• Tidak ada hasil yang ditemukan

LAPORAN HASIL PENELITIAN BERBASIS KOMPETENSI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "LAPORAN HASIL PENELITIAN BERBASIS KOMPETENSI"

Copied!
165
0
0

Teks penuh

(1)

Kode / Nama Rumpun Ilmu: 426 / Teknik Arsitektur Bidang Fokus : SOSIAL HUMANIORA- SENI BUDAYA-PENDIDIKAN

LAPORAN HASIL

PENELITIAN BERBASIS KOMPETENSI

REKONSEPSUALISASI FILOSOFI ARAH SAKRAL-PROFAN

PADA PERMUKIMAN HINDU DI BALI DAN JAWA TIMUR:

Sebuah Studi Komparatif

TIM PENELITI

I Nyoman Widya Paramadhyaksa, ST, MT, Ph.D 0011097401 Ni Ketut Pande Dewi Pande, ST, M. EngSc., PhD. 0022056906

I Kadek Merta Wijaya, ST, MSc. 0806108004

UNIVERSITAS UDAYANA

OKTOBER 2018

(2)
(3)

iv DAFTAR ISI

Halaman Sampul ... i

Halaman Pengesahan ... ii

Identitas dan Uraian Umum ... .. iii

Daftar Isi ... iv Ringkasan ... ... ix BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ... 1 1.2 Tujuan Khusus ... ... 2 1.3 Urgensi Penelitian ... 3

BAB II URAIAN KEGIATAN 2.1 Jalan Penelitian (roadmap) ... ... 4

2.2 Kegiatan yang Telah dan Akan Dikerjakan terkait Penelitian yang Diajukan ... 4

2.3 Gambaran Kebaruan yang Dicapai sebagai Hasil Penelitian yang Ajukan ... 5

2.4 Pustaka Acuan ... 5

BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Materi Penelitian ... 6

3.2 Informan Penelitian ... 6

3.3 Lokasi Penelitian dan Pemilihan Kasus Penelitian ... 6

3.4 Metode Penelitian ... 7

3.5 Instrumen dan Alat Bantu Penelitian ... 9

BAB IV HASIL OBSERVASI LAPANGAN 4.1 Desa Sidatapa ... 10

a. Lokasi Desa Sidatapa ... 10

b. Sejarah Desa Sidatapa ... 11

c. Orientasi dan Pola Desa Sidatapa ... 12

d Wujud Penerapan dalam Tata Ruang Sidatapa ... 13

4.2 Desa Pancasari ... 15

a. Lokasi Desa Pancasari ... 15

b. Sejarah Desa Pancasari ... 16

c. Orientasi dan Pola Desa Pancasari ... 18

d. Wujud Penerapan dalam Tata Ruang Pancasari ... 20

(4)

v

a. Lokasi Desa Sambirenteng ... 21

b. Sejarah Desa Sambirenteng ... 22

c. Orientasi dan Pola Desa Sambirenteng ... 23

d. Wujud Penerapan dalam Tata Ruang Desa Sambirenteng ... 25

4.4 Desa Sembiran ... 25

a. Lokasi Desa Sembiran ... 26

b. Sejarah Desa Sembiran ... 26

c. Orientasi dan Pola Desa Sembiran ... 28

d. Wujud Penerapan dalam Tata Ruang Desa Sembiran ... 30

4.5 Desa Wanagiri ... 31

a. Lokasi Desa Wanagiri... 31

b. Sejarah Desa Wanagiri ... 32

c. Orientasi dan Pola Desa Wanagiri ... 34

d. Wujud Penerapan dalam Tata Ruang Desa Wanagiri ... 35

4.6 Desa Munduk ... 35

a. Lokasi Desa Munduk ... 35

b. Sejarah Desa Munduk ... 36

c. Orientasi dan Pola Desa Munduk ... 37

d. Wujud Penerapan dalam Tata Ruang Desa Munduk ... 38

4.7 Desa Gogleg ... 39

a. Lokasi Desa Gobleg ... 39

b. Sejarah Desa Gobleh ... 39

c. Orientasi dan Pola Desa Gobleg ... 40

d. Wujud Penerapan dalam Tata Ruang Desa Gobleh ... 41

4.8 Desa Pinggan ... 41

a. Lokasi Desa Pinggan ... 41

b. Sejarah Desa Pinggan ... 42

c. Orientasi dan Pola Desa Pinggan ... 44

d. Wujud Penerapan dalam Tata Ruang Desa Pinggan ... 47

4.9 Desa Manikliyu ... 47

a. Lokasi Desa Manikliyu ... 47

b. Sejarah Desa Manikliyu ... 48

c. Orientasi dan Pola Desa Manikliyu ... 50

(5)

vi

4.10 Desa Serai ... 52

a. Lokasi Desa Serai ... 52

b. Sejarah Desa Serai ... 53

c. Orientasi dan Pola Desa Serai ... 55

d. Wujud Penerapan dalam Tata Ruang Desa Serai ... 58

4.11 Desa Sukawana ... 58

a. Lokasi Desa Sukawana ... 58

b. Sejarah Desa Sukawana ... 59

c. Orientasi dan Pola Desa Sukawana ... 62

d. Wujud Penerapan dalam Tata Ruang Desa Sukawana ... 63

4.12 Desa Belancan ... 63

a. Lokasi Desa Belancan ... 63

b. Sejarah Desa Belancan ... 65

c. Orientasi dan Pola Desa Belancan ... 66

d. Wujud Penerapan dalam Tata Ruang Desa Belancan ... 68

4.13 Desa Subaya ... 68

a. Lokasi Desa Subaya ... 68

b. Sejarah Desa Subaya ... 69

c. Orientasi dan Pola Desa Subaya ... 71

d. Wujud Penerapan dalam Tata Ruang Desa Subaya ... 72

4.14 Desa Kutuh ... 72

a. Lokasi Desa Kutuh ... 72

b. Sejarah Desa Kutuh ... 73

c. Orientasi dan Pola Desa Kutuh ... 74

d. Wujud Penerapan dalam Tata Ruang Desa Kutuh ... 75

4.15 Desa Dausa ... 75

a. Lokasi Desa Dausa ... 75

b. Sejarah Desa Dausa ... 75

c. Orientasi dan Pola Desa Dausa ... 76

d. Wujud Penerapan dalam Tata Ruang Desa Dausa ... 77

4.16 Desa Bunutin ... 78

a. Lokasi Desa Bunutin ... 78

(6)

vii

c. Orientasi dan Pola Desa Bunutin... 80

d. Wujud Penerapan dalam Tata Ruang Desa Bunutin ... 82

4.17 Desa Siakin ... 82

a. Lokasi Desa Siakin ... 82

b. Sejarah Desa Siakin ... 83

c. Orientasi dan Pola Desa Siakin ... 83

d. Wujud Penerapan dalam Tata Ruang Desa Siakin ... 86

4.18 Desa Ulian ... 86

a. Lokasi Desa Ulian... 86

b. Sejarah Desa Ulian ... 87

c. Orientasi dan Pola Desa Ulian ... 88

d. Wujud Penerapan dalam Tata Ruang Desa Ulian ... 90

4.19 Desa Datah ... 90

a. Lokasi Desa Datah ... 90

b. Sejarah Desa Datah ... 91

c. Orientasi dan Pola Desa Datah ... 92

d. Wujud Penerapan dalam Tata Ruang Desa Datah ... 93

4.20 Desa Tenganan ... 93

a. Lokasi Desa Tenganan ... 93

b. Sejarah Desa Tenganan ... 94

c. Orientasi dan Pola Desa Tenganan ... 96

d. Wujud Penerapan dalam Tata Ruang Desa Tenganan ... 98

4.21 Desa Songan... 98

a. Lokasi Desa Songan ... 98

b. Sejarah Desa Songan... 99

c. Orientasi dan Pola Desa Songan ... 100

d. Wujud Penarapan dalam Tata Ruang Desa Songan ... 101

4.22 Desa Trunyan ... 101

a. Lokasi Desa Trunyan ... 101

b. Sejarah Desa Trunyan ... 102

c. Orientasi dan Pola Desa Trunyan ... 103

(7)

viii

4.23 Desa Jasri... 104

a. Lokasi Desa Jasri ... 105

b. Sejarah Desa Jasri ... 106

c. Orientasi dan Pola Desa Jasri ... 107

d. Wujud Penerapan dalam Tata Ruang Desa Jasri ... 108

4.24 Desa Culik ... 108

a. Lokasi Desa Culik... 108

b. Sejarah Desa Culik ... 109

c. Orientasi dan Pola Desa Culik ... 110

d. Wujud Penerapan dalam Tata Ruang Desa Culik ... 111

4.25 Desa Taro ... 111

a. Lokasi Desa Taro ... 111

b. Sejarah Desa Taro... 112

c. Orientasi dan Pola Desa Taro... 114

d. Wujud Penerapan dalam Tata Ruang Desa Taro ... 116

4.26 Desa Pujungan... 116

a. Lokasi Desa Pujungan ... 116

b. Sejarah Desa Pujungan ... 117

c. Orientasi dan Pola Desa Pujungan ... 117

d. Wujud Penerapan dalam Tata Ruang Desa Pujungan ... 119

4.27 Desa Sanda ... 119

a. Lokasi Desa Sanda ... 119

b. Sejarah Desa Sanda ... 120

c. Orientasi dan Pola Desa Sanda ... 121

d. Wujud Penerapan dalam Tata Ruang Desa Sanda ... 122

4.28 Desa Pupuan ... 123

a. Lokasi Desa Pupuan ... 123

b. Sejarah Desa Pupuan... 124

c. Orientasi dan Pola Desa Pupuan... 124

d. Wujud Penerapan dalam Tata Ruang Desa Pupuan ... 125

4.29 Desa Batungsel... 125

a. Lokasi Desa Batungsel ... 125

(8)

ix

c. Orientasi dan Pola Desa Batungsel ... 128 d. Wujud Penerapan dalam Tata Ruang Desa Batungsel ... 129

BAB V PEMBAHASAN HASIL...138 BAB VI PENUTUP

6.1 Simpulan ... 153 6.2 Saran ... 154 DAFTAR PUSTAKA... 155

(9)

