PENGARUH PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF
TIPE STAD BERBASIS INTERAKSI SOSIAL TERHADAP HASIL
BELAJAR IPS SISWA KELAS V SD
Ni Kd Ratna Wahyuni
1,I Km Ngurah Wiyasa
2, I Kt Adnyana Putra
3 1,2,3Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar, FIP
Universitas Pendidikan Ganesha
Singaraja, Indonesia
e-mail : [email protected]
1,[email protected]
2,
[email protected]
3Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan yang signifikan hasil belajar IPS antara siswa yang mengikuti model pembelajaran kooperatif tipe Student Teams Achievement Division (STAD) berbasis interaksi sosial dengan siswa yang mengikuti pembelajaran konvensional pada siswa kelas V SD Gugus 4 Widyasmara Klungkung Tahun Ajaran 2013/2014. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen semu (quasi eksperimen) yang dilaksanakan dengan pemberian pre test, treatmen, dan post tes. Rancangan penelitian yang digunakan adalah nonequivalent control group desain, dengan populasi seluruh siswa kelas V SD di Gugus 4 Widyasmara Klungkung yang berjumlah sebanyak 216 orang siswa. Sampel penelitian dipilih dengan menggunakan teknik purposive sampling. Data yang dikumpulkan adalah hasil belajar IPS meliputi aspek kognitif saja. Pengumpulan data dilakukan dengan memberikan tes yaitu tes kognitif pilihan ganda biasa. Data yang sudah dikumpulkan dianalisis dengan menggunakan uji-t.Berdasarkan hasil analisis uji-t diperoleh thitung = 2,54 > ttabel =
1,98 dengan dk= 63 dan taraf signifikan 5%. Nilai rata-rata kelas eksperimen yang dibelajarkan melalui model pembelajaran kooperatif tipe Student Teams Achievement Division (STAD) berbasis interaksi sosial lebih dari kelas kontrol yang dibelajarkan melalui pembelajaran konvensional yaitu : 80,09 > 68,69. Dari hasil uji-t menunjukkan bahwa thitung > ttabel maka Ho ditolak dan Ha diterima.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh model pembelajaran model pembelajaran kooperatif tipe Student Teams Achievement Division (STAD) berbasis interaksi sosial Terhadap Hasil Belajar IPS siswa kelas V Gugus 4 Widyasmara Klungkung Tahun Ajaran 2013/2014.
Kata kunci : Model Pembelajaran, Kooperatif Tipe Student Teams Achievement Division (STAD), Interaksi Sosial, Hasil Belajar IPS
Abstract
The research aimed to find out the significant differences of students result learning on sociology with cooperative learning model Student Teams Achievement Division (STAD) based social interaction and conventional learning model in grade five of primary school at Gugus 4 Widyasmara Klungkung 2013/2014 academic year. The research an exterior experiment, done with pre test, treatmens, and post test. The research design was nonequivalent control group design, the population were all students in class V (216 students). The sample was chosen using purposive sampling technique. The data collected was the students result learning on sociology in cognitive asfect only. The data collection was through the multiple choice test. T-tes was used to analyse the
data collected. Based on t-test analyse, it found tcount =2,54 > ttable= 1,98 with dk=
63 and a significance level of 5%. The everage of students result learning who used cooperative learning model Student Teams Achievement Division (STAD) based social interaction was higher than students result learning who used conventional learning model. The result of t-tes showed that > t table so Ho refused and Ha accepted. It can be concluded that there was a significant effect on students result learning to the cooperative learning model Student Teams Achievement Division (STAD) based social interaction of IPS study in grade five of primary school at Gugus 4 Widyasmara Klungkung 2013/2014 academic year.
Key words: Learning Model, Cooperative Type Student Teams Achievement Division (STAD), Social Interaction, IPS Result Learning.
PENDAHULUAN
Pendidikan merupakan suatu hal yang sangat penting dalam kehidupan, baik
dalam kehidupan berbangsa dan
bernegara. Kemajuan suatu bangsa
sebagian besar ditentukan oleh maju mundurnya pendidikan di negara tersebut.
Begitu pentingnya peran dan tujuan
pendidikan, maka mutu pendidikan
haruslah ditingkatkan. Salah satu upaya
untuk meningkatkan mutu pendidikan
adalah melalui peningkatan kualitas
pembelajaran.
Dalam upaya meningkatkan kualitas pembelajaran, hendaknya dimulai dari
jenjang Sekolah Dasar (SD) karena
pendidikan dasar merupakan pondasi untuk menuju pendidikan yang lebih tinggi. Pendidikan dijenjang SD dibentuk oleh beberapa komponen, salah satunya adalah komponen mata pelajaran. Banyak terdapat mata pelajaran dalam jenjang SD salah satunya adalah mata pelajaran IPS.
