupaten Malinau,
Kabupaten Nunukan, Kabupaten Tanah Tidung ;
3. Menetapkan hasil penghitungan suara yang benar sebagai berikut : Perolehan suara caleg (PAN) PEMOHON 63.886, untuk memberikan kursi ke 8 (terakhir) kepada Nomor urut 1 yang bernama Mohammad Yasin Kara, SE. Pada dapil Provinsi Kaltim tersebut ;
6. PROVINSI RIAU (DPR-RI) DAERAH PEMILIHAN RIAU 2
a. Bahwa PEMOHON berkeberatan dengan hasil SK Penetapan Komisi Pemilihan Umum (KPU) Pusat, tanggal 9 Mei 2009, tentang Penetapan Hasil Pemilu Anggota DPR, DPD, DPRD Provinsi dan SPRD Kabupaten/Kota dalam Pemilu Tahun 2009 serta Berita Acara Rekapitulasi Hasil Penghitungan Suara (Bukti P-1a) Jo. Berita Acara Rekapitulasi Provinsi Riau dan Sertifikat Rekapitulasi, pada tanggal 1 Mei 2009 (Bukti P-1b);
b. Bahwa PEMOHON adalah Caleg PARTAI AMANAT NASIONAL (PAN) untuk DPR RI Nomor Urut 1 Daerah Pemilihan Riau II Provinsi Riau meliputi wilayah (Kabupaten Indragiri Hilir, Indragiri Hulu, Kuantan Singingi, Pelalawan dan Kampar) atas namaICU ZUKAFRIL ;
c. Bahwa Keputusan KPU tanggal 9 Mei 2009 telah menetapkan suara Daerah Pemilihan Riau II Provinsi Riau (Kabupaten Indragiri Hilir, Indragiri Hulu, Kuantan Singingi, Pelalawan dan Kampar) sebanyak 2 kursi dibagikan atau diberikan kepada Partai Kebangkitan Bangsan dan Partai Golongan Karya yang masing-masing mendapat 1 kursi ;
d. Bahwa Pasal 24 angkat 8 Peratura KPU No. : 15 Tahun 1009, tentang Pedoman Tekhnis Penetapan dan Pengumuman Hasil Pemilihan Umum, Tata Cara Penetapan Perolehan Kursi, Penetapan Calon Terpilih dan Penggantian Calon Terpilih dalam Pemilihan Umum Anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah secara tegas mengatur ;
habis terbagi berdasarkan sisa suara terbanyak yang dimiliki oleh tiap Partai Politik secara berurutan”.
e. Bahwa Hasil Rapat Pleno KPUD Provinsi Riau, dimana rincian perolehan suara Partai Politik yang memenuhi ketentuan ambang batas perolehan suara Pemilu DPR(Parlianmentary Thershould),adalah sebagai berikut :
No. Urut
PARTAI POLITIK JUMLAH SUARA
1 PARTAI HATI NURANI RAKYAT
34.535
5 PARTAI GERAKAN INDONESIA RAYA
34.275
8 PARTAI KEADILAN SEJAHTERA
46.120
9 PARTAI AMANAT NASIONAL
53.486
13 PARTAI KEBANGKITAN BANGSA
62.747
23 PARTAI GOLONGAN KARYA
254.636
27 PARTAI PERSATUAN PEMBANGUNAN
57.621
28 PARTAI DEMOKRASI INDONESIA PERJUANGAN
64.799
31 PARTAI DEMOKRAT
117.928
No.
