• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB II LANDASAN TEORI"

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)

Pada bab ini akan dibahas mengenai penjelasan dari sel surya, struktur, dan cara kerjanya, membahas mengenai fitur dan fungsi Arduino, LDR, Motor servo, Battery Charge Regulator (BCR), Inverter, dan Battery, serta teori pendukung lainnya.

2.1. Modul Surya (Photovoltaic)

Modul Photovoltaic (PV) terdiri dari beberapa solar cell yang terhubung seri. Sebuah solar cell menghasilkan kurang lebih tegangan 0.5 Volt. Jadi sebuah panel surya 12 Volt terdiri dari kurang lebih 36 sel (untuk menghasilkan 17 volt tegangan maksimum).

Gambar 2.1 Solar cell, modul, panel, dan array

Untuk menghasilkan daya besar, modul-modul PV dihbngkan secara seri atau paralel yang disebut dengan array. Akan tetapi, untuk menghasilkan persediaan jaringan listrik, banyak panel yang dihubungkan bersama-sama yang disebut photovoltaic array.

(2)

Pada panel surya sering menemukan tulisan WP. WP, singkatan dari watt-peak, adalah istilah yang biasa digunakan dalam dunia solar energy. WP menggambarkan besarnya nominal watt tertinggi yang dapat dihasilkan dari sebuah solar system. Ini dikarenakan energy dari sinar matahari yang bisa berubah-ubah dalam satu hari. Yang dalm digambarkan dalam sebuah grafik dari hasil pengukuran laboratorium tentang ukuran kekuatan daya listriknya per satuan waktu, akan tampak seperti gelombang. Ada puncak (peak) dan ada lemahnya berdasarkan data-data yang diperoleh dari pengukuran dalam jangka waktu tertentu.

Contoh: sebuah lampu penerang jalan bertenaga solar panel memiliki daya 20 WP. Ini artinya seberapa kuatnya matahari pada saat itu sekalipun, maksimal daya yang dapat diserap atau output energy yang dihasilkan oleh perangkat tersebut hanya 20 watt.

2.1.1 Jenis Sel Surya

Jenis-jenis sel surya digolongkan berdasarkan teknologi pembuatannya. Secara garis besar sel surya dibagi dalam tiga jenis, yaitu:

a. Monocrystalline b. Polycrystalline

c. Thin Film Solar Cell (TFSC

Gambar 2.2 Jenis-jenis sel surya 2.1.1.1 Sel surya Monokristal (Mono-crystalline)

(3)

Monokristal (Mono-crystalline) merupakan panel yang paling efisien yang dihasilkan dengan teknologi terkini & menghasilkan daya listrik persatuan luas yang paling tinggi. Monokristal dirancang untuk penggunaan yang memerlukan konsumsi listrik besar pada tempat-tempat yang beriklim ekstrim dan dengan kondisi alam yang sangat ganas. Memiliki efisiensi sampai dengan 15%. Kelemahan dari panel jenis ini adalah tidak akan berfungsi baik ditempat yang cahaya mataharinya kurang (teduh), efisiensinya akan turun drastis dalam cuaca berawan.

Gambar 2.3. Panel Surya Monocrystalline Keterangan :

1. Batangan kristal silikon murni

2. Irisan kristal silikon yang sangat tipis

3. Sebuah sel surya monocrystalline yang sudah jadi

4. Sebuah panel surya monocrystalline yang berisi susunan sel surya monocrystalline. Nampak area kosong yang tidak tertutup karena bentuk sel surya jenis ini.

(4)

2.1.1.2 Sel Surya Polikristal (Poly-crystalline)

Polikristal (Poly-crystalline) Merupakan panel surya yang memiliki susunan kristal acak karena dipabrikasi dengan proses pengecoran. Type ini memerlukan luas permukaan yang lebih besar dibandingkan dengan jenis monokristal untuk menghasilkan daya listrik yang sama. Panel suraya jenis ini memiliki efisiensi lebih rendah dibandingkan type monokristal, sehingga memiliki harga yang cenderung lebih rendah.

