Oleh : dr Annisa Zahra Mufida, SpPD
Kelompok Belajar Interna Dokter Post – 9 Maret 2021
1. Tukak Pep:k
2. Coli:s infeksi : Coli:s Pseudomembran
3. Hepa::s B
4. Hepa::s C
5. Delirium
6. Anxiety
@annisazahra_sppd Slide >>>
Quick Review
Algoritma Penatalaksanaan Dispepsia
@annisazahra_sppd Slide >>>
Quick Review
•
Tukak Pep:k : penyakit saluran cerna atas yang
ditandai terputusnya integritas mukosa
(discon'nuitas jaringan) pada mukosa lambung/
duodenum.
•
Faktor yang berperan :
–
Faktor agresif : Infeksi H.pylori, NSAID, stress, dll
@annisazahra_sppd
1. Nyeri epigastrik menjalar ke punggung
2. Membaik setelah makan (hunger pain food relief) 3. Dispepsia, mual, muntah,
anoreksia, kembung
Ulserasi yang terjadi pada mukosa GIT, akibat paparan asam dan
pepsin
1. Nyeri hebat sesaat setelah makan
2. Jarang membaik setelah makan/antasida
3. Dispepsia, mual, muntah, anoreksia, kembung Dapat menyebabkan: Perdarahan Perforasi Metaplasia Obesitas Merokok Alkohol dll
@annisazahra_sppd Slide >>>
Angel Lanas et al.
Non-‐variceal upper GI bleeding
@annisazahra_sppd Slide >>>
@annisazahra_sppd Slide >>>
Forrest ClassificaFon
Type I : AcFve Bleeding
a. SpurFng b. Oozing
Ghosh, et al. Postgrad Med J 2002;78:4–14
@annisazahra_sppd Slide >>>
Forrest ClassificaFon
Type II : Sign of recent bleeding
Ghosh, et al. Postgrad Med J 2002;78:4–14
a. Non-‐Bleeding Visible Vessel
@annisazahra_sppd Slide >>>
Forrest ClassificaFon
Type III : lesion without bleeding
Ghosh, et al. Postgrad Med J 2002;78:4–14
@annisazahra_sppd Slide >>> Injeksi epinephrine Heater probe Haemoclip
@annisazahra_sppd Slide >>>
@annisazahra_sppd Slide >>>
Acute
infec:on Infec:on Chronic CIRRHOSIS transplant Liver DEATH Hepatocellular Carcinoma Decompensated Liver failure 90% in perinatal 5% in adults
Higher in HIV, immune suppressed 5-‐10%
10-‐30%
2-‐6%
23% within 5y Torresi J et al. Gastroenterology. 2000
Faiovich G et al. Hepatology. 1995 Moyer LA et al. Am J Prev Med. 1994 Perrillo R et al. Hepatology. 2001
1. Infeksi Hepa::s B akut
2. Infeksi Hepa::s B kronik, 4 fase :
§
Immune tolerance
§
Immune clearance
§
Inac:ve HBsAg carrier
§
Reak:fasi
Bashar M. American Associa:on for the Study of Liver Disease (AASLD). 2018
•
Masa inkubasi : 1-‐4 bulan à kemudian masuk periode
prodromal dg gejala malaise, anoreksia, mual muntah,
myalgia. Nyeri perut kuadran kanan atas. Hepatomegali
ringan. Demam jarang terjadi.
•
70% infeksi hepa::s B akut : hepa::s subklinis dan anikterik
•
30% infeksi hepa::s B akut : mengalami hepa::s dg ikterus
à
dapat mengalami ensefalopa: dan dapat terjadi gagal ha:
fulminan.
Bashar M. American Associa:on for the Study of Liver Disease (AASLD). 2018
•
HBsAg muncul 2-‐10 minggu setelah paparan virus
•
Pada sebagian pasien dewasa, HBsAg hilang dalam 4-‐6 bulan
à
kemudian muncul an:HBs
•
Adanya HBsAg yg persisten lebih dari 6 bulan à
menunjukkan pasie menderita infeksi hepa::s B kronik
(terjadi pada 5% kasus pasien dewasa)
•
Tatalaksana hepa::s B akut:
– Suppor:f dan simtoma:k
– An:virus hanya diperlukan pada <1% kasus, pada kasus gagal ha: fulminan atau pasien imunokompromais.
