xii
ABSTRAKKADAR MAGNESIUM SERUM RENDAH SEBAGAI FAKTOR RISIKO NYERI KEPALA TIPE TEGANG KRONIK PADA MAHASISWA/MAHASISWI PROGRAM
STUDI PENDIDIKAN DOKTER FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS UDAYANA
Banyak faktor yang dapat menyebabkan nyeri kepala tipe tegang kronik. Pada
beberapa penelitian dikatakan kadar magnesium serum menurun pada penderita nyeri
kepala. Penelitian inibertujuan untuk mengetahui apakah kadar magnesium serum
rendah sebagai faktor risiko CTTHpada mahasiwa/mahasiswi Program Studi
Pendidikkan Dokter Fakultas Kedokteran Universitas Udayana.
Penelitian ini dilakukan di Kampus Universitas Udayana periode September
hingga November 2016,menggunakan rancangan kasus kontrol pada 66 subjek (33
subjek dengan CTTH dan 33 subjek tanpa CTTH.
Dari hasil analisis statistik didapatkan bahwa kadar magnesium serum pada
kelompok kasus dan kelompok kontrol tidak berbeda secara bermakna meningkatkan
CTTHdengan nilaip=0,086 dan OR=4,960 (IK 95%=0,965-25,483).
Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa kadar magnesium
rendah secara statistik tidak bermakna untuk meningkatkan risiko terjadinya CTTH,
namun rata-rata kadar magnesium pada subjek penderita CTTH lebih
rendah(1,99±0,07) dibandingkan subjek yang tidak menderita CTTH (2,16±0,01)
pada mahasiswa/mahasiswi Program Studi Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran
Universitas Udayana.
xiii
ABSTRACTLOW SERUM MAGNESIUM LEVEL AS A RISK FACTOR FOR CHRONIC TENSION TYPE HEADACHE IN MEDICAL FACULTYSTUDENTS IN UDAYANA
UNIVERSITY
Chronic tension-type headache has multifactorial causes. Some studies have
shown that low magnesium level were found in patients with CTTH. This research
aimed to determine whether low serum magnesium in patients with CTTH in medical
faculty student.
A case control study was done in Udayana University from September until
November 2016, with 66 subjects (
33 subjects with CTTH and 33 subjects without
CTTH).
Statistically analysis result shown that case and control serum magnesium levels
grouphad not significantly different with
p=0,086; OR=4,960; CI
95%=0,965-25,483).
The result showed that low magnesium level was statistically insignificant to
increase risk of CTTH, however it was found that the mean of magnesium level in
CTTH group (1.99 ± 0.07) was lower than the group without CTTH (2,16 ± 0.01), in
students of Udayana University Medical Faculty.
xiv DAFTAR ISI
Halaman
SAMPUL DALAM... i
PRASYARAT GELAR... ii
LEMBAR PENGESAHAN ... iii
PENETAPAN PANITIA PENGUJI ... iv
SURAT PERNYATAAN BEBAS PLAGIAT ... v
UCAPAN TERIMA KASIH ... vi
ABSTRAK ... xii
ABSTRACT ... xiii
DAFTAR ISI ... xiv
DAFTAR TABEL ... xvi
DAFTAR GAMBAR ... xvii
DAFTAR BAGAN ... xviii
DAFTAR SINGKATAN ... xix
DAFTAR LAMPIRAN ... xx BAB I PENDAHULUAN ... 1 1.1 Latar Belakang ... 1 1.2 Rumusan Masalah ... 6 1.3 Tujuan Penelitian ... 6 1.4 Manfaat Penelitian ... 6 1.4.1 Manfaat Akademis ... 6 1.4.2 Manfaat Praktis ... 6
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 8
2.1 Nyeri Kepala Tipe Tegang (TTH) ... 8