NURANI RAKYAT 9.048 3.267 5.113 6.264 10.843 34.535
5
PARTAI GERAKAN INDONESIA RAYA
9.552 3.183 6.487 3.859 11.194 34.275
8
NASIONAL 29.590 6.546 5.657 4.336 7.357 53.486
13
PARTAI KEBANGKITAN BANGSA
9.951 6.261 4.846 10.691 30.998 62.747
23
PARTAI GOLONGAN KARYA
58.592 26.922 31.117 42.563 95.082 254.63 6
27
PARTAI PERSATUAN PEMBANGUNAN
28
PARTAI DEMOKRASI INDONESIA PERJUANGAN
17.430 10.746 9.992 6.633 19.998 64.799
31 PARTAI
DEMOKRAT 43.689 17.024 23.554 10.638 23.023
117.92 8
28
PARTAI DEMOKRASI INDONESIA PERJUANGAN
3
21
4
31 PARTAI
g. Melihat data pembading dari Lembaga Cetro dan hasil dari Rekapitulasi KPU Pusat, bahwa jumlah suara BPP untuk Daerah Pemilihan Riau II sebesar 145.229 suara. Partai Golkar yang memiliki jumlah Perolehan Suara sebesar 254.636 suara, secara langsung berhak terhadap 1 kursi. Untuk kursi selanjutnya melakukan tahap kedua yaitu BBP : (50+1), dan yang memiliki kursi ini menurut data KPU adalah Partai Golkar 2 kursi dan Partai Demokrat 1 kursi serta Partai Kebangkitan Bangsa 1 kursi.
h. Bahwa dari data-data tersebut di atas, dengan jumlah suara Partai Amanat Nasional sebesar 74.038 suara, maka kursi ke-5 dari Derah Pemilihan Riau II Provinsi Riau merupakan kursi untuk Partai Amanat Nasional. Hal ini sesuai dengan Pasal 24 angka 8 Peraturan KPU Nomor : 15 Tahun 2009, yang tegas mengatur bahwa : “penetapan perolehan kursi Partai Politik peserta Pemilu Anggota DPR dilakukan dengan cara membagikan sisa kursi kepada Partai Politik
peserta Pemilu Anggota DPR di Provinsi satu demi satu berturut-turut samapi
semua sisa kursi terbagi berdasarkan sisas suara terbanyak yang dimiliki oleh tiap Partai Politik secara berurutan. Sehingga sisa kursi dibagi habis dan tidak ada penggabungan dengan kursi Provinsi.
i. Bahwa PEMOHON sangat kesulitan untuk mendapatkan asli dokumen yang diberi stempel dan tandatangan basah sebagaimana ketentuan perundangan-undangan, karena anggota PPK tersebut banyak yang menghilang karena adanya keberatan-keberatan dari Parpol peserta Pemilu di Dapil Riau II dan dilaporkan kepada Panitia Pengawas Pemilu(Bukti P-3)
Bahwa untuk memperkuat dalil-dalilnya, maka PEMOHON mengajukan bukti-bukti tertulis sebagai berikut :
Bukti P-1a : SK KPU Pusat tanggal 9 Mei 2009;
Bukti P-1b : SK KPU Provinsi Riau, tanggal 1 Mei 2009 ;
Bukti P-2a : Berita Acara PPK
Bukti P-3 : Laporan kepada Panwaslu ;
Berdasarkan fakta hukum dan alasan-alasan tersebut diatas, PEMOHON mohon kepada Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia untuk menjatuhkan Putusan sebagai berikut :
2. Menyatakan membatalkan SK KPU Pusat hasil rapat Pleno KPU tanggal 9 Mei 2009 tentang Penetapan Hasil Pemilu Anggota DPR, DPD, DPRD Provinsi dan DPRD Kabupaten/Kota dalam Pemilu tahun 2009 serta Berita Acara Rekapitulasi Hasil Perhitungan suara Jo. Berita Acara Rekapitulasi Provinsi Riau dan Sertifikat Rekapitulasi pada tanggal 1 Mei 2009 ;
3. Menyatakan membatalkan SK KPU Pusat hasil rapat Pleno KPU tanggal 9 Mei 2009 tentang Penetapan Hasil Pemilu Anggota DPR, DPD, DPRD Provinsi dan DPRD Kabupaten/Kota dalam Pemilu tahun 2009 serta Berita Acara Rekapitulasi Hasil Perhitungan suara Jo. Berita Acara Rekapitulasi Provinsi Riau dan Sertifikat Rekapitulasi pada tanggal 1 Mei 2009 ;
4. Menyatakan membatalkan SK KPU yang menempatkan Caleg Partai Kebangkitan Bangsa dari Daerah Pemilihan Riau II Provinsi Riau yang diberikan jatah sisa kursi sesuai dengan SK KPU tersebut, dan menetapkan perolehan salah satu sisa kursi DPR RI Daerah Pemilihan (DAPIL) Riau I untuk Caleg PAN Nomor urut 1 DAPIL Jakarta I atas nama ICU ZUKAFRIL;