HBsAg IgM anF-‐HBc Interpretasi
+ + Hepa::s B akut atau hepa::s B kronik yang mengalami eksaserbasi akut
+ -‐ Hepa::s B kronik
Bashar M. American Associa:on for the Study of Liver Disease (AASLD). 2018
Immune
Tolerance clearance Immune InacFve HBsAg carrier ReacFvaFon
HBsAg + + + +
HBeAg + + -‐ -‐
An: HBe -‐ -‐ + +
ALT/ SGPT Normal Meningakat Normal Meningakat HBV DNA >20.000 IU/mL >20.000 IU/mL
berfluktuasi < 200 IU/mL > 2000 IU/mL
Anamnesis Risiko penularan
Gejala penyakit ha: Keluarga, transfusi, obat-‐obatan, narkoba
Pemeriksaan Fisik Tanda penyakit ha:
Tanda kegagalan fungsi ha: Ikterus, asites, splenomegali, dll
Pemeriksaan Lab Profil darah tepi
ALT, AST, GGT, ALP, Bilirubin, albumin, globulin, pt
Trombositopenia, pansitopenia
Penanda virus HBV DNA
HBeAg
Imejing USG Mengetahui kondisi ha:,
hipertensi porta, asites, nodul hepatoma
Histologi haF Biopsi ha:
Fibroscan
Pemeriksaan komorbid dan
koinfeksi An: HCV HIV
Konsensus Nasuinal Penatalaksanaan Hepa::s B di Indonesia. 2017
1. HBeAg
2. HBV DNA
3. ALT
4. Histologis
1. Immunomodulator (IFN α,
PEG-‐INF)
2. Nukleos(t)ida analog
(Lamivudin, Adevofir,
Entecavir, Telbivudine,
Tenofovir)
Konsensus Nasuinal Penatalaksanaan Hepa::s B di Indonesia. 2017
HBeAg NegaFf
HBV DNA
<2.103 IU/mL HBV DNA
>2.103 IU/mL
ALT Normal ALT Normal ALT 1-‐2x UNL ALT 2-‐5x UNL ALT >5x UNL
Tidak diberikan pengobatan. Pantau HBV DNA, HBeAg, ALT Tidak diberikan pengobatan. Pantau HBV DNA, HBeAg, ALT Tidak diberikan pengobatan. Pantau HBV DNA, HBeAg, ALT Terapi bila kenaikan ALT menetap >3bl atau terdapat risiko dekompensasi Indikasi mulai terapi. Bila HBV DNA <2.105 IU/mL dan Fdak ada tanda
dekompensasi , bisa dipantau 3-‐6 bl
PerFmbangkan pemeriksaan fibrosis non invasif atau biopsi haF pada pasien >30th atau <30th dengan riwayat KHS/ Sirosis dalam keluarg. Bila terdapat inflamasi atau fibrosis derajat sedang/lebih, terapi
Respon Tidak respon
Pantau HBV DNA, HBeAg, ALT 1-‐3bl setelah terapi PerFmbangka n strategi terapi lain
Surveillans KHS dg USG maupun AFP seFap 6 bulan bagi kelompok
risiko Fnggi
Perjalanan penyakit berfluktua:f Dan jarang terjadi remisi spontan.
Disebut juga mutasi precore
Konsensus Nasuinal Penatalaksanaan Hepa::s B di Indonesia. 2017
HBeAg PosiFf
HBV DNA
<2.104 IU/mL HBV DNA
>2.104 IU/mL
ALT Normal ALT Normal ALT 1-‐2x UNL ALT 2-‐5x UNL ALT >5x UNL
Tidak diberikan pengobatan. Pantau HBV DNA, HBeAg, ALT Tidak diberikan pengobatan. Pantau HBV DNA, HBeAg, ALT Tidak diberikan pengobatan. Pantau HBV DNA, HBeAg, ALT Terapi bila kenaikan ALT menetap >3bl atau terdapat risiko dekompensasi Indikasi mulai terapi. Bila HBV DNA <2.105 IU/mL dan Fdak ada tanda
dekompensasi , bisa dipantau 3-‐6 bl
PerFmbangkan pemeriksaan fibrosis non invasif atau biopsi haF pada pasien >30th atau <30th dengan riwayat KHS/ Sirosis dalam keluarg. Bila terdapat inflamasi atau fibrosis derajat sedang/lebih, terapi
Respon Tidak respon
Pantau HBV DNA, HBeAg, ALT 1-‐3bl setelah terapi PerFmbangka n strategi terapi lain
Surveillans KHS dg USG maupun AFP seFap 6 bulan bagi kelompok
risiko Fnggi
1. Immunomodulator : Diberikan jangka waktu pas: (24-‐48
minggu), pada pasien dg fungsi ha: baik.