IPS merupakan suatu ilmu yang sangat penting bagi kehidupan manusia. Pendidikan IPS idealnya harus responsif dan menata diri berhadapan dengan globalisasi. Pembelajaran IPS memegang peranan penting dalam upaya mewujudkan tujuan- tujuan pendidikan nasional. Hal ini karena mengembangkan potensi siswa menjadi manusia yang berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis
serta bertanggung jawab. Karena
pentingnya pembelajaran IPS bagi siswa,
maka pembelajaran IPS sebaiknya
dilaksanakan dengan baik sehingga apa yang dibelajarkan dapat dipahami oleh siswa dan dapat diaplikasikan dalam kehidupannya sehari-hari. Tetapi banyak siswa yang belum memahami manfaat IPS
dalam kehidupan, hal ini dikarenakan siswa menganggap bahwa IPS sulit dipelajari dan terlalu banyak hafalan yang harus diingat, serta kebanyakan guru dalam proses pembelajaran masih menggunakan metode yang masih bersifat tradisional sehingga proses pembelajaran kurang menarik dan menyenangkan. Hal ini menyebabkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPS masih banyak berada di bawah nilai KKM. Kondisi seperti ini dilihat oleh peneliti di SD gugus 4 Widyasmara Klungkung pada saat
melakukan observasi awal dengan
beberapa guru, salah satunya ibu Nengah Tantri,S.Pd yang dilakukan pada tanggal 8 November 2013.
Sesuai dengan karakteristik anak dan IPS SD, maka metode ekspositori akan menyebabkan siswa bersikap pasif, dan menurunkan derajat IPS menjadi pelajaran hafalan yang membosankan (Gunawan,
2011:40). Siswa hanya duduk dan
mendengarkan penjelasan guru tanpa memahami materi yang sedang dipelajari. Pada saat inilah tujuan pembelajaran yang ingin dicapai tidak dapat terlaksana dengan optimal. Menyikapi hal ini, pemerintah dan pihak-pihak terkait telah melakukan banyak hal untuk memperbaiki kondisi yang ada. Salah satu hal yang dilakukan adalah
dengan mensosialisasikan strategi
pembelajaran dan model-model
pembelajaran inovatif serta penggunaan
media pembelajaran dalam poses
pembelajaran yang diharapkan mampu melibatkan siswa secara aktif dalam pembelajaran.
Melihat kesenjangan antara harapan-harapan yang telah disampaikan dengan kenyataan lapangan sangat jauh berbeda,
dalam upaya memperbaiki mutu
perbaikan cara dalam proses pembelajaran
dengan menggunakan strategi
pembelajaran. Strategi pembelajaran
merupakan rencana tindakan (rangkaian kegiatan) termasuk penggunaan metode
dan pemanfaatan berbagai sumber
daya/kekuatan dalam pembelajaran.
(Sanjaya,2008:125). Salah satunya dengan
menerapkan model pembelajaran
Kooperatif tipe STAD berbasis interaksi sosial di dalam proses pembelajaran.
Pada hakikatnya pembelajaran
merupakan kegiatan yang dilakukan untuk
menginisiasi, memfasilitasi dan
meningkatkan intensitas dan kualitas
belajar pada diri peserta didik (Udin, 2007 :1.18). Dalam hal ini pendidik secara perorangan atau secara kolektif dalam suatu sistem, merupakan ciri utama dari konsep pembelajaran. Disamping itu, ciri lain dari pembelajaran adalah adanya interaksi sosial. Interaksi sosial merupakan adanya hubungan dinamis menyangkut hubungan antara individu dengan individu, antara kelompok dengan kelompok, dan
antara idividu dengan kelompok
(Abdullah,2011:81).
Penerapan Model pembelajaran
kooperatif tipe STAD adalah suatu model
pembelajaran yang memberikan
kesempatan kepada siswa untuk bekerja
sama dengan siswa lain dalam
mengerjakan tugas-tugas terstruktur. Lebih jauh Slavin memaparkan (dalam Rusman,
2011:212) bahwa gagasan utama
dibelakang STAD adalah memacu siswa agar saling mendorong dan membantu satu sama lain untuk menguasai keterampilan yang diajarkan guru. Dalam hal ini terjadinya interaksi sosial yang secara terus-menerus dilakukan oleh siswa dan guru yang nantinya dapat melatih siswa
untuk meningkatkan kemampuan
akademik, meningkatkan kreativitas siswa untuk belajar dari berbagai sumber serta
meningkatkan motivasi belajar siswa,
meningkatkan interaksi kelompok (etnik dan status sosial) baik dalam pembelajaran di kelas maupun dalam hubungan sosial di luar kelas sehingga mutu pendidikan dan tujuan pendidikan dapat dicapai secara optimal.
Berlandaskan dari pemaparan, maka
dilakukan penelitian yang berjudul
“Pengaruh Penerapan Model Pembelajaran
Kooperatif tipe Student Teams
Achievement Division (STAD) Berbasis Interaksi Sosial terhadap Hasil Belajar IPS Kelas V SD Gugus 4 Widyasmara Klungkung tahun ajaran 2013/1014”.
METODE
Penelitian ini dilaksanakan pada siswa kelas V SD Gugus 4 Widyasmara
Klungkung Tahun Ajaran 2013/2014.
Penelitian ini dilakukan langsung oleh
peneliti dalam mengajar di kelas
eksperimen maupun dikelas kontrol dan guru kelas yang terus mendampingi dari
awal persiapan eksperimen sampai
pengakhiran eksperimen.