RINGKASAN

Dalam berbagai literatur, kaja (arah sakral) maupun kelod (arah profan) pada seluruh permukiman tradisional Hindu di Bali mengacu ke barisan pegunungan yang ada di tengah Pulau Bali. Kaja bagi komunitas di Bali Utara adalah berada di arah selatan, adapun bagi komunitas di Bali Selatan diposisikan berada di arah utara. Kelod diposisikan di arah kebalikannya. Pandangan ini seolah sudah diakui sebagai kebenaran yang berlaku mutlak di Bali. Ada banyak skripsi, tesis, disertasi, bahkan laporan penelitian pascadoktoral di dalam maupun luar negeri yang juga memposisikannya sebagai pedoman utama yang sudah benar. Meskipun dalam kenyataannya, ada banyak desa tradisional Hindu di Bali yang memposisikan arah kaja dan kelod tidak seperti konsep tersebut. Ada banyak pengecualian yang menyebabkan konsep tersebut menjadi lemah dan mudah dipatahkan. Akan tetapi, hingga saat ini belum ada buku teks yang secara eksplisit memaparkan adanya banyak realita yang berbeda di lapangan. Gambaran inilah yang mendorong lahirnya gagasan untuk melakukan sebuah penelitian yang hasilnya akan segera dipublikasikan sebagai buku teks nasional tentang rekonsepsualisasi pedoman penetapan arah sakral-profan pada permukiman tradisional Hindu di Bali yang lengkap dan komprehensif. Hasil penelitian ini dipastikan akan menjadi acuan baru yang kuat dan akan merevisi pandangan umum para peneliti dan akademisi tata ruang permukiman tradisional Bali sebelumnya. Penelitian ini bertujuan untuk menggali lebih dalam latar filosofis dan wujud penerapan dari penetapan arah sakral-profan dan arah lain penyertanya pada permukiman tradisional Hindu di Bali dengan menerapkan metode hermeneutik-rasionalistik. Pada bagian lainnya, dalam tahun kedua penelitian ini juga akan melakukan studi komparatif tentang penetapan arah sakral-profan yang berlaku pada permukiman tradisional Hindu di Jawa Timur yang dikenal memiliki relasi sejarah yang kuat dengan kultur Hindu di Bali, seperti di Tengger, Trowulan, serta wilayah sekitar Gunung Raung dan Gunung Penanggungan. Hasil akhir penelitian ini akan dipublikasikan dalam bentuk buku teks yang akan melengkapi konsepsi arah sakral-profan tradisional Bali yang dikenal selama ini tersebut.

(10)

1

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pengetahuan arsitektur Hindu dan Buddha Indonesia merupakan cabang ilmu kearsitekturan langka yang berelasi kuat dengan perkembangan sejarah, filosofi hidup, pola permukiman, dan arsitektur percandian Nusantara. Materi ajar dalam cabang ilmu pengetahuan ini sangat banyakakan tetapi sangat langka buku referensinya. Kondisi ini secara tidak langsung berdampak “terkuburnya” berbagai filosofi kearsitekturan dan tinggalan arkeologi yang termuat dalam bangunan-bangunan Hindu dan Buddha Nusantara.Gambaran tentang kelangkaan pengetahuan arsitektur Hindu dan Buddha Indonesia ini selanjutnya mendorong gagasan melakukan penelitian tentang pengetahuan arsitektur Hindu dan Buddha Nusantara sejak tahun 2009. Dalam tahun 2018-2019 ini, terbersit gagasan melakukan penelitian tentang arah sakral-profan dalam tata permukiman tradisional Hindu di Bali.

Dalam berbagai literatur arah kaja (arah sakral) maupun arah kelod (arah profan) pada seluruh permukiman tradisional Hindu di Bali ditetapkan ke arah barisan pegunungan di zona tengah Pulau Bali. Arah kaja bagi komunitas di Bali Utara adalah berada di arah selatan, adapun bagi komunitas di Bali Selatan diposisikan berada di arah utara. Arah kelod diposisikan di arah kebalikannya (Gelebet, 1986: 28). Pandangan ini seolah terakui sebagai kebenaran mutlak di Bali, meskipun dalam kenyataannya, ada banyak pengecualian yang menyebabkan konsep tersebut seperti lemah dan mudah dipatahkan. Permasalahannya, hingga saat ini belum ada buku teks yang memaparkan adanya realita yang berbeda di lapangan. Gambaran ini selanjutnya mendorong dilakukannya penelitian yang hasilnya akan dipublikasikan sebagai buku teks tentang rekonsepsualisasi penetapan arah sakral-profan pada permukiman tradisional Hindu di Bali yang lengkap dan komprehensif.

Hasil penelitian ini dipastikan akan menjadi acuan baru yang kuat dan akan merevisi pandangan umum para peneliti dan akademisi tata ruang permukiman tradisional Bali sebelumnya. Penelitian ini juga bertujuan menggali filosofi dan penerapan konsepsi utama tentang arah sakral-profan dan penamaan arah-arah lain penyertanya pada permukiman tradisional Hindu di Bali. Dalam penelitian ini juga dilakukan studi komparatif tentang penetapan arah sakral-profan pada permukiman tradisional Hindu di Jawa Timur yang memiliki relasi sejarah yang kuat dengan kultur Hindu di Bali. Kegiatan observasi dan komparasi terhadap fenomena keruangan di Jawa Timur akan dilakukan pada tahun kedua (2019) guna mempertajam substansi temuan final sebelum selanjutnya dipublikasikan dalam bentuk sebuah buku teks.

(11)

2

1.2 Tujuan Khusus

Adapun pada penelitian ini bertujuan khusus untuk menghasilkan buku teks yang memuat:

a. Rekonsepsualisasi latar filosofis penetapan arah sakral-profan pada permukiman tradisional Hindu di Bali dan Jawa Timur.

b. Gambaran pemetaan arah orientasi sakral-profan yang berlaku secara lengkap di Pulau Bali.

c. Gambaran korelasi dan kesetaraan makna antara konsepsi arah orientasi permukiman Hindu Bali dan konsepsi setara yang berlaku di luar wilayah Bali, khususnya di Jawa Timur.

d. Pola penetapan delapan arah mata angin penyertanya (kaja, kaja-kangin, kangin, kelod- kangin, kelod, kelod-kauh, dan kauh) sesuai pandangan tradisional Bali pada wilayah permukiman tradisional Hindu di Bali. Kedelapan arah mata angin ini baru dapat ditetapkan hanya setelah arah sakral-profan pada suatu wilayah permukiman berhasil ditetapkan.

e. Studi berkenaan nilaiuniversal yang termuat dalam konsepsi arah sakral permukiman Bali. f. Rangkumandampak penerapan konsepsi arah sakral-profan pada tata ruang dan bangunan

tradisional Bali di desa-desa lokasi penelitian.

g. Pengetahuan tata ruang permukiman tradisional Hindu Bali yang logis dan mudah dipahami oleh para peneliti dari strata ilmu kesarjanaan, magister, doktoral, dan pascadoktoral. Rencana capaian tahunan yang dapat diperlihatkan pada tabel berikut ini.

No. Jenis Luaran Tahun 2018

Kategori Sub Kategori Wajib Tambahan

1. Artikel ilmiah dimuat di jurnal Internasional bereputasi ● produk

Nasional Terakreditasi -

2. Artikel ilmiah dimuat di prosiding

Internasional Terindeks -

Nasional ● produk

3. Invited speaker dalam temu ilmiah

Internasional -

Nasional ● -

4. Visiting Lecturer Internasional ● dilaksanakan

5. Hak Kekayaan Intelektual (HKI)

Paten -

Paten sederhana -

Hak Cipta ● Draf

Merek dagang -

Rahasia dagang -

Desain Produk Industri -

Indikasi Geografis -

Perlindungan Varietas -

Perlindungan Topografi -

6. Teknologi Tepat Guna -

7. Model/Purwarupa/Desain/Karya seni/ Rekayasa Sosial -

8. Buku Ajar (ISBN) ● Draf

9. Tingkat Kesiapan Teknologi (TKT) ● 2

(12)

3

Penelitian ini sangat layak untuk segera dijalankan berdasarkan adanya pertimbangan berkenaan dengan beberapa aspek keutamaan dari topik dan fokus penelitian ini.

1. Penelitian dengan temuan yang original

Penelitian ini akan menghasilkan temuan baru yang belum pernah dipublikasikan sebelumnya, yaitu tentang filosofi penetapan nama dan arah orientasi sakral-profanpada pemukiman tradisional Hindu di Bali dan Jawa Timur.

2. Penelitian yang mengoreksi secara fundamental substansi literatur sebelumnya

Hasil penelitian ini dipastikan akan mengoreksi dan meluruskan kecenderungan pendapat umum akademisi yang terlanjur berkembang tentang pola orientasi sakral tata ruang Hindu di Bali yang hanya terdikotomi atas pola Bali Utara dan Bali Selatan. Sesungguhnya terdapat sangat banyak pola penetapan orientasi permukiman tradisional Hindu Bali di lapangan yang belum banyak digali dan dipublikasikan selama ini.

3. Penelitian bersifat lintas disipliner

Penelitian ini tergolong kajian lintas disipliner yang menghasilkan temuan-temuan yang berelasi dengan aspek filosofi hidup, fenomena alam, agama, ritual, dan kepercayaan, seni, arkeologi, antroplogi, sejarah, serta tata ruang dan arsitektur. Penelitian ini mendorong pelaksanaan penelitian yang melibatkan mitra dialog dari beragam bidang kompetensi.

4. Penelitian tentang eksplorasi fenomena lapangan di wilayah-wilayah terpencil

Pengumpulan data lapangan tentang pola orientasi sakral permukiman Hindu yang akan dilakukan ini juga bersifat riset eksploratif ke berbagai pelosok dan wilayah terpencil di seluruh Pulau Bali daratan, kepulauan Nusa Penida, dan di Jawa Timur.

5. Penelitian yang menjadi lokomotif penelitian lain selanjutnya

Hasil penelitian ini sangat berpeluang menjadi sebuah pedoman baku yang baru dan menjadi pendorong berbagai penelitian lanjutan dan penelitian revisionerdari berbagai disiplin ilmu lainnya untuk tingkat sarjana, magister, doktoral, dan pascadoktoral, seperti arsitektur, tata ruang permukiman dan kota, filsafat, agama, arkeologi, antropologi, seni, dan sejarah.