2.1.1 Etiologi Nyeri Kepala Tipe Tegang ... 8
2.1.2 Patofisiologi Nyeri Kepala Tipe Tegang ... 9
2.1.3 Klasifikasi dan Kriteria Diagnosis TTH ... 13
2.2 Magnesium ... 17
2.2.1 Fisiologi Magnesium ... 17
2.2.2 Homeostasis Magnesium ... 22
2.2.3 Kadar Magnesium dalam tubuh ... 23
2.2.4 Patologi Magnesium ... 23
2.3 Hubungan Kontraksi Otot dengan CTTH dan Magnesium ... 25
2.4 Hubungan Gangguan Psikiatri dan CTTH ... 27
2.4.1 Stres ... 27
2.4.2 Depresi ... 29
2.4.3 Ansietas (kecemasan) ... 29
xv
BAB III KERANGKA BERPIKIR, KONSEP DAN HIPOTESIS
PENELITIAN ... 33
3.1 Kerangka Berpikir ... 33
3.2 Konsep Penelitian ... 35
3.3 Hipotesis Penelitian ... 36
BAB IV METODOLOGI PENELITIAN ... 37
4.1 Rancangan Penelitian ... 37
4.2 Tempat dan Waktu Penelitian... 38
4.3 Ruang Lingkup Penelitian ... 38
4.4 Populasi dan Sampel Penelitian ... 38
4.4.1 Populasi Target ... 38
4.4.2 Populasi Terjangkau ... 38
4.4.3 Kriteria Sampel ... 38
4.3.3.1 Kriteria Inklusi Kasus ... 38
4.3.3.2 Kriteria Inklusi Kontrol ... 39
4.3.3.3 Kriteria Ekslusi Kasus dan Kontrol ... 39
4.4.4 Besar Sampel ... 40
4.4.5 Teknik Pengambilan Sampel ... 40
4.5 Variabel Penelitian ... 41
4.5.1 Klasifikasi Variabel ... 41
4.5.2 Definisi Operasional Variabel ... 41
4.6 Bahan Penelitian ... 48
4.7 Instrumen Penelitian ... 48
4.8 Prosedur Penelitian ... 48
4.9 Pengolahan dan Analisis Data ... 51
BAB V HASIL PENELITIAN ... 52
5.1 Analisis Deskriptif Subjek Penelitian ... 52
5.2 Hubungan kadar magnesium serum rendah dengan CTTH ... 54
5.3 Hubungan faktor-faktor lain dengan CTTH ... 55
BAB VI PEMBAHASAN ... 57
6.1 Karakteristik Dasar Subjek Penelitian ... 57
6.2 Hubungana Kadar Magnesium Serum Rendah Dengan CTTH ... 57
6.3 HubunganFaktor-Faktor Lain Dengan CTTH ... 59
6.4 Kelemahan dan Kekuatan Penelitian ... 63
BAB VII SIMPULAN DAN SARAN ... 64
7.1 Simpulan ... 64
7.2 Saran ... 64
DAFTAR PUSTAKA ... 65
xvi
DAFTAR TABEL
5.1 Karakteristik Dasar Subjek Penelitian ... 53 5.2 Analisis Bivariat Kadar Magnesium Serum Rendah Dengan CTTH ... 54 5.3 Analisis Bivariat Faktor-Faktor Lain Dengan CTH... 55
xvii
DAFTAR GAMBAR
2.1 Patofisiologi Nyeri Kepala Tipe Tegang ... 13
2.2 Peranan Magnesium dalam sel saraf ... 20
2.3 Hubungan Stres dan Nyeri Kepala ... 29
3.2 Bagan Kerangka Konsep Penelitian ... 35
4.1 Bagan Rancangan Penelitian Kasus-Kontrol ... 37
xviii
DAFTAR BAGAN
3.1 Bagan Kerangka Berpikir Penelitian... 33
3.2 Bagan Kerangka Konsep Penelitian ... 34
4.1 Bagan Rancangan Penelitian Kasus-Kontrol ... 36
xix
DAFTAR SINGKATAN
SINGKATAN
ACC : Cortex Cingulated Anterior ADP : Adenosine Diphosphate
AMPA : α-amino-3-hydroxy-5-methyl-4-isoxazole propionic acid ATP : Adenosine Triphosphate
CDH : Chronic Daily Headache CTTH : Cronic Tension Type Headache CGRP : Calcitonin Gene-Related Peptide CNS : Central Nervus System
COX-2 : Cyclooxygenase-2 CSF : Cairan Serebrospinal
DASS-42 : Depression Anxiety Stress Scale-42 DCT : Distal Convoluted Tubule
ETTH : Episodic Tension Type Headache ET-1 : Endothelin-1
GABA : Gamma Amino Butyric Acid IL-1 : Interleukin-1
IL-6 : Interleukin-6
