III. BAHAN DAN METODE
3.1 Tempat dan Waktu Penelitian
Tempat pengambilan sampel populasi yang akan diuji adalah Kabupaten
Dairi, terletak sebelah Barat Daya Propinsi Sumatera Utara yang berada pada
ketinggian 400 m - 1700 m di atas permukaan laut, dan 2015’00” LU – 3000’00” LU serta 980 00’ BT – 980
3.2 Bahan dan Alat
30’ BT. Luasnya sekitar 192.780 ha. Luas tanaman
jagung pada tahun 2012 adalah 35.028 ha atau 18,17% dari luas Kabupaten Dairi
yang tersebar pada beberapa kecamatan (BPS, 2012). Penapisan sintrong resisten
herbisida parakuat dan uji tingkat resistensi dilaksanakan di Kecamatan Patumbak
Kabupaten Deli Serdang pada bulan Mei 2013 sampai dengan Pebruari 2014.
Bahan yang dibutuhkan dalam penelitian ini adalah: biji sintrong yang
sudah sering dikendalikan dengan herbisida parakuat yang berasal dari lahan
jagung, dan benih sintrong yang belum pernah ter-ekspos parakuat; tanah dan air
secukupnya; herbisida yang berbahan aktif parakuat (1,1'- dimethyl -4,
4'-bipyridinium dichloride) seperti Primaxone plus 280SL; serta kuisioner. Kuisioner bermanfaat untuk mengetahui lama petani menggunakan parakuat, dosis yang
digunakan dan frekuensi penggunaan parakuat dalam satu periode tanam.
Alat yang digunakan dalam penelitian ini antara lain : sprayer; polibeg
dengan ukuran 40 cm x 40 cm; amplop tempat benih sintrong dari lapangan;
3.3 Metode Pengumpulan Data 3.3.1 Data Responden
Pengumpulan data dilakukan dengan metode survei. Survei langsung ke
lahan dan mewawancarai petani dengan kuesioner yang telah disediakan
(Lampiran 1). Responden berasal dari enam kecamatan sentra produksi jagung
berdasarkan luas tanam di Kabupaten Dairi (BPS, 2012). Keenam kecamatan
tersebut meliputi: Kecamatan Parbuluan, Siempat Nempu Hulu, Siempat Nempu,
Tigalingga, Gunung Sitember dan Kecamatan Tanah Pinem. Setiap kecamatan
diambil 5 (lima) petani jagung sebagai responden, sehingga total responden
sebanyak 30 petani. Penentuan responden berdasarkan metode pertimbangan
(purposive sampling method) (Singarimbun dan Effendi, 1995). Pertimbangan untuk menjadi responden meliputi, pertama tempat tinggal dan ladang petani
berada pada sentra produksi jagung di Kabupaten Dairi, kedua, telah
berulang-ulang menggunakan herbisida parakuat sebagai sarana untuk menyiangi gulma
pada tanaman jagung dan ketiga, tingkat homegenitas alat/sampel yang digunakan
cukup tinggi. Hanafiah (1991), mengatakan bahwa jika dalam suatu percobaan
tingkat homegenitas suatu alat/sampel tinggi maka ulangan dalam percobaan itu
semakin sedikit, sebaliknya jika homegenitasnya rendah membutuhkan ulangan
yang lebih banyak.
3.3.2 Data Benih Sintrong
Biji sintrong yang diduga resisten diambil dan dikumpulkan dari
tersebut selanjutnya dimasukkan ke dalam amplop kertas, dan dikeringkan dengan
cara menjemur di bawah sinar matahari. Biji-biji gulma sintrong yang tidak pernah
disemprot dengan parakuat juga diambil sebagai populasi pembanding. Biji ini
diambil dan dikumpulkan dari lokasi yang belum pernah disemprot dengan
herbisida, yaitu dari jalan lintas perbatasan Kecamatan Merek di Tanah Karo
dengan Kecamatan Sumbul di Kabupaten Dairi.
3.4 Metode Pelaksanaan Penelitian
Penelitian ini terdiri dari dua tahap.
Tahap pertama : penapisan benih sintrong yang diduga resisten dengan
mengunakan herbisida berbahan aktif parakuat. Penapisan ini dilakukan dengan
metode bioassay pot dengan langkah-langkah sebagai berikut:
a. Polibeg berukuran 40 cmx 40 cm yang di isi dengan tanah gembur secukupnya
yang berasal dari pinggiran hutan di daerah Tutungan. Kemudian disiram
dengan air dengan maksud agar tanah lembab.
b. Pot disusun berdasarkan Rancangan Acak Kelompok (RAK) ( Lampiran 2).
c. Biji-biji sintrong yang dikumpulkan dari lahan petani, disebar kedalam polibeg
dan ditutup dengan tanah secara merata dengan ketebalan 0,5 cm – 1 cm.
Banyaknya biji sintrong yang disebar sekitar 100-200 biji/ polibeg. Benih yang
telah tumbuh disiram setiap pagi dan sore . Untuk menghindari gangguan hama
penggerek daun/batang seperti ulat tentara (Army worm) dilakukan
penyemprotan insektisida
d. Penapisan dilakukan pada umur 3 bulan setelah tanam. Sintrong yang tumbuh
diaplikasikan. Dipilih gulma sintrong yang memiliki tinggi antara 10 -15 cm
dan pertumbuhannya yang baik. Jumlah populasi gulma sintrong dalam polibeg
sebelum apilkasi herbisida antara 12-35 batang/polibeg.
e. Penapisan menggunakan berbisida berbahan aktif parakuat diklorida 280g/l
setara dengan ion parakuat 203g/l dengan merek dagang Primaxone plus 280
SL. Dosis parakuat yang diaplikasikan adalah 304,5 gr.ba/ha (atau setara
dengan 1,5 liter/ha primaxone plus 280 SL)
f. Alat untuk menyemprot herbisida digunakan knapsack sprayer elektrik dengan
nozzle T-jet warna kuning. Luas bidang semprot yang digunakan berukuran 1 x 17 m dengan waktu aplikasi sekitar 40 detik. Gulma diatur dalam luasan bidang
semprot. Volume semprot sebesar 413,5 liter/ha, dengan demikian konsentrasi
herbisidanya adalah 3,5 ml/liter air atau setara dengan bahan aktif ion parakuat
0,7105 g.
g. Penghitungan populasi yang mati dilakukan 14 hari setelah aplikasi herbisida.
h. Hasil penapisan popoulasi sintrong dibagi atas 3 (tiga) kategori yaitu: populasi
gulma sintrong dengan mortalitas 81% -100% sebagai kategori K1 (populasi
resisten antara 1% -19%), mortalitas populasi antara 11% - 80% sebagai
kategori K2 (populasi resisten 20% -89%), mortalitas kurang dari 10% sebagai
kategori K3 (populasi resisten > 90%) (Wals dan Powles 2004).