§ Interferon α konvensional
§ Pegilated interferon (Peg IFN)
2. Analog Nukloes(t)ida
§ Lamivudin (LAM) § Adevofir (ADV) § Entecavir (ETV) § Telbivudine (Ldt) § Tenofovir (TNF)What’s New on LATEST GUIDELINES :
PrevenFon of Mother-‐to-‐Child
Transmission of HepaFFs B Virus
* Mother to Child Transmission @annisazazahra_sppd Screening Management During Pregnancy Discon:nua:on
Of an:viral Breasreeding Follow up Of infant
Assessment management Delivery Neonatal Immune-‐ prophylaxis Follow up Of mothers Post vaccina:on Serologic Tes:ng 1 2 3 5 7 9 4 6 8 10
@annisazazahra_sppd
All pregnant women should be tested for HIV, syphilis and Hepa::s B Surface An:gen (HBsAg) at least once and as early as possible in the pregnancy
WHO recommends that in setng in which antenatal HBV DNA tes:ng is not available, HBeAg tes:ng can be used as an alterna:ve to HBV DNA tes:ng to determine eligibility
for tenofovir prophylaxis to prevent MTCT* of HBV.
WHO recommends that pregnant women tes:ng HBsAg posi:ve with HBV DNA ≥ 5.3 log10 IU/mL (≥ 200.000 IU/mL) receive tenofovir prophylaxis from the 28TH week of
pregnancy un:l at least birth to prevent MTCT* of HBV.
Three-‐dose hepa::s B vaccina:on in all infants, including :mely birth dose.
New recommenda:on
New recommenda:on
Fahed Parvaiz, et al 2011
Virology Journal 8, ar:cle no:474
RNA virus 6 Geno:pe
Akut (<6 months)
o
Asimtoma:s (80%)
o
Simptoma:s (20%) : ringan hingga berat, lemas, demam, anorexia,
jaundice.
o
An: HCV posi:f, HCV RNA terdeteksi
Kronik (>6 months)
o
80% infeksi akut berkembang menjadi kronik yang asimtoma:s
o
Gejala muncul pada usia 50-‐60 tahun
o
Anorexia, nyeri perut, demam, jaundice, lemah mual
o
Gejala dan tanda yang terkait sirosis atau hepatoma
o
Manifestasi extra hepa:k ( cont. Cryoglobulinemia,
Infeksi virus Hepa::s C Infeksi akut (20-‐30% bergejala) Infeksi kronik (75%-‐85%) Fulminan <1% Sembuh spontan 15%-‐25% Infeksi kronik ak:f Manifestasi ekstrahepa:k (1-‐2%) Sirosis ha: (10-‐20%) Dalam 20th Karsinoma hepatoselular 1-‐5%/tahun Sirosis dekompensata 50%/5th
Konsensus Nasional Penatalaksanaan Hepa::s C di Indonesia 2017
Konsensus Nasional Penatalaksanaan Hepa::s C di Indonesia 2017
•
Pada infeksi akut, HCV RNA terdeteksi 7-‐10 hari
setelah paparan, kemudian an:-‐HCV dapat
terdeteksi dalam 2-‐8 minggu
•
HepaFFs C kronik : an:-‐HCV dan RNA VHC tetap
terdeteksi >6bulan sejak terinfeksi dengan atau
tanpa gejala penyakit ha: kronis
Konsensus Nasional Penatalaksanaan Hepa::s C di Indonesia 2017
1. Mencari penyebab lain penyakit ha: kronis
§
Koinfeksi hepa::s B
§
Koinfeksi HIV
§
NASH
2. Menilai muatan virus RNA VHC dan geno:pe
3. Menilai derajat fibrosis
§
Pemeriksaan non invasif
§
Pemeriksaan infasif
Konsensus Nasional Penatalaksanaan Hepa::s C di Indonesia 2017
Prioritas terapi Kelompok Pasien
Terapi diindikasikan Seluruh pasien naive dan gagal terapi dengan penyakit ha: kompensata dan dekompensata
Terapi
diprioritaskan Fibrosis berat (metavir F3-‐F4) Konfeksi HIV VHB