Prosedur penelitian ini terdapat 3 tahap, yaitu berupa persiapaan eksperimen,
pelaksanaan eksperimen, dan akhir
eksperimen. Adapun langkah-langkah yang
dilakukan dalam tahap persiapan
eksperimen meliputi : a) menyusun media pembelajaran yang digunakan selama
pembelajaran yang dilakukan pada
kelompok eksperimen (RPP, Alat peraga, LKS, dll). b) menyusun instrumen penelitian berupa tes hasil belajar pada ranah kognitif untuk mengukur hasil belajar IPS siswa. c) mengkonsultasikan instrument penelitian dengan guru IPS dan dosen pembimbing.
d) mengadakan validasi instrument
penelitian yaitu tes hasil belajar IPS. e) menentukan sampel penelitian berupa kelas dari populasi yang tersedia dengan melakukan kesetraan dengan uji-t. Langkah – langkah yang dilakukan dalam tahap pelaksanaan eksperimen meliputi : a) melaksanakan penelitian yaitu dengan
memberikan perlakuan kepada kelas
eksperimen berupa model pembelajaran kooperatif tipe Student Teams Achievement Division (STAD) berbasis interaksi sosial. b)
memberikan perlakuan kepada kelas
kontrol berupa pembelajaran konvensional. Dan langkah-langkah dalam tahap akhir eksperimen yaitu memberikan post test kepada kelas eksperimen maupun kelas kontrol.
Menentukan kelas eksperimen dan kelas kontrol dengan undianPenelitian ini dilaksanakan pada Gugus 4 Widyasmara Klungkung pada siswa kelas V tahun ajaran 2013/1014 dengan mata pelajaran IPS.
Adapun pelaksanaanya dari bulan maret
sampai bulan april tahun 2014.
Pertimbangan penelitian dilaksanakan pada Gugus 4 Widyasmara Klungkung adalah untuk mengetahui perbedaan hasil belajar
antara siswa yang belajar dengan
menggunakan model pembelajaran
kooperatif tipe Student Teams Achievement Division (STAD) berbasis interaksi sosial dengan siswa yang belajar menggunakan model pembelajaran konvensional dalam mata pelajaran IPS siswa kelas V Gugus 4
Widyasmara Klungkung tahun ajaran
2013/1014.
Jenis penelitian ini merupakan
penelitian eksperimen, penelitian ini
dikategorikan eksperimen semu. Design yang disunakan dalam penelitian ini adalah Nonequivalent Control Group Desain. Data hasil belajar IPS dalam ini diambil dari skor
post-test yang diberikan pada akhir
penelitian. Pre-test dilakukan untuk
menyetarakan kelompok dengan
memberikan tes IPS dengan materi
sebelumnya yang sudah dibelajarkan oleh guru yang bersangkutan.
Variabel dalam penelitian ini terdiri dari 2 variabel yatu variabel bebas dan variable terikat. variabel bebas dalam penelitian ini adalah model pembelajaran kooperatif tipe Student Teams Achievement Division (STAD) berbasis interaksi sosial dan variabel terikat yaitu hasil belajar IPS. Dalam suatu penelitian , populasi dan sampel sangat diperlukan karena akan
dijadikan sebagai subjek penelitian.
Populasi adalah keseluruhan atau
himpunan objek dengan ciri yang sama, populasi terdiri dari orang, benda, kejadian, waktu dan tempat dengan sifat atau ciri yang sama (Darmadi, 2011:14). Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas V SD Gugus 4 Widyasmara Klungkung Tahun Ajaran 2013/2014 yang berjumlah sebanyak 216 siswa. Sampel merupakan sebagian dari populasi yang dijadikan objek penelitian (Darmadi:2011:14).
Sampel dalam penelitian ini diambil dengan menggunakan teknik purposive sampling yaitu pengambilan sampel yang dilakukan dengan menunjuk langsung siapa
yang akan menjadi sample dalam
penelitian, tetapi pemilihannya didasarkan
pada tujuan spesifikasi dari penelitian yang dilakukan (Musfiqon 2012:96). Teknik ini digunakan bertujuan untuk menemukan sampel yang memiliki jumlah siswa 30 orang atau lebih perkelasnya sehingga semakin banyak jumlah sampel maka kemungkinan besar sebaran data akan berdistribusi normal. Setelah diadakan
teknik purposive sampling, ditemukan
sampel yang memiliki jumalah siswa 30 keatas yaitu SDN 1 Semarapura klod dan SDN 3 Semarapura Klod yang terdiri dari 3 kelas. Kemudian ketiga kelas tersebut diuji kesetaraannya dengan uji-t.
Namun sebelumnya dilakukan uji prasyarat yang meliputi uji normalitas dan uji homogenitas sebanyak 3 kali yaitu kelas VA dengan kelas VB SDN 1 Semarapura Klod, kelas VB SDN 1 Semarapura Klod dengan kelas V SDN 3 Semarapura Klod dan kelas V SDN 3 Semarapura Klod dengan kelas VA SDN 1 Semarapura Klod. Kemudian telah diperoleh bahwa hasil pre-test kelas VA dan VB SDN 1 Semarapura Klod dan SDN 3 Semarapura Klod berdistribusi normal dan homogen. Setelah itu dilanjutkan dengan uji t polled varians.
Hasil perhitungan pre-test kelas VA dan VB SDN 1 Semarapura Klod diperoleh t hitung sebesar 0,16 . Sedangkan ttabel pada taraf signifikansi 5 % dan dk = n1 + n2 – 2 = 33 + 30 – 2 = 61, adalah 1,98. Oleh karena itu nilai thitung < ttabel, maka kedua kelompok dinyatakan Setara.