Gambar 2.4. Panel Surya Polycrystalline 2.1.1.3 Thin Film Solar Cell (TFSC

Jenis sel surya ini diproduksi dengan cara menambahkan satu atau beberapa lapisan material sel surya yang tipis ke dalam lapisan dasar. Sel surya jenis ini sangat tipis karenanya sangat ringan dan fleksibel.

Jenis ini dikenal juga dengan nama TFPV (Thin Film Photovoltaic).

Gambar 2.5 TFPV (Thin Film Photovoltaic)

Berdasarkan materialnya, sel surya thin film ini digolongkan menjadi: a) Amorphous Silicon (a-Si) Solar Cells.

(5)

Sel surya dengan bahan Amorphous Silicon ini, awalnya banyak diterapkan pada kalkulator dan jam tangan. Namun seiring dengan perkembangan teknologi pembuatannya penerapannya menjadi semakin luas. Dengan teknik produksi yang disebut "stacking" (susun lapis), dimana beberapa lapis Amorphous Silicon ditumpuk membentuk sel surya, akan memberikan efisiensi yang lebih baik antara 6% - 8%.

b) Cadmium Telluride (CdTe) Solar Cells.

Sel surya jenis ini mengandung bahan Cadmium Telluride yang memiliki efisiensi lebih tinggi dari sel surya Amorphous Silicon, yaitu sekitar: 9% - 11%.

c) Copper Indium Gallium Selenide (CIGS) Solar Cells.

Dibandingkan kedua jenis sel surya thin film di atas, CIGS sel surya memiliki efisiensi paling tinggi yaitu sekitar 10% - 12%. Selalin itu jenis ini tidak mengandung bahan berbahaya Cadmium seperti pada sel surya CdTe.

2.1.2 Perhitungan Daya Masukan dan Daya Keluaran

Untuk mengetahui berapa nilai daya sesaat yang dihasilkan maka harus diketahui daya yang diterima (daya input),dimana daya tersebut adalah perkalian antara intensitas radiasi matahari yang diterima dengan luas area PV module dengan persamaan.

Pin = Ir x A (2.1) Keterangan:

Pin : Daya Input akibat irradiance matahari (Watt) Ir : Intensitas radiasi atahari (Watt/m2)

A : Luas area permukaan photo voltaic module (m2)

Sedangkan untuk besarnya daya pada solar cell (Pout) yaitu perkalian tegangan rangkaian terbuka (Voc), arus hubung singkat (Isc), dan Fill Factor (FF) yang dihasilkan oleh sel Photovoltaic dapat dihitung dengan rumus berikut

(6)

Keterangan:

Pout : Daya yang dibangkitkan oleh solar cell (Watt), Voc :Tegangan rangkaian terbuka pada solar cell (Volt) Isc : Arus hubung singkat pada solar cell (Ampere) FF : Fill Factor ( Faktor Pengisian )

Nilai FF dapat diperoleh dari rumus:

……….(2.1) Efisiensi yang terjadi pada sel surya adalah merupakan perbandingan daya yang dapat dibangkitkan oleh sel surya dengan energi input yang diperoleh dari irradiance matahari. Efisiensi yang digunakan adalah efisiensi sesaat pada pengambilan data. Besar efisiensi dapat dihitung dengan rumus berikut:

………(2.2) Sehingga efisiensi sesaat yang dihasilkan:

………(2.3) Keterangan:

Ηsesaat : Efisiensi solar cell (%)

Ir : Intensitas radiasi matahari (Watt/m2)

P : Daya output yang dibangkitkan oleh solar cell (Watt) A : Luas area permukaan module photo voltaic (m2)

(7)

Gambar 2.6 Panel surya

Dari gambar 2.6 dapat dilihat perbedaan antara panel surya tipe monocrystalline dan polycrystalline. Panel surya tipe monocrystalline merupakan panel yang paling efisien, menghasilkan daya listrik persatuan luas yang paling tinggi. Memiliki efisiensi sampai dengan 15%. Kelemahan dari panel jenis ini adalah tidak akan berfungsi baik ditempat yang cahaya mataharinya kurang (teduh), efisiensinya akan turun drastis dalam cuaca berawan. Tipe polycrystalline merupakan panel surya yang memiliki susunan kristal acak, memerlukan luas permukaan yang lebih besar dibandingkan dengan tipemonocrystalline untuk menghasilkan daya listrik yang sama, akan tetapi dapat menghasilkan listrik pada saat mendung.