Kandidat transplantasi organ yang membutuhkan terapi imunosupresan, rekurensi VHC paska transplantasi
Sindroma metabolik
Manifestasi ekstrahepa:k Risiko :nggi menularkan virus Terapi
diper:mbangkan Fibrosis sedang (METAVIR score F2) Terapi dapat
ditunda Tidak ditemukan fibrosis atau hanya ditemukan fibrosis ringan (F0-‐F1) Terapi :dak
Konsensus Nasional Penatalaksanaan Hepa::s C di Indonesia 2017
•
Kontraindikasi absolut pemberian interferon (IFN)
adalah depresi, psiko:k, kejang :dak terkontrol,
sirosis ha: dekompensata
Konsensus Nasional Penatalaksanaan Hepa::s C di Indonesia 2017
1. Pegylated Interferon (Peg-‐IFN)
o Interferon merupakan protein yg bersifat imunomodulator, dg mekanisme
kerja menghambat berbagai tahap mulai dari masuknya virus, uncoa:ng, sintesis mRNA, dan sintesis protein
o Penambahan Pegylated untuk menurunkan toksisitas, meningkatkan stabilitas
obat, perlindungan terhadap proteolisis, dan memperbaiki daya larut
o Jenis : Peg-‐IFN α2a, Peg-‐IFN α2b
2. Ribavirin
o Menghambat langsung repilikasi virus
o Menghambat enzim inosine monophosphate dehydrogenase o Menginduksi mutagenesis RNA
o Imunomodulasi melalui induksi sel Thelper1
3. Direct Ac+ng An+virus (DAA)*
Rekomendasi :
§
Regimen Sofosbufir dan Daclastavir
§
Regimen Sofosbuvir dan Velpatasvir
§
Regimen Sofosbuvir, Peg-‐IFN, dan Ribavirin
Jika dicurigai mengalami resistensi atau gagal terapi à
periksa resistensi geno:pik
@annisazahra_sppd Slide >>>
@annisazahra_sppd Slide >>>
Quick Review
•
Definisi : peradangan kolon akibat toksin yg ditandai
terbentuknya lapisan eksuda:f (pseudomembran)
yang melekat di permukaan mukosa
•
Disebut juga koli:s an:bio:k. An:bio:k paling
sering : ampisilin, klindamisin, sefalosporin
•
Patogenesis : terjadi overgrowth C. Dificille (toksin A
dan toksin B)
@annisazahra_sppd Slide >>>
Quick Review
•
Gejala dapat muncul sejak 1 hari s.d 6 minggu setelah
an:bio:k dihen:kan
•
Gejala : diare cair dengan kram perut, diare dg jumlah banyak,
demam (:dak lebih dari 38
oC)
•
Leukositosis
•
Nyeri tekan abdomen bawah
•
Komplikasi : dehidrasi, edem anasarka, hipoalbumin,
gangguan elektrolit, megakolon toksik, perforasi kolon
Penebalan dinding kolon
sigmoid s.d colon descenden Hiperemi mukosa, mul:pel diskret,
yellowish, polipoid lesion. @annisazahra_sppd Slide >>> Quick Review Nekrosis epitel dh sebaran PMN dan
fibrin, nekrosis mukosa dg lapisan
pseumodmembran yg tebal
@annisazahra_sppd Slide >>>
Quick Review
•
Menghen:kan an:bio:k yg diduga menjadi
penyebab, obat yg mengganggu peristal:k, dan
pencegah nosokomial
•
Terapi cairan dan elektrolit
•
Koli:s ringan : metronidazole 250-‐500 mg 4x sehari
selama 7-‐10 hari
•
Koli:s berat : vankomisin oral 125-‐500 mg 4x sehari
selama 7-‐14 hari
1. Wanita, 59 tahun, datang dengan keluhan utama nyeri ulu ha: sejak 2 minggu yang lalu. Nyeri dirasakan memberat setelah pasien makan. BAB kehitaman seper: pe:s (+) :ga hari yang lalu.