6. Penelitian yang sejalan dengan arah kebijakan Universitas Udayana

Penelitian ini sejalan kebijakan pengembangan Universitas Udayana sebagai perguruan tinggi terkemuka di Bali yang diharapkan mampu mengambil peran utama dalam pelestarian potensi budaya, kearifan lokal, inventarisasi budaya, dan pengembangan ilmu pengetahuan.

(13)

4

BAB II Tinjauan Pustaka

Berdasarkan hasil penelusuran pustaka, telah diperoleh setidaknya ada sembilan buah buku teks dengan substansi yang memuat konsepsi yang menyeragamkan definisi arah sakral-profan di Bali sebagai (a) arah kaja sebagai padanan arah gunung; (b) arah kangin sebagai padanan arah matahari terbit; (c) arah kelod sebagai padanan arah lokasi laut; dan (d) arah kauh sebagai padanan arah matahari terbenam.

No. Penulis (tahun) Judul

1. I Nyoman Gelebet, dkk. (1986)

Arsitektur Tradisional Daerah Bali. Denpasar: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

2. Eko Budihardjo (1986) Architectural Conservation in Bali. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

3. Ardi Pardiman Parimin (1986)

Fundamental Study on Spatial Formation of Island Village: Environmental Hierarchy of Sacred-Profane Concept in Bali. Disertasi belum dipublikasi. Osaka University, Japan.

4. Sulistyawati. (1996) Pengaruh Prinsip ATB terhadap Arsitektur Non Tradisional. Denpasar: PT Trio Mitra.

5. Julian Davison, dkk. (2003) Introduction Balinese Architecture. Periplus Editions (HK) Ltd, Singapore.

6. I Wayan Runa (2004) Sistem Spasial Desa Pegunungan di Bali Dalam Perspektif Sosial Budaya. Disertasi

Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.

7. Leo Howe (2005) The Changing World of Bali, Religion, Society, and Tourism.London and New York:

Routledge.

8. I Wayan Gomudha (2008) “Jelajah Arsitektur Hunian Tradisional Bali”, dalam Sueca, Ngakan P. (ed). 2008. Pustaka

Arsitektur Bali. Ikatan Arsitek Indonesia, Daerah Bali.

9. Ngakan Ketut Acwin Dwijendra (2008)

Arsitektur Rumah Tradisional Bali: Berdasarkan Asta Kosala-kosali. Denpasar: Udayana

University Press. 10. Ngakan Ketut Acwin

Dwijendra (2009)

Arsitektur dan Kebudayaan Bali Kuno. Denpasar: Udayana University Press.

11. I Wayan Parwata (2009) Humanisasi: Kearifan dan Harmoni Ruang Masyarakat Bali. Denpasar: Yayasan Tri Hita

Karana Bali.

12. Fredrik Barth (1993) Balinese Worlds. Chicago and London: The University of Chicago Press.

13. Miguel Covarrubias (2013) Island of Bali, terjemahan (Ind): Pulau Bali, Temuan yang menakjubkan. Denpasar: Udayana

University Press.

Temuan penelitian ini diperkirakan akan mengoreksi substansi tentang konsepsi arah sakral-profan di Bali yang termuat dalam sembilan buku tersebut.

Pada bagian berikut ini dipaparkan pustaka-pustaka acuan utama yang digunakan dalam kegiatan penelitian ini.

1. Duff-Cooper, Andrew. 1990. Shapes and Images: Aspects of the Aesthetics of Balinese Rice-growing, and Other Studies. Denpasar: Udayana University.

Buku ini membahas tentang Konsepsi Dewata Nawa Sanga, yaitu sembilan dewa penjaga arah mata angin kosmologi Hindu-Bali. Konsepsi ini juga menjadi salah satu acuan arah sakral-profan dalam tata ruang tradisional Hindu Bali (Duff-Cooper, 1990: 80, 88). 2. Phalgunadi, I Gusti Putu. 1991. Evolution of Hindu Culture in Bali: From the Earliest

Period to the Present Time. Delhi: Sundeep Prakashan.

Dalam area permukiman tradisional Hindu Bali, dikenal juga Konsep Hulu-Teben yang menyebabkan terbaginya tata ruang desa menjadi: (a) bagian hulu desa; (b) bagian tengah desa; serta (c) bagian teben desa. Posisi elemen-elemen tata ruang desa ini berelasi dengan orientasi sakral-profan (hulu-teben atau kaja-kelod) yang berlaku di desa bersangkutan.

(14)

5

3. Rao, Saligrama Krishna Ramachandra. 1995. Navagraha-kosha: Encyclopaedic account of the Nava-Grahas. Delhi: Kalpatharu Research Academy.

Dalam buku ini tersurat tentang konsepsi tentang arah sakral-profan dari India yang mengacu pada sembilan nama benda tata surya yang mempengaruhi bumi (Rao,1995:55). 4. Reimer, Dietrich 2001. The Gods of the Directions in Ancient India. Origin and Early

Development in Art and Literature. Berlin: Corinna Wessels-Mevissen.

Buku ini memuat Konsepsi Asta Dig Pala tentang delapan dewa penjaga 8 arah mata angin. 5. Falvey, Lindsay. 2015. Understanding Southeast Asia: Syncretism in Commonalities.

Songkhla: Thaksin University.

Buku ini mengulas tentang adanya kepercayaan masyarakat Asia Tenggara tentang keberadaan gunung suci dan area sakral yang diyakini sebagai tempat bersemayamnya para dewata dan spirit leluhur penjaga kehidupan umat manusia (Falvey,2015: 113-115). 6. Hong, Sun-Kee, dkk. 2010. Landscape Ecology in Asian Cultures. Tokyo: Springer.

Dalam literatur ini disebutkan tentang eksistensi Gunung Bromo bagi masyarakat Tengger yang diyakini sebagai tempat bersemayamnya para dewata dan cikal bakal terciptanya bumi (Hong, dkk., 2010: 73-74). Di wilayah Tengger dikenal istilah arah wetan (wiwitan) atau ‘awal’ sebagai arah utama yang mengacu ke arah lokasi Gunung Bromo.

7. Chihara, Daigorō. 1996.Hindu-Buddhist Architecture in Southeast Asia. Leiden: BRILL. Dalam buku ini disebutkan tentang eksistensi Gunung Penanggungan di Jawa Timur sebagai salah satu gunung suci umat Hindu Jawa Timur (Chihara, 1996: 195-196).

8. Munandar, Agus Aris. 2008. Ibukota Majapahit: Masa Jaya dan Pencapaian.Depok: Komunitas Bambu, Depok.

Buku ini mengulas tentang orientasi sakral-profan yang berlaku di bekas ibu kota Majapahit (Munandar, 2008: 92-101). Disebutkan pula bahwa telah terjadi pemutaran arah mata angina sebesar 90° searah putaran jarum jam pada penetapan arah sakral profan berdasarkan Konsepsi Asta Dig Pala pada tata ruang pusat kota Majapahit di Jawa Timur tersebut.

(15)

6

BAB III METODE PENELITIAN

3.1 Materi Penelitian

Adapun objek-objek penelitian yang menjadi materi kajian dapat dipaparkan seperti berikut ini.

1. Pustakatentang filosofi dan konsepsi fundamental tentang penetapan arah sakral-profan dalam kebudayaan vernakular di dunia pada umumnya.

2. Pustaka tentang filosofi hidup dan kebudayaan masyarakat vernacular 3. Pustaka filosofi tata ruang permukiman dan arsitektur tradisional Bali.

4. Pustaka tentang konsepsi orientasi dan dikotomi arah sakral-profan dalam budaya di India dan Nusantara.

5. Manuskrip atau lontar tentang filsafat, kosmogoni, kosmologi, konsepsi, mitos, dan kepercayaan komunitas permukiman tradisional Hindu Bali.

6. Manuskrip tradisional tentang tata ruang permukiman tradisional Bali. 7. Beraneka wujud tata ruang permukiman dan bangunan tradisional Bali. 8. Rekaman hasil interview narasumber tentang orientasi sakral permukiman. 9. Hasil observasi lapangan yang berelasi dengan topik utama penelitian.

3.2 Informan Penelitian

Informan dalam penelitian ini: (a) para akademisi serta peneliti bidang kefilsafatan, Agama Hindu, bidang tradisi dan budaya Bali, bidang tata ruang permukiman dan bangunan tradisional Bali; (b) perancang bangunan tradisional Hindu Bali (Bali: undagi); (c) pemuka agama Hindu; serta (d) para pemuka adat permukiman tradisional Bali.

3.3 Lokasi Penelitian dan Pemilihan Kasus Penelitian a. Lokasi Penelitian

Penelitian ini akan dijalankan di wilayah Pulau Bali dan Jawa Timur, seperti desa-desa tradisonal Hindu Bali yang tersebar di enam kabupaten, termasuk di Kepulauan Nusa Penida. Di Kabupaten Badung dan Jembrana tidak ditemukan desa tradisional yang menganut orientasi arah sakral-profan khusus yang layak dijadikan sebagai kasus dalam penelitian ini.

(16)

7

Gambar 3.1 Persebaran Kasus Penelitian Tabel 3.1 Nama-nama desa kasus penelitian

No. Lokasi Nama Desa/Wilayah Permukiman

1. Bangli, Bali

(13 lokasi)

(1) Desa Serai; (2) Desa Manikliyu; (3) Desa Sukawana; (4) Desa Pinggan; (5) Desa Blancan; (6) Desa Subaya; (7) Desa Kutuh; (8) Desa Dausa; (9) Desa Bunutin; (10) Desa Siakin; (11) Desa Ulian; (12) Desa Songan; dan (13) Desa Trunyan. 2. Gianyar, Bali

(1 lokasi)

(1) Desa Taro.

3. Karangasem, Bali

(4 lokasi)

(1) Desa Datah; (2) Desa Tenganan; (3) Desa Jasri; (4) Desa Culik.

4. Buleleng, Bali

(7 lokasi)

(1) Desa Sembiran; (2) Desa Sidatapa; (3) Desa Pancasari; (4) Desa Sambirenteng; (5) Desa Wanagiri; (6) Desa Munduk, (7) Desa Gobleg.

5. Tabanan, Bali

(4 lokasi)

(1) Desa Pujungan; (2) Desa Sanda; (3) Desa Batungsel; (4) Desa Pupuan.

