• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN. antara lain berkontribusi terhadap peningkatan devisa, membuka lapangan kerja

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN. antara lain berkontribusi terhadap peningkatan devisa, membuka lapangan kerja"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

1

1.1 Latar Belakang

Pariwisata merupakan salah satu penggerak roda perekonomian dunia yang terbukti mampu memberikan kontribusi terhadap kemakmuran suatu negara, antara lain berkontribusi terhadap peningkatan devisa, membuka lapangan kerja baru serta meningkatkan pendapatan penduduk setempat. Dalam tiga dekade terakhir pembangunan di Indonesia, sumber devisa utamanya telah ditopang oleh pilar migas (minyak dan gas), hasil hutan serta pertambangan yang kesemuanya adalah merupakan sumber daya yang tidak terbaharukan. Banyak prediksi yang telah memperkirakan bahwa berbagai sumber daya tadi akan habis dalam waktu yang tidak lama lagi. Sebagai negara yang besar dan kaya akan sumber daya pariwisata, baik yang berupa keindahan alam, kekayaan keanekaragaman budaya maupun potensi wisata minat khusus, Indonesia sangat layak menjadi destinasi wisata utama di dunia. Industri pariwisata yang dikembangkan dengan baik akan dapat bersaing dengan negara-negara pesaing utamanya dalam memperebutkan kunjungan wisatawan dan pembelanjaannya sebagai sumber devisa non migas. Oleh karena itu sektor kepariwisataan di Indonesia kedepan harus dapat tampil menjadi alternatif pengganti dalam memperoleh devisa pembangunan (Sunaryo, 2013).

Pada tahun 2009-2014 pertumbuhan dalam bidang pariwisata terus meningkat. Pertumbuhan kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia meningkat 52,71% dalam kurun waktu enam tahun, dari 6.323.730 kunjungan

(2)

wisatawan di tahun 2009 menjadi 9.715.364 wisatawan di tahun 2014. Pertumbuhan jumlah kunjungan wisatawan tentunya akan meningkatkan penerimaan devisa negara dengan pertumbuhan devisa mencapai 70,9% atau setara 4 milyar USD dalam rentang tahun 2009-2014 (Pusdatin Kemenparekraf & BPS, 2014). Hal ini menunjukkan bahwa perkembangan sektor pariwisata dari tahun ke tahun semakin meningkat dan memberikan sumbangan besar terhadap penerimaan devisa negara.

Pengembangan pariwisata mampu menggairahkan aktivitas bisnis, sehingga menghasilkan manfaat sosio-kultur-ekonomi yang signifikan bagi suatu negara. Dalam rangka mengoptimalkan manfaat sosio ekonomi dari pengembangan pariwisata, setiap destinasi wisata dihadapkan pada upaya untuk memperoleh angka kunjungan wisatawan yang signifikan. Salah satunya adalah dengan memperoleh repeating visit dari wisatawan yang pernah berkunjung. Dengan kata lain, destinasi wisata juga berupaya untuk menciptakan wisatawan menjadi loyal untuk berkunjung. Hal ini juga mendorong pemerintah untuk membenahi aspek-aspek yang mendukung pariwisata, termasuk keamanan, kenyamanan, dan kebudayaan.

Keamanan merupakan hal yang paling diisukan sehubungan dengan peristiwa-peristiwa yang mengganggu stabilitas beberapa tahun terakhir, antara lain ancaman terorisme, merebaknya flu burung, bencana alam yang terjadi, dan isu lainnya. Segala isu terkait keamanan membuat pemerintah berkomitmen untuk menciptakan situasi yang aman dan kondusif bagi wisatawan merupakan hal yang paling diutamakan. Sedangkan untuk mendukung transportasi yang berkaitan

(3)

dengan pariwisata, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif mengadakan kerjasama dengan Departemen Perhubungan demi kenyamanan transportasi wisatawan (Gani, 2013).