2.1.3. Keuntungan dan kerugian dari cell PV 2.1.3.1 Keuntungan

Photovoltaic dapat menyediakan banyak keuntungan, diantaranya sebagai berikut ini:

a. PV tidak membutuhkan bahan bakar minyak dan tidak ada gas emisi selama beroperasi. Dengan demikian, PV tidak menyebabkan polusi lingkungan. Tenaga yang berlimpah yang dibutuhkan PV adalah sinar matahariang gratis, secara luas ada di banyak negara dan sebenarnya tidak akan habis.

b. Modl PV terpercaya, stabil, tahan lama dan memiliki waktu beroperasi yang lama, biasanya lebih dari 10 tahun karena PV tahan cuaca.

c. Sistem PV adalah uunit modular. Berarti modul photovoltaic dapat dibangun untuk memenuhi kebuthan perbedaan tenaga yang siap untuk ditambahkan ke system yang ada untuk memenhi kenaikan

(8)

kebutuhan. Hal ini memungkinkan pengguna memiliki pilihan untuk memindahkan unit jika dibutuhkan, seperti membawa modul ke dalam rumah selama malam hari untuk mencegah dicuri atau dibongkar.

2.1.3.2 Kerugian

Disamping semua keuntungan PV, masih ada sedikit kekurangan dari system PV yang mesti dipertimbangkan sebagai berikut :

a. Kerugian utama dari system PV adalah output tenaga tergantung dari sinar matahari. Keberadaan sinar matahari dalam sehari sangat terbatas, khusunya selama musim dingin, hujan atau caca berawan. Awan menutupi matahari atau bayangan yang dihasilkan oleh gedung atau pohon akan menurunkan output system. Tanpa sinar matahari terutama pada malam hari, PV tidak dapat menghasilkan listrik. Dengan demikian, penggunaan tanpa malam hari membutuhkan cadangan tenaga seperti baterai, generator diesel.

b. Meskipun modul PV dapat menghasilkan listrik, tetapi hanya menghasilkan tegangan DC. Untuk dapat menghasilkan listrik yang sebanding dengan 240 V AC, dibutuhkan alat tambahan seperti regulator tegangan, inverter, dan lain-lain. Dan hal ini meningkatkan biaya operasional dan membuat system menjadi lebih kompleks. c. Biaya awal untuk system PV cukup besar bila dibandingkan dengan

bentuk lain dari penghasil listrik karena peralatan system PV lebih mahal. Akibatnya, tidak banyak orang mau mengeluarkan biaya mahal. Dengan demikian, bantuan dalam bentuk finansial sangat dibutuhkan. 2.2. Arduino Uno

Arduino adalah pengendali mikro single-board yang bersifat open-source, diturunkan dari Wiring platform, dirancang untuk memudahkan penggunaan elektronik dalam berbagai bidang. Hardwarenya memiliki prosesor Atmel AVR dan softwarenya memiliki bahasa pemrograman sendiri. Saat ini Arduino sangat

(9)

populer di seluruh dunia. Banyak pemula yang belajar mengenal robotika dan elektronika lewat Arduino karena mudah dipelajari. Tapi tidak hanya pemula, para hobbyist atau profesional pun ikut senang mengembangkan aplikasi elektronik menggunakan Arduino. Bahasa yang dipakai dalam Arduino bukan assembler yang relatif sulit, tetapi bahasa C yang disederhanakan dengan bantuan pustaka-pustaka (libraries) Arduino.