6. Nusa Penida, Klungkung

(3 lokasi)

(1) Desa Batu Kandik; (2) Desa Bungamekar; (3) Desa Suana

b. Pemilihan Kasus Penelitian

(17)

8

yang terdapat di Bali dan Jawa Timur yang berkarakter khusus, yaitu memiliki arah kaja yang khusus, salah satunya tidak searah dengan utara maupun selatan seperti yang ditulis dalam banyak literatur pada umumnya.

3.4 Metode Penelitian

a. Tahap pengumpulan data

Proses pengoleksian data dijalankan dalam 3 metode, yaitu:

1. Kajian pustaka untuk mengumpulkan segala macam data dalam berbagai buku, pustaka, karya tulis, maupun manuskrip tradisional;

2. Kegiatan pengamatan langsung bertujuan untuk mengumpulkan data yang berkenaan dengan gambaran penerapan konsepsi arah sakral-profan pada tata ruang permukiman dalam skala makro, meso, dan mikro yang ditemukan di tujuh kabupaten di Bali.

3. Interview untuk mengumpulkan informasi secara oral dari para informan berkompeten yang dipilih secara purposivedan snowballing process.

b. Tahap pembahasan dan pendekatan penelitian

Penelitian yang diajukan ini tergolong dalam penelitian kualitatif yang menerapkan metode hermeneutik-rasionalistik. Ada beberapa metode dan pendekatan dalam pembahasan yang diterapkan dalam penelitian ini.

1. Metode analisis hermeneutik

Segala macam latar filosofis dan konsepsi yang bersifat abstrak, objek seni, kepercayaan, ritual dan agama, dikaji menerapkan metode hermeneutik.

2. Metode kajian grafis

Pola arah sakral-profan yang berlaku di desa-desa tradisional Hindu di Bali selanjutnya digambarkan dalam bentuk grafis pemetaan titik orientasi zona sakral dan profan yang berlaku di setiap wilayah Pulau Bali.

3. Metode komparatif

Konsepsi tata ruang permukiman Hindu Bali dan Jawa Timur yang memuat kesesuaian makna dengan konsepsi setara yang dikenal di luar wilayah Bali selanjutnya dikaji dengan menerapkan metode komparatif.

(18)

9

4. Pendekatan etimologis

Setiap nama arah mata angin Hindu maupun tradisional Bali memuat arti tersendiri. Kajian ini juga mengulas tentang arti nama arah tersebut sebagai pedoman memahami dasar pemikiran dalam penetapannya di lapangan.

c. Teknik penyimpulan

Temuan akhir penelitian ini disusun sebagai simpulan yang disusun secara menalaran induktif. Simpulan hasil penelitian ini juga dilengkapi dengan ilustrasi grafis tentang (a) konsep penetapan arah orientasi dalam pandangan tradisional Hindu Bali dan (b) pemetaan arah orientasi sakral- profan di seluruh Pulau Bali.

3.5 Instrumen dan Alat Bantu Penelitian

Dalam pelaksanaan penelitian ini, tim peneliti dilengkapi dengan alat bantu, antara lain (a) tujuh unit kompas penunjuk arah mata angin; (b) tujuh unit laptop dan1 buah komputer tablet; (c) satu unit mesin cetak; (d) tujuh unit kamera digital; (e) sebuah alat rekam audio; serta (f) beberapa set alat tulis dan alat gambar untuk kegiatan pencatatan maupun sketsa berbagai data

(19)

10

BAB IV HASIL OBSERVASI LAPANGAN

Pada bagian berikut ini, akan dipaparkan mengenai variasi orientasi desa-desa yang berada dibali khususnya di Buleleng, Bangli, Karangasem, Gianyar, dan Klungkung.

4.1 Desa Sidatapa

Pada bagian berikut ini, dijelaskan tata ruang Desa Sidatapa berkenaan tentang lokasi, sejarah desa, orientasi desa, pola desa, dan wujud penerapan dalam tata ruang permukiman.

a. Lokasi Desa

Desa Sidetapa terletak di Pegunungan, Kecamatan Banjar, Buleleng. Dari pusat kota Singaraja desa ini berjarak sekitar 23 km kearah barat; dan berjarak sekitar 7 km dari ibu kota Kecamatan Banjar. Desa ini memiliki 3 buah dusun, yaitu Banjar Dinas Dajan Pura, Banjar Dinas Delod Pura, dan Banjar Dinas Lakah. Ada pun batas wilayah Desa Sidatapa dapat dikemukakan sebagai berikut: 1. Sebelah utara desa berbatasan dengan Desa Tampekan;

2. Sebelah timur desa berbatasan dengan Banjar Dinas Corot, Desa Cempaga; 3. Sebelah selatan desa berbatasan dengan Desa Cempaga; dan

4. Sebelah barat desa berbatasan dengan Banjar Dinas Pegentengan Desa Banjar.

b. Sejarah Desa

Dalam Monografi Desa Sidetapa (Anonim, 2012a) disebutkan bahwa Desa Sidatapa diperikirakan mulai didirikan pada sekitar tahun 785 M oleh warga pendatang yang berasal dari daerah Batur, daerah Dauh Toro Ireng, dan dari daerah Jawa sebagai para pengikut Rsi Markandea. Warga Desa Sidatapa merupakan penduduk dengan klan dari kaum Pasek, Patih, dan Batur. Secara umum penduduk Desa Sidatapa dalam digolongkan dalam 3 buah kelompok utama dengan ketiga wilayah huniannya di Desa Sidatapa, yaitu sebagai berikut.

1. Kelompok yang menamakan dirinya sebagai warga Pasek yang mendiami wilayah Leked; 2. Kelompok yang menamakan dirinya sebagai warga Patih yang mendiami wilayah Desa Kunyit. 3. Kelompok yang menamakan dirinya sebagai warga Batur yang mendiami wilayah Sekarung.

Awal mulanya berdirinya Desa Sidatapa diceritakan adanya sekelompok warga yang mendiami wilayah Leked di Desa Sidatapa yang mendapat musibah atau bencana, berupa adanya banyaknya semut yang secara tiba-tiba menyerang dan mengganggu area pemukiman warga Leked tersebut.

(20)

11

Masyarakat yang menempati wilayah Leked itu selanjutnya sangat terganggu dan merasa sangat kewalahan saat menghadapi masalah yang ditimbulkan oleh semut tersebut. Pada bagian lainnya, ada kelompok masyarakat yang mendiami wilayah Meneng yang diganggu oleh segerombolan binatang srigala dan binatang buas dengan suaranya sangat menakutkan. Binatang ini juga membawa beberapa bagian tubuh manusia yang sangat berbau busuk dan amis. Kedua kejadian ini memicu kesepakatan kedua kelompok masyarakat itu untuk bermusyawarah dan sepakat melakukan suatu persembahyangan bersama, yang oleh masyarakat setempat dikenal dengan istilah meyasa. Setelah melakukan persembahyangan bersama itu, akhirnya diperolehlah suatu petunjuk gaib bahwa ketiga kelompok harus membangun kelompok rumah di bagian tengah desa. Petunjuk tersebut selanjutnya dituruti dari kedua kelompok hingga sekarang. Dari kejadian ini terbentuklah Desa Sidetapa.

Pada awal berdirinya desa ini sesungguhnya dikenal dengan nama Desa Gunung Sari. Akan tetapi berdasarkan petunjuk yang diperoleh pascadilakukannya kegiatan tapabrata (‘persembhayangan dan puasa’) disarankan agar nama desa tersebut diganti menjadi Desa Sidatapa. Nama Sidatapa diambil dari kata sida yang memiliki arti ‘berhasil’ atau ‘menjadi’ dan tapa yang penggalan dari kata tapabrata itu sendiri. Kedua kata ini selanjutnya disatukan menjadi kata Sidatapa yang secara harfiah berarti ‘persebahyangan dan puasa yang berhasil’.

c. Orientasi dan Pola Desa

Pada bagian ini diperlihatkan gambaran Desa Sidatapa yang memperlihatkan gambaran orientasi arah sakral profan, orientasi sumbu bumi (kaja, kangin, kelod, kauh) dan gambaran pola desa tersebut.

1. Orientasi Arah Sakral Profan Desa Sidatapa

Desa Sidatapa merupakan sebuah desa yang berada dalam wilayah Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng. Desa ini masih kuat memegang tradisi budaya setempat asli desa ini. Tata bangunan tradisional desa ini dapat dikatakan sangat unik karena sebagian besar rumah adat yang ada di desa ini relatif masih terjaga kelestariannya hingga saat ini. Tradisi tata bangunan rumah tinggal semacam ini agaknya sangat terkait dengan upaya penghormatan terhadap budaya lama dari leluhur desa ini.

Rumah-rumah lama yang ada di wilayah desa ini, menempatkan orientasi sakral ke arah yang lahan yang paling tinggi dalam pekarangan rumah. Dalam konteks ini, jalan desa merupakan zona desa yang tertinggi yang menjadi arah orientasi bagi ruang-ruang dalam pekarangan rumah secara keseluruhan. Dalam penerapan konsep orientasi tersebut, ruang suci ditempatkan dalam bangunan

(21)

12

rumah ke zona yang berdekatan dengan jalan desa. Massa bangunan rumah berorientasi ke arah tepian desa yang berada di zona paling rendah dalam wilayah Desa Sidatapa. Massa bangunan rumah tinggal berjejer mengikuti jalan desa, mengikuti transis lahan permukiman. Bangunan-bangunan rumah desa dibangun membelakangi jalan desa. Masing-masing rumah dibatasi gang-gang sempit yang bernama rurung.

2. Orientasi Sumbu Bumi Desa Sidatapa

Penetapan sumbu bumi, yaitu orientasi arah mata angin (kaja, kangin, kelod, kauh) di permukiman tradisional Desa Sukawana berpatokan pada arah gunung dan laut. Ada beberapa hal berbeda yang berkenaan dengan orientasi di wilayah desa ini. Arah kaja-kangin yang menjadi arah paling sakral di Desa Sidatapa adalah mengarah ke arah tenggara desa. Hal ini sejalan dengan posisi Desa Sidatapa yang berada di wilayah utara Pulau Bali. Arah kangin tetap diposisikan ke arah matahari terbit, adapun arah kaja diposisikan ke arah gunung, yaitu ke arah barisan pegunungan yang ada di selatan wilayah desa ini.

Di samping dua arah orientasi utama tersebut, berikut ini dapat diperlihatkan pola penetapan arah mata angin di Desa Sidatapa.