Dalam hal kebudayaan, berbagai event pun sudah direncanakan untuk digelar sebagai ajang memperkenalkan kebudayaan daerah baik skala nasional maupun internasional. Pemerintah Provinsi Bali mencanangkan beberapa event besar di Tahun 2015 yang diselenggarakan di beberapa kawasan wisata di Bali antara lain Pesta Kesenian Bali (PKB) dengan tema Jagadita, Ubud Village Jazz Festival 2015, Sanur Village Festival 2015, Balinale International Film Festival, Festival Pantai Lovina, Kuta Karnival dan Nusa Dua Fiesta 2015 (www.disparda.baliprov.go.id/id/Calendar-of-Event2). 1)

Selain itu, maraknya kampanye-kampanye pelestarian alam menjadi salah satu andalan sebagai daya tarik wisata. Dengan program-program pembenahan yang dilakukan, diharapkan wisatawan yang berkunjung akan merasakan kepuasan dan timbul kepercayaan untuk terus memilih Indonesia sebagai destinasi wisata. Dengan begitu, kedepannya jumlah wisatawan yang sudah ada bisa lebih ditingkatkan seiring terbentuknya loyalitas wisatawan terhadap destinasi wisata tersebut (Dewintri, 2010). Pariwisata sendiri adalah salah satu fenomena kebudayaan global yang dapat dipandang sebagai suatu sistem. Pariwisata terdiri atas tiga komponen yaitu wisatawan (tourist), elemen-elemen geografi (geographical elements) dan industri pariwisata (tourism industry).

1) Calendar of Event (Event Adat, Budaya dan Religi) 2015 – 2016

(4)

Wisatawan merupakan elemen pertama atau komponen yang sangat penting dalam hal ini, karena pariwisata pada hakikatnya adalah pengalaman manusia, sesuatu yang dinikmati, diantisipasi dan diingat sepanjang hidupnya. Elemen geografi sebagai elemen kedua meliputi kawasan atau daerah yang dapat mendorong minat untuk berwisata, tujuan wisata dan daerah tempat transit dari suatu rute perjalanan. Elemen ketiga adalah industri pariwisata yang menyangkut tentang usaha atau bisnis dan organisasi yang mengatur produk pariwisata. Ketiga elemen tersebut di atas saling terkait satu dengan lainnya sebagai suatu sistem yang utuh yakni pariwisata (Ardika, 2000).

Dalam rangka membangun kawasan wisata yang berkualitas, Pemerintah Republik Indonesian melalui Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif yang mencanangkan program Penataan Kawasan Wisata di Bali dengan tiga kawasan sebagai pilot project yaitu kawasan Sanur, Kuta dan Nusa Dua. Pembenahan aspek-aspek yang terkait pariwisata mulai dibenahi oleh Pemerintah termasuk pembenahan dan penataan destinasi pariwisata, pembangunan fasilitas dan infrastruktur, meningkatkan kualitas SDM industri pariwisata, membuat standarisasi pekerja di bidang pariwisata dan promosi pariwisata (http://m.bisnisbali.com).2) Pembenahan ini dilakukan dengan harapan akan tercipta loyalitas mereka terhadap Indonesia (destination loyalty) di masa yang akan datang.

2) Bali Jalankan Program Kawasan Strategi Pariwisata di 3 Wilayah

(http://m.bisnisbali.com/kabar24/read/20140421/78/220986/bali-jalankan-program-kawasan-strategi -pariwisata-di-3-wilayah

(5)

Bagi masyarakat Indonesia secara umum, semakin mantapnya pariwisata nasional membuat nama bangsa ikut dikenal oleh dunia, dan tentunya membuat masyarakat menjadi lebih bangga akan bangsanya sendiri. Majunya pariwisata dapat menumbuhkan rasa cinta tanah air dan meningkatkan keinginan masyarakat Indonesia untuk berpergian ke pelosok Nusantara. Hal ini dapat dilihat dari jumlah kunjungan wisatawan Nusantara ke Bali yang terus meningkat setiap tahunnya dan diharapkan akan terus meningkat. Peningkatan jumlah wisatawan tersebut tidak terlepas dari loyalitas wisatawan yang selalu dibangun oleh pengelola kawasan wisata. Loyalitas wisatawan tersebut tentunya akan berpengaruh terhadap bagian-bagian kepariwisataan yang lain seperti perhotelan, biro perjalanan, perdagangan, industri, hiburan dan sebagainya.