5. Memerintahkan KPU untuk melaksanakan putusan ini ;
7. BENGKULU (DPR RI) DAPIL BENGKULU
a. Bahwa PEMOHON sangat berkeberatan dengan SK KPU Pusat hasil rapat Pleno KPU No. 255/Kpts/KPU/TAHUN 2009 tanggal 9 Mei 2009 tentang Penetapan Hasil Pemilu Anggota DPR, DPD, DPRD Provinsi dan DPRD Kabupaten/Kota dalam PEMILU Tahun 2009 serta Berita Acara Rekapitulasi Hasil Penghitungan Suara (Bukti P-1a) Jo. Berita Acara Rekapitulasi Provinsi Bengkulu, pada hari Sabtu, tanggal 25 April 2009 (Bukti P-4); Jo. Berita Acara Rekapitulasi Kabupaten KAUR dan Sertifikat Rekapitulasi, pada hari Senin, tanggal 20 April 2009(Bukti P-3);
Kab. Bengkulu Utara, Kab. Rejang Lebong, Kab. Kepahiang, Kab. Seluma, Kab. Muko-Muko, Kab. Bengkulu Selatan dan Kabupaten Kaur) atas nama Hj. Dewi Coryati, M.Si.;
c. Bahwa Keputusan KPU No. 255/Kpts/KPU/TAHUN 2009 Tanggal 9 Mei 2009 mengenai penetapan hasil pemilu yang memiliki korelasi langsung dengan penentuan kursi DPR RI sebanyak 4 (empat) kursi di DAPIL Provinsi Bengkulu, secara terang dan tegas tidak mengikuti peraturan perundang-undangan yang berlaku;
d. Bahwa penghitungan suara yang diambil oleh KPU Pusat sehubungan penghitungan dan penetapan suara Pemohon untuk Kabupaten Kaur dilakukan dengan cara serampangan, yaitu hanya bersumber dari saksi-saksi partai politik, dan tidak menggunakan sumber-sumber otentik yang secara hierarkis dimulai dari penghitungan model C-1 di tingkat TPS, model DA di tingkat PPK, model DB di tingkat KPUD Kabupaten/Kota, dan model DC di tingkat KPUD Provinsi. Dan oleh karena itulah Pemohon sangat dirugikan, apalagi dalam pengitungan KPU Pusat, terjadi pengurangan yang luar biasa besar (14.200 suara) terhadap total jumlah suara Pemohon. Dari yang semestinya 34.390 suara, menjadi hanya sejumlah 20.590 suara (Bukti P-5);
e. Bahwa oleh karena adanya penyimpangan sebagaimana dimaksud di atas maka KPU Provinsi Bengkulu (secara kelembagaan) yang menghadiri rapat pleno penghitungan suara di KPU Pusat tidak mau menandatangani berita acara penetapan perolehan suara yang dibuat oleh KPU Pusat;
Provinsi Bengkulu dan Sertifikat Rekapitulasi, pada hari Sabtu, tanggal 25 April 2009 sebesar 16.199 suara (vide, Bukti P-4); Adapun total rekapitulasi dari 15 PPK di Kabupaten Kaur adalah 16.129 suara (Bukti P-2);
g. Bahwa dari penghitungan manual bukti-bukti formulir model C-1 dari 300 TPS se-Kabupaten Kaur, pemohon dapat memastikan dan membuktikan berdasarkan bukti-bukti otentik (dari 300 formulir C-1 yang berhasil pemohon dapatkan) (Bukti P-1), bahwa total suara Pemohon di Kabupaten Kaur adalah sebesar 20.079 suara; keadaan mana berbeda secara mencolok dibandingkan dengan hasil rekapitulasi perhitungan yang dikeluarkan oleh KPUD Kabupaten Kaur, KPUD Provinsi Bengkulu, maupun KPU Pusat;
h. Bahwa oleh karena adanya kesimpang-siuran dan inkonsistensi data yang dikeluarkan oleh KPU yang khususnya terjadi di Kabupaten Kaur (Dapil Bengkulu) tersebut, maka Pemohon melakukan penelusuran sendiri, yang ternyata hasilnya sangat mengejutkan, karena adanya selisih angka yang sangat signifikan antara jumlah suara yang sebenarnya dengan jumlah suara yang dikeluarkan KPU, yang mana dapat digambarkan sebagai berikut:
Jumlah Suara Sebenarnya KPU Selisih Suara
20.079 suara Rekap 15 PPK : 16.129 suara 3950 suara 20.079 suara Kabupaten Kaur: 15.929 suara 4150 suara 20.079 suara Provinsi : 16.199 suara 3880 suara 20.079 suara Pusat : 6.279 suara 13.600 suara
*) Jumlah suara sebenarnya diambil dari rekapitulasi manual 300 bukti formulir model C-1 yang berhasil dikumpulkan (oleh Pemohon).