Hasil perhitungan pre-test kelas VB SDN 1 Semarapura Klod dan kelas V SDN 3 Semarapura Klod diperoleh t hitung sebesar -0,05 . Sedangkan ttabel pada taraf signifikansi 5 % dan dk = n1 + n2 – 2 =
30+ 32 – 2 = 60, adalah 1,98. Oleh karena
itu nilai thitung < ttabel, maka kedua kelompok
dinyatakan Setara
Hasil perhitungan pre-test kelas V SDN 3 Semarapura Klod dan VA SDN 1
Semarapura Klod diperoleh t hitung
sebesar -0,12. Sedangkan ttabel pada taraf signifikansi 5 % dan dk = n1 + n2 – 2 = 32 + 33 – 2 = 63, adalah 1,98. Oleh karena itu nilai thitung < ttabel, maka kedua kelompok dinyatakan Setara
Setelah diketahui bahwa ketiga
kelompok dinyatakan setara, kemudian untuk menentukan kelas eksperimen dan
Didapat siswa kelas VA SDN 1 Semarapura Klod sebagai kelas eksperimen dan siswa kelas V SDN 3 Semarapura Klod sebagai kelas kontrol.
Data yang dikumpulkan dalam
penelitian ini adalah hasil belajar IPS. Pengumpulan data dilakukan dengan metode tes. Menurut Arikunto (2010:193) Tes adalah serentetan pertanyaan atau latihan serta alat lain yang digunakan untuk
mengukur ketrampilan, pengetahuan
intelegensi, kemampuan atau bakat yang dimiliki oleh individu atau kelompok. Bentuk tes dalam penelitian ini adalah bentuk tes objektif dengan tipe pilihan ganda biasa sebanyak 30 soal. Sebelum digunakan untuk mengambil data penelitian, tes
tersebut diujicobakan terlebih dahulu
dikelas 6. Tes tersebut diujicobakan untuk memperoleh kelayakan suatu tes yang nantinya dipergunakan sebagai instrumen penelitian. Uji coba instrument meliputi: (1) Uji Validitas, (2) Uji reliabelitas, (3) Uji Daya Beda, (4) Uji Tingkat Kesukaran.
Berdasarkan hasil uji validitas, dari 50 soal berdasarkan hasil perhitungan dengan
menggunakan rtabel terdapat 36 soal yang
valid dan 14 soal yang tidak valid.
Berdasarkan analisis uji reliabilitas
diperoleh r11 = 1.01 dan rtabel = 0.70
sehingga r11 lebih dari r tabel (1.01 > 0.70)
maka tes tergolong reliabel. Kemudian berdasarkan hasil perhitungan uji daya beda, terdapat 2 butir soal dengan kriteria jelek, 15 butir soal dengan kriteria cukup, dan 19 butir soal dengan kriteria baik. Dan
berdasarkan hasil perhitungan tingkat
kesukaran, terdapat 9 butir soal dengan kriteria sukar, 15 butir soal dengan kriteria sedang, dan 12 butir soal dengan kriteria mudah. Hasil pengujian ini digunakan sebagai instrumen penelitian yang akan
diberikan kepada siswa pada kelas
eksperimen dan kelas kontrol setelah siswa diberikan perlakuan sebagai instrumen post test untuk mengukur hasil belajar IPS siswa.
Setelah data hasil belajar yang meliputi ranah kognitif terkumpul, data hasil belajar tersebut di analisis dengan uji hipotesis. Sebelum dilakukan uji hipotesis terhadap data hasil belajar, sebelumnya akan dilakukan uji prasyarat yang meliputi uji normalitas dan uji homogenitas.
Kemudian Untuk uji prasyarat analisis menggunakan uji normalitas sebaran data dengan uji Chi-Kuadrat untuk menyajikan bahwa sampel benar-benar berasal dari populasi yang berdistribusi normal. Uji normalitas dimaksudkan untuk mengetahui apakah uji hipotesis dengan statistik parametrik bisa dilakukan atau tidak. Setelah dilakukan uji normalitas dilanjutkan dengan uji homogenitas. Uji homogenitas
dilakukan untuk menunjukkan bahwa
perbedaan yang terjadi pada uji hipotesis
benar-benar terjadi akibat adanya
perbedaaan antar kelompok, bukan sebagai akibat perbedaan dalam kelompok. Uji homogenitas varians untuk kedua kelompok diuji dengan menggunakan uji F dan jika dari hasil uji normalitas dan homogenitas
varians, diketahui bahwa sampel
berdistribusi normal dan homogen, maka dapat dilakukan atau dilanjutkan dengan uji hipotesis. Uji hipotesis yang digunakan adalah uji t-test. Hipotesis yang diuji dalam penelitian ini adalah Ho = tidak terdapat perbedaan hasil belajar IPS yang signifikan antara siswa yang mengikuti pembelajaran dengan model pembelajaran Kooperatif tipe
Student Teams Achievement Division
(STAD) berbasis Interaksi Sosial dan siswa yang mengikuti pembelajaran konvensional pada siswa kelas V SD gugus 4
Widyasmara Klungkung tahun ajaran
2013/1014.
Uji statistik yang digunakan dalam penelitian ini adalah t-test sampel related.
Uji t-test ini digunakan untuk
membandingkan sebelum dan sesudah treatment atau membandingkan kelompok control dengan kelompok eksperimen HASIL DAN PEMBAHASAN
Data dalam penelitian ini
dikelompokkan menjadi dua, yaitu : a) kelas eksperimen yaitu siswa yang mengikuti pembelajaran dengan menerapkan model pembelajaran Kooperatif Tipe Student
Teams Achievement Division (STAD)
berbasis interaksi sosial. b) kelas kontrol yaitu siswa yang mengikuti pembelajaran
dengan menerapkan pembelajaran
konvensional.