Gambar 2.7 Arduino Uno

Arduino juga menyederhanakan proses bekerja dengan mikrokontroler, sekaligus menawarkan berbagai macam kelebihan antara lain:

 Murah – Papan (perangkat keras) Arduino biasanya dijual relatif murah dibandingkan dengan platform mikrokontroler pro lainnya. Jika ingin lebih murah lagi, tentu bisa dibuat sendiri dan itu sangat mungkin sekali karena semua sumber daya untuk membuat sendiri Arduino tersedia lengkap di website Arduino bahkan di website-website komunitas Arduino lainnya. Tidak hanya cocok untuk Windows, namun juga cocok bekerja di Linux.

 Sederhana dan mudah pemrogramannya – Perlu diketahui bahwa

lingkungan pemrograman di Arduino mudah digunakan untuk pemula, dan cukup fleksibel bagi mereka yang sudah tingkat lanjut.

 Perangkat lunaknya Open Source – Perangkat lunak Arduino IDE dipublikasikan sebagai Open Source. Bahasanya bisa dikembangkan lebih

(10)

lanjut melalui pustaka-pustaka C++ yang berbasis pada Bahasa C untuk AVR.

 Perangkat kerasnya Open Source – Perangkat keras Arduino berbasis mikrokontroler ATMEGA8, ATMEGA168, ATMEGA328 dan ATMEGA1280 (yang terbaru ATMEGA2560). Dengan demikian siapa saja bisa membuat perangkat keras Arduino ini.Tidak perlu perangkat chip programmer karena didalamnya sudah ada bootloadder yang akan menangani upload program dari komputer.

 Sudah memiliki sarana komunikasi USB, Sehingga pengguna laptop yang

tidak memiliki port serial/RS323 bisa menggunakannya. Memiliki modul siap pakai ( Shield ) yang bisa dimasukan pada board arduino. Contohnya shield GPS, Ethernet, dan lain-lain.

 Soket USB adalah soket kabel USB yang disambungkan kekomputer atau

laptop. Yang berfungsi untuk mengirimkan program ke arduino dan juga sebagai port komunikasi serial.

 Input / Output Digital dan Input Analog - Input/output digital atau digital pin adalah pin pin untuk menghubungkan arduino dengan komponen atau rangkaian digital. contohnya , jika ingin membuat LED berkedip, LED tersebut bisa dipasang pada salah satu pin input atau output digital dan ground. komponen lain yang menghasilkan output digital atau menerima input digital bisa disambungkan ke pin pin ini.Input analog atau analog pin adalah pin pin yang berfungsi untuk menerima sinyal dari komponen atau rangkaian analog. contohnya , potensiometer, sensor suhu, sensor cahaya, dan lain-lain.

 Catu Daya - Pin pin catu daya adalah pin yang memberikan tegangan untuk komponen atau rangkaian yang dihubungkan dengan arduino. Pada bagian catu daya ini pin Vin dan Reset. Vin digunakan untuk memberikan tegangan langsung kepada arduino tanpa melalui tegangan pada USB atau adaptor, sedangkan Reset adalah pin untuk memberikan sinyal reset melalui tombol atau rangkaian eksternal.

(11)

 Baterai / Adaptor - Soket baterai atau adaptor digunakan untuk menyuplai arduino dengan tegangan dari baterai/adaptor 9V pada saat arduino sedang tidak disambungkan kekomputer. Jika arduino sedang disambungkan kekomputer dengan USB, Arduino mendapatkan suplai tegangan dari USB, Jika tidak perlu memasang baterai/adaptor pada saat memprogram arduino.

2.3 LDR (Light Dependent Resistor)

LDR terbuat dari Cadmium Sulphide (CdS). LDR merupakan salah satu jenis dari non-linear resistor yang berfungsi mengubah intensitas cahaya menjadi nilai tahanan. Nilai tahanan LDR berubah sesuai dengan intensitas cahaya yang diterima oleh LDR. Bila LDR menerima intensitas cahaya yang diterima yang besar maka nilai resistansinya akan turun, sehingga LDR seolah-olah merupakan saklar yang terhbung. Sedangkan bila LDR menerima intensitas cahaya yang rendah maka nilai resistansinya akan naik, sehingga LDR seolah-olah merupakan saklar yang terputus. Gambar 2.8 menunjukan symbol LDR dan salah satu jenis LDR yang ada di pasaran.

