WARISAN
BERDARAH
Oleh Teguh Suprianto
Cetakan pertama
Penerbit Cintamedia, Jakarta
Penyunting: Puji S.
Hak cipta pada Penerbit
Dilarang mengcopy atau memperbanyak sebagian
atau seluruh isi buku ini tanpa izin tertulis dari
penerbit
Teguh Suprianto
Serial Pendekar Rajawali Sakti
dalam episode:
Warisan Berdarah
128 hal ; 12 x 18 cm
1
Suara gamelan mengalun merdu ditabuh para nayaga yang duduk berjajar di sebuah panggung be-sar. Malam yang biasanya gelap gulita, tampak terang benderang oleh cahaya api obor yang terpancang di se-tiap sudut halaman besar sebuah rumah yang di pada-ti orang. Segala macam pada-tingkah dan celoteh di sertai derai tawa terdengar semarak mengimbangi alunan gamelan.
Suasana malam ini terasa begitu hangat, meskipun angin saat itu berhembus kencang mena-burkan udara dingin menusuk kulit. Keceriaan terlihat di wajah semua orang yang memenuhi halaman dan bagian dalam rumah besar itu. Bukan hanya orang dewasa saja, bahkan anak-anak pun ikut menikmati kegembiraan itu.
"Beruntung sekali anak Ki Murad ya, Kang...?" terdengar gumaman seseorang yang berdiri agak ter-lindung di sudut halaman dekat pohon beringin.
"Hm...," orang bertubuh gemuk dan berperut buncit, hanya menggumam saja. Pandangan matanya tidak lepas ke arah sepasang mempelai yang duduk di pelaminan berwajah cerah penuh senyum.
"Seharusnya kaulah yang duduk di situ, Kang Wregu, Bukan si Wiraguna...!" agak tertahan nada suara anak muda itu.
Lelaki yang diajak bicara hanya diam saja. Se-pasang bola matanya tidak berkedip memandangi mempelai yang duduk didampingi kedua orang tua masing-masing. Begitu banyak tamu yang hadir, kare-na mempelai wanita adalah akare-nak orang terpandang di Desa Kali Wungu ini. Namanya, Ki Danupaya. Orang
tua laki-laki mempelai wanita itu tidak hanya sebagai saudagar kaya tapi juga sangat berkuasa. Ki Danupaya benar-benar melebihi kepala desa sendiri. Bahkan ka-lau kepala desanya tidak disukai maka dengan mudah dia bisa menggantikannya.
"Ayo kita pulang, Situyu," ajak Wregu seraya membalikkan rubuh dan melangkah di samping Wre-gu.
Kedua laki-laki berusia muda itu berjalan ber-sisian tanpa banyak bicara lagi. Sementara malam se-makin larut. Tapi orang-orang yang menghadiri pesta pernikahan itu, terus saja berdatangan. Bahkan sema-kin jauh malam, semasema-kin meriah saja suasananya.
Bukan hanya penduduk desa ini saja yang ber-datangan, tapi juga dari penduduk desa-desa lain. Ka-lau saja bukan orang yang terpandang dan mempunyai kekuasaan, mungkin pesta itu tidak akan semeriah ini. Suara gamelan terus mengalun membuat suasana se-makin hangat dan meriah. Para penari terus berleng-gak-lenggok mengikuti irama gamelan yang ditabuh para nayaga di atas panggung.
Sementara di sudut lain terlihat dua orang wa-nita muda dengan wajah cukup cantik duduk di se-buah bangku di bawah pohon kemuning. Pandangan mereka juga tidak berkedip ke arah sepasang mempe-lai yang tidak henti-hentinya memberikan senyum pa-da setiap tamu yang hadir.
"Mereka kelihatan bahagia sekali, Rukmini," ujar salah seorang yang mengenakan baju merah mu-da cukup ketat.
"Hanya sebentar," desah wanita berbaju biru yang dipanggil Rukmini. "Tidak lama juga akan mende-rita. Lihat saja nanti, Selasih."
Ka-lau aku jadi kau, sudah kubunuh si Wiraguna sebelum naik ke pelaminan!" agak mendesis suara wanita yang bernama Selasih.
"Seumur hidup, tidak akan hilang rasa sakit di hatiku ini, Selasih."
"Bukan hanya kau. Tapi banyak gadis lain yang berperasaan begitu. Aku tahu betul, siapa itu Wiragu-na. Apalagi ayahnya...," sambung Selasih.
Rukmini menoleh, menatap sahabatnya. Ada sebentuk senyuman tipis menghiasi bibirnya yang tipis dan merah menggoda. Sejak kecil mereka sudah ber-sahabat, dan tak ada satu pun yang menjadi rahasia di antara dua orang itu. Bahkan sampai ke hal-hal yang bersifat pribadi sekalipun, selalu terbuka.
"Kuharap, ini malam terakhir mereka bisa ter-tawa dan tersenyum bahagia," desah Rukmini.
"Harus!" sambut Selasih mantap agak mende-sis.
Kedua wanita muda itu saling berpandangan. Entah kenapa, mereka sama-sama melemparkan se-nyuman tipis dan hambar, kemudian bangkit berdiri. Kini mereka telah melangkah meninggalkan keramaian itu, tanpa ada yang bicara lagi. Mereka tidak lagi memperdulikan semua yang terjadi, semua keramaian, keceriaan, dan senda gurau serta tawa lepas yang me-mecah keheningan malam ini.
Malam yang membuat semua orang ceria, ter-tawa bahagia. Tapi ada beberapa orang yang tampak tidak menikmati semua itu. Terutama mereka yang merasa punya hubungan, atau merasa dirugikan atas semua pesta hajat yang besar dan meriah ini. Entah apa yang terjadi, hanya mereka sendiri yang tahu.
Malam masih terlalu dingin. Namun kehanga-tan masih bisa juga menyelimuti sekitar rumah besar milik Ki Danupaya. Meskipun sepasang mempelai su-dah tidak berada lagi di pelaminan, namun masih saja banyak tamu yang belum beranjak dari tempatnya. Bahkan Ki Danupaya sendiri belum juga beranjak, dan tengah dikelilingi sahabat-sahabatnya.
Dinginnya udara malam juga tidak terasa di da-lam sebuah kamar yang cukup besar dengan penataan apik sehingga terlihat indah. Dua tubuh tergolek ber-simbah keringat di atas pembaringan yang beralaskan kain sutra halus berwarna merah muda. Desah napas memburu dan rintihan lirih masih terdengar meng-ganggu gendang telinga. Mereka tidak lagi mempeduli-kan suara-suara bising di luar sana. Juga tidak mem-pedulikan angin dingin yang menyusup masuk dari ce-lah-celah jendela.
"Ah...!" tiba-tiba saja salah seorang memekik tertahan.
Dan tubuh yang berada di atas, mengejang se-saat. Kemudian mendesah panjang sambil menjatuh-kan dirinya yang bersimbah keringat ke samping. Se-saat lamanya suasana di dalam kamar itu hening sepi. Tarikan-tarikan napas mulai terdengar teratur.
Brak!
Tiba-tiba saja jendela kamar itu terhempas kencang, membuat sepasang insan yang tengah tergo-lek berpelukan itu terlonjak kaget. Dan belum lagi dis-adari apa yang terjadi, tahu-tahu sebuah bayangan hi-tam berkelebat masuk. Arahnya langsung ke pemba-ringan, diikuti kelebatannya satu cahaya keperakan. Dan belum ada yang bisa menyadari apa yang terjadi, tahu-tahu....
"Aaa...!" satu jeritan melengking terdengar ke-ras menyayat.
Tak berapa lama, terdengar keluhan tertahan. Bayangan hitam itu kembali berkelebat melompat ke-luar dari jendela yang terbuka berantakan. Tampak di pundaknya memanggul sesosok tubuh yang terbung-kus kain selimut tebal.
Tak ada yang mengetahui. Semua kejadian itu sangat cepat, sukar untuk diikuti mata. Suasana di dalam kamar itu kembali hening, tak terdengar satu mata pun di sana. Sementara di luar, suara tawa dan kelakar masih terdengar riuh mengimbangi alunan merdu suara gamelan.
"Nurmi...!" terdengar suara panggilan dari luar kamar, diikuti ketukan pintu berulang-ulang.
Suara panggilan dan ketukan itu semakin ser-ing dan keras terdengar. Tapi tak ada sahutan sama sekali. Suara ketukan itu seketika berubah menjadi gedoran keras. Pintu kamar itu bergetar hebat, dan.... Brak!
"Nurmi...!" pekik seorang laki-laki setengah baya yang tiba-tiba saja muncul di ambang pintu ka-mar itu.
Laki-laki setengah baya berbaju indah bersu-lam itu langsung menerobos masuk. Kedua bola ma-tanya membeliak begitu mendapati sesosok tubuh ter-bujur kaku dengan leher terbabat hampir putus. Da-rah mengalir membasahi pembaringan. Laki-laki se-tengah baya itu bergegas lari ke jendela yang terbuka lebar.
"Penjaga...!" serunya keras.
Tidak berapa lama, enam orang laki-laki muda bersenjata golok di pinggang berhamburan masuk. Dan mereka semua terperangah begitu melihat di
pembaringan terbujur sesosok tubuh yang lehernya hampir putus berlumuran darah. Tidak berapa lama kemudian, muncul seorang laki-laki tua berjubah pu-tih panjang membawa tongkat yang bagian kepalanya bulat berkilat.
"Wiraguna...! Oh..., tidak...!" sentak laki-laki tua berjubah putih panjang itu, langsung memburu ke pembaringan.
Laki-laki tua itu seperti tidak percaya apa yang dilihatnya. Kemudian ditubruknya tubuh terbujur itu, dan diguncang-guncangnya disertai rintihan keras. Beberapa orang mulai berdatangan memadati kamar itu. Dan mereka yang mengetahui, langsung terpekik tertahan. Kesunyian langsung mengurung seluruh kamar ini. Dan tiba-tiba saja suara gamelan dan canda tawa di luar sana terhenti seketika.
Malam yang semula semarak itu, seketika jadi sunyi sepi. Wajah murung dengan sorot mata setengah tidak percaya terpancar dari orang yang memadati ruangan itu. Seorang laki-laki setengah baya yang per-tama kali masuk, menghampiri laki-laki tua yang ten-gah menangisi tubuh terbujur di pembaringan.
"Ki Murad...," pelan suara laki-laki setengah baya itu seraya menepuk pundak Ki Murad.