(a) Arah selatan dimaknai sebagai arah kaja (gunung)

(b) Arah timur dimaknai sebagai arah kangin (matahari terbit) (c) Arah utara dimaknai sebagai arah kelod (laut)

(d) Arah barat dimaknai sebagai arah kauh (matahari terbenam)

Dengan adanya patokan arah kaja ke gunung (Selatan), maka penetapan tersebut juga berpengaruh pada konsep penempatan area suci dalam ruang rumah, selain menggunakan orientasi lahan tinggi tersebut. Elemen suci persembahyangan yang berupa pelangkiran yang ada di dalam bangunan rumah selanjutnya ditempatkan di area pojok tenggara ruangan.

3. Gambaran Pola Desa Sidatapa

Dilihat dari letak geografis Desa Sidatapa yang berada di perbukitan, pola tatanan perumahannya mengikuti kontur lahan desa tersebut, sehingga bentuk perumahannya berjajar dan berundag – undang atau bisa dikatakan menggunakan pola linier. Perumahan tersebut dapat dibagi menjadi dua kelompok (blok) dimana jalan utama (rurung gede) dijadikan sebagai batas dari dua blok perumahan tersebut. Setiap rumah yang terdapat di kedua blok tersebut seluruh rumahnya menghadap ke arah Barat (hanya satu arah).

Selain itu, penataan rumah – rumah di Desa Sidatapa ini dibangun membelakangi jalan utama (rurung gede). Dalam hal ini view rumah mengarah ke area yang lebih rendah. Alasan dari

(22)

13

pembangunan rumah didesa ini dengan membelakangi jalan yaitu karena dahulu telah terjadi perang besar didesa ini. Ceritanya berawal dari kedatangan pasukan Majapahit ke Bali beratus – ratus tahun lalu. Majapahit menyerang hingga ke Desa Sidatapa. Karena pertempuran terus terjadi yang menyembabkan warga desa trauma maka warga memiliki inisiatif untuk bersembunyi dirumah mereka masing – masing. Oleh karena itu dibuatlah bangunan yang tertutup dan menghadap ke hilir (belakang) serta pagar rumah yang menghadap kejalan utama (rurung gede) dibuat tanpa pintu.

Gambat 4.1 Peta Sidatapa

d. Wujud Penerapan dalam Tata Ruang

Dalam Arsitektur Tradisional Bali rumah memiliki pengertian yaitu suatu komplek yang terdiri atas beberapa massa bangunan serta lengkap dengan tembok pembatas pekarangan atau sering disebut tembok penyengker yang diatur menurut konsep – konsep Arsitektur Tradisional Bali. Di Desa Sidatapa, rumah – rumahnya masih sangat asli dan masih menerapkan konsep dari Arsitektur Tradisional Bali. hal ini karena didesa ini memegang teguh warisan asli leluhur mereka.

(23)

14

Dapat dilihat dengan jelas, perumahan didesa ini dapat dibagi menjadi dua blok dimana jalan utama (rurung gede) dijadikan sebagai batas dari dua blok perumahan tersebut. Setiap rumah yang terdapat di kedua blok tersebut seluruh rumahnya menghadap ke arah barat (hanya satu arah).

Pola penataan ruang arsitektur desa secara hierarki dibagi menjadi 3 bagian. Perbedaan 3 bagian ini ditunjukkan dengan penerapan tinggi level lantai, dimulai dari ruang utama yang ditempatkan pada daerah yang paling tinggi dan wilayah paling dalam. Ruang Utama biasanya merupakan ruang persembahyangan dan sekaligus sebagai ruang tidur. Kemudian, daerah yang levelnya dibawah ruang utama adalah ruang Madya. Ruang Madya ini biasanya digunakan untuk dapur. Bagian paling rendah adalah ruang Nista. Ruang ini difungsikan sebagai teras menerima tamu, atau bisa juga dimanfaatkan untuk tempat membuat anyaman (salah satu mata pencaharian sampingan masyarakat Desa Sidetapa). Adapun pengelompokan dalam satu unit rumah di Desa tradisional Sidatapa sebagai berikut.

Pada bagian ruang Utama terdapat tempat suci (pemujaan) terletak di tengah, pada bagian hulu diantara kedua ruang tidur yang terletak di sisi kiri dan kanannya. Sementara pelangkiran (tempat menaruh sesajen) terletak di sudut atas tempat tidur arah kajakangin (tenggara untuk di daerah Bali Utara).

Pada bagian ruang Madya terdapat Paon (dapur) yang terletak di pojok Barat Daya dan tempat makan, terletak di sebelah selatan di dalam ruang tersebut.

Pada area Nista terdapat Ampik (beranda atau teras) terdapat Bale Bambu di bagian Selatan ruang Ampik.

Rumah Adat Sidatapa hanya memiliki dua bangunan, rumah adat dan bangunan yang berfungsi sebagai tempat pelaksanaan upacara adat atau agama. Bentuk bangunan rumah adalah segi empat panjang dengan bahan yang terbuat dari dinding-dinding tertutup. Hal ini disebabkan karena aritektur sidatapa ini berlokasi di daerah pegunungan/berudara dingin. Guna menambah kehangatan dalam ruang, pada ruang tengah ditempatkan Paon (dapur).

Jika ditelaah, rumah tradisional Sidatapa ini sangatlah unik. Keunikannya adalah di dalam rumah tua ini mampu menampung segala aktivitas penghunianya, mulai dari aktivitas social, ekonomi, spiritual, budaya dan keamanan. Rumah ini juga memiliki sebutan tersendiri yaitu Bale Gajah Tumpang Salu. Bale merujuk kepada rumah, kata gajah sendiri melambangkan bangunan yang memiliki empat buah tiang di setiap bagiannya, tumpang berarti tingkat dan salu bermakna tiga. atau bisa disimpulkan sebagai rumah besar yang terdiri dari tiga bagian utama.

(24)

15

tradisional Sidatapa ini juga cukup unik. Jika kita berjalan di jalan utama (rurung gede), kita akan melihat rumah ini tidak memiliki pintu. Namun jika diamati secara jelas, maka dapat dilihat bahwa pintu keluar ke jalan raya melewati gang (rurung) kecil yang disebut slepitan. Tatanan yang dibentuk di sini mencerminkan suatu perilaku kebersamaan, kerendahan hati, dan kesetaraaan. Penghuni tidak mengenal hirarki wangsa atau kasta melainkan semuanya kasamen (sama) selaku sesama manusia.

4.1 Desa Pancasari

Pada bagian berikut ini, akan dijelaskan mengenai Desa Pancasari dari segi lokasi, sejarah desa, orientasi desa, pola desa, dan wujud penerapan dalam tata ruang.

a. Lokasi Desa

Desa Pancasari terletak di ujung selatan kota Singaraja, Kabupaten Buleleng, Bali. Secara geografi Desa Pancasari terletak pada dataran tinggi, dengan ketingian 1500 m di atas permukaan laut yang berjarak 22 km dari dari pusat pemerintahan kecamatan, 24 km dari pusat kabupaten dan 84 km dari ibu kota provinsi. Wilayah Desa Pancasari terdiri atas tiga buah dusun yaitu; Dusun Karma, Dusun Peken, Dusun Dasong dan terdiri dari 7 buah banjar adat yaitu:

(1) Banjar Sari Kaja (5) Banjar Sari Kauh (2) Banjar Sari Kelod (6) Banjar Juwuk Mas (3) Banjar Sari Kangin (7) Banjar Yeh Mas (4) Banjar Sari Tengah

Desa Pancasari memiliki batas-batas desa sebagai berikut. a. Sisi utara desa berbatasan dengan Desa Wanagiri; b. Sisi timur desa berbatasan dengan hutan;

c. Sisi selatan desa berbatasan dengan Desa Candi Kuning; dan d. Sisi barat desa berbatasan dengan yakni hutan.

b. Sejarah Desa

Desa Pancasari awalnya bernama Banjar Benyahe, karena pada saat itu jalan utama diwilayah itu merupakan jalan yang berlumpur dan becek, sehingga lama-kelamaan wilayah itu disebut desa Benyah (‘hancur’) (Anonim, 2013a). Pada saat itu Desa Pancasari masih berbentuk banjar dan masih menjadi bagian wilayah dari Desa Gitgit. Desa ini pada masa sebelumnya, pernah beberapa kali

(25)

16

mengalami pergantian kelian banjar (kepala wilayah) hingga tahun 1947-1948 ketidakstabilan masyarakat membuat banjar Benyah terbagi menjadi 2 kepemimpinan antara lain wilayah bagian utara dipimpin oleh Pan Widya Merta dan dilanjutkan oleh Pan Nila selama 16 tahun, sedangkan di wilayah selatan dikepalai oleh Nengah Raja diserahkan kepada Wayan Sukertha. Oleh karena hal ini timbulah gagasan untuk melepaskan banjar Benyah dari bagian desa Gitgit dan menjadi desa mandiri. Usaha I Gusti Nyoman Sandra dan Pan Nila Cs berbuah manis, hingga pada tahun 1954 Banjar Benyah diizinkan untuk lepas dari Desa Gitgit, dengan jabatan kelian banjar dipegang oleh I Gusti Nyoman Sandra sampai kemudian digantikan oleh I Nyoman Koyon. Setelah I Nyoman Koyon jabatan kelian banjar Benyah diteruskan oleh I Wayan Widia yang membuat sebuah perubahan, yaitu meenggantikan istilah kelian banjar menjadi keprebekelan yang saat itu I Wayan Widia ditunjuk menjadi prebekel pertama Desa Benyah.

Pada masa pemerintahan I Wayan Widya pula Desa Benyah berganti nama menjadi Desa Pancasari. Perubahan ini disebabkan oleh banyaknya malapetaka dan bencana yang menimpa desa ini, mulai dari banjir, tanah longsor, sampai hujan angin dahsyat yang menelan banyak korban jiwa dan kerugian material. Guna mencegah kepanikan warga desa, penglingsir (‘tetua’) desa memutuskan untuk mengadakan musyawarah, yang membahas sebab-musabab desa terus mengalami kehancuran (benyah). Selanjutnya dikumpulkan beberapa nama pengganti yaitu, Karma Pala, Darma Saba, Darma Laksana dan lain-lain, akan tetapi belum ada yang disetujui.