Data hasil belajar IPS siswa setelah dianalisis diperoleh rata-rata nilai hasil belajar IPS yaitu nilai kognitif (post test)
untuk kelompok eksperimen yang dibelajarkan dengan menerapkan model
pembelajaran kooperatif tipe Student
Teams Achievement Division (STAD)
berbasis interaksi sosial adalah 80,09 dengan varians 67,21 dan standar 8,19 sedangkan nilai rata-rata kelompok kontrol yang mengikuti pembelajaran konvensional adalah 68,69 dengan varians sebesar 78,84 dan standar deviasi 8,87.
Skor hasil belajar IPS yang mengikuti
model pembelajaran pembelajaran
kooperatif tipe Student Teams Achievement Division (STAD) berbasis interaksi sosial yaitu siswa kelas VA SD Negeri 1 Semarapura Klod menunjukkan bahwa skor tertinggi yang dicapai siswa adalah 93 dari skor tertinggi yang mungkin dicapai siswa adalah 100, sedangkan skor terendah yang dicapai adalah 60 dari skor yang mungkin dicapai adalah 0.
Untuk lebih jelas, dapat dilihat pada tabel 1.
Tabel 1. Rekapitulasi Hasil Analisis Nilai Hasil Belajar IPS Siswa
Hasil Analisis Kelompok
Eksperimen Kelompok Kontrol Nilai Terbesar 93 87 Nilai Terkecil 60 53 Rentangan 33 34
Banyak Kelas Interval 6 6
Panjang Kelas Interval 5,5 5,3
Mean 80,09 68,69
Median 80 67
Modus 80 63
Standar Deviasi 8,19 8,87
Hasil perhitungan di atas,
menunjukkan bahwa pengelompokkan
distribusi frekuensi untuk hasil belajar IPS siswa kelas VA SDN 1 Semarapura Klod dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Student Teams Achievement Division (STAD) berbasis interaksi sosial diperoleh presentase 75,75% atau 25 siswa yang hasil belajarnya berkategori sangat baik, 24,24 atau 8 siswa yang hasil belajarnya berkategori baik.
Kemudian skor hasil belajar IPS yang mengikuti pembelajaran konvensional siswa
kelas V SDN 3 Semarapura Klod
menunjukkan bahwa skor tertinggi yang dicapai siswa 83 dari skor tertinggi yang
mungkin dicapai siswa adalah 100,
sedangkan skor terendah yang dicapai adalah 53 dari skor yang mungkin dicapai adalah 0.
Hasil perhitungan di atas,
menunjukkan bahwa pengelompokkan
distribusi frekuensi untuk hasil belajar IPS siswa kelas V SDN 3 Semarapura Klod
dengan menggunakan pembelajaran
konvensional diperoleh presentase 28,12% atau 9 siswa yang hasil belajarnya berkategori sangat baik, 68,71% atau 22 siswa yang hasil belajarnya berkategori baik dan 3,12% atau 1 siswa yang hasil belajarnya berkategori cukup baik.
Hal ini menunjukkan bahwa kelompok eksperimen yang mengikuti pembelajaran dengan model pembelajaran kooperatif tipe
Student Teams Achievement Division
(STAD) berbasis interaksi sosial rata-rata nilai hasil belajar IPS lebih besar dari pada
kelompok kontrol yang mengikuti
pembelajaran konvensional. Sebelum
melakukan uji hipotesis, terlebih dahulu dilakukan uji prasyarat yakni : uji normalitas dan uji homogenitas.
Uji normalitas data dilakukan pada dua kelompok data, meliputi data kelompok eksperimen yang dibelajarkan dengan
menggunakan model pembelajaran
kooperatif tipe Student Teams Achievement Division (STAD) berbasis interaksi sosial dan data kelompok kontrol menggunakan pembelajaran konvensional. Uji normalitas
sebaran data dilakukan menggunakan Chi-Kuadrat .
Berdasarkan hasil perhitungan uji normalitas kelompok eksperimen . Dari tabel kerja diperoleh x2hit = 3,65 sedangkan
untuk taraf signifikan 5% (α = 0,05) dan derajat kebebasan (db) = 5 diperoleh x2tabel
= x2 (0,05,5) = 11,07, karena x2tabel > x2hit ,
ini berarti sebaran data nilai akhir kelompok eksperimen yang dibelajarkan dengan
menggunakan model pembelajaran
kooperatif tipe Student Teams Achievement
Division (STAD) berbasis interaksi sosial berdistribusi normal.
Sedangkan hasil perhitungan uji
normalitas kelompok kontrol .Dari tabel
kerja diperoleh x2hit = 1,72 sedangkan untuk
taraf signifikan 5% (α = 0,05) dan derajat kebebasan (db) = 5 diperoleh x2tabel = x2
(0,05,5) = 11,07, karena x2tabel > x2hit , ini
berarti sebaran data nilai akhir kelompok
kontrol yang dibelajarkan dengan
menggunakan pembelajaran konvensional berdistribusi normal. Untuk lebih jelas, uji normalitas dapat dilihat pada tabel 2.
