BAB III PELAKSANAAN KERJA MAGANG

Teks penuh

(1)

BAB III

PELAKSANAAN KERJA MAGANG

3.1 Kedudukan dan Koordinasi

Selama 60 hari melakukan proses kerja magang, penulis bekerja di divisi news reguler Katadata. Dalam proses peliputan, penulis tidak berada hanya di satu desk saja, melainkan berpindah-pindah desk sesuai dengan penugasan harian. Sebagai contoh, satu hari penulis dapat menjadi penulis dalam kanal Nasional meliput tentang isu yang berkaitan dengan ekonomi nasional, pada keeseokan harinya penulis menjadi penulis di kanal Digital meliput soal fintech. Hal ini dialami penulis berulang kali selama proses magang. Dalam proses wawancara, penulis juga ditanyai mengenai kesediaan untuk berpindah desk semasa proses magang.

Dalam hierarki penugasan di Katadata pemagang kerap kali diperbantukan untuk mengisi kekosongan dan kebutuhan dari suatu desk berdasarkan keputusan rapat redaksi. Secara sederhana, setelah rapat redaksi dan pembagian tugas setiap harinya oleh redaktur pelaksana dengan para wartawan, penulis baru akan diberikan penugasan terkait desk mana yang memerlukan bantuan penulis di hari tersebut. Itu sebabnya, penulis selalu mendapat penugasan sekitar pukul 8.30 WIB setiap paginya, lantaran selesai briefing dan pembagian kebutuhan pekerjaan.

Secara teknis pengerjaan, penulis umumnya melakukan peliputan baik daring maupun luring. Dalam pengalaman magang yang dijalani sejak 3 November 2020 sampai 5 Januari 2021, penulis tidak terlalu sering dilibatkan dalam liputan luring karena efek pandemi COVID-19 yang tengah melanda dunia. Mayoritas liputan dilakukan secara daring, baik itu kegiatan pemerintah maupun swasta. Wawancara pun dilakukan secara daring melalui platform Zoom atau melalui media sosial lainnya. Salah

(2)

satu liputan luring dilakukan penulis dalam kapasitas pembuatan edisi khusus Katadata dalam kanal Analisis. Kala itu, penulis diminta berulang kali untuk terjun ke lapangan dalam proses mencari informasi dan melakukan observasi terhadap suatu informasi di lapangan. Selain itu penulis juga membuat transkrip wawancara, riset, serta penulisan artikel non liputan

Semua kegiatan tersebut juga diberitahu kepada penulis setelah koordinasi antara redaktur pelaksana dengan wartawan. Namun, penugasan tak hanya diberikan pada pukul 8.30 WIB saja, melainkan dapat setelahnya. Umumnya penugasan tidak akan diberikan di atas 17.30 WIB, di mana merupakan jam akhir bekerja untuk satu hari. Pun, tidak menutup kemungkinan bahwa pekerjaan yang diberikan di hari tersebut memang belum diselesaikan lantaran acara yang diliput atau tugas yang diberikan relatif banyak atau cukup mendekati pukul 17.30 WIB.

Dalam koordinasi penugasan, Redaktur Pelaksana News Katadata Yuliawati merupakan kepala yang bertugas untuk memberikan arahn utama. Penulis sebagai pemagang juga diarahkan secara langsung olehnya. Di samping itu, terdapat beberapa editor per kanal serta wartawan dalam kanal-kanal tersebut yang dapat memberikan arahan serta penugasan. Namun, arahan dan penugasan tidak akan keluar dari tupoksi yang ditentukan pada masa koordinasi harian, kecuali jika ada informasi mendadak yang perlu digarap. Koordinasi dilakukan melalui chat Whatsapp dengan penulis yang kerap menanyakan penugasan harian untuk dikerjakan. Nantinya, penulis diberikan arahan secara langsung mengenai apa yang harus dikerjakan beserta bagaimana alur pengerjaan serta hasil yang hendak dicapai. Dalam proses pengerjaan pun penulis diizinkan untuk bertanya dan berkoordinasi langsung dengan para editor dan redaktur pelaksana sendiri. Koordinasi yang terjadi tak terbatas pada saat briefing di pagi hari saja, tetapi dapat dilakukan setiap saat selama proses pengerjaan. Pengumpulan hasil tulisan juga umumnya dilakukan melalui Whatsapp atau email ke editor terkait, atau langsung ke redaktur pelaksana.

(3)

Dalam proses pasca produksi, penulis mengirimkan artikel untuk di tinjau oleh editor dari desk terkait. Pada proses ini tak menutup kemungkinan penulis harus kembali memperbaiki artikel atau melakukan revisi terhadap tulisan yang sudah dibuat lantaran masih ada ketidaksesuain dengan panduan dan standar penulisan yang semestinya. Terkadang level perbaikan juga dapat terjadi sampai ke penggantian angle karena editor menilai ada bagian yang lebih menarik untuk dibahas. Pada umumnya, editor juga meminta hasil tikpet penulis atau hasil transkrip untuk kemudian memilah mana kutipan yang lebih sesuai untuk kemudian disertakan dalam artikel.

3.2 Tugas yang Dilakukan

Secara umum, penulis berada dalam divisi news reguler Katadata yang berarti penulis melakukan peliputan dalam beragam desk atau kanal yang ada dalam divisi tersebut berdasarkan penugasan yang diberikan. Selama berada dalam jam kerja, penulis harus siap sedia untuk menerima penugasan dalam bentuk apapun dan kapanpun diberikan, itu sebabnya penugasan harian yang diberikan tidak selalu sama. Terkadang, dalam satu hari penulis dapat mengerjakan lebih dari satu liputan dan menghasilkan lebih dari satu output kegiatan. Namun di hari lain, penulis bisa saja hanya mengerjakan satu kegiatan saja.

Secara teknis, penulis melakukan penugasan berupa peliputan daring maupun luring. Peliputan luring yang dilakukan secara langsung di lapangan oleh penulis relatif sedikit secara jumlah. Sebab, masa magang penulis juga berada dalam koridor periode pandemi COVID-19 yang mengharuskan masyarakat dan penulis sendiri untuk meminimalisir pertemuan langsung. Hal ini juga terimplikasi pada tugas peliputan yang diberikan, umumnya liputan yang dikerjakan penulis merupakan liputan daring dengan menggunakan aplikasi Zoom atau media sosial lainnya.