Hingga pada akhirnya I Wayan Widya selaku perbekel desa mendapat pawisik (‘bisikan gaib’) nama Desa Pancasari, yang kemudian disampaikan saat paruman desa keesokan harinya. Nama Pancasari diterima dengan baik oleh warga desa, dengan satu pertimbangan yaitu untuk mewujudkan keseimbangan antara Buana Agung (‘makrokosmos’) dan Buana Alit (‘mikrokosmos’) dengan cara menambah dua bajar adat, agar menjadi lima banjar yang mewakili lima arah mata angin dalam ajaran Agama Hindu.

c. Orientasi dan Pola Desa

Pada bagian ini akan dipaparkan mengenai Desa Pancasari dari segi orientasi arah sakral profan, orientasi sumbu bumi (kaja, kangin, kelod, dan kauh) serta gambaran pola desa.

1. Orientasi Arah Sakral Profan Desa Pancasari

Desa Pancasari merupakan desa yang masih sangat tradisional. Permukiman desa ini masih murni memegang teguh arsitektur tradisionalnya. Berkenaan dengan arah sakral, desa ini masih mengganggap bahwa arah gunung sebagai area suci, dan laut sebagai arah profan. Oleh karena itu

(26)

17

arah sakralnya adalah ke selatan, yaitu ke arah barisan pegunungan terdekat desa.

Rumah adat di desa ini memiliki orientasi yang berbeda dengan rumah adat di Bali pada umumnya, akan tetapi orientasi di desa ini bisa dikatakan sama dengan dengan Desa Sidatapa. Warga di sini menganggap bahwa arah sakral/suci berada pada bagian yang paling tinggi dalam sebuah pekarangan. Sesuai dengan Tri Mandala bahwa tempat yang paling tinggi adalah Utama Mandala, yang lebih rendah dari utama disebut Madya Mandala, serta bagian yang paling rendah adalah Nista Mandala. Penerapan konsep ini terlihat dari rumah–rumah warga yang membangun tempat suci dan area sembahyang ditempatkan pada ruangan yang paling tinggi. Adapun orientasi massa bangunan menghadap ke area yang paling rendah dan posisi massa bangunan berjejer mengikuti transis lahan hunian. Selain dari pada itu, bangunan–bangunan yang berdiri di desa ini tampak dibangun membelakangi jalan utama desa.

2. Orientasi Sumbu Bumi Desa Pancasari

Penetapan sumbu bumi, yaitu orientasi arah mata angin (kaja, kangin, kelod, dan kauh) di permukiman tradisional Desa Pancasari berpatokan pada arah gunung dan laut. Arah mata angina di Desa Pancasari berbeda dengan desa–desa di Bali Selatan, dimana arah kaja di desa ini berorientasi ke selatan karena gunung berada di sebelah selatan desa. Adapun penjabaran arah sumbu bumi di Desa Pancasari secara lengkap adalah sebagai berikut:

(a) Arah Selatan dimaknai sebagai arah kaja (gunung)

(b) Arah Timur dimaknai sebagai arah kangin (matahari terbit) (c) Arah Utara dimaknai sebagai ke kelod (laut)

(d) Arah Barat dimaknai sebagai ke kauh (matahari terbenam) 3. Gambaran Pola Desa Pancasari

Desa ini berada pada daerah perbukitan di Buleleng, sehingga memiliki karakteristik pola desa yang linier. Permukiman di Desa ini menggunakan pola linier dengan jalan utama sebagai pembatas permukiman yang membentang dari arah utara ke selatan. Setiap rumah yang terdapat di kedua blok tersebut seluruh rumahnya menghadap ke arah barat, atau hanya satu arah.

Di Desa Pancasari ini yang menjadi indikator religius (‘tempat suci desa’) adalah Pura Kahyangan tiga yang terdiri atas:

(a) Pura Desa, yang terletak di hulu desa yang didedikasikan untuk Dewa Brahma yang merupakan manifestasi Tuhan sebagai Dewa Pencipta.

(b) Pura Puseh, yang terletak di hulu desa/kaja yang didedikasikan untuk Dewa Wisnu yang merupakan manifestasi Tuhan sebagai Dewa Pemelihara.

(27)

18

(c) Pura Dalem, yang terletak di teben desa/kelod yang didedikasikan untuk Dewa Siwa yang merupakan manifestasi Tuhan sebagai Dewa Pelebur. Keberadaan Pura Dalem selalu dilengkapi dengan adanya satu kuburan (setra desa adat).

Pola permukiman di Desa Pancasari ini memiliki kesamaan dengan Desa Sidatapa di Kabupaten Buleleng. Kesamaannya adalah rumah di desa ini sama–sama membelakangi (rurung gede). Dalam hal ini view rumah mengarah ke area yang lebih rendah.

(28)

19

(29)

20

Gambar 4.3 Foto Survey Pancasari

d. Wujud Penerapan dalam Tata Ruang

Pada umumnya, pekarangan rumah di Bali menggunakan konsep Sanga Mandala. Konsep Sanga Mandala pada dasarnya membagi area pekarangan atau tapak menjadi sembilan area bagian dengan masing-masing strata nilai, yaitu mulai dari petak area yang paling disakralkan yang bernama petak Utama ning Utama sampai dengan petak area yang bernilai paling profan yang dinamai Nista ning Nista. Akan tetapi, berdasarkan observasi langsung yang dijalankan di wilayah Desa Pancasari, ditemukan bahwa konsep tata letak bangunan rumah lazimnya menerapkan konsepsi tata nilai pekarangan yang bernama ulu-teben (‘dataran tapak tinggi–dataran tapak rendah’). Komposisi rumah tinggal di desa ini menghadap ke area yang lebih rendah dengan kata lain mengikuti kontur lahan. Khusus rumah tradisional Pancasari memiliki sebuah bangunan lengkap dengan natah yang mewadahi segala aktifitas masyarakat di sana. Adapun pengelompokan dalam satu unit rumah di desa tradisional Pancasari adalah sebagai berikut:

1. Pada bagian ruang Utama terdapat tempat suci (‘pemujaan’) terletak di tengah, pada bagian hulu diantara kedua ruang tidur yang terletak di sisi kiri dan kanannya. Sementara pelangkiran (‘tempat menaruh sesajen’) terletak di sudut atas tempat tidur arah kaja/kangin (tenggara untuk di daerah Bali Utara)

2. Pada bagian ruang Madya terdapat paon (‘dapur’) yang terletak di pojok barat daya dan tempat makan, terletak di sebelah selatan di dalam ruang tersebut

3. Pada area Nista terdapat ampik (‘beranda atau teras’) terdapat Bale Bambu di bagian selatan ruang ampik.

Bagian pintu keluar masuk atau yang sering disebut pemesuan pada rumah tradisional Pancasari ini juga cukup unik dan memiliki konsep yang sama dengan desa Sidatapa yang juga di Buleleng. Jika kita berjalan di jalan utama (rurung gede), kita akan melihat rumah ini tidak memiliki pintu. Akan tetapi jika diamati secara jelas, maka dapat dilihat bahwa pintu keluar ke jalan raya melewati gang (rurung) kecil yang disebut slepitan. Tatanan yang dibentuk di sini mencerminkan suatu perilaku kebersamaan, kerendahan hati, dan kesetaraaan. Penghuni tidak mengenal hierarki wangsa atau kasta melainkan semuanya kasamen (‘sama’) selaku sesama manusia.

4.2 Desa Sambirenteng

(30)

21

desa, orientasi desa, pola desa, dan wujud penerapan dalam tata ruang.

a. Lokasi Desa

Sambirenteng adalah desa yang berada di Kecamatan Tejakula, Buleleng. Dengan waktu tempuh selama 1 jam perjalanan dari Kota Singaraja dan memiliki luas wilayah 940 Ha. Desa ini berjarak 6 km dari pusat pemerintahan kecamatan, berjarak 40 km dari Ibu Kota Kabupaten Buleleng serta 127 km dari Ibu Kota Provinsi Bali. Desa Sambirenteng terdiri dari 4 dusun meliputi Dusun Sambirenteng, Dusun Benben, Dusun Gretek, Dusun Sila Gading. Adapun wilayah desa ini berbatasan langsung dengan beberapa wilayah desa tetangganya sebagai berikut:

1. di bagian utara desa berbatasan dengan pesisir Laut Bali; 2. Sebelah timur desa berbatasan dengan Kecamatan Kintamani;

3. di daerah selatan berbatasan dengan Desa Pakraman Lespenutukan; dan 4. di wilayah barat desa berbatasan dengan Desa Gretek;

b. Sejarah Desa

Sejarah Desa Sambirenteng diawali dengan adanya kisah tentang sebuah kerajaan bernama Bali-Ingkang yang terletak dipinggir kaldera Gunung Batur, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli. Dengan dipimpin oleh raja Sri Aji Maya Denawa, Raja yang terkenal berkarakter tegas dan peduli terhadap rakyatnya. Segala perintah sang raja pasti akan dituruti oleh seluruh rakyatnya. Suatu ketika kerajaan ini diserang oleh pasukan musuh sehingga membuat raja harus menyingkir sementara ke suatu hutan yang terletak di perbukitan sebelah utara kerajaan. Perbukitan atau hutan ini dikenal dengan nama Bukit Sari. Setelah kerajaan dapat direbut kembali maka raja kembali ke istana kerajaannya (Anonim, 2014a).

Pada saat kerajaan ini diserang oleh prajurit Sri Arya Gajah Para, raja memerintahkan rakyatnya untuk membentuk prajurit berjumlah 200 orang. Prajurit ini dikenal dengan nama Kanca Satak. Pasukan ini bertugas menjaga keamanan disebelah utara kerajaan. Pasukan ini juga bertugas membangun sebuah benteng di sisi wilayah timur laut kerajaan, yang sekarang wilayah ini dikenal dengan nama Desa Tembok.

Raja juga memerintahkan rakyatnya untuk membentuk suatu pasukan berjumlah 100 orang untuk menjaga hutan yang digunakan sebagai pusat komando. Hutan ini dikenal dengan nama Kayu Samah. Ketika raja memberikan perintah/ komando kepada 100 pasukan ini, raja mengatakan kata-kata yang khas yaitu Sami-Ranta ‘semua siap’. Kata Sami-Ranta ini lama kelamaan berubah menjadi Sambirenteng yaitu nama desa itu saat ini. Pada bagian lain juga ada sumber yang mengatakan bahwa

(31)

22

Desa Sambirenteng berasal dari kata sambi yang berarti ‘semua’ dan renteng itu ‘ringan’. Jadi Desa Sambirenteng arti katanya semua ringan.

c. Orientasi dan Pola Desa

Pada bagian ini akan dipaparkan mengenai Desa Sambirenteng dari segi orientasi arah sakral profan, orientasi sumbu bumi (kaja, kangin, kelod, kauh) dan gambaran pola desa.