yang dibuatnya sendiri, yaitu Pasal 57 Peraturan KPU Nomor 46 Tahun 2008 tentang Peraturan Komisi Pemilihan Umum tentang Pedoman Teknis Pelaksanaan Rekapitulasi Penghitungan Hasil Perolehan Suara di Kecamatan, Kabupaten/Kota dan Provinsi serta Tingkat Nasional dalam Pemilihan Umum Anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi, dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten/Kota Tahun 2009 yang mengatur:
(1) Dalam hal terjadi perbedaan jumlah suara pada sertifikat rekapitulasi hasil penghitungan perolehan suara dari PPK dengan sertifikat rekapitulasi hasil penghitungan perolehan suara yang diterima oleh KPU Kabupaten/Kota, saksi Peserta Pemilu tingkat Kabupaten/Kota dan saksi Peserta Pemilu tingkat Kecamatan, Panwaslu Kabupaten/Kota, atau Panwaslu Kecamatan, maka KPU Kabupaten/Kota melakukan pembetulan data melalui pengecekan dan/atau rekapitulasi ulang data yang termuat pada sertifikat rekapitulasi hasil penghitungan perolehan suara untuk PPK yang bersangkutan.
(2) Dalam hal terjadi perbedaan data jumlah suara pada sertifikat rekapitulasi hasil penghitungan suara dari KPU Kabupaten/Kota dengan sertifikat rekapitulasi hasil penghitungan suara yang diterima oleh KPU Provinsi, saksi Peserta Pemilu tingkat provinsi dan saksi Peserta Pemilu tingkat Kabupaten/Kota, panitia pengawas Pemilu provinsi, atau panitia pengawas Pemilu Kabupaten/Kota, maka KPU Provinsi melakukan pembetulan data melalui pengecekan dan/atau rekapitulasi ulang data yang termuat pada sertifikat rekapitulasi hasil penghitungan perolehan suara untuk KPU Kabupaten/Kota yang bersangkutan.
pengecekan dan/atau rekapitulasi ulang data yang termuat pada sertifikat rekapitulasi hasil penghitungan perolehan suara untuk KPU Provinsi yang bersangkutan.