(4)

Dalam proses ini penulis hanya beberapa kali turun langsung ke lapangan untuk meliput edisi khusus Katadata yang memerlukan observasi dan reportase langsung ke lapangan.

Di samping itu, penulis juga mengerjakan ranskrip wawancara, riset, serta penulisan artikel tanpa liputan. Transkrip wawancara umumnya diberikan kepada penulis sehari sebelum dibutuhkannya transkrip tersebut. Durasi transkrip bervariasi tergantung dengan wawancara yang dijalankan. Riset yang dilakukan penulis terbagi atas dua, yakni pertama riset untuk kebutuhan penulisan non liputan, kedua riset untuk kebutuhan bank data Katadata. Secara sederhana, ada momen di mana penulis diminta melakukan riset terhadap satu topik tetapi penulisan tidak dikerjakan untuk diterbitkan, melainkan untuk dibuatkan data atau informasi lain oleh Katadata. Salah satu contohnya adalah saat penulis melakukan riset tentang aktivitas di Laut Cina Selatan selama enam bulan terakhir. Selesai mengumpulkan data riset, penulis hanya menyajikan hasil riset dalam bentuk poin-poin. Namun, ada kalanya juga riset diterjemahkan dalam bentuk teks untuk diunggah di laman web Katadata. Penulisan artikel tanpa liputan dilakukan dengan menyadur dari wire.

Penulis juga melakukan wawancara via telepon dengan narasumber. Umumnya, kontak narasumber diberikan oleh editor dan redaktur pelaksana, tetapi ada masa-masa di mana penulis juga harus melakukan pencarian kontak untuk keperluan wawancara. Wawancara juga dapat dilakukan via aplikasi Zoom dan kerap kali penulis juga diminta untuk langsung membuat transkrip wawancara.

Mengenai teknis tugas yang dilakukan, penulis diminta untuk menemukan dan mencari angle sendiri dalam penulisan untuk kemudian didiskusikan bersama dengan editor atau redaktur pelaksana. Selama liputan juga penulis diharapkan melakukan ketik cepat (tikpet) serta merekam untuk mendapatkan informasi yang akurat dan sesuai, agar nantinya ketika ingin dikutip dapat dengan mudah dilakukan. Umumnya, penulis akan ditanyai mengenai sorotan atau angle apa yang menarik

(5)

dalam liputan yang dilakukan penulis dan di sana diskusi yang dinamis terjadi antara penulis dengan editor atau redaktur pelaksana. Penulis diwajibkan menuliskan setiap hasil liputan yang dilakukan. Pun, penulis pernah tidak memberikan hasil tulisan lantaran tidak ada angle yang menarik dan dinilai perlu untuk diangkat oleh para editor.

Khusus untuk penulis, dalam proses magang di hari Sabtu dan Minggu umumnya melakukan riset dan atau penulisan yang bukan liputan secara langsung. Hal ini disebabkan karena sedikitnya kegiatan yang memang tetap berjalan di hari Sabtu dan Minggu, sehingga penulis kerap melakukan penyaduran dan mempersiapkan riset atau data untuk keperluan hari-hari lainnya.

Untuk merangkum kegiatan penulis secara umum, berikut adalah penugasan dan hasil mingguan yang dilakukan penulis selama melakukan kerja magang di Katadata.

Tabel 3.1 Penugasan Mingguan

Pekan Tugas yang Dilakukan

Pekan 1

(3-8 November 2020)

- Melakukan liputan dan penulisan untuk kanal Manajemen, Merek, dan Industri

- Mengontak narasumber (Kristia Budhiarto, Ulin Yusron)

Pekan 2

(9-15 November 2020)

- Riset artikel

- Riset persiapan edisi khusus sampah plastik di Jakarta

- Melakukan liputan dan penulisan di kanal Marketing

- Mencari kontak narasumber (Dinas dan Kementerian Lingkungan Hidup)

Pekan 3

(16-22

November 2020)

- Liputan edisi khusus langsung ke lapangan (ke TPS dan Bank Sampah)

- Melakukan wawancara via Zoom - Mengontak Bank Sampah

(6)

Pekan 4

(23-29

November 2020)

- Masih menggarap edisi khusus

- Melakukan peliputan langsung ke Bank Sampah

- Melakukan wawancara via telepon - Menulis liputan di kanal Nasional

Pekan 5

(30 November -6 Desember 2020)

- Wawancara narasumber via telepon - Mengerjakan transkrip wawancara - Melakukan riset untuk keperluan artikel

- Melakukan liputan dan menulis di kanal Nasional

Pekan 6

(7-13 Desember 2020)

- Wawancara narasumber via telepon - Menulis berita dari wire

- Mengerjakan transkrip wawancara

- Menulis di kanal Internasional, Nasional, dan Manajemen

Pekan 7

(14-20

Desember 2020)

- Melakukan liputan dan menulis di kanal Nasional

- Menulis dari wire

Pekan 8

(21-27

Desember 2020)

- Mencari narasumber melalui Twitter - Riset profil calon menteri

- Melakukan liputan dan menulis di kanal Nasional

- Menulis dari wire

Pekan 9

(28 Desember 2020 – 3 Januari 2021)

- Melakukan wawancara via Zoom - Menulis dari wire

- Melakukan riset profil

- Menulis di Kanal Energi, Nasional, Internasional, dan Wawancara

Pekan 10

(4-5 Januari 2021)

- Wawancara narasumber via telepon - Menulis dari wire

- Menulis di kanal Merek dan Industri

Jika diakumulasikan, makan jumlah produk buatan penulis yang diunggah ke platform Katadata dalam durasi magang penulis adalah sebanyak 38 artikel dengan satu di antaranya merupakan artikel edisi khusus Katadata. Adapun secara lebih detail, artikel tersebut terdiri dari 20

(7)

artikel Nasional, 5 artikel Internasional, 4 artikel Manajemen, 3 artikel Industri, 2 artikel Merek, 1 artikel Marketing, 1 artikel Energi Baru, 1 artikel Wawancara, dan 1 artikel Analisis (edisi khusus). Adapun jumlah tersebut merupakan bauran antara artikel liputan, hasil wawancara, riset, serta penulisan dari wire. Pun demikian, tidak semua artikel yang penulis buat akhirnya dimuat dalam website Katadata. Dalam masa periode magang, penulis membuat 53 artikel keseluruhan, artinya ada 15 artikel yang tidak jadi dinaikkan.