1. Orientasi Arah Sakral Profan Desa Sambirenteng

Ruang sakral adalah ruang yang bersifat “nyata” yang dikelilingi oleh lapisan-lapisan medan tak berwujud. Ruang sakral ini pada umumnya diposisikan sebagai arah orientasi untuk ruang-ruang lainnya dengan tingkat kesakralannya rendah. Manusia yang menghuni alam dunia tengah (midland) yang digambarkan berada tepat di antara area dunia luar yang berkarakter “tidak terkendali” dan wilayah dunia dalam yang bersifat sakral. Kedua jenis ruang ini masing- masing memiliki tingkatan kesucian yang akan selalu diperbaharui dengan cara berbagai prosesi kegiatan ritual yang bersifat sakral.

Orientasi arah sakral desa ini sama seperti orientasi desa-desa Bali Utara pada umumnya. Orientasi sakralnya masih berpatokan kearah gunung yang berada di selatan desa, dan laut sebagai arah profan di sebelah utara desa.

2. Orientasi Sumbu Bumi Desa Sambirenteng

Penetapan sumbu bumi, yaitu orientasi arah mata angin (kaja, kangin, kelod, kauh) di permukiman tradisional Desa Sambirenteng berpatokan pada arah gunung dan laut. Penjabaran arah mata angin di desa Sidatapa ini adalah sebagai berikut:

(a) Arah selatan dimaknai sebagai arah kaja (gunung)

(b) Arah timur dimaknai sebagai arah kangin (matahari terbit) (c) Arah utara dimaknai sebagai arah kelod (laut)

(d) Arah barat dimaknai sebagai arah kauh (matahari terbenam) 3. Gambaran Pola Desa Sambirenteng

Desa Sambirenteng adalah sebuah desa tradisional Bali yang tergolong sebagai desa kuno tinggalan masa Bali Aga. Desa ini berada di dalam wilayah Kecamatan Tejakula, Kabupaten Buleleng yang berbatasan langsung dengan Laut Bali di utara wilayah desa. Pada masa lalunya, Sambirenteng diyakini dihuni oleh masyarakat yang mayoritas penduduknya berprofesi sebagai nelayan dan petani perkebunan. Secara tata ruang, Desa Sambirenteng memiliki pola desa selayaknya desa-desa tradisional Bali pegunungan yang berlatar kebudayaan Bali Aga. Desa ini

(32)

23

menganut pola desa linear berkat adanya satu sumbu desa yang membentuk sumbu aksis desa dari arah bukit ke arah perairan Laut Bali yang berada di utara desa.

Desa Sambirenteng cukup unik dan berbeda dengan desa lainnya di Bali. Desa ini tidak menganut konsepsi Pura Kahyangan Tiga, namun fungsi pemujaan dewa Tri Murti digantikan dengan adanya Pura Sanggah Desa. Di desa ini juga terdapat setra/ kuburan. Selain itu, Desa ini juga mengenal beberapa pura, semacam Pura Pangulapan, Pura Bale Agung, dan Pura Pungut. Selain setra, desa ini juga memiliki sebuah pempatan agung unik yang biasa dijadikan tempat untuk melaksanakan ritual mecagcagan. Pempatan agung di desa ini terletak di zona depan desa. Oleh karena terlalu sering diadakannya upacara ritual di pempatan agung tersebut, maka warga disana menetapkan perempatan yang terletak didepan zona desa itu sebagai pempatan agung desa. Zona suci juga banyak terdapat di Desa Sambirenteng ini. Zona ini dimasa lalu berlatar belakang animisme dan dinamisme, dan sampai sekarang masih terawat dengan baik. Zona ini antara lain perbukitan, tepian sungai, pohon besar yang dianggap suci, dan persimpangan jalan. Bangunan suci dan zona suci desa tersebut juga ditata dengan menganut konsep “mandala” yang berbeda dengan yang dikenal pada umumnya.

(33)

24

Gambar 4.4 Peta Sambirenteng

(34)

25

d. Wujud Penerapan dalam Tata Ruang

Dapat dilihat dengan jelas, perumahan di desa ini dapat dibagi menjadi dua blok dengan jalan utama (rurung gede) dijadikan sebagai batas dari dua blok perumahan tersebut. Jika terdapat rumah yang menjorok kedalam maka akses ke rumah tersebut terdapat gang-gang kecil.

Ciri khas dari permukiman Desa Sambirenteng adalah rumah yang tidak memakai tembok pembatas rumah atau penyengker. Tanah yang dibangun sebagai rumah di desa ini adalah milik Desa Sambirenteng sendiri yang luasannya mencapai 2 hektar. Pembagian tanah untuk setiap kepala keluarga pun menggunakan sistem pembagian acak, sehingga belum tentu warga yang tinggal pada natah yang sama ada hubungan keluarga atau bersaudara.

Penjabaran zona ini dalam tata ruang pekarangan rumah arsitektur tradisional adalah sebagai berikut:

1. Zona Utama adalah zona yang bernilai suci atau sacral menempati letak dibagian luan (hulu). Pada pekarangan rumah di Desa Sukawana area yang dianggap suci terletak pada arah kaja-kangin (timur laut) yang berorientasi pada pura Puncak Penulisan. Zona ini biasanya terdapat Merajan/sanggah. Merajan ini difungsikan sebagai kemulan pekurenan, artinya setiap yang menikah dirumah ini diwajibkan menyungsung Betara Kemulan (rong tiga) merupakan pelinggih yang terbuat dari kayu sakti atau kayu dapdap.

2. Zona Madya adalah zona yang berada ditengah-tengah diantara zona utama dan zona nista. Area yang termasuk zona madya pada pekarangan rumah tradisional di Desa Sukawana adalah natah (halaman rumah).

3. Zona Nista adalah zona yang bernilai profan atau kotor yang menempati letak dibagian teben. Pada pekarangan rumah di Desa Sukawana area yang dianggap teben terletak pada arah barat dan selatan sebagai letak area dapur (pewaregan), kamar mandi/ sumur dan tebe (kandang babi).

4.3 Desa Sembiran

Pada bagian berikut ini, akan dijelaskan mengenai Desa Sembiran dari segi lokasi, sejarah desa, orientasi desa, pola desa, dan wujud penerapan dalam tata ruang.

a. Lokasi Desa

Desa Sembiran bagian dari Kecamatan Tejakula, Buleleng, Provinsi Bali. Desa ini termasuk desa tua karena sudah ada sejak zaman Megalitik. Desa sembiran berada pada daerah perbukitan di Buleleng sehingga untuk akses menuju desa ini harus melewati jalan yang menurun dan kecil. Desa

(35)

26

ini memiliki luas wilayah sekitar 1.792,785 Ha, dengan jarak tempuh 9 km dari ibu kota kecamatan, 30 km dari ibu kota kabupaten, 118 km dari ibukota provinsi. Adapun batas-batas wilayah administratif Desa Sembiran adalah sebagai berikut.

(1) Sebelah utara desa berbatasan dengan pesisir Laut Bali;

(2) sebelah timur berbatasan langsung dengan wilayah Desa Pacung, Desa Julah, dan Madenan; (3) sebelah selatan berbatasan langsung dengan wilayah Kabupaten Bangli;

(4) sebelah barat berbatasan langsung dengan wilayah Kecamatan Kubutambahan.

b. Sejarah Desa

Sejarah Desa Sembiran ini dalam Monografi Desa Sembiran (2010a), diawali dengan kisah jelmaan manusia pertama di desa ini yang tepatnya terjadi di Pura Pendem. Di Pura Pendem ini tempat awal terjadinya kehidupan yang dimulai dengan terciptanya buah kayu kastuban dengan jumlahnya 4 buah, kemudian buah ini menjelma menjadi manusia.

Tahap awal buah kayu ini berubah wujud diawali dengan perubahan yang menyerupai manusia kemudian memiliki Tri Pramana yang terdiri atas Sabda, Bayu, dan idep. Setelah itu, kayu ini berubah menjadi 4 orang manusia sempurna dengan masing-masing 2 orang laki-laki dan 2 perempuan. Selanjutnya Sang Pencipta manusia pertama di Desa Sembiran ini meninggalkan ciptaanNya termasuk ciptaan yang bernama orang tua Dehe. Orang tua Dehe ini memang penjelmaan dari Sang Hyang Pramesti Guru. Manusia pertama di Desa ini tercipta sekitar abad ke 2 sebelum masehi. Berdasar pada kejadian inilah di Pura Pendem terdapat sebuah upacara yang bernama ngundang sabda, bayu dan idep.

Selanjutnya terjadi lagi penciptaan yang kedua, akan tetapi bahan yang berbeda dari sebelumnya. Manusia ciptaan ini dibuat seperti rumah ulat dan meghasilkan 4 manusia lainnya. Masing-masing manusia ini memiliki wajah yang beragam. Ciptaan pertama bermuka tampan dan yang ke dua berwajah agak buruk. Begitu pula dengan ciptaanya mengalami hal yang sama. Setelah tercipta secara utuh, maka keempat manusia ini ditinggalkan oleh Penciptanya di hutan. Manusia ini kemudian bertemu dengan Sang Hyang Pramesti Guru. Di sana mereka berempat diajarkan banyak hal termasuk pengetahuan tentang agama.

Singkat cerita, kedua pasangan dari laki – laki dan perempuan ini menikah selanjutnya mempunyai anak. Tata cara pernikahan ini diajarkan oleh Sang Hyang Pramesti Guru. Masing-masing anak yang lahir tesebut dalam kehidupannya dipisahkan, satunya hidup dengan Sang Hyang Pramesti Guru dan satunya lagi dilepas mandiri ke hutan. Setelah lama menjalani kehidupan yang berbeda, akhirnya

(36)

27

mereka dipertemukan lagi disebuah tepi jurang. Dengan adanya pertemuan keduanya, maka diadakan perkawinan kembali sehingga seterusnya berkembang informasi membentuk sebuah desa yang dinamakan Desa Sembiran hingga kini. Menurut salah satu tokoh di sana yaitu Bapak I Nyoman Sutarmi, selaku Pemangku Dalem, sejarah Desa Sambiran tidak ada yang tertulis secara jelas dan semua murni dari cerita-cerita orang terdahulu. Menurut Pak Mangku dahulu Desa Sambiran bernama Desa Sambirana, akan tetapi seiring berjalan waktu pengucapan Sambirana dirasakan terlalu panjang akhirnya disingkat menjadi Sambiran saja.

c. Orientasi dan Pola Desa

Pada bagian ini akan dipaparkan mengenai Desa Sembiran dari segi orientasi arah sakral profan, orientasi sumbu bumi (kaja, kangin, kelod, kauh) dan gambaran pola desa.