Riwaya Pengobatan: ru:n mengkonsumsi kalium diklofenak untuk mengatasi nyeri pada lutut kanan yang dirasakan sejak 1 bulan terakhir.
Pemeriksaan penunjang yang anda usulkan untuk menegakkan diagnosis adalah… a. Urea breath test
b. Gastroskopi
c. Tes darah samar d. Kolonoskopi e. Barium enema
2. Laki-‐laki, 45 tahun, datang dengan keluhan nyeri pada ulu ha: sejak 6 bulan yang lalu. Keluhan dirasakan memberat setelah makan. Pasien terkadang mengeluh dada terasa panas seper: terbakar. Riwayat minum obat an: nyeri dan jamu-‐jamuan disangkal. Keluhan nyeri ulu ha: berkurang bila pasien minum antasida yang dibeli di minimarket.
Pemeriksaan fisik dan vital sign dalam batas normal, kecuali nyeri epigastrium yang difus (+). Hasil Esofago gastro duodenoskopi (EGD ) ditemukan ulkus duodenum dan pemeriksaan patologi ditemukan H pylori.
Tatalaksana yang anda usulkan adalah…
a. PPI 2x1 + Metronidazol 3x500 mg + Claritromisin 2x500 mg b. PPI 2x1 + Metronidazol 3x 500 mg + Amoxicillin 2x1000 mg
c. PPI 2x1 + Amoxicillin 2x 1000 mg + Claritromisin 2 x 500 mg
d. PPI 2x1 + Antasida 3x1 + Amoxicillin 2x1000 mg + Metronidazol 3x500 mg e. Sucralfat 3x500 mg + Amoxicillin 2x1000 mg + Metronidazole 3 x 500 mg + Azitromisin 1x500 mg
3. Laki-‐laki, 53 tahun, datang dengan keluhan nyeri ulu ha: yang dirasakan sejak 6 bulan yang lalu. Hasil Esofagoduodenoskopi: ulkus gaster di antrum. Selanjutnya pasien menjalani eradikasi helicobacter pylori dengan regimen: PPI 2x1, Amoxicillin 2x1000 mg, dan Klaritromisin 2x500 mg. Setelah 2 minggu eradikasi, keluhan pasien masih belum berkurang.
Penatalaksanaan selanjutnya yang anda usulkan adalah
a. Eradikasi dengan regimen PPI, Metronidazol dan Klaritromisin b. Eradikasi dengan regimen PPI, Amoxicillin dan Rifabu:n
c. Mengulang eradikasi dengan regimen yang sama selama 2 minggu
d. PPI dilanjutkan sampai 4 minggu dan direncanakan evaluasi ulang
e. Dilakukan kultur dan sensi:vitas an:bio:k
4. Laki-‐laki, 81 tahun, datang dengan keluhan nyeri pada jempol kaki kanan.
Riwayat penyakit dahulu: thrombosis vena dalam + hipertensi. Saat ini pasien mendapatkan terapi warfarin serta kombinasi obat an:-‐hipertensi ACE
inhibitor dan CCB. Berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik, anda mendiagnosis pasien dengan serangan akut gout arthri:s. Kemudian anda memberikan tambahan terapi indometasin oral 3 x 50 mg dan kolkisin oral 3 x 0.6 mg. Selama pengobatan, keluhan nyeri yang dirasakan berkurang, dan pengobatan dilanjutkan. Namun dua hari kemudian, pasien datang ke IGD dengan perdarahan saluran cerna bagian atas. Hasil endoskopi: mul:ple ulkus gaster disertai dengan perdarahan ak:f.
Berdasarkan analisis masalah pasien, penyebab perdarahan saluran cerna pada pasien adalah…
a. Tidak menghen:kan ACE inhibitor sebelum memulai terapi gout b. Tidak menghen:kan CCB sebelum memulai terapi gout
c. Tidak menghen:kan warfarin sebelum memulai terapi gout d. Penambahan kolkisinpada pengobatan gout
e. Penambahan indometasin pada pengobatan gout
5. Laki-‐laki, 54 tahun, rencana akan dilakukan :ndakan kolesistektomi elek:f karena mengalami infeksi pada saluran kandung empedu. Pasien memerlukan :ndakan drainase serta diberikan terapi an:bio:k fluorokuinolon.
Pada hari rawatan ke-‐8, pasien mengalami diare disertai dengan leukositosis dan demam.