Bali merupakan daerah tujuan wisata yang terkenal di dunia, yang sekaligus menjadi salah satu potensi utama untuk mengangkat citra Indonesia di mata internasional. Hampir semua kawasan di Bali memiliki potensi wisata yang merata, akan tetapi kawasan tujuan wisata di Bali umumnya terpusat di daerah dengan ciri khas wisata bahari antara lain Pantai Kuta, Pantai Sanur dan Pantai Dreamland dan sekitarnya. Sesuai dengan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 50 Tahun 2011, ditetapkan delapan puluh delapan (88) KSPN di seluruh Indonesia untuk tahun 2010 sampai dengan tahun 2025. Di Provinsi Bali ditetapkan sebelas KSPN antara lain : Sanur – Nusa Dua - Kuta, Bali Utara/Singaraja, Karangasem - Amuk, Menjangan - Pemuteran, Taman Nasional Bali Barat, Tulamben - Amed, Bedugul, Nusa Penida, Ubud dan Besakih - Gunung Agung.

(6)

Kawasan Sanur, Kuta dan Nusa Dua bahkan dicanangkan untuk menjadi tiga kawasan utama Program Kawasan Strategis Pariwisata Nasional. Sanur merupakan salah satu ikon pariwisata Bali yang sudah dikenal sejak enam puluh tahun yang lalu. Kawasan Pantai Sanur sudah mulai dikunjungi sejak 1930 (Picard, 2006). Menetapnya pelukis Belgia bernama Adrien-Jean Le Mayeur de Merpres di Sanur merupakan sejarah perkembangan kawasan pesisir Sanur, karena lukisan dan keberadaan Museum Le Mayeur menjadi salah satu hal utama yang mengangkat nama Sanur di mata internasional. Dalam meniti karirnya Le Mayeur melanglang buana ke berbagai belahan dunia seperti Perancis, Italia, Maroko hingga ke Bali. Le Mayeur pertama kali ke Bali tahun 1932 melalui jalur laut dan mendarat di Singaraja kemudian melanjutkan perjalanan ke Denpasar dengan menyewa sebuah rumah di Kelandis. Di tempat inilah ia berkenalan dengan penari Legong bernama Ni Nyoman Pollok, karena kecantikan Ni Polloklah maka ia dijadikan model lukisan yang kemudian berlanjut ke jenjang pernikahan. Salah satu lukisan yang paling terkenal adalah lukisan-lukisan berobjek seorang gadis penari Bali bertubuh molek dan bertelanjang dada, yang merupakan Ni Pollok, istri Le Mayeur tersebut. Museum Le Mayeur sendiri merupakan rumah dan sanggar melukis yang memuat 88 buah karya lukis impresionis dengan berbagai media lukis antara lain : kanvas, hardboard, tripleks, kertas dan kain goni (http://wisatabali2010.wordpress.com). 3)

3) Sejarah Museum Le Mayeur http://wisatabali2010.wordpress.com/museum-le-mayeur/, diakses

(7)

Seiring perkembangan pariwisata yang semakin meningkat, pada tahun 1956 dibangunlah hotel pertama di Kawasan Sanur dengan nama Segala Beach Hotel, yang kini dikenal sebagai Segara Village Hotel, yang didirikan sepuluh tahun lebih awal dari pendirian dan pengoperasian Hotel Bali Beach pada tahun 1966. Hotel Segara Village ini dibangun oleh pasangan Ida Bagus Kompiang dan Anak Agung Mirah Astuti yang juga merupakan tonggak perkembangan usaha perhotelan berdasarkan inisiatif orang lokal di Kawasan Sanur. Meskipun wisata bahari belum dikenal saat itu, di Sanur sudah terbentuk suatu proyek pengembangan Sanur yang disebut Beach Market pada tahun 1971, yang menyajikan jasa pelayaran dengan jukung yaitu perahu-perahu tradisional dan pameran kesenian (Trisila, 2014).