(12)

2.4 Motor Servo

Motor servo adalah sebuah motor DC yang dilengkapi rangkaian kendali dengan sistem closed feedback yang terintegrasi dalam motor tersebut. Pada motor servo posisi putaran sumbu (axis) dari motor akan diinformasikan kembali ke rangkaian kontrol yang ada di dalam motor servo.

Gambar 2.9 Motor servo

Motor servo disusun dari sebuah motor DC, gearbox, variabel resistor (VR) atau potensiometer dan rangkaian kontrol. Potensiometer berfungsi untuk menentukan batas maksimum putaran sumbu (axis) motor servo. Sedangkan sudut dari sumbu motor servo diatur berdasarkan lebar pulsa yang pada pin kontrol motor servo.

2.4.1 Konstruksi Motor Servo

(13)

Motor servo adalah motor yang mampu bekerja dua arah (CW dan CCW) dimana arah dan sudut pergerakan rotornya dapat dikendalikan dengan memberikan variasi lebar pulsa (duty cycle) sinyal PWM pada bagian pin kontrolnya.

2.4.2 Jenis-jenis Motor Servo

Berikut ini adalah jenis-jenis motor servo: a. Motor Servo Standar 180°

Motor servo jenis ini hanya mampu bergerak dua arah (CW dan CCW) dengan defleksi masing-masing sudut mencapai 90° sehingga total defleksi sudut dari kanan – tengah – kiri adalah 180°.

b. Motor Servo Continuous

Motor servo jenis ini mampu bergerak dua arah (CW dan CCW) tanpa batasan defleksi sudut putar (dapat berputar secara kontinyu).

c. Pulsa Kontrol Motor Servo

Operasional motor servo dikendalikan oleh sebuah pulsa selebar ± 20 ms, dimana lebar pulsa antara 0.5 ms dan 2 ms menyatakan akhir dari range sudut maksimum. Apabila motor servo diberikan pulsa dengan besar 1.5 ms mencapai gerakan 90°, maka bila kita berikan pulsa kurang dari 1.5 ms maka posisi mendekati 0° dan bila kita berikan pulsa lebih dari 1.5 ms maka posisi mendekati 180°.

2.4.3 Pulsa Kendali Motor Servo

(14)

Motor Servo akan bekerja secara baik jika pada bagian pin kontrolnya diberikan sinyal PWM dengan frekuensi 50 Hz. Dimana pada saat sinyal dengan frekuensi 50 Hz tersebut dicapai pada kondisi Ton duty cycle 1.5 ms, maka rotor dari motor akan berhenti tepat di tengah-tengah (sudut 0°/ netral).

Pada saat Ton duty cycle dari sinyal yang diberikan kurang dari 1.5 ms, maka rotor akan berputar ke berlawanan arah jarum jam (Counter Clock wise, CCW) dengan membentuk sudut yang besarnya linier terhadap besarnya Ton duty cycle, dan akan bertahan diposisi tersebut. Dan sebaliknya, jika Ton duty cycle dari sinyal yang diberikan lebih dari 1.5 ms, maka rotor akan berputar searah jarum jam (Clock Wise, CW) dengan membentuk sudut yang linier pula terhadap besarnya Ton duty cycle, dan bertahan diposisi tersebut.