Diduga penyebabnya adalah infeksi Clostridium difficile.
Tatalaksana selanjutnya yang anda usulkan adalah… a. Observasi
b. Pemberian terapi an:bio:k empiris vankomisin
c. Pemberian terapi anFbioFk empiris metronidazole
d. Dilakukan kolonoskopi
e. Dilakukan pemeriksaan feses untuk pengukuran toksin Clostridium difficile
6. Wanita, 72 tahun, datang dengan penurunan kesadaran setelah 5 hari demam, mual, muntah dan diare. Pemeriksaan fisik: kesadaran somnolen, demam (+),
turgor kulit menurun, produksi urine 150 cc/24 jam. Hasil lab: Na 169 mEq/L; K 4,7 mEq/L; Cl 100 mEq/L
Terapi cairan yang anda pilih untuk tatalaksana pasien ini adalah a. Normal Saline
b. Ringer Laktat c. D5% d. D10% e. D40% @annisazahra_sppd Slide >>>
7. Laki-‐laki, 81 tahun, datang IGD dengan diare cair tanpa ampas, kadang disertai lendir (+) dan darah (+) selama 2 hari, sehari 3-‐5 kali. Nyeri perut sisi bawah (+) dan demam :nggi (+), pernah demam mencapai 39,6°C. Anoreksia (+), sering tampak mengantuk (+). Riwayat penyakit dahulu: Radang paru (rawat inap) selamaa 7 hari, mendapat terapi an:bio:k levofloxacin oral 1x500 mg untuk 5 hari setelah discharge.
Hasil Lab: Hb 13,2 gr/dL, Hematokrit 45%, leukosit 27800/mm3 dengan
dominan neutrofil, trombosit 187000/mm3 , LED 65 mm/jam, BUN 30 mg/dL, krea:nin 0,98 mg/dL, kultur feses: kuman C. Diffcile (+).
Terapi an:bio:k yang anda usulkan adalah
a. Levofloxacin drip 1x750 mg intravena dan probio:k à pilihan AB salah b. Metronidazole 1x500 mg intravena dan probio:k à dosis salah
c. Metronidazole 1x500 mg intravena, Vancomycin 4x125 mg per oral, dan
probioFk à sebenarnya tdk perlu kombinasi metro dan vanco. Klinis nya kan coliFs berat, cukup vancomisin aja.
d. Levofloxacin 1x750 mg intravena, Vancomycin 4x125mg per oral, dan probio:k e. Tidak perlu diberi an:bio:k, cukup probio:k
8. Pernyataan di bawah ini benar terkait Clostridium difficille-‐associated diarrhea (CDAD) adalah…
a. Terapi an:bio:ka cephalosporin, clyndamycin, dan amoxicillin jangka lama dan masa rawat inap lebih dari 15 hari selalu menyebabkan CDAD
b. ELISA mempunyai sensi:vitas hanya 45% untuk deteksi enterotoksin C. difficille di feses
c. Terapi dengan metronidazole oral dan loperamide diindikasikan bila hasil toksin posi:f
d. Penyebaran pasien ke pasien pada seing RS merupakan model transmisi yang signifikan
e. Penggunaan metronidazole dan meropenem iv merupakan alterna:f terapi bila terapi oral :dak bisa dilakukan
9. Laki-‐laki, 45 tahun, datang untuk konsultasi. Pasien menderita CKD sejak 1 bulan yang lalu dan sudah mendapat terapi clonidin 3 x 0.15 mg, asam folat 3x 1 mg, CaCo3 3x 500 mg serta menjalani hemodialisa ru:n 2 kali dalam seminggu. Pasien ingin mendapatkan vaksinasi hepa::s B. Hasil serologi an: HBs nega:f. Setelah 2 bulan selesai vaksinasi terakhir, didapatkan serologi an: HBs nilai 15 mIU/mL.
Tindakan selanjutnya yang anda usulkan adalah
a. Tidak perlu diberikan boster, evaluasi serologi an: HBs 1 tahun kemudian b. Tidak perlu diberikan boster, evaluasi serologi an: HBs 2 tahun kemudian c. Tidak perlu diberikan boster, evaluasi serologi an: HBs 3 tahun kemudian d. Tidak perlu diberikan boster, evaluasi serologi an: HBs 5 tahun kemudian
e. Diberikan boster vaksinasi hepaFFs B, evaluasi serologi anF HBs 2 bulan kemudian
10. Wanita, 25 tahun, dirujuk dari Puskesmas dengan Riwayat penyakit Hepa::s B. Hasil laboratorium menunjukkan HbsAg posi:f, HbeAg posi:f, DNA HBV 2x 10 5 iu/ml. SGOT 50 U/L, SGPT 60 U/L.
