• Tidak ada hasil yang ditemukan

PILOT RESTORASI GAMBUT TERINTEGRASI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PILOT RESTORASI GAMBUT TERINTEGRASI"

Copied!
65
0
0

Teks penuh

(1)

KERJASAMA

PUSAT STUDI BENCANA LEMBAGA PENELITIAN DAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT UNIVERSITAS RIAU

DENGAN

BADAN RESTRORASI GAMBUT REPUBLIK INDONESIA

LAPORAN AKHIR

PILOT RESTORASI GAMBUT TERINTEGRASI

PENGEMBANGAN MODEL PENGGUNAAN LAHAN

GAMBUT RAMAH LINGKUNGAN DAN LAYAK SECARA

EKONOMI DI KHG PULAU TEBING TINGGI,

KABUPATEN KEPULAUAN MERANTI, PROVINSI RIAU

(2)

Laporan Akhir

PENGEMBANGAN MODEL PENGGUNAAN LAHAN GAMBUT RAMAH LINGKUNGAN DAN LAYAK SECARA EKONOMI

DI KHG PULAU TEBING TINGGI

KABUPATEN KEPULAUAN MERANTI, PROVINSI RIAU

Pilot Restrorasi Gambut Terintegrasi

Kerjasama

PUSAT STUDI BENCANA

Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat Universitas Riau

Dengan

BADAN RESTORASI GAMBUT

(3)

Laporan Akhir

PENGEMBANGAN MODEL PENGGUNAAN LAHAN GAMBUT RAMAH LINGKUNGAN DAN LAYAK SECARA EKONOMI

DI KHG PULAU TEBING TINGGI

KABUPATEN KEPULAUAN MERANTI, PROVINSI RIAU

Pilot Restorasi Gambut Terintegrasi

Dr. Nurul Qomar, S.Hut. MP. Drs. Ahmad Muhammad, M.Si.

Ir. Idwar, MS. Isnaini, SP. M.Si. Dr. Ahmad Rifai, SP. M.Si.

Kerjasama

PUSAT STUDI BENCANA

Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat Universitas Riau

Dengan

BADAN RESTORASI GAMBUT

(4)

KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur kami panjatkan kehadirat ALLAH SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya dalam penyusunan Laporan Pendahuluan

“Pilot Restorasi Gambut Terintegrasi; Pengembangan Model Penggunaan Lahan

Gambut Ramah Lingkungan dan Layak Secara Ekonomi di KHG Pulau Tebing Tinggi, Kabupaten Kepulauan Meranti, Provinsi Riau” Laporan ini memuat capaian riset aksi yang meliputi dua kegiatan utama: 1) Pemeliharaan, Pemantauan dan Evaluasi Plot Percontohan Tahun 2017, dan 2) Pengembangan Plot Percontohan Pola Baru dan Replikasi Plot Percontohan Terpilih.

Kami sangat menyadari, untuk mengembangkan sebuah model penggunaan lahan gambut ramah lingkungan dan layak secara ekonomi sebenarnya merupakan sebuah proses yang membutuhkan waktu cukup panjang. Kami memandang, apa yang baru saja kami selesaikan ini barulah sebuah langkah awal. Dalam kegiatan riset aksi ini, kami mencoba sebisa mungkin memanfaatkan potensi-potensi lokal, baik yang berupa sumberdaya hayati, sumberdaya lahan maupun sumberdaya budaya lokal. Selain itu, kami juga berupaya menyesuaikan diri dengan berbagai keterbatasan-keterbatasan yang ada, baik apabila ditinjau dari ketersediaan bibit tanaman yang berkualitas, kondisi lahan gambut yang sudah mengalami gangguan hidrologis yang cukup serius serta kemampuan dan minat masyarakat setempat maupun keterbatasan-keterbatasan sumberdaya yang kami miliki.

Kami sengaja memilih empat desa yang ada di Kecamatan Tebing Tinggi Timur, yaitu Lukun, Sungai Tohor Barat, Sendanu Darul Ihsan, dan Tanjung Sari. Dua pertimbangan utama dalam pemilihan desa ini adalah keberadaan sumberdaya-sumberdaya yang kami anggap potensial dan hubungan kemitraan yang telah kami jalin melalui beberapa kegiatan di tahun-tahun sebelumnya.

Laporan ini mengungkapkan proses pelaksanaan kegiatan selama kurang lebih enam bulan, yaitu dari bulan Juli sampai Desember 2018, meliputi: (1) FGD dengan masyarakat; (2) survei lokasi-lokasi potensial untuk pengembangan plot-plot percontohan; (3) Pemeliharaan, Pemantauan dan Evaluasi Plot Percontohan Tahun 2017; (4) kajian ekonomi dan skenario pengembagan; dan (5) pembangunan plot-plot percontohan baru.

Kami merasa sangat berterimakasih, terutama sekali kepada Badan Restorasi Gambut (BRG), khususnya Kedeputian IV, yang telah memberikan kepercayaan kepada kami untuk melaksanakan kegiatan riset aksi ini. Kami juga berterima kasih kepada Dr. Adhy Prayitno, Ketua Pusat Studi Bencana (PSB) - LPPM, Universitas Riau, yang telah menyampaikan peluang riset aksi ini kepada kami. Kami berhutang budi kepada pejabat pemerintahan desa dan tokoh-tokoh masyarakat desa serta warga desa Lukun, Sungai Tohor Barat, Sendanu Darul Ihsan, dan Tanjung Sari yang telah berperanserta dalam pelaksanaan kegiatan ini. Sebagai penutup, kami ucapkan terimakasih kepada kedua asisten administrasi kami, Liza.

(5)

Tim Penyusun mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan laporan ini.

Pekanbaru, Desember 2018

(6)

DAFTAR ISI

Kata Pengantar Daftar Isi Daftar Tabel Daftar Gambar I. PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang …1 1.2.Tujuan …2

1.3.Model Restorasi Gambut Terintegrasi …3

1.3.1. Pengayaan kebun kelapa dengan kopi dan lebah kelulut 1.3.2. Pengayaan kebun karet dengan pohon

1.3.3. Pengayaan kebun sagu dengan pohon 1.3.4. Pengayaan kebun campur dengan pohon

II. GAMBARAN UMUM WILAYAH KAJIAN

2.1.Lokasi dan Wilayah Kajian …7 2.2.Kondisi Alam …8

2.3.Kependudukan …8

2.4.Sumber Penghidupan Masyarakat …9

III. FOCUS GROUP DISCUSSION DAN EVALUASI BERSAMA

MASYARAKAT

3.1.Focus Group Discussion di Lukun …11 3.2.Focus Group Discussion di Tanjung Sari …12

3.3.Focus Group Discussion di Sendanu Darul Ihsan …13 3.4.Hasil Evaluasi Bersama Masyarakat …13

IV. SURVEI LOKASI PLOT PERCONTOHAN

4.1.Lokasi Pengayaan Kebun Kelapa dengan Pohon …17 4.2.Lokasi Pengayaan Kebun Sagu dengan Pohon …17 4.3.Lokasi Pengayaan Kebun Karet dengan Pohon …18 4.4.Lokasi Pengayaan Kebun Campur dengan Kelulut …18

4.5.Lokasi Pengayaan Kebun Pasca Terbakar (Semak Belukar) dengan Pohon …19

V. PENGADAAN BAHAN RESTORASI GAMBUT

5.1. Pengadaan Bibit Pohon …20 5.1.1. Sumber bibit pohon 5.1.2. Mekanisme pengadaan 5.1.3. Penerima bibit pohon

(7)

5.2.1. Sumber koloni lebah kelulut 5.2.2. Mekanisme pengadaan 5.2.3. Penerima koloni lebah kelulut

VI. PEMBUATAN PLOT PERCONTOHAN

6.1. Penyiapan Lahan …24

6.2. Pengaturan Jarak Tanam …24 6.3. Penggalian Lobang Tanam …25 6.4. Penanaman …25

6.5. Pemeliharaan Tanaman …26

VII. PEMANTAUAN HASIL KEGIATAN

7.1. Pemantauan Kondisi Lahan …27 7.2. Pemantauan Tanaman Pohon …..29 7.3. Pemantauan Tanaman Kopi …..32 7.4. Pemantauan Koloni Kelulut …..33

VIII.PENUTUP

8.1. Kesimpulan …..38

8.2. Rencana Tindak Lanjut …..39

DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN

(8)

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 : Batas-batas desa sasaran di Kecamatan Tebing Tinggi Timur

8

Tabel 2.2 : Jumlah Penduduk Desa Sasaran Menurut Jenis Kelamin 9 Tabel 2.3 : Proporsi penduduk desa sasaran menurut suku 10 Tabel 3.1 : Ragam model restorasi gambut terintegrasi di KHG Pulau

Tebing Tinggi

14

Tabel 4.1 : Sebaran plot percontohan menurut pola intervensi dan desa/mitra penelitian

16

Tabel 4.2 : Kondisi eksisting lokasi-lokasi untuk pembangunan plot percontohan pengayaan kebun kelapa dengan pohon

17

Tabel 4.3 : Kondisi eksisting lokasi-lokasi untuk pembangunan plot percontohan pengayaan kebun sagu dengan pohon

18

Tabel 4.4 : Kondisi eksisting lokasi-lokasi untuk pembangunan plot percontohan pengayaan kebun karet dengan pohon

18

Tabel 4.5 : Kondisi eksisting lokasi-lokasi untuk pembangunan plot percontohan kebun campur dengan pohon

19

Tabel 4.6 : Kondisi eksisting lokasi-lokasi untuk pembangunan plot percontohan semak belukar dengan pohon

19

Tabel 5.1 : Jumlah masing-masing jenis dan spesifikasi bibit pohon untuk pembuatan plot percontohan Restorasi Gambut Terintegrasi

21

Tabel 5.2 : Daftar nama mitra pembudidaya lebah kelulut untuk pengayaan kebun kelapa mereka dan informasi tentang kondisi sekeliling plot

23

Tabel 7.1 : Tinggi dan diameter tanaman pohon umur 1 tahun di bawah naungan kebun sagu, kebun karet, dan kebun campur

31

Tabel 7.2 : Kondisi tanaman kopi di bawah naungan kelapa 32 Tabel 7.3 : Kondisi koloni kelulut 1 tahun pasca pemindahan koloni 34

(9)

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 : Posisi Kecamatan Tebing Tinggi Timur dalam wilayah Kabupaten Kepulauan Meranti