Di samping itu penulis juga membuat tulisan, penulis juga menghasilkan 17 transkrip berita yang diminta oleh wartawan lain dalam proses magang penulis. Beberapa hasil transkrip dijadikan artikel untuk keperluan desk lain dan atas nama penulis artikel, sisanya dipergunakan sebagai latar belakang informasi dalam membuat produk berita lainnya.

Berdasarkan data tulisan, penulis paling banyak ditempatkan dalam kanal nasional. Hasil wawancara dengan Redaktur Pelaksana Yuliawati memaparkan bahwa kanal ini merupakan satu kanal yang paling membutuhkan tenaga kerja dikarenakan jumlah isu yang relatif banyak. Wartawan yang bertugas dalam desk ini sebenarnya relatif sama dengan kanal lainnya, tetapi load pekerjaan dalam kanal ini dinilai cukup besar sehingga menyerap tenaga pemagang lebih banyak. Selain itu, isu yang di angkat merupakan isu yang fasih di telinga dan mudah dipahami pemagang dalam proses melakukan magang. Berdasarkan urutan, kanal internasional menempati urutan kedua dalam jumlah tulisan yang dihasilkan oleh penulis. Hal ini disebabkan karena kebanyakan berita internasional diperoleh dengan menulis saduran di wire. Umumnya, pemagang diminta untuk mencari isu global yang tengah ramai diperbincangkan juga ketika menulis dari wire, itu sebabnya kanal ini menempati posisi kedua terbanyak.

Terkait dengan sejumlah tulisan yang akhirnya tidak diterbitkan disebabkan oleh beberapa faktor. Salah satu faktor dasar yang kerap kali menjadi isu utama adalah keterbatasan tenaga kerja editor dalam memuat

(8)

artikel. Hal ini menyebabkan tulisan yang memerlukan upaya lebih dalam penyuntingan tidak terlalu diprioritaskan. Prioritas juga diukur berdasarkan isu dan urgensi dari berita yang dibuat penulis. Di samping itu, terdapat juga faktor human error seperti terlewatnya artikel karena banyaknya pesan yang masuk.

Pengerjaan transkrip umumnya diberikan kepada penulis setelah wartawan penuh waktu melakukan wawancara. Format yang diberikan dapat berupa audio file (.mp3) atau bisa juga merupakan video file (.mp4) yang merupakan hasil rekaman wawancara dengan narasumber. Umumnya, permintaan transkrip diberikan sehari sebelum dibutuhkan lantaran memerlukan waktu yang relatif panjang untuk melakukan satu transkrip wawancara, terutama apabila kualitas audio yang tidak begitu baik dan pelafalan yang juga tidak baik dari narasumber sehingga perlu berulang kali didengarkan.

3.3 Uraian Pelaksanaan Kerja Magang

Secara umum, penulis melakukan magang di rumah dengan mekanisme work from home. Hal ini merupakan respons Katadata dalam menghadapi situasi pandemi COVID-19 yang perlu meminimalisir kontak fisik. Keputusan ini sudah disepakati antara penulis dengan Katadata sebagai perusahaan media. Meski bekerja dari rumah, Katadata menetapkan setiap pekerjanya untuk tetap secara profesional mempersiapkan diri dan bekerja sesuai dengan jam kerja yang ditetapkan. Adapun jam kerja tersebut dimulai pukul 8.30 WIB dan diakhiri pukul 17.30 WIB tiap hari Kerja.

Setiap bentuk koordinasi dilakukan secara virtual menggunakan aplikasi dan fitur-fitur digital yang sesuai dengan jenis interaksi. Selama proses magang, penulis belum pernah bertemu secara langsung dengan

(9)

para editor maupun pekerja lainnya di Katadata. Selama ini, penulis berhubungan dan berkoordinasi melalui Whatsapp dan Zoom.

Selama menjadi pemagang di Katadata, penulis menjadi wartawan yang bertugas untuk mewartakan berita kepada khalayak umum. Proses pengerjaan artikel oleh penulis sembari emnerapkan dasar dan disiplin yang sudah diperoleh selama perkuliahan tatap muka di kelas-kelas semester sebelumnya. Tak hanya itu, penulis juga mempelajari hal-hal baru dari para editor terkait dengan gaya penulisan dan pilihan angle tertentu yang sesuai dengan segmen dan target Katadata.

Salah satu contoh yang dialami penulis adalah mengenai jumlah paragraf dalam hardnews produksi Katadata. Selama perkuliahan, penulis mendapat pengajaran bahwa dalam proses pengolahan materi hardnews, berita perlu diolah sesederhana dan selugas mungkin tanpa mengurangi esensi teks di dalamnya. Namun, di Katadata, penulis diwajibkan untuk menulis artikel dengan minimal 10 paragraf dengan memberikan konteks di dalamnya sebagai latar belakang. Hal-hal seperti ini merupakan pembelajaran baru yang diperoleh penulis dalam proses magang ini untuk melihat kesesuaian teori di kelas dengan praktik kerja nyata di media.

3.3.1 Pembahasan Alur Kerja

Dalam penguraian proses magang, penulis menilai perlu adanya satu rujukan untuk menjelaskan secara konkret apa yang dilakukan dan mengapa penulis mengambil keputusan-keputusan tersebut. Untuk itu, dalam menguraikan proses kerja magang yang diperoleh, penulis meminjam poin-poin jurnalisme Ronald Buel (dalam Ishwara 2011, p. 119), yakni di dalam jurnalisme terdapat lima lapisan dalam pengambilan keputusan media dan pemberitaannya, antara lain:

1. Penugasan

2. Pengumpulan data 3. Evaluasi

(10)

4. Penulisan 5. Penyuntingan

Uraian kerja magang selanjutnya akan dibahas menggunakan poin- poin ini untuk memetakan kerja magang penulis.