Tabel 2. Hasil Uji Normalitas Kelompok Eksperimen dan Kelompok Kontrol
No Kelas X2hitung X2tabel Keterangan
1 Eksperimen 3,65 11,07 Normal
2 Kontrol 1,72 11,07 Normal
Uji homogenitas varian dilakukan berdasarkan data hasil belajar IPS yang meliputi data kelompok eksperimen yang dibelajarkan melalui model pembelajaran kooperatif tipe Student Teams Achievement Division (STAD) berbasis interaksi sosial dan kelompok kontrol yang dibelajarkan melalui pembelajaran konvensional. Jumlah kelompok eksperimen adalah 33 siswa dan jumlah kelompok kontrol adalah 32 siswa. Uji homogenitas varian menggunakan uji F. Kriteria pengujian jika Fhitung < Ftabel maka
sampel homogen.
Dari hasil perhitungan diperoleh Fhitung
sebesar 1,17 ini kemudian dibandingkan
dengan nilai Ftabel. Derajat kebebasan
pembilang 32 – 1 = 31 dan derajat
kebebasan penyebut 33 – 1 = 32 dengan
taraf signifikansi 5 %, maka diperoleh Ftabel
= 1,85. Nilai Fhitung < Ftabel , ini berarti nilai
post-tes IPS ke dua sekolah yaitu SD
Negeri 1 Semarapura Klod dengan SD Negeri 3 Semarapura Klod Homogen.
Berdasarkan hasil pengujian
normalitas dan homogenitas diperoleh bahwa data yang didapat dari kelas eksperimen dan kelas kontrol berdistribusi normal dan homogen. Berdasarkan hal tersebut, maka dilakukan uji hipotesis
dengan menggunakan uji-t. Kriteria
pengujian adalah Ho ditolak jika thitung > ttabel
dengan derajat kebebasan dk = n1 + n2 – 2
dan α = 5%. Hipotesis penelitian yang diuji adalah tidak terdapat perbedaan yang signifikan model pembelajaran kooperatif tipe Student Teams Achievement Division (STAD) berbasis interaksi sosial dengan pembelajaran konvensional terhadap hasil belajar IPS siswa kelas V SD Gugus 4 Widyasmara Klungkung. Untuk menguji hipotesis digunakan uji-t. Hasil uji hipotesis
dapat dibaca pada tabel 3.
Tabel 3. Analisis Uji-t
Kelas Mean Skor Nilai thitung Nilai ttabel Hipotesis Alternatif Eksperimen 80,09 2,54 1,98 Ha Diterima Kontrol 68,69 2,52 1,98 Ha Diterima
Berdasarkan uji-t diperoleh diperoleh thitung sebesar 2,54. Dengan menggunakan
taraf signifikansi 5% dan dk = 63 diperoleh batas penolakan hipotesis nol sebesar 1,98 thitung> ttabel berarti hipotesis yang
menyatakan bahwa terdapat perbedaan hasil belajar IPS yang signifikan yang
antara mengikuti model pembelajaran
kooperatif tipe Student Teams Achievement Division (STAD) berbasis interaksi sosial dan siswa yang mengikuti pembelajaran konvensional pada siswa kelas V SD Gugus 4 Widyasmara Klungkung pada taraf
signifikansi 0,05 diterima. Hal ini
mengandung arti bahwa siswa yang dibelajarkan melalui model pembelajaran kooperatif tipe Student Teams Achievement Division (STAD) berbasis interaksi sosial hasil belajarnya lebih baik daripada siswa yang dibelajarkan dengan menggunakan model pembelajaran konvensional.
Hal-hal yang menyebabkan terjadinya perbedaan hasil belajar antara kelompok
eksperimen dengan kelompok kontrol
antara lain : kelompok eksperimen yang dibelajarkan melalui model pembelajaran kooperatif tipe Student Teams Achievement Division (STAD) berbasis interaksi sosial
dalam pembelajarannya dibentuk
kelompok-kelompok belajar secara
heterogen untuk menyelesaikan tugas yang diberikan oleh guru. Siswa di dalam
kelompok melakukan interaksi, saling
mendorong dan memotivasi semangat agar bisa berhasil bersama. Dalam kelompok ini siswa dapat mengembangkan ketrampilan
berdiskusi, dan dapat bertukar
pengetahuan sehingga setiap siswa akan lebih aktif berperan dalam interaksi di
dalam kelompok. Dalam proses
pembelajaran hendaknya berlangsung
beberapa interaksi , yaitu interaksi antara guru dengan siswa, siswa dengan siswa, siswa dalam kelompok atau siswa secara individual. Penghargaan prestasi tim pada
akhir pembelajaran selalu diberikan.
Penghargaan yang diberikan kepada tim yang mendapatkan nilai tertinggi dalam pembelajaran menumbuhkan semangat, minat serta motivasi dalam pembelajaran
sebagai faktor-faktor individual yang
mempengaruhi hasil belajar yang pada
akhirnya berpengaruh terhadap hasil
belajar siswa.