i. Bahwa bilamana terjadi perbedaan dan atau kesimpang-siuran data, maka berdasarkan ketentuan tersebut, semestinya KPU melakukan rekapitulasi ulang yang didasarkan pada formulir model C-1 yang dibuat dan ditetapkan di tingkat TPS;
j. Bahwa atas terjadinya perbedaan data dimaksud, dalam proses penetapan dan penghitungan suara KPU justru menggunakan basis data yang nyata-nyata ilegal, yang hanya bersumber dari catatan-catatan saksi partai politik;
k. Bahwa KPU Pusat telah melakukan manipulasi bahwa seolah-olah penghitungan suara telah melalui prosedur, yaitu berdasarkan formulir Model DC-1 DPR RI yang dikeluarkan KPUD Provinsi Bengkulu dan atau formulir model DB-1 DPR RI yang dibuat oleh KPUD Kabupaten Kaur. Namun diakui oleh KPUD Provinsi Bengkulu maupun KPUD Kabupaten Kaur, formulir Model DC-1 DPR RI dan Model DB-1 DPR RI daerah pemilihan Kabupaten Kaur adalah palsu, karena tidak ada satupun anggota KPUD Provinsi Bengkulu maupun KPUD Kabupaten Kaur membubuhkan tanda tangan di atas formulir Model DC-1 DPR RI dan Model DB-1 DPR RI yang digunakan sebagai rujukan penghitungan KPU Pusat;
l. Bahwa manipulasi data Model DC-1 DPR RI dan Model DB-1 DPR RI yang digunakan untuk menetapkan hasil pemilihan umum DPR RI (khususnya Dapil Bengkulu jo Kabupaten Kaur), semata-mata didasarkan pada keterangan dan atau catatan-catatan yang dibuat oleh partai politik;
n. Bahwa total suara yang seharusnya diperoleh Pemohon, setelah dilakukan perhitungan secara manual berdasarkan formulir C-1 Kabupaten Kaur adalah sebesar 34.390 suara, yang dasar perhitungannya adalah sebagai berikut:
Jml suara di Kab. Kaur berdasar C-1 20.079 suara
Jml suara di Kab. Kaur berdasar DC-1 16.199 suara -SELISIH 3.880 suara
(Terbilang:Tiga ribu delapan ratus delapan puluhsuara).
Maka,jumlah total suara PEMOHON (Yang seharusnya):
Jml suara berdasar DC-1 DPR 30.510 suara
Selisih jml. suara di Kab. Kaur 3.880 suara + TOTAL 34.390 suara
(Terbilang:Tiga puluh empat ribu tiga ratus sembilan puluh suara).
o. Bahwa oleh karena itu, jumlah suara Pemohon adalah lebih banyak (berselisih 123 suara) dibandingkan dengan Caleg lain yang mendapatkan jatah kursi ke-3 di Dapil Provinsi Bengkulu;
p. Bahwa urutan perolehan suara berdasarkan Lampiran Model DC-1 DPR KPUD Provinsi Bengkulu adalah sebagai-berikut:
NAMA PARTAI, NOMOR DAN NAMA CALON ANGGOTA DPR JUMLAH AKHIR
A 9 PARTAI AMANAT NASIONAL 7.163
B 1. PATRICE RIO CAPELLA (Ranking 1) 34.167
2. HJ. DEWI CORYATI, M.Si. (Ranking 2) 30.510
3. HERMANSYAH NAZIRUN, SH, MPd. 4.777
4. Drs. ZULKARNAIN BACHTIAR 4.657
5. Dra. NURMANINGSIH, MBA 2.743
Adapun, setelah dilakukan penelusuran dan penghitungan manual berdasarkan formulir model C-1 yang didapatkan Pemohon, maka tabulasi perolehan suara partai (PAN) dan para Calegnya adalah sebagai berikut:
NAMA PARTAI, NOMOR DAN NAMA CALON ANGGOTA DPR JUMLAH AKHIR
A 9 PARTAI AMANAT NASIONAL 7.163
B 1. PATRICE RIO CAPELLA (Ranking 2) 34.167
2. HJ. DEWI CORYATI, M.Si. (Ranking 1) 34.390
3. HERMANSYAH NAZIRUN, SH, MPd. 4.777
4. Drs. ZULKARNAIN BACHTIAR 4.657
5. Dra. NURMANINGSIH, MBA 2.743
JUMLAH PEROLEHAN SUARA (A+B) 87.897
Bahwa untuk memperkuat dalil-dalilnya, maka PEMOHON mengajukan bukti-bukti tertulis sebagai berikut :
Bukti P-1a : SK KPU Pusat Nomor 255/Kpts/tanggal 9 April 2009 ;
Bukti P-1 : Formulir C-1, Kabupaten KAUR, sebanyak 300 TPS;
Bukti P-2 : Formulir DA-1, PPK Kecamatan (15 kecamatan) di Kabupaten Kaur, Bengkulu;
Bukti P-3 : Formulir DB-1, KPUD Kabupaten KAUR, Bengkulu;
Bukti P-4 : Formulir DC-1, KPU Provinsi Bengkulu
Bukti P-5 : Lampiran Model DB-1 DPR yang dikeluarkan oleh KPU Pusat (yang “konon”diisi berdasarkan formulir DA-1 DPR).