1. Orientasi Arah Sakral Profan Desa Sembiran

Desa Sembiran merupakan desa yang berada di wilayah Bali Utara yang masih memegang tradisi mereka. Orientasi sakral desa ini yang diyakini oleh warga di sana menyungsung sebuah pura kuno. Pura kuno ini sampai sekarang dikenal dengan nama Pura Dulu. Pura ini merupakan tempat melinggih dan tempat memuja tokoh dewa leluhur desa yang dikenal dengan sebutan Ida Bhatara Lingsir. Pura Dulu berlokasi di atas sebuah daerah perbukitan di dekat jalan masuk wilayah desa. Dengan menaiki beberapa anak tangga, umat yang hendak bersembahyang akan dapat mencapai area utama pura ini. Pura ini menerapkan sebuah konsep yang bernama Tri Mandala. Adapun penerapan konsep Tri Mandala di Pura Dulu adalah sebagai berikut:

(a) Area Utama Mandala ditunjukkan oleh adanya area jeroan yang menjadi tempat berdirinya dua bangunan suci utama yang berwujud Padmasari dan Padma Agung.

(b) Area Madya Mandala ditunjukan oleh adanya area jaba tengan yang berwujud tanah datar tempat umat melakukan persembahyangan.

(c) Area Nista Mandala terlihat oleh adanya jaba sisi yang merupakan bagian paling luar yang terdapat didepan gerbang masuk pura.

2. Orientasi Sumbu Bumi Desa Sembiran

Dalam pandangan kosmologis tradisional orang Bali, dikenal adanya konsepsi tentang arah yang bernilai sakral (Utama) dan profan (Nista) pada setiap sumbu alam yang ada. Pada sumbu alam atas-bawah (akasa-pertiwi), arah posisi langit (akasa) bermakna sebagai arah yang bernilai utama dan arah pertiwi sebagai makna nista. Pada sumbu arah matahari terbit- matahari terbenam (timur-barat) (Bali: kangin-kauh), arah kangin sebagai arah matahari terbit dimaknai sebagai arah utama,

(37)

28

sedangkan arah kauh sebagai opisisnya dimaknai sebagai kebalikannya.

Pada sumbu arah pegunungan-lautan (kaja-kelod), arah gunung diartikan sebagai arah utama adapun arah lautan sebagai arah nista. Mengingat posisi rangkaian pegunungan di Pulau Bali adalah berada di tengah pulau, maka ada perbedaan pemaknaan arah kaja-kelod atau posisi utama-nista bagi Bali Utara dan Bali Selatan. Sumbu bumi (arah kaja-kangin-kelod-kauh) di Desa Sembiran sesuai dengan arah sumbu di Bali Utara yaitu sebagai berikut:

(a) Arah Selatan dianggap arah kaja (gunung)

(b) Arah Timur dianggap arah kangin (matahari terbit) (c) Arah Utara dianggap ke kelod (laut)

(d) Arah Barat dianggap ke kauh (matahari terbenam) 3. Gambaran Pola Desa Sembiran

Desa Sembiran berada di daerah perbukitan, Kecamatan Tejakula, Buleleng. Menurut sejarah yang telah dipaparkan di atas bahwa dulunya desa ini terdapat dua tempat terjadinya penciptaan manusia pertama di Sembiran. Tempat pertama adalah Desa Sambirana, kini dikenal dengan sebutan Sembiran; dan tempat kedua adalah hutan yang dulu bernama hutan Sang Hyang Tegal. Oleh telah terjadinya perkawinan antara manusia tersebut maka terjadilah penyatuan wilayah hingga ke hutan. Awal mulanya di daerah dekat hutan ini banyak dihuni oleh warga sekitar, akan tetapi kejadian terjadi didaerah ini yaitu para hewan sering mengamuk yang mengancam keselamatan warga. Warga pun berangsur-angsur pindah bermukim ke wilayah Sembiran Selatan dan barat yang jauh dari hutan. Akibat adanya kejadian inilah sampai sekarang di wilayah selatan dan barat Sembiran terjadi pemukiman yang padat penduduk. Hingga sekarang Desa Sambiran dibagi menjadi 6 buah Banjar Adat yaitu: Banjar Dinas Kanginan, Banjar Dinas Kawanan, Banjar Dinas Anyar, Banjar Dinas Bukit Seni, Banjar Dinas Panggung, dan Banjar Dinas Dukuh. Di desa Sukawana ini yang menjadi indikator religius (tempat suci desa) adalah Pura Kahyangan tiga yang terdiri atas:

(a) Pura Desa, yang terletak di hulu desa yang didedikasikan untuk Dewa Brahma yang merupakan manifestasi Tuhan sebagai Dewa Pencipta.

(b) Pura Puseh, yang terletak di hulu desa/kaja yang didedikasikan untuk Dewa Wisnu yang merupakan manifestasi Tuhan sebagai Dewa Pemelihara.

(c) Pura Dalem, yang terletak di teben desa/kelod yang didedikasikan untuk Dewa Siwa yang merupakan manifestasi Tuhan sebagai Dewa Pelebur. Keberadaan Pura Dalem selalu dilengkapi dengan adanya satu kuburan (setra desa adat).

(38)

29

Selain Pura Kahyangan Tiga yang terdapat di Desa Sembiran ini, terdapat juga pura kuno yang terkenal seperti Pura Danu yang menjadi pusat orientasi, Pura Pendem yang dianggap sebagai tempat penjelmaan manusia pertama di Sembiran dan Pura Tungkub yang dipercayai sebagai tempat batas antara alam sekala (nyata) dan niskala (tidak nyata). Desa ini memiliki keunikan tersendiri yaitu memiliki Setra/ kuburan lebih dari satu. Setra tersebut antara lain Setra Balas, Setra Bajangan yang dikhususkan bagi anak-anak kecil, serta terdapat Setra Pujangga yang khusus masyarakat golongan klan pujangga namun hanya untuk yang berjenis laki – laki saja. Di Desa Sembiran, apabila terjadi kematian seorang laki – laki, maka jenazahnya akan diletakkan tengkurap, sedangkan bagi jenazah perempuan maka akan diletakkan menengadah ke atas. Di Desa Sembiran sebenarnya tidak terdapat apa yang disebut dengan pempatan agung. Akan tetapi menurut Jero Mangku Dalem, secara kasat mata posisi pempatan agung terletak disebeah utara dari Pura Tungkub, atau besebelahan dengan sebuah rumah tua desa Sembiran. Pada saat pelaksanaan upacara-upacara, ada sebuah persimpangan/pertigaan yang berada di tengah-tengah antara bale desa, pura desa, pasar desa yang kini dianggap sebagai pempatan agung oleh masyarakat Desa Sembiran.

(39)
(40)

31

4.4 Desa Wanagiri

Pada bagian berikut ini, akan dijelaskan mengenai Desa Wanagiri dari segi lokasi, sejarah desa, orientasi desa, pola desa, dan wujud penerapan dalam tata ruang.

a. Lokasi Desa

Desa Wanagiri terletak pada bagian selatan Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng. Secara Geografis dan secara administratif Desa Wanagiri termasuk dalam satu dari 129 Desa yang ada di Kabupaten Buleleng, yang memiliki luas wilayah 15,75 km2. Secara topografis Desa Wanagiri terletak pada ketinggiaan 1.220 meter di atas permukaan air laut. Letak dan Posisi dari Desa Wanagiri ini adalah perbukitan. Desa Wanagiri ini memiliki beberapa wilayah administratif dengan batas-batas yaitu:

1. Batas utara: Desa Gitgit, Sambangan serta Ambengan; 2. Batas timur: Desa Pegayaman;

3. Batas selatan: Desa Pancasari; dan

4. Batas barat: Desa Gobleg Kecamatan Banjar.

b. Sejarah Desa

Desa Wanagiri menurut informasi yang diwariskan secara oral di wilayah itu sesungguhnya termasuk dalam katagori desa muda mengingat baru terbentuk pada tahun 1973. Desa Wanagiri adalah desa yang terbentuk dari penggabungan atas tiga dusun atau banjar yang telah ada sebelumnya yang termasuk bagian desa lainnya. Tiga dusun/banjar tersebut adalah: pada Banjar Asah Panji yang sebelumnya termasuk dalam wilayah Desa Panji, pada Banjar Alas Ambengan diamana sebelumnya termasuk pada wilayah Desa Ambengan yang sekarang bernama Banjar Dinas yakni sebelumnya termasuk dalam wilayah Desa Gitgit (Sumerta, 2018).

Sebelum adanya peristiwa letusan Gunung Agung pada tahun 1963, jenis perkebunan rakyat yang ada di Desa Wanagiri adalah Kawasan hutan belantara yakni pada Banjar Dinas Asah Panji hanya terdapat penduduk dengan jumlah sepuluh orang saja. Saat wilayah ini ditemukan oleh sepuluh penduduk tesebut perkebunan ini berupa perkebunan kopi, yang membuat mereka berinisiatif membuka jalan setapak untuk memudahkan segala urusan ke Desa Panji. Mereka merintis pembuatan jalan tersebut dengan semangat sampai maka terwujud jalan setapak yang memiliki panjang sekitar 5 km yang saat ini sudah diaspal dengan panjang kira-kira 1,3 km, memiliki lebar 6 meter dan bernama Jalan Puncak Manik.

Gambar

Tabel 3.1 Nama-nama desa kasus penelitian
Gambar 4.5 Foto Observasi Sambirenteng
Gambar 4. Figure Ground Pola Desa Suana
Gambar 5.4 Kompleks bangunan suci pekarangan berorientasi ke jalan di Tabanan  5.2.  Pembahasan
+3

Referensi

Dokumen terkait