Tahap kedua : Menilai tingkat resistensi populasi sintrong dari hasil
penapisan. Untuk menilai tingkat resistensi populasi sintrong terhadap herbisida
hidup paling tinggi dan populasi yang sensitif sebagai kontrol. Pelaksanaan tahap
kedua adalah sebagai berikut:
a. Polibeg berukuran 40 cm x 40 cm di isi dengan tanah gembur sebanyak 4/5
bagian, kemudian disiram dengan air agar tanah lembab.
b. Polibeg disusun sesuai dengan bagan penelitian Rancangan Kelompok
Lengkap Teracak (RKLT) (Lampiran 3).
c. Biji-biji sintrong di sebar ke dalam polibeg dan ditutup dengan tanah secara
merata dengan ketebalan 0,5 cm - 1,0 cm (sama seperti poin c saat penapisan).
d. Penyemprotan dilakukan setelah gulma sintrong berumur 3 bulan, dengan
dosis 0 g/ha (P0), 76g/ha (P1), 152 g/ha (P2),304,5 g/ha (P3), 609 g/ha (P4),
1218 g/ha (P5), 2436 g/ha (P6). Penyemprotan dilakukan pagi hari dan tidak
ada hujan.
e. Alat untuk menyemprot herbisida digunakan knapsack sprayer elektrik dengan
nozzle T-jet warna kuning. Masing-masing perlakuan diulang sebanyak 3 kali. f. Penghitungan populasi yang mati dilakukan 2, 4, 6, 8, 10, 12 dan 14 hari
setelah aplikasi herbisida.
g. Pengukuran jumlah klorofil daun dilakukan 21 hari setelah aplikasi herbisida.
3.5 Peubah Amatan
Peubah amatan penelitian tahap pertama adalah persentase kematian gulma setelah aplikasi herbisida. Persentase kematian di hitung dengan rumus:
𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑝𝑜𝑝𝑢𝑙𝑎𝑠𝑖 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑚𝑎𝑡𝑖
𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑝𝑜𝑝𝑢𝑙𝑎𝑠𝑖 𝑠𝑒𝑙𝑢𝑟𝑢ℎ𝑛𝑦𝑎 x 100% (Triharso, 2007).
1. Persentase kematian gulma.
2. Nilai tingkat resistensi suatu gulma pada suatu daerah terhadap herbisida
tertentu (FR = 𝐿𝐷50 𝑔𝑢𝑙𝑚𝑎 𝑢𝑗𝑖
𝐿𝐷50 𝑔𝑢𝑙𝑚𝑎 𝑝𝑒𝑘𝑎) (Untung 2001). Rumus ini merupkan analog
untuk menentukan Faktor Resistensi (FR) serangga resisten insektisida.
3. Lethal Dose (LD) 50%. Untuk menentukan nilai LD 50% digunakan
persamaan regresi Y = ax + b. Persamaan regresi yang didapat selanjutnya
digunakan untuk menentukan LD50% dari masing-masing perlakuan jenis
herbisida. Kematian 50% yang diinginkan merupakan nilai Y dari persamaan
regresi, yang ditransformasikan ke dalam nilai probits, yaitu 5. Nilai X
adalah log dosis dari masing-masing perlakuan, sehingga untuk
menentukan LD 50% log dosis harus dikembalikan ke dalam antilog (X)
(Guntoro dan Trisnani, 2013) .
4. Lethal Time (LT) 50%. LT 50% dihitung dengan suatu konsentrasi kimiawi
yang mengakibatkan kematian 50% populasi percobaan. Penghitungan nilai
lethal time didapat dengan menganalisa probit waktu kematian gulma yang
telah diberi perlakuan. Lethal Time 50% merupakan nilai Y dari persamaan
regresi yang ditransformasikan ke dalam nilai probits (Raharjo et al., 2014).
5. Jumlah klorofil daun. Kadar klorofil total daun dilakukan secara spektroskopi
pada akhir penelitian yaitu pada 21 hari setelah aplikasi herbisida, pada daun
nomor tiga.
Model rancangan percobaan pada tahap pertama akan digunakan
Rancangan Acak Kelompok (RAK). Herbisida parakuat pada dosis anjuran akan
diaplikasikan terhadap 31 jenis populasi sintrong yang bersumber dari 6 (enam)
daerah yang berbedadan 1 (satu) jenis yang belum pernah disemprot herbisida
parakuat. Percobaan tahap pertama dibuat sebanyak 3 (tiga) ulangan. Secara
matematis model ini dapat ditulis sebagai berikut:
Y
ij= µ + β
i+ τ
j+ ε
ijdengan : i = 1,2,3... b (banyak blok)
(Sudjana, 1991)
j = 1,2,3...p (banyak perlakuan) Yij
µ = rata-rata umum = variabel yang diukur
τj
ε
= efek perlakuan ke j
ij
Untuk mempermudah perancangan dan pengacakan maka perlakuan
tersebut diberi simbol. Untuk herbisida parakuat dinyatakan dengan P. Untuk
sumber benih dinyatakan dengan C, dengan demikian dapat dinyatakan sebagai
berikut.
= efek unit eksperimen dalam blok ke i karena perlakuan ke-j.
C0 = benih belum pernah disemprot dengan herbisida
parakuat
C1,C2,C3,C4, C5 = biji dari Kecamatan Parbuluan
C6,C7,C8,C9,C10 = biji dari Kecamatan Siempat Nempu Hulu C11,C12,C13,C14,C15 = biji dari Kecamatan Siempat Nempu C16,C17,C18,C19,C20 = biji dari Kecamatan Gunung Sitember C21,C22,C23,C24, C25 = biji dari Kecamatan Tigalingga C26,C27,C28,C29,C30 = biji dari Kecamatan Tanah Pinem.
Model rancangan percobaan yang akan digunakan tahap kedua adalah
model Rancangan Kelompok Lengkap Teracak (RKLT). Secara matematis model
ini dapat dituliskan sebagai berikut:
Yijk = µ +Ai + Bj + ABij+ Ɛk(
dengan:
ij)
µ = rata-rata yang sebenarnya (berharga konstan)
Yijk = variabel respon hasil observasi ke- k yang terjadi karena pengaruh bersama taraf ke faktor A dan taraf ke j faktor B
Ai = efek taraf ke-i faktor A Bj = efek taraf ke-j faktor B
Abij = efek interaksi antara taraf ke i faktor A dan taraf ke j faktor B εk(ij) = efek unit eksperimen ke - k dalam kombinasi perlakuan (ij)
(Hanafiah, 1991., Sudjana, 1991).
Herbisida parakuat sebagai faktor B, dengan 7 (tujuh) taraf dosis yaitu: 0,
1 4,
1
2, 1, 2, 4, 8 kali dosis anjuran. Simbol untuk herbisida parakuat dinyatakan
dengan: P0 P = tanpa herbisida 1 P = dengan herbisida1
4 x dosis anjuran (76g.b.a/ha)
2
P
= dengan herbisida1
2 x dosis anjuran(152 g.b.a/ha)
3
P
= dengan herbisida dosis anjuran (304,5 g.b.a/ha)
4
P
= dengan herbisida 2 x dosis anjuran(609 g.b.a/ha)
5
P
= dengan herbisida 4 x dosis anjuran (1218 g.b.a/ha)
6
Populasi gulma sintrong sebagai faktor A, dengan 4 (empat) jenis tingkat
persentasi mortalitas. Simbol untuk populasi sintrong dinyatakan dengan: = dengan herbisida 8 x dosis anjuran(2436 g.b.a/ha)
S = populasi sensitif yaitu populasi sintrong yang belum pernah disemprot parakuat
R1 = populasi sintrong hasil penapisan yang memiliki persentasi hidupyang lebih rendah dari R2
R2 = populasi sintrong hasil penapisan yang memiliki persentasi hidup yang lebih rendah dari R3
R3 = populasi sintrong hasil penapisan yang memiliki persentasi hidup yang lebih tinggi dari R1 dan R2
Berdasarkan banyaknya taraf faktor A dan faktor B dibuat kombinasi
perlakuan sebagai berikut: P0S, P0R1, P0R2, P0R3, P1S, P1R1, P1R2, P1R3, P2S,
P2R1, P2R2, P2R3, P3S, P3R1, P3R2, P3R3, P4S, P4R1, P4R2, P4R3, P5S, P5R1,
P5R2, P5R3, P6S, P6R1, P6R2, P6R3. Banyaknya perlakuan ada 28, dan setiap
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Penelitian
4.1.1 Data Hasil Survei Petani Responden
Data hasil survei petani responden tentang lama dan frekuensi penggunaan parakuat, serta jumlah dosis yang digunakan untuk mengendalikan gulma pada lahan jagung berdasarkan sumber biji sintrong disajikan pada Tabel 1.