7

Gambar 3.1 : Situasi FGD di Desa Lukun 12

Gambar 3.2 : Situasi FGD di Desa Tanjung Sari 12

Gambar 3.3 : Situasi FGD di Desa Sendanu Darul Ihsan 13

Gambar 5.1 : Pengadaan bibit pohon di lokasi tanam 21

Gambar 5.2 : Pembagian sarang lebah kelulut kepada para mitra 23 Gambar 6.1 : Kondisi lahan Plot Dedi di Desa Sendanu Darul Ihsan

sebelum dibersihkan

24

Gambar 6.2 : Kondisi lahan Plot Dedi di Desa Sendanu Darul Ihsan setelah dibersihkan

24

Gambar 6.3 : Penanaman pohon di Plot Suardi di Desa Tanjung Sari 25 Gambar 6.4 : Penanaman pohon di Plot Efendi di Desa Sendanu Darul

Ihsan

25

Gambar 6.5 : Pemagaran tanaman pohon di Plot Efendi di Desa Sendanu Darul Ihsan

26

Gambar 6.6 : Pemagaran tanaman pohon di Plot M. Jum di Desa Sendanu Darul Ihsan

26

Gambar 7.1 : Jumlah pohon hidup pada masing-masing plot percontohan di Desa Sendanu Darul Ihsan

30

Gambar 7.2 : Kondisi tanaman Selumar, umur 1 tahun di bawah naungan kebun karet Pak Syahril

31

Gambar 7.3 : Kondisi tanaman Selumar, umur 1 tahun di bawah naungan kebun campur Pak Nawar

31

Gambar 7.4 Pemasangan label dan pengukuran tanaman pohon di Desa Tanjung Sari

31

Gambar 7.5 Pemasangan label dan pengukuran tanaman pohon di Desa Sendanu Darul Ihsan

31

Gambar 7.6 Kondisi tanaman kopi di Plot Percontohan Pak Sipar 33 Gambar 7.7 Kondisi tanaman kopi di Plot Percontohan Pak Mustami 33

Gambar 7.8 Jumlah koloni kelulut pada 1 tahun setelah pemindahan koloni

34

Gambar 7.9 Pemantauan koloni di Plot Pak Basiran yang telah berusaha menggantung sarang kelulut untuk mengurangi gangguan semut

36

Gambar 7.10 Kondisi tabung madu kelulut yang telah berkembang, 1 tahun pasca pemindahan koloni

36

Gambar 7.11 Pemantauan kondisi koloni kelulut hasil pemecahan koloni 36

(10)

Gambar 7.13 Madu kelulut SARI MADU produksi Pokmas Sari Madu Desa tanjung Sari dan Madu kelulut AYE DAMO produksi Pokmas Gambut

(11)
(12)

I.

PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang

Pulau Tebing Tinggi merupakan satu gugusan pulau utama di Kabupaten Kepulauan Meranti, Propinsi Riau. Lokasinya berada di sebelah timur Pulau Sumatera yang dibatasi oleh Selat Panjang. Sebagian besar permukaan pulau ini merupakan lahan gambut dengan ketebalan gambut beragam, mulai dari yang relatif dangkal (<3 m) hingga yang sangat dalam (>6 m). Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menetapkan seluruh daratan dan badan air (danau dan sungai kecil) di pulau ini sebagai satu Kesatuan Hidrologi Gambut (KHG), yakni KHG Pulau Tebing Tinggi.

Lahan gambut secara umum memiliki keterbatasan apabila digunakan untuk budidaya tanaman. Selain bersifat asam dan kurang subur, lahan gambut mudah mengalami penurunan permukaan (subsidensi) terutama apabila mengalami drainasi secara berkepanjangan. Hal ini menyebabkan pembudidayaan lahan gambut secara tidak/kurang bijaksana cenderung tidak berkelanjutan. Sesuai dengan karakteristik dasarnya sebagai lahan basah, sistem budidaya yang paling tepat pada lahan gambut sebenarnya adalah paludikultur atau budidaya raya. Tetapi hal ini hampir tidak mungkin dilakukan pada lahan gambut yang secara hidrologis sudah mengalami banyak gangguan, karena biasanya sudah terlalu kering.

Selain paludikultur, sistem budidaya yang juga tepat diterapkan pada lahan gambut adalah agroforestri. Sistem ini menekankan arti penting kombinasi antara tanaman pertanian atau perkebunan dengan kehutanan untuk meningkatkan diversitas atau keanekaragaman. Pengayaan jenis komoditas yang bisa dihasilkan selain dapat meningkatkan pendapatan juga mengurangi kerentanan terhadap kerugian yang diakibatkan oleh penurunan harga suatu jenis komoditas. Di sisi lain, pengayaan ini biasanya juga memiliki dampak positif secara ekologis, karena lebih menyokong pelestarian keanekaragaman hayati.

Pengamatan pendahuluan yang telah dilaksanakan terhadap kondisi budidaya lahan gambut yang telah dijalani oleh masyarakt dalam wilayah KHG

(13)

Pulau Tebing Tinggi mengungkapkan bahwa secara umum: (1) spesies tanaman utama yang menjadi sumber penghidupan utama masyarakat disini adalah sagu, karet dan kelapa; (2) kebun-kebun sagu, karet maupun kelapa masyarakat ini memiliki produktifitas relatif rendah; (3) pemenuhan kebutuhan hidup masyarakat yang berbasis kebun tanaman-tanaman ini tidak mengandalkan produktifitas lahan kebun, melainkan pada luas lahannya. Hal ini menyebabkan masyarakat cenderung selalu berkeinginan memperluas atau menambah lahan kebun mereka. Mengingat terbatasnya ketersediaan lahan yang sesuai untuk membudidayakan tanaman-tanaman tersebut, maka diperlukan strategi untuk meningkatkan produktifitas lahan-lahan kebun yang telah ada.

Pada tahun 2017, Pusat Studi Bencana dan Badan Restorasi Gambut telah melakukan riset aksi dengan membangun plot percontohan di lahan masyarakat dengan pendekatan intensifikasi dan diversifikasi sistem pertanaman yang telah ada untuk meningkatkan produktifitas lahan kebun, baik dalam jangka pendek maupun panjang. Produktifitas kebun-kebun masyarakat diharapkan dapat ditingkatkan dengan menggunakan sistem budidaya yang ramah lingkungan (paludikultur dan agroforestri), melalui pengayaan komoditas baru yang bernilai ekonomi tinggi. Pada tahun 2018 ini dilakukan riset aksi Restorasi Gambut Terintegrasi meliputi tiga kegiatan utama: 1) Pemeliharaan, Pemantauan dan Evaluasi Plot Percontohan Tahun 2017, 2) Kajian Kelayakan Ekonomi dan Analisis Skenario Implementasi, 3) Pengembangan Plot Percontohan Pola Baru dan Replikasi Plot Percontohan Terpilih.

1.2. Tujuan

Kegiatan ini telah dilaksanakan dengan tujuan umum memanfaatkan hasil riset dan inovasi tahun sebelumnya untuk dapat dirangkai menjadi kegiatan restorasi gambut yang terintegrasi dan efektif. Adapun tujuan khususnya adalah:

a. Mengevaluasi plot-plot percontohan model intensifikasi dan diversifikasi kebun di lahan gambut ramah lingkungan (hasil kegiatan Riset Aksi 2017). b. Mengembangkan plot-plot percontohan model penggunaan lahan gambut

ramah lingkungan dan layak secara ekonomi dalam rangka restorasi gambut terintegrasi .

(14)

1.3. Model Restorasi Gambut Terintegrasi

1.3.1. Pengayaan kebun kelapa dengan kopi dan lebah kelulut

Kelapa (Cocos nucifera) adalah salah satu tanaman yang banyak dibudidayakan masyarakat pada lahan gambut. Kebun kelapa masyarakat pada lahan gambut umumnya sudah berumur tua, yaitu berkisar 30-40 tahun. Perakarannya juga banyak yang sudah terangkat sebagai akibat turunnya permukaan gambut (subsidensi). Antara lain kedua hal inilah yang menyebabkan produktifitas kebun kelapa masyarakat relatif rendah. Kebun kelapa masyarakat rata-rata hanya memproduksi sekitar 2400 butir kelapa/ha setiap tiga bulannya.

Berbeda dari kelapa, kopi tidak dibudidayakan pada lahan gambut secara meluas oleh masyarakat. Sejauh ini, hanya di daerah-daerah tertentu ditemukan kegiatan ini. Di Kabupaten Kepulauan Meranti kebetulan terdapat dua desa berlahan gambut yang dikenal sebagai sentra produksi kopi, khususnya kopi liberika (Coffea liberica), yaitu Desa Bina Sempian dan Desa Kedabu Rapat, keduanya terletak di Pulau Rangsang yang berada di sebelah Pulau Tebing Tinggi. Tanaman kopi di kedua desa ini dibudidayakan bersama-sama kelapa, yang sekaligus berfungsi sebagai tanaman penaung. Produksi kebun campur kopi-kelapa ini mencapai rata-rata 600-700 kg buah segar/ha setiap bulannya, apabila di bawah tanaman kelapa terdapat setidaknya 800 tanaman kopi/ha. Mengingat kondisi lingkungan di Pulau Tebing Tinggi kurang lebih serupa dengan kondisi yang ada di Pulau Rangsang, maka kopi liberika dipilih sebagai tanaman pengaya kebun kelapa masyarakat di Pulau Tebing Tinggi.

Dalam hal ini, kombinasi antara kedua tanaman tersebut diperkaya lagi dengan budidaya salah satu spesies lebah kelulut (Trigonila colina), yang kebetulan secara alamiah banyak ditemukan di Pulau Tebing Tinggi dan memiliki potensi produksi madu yang tinggi. Budidaya serangga yang dikenal sebagai penyerbuk utama tanaman kelapa dan kopi ini diperkirakan akan meningkatkan produktifitas tanaman kelapa dan tanaman kopi sekaligus, sementara perbungaan kedua tanaman ini menjadi sumber nektar dan polen bagi lebah kelulut.

(15)

1.3.2. Pengayaan kebun karet dengan pohon

Karet (Hevea brasiliensis) adalah salah satu tanaman lain yang banyak dibudidayakan masyarakat secara meluas pada lahan gambut. Tanaman yang berasal dari Amerika Selatan ini sudah dibudidayakan di Sumatera sejak awal abad 20 lalu. Setelah sempat menjadi tanaman sumber penghidupan utama selama hampir lebih dari satu abad, akhir-akhir ini banyak kebun karet masyarakat dikonversi menjadi kebun kelapa sawit (Elaeis guineensis). Meskipun demikian, karet masih memiliki potensi sebagai sumber penghidupan utama masyarakat di banyak tempat berlahan gambut, terutama sekali dimana belum terdapat pabrik pengolah kepala sawit (PKS), sebagai contoh di sejumlah desa yang berada di Pulau Tebing Tinggi.