Laki-laki tua berjubah putih itu menoleh, lalu bangkit berdiri. Tanpa berkata apa-apa lagi, mereka melangkah ke luar menyeruak kerumunan itu. Dan beberapa orang langsung bergerak mengurus mayat yang terbujur kaku itu, di atas pembaringan. Sebagian lagi melangkah ke luar sambil menundukkan kepala dan mengunci mulut rapat-rapat.
Ki Danupaya membawa Ki Murad ke ruangan tengah yang tampak sepi. Mereka duduk dengan kepa-la tertunduk lesu. Beberapa orang mukepa-lai bermuncukepa-lan,
dan langsung duduk bersimpuh di depan kedua laki-laki yang duduk di kursi berukir yang memiliki sanda-ran tinggi itu. Tak ada yang membuka suara sedikit pun. Kepala mereka semua tertunduk menekuri lantai. Saat semua orang sedang terdiam sambil tertunduk, tiba-tiba.... Slap! Sebatang anak panah melesat cepat dari luar jendela.
"Uts!"
Ki Murad langsung mengegoskan kepalanya, maka anak panah itu menancap tepat di sandaran kursinya. Semua orang yang berada di ruangan itu ter-sentak kaget. Empat orang bergegas melompat ke luar melalui jendela. Sedang Ki Murad mencabut anak pa-nah itu. Sebentar dipandangi, lalu diserahkannya pada Ki Danupaya. Laki-laki setengah baya itu meneri-manya, dan membuka ikatan daun lontar pada batang anak panah itu.
"Keparat...!" geram Ki Danupaya setelah mem-baca sebaris kalimat pada daun lontar itu Dengan wa-jah merah padam, Ki Danupaya menyerahkan lemba-ran daun lontar itu pada Ki Murad. Seketika itu juga wajah laki-laki tua. berjubah putih itu memerah. Ge-rahamnya bergemeletuk setelah membaca sebaris ka-limat yang tertera pada daun lontar di tangannya. Se-luruh ototnya menegang, dan daun lontar itu hancur diremas tangannya. Ki Murad segera bangkit berdiri.
"Jangan sendiri, Ki...!" seru Ki Danupaya seraya berdiri.
"Si Keparat itu hanya menginginkan aku, Ki Danupaya," tegas Ki Murad seraya mengayunkan ka-kinya.
"Anakmu sudah tewas, Ki. Sekarang orang itu menculik anakku. Bagaimanapun juga, aku harus ikut!" tegas kata-kata Ki Danupaya.
Ki Murad tidak berkata-kata lagi dan terus saja melangkah ke luar. Sementara Ki Danupaya memerin-tahkan beberapa orang anak buahnya untuk ikut. Se-dangkan sisanya mengurus mayat Wiraguna, dan men-jaga rumahnya itu. Tidak lama berselang, tampak seki-tar dua belas ekor kuda berpacu cepat keluar dari ger-bang rumah besar itu. Orang masih banyak berkum-pul, tapi tak ada seorang pun yang membuka suara. Mereka hanya memandangi saja kepergian Ki Murad dan Ki Danupaya bersama sepuluh orang anak buah-nya.
***
Dua belas ekor kuda berpacu cepat memasuki sebuah padang rumput di sebelah Timur Desa Kali Wungu. Sebuah bukit terpampang terlihat kelam terlimut kabut di seberang padang rumput yang tidak se-berapa luas itu. Ki Murad yang berpacu paling depan, mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi. Maka se-mua kuda di belakangnya itu berhenti berpacu seketi-ka. Ki Danupaya yang selalu berada di samping laki-laki tua berjubah putih itu, segera menghentikan lari kudanya. Dia segera menoleh dan menatap Ki Murad yang bergerak turun dari punggung kudanya.
"Tak ada siapa-siapa di sini," gumam Ki Danu-paya segera turun dari kudanya, lalu berjalan meng-hampiri laki-laki tua di samping kanannya.
"Hm...," Ki Murad hanya menggumam sedikit. Tempat ini memang sepi. Apalagi malam masih menye-limuti sekitarnya. Hanya desir angin yang terdengar mengusik gendang telinga. Suara gemerisik dedaunan menambah ketegangan semua orang yang berada di padang rumput itu. Tampak Ki Murad
menggeleng-gelengkan kepalanya pelahan-lahan, mencoba men-dengarkan setiap gerakan suara yang halus di sekitar-nya.
"Aku merasa ini hanya permainan saja, Ki," ka-ta Ki Danupaya lagi.
Ki Murad menoleh menatap laki-laki setengah baya di sampingnya. Keningnya sedikit berkerut dan matanya agak menyipit Kemudian dihembuskan napas panjang, dan dialihkan pandangannya ke arah bukit di depan.
"Aku yakin, orang yang melakukan perbuatan ini pasti menyimpan dendam. Mungkin juga dendam padamu, atau padaku. Dan anak-anak kita yang men-jadi sasarannya," kata Ki Danupaya lagi.
"Apa pun alasannya, aku tidak bisa menerima kenyataan ini semua!" tegas kata-kata Ki Murad.
"Bukan hanya kau. Bahkan aku seperti ditan-tang!
Tidak bakalan aku diam saja!" sambung Ki Da-nupaya.
Ki Murad yang akan membuka mulutnya lagi, langsung mengurungkan niatnya begitu matanya me-nangkap gerakan bayangan putih tengah melintasi pa-dang rumput yang cukup luas ini. Bayangan itu terus bergerak ringan menuju ke arahnya, dan semakin la-ma sela-makin jelas terlihat. Ternyata bayangan itu da-tang dari seorang laki-laki muda berusia sekitar dua puluh lima tahun.
Wajahnya cukup tampan. Rambutnya panjang meriap dan sedikit tergelung ke atas. Selembar kain putih mengikat bagian keningnya. Baju yang dikena-kannya berwarna putih tanpa lengan dengan bagian dada terbuka hingga ke perut. Baju itu melambai-lambai dipermainkan angin. Pemuda itu berhenti
me-langkah setelah dekat di depan dua belas orang yang berdiri bersikap menghadang.
"Oh, maaf. Bolehkah aku lewat...?" ucap pemu-da itu ramah.
"Hm..., siapa kau?" dengus Ki Murad dingin. Tatapan matanya begitu tajam menusuk, meneliti se-kujur tubuh pemuda di depannya.
"Aku seorang pengembara, dan hendak ke desa di depan sana," sahut pemuda itu tetap ramah dan so-pan.
"Aku tidak tanya ke mana tujuanmu. Yang ku-tanyakan, siapa namamu?" bentak Ki Murad.
"Hm...," pemuda itu mengerutkan keningnya mendengar bentakan laki-laki tua berjubah putih yang nampak tidak ramah padanya.
"Anak muda, siapa kau sebenarnya. Dan apa maksudmu datang ke sini?" tanya Ki Danupaya agak ramah.
"Namaku, Rangga, dan hanya seorang pengem-bara. Aku tidak ada tujuan yang pasti," sahut pemuda itu.
"Anak muda, namaku Danupaya. Aku ingin tanya sekali lagi padamu," kata Ki Danupaya lagi. "Si-lakan," ucap Rangga.
"Apakah kau melihat ada orang lain di sekitar tempat ini selain kami?" tanya Ki Danupaya.
"Sekitar tengah malam tadi, aku memang meli-hat ada seseorang lewat di kaki bukit sana...," Rangga menunjuk bukit di belakangnya.
"Apakah dia membawa seseorang?" serobot Ki Murad tidak sabaran.
'Tidak. Dia hanya sendiri saja." "Laki-laki atau perempuan?"
Hm..., ada apa rupanya?"
"Tidak ada apa-apa, Anak Muda. Terima kasih atas keteranganmu," ucap Ki Danupaya seraya melirik pada Ki Murad.
Tanpa berkata apa-apa lagi, kedua laki-laki itu bergegas melompat ke punggung kudanya masing-masing. Dan sepuluh orang yang berada di belakang, juga bergegas melompat naik ke kudanya. Sebentar sa-ja mereka sudah menggebah kudanya dengan cepat.
Derap lari kuda terdengar menggetarkan jan-tung. Sementara pemuda berbaju rompi putih itu hanya memandangi saja.
Pemuda yang bernama Rangga dan lebih di kenal berjuluk Pendekar Rajawali Sakti itu hanya mengangkat bahunya, kemudian kembali berjalan sambil bersiul kecil berirama tidak jelas. Sementara rombongan berkuda itu semakin jauh menyeberangi padang rumput, menuju ke bukit yang berdiri megah terselimut kabut. Sedangkan pemuda itu terus saja melangkah menuju ke Desa Kali Wungu.
***
2
Semua orang di Desa Kali Wungu selalu mem-bicarakan kejadian malam itu di rumah Ki Danupaya. Peristiwa yang sangat mengejutkan dan tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Bukan hanya orang-orang tua, bahkan anak-anak muda pun ikut membicarakan peristiwa yang merenggut nyawa Wiraguna. Sebenar-nya putra tunggal Ki Murad ini memang beruntung dapat mempersunting putri Ki Danupaya, seorang
saudagar kaya di Desa Kali Wungu ini. Tapi, nasib ter-nyata lebih menentukan.
Sudah tiga hari peristiwa itu berlalu, tapi masih terlalu hangat untuk dilupakan begitu saja. Masalah-nya, Nurmi belum juga diketemukan dan tidak diketa-hui nasibnya sampai sekarang. Tidak ada seorang pun yang tahu, siapa pembunuh Wiraguna dan penculik Nurmi. Waktu itu semua orang tengah sibuk berpesta.
Bukan hanya di rumah, di kedai, atau di la-dang. Bahkan di sungai pun gadis-gadis membicara-kan tentang peristiwa pembunuhan dan penculimembicara-kan itu. Mereka selalu bertanya-tanya tentang hilangnya Nurmi Tapi ada juga yang merasa gembira atas kema-tian Wiraguna. Dan tidak sedikit yang menyesalkan ke-jadian itu. Terlalu banyak tanggapan yang terlontar-kan, dan semuanya hanya menduga-duga saja.
"Tolooong...!" tiba-tiba saja siang yang tenang itu pecah oleh suara teriakan seorang wanita.
Dan tampak seorang perempuan setengah baya berlari-lari dengan baju sobek dan kain kedodoran. Pe-rempuan itu terus berteriak-teriak sambil berlari ken-cang. Teriakan yang keras itu mengagetkan semua orang. Baik yang berada di sungai, di rumah, ataupun di ladang.
"Tolooong...!" teriak perempuan itu sekeras-kerasnya.
Sebatang akar yang menyembul ke permukaan tanah mengganjal kaki wanita itu, hingga jatuh bergu-lingan di tanah berumput. Wanita setengah baya itu berusaha cepat bangkit, tapi tiba-tiba saja sebuah bayangan sudah berkelebat cepat.