Tabel 1.Data rata-rata lama pemakaian, frekuensi, dan dosis parakuat yang digunakan petani responden berdasarkan kecamatan
No. Kecamatan Lama
Penggunaan (Thn) Dosis (g.ba/ha) Frekuensi Selisih dosis 1 Parbuluan 13,6 456,8 1 152,3
2 Siempat Nempu Hulu 16,2 492,0 1 187,5
3 Siempat Nempu 13,0 456,8 1 152,3 4 Gunung Sitember 17,4 600,6 2 296,1 5 Tiga Lingga 18,8 609,0 2 304,5 6 Tanah Pinem 25,4 651,6 2 347,1 Total 104,4 3266,8 9 Rata-rata 17,4 544,47 1,5
Berdasarkan Tabel 1 rata-rata lama waktu penggunaan parakuat 17,4 tahun
dengan dosis rata-rata 544,47 g.bahan aktif/ha (g.ba/ha) serta frekuensi 1,5 kali/
periode tanam. Selisih dosis anjuran (304,5 g.ba/ha) dengan dosis parakuat yang
digunakan petani responden di Kecamatan Parbuluan dan Siempat Nempu sebesar
Gunung Sitember sebesar 296,1 g.ba/ha, di Tiga Lingga sebesar 304,5 g.ba/ha, di
Tanah Pinem 347,1 g.ba/ha.
4.1.2 Hasil Penapisan Populasi Sintrong dengan Parakuat
Hasil analisis dan uji beda jarak nyata penapisan populasi sintrong dengan
parakuat pada dosis anjuran (304,5 g.ba/ha), disajikan pada Tabel 2.
Tabel 2.Rata-rata mortalitas dan kategori sintrongpopulasi dari enam kecamatan hasil penapisan dengan parakuat pada dosis anjuran 14 HSA
Kode Populasi
Kecamatan Kategori Mortalitas (%)
C0 Merek -Sumbul K1 95,65 m C1 Parbuluan K2 37,93 jkl C2 Parbuluan K2 39,51 kl C3 Parbuluan K2 14,85 fg C4 Parbuluan K2 10,84 bcde C5 Parbuluan K2 41,79 l
C6 Siempat Nempu Hulu K2 17,74 cdefgh
C7 Siempat Nempu Hulu K2 14,52 efg
C8 Siempat Nempu Hulu K2 27,12 hij
C9 Siempat Nempu Hulu K2 13,11 defg
C10 Siempat Nempu Hulu K2 29,85 ij
C11 Siempat Nempu K2 52,08 l
C12 Siempat Nempu K2 42,27 l
C13 Siempat Nempu K2 14,7 g
C14 Siempat Nempu K2 19,18 cdefgh
C15 Siempat Nempu K2 22,86 cdefghi
C16 Gunung Sitember K2 18,84 cdefgh
C17 Gunung Sitember K2 20,83 cdefghi
C18 Gunung Sitember K3 7,14 a
C19 Gunung Sitember K3 9,09 a
C20 Gunung Sitember K2 11,94 cdef
C21 Tiga Lingga K2 16,67 cdef
C22 Tiga Lingga K3 9,21 a C23 Tiga Lingga K3 8,86 a C24 Tiga Lingga K3 6,38 a C25 Tiga Lingga K3 3,13 a C26 Tanah Pinem K3 5,88 a C27 Tanah Pinem K3 1,39 a
C28 Tanah Pinem K3 5,19 a
C29 Tanah Pinem K3 0,00 a
C30 Tanah Pinem K3 0,00 a
Keterangan: Angka yang diikuti oleh huruf kecil pada kolom yang sama menyatakan tidak berbeda nyata pada taraf uji 5% berdasarkan Uji Jarak Nyata Ganda Duncan
K1 = mortalitas 81% -100%; K2 = mortalitas antara 11% -80%; K3 = mortalitas ≤ 10%
Berdasarkan Tabel 2, Lampiran 5, 6, dan 7, mortalitas populasi C0
(95,65%) berbeda nyata dengan mortalitas populasi yang bersumber dari lahan
jagung. Populasi sintrong yang terdapat di Kecamatan Parbuluan, Siempat Nempu,
Siempat Nempu Hulu semua tergolong kategori K2. Di Kecamatan Gunung
Sitember dan Tiga Lingga terdapat K2 dan K3. Sedangkan di Kecamatan Tanah
Pinem semua populasi tergolong kategori K3.
Data mortalitas populasi sintrong yang terendah dan tertinggi pada
masing-masing kecamatan ditampilkan pada Tabel 3. Berdasarkan Tabel 3. Mortalitas
tertinggi (52,08%) terdapat di Kecamatan Siempat Nempu dan terendah di
Kecamatan Tanah Pinem (0%).
Tabel 3. Data mortalitas tertinggidan terendah hasil penapisan dengan parakuat pada dosis anjuran
Asal Populasi (Kecamatan)
Mortalitas (%) Terendah Kode
Populasi
Tertinggi Kode populasi
1. Parbuluan 10,84 C4 41,79 C5
2. Siempat Nempu Hulu 13,11 C9 29,85 C10
3. Siempat Nempu 14,71 C13 52,08 C11
4. Gunung Sitember 7,14 C18 20,83 C17
5. Tiga Lingga 3,13 C25 16,67 C21
6. Tanah Pinem 0 C29,C30 5,88 C26
Berdasarkan Tabel 2, dapat dibuat data persentasi kategori dan perbedaan
(selisih) mortalitas sintrong antara populasi C0 (sensitif) dengan populasi dari
Kategori populasi sintrong di Kecamatan Parbuluan, Siempat Nempu dan Siempat
Nempu Hulu 100% termasuk kategori K2, sedangkan di Kecamatan Tanah Pinem
100% termasuk kategori K3. Selisih mortalitas antara populasi sensitif dengan
populasi resisten terendah (44,57%) terdapat di Kecamatan Siempat Nempu dan
tertinggi (95,65%) terdapat di Kecamatan Tanah Pinem
Tabel 4. Data selisih mortalitas populasi sintrong CO dengan populasi sintrong dari lahan jagung di Kabupaten Dairi
Kecamatan Kategori (%) Selisih Mortalitas (%)
K1 K2 K3 Terendah Tertinggi
Parbuluan 0 100 0 53,86 84,80
Siempat Nempu Hulu 0 100 0 65,80 83,54
Siempat Nempu 0 100 0 44,57 80,94
Gunung Sitember 0 60 40 74,82 88,51
Tiga Lingga 0 20 80 78,98 92,52
Tanah Pinem 0 0 100 89,77 95,65
Untuk mengetahui persentasi mortalitas, jumlah populasi yang tergolong
kategori K2, dan K3 hasil penapisan disajikan data seperti pada Tabel 5.