iNOS : Inducible Nitric Oxide Synthase LC : Locus Coeruleus
NFkB : Nuclear factor k-light-chain NGF : Nerve Growth Faktor NA : Noradrenergic NMDA : N-methyl-D-aspartate NO : Nitric Oxide
TAL : Thick Ascending Limb TCC : Trigemino-Cervical Complex TNFα : Tumor Necrotizing Factor α TTH : Tension Type Headache PAG : Periaquaductal Grey PGE2 : Prostaglandin E2
RAIC : Rostal Agranular Insular Cortex RVM : Rostro-Ventral Medulla
xx
Halaman DAFTAR LAMPIRAN
1 Keterangan KelaikanEtik (Ethical Clearance)………. 72
2 Surat ijin penelitian... 73
3 Informed consent... 74
4 Lembar pengumpulan data... 77
5 Depression Anxiety Stress Score-42 (DASS-42)... 79
6 Kuesioner gangguan tidur Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI)... 83
7 Karakteristik subjek penelitian... 86
1 BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Nyeri merupakan salah satu tanda vital selain tekanan darah, nadi, respirasi dan suhu, yang harus di observasi dan dievaluasi pada setiap pasien dan termasuk dalam “Five Vital Sign”. Pada pemahaman secara umum, nyeri merupakan respon pertahanan tubuh terhadap rangsangan yang datangnya dari luar maupun dari dalam tubuh. Salah satu keluhan nyeri yang paling sering dikeluhan oleh pasien ketika datang berobat adalah keluhan nyeri kepala. Secara garis besar, nyeri kepala dibagi menjadi nyeri kepala primer dan nyeri kepala sekunder. Salah satu nyeri kepala primer yang banyak dikeluhkan adalah nyeri kepala tipe tegang.
Secara global, persentase populasi orang dewasa dengan gangguan nyeri kepala aktif secara umum 46%, 11% migren, 42% tension type headache (TTH) dan 3% chronic daily headache (CDH) (Stovner dkk., 2007). Berdasarkan data penelitian tersebut, nyeri kepala primer yang paling sering terjadi adalah nyeri kepala tipe tegang atau tension type headache.
Nyeri kepala tipe tegang/Tension type headache (TTH) merupakan nyeri kepala yang berlangsung selama beberapa menit hingga beberapa hari, nyeri dirasakan bilateral, menekan atau mengikat dengan intensitas ringan sampai sedang. Nyeri tidak bertambah pada aktivitas fisik rutin, tidak didapatkan mual dengan ada fotofobia dan atau fonofobia (PERDOSSI, 2015).
2
Prevalensi TTH dipengaruhi oleh usia, jenis kelamin, benua dan pekerjaan. Angka kejadian TTH berkisar 14 - 44 per 1000 orang per tahun (Chai dkk., 2012). Pada penelitian Kandil (2014) yang melibatkan 4700 orang, laki-laki 2346 (49,91%) dan wanita 2354 (50,09%), dilaporkan 48,2% mengalami frekuen
episodic tension type headache (ETTH), 11,10% infrekuen ETTH, dan 21,4% chronic tension type headache (CTTH), dan secara signifikan lebih rendah pada
laki-laki (p = 0,007) dengan puncak insiden TTH terjadi sebelum usia 35. TTH dikatakan lebih sering terjadi di Eropa, dibandingkan dengan Asia dengan dengan prevalensi 80% : 20%. Studi di Amerika Serikat, prevalensi episodic tension type
headache (ETTH) pada wanita 27,1% dan laki-laki 25,6% pada orang dewasa
dengan rentang usia 60 dan 65 tahun, sedangkan prevalensi TTH per tahun bervariasi, di Brazil 33,1% dan di Italia 44,5% (Chai dkk., 2012).