2.5. Battery Charge Regulator (BCR)

Battery charge regulator berfungsi mengatur lalu lintas dari panel surya ke baterai dan beban. Alat elektronik ini juga mempunyai banyak fungsi yang pada dasarnya ditujukan untuk melindungi baterai. Battery charge regulator, adalah komponen penting dalam PLTS. Battery charge regulator berfungsi untuk:

1. Charging mode: Mengisi baterai (kapan baterai diisi, menjaga pengisian ketika baterai penuh).

2. Operation mode: Penggunaan baterai ke beban (pelayanan baterai ke beban diputus kalau baterai sudah mulai kosong).

Gambar 2.7 memperlihatkan bentuk dari Solar Charge Controller yang biasanya terdiri dari : 1 input ( 2 terminal ) yang terhubung dengan output panel surya, 1 output ( 2 terminal ) yang terhubung dengan baterai dan 1 output ( 2 terminal ) yang terhubung dengan beban. Arus listrik DC yang berasal dari baterai tidak mungkin masuk ke panel sel surya karena biasanya ada diode protection yang hanya melewatkan arus listrik DC dari panel surya ke baterai, bukan sebaliknya.

(15)

Gambar 2.12.Solar charge controller 2.6. Baterai

Baterai akan diisi oleh tenaga listrik yang berasal dari system sel surya dan sumber energi PLN. Pada saat pelepasan muatan,arus searah yang berasal dari baterai akan dirubah menjadi arus bolak-balik oleh inverter dan kemudian dialirkan menuju beban. Untuk menjaga agar baterai tidak mengalami kelebihan muatan (over charge) dan kekurangan muatan (under charge) maka pengoperasian baterai dan inverter perlu diawasi dan dikontrol oleh suatu sistem kontrol. Sistem kontrol dan pemilihan baterai yang tepat dapat menjaga agar baterai tidak mudah rusak dan berfungsi secara optimal.

Dalam pemilihan baterai yang akan digunakan haruslah memperhatikan halhal

berikut ini:

1. Mempunyai umur panjang (lebih dari 3 tahun). 2. Mempunyai kondisi charge yang stabil.

3. Mempunyai self discharge yang rendah. 4. Kestabilan depthof discharge (DOD).

5. Mempunyai efisiensi pengisian (chargain) yang tinggi.

6. Mudah untuk dibongkar pasang dengan menggunakan peralatan sederhana untuk keperluan transportasi ke daerah terpencil.

(16)

Gambar 2.13 Baterai

Gambar 2.13 memperlihatkan baterai sebagai tempat penyimpanan listrik DC yang memiliki 2 kutub/terminal, kutub positif dan kutub negatif. Biasanya kutub positif (+) lebih besar atau lebih tebal dari kutub negatif (-), untuk menghindarkan kelalaian bila aki hendak dihubungkan dengan kabel-kabelnya. 2.7. Inverter

Inverter adalah perangkat elektrik yang digunakan untuk mengubah arus listrik searah (DC) menjadi arus listrik bolak balik (AC). Inverter mengkonversi DC dari perangkat seperti batere, panel surya / solar cell menjadi AC.

Penggunaan inverter dari dalam Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) adalah untuk perangkat yang menggunakan AC (Alternating Current).

Beberapa hal yang perlu dipertimbangkan dalam pemilihan inverter:

1. Kapasitas beban dalam Watt, usahakan memilih inverter yang beban kerjanya mendekati dgn beban yang hendak kita gunakan agar effisiensi kerjanya maksimal

2. Input DC 12 Volt atau 24 Volt

(17)

Gambar 2.14 Inverter

True sine wave inverter diperlukan terutama untuk beban-beban yang masih menggunakan motor agar bekerja lebih mudah, lancar dan tidak cepat panas. Oleh karena itu dari sisi harga maka true sine wave inverter adalah yang paling mahal diantara yang lainnya karena dialah yang paling mendekati bentuk gelombang asli dari jaringan listrik PLN.