3.3.3.1 Penugasan

Fase ini merupakan proses pemberian penugasan yang dilakukan oleh editor atau redaktur pelaksana terhadap penulis. Seperti yang sudah dipaparkan sebelumnya, dalam proses magang di Katadata, penulis mendapat penugasan harian setiap pagi pukul 8.30 WIB untuk dikerjakan sepanjang hari. Namun, tak menutup kemungkinan bahwa pekerjaan akan ditambahkan seiring waktu berjalan hingga jam kerja usai.

Koordinasi dilakukan menggunakan Whatsapp untuk membicarakan isu apapun yang hendak di angkat di hari tersebut. Umumnya, penulis menanyakan kepada redaktur pelaksana setiap harinya mengenai penugasan yang didapatkan di hari tersebut dan mengoordinasikan hal tersebut.

Gambar 3.1 Tangkap Layar Penugasan

Penugasan yang diberikan tak hanya terbatas pada liputan langsung saja, tetapi penugasan diberikan juga dalam pencarian

(11)

berita, riset, dan sebagainya. Setiap penugasan dalam bentuk

apapun diberikan pada pagi hari sekitar pukul 8.30 WIB. Pada masa itu penulis harus siap untuk ditugaskan mengerjakan apapun yang diminta olhe editor atau redaktur pelaksana sembari menanyakan angle dan arahan yang sesuai dengan apa yang mau disampaikan melalui tulisan tersebut.

Gambar 3.2 Tangkap Layar Penugasan dan Arahan

Pada tahapan ini penulis benar-benar memastikan bahwa sudah memahami secara utuh mengenai apa yang hendak dikerjakan dan disasar dalam liputan maupun pengerjaan lainnya. Sebab, kerap kali hasil tulisan yang tidak sesuai berisiko tidak dinaikkan atau diulang pengerjaannya. Bagi penulis secara pribadi, poin ini menjadi sangat krusial dalam menentukan keefektifan kerja sepanjang proses-proses selanjutnya, lantaran penulis dapat melakukan pick and choose informasi yang diperlukan agar tidak terlalu menghabiskan waktu menggarap semua informasi.

Dalam proses penugasan, kerap kali redaktur pelaksana atau editor menanyakan kepada penulis mengenai ide penulisan yang sedang terjadi. Umumnya, pertanyaan ini dilontarkan dalam proses penulisan saduran dari wire. Pada proses ini, penulis dapat berdiskusi secara terbuka dengan editor atau redaktur pelaksana

(12)

mengenai saran angle atau isu yang ingin di angkat. Hal ini menyebabkan ada sinergi antara editor yang nantinya akan menjadi gatekeeper produk dengan penulis sebagai pewarta.

Gambar 3.3 Tangkap Layar Pertanyaan Redaktur Pelaksana dan Diskusi Topik

Gambar 3.4 Tangkap Layar Penugasan Transkrip dengan Tenggat Waktu

(13)

Beberapa jenis penugasan seperti transkrip umumnya disertai dengan tenggat waktu (deadline) penugasan. Sebab, terkadang materi yang dikerjakan penulis dibutuhkan untuk rangkaian kegiatan lainnya dalam proses pengolahan teks.

3.3.1.2 Pengumpulan Data

Pengumpulan data merupakan tahapan di mana penulis mengumpulkan data yang berkaitan dengan kegiatan jurnalistik. Dalam hal ini tentu yang dimaksud adalah melakukan peliputan atau penugasan yang sudah diberikan pada tahapan sebelumnya. Secara umum, penugasan dilakukan penulis pada waktu yang ditentukan dan sesuai dengan jam penugasan. Misalkan, apabila penugasan berbentuk liputan maka penulis mempersiapkan diri untuk hadir dalam liputan sesuai dengan jam yang sudah ditentukan. Apabila penugasan berupa wawancara, maka penulis juga mempersiapkan diri sesuai dengan janji temu dengan narasumber, sembari mempersiapkan keperluan-keperluan terkait dengan wawancara.

Namun ada pula bentuk penugasan yang tidak mengharuskan penulis untuk standby pada jam tertentu, atau dengan kata lain dapat dilakukan dengan waktu yang cenderung lentur sesuai pengaturan penulis. Misalnya ketika mengerjakan riset artikel, penulis tidak perlu bersiap di satu periode tertentu, tetapi dapat mengatur waktu sesuai dengan tenggat waktu yang diberikan. Sama halnya dengan transkrip wawancara, penulis dapat mengatur waktu untuk melakukan transkrip tanpa harus datang dalam satu waktu tertentu dan mengerjakan kegiatan tersebut. Pada dasarnya, jenis penugasan ini tidak terpaut oleh ketepatan kehadiran, tetapi pada ketepatan pengumpulan.

(14)

Dalam proses magang, penulis sempat diberikan edisi khusus liputan Katadata mengenai pengelolaan sampah di Jakarta. dalam proses pengumpulan data, penulis melakukan penelitian langsung ke lapangan dengan bahan-bahan yang sudah dipersiapkan dalam masa penugasan. Hal-hal yang sudah dipersiapkan meliputi daftar narasumber dan daftar lokasi yang akan dituju. Penulis beberapa kali melakukan observasi dan liputan langsung di lapangan dalam proses penggarapan informasi.