Berdasarkan Tabel 5, Lampiran 5 dan 6, populasi sintrong yang berasal dari lahan
jagung sebanyak 19 (63,33%) yang termasuk populasi sintrong kategori K2
dengan tingkat mortalitas berkisar antara 10,84% hingga 52,08%, sedangkan 11
(36,67%) termasuk populasi kategori K3 dengan tingkat mortalitas antara 0,0% -
9,09%. Rata-rata mortalitas kategori K2 sebesar 22,37%, dan populasi kategori
K3 sebesar 4,15%. Populasi resisten di Kecamatan Parbuluan berkisar antara
58,21% s/d -89,16%; di Siempat Nempu Hulu 70,15% s/d 86,89%; di Siempat
Nempu 57,92% s/d 85,29%; di Gunung Sitember 79,17% s/d 92,86%; di Tiga
Tabel 5. Populasi awal, akhir, mortalitas, dan kategori populasi sintrong dari enam kecamatan hasil penapisan dengan parakuat dosis anjuran 14HSA
Kode Populasi
Populasi
Kategori* Mortalitas (%)
Kecamatan Awal Akhir
C0 Sumbul-Merek 69 3 K1 95,65 Jumlah 69 3 1 C1 Parbuluan 58 36 K2 37,93 C2 Parbuluan 81 69 K2 39,51 C3 Parbuluan 101 86 K2 14,85 C4 Parbuluan 83 74 K2 10,84 C5 Parbuluan 67 39 K2 41,79 C6 SN Hulu** 62 51 K2 17,74 C7 SN Hulu 62 53 K2 14,52 C8 SN Hulu 59 43 K2 27,12 C9 SN Hulu 61 53 K2 13,11 C10 SN Hulu 67 47 K2 29,85 C11 Siempat Nempu 48 23 K2 52,08 C12 Siempat Nempu 55 29 K2 47,27 C13 Siempat Nempu 68 58 K2 14,71 C14 Siempat Nempu 73 59 K2 19,18 C15 Siempat Nempu 70 54 K2 22,86 C16 G. Sitember 69 56 K2 18,84 C17 G. Sitember 72 57 K2 20,83 C20 G.Sitember 67 59 K2 11,94 C21 Tiga Lingga 78 65 K2 16,67 Jumlah Rata-rata 1301 1010 19 24,82 C18 G. Sitember 56 52 K3 7,14 C19 G.Sitember 66 60 K3 9,09 C22 Tiga Lingga 76 69 K3 9,21 C23 Tiga Lingga 79 72 K3 8,86 C24 Tiga Lingga 94 88 K3 6,38 C25 Tiga Lingga 64 62 K3 3,13 C26 Tanah Pinem 68 64 K3 5,88 C27 Tanah Pinem 72 71 K3 1,39 C28 Tanah Pinem 77 73 K3 5,19 C29 Tanah Pinem 73 73 K3 0,00 C30 Tanah Pinem 74 74 K3 0,00 Jumlah 799 762 11 5,12
Rata-rata
* K1= mortalitas 81% -100% ; K2 = mortalitas 11% - 80% ; K3 = mortalitas ≤ 10% ** SN Hulu = Siempat Nempu Hulu
Untuk menunjukkan peta wilayah distribusi dan karakteristik populasi
sintrong hasil penapisan di Kabupaten Dairi disajikan seperti Gambar 1. Populasi
sintrong yang bertahan hidup 20% - 89% di beri simbol K2, dan yang ≥ 90% di beri simbol K3.
Gambar 1. Peta Kabupaten Dairi tempat sumber benih gulma sintrong
K3 K2 14 K2 10 K2 K3 K3 9 K2 K2 12 K3 K2 13 K3 K2 K2 6 5 3 1 2 8 7 11 8 11
5
4 15 15 12 13 7 9 10 14 3 64
Keterangan1. Kec Sidikalang 6. Kec Silahisabungan 11. Kec Siempat Nempu Hilir 2. Kec berampu 7. Kec Silima Pungga-pungga 12. Kec Tigalingga
3. Kec Sitinjo 8.Kec Laeparira 13. Kec Gunung Sitember 4. Kec Parbuluan 9. Kec Siempat Nempu 14. Kec Pegagan Hilir 5. Kec Sumbul 10.Kec Siempat Nempu Hulu 15. Kec Tanah Pinem
K1= mortalitas 81% -100% ; K2 = mortalitas 11% - 80% ; K3 = mortalitas ≤ 10% Batas Kecamatan
4.1.3 Uji Tingkat Resisten dari Tiga Populasi Mortalitas Terendah
Dari hasil penapisan populasi sintrong (Tabel 2) dilanjutkan pengujian dosis
respon terhadap 3 (tiga) populasi yang dipilih dengan tingkat mortalitas terendah
yaitu C25 (3,13%), C27 (1,39%) dan C30 (0%) dibandingkan dengan populasi CO
(95,65%). Untuk selanjutnya C0 disebut sebagai S, untuk C25 sebagai R-C25,
C27 sebagai R-C27, dan C30 sebagai R-C30.
a. Hubungan Waktu Mati dengan Dosis Parakuat dan Mortalitas Populasi S, R-C25, R-C27 dan R-C30
Analisis hubungan antara waktu mati dengan dosis parakuat dan mortalitas
populasi S, R-C25, R-C27 dan R-C30 dapat dilihat pada Tabel 6, Lampiran8-14;
17- 36. Hasil analisis hubungan waktu mati populasi S (sensitif) berbeda nyata
dengan populasi resisten (R-C25, R-C27 dan R-30) pada 2HSA sampai 14HSA.
Pada pengamatan 4HSA sampai 14HSA mortalitas populasi R-C25, dan R-C27
berbeda nyata dengan populasi R-C30.
Berdasarkan pengamatan 2HSA sampai 14HSA, level dosis yang tidak
mematikan P1 (76 g.ba/ha) dan P2 (152 g.ba/ha) berbeda nyata dengan level dosis
yang mematikan (304,5 g.ba/ha). Pada pengamatan 2HSA level dosis P3 (304,5
g.ba/ha) berbeda nyata dengan level dosis P5 (1218 g.ba/ha) dan P6 (2436 g.ba/ha).
Pada pengamatan 4 HSA level dosis P3 berbeda nyata dengan level dosis P4 (609
berbeda nyata dengan level dosis P5 dan P6. Pada pengamatan 6 HSA sampai 10
HSA semua level dosis yang mematikan berbeda nyata.