"Akh!" wanita itu terpekik tertahan.
Kedua bola matanya membeliak lebar, dan mu-lutnya ternganga. Belum sempat bisa melakukan
sesu-atu, mendadak saja terlihat kilatan cahaya keperakan yang langsung menyambar leher wanita itu.
"Aaa...!"
Satu jeritan melengking terdengar, disusul am-bruknya wanita itu ke tanah. Darah mengucur deras dari lehernya yang terbabat hampir buntung. Sebentar tubuhnya menggelepar, kemudian diam tidak berge-rak-gerak lagi. Terlihat seseorang berdiri tegak me-mandangi wanita setengah baya yang sudah jadi mayat itu, kemudian berkelebat cepat bagai kilat. Seketika bayangannya lenyap bagai ditelan bumi.
Pada saat yang sama, orang-orang berdatangan ke tempat itu. Dan mereka langsung terperangah begi-tu melihat seorang wanita setengah baya menggeletak dengan leher koyak berlumur darah segar yang masih mengalir deras. Dari kerumunan orang, menyentak seorang laki-laki setengah baya.
"Nyai...!" sentak laki-laki setengah baya yang ternyata adalah Ki Danupaya.
Laki-laki setengah baya yang selalu memakai baju indah dari bahan sutra halus itu, bergegas berlu-tut dan memeriksa tubuh wanita yang dikenal berna-ma Nyai Mirta. Dan semua penduduk Desa Kali Wungu sering memanggilnya Nyai Murad. Wanita itu memang istri Ki Murad.
Saat Ki Danupaya bangkit berdiri, menyeruak seorang laki-laki tua dari kerumunan orang-orang. Se-saat dia terpaku, lalu menubruk wanita itu. Ki Danu-paya hanya tertunduk, tak mampu mengeluarkan satu kata pun. Semua orang yang berkerumun pun terdiam. Tak ada satu suara pun yang terdengar. Semua kepala tertunduk. Laki-laki tua berjubah putih itu bangkit berdiri sambil memondong wanita itu. Sebentar bola matanya yang berkaca-kaca menatap Ki Danupaya,
la-lu kakinya terayun pelahan-lahan. Orang-orang yang berkerumun bergegas menyingkir, memberi jalan.
Sukar untuk dilukiskan, bagaimana perasaan Ki Murad saat ini mendapati istrinya tewas dengan leher koyak. Baru beberapa hari kehilangan putranya yang baru saja melangsungkan pernikahan, kini juga harus kehilangan istrinya. Sementara Ki Danupaya memperhatikan dengan bibir bergetar dan tubuh menggelegar menahan geram. Dilayangkan pandan-gannya ke sekeliling, lalu bergegas melangkah menyu-sul sahabatnya itu.
Langkah kaki Ki Danupaya berhenti seketika saat matanya, menangkap sosok pemuda berbaju rom-pi putih yang berdiri di bawah sebatang pohon besar. Pemuda yang pernah ditemuinya di padang rumput dekat Bukit Mangun. Hanya sebentar Ki Danupaya menatap, kemudian kembali melangkah cepat menyu-sul Ki Murad. Orang yang berkerumun, kembali bubar menuju arahnya masing-masing. Beberapa celotehan terdengar.
Sebentar saja, tempat itu menjadi sunyi kemba-li. Hanya seorang pemuda berbaju rompi putih yang masih duduk di bawah pohon. Pemuda itu baru bang-kit berdiri setelah semua orang tidak terlihat lagi. Dia melangkah menghampiri tempat Nyai Murad tadi terge-letak tewas. Pandangan matanya tertuju langsung pa-da seuntai kalung bergambar tengkorak pa-dan bulan sa-bit. Kalung itu hampir tertutup tanah, sehingga sukar dilihat dalam sepintas saja.
"Hm...," pemuda itu bergumam pelan. ***
Suasana di Desa Kali Wungu semakin diliputi hawa maut. Tewasnya Nyai Murad oleh seseorang yang belum diketahui, sepertinya merupakan lanjutan dari malapetaka sebelumnya. Peristiwa mengerikan secara beruntun itu kini menjadi pembicaraan hangat, di samping menimbulkan beberapa macam dugaan dan pertanyaan.
Tidak mudah untuk mencari pelaku dua pem-bunuhan itu. Apalagi seminggu setelah tewasnya Nyai Murad, tidak ada lagi peristiwa mengerikan terjadi. Dan para penduduk pun sudah mulai melupakannya. Tapi tidak demikian dengan Ki Murad. Laki-laki tua itu tidak pernah tenang. Karena, setelah peristiwa yang meminta nyawa istri dan anaknya, dia selalu menerima ancaman. Setiap hari, kehidupannya selalu dihantui ancaman.
"Keparat...!" geram Ki Murad.
Laki-laki tua berjubah putih itu meremas daun lontar yang baru saja diterima dari salah seorang mu-ridnya. Daun lontar. itu ditemukan menancap di ujung anak panah pada tiang beranda depan rumahnya. Hampir setiap hari Ki Murad selalu menerima anca-man yang bernada sama. Tapi tidak diketahui, siapa pengirim surat ancaman itu.
Ki Murad memandangi muridnya yang berjum-lah sepuluh orang. Mereka rata-rata masih muda, dan berseragam biru tua. Di punggung masing-masing ter-sampir sebilah pedang. Mereka duduk bersila dengan kepala tertunduk.
"Ini sudah jelas! Bajingan itu sengaja mengin-carku!" dengus Ki Murad menahan geram.
"Mungkin salah seorang dari musuh kita, Ki," celetuk salah seorang yang duduk paling kanan.
lama!"
"Benar, Ki!" sambut sepuluh murid Ki Murad serempak.
"Mungkin inilah saatnya kalian harus berhada-pan secara sungguh-sungguh. Perlihatkan bakti kalian pada ku," ujar Ki Murad menatap tajam murid-muridnya yang berjumlah sepuluh orang itu.
"Kami siap mengorbankan nyawa, Ki!" sahut sepuluh orang pemuda itu serempak.
Ki Murad terangguk-angguk. Hatinya merasa bangga terhadap kesetiaan muridnya yang hanya ber-jumlah sepuluh orang itu. Dia memang sengaja tidak mengambil murid banyak-banyak. Baginya, jumlah yang sedikit bisa menurunkan ilmunya lebih baik, dan bermutu tinggi. Murid-murid Ki Murad memang ter-kenal cukup tangguh dalam ilmu olah kanuragan. Me-reka rata-rata satu tingkat di atas orang-orang Ki Da-nupaya.
"Hi hi hi...!" tiba-tiba saja terdengar suara tawa mengikik.
Ki Murad langsung menggerinjang bangkit dari duduknya. Demikian juga sepuluh orang muridnya, Sesaat mereka saling berpandangan. Dan tanpa me nunggu perintah lagi, sepuluh orang berpakaian biru tua itu berlompatan ke luar. Ki Murad sendiri langsung melesat cepat bagaikan kilat melalui jendela yang ter-buka lebar.
Mereka semua terperanjat begitu tiba di luar rumah yang tidak begitu besar ini. Tampak di tengah-tengah halaman yang tidak begitu luas, berdiri seseo-rang berpakaian merah menyala sambil membawa se-batang tongkat. Orang itu mengenakan tudung besar yang hampir menutupi wajahnya. Namun dari bentuk tubuhnya yang terbungkus baju merah ketat, dapat
dipastikan kalau orang itu adalah wanita. Demikian pula kulit tangan dan kaki yang putih halus, sudah menandakan kalau wanita itu masih berusia muda.
"Hm.... Siapa kau, Ni sanak! Apa keperluanmu datang ke tempatku?" tanya Ki Murad dengan tatapan mata tajam menusuk. Laki-laki tua berjubah putih itu berdiri tegak di depan sepuluh orang muridnya yang berdiri berjajar dan bersikap penuh kewaspadaan.
"Kau tidak perlu tahu siapa aku, Ki Murad. Aku datang untuk membunuhmu!" sahut orang itu ketus.
Srer!
Sepuluh orang yang berada di belakang Ki Mu-rad, langsung mencabut pedangnya. Sementara orang bertudung bambu lebar itu kelihatan tenang saja. Nampak bibirnya yang merah menyunggingkan se-nyuman tipis mengejek. Ki Murad merentangkan tan-gannya sedikit, mencegah murid-muridnya agar tidak bertindak gegabah. Laki-laki tua berjubah putih itu memandangi wanita bercaping yang mengenakan baju merah menyala itu. Sudah bisa ditebak kalau wanita itu memiliki kepandaian yang tidak bisa dianggap re-meh. Terbukti kedatangannya secara terbuka dan langsung menantang.
"Aku tidak kenal siapa dirimu, Ni sanak. Men-gapa datang-datang ingin membunuhku?" nada suara Ki Murad masih terdengar ramah, meskipun hatinya sudah geram.
"Karena kau berlaku curang!" masih bernada ketus jawaban wanita itu.
"Curang...? Aku tidak mengerti maksudmu, Ni sanak."
"Tidak ada yang perlu dijelaskan lagi, karena tinggal kau yang belum mampus!"
me-rah yang wajahnya hampir tertutup tudung bambu itu langsung menggerakkan tongkatnya.
"Tunggu...!" sentak Ki Murad mencegah.
"Tidak ada waktu lagi, Ki Murad. Bersiaplah untuk mari! Hiyaaat..!"
Wanita itu langsung melompat sambil menge-butkan tongkatnya ke depan. Sungguh dahsyat kebu-tan tongkat itu. Belum juga sampai ke arah sasaran, angin kebutannya telah terasa menderu bagai angin topan.
"Hup!"
Ki Murad bergegas melompat ke belakang, Dan sepuluh orang muridnya langsung berlompatan ke samping, membentuk lingkaran mengepung wanita berbaju merah itu.
Gagal dengan serangan pertamanya, wanita itu segera menyerang dahsyat kembali. Ki Murad berlom-patan, berkelit, menghindari sambaran tongkat putih yang begitu dahsyat. Setiap kebutannya menimbulkan suara angin menderu disertai hawa panas menyengat kulit.
Ki Murad sadar, kalau wanita itu sungguh-sungguh ingin membunuhnya. Serangan-serangannya begitu dahsyat dan cepat luar biasa. Lengah sedikit sa-ja bisa berakibat fatal. Laki-laki berjubah putih itu me-lompat mundur sejauh tiga batang tombak begitu ada kesempatan. Langsung dicabut pedangnya yang selalu tergantung di pinggang. Pedang berwarna keperakan itu berkilatan tertimpa cahaya matahari.