Pada garapan edisi khusus tersebut penulis melakukan pengumpulan data melalui beberapa cara, di antaranya adalah observasi lapangan, pencarian sumber informasi dari dokumen, dan melakukan wawancara. Dalam peliputan tersebut penulis diminta untuk melakukan beberapa hal, sebagai berikut:

1. Meliput tentang bank sampah di Jakarta selama masa

pandemi

2. Meliput kisah dari seorang pemulung dan tukang

sampah dalam menanggapi pemisahan sampah di permukiman dan di TPS

3. Mencari informasi dari asosiasi terkait isu sampah

plastik di Jakarta

Dalam memenuhi tiga liputan tersebut data dikumpulkan melalui tiga cara tadi. Pertama, penulis melakukan riset mengenai tempat-tempat yang akan dituju dan mengecek kontak narasumber yang dapat dihubungi. Pada proses ini penulis mencari informasi di internet dan melalui teman-teman penulis yang sudah pernah melakukan kerja magang dan meliput isu serupa. Untuk narasumber pemulung dan tukang sampah, penulis mencari narasumber dengan melakukan observasi di daerah-daerah yang sudah ditentukan dan didiskusikan dengan editor.

Setelah proses pencarian informasi, penulis kemudian melakukan penelusuran langsung ke lapangan untuk berbicara

(15)

langsung kepada narasumber dan melakukan observasi secara langsung. Pada liputan poin pertama penulis mengunjungi beberapa bank sampah dan melakukan observasi langsung terhadap kerja bank sampah selama pandemi. Dalam proses ini penulis mengambil beberapa dokumentasi juga terkait dengan layanan bank sampah yang tutup selama masa pandemi COVID-19 untuk dilaporkan kembali kepada editor. Pada liputan poin kedua ketika mewawancarai pemulung dan tukang sampah, penulis langsung memperkenalkan diri dan menghampiri setiap narasumber yang sudah disasar penulis untuk kemudian diwawancara. Penulis meminta izin untuk merekam wawancara dan memulai wawancara di tepi jalan. Pada poin ketiga, penulis membuat janji temu dengan narasumber dan melakukan wawancara secara daring menggunakan platform Zoom. Selama proses wawancara berlangsung, wawancara tersebut direkam untuk nantinya dicatat dan dimasukkan kutipannya dalam penulisan artikel.

Gambar 3.5 Foto Reportase Bank Sampah

Dalam proses pengumpulan data penulis mengambil beberapa gambar untuk dilampirkan dalam artikel dan sebagai

(16)

bukti nyata liputan lapangan. Data yang diperoleh kemudian disampaikan dan didiskusikan dengan editor yang bertugas.

Selama proses pengumpulan data, penulis diminta untuk melampirkan beberapa hal sebagai bukti konkret melakukan peliputan serta bukti keaslian kutipan narasumber. Umumnya penulis diminta untuk mengumpulkan hasil tikpet kepada editor. Hal ini dilakukan agar editor dapat memahami konteks yang berusaha penulis angkat dalam tulisan yang dibuat. Dengan demikian, editor dapat dengan lebih mudah melihat kesesuaian kutipan dengan konteks yang ada meski tidak hadir secara langsung dalam liputan. Hal lainnya yang kerap diminta adalah rekaman wawancara atau rekaman kegiatan. Umumnya, kegiatan liputan merupakan video conference yang merupakan sajian audio visual. Namun, dikarenakan keterbatasan memory penyimpanan dan kemampuan laptop penulis, umumnya yang direkam hanya audionya saja. Kerap kali rekaman ini juga diminta agar editor dapat mendengarkan kembali kutipan-kutipan yang cukup penting.

Hal lainnya yang tidak jauh berbeda adalah transkrip wawancara. Umumnya transkrip wawancara diminta oleh edtior atau redaktur pelaksana dengan tujuan yang sama dengan rekaman kegiatan dan tikpet, yakni sebagai bentuk keaslian dari kutipan yang diberikan oleh narasumber. Selain itu, dengan adanya transkrip dapat memudahkan editor untuk memilih kutipan lainnya dengan pasti.

Hal lain yang kerap diminta juga oleh editor adalah tangkap layar presentasi. Pertemuan atau perhelatan secara daring umumnya menampilkan data atu informasi melalui slide presentasi yang dipresentasikan kepada semua khalayak. Terkadang, tangkap layar dari presentasi juga diminta oleh editor atau redaktur pelaksana, karena mengandung informasi yang penting. Kerap kali, narasumber yang melakukan presentasi tidak menjelaskan kembali

(17)

satu per satu presentasi yang dipaparkan dalam layar, misalnya seperti angka pertumbuhan dari tahun ke tahun, nilai ekspor lima tahun terakhir, dan sebagainya. Padahal, data-data tersebut terkadang diperlukan dalam memberikan konteks yang utuh kepada khalayak.

Salah satu contoh yang dialami penulis adalah saat meliput Katadata regional Summit 2020, acara ruitn besutan Katadata sendiri. Kala itu, penulis diminta untuk melakukan peliputan acara tersebut untuk menulis beberapa sesi di dalam perhelatan tersebut. Namun, salah satu pembicara tidak menjelaskan dengan lengkap data-data yang tertera di dalam slide. Padahal, data tersebut merupakan data kondisi daya saing Indonesia di ASEAN yang dinilai editor waktu itu cukup penting untuk dicantumkan. Akhirnya editor meminta tangkap layar presentasi dari narasumber yang menyampaikan hal tersebut, karena ketika didengarkan rekaman dan dibaca transkripnya tidak ada angka yang disebutkan. Narasumber kala itu hanya mendeskripsikan paparannya tanpa menyebutkan angka-angkanya.

Gambar 3.6 Tangkap Layar Data Presentasi Narasumber

(18)

Akhirnya, penulis memberikan hasil tangkap layar pada

Gambar 3.6 untuk akhirnya dicantumkan dalam artikel sebagai

konteks gambaran daya saing Indonesia di kawasan ASEAN. Hal seperti ini beberapa kali terjadi dan sangat bergantung pada narasumber yang membawakan data dan presentasi yang hendak disampaikan ke khalayak dan media.

Terakhir, hal yang kerap diminta oleh editor atau redaktur pelaksana dalam proses pengumpulan data adalah sumber informasi. Umumnya, hal ini diminta ketika penulis tengah membuat saduran dari wire. Sumber informasi kerap diminta oleh editor atau redaktur pelaksana untuk kembali memastikan dan memeriksa bahwa sumber-sumber yang digunakan kredibel dan sesuai dengan apa yang dituangkan di dalam teks yang dikumpulkan untuk disunting setelahnya. Sumber informasi umumnya dicantumkan pada bagian bawah teks agar editor atau redaktur pelaksana dapat dengan lebih mudah mengakses informasi yang ada di dalam tautan tersebut.