Pantai Sanur memiliki pasir putih dan terumbu karang tepi yang melindungi pantai Sanur dari gelombang besar yang datang dari laut lepas. Terumbu karang inilah yang menciptakan suasana air yang tenang lebih cenderung ke aktivitas air yang santai dan menyenangkan seperti kayak, glass bottom, boat, banana boat, parasailing, snorkeling, spare fishing gun, wind surfing, kite surfing, dan aktivitas lainnya. Dalam rangka mendukung pariwisata di Kawasan Sanur berbagai event skala internasional sudah diagendakan, beberapa diantaranya adalah Bali Kite Festival 2015 yang merupakan sebuah festival layang-layang internasional, yang diadakan di wilayah Padang Galak Sanur. Selain itu direncanakan pula Sanur Village Festival 2015 yang menawarkan kegiatan budaya serta acara Balinale 2015 yang diadakan sebagai ajang lokakarya

(8)

perindustrian film dan diikuti oleh peserta dari dalam maupun luar negeri (www.disparda.baliprov.go.id/id/Calendar-of-Event2). 4)

Sesuai data yang diperoleh dari Dinas Pariwisata Kota Denpasar dan data bersumber dari Polisi Sektor (Polsek) Denpasar, pada triwulan I tahun 2014, jumlah wisatawan yang menginap di berbagai penginapan baik hotel berbintang, hotel melati, villa dan lain sebagainya di Kawasan Sanur mencapai 835.099 orang, naik dibandingkan triwulan I tahun 2013 yang berjumlah 727.013 orang. Hal ini sejalan program Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) dengan target pencapaian 3 juta wisatawan di tahun 2015 (http:/travel.kompas.com). 5) Dilihat dari potensi yang dimiliki Kawasan Sanur sebagai Daerah Tujuan Wisata (DTW) sudah sepantasnya Sanur menjadi pusat dari kegiatan wisata bahari yang paling populer dibandingkan dengan obyek lainnya.

Peningkatan kunjungan wisatawan inilah yang mendasari keinginan untuk mengevaluasi persepsi wisatawan mengenai atribut destinasi wisata di Sanur yang berpengaruh pada pemenuhan keinginan wisatawan. Di sisi lain, terdapat isu-isu yang beredar tentang kawasan pesisir Sanur seperti pencemaran lingkungan, kerusakan dan masalah sosial. Perkembangan Daerah Tujuan Wisata (DTW) sampai saat ini secara pasti akan mengubah bentuk fisik pantai Sanur seperti pembangunan fasilitas penunjang wisata bahari, penataan dan pembenahan pantai Sanur serta kerusakan fisik dari ekosistem.

4) Calendar of Event (Event Adat, Budaya dan Religi) 2015 2016

(www.disparda.baliprov.go.id/id/Calendar-of-Event2, diakses 25 April 2015)

5)Wisatawan Ke Bali Akan Meningkat

(9)

Beberapa masalah empiris yang dirasakan oleh pelaku kegiatan bahari di Sanur adalah perubahan karakteristik air dan ombak, pencurian terumbu karang, over fishing, pencemaran lingkungan oleh stakeholder hingga berbagai kasus sosial dan juga masalah kenyamanan dan kebersihan yang kerap dipermasalahkan oleh para wisatawan (http://brita.indo.com, 2014). 6)

Esensi utama dari pembangunan pariwisata harus mengutamakan prinsip berkelanjutan. Perbincangan tentang pembangunan berkelanjutan sebenarnya bukan hal yang baru baik secara global maupun nasional. Pembangunan berkelanjutan ini menganjurkan agar pembangunan dilaksanakan dengan memperhatikan faktor lingkungan (Soemarwoto,2004).