Tatalaksana yang anda usulkan adalah ..
a. Langsung diberikan terapi nucleosida analog b. Diberikan terapi pegylated interferon
c. Tidak diberikan pengobatan, pantau DNA HBV, HbeAg, dan ALT
d. Pengobatan diberikan bila kenaikan ALT menetap > 3 bulan
e. Diberikan terapi kombinasi nucleosida analog dan pegylated interferon
11. Wanita, 27 tahun, dirujuk dari Puskesmas karena sedang hamil trimester 1 dengan infeksi hepa::s B kronis. Hematemesis (+), Melena (+).
Hasil pemeriksaan EGD: Varices Esofagus grade 2. Tatalaksana selanjutnya yang anda usulkan adalah
a. Dilakukan pemeriksaan DNA HBV terlebih dahulu sebelum diberikan terapi an:viral
b. Dilakukan pemeriksaan DNA HBV, HbeAg dan ALT pada pasien tersebut sebelum memulai terapi ARV
c. Dilakukan pemeriksaan HbeAg dan ALT terlebih dahulu sebelum diberikan terapi an:viral
d. Langsung diberikan terapi anF viral tenovofir
e. Langsung diberikan an: viral pegylated interferon atau nucleosid analogue
11. Laki-‐laki, 72 tahun, datang ke IGD karena bicara meracau, demam, penurunan nafsu makan dan batuk sejak 1 minggu yang lalu.
Hematemesis (-‐) dan melena (+).
Riwayat penyakit dahulu: hepa::s kronis (+).
Tanda-‐tanda vital: tekanan darah 100/80 mmHg, denyut jantung 110 kali/ menit, frekuensi napas 22 x/menit dan suhu afebris.
Pemeriksaan fisik: spider nevi (+), shi{ing dullnes (-‐) dan flapping tremor (+). Patofisiologi yang mendasari adalah…
a. Peningkatan ALT dan AST b. Inflamasi hepatosit
c. Akumulasi amoniak
d. Gangguan Kese:mbangan Elektrolit e. Semua Benar
12. Penanganan pada pasien di atas melipu:…
a. Pemberian makanan dengan kadar protein yang :nggi b. Pemberian diure:k dosis :nggi
c. Tidak perlu memberikan laksansia
d. Pemberian anFbioFk
e. Pemberian asam amino aroma:c
13. Laki-‐laki, usia 56 tahun, datang untuk melakukan general check-‐up. Pasien dikonsulkan karena hasil an:-‐HCV yang posi:f saat diperiksa.
Pasien ru:n melakukan donor darah. Riwayat narkoba sun:k disangkal. Riwayat sex bebas di sangkal.
Pemeriksaan fisik: GCS 456, TD 140/90 mmHg, Nadi 88 kali/menit, RR 20 kali/ menit, suhu 36oC. Anemis (-‐), ikterik (-‐).
Lab: ALT 25 U/L dan AST 20 U/L. HbsAg (-‐). Tindakan selanjutnya yang anda usulkan adalah a. Terapi pegilated interferon
b. Terapi lamivudin c. Vaksinasi hepa::s C
d. Periksa HCV RNA
e. Biopsi ha:
14. Pernyataan di bawah ini benar tentang infeksi Hepa::s C (HCV) adalah… a. 70% infeksi akut Hepa::s C menunjukkan gejala berat
b. 20% Infeksi akut Hepa::s C akan berkembang menjadi infeksi kronik c. 80% pasien hepa::s C akan berkembang menjadi sirosis hepa:s
d. Koinfeksi HIV dan HCV akan mempercepat terjadinya sirosis haF
e. Pasien dengan infeksi HCV :dak dianjurkan melakukan vaksinasi HAV
15. Pernyataan di bawah ini benar tentang pengobatan infeksi Hepa::s C kronik, kecuali…
a. Indikasi terapi HCV kronik apabila didapatkan peningkatan nilai ALT lebih dari batas atas nilai normal
b Pengobatan HCV kronik adalah dengan menggunakan interferon alfa dan ribavirin
c. Ribavirin dapat memperberat gangguan ginjal d. Ribavirin dapat menyebabkan anemia
e. Keberhasilan terapi dinilai 6 bulan setelah pengobatan dihenFkan dengan memeriksa anF-‐HCV
16. Laki-‐laki, 48 tahun, terkonfirmasi menderita infeksi Hepa::s C kronik. An:-‐HCV (+), HCV RNA 380.000 IU/mL (3 bulan yang lalu), dan saat ini HCV RNA 500.000 IU/mL (genotype 3).