"Hiyaaat..!"
Wanita berbaju merah itu kembali menyerang disertai satu teriakan keras. Ki Murad bergegas men-gangkat pedangnya, menyampok tebasan tongkat putih berujung runcing itu. Tak pelak lagi, dua benda beradu
keras di udara. Trang!
Pijaran api memercik dari kedua senjata yang beradu keras itu. Ki Murad langsung mengibaskan pe-dangnya ke bawah, namun wanita itu cepat sekali memutar tongkatnya. Akibatnya, kembali dua senjata itu beradu, hingga menimbulkan pijaran api memercik ke segala arah. Satu percikan api menyambar atap rumah.
Sepuluh orang murid Ki Murad, tersentak meli-hat kobaran api mulai melahap atap rumah gurunya. Sejenak mereka berpandangan, lalu lima orang berge-gas berlompatan berusaha memadamkan api yang mu-lai membesar itu. Sementara Ki Murad masih berta-rung sengit melawan wanita berbaju merah.
Jurus demi jurus berlalu cepat, tapi wanita berbaju merah dan bercaping besar itu masih juga tangguh. Bahkan jurus-jurusnya semakin dahsyat dan berbahaya. Beberapa kali Ki Murad harus berpelantin-gan di udara, menghindari terjanberpelantin-gan lawannya. Hingga suatu saat...
"Akh...!" tiba-tiba saja Ki Murad terpekik keras tertahan.
Satu tendangan telak, tepat mendarat di dada laki-laki tua itu, hingga terjengkang sejauh dua batang tombak ke belakang. Saat Ki Murad terhuyung-huyung, wanita itu sudah melompat sambil mengi-baskan tongkatnya yang berujung runcing.
"Hiyaaat..!" "Uts!"
Buru-buru Ki Murad mengegoskan tubuhnya. Tapi ujung tongkat berwarna putih itu masih juga menggores bahunya. Darah langsung merembes ke luar. Ki Murad kembali terhuyung, melangkah mundur
beberapa tindak.
"Mampus kau! Hiyaaat..!" teriak wanita itu me-lengking tinggi.
Bagaikan kilat, wanita berbaju merah itu me-lompat cepat menghunus ujung tongkat ke arah dada. Saat itu keadaan Ki Murad tidak menguntungkan sa-ma sekali. Rasanya tidak ada waktu untuk menghin-dar. Laki-laki tua itu terperangah sambil membeliak-kan matanya. Cepat sekali ujung tongkat putih itu mengarah ke dadanya. Namun belum juga ujung tong-kat itu mengenai dada Ki Murad, tiba-tiba sebuah bayangan berkelebat bagaikan kilat. Dan....
Trak!
"Akh!" wanita itu memekik tertahan, dan tu-buhnya mencelat ke belakang.
Entah dari mana datangnya, tahu-tahu di de-pan Ki Murad sudah berdiri seorang pemuda memakai baju putih tanpa lengan. Bagian dadanya dibiarkan terbuka lebar. Sebilah pedang bergagang kepala bu-rung bertengger di punggungnya.
"Keparat..!" geram wanita itu.
Wanita berbaju merah itu langsung melompat sambil berteriak keras. Cepat seka1i dikebutkan tong-katnya, sehingga yang terlihat hanya bayangan putih berkelebat mengarah ke tubuh pemuda berbaju rompi putih itu. Namun manis sekali pemuda itu mengelak-kannya. Bahkan saat tangan kanannya bergerak men-gibas, wanita itu memekik keras tertahan.
Kembali wanita itu terdorong ke belakang bebe-rapa langkah. Tampak dari sudut bibirnya mengalir darah kental. Sebelah tangan memegangi dadanya.
Rupanya kibasan tangan pemuda berbaju rom-pi putih itu tepat mengenai dadanya. Wanita itu meng-geram marah.
"Phuih!" wanita itu menyemburkan ludahnya. Tiba-tiba saja tubuhnya melesat cepat bagaikan kilat, dan tahu-tahu lenyap di antara pepohonan yang rim-bun di samping rumah Ki Murad. Pemuda berbaju rompi putih itu mendesah panjang, lalu membalikkan tubuhnya menghadap pada laki-laki tua berjubah pu-tih itu. Dibungkukkan tubuhnya sedikit kemudian kembali diputar tubuhnya. Kini kakinya melangkah pergi tanpa berkata-kata sedikit pun.
"Tunggu...!" seru Ki Murad mencegah. Pemuda berbaju rompi putih itu menghentikan langkah, dan memutar tubuhnya. Kembali dia menghadap ke arah Ki Murad yang masih tetap berdiri pada tempatnya.
"Rasanya kita pernah bertemu. Hm.... Siapa kau, Anak Muda?" tanya Ki Murad setengah bergu-mam.
Pemuda tampan berbaju rompi putih itu hanya tersenyum saja. Sedangkan Ki Murad melangkah menghampiri. Sementara lima orang murid laki-laki berjubah putih yang berusaha memadamkan api, su-dah menyelesaikan pekerjaannya. Untung saja hanya bagian atap depan yang terbakar, dan tidak sampai merambat lebih jauh lagi. Mereka segera bergabung dengan yang lainnya.
Ki Murad baru teringat. Dia memang pernah bertemu pemuda yang tadi telah menyelamatkan nya-wanya. Ya..., dia ingat! Mereka bertemu di tepi padang di Kaki Bukit Mangun. Laki-laki tua itu juga melihat pemuda itu saat. istrinya ditemukan tewas terbunuh di tepi hutan. Ki Murad kemudian mengajaknya ke dalam rumah, dan pemuda itu tidak bisa menolak. Mereka kemudian duduk di ruangan tengah. Sementara sepu-luh orang murid Ki Murad, membetulkan atap yang hangus terbakar.
"Kalau tidak salah, kau pernah menyebutkan namamu. Hm.... Rangga.... Benar bukan?" tebak Ki Murad mencoba mengingat-ingat.
"Benar, Ki," sahut pemuda itu mengangguk ra-mah.
"Ah...! Kau seorang pengembara, dan kepan-daianmu tinggi sekali. Aku senang bisa berkenalan le-bih dekat lagi denganmu," ujar Ki Murad.
Rangga hanya tersenyum saja.
"Kau bisa mengusir bajingan itu. Tentu kepan-daianmu lebih tinggi darinya...," sambung Ki Murad la-gi.
"Ah! Hanya kebetulan saja, Ki," sahut Rangga merendah.
"Nak Rangga, dari manakah asalmu? Apakah kedatanganmu ke sini karena memang ada keper-luan?" tanya Ki Murad tanpa bermaksud menyelidik.
"Hanya kebetulan lewat saja, Ki. Dan asalku ti-dak tentu," sahut Rangga ramah. Tentu saja titi-dak in-gin diungkapkan tentang diri sebenarnya.
"Kau seorang pengembara berkepandaian ting-gi. Tentu kau seorang pendekar. Apa julukanmu, Nak Rangga?" tanya Ki Murad ingin tahu.
"Pendekar Rajawali Sakti," sahut Rangga.
"Oh...!" seketika bola mata Ki Murad berbinar begitu mendengar nama Pendekar Rajawali Sakti.
Laki-laki tua berjubah putih itu memandangi pemuda di depannya tanpa berkedip. Sepertinya ingin dipastikan kalau pemuda yang telah menyelamatkan nyawanya tadi adalah seorang pendekar yang sudah ternama dan sangat digdaya. Apalagi dicari tandingan-nya. Pendekar yang sangat disegani, baik lawan mau-pun kawan. Ki Murad hampir tidak percaya kalau kini tengah duduk bersama seorang pendekar yang selalu
menjadi buah bibir orang-orang rimba persilatan. "Ada apa, Ki? Apa ada yang aneh pada diriku?" tegur Rangga merasa jengah dipandangi seperti itu.
"Oh, tidak.... Hanya aku...," Ki Murad jadi ter-gagap.
"Kenapa, Ki?" desak Rangga.
"Aku merasa mendapat kehormatan karena ke-datangan seorang pendekar besar dan digdaya. Nama-mu sering kudengar, dan aku selalu mengagumi segala sepak terjangmu yang sudah banyak membasmi keangkaramurkaan," ungkap Ki Murad sambil terse-nyum bangga karena bisa duduk bersama dan berbin-cang-bincang dengan seorang pendekar ternama saat ini.
"Kau terlalu memujiku, Ki," ucap Rangga agak tersipu,
"Aku berkata sebenarnya, Nak Rangga. Sudah sepatutnya aku menyambutmu penuh rasa hormat.
Lagi-lagi Pendekar Rajawali Sakti itu hanya ter-senyum saja. Memang tidak disangkal kalau namanya saat ini selalu menjadi buah bibir orang-orang rimba persilatan. Bahkan biasanya, mereka langsung menge-nali begitu berhadapan dengannya. Dengan baju rompi putih dan pedang bergagang kepala burung di pung-gung, adalah menjadi satu ciri khas Pendekar Rajawali Sakti.
"Seharusnya kau bisa ku kenali saat pertama kali bertemu, Nak Rangga. Tapi memang dasar sudah tua, dan...," suara Ki Murad terputus.
Rangga mengernyitkan keningnya melihat pe-rubahan pada air muka laki-laki tua di depannya. Mendadak saja Ki Murad jadi merenung dan wajahnya mendung. Sedangkan bola matanya berkaca-kaca. Tapi itu hanya sebentar. Ki Murad menarik napas panjang
dan menghembuskannya kuat-kuat, seakan hendak melepaskan ganjalan yang tiba-tiba membuat dadanya sesak.
"Nampaknya kau sedang dilanda kesulitan, Ki," ujar Rangga hari-hati.
"Hhh...!" Ki Murad hanya mendesah panjang. Laki-laki tua berjubah putih itu menatap Pen-dekar Rajawali Sakti dalam-dalam. Beberapa kali dita-rik napas panjang dan dihembuskannya kuat-kuat, tapi tidak ada kata-kata yang keluar dari mulutnya. Dan Rangga juga tidak ingin mendesak, dan hanya di-am memperhatikan raut wajah yang selalu berubah-ubah itu. Wajah yang terselimut kabut hitam.
***
3
Malam baru saja menyelimuti bumi, namun suasana di Desa Kali Wungu telah demikian sunyi. Su-asana yang tidak pernah terjadi sebelumnya. Keadaan yang mencekam itu dikarenakan dalam beberapa hari ini terjadi pembunuhan terhadap orang-orang Ki Da-nupaya. Terlebih lagi setelah peristiwa pahit yang me-nimpa Ki Murad. Laki-laki tua itu hampir tewas kalau saja tidak ditolong Pendekar Rajawali Sakti.