Pada Konferensi Stocholm dibahas mengenai masalah lingkungan serta jalan keluarnya, agar pembangunan dapat terlaksana dengan memperhitungkan daya dukung lingkungan (eco-development). Lingkungan merupakan segala sesuatu yang berada di sekitar manusia dan mempengaruhi kehidupan manusia baik langsung maupun tidak langsung. Jika lingkungan rusak maka manusialah yang akan terkena imbasnya. Dewasa ini permasalahan lingkungan merupakan permasalahan yang paling sering terjadi dalam kehidupan masyarakat. Meskipun banyak yang mengetahui bahwa lingkungan adalah bagian yang sangat penting, namun manusia masih belum memprioritaskan kelestarian lingkungan sebagai prioritas utama dalam pembangunan segala sektor (Rutana, 2011).

6) Kebersihan Kawasan Wisata Sanur (http://brita.indo.com /2014/29/11/2014/kebersihan-kawasan-wisata-sanur)

(10)

Kawasan pesisir Sanur memiliki potensi yang baik dan memiliki berbagai macam jenis kegiatan wisata bahari yang mampu menarik motivasi wisatawan. Melihat potensi yang besar dari Pantai Sanur, tentunya merupakan hal penting untuk mengetahui hal-hal yang mendasari loyalitas berkunjung dari wisatawan akan Daerah Tujuan Wisata Kawasan Sanur itu sendiri. Lovelock, Paterson, dan Walker (2001) menjelaskan bahwa kesetiaan atau loyalitas sebagai sebuah evaluasi setelah pembelian oleh pelanggan mengenai pengalaman (proses serta hasil) dari pelayanan secara menyeluruh yang diterimanya. Kesetiaan muncul karena adanya atribut-atribut yang melekat pada obyek. Atribut dapat berupa dimensi jasa atau apa saja yang dipertimbangkan dalam keputusan untuk membeli produk wisata tersebut (Darmaningsih, dkk., 2006).

Kozak dan Rimington (1999) mengemukakan bahwa menentukan atribut dominan destinasi wisata sangat penting untuk mengukur tingkat kepuasan keseluruhan wisatawan sehingga memunculkan intensi untuk datang kembali ke daerah tujuan wisata tersebut. Telah dilakukan beberapa penelitian untuk mengukur atribut destinasi dan motivasi wisatawan seperti dalam penelitian yang dilakukan oleh Meng, Tepanon, dan Uysal dalam jurnal mereka yang berjudul Measuring Tourist Satisfaction by Attribute and Motivation : The Case of Nature-Based Resort (2006). Disebutkan bahwa atribut destinasi wisata memiliki peran penting dalam evaluasi wisatawan atas daya tarik, image, dan kepuasan terhadap destinasi wisata tertentu.

Hingga saat ini belum ada studi terkait untuk mengukur atribut yang dominan pada destinasi wisata Kawasan Sanur dan loyalitas berkunjung

(11)

wisatawan atas atribut Kawasan Sanur, yang nantinya dapat menjadi tolok ukur pengembangan dan penyusunan strategi pemasaran kawasan tersebut. Oleh karena itu, perlu dilakukan penelitian tentang atribut destinasi wisata Kawasan Sanur terhadap loyalitas berkunjung wisatawan, yang pada akhirnya dapat mendukung pengembangan Kawasan Sanur sebagai salah satu destinasi favorit di Indonesia. Selain itu penelitian ini dilakukan dengan harapan dapat memberikan suatu masukan dan manfaat yang positif untuk keberlangsungan wisata bahari Kawasan Sanur serta memberikan manfaat untuk stakeholder agar dapat memelihara Kawasan Sanur ke arah yang lebih sempurna dan dapat menjaga kawasan pesisir agar berkelanjutan.

1.2 Rumusan Masalah

Mengacu pada latar belakang di atas, masalah yang dikaji dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Apa atribut-atribut dominan pembentuk persepsi wisatawan yang mempengaruhi loyalitas berkunjung wisata ke Kawasan Sanur?