Regimen terapi awal yang anda usulkan adalah… a. PegIFN, RBV, Sofosbuvir 24 minggu
b. PegIFN, RBV, Sofosbuvir 12 minggu
c. Sofosbuvir, RBV 12 minggu
d. PegIFN, RBV, Simeprevir 48 minggu e. Sofosbuvir, Simeprevir 24 minggu
17. Laki-‐laki, 80 tahun, datang dengan keluhan diare sejak 3 hari terakhir. Diare sehari 5 kali disertai mual dan kadang muntah.
Pasien susah :dur dimalam hari, dan banyak bicara sendiri yang :dak jelas maksudnya, dan :dak mengenali anak anaknya lagi.
Pasien adalah penderita hipertensi dan pernah mengalami stroke ringan 6tahun yang lalu.
Diagnosis yang anda usulkan adalah A. Demensia B. Sindrom delirium C. Alzheimer D. Anxietas E. Depresi @annisazahra_sppd Slide >>>
18. Patofisiologi yang mendasari masalah pasien di atas adalah… a. Overekspresi astrosit
b. Penyempitan pembuluh darah otak c. Peningkatan IGF
d. Overproduksi adrenalin
e. Defisiensi aseFlkolin
19. Pemeriksaan yang anda usulkan untuk menegakkan diagnosis adalah… a. CT Scan
B. MRI
C. CAM : confussion assesment method
D. A dan B Benar E. B dan C Benar
20. Terapi yang anda usulkan pada pasien tersebut adalah… a. Haloperidol b. Fluoxe:n c. Carbamazepin d. Codein e. Amitrip:lin @annisazahra_sppd Slide >>>
21. Wanita, 46 tahun, datang ke IGD dengan keluhan jantung berdebar sejak 6 bulan yang lalu. Keluhan disertai dengan tengkuk leher terasa tegang, rasa cemas mengambang seper: khawa:r tentang keselamatan anak dan
suaminya di tempat kerja. Pasien mengeluh terbebani dengan pekerjaan rumah dan sulit berkonsentrasi. Pemeriksaan fisik dalam batas normal, pemeriksaan laboratorium dalam batas normal.
Diagnosis yang anda usulkan adalah… a. Gangguan Depresi
b. Gangguan cemas menyeluruh
c. Gangguan panik
d. Gangguan hipokondriasis e. Gangguan soma:sasi
22. Patofisiologi yang mendasari keluhan utama pasien adalah…
a. OverakFvitas otonomik
b. Blok SA node
c. Halusinasi organik d. Blok AV node
e.. Apoptosis sel neuron
23. Tatalaksana yang anda usulkan pada pasien di atas adalah… a. Natrium diklofenak 2x500 mg
b. Bisoprolol 1x5 mg c. Alprazolam 1x1 mg d. Chlorpromazine 1x100 mg e. Amitrip:lin 3x25 mg @annisazahra_sppd Slide >>>
24. Obat-‐obatan di bawah ini yang paling sering dikaitkan dengan efek samping disfungsi seksual adalah…
a. Alprazolam b. Amitrip:lin c. Trazodone d. Sertraline e. Fluoxe:ne @annisazahra_sppd Slide >>>
25. Mekanisme kerja obat fluoxe:ne adalah… a. Meningkatkan produksi serotonin oleh sel glia b. Menghambat sintesis serotonin
c. Cegah re-‐uptake serotonin ke neuron pre-‐sinaps
d. Meningkatkan re-‐uptake serotonin ke neuron pre-‐sinaps e. Bukan Salah Satu di Atas
dr. Annisa Zahra Mufida, Sp.PD Dokter Spesialis Penyakit Dalam Email : [email protected] IG @annisazahra_sppd