Malam gelap terselimut kabut ini begitu sunyi. Tidak terlihat seorang pun di luar rumah. Namun di ja-lan yang tidak terlalu besar dan berdebu, terlihat se-seorang berpakaian merah menyala tengah berjalan sambil membawa tongkat putih yang terayun-ayun di sampingnya. Jika dilihat dari kulit tangan dan bentuk tubuhnya, jelas orang itu pastilah wanita. Hanya saja
wajahnya tidak terlihat karena hampir tertutup tudung tikar yang cukup besar. Orang itu berjalan ringan, dan pandangannya lurus ke depan.
"Berhenti...!" tiba-tiba terdengar suara benta-kan keras.
Wanita berbaju merah yang bertudung tikar di kepalanya itu langsung berhenti melangkah. Dia hanya menoleh sedikit saat telinganya mendengar langkah kaki dari arah belakangnya.
"Hm.... Dua tikus Danupaya...," gumam wanita itu pelahan.
Dan memang benar. Dua orang anak buah Ki Danupaya tengah menghampiri dan langsung mengha-dang di depan wanita bertudung tikar pandan itu. Masing-masing menggenggam gagang golok yang ma-sih terselip di pinggang.
"Siapa kau? Malam-malam begini masih ke-luyuran!" bentak salah seorang yang berkumis lebat.
"Hm...," wanita itu hanya menggumam saja. Dan, tiba-tiba saja wanita itu bergerak cepat se-raya mengibaskan tongkatnya bagaikan kilat. Dua orang anak buah Ki Danupaya terperanjat kaget, kare-na tiba-tiba orang di depannya menyerang tanpa ber-kata-kata lagi. Dan belum sempat melakukan sesuatu, ujung tongkat wanita itu sudah menyambar leher me-reka.
Dua jeritan panjang melengking terdengar hampir bersamaan. Sesaat kemudian, dua sosok tu-buh menggelepar di tanah dengan leher hampir putus dan mengucurkan darah segar. Wanita bertudung bambu itu memandangi sebentar, lalu kembali me-langkah tenang setelah dua orang yang menghadang-nya tidak bergerak-gerak lagi.
Danupaya, rupanya mengejutkan semua penduduk Desa Kali Wungu ini. Tapi tidak ada seorang pun yang berani ke luar. Mereka hanya mengintip saja dengan mata membeliak lebar begitu mendapati dua sosok mayat menggeletak. Apalagi saat mendapati pula seo-rang wanita berbaju merah dan bertudung besar ten-gah berjalan ringan menuju kediaman Ki Danupaya.
Rumah besar milik saudagar kaya itu memang sudah tidak seberapa jauh lagi. Dan tentu saja, jeritan panjang melengking tadi terdengar jelas sampai ke sa-na. Tampak pintu gerbang yang semula tertutup rapat, seketika terbuka. Maka berhamburanlah sekitar sepu-luh orang dan dalam pintu pagar bagai benteng itu.
Tapi belum juga mereka jauh meninggalkan tempat itu, mendadak wanita berbaju merah menyala itu sudah melentingkan tubuhnya cepat. Dan seketika saja terdengar jeritan-jeritan melengking saat bayan-gan merah disertai kilatan cahaya putih berkelebatan bagai kilat ke arah sepuluh orang yang baru keluar da-ri gerbang kediaman Ki Danupaya.
Sukar dipercaya. Dalam waktu singkat saja, se-puluh orang itu sudah tergeletak tak bernyawa dengan leher koyak hampir buntung. Dan wanita berbaju me-rah itu kembali melangkah tenang, seakan-akan tidak pernah terjadi sesuatu pada dirinya. Langkahnya rin-gan mendekati pintu gerbang kediaman Ki Danupaya.
"Hm...," wanita itu bergumam pelan.
Tiba-tiba saja tubuhnya melesat ke udara, lalu mendadak lenyap tanpa bekas. Sungguh tinggi ilmu meringankan tubuhnya. Bisa bergerak cepat melebihi kilat Bayangannya saja sudah lenyap tak terlihat lagi. Tak ada seorang pun yang tahu, ke mana arah per-ginya. Bahkan orang-orang di atas pagar yang sudah siap membidik anak panah, jadi bengong keheranan.
Mereka mencari-cari tanpa meninggalkan tempatnya. Namun orang berbaju merah itu seperti lenyap ditelan bumi.
***
Ki Danupaya terperanjat begitu menerima lapo-ran sepuluh olapo-rang anak buahnya tewas. Lebih terkejut lagi saat mendengar orang yang membunuhnya lenyap di depan pintu gerbang rumahnya. Laki-laki setengah baya itu bergegas menuju ke kamar istrinya yang sela-lu mengurung diri di dalam kamar, sejak putri mereka diculik saat pesta pernikahannya. Hingga kini belum ada kabar berita tentang hilangnya Nurmi yang tanpa jejak sama sekali. Ki Danupaya menggedor keras pintu kamar istrinya. Memang keselamatan istrinya selalu dikhawatirkan sejak terbunuhnya istri Ki Murad di tepi hutan.
"Nyai...! Buka pintunya, Nyai...!" seru Ki Danu-paya keras sambil menggedor pintu kamar itu.
Tidak ada sahutan sama sekali. Ki Danupaya semakin cemas. Di gedornya pintu itu semakin keras, sambil terus memanggil istrinya agar membuka pintu. Agak lama juga, dan akhirnya pintu kamar itu terbuka pelahan. Tampak seorang wanita yang belum begitu tua usianya berdiri di ambang pintu. Wanita yang be-rusia sekitar tiga puluh delapan tahun itu menggeser ke samping. Ki Danupaya menerobos masuk, langsung menghampiri jendela yang terbuka sedikit. Di longok-nya keadaan di luar, lalu ditutup jendela itu rapat-rapat.
KI Danupaya menghampiri wanita yang hanya mengenakan kemben saja.
Danu-paya bertanya.
"Si Keparat itu ada di sini. Aku cemas terhadap mu, Nyai," sahut Ki Danupaya.
"Tidak ada siapa-siapa di sini," kata Nyai Da-nupaya. "Lagi pula, apa yang diinginkan di sini?"
"Aku tidak tahu. Yang jelas dia telah membu-nuh sepuluh orang anak buahku," kata Ki Danupaya.
Nyai Danupaya mendesah panjang. Dihampi-rinya pembaringan, dan direbahkan diDihampi-rinya di sana. Ki Danupaya menghampiri dan duduk di tepi pembarin-gan. Dipandanginya wajah istrinya yang nampak lesu dengan sinar mata redup tanpa gairah. Meskipun Nurmi bukan anak kandungnya, tapi Nyai Danupaya sangat menyayangi. Dia adalah istri muda Ki Danu-paya. Sedangkan ibu Nurmi sendiri telah meninggal saat anak itu berusia tujuh tahun. Dan Nyai Danupaya sendiri masih memiliki seorang anak gadis yang baru berusia delapan belas tahun, yang saat ini bersama kakeknya di Pertapaan Jati Wangi.
Ki Danupaya menoleh saat mendengar suara ketukan di pintu. Dan pintu kamar itu memang tidak tertutup. Seorang laki-laki muda berdiri di ambang pintu, lalu menjura memberi hormat. Ki Danupaya hanya menganggukkan kepalanya sedikit.
"Semua penjaga sudah disebar, Gusti. Tapi orang itu tidak ada. Mungkin sudah pergi," lapor pe-muda itu.
"Kalau begitu, lipat gandakan penjagaan. Teru-tama di sekitar rumah ini!" perintah Ki Danupaya.
"Baik, Gusti," sahut pemuda itu seraya mem-bungkuk memberi hormat.
Ki Danupaya mengibaskan tangannya sedikit, maka pemuda itu bergegas pergi. Segera ditutupnya pintu kamar ini. Ada sedikit desahan terdengar dari
hidung laki-laki setengah baya itu. Sementara Nyai Danupaya masih terbaring dengan mata menerawang jauh ke langit-langit kamar.
"Sudahlah, Nyai. Aku pun tidak tinggal diam begitu saja. Kita berdoa saja, mudah-mudahan anak kita selamat," kata Ki Danupaya mencoba menghibur.
"Bisa kau biarkan aku sendiri saja, Kakang?" pinta Nyai Danupaya.
Ki Danupaya merayapi wajah istrinya sesaat, kemudian bangkit berdiri dan melangkah ke luar. Se-dangkan Nyai Danupaya masih terbaring. Matanya kembali menerawang jauh, menatap langit-langit ka-mar. Sedikit pun kepalanya tidak berpaling meskipun mendengar suara pintu kamar tertutup kembali. Sua-sana di dalam kamar kembali sunyi, tanpa terdengar satu suara pun.
***
Malam terus merambat semakin larut. Suasana di Desa Kali Wungu semakin terasa sepi. Sementara orang-orang Ki Danupaya menjaga penuh kewaspa-daan. Tidak jauh dari rumah besar saudagar kaya itu terlihat seseorang berdiri di bawah pohon, terlindung dart cahaya sang dewi malam. Seorang laki-laki muda yang wajahnya cukup tampan. Rambut yang sebatas bahu, tergerai sedikit tergulung ke atas dengan ikat kepala berwarna putih.
Udara malam yang dingin, bagai tidak terasa meskipun pemuda itu hanya mengenakan baju rompi putih yang bagian dadanya dibiarkan terbuka lebar. Dia tetap berdiri tegak merapatkan tubuhnya di batang pohon yang melindunginya dari cahaya bulan. Sedikit pun matanya tidak berkedip mengamati rumah besar
yang dijaga cukup ketat itu. Setiap ada gerakan, selalu menjadi perhatiannya.
"Hm... Dia tidak keluar lagi..," pemuda berbaju rompi putih itu bergumam pelan.
Pandangan matanya beralih ke ujung jalan ke-tika mendengar suara derap seekor kuda putih yang dipacu cepat melintasi jalan berdebu. Derap kaki kuda menghantam tanah, terdengar keras di malam yang sepi ini. Pemuda itu mengernyitkan dahinya saat men-genali penunggang kuda putih itu.
"Ki Murad... Mau apa ke sini...?" bisiknya pelan. Penunggang kuda putih itu memang Ki Murad. Seorang laki-laki tua yang selalu mengenakan jubah putih panjang. Sebilah pedang tergantung di ping-gangnya. Sementara pemuda berbaju rompi putih yang masih berdiri di bawah pohon, terus saja mengawasi. Kerut di keningnya semakin dalam saat mengetahui penunggang kuda itu menuju rumah Ki Danupaya.