Berdasarkan fakta hukum dan alasan-alasan tersebut di atas, PEMOHON mohon kepada Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia untuk menjatuhkan Putusan sebagai berikut :
2. Menyatakan membatalkan Keputusan KPU Nomor 255/Kpts/Tahun 2009 tanggal 9 Mei 2009 Hasil perhitungan suara Pemilihan Umum Anggota DPR RI, DPD dan DPRD Provinsi/Kabupaten/Kota tahun 2009;
3. Menetapkan bahwa perolehan suara Caleg PAN Nomor urut 2 Daerah Pemilihan (DAPIL) Bengkulu di daerah pemilihan di Kabupaten Kaur atas nama Hj. Dewi Coryati, M.Si. adalah sebesar 20.079 suara dan bukan 6279 suara sebagaimana perhitungan KPU;
4. Menetapkan bahwa perolehan suara Caleg PAN Nomor urut urut 2 Daerah Pemilihan (DAPIL) Bengkulu (meliputi 9 Kabupaten/Kota: Kota Bengkulu, Kab. Bengkulu Utara, Kab. Rejang Lebong, Kab. Kepahiang, Kab. Seluma, Kab. Muko-Muko, Kab. Bengkulu Selatan dan Kabupaten Kaur) atas nama Hj. Dewi Coryati, M.Si.adalah sebesar 34.390 suara;
5. Membatalkan kursi DPR yang diberikan kepada Caleg PAN Nomor urut 1 Dapil Bengkulu (berdasarkan Keputusan KPU Nomor 255/Kpts/Tahun 2009 tanggal 9 Mei 2009) atas nama Patrice Rio Capella;
6. Menetapkan Hj. Dewi Coryati, M.Si. memperoleh 1 (satu) kursi DPR RI mewakili Dapil Bengkulu;
7. Memerintahkan KPU untuk melaksanakan putusan ini.
8. Provinsi Sulawesi Tengah (DPR R)I Dapil Sulawesi Tengah DPR RI
POKOK PERMOHONAN;
Pada pokoknya permohonan Pemohon adalah mengenai:
1. Perolehan kursi Partai Amanat Nasional (PAN) untuk Dapil Sulawesi Tengah DPR RI;
untuk Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia, yang merugikan Pemohon di Dapil Sulawesi Tengah DPR RI (Bukti P-1);
2. Bahwa berdasarkan data KPU Propinsi Sulawesi Tengah, daftar pemilih tetap untuk dapil Sulawesi Tengah adalah sebanyak 1.655.974. dan data suara sah adalah 1.199.830. sedang suara tidak sah adalah 96.989. dan total pemilih 1.296.819 (Bukti- P2);
3. Bahwa H.Nurhadi M.Musawir, SH, MM, MBA, adalah salah satu calon anggota DPR RI dari Partai Amanat Nasional nomor urut 1 dengan suara terbanyak.
4. Bahwa berdasarkan hasil perhitungan suara di KPU sulawesi tengah PAN memperoleh suara 55.352 suara, dengan demikian PAN masuk peringkat ke 6 dari seluruh peserta pemilu di Sulawesi Tengah. (Bukti P-3)