Penyebab TTH masih belum diketahui secara pasti. Diduga dapat disebabkan oleh faktor psikis maupun fakor fisik (Ashina dkk., 2013). Faktor pencetus TTH 69,5% disebabkan oleh masalah keluarga, 19,75 insomnia, 27,3% kecemasan, 23,8% depresi dan 20,5% ketegangan (Kandil dkk., 2014).Salah satu instrumen yang dapat digunakan untuk menilai gangguan psikis tersebut adalah Depression
Anxiety Stress Scale-42 (DASS-42) yang telah divalidasi di Indonesia (Damanik,
2014).
Faktor fisik seperti kontraksi otot perikranium yang terus menerus juga diduga sebagai penyebab TTH, namun masih sedikit bukti yang mendukung halini. Pada TTH, kontraksi otot perikranium normal atau sedikit meningkat dan kontraksi otot perikranium tidak berkorelasi dengan tingkat keparahan nyeri
3
kepala pada TTH (Green, 2013). Altura dan Altura(2001) salah satu penyebab TTH adalah karena adanya ketegangan otot. Tujuh puluh persen (70%) pasien dengan TTH menunjukkan adanya kekakuan dan nyeri otot. Penelitian tersebut sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Bendtsen dkk(2011) yang juga menunjukan adanya kekakuan dan nyeri otot pada pasien dengan TTH.
Ketegangan mental atau stres psikologis diduga memegang peranan dalam sensitisasi sentral yang menyebabkan episodic tension type headache (ETTH) dan berlanjut menjadi chronic tension type headache (CTTH). Gangguan pola tidur juga diduga dapat memicu terjadinya TTH terutama untuk terjadinya ETTH, dan gangguan tidur dapat menjadi komplikasi atau memperberat nyeri kepala, sedangkan insomnia dan gangguan pola tidur lainnya berhubungan dengan terjadinya CTTH (Rains dkk.,2015). Salah satu alat ukur yang dapat digunakan untuk mengetahui gangguan tidur adalah dengan menggunakan Pittsburgh Sleep
Quality Index (PSQI)(Greenberg, 2012).
Berdasarkan faktor risiko terjadinya TTH, pendidikan kedokteran merupakan salah satu domain pekerjaan/ pendidikan dengan tingkat prevalensi TTH yang cukup tinggi. Beban akademik yang berat dengan tingkat stres yang tinggi dapat memicu timbulnya kelelahan, kecemasan, depresi dan gangguan tidur (Niemi dan Vainiomaki, 2006). Penelitian di Yunani, 39.6% mahasiswa yang menjalani pendidikan kedokteran mengalami episode nyeri kepala, 9.5% mahasiswa mengalami TTH dalam rentang periode waktu penelitian selama 6 bulan. Studi di Turki, 12.6% mahasiswa kedokteran mengalami TTH (Mitsikostas dkk., 2002).
4
Penyebabkan kontraksi otot atau kekakuan otot, stres, ansietas, depresi dan gangguan tidur, sehingga dapat memicu terjadinya nyeri kepala adalah berkurangnya ion magnesium. Magnesium merupakan kation utama yang terlibat dalam berbagai proses fisiologis (Szewczyk dkk., 2010).Data klinis pada nyeri kepala menunjukkan kadar magnesium dalam monosit, eritrosit, dan trombosit 40 – 50 % lebih rendah. Magnesium (Mg2+) memblok saluran ion pada NMDA reseptor sehingga mencegah masuknya kalsium (Ca2+) kedalam sel. Kadar magnesium yang rendah menyebabkan teraktivasinya NMDA reseptor, yang menyebabkan Ca2+masuk kedalam sel dan memberikan efek pada neuron dan otot pembuluh darah otak. Kadar magnesium yang rendah, akan menyebabkan rasio Ca2+/Mg2+meningkat dan mengakibatkan hipereksitabilitas sel dan jaringan sehingga memicu terjadinya nyeri kepala (AlturadanAltura, 2001).