Tabel 6.Analisis hubungan mortalitas dengan populasi S, C25, C27, dan R-C30 dengan waktu pengamatan pada 2 - 14HSA
Perlakuan Waktu pengamatan (Hari)
2 4 6 8 10-14*
Sintrong (A)
S** 30,46b 45,20c 55,86c 62,47c 71,22c
R-C25 2,95a 11,90b 18,08b 29,06b 31,81b
R-C27 1,04a 8,29b 17,10b 25,91b 28,76b
R-C30 0,51a 1,59a 6,35a 9,14a 11,68a
Parakuat (B) P0*** 0,00a 0,00 a 0,00 a 0,00 a 0,00 a P1 1,00a 2,5a 7,50b 8,8b 9,1b P2 3,3ab 5,3 a 11,26b 11,8b 3,3b P3 8,2bc 14,80b 19,9c 21,6 c 6,7c P4 13,6cde 25,9c 30,2d 41,7d 48,5d
P5 16,2de 33,3de 44,9e 55,1e 56,4e
P6 1,8e 38,1e 60,7f 69,6 f 72,1f
Interaksi A x B
P0S 0,0a 0,0a 0,0a 0,0a 0,0a
P0R-C25 0,0a 0,0a 0,0a 0,0a 0,0a
P0R-C27 0,0a 0,0a 0,0a 0,0a 0,0a
P0R-C30 0,0a 0,0a 0,0a 0,0a 0,0a
P1S 4,1abc 12,1a 30,1d 35,3efg 36,3cd
P1R-C25 0,0a 0,0a 0,0a 0,0a 0,0a
P1R-C27 0,0a 0,0a 0,0a 0,0a 0,0a
P1R-C30 0,0a 0,0a 0,0a 0,0a 0,0a
P2S 8,1c 19,8b 43,5f 45,9hi 51,8gh
P2R-C25 1,0abc 1,3a 1,3ab 1,3a 1,3a
P2R-C27 0,0a 0,0a 0,0a 0,0a 0,0a
P2R-C30 0,0a 0,0a 0,0a 0,0a 0,0a
P3S 29,58d 56,4f 71,4h 78,1 l 96,6j
P3R-C25 1,7abc 1,7a 5,7ab 5,7ab 5,7a
P3R-C27 1,3abc 1,3a 2,6ab 2,6ab 4,3a
P3R-C30 0,0a 0,0a 0,0a 0,0a 0,0a
P4S 47,4e 68,2g 73,7h 78,8 l 100,0j
P4R-C25 5,0abc 20,0c 20,0d 43,4ghi 43,6defg
P4R-C27 1,8abc 13,9b 19,6c 33,7 def 33,8c
P4R-C30 0,0a 1,7a 7,2ab 10,7b 16,5b
P5S 56,3f 81,3h 85,6i 97,5m 100,0j
P5R-C25 5,0abc 27,4d 46,0f 55,9j 56,0h
P5R-C27 1,7abc 20,7c 38,8ef 48,ij 48,3efgh
P5R-C30 1,7abc 3,9a 9,3b 18,9c 21,1b
P6S 67,.7g 83,2h 87,7i 100,0m 100,0j
P6R-C25 8,0bc 38,9e 61,4g 69,9 k 72,4i
P6R-C27 1,8abc 24,1c 60,9g 64.7k 64,7i
Keterangan: angka –angka yang diikuti oleh huruf kecil yang sama menyatakan tidak berbeda nyata pada taraf uji 5% berdasarkan Uji Jarak Nyata Ganda Duncan
*Jumlah populasi sintrong dari 12 HSA -14 HSA adalah sama,sehingga analisis sidik ragam sama juga (Lampiran 6)
** S = pop sensitif mortalias 95,65%; R-C25 pop resisten mortalitas 3,13%,; R-C27 pop resisten mortalitas 1,39%; R-C30 pop resisten mortalitas 0%
***P0 = 0 gr.ba/ha; P1= 76 gr.ba/ha; P2 =152 gr.ba/ha; P3= 304,5 gr.ba/ha; P4= 609 gr.ba/ha; P5= 1218 gr.ba/ha; P6= 2436gr.ba/ha
Interaksi antara faktor A dengan faktor B seperti pada Tabel 6
menunjukkan perbedaan mortalitas pada setiap pengamatan. Pada pengamatan 2
HSA sampai 14 HSA mortalitas populasi sensitif berbeda nyata padasetiap
leveldosis yang digunakan, kecuali antara P1S dengan P2S. Pengamatan 2HSA
mortalitas populasi sensitif berbeda nyata dengan mortalitas populasi resisten
kecuali pada level dosis yang tidak mematikan (P1 dan P2).
Pada pengamatan 4HSA mortalitas populasi sensitif berbeda nyata
dengan mortalitas populasi resisten, kecuali pada level dosis P1. Mortalitas
populasi R-25, R-C27, R-C30 berbeda nyata pada level dosis P4, P5, dan P6. Pada
pengamatan 6HSA mortalitas populasi sensitif berbeda nyata dengan mortalitas
populasi resisten pada level dosis P1, P2, P3, P4, P5 dan P6.Mortalitas populasi
R-C25 berbeda nyata dengan R-C27 pada level dosis P4, sedangkan dengan R-C30
pada level dosis P6. Mortalitas populasi C27 berbeda nyata dengan populasi
R-C30 pada level dosis P4, P5, dan P6.
Pada pengamatan 8HSA s/d 10HSA mortalitas populasi sensitif berbeda
nyata dengan mortalitas populasi resisten pada setiap level dosis yang digunakan.
Mortalitas populasi R-C25 berbeda nyata dengan populasi R-C27 pada level dosis
P4. Mortalitas populasi R-C30 berbeda nyata dengan populasi R-C25 dan R-C27
Berdasarkan Tabel 6, Lampiran 35-36, hubungan persentase mortalitas
sintrong populasi S, R-C25, R-C27 dan R-C30 dengan waktu pengamatan
ditampilkan pada Gambar 2. Mortalitas populasi sintrong mulai hari ke-2 HSA
sampai 10 HSA terus bertambah, tetapi setelah hari ke-12 HSA hari ke-14 HSA
mortalitas sintrong tidak ada yang bertambah.
Gambar 2. Hubungan persentase mortalitas sintrong populasi S, R-C25 ,R-C27, dan R-C30 dengan waktu pengamatan pada 2 - 14 HSA
b. Lethal Time 50%
Lethal Timea dalah lama waktu yang dapat menyebabkan kematian 50%
suatu populasi dengan konsentrasi kimia tertentu. Nilai probit merupakan fungsi
persamaan regresi yang dapat digunakan untuk menentukan nilai LT50,
LT25% dan LT10% dari perlakuan herbisida yang diaplikasikan pada jenis
populasi gulma. Hubungan persentase mortalitas sintrong populasi S, C25,
R-C27, dan R-C30 dengan waktu pengamatan pada 2 HSA -14 HSA dapat diketahui
melalui transformasi ke dalam nilai probit. Transformasi persentasi mortalitas
dilakukan dengan bantuan tabel probit (Lampiran 35-36), demikian juga waktu 0 10 20 30 40 50 60 70 80
2 hari 4 hari 6 hari 8 hari 10 hari 12 hari 14 hari
M or tal itas S in tr on g ( % )
Waktu Pengamatan (HSA)
S R-C25 R-C27 R-C30
pengamatan (hari) ditransformasi dalam bentuk logaritmik. Data hasil transformasi
logaritma waktu pengamatan (hari) dengan data transformasi nilai probit mortalitas
populasi sintrong ditampilkan pada Tabel 7.
Tabel 7. Data nilai log waktu pengamatan dengan transformasi nilai probits mortalitas sintrong populasi S, R-C25, R-C27 dan R-C30
Persamaan regresi yang didapat digunakan untuk menentukan nilai
LT50%, LT25%, dan LT10% untuk untuk masing-masing populasi sintrong.
Berdasarkan Tabel 7, Lampiran 35 -36, diperoleh hasil persamaan regresi seperti
Tabel 8. LT 50% untuk populasi S adalah 4,79 hari, sedangkan untuk populasi
R-C25, R-C27, dan R-C30 belum tercapai. LT25% populasi S adalah 1,59 hari,
lebih rendah bila dibandingkan dengan populasi C25 (8,58 hari), dan populasi
R-C27 (9,6 hari), serta populasi R-C30 (9,8 hari).