Sebagaimana kondisi kebun kelapanya, kondisi kebun karet masyarakat di Pulau Tebing Tinggi juga tidak begitu menggembirakan. Selain pohon-pohon karet yang ada umumnya sudah tua (lebih dari 30 tahun), penurunan permukaan gambut menyebabkan perakaran banyak pohon menggantung di permukaan tanah. Antara lain, kedua hal ini menjadi penyebab rendahnya produktifitas kebun karet masyarakat, yaitu hanya sekitar 80 kg ojol/ha/bulan. Karena tanaman karet masyarakat umumnya bertajuk rapat, maka penyisipan spesies tanaman lain yang membutuhkan banyak cahaya seperti pada umumnya spesies tanaman pertanian kedalam sistem pertanaman ini dipandang kurang tepat.

Salah satu cara untuk meningkatkan produktifitas lahan kebun dalam jangka panjang adalah dengan mengkombinasikan tanaman karet dengan berbagai spesies pohon asli penghasil kayu yang cepat tumbuh, seperti selumar (Jackiopsis ornata) dan geronggang (Cratoxylum arborescens). Keduanya dapat tumbuh di bawah naungan tajuk yang cukup rapat. Apabila jarak tanam kebun karet masyarakat tidak terlalu rapat, maka diperkirakan dapat disisipkan hingga 200 pohon-pohon penghasil kayu ini. Hal ini akan dapat meningkatkan produktifitas lahan kebun, terutama setelah tahun ke tujuh, ketika pohon-pohon ini sudah berukuran cukup besar untuk dipanen.

(16)

1.3.3. Pengayaan kebun sagu dengan pohon

Sagu (Metroxylon sagu) adalah tanaman penghasil karbohidrat yang dipercayai berasal dari wilayah Indonesia bagian timur. Tanaman ini dapat dijumpai diberbagai daerah di Sumatera, termasuk di Kabupaten Kepulauan Meranti, khususnya Pulau Tebing Tinggi. Berbeda dengan sagu di daerah Indonesia bagian barat lainnya, sagu di kabupaten ini dapat berkembang menjadi salah satu tanaman unggulan daerah yang khas. Pada saat ini diperkirakan terdapat tidak kurang dari 40.000 ha areal produksi sagu dalam wilayah ini.

Sagu sebagai tanaman sumber kehidupan membutuhkan waktu cukup lama untuk tumbuh hingga memasuki masa panen, yaitu sekurang-kurangnya 12 tahun. Tanaman ini dapat berkembang biak dengan cepat secara vegetatif, sehingga jumlah tanaman selama masa pertumbuhan ini biasanya berlipatganda dengan sendirinya. Meskipun demikian produktifitas kebun-kebun sagu masyarakat umumnya relatif rendah, yaitu umumnya hanya menghasilkan kurang dari 20 batang sagu/ha setiap tahunnya.

Salah satu cara untuk meningkatkan produktifitas lahan kebun sagu dalam jangka panjang adalah dengan mengkombinasikan tanaman sagu dengan berbagai spesies pohon asli penghasil kayu yang cepat tumbuh, seperti geronggang (Cratoxylum arborescens), punak (Tetramerista glabra), dan selumar (Jackiopsis

ornata). Ketiganya dapat tumbuh di bawah naungan tajuk yang cukup rapat.

Diperkirakan setiap hektar kebun sagu dapat disisipkan hingga 100-150 pohon-pohon penghasil kayu ini. Hal ini akan dapat meningkatkan produktifitas lahan kebun, terutama setelah tahun ke tujuh, ketika pohon-pohon ini sudah berukuran cukup besar untuk dipanen.

1.3.4. Pengayaan kebun kebun campur dengan pohon

Dalam survei pendahuluan ditemukan adanya beberapa jenis pohon hutan alam yang sengaja ditanam penduduk desa berlahan gambut di kebun-kebun kebun campur, seperti geronggang (Cratoxylum arborescens), punak (Tetramerista glabra), dan selumar (Jackiopsis ornata). Pohon-pohon ini ternayata dapat ditanam berdampingan dengan berbagai spesies tanaman yang lazim ada dalam kebun kebun campur, seperti jambu, kelapa, nangka, pinang,

(17)

rambutan dan pisang. Penambahan beberapa spesies pohon penghasil kayu yang dapat dipanen dalam jangka waktu yang tidak terlalu panjang diperkirakan akan dapat meningkatkan produktifitas lahan kebun campur.

(18)

II.

GAMBARAN UMUM WILAYAH KAJIAN

2.1.Lokasi dan Wilayah Kajian

Kawasan Hidrologis Gambut Pulau Tebing Tinggi meliputi tiga kecamatan, yaitu Tebing Tinggi, Tebing Tinggi Timur dan Tebing Tinggi Barat. Mengingat keterbatasan waktu, dana dan tenaga, kegiatan riset aksi ini hanya dapat dilaksanakan di wilayah Kecamatan Tebing Tinggi Timur (Gambar 2.1). Dengan mempertimbangkan kekhasan sumber penghidupan utama masyarakat di masing-masing desa, riset aksi tahun 2017 telah membangun plot percontohan (demplot) dilakukan di empat desa, yaitu: Lukun, Sungai Tohor Barat, Sendanu Darul Ihsan dan Tanjung Sari. Pada tahun 2018, riset aksi difokuskan pada tiga desa, yaitu: Lukun, Sendanu Darul Ihsan, dan Tanjung Sari.

Gambar 2.1. Posisi KHG Pulau Tebing Tinggi Timur dalam wilayah Kabupaten Kepulauan Meranti (Sumber: Wikipedia)

Wilayah Desa Lukun berada di sebelah hulu Sungai Suir, yaitu sungai terbesar yang membelah Pulau Tebing Tinggi. Wilayah Sungai Tohor Barat berada diantara Lukun dan Sungai Tohor, sementara wilayah Sendanu Darul Ihsan

(19)

dan Tanjung Sari berbatasan satu sama lain di bagian timur dari Pulau Tebing Tinggi. Tabel 2.1 menunjukkan batas wilayah desa-desa ini.

Tabel 2.1. Batas-batas desa lokasi riset di Kecamatan Tebing Tinggi Timur

No

. Desa

Sisi Wilayah

Utara Timur Selatan Barat 1 Lukun Kepau Baru Sungai Tohor Barat Banglas Batin Suir 2 Sungai Tohor Barat Selat Air Hitam Sungai Tohor PT. NSP/ Kepau Baru Banglas Barat 3 Sendanu Darul

Ihsan

Selat Air Hitam Tanjung Sari Teluk Buntal Nipah Sendanu 4 Tanjung Sari Sendanu Darul

Ihsan

Selat Air Hitam Tanjung Gadai &Teluk Buntal

Sendanu Darul Ihsan

2.2. Kondisi Alam

Kecamatan Tebing Tinggi Timur merupakan wilayah dengan bentang lahan yang hanya memiliki ketinggian antara 0 hingga 10 m di atas permukaan laut. Hampir seluruh wilayah kecamatan ini merupakan lahan gambut, yang sebagian diantaranya –terutama yang berada di bagian tengah pulau– memiliki ketebalan gambut >3 m. Sebagaimana disebutkan di atas, sungai terbesar yang ada di wilayah kecamatan ini adalah Sungai Suir.

Menurut zonasi iklim Sumatra dari Oldeman (Whitten 1999), wilayah Tebing Tinggi Timur termasuk dalam zona iklim B dan zona iklim D. Zona iklim B memiliki 7-9 bulan basah berturut-turut, < 3 bulan kering berturut-turut berarti D memiliki 3-4 bulan basah berturut-turut, 2-6 bulan kering berturut-turut. Bulan yang paling basah biasanya adalah bulan Oktober hingga Desember, sedangkan bulan yang paling kering biasanya adalah Februari, Juni dan Juli.

2.3. Kependudukan

Secara umum jumlah penduduk Tebing Tinggi Timur hingga saat ini (data monografi tahun 2016) masih relatif kecil, yaitu kurang lebih 13.500 jiwa dengan rasio antara laki-laki dan perempuan yang berimbang. Tingkat pertumbuhan penduduk Tebing Tinggi Timur masih rendah, yaitu hanya 0,5%/tahun. Jumlah penduduk desa hanya berkisar antara 850 hingga mendekati 2.000 jiwa. Oleh

(20)

karenanya, mengingat wilayahnya yang luas tingkat kepadatan penduduk di kecamatan ini rata-rata hanya 33,3 jiwa/km2.

Seperti ditampilkan dalam Tabel 2.2, dari keempat desa sasaran, yang memiliki jumlah penduduk terbesar adalah Lukun, yaitu 1873 jiwa, tetapi karena wilayahnya cukup luas tingkat kepadatan penduduk di desa ini hanya 12,1 jiwa/km2. Sebaliknya, jumlah tingkat kepadatan penduduk Sendanu Darul Ihsan mencapai 32,3 jiwa/km2 meskipun jumlah penduduknya hanya 970 jiwa, karena

wilayahnya lebih kecil dari Lukun.

Tabel 2.2. Jumlah penduduk desa sasaran menurut jenis kelamin

No. Desa Jumlah Penduduk (Jiwa)

Kepadatan Penduduk (Jiwa/Km2)

Laki-laki Perempuan Total

1 Lukun 995 878 1873 12,1 2 Sungai Tohor Barat 550 446 998 11,6 3 Sendanu Darul Ihsan 489 481 970 32,3 4 Tanjung Sari 593 528 1122 66

Sumber : Monografi Masing-Masing Desa (2016)

Sebagaimana ditunjukkan dalam Tabel 2.3, populasi di Lukun didominasi oleh penduduk dari suku Melayu, yaitu kurang lebih 90%, selebihnya adalah penduduk dari suku Jawa dan suku lainnya. Populasi di Sungai Tohor Barat dapat dibagi hampir sama besar antara penduduk bersuku Melayu (40%) dan yang bersuku Jawa (45%), selebihnya dari suku lainnya. Populasi di Sendanu Darul Ihsan didominasi oleh penduduk dari suku Melayu, yaitu lebih dari 90% dan sisanya umumnya merupakan penduduk dari suku Jawa. Komposisi populasi di Tanjung Sari terdiri dari 63% penduduk dari suku Melayu dan 37% dari suku Jawa.

2.4. Sumber Penghidupan Masyarakat

Sumber penghidupan utama masyarakat di Tebing Tinggi Timur, khususnya sumber penghidupan di darat, berbasis kebun sagu, karet dan kelapa. Bagi penduduk Lukun dan Sungai Tohor Barat, kebun sagu dan karet merupakan tanaman masyarakat terpenting, sementara bagi penduduk Sendanu Darul Ihsan

(21)

dan Nipah Sendanu ketiga tanaman ini sama pentingnya, meskipun kelapa agak lebih menonjol dibanding karet dan sagu.

Tabel 2.3. Proporsi penduduk desa sasaran menurut suku

No. Desa Proporsi Kelompok Etnis (%)

Melayu Akit Jawa Lainnya Total 1 Lukun 90 5 5 - 100 2 Sungai Tohor Barat 40 10 45 5 100 3 Sendanu Darul Ihsan 93 - 7 - 100 4 Tanjung Sari 63 - 37 - 100

(22)

III.

FOCUS GROUP DISCUSSION DAN EVALUASI

BERSAMA MASYARAKAT

Focus Group Discussion (FGD) dengan masyarakat dilakukan pada tahap awal kegiatan riset aksi di tiga desa sasaran lokasi riset aksi, yakni Lukun, Sendanu Darul Ihsan, dan Tanjung Sari di Kecamatan Tebing Tinggi Timur, Kabupaten Kepulauan Meranti. Sosialisasi dan diskusi kelompok dilakukan. Jadwal pelaksanaan dan hasil sosialisasi dan diskusi masing-masing desa disajikan di bawah ini.

3.1. Focus Group Discussion di Desa Lukun 3.1.1. Tempat dan waktu

FGD di Desa Lukun dilaksanakan di rumah Pak Amran pada tanggal 16 Agustus 2018.

3.1.2. Peserta

Peserta FGD adalah tokoh dan anggota masyarakat Desa Lukun, termasuk di dalamnya adalah kepala rumah tangga mitra penelitian tahun 2017 dan calon mitra penelitian tahun 2018 yang mempunyai lahan perkebunan dan semak belukar untuk lokasi plot pecontohan.

3.1.3. Hasil pertemuan

a) Masyarakat Desa Lukun menyambut baik rencana pembuatan Plot Baru Percontohan Restorasi Gambut Terintegrasi.

b) Model plot percontohan yang sesuai dengan kondisi fisik lahan dan sosial budaya masyarakat desa Lukun adalah: 1) pengayaan jenis pohon penghasil kayu dan damar di kebun sagu sepanjang batas kebun, 2) pengayaan jenis pohon penghasil kayu dan damar di kebun karet, dan 3) pengayaan jenis pohon penghasil kayu dan damar di semak belukar atau areal kebun bekas terbakar.

(23)

Gambar 3.1. Situasi FGD di Desa Lukun

3.2. Focus Group Discussion di Desa Tanjung Sari 3.2.1. Tempat dan waktu

FGD di Desa Tanjung Sari dilaksanakan di rumah Pak Tukimun pada tanggal 17 Agustus 2018.

3.2.2. Peserta

Peserta FGD adalah tokoh dan anggota masyarakat Desa Tanjung Sari, termasuk di dalamnya adalah kepala rumah tangga mitra penelitian tahun 2017 dan calon mitra penelitian tahun 2018 yang mempunyai lahan perkebunan dan semak belukar untuk lokasi plot pecontohan.

3.2.3. Hasil pertemuan

a) Masyarakat Desa Tanjung Sari menyambut baik rencana pembuatan Plot Baru Percontohan Restorasi Gambut Terintegrasi.

b) Pola plot percontohan yang sesuai dengan kondisi fisik lahan dan sosial budaya masyarakat desa Tanjung Sari adalah : 1) pengayaan jenis pohon di kebun yang sudah terbakar sehingga menjadi semak belukar, dan 2) pengayaan jenis pohon penghasil kayu dan damar di kebun kelapa.

c) Jumlah plot percontohan yang direncanakan sebanyak 3 buah

(24)

3.3. Focus Group Discussion di Desa Sendanu Darul Ihsan 3.3.1. Tempat dan waktu

FGD di Desa Sendanu Darul Ihsan dilaksanakan di rumah Pak Nawar pada tanggal 18 Agustus 2018

3.3.2. Peserta

Peserta FGD adalah tokoh dan anggota masyarakat Desa Sendanu Darul Ihsan, termasuk di dalamnya adalah kepala rumah tangga mitra penelitian yang mempunyai lahan perkebunan untuk lokasi plot pecontohan

3.3.3. Hasil pertemuan

a) Masyarakat Desa Sendanu Darul Ihsan menyambut baik rencana pembuatan Plot Baru Percontohan Restorasi Gambut Terintegrasi. b) Pola plot percontohan yang sesuai dengan kondisi fisik lahan dan

sosial budaya masyarakat desa Sendanu Darul Ihsan adalah : 1) pengayaan jenis pohon penghasil kayu dan damar di kebun karet, dan 2) pengayaan jenis pohon penghasil kayu dan damar di kebun kelapa. c) Jumlah plot percontohan yang direncanakan sebanyak 4 buah

Gambar 3.3. Situasi FGD di Desa Sendanu Darul Ihsan

3.4. Hasil Evaluasi Bersama Masyarakat

Berdasarkan hasil evaluasi bersama masyarakat terhadap beberapa model paludikultur dan agroforestry dalam rangkan restorasi gambut terintegrasi yang diuji coba pada 23 plot percobaan sebelumnya maka pada tahun 2018 dilakukan replikasi (pengulangan) dan revisi model sebagaimana digambarkan dalam Tabel 3.1.

(25)

Tabel 3.1. Ragam model restorasi gambut terintegrasi di KHG Pulau Tebing Tinggi.

No. Model Restrorasi Gambut Terintegrasi

Jumlah Plot Contoh

Menurut Tahun Sebaran Plot Contoh 2017 2018

1 Sagu + Pohon Penghasil Kayu dan Damar 4 1 Lukun (3), Sendanu Darul Ihsan (2)

2 Karet + Pohon Penghasil Kayu dan Damar 6 3 Lukun (2), Sungai Tohor Barat (3), Sendanu Darul Ihsan (3)

3 Kelapa + Pohon Penghasil Kayu dan Damar 3 Sendanu Darul Ihsan (2), Tanjung Sari (1)

4 Kelapa + Kopi + Lebah Kelulut 9 Tanjung Sari (9) 5 Kebun Campur + Lebah Kelulut 2 Lukun (2) 6 Kebun Campur + Pohon Penghasil Kayu dan

Damar

4 1 Sendanu Darul Ihsan (5) 7 Kebun pasca terbakar + Pohon Penghasil

Kayu dan Damar

3 Lukun (1), Tanjung Sari (2)

Total 23 12

Pada tahun 2018 ini dilakukan replikasi terhadap model : 1) Sagu + Pohon Penghasil Kayu dan Damar, 2) Karet + Pohon Penghasil Kayu dan Damar, 3) Kebun Campur + Pohon Penghasil Kayu dan Damar. Selain itu, juga dilakukan revisi terhadap beberapa model sehingga diperoleh model baru, yaitu: 1) Kelapa + Pohon Penghasil Kayu dan Damar, 2) Kebun Campur + Lebah Kelulut, dan 3) Kebun pasca terbakar + Pohon Penghasil Kayu dan Damar. Pohon penghasil kayu yang banyak diminati masyarakat adalah selumar (Jackiopsis ornata) karena mempunyai pertumbuhan yang cepat dan kayunya bernilai jual tinggi sebagai bahan tiang dermaga dan rumah panggung di pinggir pantai. Sementara itu, pohon penghasil damar yang dipilih masyarakat adalah resak (Vatica rassak) karena getah yang dihasilkan sangat dibutuhkan oleh lebah kelulut untuk membangun sarang dan tabung madu.

Di sini ada satu model yang tidak dilakukan replikasi, yaitu Kelapa + Kopi karena lokasi plot percontohan berada di lahan gambut yang dalam sehingga tidak cocok untuk pengembangan tanaman kopi, dan masyarakat juga masih belum yakin akan adanya pasar yang mau menampung kopi buah segar petani. Selain itu, hasil pengamatan di plot percontohan Pak Basiran yang sudah tersedia kebun kopi tua menunjukkan bahwa lebah kelulut T. apicalis tidak menyukai bunga kopi,

(26)

bahkan keberadaan tanaman kopi menjadi host bagi semut untuk berkembang biak yang justru mengganggu koloni lebah kelulut.

(27)

IV.

SURVEI LOKASI PLOT PERCONTOHAN

Setelah melakukan sosialisasi kegiatan, diskusi, dan evaluasi terhadap model paludikultur dan agroforestry bersama masyarakat, tahapan selanjutnya adalah melakukan survei atau peninjauan lokasi sasaran plot percontohan baru untuk memastikan bahwa model Restorasi Gambut Terintegrasi yang dirancang sesuai dengan sosial budaya masyarakat dan kondisi fisik lahan. Sebaran plot percontohan berdasarkan penggunaan lahan saat ini dan pola intervensi restorasi gambut yang akan diteliti, serta desa dan rumah tangga mitra penelitian dapat dilihat pada Tabel 4.1.

Tabel 4.1. Sebaran plot percontohan menurut pola intervensi dan desa/mitra penelitian N o. Penggunaan lahan saat ini

Intervensi Desa/Mitra Penelitian Jumlah Lukun SDI TS

1 Kebun kelapa Pengayaan jenis pohon penghasil kayu dan damar

- 2 (Syafril, M. Jum) 1 (Tukimun) 3

2 Kebun sagu Pengayaan jenis pohon penghasil kayu dan damar

1 (Maro’aini)

- - 1

3 Kebun karet Pengayaan jenis pohon penghasil kayu dan damar

1 (Sofian) 2 (Dedi, Efendi) - 3 4 Kebun Campur Pengayaan Kelulut 2 (Amran, Ahmad M.) 2 5 Kebun pasca terbakar (Semak belukar) Pengayaan jenis pohon penghasil kayu dan damar

1 (Amirudin) - 2 (Suardi, Darwis) 3

Jumlah Plot Percontohan 5 4 3 12

Keterangan:

SDI: Sendanu Darul Ihsan TS : Tanjung Sari

Jenis pohon pengayaan antara lain: selumar, geronggang, punak, resak dan laban

Di masing lokasi dilakukan pemeriksaan kondisi eksisting masing-masing kebun yang ditawarkan oleh mitra penelitian. Pemeriksaan ini meliputi parameter-parameter berikut: (a) kategori kebun dan jenis tanaman utama; (b) kategori gambut; (c) kedalaman muka air; (d) jarak tanam tanaman utama; dan (e)

(28)

umur kebun dan tanaman. Data tentang kelima parameter ini diperoleh baik melalui pengamatan dan mengukuran secara langsung maupun melalui wawancara.

Kondisi fisik lahan dan tanaman pada perkebunan dan semak belukar di lokasi sasaran plot percontohan yang dirinci menurut pola intervensi restorasi gambut, serta nama mitra riset dijelaskan di bawah ini.

4.1. Lokasi Pengayaan Kebun Kelapa dengan Pohon

Survei lokasi sasaran plot percontohan pengayaan kebun kelapa dengan pohon penghasil kayu dan damar dilakukan di 3 lokasi yang tersebar di Desa Sendanu Darul Ihsan 2 plot dan di Desa Tanjung Sari 1 plot. Tabel 4.2 menampilkan kondisi fisik lahan dan tanaman pokok perkebunan di lokasi sasaran.

Tabel 4.2. Kondisi lokasi pengayaan kebun kelapa dengan pohon

No. Mitra Desa Koordinat Lokasi

Kondisi lahan dan tanaman Foto

1 Syafril SDI 0050’46,2” N dan 103000’10.7” E

Gambut, tanaman kelapa tua > 40 tahun (jarak tanam 9 x 9 m)

2 M. Jum SDI 0,849120 N 102,988780 E

Gambut, kebun campur, tanaman pohon campuran

3 Tukimun TS 0048’14” N dan 103001’49” E

Gambut, tanaman kelapa tua > 40 tahun (jarak tanam 9 x 9 m)

Keterangan:

SD : Sendanu Darul Ihsan TS : Tanjung Sari

4.2. Lokasi Pengayaan Kebun Sagu dengan Pohon

Survei lokasi sasaran plot percontohan pengayaan kebun sagu dengan pohon penghasil kayu dan damar dilakukan di 1 lokasi yang berada di Desa Lukun.

(29)

Tabel 4.3 menampilkan kondisi fisik lahan dan tanaman pokok perkebunan di lokasi sasaran.

Tabel 4.3. Kondisi lokasi pengayaan kebun sagu dengan pohon

No. Mitra Desa Koordinat Lokasi

Kondisi lahan dan tanaman Foto

1 Maro’aini Lukun 0056’46.6” N dan 102047’44,0 E

Gambut, tanaman sagu > 20 tahun

4.3. Lokasi Pengayaan Kebun Karet dengan Pohon

Survei lokasi sasaran plot percontohan pengayaan kebun karet dengan pohon penghasil kayu dan damar dilakukan di 3 lokasi yang tersebar di Desa Sendanu Darul Ihsan dan Lukun. Tabel 4.4 menampilkan kondisi fisik lahan dan tanaman pokok perkebunan di lokasi sasaran.

Tabel 4.4. Kondisi lokasi pengayaan kebun karet dengan pohon

No. Mitra Desa Koordinat Lokasi

Kondisi lahan dan tanaman Foto

1 Dedi SDI 0°50’27.9” N dan

102°59’35.3” E

Gambut, tanaman karet muda ±7 tahun

2 Efendi SDI 00,843760 N 102,993100 E

Gambut, tanaman kelapa tua > 40 tahun (jarak tanam 9 x 9 m)

3 Sofian Lukun 0°56’14” N dan 102°48’34” E

Gambut, tanaman karet muda ±7 tahun

Keterangan:

SDI : Sendanu Darul Ihsan

4.4. Lokasi Pengayaan Kebun Campur dengan Kelulut

Survei lokasi sasaran plot percontohan pengayaan kebun campur dengan kelulut dilakukan di 2 lokasi yang berada di Desa Lukun. Tabel 4.5 menampilkan kondisi fisik lahan dan tanaman di lokasi sasaran.

(30)

Tabel 4.5. Kondisi lokasi pengayaan kebun campur dengan kelulut

No. Mitra Desa Koordinat Lokasi

Kondisi lahan dan tanaman Foto

1 Amran Lukun 0°56’27” N dan 102°46’16” E

Gambut, kebun campur (kelapa, pinang, rambutan, dll) di sekitar permukiman

2 Ahmad M. Lukun 0°56’26” N dan 102°46’30” E

Gambut, kebun campur (kelapa, pinang, rambutan, dll) di sekitar permukiman

4.5. Lokasi Pengayaan Kebun Pasca Terbakar (Semak Belukar) dengan Pohon

Survei lokasi sasaran plot percontohan pengayaan kebun pasca terbakar yang saat ini berupa semak belukar dengan pohon penghasil kayu dan damar dilakukan di 3 lokasi, terdiri dari 2 lokasi berada di Desa Tanjung Sari, dan 1 lokasi di Desa Lukun. Tabel 4.6 menampilkan kondisi fisik lahan dan vegetasi di lokasi sasaran.

Tabel 4.6. Kondisi lokasi pengayaan semak belukar dengan pohon

No. Mitra Desa Koordinat Lokasi

Kondisi lahan dan tanaman Foto

1 Suardi TS 0°48’12” N dan 103°00’25” E

Gambut, semak belukar bekas kebun terbakar tahun 2014

2 Darwis TS 0°47’51” N dan 103°01’03” E

Gambut, semak belukar bekas kebun terbakar tahun 2014, sebagian tanaman kelapa masih hidup

3 Amirudin Lukun 0°56’01” N dan 102°49’05” E

Gambut, semak belukar bekas lahan terbakar

Keterangan: TS : Tanjung Sari

(31)

V.

PENGADAAN BAHAN RESTORASI GAMBUT

5.1. Pengadaan Bibit Pohon 5.1.1. Sumber bibit pohon kayu

Bibit pohon penghasil kayu dan damar bersumber dari biji, cabutan dan stek yang diperoleh dari semak belukar dan hutan di beberapa desa di Kecamatan Tebing Tinggi Timur. Jenis pohon yang diadakan adalah yang dipilih oleh masyarakat, disesuaikan dengan kondisi lahan gambut, persaingan tajuk dengan tanaman kebun sebelumnya, dan mempunyai nilai ekonomi tinggi. Jenis pohon yang paling banyak dipilih masyarakat adalah selumar, geronggang, punak, resak, dan laban. Semua bibit ini sudah dipelihara di dalam polybag selama sekurang-kurangnya tiga bulan dan memiliki tinggi minimal 30 cm, serta tidak menunjukkan tanda-tanda terserang hama maupun penyakit tertentu.

5.1.2. Mekanisme pengadaan

Jumlah bibit pohon kayu-kayuan yang diadakan untuk pembuatan Plot Percontohan Restorasi Gambut Terintegrasi sebanyak 2.630 batang, baik untuk pembuatan plot percontohan baru maupun untuk sulaman plot percontohan tahun 2017. Bibit tersebut disediakan oleh masyarakat di Desa Sendanu Darul Ihsan, Sungai Tohor, dan Lukun. Beberapa tahun sebelumnya, Pusat Studi Bencana LPPM Universitas Riau telah membina masyarakat di desa-desa tersebut untuk melakukan usaha pembibitan skala rumah tangga. Bibit yang telah memenuhi syarat spesifikasi bibit selanjutnya dibeli langsung oleh Tim Pelaksana Kegiatan Pilot Project Restorasi Gambut Terintegrasi. Dengan demikian, kegiatan pembuatan riset aksi ini sekaligus dapat menggairahkan usaha pembibitan rakyat dan memberikan tambahan pendapatan bagi masyarakat desa gambut, dapat mengintegrasikan R2 dan R3 dalam satu kegiatan.

(32)

Tabel 5.1. Jumlah masing-masing jenis dan spesifikasi bibit pohon untuk pembuatan plot percontohan Restorasi Gambut Terintegrasi

No. Jenis Pohon Nama Ilmiah Jumlah

(batang)

Proporsi (%)

1 Selumar Jackiopsis ornata 1.910 72,6

2 Geronggang Cratoxylon arborescens 370 14,1

3 Punak Tetramerista glabra 210 8,0

4 Resak Vatica sp. 90 3,4

5 Lainnya 50 1,9

Jumlah 2.630 100

(a) (b)

Gambar 5.1. Pengadaan bibit pohon di lokasi tanam untuk (a) Plot Percontohan Penghasil Kayu di bawah kebun sagu di desa Lukun, (b) Plot Percontohan Pohon

Resak Penghasil Damar di desa Tanjung Sari

5.1.3. Penerima bibit pohon

Bibit yang telah disediakan selanjutnya diserahkan kepada 10 orang petani mitra penelitian yang mempunyai lahan untuk Plot Percontohan yang tersebar di Desa Sendanu Darul Ihsan, Tanjung Sari, dan Lukun. Jumlah bibit yang diterima masing-masing petani mitra plot percontohan baru (tahun 2018) sebanyak 230 batang, terdiri dari 200 batang ditanam dalam Plot Percontohan dan 30 batang untuk bibit sulaman, dengan luasan plot 0,5 ha. Jumlah bibit yang diterima masing-masing petani mitra plot percontohan lama (tahun 2017) untuk penyulaman tanaman sebanyak 60 batang, dengan asumsi rata-rata tingkat kematian tanaman 15%.

(33)

5.2. Pengadaan Koloni Lebah Kelulut

5.2.1. Sumber koloni lebah Kelulut

Dalam riset aksi ini diadakan 20 koloni (sarang) lebah kelulut. Semua lebah kelulut yang dipilih adalah Tetrigona apicalis yang tergolong sebagai kelulut damar karena banyak membutuhkan damar dari pohon-pohonan untuk membangun sarang dan tabung madu. Masyarakat Melayu Desa Lukun

menyebutnya sebagai “Aye Damo”. Spesies ini kebetulan merupakan spesies yang

secara alamiah paling lazim dijumpai di Pulau Tebing Tinggi. Masyarakat setempat menilai bahwa spesies ini lebih produktif dibandingkan dengan jenis T.

itama ataupun jenis lainnya.

Sementara ini, semua koloni lebah terpaksa masih harus diambil dari pohon-pohon dalam hutan mangrove Desa Lukun. Sarang-sarang ini diambil dalam bentuk tual atau balok kayu (log) yang panjangnya berkisar 40-100 cm. Biasanya tual ini kemudian ditipiskan dengan cara mengurangi ketebalan kayu yang membungkus gubal sarang. Tual kayu yang berisi koloni lebah kelulut ini selanjutnya dipindahkan ke sekitar rumah pada waktu malam hari, setelah sebagian besar anggota koloni lebah kelulut pulang ke sarang.

5.2.2. Mekanisme pengadaan

Proses pengadaan koloni lebah kelulut dalam riset aksi ini dibantu oleh Kelompok Masyarakat yang memang bergerak di bidang budidaya kelulut, termasuk dalam menyediakan koloni-koloni baru. Kelompok Masyarakat yang berkedudukan di Tanjung Sari ini mengkoordinasi pencarian dan penyediaan koloni kelulut sebagaimana dibutuhkan oleh tim peeliti dalam kegiatan riset aksi ini.

5.2.3. Penerima koloni lebah kelulut

Lebah koloni yang telah tersedia segera diperiksa dan selanjutnya dibagikan kepada dua orang mitra penelitian yang mempunyai kebun campur untuk plot percontohan di Desa Lukun. Tabel 5.2 merangkum nama pengelola, kode kelompok koloni, jumlah koloni diterima dan kondisi lingkungan di sekeliling plot percontohan.

(34)

Tabel 5.2. Daftar nama mitra pembudidaya lebah kelulut untuk pengayaan kebun kelapa mereka dan informasi tentang kondisi sekeliling plot

No. Nama Mitra Kode Jumlah Koloni (Sarang)

Kondisi Lingkungan Sekitar

1 Amran UR-I 10 Permukiman, kebun campur

2 Ahmad M. UR-J 10 Permukiman, kebun campur

Jumlah 20

Gambar 5.2. Pembagian sarang lebah kelulut kepada para mitra: (a) serah terima kepada Ahmad M., petani mitra penelitian; (b) serah terima kepada Amran, tokoh

penggerak masyarakat yang aktif menjadi mitra kegiatan BRG di Desa Lukun.

(35)

VI.

PEMBUATAN PLOT PERCONTOHAN RESTORASI

GAMBUT

6.1. Penyiapan Lahan

Jumlah Plot Percontohan berbasis tanaman yang baru (tahun 2018) sebanyak 10 buah, dengan luas masing-masing adalah 0,5 ha di lahan perkebunan. Kegiatan penyiapan lahan plot percontohan dilakukan dengan melakukan tebas imas untuk membersihkan lahan dari rumput, resam dan pakis-pakisan yang ada di bawah tegakan kebun. Kegiatan ini melibatkan pemilik kebun masing-masing yang menjadi mitra penelitian.

Gambar 6.1. Kondisi lahan Plot Dedi di Desa Sendanu Darul Ihsan sebelum

dibersihkan

Gambar 6.2. Kondisi lahan Plot Dedi di Desa Sendanu Darul Ihsan setelah

dibersihkan

6.2. Pengaturan Jarak Tanam

Diversifikasi dan intensifikasi di kebun kelapa menggunakan pohon penghasil kayu. Jarak tanam pohon secara umum yang digunakan adalah 5 x 5 m, sehingga jumlah bibit pohon yang ditanam di dalam luasan plot percontohan 0,5 ha adalah 200 batang. Namun, jarak tanam pohon pengayaan di bawah tegakan kebun masih dimungkinkan untuk berubah disesuaikan dengan jarak tanam dari tanaman pokok yang ada sebelumnya, dengan syarat populasi pohon yang ditanam adalah 200 batang/plot. Pohon pengayaan di kebun karet ditanam pada titik diagonal di tengah jalur tanaman karet. Jarak tanam pohon pengayaan di kebun sagu disesuaikan dengan umur tanaman sagu karena setelah tua rumpun sagu sudah berkembang sehingga menutupi sebagian besar lahan kebun. Pada

(36)

kondisi seperti ini, maka pohon kayu ditanam di sekeliling kebun sekaligus untuk mempertegas batas kepemilikan lahan. Untuk membantu pengaturan jarak tanam digunakan ajir dari batang, cabang atau ranting kayu yang terkena tebasan sebelumnya.

6.3. Pembuatan Lobang Tanam

Sesuai dengan jarak tanam pohon untuk diversifikasi dan intensifikasi di kebun yang direncanakan, tahapan selanjutnya adalah pembuatan lobang tanam. Lobang tanam dibuat dengan ukuran 20 x 20 x 20 cm.

6.4. Penanaman

Kegiatan penanaman dilakukan dengan melibatkan petani mitra penelitian sekaligus pemilik lahan yang menjadi lokasi Plot Percontohan. Pada tahap ini, penanaman sudah terlaksana di 10 plot di Desa Sendanu Darul Ihsan dan Lukun atau dengan realisasi 100%.

Gambar 6.3. Penanaman pohon di Plot Suardi di Desa Tanjung Sari

Gambar 6.4. Penanaman pohon di Plot Efendi di Desa Sendanu Darul Ihsan

(37)

6.5. Pemeliharaan Tanaman

Kegiatan pemeliharaan tanaman sudah dilakukan dengan melibatkan petani mitra penelitian sekaligus pemilik lahan yang menjadi lokasi Plot Percontohan. Pemeliharaan tanaman sudah terlaksana di 10 plot baru atau dengan realisasi 100%, setelah umur tanaman ±1 bulan di lapangan. Pemeliharaan pertama ini dilakukan dengan memperbaiki guludan dan piringan, mematikan gulma pengganggu, dan menyulam tanaman pohon yang mati. Petani di Sendanu Darul Ihsan juga melakukan pemagaran tanaman dengan para nett di setiap batang tanaman untuk mengurangi gangguan hama babi dan binatang ternak. Hal ini dilakukan setelah melihat tanaman pohon pada Plot Pak Nawar yang tumbuh dan terjaga dengan baik ketika dipagari dengan para nett.

Selain terhadap tanaman di plot percontohan baru, pemeliharaan tanaman juga dilakukan pada plot percontohan paludikulur dan agroforestry yang dibangun pada tahun 2017 sebanyak 22 plot. Pemeliharaan tanaman dilakukan dengan memperbaiki guludan dan piringan, mematikan gulma pengganggu, memberikan pupuk, dan menyulam tanaman pohon yang mati. Petani di Sendanu Darul Ihsan juga melakukan pemagaran tanaman dengan para nett untuk mengurangi gangguan hama babi dan binatang ternak.

Gambar 6.5. Pemagaran tanaman pohon di Plot Efendi di Desa Sendanu Darul

Ihsan

Gambar 6.6. Pemagaran tanaman pohon di Plot M. Jum di Desa Sendanu Darul

(38)

VII.

PEMANTAUAN HASIL KEGIATAN

7.1. Pemantauan Kondisi Lahan 7.1.1. Kondisi Lahan Kebun Kelapa

Permukaan tanah di kebun-kebun kelapa di Tanjung Sari dan Sendanu Darul Ihsan tidak rata. Hal ini tampaknya selain diakibatkan oleh proses subsidensi juga oleh kebiasaan para petani di wilayah ini untuk melakukan pembakaran pelepah, sabuk dan tandan kosong kelapa secara in situ. Tradisi yang disebut merun ini menyebabkan tingkat kekasaran permukaan gambut (peat

surface roughness) meningkat karena api pembakaran juga mengkonsumsi

gambut, sehingga tercipta cekungan-cekungan yang kedalamannya bisa mencapai sekitar 80 cm.

Tanda subsidensi gmabut yang terlihat berupa munculnya perakaran kelapa ke permukaan. Apabila diukur dari pangkal batang kelapa hingga permukaan tanah di masa kini maka diketahui bahwa subsidensi yang telah terjadi setidaknya mencapai kisaran 20-90 cm. Dalam hal ini agak sulit menaksir laju subsidensi karena secara akurat berdasarkan indikator ini, mengingat tahun penanaman kelapa kemungkinan tidak diketahui dengan pasti.

Kebun kelapa di desa-desa ini umumnya termasuk kebun kelapa tua, dengan tanaman yang berumur antara 30-40 tahun yang dulu ditanam dengan jarak 9 m x 9 m x 9 m. Mengingat umur tanamanannya yang sudah cukup tua dan tidak adanya perawatan khusus yang diterapkan, tingkat produktifitas kebun termasuk rendah. Setiap pohon rata-rata hanya menghasilkan buah sebanyak 15-30 butir dalam setahun atau dengan kata lain produktifitas kebun rata-rata hanya sekitar 2400 butir kelapa/hektar/tahun.

7.1.2. Kondisi Lahan Kebun Karet

Kebun karet di desa Tanjung Sari, Sendanu Darul Ihsan maupun Lukun pada umumnya dikembangkan di lahan gambut dalam (>300 cm). Dari segi hidrologi, muka air tanah di kebun-kebun tersebut bervariasi, tergantung posisi kebun dengan kanal dan sungai. Plot percontohan di lahan Nawar Sendanu Darul Ihsan

(39)

di dan Amirudin di Sungai Tohor Barat termasuk dangkal (10-30 cm, atau dekat permukaan tanah) dan menurut penjelasan petani mitra di musim hujan (Oktober-Desember) biasanya air menggenangi permukaan tanah. Muka air tanah di kebun Rifai dan Syahril di Sendanu Darul Ihsan, dan Darami di Sungai Tohor Barat biasanya cukup dalam (40-80 cm) tergantung banyak-sedikitnya curah hujan, sementara muka air tanah di kebun Amran di Lukun secara umum termasuk dalam (>80 cm).

Tanaman karet di kebun Amran adalah tanaman termuda, karena baru dilakukan penanaman. Tanaman karet Nawar, Rifai, Syahril, dan Darami menurut keterangan pemilik masing-masing, sudah berumur antara 7-10 tahun, sedangkan tanaman karet di kebun Amirudin diperkirakan berumur setidaknya 40 tahun dan jarak tanamnya sudah tidak beraturan lagi karena terjadinya pemadatan secara alamiah.

7.1.3. Kondisi Lahan Kebun Sagu

Dari survei ini diketahui bahwa kebun sagu yang menjadi lokasi Plot Percontohan mempunyai kedalaman gambut bervariasi. Kebun sagu milik Tarmizi dan Nasir di desa Lukun berada pada lahan gambut dalam (>300 cm) karena agak jauh dari alur sungai, sementara kebun Abda dan Umar di desa Sendanu Darul Ihsan berada pada lahan gambut dangkal (<200 cm) karena berada di dekat alur Sungai Tohor Kiri. Tanaman sagu di kebun Tarmizi dan Umar, menurut keterangan pemilik masing-masing, sudah berumur lebih dari 20 tahun, sehingga sudah cukup rapat. Tanaman sagu di kebun Umar berumur setidaknya 12 tahun, sedangkan tanaman sagu di kebun Abda baru berumur sekitar lima tahun.

Tanaman sagu tergolong toleran terhadap genangan. Muka air tanah di kebun Abda dan Umar termasuk dangkal (10-30 cm, atau dekat permukaan tanah) dan menurut penjelasan mereka di musim hujan (Oktober-Desember) biasanya air menggenangi permukaan tanah. Muka air tanah di kebun Tarmizi dan Nasir juga dangkal (20-40 cm, disurvei bulan November 2017), tetapi pada waktu musim kering (Februari, Juni-Agustus), biasanya cukup dalam (40-80 cm) tergantung banyak-sedikitnya curah hujan.

(40)

7.1.4. Kondisi Lahan Kebun Campur

Kebun campur biasanya berada di sekitar pekarangan rumah. Beberapa petani mitra yang mejadi lokasi percontohan pengayaan kebun campur dengan pohon penghasil kayu dan damar tahun 2017 adalah Khaidir, Heriyanto, dan Shobirin di desa Sendanu Darul Ihsan. Dari survei ini diketahui bahwa semua kebun berada pada lahan gambut dangkal (<300 cm).

Tanaman yang berada dalam masing-masing kebun campur terdiri dari berbagai spesies, baik yang berupa pohon maupun tanaman budidaya lainnya. Tanaman yang berupa pohon yang paling umum berupa kelapa, sedangkan tanaman yang vegetasi lainnya yang paling umum berupa pisang dan berbagai tanaman hias, baik yang ditanam langsung di tanah maupun dalam pot.

7.2. Pemantauan Tanaman Pohon

Pada tahap akhir penelitian tahun 2018 ini, pemantauan tanaman pohon dilakukan untuk mengetahui tingkat keberhasilan (persen tumbuh) tanaman. Pada tahap ini juga dilakukan pemasangan tanda (tagging) dengan label nomor pohon pada seluruh tanaman, baik pada Plot Percontohan Baru maupun plot percontohan yang dibangun tahun 2017 karena pada tahun lalu hanya dilakukan pelabelan pada 50 batang tanaman sampel per plot (IS 25%). Pemasangan label ini akan memudahkan pengamatan pertumbuhan tanaman secara berkala, dengan parameter tinggi dan diameter batang. Tinggi tanaman diukur mulai dari pangkal tanaman (apabila berasal dari biji atau cabutan) atau mata tunas (apabila berasal dari stek batang). Diameter batang diukur pada bagian bawah batang (2-4 cm) yang mempunyai ukuran diameter rata-rata, dan selanjutnya pada posisi pengukuran tersebut dicat untuk penanda bagi pengukuran berikutnya.

Hasil pemantauan tanaman sebelum dilakukan penyulaman tahun ke-2, menunjukkan bahwa persen hidup tanaman pohon di bawah naungan:

a. Kebun sagu dengan pola tanam merata = 7,5%. b. Kebun sagu dengan pola tanam pagar = ±75%. c. Kebun karet = 79,8%

(41)

Data jumlah pohon yang hidup pada masing-masing plot percontohan di Desa Sendanu Darul Ihsan digambarkan pada Gambar 8.1.

Gambar 7.1 Jumlah pohon hidup pada masing-masing plot percontohan di Desa Sendanu Darul Ihsan

Gambar 7.1 menunjukkan bahwa jumlah pohon hidup di plot percontohan Abda Alif dan Umar adalah yang paling kecil, dengan persen hidup 7,5%. Kedua plot tersebut merupakan kebun sagu yang lokasinya jauh dari permukiman warga. Selain karena gangguan hama babi dan monyet, kurangnya pemeliharaan tanaman seiring dengan rendahnya kunjungan petani ke kebun menjadi faktor utama penyebab kondisi ini. Kondisi ini berbeda sekali dengan persen hidup tanaman di plot percontohan Nawar dan Rifai, yakni 100%, keduanya berada di sekitar rumah dengan pemeliharaan yang intensif melalui pemagaran dan penyulaman tanaman.

Kondisi tinggi dan diameter tanaman menurut jenis pohon dapat dilihat pada Tabel 7.1. Gambar 7.2 dan Gambar 7.3. Jenis pohon yang paling cepat pertumbuhannya adalah selumar (Jackiopsis ornata), sedangkan yang paling lambat adalah resak (Vatica rassak). Meskipun lambat pertumbuhannya, masyarakat tetap bergairah untuk menanam resak karena kualitas kayunya tinggi dan menghasilkan getah/damar yang disukai oleh lebah kelulut.

(42)

Tabel 7.1. Tinggi dan diameter tanaman pohon umur 1 tahun di bawah naungan kebun sagu, kebun karet, dan kebun campur.

No. Jenis Pohon Jumlah (btg) Tinggi Rata-rata (cm) Diamater rata-rata (cm) Lokasi Pertumbuhan Terbaik

1 Selumar 878 50 1,38 Kebun Campur

2 Geronggang 52 111 0,91 Kebun Sagu

3 Resak 32 24 0,7 Kebun Campur

4 Punak 75 44 0,94 Kebun Campur

Gambar 7.2. Kondisi tanaman Selumar, umur 1 tahun di bawah naungan kebun

karet Pak Syahril

Gambar 7.3. Kondisi tanaman Selumar, umur 1 tahun di bawah naungan kebun

campur Pak Nawar

Gambar 7.4. Pemasangan label dan pengukuran tanaman pohon di Desa

Tanjung Sari

Gambar 8.5. Pemasangan label dan pengukuran tanaman pohon di Desa

Sendanu Darul Ihsan

7.3. Pemantauan Tanaman Kopi

Pemantauan tanaman kopi dilakukan untuk mengetahui tingkat keberhasilan (persen tumbuh) tanaman, tinggi dan diameter tanaman, dan jumlah daun, serta kondisi kesehatan tanaman. Sensus tanaman dilakukan pada setiap plot

(43)

percontohan. Data pengamatan yang menunjukkan kondisi tanaman kopi 1 tahun setelah tanam (T+1) di masing-masing plot percontohan di Desa Tanjung Sari dapat dilihat pada Tabel 8.2. Data ini menunjukkan bahwa persen hidup tanaman pada masing-masing plot percontohan bervariasi, antara 2,2 – 93,8%. Rendahnya persen tumbuh tanaman di Plot Yatmin disebabkan oleh kondisi lahan tergenang banjir pada bulan Januari 2018. Sementara itu, tingginya persen tumbuh tanaman di Plot Sipar karena tekunnya keluarga ini dalam memelihara tanaman yang ada meskipun berada di lahan gambut yang paling dalam.

Kondisi pertumbuhan tanaman kopi secara umum cukup baik, namun masih membutuhkan pemeliharaan yang lebih intensif dengan melalukan pemupukan dan pembasmian gulma. Pada saat tanam, rata-rata tinggi tanaman adalah 30 cm. Setelah tanaman berumur 1 tahun, tinggi tanaman kopi berkisar 37,2 – 54,8 cm, dengan rata-rata 43,7 cm. Sementara itu, diameter batang tanaman kopi berkisar 0,45 – 0,74 cm, dengan rata-rata 0,63 cm. Rata-rata tanaman kopi yang paling tinggi adalah di Plot Mustami karena lahannya tergolong gambut dangkal atau kilang manis sehingga kandungan mineral yang dibutuhkan untuk pertumbuhan tanaman cukup tersedia.

Tabel 7.2. Kondisi tanaman kopi di bawah naungan kelapa di Desa Tanjung Sari

(44)

Gambar 7.6. Kondisi tanaman kopi di Plot Percontohan Pak Sipar

Gambar 7.7. Kondisi tanaman kopi di Plot Percontohan Pak Mustami

7.4. Pemantauan Koloni Kelulut

Pemantauan dilakukan terhadap 120 koloni lebah kelulut yang dipelihara oleh 8 orang peternak mitra penelitian. Pemantauan dilakukan untuk melihat perkembangan dan sintasan koloni pada tahap awal pemindahan koloni atau pemecahan koloni. Data pengamatan yang menunjukkan kondisi koloni 1 tahun setelah pemindahan koloni dapat dilihat pada Gambar 8.8 dan Tabel 8.3. Data ini menunjukkan bahwa perkembangan koloni bervariasi pada 1 tahun pasca pemindahan koloni, ada beberapa koloni di plot percontohan kabur/pergi. Jika mengesampingkan data koloni hasil pemecahan koloni (UR-G dan UR-H), rata-rata jumlah koloni yang masih bertahan di sarang adalah 52,9%, dan 43,1% sisanya koloni kabur dari sarang. Beberapa penyebab kaburnya koloni lebah kelulut adalah gangguan semut dan rayap pada awal pemindahan, dan kurangnya getah/damar pohon di sekitar permukiman yang sangat dibutuhkan oleh kelulut T.

apicalis untuk membangun sarang dan tabung madu. Untuk mengurangi gangguan

semut dan rayap, mitra penelitian sudah melakukan upaya mitigasi gangguan di kebun kopi tua dengan menggantung sarang dan melumuri tiang penyangga dengan oli bekas. Untuk mengantisipasi kekurangan sumber damar/getah, beberapa peternak kelulut sudah memindahkan sarang ke pinggir hutan untuk menjamin kestabilan koloni.

(45)

Gambar 7.8. Jumlah koloni kelulut pada 1 tahun setelah pemindahan koloni

Tabel 7.3. Kondisi koloni kelulut 1 tahun setelah pemindahan koloni

Kode Pemilik

Jumlah awal koloni

Jumlah koloni

hidup Jumlah koloni menurut kualitas koloni (%) unit (%) Sangat Bagus Bagus Cukup Bagus Kurang Bagus Tidak Bagus UR-A Mulyadi 17 9 52,9 5,9 5,9 5,9 35,3 47,1 UR-B Yatmin 17 15 88,2 76,5 0,0 11,8 0,0 11,8 UR-C Masroni 17 12 70,6 29,4 17,6 5,9 17,6 29,4 UR-D Sugiman 17 8 47,1 0,0 23,5 11,8 11,8 52,9 UR-E Mustami 17 9 52,9 35,3 0,0 11,8 5,9 47,1 UR-F Basiran 17 1 5,9 5,9 0,0 0,0 0,0 94,1 UR-G Tukimun 10 2 20,0 0,0 0,0 5,9 5,9 0,0 UR-H Suardi 8 1 12,5 0,0 0,0 5,9 0,0 0,0 Jumlah 120 57 350,1 152,9 47,1 58,8 76,5 282,4 Rata-rata 15 7,1 43,8 19,1 5,9 7,4 9,6 35,3

Pada tahun 2017, uji coba pemecahan koloni telah dilakukan (UR-G dan UR-H) untuk mengurangi tekanan masyarakat terhadap pohon sarang kelulut di hutan. Satu koloni dipecah menjadi 2 koloni, dengan membagi rangkaian sel telur menjadi 2 bagian yang setara. Kotak sarang didisain menyesuaikan dengan ukuran sarang kelulut damar T. apicalis di alam, yakni vertikal dengan ukuran tinggi bervariasi 5 – 7 inchi. Setelah 1 tahun pasca pemecahan koloni, kondisi koloni kelulut tidak stabil, sebagian besar koloni kabur, sehingga yang bertahan hanya

(46)

12,5 - 20% (Tabel 7.3). Hal ini diperkirakan karena waktu pemecahan koloni bertepatan dengan waktu curah hujan tinggi (bulan November – Desember) sehingga jangkauan terbang kelulut untuk mencari makanan terbatas dan persediaan makanan di sekitar koloni juga terbatas. Selain itu, T. apicalis juga masih tergolong liar dan belum bisa beradaptasi dengan sarang dari kotak.

Sifat liar dari T. apicalis juga diperlihatkan dalam pemilihan nektar dan polen. Uji coba penanaman bunga Xanthostemon dan Air Mata Pengantin juga belum berhasil menarik jenis kelulut damar ini untuk hinggap dan mengambil nektar dan polennya. Kedua jenis bunga ini sudah biasa dikembangkan oleh peternak Trigona itama dan T. biroi, T, leviceps, dan banyak jenis kelulut lainnya. Produksi madu kelulut yang dihasilkan dari Plot Percontohan di Tanjung Sari telah dipasarkan oleh Kelompok Masyarakat (Pokmas) Sari Madu dengan

merk dagang “Madu Kelulut SARI MADU”. Ada beberapa ukuran kemasan botol

yang dipasarkan, mulai 100 ml, 250 ml, dan 500 ml. Pemasaran masih mempunyai jangkaun lokal di Selat Panjang, Pekanbaru, dan Batam. Selain itu, madu kelulut dari desa Tanjung Sari juga dipasarkan ke Malaysia dalam bentuk curah. Hasil penjualan madu ini telah menambah pendapatan petani dan mampu mengurangi kekecewaan petani karena rendahnya harga buah kelapa. Petani mitra di Desa Lukun juga sudah membentuk Pokmas Gambut Madani yang memproduksi madu kelulut dari proses pemasangan topping yang menyisakan bagian sarang alami yang berupa tabung madu sehingga bisa dipanen di awal.

(47)

Gambar 7.9. Pemantauan koloni di Plot Pak Basiran yang telah berusaha menggantung sarang kelulut untuk

mengurangi gangguan semut

Gambar 7.10. Kondisi tabung madu kelulut yang telah berkembang, 1 tahun

pasca pemindahan koloni

Gambar 7.11. Pemantauan kondisi koloni kelulut hasil pemecahan koloni

Gambar 7.12. Kondisi koloni kelulut tidak stabil setelah 1 tahun pasca

(48)

Gambar 7.13. Madu kelulut SARI MADU produksi Pokmas Sari Madu Desa tanjung Sari dan Madu kelulut AYE DAMO produksi Pokmas Gambut

(49)

VIII.

PENUTUP

8.1. Kesimpulan

Kegiatan penelitian aksi ini mempunyai tujuan umum untuk memanfaatkan hasil riset dan inovasi untuk dapat dirangkai menjadi kegiatan restorasi gambut yang terintegrasi dan efektif. Berdasarkan tujuan khusus yang telah ditetapkan, hasil pelaksanaan penelitian aksi ini dapat disimpulkan:

a. Pada tahun 2017 telah diuji coba empat model paludikultur dan agroforestry dalam rangka restorasi kawasan hidrologis gambut dan sekaligus mengurangi tekanan masyarakat terhadap hutan rawa gambut yang masih tersisa melalui intensifikasi lahan perkebunan masyarakat. Sesuai hasil evaluasi bersama masyarakat, ada 3 model yang direplikasi tahun 2018, yakni: 1) Sagu + Pohon Penghasil Kayu dan Damar, 2) Karet + Pohon Penghasil Kayu dan Damar, 3) Kebun Campur + Pohon Penghasil Kayu dan Damar. Selain itu, juga dilakukan revisi terhadap beberapa model sehingga diperoleh model baru, yaitu: 1) Kelapa + Pohon Penghasil Kayu dan Damar, 2) Kebun Campur + Lebah Kelulut, dan 3) Kebun pasca terbakar + Pohon Penghasil Kayu dan Damar.

b. Di sini ada satu model yang tidak dilakukan replikasi, yaitu Kelapa + Kopi karena lokasi penelitian aksi berada di lahan gambut yang dalam sehingga tidak cocok untuk pengembangan tanaman kopi, dan masyarakat juga masih belum yakin akan adanya pasar yang mau menampung kopi buah segar petani. Selain itu, hasil pengamatan di plot percontohan yang sudah tersedia kebun kopi tua menunjukkan bahwa lebah kelulut T. apicalis tidak menyukai bunga kopi, bahkan keberadaan tanaman kopi menjadi host bagi semut untuk berkembang biak yang justru mengganggu koloni lebah kelulut.

c. Pengayaan tanaman pohon dan ternak lebah kelulut di kebun-kebun mitra penelitian juga telah mendorong masyarakat untuk mencontoh optimalisasi penggunaan lahan perkebunan di lahannya masing-masing. Pohon

(50)

penghasil kayu yang banyak diminati masyarakat adalah selumar (Jackiopsis ornata) karena mempunyai pertumbuhan yang cepat dan kayunya bernilai jual tinggi sebagai bahan tiang dermaga dan rumah panggung di pinggir pantai. Sementara itu, pohon penghasil damar yang dipilih masyarakat adalah resak (Vatica rassak) karena getah yang dihasilkan sangat dibutuhkan oleh lebah kelulut untuk membangun sarang dan tabung madu.

8.2. Rencana Tindak Lanjut

Kegiatan penelitian aksi tahun 2017 dan 2018 ini baru menyiapkan dan membangun plot percontohan yang perlu terus dilakukan kegiatan pemantauan secara berkala. Hal ini untuk menilai model mana paling sesuai dalam rangka restorasi gambut. Beberapa kegiatan pemantauan berkala yang perlu dilakukan adalah:

a. Pengamatan keberhasilan tanaman (persen hidup tanaman, kesehatan tanaman).

b. Pengamatan keberhasilan pemindahan dan pemecahan koloni lebah kelulut.

c. Pengukuran riap pertumbuhan tanaman secara periodik.

d. Pengukuran perkembangan koloni lebah kelulut dan produksi madu. e. Pengamatan interaksi lebah kelulut dengan tanaman pakan (kopi dan

pinang) dan tanaman peneduh (kelapa), serta dampaknya terhadap peningkatan produksi masing-masing.

f. Analisis pengaruh Rewetting (R1) terhadap pertumbuhan tanaman Revegetasi (R2).

g. Analisis pengaruh Rewetting (R1) dan Revegetasi (R2) terhadap Revitalisasi Sosial Ekonomi Masyarakat (R3).

h. Modifikasi dan Replikasi Model Restorasi Gambut Terintegrasi, termasuk di areal bekas kebakaran dan areal Hutan Desa.

Selain pemantauan berkala, perlu juga dilakukan pengembangan kegiatan baru, antara lain:

(51)

a. Pengembangan Koloni Kelulut melalui teknik Pemecahan Koloni dan Perangkap Koloni,

b. Pengembangan Tanaman Pakan dan Penghasil Damar bagi Kelulut, c. Pengolahan dan Pengemasan Produk Madu dan Hasil olahan lainnya, d. Penguatan Kapasitas Kelompok Tani/Peternak Lebah Kelulut (termasuk

dalam permodalan dan pemasaran hasil),

e. Penguatan Kapasitas LPHD utk mendukung Restorasi Gambut di kawasan Hutan Desa

f. Restorasi Hutan Desa berbasis Kebun Campuran Sagu + Pohon Penghasil Kayu dan Damar.

(52)

Gambar

Gambar 2.1. Posisi KHG Pulau Tebing Tinggi Timur dalam wilayah Kabupaten  Kepulauan Meranti (Sumber: Wikipedia)
Tabel 2.1. Batas-batas desa lokasi riset di Kecamatan Tebing Tinggi Timur
Tabel 2.2. Jumlah penduduk desa sasaran menurut jenis kelamin
Tabel 2.3. Proporsi penduduk desa sasaran menurut suku
+7

Referensi

Dokumen terkait

Dari hasil perhitungan rata-rata tingkat kepuasan dan analisis regresi, maka perbaikan pelayanan pada BPR Pesisir dapat diprioritaskan pada aspek pelayanan umum dengan total

Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 mengamanatkan bahwa tujuan didirikan Negara Republik Indonesia, antara lain adalah untuk memajukan

Dalam perusahaan yang produksinya berdasarkan pesanan, rekap daftar upah dibuat untuk membebankan upah langsung dalam hubungannya dengan produk kepada pesanan yang

Program Pengabdian kepada Masyarakat berbasis Pengem- bangan Desa Mitra Kampus merupakan salah satu program pengabdian kepada masyarakat yang dikembangkan Pusat

Sediaan pasta gigi ekstrak etanol daun suji dengan variasi konsentrasi CMC Na Menunjukkan hasil uji organoleptis berupa yaitu warna sediaan hijau muda, tekstur

Sasaran ke -1 : Meningkatnya Mutu dan Relevansi Pendidikan Agama Islam. Jumlah dokumen standar nasional Pendidikan Agama Islam Upaya-upaya yang dilakukan pada indikator ini

Hasil analisis menunjukkan bahwa satu dari sepuluh remaja wanita terse- but pernah melahirkan dan atau sedang hamil saat survei dilakukan; sebe- sar 95,2% dari remaja yang sudah

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi mengenai dampak dari tingkat pendidikan, pendapatan suami, umur, jumlah tanggungan dan jumlah produksi terhadap