Jika disimpulkan, terdapat beberapa aspek penting yang selama ini dipersiapkan penulis ketika tengah melakukan pengumpulan data, antara lain perekam suara, hasil tikpet, hasil transkrip, tangkap layar informasi, dan sumber informasi. Melalui proses kerja magang di Katadata, penulis menilai bahwa hal-hal tersebut penting untuk dipersiapkan kala melakukan pengumpulan data jurnalistik.

3.3.1.3 Evaluasi

Evaluasi merupakan tahapan untuk membahas kembali kinerja yang sudah dilakukan penulis dalam pengumpulan data serta membenarkan hal-hal yang tidak sesuai dengan kebutuhan

(19)

atau standar Katadata. Pada proses ini, penulis kerap menerima

feedback dari editor atau redaktur pelaksana, terutama berkaitan

dengan proses liputan. Feedback yang diberikan dalam fase ini berupa usulan angle dan pembahasan pasca pengumpulan data.

Sebelum pengumpulan data dimulai, penulis sudah memasuki tahap penugasan, di mana di dalamnya terdapat diskusi mengenai angle dan pakem-pakem peliputan. Akan tetapi, hal tersebut kembali dilakukan setelah pengumpulan data untuk mencocokan dugaan dengan tanggapan yang muncul dari narasumber berita. Itu sebabnya, fase ini dilakukan sebelum penulis mulai mengetikkan informasi dan merajutnya menjadi sebuah tulisan yang akan disunting setelahnya.

Dalam proses ini, angle yang semula direncanakan kerap kali berubah atau berganti lantaran editor atau redaktur pelaksana menemukan potensi angle lain yang lebih menarik dan cocok untuk kebutuhan Katadata. Hal ini berkaitan dengan poin sebelumnya di mana penting untuk penulis mengumpulkan data dalam bentuk-bentuk yang memungkinkan untuk ditinjau ulang, misalnya dengan menyimpan rekaman atau membuat transkrip verbal dari apa yang disampaikan narasumber. Dengan begitu, ruang diskusi untuk mencapai tujuan yang lain dapat lebih mudah terpenuhi.

Pada fase ini, editor atau redaktur pelaksana umumnya membuka dengan pertanyaan-pertanyaan mengenai temuan apa yang menarik selama liputan. Sebab, terkadang ada informasi- informasi yang tiba-tiba disampaikan narasumber yang menarik atau belum pernah disampaikan sebelumnya. Oleh karena itu, penting bagi penulis untuk memerhatikan informasi yang didapat selama proses pengumpulan data, supaya ketika ditanyai dapat memberikan informasi yang sesuai.

(20)

3.3.1.4 Penulisan

Pada tahapan ini penulis memproduksi konten hasil pengumpulan data dalam bentuk teks yang nantinya dikirimkan ke editor. Produk yang dihasilkan berupa artikel dengan angle sesuai dengan pembicaraan dalam penugasan dan evaluasi sebelumnya. Penulis kemudian menyusun teks dengan kerangka yang disusun sebelumnya sesuai dengan diskusi dengan editor. Penulisan dilakukan menggunakan aplikasi Microsoft Words.

Dalam proses penulisan, penulis biasanya mendengarkan kembali rekaman atau membuka kembali bagian transkrip wawancara untuk mendapatkan gambaram utuh mengenai teks yang hendak ditulis dan kaitannya dengan angle yang sudah disepakati bersama. Proses ini merupakan tahapan yang dinilai penulis paling memakan waktu dalam proses keseluruhan peliputan. Tahap ini juga dilakukan sebagai bagian akhir dari pekerjaan penulis dalam menyelesaikan kegiatan liputan atau reportase terkait.

Hasil penulisan umumnya dikirimkan melalui Whatsapp atau email setelah penulis selesai mengerjakan tulisan. Meski sebagai tahapan final bagi penulis, tapi tak menutup kemungkinan bahwa akan ada revisi selanjutnya dari para editor untuk penulis dalam melengkapi tulisan dan menyesuaikan dengan standar Katadata.

Dalam Katadata sendiri, terdapat beberapa standar penulisan yang perlu dipahami penulis dalam membuat tulisan

hard news atau straight news. Secara umum, penulis mengetahui

beberapa aspek utama dalam pembuatan artikel hard news, tetapi ada beberapa hal yang kerap kali tidak sesuai dengan standar Katadata dalam segi penulisan. Berikut ini penulis akan

(21)

memaparkan hal-hal baru dari aspek tulisan yang penulis dapatkan selama proses magang di Katadata, hal-hal yang penulis rasa sedikit berbeda dengan penjelasan di kelas.

Penggunaan anak judul.

Dalam artikel Katadata kerap kali penulis diminta membuat anak judul tepat di bawah judul. Selama proses beberapa minggu pertama menjalani kerja magang, penulis sempat tidak mengerti dengan baik mengenai anak judul ini. Namun, setelah penulis banyak bertanya dan belajar mengenai hal-hal ini, penulis mengerti cara membuat dan penerapannya dalam artikel yang dibuat penulis.

Secara sederhana, anak judul dalam artikel Katadata merupakan semacam sub judul yang sedikit mengelaborasi judul dengan satu kalimat. Fungsinya, adalah untuk memaparkan konteks judul dengan lebih jelas kepada pembaca. Dengan adanya penjelasan ini, penulis memiliki sedikit keleluasaan untuk memberikan konteks pada judul agar tidak disalahartikan oleh pembaca.

Gambar 3.7 Tangkap Layar Anak Judul pada Artikel Katadata

(22)

Selama proses kuliah penulis tidak banyak mendapat penjelasan mengenai anak judul. Umumnya, penulis lebih banyak dikenalkan dengan lead yang akan mengenalkan judul dan memberikan konteks yang jelas terhadap artikel yang tengah dibuat. Nantinya di dalam lead, penulis dapat mengelaborasi maksud judul agar tidak menimbulkan bias dan kebingungan.