Tabel 8. Persamaan regresi, nilai LT 50; LT25 dan LT10
Populasi Persamaan Regresi R2 (%) LT50% LT25% LT10% S y = 1,396x +4,050 0,977 4,79 1,59 - R-C25 y = 1,863x + 2,581 0,936 - 8,58 4,1 R-C27 y = 2,151x +2,217 0,930 - 9,6 5,0 R-C30 y = 2,945x + 0,785 0,901 - - 9,85
Log hari Nilai Probit
S R-C25 R-C27 R-C30 0,301 4,450 2,985 2,670 1,335 0,602 4,876 3,820 3,613 2,710 0,778 5,182 4,080 4,050 3,478 0,903 5,286 4,450 4,357 3,667 1,000 5,556 4,520 4,444 3,805 1,079 5,556 4,520 4,444 3,805 1,146 5,560 4,520 4,444 3,805
Keterangan : LT50% = Lethal Time 50%%; LT25% = Lethal Time 25%;LT10% =Lethal Time 10%; R2 = koefisien determinasi
c. Hubungan Taraf Dosis Parakuat dengan Mortalitas Sintrong Populasi S, R-C25, R-C27 dan R-C30
Hubungan taraf dosis parakuat dengan rata-rata mortalitas disajikan pada
Tabel 9, Lampiran 8, 28, 29, dan 30.
Tabel 9. Mortalitas populasi sintrong S, R-C25, R-C27dan R-C30 pada 14HSA parakuat
Keterangan: angka –angka yang diikuti oleh huruf kecil pada kolom dan baris yang sama menyatakan tidak berbeda nyata pada taraf uji 5% berdasarkan Uji Jarak Nyata Ganda Duncan
Berdasarkan Tabel 9 aplikasi parakuat pada dosis 76 g.ba/ha tingkat
mortalitas populasi S sebesar 36%, sedangkan pada populasi R-C25, R-C27 dan
R-C30 masih 0%. Aplikasi parakuat 152 g.ba/ha mengakibatkan mortalitas pada
populasi S meningkat menjadi 52,9%, mortalitas populasi R-C25 sebesar 1,2%
sedangkan R-C27 dan R-C30 masih tetap 0%. Aplikasi parakuat pada dosis 304,5
g.ba/ha mortalitas populasi S telah mencapai 96,8%, mortalitas populasi R-C25
dan R-C27 masing-masing 5,7% dan 4,2%, sedangkan populasi R-C30 masih tetap
0%. Pada perlakuan 609 g.ba/ha mortalitas populasi S telah mencapai 100%, Dosis Mortalitas Populasi Sintrong Hasil Penapisan (%)
(g.ba/ha) S R-C25 R-C27 R-C30 0,0 (P0) 0 a 0 a 0 a 0 a 76 (P1) 36 f 0 a 0 a 0 a 152 (P2) 52,9 ij 1,2 ab 0 a 0 a 304,5(P3) 96,8 m 5,7 c 4,2 bc 0 a 609 (P4) 100 m 43,3 g 34 f 16,98 d 1218 (P5) 100 m 55,7 j 48,2 h 20,75 e 2436 (P6) 100 m 70,9 l 64,8 k 50,98 hi
sedangkan mortalitas populasi R-C30 masih 16,98%. Semakin tinggi dosis
parakuat yang diaplikasikan semakin tinggi pula mortalitasnya.
Mortalitas populasi sintrong sensitif berbeda nyata dengan mortalitas
populasi resisten R-C25, R-C27 dan R-C30 pada setiap tingkatan dosis parakuat
yang diaplikasikan. Mortalitas populasi sintrong antara R-C25 dengan R-C27
berbeda nyata kecuali pada taraf dosis 304,5 g.ba/ha. Mortalitas populasi R-C27
pada aplikasi parakuat 1218 g.ba/ha tidak berbeda nyata dengan mortalitas populasi
sintrong R-C30 pada taraf dosis 2436 g.ba/ha
Hubungan rata-rata mortalitas populasi sintrong S,C25, C27, dan
R-C30 dengan taraf dosis parakuat yang diaplikasikan ditunjukkan pada Gambar 3.
Berdasarkan Gambar 3, rata-rata mortalitas populasi sintrong semakin
meningkat seiring dengan peningkatan penggunaan dosis herbisida pada
masing-masing perlakuan. Peningkatan rata-rata mortalitas populasi sensitif lebih besar
0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100 0 300 600 900 1200 1500 1800 2100 2400 2700 Ra ta -ra ta mo rt alit as Sin tr on g
Dosis parakuat (g.ba/ha)
S R-C25 R-C27 R-C30
Gambar 3.Hubungan rata-rata mortalitas (%) sintrong populasi S, R-C25, R-C27 dan R-C30 dengan dosis parakuat (g.ba/ha)
bila dibandingkan dengan populasi R-C25, R-C27 dan R-C30. Rata-rata
pertambahan mortalitas sintrong populasi resisten masih terus meningkat sampai
batas dosis yang belum diketahui, hal ini terlihat dari arah grafik yang masih naik.
d. Lethal Dosis
Lethal Dosis 50% merupakan batasan untuk mengetahui apakah dosis
yang digunakan sudah cukup atau berlebih dalam mengendalikan populasi
gulma, atau seberapa besar dosis herbisida yang diperlukan agar dapat
mengendalikan populasi gulma sebanyak 50% dari populasi yang ada. Untuk
mengetahui LD50% dari sintrong populasi S, R-C25, R-C27 dan R-C30
dilakukan analisis probits melalui suatu persamaan regresi. Transformasi
persentasi mortalitas dilakukan dengan bantuan tabel probit (Lampiran 37 dan 38),
demikian juga dosis ditransformasi dalam bentuk logaritmik. Tabel 10
menerangkan data hasil transformasi logaritma dosis (g.ba/ha) dengan data
transformasi nilai probit mortalitas populasi S; R-C25, R-C27 dan R-C30 pada
14HSA.
Tabel 10.Data nilai log dosis parakuat dengantransformasi nilai probits mortalitas sintrong populasi S, R-C25, R-C27 dan R-C30
Perlakuan Log Dosis Probit
S R-C25 R-C27 R-C30 P0 0,00 - - - - P1 1,881 4,640 0,000 0,000 0,000 P2 2,182 5,080 2,706 0,000 0,000 P3 2,484 6,865 3,445 3,256 0,000 P4 2,785 8,100 4,829 4,59 4,050 P5 3,086 8,100 5,145 4,952 4,175 P6 3,387 8,100 5,545 5,384 5,030
Persamaan regresi yang didapat, maka nilai LD50% untuk masing-masing
populasi sintrong seperti pada Tabel 11. LD 50% untuk populasi S adalah 88 g
ba/ha parakuat, untuk populasi resisten R-C25 sebesar 1085 g.ba/ha, untuk populasi
R-C72 sebesar 1308 g.ba/ha sedangkan populasi R-30 adalah 2185 g.ba/ha.
