Abstrak—Meningkatnya kebutuhan akan energi listrik,
menuntut peningkatan unjuk kerja pengoperasian Gardu Induk dan peralatan-peralatannya, seiring dengan bertambahnya gangguan yang akan terjadi khususnya gangguan hubung singkat. Beberapa peralatan untuk menangani arus gangguan hubung singkat diantaranya adalah reaktor air-core, fuse dan circuit breaker. Peralatan proteksi yang digunakan hanya dapat merespon dua atau tiga siklus dari arus gangguan hubung singkat sebelum peralatan aktif. Diperlukan suatu peralatan yang dapat merespon arus gangguan kurang dari dua siklus awal.
Fault current limiter (FCL) dapat membatasi arus
gangguan hubung singkat yang melewati saluran dalam setengah siklus awal. FCL, baik menggunakan superkonduktor atau tidak, pada dasarnya berupa peralatan variabel impedansi yang hubungkan seri dengan
circuit breaker untuk membatasi arus gangguan hubung
singkat pada Gardu Induk. Penggunaan Fault Current
Limiter (FCL) pada sistem distribusi GI Sengkaling
Malang dapat menurunkan arus gangguan pada setengah siklus pertama untuk gangguan satu fasa ke tanah (L-G) dari 15,84 kA menjadi 5,95 kA (penurunan 62,44 %), untuk gangguan fasa ke fasa (L-L) dari 10,84 kA menjadi 4,26 kA (penurunan 60,70 %), untuk gangguan dua fasa ke tanah (L-L-G) dari 14,84 kA menjadi 5,72 kA (penurunan 61,46 %), dan untuk gangguan tiga fasa ke tanah (L-L-L-G) dari 14,36 kA menjadi 5,55 kA (penurunan 61,35 %).
Kata kunci—Fault Current Limiter, gangguan hubung
singkat.
I. PENDAHULUAN
ERJADINYA gangguan (fault) dalam operasi sistem tenaga listrik tidak dapat dihindarkan (Schmitt, 2006). Gangguan dalam sistem transmisi dan distribusi tenaga listrik antara lain disebabkan oleh sambaran petir pada saluran transmisi, pohon tumbang atau adanya hubung singkat antar fase ke tanah. Gangguan akan menimbulkan suatu lonjakan arus pada
Eko Kuncoro, Mahasiswa Program Magister Jurusan Teknik Elektro, Fakultas Teknik Universitas Brawijaya, Malang, Indonesia (e-mail: [email protected]).
Hadi Suyono, Dosen Teknik Elektro, Universitas Brawijaya, Malang, Indonesia (Telp. 0341-554166; e-mail: [email protected]).
Rini Nur Nurhasanah, Dosen Teknik Elektro, Universitas Brawijaya, Malang, Indonesia (Telp. 0341-554166; e-mail: [email protected]).
Hazlie Mokhlis, Associate Professor, Departement of Electrical
sistem tenaga listrik dan dapat menyebabkan kerusakan serius pada peralatan jaringan [1] dan luasnya daerah pemadaman total. Lonjakan arus akibat gangguan dikenal sebagai arus gangguan (fault current) [2]..
Arus gangguan (fault current) adalah arus peralihan (transient) yang mengalir dalam sistem tenaga listrik ketika hubung singkat terjadi. Sebagian besar arus gangguan terjadi pada sistem transmisi 3-fasa dengan satu dari tiga fasa terhubung singkat [3]. Ketika hubung singkat terjadi pada sistem tenaga listrik, arus gangguan besarnya lebih dari 10 kali lipat arus beban [4].
Gardu Induk (GI) Sengkaling Malang merupakan bagian dari sistem distribusi yang berada di wilayah PT. PLN (Persero) APP Malang. GI Sengkaling memiliki 2 buah trafo daya, yaitu : Trafo III UNINDO 150/20 kV dengan kapasitas 30 MVA dan Trafo IV SHANDONG 150/20 kV dengan kapasitas 60 MVA. Pemakaian energi listrik pada GI Sengkaling cenderung meningkat setiap tahunnya. Hal ini disebabkan oleh pesatnya pembangunan di wilayah Kota Malang, Kabupaten Malang dan Kota Batu. Dengan semakin meningkatnya kebutuhan akan energi listrik, maka dapat dipastikan bahwa pengoperasian gardu induk dan peralatan-peralatannya akan terus bertambah seiring dengan bertambahnya gangguan yang akan terjadi khususnya gangguan hubung singkat. Beberapa peralatan telah digunakan untuk menangani arus gangguan hubung singkat diantaranya reaktor air-core, fuse dan circuit breaker [3].
Diperlukan suatu peralatan yang mampu membatasi arus gangguan hubung singkat kurang dari dua siklus awal. Fault current limiter (FCL) dapat membatasi arus gangguan hubung singkat yang melewati saluran dalam setengah siklus awal [5]. Tujuan penelitian ini adalah untuk merencanakan pemodelan FCL yang sesuai dengan standar pemutusan arus pada jaringan sistem distribusi dan menentukan performansi dari sistem distribusi pada saat terjadi gangguan dengan spesifikasi FCL.
P
emodelan dan analisis penggunaan FCL sebagai pembatas arus gangguan hubung singkat pada jaringan sistem distribusi GI Sengkaling Malang dengan menggunakan program simulasi PSCAD 4.2.0.II. TINJAUANPUSTAKA
Berdasarkan ANSI/IEEE Std. 100-1992 gangguan didefinisikan sebagai suatu kondisi fisis yang disebabkan kegagalan suatu perangkat, komponen, atau
Pemodelan dan Analisis Fault Current Limiter
Sebagai Pembatas Arus Hubung Singkat
Pada GI Sengkaling Malang
Eko Kuncoro, Hadi Suyono, Rini Nur Hasanah dan Hazlie Mokhlis
singkat antar fasa atau hubung singkat fasa ke tanah. Suatu gangguan hampir selalu berupa hubung langsung atau melalui impedansi. Istilah gangguan identik dengan hubung singkat, sesuai standart ANSI/IEEE Std. 100-1992. Analisis gangguan hubung singkat diperlukan untuk mempelajari sistem tenaga listrik baik waktu perencanaan maupun setelah beroperasi. Analisis hubung singkat digunakan untuk menentukan setting relai proteksi yang digunakan untuk melindungi sistem tersebut dari kemungkinan adanya gangguan tersebut. Sebelum melakukan analisis gangguan hubung singkat, maka terlebih dahulu dilakukan perhitungan gangguan hubung singkat yaitu untuk menghitung arus maksimum gangguan, dan tegangan pada lokasi yang berbeda dari sistem tenaga untuk jenis gangguan yang berbeda. Fault current limiter (FCL), baik menggunakan superkonduktor atau tidak, pada dasarnya berupa peralatan variabel impedansi yang hubungkan seri dengan circuit breaker untuk membatasi arus gangguan hubung singkat pada gardu induk [3]. Dalam sistem tenaga listrik, FCL dapat diintegrasikan baik pada jaringan tegangan tinggi (high voltage) maupun tegangan menengah (medium voltage). Fungsi FCL adalah untuk membatasi level arus gangguan yang muncul ke suatu level yang dapat diatasi tanpa adanya pengaruh yang signifikan pada sistem distribusi. Sebuah FCL harus memiliki impedansi tinggi pada kondisi gangguan hubung singkat [6].
Model rangkaian sederhana sistem tenaga listrik tanpa FCL dan dengan FCL ditunjukkan pada Gambar 1. Rangkaian terdiri dari tegangan sumber , impedansi internal , beban dan impedansi gangguan [7].
Typical karakteristik bentuk gelombang arus gangguan tanpa FCL dan dengan FCL dijelaskan pada Technical Brochure No. 339 oleh CIGRE WG A3.16 seperti ditunjukkan pada Gambar 2.
III. METODELOGI PENELITIAN
Penelitian ini diawali dengan studi kasus, kemudian dilanjutkan dengan pengumpulan data referensi dan data lapangan. Data referensi berupa pustaka yang relevan dengan studi kasus penelitian, sedangkan data lapangan berupa single line diagram, data transformator, data beban, dan data arus hubung singkat. Data lapangan dimodelkan dan disimulasikan dengan menggunakan program simulasi PSCAD 4.2.0. Selanjutnya dilakukan analisis aliran daya untuk mengetahui magnitude tegangan dan arus pada masing-masing Bus.
Pada pemodelan single line diagram sistem distribusi GI Sengkaling, disimulasikan adanya gangguan hubung singkat sesuai data gangguan. Selanjutnya dilakukan analisis gangguan sebelum pemasangan FCL. Pada Bus-Bus yang mengalami gangguan ditempatkan model komponen FCL dan disimulasikan. Setelah pemasangan FCL pada Bus-Bus yang mengalami gangguan, dilakukan analisis gangguan sesudah pemasangan FCL..
IV. PEMODELAN FCL DAN GISENGKALING
Diagram skematik model FCL dengan PSCAD 4.2.0 ditunjukkan pada Gambar 3.
Model FCL yang digunakan adalah rangkaian FCL solidstate tipe resonan [9]. Pemilihan model FCL karena rangkaian FCL ini tidak memerlukan tuning komponen L dan C. Impedansi FCL adalah 20 % (0,2 pu) sesuai dengan IEC 60289 tentang FCL Reactors.
Parameter pemodelan FCL dan GI Sengkaling untuk sistem sebelum gangguan dan sistem dengan gangguan pada Bus 2 dan Bus 3 ditunjukkan pada TabelI.
TABELI PARAMETER SIMULASI Sistem Sebelum Gangguan Sistem dengan Gangguan Pada Bus 2 Sistem dengan Gangguan Pada Bus 3 Infinite Bus 150V. L-L RMS 50Hz - - Arus Hubung Singkat - 2529,44 MVA 2529,44 MVA Sumber - 150V L-L RMS 50Hz ZS = 8,895 Ω 150V L-L RMS 50Hz ZS = 8,895 Ω Data FCL - ZFCL = 20 % = 2,67 C = 10 µF L = 0,00858 H ZFCL = 20 % = 1,34 C = 10 µF L = 0,00429 H
FCL
Gambar 3. Diagram skematik FCL
Gambar 2. Bentuk gelombang arus gangguan
tanpa FCL dan dengan FCL [8]
Gambar 1. Model rangkaian sederhana tanpa FCL
Rangkaian FCL untuk fasa A, fasa B, dan fasa C ditunjukkan pada Gambar 4.
Thyristor Switching Circuits untuk masing-masing rangkaian FCL [10] ditunjukkan pada Gambar 5.
Simulasi single line GI Sengkaling dengan PSCAD 4.2.0 dilakukan dengan beberapa skenario. Skenario simulasi yang akan diujikan :
a. Sistem dengan gangguan pada Bus 2 (20 kV) dan FCL.
b. Sistem dengan gangguan pada Bus 3 (20 kV) dan FCL.
Pemodelan single line diagram GI Sengkaling sistem sebelum gangguan, sistem dengan gangguan pada Bus 2 dan Bus 3 dan sistem dengan FCL ditunjukkan pada Gambar 6.
V. HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Simulasi Arus Gangguan Bus 2 (20 kV) Bentuk gelombang arus gangguan pada Bus 2 tanpa FCL dan dengan FCL untuk hubung singkat satu fasa ke tanah (L-G), fasa ke fasa (L-L), dua fasa ke tanah (L-L-G), dan tiga fasa ke tanah (L-L-L-G) ditunjukkan pada Gambar 7., Gambar 8., Gambar 9., dan Gambar 10..
Gambar 8. Bentuk gelombang arus gangguan
hubung singkat fasa ke fasa (L-L) pada Bus 2, tanpa FCL dan dengan FCL
Gambar 7. Bentuk gelombang arus gangguan
hubung singkat satu fasa ke tanah (L-G) pada Bus 2, tanpa FCL dan dengan FCL
Gambar 6. Pemodelan single line diagram GI Sengkaling
sistem sebelum gangguan, sistem dengan gangguan pada Bus 2 dan Bus 3 dan sistem dengan FCL
Gambar 5. Thyristor Switching Circuits
Gambar 4. Rangkaian FCL pada fasa A, fasa B dan fasa C
Hasil simulasi pada Gambar 7., Gambar 8., Gambar 9., dan Gambar 10. menunjukkan arus gangguan pada Bus 2 dengan FCL mengalami penurunan pada setengah siklus awal dan pada steady state seperti ditunjukkan pada TabelIII dan TabelIV.
B. Hasil Simulasi Arus Gangguan Bus 3 (20 kV) Bentuk gelombang arus gangguan pada Bus 3 tanpa FCL dan dengan FCL untuk hubung singkat satu fasa ke tanah (L-G), fasa ke fasa (L-L), dua fasa ke tanah (L-L-G), dan tiga fasa ke tanah (L-L-L-G) ditunjukkan pada Gambar 11., Gambar 12., Gambar 13., dan Gambar 14..
Gambar 14. Bentuk gelombang arus gangguan
hubung singkat tiga fasa ke tanah (L-L-L-G) pada Bus 3, tanpa FCL dan dengan FCL.
Gambar 13. Bentuk gelombang arus gangguan
hubung singkat dua fasa ke tanah (L-L-G) pada Bus 3, tanpa FCL dan dengan FCL
Gambar 12. Bentuk gelombang arus gangguan
hubung singkat fasa ke fasa (L-L) pada Bus 3, tanpa FCL dan dengan FCL.
Gambar 11. Bentuk gelombang arus gangguan
hubung singkat satu fasa ke tanah (L-G) pada Bus 3, tanpa FCL dan dengan FCL.
TABELIII
ARUS GANGGUAN BUS 2TANPA FCLDAN DENGAN FCL
PADA STEADY STATE
TIPE GANGGUAN Irms (pu) TANPA FCL Irms (pu) DGN FCL PENURUNAN (pu) % PENURUNAN L-G 11,56 4,39 7,17 62,02 L-L 9.44 3,43 6,01 63,67 L-L-G 11,89 4,15 7,74 65,10 L-L-L-G 10,86 4,09 6,77 62,34 TABELII
ARUS GANGGUAN BUS 2TANPA FCLDAN DENGAN FCL
PADA SETENGAH SIKLUS AWAL
TIPE GANGGUAN Irms (pu) TANPA FCL Irms (pu) DGN FCL PENURUNAN (pu) % PENURUNAN L-G 15,84 5,95 9,89 62,44 L-L 10,84 4,26 6,58 60,70 L-L-G 14,84 5,72 9,12 61,46 L-L-L-G 14,36 5,55 8,81 61,35
Gambar 10. Bentuk gelombang arus gangguan
hubung singkat tiga fasa ke tanah (L-L-L-G) pada Bus 2, tanpa FCL dan dengan FCL
Gambar 9. Bentuk gelombang arus gangguan
hubung singkat dua fasa ke tanah (L-L-G) pada Bus 2, tanpa FCL dan dengan FCL
Hasil simulasi pada Gambar 11., Gambar 12., Gambar 13., dan Gambar 14. menunjukkan arus gangguan pada Bus 3 dengan FCL mengalami penurunan pada setengah siklus awal dan pada steady state seperti ditunjukkan pada TabelIV dan TabelV.
.
VI. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil Pemodelan dan Analisis Fault Current Limiter Sebagai Pembatas Arus Hubung Singkat Pada GI Sengkaling Malang, maka dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut:
1. Model FCL yang digunakan dalam penelitian ini adalah rangkaian FCL solidstate tipe resonan yang diperkenalkan oleh Karady pada tahun 1992. Pemilihan model FCL karena rangkaian FCL ini tidak memerlukan tuning komponen L dan C untuk Z = 0 pada saat steady state.
Spesifikasi model FCL: a. ZFCL = 20 % = 0,2 pu.
b. FCL pada Bus 2, ZFCL = 2,67 Ω, C = 10 µF dan
L = 0,00858 H
b. FCL pada Bus 3, ZFCL = 1,34 Ω, C = 10 µF dan
L = 0,00429 H
2. Penggunaan FCL pada sisi terima (incoming) Bus 2 sistem distribusi GI Sengkaling Malang dapat menurunkan arus gangguan pada setengah siklus pertama untuk gangguan satu fasa ke tanah (L-G) dari 15,84 kA menjadi 5,95 kA (penurunan 62,44 %), untuk gangguan fasa ke fasa (L-L) dari 10,84 kA menjadi 4,26 kA (penurunan 60,70 %), untuk gangguan dua fasa ke tanah (L-L-G) dari 14,84 kA menjadi 5,72 kA (penurunan 61,46 %), dan untuk gangguan tiga fasa ke tanah (L-L-L-G)
dari 14,36 kA menjadi 5,55 kA (penurunan 61,35 %).
3. Penggunaan FCL pada sisi terima (incoming) Bus 3 sistem distribusi GI Sengkaling Malang dapat menurunkan arus gangguan pada setengah siklus pertama untuk gangguan satu fasa ke tanah (L-G) dari 28,42 kA menjadi 11,83 kA (penurunan 58,37 %), untuk gangguan fasa ke fasa (L-L) dari 19,71 kA menjadi 8,43 kA (penurunan 57,23 %), untuk gangguan dua fasa ke tanah (L-L-G) dari 26,31 kA menjadi 11,27 kA (penurunan 57,16 %), dan untuk gangguan tiga fasa ke tanah (L-L-L-G) dari 25,62 kA menjadi 11,08 kA (penurunan 56,75 %).
UCAPAN TERIMA KASIH
Penulis mengucapkan terima kasih kepada Professor Dr. Hazlie Bin Mokhlis, Associate Professor, Departement of Electrical Engineering, Faculty of Engineering, Universiti of Malaya, 50603 Kuala Lumpur, Malaysia yang telah membantu dalam mempublikasikan penelitian ini.
DAFTAR PUSTAKA
[1] Kovalsky, L. , Yuan, X. , Tekletsadik, K. , Keri, A. , Bock, J. and Breuer. F. 2004. Applications of Superconducting Fault
Current Limiters in Electric Power transmission Systems, IEEE
Transactions.
[2] Xin, Y. , Gong, W. , Niu, X. , Cao, Z. , Xi, H. , Zhang, J. , Wang, Y., Tian, B. and Hou, B. 2006. Development of
Superconducting Fault Current Limiters. IEEE Transactions.
[3] Giese, R.F. 1995. Fault Current Limiters - A Second Look, Argonne National Laboratory.
[4] Matsuzaki, J. 1996. Current Limiting Characteristics with
6.6kV/2kA Superconducting Fault Limiter, IEE of Japan Static
Electricity Equipment Research SA-96. Meeting, Vol. 58-1, pp. 95–98.
[5] Schmitt, H. 2006. Fault Current Limiters Report on the Activities of Cigre WG A3.16, IEEE Transactions.
[6] Leung, E. , Rodriguez, A. and Albert, G. 1996. Superconducting
Fault Current Limiter for Utility Applications, in Proc.
American Power Conf., 58th Annual Limiter, IEEE Transactions
on Applied Superconductivity.
[7] Rowley, A.T. 1995. Superconducting Fault Current Limiters, The Institution of Electrical Engineers.
[8] CIGRE WG A3.16. 2008. Technical Brochure No. 339: Guideline on the Impacts of Fault Current Limiting Devices on Protection Systems, Tokyo.
[9] Karady, G.G. 1992. Principles of Fault Current Limitation by a
Resonant LC Circuit, Generation, Transmission and Distribution, IEEE Proceedings C, Vol. 139, pp. 1-6.
[10] Anaya-Lara, O. and Acha, E. 2002. Modeling and Analysis of
Custom Power Systems by PSCAD/EMTDC, IEEE Transactions
on Power Delivery, Vol. 17, No. 1. TABELV
ARUS GANGGUAN BUS 3TANPA FCLDAN DENGAN FCL
PADA STEADY STATE
TIPE GANGGUAN Irms (pu) TANPA FCL Irms (pu) DGN FCL PENURUNAN (pu) % PENURUNAN L-G 22,59 8,79 13,80 61,09 L-L 19,71 6,94 12,77 64,79 L-L-G 23,95 7,94 16,01 66,85 L-L-L-G 20,72 7,98 12,74 61,49 TABELIV
ARUS GANGGUAN BUS 3TANPA FCLDAN DENGAN FCL
PADA SETENGAH SIKLUS AWAL
TIPE GANGGUAN Irms (pu) TANPA FCL Irms (pu) DGN FCL PENURUNAN (pu) % PENURUNAN L-G 28,42 11,83 16,59 58,37 L-L 19,71 8,43 11,28 57,23 L-L-G 26,31 11,27 15,04 57,16 L-L-L-G 25,62 11,08 14,54 56,75