5. Bahwa dengan perolehan suara tersebut di angka empat diatas, maka PAN berhak mendapatkan 1 (satu) kursi DPR RI.
6. Bahwa berdasarkan hasil perhitungan selanjutnya Perolehan suara Partai Golkar dan Partai Demokrat mengalami perubahan yang sangat berarti, yaitu Suara Partai Golkar yang semula 183.475 menjadi 221.579.. sedangkan partai demokrat yang semula 180.325 menjadi 213.637. Sehingga terjadi penggelembungan suara partai golkar sebesar 38.122 dan penggelembungan suara partai demokrat sebesar 33.312. Bahwa berubahnya angka-angka tersebut nampaknya didisain secara sistematis melalui penambahan suara di TPS, PPK dan KPUD dengan merubah suara tidak sah menjadi suara sah dan melalui mengurangi suara partai lain; (Bukti P-4)
8. Bahwa Dewan Pimpinan Pusat Partai Amanat Nasional (DPP PAN) melalui surat tertanggal 6 Mei 2009, telah menyampaikan laporan dan pernyataan keberatan terhadap hasil penghitungan suara, kepada BAWASLU dan tembusan kepada KPU agar dilakukan perhitungan ulang hasil suara di Sulawesi Tengah, karena ada indikasi penggelembungan hasil suara pemilu di Sulawesi Tengah. ( Bukti - P5);
9. Bahwa jumlah suara sah sebanyak 1.199.830 suara, sebagaimana dimaksud diatas, telah terjadi penggelembungan suara sah. Padahal berdasarkan data-data tertulis dari saksi-saksi PAN yang siap dihadirkan dipersidangan Mahkamah Konstitusi yang mulia, jumlah suara sah hanya sebanyak 1.062.106. suara. (Bukti P- 6);
10. Bahwa untuk mendukung permohonan ini, Pemohon siap menghadirkan saksi-saksi untuk memberikan kesaksian dihadapan Majelis Hakim Mahkamah Konstitusi yang mulia.
PETITUM
Bahwa agar asas pelaksanaan pemilu dapat berjalan dengan sebaik-baiknya, maka melalui gugatan ini, kami memohon kepada Ketua Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia untuk berkenan menerima dan memeriksa perkara ini, selanjutnya menjatuhkan putusan dengan amar putusan sebagai berikut:
1. Mengabulkan gugatan penggugat untuk seluruhnya;
2. Menetapkan secara hukum bahwa telah terjadi penggelembungan perolehan suara partai golkar sebesar 38.122 (tiga puluh delapan ribu seratus duapuluh dua) dan partai demokrat sebesar 33.312 (tiga puluh tiga ribu tiga ratus duabelas).
4. Menetapkan BPP untuk Sulawesi Tengah adalah 132.948. yang berasal 797.693. dibagi enam, yaitu 132.948. Sehingga distribusi kursi adalah sebagai berikut : 1. Partai Golkar dengan suara 183.475 mendapatkan 1 kursi, ada sisa suara 50.527 suara, 2. Partai Demokrat dengan 180.325 suara mendapat 1 kursi, ada sisa suara 47.377, 3. PKS dengan 113.760 suara mendapatkan 1 kursi dari sisa suara. 4. Partai Hanura dengan 77.230 suara mendapatkan 1 kursi dari sisa suara, 5. PDIP dengan 70.606 suara mendapatkan 1 kursi dari sisa suara. Dan 6. Partai Amanat Nasional dengan 55.352. Sedang PKB, PPP dan Partai Gerindra tidak mendapatkan kursi dengan Perolehan suara adalah sebagai berikut Partai Gerindra adalah 49.938 suara, PPP adalah 38.176 suara dan PKB adalah 28.831.
JUMLAH SUARA DAN DISTRIBUSI KURSI
No. Nama Partai BPP = 132.948
Jumlah Suara dan Distribusi kursi
1 Golkar 183.475 1 kursi
sisa suara 50.527
2. Demokrat 180.325 1 kursi
sisa suara 47.377
3. PKS 113.760 1 kursi dari sisa suara
4. Partai Hanura 77.230 1 kursi dari sisa suara
5. PDIP 70.606 1 kursi dari sisa suara
6. Partai Amanat Nasional 55.352 1 kursi dari sisa suara
7. Gerindra 49.938 KOSONG
8 PPP 38.176 KOSONG
9. PKB 28.831 KOSONG
Morowali, Kab.Banggai, Kab.Banggai Kepulauan, Kab. Toli-toli dan Kabupaten Buol,.
Apabila Mahkamah Konstitusi berpendapat lain, mohon putusan yang seadil-adilnya.