Adapun langkah-langkah model
Langkah-langkah pembelajaran kooperatif tipe Student Teams Achievement Division (STAD) ini didasarkan pada langkah-langkah kooperatif yang terdiri dari 6 langkah, yaitu : Tahap 1, penyampaian
tujuan dan motivasi dimana guru
menyampaikan tujuan pelajaran yang ingin dicapai pada pembelajaran tersebut dan memotivasi siswa untuk belajar, Tahap 2 adalah pembagian kelompok yaitu siswa dibagi menjadi beberapa kelompok, dimana setiap kelompoknya terdiri dari 5 sampai 6 siswa yang memprioritaskan heterogenitas atau keragaman kelas dalam prestasi akademik , jenis kelamin, rasa atau etnik. Tahap 3 adalah presentasi dari guru yaitu
Guru menyampaikan materi pelajaran
terlebih dahulu menjelaskan tujan pelajaran yang ingin dicapai pada pertemuan tersebut serta pentingnya pokok bahasan tersebut dipelajari. Guru memberi motivasi siswa agar dapat belajar dengan aktif dan kreatif. Di dalam proses pembelajaran guru dibantu oleh media, demonstrasi, pertanyaan atau
masalah nyata yang terjadi dalam
kehidupan sehari-hari. Dijelaskan juga tentang keterampilan dan kemampuan yang diharapkan dikuasai oleh siswa, tugas dan pekerjaan yang harus dilakukan serta cara-cara mengerjakannya. Tahap 4 adalah kegiatan belajar dalam tim Siswa belajar dalam kelompok yang sudah dibentuk sedangkan guru menyiapkan lembaran
kerja sebagai pedoman bagi kerja
kelompok, sehingga semua anggota
menguasai dan masing-masing
memberikan kontribusi. Selama team
bekerja, guru melakukan pengamatan, memberi bimbingan, dorongan dan bantuan bila diperlukan. Kerja team ini merupakan ciri terpenting dari STAD. Tahap 5 adalah Kuis (Evaluasi) yaitu Guru mengevaluasi hasil belajar melalui pemberian kuis tentang materi yang dipelajari dan juga melakukan penilaian terhadap presentasi hasil kerja masing-masing kelompok. Siswa diberikan kuis secara individual dan tidak dibenarkan bekerja sama. Ini dilakukan untuk menjamin agar siswa secara individu bertanggung jawab kepada diri sendiri dalam memahami
bahan ajar tersebut. Dan yang terakhir tahap 6 adalah Penghargaan prestasi tim yaitu setelah pelaksanaan kuis, guru memeriksa hasil kerja siswa dan diberikan angka dengan rentang 0 – 100. Selanjutnya pemberian penghargaan atas keberhasilan kelompok.
Sedangkan di kelas kontrol yang
dibelajarkan melalui pembelajaran
konvensional dalam pembelajarannya lebih berpusat kepada guru, guru sebagai subjek pembelajaran yang menyampaikan materi pembelajaran. Setelah penyampaian materi siswa diberikan tugas masing-masing. Hal ini menyebabkan siswa cenderung kurang aktif karena kurang adanya interaksi sosial yang positif antara siswa satu dengan siswa lainnya seperti tutor sebaya sehingga menyebabkan siswa merasa bosan dalam
pembelajaran, kurang dapat
mengembangkan pola pikir siswa,
pembelajaran yang monoton membuat
siswa kurang termotivasi dalam
pembelajaran sehingga menimbulkan
keributan di kelas karena pembelajaran menjadi kurang menarik dan kurang
menyenangkan. Dengan demikian
menurunnya motivasi dan minat siswa dalam pembelajaran konvensional di kelas kontrol yang merupakan salah satu faktor individual hasil belajar menyebabkan hasil belajar kelompok eksperimen lebih besar dibandingkan dengan kelompok kontrol.
Hal ini sejalan dengan
keunggulan Pembelajaran kooperatif tipe Student Team Achievement Division (STAD yaitu (a) Siswa bekerja sama dalam mencapai tujuan dengan menjunjung tinggi norma-norma kelompok. (b) Siswa aktif membantu dan memotivasi semangat untuk berhasil bersama. (c) Aktif berperan
sebagai tutor sebaya untuk lebih
meningkatkan keberhasilan kelompok. (d) Interaksi antar siswa seiring dengan peningkatan kemampuan mereka dalam
berpendapat. (e) Dapat memberikan
kesempatan kepada siswa untuk
menggunakan keterampilan bertanya dan membahas suatu masalah. (f) Dapat memberikan kesempatan kepada siswa
untuk lebih intensif mengadakan
penyelidikan mengenai suatu masalah. (g)
Dapat mengembangkan bakat
kepemimpinan dan mengajarkan
keterampilan berdiskusi. (h) Dapat
memungkinkan guru untuk lebih
memperhatikan siswa sebagai individu dan kebutuhan belajarnya. (i) Para siswa lebih aktif bergabung dalam pelajaran mereka dan mereka lebih aktif dalam diskusi. (j) Dapat memberikan kesempatan kepada
siswa untuk mengembangkan rasa
menghargai, menghormati pribadi
temannya, dan menghargai pendapat orang lain.
Hal tersebut juga didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Adnyani Putri (2012) yang menyatakan terdapat pengaruh penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Student Teams Achivement Division (STAD) terhadap hasil belajar pendidikan kewarganegaraan pada siswa kelas IV SD di gugus VII Kediri Tabanan 2012. Beserta penelitian yang dilakukan Ami Diantini (2012) yang menyatakan
terdapat pengaruh penerapan model
pembelajaran kooperatif tipe Student
Teams Achivement Division (STAD)
terhadap hasil belajar matematika siswa kelas V SD gugus Ubud Tahun Ajaran 2012/2013.