Dua orang penjaga pintu gerbang, bergegas membuka pintu begitu melihat Ki Murad datang. Tan-pa menghentikan laju kudanya, laki-laki tua berjubah putih itu terus menerobos masuk. Pada saat itu, pe-muda berbaju rompi putih yang lebih dikenal sebagai Pendekar Rajawali Sakti, melesat tinggi ke udara. Dan dengan manisnya hinggap di atas dahan yang cukup tinggi. Dari dahan pohon ini bisa terlihat jelas ke ba-gian dalam halaman besar yang dikelilingi tembok tinggi bagai benteng itu.
Tampak Ki Murad melompat turun dari ku-danya setelah sampai di depan beranda yang disangga dua buah pilar. Dari dalam muncul Ki Danupaya yang langsung menyongsongnya. Mereka kemudian melang-kah masuk ke dalam rumah. Sementara di atas pohon tidak jauh dari tembok benteng, Pendekar Rajawali
Sakti masih mengamati. Pemuda berbaju rompi putih itu mengerahkan ilmu 'Pembeda Gerak dan Suara', un-tuk mendengarkan pembicaraan dua orang yang cu-kup disegani di Desa Kali Wungu ini.
"Dia sudah berani menjarah ke sini lagi, Ka-kang Murad," terdengar suara Ki Danupaya.
"Hm..., ya. Aku sudah dengar. Itu sebabnya aku langsung cepat-cepat ke sini," sahut Ki Murad seten-gah bergumam,
"Oh! Dari mana kau tahu?" Ki Danupaya agak terkejut. Begitu cepat kabar yang sampai, sehingga Ki Murad bisa cepat mengetahui. Padahal jarak dari ru-mah ini ke ruru-mah Ki Murad cukup jauh.
"Seorang muridku melihat kejadian di luar sa-na, dan langsung melaporkannya padaku," sahut Ki Murad kalem.
"Sepuluh orang, Kakang. Ditambah dua orang yang sedang meronda," lirih suara Ki Danupaya.
"Yang kita hadapi sekarang orang berilmu ting-gi, Adi Danupaya. Dia juga sudah mendatangiku, bah-kan hampir saja aku tewas."
"Oh...!" lagi-lagi Ki Danupaya tersentak kaget. "Tapi seorang pendekar menyelamatkan nyawa ku," lanjut Ki Murad.
"Siapa dia, Kakang?" tanya Ki Danupaya. "Pe-muda yang kita jumpai di padang rumput dekat Bukit Mangun," sahut Ki Murad lagi.
Ki Danupaya terdiam dengan kepala agak ter-tunduk. Keningnya sedikit berkerut, berusaha mengin-gat-ingat pemuda yang ditemui di padang rumput de-kat Bukit Mangun. Seorang pemuda berwajah tampan dengan ikat kepala putih dan rambut meriap sedikit tergelung ke atas. Baju rompinya berwarna putih, dan gagang pedang berbentuk kepala burung menyembul
dari balik punggungnya.
Agak lama juga Ki Danupaya berdiam diri sam-bil mengingat-ingat. Dan akhirnya teringat juga. Dia pernah bertemu pemuda itu saat kematian istri Ki Mu-rad di tepi hutan. Pelahan-lahan Ki Danupaya men-gangkat kepalanya, langsung menatap pada laki-laki tua berjubah putih yang duduk di depannya.
"Namanya Rangga. Dia terkenal dengan julukan Pendekar Rajawali Sakti," kata Ki Murad, seakan bisa membaca arti pandangan Ki Danupaya.
"Pendekar Rajawali Sakti...," desis Ki Danupaya pelan. Begitu pelannya, hampir tidak terdengar sua-ranya.
"Pernah kau dengar nama itu, Adi Danupaya?" dalam sekali nada suara Ki Murad.
"Ya. Aku sering mendengar tentang seorang pendekar yang selalu menumpas keangkaramurkaan. Tapi..., ah! Rasanya aku tidak yakin...," Ki Danupaya menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Kau akan percaya kalau sudah berbicara den-gannya, Adi Danupaya. Tapi sayang..., dia sudah per-gi," ujar Ki Murad.
"Apakah kau minta bantuannya, Kakang?" tanya Ki Danupaya setelah agak lama berdiam diri sa-ja.
"Tidak," sahut Ki Murad pelan.
"Kenapa? Saat ini kita benar-benar sedang membutuhkan bantuan seorang pendekar digdaya. Mengapa sekarang kau sia-siakan kehadiran seorang pendekar digdaya hadir di desa ini? Kalau kau yakin pemuda itu Pendekar Rajawali Sakti, kenapa tidak meminta bantuannya? Aku yakin, kalau memang be-nar-benar Pendekar Rajawali Sakti, dia pasti bersedia membantu sekaligus melenyapkan si keparat itu!"
"Aku rasa belum perlu, Adi Danupaya."
"Belum perlu katamu...?!" Ki Danupaya terpe-ranjat "Orang yang kita hadapi berilmu sangat tinggi, Kakang. Aku sendiri belum tentu mampu menandin-ginya. Kau lihat, dua belas orang anak buahku tewas hanya dalam waktu singkat. Bahkan dia bisa menghi-lang seperti setan!" agak keras nada suara Ki Danu-paya.
"Kau mulai panik, Adi Danupaya...," pelan sua-ra Ki Musua-rad.
"Aku tidak tahu.'" dengus Ki Danupaya. "Yang jelas, setiap hari aku selalu diliputi ketegangan. Coba kau lihat istriku tidak pernah lagi ke luar kamar sejak Nurmi hilang. Hanya denganku saja mau bicara, itu pun hanya sebentar! Benar-benar seperti berada di da-lam neraka saja...!" keluh Ki Danupaya.
"Bukan hanya kau. Tapi seluruh penduduk de-sa ini merade-sa begitu. Terlebih lagi aku, Adi Danupaya. Istri dan anakku tewas!"
Ki Danupaya terdiam menundukkan kepalanya. Memang masih saja disesali sikap Ki Murad yang tidak meminta bantuan Pendekar Rajawali Sakti. Padahal, pendekar muda dan digdaya itu ada di desa ini. Meski-pun belum yakin kalau pemuda berbaju rompi putih itu adalah Pendekar Rajawali Sakti, tapi pada saat se-perti ini benar-benar dibutuhkan seseorang yang ber-kemampuan tinggi untuk menghadapi perusuh yang sudah' mengambil nyawa beberapa orang, dan mem-buat semua orang resah.
Sementara, Pendekar Rajawali Sakti yang bera-da di atas bera-dahan di luar pagar benteng, telah menden-gar semua pembicaraan kedua orang itu. Pemuda yang selalu mengenakan baju rompi putih itu, melesat tu-run dengan gerakan indah tanpa suara sedikit pun.
Hanya sekali lesatan saja, pemuda itu sudah lenyap di-telan kegelapan malam, bersamaan keluarnya Ki Mu-rad dari rumah besar kediaman Ki Danupaya.
***
Ki Murad memacu kudanya dengan kecepatan tinggi ke arah Timur. Kuda putih itu berlari bagai dike-jar setan. Hentakan kakinya yang menyepak debu, ter-dengar keras memecah keheningan malam yang gelap ini.
"Heh...!" tiba-tiba saja laki-laki tua berjubah putih itu tersentak kaget.
Kuda putih yang ditungganginya meringkik ke-ras sambil mengangkat kedua kaki depannya. Seten-gah mati Ki Murad mencoba mengendalikannya, tapi kuda putih itu jadi semakin liar. Kuda itu terus me-ringkik keras dan berlompatan bagai melihat hantu.
"Hup!"
Ki Murad melompat turun, ketika kuda putih-nya ambruk. Tampak sebuah benda berbentuk mata tombak menancap di leher kuda itu. Sejenak Ki Murad memandangi, namun tiba-tiba saja dikejutkan oleh su-ara tawa mengikik. "Hi hi hi..!"
Laki-laki tua berjubah putih itu langsung me-lompat mundur ketika tiba-tiba saja sebuah bayangan merah berkelebat di depannya. Tahu-tahu di situ su-dah berdiri seseorang berpakaian ketat berwarna me-rah menyala. Hampir seluruh kepalanya tertutup tu-dung besar sehingga wajahnya hampir tak terlihat. Hanya bagian bibir dan dagu saja yang tampak.
"Kau lagi...!" dengus Ki Murad langsung bersia-ga.
nya-wamu, Ki Murad!" tegas wanita berbaju merah itu din-gin.
"Hm...," Ki Murad hanya menggumam saja. "Bersiaplah untuk mati, tua bangka!" "Tunggu...!" sentak Ki Murad keras.
"Kau ingin memperlambat kematianmu, Ki Mu-rad...?!" dengus wanita itu dingin.
"Ni sanak, mengapa kau begitu ingin membu-nuh ku? Siapa kau sebenarnya?" tanya Ki Murad ma-sih diliputi rasa penasaran terhadap orang berbaju me-rah yang wajahnya selalu ditutupi tudung besar itu.
"Sudah kukatakan, tua bangka! Kau tidak perlu tahu siapa diriku!" bentak wanita berbaju merah itu ketus.
"Hm..., kau selalu menyembunyikan diri di ba-lik tudung bambu. Apa maksudmu sebenarnya, Ni sa-nak?" Ki Murad masih juga mendesak.
"Membunuhmu! Hiyaaa...!"
Wanita bertudung itu langsung melompat sam-bil! mengebutkan tongkat putihnya. Kebutan yang be-gitu dahsyat menimbulkan suara angin menderu bagai badai. Ki Murad bergegas melompat mundur sambil mencabut pedangnya. Cepat sekali dikibaskan pe-dangnya, mengganjal serangan tongkat putih itu.
Trang!
Satu benturan keras terjadi, dan mereka sama-sama berlompatan mundur sejauh beberapa langkah, namun kembali berlompatan saling menyerang. Ki Mu-rad yang menyadari kalau lawannya tidak main-main, tidak ingin ambil resiko. Langsung saja digunakan ju-rus-jurus yang dahsyat dan mematikan.