Penempatan 5W+1H

Selama perkuliahan penulis diajar bahwa dalam penulisan hard news teks dikemas dalam format deduktif atau piramida terbalik, yakni memaparkan hal- hal umum dahulu dan semakin ke bawah semakin khusus. Hal ini termasuk dengan penempatan 5W 1H yang merupakan informasi umum dari sebuah penggalan berita. Namun, dalam Katadata, penulis tidak diminta untuk melakukan hal tersebut. Lead yang dipaparkan dalam hard news atau straight news Katadata tidak ditikberatkan pada lead dengan format deduktif, melainkan pemasukkan elemn 5W 1H dapat diletakkan di mana saja dalam badan kalimat.

Seringkali, penulis meletakkan elemen where dan when dalam akhir kutipan pertama, sesuai apa yang dicontohkan oleh editor dan redaktur pelaksana. Misalnya ketika menyebut suatu tajuk acara, penulis umumnya menuliskan nama dan tajuk acara pada bagian akhir kutipan pertama narasumber menggunakan kata hubung “dalam” atau “pada”.

(23)

Gambar 3.8 Tangkap Layar Elemen Where dan When pada Artikel Katadata

Lead Berisi Konteks

Selama masa perkuliahan, penulis belajar bahwa lead

hard news berisikan informasi umum yang utama dalam

artikel tersebut. Selama proses magang di Katadata, penulis diajar untuk meletakkan konteks yang sesuai dengan badan artikel. Konteks ini memberikan gambaran utuh mengenai isi keseluruhan artikel serta penjelasan yang akan dipaparkan.

Secara umum, apa yang diajarkan di masa perkuliahan dan dalam proses magang di Katadata relatif sama, hanya isinya yang berbeda. Dalam pelajaran di perkuliahan penulis diajarkan bahwa informasi utama yang perlu ada dalam teras berita adalah 5W 1H, sedangkan di Katadata informasi yang harus ada berupa konteks keseluruhan artikel. Namun keduanya memiliki fungsi dasar yang sama, yakni sebagai gambaran umum isi artikel yang akan dikonsumsi pembaca.

(24)

Gambar 3.9 Tangkap Layar Lead Artikel

Konteks yang umumnya diharapkan editor di Katadata adalah konteks yang terkait dengan data latar belakang artikel yang dibuat penulis. Pada Gambar 3.9 menunjukkan lead dari berita karya penulis berjudul Transformasi Digital RS Siloam Mengantisipasi Dampak Covid-19. Artikel tersebut membahas inovasi digital rumah sakit Siloam dalam masa pandemi COVID-19. Akan tetapi, lead berita pada Gambar 3.9 merupakan konteks umum mengenai gambaran digitalisasi dan dorongan perusahaan untuk go digital di masa pandemi COVID-19. Kalimat tersebut memberikan gambaran kepada pembaca bahwa tulisan ini akan membahas mengenai urgensi Siloam dalam melakukan banyak transformasi digital di era Pandemi COVID-19.

Konteks seperti yang diinginkan editor di Katadata dalam proses penulisan untuk menghasilkan tulisan yang sesuai dengan standar tulisan Katadata lainnya.

(25)

Hal-hal ini dinilai penulis bukan semata hal-hal baru saja, melainkan kekhasan dari tulisan Katadata. Dalam pembelajaran yang diperoleh penulis di kelas, hal-hal yang tadi diuraikan merupakan pembelajaran default struktur penulisan di media massa, terutama media daring. Akan tetapi, dalam proses kerja magang, hal-hal tersebut merupakan dasar berpikir yang runut dan komprehensif dalam memproduksi produk jurnalistik di media daring. Selain itu, hal-hal yang dilakukan Katadata dalam pemberitaannya juga tidak dilakukan media daring lainnya. Aspek penggunaan struktur, sub judul, hingga konteks lead merupakan ciri khas dari penulisan Katadata. Penulis tidak menemukan asek serupa di banyak media massa selain Katadata.

Dalam aspek penulisan, penulis juga menemukan bahwa kerap kali redaktur pelaksana atau editor meminta informasi lengkap yang didapatkan penulis dari proses peliputan untuk dibentuk menjadi data. Selain informasi dari penulis, Katadata memang memiliki divisi yang mensuplai data dan menjadikan data dalam bentuk chart menggunakan platform Databoks. Hal ini juga menjadi kekhasan dalam penulisan berita Katadata yang tidak dimiliki media lain di dalam proses olah data medianya.

3.3.1.5 Penyuntingan

Bagian ini merupakan bagian final sebelum akhirnya karya penulis diunggah dalam paltform Katadata. Meski bagian terakhir, tetapi bagian penyuntingan tidak terlalu melibatkan penulis dalam prosesnya. Penulis hanya terlibat apabila ada hasil suntingan yang mengharuskan penulis untuk melakukan perbaikan karya atau bahkan mengulang tulisan apabila ada hal-hal yang sangat tidak sesuai. Itu sebabnya, pada tahapan ini penulis umumnya tetap berjaga-jaga

(26)

jikalau ada revisi yang diperlukan.

Namun secara umum, editor dan redaktur pelaksana yang akan melakukan penyuntingan dan tidak mengubungi penulis lagi dalam proses tersebut, kecuali ada sesuatu hal yang sangat fundamental untuk diubah. Di dalam proses ini juga, seringkali editor menanyakan kepada penulis tentang hal-hal yang tidak dimengerti. Sebab ada konteks dan hal-hal yang terkadang tidak dipahami oleh editor lantaran tidak hadir secara langsung dalam kegiatan peliputan atau wawancara.

Terkadang penulisan artikel dapat diubah nyaris semuanya, bahkan sampai di posisi penulis tidak mengenali tulisannya sendiri. Hal ini penulis nilai cukup wajar terjadi lantaran beda gaya menulis antarpribadi. Ketika dalam proses kuliah, penulis juga mengalami hal yang sama dalam merespons tulisan artikel rekan sejawat dalam penugasan di kuliah. Hal sama terjadi di Katadata terhadap penulis.