Tabel 11.Persamaan regresi probit dan nilai LD50 terhadap herbisida parakuat
Populasi Persamaan Regresi Nilai r2 (%) LD 50% (gr.ba/ha) R/S
S y = 2,617x + 0,081 0,857 88 -
R-C25 y = 3,455x – 5,489 0,883 1085 12,33
R-C27 y = 4,089x – 7,742 0,882 1308 14,86
R-C30 y = 3,957x – 8,215 0,883 2185 24,83
4.1.4 Indeks Klorofil Daun Sintrong Populasi S, R-C25, R-C27 dan R-C30 setelah 21 HSA Parakuat
Indeks klorofil daun adalah suatu angka rasio antara jumlah klorofil daun
populasi kontrol (P0) yang dapat digunakan untuk melakukan perbandingan antara
klorofil daun populasi sensitif (S) dengan populasi resisten (C25, C27, dan
R-C30) sebelum dan sesudah aplikasi herbisida parakuat. Indeks klorofil daun pada
masing-masing perlakuan ditampilkan pada Tabel 12. Jumlah klorofil daun
sintrong untuk perlakuan P0 (0 g.ba/ha = kontrol) sebesar 100%, artinya jumlah
klorofil daun populasi sintrong belum dipengaruhi oleh parakuat. Persentasi jumlah
klorofil daun sintrong populasi S pada aplikasi parakuat 76 g.ba/ha berkurang
menjadi 83,4%, dan selalu berkurang dengan bertambahnya dosis parakuat yang
diaplikasikan. Pada dosis 609 g.ba/ha persentasi jumlah klorofil sintrong populasi S
Tabel 12.Indeks klorofil daun sintrong populasi R-C25, R-C27 dan R-C30 pada pengamatan 21 HSA parakuat
Parakuat (g.ba/ha)
Indeks klorofil daun (%)
S R-25 R-27 R-30 0(P0) 100 lm 100 lm 100 lm 100 lm 76 (P1) 83,4 gh 97,4 kl 81,9 fg 103,6 lo 152 (P2) 72,8 c 105 po 80,2 ef 106,8 pqr 304,5 (P3) 27,6 b 95,6 kl 97,4 kl 108,7 qrs 609 (P4) 0 a 98,3 klm 101,3 mn 89,2 i 1218 (P5) 0 a 80,5 ef 105,4 poq 108,7 rs 2436 (P6) 0 a 85,3 h 110,3 h 78 de
Keterangan: angka –angka yang diikuti oleh huruf kecil yang samapada kolom dan baris yang sama menyatakan tidak berbeda nyata pada taraf uji 5% berdasarkan Uji Jarak Nyata Duncan S = sensitif; R = resisten; R-C25 =mortalitas 3,13% ; R-C27 = mortalitas 1,39%; R-C30 =
mortalitas 0%
Persentasi jumlah klorofil daun sintrong populasi R-C25 setelah aplikasi
parakuat tidak berbeda nyata pada perlakuan P1, P3, dan P4, tetapi berbeda nyata
pada perlakuan P2, P5 dan P6. Persentasi jumlah klorofil populasi R-C27 setelah
aplikasi parakuat berbeda nyata pada perlakuan P1, P2, P5, dan P6, dan tidak
berbeda dengan perlakuan P3 dan P4. Persentasi jumlah klorofil daun populasi
R-C30 setelah aplikasi parakuat berbeda pada setiap tingkatan dosis, kecuali pada
perlakuan P2, P3 dan P5.
Secara umum persentasi jumlah klorofil daun sintrong populasi sensitif
(P0S) sebelum aplikasi parakuat lebih tinggi (19,33 butir/mm2) dari pada klorofil daun populasi resisten (POR-C25 = 12,84 butir/mm2, P0R-C27 =12,21 butir/mm2, dan P0R-C30 = 12,17 butir/mm2) dan berbeda nyata. Pengurangan persentasi jumlah klorofil daun populasi S akibat adanya aplikasi parakuat tinggi bila
populasi S sangat dipengaruhi adanya perbedaan dosis parakuat yang
diaplikasikan, berbeda dengan populasi resisten secara umum tidak dipengaruhi
oleh adanya aplikasi parakuat.
4.1 Pembahasan
Rata-rata lama penggunaan herbisida parakuat di Kabupaten Dairi berkisar
17,4 tahun, dengan dosis 544,47 g.ba/ha, dan rata-rata frekuensi penggunaan 1,5
kali periode tanam. Menurut Jasieniuk et al. (1996) salah satu faktor yang
mengakibatkan terjadinya populasi resisten adalah penggunaan herbisida sejenis
secara berulang - ulang dalam periode lama pada suatu areal, tindakan manusia
terutama pengguna pestisida tanpa dilandasi oleh pengetahuan yang menyeluruh
tentang sifat-sifat dasar pestisida kimia. Selanjutnya Purba (2009), mengatakan
populasi resisten terbentuk akibat adanya tekanan seleksi akibat penggunaan
herbisida sejenis secara berulang-ulang dalam periode yang lama pada suatu tempat
tertentu. Konsekuensi dari pemakaian herbisida yang sama (sama jenis bahan aktif
atau sama cara kerja) secara berulang –ulang dalam periode yang lama pada suatu
areal maka ada dua kemungkinan masalah yang timbul, yaitu terjadi dominansi
populasi gulma resisten herbisida atau dominansi populasi gulma toleran herbisida.
Persentasi mortalitas populasi sintrong kategori K1 (95,65%) berbeda nyata
dengan K2 (10,84% - 52,08%) dan K3 (0% - 9,21%). Demikian antara K2 dengan
K3 juga berbeda nyata (Tabel 2). Berdasarkan Tabel 4 dan Tabel 5 persentasi
populasi resisten kategori K3 lebih banyak di jumpai di Kecamatan Tanah Pinem
(40%0, Kecamatan Siempat Nempu Hulu, Parbuluan, dan Kecamatan Siempat
Nempu (100%) kategori K2. Adanya perbedaan persentasi populasi resisten di
duga akibat perbedaan dosis, lama, dan frekuensi penggunaan oleh para petani
responden. Menurut Wals dan Powles (2007) populasi yang bertahan hidup 1% -
19% terhadap suatu jensi herbisida, tergolong populasi gulma dalam proses
pengembangan resisten, dan jika ≥ 20% populasi bertahan hidup merupakan gulma resisten terhadap suatu jenis herbisida tertentu. Selanjutnya Baumgartner et al.
(1999) mengatakan ketika mortalitas populasi gulma kurang 10% terhadap suatu
jenis herbisida maka populasi itu dianggap telah resisten, dan mortalitas > 90%
dianggap populasinya rentan, sedangkan apabila mortalitasnya antara 11%- 90%
memiliki resisten menengah.
Populasi resisten pada gulma dapat dihindari dengan cara tidak
menggunakan satu jenis herbisida tunggal dalam waktu yang lama tetapi
menggantinya secara berkala ataupun melakukan rotasi herbisida. Martani et al.
(2000) mengatakan pertahanan terbaik terhadap resistensi herbisida dan akan
membantu mengurangi tekanan seleksi adalah menggunakan bermacam-macam
cara kerja herbisida yang berbeda selama tahun yang sama ataupun merotasi
herbisida yang berbeda setiap tahun, rotasi tanaman, dan teknik budidaya.
4.2.1 Pengaruh Dosis Herbisida terhadap Mortalitas Sintrong
Mortalitas populasi sensitif pada dosis herbisida 304,5 g.ba/ha (dosis
anjuran, P3) mencapai 96,6% sedangkan populasi resisten (C-25, C27 dan
dosis anjuran tidak lagi mampu untuk mengendalikan populasi sintrong pada lahan
jagung petani di Kabupaten Dairi. Menurut Walsh dan Powles (2004) populasi
gulma digolongkan sebagai resisten jika ≥ 20% dari individu-individu dalam populasi hidup (survival) setelah dikenai suatu jenis herbisida pada dosis tertentu.
Apabila > 90% populasi bertahan hidup (survival) terhadap herbisida maka
populasi itu sudah resisten pada semua jenis herbisida. Hall et al. (1999)
mengatakan populasi gulma yang survival > 90%, dianggap memiliki resistensi
ganda atau resisten silang terhadap herbisida lain. Berdasarkan hal ini populasi
sintrong di Kabupaten Dairi dapat di kategorikan ke dalam 2 kategori (Tabel 2).