Kekurangan magnesium juga menginduksi perkembangan kecemasan patologis dan deregulasi sumbu hipotalamus-hipofisis-adrenal saat stres, yang secara klinis bermanifestasi melalui perilaku cemas dan distonia vegetatif dengan spektrum yang luas dari gejala somatovegetatif seperti mudah marah, gangguan tidur, spasme pencernaan, peningkatan denyut jantung, kelelahan, kaku otot dan pegal-pegal, sensasi kesemutan di wajah, tubuh, dan ekstremitas (Akarachkova dkk., 2013).
Peneletian yang dilakukan oleh Sarchielli dkk (1991) yang melibatkan 30 subjek TTH kesimpulan, kadar magnesium serium pada subjek TTH lebih rendah dibandingkan dengan subjek kontrol (0,89 ± 0,09 vs 1,02 ± 0,09, p<0,0005).
5
Mishima dkk (1997) membandingkan kadar magnesium serum tingkat seluler pada pasien dengan migren dan TTH, didapatkan hasil, kadar magnesium serum pada pasien dengan TTH jauh lebih rendah dibandingkan pada pasien dengan migren. Grazzi dkk, (2007) meneliti penggunaan magnesium pada pasien ETTH yang melibatkan 45 pasien (19 perempuan dan 26 laki-laki), usia antara 8-16 tahun. Terapi dengan menggunakan garam magnesium (magnesium pidolate) dosis 2,25 gram dua kali sehari, dengan kesimpulan 22,5% - 75,7%penderita ETTH tidak mengalami kekambuhan nyeri kepala selama penelitian.
Pasien dengan depresi sedang berat berisiko untuk mengalami TTH (Karakulova, 2006). Kadar magnesium dalam eritrosit meningkat pada orang yang mengalami depresi sedang dan berat (Widmer dkk., 1995). Sebaliknya Nechifor dkk (2009) menunjukkan kadar magnesium yang rendah pada orang dengan depresi sedang dan berat, gejala diukur dengan skala Hamilton (Serefko dkk., 2013). Setiawan dkk (2013), didapatkan korelasi positif bermakna antara gejala suasana perasaan depresif dan TTH dengan p=0,019 dan kekuatan korelasi sedang (rs=0,4–0,599).
Pada penelitian Altura dan Altura (2001), asupan magnesium dalam makanan dan gangguan metabolisme magnesium sebagai salah satu penyebab beratnya nyeri kepala. Penelitian di Indonesia, yang dilakukan oleh Suharjanti (2011) terdapat korelasi negatif lemah antara kadar magnesium serum dengan intensitas nyeri kepala pada penderita TTH.
Masih terbatasnya penelitian mengenai hubungan kadar magnesium serum dengan CTTH, dan belum diketahui apakah kadar magnesium serum berperan
6
terhadap patofisiologi terjadinya CTTH. Untuk itu diusulkan penelitian kadar magnesium serum rendah sebagai faktor risiko nyeri kepala tipe tegang kronik khususnya pada mahasiswa/mahasiswi Program Studi Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran Universitas Udayana.
1.2 Rumusan Masalah
Apakah kadar magnesium serum rendah sebagai faktor risiko nyeri kepala tipe tegang kronik pada mahasiswa/mahasiswi Program Studi Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran Universitas Udayana?
1.3 Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kadar magnesium serum rendah sebagai faktor risiko nyeri kepala tipe tegang kronik pada mahasiswa/mahasiswi Program Studi Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran Universitas Udayana.
1.4 Manfaat Penelitian 1.4.1 Manfaat Akademis
Penelitian ini diharapkan dapat membuktikan kadar magnesium serum rendah sebagai faktor risiko nyeri kepala tipe tegang kronik dan dapat digunakan sebagai referensi untuk melakukan penelitian-penelitian selanjutnya.
1.4.2 Manfaat Praktis
Bila kadar magnesium serum yang rendah terbukti sebagai faktor risiko terjadinya nyeri kepala tipe tegang kronik, maka para klinisi dapat memberikan
7
saran kepada penderita TTH untuk mengkonsumsi makan-makanan yang banyak mengandung magnesiumsehingga dapat mencegah dan mengurangi risiko terjadi nya nyeri kepala tipe tegang kronik.