Editor atau penyunting merupakan gatekeeper terakhir sebelum artikel diunggah ke platform Katadata. Dengan tanggung jawab tersebut, editor memeriksa segala hal dengan teliti, baik hal teknis maupun non teknis. Hal ini menjadi alasan kedua penulis tidak heran apabila ada tulisan yang dirombak nyaris sepenuhnya lantaran memastikan kualitas platform Katadata sebagai media.

Umumnya, hal-hal teknis yang disunting editor dan redaktur pelaksana adalah penggunaan istilah asing yang masih dapat diganti dengan istilah bahasa Indonesia. Selain itu penggunaan elemen-elemen khusus untuk menandai kata seperi italic, bold, dan sebagainya. Di Katadata, italic digunakan dalam penggunaan istilah asing, sedangkan bold digunakan untuk memberi penekanan tertentu dalam suatu paragraf atau teks. Hal ini juga menjadi ciri khas Katadata dalam penulisan artikelnya yang kerap memberikan bold pada kata-kata terentu sebagai gambaran

(27)

penekanan.

3.3.2 Kendala Proses Kerja Magang

Dalam menjalani proses kerja magang, penulis menemukan sejumlah kendala dari aspek teknis maupun non-teknis. Hal-hal teknis merupakan hal-hal yang secara fisik mempengaruhi penulis dalam melakukan kerja magang. Hal-hal non-teknis merupakan segala kendala yang dialami penulis yang tidak bersifat fisik, tetapi mempengaruhi secara langsung dalam proses magang.

Secara teknis, hal-hal yang penulis alami berkisar seputar situasi pandemi Covid-19 yang menyebabkan penulis harus mengerjakan segala bentuk liputan dengan mekanisme work from

home. Selama proses magang, penulis nyaris tidak melakukan liputan

secara langsung ke lapangan, kecuali saat menggarap edisi khusus di kanal Analisis. Pada umumnya, kegiatan liputan dilakukan secara daring dari rumah menggunakan platform-platform digital yang digunakan oleh narasumber atau kegiatan liputan.

Di masa pandemi Covid-19, kegiatan pun umumnya dilaksanakan secara daring. Hal-hal seperti konferensi pers, webinar, dan wawancara semua harus dilakukan secara daring. Secara umum, pelaksanaan kegiatan tidak terlalu berbeda dengan liputan secara luring, tetapi beberapa aspek yang mendukung pelaksanaan kegiatan justru yang menjadi kendala.

Aspek sarana dan prasarana menjadi persoalan terbesar dalam mendukung proses kerja magang di lini ini. sinyal internet misalnya, kerap kali ketidakstabilan sinyal internet mempengaruhi penulis dalam memperoleh data dari kegiatan atau narasumber. Ketika internet mulai tidak stabil, umumnya suara narasumber atau panelis dalam kegiatan menjadi tidak terdengar dan mengakibatkan adanya informasi yang terlewat. Hal ini sangat merugikan dan

(28)

mempengaruhi kualitas pengumpulan data karena bisa saja hal-hal yang terlwat tadi merupakan poin penting dari peliputan tersebut. Sarana dan prasarana lainnya yang juga berpengaruh adalah perangkat yang digunakan penulis. Tak jarang dalam proses magang ini laptop yang digunakan penulis memproduksi suara yang kecil, sehingga informasi dari narasumber menjadi tidak terlalu terdengar. Hal lainnya adalah kecepatan proses kerja laptop yang mempengaruhi penulis dalam memproduksi tulisan.

Dari sisi non-teknis, penulis menemukan beberapa kendala yang berkaitan dengan situasi kerja magang dan penerapan ilmu jurnalistik selama masa perkuliahan. Dalam aspek situasi kerja, penulis menilai bahwa bekerja dari rumah kerap kali menyebabkan distraksi yang tidak sedikit. Daerah rumah penulis yang relatif bising pada siang hari menyebabkan sulitnya berkonsentrasi dalam menyelesaikan pekerjaan magang yang diberikan. Sedikit banyak hal ini menyebabkan penurunan kualitas berpikir dan produk yang dihasilkan.

Dari sisi penerapan ilmu jurnalistik, penulis menemukan beberapa kendala baru selama proses kerja magang. Salah satu yang utama adalah kecepatan menulis yang tidak terlalu dipelajari di kampus. Dalam proses magang kerap kali penulis diminta untuk menghasilkan artikel daring yang cepat dan tepat sasaran agar dapat segera dipublikasikan. Selama proses kerja magang, penulis kerap memantau media lain yang juga melakukan hal serupa, yakni menulis dan mengunggah pemberitaan dengan cepat bahkan sesaat setelah liputan berakhir. Hal-hal ini sempat didapat penulis ketika berada di kelas dalam proses perkuliahan, tetapi waktu secepat proses kerja magang belum pernah dipelajari atau dipraktikkan di kelas. Umumnya, dalam kelas hard news di masa kuliah, penulis diminta untuk memproduksi artikel tetapi tidak dengan kecepatan setinggi kerja jurnalistik sesungguhnya, yakni sekitar satu jam atau bahkan

(29)

sepekan untuk memproduksi berita. Dalam kerja magang sesungguhnya, penulis kerap diminta menulis dengan cepat dan memproduksi artikel secepat mungkin setelah liputan berakhir. Berdasarkan keterangan editor dan redaktur pelaksana, hal ini untuk mengejar aspek real time dari pemberitaan tersebut, sehingga publik bisa turut terlibat secara langsung ketika berita diterbitkan.

Hal non-teknis lain yang menjadi kendala adalah gamangnya pengetahuan penulis soal istilah-istilah ekonomi. Penulis merasa kesulitan dalam beberapa pekan awal untuk menyesuaikan diri dengan ritme pemberitaan ekonomi karena kesulitan memahami sejumlah istilah dan konteks yang ada di dalam liputan. Dalam masa perkuliahan penulis sempat menerima mata kuliah business

journalism yang mengajarkan sejumlah konteks dan istilah ekonomi.

Namun, masih terdapat beberapa hal yang belum dimengerti penulis sehingga menyebabkan kegamangan dalam memahami sejumlah istilah dan konteks dalam ranah ekonomi.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :