• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II PEMAHAMAN PROYEK

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB II PEMAHAMAN PROYEK"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

3

BAB II

PEMAHAMAN PROYEK

2.1 Pengertian Proyek

Merujuk pada tulisan De Chiara (1984, hal 208), Gelanggang Remaja diartikan sebagai suatu fasilitas kemasyarakatan dengan penekanan aktivitas remaja dibawah 21 tahun, disponsori oleh organisasi atau negara dengan inti melayani anak muda sebagai fasilitas sosial maupun fasilitas rekreasi. Sedangkan disebutkan bahwa Youth Centre (Gelanggang Remaja) merupakan pusat sosial dan rekreasional ditujukan untuk digunakan anak-anak usia 11 hingga 18 tahun. Dalam beberapa kasus, anak enam tahun menggunakan fasilitas gelanggang remaja tetapi hanya pada program khusus untuk usianya (Mion, 2017). Dalam proyek ini pengertian yang dipakai bahwa gelanggang remaja adalah fasilitas publik yang digunakan untuk usia dibawah 21 tahun memberikan program terstruktur untuk mengembangkan sosial dan memberikan rekreasi untuk anak muda.

Ada empat kebutuhan psikologi anak-anak dan remaja yang perlu disorot. Keempat kebutuhan tersebut, yaitu orientasi/kontrol, self-esteem, pleasure gain and distress avoidance, dan

attachment (Laufs, 2018) dimana orang dewasa memiliki peran penting dalam mengarahkan. Pada

proses perancangan kontrol keamanan terhadap remaja sangat diperhatikan, karena berdasarkan studi sangat menunjukkan kekerasan sangat merusak dan berdampak pada kesehatan mental (Grawe, 2006). Oleh sebab itu, perancangan gelanggang remaja perlu memerhatikan agar remaja mendapat pengawasan/kontrol.

2.2 Analisis Tipologi Proyek

Merujuk penjelasan (Hesson, 2021) pada website Nothern Architecture, Recreational Centre (Bangunan Rekreasi) memiliki beberapa klasifikasi. Klasifikasi pertama adalah bangunan untuk tingkat kota kecil dengan populasi kurang lebih 30.000 dengan luasan 20.000 ft2 atau lebih (1800-an m2), jenis kedua yaitu luas 10.000 ft2 - 20.000 ft2, dan jenis terakhir adalah fasilitas komunitas lokal dengan luas kurang dari 10.000 ft2 (sekitar 900 m2). Proyek gelanggang remaja yang memiliki program ruang sekitar 8000 m2 memiliki program mendekati tipologi bangunan rekreasi tingkat kota. Tipe bangunan ini lebih menyediakan program yang universal dan luas karena penggunanya banyak.

(2)

4 2.2.1 Tipologi Bangunan Rekreasi

Program ruang pada fasilitas bangunan rekreasi tidak selalu tetap, banyak variasi tergantung pada program bangunan yang ditujukan. Bangunan gelanggang remaja yang termasuk bangunan rekreasi memiliki program untuk melayani kebutuhan anak muda. Menurut (Hesson, 2021) ruang-ruang yang tersedia pada bangunan rekreasi terdiri dari:

• Ruang multifungsi

Ruang multifungsi mengakomodir kegiatan pertemuan, rekreasi sosial, latihan orkestra/ konser, dll. Beberapa bangunan memiliki panggung untuk pertunjukkan yang biasanya bagian dari ruang multifungsi baik permanen, bongkar pasang, atau terpisah. Selain panggung pertunjukkan, terdapat ruang loker yang dapat digunakan secara universal seperti untuk ruang ganti anak-anak ketika olahraga atau ruang ganti penari ketika ada acara konser.

• Ruang klub

Berdasarkan pengalaman (Hesson, 2021) setidaknya bangunan rekreasi minimal tiga hingga lima ruang klub dengan berbagai kegunaan disediakan. Permasalahan utama, karena digunakan oleh siapapun maka rawan menjadi vandalisme sehingga perlu strategi dalam perancangan. Jendela yang diletakkan lebih tinggi, meminimalkan dinding dan mengganti pintu lipat/gorden dapat menghindari kemungkinan aksi perusakan. Namun, penggunaan kaca anti-pecah lebih baik karena dapat menyesuaikan dengan kebutuhan ventilasi dan arah cahaya.

• Ruang tunggu dan lobby

Ruang tunggu dan lobby biasanya disatukan menjadi satu ruang. Ruang lobby merupakan terletak diantara pintu masuk dan ruang-ruang penting seperti ruang multifungsi, gymnasium, kantor, dan ruang klub. Ruang lobby menjadi titik kumpul, paling estetik dan mencolok karena merupakan bagian penerima tamu (pengunjung). Ruang ini terkadang menjadi sasaran empuk aksi vandalisme bahkan tak sengaja dirusak pengguna karena perilaku yang tidak dijaga. Penggunaan material tahan lama seperti menggunakan pintu alumunium disbanding pintu kaca, dan menggunakan lantai perkerasan seperti keramik terrazzo agar terhindar dari noda rokok merupakan salah satu solusi.

• Ruang sosial-gimnasium

Ruangan ini tidak jauh berbeda kegunaannya dari ruang multifungsi, menampung banyak jenis kegiatan sosial. Perbedaannya karena volume ruang ini besar dapat digunakan kegiatan olahraga dan atletik seperti badminton, dan basket.

(3)

5

Gambar 2. 1 Thomaston U. Recreation Centre

Sumber : Robert Hesson, Northern Architecture

https://www.northernarchitecture.us/space-requirements/classification-of-recreation-buildings.html

Gambar sebelumnya merupakan gambaran recreational centre dengan ruang gymnasium yang daya tampungnya mencapai 325 penonton. Volume ruang yang cukup besar dan massa yang tebal sehingga memerlukan penghawaan mekanis. Alasan lainnya jendela-jendela dinaikan untuk menghindari vandalisme. Ruang gymnasium berhubungan langsung dengan ruang loker atau kamar ganti agar pengguna tidak merasa jauh untuk mengganti pakaian. Pada contoh denah di atas juga memperlihatkan perletakan kamar ganti yang saling terhubung dengan dengan ruang multifungsi sebelahnya sehingga jarak tidak jauh ketika pengguna membutuhkan.

2.3.2 Program Ruang Bangunan Gelanggang Remaja

The Unified Facilities Criteria (UFC) salah satu Lembaga di Amerika yang menyediakan kriteria

untuk evaluasi, perencanaan, dan perancangan program ruang gelanggang remaja. Dikutip dari Whole

Building And Guide Design (Mion, 2017) program ruang gelanggang meliputi:

• Ruang bersama (komunal)

Area ini merupakan pusat dari program ruang, dimana ruang program lainnya memutar/mengelilinginya. Ruang ini harus menyediakan 12 hingga 15 pertemuan kelompok,

(4)

6 dimana memperbolehkan kelompok-kelompok saling berinteraksi. Bagian (sub) dari ruang ini dapat berupa ruang bermain, bar/area makan, ruang pertemuan umum. Biasanya, ruang ini terbuka untuk umum.

• Ruang aktivitas

Terdapat dua ruang aktivitas berdasarkan karakteristiknya, yaitu ruang aktivitas khusus dan ruang aktivitas umum. Ruang aktivitas khusus digunakan untuk aktivitas yang memiliki karakteristik spesial tergantung pada program ruang yang digunakan. Sedangkan, ruang aktivitas umum biasanya digunakan untuk pertemuan umum, kelompok/klub, seni dan kerajinan tertentu.

• Ruang komputer/pekerjaan rumah

Ruang ini digunakan untuk aktivitas melakukan pekerjaan rumah saat sekolah sudah selesai. Perabot komputer pada ruang ini sebagai sarana pendukung untuk membantu mencari informasi tambahan. Layanan ruang ini bervariasi tergantung pada kebutuhan yang akan diakomodasi ke dalam fungsi-fungsi ini.

2.3.3 Perbandingan Karakteristik Ruang Recreation Centre dengan Gelanggang Remaja

Sebuah gelanggang remaja melayani dua tujuan yaitu mengakomodir secara non-struktur interaksi yang terjadi diantara kelompok usia yang berbeda dan menyediakan kelas instruksional secara aman dan diawasi (Mion, 2017). Sedangkan, fasilitas rekreasi memiliki program yang menyediakan hampir seluruh umur sedangkan gelanggang remaja menyediakan fasilitas untuk rentang umur tertentu. Berdasarkan program ruang dapat ditarik kesimpulan bahwa gelanggang remaja dengan fasilitas rekreasi memiliki kesamaan dalam karakteristik ruang seperti penggunaan bersama dalam ruang multifungsi dan kebutuhan ruang untuk kelompok dalam ruang klub.

2.3 Studi Preseden

Adapun Langkah untuk mengetahui mengenai bangunan gelanggang remaja lebih mendalam diambil beberapa contoh preseden. Preseden ini diambil berdasarkan bangunan yang telah dibangun baik berupa pusat pemuda gelanggang remaja maupun bangunan sejenis.

(5)

7 2.3.1. Gehua Youth and Cultural Center, Behaide, China.

Gehua Youth and Cultural Center merupakan pusat pemuda dan kebudayaan yang berada di Beidaihe, China. Bangunan seluas 2.700 meter persegi ini merupakan bangunan yang berfungsi sebagai pusat kegiatan pemuda dan budaya bagi komunitas lokal di Beidaihe. Berbeda dengan tampilan gelanggang remaja di Indonesia yang kebanyakan berpusat dengan aktivitas olahraga, Gehua Youth and Cultural Center ini merupakan jenis gelanggang remaja yang lebih berfokus pada seni dan pengembangan budaya yang dikembangkan oleh pemuda lokal.

Gambar 2. 2 Desain Koridor Gambar 2. 3 Fitur Teater yang dapat terhubung dengan innercourt

Gambar 2. 4 Beberapa cara alternatif dalam penggunaan ruang teater

Sumber : Archdaily

https://www.archdaily.com/276957/gehua-youth-and-cultural-center-open-architecture?ad_source=search&ad_medium=search_result_all

(6)

8 Bangunan seluas 2.700 meter persegi ini memiliki berbagai kebutuhan fungsional: teater, galeri, ruang aktivitas, ruang DIY/Do it yourself (semacam ruang kreasi), kafe, bar buku, aula multi-media, studio master, ruang VIP, dan sebagainya. Pada ruang DIY, pengunjung diajak untuk berkreasi secara mandiri (Do it yourself) dengan disediakan barang-barang pendukung untuk memutar imajinasi pengguna. Fitur bangunan dilengkapi dengan jendela-jendela yang lebar sehingga cahaya bebas masuk dan memberikan pencahayaan alami serta hemat energi. Bagian paling menarik pada bangunan ini adalah ruang teater yang dapat digunakan secara unik. Ruang yang dapat dinikmati dari dalam bangunan maupun di luar bangunan. Ruangan ini fleksibel karena fitur dinding yang dapat terbuka/pintu lebar yang ada di belakang panggung. Fitur ini memungkinkan innercourt (belakang panggung) dan kursi teater saling melihat acara teater secara bersamaan.