Gerakan-gerakan laki-laki tua berjubah putih itu demikian cepat, sukar diikuti mata biasa. Namun wanita berbaju merah yang tidak pernah membuka
tu-dungnya itu, dapat mengimbangi. Bahkan tidak jarang membalas serangan dalam keadaan sulit sekalipun. Jurus-jurus yang di gunakannya juga tidak kalah dah-syat Setiap serangan yang dilancarkan mengandung hawa maut
Jurus demi jurus berlalu cepat. Tidak terasa, lebih dari dua puluh jurus telah terlewati. Tapi sejauh ini belum ada seorang pun yang kelihatan terdesak. Masing-masing sudah mengeluarkan jurus-jurus anda-lannya. Pertarungan itu disertai gerakan yang cepat luar biasa, sehingga yang terlihat hanya dua bayangan merah dan putih berkelebatan sating sambar dalam kegelapan malam. Tempat sekitar pertarungan sudah tidak berbentuk lagi. Pohon-pohon tumbang, dan batu-batuan pecah berantakan. Belum bisa dipastikan, sia-pa yang bakal unggul dalam pertarungan itu. Dan se-karang mulai terlewati jurus ketiga puluh, namun ma-sih belum juga ada tanda-tanda yang terdesak.
Ki Murad yang pernah bertarung melawan wa-nita ini, dan hampir saja tewas, tidak sudi bermain-main lagi. Sudah bisa diukur tingkat kepandaian la-wannya. Paling tidak, seimbang atau setingkat lebih tinggi darinya atau malah sebaliknya. Hal ini sangat disadarinya. Tapi wanita berbaju merah yang tidak pernah melepaskan tudungnya, sepertinya juga me-nyadari kalau lawannya sangat tangguh. Dia bertarung sangat hati-hati, meskipun gerakannya cepat luar bi-asa. Jurus-jurusnya juga demikian dahsyat, sukar un-tuk diketahui arah serangannya.
Beberapa kali Ki Murad kecolongan. Bahkan hampir tewas di ujung tongkat putih itu, tapi masih mampu diatasi. Sesekali masih mampu pula dia mem-balas dengan tidak kalah dahsyatnya. Kini mereka bu-kan lagi bertarung menggunabu-kan jurus-jurus, tapi
su-dah masuk pada adu ilmu kesaktian. Pada saat mema-suki ajian yang ke sepuluh, mendadak Ki Murad ter-sentak kaget.
"Heh...!" "Hiyaaa...!"
Wanita bertudung itu sudah melancarkan se-rangannya. Tampak dari ujung tongkat putihnya me-luncur seberkas sinar kuning kemerahan. Sinar itu langsung meluruk ke arah Ki Murad yang tengah ter-kesiap.
"Hup!"
Bergegas laki-laki tua berjubah putih itu me-lompat menghindar, tapi gerakannya terlambat. Aki-batnya sinar kuning kemerahan itu menghantam bahu kanannya. Ki Murad terpekik tertahan, dan tubuhnya terlontar jauh menabrak dua batang pohon hingga tumbang. Ki Murad berusaha bangkit, tapi langsung memuntahkan darah kental kekuningan. Seluruh tan-gan kanannya terasa kaku dan sukar digerakkan.
"Ha ha ha...! Mampus kau, tua bangka...!" wa-nita itu tertawa terbahak-bahak.
"Phuih! Siapa kau? Ada hubungan apa kau dengan...."
Tapi sebelum habis ucapan Ki Murad, wanita berbaju merah itu sudah melompat sambil menghu-jamkan ujung tongkatnya. Ki Murad cepat menggulir-kan tubuhnya ke samping, maka ujung tongkat itu menancap di tanah. Tapi cepat sekali wanita itu me-mutar tubuhnya, dan kembali menyerang ganas.
Trak!
Tiba-tiba saja, di saat ujung tongkat wanita Itu hampir menghunjam dada Ki Murad, mendadak se-buah bayangan berkelebat. Langsung bayangan itu membuat tongkat wanita itu terpental balik. Disusul
pekikan tertahan. Bergegas wanita berbaju merah itu melompat mundur sambil buru-buru menyilangkan tongkatnya di depan dada. Sementara Ki Murad beru-saha bangkit meskipun sebagian tubuhnya mulai tera-sa kaku. Tampak di depannya berdiri seorang pemuda berambut panjang. Pakaiannya rompi putih dengan gagang pedang berkepala burung menyembul dari punggungnya.
"Rangga...," desis Ki Murad mengenali pemuda itu.
"Setan belang...! Lagi-lagi kau halangi maksud ku!" dengus wanita itu geram.
"Hm.... Seorang pendekar sejati tidak akan menganiaya orang tua yang sudah tidak berdaya lagi," ujar Rangga lembut.
"Phuih! Kemarin aku menghindar karena tidak ingin ada orang lain ikut campur urusanku. Tapi kau terlalu congkak untuk diberi ampun, anak setan!" ge-ram wanita itu sengit.
"Dan aku pun tidak akan ikut campur jika kau tidak bertindak kejam, Ni sanak," sahut Rangga. ka-lem.
"Phuih! Seharusnya kau mampus, anak setan! Tapi waktuku terlalu berharga untuk mengurusi mu!" wanita itu menoleh pada Ki Murad. "Dan kau, tua bangka! Kali ini kau boleh merasa beruntung!"
Setelah berkata demikian, wanita berbaju me-rah itu melesat cepat dan langsung lenyap menembus kegelapan malam. Rangga menarik napas panjang, kemudian memutar tubuhnya menghadap Ki Murad yang berdiri bertopang pada pedangnya. Pendekar Ra-jawali Sakti itu menghampiri, lalu memeriksa luka di bahu Ki Murad. Tampak bahu kanan laki-laki tua itu seperti hangus terbakar. Jubah putih di bagian
ba-hunya koyak bagai termakan api.
"Lukamu cukup parah, Ki," ujar Rangga seraya membantu Ki Murad duduk bersandar di pohon yang tumbang.
"Apa yang akan kau lakukan, Nak?" tanya Ki Murad saat Rangga menyobek baju di bahu kanannya.
"Akan ku coba mengurangi lukamu," sahut Rangga.
"Percuma saja, Nak. Tidak ada yang bisa me-nyembuhkan luka dari.... Akh!" ucapan Ki Murad ter-putus.
Saat itu Rangga menepuk pundak yang hangus bagai terbakar itu. Tampak tangan yang menempel erat di bahu itu bergetar. Ki Murad meringis merasakan hawa panas yang menjalar dari bahunya. Seketika da-rah berwarna kekuningan merembes keluar dari ba-hunya.
"Akh...!" Ki Murad memekik keras. Laki-laki tua itu terkulai, dan langsung jatuh pingsan.
***
4
Hangatnya sinar matahari membangunkan Ki Murad dari pingsannya. Laki-laki tua itu mulai merin-tih, dan menggeleng-gelengkan kepalanya setelah se-malaman tidak sadarkan diri. Ki Murad menggerinjang berusaha bangkit berdiri, tapi sebuah tangan mence-gahnya. Laki-laki tua berjubah putih itu kembali ber-baring. Sebentar dikerjapkan matanya, memandang seraut wajah tampan di dekatnya.
Ki Murad pelan.
"Semalaman," sahut Rangga. "Uh!"
Ki Murad mencoba bangkit.
"Berbaringlah dulu, Ki. Biarkan darahmu men-galir lebih baik lagi," kata Rangga tanpa mencegah lagi.
"Uh! Bagaimana bisa kau sembuhkan aku, Rangga?" tanya Ki Murad setelah bisa duduk bersan-dar di pohon tumbang.
"Hanya dengan hawa mumi," sahut Rangga di-iringi senyuman tipis. "Lukamu cukup parah, tapi be-lum terlambat untuk disembuhkan."
"Terima kasih," ucap Ki Murad, hampir tidak terdengar suaranya.
Rangga merayapi wajah laki-laki tua itu yang mendadak saja jadi mendung. Pendekar Rajawali Sakti itu menggeser duduknya lebih mendekat
"Ada apa, Ki?" tanya Rangga ingin tahu.
"Entahlah...!" desah Ki Murad berat "Aku tidak yakin...."
"Apa yang dipikirkan, Ki?" desak Rangga. "Orang itu," sahut Ki Murad pelan. "Yang melukaimu?"
"Ya. Aku kenal betul aji 'Mata Kilat' yang melu-kai ku. Aku begitu terpana, sehingga tidak keburu menghindar lagi. Aku tidak tahu, ada hubungan apa dia dengan Dewi Iblis...," nada suara Ki Murad terden-gar bergumam.
"Siapa Dewi Iblis itu?" tanya Rangga semakin ingin tahu.
"Seorang tokoh wanita yang sangat tinggi ke-pandaiannya. Sampai saat ini belum ada yang bisa menandinginya. Tapi...," ucapan Ki Murad terputus.
"Kenapa, Ki?" desak Rangga.
mendengar namanya, bahkan sepertinya menghilang begitu saja."
"Apakah dia seorang tokoh hitam, Ki?" Rangga meminta kejelasan.
"Lebih dari itu, Rangga. Dia seorang iblis yang tidak pernah berkedip saat membunuh lawannya. Ti-dak peduli siapa yang dihadapi. Seorang petani yang tidak bisa ilmu olah kanuragan pun akan dibunuh ka-lau tidak menyenangkan hatinya."
"Hm...," Rangga menggumam pelan. Sedangkan Ki Murad diam seraya menerawang jauh ke depan. Tampaknya masih belum dipercaya kalau orang yang hampir menewaskannya dua kali itu mempunyai salah satu ajian dahsyat yang dulu sangat ditakuti. Ajian andalan milik seorang tokoh wanita yang mendapat ju-lukan Dewi Iblis.
"Kenapa dia ingin membunuhmu, Ki?" tanya Rangga setelah cukup lama berdiam diri.
"Itulah yang membuatku tidak habis mengerti, Rangga. Sejak kejadian malam itu, aku selalu dihantui oleh ancaman-ancaman," sahut Ki Murad mengeluh. "Kejadian malam itu...? Kejadian apa, Ki?" "Hm. Kau pasti tidak tahu, Anak Muda. Baiklah, akan kucerita-kan semuanya."
Dengan singkat, Ki Murad kemudian menceri-takan peristiwa yang bermula dari kematian anaknya pada malam pesta pernikahan. Dan kejadian-kejadian lain yang datang secara beruntun, hingga istrinya te-was di tepi hutan. Pada saat itu, Rangga memang ada. Tapi Pendekar Rajawali Sakti itu belum mengerti dan hanya diam saja melihat Ki Murad memondong mayat istrinya.
Rangga hanya diam mendengarkan sampai la-ki-laki tua berjubah putih itu selesai bercerita. Untuk
beberapa saat lamanya, kebisuan menyelimuti mereka dengan pikiran berkecamuk. Beberapa kali terdengar tarikan napas panjang dari dua orang yang duduk ber-sila saling berhadapan itu.