Kategori pertama yaitu populasi sintrong yang mortalitasnya kurang dari 10%
yaitu C18, C19 di Kecamatan Gunung Sitember, C22, C23, C24, C25 di
Kecamatan Tiga Lingga, C26, C27, C28, C29, dan C30 di Kecamatan Tanah
Pinem. Kategori kedua yaitu populasi sintrong dengan mortalitas antara 11% s/d
80% yaitu C1 - C5 di Kecamatan Parbuluan, C6 – C10 di Kecamatan Siempat
Nempu Hulu, C11 – C15 di Kecamatan Siempat Nempu, C16, C17 dan C20 di
Kecamatan Gunung Sitember, dan C21 di Kecamatan Tiga Lingga.
Heping et al. (2011) mengatakan untuk mengetahui dosis respon dari
suatu herbisida terhadap suatu jenis gulma adalah dengan mengukur persentase
tingkat kematian gulma 50% pada dosis tertentu.LD 50%untuk populasi sintrong
yang sensitif parakuat berdasarkan persamaan sidik regresi dan hasil analisis
probit adalah 88 g.ba/ha lebih rendah dibandingkan LD50% untuk populasi
resisten R-C25 sebesar 1085 g.ba/ha; R-C27 sebesar 1308 g.ba/ha; , dan R-C30
mampu membedakan antara populasi sintrong sensitif dengan populasi sintrong
resisten parakuat.
Hubungan dosis dengan mortalitas populasi sintrong, diketahui bahwa
nilai tingkat resisten (resistence factor) untuk sintrong populasi R-C25 adalah
12,33 kali, untuk R-C27 adalah 14,86 kali dan untuk R-C30 adalah 24,83 kali
(Tabel 8). Ini berarti populasi gulma sintrong R-C25 telah resisten terhadap
parakuat sebesar 12,33 kali, populasi sintrong R-C27 resiten terhadap parakuat
sebesar 14,86 kali dan populasi gulma sintrong R-C30 resisten terhadap parakuat
sebesar 24,83 kali. Menurut Purba (2009) yang menyatakan bahwa konsekuensi
dari pemakaian herbisida yang sama (jenis bahan aktif sama atau sama cara kerja)
secara berulang-ulang dalam periode yang lama pada suatu areal kemungkinan
akan menimbulkan masalah areal dominansi gulma resisten herbisida pada areal
tersebut.
4.2.2 Pengaruh Dosis Herbisida terhadap Rata-rata Jumlah Klorofil Daun Sintrong
Jumlah klorofil daun sintrong populasi S (P0S) (19,33 butir/mm2) berbeda nyata dengan rata-rata jumlah klorofil daun populasi resisten (P0R-C25 = 12,84
butir/mm2, P0R-C27= 12,21 butir/mm2, dan P0R-C30 = 12,69 butir/mm2). Rata- rata jumlah klorofil populasi gulma sintrong yang sensitif lebih tinggi
dibandingkan dengan populasi gulma sintrong yang resisten parakuat. Hal ini
senada dengan Hamza et al. (2011) yang menyatakan isi kandungan klorofil pada
tanaman E.crusgalli yang sensitif lebih tinggi dibandingkan dengan isi kandungan
Secara umum pengaruh dosis herbisida terhadap angka indeks jumlah
klorofil daun populasi gulma sintrong S berbeda nyata. Hal ini terlihat pada
perlakuan P0S (100%) dengan P1S (83,4%), P2S (72,8%), P3S (27,6%) dan P4S
(0%), setiap kenaikan dosis herbisida yang digunakan menurunkan jumlah klorofil
daun populasi gulma sintrong S (sensitif) secara nyata. Berbeda dengan populasi
gulma sintrong yang resisten parakuat (R-C25, R-C27, dan R-C30), pengaruh
dosis terhadap rata-rata jumlah klorofil daun tidak berbeda nyatasebelum dan
setelah aplikasi herbisida. Menururt Moenandir (1998), perbedaan rata-rata jumlah
klorofil daun masing-masing populasi disebabkan karena adanya faktor dalam dari
gulma yang dapat mempengaruhi daya meracun suatu jenis herbisida dan tingkat
perkembangan kepekaan gulma terhadap herbisida. Hal ini sesuai dengan hasil
penelitian Hamza et al. (2011) terhadap gulma Echinochloa crusgalli yang
diaplikasi dengan herbisida Fenoxaprop - p-etil. Gulma E.crusgalli yang rentan
setelah disemprot dengan herbisida mengalami penurunan ketebalan lamina daun
dan diameter pembuluh xilem yang nyata sedangkan pada gulma E. crusgalli yang
resisten tampak normal dan tidak ada perbedaan yang nyata ketebalan lamina daun
dan diameter pembuluh xilem. Para fisiologis dan anatomis menyatakan dengan
adanya penurunan atau perbedaan pertambuhan diameter pembuluh xilem,
ketebalan lamina daun dan perbedaan kandungan klorofil dalam suatu populasi
gulma tertentu akibat perlakuan suatu jenis herbisida, hal ini menunjukkan bahwa
V. KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
1. Hasil penapisan dari 30 populasi sintrong, sebanyak 19 populasi (63,33%)
termasuk moderat resisten (K2) dengan mortalitas rata-rata 24,82%, dan 11
populasi (36,67%) termasuk kategori sangat resisten (K3) dengan mortalitas
rata-rata 5,12%.
2. Populasi sintrong biotip resisten parakuat terdistribusi di Kecamatan
Parbuluan, Siempat Nempu, Siempat Nempu Hulu, Gunung Sitember, Tiga
Lingga, dan Tanah Pinem, dengan jumlah populasi yang bertahan hidup
terendah sebesar 47,92% (C11) terdapat di Kecamatan Siempat Nempu Hulu,
sedangkan tertinggi 100% (C29, C30) terdapat di Kecamatan Tanah Pinem.
3. Lethal dose 50% populasi sintrong biotip S adalah 88 g.ba /ha lebih rendah
dibandingkan lethal dose populasi C25 (1085 g.ba parakuat/ha), populasi
R-C27 (1308 g.ba/ha), dan populasi R-C30 (2185 g.ba parakuat/ha). Lethal time
50% untuk biotip S adalah 4,79 hari, sedangkan populasi R-C25, R-C27, dan
R-C30 tidak terdeteksi hingga 21 HSA.
4. Tingkat resistensi sintrong untuk populasi R-C25, R-C27, dan R-C30
masing-masing secara berturut-turut sebesar 12,33 kali, 14,86 kali, dan sebesar 24,83
kali dibandingkan dengan populasi S.
5. Jumlah klorofil daun sintrong populasi S (19,33 butir/mm2) sebelum aplikasi parakuat lebih tinggi dibandingkan dengan populasi jumlah klorofil daun
populasi R-C25 (12,84 butir/mm2), R-C27 (12,21 butir/mm2), dan populasi R-C30 (12,17 butir/mm2). Jumlah klorofil daun populasi sensitif berkurang setelah aplikasi parakuat, sedangkan populasi resisten sesudah dan sebelum
aplikasi parakuat relatif tidak berkurang.
5.2 Saran
Perlu dilakukan pengujian dengan herbisida lain untuk mengetahui herbisida
yang dapat mengendalikan biotif sintrong resisten parakuat di Kabupaten