Dengan demikian hal ini mendukung hipotesis yang menyatakan bahwa terdapat perbedaan hasil belajar IPS yang signifikan antara siswa yang mengikuti pembelajaran dengan model pembelajaran kooperatif tipe
Student Teams Achievement Division
(STAD) berbasis interaksi sosial dan siswa yang mengikuti pembelajaran konvensional pada siswa kelas V SD gugus 4
Widyasmara Klungkung tahun ajaran
2013/1014.
SIMPULAN DAN SARAN
Berdasarkan hasil penelitian dan
pembahasan mengenai model
pembelajaran kooperatif tipe Student
Teams Achievement Division (STAD)
berbasis interaksi sosial maka, dapat disimpulkan sebagai berikut.
Dari hasil analisis uji-t menunjukkan bahwa thitung = 2,54 dan ttabel = 1,98 dengan
derajat kebebasan (dk) = 63 dan taraf signifikan 5%. Berdasarkan hal tersebut, thitung > ttabel (2,54 > 1,98 ) maka Ho ditolak
dan Ha diterima. Hal ini berarti terdapat perbedaan hasil belajar IPS yang signifikan
pembelajaran kooperatif tipe Student
Teams Achievement Division (STAD)
berbasis interaksi sosial dan siswa yang mengikuti pembelajaran konvensional pada siswa kelas V SD Gugus 4 Widyasmara
Klungkung tahun ajaran 2013/1014.
Berdasarkan hasil post tes diketahui
bahwa rata-rata hasil belajar kelas
eksperimen lebih besar dari kelas kontrol (80,09 > 68,69), sehingga dapat dikatakan
bahwa rata-rata hasil belajar kelas
eksperimen yang dibelajarkan melalui
model pembelajaran kooperatif tipe Student
Teams Achievement Division (STAD)
berbasis interaksi sosial lebih baik dari kelas kontrol yang dibelajarkan melalui pembelajaran konvensional.
Jadi dapat disimpulkan terdapat
Pengaruh Model Pembelajaran Koopertif Tipe Student Teams Achievement Division (STAD) berbasis interaksi sosial Terhadap Hasil Belajar IPS Siswa Kelas V SD Gugus 4 Widyasmara Klungkung tahun ajaran 2013/1014.
Berdasarkan kesimpulan, maka dapat diajukan beberapa saran sebagai berikut.
Bagi Siswa, Pada saat dilakukan kegiatan berkelompok, siswa hendaknya berani menyampaikan pendapat dan siswa harus lebih serius mengikuti kegiatan pembelajaran dengan sumber belajar yang baik agar pengetahuan yang didapat bermanfaat dan terserap secara maksimal.
Bagi Guru, Guru hendaknya
memotivasi siswa dalam kegiatan
pembelajaran dengan memanfaatkan
berbagai sumber belajar yang dapat
menciptakan suasana belajar yang
menyenangkan sehingga siswa tidak
merasa bosan pada saat mengikuti
kegiatan pembelajaran salah satunya
dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe Student Teams Achievement
Division (STAD) di dalam proses
pembelajaran.
Bagi Kepala Sekolah, Dalam proses
pembelajaran agar siswa bisa lebih
termotivasi untuk belajar, sekolah
hendaknya menyediakan sarana dan
prasarana yang maksimal agar kegiatan pembelajaran berjalan secara kondusif dan
terciptanya suasana belajar yang
menyenangkan.
Bagi Peneliti Lain, Bagi peneliti lain diharapkan nantinya saat melaksanakan penelitian dapat melakukan penelitian yang serupa pada mata pelajaran lain di SD sehingga dapat memberikan manfaat bagi siswa dan memberikan pengaruh yang lebih baik terhadap hasil belajar siswa. DAFTAR RUJUKAN
Abdullah, Idi. 2011. Sosiologi Pendidikan. Jakarta: Rajawali Pers.
Ahmadi, Abu. 2007. Sosiologi Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta.
Arikunto, Suharsimi. 2010. Prosedur
Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta.
Ayu Putu Adnyani Putri. 2012. Pengaruh
Penerapan Model Pembelajaran
Kooperatif tipe Student Teams
Achievement Division (STAD)
Terhadap Hasil Belajar Pendidikan Kewarganegaraan Pada Siswa Kelas IV SD di Gugus VI Kediri Tabanan 2012. Skripsi (tidak diterbitkan ). Jurusan Pendidikan Guru Sekolah
Dasar. Unversitas Pendidikan
Ganesha.
Darmadi, Hamid. 2011. Metode Penelitian Pendidikan.Pontianak: Alfabeta, cv. Gunawan, Rudy. 2011. Pendidikan IPS.
Bandung: Alfabeta.
Majid, Abdul. 2013. Strategi Pembelajran. Bandung: Remaja Rosdakarya
.
Musfiqon. 2012. Metodelogi Penelitian
Pendidikan. Jakarta : Prestasi
Pustaka.
Ni Wayan Ami Diantini. 2012. Pengaruh
Penerapan Model Pembelajaran
Kooperatif tipe Student Teams
Achievement Division (STAD)
Terhadap Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas V SD Gugus Ubud Tahun Ajaran 2012/2013. Skripsi (tidak diterbitkan ). Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar. Unversitas Pendidikan Ganesha.
Sudijono, Anas. 2011. Pengantar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Rusman. 2011. Model-model Pembelajaran
Mengembangkan Profesionalisme
Guru. Jakarta: Rajawali Pers.
Sanjaya, Wina. 2008. Strategi
Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Kencana Prenada Media.
Udin,Wiranataputra. 2007. Teori Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Universitas Terbuka.