9. DPR RI (DR. IR. Hj. ANDI YULIANI PARIS) - Internal PROVINSI SULAWESI SELATAN II
a. Bahwa PEMOHON sangat berkeberatan dengan SK KPU Nomor 255/Kpts/Tahun 2009 tertanggal 9 Mei tentang Penetapan Hasil Pemilu Anggota DPR, DPD, DPRD Provinsi dan DPRD Kabupaten/Kota dalam PEMILU Tahun 2009 serta Berita Acara Rekapitulasi Hasil Penghitungan Suara (Bukti P-1a) Jo. Berita Acara dan Sertifikat Rekapitulasi KPUD Provinsi Sulawesi Selatan Jo. Berita Acara dan Sertifikat Rekapitulasi Kabupaten Bone Sulawesi Selatan, pada hari Minggu tanggal 26 April 2009 (Bukti P-1c) karena merugikan PEMOHON ;
b. Bahwa berdasarkan (vide Bukti P-1b) KPUD Provinsi Sulawesi Selatan menetapkan suara akhir PEMOHON (Caleg PAN DAPIL Sulawesi Selatan II) Nomor urut 1 atas nama DR.Ir.Hj. Andi Yuliani Paris, Msc. adalah sebanyak 36.395suara sedangkan nomor urut 3 atas nama A. Taufan Tiro, S.T. jumlah suaranya adalah 38.476 suara. Namun demikian atas hasil penghitungan suara tersebut diduga telah terjadi penggelembungan suara yang diperoleh oleh Caleg Nomor urut 3 atas nama A. Taufan Tiro, S.T. yang mana dugaan penggelembungan tersebut paling tidak terjadi di Kabupaten Bone di beberapa kecamatan antara lain:
Model C.1 berjumlah 230 suara sehingga terjadi Penggelembungan suara sebanyak 7 Suara(Bukti P-2).
2) Kecamatan Sibulue dari data yang di peroleh PPK jumlah suara Taufan Tiro,ST. Sebanyak 968 suara sedangkan data dari Model C.1 berjumlah 930 suara sehingga terjadi Penggelembungan suara sebanyak 38 Suara(Bukti P-3).
3) Kecamatan Kajuara dari data yang di peroleh PPK jumlah suara Taufan Tiro,ST. Sebanyak 840 suara sedangkan data dari Model C.1 berjumlah 805 suara sehingga terjadi Penggelembungan suara sebanyak 35 Suara(Bukti P-4).
4) Kecamatan Salomekko dari data yang di peroleh PPK jumlah suara Taufan Tiro,ST. Sebanyak 384 suara sedangkan data dari Model C.1 berjumlah 320 suara sehingga terjadi Penggelembungan suara sebanyak 64 Suara(Bukti P-5).
5) Kecamatan Lappariaja dari data yang di peroleh PPK jumlah suara Taufan Tiro,ST. Sebanyak 969 suara sedangkan data dari Model C.1 berjumlah 939 suara sehingga terjadi Penggelembungan suara sebanyak 30 Suara(Bukti P-6).
6) Kecamatan Lamuru dari data yang di peroleh PPK jumlah suara Taufan Tiro,ST. Sebanyak 586 suara sedangkan data dari Model C.1 berjumlah 581 suara sehingga terjadi Penggelembungan suara sebanyak 5 Suara(Bukti P-7).
8) Kecamatan Tanete Riattang Timur dari data yang di peroleh PPK jumlah suara Taufan Tiro,ST. Sebanyak 1770 suara sedangkan data dari Model C.1 berjumlah 1696 suara sehingga terjadi penggelembungan suara sebanyak 74 Suara(Bukti P-9).
Dari jumlah suara di 8 (delapan) Kecamatan tersebut jumlah suara penggelembungan berjumlah 263 suara yang dilakukan oleh Caleg PAN Nomor urut 3 atas nama A.Taufan Tiro,ST. Mengakibatkan suara untuk Kursi DPR RI di Dapil II Sulawesi Selatan dengan nomor urut 1 atas nama DR.Ir.Hj. Andi Yuliani Paris, Msc. tidak mencukupi.
Selengkapnya rekapitulasi penggelembungan suara tersebut dapat dilihat dalam tabel berikut ini:
Tabulasi Penggelembungan Suara Caleg Nomor urut 3 atas nama A. Taufan Tiro, S.T.