Apabila memperhatikan penataan ruang-ruang yang ada di Gehua Youth Centre, warna merah muda pada gambar pembagian zona merupakan area komersial dan publik (entrance) pada bagian lobby. Sedangkan, bagian diwarnai orange merupakan bagian dari kantor atau zona privat. Disini terlihat bahwa zona privat atau kantor dijauhkan dari entrance yang ramai oleh pengunjung. Perletakan area cafe di depan sebagai area komersial agar akses mudah dijumpai pembeli. Massa bangunan yang terdiri dari 1 massa kompleks memiliki 5 (lima) pintu masuk yang tersebar. Kegunaan pintu disamping sebagai akses keluar masuk juga penting menjadi bagian akses keluar dalam kondisi darurat seperti gempa dan kebakaran.

Gambar 2. 5 Zona Komersial dan Zona Privat (Kantor)

Gambar 2. 6 Sebaran Akses Keluar Masuk

(7)

9 2.3.2. The New Generation and Community Centre, London, UK

The New Generation (TNG) and Community Centre berlokasi di London, Inggris. Bangunan

yang termasuk kedalam kategori Youth and Community Centre ini merupakan karya RCKa dan partner. Pembangunan ini merupakan bagian dari proyek milik pemerintah Inggris, Lewisham

Council untuk mendukung komunitas lokal (kaum muda) dalam beraktivitas. TNG Selesai

dibangun pada taun 2013, dengan luas sekitar 2000 m2.

Gambar 2. 7 Ilustrasi Isometri Ruang

Sumber: Archdaily

Inti dari pembangunan ini adalah gedung yang demokratis, terbuka (welcoming) dan keberlanjutan bangunan mengikuti perubahan dan tuntutan zaman. Bagian tengah ruang dibuat dramatis sebagai penyelesaian level yang kompleks. Ruang-ruang dibuat fleksibel sehingga mendorong kaum muda untuk menggunakannya secara kreatif. Dalam proses mendapatkan program ruang, RCKa menyadari kebijakan pemuda Lewisham yang muncul dan berperan penting dalam mengamankan pendanaan proyek dengan mengidentifikasi potensi

site dengan membuat simulasi dimana seseorang bisa merasakan tempat yang nyaman dan

(8)

10 2.3.3. The Gary Comer Youth Centre, Chicago, Amerika Serikat

Latar belakang Gary Comer Youth Centre berawal dari The South Shore Drill Team and

Performing Arts dimana mereka meminta arsitek untuk membangun sebuah tempat latihan.

Namun, sang arsitek miliki tujuan visioner ingin menyediakan ruang lingkungan anak muda untuk menghabiskan waktu mereka setelah sekolah di sekitar South side Chicago. Gelanggang remaja ini dibangun dengan luas area sekitar 75,000 sqf/ 6,900 m2 mengakomodasi the South

Shore Drill Team and Performing Arts Ensemble (organisasi penari/seniman) yang memiliki 300

pengguna untuk keperluan latihan.

Bangunan utama dari gelanggang ini merupakan semacam ruang serbaguna (gymnasium) yang adaptif terhadap program ruang yang kompleks. Ruang ini sehari-hari digunakan oleh Drill

team sebagai tempat latihan sehari-hari, namun dapat digunakan juga untuk penampilan

panggung. Ruang gymnasium ini dikatakan “adaptif” karena memiliki 600 kursi penonton teater yang dapat diubah/dibongkar menjadi lapangan biasa dan panggung penampilan teater seluas 80 kaki yang dapat diubah menjadi 30 kaki. Ruang gymnasium sebagai pusat dari bangunan ini dihadapkan atau dikelilingi beberapa ruang-ruang. Ruang-ruang yang mengelilingi ini terdiri atas 3 lantai yang berisi berdasarkan program ruang yang digabung yaitu ruang pendidikan dan rekreasi pemuda. Ruang-ruang ini adalah ruang kerajinan seni, ruang rekaman, ruang lab komputer, ruang labolatorium, dan sebagainya.