"Rasanya mustahil kalau semua yang dilaku-kannya itu tanpa alasan yang pasti, Ki," ujar Rangga setengah bergumam.
"Itulah yang menjadi beban pikiranku selama ini. Sama sekali tidak ku mengerti kenapa dia melaku-kan semua itu pada keluargaku? Aku sendiri tidak ta-hu siapa dia sebenarnya," sambung Ki Murad bernada seperti mengeluh.
"Apa dia pernah mengucapkan sesuatu, Ki?" tanya Rangga.
Ki Murad tidak langsung menjawab. Keningnya sedikit berkerut, mencoba mengingat-ingat semua per-kataan wanita berbaju merah yang wajahnya hampir tertutup tudung bambu. Sebentar kemudian laki-laki tua itu menatap lurus ke bola mata Pendekar Rajawali Sakti "Ya, aku ingat! Dia menuduhku berlaku curang. Aneh.... Aku sendiri tidak mengerti maksudnya. Seu-mur hidup, belum pernah aku berlaku curang pada siapa pun," setengah bergumam nada suara Ki Murad.
"Mungkin kau pernah punya perjanjian, Ki," te-bak Rangga.
"Perjanjian...?" Ki Murad menatap dalam-dalam pemuda di depannya.
"Aku hanya menduga-duga saja, Ki."
Ki Murad termenung beberapa saat. Benar-benar sulit dimengerti dugaan Pendekar Rajawali Sakti itu. Tapi dia berusaha mengingat-ingat, kalau-kalau pernah punya perjanjian dengan seseorang. Tapi ra-sanya dia tidak pernah terikat janji satu pun.
tidak terdengar suaranya. ***
Ki Murad memandangi rumahnya yang tinggal puing-puing habis terbakar. Asap masih mengepul ti-pis dari kayu-kayu yang hangus. Laki-laki tua itu hampir tidak percaya mendapati sepuluh orang mu-ridnya sudah tergeletak jadi mayat dengan leher koyak hampir buntung. Tak ada seorang pun yang hidup, dan semua bangunan hancur rata dengan tanah.
"Biadab...!" desis Ki Murad menggeretak mena-han marah.
"Ki...," Rangga menepuk pundak laki-laki tua itu. "Iblis keparat itu benar-benar ingin menghancur-kanku tanpa sisa!" geram Ki Murad.
"Tenangkan dirimu, Ki. Jangan terbawa arus...," ujar Rangga mencoba menenangkan amarah laki-laki tua itu.
Ki Murad menatap dalam-dalam Pendekar Ra-jawali Sakti, kemudian menarik napas panjang dan menghembuskannya kuat-kuat. Seluruh rongga da-danya serasa sesak bagai terhimpit batu yang sangat besar dan berat. Wajahnya merah padam menghadapi kenyataan seperti ini. Tinggal dia sendiri yang masih hidup. Dan entah kapan, wanita berbaju merah itu pasti akan datang merenggut nyawanya. Ki Murad me-nyadari kalau kepandaiannya masih di bawah perem-puan berbaju merah itu. Dua kali dia hampir tewas. Kalau saja tidak ditolong Pendekar Rajawali Sakti ini, entah apa jadinya.
"Kau lihat, Rangga. Mereka adalah muridku yang setia. Aku sudah menganggapnya seperti anak sendiri. Kini semuanya telah tewas. Iblis keparat itu
harus kubunuh! Harus...!" geram Ki Murad memuncak amarahnya.
"Tidak dalam keadaan marah begini, Ki. Kema-rahan bisa mengakibatkan kelengahan yang sangat fatal," kata Rangga mengingatkan.
"Rangga, aku tidak tahu lagi. Apa yang harus kulakukan? Aku mohon padamu, Rangga. Hentikan ib-lis terkutuk itu," ujar Ki Murad bagai seorang yang su-dah putus asa.
Rangga hanya tersenyum saja. "Meskipun ke-pandaiannya di atasku, tapi aku tidak takut mati. Ba-gaimanapun juga harus kubalas kematian mereka se-mua. Mereka adalah orang-orang yang kucintai," sam-bung Ki Murad.
"Aku mengerti perasaanmu, Ki," ucap Rangga pelan.
Ki Murad mendesah panjang. Dihempaskan tu-buhnya, duduk di atas sebongkah batu yang tidak be gitu besar. Pandangannya nanar merayapi puing-puing dan mayat sepuluh orang muridnya yang berserakan di tanah. Sesak seluruh rongga dadanya menyaksikan semua kehancuran ini. Bertahun-tahun sepuluh orang itu digembleng dan akan dipersiapkan untuk terjun dalam rimba persilatan, tapi kini hancur. Tak ada lagi yang tersisa.
Laki-laki tua berjubah putih itu bangkit berdiri setelah menarik napas dalam-dalam. Kemudian dica-but pedangnya, dan mulai menggali tanah. Sementara Rangga hanya memperhatikan saja tanpa berkata se-dikit pun. Ki Murad menggali tanah dengan mengerah-kan seluruh tenaganya tanpa berhenti. Sebentar saja keringat sudah membanjiri seluruh tubuhnya.
"Kau belum pulih benar, Ki," kata Rangga men-gingatkan luka yang diderita Ki Murad.
"Mereka harus segera dikuburkan, Rangga," dengus Ki Murad.
"Biar aku yang mengerjakannya."
Ki Murad berhenti menggali. Dia mendongak menatap Pendekar Rajawali Sakti itu. Sudah dua lu-bang digali, dan ini yang ketiga baru sebatas lutut. Rangga menghampiri dan mengulurkan tangannya. Sebentar Ki Murad memandangi, kemudian menerima uluran tangan itu, dan melompat naik.
Ki Murad melangkah mundur setelah berada di atas lubang. Rangga menggerak-gerakkan tangannya di depan dada, kemudian berteriak keras. Dihentakkan kedua tangannya beberapa kali ke depan. Suara leda-kan terdengar dahsyat Seketika debu mengepul ke udara. Sukar untuk dimengerti. Tiba-tiba saja di depan mereka sudah tersedia sepuluh lubang yang cukup da-lam! Meskipun Ki Murad seorang tokoh tua, tapi masih juga merasa heran dan kagum.
Tanpa berkata apa-apa lagi, Rangga mulai menguburkan satu persatu mayat murid Ki Murad. Dengan kekuatan ilmu tenaga dalam yang sudah men-capai taraf kesempurnaan, Pendekar Rajawali Sakti itu mampu menguburkan sepuluh mayat dalam waktu ti-dak berapa lama saja. Sementara Ki Murad hanya bisa memandangi penuh kekaguman.
"Kau hebat, Rangga. Aku yakin, kau pasti mampu menandingi iblis keparat itu," puji Ki Murad setelah Rangga selesai menguburkan sepuluh mayat.
Rangga hanya tersenyum saja. Diputar tubuh-nya dan dilangkahkan kakitubuh-nya menghampiri laki-laki tua berjubah putih itu. Sejenak dipandangi wajah tua di depannya, kemudian kakinya bergeser ke samping dan terus berjalan. Ki Murad bergegas memburu, lalu mensejajarkan langkahnya di samping Pendekar
Raja-wali Sakti.
"Mau ke mana, Rangga?" tanya Ki Murad. "Apa yang kau inginkan dariku?" Rangga malah balik bertanya.
Ki Murad tersenyum, lalu menepuk pundak Pendekar Rajawali Sakti itu. Mereka terus berjalan tanpa berbicara lagi. Sementara matahari sudah naik semakin tinggi. Sinarnya yang terik sangat menyengat kulit, namun kedua orang itu terus berjalan dengan mulut terkunci rapat.
***
Berita tentang tewasnya sepuluh orang murid Ki Murad serta terbakarnya rumah laki-laki tua yang selalu memakai jubah putih itu cepat tersebar luas. Dan berita itu sampai ke telinga Ki Danupaya. Segera diutus beberapa orang anak buahnya untuk menyeli-diki kebenarannya. Dan begitu orang-orangnya kemba-li membawa berita kebenaran itu, Ki Danupaya lang-sung terhenyak lemas di kursinya.
"Apa kau menemukan mayat Ki Murad?" tanya Ki Danupaya dengan mata kosong menatap seorang yang memberi laporan.
"Tidak. Bahkan kami hanya menemukan sepu-luh kuburan yang kelihatannya masih baru," sahut la-ki-laki yang nampak masih muda itu.
"Aku tidak mengerti, apa keinginan orang itu? Kenapa membantai habis orang-orang yang ada hu-bungannya dengan Kakang Murad?" gumam Ki Danu-paya seperti bicara kepada dirinya sendiri. "Barangkali ada unsur dendam, Gusti," celetuk
pemuda yang mengenakan baju kuning, dan bagian dada terbuka itu. Tampaklah pada dada yang
bidang itu bulu-bulu dada yang lebat menghitam. "Dendam...? Lalu, apa hubungannya dengan-ku? Kenapa mesti menculik anakku dan juga mengin-car ku? Bahkan membunuh belasan orang-orangku!" agak tinggi nada suara Ki Danupaya.
Pemuda berkumis tebal yang duduk di lantai itu, hanya diam saja. Sedangkan tiga orang yang du-duk di belakangnya tidak membuka mulut sedikit pun. Mereka semua tahu, apa yang sedang terjadi pada ma-jikannya ini. Sejak peristiwa malam itu, Ki Danupaya memang tidak pernah tenang. Terlebih lagi sekarang ini istrinya masih belum mau keluar dari kamar priba-dinya. Tidak heran kalau Ki Murad selalu uring-uringan, karena tidak ada lagi yang bisa diajak bicara. "Gusti...," terdengar ragu-ragu suara pemuda itu. "Hm.... Ada apa, Gandil?" agak dingin nada suara Ki Danupaya.
"Maaf, Gusti. Apa tidak sebaiknya seluruh desa kita geledah. Barangkali saja bisa ditemukan petunjuk untuk mengetahui di mana dan siapa orang itu," kata Gandil mengajukan saran.
"Aku tidak akan melibatkan seorang penduduk pun, Gandil. Sudah terlalu banyak korban yang jatuh. Aku tidak ingin menambah korban lagi," Ki Danupaya menolak usul anak buahnya itu.
"Tapi, Gusti.... Pagi tadi seorang penduduk di-temukan tewas," lapor Gandil.
"Apa...?!" Ki Danupaya terkejut bukan main. "Maaf, Gusti. Baru sekarang bisa dilaporkan," ucap Gandil.
"Edan! Apa sebenarnya keinginannya? Mengapa penduduk jadi sasaran juga?!" geram Ki Danupaya se-makin tidak mengerti.