Dalam perkembangannya di pasaran juga beredar modified sine wave inverter yang merupakan kombinasi antara square wave dan sine wave. Bentuk gelombangnya bila dilihat melalui oscilloscope berbentuk sinus dengan ada garis putus-putus di antara sumbu y=0 dan grafik sinusnya. Perangkat yang menggunakan kumparan masih bisa beroperasi dengan modified sine wave inverter, hanya saja kurang maksimal.Sedangkan pada square wave inverter beban-beban listrik yang menggunakan kumparan / motor tidak dapat bekerja sama sekali. Selain itu dikenal juga istilah Grid Tie Inverter yang merupakan special inverter yang biasanya digunakan dalam sistem energi listrik terbarukan, yang mengubah arus listrik DC menjadi AC yang kemudian diumpankan ke jaringan listrik yang sudah ada. Grid Tie Inverter juga dikenal sebagai synchronous inverter dan perangkat ini tidak dapat berdiri sendiri, apalagi bila jaringan tenaga listriknya tidak tersedia. Dengan adanya grid tie inverter kelebihan KWh yang diperoleh dari sistem PLTS ini bisa disalurkan kembali ke jaringan listrik PLN untuk dinikmati bersama dan sebagai penggantinya besarnya KWh yang disuplai harus dibayar PLN ke penyedia PLTS, tentunya dengan tarif

(18)

yang telah disepakati sebelumnya. Sayangnya sampai sekarang ketentuan tarif semacam ini masih terus digodok seiring dengan aturan mengenai listrik swasta.

Rugi-rugi / loss yang terjadi pada inverter biasanya berupa dissipasi daya dalam bentuk panas. Effisiensi tertinggi dipegang oleh grid tie inverter yang diclaim bisa mencapai 95-97% bila beban outputnya hampir mendekati rated bebannya. Sedangkan pada umumnya effisiensi inverter adalah berkisar 50-90% tergantung dari beban outputnya. Bila beban outputnya semakin mendekati beban kerja inverter yang tertera maka effisiensinya semakin besar, demikian pula sebaliknya. Modified sine wave inverter ataupun square wave inverter bila dipaksakan untuk beban-beban induktif maka effisiensinya akan jauh berkurang dibandingkan dengan true sine wave inverter. Perangkatnya akan menyedot daya 20% lebih besar dari yang seharusnya.

2.8. Beban

Pada penelitian kali saya menggunakan beban lampu. Beban lampu berfungsi sebagai penerangan . Beban yang digunakan 5 buah lampu berdaya 4 watt

Gambar

Gambar 2.1 Solar cell, modul, panel, dan array
Gambar 2.2 Jenis-jenis sel surya  2.1.1.1 Sel surya Monokristal (Mono-crystalline)
Gambar 2.3. Panel Surya Monocrystalline  Keterangan :
Gambar 2.5 TFPV (Thin Film Photovoltaic)
+7

Referensi

Dokumen terkait

1. Observasi : pengamatan langsung terhadap suatu kegiatan yang sedang berjalan. Pada penelitian ini dilakukan observasi saat terjadinya proses pembelajaran

Kesimpulan yang dapat di ambil dari pengertian pengembanganmuseum situs di desa dayu sebagai kawasan wisata interaktif kehidupan manusia purba adalah perencanaan

dikalibrasi terhadap dosimeter acuan primer. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa paparan sinar-X yang biasa digunakan dalam diagnosa mempunyai jangkauan energi efektif yang

Sehubungan dengan permasalahan tersebut, peneliti tertarik untuk mengkaji hubungan karakteristik ulul albab yang terdapat dalam surat Ali-Imron ayat 190- 191 dan

Kemudian acara dilanjutkan dengan pembacaan naskah deklarasi oleh Ketua IFKA Senpai Monang Tambunan yang diteruskan dengan penanda tanganan naskah deklarasi oleh Ketua

Asumsi peneliti, dari hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dapat dilihat tidak ada hubungan yang signifikan antara lama pemakaian kontrasepsi suntik 3 bulan dengan gangguan

Proses pembuatan peta potensi area mikro hidro diawali dari data SRTM DEM yang diubah menjadi peta slope, dilanjutkan overlay dengan peta curah hujan yang berasal dari data

Dari Gambar 2.3 di atas, dapat diperkirakan hubungan antara resistansi sensor Rs dengan resistansi sensor pada saat mengukur H2 1000 ppm dengan suhu 20o C dan RL=20 KΩ adalah