Gambar 2. 8 Pembagian Ruang TNG

(9)

11 Pada pengaplikasian keamanan dan saling keterhubungan pada bangunan ini, terdapat fitur material kaca sebagai jendela yang saling terhubung antar ruang. Jendela yang terhubung dengan ruang lain tersebut selain digunakan untuk melihat aktivitas dari ruang lain, juga dapat menjadi fungsi pengawas namun tetap tidak mengekang penggunaan gelanggang remaja yang demokratis. Di atap, terdapat roof garden yang berfungsi sebagai tempat hiburan, kelas

outdoor. Di area ini terdapat kebun, yang dapat digunakan untuk bercocok tanam. Hal ini

mungkin dapat dijadikan minat yang bagus untuk ditularkan kepada remaja. Selain untuk bercocok tanam, ternyata hasil panen pun dapat digunakan untuk kelas memasak sehingga menciptakan siklus yang sustainable.

Gambar 2. 9 Ilustrasi bagian bangunan Gary Comer Youth Centre

Sumber : Archdaily.com

(10)

12

2.4 Kesimpulan Studi

Ketiga preseden memiliki keunggulan tersendiri baik dari segi program ruang maupun konsep bangunan. Beberapa diantaranya dapat ditarik kesimpulan sebagai pembelajaran, yaitu:

• Fleksibilitas ruang

Penggunaan ruang tidak kaku dengan program ruang yang multifungsi (tidak dikhususkan tertuju pada satu fungsi). Ruang multifungsi inilah penggunaan ruang dapat maksimal dan tidak boros ruang (efisien).

• Visibilitas/Pandangan yang Terbuka

Secara garis besar, pandangan seluruh bangunan preseden dibuat view yang tidak terputus (terbuka) karena fungsi bangunan yang digunakan adalah para remaja. Kondisi para remaja yang memiliki emosional kurang stabil memberikan perhatian besar terhadap masalah pengawasan/kemungkinan perundungan. Penggunaan kaca yang lebar dapat membantu penglihatan antar ruang saling terhubung sehingga para pengguna saling terkoneksi dan ruang-ruang jadi terlihat tidak kaku.

Gambar

Gambar 2. 1 Thomaston U. Recreation Centre
Gambar 2. 2 Desain Koridor  Gambar 2. 3 Fitur Teater yang dapat  terhubung dengan innercourt
Gambar 2. 5 Zona Komersial dan Zona  Privat (Kantor)
Gambar 2. 7 Ilustrasi Isometri Ruang  Sumber: Archdaily
+3

Referensi

Dokumen terkait

→ Menjawab pertanyaan tentang materi Konsep pertumbuhan dan perkembangan makhluk hidup yang terdapat pada buku pegangan peserta didik atau lembar kerja yang

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pelayanan pengguna adalah kegiatan pemberian bantuan kepada pengguna untuk memperoleh informasi yang dibutuhkan agar para pengguna

Merujuk pada pengertian kinerja dan mengajar sebagaimana telah diuraikan terdahulu, dapat disimpulkan kinerja mengajar yang dimaksud dalam penelitian ini adalah unjuk kerja

Jurus Golok Lima sebagai sebuah atraksi pertunjukan sebelum melakukan jurus Pencak Silat inti seperti tepak dua, tepak tilu, dan padungdung, yang unik dalam jurus golok

Kegiatan Praktek Kerja Nyata (PKN) meliputi : (1) Membantu tugas administrasi yang ada dikantor, (2) Mempelajari materi dan undang-undang yang terkait dengan pajak

Perilaku yang berhubungan dengan harga diri rendah meliputi: mengkritik diri sendiri atau orang lain, penurunan produktivitas, destruktif yang diarahkan pada orang lain,

Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa kadar magnesium rendah secara statistik tidak bermakna untuk meningkatkan risiko terjadinya CTTH, namun

Beberapa literatur menyebutkan ciri-ciri penelitian kualitatif/naturalistik, antara lain, sumber data adalah situasi wajar (natural setting), peneliti sebagai