2. Bagaimana persepsi wisatawan terhadap atribut wisata Kawasan Sanur? 3. Bagaimana loyalitas berkunjung wisatawan terhadap destinasi wisata

(12)

1.3 Tujuan Penelitian

Sesuai dengan rumusan masalah yang dipaparkan, maka tujuan penelitian ini dibagi menjadi tujuan umum dan tujuan khusus.

1.3.1. Tujuan Umum

Tujuan umum dari penulisan ini adalah untuk mengetahui persepsi wisatawan mengenai atribut wisata di daerah tujuan wisata serta melihat pengaruhnya terhadap loyalitas berkunjung ke Kawasan Sanur.

1.3.2. Tujuan Khusus

Tujuan tersebut secara khusus dapat diuraikan sebagai berikut :

1. Mengetahui atribut dominan pembentuk persepsi wisatawan yang mempengaruhi loyalitas berkunjung wisatawan ke Kawasan Sanur. 2. Mengetahui persepsi wisatawan terhadap atribut wisata Kawasan Sanur 3. Mengetahui tingkat loyalitas berkunjung wisatawan terhadap destinasi

wisata yang ada di Kawasan Sanur.

1.4 Manfaat Penelitian

1.4.1 Manfaat Akademis

Dari dimensi akademis, penelitian ini diharapkan dapat mengembangkan model pariwisata dari segi-segi yang menentukan kesetiaan wisatawan secara komprehensif.

1.4.2 Manfaat Praktis

a) Bahan masukan bagi peneliti lain khususnya pihak-pihak yang tertarik untuk meneliti permasalahan ini lebih lanjut.

(13)

b) Dari dimensi kebijakan praktis, penelitian ini diharapkan bermanfaat terhadap pemerintah Provinsi Bali dalam mengambil kebijaksanaan terhadap pembangunan industri pariwisata di Kawasan Sanur dengan memperhatikan atribut wisata di dalamnya.

1.5 Ruang Lingkup Penelitian

Penelitian ini membahas persepsi wisatawan terhadap atribut wisata di Kawasan Sanur dan pengaruhnya terhadap loyalitas berkunjung wisatawan. Analisis faktor konfirmatori digunakan untuk menganalisis persepsi terhadap atribut wisata tersebut. Penerapan analisis faktor konfirmatori pada intinya adalah menganalisis faktor-faktor dari atribut wisata sebagai pembentuk persepsi wisatawan.

Referensi

Dokumen terkait

Hasil penelitian menunjukkan bahwa anak berkesulitan belajar membaca menulis melaksanakan pembelajaran seperti dengan siswa reguler yang lain baik dari segi tujuan,

dalam rangkaian acara yang digelar hingga 12 Februari ini juga terdapat prosesi pengangkatan jabatan yang dilakukan langsung oleh Dirut Sumber Daya Manusia

Penanggungjawab mempunyai kewajiban sebagaimana tercantum dalam lampiran Rekomendasi Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Kendal tentang Persetujuan Upaya Pengelolaan

Puji Syukur penulis panjatkan kehadirat Allah Tri Tunggal Maha Kudus, Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus karena atas berkat, hikmat dan anugerah-Nya, sehingga penulis dapat

Dengan memanfaatkan penyedot debu portebel sebagai mesin utama penghisapnya ditunjang dengan motor DC sebagai motor penggerak roda belakang alat ini, servo

Penelitian yang lain digunakan untuk membunuh kutu Eriophyidae pada tanaman jarak pagar, dengan bahan alami yaitu belerang dan kapur yang mengandung bahan baku

Video game jenis ini sesuai dengan terjemahannya, bermain peran, memiliki penekanan pada tokoh/peran perwakilan pemain di dalam permainan, yang biasanya adalah tokoh utamanya,

Karena gas refrigeran ini melewati pipa dengan diameter kecil dari pipa kapiler ini merupakan hamabatan dari peredaran gas refrigeran tersebut dan mengakibatkan tekanan pada